Pak Theo, Nyonya Pergi Berkencan Lagi

Đang tải thông tin quảng bá...

Pak Theo, Nyonya Pergi Berkencan Lagi

GoodNovel Hoàn thành
CantikEmosionalPria DominanKaya

Menikah tanpa cinta, fiksi, terluka saat mengejar istri, saling menguji, merebut paksa harta kekayaan Pada hari perceraian Kayla Sandio, sebuah kontrak perceraian tiba-tiba beredar di internet dan seg...

Chương (1)

第1章

Bab 1 Kontrak Perceraian Resmi Berlaku "Da ... Davin, menginginkanku." "Kayla, lihat baik-baik, siapa aku?" Lampu menyala. Setelah melihat wajah pria di samping dengan jelas, Kayla Sandio langsung membelalakkan matanya! "Theo? Kok jadi kamu?!" Pria itu mencengkeram dagunya sambil berkata dengan dingin, "Setelah tidur denganku, seharusnya kamu tahu aku bukan orang yang mudah dihadapi." "Bukan seperti itu, aku salah ...." Kayla berusaha kuat untuk melepaskan diri, tapi semuanya sudah terlambat. Rasa sakit yang luar biasa menyerangnya, dia benar-benar lenyap di tengah kegelapan .... Setelah itu, Theo Oliver melemparkan sebuah kartu kepada Kayla, tetapi dia malah menampar Theo! Theo menyentuh sudut bibirnya, lalu berkata sambil tersenyum sinis, "Bukannya ini yang kamu mau, hah?" Kalimat itu benar-benar menghancurkan Kayla. Sekarang, dia bahkan tidak punya kesempatan untuk menyesal. "Theo, aku nggak mau uang, aku mau kamu menikahiku!" Tiga tahun kemudian, di Vila Aeris. Kayla sedang menonton berita hiburan yang disiarkan di TV, penari bernama Raline Narta terjatuh dari panggung dan situasi menjadi kacau. Seorang pria yang mengenakan jas berjalan melalui kerumunan dengan ekspresi dingin, lalu menggendong wanita yang terluka itu dan langsung meninggalkan lokasi kejadian. Meski hanya sekilas, setelah tiga tahun menikah, sekalipun dia berubah menjadi abu, Kayla tetap dapat mengenalinya. Semalam ... pria inilah yang berbaring di atas kasur dan mengatakan dia akan pulang lebih awal. Kayla menoleh untuk melihat makanan dingin di atas meja. Semua itu adalah hasil kerja kerasnya sepanjang sore. Kayla berdiri dan berjalan ke meja makan, lalu menuang semua makanan itu ke tong sampah. Terdapat dua benjolan di punggung tangannya yang halus, agak konyol jika dibandingkan dengan sikap cueknya saat membuang makanan. Setelah membuang makanan, Kayla naik ke lantai atas dan mulai berkemas. Ketika dia dan Theo menikah, dia ingat bahwa mereka juga menandatangani surat perceraian dengan ketentuan waktu tiga tahun. Saat itulah Raline pergi bersekolah ke luar negeri. Meski masih tersisa tiga bulan dari waktu yang disepakati, Raline pulang lebih awal, berarti kontrak perceraian sudah resmi berlaku, bukan? Kayla menurunkan kopernya dari atas, lalu menelepon Theo sebelum pergi. Terdengar suara kasar seorang pria dari sambungan telepon, "Ada apa?" Mendengar suara dingin ini, jari-jari Kayla yang sedang memegang ponsel pun memucat, Theo seolah-olah sudah melupakan janji yang dibuatnya tadi malam. Namun, hal ini sudah diduga. Apa kata-kata pria saat berada di atas ranjang dapat dipercaya? "Apa kamu sudah makan?" Theo seolah-olah tidak ingin menjawab pertanyaan membosankan ini, setelah terdiam selama beberapa detik, dia pun menjawab, "Kalau nggak ada urusan lain, kuakhiri dulu. Aku sibuk." Jawaban yang singkat dan padat. Setelah itu, dia langsung mengakhiri panggilan. Kemudian, Kayla pergi dengan mengendarai mobil. Dia memilih mobil paling mahal di garasi. Awalnya, tumpukan mobil mewah yang terparkir di garasi tampak biasa saja. Namun, saat mulai berkendara di jalan, perasaan sombong pun muncul. Dia langsung pergi ke hotel bintang tujuh yang paling mewah di kota. Sesampainya di sana, dia mengeluarkan kartu hitam kepada resepsionis sambil berkata, "Kamar Presidensial, pesan untuk tiga bulan." Resepsionis itu tersenyum sambil mengambil kartu hitam yang diberikan. "Baik, Bu. Totalnya 30 miliar. Anda memesan Kamar Presidensial kalau Anda keluar lebih awal, Anda akan dikenakan denda sebesar 30%." Ekspresi Kayla tidak berubah. "Gesek kartu." Besok, dia mungkin tidak akan bisa menghabiskan uang Theo lagi. Kontrak perceraian yang dibuat oleh pengacaranya adalah harta dibagi dua. Namun, kalau Theo tidak setuju dan bersikap keras padanya, mungkin dia akan diusir tanpa mendapatkan apa-apa. Bagaimanapun, tim hukum Perusahaan Oliver mencakup orang-orang terhebat di seluruh industri, mereka dapat melakukan apa pun. Oleh karena itu, selagi dia masih menyandang status sebagai Nyonya Oliver, dia harus memanfaatkan kesempatan untuk menghabisi uang Theo. Lagi pula, kalau Kayla tidak menghabiskan uang Theo, selingkuhan pria itu akan merasa beruntung. Setelah menggesek kartu, resepsionis itu menyerahkan kartu dengan hormat dan berkata, "Nona, ini adalah kartu kamar Anda, silakan diterima!" Pada saat ini, tatapan orang-orang di sekitar pada Kayla seolah-olah sedang melihat konglomerat berlapis emas .... Di luar ruang operasi rumah sakit. Ketika melihat notifikasi penggunaan kartu kredit, Theo agak mengernyit, bukan karena nominalnya, tetapi karena pihak penerima uang adalah hotel bintang tujuh. Dia mengerutkan keningnya dan hendak menelepon Kayla. Namun, pada saat ini, dokter mendorong Raline keluar dari ruang operasi. Raline masih mengenakan baju dansa, lengannya tergores dekorasi panggung saat terjatuh. Kini, dia sudah dijahit dan terlihat sangat kasihan. Selain itu, wajahnya lebih pucat daripada selimut di bawah badannya. Theo menyimpan ponselnya, lalu berjalan menghampiri dokter sambil bertanya, "Dokter, bagaimana lukanya?" "Ada sedikit gegar otak, banyak memar di jaringan lunak tubuh dan trauma ringan pada tulang belakang. Tapi, dilihat dari hasil pemeriksaan, nggak terlalu parah." Meski tidak mengalami luka berat, Raline jatuh dari ketinggian yang cukup tinggi sehingga wajahnya masih sangat pucat. Dia memandang dokter sambil bertanya dengan cemas, "Apa ini akan memengaruhi karierku di kemudian hari?" Dokter menjawab dengan hati-hati, "Tergantung pemulihanmu. Kemungkinan ini nggak bisa dipungkiri." Mata Raline memerah, tetapi dia tetap menatap Theo sambil berkata, "Theo, terima kasih untuk hari ini. Pulanglah dulu, aku bisa sendiri ...." Sebelum dia selesai berbicara, dokter menyela dengan serius, "Nggak boleh, harus ada yang menjagamu. Gegar otak ringan juga berisiko, jangan dianggap remeh." Raline menggerakkan bibirnya dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi Theo duluan berkata, "Malam ini, aku akan tinggal di sini. Tidurlah dengan tenang." Mereka sudah lama kenal, tentu saja Raline memahami sifat Theo. "Kalau begitu, aku akan merepotkanmu. Tapi ... apa aku perlu menelepon Kayla untuk menjelaskan?" Insiden ini sedang menjadi topik utama, seharusnya Kayla sudah melihat berita. Theo terdiam selama beberapa detik, lalu mengerutkan keningnya sambil menjawab dengan kesal, "Nggak usah." Theo tinggal di rumah sakit sampai dini hari. Pembantu di rumah sudah mulai membersihkan rumah. Melihat Theo pulang, pembantu itu buru-buru berkata, "Pak, Anda baru pulang? Apa perlu saya siapkan sarapan?" "Ya." Theo tidak tidur semalaman dan sekarang agak sakit kepala. Dia mengusap keningnya sambil menanyakan keberadaan Kayla dengan santai, "Mana Nyonya?" "Sepertinya Nyonya sudah pergi ke kantor. Pas datang, saya sudah nggak melihatnya." Theo tidak suka keberadaan orang asing di rumah, jadi pembantu tidak tinggal di rumah. Theo melihat jam tangan. Biasanya, jam segini Kayla masih sarapan, Jadi, hotel yang dipesan semalam untuk dirinya sendiri? Kayla tidak pulang semalaman. Ekspresi Theo berubah muram, tetapi pembantu tidak menyadari hal itu. Ketika membawakan sarapan, dia memegang sebuah dokumen di tangannya. "Pak, tadi ini diberikan pengurus vila. Katanya dikirimkan untuk Bapak." Alamat rumah Theo dirahasiakan dan biasanya semua paket dikirim ke perusahaan. Selain itu, sekretarisnya akan memeriksa terlebih dahulu dan hanya menunjukkan kepadanya kalau benar-benar perlu. Karena sedang senggang, Theo tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Theo langsung menerima dokumen itu dan membukanya. Kata-kata "Kontrak Perceraian" di bagian atas membuat ekspresi muram Theo berubah menjadi dingin. Dia melirik sekilas isi dokumen. Ketika melihat bagian pembagian properti, dia pun menyeringai. "Hitungannya cukup detail." Semua rumah, mobil, uang tunai dan saham atas namanya dibagi dua. Theo bergumam, "Berani sekali." Pembantu di samping terdiam. Tentu saja, dia melihat kata "Kontrak Perceraian". Sekarang, dia sungguh ingin menghilang dari muka bumi. Theo memegang surat itu sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelepon. Terdengar suara wanita yang masih mengantuk dari ujung telepon lain, "Ada apa?" Bab 2 Dia Ingin Pisah Rumah dengan Theo "Kayla, apa maksud kontrak perceraian itu?" Setelah mendengar suara suram Theo, Kayla langsung tersadar. "Seperti yang tertulis." Theo berkata sambil menyeringai, "Sebelum bekerja, datanglah ke kantorku untuk mengambil kembali sampah ini. Jam 