Dinodai CEO Kejam

Đang tải thông tin quảng bá...

Dinodai CEO Kejam

GoodNovel Hoàn thành
Artist

Sena Monela tidak pernah menyangka keputusannya memakai gaun milik kakaknya di hari ulang tahun kekasihnya malah mendatangkan kesialan baginya. Seorang pria misterius mendadak menangkapnya karena ...

Chương (1)

第1章

Bab 0001 "Jangan bertingkah seperti perawan!" "Tidak! Hentikan! Aku bukan Giana! Kau salah orang!" Sena menangis begitu pilu saat seorang pria bengis terus menghentakkan tubuhnya di atas tubuh Sena. Sena terus mendorong tubuh pria itu, tapi tenaganya sudah habis untuk melawan sampai kini ia hanya bisa meringis perih merasakan kehormatannya direnggut secara keji dan menyakitkan oleh pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu. "Lepaskan aku! Kau pria biadab!" seru Sena sambil memukuli tubuh pria itu, tapi pria itu tetap melakukan perbuatan biadabnya, seolah perlawanan Sena tidak berarti apa-apa untuknya. "Berhenti berakting, Giana! Bukankah kau menyukai ini? Menjajakan tubuhmu untuk dinikmati para pria dengan imbalan uang, hah?" seru pria itu sarkastik. "Tidak! Sungguh aku bukan Giana, aku Sena," rintih Sena lagi. Namun, pria bengis itu hanya menyeringai sambil mencemooh. "Simpan saja kebohonganmu itu, Wanita Jalang!" Pria itu terus melakukan aksi bejatnya sampai Sena merasa dunianya benar-benar telah hancur. Kalau waktu bisa diulang, sungguh Sena tidak akan mengulangi perbuatannya. Hanya karena ingin tampil cantik di hari ulang tahun kekasihnya, Sena memakai gaun cantik milik Giana, kakaknya, tanpa ijin. Kakaknya jarang pulang ke rumah, tapi semua gaun, alat make up, bahkan sepatu, dan parfum mahal masih tersimpan rapi di rumah, dan Sena memberanikan diri memakainya, sesuatu yang selama ini belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sena pun baru saja berjalan tidak jauh dari rumahnya saat mendadak kepalanya ditutup dengan kain hitam oleh beberapa pria dan ia pun ditarik paksa masuk ke dalam mobil. Sena terus berteriak dan memberontak, tapi tidak ada yang menolongnya sampai akhirnya ia dibawa ke kamar ini, kamar dengan hawa dingin yang begitu menusuk sampai membuat Sena gemetar ketakutan. Bahkan, sampai detik ini Sena masih belum bisa melihat di kamar seperti apa ia berada karena kain hitam itu masih menutupi kepalanya. Sena juga belum bisa melihat wajah pria keji yang terus memanggilnya Giana dan tanpa ampun memaksa menodainya. Sena hanya bisa mendengar suara berat pria itu yang terus menuduhnya dengan penuh kebencian dan aroma maskulin yang melingkupinya, yang justru membuat Sena makin merinding ketakutan. "Kau sudah mencari masalah dengan orang yang salah, Giana! Berakting menjadi sosialita dan mengencani para pria kaya lalu menipu uang mereka dan mendepak mereka begitu saja!" "Aku tidak peduli pada uang. Bahkan uangku bisa membeli apa pun di dunia ini, tapi kau sudah menyia-nyiakan adikku yang tulus mencintaimu sampai hidupnya sekarang harus begitu menderita setelah kau tinggalkan. Dasar wanita murahan!" imbuh pria itu. Sena langsung tercekat mendengarnya. Ternyata itu alasannya. Pria bengis ini melakukan semuanya karena ia merupakan salah satu korban dari Giana. Giana, kakak Sena itu memang sangat cantik dan modis, sedangkan Sena terlihat seperti upik abu dibandingkan Giana. Bukan berarti Sena tidak cantik, karena walaupun Sena tidak semodis Giana, Sena mempunyai wajah cantik alami yang bahkan lebih cantik dibanding Giana yang gemar bersolek itu. Tapi jangan salah, karena mereka sama sekali bukan orang kaya dan semua barang mewah serta baju-baju bagus itu bisa Giana dapatkan dengan cara yang tidak benar. Sejak kecil, Giana memang terlihat menonjol dan orang tua mereka selalu membanggakan Giana. Mereka selalu berusaha memberikan semua yang Giana mau dan terus meminta Sena berkorban. Hingga sampai mereka dewasa, Giana pun tetap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya, berhutang dan menipu sana sini demi memenuhi gaya hidupnya yang mewah, dan saat hutang itu ditagih, Giana akan selalu menyodorkan Sena untuk menyelesaikan masalahnya. Sena sendiri selalu bekerja keras demi melunasi hutang kakaknya dan demi menopang hidupnya sendiri. Namun, ia tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya ia juga harus mengorbankan kehormatannya karena ulah kakaknya juga, kakak yang seharusnya menjaga dan melindunginya malah membuat hidupnya hancur. "Baiklah, pantas saja para pria itu tergila-gila padamu, Giana! Kau memang luar biasa, tapi kau juga luar biasa menjijikkan, Wanita Murahan!" Suara pria bengis itu terdengar setelah ia menuntaskan hasratnya dengan menjijikkan. Dengan cepat, pria itu melepaskan dirinya dari Sena dan langsung menyambar celananya. Namun, mendadak matanya menangkap bercak darah yang terlihat jelas di atas sprei putih yang kusut itu. Bercak darah itu juga terlihat di bagian lain yang membuat pria itu membelalak lebar karena ia tahu pasti bahwa itu adalah darah perawan, sedangkan Giana sama sekali bukan perawan. "Sial, tidak mungkin kau masih perawan!" umpat pria itu sambil langsung meraih kain hitam yang sejak tadi masih menutup kepala Sena. Seketika wajah cantik Sena yang berlinang air mata pun terlihat di sana dan membuat pria itu membeku sesaat. "Sial, kau bukan Giana! Siapa kau?" Sena makin hancur mendengar pertanyaan yang begitu terlambat dari pria berparas tampan tapi berhati iblis itu. "Aku sudah bilang aku bukan Giana, mengapa kau tidak mau mendengarku? Dasar brengsek!" teriak Sena frustasi sambil menarik selimut besar itu menutupi seluruh tubuhnya. "Sial! Jangan berteriak di hadapanku!" Alih-alih menyesal karena salah orang, pria itu malah menghampiri Sena lalu mencengkeram rahang Sena begitu kuat dan menyakitkan. "Akhh, lepas!" "Siapa kau, Wanita Brengsek? Mengapa kau berdandan seperti Giana, hah?" Pria itu yakin ia tidak mungkin salah. Ia melihat sendiri saat anak buahnya menangkap Giana. Namun, wanita di hadapannya ini sama sekali bukan Giana. Walaupun wajah cantik ini nampak sedikit mirip, tapi keseluruhannya sangat berbeda. "Kau dengar aku bertanya padamu kan? Apa kau bisu? Kau tidak bisa menjawabku? Siapa kau? Mengapa kau keluar dari rumah Giana?" bentak pria itu lagi karena Sena sama sekali tidak menyahutinya. "Aku Sena, aku bukan Giana!" teriak Sena lantang. Pria itu langsung memicingkan mata mendengarnya. Ya, akhirnya ia mengingat nama itu karena ia memang sudah mencari tahu tentang keluarga Giana sebelumnya. "Sena? Baiklah, aku mengingatnya. Kau pasti Sena Monela, adik kandung dari Giana, benar kan?" Kedua mata Sena membelalak mendengarnya. Bahkan pria itu tahu nama lengkapnya padahal Sena sama sekali tidak tahu siapa pria itu. "Kau? S-siapa kau sebenarnya? Mengapa kau tahu nama lengkapku?" "Tidak penting siapa aku, yang penting katakan di mana Giana berada sekarang!" bentak pria itu. Sena kembali ketakutan. Entah seharusnya ia melindungi kakaknya atau menyerahkan kakaknya saja karena Sena sudah lelah dengan semua ini. Sebagai adik, Sena sudah begitu sabar menghadapi Giana. Sena selalu bekerja keras dan dikejar-kejar oleh semua orang yang mencari