Pesona Istri Yang Kuabaikan

Đang tải thông tin quảng bá...

Pesona Istri Yang Kuabaikan

GoodNovel Hoàn thành
Perbedaan usiaboy x girlCinta sejatiDewasa

Husniah, berusia menjelang dua puluh tahun saat kunikahi. Gadis itu kurus, dan tidak bisa merawat diri, jauh dari tipeku sebagai pria mapan dan matang. Kami menikah karena permintaan Ibuku. Selama...

Chương (1)

第1章

Bab 1 "Tidur di kamar sebelah, jangan tidur di sini. Aku tidak suka kamu tidur di kamarku," ucapku pada gadis berusia dua puluh tahun, yang baru saja menikah denganku. Kami menikah seminggu yang lalu, setelah itu aku harus membawanya ke kota. Tinggal bersama denganku di kota ini. Bukan tanpa sebab aku tak ingin tidur dengannya. Aku tidak begitu mengenalnya, dan juga tidak menyukainya apalagi menaruh hati padanya. Aku menikah dengannya karena dipaksa oleh Ibu, wanita yang sudah melahirkanku itu tiba-tiba saja memintaku pulang dan menikahi gadis ingusan itu. Bagaimana tidak ingusan, aku yang sudah berusia tiga puluh tiga masa menikah dengan wanita berusia dua puluh tahun. Dia tidak pantas menjadi istriku. Sudahlah kurus, kecil, dan tidak modis sama sekali. Bajunya semua terlihat panjang dan kedodoran di badannya yang mungil dan kurus itu. Setiap hari, kulihat dia memakai rok panjang dan kaos lengan panjang, tak lupa kerudung segi empat yang dilipat kemudian dipakai asal di kepalanya untuk menutupi rambutnya. Husniah - nama gadis itu- menerima selimut yang aku sodorkan dengan menunduk. Dan aku pastikan matanya berkaca-kaca. Menyebalkan memang tingkahnya selama aku bersamanya beberapa hari ini. "Jangan galak padanya, Han. Kalau kamu belum bisa mencintainya sebagai istri, sayangi dia selayaknya kamu menyayangi adik perempuan. Kasian Nia, dia sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini," pesan Ibu terngiang di telingaku. "Si@l!" Umpatku dalam hati. "Sini!" sentakku. Kurebut kembali selimut dari tangannya. "Biar aku yang tidur di kamar tamu." Aku berkata sambil berlalu meninggalkannya. Kuhemapaskan tubuh lelahku di atas tempat tidur yang berada di kamar tamu. Aku lelah jiwa raga, bisa-bisanya aku terjebak bersama gadis itu. Sampai kapan aku akan berada di situasi ini. **** Pagi-pagi sekali, aku sudah mendengar suara berisik dari arah dapur. Kulihat gadis itu sedang sibuk di dapur, entah apa yang dilakukannya. Aku mendekat untuk melihat apa yang dilakukan. Kalau kenapa-kenapa aku juga yang nanti kena masalah. Aku duduk di atas kursi mini bar dapur untuk mengawasi gadis itu. "Sudah bangun, Mas? Aku buat kopi untukmu," ucap Nia sambil meletakkan secangkir kopi di hadapanku. Dari tempatku duduk, memang sangat jelas situasi dimana Husniah berada. "Aku mau masuk kerja hari ini, kamu tinggal saja di rumah, jangan keluar kemana-mana, jangan melakukan pekerjaan berbahaya, jangan membuka pintu untuk siapapun," pesanku panjang lebar. "Baik, Mas," sahutnya pendek. Dia selalu mengatakan iya, baik, atau hanya menangis. Bagaimana bisa aku menghabiskan seumur hidupku dengan wanita desa seperti ini. Penurut sih penurut, tapi tidak begini juga. "Mau aku bikinin sarapan apa, Mas. Aku lihat di kulkas ada telur, di dalam situ juga ada mie instan," lirihnya sambil menunjuk pada Kabinet Dinding yang berada di atas kitchen sink. "Aku sarapan di kantor saja, kamu aja yang makan itu. Aku belum belanja, makan seadanya dulu. Nanti pulang dari kantor aku bawakan bahan makanan," tuturku panjang lebar. Husniah hanya diam dan mengangguk. Setelah menghabiskan