8 malam, aku mau melihatmu dan ... barang-barangmu sudah berada di Vila Aeris." Kayla juga menjawabnya sambil menyeringai, "Theo, apa otakmu ...." Bermasalah? Dia tertegun. Seketika, dia menyadari makna lain dari panggilan ini. "Kamu nggak perlu khawatir Raline akan disebut sebagai wanita simpanan. Hanya orang tua kita dan beberapa teman yang mengetahui soal pernikahan kita. Di mata orang lain, kamu tetap adalah pria sejati yang bersedia memikul semua kesulitan untuk membiarkan sang kekasih pergi menggapai cita-cita. Kini, kebahagiaan sudah menghampirimu, selamat." Semalam, Theo dipotret oleh para wartawan saat mengantar Raline ke rumah sakit. Hari ini, kalau berita Kayla mengajukan gugatan cerai terungkap ke media, Raline akan dicap sebagai wanita simpanan. Setelah Kayla selesai berbicara, dia baru menyadari bahwa Theo sudah mengakhiri panggilan. Bajingan ini .... Hotel tempat tinggal Kayla sekarang sangat dekat dengan Perusahaan Oliver, jadi Kayla tidak terburu-buru. Setelah menyantap sarapan, dia baru pergi ke stasiun kereta bawah tanah. Sejak menikah dengan Theo, dia menyetujui permintaan ibu mertuanya untuk menjadi asisten pribadi Theo di Perusahaan Oliver. Meskipun disebut sebagai asisten, pekerjaannya lebih seperti pengasuh. Biasanya, dia bertanggung jawab atas makanan pokok Theo dan berbagai pekerjaan sehari-hari, dia adalah jenis karyawan yang melakukan segala tugas untuk memperoleh gaji. Tidak ada seorang pun di perusahaan yang tahu bahwa dia adalah istri Theo, istri bos Perusahaan Oliver. Dipikirkan saja sudah cukup menyedihkan. Selingkuhan diekspos, sedangkan istri sah malah diperlakukan seperti simpanan. Terkadang, dia menumpangi mobil Theo berangkat kerja, tetapi dia perlu turun di persimpangan jalan. Sesampai di kantor, Kayla langsung menyalakan komputer dan mulai mengetik surat pengunduran diri. Dia akan segera bercerai, mana mungkin bekerja menjadi pengasuh lagi! Seseorang yang berjalan melewatinya mendesah, lalu berkata, "Haih, Bu Kayla, apa kamu akan mengundurkan diri? Apa pacar kayamu itu sudah melamarmu?" Kayla yang sedang mengetik pun tertegun. Suatu hari, ada yang melihatnya turun dari mobil Theo, orang itu kaget dan bertanya apakah dia datang dengan mobil Theo. Saat itu, dia tidak ingin orang-orang mengetahui hubungannya dengan Theo, jadi dia berbohong bahwa dia punya pacar dan itu adalah mobil pacarnya. Jadi, keesokan harinya, gosip bahwa Kayla mempunyai pacar kaya pun beredar di seisi kantor. Selain itu, mobil mewah yang dikendarai oleh pacarnya sama persis dengan milik Theo. Alasan mengapa tidak ada yang curiga pada Theo adalah karena semua orang di lantai 36 tahu bahwa Theo tidak pernah memakan makanan yang dipesan oleh Kayla dan selalu membuangnya ke tong sampah. Hanya Kayla yang bodoh, sehari tiga kali, dia tidak pernah melewatkan satu kali pun. Saat ini, Kayla menyangkal, "Nggak, kami sudah putus." "Bisa-bisanya kamu melepaskan pria kaya sepertinya. Kalau aku adalah kamu, sekarang, aku pasti sudah menangis histeris!" Sebagian orang merasa kasihan padanya dan di antara orang-orang ini, banyak yang berbahagia di atas penderitaannya. Mengingat kekasih kayanya, Kayla pun berkata, "Di tubuhnya, hanya mulutnya yang paling keras. Nggak putus mau ngapain?" Meskipun nada bicaranya sangat santai, terdapat maksud sinis di kalimat ini. "Tempat lain nggak bisa mengeras?" "Ehem!" Suara batuk yang canggung menyela pembicaraan orang-orang. Semua orang langsung menoleh. Semuanya tercengang ketika melihat sosok yang berdiri di depan pintu kantor! "Pak Theo ...." Orang yang batuk adalah Axel Cendana, asisten khusus direktur utama. Dia melirik direktur di sampingnya sambil berkata, "Jangan membicarakan masalah pribadi selama jam kerja, terutama yang aneh-aneh seperti ini." Theo melirik semua orang dan akhirnya matanya tertuju pada Kayla. Pupilnya yang hitam terlihat muram dan tajam. "Bu Kayla, datanglah ke kantorku. Hari ini, semua orang yang mengobrol potong gaji dua juta. Pergilah ke departemen keuangan untuk menandatangani denda." Semua orang di tempat langsung bubar, kecuali Kayla. Dia masih lanjut mengetik dan ekspresinya sama sekali tidak berubah .... Kantor Theo bergaya minimalis. Ketika Kayla masuk, Theo sedang memegang sebuah dokumen sambil mengetukkan jari-jarinya dengan santai. Kayla tahu bahwa dokumen itu adalah kontrak perceraian yang dia kirimkan ke vila pagi ini. Kayla berjalan ke depan meja, lalu berdiri tegak. "Pak Theo." Theo mendongak. Tidak terlihat sedikit pun kemarahan di wajahnya yang datar. Namun, seiring berbicara, suaranya terdengar makin berat. "Mulutku adalah benda terkeras di tubuhku. Bagaimana bisa Bu Kayla menyimpulkan hal ini?" Kayla menggertakkan giginya sambil berpura-pura bodoh. Kalau sampai dia menjawab pertanyaan ini, dia benar-benar bodoh. Setelah suasana hening ini berlangsung selama belasan detik, Theo pun menyudahi topik ini dan melemparkan surat perceraian ke atas meja. "Jelaskan, apa alasan bercerai?" Kayla termenung selama beberapa detik, lalu menjawab dengan datar, "Seperti yang tertulis." Dia menulis dengan sangat jelas dan mudah dimengerti. "Tiga tahun menikah, nggak ada hubungan suami istri sehingga nggak dapat memenuhi kebutuhan dasar sang istri. Diduga pihak lelaki mengalami disfungsi seksual." Setiap Theo membacakan satu kata, kulit kepala Kayla seolah-olah menegang. Dia khawatir pria ini akan marah besar dan mencekiknya sampai mati. Namun, hal yang dia katakan adalah kenyataan. Selama tiga tahun menikah, Theo tidak pernah menyentuhnya. Ketika Theo membacakan soal pembagian properti, hawa dingin melintas di matanya. "Sepertinya pengabdianmu sebagai asisten selama tiga tahun ini nggak sia-sia. Kamu tahu jelas semua properti yang kumiliki. Tapi, Kayla, kamu kira kamu bisa mengambil hartaku?" Kayla sudah mempersiapkan diri untuk pergi tanpa memperoleh apa pun, dia sama sekali tidak peduli dengan hal-hal ini. Namun, sikap cuek seperti ini malah memprovokasi Theo. Dia mengulurkan jari-jarinya yang terkepal untuk mencubit dagu Kayla. "Setelah bercerai denganku, apa kamu bisa menghidupi dirimu? Dengan gaji 10 juta sebulan? Jangankan biaya sewa, apa cukup untuk membeli kalung di lehermu?" Terdengar sarkasme di setiap kata-kata ini. Kayla memiringkan kepalanya untuk melepaskan diri dari cubitan Theo. Namun, dia bukan hanya gagal, tetapi juga makin kesakitan. Dia menahan rasa sakit sambil berkata, "Ini urusanku, kamu nggak perlu khawatir." "Hehe." Theo mencibir dan sekujur tubuhnya pun dipenuhi dengan amarah. "Apa kamu sudah menemukan target berikutnya?" ... Melihat Kayla terdiam, Theo menganggap dirinya benar. Dia tiba-tiba tertawa dan bibir tipisnya pun terangkat. Dia melepaskan tangannya yang sedang mencubit dagu Kayla sambil berkata, "Sepertinya ada satu hal yang belum kamu pahami. Kamu nggak berhak menentukan apakah kita akan bercerai. Masih tersisa tiga bulan sebelum batas yang ditentukan." Namun, menurut Kayla, tidak ada gunanya menunggu sampai waktu yang ditentukan. Lagi pula, selama tiga tahun menikah, Theo tidak pernah menganggapnya sebagai istri, apalagi tiga bulan terakhir ini? Theo bersikap seperti ini karena Kayla yang mengajukan perceraian. Theo merasa dipermalukan dan tindakannya ini akan merusak reputasi Raline. Sifat buruk pria! Tampaknya hari ini mereka tidak akan bisa bercerai, jadi Kayla hanya bisa memperjelas sikapnya. "Nggak peduli berapa lama lagi, aku nggak akan kembali ke rumah itu lagi." Theo tiba-tiba memandangnya dengan tatapan merendahkan. "Maksudmu, kamu mau pisah rumah denganku, hah?" Bab 3 Dia Tidak akan Kembali Mendengar kata pisah rumah, hati Kayla seolah-olah dicubit dengan keras, terasa sedikit perih dan nyeri. Sejak menikah, sepuluh jari cukup untuk menghitung berapa kali Theo pulang ke Vila Aeris setiap tahunnya, tidak ada bedanya dengan pisah rumah. "Lagian sisa tiga bulan, kurasa kita nggak perlu tinggal bersama." Theo menatap Kayla selama beberapa detik, lalu berkata sambil tersenyum sinis, "Perlu atau nggak, aku yang tentukan. Hari ini, Axel akan memberimu cuti dua jam, pindahkan kembali barang-barangmu." "Aku ...." Saat Kayla hendak menolak, terdengar suara ketukan pintu. Axel mengingatkan dari luar. "Pak Theo, rapat akan segera dimulai." Theo mengancingkan manset yang dibuka tadi sambil berkata, "Keluar." Kayla tidak bergerak dan masih berkata dengan kukuh, "Theo, aku nggak akan kembali ke sana." Theo tidak menanggapinya dengan serius. "Sudah berapa kali kamu berkata demikian?" Ini bukan pertama kalinya mereka bertengkar, juga bukan pertama kalinya Kayla pindah, tapi tak lama kemudian, dia selalu pindah kembali. Saat ini, Kayla tahu bahwa Theo tidak memercayainya dan malas membuang-buang tenaga. Bagaimanapun, seiring berjalannya waktu, Theo akan tahu bahwa kali ini dia benar-benar tidak akan kembali. Setelah meninggalkan kantor Theo, Kayla pergi ke kamar mandi untuk merias wajah. Area dagunya yang dicubit oleh Theo