Giana dan walaupun kesal, Sena selalu berusaha melindungi kakaknya dengan mencicil hutang kakaknya sedikit demi sedikit. Namun, hutang yang dicicil bukan malah berkurang malah makin bertambah dan Sena pun tidak pernah hidup dengan tenang. Sungguh, Sena ingin bersikap egois dan menyuruh kakaknya menyelesaikan masalahnya sendiri tapi bagaimanapun Giana adalah kakaknya dan ia tidak tega. Sena pun masih berharap Giana tetap selamat dan sehat di mana pun kakaknya itu berada, walaupun Sena hidup tertekan sendirian di sini. Tapi untuk kali ini Sena tidak sanggup menghadapi pria bengis ini. "Aku tidak tahu di mana Giana, kau cari saja Giana sendiri, aku sudah lelah. Apa pun yang Giana lakukan tidak ada hubungannya denganku, mengapa aku yang harus menanggung akibatnya?" keluh Sena dengan hati yang teriris. "Ck, aku benci wanita yang hanya bisa menangis, Sena. Dan siapa bilang kau tidak ada hubungannya dengan Giana? Kakakmu itu sudah menyakiti adikku dan kalau akhirnya aku menyakiti adiknya juga, itu namanya karma!" Lagi-lagi Sena sakit hati mendengarnya. "Adikmu? Aku bahkan tidak mengenal siapa adikmu. Aku juga tidak tahu apa-apa tentang apa yang Giana lakukan di luar sana." "Diam kau, Wanita Sialan! Dengarkan aku! Kalau kau masih mau hidup tenang, lebih baik bawa kakakmu padaku." Sena menggeleng. "Aku bersumpah aku tidak tahu di mana dia." "Jangan mencoba membohongiku atau melindunginya, Sena." "Sungguh aku tidak berbohong." "Brengsek! Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Sena," seru pria itu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sena. Hembusan napas pria itu pun menerpa kulit wajah Sena sampai napas Sena pun tersengal dibuatnya. "Bawa kakakmu itu kepadaku atau kau akan terus merasakan neraka buatanku, Sena! Aku bersumpah akan menghancurkan hidupmu seperti kakakmu sudah menghancurkan hidup adikku!" ** Bab 0002 Sena tidak pernah benar-benar ingat bagaimana ia bisa tiba di rumahnya malam itu. Yang bisa Sena ingat hanyalah dirinya menangis sepanjang perjalanan dan ia mulai berhalusinasi seolah semua orang menatapnya jijik dan mencemooh dirinya yang kotor. Sena pikir, malam kelamnya sudah berakhir begitu ia tiba di rumah, tapi ternyata ia salah. Sena malah disambut dengan kondisi rumahnya yang berbeda dengan saat ia tinggalkan tadi. "Ya Tuhan, apa lagi ini? Mengapa lampu rumah menyala? Pintunya juga terbuka. Siapa di rumah? Apa ada pencuri?" Sena begitu panik dan langsung saja berlari ke arah rumahnya walau langkahnya tertatih karena bagian sensitifnya masih terasa perih. Namun, ia tidak peduli dan segera masuk ke dalam rumah. "Siapa di sana? Keluar dari rumahku!" pekik Sena dengan gagah berani sambil mengangkat tas selempangnya. Sena tahu mungkin ia begitu bodoh kalau berpikir tas selempangnya bisa melumpuhkan pencuri, tapi sungguh ia tidak bisa berpikir lagi, ia hanya tahu ia harus menyelamatkan rumahnya, satu-satunya harta yang masih ia punya, peninggalan kedua orang tuanya. Sena pun terus melangkah ke arah sumber suara di dalam kamarnya dan sambil mengumpulkan kekuatannya, Sena pun membuka pintu kamarnya, berniat menyerang pencurinya. Namun, ketika melihat sosok yang ada di depannya, perasaan Sena langsung bergejolak tidak karuan. Marah dan benci bercampur menjadi satu. "Giana! Akhirnya kau pulang juga, akhirnya kau pulang setelah kau menghancurkan segalanya! Kau masih ingat kau punya rumah, hah? Perbedaan umur di antara mereka yang hanya dua tahun lebih membuat Sena tidak pernah memanggil Giana dengan sebutan kakak. Bahkan banyak yang mengira mereka kembar walaupun wajah mereka sebenarnya tidak begitu mirip. Giana yang mendengar suara Sena itu pun menoleh dan baru saja akan menyahuti Sena, tapi ia malah menganga menatap penampilan Sena. "Apa ini, Sena? Apa yang kau lakukan dengan memakai gaunku?" sembur Giana tajam. "Kau mau belajar menjadi pencuri, hah? Lepaskan gaunku dari tubuhmu! Lepas!" bentak Giana sambil menghambur ke arah Sena dan menarik gaun itu dari tubuh Sena. "Akhh, apa yang kau lakukan, Giana? Aku hanya meminjamnya, aku akan mengembalikannya nanti!" "Apa aku sudah mengijinkannya? Berani sekali kau menyentuh barangku, Sena! Asal kau tahu kalau gaun ini sangat mahal. Kau bekerja berbulan-bulan saja belum tentu bisa membeli gaun ini. Tapi sial! Apa itu? Gaunnya robek?" pekik Giana saat ia melihat ujung gaun yang sepanjang lutut itu nampak robek. Seketika Sena pun menatap nanar ke ujung gaunnya yang pasti robek karena pria bengis itu memaksa menariknya tadi. "Apa yang kau lakukan sampai gaunnya robek, Sena? Dan kau bahkan memakai sepatuku. Bau apa ini? Parfumku juga? Dasar pencuri! Berani sekali kau memakai semua barangku. Sekarang cepat lepaskan! Lepaskan gaunku, Sena!" "Aku bisa melakukannya sendiri, Giana! Lepaskan tanganmu!" seru Sena sambil menahan tangan Giana yang terus menarik gaun itu sampai gaun itu sedikit melorot dan membuat kulit di atas dada Sena tersibak. Giana pun sampai menganga sejenak melihat tanda merah di sana. "Tanda apa itu, Sena? Tanda apa di dadamu?" Sena sendiri sontak menutupi tanda yang pasti dibuat oleh pria bengis itu saat menodainya tadi. Namun, Giana langsung tertawa kesal dan menatap jijik pada adiknya itu. "Oh, ternyata kau mau belajar menjadi wanita murahan, hah? Apa kau baru saja menghabiskan malam bersama seorang pria, hah? Pasti pria itu yang membuat tanda di tubuhmu kan? Pantas saja aku bisa merasakan aroma parfum mahal seorang pria." Giana sedikit memajukan wajahnya dan ia memejamkan matanya sejenak merasakan aromanya. "Dasar wanita sok suci! Kau terus menasihati aku setiap kali kita bertemu sampai aku muak mendengarnya, tapi ternyata kau tidak ada bedanya dengan aku. Murahan!" sembur Giana tanpa perasaan. Hati Sena begitu tertusuk sekarang. Rasanya Sena ingin mengumpat dan berteriak di depan wajah Giana. Sena bisa tahan kalau hanya harus bekerja melunasi hutang, toh Sena sudah melakukannya begitu lama, tapi kalau harus kehilangan masa depannya seperti ini, bagaimana ia masih bisa menghormati kakaknya setelah semua ini? Sena pun menatap kakaknya dengan tatapan kecewa yang tidak bisa dijelaskan lagi. "Tahukah kau apa yang terjadi padaku karena kau, Giana? Aku kehilangan kehormatanku karena seorang pria yang mempunyai dendam padamu, apa kau tahu itu?" Giana yang mendengarnya pun membelalak dan terdiam sesaat. "Apa? Apa maksudmu?" "Aku dinodai, Giana. Dia bilang kau sudah meninggalkan adiknya dan dia mengira aku adalah kau!" Giana pun membelalak makin lebar saat ini. Tentu saja ia sudah biasa tidur dengan banyak pria, jadi kehilangan kehormatan bukan hal yang luar biasa lagi bagi Giana. Tapi seseorang yang bisa melakukan hal itu, menangkap dan menodai Sena berarti orang itu pasti bukan orang yang baik dan Giana pun mulai merasa takut. "Sial! Siapa adiknya saja aku tidak tahu. Tapi kalau dia salah menangkapmu berarti ada kemungkinan dia akan mencariku lagi kan? Aku tidak boleh tertangkap, aku tidak boleh tertangkap!" Giana pun mulai panik dan kembali mencari sesuatu di dalam laci kamar Sena. Namun, Sena yang mendengar ucapan Giana malah makin sakit hati. "Aku baru