kopiku, aku segera kembali ke kamar. Mandi, kemudian bersiap-siap ke kantor. "Lain kali Nia yang siapin baju buat Mas Hanan boleh?" tanya Husniah yang sudah masuk ke kamar setelah aku selesai memakai baju. "Tidak perlu," tolakku. "Aku biasanya menyiapkan semuanya sendiri." Aku berlalu dari hadapannya, bersiap untuk berangkat. Gadis itu mengekor langkahku, dia hendak mencium tanganku namun aku menolaknya. Malas rasanya bersentuhan kulit dengannya. "Lebih baik kamu buka pintu gerbang," perintahku sambil berlalu masuk ke dalam mobil. Tanpa membantah, Husniah membuka pintu gerbang untukku. Sebelum aku melajukan kendaraan roda empat itu, aku berhenti sejenak di depan gadis itu dan membuka jendela mobil. "Tutup lagi gerbangnya dan jangan sembarang buka untuk orang asing," pesanku. Dia biasa berada di desa, makanya aku banyak berpesan ini itu padanya. Kalau terjadi apa-apa pada gadis itu, Ibu bisa menyalahkanku. "Pagi Mas Hanan, itu siapa? Kok ada anak gadis di rumah Mas Hanan sekarang?" tanya Bu Mery, tetangga depan rumahku. "Pembantu saya, Bu," sahutku asal. Bu Mery tersenyum pada Husniah lalu kembali menutup pintu gerbangnya. Sepertinya wanita itu tadi baru saja membuang sampah. "Tutup lagi pintu gerbangnya," perintahku pada gadis kurus itu. "Mewek lagi?!" Seruku dalam hati. Mata gadis itu berkaca-kaca sambil mengigit bibir bawahnya. Apa dia tersinggung karena aku bilang dia pembantu. Ah bod0h amat, memang dia terlihat seperti itu. 🍁 🍁 🍁 Bab 2 "Hanan, Ibu memintamu pulang untuk menikah. Ibu sudah menyiapkan semuanya, kamu tinggal menyiapkan diri dan hafalin ijab kabul," ucap wanita yang sudah melahirkan diriku itu. Aku tiba-tiba saja dihubungi oleh orang tuaku, diminta buru-buru pulang kampung dan tiba-tiba saja dinikahkan. Aku pikir Bapak memintaku untuk pulang segera, karena Ibu kenapa-napa. Wanita dengan usia lebih dari setengah abad itu memang kadang suka tiba-tiba sakit. Aku khawatir. "Hanan bisa cari istri sendiri, Bu. Tidak perlu dijodoh-jodohkan seperti ini." "Kapan, mana? Usiamu sudah lewat tiga puluh. Teman-temanmu di sini sudah pada punya anak, ada yang lebih dari satu malahan." Lagi, ibu menyebut hal yang sama setiap kali memintaku menikah. Bahkan orang tuaku itu mengira aku tidak tertarik pada lawan jenis. Ah, mereka tidak tahu saja aku sudah menaruh hati bertahun-tahun pada teman kantorku. "Sebentar lagi Hanan akan bawain Ibu menantu." "Dari dulu sebentar lagi terus, bosan Ibu mendengarnya. Apa kamu mau Ibu meninggal tanpa sempat mengendong cucu," ucap Ibu dengan nada sedih. Kalau sudah begini, aku memilih untuk tidak mendebat. "Anak Ibu kan bukan cuma aku, Bu. Ada Syifa juga." Kusebut nama adik perempuanku, kami hanya dua bersaudara. "Syifa masih kecil, baru juga kuliah di tahun ke dua. Baru dua puluh tahun." Jarakku dan adikku memang cukup jauh, sepuluh tahun lebih. Aku memiliki adik saat memasuki Sekolah Menengah Pertama. "Tapi wanita yang Ibu akan jadikan menantu itu lebih muda lagi dari Syifa, Bu. Baru sembilan belas tahun. Baru mau dua puluh tahun. Dia lebih pantas jadi adikku daripada jadi istriku." Keinginanku untuk tidak mendebat Ibu tiba-tiba menguap sudah. "Husniah beda, Han. Dia dewasa di usianya. Lagipula gadis itu yatim piatu. Hidup sebatang kara, tidak ada yang menjaganya. Kasian dia, Han. Bundanya yang merupakan teman Ibu, meninggal seminggu yang lalu. Tidak ada yang menjaganya," terang Ibu panjang lebar. "Apa semua teman ibu yang anaknya jadi yatim piatu harus aku