sudah membiru. Setelah selesai merias, dia hendak pergi ke departemen Sumber Daya Manusia dengan surat pengunduran dirinya, tetapi seseorang memanggilnya .... "Kayla, mesin pencetak kehabisan tinta. Cepat ganti, sudah mau digunakan." Dia mendengar banyak perintah seperti ini setiap hari. Sebagai asisten pribadi Theo, dia hanya perlu bertanggung jawab atas kebutuhan hidup Theo. Namun, Theo tidak ingin melihatnya dan selalu menyuruh Axel melakukan tugasnya. Jadi, Kayla perlahan-lahan menjadi orang yang disuruh-suruh di lantai 36. "Kayla, kusuruh kamu ganti tintanya." Orang yang memanggilnya adalah Sekretaris Liya, orang yang paling tidak menyukainya. Tadi, orang inilah yang juga mengejeknya karena putus dengan pacar kaya. "Sekalipun mau mengundurkan diri, kamu harus profesional, 'kan? Kamu belum resmi mengundurkan diri, loh!" "Tugasku adalah menaati perintah Pak Theo dan bertanggung jawab atas makanan yang dikonsumsinya. Kenapa? Sekarang, kamu sudah bisa menggantikan Pak Theo memerintah?" Meskipun jabatannya sebagai asisten pribadi terdengar sangat sulit, jabatannya diinginkan oleh banyak orang. Orang di depannya ini sangat ingin mengusirnya agar bisa menempati posisinya. Liya memelototinya dengan galak sambil berkata, "Kayla, apa otakmu rusak? Kamu bertanggung jawab atas makanan Pak Theo? Kapan kamu melihat Pak Theo memakan makanan yang kamu pesan?" Memikirkan makanan yang dibuang ke tong sampah, hati Kayla terasa sakit. Detik berikutnya, muncul rasa sakit di dadanya. Liya melemparkan setumpuk dokumen ke pelukannya sambil berkata dengan sombong, "Cetak dua puluh set sebelum jam dua. Bu Kayla, jadi orang harus tahu diri." Kayla mengerutkan keningnya. Karena mendengar suara dari belakang, dia berbalik dan melihat Theo keluar dari ruangan bersama Axel. Keduanya saling bertatapan .... Theo tersenyum sinis dan tatapannya seolah-olah menyiratkan suatu makna. Bahkan pekerjaan kecil seperti ini pun nggak bisa kamu lakukan, bagaimana bisa bercerai dengannya? Kayla tersenyum kesal. Di hadapan Theo, dia melemparkan dokumen itu kepada Liya. Sebelum Liya bereaksi, terdengar suara gemerisik dari dokumen-dokumen yang jatuh ke lantai itu. Kayla berbalik pergi. Terdengar suatu suara dari kejauhan .... "Bu Liya, jadi orang bukan hanya harus tahu diri, tapi juga harus pandai memilah kata-kata. Aku nggak akan pergi mengganti tinta, juga nggak mau pergi mencetak dokumen. Kalau kamu hebat, pergilah melapor ke Theo. Oh ya ... dia juga suka wanita berdada besar yang bodoh. Kamu memang bodoh, tapi itumu agak kecil." Karena dia akan segera mengundurkan diri, dia tidak takut menyinggung siapa pun. Mempermalukan Theo sebelum pergi membuatnya sangat gembira! Ekspresi Theo berubah muram. Bibir tipisnya menunjukkan kekesalan yang luar biasa. Kemudian, Kayla pergi ke departemen Sumber Daya Manusia untuk mengajukan pengunduran diri. Manajer SDM melihatnya sambil berkata, "Bu Kayla, mohon tarik kembali permohonan pengunduran dirimu ini. Kamu adalah asisten pribadi Pak Theo. Kami belum bisa menerima permohonanmu sebelum disetujui dan ditandatangani oleh Pak Theo." Kayla tidak menanggapi hal tersebut. Dia berkata dengan terus terang, "Mulai besok, aku nggak akan datang lagi. Mau dianggap cuti atau bolos, terserah kalian." Manajer SDM tercengang. "Tindakanmu ini melanggar kontrak. Sekalipun kamu mau mengundurkan diri, masih ada masa serah terima tugas selama setengah bulan." Dia hanya bertanggung jawab atas makanan sehari-hari Theo, apa perlu serah terima pekerjaan? Menyampaikan apa yang tidak dimakan oleh Theo? Theo pasti mati kelaparan, karena dia pernah memesan semua jenis makanan. Kayla berkata dengan lantang, "Kalau begitu, suruh Theo tuntut aku." Setelah meninggalkan Perusahaan Oliver, dia mengangkat telepon dari sahabatnya, Bella Guandy yang mengajaknya pergi minum-minum. Bella mungkin sudah melihat berita kemarin dan khawatir dia akan sedih. Karena sudah lelah, Kayla pun menolak ajakan Bella. Setelah pulang ke hotel, dia bahkan tidak makan malam dan langsung tidur. Dia terbangun dengan linglung karena mendengar suara ketukan pintu. Dia melihat jam, pukul 07.50. Kayla bangun dan pergi membuka pintu. Orang di luar pintu adalah manajer hotel, dia tersenyum sambil berkata dengan sungkan, "Halo, Nona Kayla. Begini, ada yang salah dengan kamar Anda dan perlu diperbaiki." Kayla tidak mempersulitnya. "Kalau begitu, beri aku kamar lain." Sembari berbicara, dia hendak kembali untuk mengemas barang-barangnya. Namun, manajer hotel itu malah berkata, "Maaf, nggak ada kamar kosong lagi. Uang sudah dikembalikan ke kartu Anda. Karena ini adalah kesalahan kami, kami sudah mentransfer biaya ganti rugi kepada Anda." Kayla tertegun. Theo menyuruhnya kembali ke vila sebelum jam 8 dan manajer hotel datang mengusirnya jam 7.50. Bagaimana mungkin dia tidak tahu alasan di balik semua ini? "Apa si berengsek Theo itu yang memerintahmu? Aku nggak mau pindah!" Seketika, dia tidak bisa mengendalikan emosinya dan menjadi kasar. Manajer hotel itu pun tidak menyangkal. "Nona Kayla, kami hanyalah pebisnis kecil, tolong jangan mempersulit saya." Bisnis kecil bernilai puluhan miliar? Sekalipun Kayla tidak setuju, dia tidak berdaya. Pihak hotel bersikap kukuh dan bersedia membayar ganti rugi. Teknisi yang datang untuk memeriksa hotel berdiri di depan pintu dan mengatakan ada masalah listrik, kalau tidak diperbaiki sesegera mungkin, akan terjadi kebakaran. Akhirnya, Kayla pun membawa kopernya keluar dari hotel. Ternyata mobil Keluarga Oliver sudah menunggu di luar. Melihatnya keluar, Paman Dafa segera turun dari mobil dan hendak membantunya membawa barang. "Nyonya, Pak Theo menyuruh saya datang menjemput Anda." Kayla segera menghindar sambil berkata, "Beri tahu Theo, aku nggak akan pulang." Setelah berkata demikian, dia berbalik dan pergi ke hotel terdekat. Paman Dafa tidak menghentikannya, Kayla pun segera tahu alasan mengapa Paman Dafa membiarkannya pergi. Resepsionis di salah satu hotel terdekat mengembalikan kartu kepadanya sambil berkata, "Maaf, kartu Anda baru saja dibatasi. Apa Anda punya kartu lain?" Bab 4 Terbebas dari Penderitaan Kayla menggesek kartu Theo, dia tidak ingin menghambur-hamburkan uangnya sendiri ... untuk tinggal di hotel. Dia pun menelepon Bella. Setelah tahu bahwa Bella berada di rumah, dia langsung pergi ke sana. Mobil Paman Dafa terus mengikuti di belakang, tetapi Kayla mengabaikannya sepanjang jalan. Setelah keluar dari mobil, Kayla pergi mengambil kopernya di bagasi dan tangannya tidak sengaja tergores sudut mobil. Tangannya berdarah, tetapi tidak parah. Bella tinggal di lantai 17 dan pintu rumahnya selalu terbuka lebar saat tahu Kayla akan datang. Melihat Kayla masuk dengan membawa koper, Bella tertegun sejenak. Ketika bertelepon, Kayla tidak mengatakan bahwa dia datang dengan membawa koper. Sepertinya dia kabur dari rumah. Bella mengabaikan masker wajahnya dan segera mengulurkan tangannya untuk mengambil koper Kayla. "Kok nggak bilang kamu bawa koper? Aku 'kan bisa turun menjemputmu .... Haih, kenapa tanganmu terluka?" Melihat Bella tampak panik dan hendak pergi mencari kotak P3K, Kayla pun menahannya sambil berkata, "Nggak apa-apa, sudah mau sembuh." "Ada lepuhan kecil di tanganmu, kenapa nggak diobati? Lihatlah para pianis, mereka memperlakukan tangan mereka bagaikan harta dan tidak akan membiarkan tangan mereka terluka." Kayla merasa terhibur dengan reaksi Bella yang berlebihan. Tekanan yang dia rasakan selama beberapa hari ini pun mereda. "Luka sekecil ini bukan apa-apa." Bella tertegun. Setelah mengobrol sampai sini, dia pun mengungkit masalah sebelumnya lagi. "Omong-omong, bagaimana pertimbanganmu soal usulan kemarin?" Sebelumnya ... Kayla tidak menjawab karena belum punya kepastian. "Pak Hardy datang menemuiku beberapa kali. Studionya adalah studio restorasi budaya terbaik di negeri ini, semua anggota di sana pasti adalah tokoh hebat di bidang ini! Pak Hardy turun tangan secara pribadi untuk mencarimu, dia sungguh menghargaimu! Kalau bukan karena kamu nggak bersedia mengungkapkan identitasmu, aku sudah memberinya informasi kontakmu!" Kayla bekerja di bidang restorasi budaya dan keterampilannya sangat bagus. Sejak kecil, dia sudah belajar dari ibunya dan dia sangat berbakat. Dia juga mengambil jurusan ini saat berkuliah. Awalnya, dia berencana untuk bekerja di museum setelah lulus, tapi kemudian ... dia mengalami hal-hal itu dan terpaksa menikah dengan Theo. Beberapa tahun ini, dia hanya menerima beberapa pekerjaan pribadi lewat Bella dan menjadi ahli restorasi umum. Namun, sekarang situasi sudah berubah. Dia akan segera bercerai dan harus memulai dari awal. Setelah merenung untuk cukup lama, Kayla pun mengangguk sambil berkata, "Tolong bantu aku terima undangannya." "Kamu setuju?" Bella agak dikagetkan oleh jawaban Kayla. Setiap kali dia membahas hal ini, Kayla selalu menolak. "Boleh dicoba, aku bisa pergi bekerja kapan saja." "Kapan