saja dinodai! Tubuhku bahkan masih sakit, tapi kau sama sekali tidak peduli?!" Sena mencoba menunjukkan betapa hancur dirinya di hadapan Giana. Ia berharap, kakaknya itu mau sedikit berempati. Hanya saja, harapannya terlalu tinggi. Sebab, Giana justru memandang sang adik dengan rendah. "Kehilangan kehormatan tidak membuatmu mati, Sena. Lain hal jika mereka yang menemukanku. Jadi, jangan manja! Terima saja nasibmu!" desis Giana sambil mulai melempar keluar semua isi laci milik Sena. "Kau benar-benar tidak punya perasaan, Giana! Jangan bongkar lagi! Sebenarnya apa yang kau cari, Giana?" Sena mencoba menghentikan Giana, tapi Giana mengempaskan tangan Sena. Terjadi saling menarik dan mendorong antara Sena dan Giana sampai akhirnya Giana mendorong Sena kasar sampai Sena jatuh terduduk di lantai. "Akh!" Sena meringis dan menatap tak percaya pada kakaknya. Dan tepat saat itu, akhirnya Giana pun menemukan apa yang ia cari yaitu sertifikat rumah. Giana mengangkat map sertifikat itu sambil tersenyum puas, sedangkan Sena langsung membelalak melihatnya. "Apa yang mau kau lakukan dengan itu, Giana? Kembalikan padaku!" Sena menahan rasa sakit di tubuhnya dan bangkit berdiri untuk merebut sertifikat itu dari Giana, tapi dengan cepat Giana mengamankan sertifikat rumah itu. "Aku akan menjual rumah ini, Sena! Aku membutuhkan banyak sekali uang untuk investasi dan aku harus menjual rumah ini!" "Jangan gila! Aku tinggal di mana kalau kau menjual rumah ini? Ini satu-satunya peninggalan Ayah dan Ibu, Giana!" "Ayah dan Ibu sudah mati, mereka tidak akan peduli lagi pada rumah ini dan kau juga bisa mencari tempat tinggal lain, aku tidak peduli. Aku butuh uang, Sena, dan aku harus menjual rumah ini!" seru Giana lagi yang langsung mendorong Sena dan melarikan diri dari rumahnya. "Berhenti, Giana! Kembalikan padaku! Giana!" Sena berteriak sambil mengejar Giana sampai keluar rumah, tapi terlambat. Giana sudah masuk ke dalam mobil yang baru saja datang menjemputnya. Sena sempat memukul-mukul kaca mobil itu dan terus memanggil Giana, tapi mobil itu pun langsung tancap gas dan melaju kencang pergi dari sana sampai Sena pun langsung jatuh terjerembab di jalanan depan rumahnya. "Akhh, Giana! Kembali, Giana! GIANAAA!!!" teriak Sena dengan tangisan yang begitu memilukan. ** Bab 0003 Sena menatap kosong ke salah satu sudut kamarnya malam itu. Rasanya hampa sekali, semuanya mendadak hilang dalam semalam. Kehormatannya dan juga rumahnya. Sena pun tertawa sambil menangis dengan sangat frustasi di sana. Sena jijik pada dirinya. Bahkan, setelah Sena mandi dan menggosok tubuhnya sampai kulitnya memerah dan perih, ternyata rasa jijiknya belum juga mau pergi sampai Sena mendadak begitu membenci dirinya sendiri. "Mengapa aku harus mengalami semua ini? Mengapa aku harus memakai gaun itu tadi? Aku bersumpah aku tidak akan melakukannya lagi, bisakah aku minta waktu diputar kembali, Tuhan? Aku mohon satu kali saja!" "Aku janji aku tidak akan memakai barang milik orang lain tanpa ijin lagi! Aku janji," lirih Sena sambil menengadah seolah berbicara pada Tuhan. "Mengapa juga Giana harus begitu tega padaku? Di mana aku harus tinggal kalau dia benar-benar menjual rumah ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?" Dengan air mata yang terus mengalir, Sena pun berpikir keras dengan otaknya yang sudah penuh dan buram. Dalam kekalutannya, Sena sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya saja dan menyusul kedua orang tuanya ke surga. "Kalau aku mati, aku tidak perlu lagi menghadapi hari esok. Ya, aku tidak harus malu karena sudah tidak suci lagi dan aku juga tidak harus menjadi gelandangan karena tidak punya rumah. Aku tidak akan disuruh bertanggung jawab lagi atas semua yang tidak pernah aku lakukan." Air mata Sena terus bercucuran walaupun ia tidak melakukan apa-apa selain diam saat ini. Tentu saja ia serius berharap mati saja, tapi Sena juga punya ketakutan dan kesadaran kalau bunuh diri itu adalah hal yang salah dan tidak boleh dilakukan. Sena makin stres karena seolah tidak ada jalan keluar dari masalah ini selain menghadapinya. Sena pun masih berkutat dengan pikiran dan kesedihannya sendiri saat ponselnya berbunyi dan Sena pun meraih ponselnya di dalam tas yang sejak tadi ia abaikan itu. Air mata Sena pun makin deras saat melihat nama Hansel di sana, kekasihnya yang sangat ia cintai. Padahal mereka sudah berjanji untuk bertemu malam ini dan merayakan ulang tahun Hansel bersama, tapi Sena malah tidak bisa datang. "Halo, Hansel?" Sena berusaha membuat suaranya terdengar baik-baik saja begitu ia mengangkat teleponnya. "Sena, Sayang, akhirnya kau mengangkat teleponku juga. Aku meneleponmu sejak tadi. Apa yang kau lakukan? Mengapa kau tidak mengangkat teleponku dan kau juga tidak datang ke ulang tahunku? Padahal aku mau mengenalkanmu pada teman-temanku." "Ah, maaf, Hansel. Aku tadi mendadak tidak enak badan, kepalaku pusing sampai aku hampir pingsan jadi aku tidak melihat ponselku," dusta Sena dengan susah payah. "Eh, lalu sekarang kau sudah tidak apa?" "Tidak apa. Aku ... baru bangun dari tidurku dan sekarang aku sudah lebih baik." "Ah, syukurlah. Kalau begitu istirahatlah lagi, besok aku akan menemuimu." "Hmm, terima kasih dan ... selamat ulang tahun, Hansel. Aku berharap kau selalu sehat dan bahagia," ucap Sena sambil menahan tangisannya. "Terima kasih, Sena. Besok pulang kerja, aku akan menjemputmu." Sena mengangguk. "Sampai besok, Hansel." Mereka berpamitan dan setelah menutup teleponnya, Sena pun kembali menangis dengan begitu sedih sampai tanpa sadar, ia pun tertidur dalam kesedihannya. Entah berapa lama Sena tertidur malam itu, tapi saat Sena membuka matanya, Sena merasakan tubuhnya sakit semua. Sena pun masih meringis dan mencoba bergerak sampai tanpa sengaja ia melihat jamnya yang sudah menunjukkan jam sembilan pagi dan ia pun membelalak. "Astaga, sudah jam sembilan pagi, aku harus sampai ke mall jam setengah sepuluh, aku tidak boleh terlambat lagi kali ini." Memikirkan akan terlambat kerja pun mendadak membuat Sena mempunyai kekuatan untuk bangkit dan bersiap pergi bekerja, seolah tidak ada yang terjadi kemarin. * Sebuah mobil mewah baru saja berhenti di sebuah gedung bertingkat pagi itu. Alexander Sagala, CEO perusahaan itu pun keluar dari mobil dan melangkah memasuki gedung Maxima Construction, sebuah perusahaan konstruksi yang cukup besar di negara ini. Para karyawan yang melihat sang pimpinan pun langsung menunduk sopan dan tidak sedikit karyawan wanita yang tertegun menatap wajah rupawan sang CEO. Tidak dapat dipungkiri, Xander memiliki kesempurnaan yang membuat kaum hawa selalu menoleh dua kali setiap berpapasan dengannya.Wajah tampan dengan garis wajah yang tegas, tubuh tegap dan gagah, pintar, kaya raya, dan sepak terjang yang luar biasa di dunia bisnis membuat Xander menjadi bujangan yang sangat diminati oleh para wanita. Bahkan, dengan tatapan sinis dan sikap arogannya tidak membuat pesona itu berkurang sedikitpun. Namun, Xander selalu mengabaikan tatapan itu. Xander pun langsung melangkah menuju ke ruang kerjanya sendiri diikuti oleh asistennya