nikahi?" "Hanan!" bentak Ibu dengan nafas yang tersengal-sengal. "Mas Hanan, Mas!" Lamunanku buyar mendengar panggilan lembut dari seorang wanita. Lita, wanita yang sudah aku nantikan kesiapannya menikah sejak dua tahun yang lalu itu sedang berdiri di depan mejaku dengan tas selempang tersangkut di bahunya. "Nglamun aja, udah waktunya pulang. Bisa bareng gak? Aku lagi gak bawa kendaraan," ucap wanita itu sambil tersenyum. "Bisa, ayo!" sahutku dengan bersemangat. "Memangnya sudah siap pulang?" "Sudah." Aku memang sudah merapikan pekerjaanku sejak tadi, dan menunggu waktu pulang yang tinggal beberapa menit lagi malah membuatku larut dalam lamunan. "Adikmu udah selesai kuliah, Ta?" tanyaku sambil fokus menyetir. Kami sudah hampir setengah jalan untuk sampai ke rumahnya. "Satu tahun lagi, Mas. Kenapa?" Perempuan manis dengan lesung pipi itu balik bertanya. "Cuma mau tahu saja." Dulu saat kami berbagi cerita tentang keluarga, wanita itu mengatakan akan siap menikah jika adik laki-lakinya sudah selesai kuliah. Kami memang cukup dekat karena sering pulang kerja bersama. Lita sering menumpang padaku, meskipun arah rumah kami tak sepenuhnya searah. Aku harus berbelok cukup jauh untuk mengantarkan wanita itu hingga sampai depan rumahnya. Tidak masalah bagiku, demi mengambil hatinya. "Mungkin aku harus mulai mencari pacar yang siap menikah kali ya," ujar Lita sambil tertawa. "Aku siap menjadi pacarmu dan suamimu, kalau perlu besok juga bisa," sahutku dalam hati. Ah si@l, aku malah mengingat Husniah. Apa gadis culun itu akan membuatku kehilangan kesempatan bersama dengan wanita pujaan yang aku tunggu dari sejak bertahun-tahun lalu. Aku menghentikan kendaraan roda empat milikku begitu sampai di depan rumah Lita. Rumah orang tuanya berada di kompleks perumahan. Wanita itu bilang, rumah ini dulu perumahan subsidi jadi luas tanahnya tidak terlalu luas. Namun rumah milik orang tua Lita dibuat menjadi dua lantai begitu cicilannya sudah lunas. "Mau mampir gak, Mas?" tanya Lita sambil tersenyum. Menampakkan lesung pipinya yang dalam. Membuatku semakin terpesona saja. Tidak biasanya wanita ini mengajakku mampir. Apa aku ikuti saja kemauannya. "Ayo, Mas. Sekalian kenalan sama orang tuaku. Mereka suka bertanya siapa temanku yang sering memberi tumpangan padaku." Ah sepertinya Lita mulai membuka diri. Tanpa berpikir lagi, aku turun dari mobil dan mengikuti wanita itu. Kapan lagi bisa kenalan sama orang tuanya, mungkin inilah saatnya aku pendekatan pada wanita pujaanku ini dan juga orang tuanya. Gadis kurus di rumahku hanyalah sebuah pajangan, nanti akan aku pindahkan kalau aku menikah dengan Lita 🍁 🍁 🍁 Bab 3 Pintu gerbang terbuka begitu aku hendak turun dari mobil. Tampak sosok gadis kurus mendorong pintu beroda itu dengan semangat. Aku urung turun dari kendaraan dan langsung menjalankan mobil masuk ke garasi mobil. "Baru pulang, Mas?" tanya Husniah begitu aku turun dari mobil dan gadis itu kembali menutup pintu gerbang. "Dah tahu nanya!" sahutku sinis. Kenapa hanya dengan melihatnya membuat moodku rusak. Aku memang pulang cukup malam, jam sembilan. Tadi saat mampir ke rumah Lita, orang tua wanita itu malah mengajakku makan malam, lalu tak terasa waktu sudah beranjak malam. Aku pulang dari rumah Lita jam delapan, dan baru sampai rumah satu jam kemudian. "Mas Hanan sudah makan?" tanya Husniah sambil berjalan mengikutiku masuk ke dalam rumah. "Sudah." Krrukkk ... terdengar suara perut gadis itu berbunyi. Bunyi perut yang belum