saja?" Bella kembali tercengang. "Kamu nggak akan bekerja sebagai pembantu di Perusahaan Oliver lagi?" "Ya, aku sudah mengundurkan diri." Kayla menjawab dengan sangat tenang, seolah-olah dia tidak terlibat dalam hal ini. Bella mendecak. Mengingat berita hangat yang dia lihat pagi ini, dia sudah membayangkan banyak gambaran. Dia tidak bisa menahan diri untuk mengomel. "Sudah seharusnya kamu bercerai. Si berengsek Theo itu jelas-jelas nggak makan makanan yang kamu pesan, tapi setiap hari menyuruhmu memesankan makanan. Pria munafik sepertinya harus dikurung oleh Raline, jangan dikeluarkan. Menurutku, memang harus bercerai. Lagian sisa tiga bulan, nggak usah dipusingkan." Kayla bersandar di sofa, dia merasa agak kelelahan karena sudah berseteru seharian. "Aku sudah mengajukan cerai, tapi dia nggak setuju dan menyuruhku menunggu sampai waktu yang ditentukan." Mendengar ucapan Kayla, Bella merasa konyol. "Sungguh munafik! Dulu, Raline menolak lamarannya dan memilih pergi ke luar negeri agar bisa menjadi penari internasional. Sekarang, dia pasti nggak akan bercerai denganmu begitu saja, lalu kembali bersama Raline. Kalau nggak, dia akan terkesan sangat murahan! Kalau dia nggak menunjukkan kehebatannya, Raline mungkin akan mencampakkannya lagi!" Kayla tidak pernah berpikir demikian, tapi setelah mendengar penjelasan Bella, dia pun tercerahkan. Theo adalah bajingan jahat yang munafik! "Menurutku, kamu nggak usah melindungi harga dirinya. Langsung sebarkan akta nikah kalian di internet sebelum resmi bercerai. Dengan begitu, netizen yang baik hati akan memaki mereka dengan kejam dan Raline akan dicap sebagai wanita simpanan!" Kayla memiringkan kepalanya dan tidak merasa bahwa ini adalah ide yang bagus. "Nggak, biarkan saja mereka selingkuh. Kalau masalah ini tersebar, kelak, aku yang akan kesulitan untuk mencari pasangan." Mencari pasangan? Mata Bella bersinar, dia menatap Kayla sambil berpikir, 'Sepertinya dia sudah bertekad untuk meninggalkan Theo ....' Ini adalah hal baik, patut untuk dirayakan! Bella mengeluarkan sekotak bir dari kulkas, lalu membuka sebotol bir dan memberikannya pada Kayla sambil berkata, "Ayo rayakan sahabatku terbebas dari penderitaan!" Saat Kayla hendak mengambil bir itu, bel rumah berbunyi. "Siapa?" gumam Bella sambil pergi membuka pintu. Orang yang berdiri di luar adalah Paman Dafa. Saat ini, dia berbeda dari sebelumnya. Ekspresinya sangat muram, dia memiringkan kepalanya sambil berkata pada Kayla yang berada di ruang tamu, "Nyonya, Tuan Muda sedang menunggu Anda di bawah. Tolong segera turun." Kayla mengerutkan keningnya sambil menjawab dengan kesal, "Biarkan saja dia menunggu." Kayla bisa tidur dan minum-minum di dalam rumah, sedangkan Theo berada di dalam mobil. Seluas apa pun mobilnya, dia tidak bisa berbaring. Setelah berkata demikian, dia langsung meneguk habis sekaleng bir di tangannya. Kalau Paman Dafa menyampaikan kata-kata Kayla, berarti dia sudah bosan hidup! Paman Dafa berkata dengan pasrah, "Tadi, saat di dalam mobil, Nyonya menelepon Tuan Muda. Sepertinya Nyonya nggak enak badan ...." Sebelum dia selesai berbicara, ponsel Kayla sudah berdering. Penelepon adalah ibunya Theo, Evi Janoto. Kayla bisa mengabaikan Theo, tapi dia harus menjawab telepon Evi. Selama tiga tahun menikah, Evi memperlakukan Kayla lebih baik daripada Theo, putra kandungnya sendiri. Dia selalu membelikan barang-barang mahal kepada Kayla. Setiap kali mereka bertengkar, apa pun alasannya, selalu Theo yang dimarahi. "Bu ...." "Kayla, aku menelepon Theo dan dia bilang kamu nggak di rumah. Apa bocah itu nggak pulang lagi?" Di dunia ini, mungkin hanya Evi yang berani memanggil Theo seperti itu. Setiap kali dia menelepon, dia akan memeriksa apakah Theo pulang ke rumah. "Bukan, malam ini, aku lagi di rumah temanku. Dia sedang berulang tahun." Kayla tidak mengungkit soal perceraian mereka karena mengkhawatirkan kesehatan ibu mertuanya. Ketika Evi melahirkan Theo, dia mengalami pendarahan hebat yang menimbulkan banyak efek samping. Selama beberapa tahun ini, kondisi kesehatannya kurang baik. Bella yang dianggap sedang berulang tahun pun memutar bola matanya dengan kasar saat mendengar sahabatnya berbohong! Terdengar suara Evi dari sambungan telepon. "Kalau begitu, setelah merayakan ulang tahun temanmu, pulanglah ke rumahku. Ayahnya sedang dinas, aku merasa kurang sehat." Kayla yang mengkhawatirkan kesehatan Evi pun bertanya, "Mana yang sakit? Apa sudah pergi ke dokter?" "Nggak, nggak parah kok. Kemarin aku melelang sepotong batu permata dan meminta master membuatnya menjadi liontin kecil. Pulanglah untuk melihat apakah kamu suka, anak muda seperti kalian nggak suka gelang permata." Kayla terdiam selama beberapa detik, lalu menjawab, "Baik." Kalau Evi hanya menyuruhnya pulang untuk mengambil barang, dia akan menolak. Bagaimanapun, dia akan segera bercerai dengan Theo, tetapi Evi sedang kurang sehat. Bella tahu bahwa dia tidak bisa membujuk Kayla, jadi dia terpaksa mengantarnya ke bawah dan tidak lupa mengingatkan. "Percaya atau nggak, ibu mertuamu pasti sengaja." Mobil yang familier parkir di depan pintu kompleks, Theo sedang bersandar di pintu mobil sambil merokok. Ketika mendengar ada yang datang, dia langsung mendongak dan sepasang matanya tampak sangat suram .... Bab 5 Mencambuknya dengan Ikat Pinggang Di sepanjang jalan, keadaan di dalam mobil sangat hening. Suasana tegang ini membuat Paman Dafa tidak berani mengubah kecepatan mengemudi. Setelah sampai di tempat parkir sebuah vila yang terletak di pinggiran kota, dia baru menghela napas panjang dan turun untuk membuka pintu mobil. Kayla tidak sesombong Theo dan tidak suka "dilayani". Ketika dia hendak membuka pintu, Theo berkata dengan santai, "Aku suka cewek bodoh yang berdada besar?" ... Kayla hampir tersedak. Kalau Theo tidak mengungkit hal itu, dia mungkin sudah lupa. Dia mengucapkan hal seperti itu hanya untuk memfitnah Theo, bagaimana mungkin dia tahu jenis wanita yang disukai Theo! Dia menoleh dan mata Theo kebetulan mendarat di bawah tulang selangkanya. Baik disengaja ataupun tidak, terkandung maksud lain dari tatapan Theo. Kayla dapat memahami maksud lain dari tatapan ini, yaitu merendahkan. "Bukannya wajar kalau pria suka dada besar?" Karena itu, setelah tiga tahun menikah, Theo bahkan tidak mempunyai sedikit pun hasrat padanya. Namun, badan Raline juga biasa saja. Theo mengerutkan keningnya sambil berkata, "Aku nggak suka." Kayla tersenyum masam. Terdapat kecentilan yang luar biasa dalam kecantikannya. Kalau dia tersenyum seperti itu pada pria biasa, mungkin jiwa pria tersebut sudah melayang, tetapi Theo hanya menatapnya dengan tenang dan datar. Kayla berkata, "Suka atau nggak bukan urusanku. Tapi aku suka yang kompeten. Inilah salah satu alasan aku ingin bercerai denganmu." Ekspresi Theo berubah muram dan suasana di dalam mobil menjadi sangat canggung. Peredam suara mobil kurang bagus, jadi Paman Dafa yang berdiri di luar mobil dapat mendengar obrolan mereka berdua. Saat ini, keringat dingin bercucuran di dahinya. Melihat Theo akan segera marah, dia buru-buru memberanikan diri untuk membuka pintu mobil. "Tuan Muda, Nyonya Kayla, kita sudah sampai di rumah." Kayla turun terlebih dahulu dari mobil dan langsung melihat Evi sedang berjalan keluar dari vila sambil tersenyum cerah. Dia meraih tangan Kayla, lalu berjalan memasuki vila sambil berkata, "Kay, aku meminta Bibi Warni memasakkan sarang burung untukmu dan secara khusus menambahkan beberapa ramuan kecantikan." Evi mengabaikan Theo yang masih duduk di dalam mobil. Setelah masuk rumah, Evi bertanya dengan lembut, "Apa bocah nakal itu menindasmu?" Dia sudah melihat berita kemarin dan khawatir Kayla akan sedih, jadi malam ini dia menyuruh mereka berdua pulang untuk menginap. "Bu, aku dan dia ...." Tepat ketika Kayla hendak mengatakan bahwa dia dan Theo akan bercerai, dia disela oleh Evi, "Kalau anak itu menindasmu, katakan saja padaku. Aku akan menyuruh ayahnya mencambuknya dengan ikat pinggang! Jangan mengalah padanya. Nanti, akan kukirimkan menu makanan yang dia sukai. Mulai besok, pesankan makanan-makanan itu selama sebulan untuknya. Aku juga sudah menelepon Axel dan memperingatkannya untuk nggak membantu Theo, kalau nggak, dia akan dipecat!" Evi sama sekali tidak menyebut Raline karena takut Kayla akan sedih ketika mendengar nama itu. Bibi Warni berjalan menghampiri mereka sambil membawa syal. "Nyonya, Anda sedang nggak enak badan, kenapa tidak memakai syal saat keluar? Nyonya Kayla, Anda harus menasihati Nyonya Evi, dia harus lebih peduli pada kesehatannya." Dengan begitu, Kayla sama sekali tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata "bercerai". "Bu, Anda sakit apa? Sudah panggil dokter?" Evi melambaikan tangannya sambil berkata, "Haih, penyakit biasa cukup istirahat saja. Tengah malam begini, nggak perlu panggil dokter datang ke tempat terpencil seperti ini." Sekarang memang sudah cukup larut. Evi