yang setia yang bernama Henry. Pria dengan wajah datar sama seperti bosnya itu langsung melaporkan banyak hal begitu mereka masuk ke ruang kerja Xander. "Proyek baru dengan Pak Himawan sudah mulai dikerjakan, karena itu, akan ada rapat jam sepuluh nanti untuk membahasnya, Pak. Lalu setelah makan siang, ada pertemuan dengan pimpinan Diamond Group, dan malam harinya ada makan malam dengan CEO Rayya Group." "Hmm, aku tahu, Henry. Lalu bagaimana dengan wanita bernama Sena itu?" "Dia pulang dengan selamat tadi malam, Pak, tapi ...." Henry terdiam sejenak sampai Xander yang melihatnya pun memicingkan matanya. "Tapi apa, Henry?" "Pagi ini, anak buah kita memeriksa ke sana dan informasi dari tetangga mengatakan bahwa Sena dan Giana bertengkar tadi malam." Kedua mata Xander pun membelalak lebar mendengarnya. "Dasar wanita brengsek! Berani sekali dia membohongiku dan mengaku tidak tahu di mana Giana," geram Xander sambil mengepalkan tangannya. Ya, Xander adalah pria yang menangkap dan menodai Sena kemarin. Xander juga mengancam Sena tanpa perasaan dan Xander paling tidak suka dibohongi. "Batalkan semua agendaku hari ini, Henry! Cari di mana Sena berada sekarang, dia harus merasakan akibatnya karena sudah membohongiku!" titah Xander penuh amarah. Sementara itu, Sena yang sudah tiba di tempat kerjanya pun masih menunduk saat supervisornya memarahinya karena ia terlambat masuk pagi ini. Sena bekerja sebagai pramuniaga di sebuah supermarket besar yang ada di dalam mall dan ia sudah terlambat tiga kali bulan ini. "Maafkan aku, sungguh aku tidak enak badan karena itu aku bangun terlambat." "Aku tidak mau menerima alasan, Sena. Kau sudah terlambat tiga kali dalam bulan ini dan kalau kau terlambat satu kali lagi, terpaksa aku tidak akan memakaimu lagi." "Astaga, Pak, tolong jangan begini, aku janji ini yang terakhir, Pak. Akhh!" Sena meringis saat rasa perih di tubuhnya kembali terasa, tapi ia memaksakan diri bersikap baik-baik saja. Namun, sang supervisor malah menggeram kesal. "Kau selalu bilang ini yang terakhir setiap kali kau terlambat, Sena. Jadi aku sudah tidak percaya lagi. Lebih baik sekarang kau bekerja sana dan untuk hari ini kau akan lembur!" "I-iya, Pak! Maafkan aku!" Sena terus menunduk sampai sang supervisor itu pergi, barulah ia merintih lagi sambil melangkah tertatih ke koridor yang lebih sepi. Untuk sesaat, Sena mengedarkan pandangan ke sekeliling dan rasa trauma itu masih ada, seolah semua orang menatapnya dengan aneh, walaupun rasanya tidak separah kemarin. Sena pun berusaha menenangkan dirinya dan fokus bekerja saja. "Hidup harus terus berjalan, Sena! Ayo, kau bisa! Tidak ada yang bisa menolongmu selain dirimu sendiri jadi ayo bekerja! Kau harus menunjukkan hasil kerja yang baik agar supervisor itu tidak rela memecatmu. Tidak! Yang benar adalah jangan sampai terlambat lagi." Sambil mengembuskan napas paniangnya, Sena pun memaksakan diri bergerak seperti biasa. Sena mulai merapikan barang-barang di rak sambil mencatat di bukunya barang apa yang stoknya menipis dan Sena pun bekerja dengan sangat serius sampai siang menjelang. Bahkan saking seriusnya, Sena sampai tidak sadar kalau ada orang yang sudah mengamatinya sejak tadi. Sena pun masih tetap serius memperhatikan barangnya sambil melangkah mundur. Namun, langkahnya mendadak terhenti saat tanpa sengaja ia menabrak tubuh keras seseorang di belakangnya. Buk! "Astaga, maafkan aku, aku tidak sengaja!" Sena yang berbalik pun langsung menunduk meminta maaf tanpa ia tahu siapa yang ditabraknya. Hingga saat Sena mengangkat kepalanya dan tatapannya bertemu dengan tatapan seorang pria yang ditabraknya, kedua mata Sena pun membelalak. Jantung Sena seketika ikut memacu kencang mendengar suara berat pria itu menyapanya. "Kita bertemu lagi, Sena Monela." ** Bab 0004 Xander menyeringai menatap wajah cantik Sena yang nampak lebih fresh pagi itu. Walaupun masih ada bekas sembab di sana yang menandakan wanita itu baru saja menangis semalaman, tapi hal itu tidak mengurangi kecantikan Sena sama sekali. Bahkan, Xander sampai memicingkan mata menatap sekali lagi wajah yang tidak terlalu ia perhatikan kemarin malam itu. Dengan make up seadanya dan seragam pramuniaga serta rambut yang digelung rapi membuat Sena terlihat jauh lebih cantik daripada kemarin saat Sena berdandan memakai gaun milik Giana. Namun, wanita itu tetap saja sudah menipunya dan Xander tidak bisa menerimanya sama sekali. Sena sendiri sudah membelalak lebar dengan jantung yang berdebar kencang menatap pria yang sama sekali tidak ingin ditemuinya lagi itu. "Apa ... apa yang kau lakukan di sini?" seru Sena gemetar sambil mencengkeram erat-erat bukunya dan melangkah mundur. "Mencarimu, Sena. Urusan kita belum selesai," jawab Xander dengan nada yang begitu mengintimidasi. "Aku tidak punya urusan denganmu. Pergi! Jangan ganggu aku lagi!" sahut Sena dengan lantang walaupun napasnya mulai tersengal. "Kau jelas-jelas punya urusan denganku, Sena. Dan kau sudah berbohong padaku, aku tidak suka dibohongi." Sena menggeleng tidak mengerti. "Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak membohongimu dan aku tidak punya urusan apa pun denganmu." "Ck, kau berani bilang kau tidak berbohong, hah? Asal kau tahu kalau aku sama sekali bukan pria yang sabar, Sena. Kau bilang padaku kalau kau tidak tahu di mana Giana, tapi ternyata kau bertemu dengannya tadi malam, benar kan? Apa kau mau mengelak lagi, Sena?" Kedua mata Sena kembali membelalak mendengarnya. "Itu ... itu ...." "Jangan berani menyangkalnya, Sena! Dan jangan berani melindunginya! Bawa dia kepadaku atau kau akan menyesal, Sena!" Sena pun kembali menggeleng dengan tubuh yang makin gemetar. "Tidak! Kemarin aku tidak tahu dia pulang, tapi secepat itu dia pergi lagi dan aku tidak tahu lagi di mana dia berada. Bahkan, dia juga hanya datang untuk menambah kesedihanku, jadi berhenti mencariku. Pergi sana! Pergi!" Xander yang mendengar teriakan Sena pun memicingkan mata sambil melirik ke sekelilingnya dan beberapa orang terlihat mulai menatap penasaran pada mereka. "Baiklah, Sena. Kesabaranku sudah habis dan jangan pikir aku akan diam saja setelah kau membohongiku." Perlahan Xander melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka sampai Sena menegang di sana. "Tunggu saja kejutan dariku, Sena! Kau harus tahu dengan siapa kau sedang berhadapan sekarang," bisik Xander di depan wajah Sena yang lagi-lagi membuat Sena menahan napasnya. Sebuah seringaian kembali terbit di wajah bengis pria itu sebelum akhirnya Xander pergi meninggalkan Sena. Dan kaki Sena pun langsung lemas setelahnya. Bahkan, Sena harus berpegangan pada rak barang agar ia tidak jatuh. Jantungnya masih berdebar tidak karuan dan tubuhnya juga gemetar hebat, tapi ia bisa bernapas lebih lega sekarang, seolah hawa iblis baru saja pergi darinya. "Tenang, Sena! Tidak apa! Dia hanya asal bicara. Ya, kau harus tenang." Cukup lama Sena menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya ia masuk ke ruangan khusus karyawan dan meneguk air banyak-banyak di sana. "Hei, Sena, sudah jam segini, ayo makan dulu!" ajak seorang teman