diisi. "Kalau kamu lapar, makan saja sana! Lain kali gak usah nungguin aku," seruku sembari berlalu menuju kamar. Aku ingin mandi dan segera beristirahat, badanku rasanya sudah sangat lelah. Ah iya, aku sampai lupa belum membelikan bahan makan untuk gadis itu. Biarlah masih ada telur sama mie instan. Biar saja besok dia makan lagi dua makanan itu. Kalau dia pandai memasak seperti kata Ibu, pasti dia tidak hanya akan makan mie dan telur. Ada beras di dapur, dia bisa makan nasi pakai telur dadar. Aku memindai kamar, semua terlihat rapi, tas besar milik Husniah juga sudah tidak ada di tempat ini. Mungkinkah dia sudah memindahkan isinya ke dalam lemari. Tanpa minta ijin padaku. Segera kubuka lemari bajuku. Tidak ada baju milik gadis kurus itu. Telingaku mendengar pintu kamar terbuka, gadis itu yang membukanya dan hendak masuk ke dalam kamar. "Lain kali ketuk pintu jika ingin masuk. Ini kamarku bukan kamarmu. Jangan mentang-mentang Ibu sudah menikahkan kita, kamu bisa berbuat seenaknya, bertingkah seperti istriku." bentakku pada Husniah. "Maaf, Mas," lirihnya sambil menunduk. Pasti nangis lagi. "Nangis lagi, nangis terus. Dasar bocah!" Gadis itu mundur dan berbalik arah, hendak keluar lagi dari kamar ini. "Mau kemana!" Aku bertanya dengan nada cukup keras. "Mau ke kamar sebelah. Biar Nia yang tidur di sana. Daripada Mas Hanan bolak-balik dari kamar ini ke kamar sebelah," sahutnya dengan nada bergetar menahan tangisan. "Bagus jika kamu mengerti, sudah bagus aku membawamu bersamaku, kamu harus tahu diri." Husniah mengangguk lalu berpamitan untuk pergi ke kamar sebelah. Aku membuang nafas kasar, bagaimana aku akan menikah dengan Lita jika ada gadis ingusan itu bersamaku. *** Hanya ada suara sendok beradu dengan piring, aku makan nasi goreng yang dibuat oleh Nia sebelum berangkat kerja. Meskipun di rumah tidak ada apa-apa, nyatanya gadis itu memang kreatif. Pagi ini dia tidak menawariku dengan mie instan dan telur tapi sudah memasak nasi goreng dengan aroma yang begitu menggoda indera penciumanku. Tampilannya juga menarik membuatku tak bisa menolak ajakannya untuk sarapan terlebih dahulu. Rumahku juga terlihat jauh lebih rapi dan bersih, mungkin Husniah membersihkannya kemarin. Rumah ini biasanya hanya aku bersihkan seminggu sekali saat hari libur. Atau kalau sedang malas, aku akan memanggil jasa orang yang bisa membersihkan rumah sekali waktu. Urusan baju juga aku laundry. Kehidupanku yang sendirian di kota ini, membuatku melakukan segalanya sendiri. Rumah bergaya minimalis dengan tipe 36/80 ini, aku beli secara angsuran. Hanya mobil saja yang aku beli cash. Gaji yang senilai sepuluh juta sebulan itu aku pakai untuk mencicil rumah sepertiganya, untuk aku kirim pada ibu, untuk aku tabung, dan juga untuk sehari-hari. Aku memang cukup berhemat untuk ukuran pria yang belum menikah. Saat memiliki istri dan anak, aku menginginkan agar mereka hidup nyaman bersamaku. Sudah memiliki rumah dan kendaraan, agak anak dan istriku tidak harus berpindah-pindah tempat karena masih mengontrak, agar anak dan istriku tidak kehujanan dan kepanasan karena sudah ada mobil. Apa lagi wanita incaranku begitu mulus dan mempesona, aku ingin dia tetap seperti itu setelah kunikahi. Siapa sangka malah dapat istri burik seperti ini. Di ajak naik angkot pun tak masalah kalau dia. "Mas, boleh gak aku kuliah?" tanya Husniah dengan suara yang begitu lirih. Aku mengentikan suapanku, memandang geram pada gadis kecil itu. Sudah ditampung sekarang malah minta yang aneh-aneh, dia pikir biaya kuliah itu murah. Apalagi di kota besar seperti ini. "Uang dari mana? Kamu pikir bayar kuliah pakai daun, hah?! Jangan bikin susah!" Seruku menahan emosi. 