menemani Kayla minum sarang burung, lalu meletakkan liontin yang sudah selesai dibuat di tangan Kayla. Kemudian, mereka pun naik ke atas untuk tidur. Sebelum naik, dia mendelik Theo dengan galak sambil berkata, "Bocah nakal, kalau malam ini kamu nggak membujuk Kayla baikan denganmu, aku akan memukulmu sampai mati!" Theo terdiam. Sejak pulang, dia sama sekali tidak berbicara, tetapi sudah dimarahi? Kamar Theo dan Kayla berada di lantai dua. Karena tahu mereka akan pulang, Bibi Warni sudah mengganti seprai. Kayla pergi mengambil piama untuk mandi, tetapi ketika dia membuka lemari, dia menemukan bahwa piama katunnya sudah hilang dan digantikan oleh ... berbagai baju tidur sutra berleher rendah yang seksi. Bahkan ada dua kostum peran di antaranya. Semua orang di vila tahu bahwa Evi ingin menggendong cucu dan sudah menyiapkan kamar bayi sejak mereka menikah. Dia bahkan sudah membeli berbagai macam mainan serta pakaian untuk anak laki-laki dan perempuan. Pakaian-pakaian ini disiapkan agar mereka segera melahirkan cucu untuknya .... Kayla agak mengasihaninya. Kalau dia tahu bahwa mereka tidak pernah berhubungan suami istri selama tiga tahun menikah, apakah dia akan emosi hingga mengusir Theo dari rumah? Kayla berbalik dan mendapati Theo juga sedang melihat pakaian di lemari. Tatapannya sedingin biasanya. Theo memandangnya sambil berkata, "Semua ini nggak cocok untukmu." Kayla tertegun. Dia memilih pakaian yang paling bisa menutupi badannya. Ketika dia hendak meraih pakaian itu, Theo melemparkan sebuah kemeja ke arahnya sambil berkata, "Pakai ini." Kayla mengambilnya. Tubuh pria itu tinggi dan tegap, kemeja Theo dapat menutupi sampai lutut, memang lebih bagus daripada baju-baju tidur seksi ini. Dia tidak menolak dan langsung membawa kemeja itu pergi ke kamar mandi. Menurut hukum, setengah dari seluruh properti milik Theo adalah miliknya. Dengan begitu, kemeja ini juga adalah miliknya. Setelah mandi dan mengeringkan rambut, Kayla keluar dan melihat Theo sedang berdiri di balkon sambil merokok. Lapisan asap yang tipis pun menyelimuti wajah galak pria itu hingga tampak agak ramah. Entah itu ilusi atau bukan, tetapi ketika mata Theo tertuju pada Kayla, pupilnya menjadi lebih gelap. Namun, hal itu berlalu dengan cepat. Sembari mengisap rokok, pria itu berjalan masuk. Dia berjalan melewati Kayla tanpa berhenti sejenak pun. Kayla sudah lama terbiasa dengan sikapnya ini sehingga tidak merasakan emosi apa pun. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Bibi Warni membawa semangkuk sup sambil berkata, "Nyonya Kayla, Nyonya Evi yang memasakkan ini untuk Tuan Muda. Pastikan dia meminum habis, jangan menyia-nyiakan tenaga Nyonya. Demi memasak sup ini, tangan Nyonya terluka .... Dia hanya berpura-pura keras, meskipun tadi dia nggak mengatakan apa pun, dia sangat peduli pada Tuan Muda. Dia khawatir nutrisi Tuan Muda nggak tercukupi dan menyuruhku mengantarkan ini." "Oke." Kayla dapat memahami perasaan Evi. Bagaimanapun, Theo adalah putra kandungnya, bagaimana mungkin dia tidak peduli pada Theo? Theo sudah selesai mandi. Begitu keluar, dia langsung melihat sup yang ditaruh di atas meja. Kayla berkata, "Ibu yang memasaknya, cepat minum." Theo hanya melirik dan tidak mengatakan apa pun. Dia juga tidak berniat minum. Melihat sikap Theo, Kayla teringat pada kata-kata Bibi Warni dan ... rasa sakit yang dia rasakan saat Theo tidak pernah memakan makanan darinya selama beberapa tahun ini. Seketika, dia menjadi agak kesal. "Theo, tangan Ibu terluka karena memasak sup ini. Apa kamu tega mengecewakannya?" "Mengecewakannya ...." Sepertinya Theo tertarik pada kata ini. Dia memandang Kayla dan sudut bibirnya tiba-tiba terangkat. Kemudian, dia bertanya dengan nada main-main, "Kamu benar-benar mau aku meminumnya?" Bab 6 Alasan Bercerai: Dia Tidak Kompeten Kayla tidak menyadari ada yang aneh dengan ucapan Theo. Karena masih kesal dengan sikap cuek Theo, dia pun mengendus dengan marah, "Ya." Theo mengambil sup itu dan menghabisinya dalam sekali teguk. Namun, Theo agak kuat ketika meletakkan mangkuk hingga membunyikan suara, "bruk". Kemudian, Theo mengangkat selimut dan berbaring. Sedangkan Kayla membelakanginya dan mematikan lampu di sisinya. Dia memejamkan mata dan bersiap untuk tidur. Tahun ini, sesekali mereka akan tidur seranjang, tetapi jarak di antara mereka masih cukup untuk ditempati dua orang. Namun, malam ini sedikit berbeda .... Dia sudah tidur nyenyak. Tubuh Theo tiba-tiba mendekat padanya dan hampir memeluknya. Punggungnya menempel pada dada Theo dan dia dapat merasakan tekstur otot Theo yang terhalang oleh dua helai kain. Napas Theo yang berat dan kasar terasa dekat di telinganya. Kini, suhu ruangan pun meningkat. Sebelum Kayla bereaksi, sesuatu menghantam pinggulnya. Dia tercengang dan langsung menyadari ada yang aneh dengan Theo. "Theo ...." Tanpa sadar, suaranya gemetaran, sebagian besar karena ketakutan dan sebagian lain karena panik. Dia takut Theo akan tiba-tiba terangsang. Ketika baru menikah, dia sangat menantikan momen seperti ini. Namun, sikap cuek Theo selama bertahun-tahun sudah membuatnya mati rasa. Sekarang, mereka akan segera bercerai, dia tidak boleh terjerat dalam situasi ini lagi. Kesalahan seperti ini tidak boleh terulang. "Hah?" Dia mendengar suara serak Theo dari atas kepalanya. Terkandung nada mendominasi yang kuat dalam suara Theo. Detik berikutnya, Theo berbalik badan dan menimpa Kayla di bawah. Dia menatap mata Kayla dari atas. Kayla menstabilkan emosinya, lalu mengulurkan tangannya untuk mendorong Theo. "Aku nggak mau." "Bukannya kamu menggugatku karena nggak memuaskanmu? Tadi saat kamu menyuruhku minum sup, kupikir kamu sangat haus dan ingin bergoyang di atasku. Tapi, sekarang kamu malah bilang nggak mau. Kamu mempermainkanku?" Theo mendekati bibirnya. Terkandung gairah yang membara dalam suaranya, tetapi setiap kata yang dia ucapkan terkesan sangat menghina. Sebodoh apa pun Kayla, dia paham bahwa sup itu bermasalah. Dia mencoba menjelaskan, "Aku nggak tahu." "Kamu pikir aku percaya? Ini bukan pertama kalinya kamu melakukan hal seperti ini." "Kamu ...." Setiap kali membahas hal itu, Kayla sangat tidak berdaya. Theo selalu menyudutkan Kayla dengan mengungkit kejadian malam itu. "Biar kukatakan untuk terakhir kali, itu karena ...." Sebelum Kayla selesai berbicara, Theo sudah menciumnya dan membuatnya menarik semua kata-katanya. Kayla tertegun. Dia meletakkan tangannya di dada dan berusaha sekuat tenaga untuk mendorong Theo, tetapi Theo malah memberinya ciuman yang lebih ganas dan kasar. Sama sekali tidak ada kelembutan, hanya ada pemaksaan. Bibirnya pecah karena digigit oleh Theo dan dia merasakan sedikit bau darah. Dia sudah mulai pusing karena kekurangan oksigen. Setelah tangan panas Theo menyentuhnya, dia baru menyadari kancing kemejanya sudah terbuka. Dia memalingkan wajah untuk menghentikan Theo. "Theo, lepaskan aku." Tubuhnya meronta hebat dan berjuang kuat untuk melepaskan diri dari Theo .... Namun, pada dasarnya, tenaga wanita lebih lemah dari pria. Dia menggunakan seluruh tenaganya untuk melawan Theo, tetapi salah satu lengan Theo cukup untuk menahannya. Theo baru saja mencium bibirnya yang berdarah, dia tersenyum sinis sambil berkata, "Bukannya alasan kamu ingin bercerai karena aku mengalami disfungsi seksual sehingga nggak bisa memenuhi kebutuhan dasarmu? Sekarang, terbukti aku kompeten, alasan bercerai ditolak." Theo bangkit dan posisinya setengah berlutut di atas kasur. Dia meraih dagu Kayla, lalu memiringkan wajah Kayla untuk memaksa Kayla menatapnya. Karena pengaruh posisi, Kayla dapat melihat area itu ... dengan jelas. Suara Theo masih dingin seperti biasanya, tetapi setiap perkataannya terdengar sangat menantang Kayla. "Lihat, sudah puas?" Kayla tercengang. Ekspresinya sangat masam. Ketika dia hendak melawan, ponsel Theo berdering. Theo mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel yang terletak di samping kasur. Ketika melihat nama penelepon, Theo mengernyit. Penelepon adalah manajernya Raline. Dia menjentikkan jarinya, lalu panggilan pun tersambung. "Ada apa?" Sembari berbicara, Theo hendak bangkit dari tubuh Kayla, tetapi Kayla yang terus mencoba untuk menghindarinya tiba-tiba mengulurkan tangan .... Ketika jari-jari itu menyentuh tubuhnya, Theo langsung menegang. Dia menunduk, tatapannya sangat gelap, seolah-olah ingin melahap Kayla. Terdengar suara lembut dari katupan gigi gerahamnya. Orang di ujung lain telepon masih berbicara dan Kayla hanya samar-samar mendengar bahwa terjadi sesuatu pada Raline lagi. Intinya, penelepon ingin menyuruh Theo pergi melihat keadaan Raline. Theo menatap wanita yang memeluknya dengan hati-hati, tetapi Kayla malah mengangkat dagunya dengan centil sambil menjawab pertanyaannya, "Bukan hanya memuaskan, tapi juga tahan lama. Aku sudah nggak tahan lagi, tolong pelan-pelan ...." Suaranya cukup keras sehingga orang di ujung lain telepon dapat mendengar dengan jelas! Bab 7 Tidak Bisa Mengendalikan Diri Kayla memang sengaja. Merebut pria harus menggunakan cara keji. Jakun Theo bergulir ke atas dan bawah. Tangannya yang sedang memegang ponsel menegang dan jari-jarinya mengepal. Terdengar suara di ujung lain telepon. "Pak Theo, kalau kaki Raline lumpuh, kariernya sebagai penari akan berakhir. Dulu, demi menjadi penari internasional, dia nggak ingin Anda digosipkan karena latar belakangnya, dia sudah cukup banyak menderita. Sekarang, dia cedera dan setiap minggu perlu menjalani terapi fisik." Theo menggertakkan giginya, lalu turun dari kasur sambil berkata, "Jaga dia dulu." Kayla tidak menahan Theo karena dia tahu pria itu tetap akan pergi, jadi dia tidak ingin mempermalukan diri sendiri. Lagi pula, dia tidak ingin merebut Theo, dia hanya ingin ... membuat Raline kesal, ini juga termasuk balas dendam. Setelah berganti pakaian, Theo langsung pergi. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun pada Kayla. Di lantai bawah, semua orang sudah tidur, hanya tersisa lampu darurat yang masih menyala. Dia berjalan ke pintu utama untuk mengganti sepatu dan terdengar suara "klik", lampu kristal besar yang berada di ruang tamu tiba-tiba menyala .... Terlihat Evi berdiri di depan pintu dapur sambil memegang remot pengontrol lampu. "Sudah larut, kamu mau pergi ke mana?" Theo mengerutkan keningnya sambil berkata, "Bu, kenapa belum tidur?" "Hei, kenapa kamu menelantarkan Kayla malam-malam begini?" Theo mengatupkan bibirnya sambil berkata dengan ekspresi datar, "Tadi aku nggak bisa mengendalikan diri dan melukainya. Aku pergi membelikan obat." Kata-katanya agak ambigu, tetapi Evi langsung paham. Bagaimanapun, semangkuk sup pemacu energi diresepkan oleh dokter terkenal, khasiatnya pasti bagus. Senyuman langsung muncul di wajahnya yang dingin. Namun, dia tetap menyalahkan Theo. "Apa kamu belum dewasa? Nggak bisa lebih lembut? Sana pergi beli obat. Ya sudah, bawa Kayla sekalian. Kalau parah, pergilah ke rumah sakit. Bisa gawat kalau sampai infeksi." Theo tertegun. Akhirnya, di bawah tatapan galak Evi, Theo pun menelepon Kayla dan menyuruhnya segera turun setelah berganti pakaian. Mendengar nada bicaranya yang panik, Kayla mengira terjadi sesuatu. Dia buru-buru mengenakan pakaian dan berlari turun. Tak disangka, yang dia lihat adalah adegan Theo dan Evi berdiri berhadapan. Theo berkata dengan suara berat, "Kamu sedang nggak enak badan, ikut aku pergi beli obat." Kayla kebingungan. Kapan dia tidak enak badan? Dia melirik Evi dan mengerti. Ternyata Theo menggunakannya sebagai tameng! Dia mendelik Theo dengan kesal sambil memaki dalam hati, 'Dasar berengsek!' Evi yang kegirangan sama sekali tidak menyadari gejolak di antara mereka. Melihat celana ketat yang dikenakan Kayla, dia segera berkata, "Gantilah celana longgar. Celana ketat bisa menghambat pemulihan luka. Sekarang, cuaca sangat panas, bisa infeksi kalau luka terbungkus seperti itu." "Bu, maksud Anda ...." Apa-apaan ini? Tunggu, dia penasaran sebenarnya bagian tubuh mana yang tidak nyaman? Namun, Theo segera mengulurkan tangannya untuk menarik Kayla, Kayla pun langsung masuk ke dalam pelukannya dan dirangkul olehnya. "Kami pergi dulu, beristirahatlah lebih awal." Evi memelototinya sambil berseru, "Kayla terluka, kenapa kamu masih begitu kasar? Kalau dokter keluarga kita wanita, aku pasti sudah memanggilnya datang untuk memeriksa Kayla, buat apa menyuruhmu?" "Ya," jawab Theo dengan santai. Namun, Kayla masih kebingungan, dia yang dirangkul oleh Theo pun berjalan keluar dengan patuh. "Tunggu." Evi teringat akan suatu hal penting dan bergegas ke dapur. Ketika dia kembali, dia membawa sekantong bahan obat-obatan tradisional sambil berkata, "Khasiatnya cukup baik, bawa pulang. Kalau lagi santai, suruh pembantu masakkan untuk kalian dan minum semangkuk setiap malam." Theo mengatupkan bibirnya sebelum berkata, "Simpan untuk Ayah saja." "Ayahmu nggak perlu ini," jawab Evi dengan lugas. Kayla tercengang. Apa ayah mertuanya sudah lihai tanpa perlu meminum ramuan atau minum pun tidak ada gunanya? Apa ini adalah hal yang patut didengarkan oleh junior sepertinya? Melihat Theo tidak menjawab, Evi segera menyerahkan kantong obat kepada Kayla sambil berkata, "Cepat pergi, jangan hanya membeli obat, pergi periksa ke rumah sakit." Sejak berjalan keluar dari vila Keluarga Oliver, Kayla tidak mengatakan sepatah kata pun. Sesampainya di dalam mobil, dia baru bertanya, "Sebenarnya apa yang kamu katakan pada Ibu?" Theo tidak ingin membahas hal ini. Theo melirik obat yang masih dipegang Kayla, lalu mengangkat alisnya sambil berkata dengan nada dingin, "Kenapa? Kamu benar-benar akan membawanya pulang dan setiap malam memasakkannya untukku?" Kayla tertegun sejenak dan langsung melempar kantong obat itu ke kursi belakang, seperti sedang membuang sampah. Dia tidak lupa menambahkan, "Jadi, ibu memang paling memahami putranya. Ibu tahu kamu nggak sanggup, jadi menyiapkan obat untukmu." "Nggak sanggup?" Theo berkemudi dengan satu tangan dan menyebutkan dua kata ini dengan nada main-main. Dia melirik Kayla sambil bergumam, "Lalu pas pertama kali siapa yang sampai harus dijahit dan berbaring selama beberapa hari di rumah sakit?" Kayla memandangnya dengan penuh belas kasihan. "Pernahkah kamu berpikir bahwa aku dijahit bukan karena kamu hebat, tapi karena keterampilanmu yang buruk? Apa kamu pernah dengar wanita masuk rumah sakit sampai dijahit karena pecah keperawanan? Menghadapi kasus unik seperti ini, kenapa kamu nggak menyalahkan diri sendiri?" Theo menyipitkan matanya, kekesalan dan ketidaksenangan di wajahnya seolah-olah akan merembes keluar. Dia tiba-tiba menginjak rem dengan kuat .... Bab 8 Pak Theo Menyuruhmu Menunggunya "Turun!" Kayla diberhentikan di jalan raya, mudah untuk mencari taksi. Kayla menduga Theo ingin segera pergi ke rumah sakit untuk menemui Raline, dia juga tidak ingin melihat mereka bermesraan di rumah sakit. Tanpa ragu-ragu, dia langsung membuka pintu mobil dengan sombong dan melangkah turun. Bersamaan dengan deru mobil yang keras, debu pun beterbangan dan menerpa wajahnya. Kayla berteriak pada mobil yang sudah berbaur dengan mobil-mobil lainnya, "Nggak sabaran sekali. Apa dia sudah mati dan menyuruhmu pergi mengambil jenazahnya?" Satu-satunya tanggapan yang dia dapatkan adalah keheningan. Kemudian, Kayla berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi. Namun, ketika dia menunggu, sebuah Bentley hitam melaju ke arahnya dan berhenti di depannya. Paman Dafa keluar dari mobil sambil berkata dengan hormat, "Nyonya Kayla, Tuan Muda meminta saya mengantar Anda pulang." Kayla memahami maksud dari situasi ini. Meskipun Theo menelantarkannya, Theo sudah mengutus orang untuk menjemputnya. Dia tidak ingin menyulitkan diri sendiri, jadi dia langsung masuk ke dalam mobil. Ketika berada di dalam mobil, dia terus memikirkan cara membalas dendam. Kalau perceraian disebar ke media sosial, Theo yang begitu mementingkan harga diri pasti akan marah besar! Namun, menyinggung Theo pada saat seperti ini akan merugikan dirinya sendiri. Lagian hanya tersisa 3 bulan 10 hari, sebentar saja berlalu. Namun, setelah kejadian malam ini, dia merasa karena Raline sudah pulang dan cukup temperamental, Raline tidak akan menunggu sampai tiga bulan. ... Keesokan harinya, Kayla tidak perlu pergi bekerja ke Perusahaan Oliver lagi, jadi dia tidur sepuasnya. Sesampai di toko, Bella mengirimnya pesan WhatsApp: "Waktu temu dengan Pak Hardy dijadwalkan besok, tapi aku punya janji temu dengan klien, nggak bisa menemanimu." Setelah lulus kuliah, Bella mendapatkan modal dari keluarga untuk membuka toko barang antik. Biasanya, dialah yang membantu Kayla mencari pekerjaan sampingan. Dia membalas "Oke". Kemudian, setelah menyantap sarapan, dia pun keluar. Sejak pindah dari Vila Aeris, dia harus mencari tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja barunya. Kayla pergi ke kantor properti untuk memesan rumah dengan dua kamar tidur dan satu ruang tamu. Lokasinya dekat dengan studio dan sudah dilengkapi dengan perabotan. Kebetulan, dia bisa mengubah kamar tidur kedua menjadi ruang kerja. Hal terpenting adalah pengelola properti sangat bertanggung jawab, setiap orang yang keluar-masuk harus menunjukkan kartu identitas. Setelah menyelesaikan transaksi, Kayla pergi ke mal. Ulang tahun Bella akan segera tiba, dia ingin membelikan tas untuk Bella. Bella sudah lama menginginkan model tas musiman terbaru suatu merek yang kebetulan ada di mal ini. Kayla naik lift ke lantai 7, begitu sampai, dia langsung disambut oleh seorang pramuniaga. "Nona, apa ada model yang Anda suka?" Umumnya, orang-orang yang datang untuk membeli barang mewah sudah memiliki objek yang mereka suka. "Apa tas yang akan dipromosikan pada kuartal ketiga tahun ini sudah tersedia?" Pramuniaga itu tersenyum sungkan dan berkata, "Maaf, itu adalah tas edisi terbatas. Semua tas model itu di toko