Sena yang memberikan nasi kotak yang biasa mereka beli bersama untuk para karyawan. "Ah, iya, terima kasih." Sena berusaha tetap tenang dan memakan makan siangnya walaupun ia merasa begitu sulit menelan makanannya. "Kau tidak apa, Sena? Sejak tadi kau nampak murung. Jangan dengarkan ucapan supervisor, dia memang suka mengomel kan? Sudah, makan saja dan bekerja dengan baik ya." Sena kembali mengangguk dan mencoba tersenyum pada wanita itu. "Iya, terima kasih," ucap Sena lagi sebelum ia menghabiskan makan siangnya. Namun, setelah makan siang berlalu, hatinya makin gelisah, bukan karena ucapan supervisor, tapi karena ancaman pria bengis itu. Sampai tidak lama kemudian, kegelisahannya menjadi nyata saat ia dipanggil ke ruangan supervisor. "Mulai besok kau tidak perlu lagi bekerja di sini, Sena. Ini gajimu dan ada sedikit bonus di dalamnya." Supervisor meletakkan sebuah amplop di meja dan mendorongnya ke arah Sena. Tatapan Sena pun langsung goyah. "Apa? Maksudnya aku ... dipecat? Tapi mengapa? Aku janji aku tidak akan terlambat lagi, Pak. Aku janji!" "Ini sudah keputusan pimpinan, Sena. Aku juga tidak tahu menahu tentang keputusan itu." "Tapi pasti ada yang salah di sini. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, Pak. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, Pak." Sena mulai menitikkan air matanya lagi karena ini begitu menyakitkan. Ia dipecat tanpa sebab yang jelas. "Semua orang juga membutuhkan pekerjaan, Sena. Termasuk aku. Aku hanya menjalankan perintah pimpinan dan kalau aku tidak menurutinya, aku yang akan dipecat. Kau juga harus mengerti aku, Sena." "Tapi Anda kan supervisor di sini, tidak bisakah kau membantu membelaku? Aku tidak pernah melakukan kesalahan apa pun, Pak." "Apa yang mau dibela? Kau juga sering terlambat, bagaimana caraku membelamu, hah?" "Tapi Anda tidak bisa melakukan ini padaku, Pak. Anda tidak bisa." Sena mulai memohon sambil menangis, tapi supervisor itu malah makin geram dan tidak mau lagi bicara dengan Sena. Dan Sena pun ditinggalkan menangis sendiri di ruang supervisor. Sungguh, Sena tidak tahu apa nasibnya yang begitu buruk atau ini yang dimaksud pria bengis itu dengan tunggu kejutan darinya? Tapi mungkinkah pria itu bisa membuat Sena dipecat? Entahlah, tapi pada kenyataannya Sena sudah dipecat dan ia begitu sulit menerimanya. Kehilangan pekerjaan utamanya sama saja dengan membuatnya kehilangan sumber penghasilan. Bagaimana ia bisa hidup nanti? Bagaimana ia bisa membayar hutang Giana saat ditagih nanti? Sena terus menitikkan air matanya saat ia berpamitan dengan teman-temannya dan ia pun berakhir dengan duduk sendirian di food court mall. Tidak lama kemudian, ponsel Sena berbunyi dan nama Hansel tertera di sana. Sena pun segera menghapus air matanya dan menenangkan napasnya sebelum ia mengangkat teleponnya. "Halo, Hansel?" "Sena, bagaimana kondisimu? Apa sudah lebih baik?" "Tentu saja sudah. Aku baik-baik saja." "Ah, syukurlah. Oh iya, aku akan agak terlambat menjemputmu nanti, Sayang. Kau tidak apa kan?" "Tidak apa, Hansel. Santai saja." "Ah, baiklah, Sena. Bekerja yang rajin ya. Nanti kita bertemu." "Iya, tapi Hansel ...." Sena terdiam sejenak dan mempertimbangkan untuk memberitahukan tentang ia yang dipecat atau tidak, tapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengatakannya. "Iya, Sena? Ada apa?" "Ah, tidak. Tidak ada apa-apa." "Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa!" Sena hanya mengangguk lalu menutup teleponnya dan kembali merenung dengan air mata yang kembali menetes. Tanpa Sena sadari, Xander sendiri sudah duduk di sebuah restoran yang tidak jauh dari food court. Dan dari posisinya, Xander pun bisa mengamati bagaimana Sena yang duduk sendirian di sana sejak tadi. Xander pun menyeringai puas dan langsung meraih ponselnya untuk menelepon Sena yang nomornya sudah ia dapatkan dari Henry. Sena sendiri yang baru saja menutup teleponnya pun langsung mengangkat teleponnya lagi tanpa melihat nama peneleponnya karena ia berpikir bahwa Hansel yang meneleponnya lagi. "Halo, Hansel," sapa Sena begitu ia mengangkat teleponnya. "Hansel? Aku bukan Hansel, Sena." Sena langsung membelalak mendengar suara itu dan ia langsung memeriksa nomor di ponselnya yang ternyata nomor tidak dikenal. "Kau! Mau apa kau meneleponku dan dari mana kau bisa tahu nomor ponselku?" "Itu tidak penting dari mana aku tahu nomor ponselmu, Sena. Tapi apa kau menyukai kejutan dariku?" "Apa? Kejutan?" Jantung Sena berdebar begitu kencang memikirkan sepertinya benar pria itu adalah dalang dari pemecatannya. "Kau ... jangan bilang kau yang membuat aku dipecat," lirih Sena. Xander pun hanya menyeringai. "Menurutmu, Sena? Tidak ada yang tidak bisa kulakukan, Sena." Dan hati Sena pun langsung mencelos. Seketika ia tidak bisa menahan emosinya lagi dan bangkit berdiri dari kursinya. "Brengsek kau! Brengsek! Sebenarnya apa yang kau mau, hah? Kalau kau memang ada masalah dengan Giana, mengapa kau harus melakukan ini padaku? Aku tidak ada hubungannya dengan Giana, bisakah kau tidak mengganggu hidupku lagi, hah?" pekik Sena frustasi. Bahkan, Sena tidak peduli kalau ia menjadi pusat perhatian saat ini. Namun, Xander yang melihatnya dari kejauhan pun begitu menikmati ekspresi putus asa dari wanita itu. "Sayangnya tidak bisa, Sena. Ini peringatan pertamaku dan aku tidak akan berhenti sebelum kau membawa Giana padaku!" ** Bab 0005 Sena masih menggeram begitu kesal dan frustasi setelah menutup telepon dari Xander. Sena ingin berteriak, mengumpat, dan menangis lagi, tapi mendadak ia teringat kalau Hansel akan menjemputnya dan ia harus terlihat bahagia. Cukup lama Sena menenangkan dirinya sebelum akhirnya ia memutuskan ke toilet untuk merapikan penampilannya agar lebih segar. Sena yang sudah mengganti seragam pramuniaganya dengan baju santai itu pun melepas gelungan rambutnya dan rambutnya langsung tergerai bergelombang dengan indah. Tidak lupa Sena juga memoles lagi make up tipisnya agar wajahnya tidak terlihat sembab. Dan setelah puas dengan penampilannya, Sena pun pergi ke sebuah toko kue di dalam mall untuk membeli kue tart. "Ini kuenya, Nona." "Terima kasih." Sena tersenyum menatap kue tart kecil yang baru saja ia beli untuk Hansel. Sena pun membawa kue itu dan melangkah keluar dari toko, tapi ia nampak berhenti di sebuah kaca yang terletak di perbatasan antara toko itu dengan toko lain untuk merapikan penampilannya sekali lagi dan Sena pun tersenyum puas. Seberapa buruk pun harinya, ia tidak mau mengacaukan perayaan ulang tahun malam ini. Sena ingin memberikan kuenya dan mengajak Hansel makan malam bersama lalu berkencan seperti biasanya. Sena pun begitu antusias menunggu Hansel di depan mall. Bukan tepat di depan mall, tapi Sena harus melangkah keluar sampai ke trotoar agar Hansel bisa langsung melihatnya nanti. Tidak lama kemudian, Hansel pun datang dengan sepeda motornya dan Sena pun memberikan senyum hangatnya untuk sang kekasih. "Sena!" Hansel langsung membuka helm teropongnya dan tersenyum sambil mengarahkan sepeda motornya dan menghentikannya di depan Sena. Sena sendiri langsung mengulum senyumnya