🍁🍁🍁🍁 Bab 4 "Uang dari mana? Kamu pikir bayar kuliah pakai daun, hah?! Jangan bikin susah!" Seruku menahan emosi. Gadis itu semakin menunduk ketakutan mendengar suaraku yang menggelegar. Sejak pindah ke rumah ini, aku bisa meluapkan emosiku padanya. Hal yang tidak bisa aku lakukan saat kami ada di rumah ibu dulu, selama beberapa hari setelah menikah. "Aku bayar sendiri, Mas. Aku memiliki tabungan pendidikan yang bisa dipakai untuk membayar biaya kuliahku hingga selesai. Bunda dan ayah sudah menyiapkan sebelum mereka meninggal." Husniah berkata dengan suara yang begitu kecil sambil mengusap sudut matanya. Aku menarik nafas dalam-dalam, ada sedikit rasa bersalah dalam hatiku sudah membentaknya. Harusnya dia ini anak kecil saja, aku akan menjaganya seperti adikku, bukan menjaganya sebagai istriku. Dengan cepat kuhabiskan makanan yang ada di piring dan berniat segera pergi bekerja. Sepertinya aku akan lebih nyaman tinggal di kantor daripada di rumah. "Mas, boleh ya," pintanya sambil membuntutiku yang hendak pergi bekerja. "Besok Minggu kita cari kampus yang cocok denganmu," sahutku dingin. Biarlah dia melakukan apa yang dia inginkan, aku tidak ingin tahu juga seberapa banyak uang yang dia miliki. Kalau dia sampai tidak sanggup membayar dan harus putus di tengah jalan, aku juga tidak akan peduli. "Terimakasih, Mas," ucapnya sambil membungkukkan badannya berulang-ulang. Astaga ... Siapa yang dia ikuti dengan melakukan hal seperti itu. *** Minggu malam. Sebelum mencari kampus untuk Husniah, kami browsing terlebih dahulu. Aku sengaja melakukan agar tidak banyak membuang waktu. Mencari di mesin pencari itu beberapa kampus, lihat jurusan dan juga biaya kuliahnya baru survei tempat. "Mas, aku mau lihat kampus ini, ini dan ini," ucap Husniah sambil menggeser tiga gambar dari smartphonenya padaku. Beberapa website kampus yang sudah di screenshot olehnya. Setelah menyerahkan ponselnya padaku, gadis itu kembali duduk di sofa yang ada di depanku. Aku memang tidak mengijinkannya duduk di sampingku apalagi di dekatku. "Mau ambil jurusan apa?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari beda pintar milik Husniah. Aku sibuk menggeser dan membaca nama kampus juga alamatnya. "Akuntasi, sekertaris, atau apa saja yang berhubungan dengan perkantoran," sahut Husniah. "Kenapa mau ambil jurusan itu?" "Biar aku bisa mandiri, bisa bekerja di kota ini dan tidak menyusahkan Mas Hanan lagi. Aku bisa pergi dari sini setelah cukup mandiri dan mengerti keadaan kota ini, aku bisa menghidupi diriku sendiri saat sudah bekerja. Mas Hanan bisa bebas dariku, saat pulang kampung kita bisa pura-pura jadi suami istri agar Ibu tidak khawatir," tuturnya panjang lebar dengan mata berbinar. Beberapa saat yang lalu aku tertarik melihatnya saat dia mengungkapkan segala keinginannya. Binar itu tak pernah kulihat selama ini, baru malam ini saja aku melihatnya. Mata kami bertemu, dadaku berdebar. Shit! Perasaan apa ini, itu hanya mata bocah ingusan. Aku segera menguasai diri. "Kamu pikir semudah itu mendapatkan pekerjaan di kota. Setiap tahun banyak lulusan yang jadi pengangguran. Jangan terlalu tinggi berkhayal!" Seruku dengan suara kembali meninggi. "Setidaknya aku sudah berusaha," cicitnya sambil menunduk kembali. Aku geram pada diriku