kita sudah dipesan oleh pelanggan." Kayla menjawab dengan agak kecewa, "Baik, terima kasih." Tepat ketika dia berbalik dan hendak pergi, seorang wanita cantik berpakaian rapi masuk dari luar. Dia berkata pada pramuniaga itu, "Aku datang untuk mengambil tas edisi terbatas yang dipesan oleh Pak Theo beberapa hari yang lalu." Kayla menghentikan langkahnya dan perlahan-lahan mengepalkan jarinya. Nama "Theo" jarang ditemui dan dia juga mengenal wanita di hadapannya ini. Wanita ini pernah muncul di TV, dia adalah manajernya Raline. Pramuniaga itu menjawab, "Baik, tapi kami perlu konfirmasi kepada Pak Theo terlebih dahulu. Bolehkah Anda memberi tahu nama dan status Anda?" "Nona Raline yang menyuruhku datang untuk mengambil tas itu. Namaku Karin Toreto, manajernya Nona Raline." Pramuniaga itu berbalik untuk mencari kontak Theo di komputer. Kayla tidak berniat untuk tinggal lebih lama. Rasa sakit hati yang dia rasakan tadi sudah mereda. Lagi pula, mereka akan bercerai. Dia tidak peduli kalau Theo mau menghadiahkan tas kepada wanita lain. Saat dia hendak pergi, Karin memanggilnya, "Nona Kayla." Kayla tidak menyangka Karin mengenalnya. Dia mengangkat alisnya sambil bertanya, "Ada apa?" Karin juga tidak berbasa-basi, dia langsung berterus terang, "Nona Kayla masih muda dan cantik, kenapa harus mengikat pria yang nggak mencintaimu? Sebaiknya tinggalkan dia. Selagi masih muda, carilah orang yang benar-benar mencintaimu." "Apa Raline yang menyuruhmu bilang seperti itu?" Kayla mengangkat kepalanya dengan arogan sambil berkata, "Dunia sudah terbalik. Dulu, selingkuhan selalu disembunyikan karena takut dihujat netizen. Tapi, sekarang simpanan malah berlagak hebat di depan istri sah?" Sikapnya saat melontarkan ucapan ini sungguh membuat Karin tertekan. Namun, Karin tidak tampak takut. "Dalam hubungan percintaan, orang yang nggak dicintai-lah yang disebut selingkuhan. Pada dasarnya, Raline dan Pak Theo adalah pasangan." "Bu Karin belum menikah, 'kan?" Kayla menyipitkan matanya dan pesonanya yang menawan terpancar. "Saat kamu menikah, aku akan memperkenalkan beberapa wanita centil kepada suamimu untuk menguji tingkat toleransi Bu Karin." Karin terdiam. Sebelum dia menjawab, suara lembut Kayla yang mendominasi lanjut terdengar, "Soal tas itu, tolong sampaikan kepada Nona Raline, suruh dia transfer setengah uang tas itu ke rekeningku. Meskipun Theo yang memberinya tas itu, aku belum bercerai dengan Theo. Dia masih menggunakan harta bersama. Kalau aku nggak menerima transferan itu dalam waktu tiga hari, aku akan mengirim surat pengacara kepadanya." Karin tidak menyangka bahwa wanita yang tampak pendiam ini ternyata bermulut tajam dan sulit untuk dihadapi! Seketika, dia yang fasih berbicara pun termenung. Kayla berbalik dan hendak pergi, tetapi pramuniaga di belakangnya menghentikannya dengan ketakutan, "Nyonya Oliver, Pak Theo ... Pak Theo menyuruh Anda menunggunya di sini." Sebelum menelepon, pramuniaga itu tidak menyangka akan menonton adegan yang begitu seru. Terlebih lagi, dia menghubungi asisten Theo, tetapi yang mengangkat telepon adalah Theo sendiri! Bab 9 Pasangan Kencan Barunya Kayla tidak mungkin menunggu Theo datang. Namun, dia sudah meremehkan kecepatan pria itu. Tepat ketika dia sampai di depan pintu, dia melihat sosok tinggi berjalan menghampirinya. Theo mengenakan kemeja hitam pas badan dengan celana panjang yang rapi. Dia tampak tampan, berwibawa dan aura arogannya sangat menonjol. Tampan, berwibawa, muda dan kaya .... Selain suka mempermainkan wanita, Theo jelas merupakan tipe idaman para wanita. Axel berjalan mendampinginya. Jika dibandingkan, aura mereka berdua berbeda jauh. Kayla tertegun selama beberapa detik. Setelah Theo sampai di hadapan Kayla, dia pun mengerutkan keningnya sambil mengungkapkan kekesalannya, "Paman Dafa bilang semalam kamu nggak pulang?" Dia datang untuk menanyakan hal ini? "Apa Paman Dafa nggak memberitahumu? Aku bukan hanya nggak pulang semalam, kelak, aku juga nggak akan pulang." Kayla berbalik dan ingin berjalan dari sisi lain, tetapi dihalangi oleh Axel. "Bu Kayla, Pak Theo naik ke atas karena tahu Anda sedang berada di sini." Lalu kenapa? Apa dia perlu menangis karena terharu? Axel adalah salah satu dari beberapa orang di sekitar Theo yang mengetahui hubungan mereka, tetapi dia selalu memanggil Kayla dengan panggilan "Bu Kayla atau Nona Kayla". Dia sudah menjadi pengasuh Theo selama tiga tahun, jangankan Theo, bahkan bawahan Theo pun tidak menganggapnya sebagai Nyonya Oliver dan tidak menghormatinya. Kayla memandang Axel yang menghalanginya sambil berkata dengan marah, "Pak Axel, apa kamu tahu di zaman kuno orang sepertimu disebut sebagai apa?" Pecundang! "Kayla." Terdengar kekesalan di suara Theo. "Suami istri bertengkar itu hal umum. Kamu bahkan nggak membawa pakaian, sepatu dan perhiasanmu pergi. Bukankah karena ingin aku membujukmu? Axel, pesan restoran." Setelah memerintah, dia berkata pada Kayla, "Ayo makan malam bersama hari ini. Nggak lama lagi akan ada pameran perhiasan, belilah apa pun yang kamu suka." Biasanya, ini adalah cara yang Theo gunakan untuk baikan dengan Kayla setelah bertengkar. Dia membelikan tas, pakaian, perhiasan dan benda apa pun yang dapat dibeli dengan uang. Dulu, Kayla selalu menghibur diri sendiri dan berpikir bahwa Theo adalah pria lugu yang tidak mengerti cara membujuk wanita. Namun, setelah melihat betapa pedulinya dia pada Raline, Kayla pun tersadar. Kayla mencibir sambil berkata dengan sinis, "Aku sengaja meninggalkan barang-barang itu untuk Raline. Bukannya dia suka memungut barang orang? Tumpukan sampah itu adalah hadiah pernikahan yang kuberikan untuk kalian!" Karin yang berada di samping pun menyela, "Nyonya Oliver, Anda salah paham pada Raline. Meskipun dia menyukai Pak Theo, dia nggak berniat untuk merusak hubungan kalian! Dia meminta Pak Theo memesankan tas ini karena dia nggak punya keanggotaan merk ini, sehingga nggak bisa memesan. Kalau Anda suka, kami akan memberikannya pada Anda. Anda nggak perlu menggunakan kata-kata selingkuhan untuk menghina orang, bukan?" Kalau ada tingkatan orang munafik, Karin menduduki peringkat teratas. Karena ingin melibatkan tas ke dalam konflik ini ... Kayla berbalik dan berkata sambil tersenyum menawan, "Oke, kalau begitu terima kasih, ya." Tas ini sulit didapatkan, Bella pasti suka. Apalagi ... dia tidak perlu bayar, mana mungkin menolak? Mengenai Theo, Kayla tidak peduli soal pendapatnya. Melihat Kayla hendak pergi ke kasir, Theo langsung meraih pergelangan tangannya sambil berkata, "Sudah cukup ributnya. Kalau kamu suka, akan kupesankan satu lagi, nggak akan lama, kok." Hati Kayla bergetar dan kepahitan pun melintas di hatinya. Memikirkan kehidupan pernikahannya yang dingin selama tiga tahun ini, betapa hancurnya dirinya dan melihat Theo begitu menyayangi Raline .... Dia memahami maksud Theo, tas ini untuk Raline, dia tidak boleh menyentuhnya. Wajahnya agak memucat, tetapi dia tidak membiarkan Theo menyadari hal itu. Dia berbalik dan asal menunjuk sebuah tas pria sambil berkata pada pramuniaga toko, "Bungkus tas pria ini untukku." Theo menggertakkan giginya. Melihat Kayla bukan hanya tidak marah, tetapi juga membelikannya hadiah, suasana hatinya yang sudah tertekan selama beberapa hari ini pun menjadi jauh lebih baik. Meskipun Theo tidak menyukai tas pria itu, suaranya menjadi jauh lebih lembut. "Setelah selesai makan malam, aku akan mengutus orang pergi mengambil barang-barangmu dari rumah Bella." Kayla mengabaikannya dan lanjut bertanya pada pramuniaga itu, "Apa bisa menulis kartu ucapan?" Pramuniaga itu mengangguk sambil menjawab, "Bisa." "Kalau begitu, tolong tulis 'Tuan Joe, Selamat Hari Kasih Sayang'." Kelopak mata Theo berkedut kuat. Jari-jarinya yang sedang menggenggam pergelangan tangan Kayla pun melemas. "Siapa Tuan Joe?" "Teman kencanku malam ini," jawab Kayla dengan santai. Kayla melepaskan tangannya dari genggaman Theo, lalu berkata, "Pak Theo, sudah cukup ributnya. Kalau kamu suka, akan kupesan satu lagi. Nggak akan lama, kok." Mendengar Kayla menjawabnya dengan kata-kata yang dia ucapkan tadi, pembuluh darah di dahi Theo membengkak dan garis rahangnya yang tajam pun melengkung. Pramuniaga itu sudah mencetak setruk, tapi melihat situasi ini, dia tidak berani berbicara. Kayla mengeluarkan sebuah kartu dan menyerahkannya sambil berkata, "Gesek kartu ini." Terlintas kemarahan di wajah Theo yang suram. "Kayla, dengan gaji 9 juta sebulan, apa kamu mampu membeli tas ini?" Theo sudah memblokir kartu hitam tak terbatas yang dia berikan pada Kayla sebelumnya. Selain pengeluaran besar di hotel kemarin, tahun ini, dia tidak pernah menggunakan uang di dalam kartu itu. Dengan gaji bulanan 9-10 juta, meskipun dia tidak makan dan minum selama setahun, dia hanya bisa menabung 100 juta. Dia bahkan tidak mampu membayar setengah harga tas ini. Tak disangka, terdengar bunyi "Ting" dan kartu berhasil digesek. "Tit tit