begitu melihat kekasihnya itu. "Apa kau sudah lama menunggu, Sena?" "Tidak, aku baru saja keluar." "Ah, baiklah, maaf aku terlambat ya, tapi mengapa wajahmu sedikit sembab?" Hansel mengulurkan tangannya menangkup sebelah pipi Sena dan membelainya. Sena pun sempat memejamkan mata sekilas merasakan hangatnya tangan Hansel di wajahnya. "Aku tidak apa. Mungkin karena kemarin aku sakit jadi wajahku tidak segar," jawab Sena lembut. "Tapi sekarang kau sudah sembuh kan, Sena? Maaf kemarin aku tidak bisa ke rumahmu karena aku masih bersama teman-temanku." "Hmm, aku sudah sembuh, Hansel. Dan santai saja. Aku yang tidak bisa datang, tapi jangan sampai acaramu dengan teman-temanmu ikut berantakan. Sudahlah, ayo kita pergi!" ajak Sena. "Hmm, ayo, ini helm untukmu!" Hansel mengangguk lalu memberikan helm untuk Sena dan Sena pun segera memakainya. Namun, Sena sedikit kesulitan saat ia akan naik ke sepeda motor karena masih ada rasa perih yang ia rasakan di bagian bawah tubuhnya dan rasa itu sangat tidak nyaman. "Eh, ada apa, Sena? Apa sandaran kakinya belum terbuka? Ini sudah. Naiklah!" "Ah, iya, aku akan naik." Sena pun berpegangan pada bahu Hansel dan ia naik ke atas motor sambil meringis. Ia pun sempat menyamankan posisi duduknya sebelum ia meminta Hansel untuk jalan saja. "Baiklah, aku jalan sekarang ya." "Hmm." Sena mengangguk dan langsung memeluk kekasihnya dari belakang sambil menyandarkan pipinya ke punggung pria itu. Sena pun merasakan betapa nyaman punggung kekasihnya yang entah sampai kapan bisa ia rasakan. Apa nanti Hansel masih bisa menerimanya kalau tahu ia sudah tidak suci lagi? Padahal ia tidak pernah mau kalau Hansel menciumnya di bibir dan selama berpacaran, Hansel hanya pernah menciumnya di tangan dan pipinya. Mendadak Sena melow sampai ia memeluk Hansel makin kencang saat motor mereka melaju kencang. Tanpa Sena sadari, sebuah mobil masih mengikutinya sejak tadi. Henry dan Xander ada di dalam mobil itu dan Xander pun terus memicingkan matanya menatap kemesraan Sena dengan kekasihnya itu. "Jadi pria itu yang bernama Hansel?" "Benar. Namanya Hansel Prawira dan dia bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan manufaktur. Dia sudah menjalin hubungan dengan Sena selama dua tahun terakhir ini." Xander tersenyum sinis mendengarnya. "Huh, jadi pria itu selalu membawa Sena ke mana pun dengan sepeda motornya itu?" "Ck, dia benar-benar berbeda dengan kakaknya. Apa dia tidak bisa sedikit menggunakan otaknya? Untuk apa wajah cantik dan tubuh yang indah kalau tidak dimanfaatkan? Cukup sedikit bersolek saja, dia pasti bisa mendapatkan pria yang lebih baik daripada kekasihnya itu," imbuh Xander sambil mengembuskan napas panjangnya. "Tapi baiklah! Daripada dia menjadi brengsek seperti kakaknya, lebih baik dia menjadi bodoh seperti sekarang," seru Xander lagi. Xander pun terdiam sejenak dan terus menatap bagaimana Sena memeluk kekasihnya itu dengan begitu hangat, benar-benar sikap yang berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh wanita itu pada Xander kemarin dan hari ini. Dan tanpa sadar, Xander pun mendengus kesal. Hansel dan Sena sendiri akhirnya tiba di sebuah depot langganan mereka, depot yang menjual bubur dan mie rebus.Depot ini menjadi tempat makan wajib bagi mereka kalau ada salah satu dari mereka yang berulang tahun. "Aku rindu sekali mie rebus di sini. Ayo kita pesan!" seru Hansel antusias. "Jangan lupa pesan yang pakai telur. Kau harus makan telur karena kau sedang berulang tahun," sahut Sena sama antusiasnya. "Haha, tapi kemarin aku sudah makan telur, Sena." "Tidak apa, makan telur lagi sangat sehat untukmu. Ayo pesan lagi!" "Baiklah!" Hansel pun mengangguk dan langsung memesan beberapa menu murah meriah di depot itu, sedangkan Sena langsung saja membuka kue tartnya. "Ta-raaa, aku membelikan kue tart untukmu!" "Astaga, Sena! Kukira apa yang kau bawa sejak tadi. Mengapa kau begitu repot, Sayang?" "Aku sama sekali tidak repot, ayo kita pinjam korek dulu dan menyalakan lilinnya!" Dengan cepat mereka pun menyalakan lilinnya dan berdoa bersama sebelum akhirnya Hansel meniup lilinnya. "Selamat ulang tahun, Hansel! Maaf, perayaannya terlambat satu hari." Sena pun berdiri dari kursinya lalu menghampiri Hansel yang sedang duduk di hadapannya dan mendaratkan bibirnya ke pipi Hansel. Cup! "Terima kasih, Sena!" Mereka pun berpelukan sejenak sambil memejamkan mata sebelum tiba-tiba suara derap langkah sepatu terdengar mendekati mereka. Sontak mereka sama-sama membuka matanya dan sontak menoleh. Sena pun langsung membelalak menatap siapa yang sedang berdiri di sana. "Rupanya sedang ada pesta di sini? Mengapa kau tidak mengundangku, Sena Sayang?" sapa Xander provokatif. Sebenarnya bukan niat Xander mengganggu dua orang yang sedang bermesraan, tapi ia tidak tahan lagi duduk di mobil dan hanya menjadi penonton, karena itu, ia pun akhirnya keluar untuk membuat kejutan lagi untuk Sena. Sena sendiri yang menatap Xander sudah diam seribu bahasa, sedangkan Hansel yang belum tahu apa-apa malah masih mengernyit. "Eh, kau siapa? Apa kau mengenal kami? Kau tadi memanggil Sena apa? Apa kau mengenalnya, Sena?" tanya Hansel dengan polosnya sambil mendongak menatap Sena yang masih berdiri di sampingnya. Xander yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum sinis sambil memasukkan kedua tangan ke kantong celananya dan menatap Sena, menunggu wanita itu menjawabnya. Namun alih-alih menjawab, Sena malah tetap diam dan menatap Xander dengan tidak percaya. Apa pria itu hantu? Atau apa pun itu, mengapa pria itu ada di mana-mana? Seketika Sena kembali sesak napas, tapi ia sama sekali tidak menjawab apa pun. Sampai akhirnya Xander pun menyeringai dan mengalihkan tatapannya ke arah Hansel. "Karena Sena diam saja, maka biarkan aku yang memperkenalkan diriku. Namaku adalah Alexander Sagala. Dan aku adalah selingkuhan dari Sena kekasihmu itu!" ** Bab 0006 Suara lantang Xander membuat Sena dan Hansel seketika membelalak bersamaan. "Apa? Siapa yang kau maksud?" tanya Hansel terbata. Hansel yang masih duduk di kursinya pun mendongak menatap Sena. "Sebenarnya ada apa ini, Sena?" Namun, Sena hanya menggeleng. "Jangan dengarkan dia, Hansel! Dia pria gila. Aku juga tidak mengenalnya. Ayo lebih baik kita pergi saja dari sini!" "Eh, tapi mienya ...." "Tunggu dulu!" Sena pun langsung mengeluarkan uang dari dompetnya yang ia tahu pasti lebih untuk membayar pesanan mienya. "Aku mau membayar, Bu! Akan kuletakkan di sini saja uangnya! Terima kasih!" teriak Sena. "Ayo Hansel, kita pergi saja!" ajak Sena lagi sambil menggandeng tangan Hansel. "Eh, tapi Sena ... sebenarnya ada apa ini?" tanya Hansel lagi sambil tetap mengikuti Sena. Mereka pun melewati Xander begitu saja dan Xander hanya menyeringai sebelum ia pun mengekor di belakang Sena. Hansel dan Sena pun akhirnya keluar dari depot dan Sena mengajak Hansel untuk pulang saja, tapi Hansel malah melepaskan gandengan tangan Sena. "Tunggu, Sena!" "Tunggu apa lagi, Hansel? Ayo kita pulang saja!" "Tidak! Aku harus tahu apa maunya pria tadi," seru Hansel yang kukuh ingin kembali ke dalam depot, namun Xander yang dicari olehnya mendadak sudah keluar dan berdiri di hadapan Hansel sekarang. "Kau mencariku, Hansel?" tanya Xander dengan santai. Hansel pun mengembuskan napas kesalnya menatap Xander. Tentu saja kalau dilihat secara fisik, Hansel tidak ada apa-apanya. Pria yang berdiri di hadapannya ini sangat tampan dan gagah, bahkan jas yang dipakainya menunjukkan betapa hebat pria itu. Sedangkan Hansel hanya memakai kemeja biasa yang sama sekali tidak sebanding, tapi tetap saja Hansel harus mempertahankan kekasihnya. "Hansel, sudah, kita pulang saja!" Sena masih berusaha memeluk dan menarik lengan Hansel, namun Hansel menepisnya sambil tetap menatap Xander. "Ya, aku mencarimu! Siapa kau dan apa yang kau mau? Mengapa kau mengaku-ngaku sebagai selingkuhan Sena?" tantang Hansel tiba-tiba. Xander pun memicingkan mata menatap Hansel yang ternyata cukup punya keberanian juga menantangnya seperti ini. "Aku mengaku-ngaku? Aku ini memang selingkuhannya Sena. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada Sena sendiri." "Tidak! Itu tidak benar! Aku tidak pernah selingkuh," sembur Sena begitu saja begitu mendengar ucapan Xander. "Dan kau pergilah dari hadapanku, Pria Gila!" Sena menunjuk ke arah Xander dengan penuh emosi. Hansel sendiri yang mendengarnya pun memutuskan untuk percaya pada Sena. "Kau dengar kan? Sena bilang dia tidak pernah selingkuh dan aku percaya padanya. Sena tidak mungkin selingkuh dariku. Kami sudah bersama selama dua tahun dan dia tidak mungkin mengkhianatiku," tegas Hansel dengan gagah berani. Namun, ekspresi wajah Xander nampak biasa saja, malahan ia menatap Sena sedikit lebih lama sebelum ia kembali menyeringai. "Kau begitu percaya ya pada Sena?" tanya Xander lagi dengan tatapan bengisnya. Jantung Sena pun mulai berdebar kencang saat ini. Jangan sampai pria itu mengatakan apa pun pada Hansel. Sena tidak akan sudi kalau pria itu sampai membongkar semuanya. Dengan liar, Sena pun akhirnya menghambur ke arah Xander dan mendorongnya keras-keras sampai Xander yang tidak siap pun sedikit terhuyung. Sungguh, ini mengejutkan sekali saat Sena berani menyerangnya seperti ini. "Apa yang kau lakukan, Sena?" bentak Xander yang begitu terkejut. "Pergi kau dari sini! Aku tidak mengenalmu dan aku juga tidak punya hubungan apa pun denganmu, jadi jangan mengusik hubunganku dengan Hansel!" balas Sena sambil menatap Xander dengan kobaran api di matanya. Xander kembali terkejut. Tentu saja ia sangat terkejut karena belum pernah ada yang berani melawannya seperti ini. Tapi Xander bukan orang yang bisa dilawan karena sekali orang itu melawan, maka Xander tidak akan memberinya ampun. Xander pun tertawa kesal dan malah melirik Hansel. "Kau lihat sendiri kan, Hansel? Betapa Sena takut kebohongannya terbongkar?" "Sekarang apa yang kau katakan lagi, Brengsek?" pekik Sena lagi sambil melotot marah. Namun, Xander mengabaikan Sena dan melanjutkan ucapannya. "Sena takut kau mengetahui kalau aku adalah selingkuhannya, bahkan kami juga sudah tidur bersama dan aku merasa buruk untukmu, Hansel, karena aku sudah mengambil keperawanan kekasihmu," seloroh Xander dengan entengnya. Seketika Sena langsung menahan napas mendengarnya, tubuhnya gemetar dan merinding sekaligus dan ia pun tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Sedangkan Hansel sendiri langsung mematung mendengarnya. Untuk sesaat, Hansel hanya tetap mematung sebelum ia mendapatkan kesadarannya kembali dan ia pun menoleh menatap Sena. "Apa? Kau tidur dengannya, Sena? Dan apa? Dia mengambil keperawanan apa? Kau ... apa itu benar, Sena?" Sena sudah menggeleng dengan air mata yang sudah berucucuran. "Jangan dengarkan dia, Hansel! Jangan dengarkan dia!" lirih Sena. Hansel yang masih syok pun terlihat makin syok melihat ekspresi Sena. "Mengapa? Mengapa kau menangis, Sena? Kalau itu tidak benar, bukankah seharusnya kau tinggal membantahnya saja? Tapi mengapa kau malah menangis dan tidak membantahnya, Sena? Mengapa?" Sena hanya terus menggeleng. "Kumohon percayalah padaku, Hansel! Ini tidak seperti yang kau pikir." Sena berusaha mendekati Hansel dan menyentuh lengannya, namun Hansel mengangkat kedua tangannya menghindari Sena. "Jangan, Sena! Jangan!" Hansel pun perlahan melangkah mundur. "Aku ... aku tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang, tapi ... biarkan aku sendiri dulu," seru Hansel yang perlahan mundur menjauhi Sena. "Hansel ... tidak, Hansel!" seru Sena yang terus melangkah mendekat. "Tidak! Kau ... kau bisa pulang sendiri kan, Sena? Aku ... aku tidak akan mengantarmu." "Hansel, jangan tinggalkan aku! Aku mau ikut denganmu, Hansel!" Sena masih mengikuti Hansel sampai ke sepeda motornya, namun Hansel tidak mau Sena ikut dengannya. "Biarkan aku pulang sendiri, Sena! Biarkan aku pulang sendiri dan terima kasih atas hadiah ulang tahunnya," seru Hansel dengan sakit hati yang terlihat jelas sebelum ia langsung melajukan motornya pergi meninggalkan Sena. Dan Sena pun hanya bisa berteriak lirih dengan air mata yang kembali bercucuran. "Hansel, jangan tinggalkan aku, Hansel!" Xander pun lagi-lagi menyeringai puas melihat betapa frustasinya ekspresi Sena saat ini. "Jadi dia mendapatkan hadiah yang sangat pahit di hari ulang tahunnya ya? Kasihan sekali!" seru Xander tanpa perasaan. Sena yang mendengar suara itu pun langsung menoleh dan menatap Xander dengan tajam. Sena pun kembali menyerang Xander dan mendorongnya keras sampai Xander kembali terkejut. "Sial, apa yang kau lakukan?" pekik Xander tidak terima. "Puas kau, Pria Brengsek, hah? Puas kau? Dasar brengsek! Dasar tidak punya hati!" Mendadak Sena terus memukuli dada dan bahu Xander, apa pun yang bisa Sena raih akan ia pukuli dan Xander pun akhirnya murka. Dengan cepat, Xander menangkap kedua tangan Sena dan menggenggamnya sekaligus sambil menatap wanita itu lekat-lekat. "Jangan kelewatan, Sena!" geram Xander dengan nada yang mengintimidasi. "Memangnya kenapa kalau aku kelewatan, hah? Apa lagi yang mau kau lakukan padaku? Kau sudah mengambil semua yang aku punya, kehormatanku, pekerjaanku, kekasihku, lalu apa? Sekalian saja kau membunuhku agar aku tidak perlu merasakan kehilangan lagi! Dasar pria brengsek!" teriak Sena begitu kesal. "Mengapa kau berpikir aku mau membunuhmu, Sena? Aku tidak mau kau mati karena kau harus membawa kakakmu dulu kepadaku." "Aku sudah bilang aku tidak tahu di mana dia berada! Kalau kau saja bisa terus menemukan aku dan melakukan semua ini padaku, mengapa kau tidak menyuruh anak buahmu mencarinya sampai ke ujung dunia, hah? Mengapa kau harus mengganggu hidupku? Aku sungguh tidak ada hubungannya dengan Giana!" Xander terdiam sejenak dan terlihat berpikir keras sebelum ia menjawabnya. "Benar juga, aku bisa meminta anak buahku mencarinya ke ujung dunia, Sena. Tapi setelah kupikirkan lagi, kalau aku bisa mendapatkan keduanya, mengapa aku harus memilih salah satunya, hah? Salahkan saja takdir yang membuatmu menjadi adiknya Giana!" ** Bab 0007 "Ah, dasar pria brengsek!" Sena memekik kesal di kamarnya dan ia pun duduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Sena meninggalkan Xander tadi dan langsung