tit", mesin gesek mulai mencetak setruk. Kayla menerima kotak kado dari pramuniaga itu dan langsung berbalik pergi. Theo menatap punggung Kayla, sepasang matanya seolah-olah akan meledak karena marah. Setelah keluar dari mal, langit sudah mulai gelap, Kayla yang sedang kesal pun langsung naik taksi menuju toko barang antik milik Bella. Saat ini, Bella sedang santai. Melihatnya datang, Bella langsung berdiri untuk menyambutnya. "Kenapa datang kemari? Bukannya kamu bilang malam ini akan memasakkan sup untukku?" Kayla melemparkan kotak kado di tangannya pada Bella, lalu duduk di sofa sambil berkata dengan lesu, "Jangan dibahas lagi, sungguh sial." Bella memegang kotak kado itu dengan kaget. "Apa ini? Hadiah untukku?" Kayla memejamkan matanya sambil menjawab dengan linglung, "Ya." Bella membuka kotak kado dengan gembira. Ketika melihat tas pria di dalamnya, Bella tercengang sambil berkata dengan kecewa, "Meskipun aku nggak feminin, kamu nggak perlu mengingatkanku dengan cara seperti ini." Kayla menjawab dengan tenang, "Kamu bisa menghadiahkannya pada pacarmu." Bella terdiam. Dia tidak punya pacar. Apakah Kevin, Andy dan Jeff dari klub termasuk? Kayla beristirahat sejenak, setelah suasana hatinya lebih tenang, dia menceritakan kejadian di mal kepada Bella. Mendengar Kayla mengatakan Theo memaksanya pulang, Bella merasa aneh. Setelah termenung untuk beberapa saat, dia pun bertanya dengan kaget, "Apakah si berengsek Theo itu menyukaimu?" Bab 10 Lihat, Bukannya Itu Istrimu? Kayla menatapnya dengan kaget sambil berkata, "Kalau kamu menyukai seseorang, apa kamu akan mengabaikannya selama tiga tahun? Cintamu sungguh unik!" Bella setuju. "Benar juga, tapi kenapa dia bersikeras menyuruhmu pulang? Lagian, kamu juga harus pindah lagi setelah tiga bulan. Sungguh merepotkan." Kayla tidak tahu alasan di balik pertanyaan itu dan tidak tertarik untuk mencari tahu. Malam ini, mereka berdua pergi makan sup bersama. Kayla memesan sup super pedas hingga sekujur tubuhnya berkeringat dan terasa segar. Malam ini, Kayla mematikan ponselnya karena takut diganggu oleh Theo lagi. Keesokan harinya, dia bangun pagi-pagi sekali. Dia memasukkan kopernya ke dalam mobil dan pindah ke kompleks kontrakan barunya. Kemudian, dia merapikan pakaiannya dan pergi ke tempat kerja yang dia lamar. Studio Yunox. Hardy adalah penanggung jawab tempat ini. Dia berusia enam puluhan tahun dan sosoknya tidak tinggi. Dia kaget saat melihat Kayla! "Kamu adalah ahli restorasi bernama 'Key' yang diperkenalkan oleh Bella?" Kayla mengangguk dengan sopan sambil menjawab, "Benar." Meskipun selama beberapa tahun ini Kayla tidak menerima banyak pekerjaan sampingan, setiap pekerjaan yang dia terima memiliki tingkat kesulitan yang tinggi sehingga dia sangat terkenal di industri ini. Namun, dia tidak ingin identitasnya terungkap, jadi dia menggunakan nama samaran. Nama samaran yang dia gunakan terdengar sangat sederhana dan sembrono, yaitu Key. Sebelumnya, Hardy hanya pernah melihat karya-karyanya dan belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Keterampilannya patut diakui dan tekniknya sangat luar biasa. Key bahkan dapat memperbaiki beberapa karya yang belum tentu dapat diperbaiki oleh para tetua di industri ini. Jadi, Hardy otomatis mengira Key seumuran dengannya, dia tidak menyangka bahwa Key adalah seorang gadis muda! "Aku sudah melihat karya yang kamu restorasi, kamu sungguh berbakat!" "Anda terlalu memuji, saya masih harus banyak belajar," jawab Kayla sambil tersenyum ringan. Sembari berbicara, Hardy membawanya ke kursi kosong. "Ini tempat kerjamu, Rio ...." Hardy meninggikan suaranya untuk memanggil seseorang. "Pergi bawakan beberapa barang untuk diidentifikasi oleh rekan kerja barumu." Sebagai ahli restorasi barang antik, syarat paling mendasar adalah bisa mengidentifikasi ciri-ciri dan keaslian benda-benda peninggalan kerajaan zaman kuno. Sebelumnya, dia yang mengundang Kayla untuk bergabung, artinya proses uji masuk seperti ini dapat diabaikan, tetapi Kayla berbeda jauh dengan yang dia bayangkan ... jadi, prosedur pengujian terpaksa dilakukan. Rio segera membawa beberapa benda peninggalan dari zaman yang berbeda-beda dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja. Melihat situasi ini, semua orang di studio pun berkumpul dan membahas dengan suara rendah, "Bukankah katanya yang datang hari ini adalah seorang master? Kenapa malah jadi gadis muda?" "Kurasa dia adalah penipu. Dia datang ke sini untuk meraup sejumlah uang, tapi dia nggak menyangka Pak Hardy akan mengujinya." "Dengar-dengar, Pak Hardy sudah bolak-balik beberapa kali untuk mengundangnya. Beliau pasti sangat kecewa!" Di tengah obrolan-obrolan ini, Kayla sudah mengidentifikasi beberapa objek di atas meja. Mulai dari asal muasal benda, nama kerajaan dan bahkan beberapa detail kecil serta kebiasaan pun dia sebutkan. Rio Larsa sangat kaget. "Secepat itu?" Dia adalah murid Hardy yang sudah berkecimpung di industri ini sejak lulus kuliah. Sudah hampir 10 tahun dia menggeluti bidang ini, tetapi sejujurnya, dia tidak bisa membedakan benda-benda itu dalam waktu sesingkat ini. Hardy mengangguk setuju. Bisa dibilang, dia mengakui kemampuan identifikasi Kayla, tapi mengenai keterampilan Kayla, hanya dapat dinilai dengan uji praktik. Karena belum pernah melihat Kayla memperbaiki benda-benda antik secara langsung, dia tidak berani menguji Kayla dengan benda asli. Jadi, dia meminta Rio membawa benda palsu untuk diperbaiki oleh Kayla. "Tolong jangan keberatan. Ini adalah prosedur studio kami. Benda-benda itu berharga dan nggak dapat ditiru, jadi kami lebih berhati-hati dalam memilih orang." Kayla memaklumi ini. Proses restorasi memakan waktu lama dan tenaga besar, terlebih lagi, semua orang tidak yakin pada Kayla. Bagaimanapun, dia hanyalah gadis biasa dan kualifikasinya hanya cukup untuk diterima sebagai anak magang. Karena situasi mulai monoton, semuanya pun bubar. Sebelum pulang kerja, semuanya kaget melihat Kayla sudah selesai memperbaiki benda itu! Seseorang mengembuskan napas pelan, lalu berkata, "Saat aku baru bekerja di sini, aku butuh tiga hari untuk memperbaiki potongan-potongan ini ...." Semua orang dikejutkan oleh keterampilan Kayla yang cepat dan bagus, kecuali Hardy. Dia menggunakan kacamata presbiopi dan memegang potongan yang sudah diperbaiki. Saat ini, situasi sangat hening. Kalau diperhatikan dengan cermat, terlihat jari-jarinya gemetaran hebat. Hardy mendongak untuk melihat Kayla, lalu bertanya dengan ekspresi rumit, "Apa hubunganmu dengan Riana?" Ketika mendengar nama itu, mata Kayla berkedip beberapa kali. Namun, itu hanya terjadi sesaat dan tidak ada yang menyadari. Setelah termenung sejenak, dia pun menjawab, "Pernah dengar, tapi nggak kenal." Riana. Dulu, ada seorang bintang yang paling memesona di bidang restorasi barang antik. Dia adalah ahli restorasi serba bisa. Bisa dibilang, keahliannya hampir mencapai tahap sempurna. Siapa pun yang menggeluti bidang ini pernah mendengar namanya, tetapi tak lama setelah dia terkenal, dia menghilang. Setelah bertahun-tahun, tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Hardy lanjut bertanya, "Tapi metode restorasimu ... sama persis dengannya." "Kakekku juga adalah seorang ahli restorasi, aku belajar darinya." Mendengar jawaban ini, ekspresi Hardy perlahan-lahan berubah muram. Pada akhirnya, dia pun mengangguk, terlihat kekecewaan yang mendalam di wajahnya. Bagaimanapun, semua orang sudah menyaksikan keterampilan Kayla, Hardy juga yakin bahwa dia adalah orang yang berbakat. Lalu, Hardy pun secara resmi memperkenalkan Kayla pada semua orang, "Dia adalah Key, rekan baru kita." Rio yang berada di samping pun berseru kaget, "Key? Key yang kukenal itu? Bukannya dia adalah seorang tetua? Bagaimana mungkin ...." Berubah menjadi gadis muda yang begitu cantik? Hardy mendelik untuk menyuruhnya diam. "Key, jangan ambil hati." Kayla hanya tersenyum. Setelah itu, Hardy memperkenalkan orang lain padanya. Hanya ada sedikit orang di studio, totalnya delapan atau sembilan orang termasuk Kayla. Mereka semua sangat ramah dan memuji Kayla dengan tulus. Sama sekali tidak ada aura negatif seperti saat ... bekerja di Perusahaan Oliver. Kayla sangat menyukai tempat ini, apalagi ini adalah pekerjaan yang diminatinya. Sepulang kerja, semua orang di studio pergi makan bersama. Kabarnya, setiap kedatangan rekan baru, semua karyawan Studio Yunox akan pergi makan-makan bersama sebagai pesta penyambutan. Tempat makan yang mereka datangi adalah kedai makanan laut yang terletak di seberang restoran mewah. Di depan jendela lantai dua restoran, Carlos Gutama yang sedang merokok di samping jendela tidak sengaja melihat ke bawah. Dia mendongak sambil bertanya pada Theo yang berada di sampingnya, "Lihat, bukannya itu Kayla?" Theo mengangkat kelopak matanya dan melihat ke arah yang ditunjuk Carlos. Alhasil, dia melihat Kayla sedang mengobrol riang dengan beberapa orang ....