pulang ke rumahnya tanpa mempedulikan pria itu lagi. Lagipula siapa yang mau berdekatan dengan iblis seperti itu? "Sebenarnya apa salahku? Apa hanya karena aku adiknya Giana, lantas dia boleh melakukan ini padaku? Mengapa aku harus bertemu dengan pria berhati iblis sepertinya?" pekik Sena frustasi. Sungguh, kemarin sampai tadi sore, Sena masih belum bisa menahan rasa sedihnya. Setiap detik, Sena hanya ingin menangis melow, tapi malam ini, setelah akhirnya Xander merusak hubungannya juga dengan Hansel, alih-alih melow, Sena malah merasa sangat kesal pada iblis bernama Xander itu. Sena mengembuskan napas panjangnya dan dengan air mata yang masih berlinang, Sena pun mencoba menelepon Hansel, walaupun ponsel Hansel tidak pernah aktif. "Hansel, bagaimana caranya aku menjelaskan semuanya padamu? Hanya kau yang aku punya, Hansel. Kau tahu itu kan? Orang tuaku sudah tidak ada dan Giana ...." "Oh, bisakah kau mendengarkan aku dulu? Walaupun aku sudah tidak suci tapi ini juga bukan salahku, aku juga korban, Hansel," lirih Sena lagi. Sena menyeka air matanya dan hatinya penuh dengan perasaan yang tidak karuan saat ini. Sementara itu, Xander masih duduk di mobilnya tanpa ekspresi. Walaupun apa yang ia lakukan jahat, tapi ia sama sekali tidak menyesal melakukannya. Sena hanya kehilangan kehormatannya, kehilangan pekerjaan, kehilangan kekasihnya, tapi Andrew, adik Xander kehilangan dunianya. Untuk sesaat, Xander hanya terdiam sambil berpikir keras sampai akhirnya ia pun tiba di sebuah rumah besar dengan gerbang yang tinggi, sebuah rumah mewah tempatnya tinggal. Mobil yang dikendarai Henry pun masuk ke sana dan gerbang tinggi itu segera menutup lagi. Xander sendiri langsung keluar dari mobil dan Bik Arta, seorang wanita tua yang sudah bekerja lama untuk keluarga itu pun langsung menyambut Xander. "Kau sudah pulang, Xander?" sapa Bik Arta yang sudah seperti Ibu bagi Xander. Ayah Xander sendiri sudah lama meninggal, sedangkan ibunya sudah menikah lagi. Karena itu, hanya Andrew satu-satunya yang Xander miliki saat ini. "Iya, Bik. Bagaimana dengan Andrew, Bik?" tanya Xander sambil melangkah ke kamar Andrew. Hal pertama yang selalu Xander lakukan setiap ia pulang ke rumah adalah menyapa adiknya itu. Bik Arta sendiri yang mendengar pertanyaan Xander pun hanya mengembuskan napas panjangnya sebelum ia menjawab. "Masih sama saja, tapi dia ... makin tenang dari hari ke hari," lirih Bik Arta. Xander pun menatap wanita tua itu sejenak dan air matanya hampir saja menetes saat ia memahami maksudnya. "Aku akan menemuinya, Bik. Terima kasih." Bik Arta mengangguk dan segera meninggalkan Xander yang langsung masuk ke kamar Andrew. Kamar mewah itu tampak begitu hening dan sama sekali tidak ada suara di sana. Namun, ada seorang pria tampan dengan tubuh gagah yang hampir sama seperti Xander, yang sedang tidur sambil memeluk sebuah boneka beruang besar yang ia beri nama Giana. Tatapan Xander pun menghangat menatap Andrew, adik yang sangat ia sayangi. Xander pun melangkah perlahan agar ia tidak membangunkan Andrew dan Xander langsung duduk di samping boneka besar itu. Dengan perlahan juga, Xander mengangkat tangan Andrew dan berniat mengganti boneka itu dengan guling saja karena Xander sama sekali tidak suka melihat Andrew seperti ini. Namun, baru saja Xander menarik boneka itu, Andrew pun langsung terbangun. "Tidak, Giana! Jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau sendirian, Giana! Aku sangat mencintaimu! Jangan tinggalkan aku!" Mendadak Andrew menarik lagi boneka itu kuat-kuat dan memeluknya. Andrew pun mendekap boneka itu dan membelai kepala boneka itu dengan kedua tangannya lalu menatapnya dengan penuh cinta. Xander yang melihatnya pun seketika mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya. Xander tidak tahan lagi dan langsung membentak Andrew. "Hadapilah kenyataan ini, Andrew! Kau seorang pria, Brengsek! Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini? Giana itu hanya wanita murahan penipu dan dia tidak pantas untukmu!" geram Xander yang sudah berkali-kali kehilangan kesabaran melihat kondisi Andrew. Namun, Andrew seolah menulikan telinganya, Andrew mengabaikan ucapan Xander, dan ia malah terus menciumi bonekanya sampai Xander makin sakit hati melihatnya. "Itu pasti kakakku! Jangan dengarkan dia, Giana! Selama ada aku, kau akan aman. Kakakku sangat menyayangiku, dia tidak akan mengusirmu. Kau tenang saja ya." Andrew terus menenangkan Giana-nya dan Xander pun hanya bisa menahan emosinya. Andrew memang berbeda dengannya. Kalau Xander mempunyai sifat yang begitu keras, berbeda dengan Andrew yang lebih menutup diri dan minder. Tentu saja hal ini juga disebabkan oleh kondisi keluarganya yang sejak dulu memang tidak harmonis. Tapi intinya Andrew berbeda dengannya. Perasaan Andrew begitu halus dan Giana adalah cinta pertama Andrew. Xander yang sudah lama tinggal di luar negeri untuk mengembangkan bisnisnya pun sangat senang setiap mendengar Andrew menceritakan tentang Giana dengan tatapan yang berbinar-binar, seolah Giana adalah dunianya. "Dia adalah wanita paling cantik yang pernah kutemui, Kak. Aku sangat mencintainya," seru Andrew waktu itu. "Dia mengajarkan banyak hal padaku, termasuk ... haha, aku malu sekali menceritakannya padamu, tapi akhirnya aku merasakan yang namanya kenikmatan duniawi seperti yang biasa kau lakukan dengan para wanitamu. Kau tidak akan marah padaku kan, Kak? Dia benar-benar luar biasa, Kak," imbuh Andrew dengan tatapan penuh cinta. Xander yang mendengarnya hanya tergelak. Ia bukan pria kolot dan bisa mendengar hal ini dari mulut Andrew saja sudah membuat Xander begitu senang. Xander juga sempat meminta anak buahnya mengikuti Andrew dan Giana waktu itu dan Xander pun juga tertipu oleh semua yang ditunjukkan Giana dari luar. Sampai suatu hari Giana menghilang dan awal kehancuran Andrew pun dimulai. Entah berapa lama mereka mencari Giana namun tidak membuahkan hasil dan Andrew pun mulai menjauh dari dunia nyata. Andrew mulai masuk ke dalam depresi dan halusinasinya sampai mentalnya begitu terganggu. Segala upaya sudah Xander coba untuk mengembalikan adiknya namun setelah satu tahun berlalu, Andrew tetap sama. Xander pikir, putus nyambung dalam hubungan percintaan adalah hal yang biasa, sampai Xander akhirnya mengetahui kenyataan tentang Giana yang sebenarnya hanya seorang wanita penipu yang sudah tidur dengan banyak pria dan menipu uang mereka lalu mencampakkannya begitu saja. Xander tidak terima. Xander sangat tidak terima karena wanita jalang itu berani mempermainkan adiknya. Xander tidak peduli pada pria mana pun itu, asal bukan Andrew. Dan itulah tujuan Xander pulang ke negara asalnya kali ini, untuk membalaskan dendamnya pada wanita brengsek itu. "Aku bersumpah akan membalaskan semuanya. Tapi tidak! Bukan untuk mengembalikan wanita penipu itu padamu karena dia sama sekali tidak pantas untukmu, Andrew." "Aku hanya akan membuatnya merasakan apa yang kau rasakan, merasakan kehancuran dan rasa sakit yang luar biasa sampai dia pun berakhir di rumah sakit jiwa," geram Xander lagi dengan penuh dendam di hatinya. **