sendiri, kenapa mulutku selalu pedas padanya. Apa aku akan dimurkai Tuhan karena menyakiti hati anak yatim piatu. Ah dia bukan anak-anak lagi, bahkan status dia sudah sebagai istri. *** Perlahan aku menjalankan kendaraan roda empat milikku keluar gerbang. Lalu menunggu Nia naik ke mobil setelah sebelumnya gadis itu mengunci gerbang dari luar. Hidup di kompleks sangat membantuku, setidaknya tidak ada yang kepo dengan kehidupanku. Bu Mery yang bertanya siapa gadis di rumahku beberapa waktu yang lalu juga bukan orang yang rajin bergosip. Jadi aman-aman saja, tidak akan ada yang peduli dengan hubunganku dengan Nia. Aku hanya mengatakan pada ketua RT tentang status Nia yang sebenarnya saat aku melaporkan ada warga baru yang tinggal di rumahku. "Kita coba kampus paling dekat dulu." Aku berkata tanpa beralih padangan dari jalan. "Iya, terimakasih ya, Mas. Mau anterin cari kampus," ucapnya dengan tulus. "Hemmm." Kami sampai di kampus pertama, setelah memarkirkan kendaraan, kami langsung menuju ke pusat informasi. Bertanya tentang banyak hal di sana. Meminta brosur lalu keluar lagi setelah cukup mendapatkan informasi. Sepertinya Husniah tidak tertarik dengan kampus ini. Kami kembali ke mobil, berkendara menuju kampus ke dua. Di kampus ke dua, kami melakukan hal yang sama. Dan lagi, Husniah terlihat tidak tertarik. Aku menarik nafas dalam-dalam. "Kalau kampus ketiga ini kamu tidak suka juga, carilah sendiri. Capek aku!" ucapku mengancamnya. "Maaf ya, Mas." "Minta maaf saja terus!" Seruku ketus. Gadis itu diam, dan lagi-lagi mengigit bibir bawahnya. Bocah cupu seperti ini bagaimana mau kuliah di kota besar. Akan seperti apa dia saat di kampus nanti. Di kampus ke tiga kami melakukan hal yang sama seperti di kampus pertama dan kedua. Sepertinya di tempat ini, Husniah tertarik. "Anaknya mau mengambil jurusan apa, Pak?" tanya wanita yang sejak tadi memberi penjelasan kepada kami. Mataku membulat mendengar perkataan wanita itu, dia bilang Husniah anakku dan aku bapaknya. "Beliau bukan Bapak saya, Mbak. Saya saudara jauhnya," terang Husniah sambil tersenyum. "Maaf, Pak," ucap wanita itu sambil menatapku tak enak. "Apa aku setua itu?" "Bukan bapak yang terlihat tua, tapi Mbak ini terlalu imut," tutur wanita berseragam itu sambi tersenyum. Apa kubilang, Husniah memang bocil. Bisa-bisanya dikira anakku. Karena tertarik dengan tempat ini, gadis itu meminta formulir lalu memintaku untuk menunggunya berkeliling kampus dulu. Baru hendak berjalan tiba-tiba ponselku berdering, panggilan dari Lita, wanita idamanku. "Mas, aku lagi ada di mall. Bisa ke sini gak? Jalan-jalan sambil nonton yuk." Lita berbicara dari ujung telepon. Aku menatap ke arah Husniah yang begitu antusias untuk melihat calon tempat belajarnya. Ingin menemaninya tapi aku juga lebih ingin pergi menemui Lita. "Gimana, Mas? Mau gak? Kalau gak mau juga gak apalah, aku mendadak juga ngajakinnya." Lagi, terdengar suara dari Lita karena tidak segera mendengar jawaban dariku. "Mau, tunggu," jawabku tanpa berpikir lagi. Lita mematikan sambungan telepon kemudian tak lama setelahnya mengirim lokasi dimana dia berada. "Nia, kamu pulang sendiri ya. Nanti aku kasih tahu kudu naik apa lewat pesan singkat. Atau kalau enggak kamu naik ojek aja, nanti kukirim alamat lengkap rumah." Husniah baru beberapa hari tinggal bersamaku dan dia memang tidak tahu alamat rumah yang kami tinggali dengan lengkap. Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu, aku meninggalkannya begitu saja. Memilih menemani pujaan hatiku. Tidak peduli kalau gadis itu kecewa daripada aku mengecewakan hati Lita. 🍁 🍁 🍁 Bab 5 Aku menghabiskan waktu bersama Lita hingga malam. Tidak biasanya wanita itu mengajakku jalan seperti ini. Kami menghabiskan waktu bersama untuk makan, nonton dan berbelanja. Aku tidak peduli harus mengeluarkan banyak uang hari ini, lagian Lita tidak pernah juga memintaku jalan bersamanya. Mungkin seperti yang dia katakan, dia akan mulai mencari pasangan dan apa yang dilakukan ini adalah cara untuk memilih pasangannya. Mengetes apakah aku laki-laki yang baik dan loyal atau pelit. Wanita berprinsip seperti Lita pasti tidak suka pria pelit. Langsung akan dicoret dari list calon suaminya. Lita memang banyak yang suka, tapi wanita itu tidak pernah menjalin komitmen dengan siapapun dengan alasan masih punya adik yang ada dalam tanggungannya. Hanya denganku saja dia tampak nyaman karena aku tak pernah mengungkapkan perasaan. Aku sedang menunggu waktu yang tepat. Mungkin sebentar lagi. "Terimakasih untuk hari ini ya, Mas. Maaf ngajak jalannya mendadak. Sampai ketemu besok di kantor," ucapnya sembari turun dari mobilku. Aku mengangguk dan tersenyum padanya, wanita itu melambaikan tangannya saat aku kembali menjalankan mobil. Hatiku berbunga-bunga, aku bersenandung sepanjang jalan hingga tanpa terasa sudah sampai di depan rumah. Astaga aku melupakan Husniah. Bagaimana nasib anak itu, bahkan aku tidak mengirimkan pesan padanya karena terlalu sibuk dengan Lita. Segera kuambil ponsel yang ada di dalam saku celanaku. Mati. Benda pipih itu kehabisan baterai. Dengan tergesa-gesa aku masuk ke dalam rumah tanpa memasukkan mobil. Mencari pengisi daya kemudian kembali lagi ke mobil dan mengisi daya di dalam mobil. Harap-harap cemas aku menunggu hingga smartphone tersebut bisa sekedar dinyatakan. Aku sangat khawatir, bukan karena sudah memiliki perasaan padanya. Tapi karena aku bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada gadis itu. Kalau terjadi apa-apa padanya, bagaimana aku akan mengatakan pada Ibu. Baru kali ini anak itu keluar rumah, baru datang dari kampung pula. Pasti tidak tahu situasi kota bagaimana. "Ya Tuhan ...." desisku kesal. Kesal pada kekhilafanku sendiri. Baru terisi lima persen, aku segera menyalakan ponsel tersebut. Menunggu benda itu siap digunakan terasa sangat lama. Begitu telepon genggam itu menyala, langsung bertubi-tubi masuk pesan. Bagaiman bisa aku tidak merasakan saat ponselku bergetar tadi, apa begitu besarnya Lita menyedot perhatianku. Atau memang ponsel ini sudah mati sejak tadi. ~Mas, aku sudah selesai. Tolong kirim alamat rumah ~ pesan dari Husniah jam 15.10 ~Mas, aku telpon, ya.~ jam 16.00 ~Mas, kamu dimana ini udah malam aku gak bisa pulang kalau kamu gak kasih alamat rumahmu~ jam 19.05 ~Mas kamu membuangku?~ jam 20.30 Deg! Jantungku berdebar membaca pesan itu, apa dia merasa aku begitu tidak menghargainya. Bagaimana bisa orang dibuang. ~Mas, aku takut. Di sini sudah mulai sepi, kampus udah tutup, Aku gak ngerti harus kemana ~ jam 21.00 Tidak ada lagi pesan, itu pesan terakhir dari Husniah. Aku akan menyalahkan siapa jika sudah begini. Segera kutekan tombol memanggil tapi nomor telepon tidak bisa dihubungi. Apa-apaan ini, apa dia marah padaku dan mematikan ponselnya. Tanpa banyak berpikir lagi, aku segera menjalankan kendaraan. Lebih baik aku segera pergi ke kampus tadi, berharap gadis itu ada di sana. Pikiran buruk menghantuiku, bagaimanapun jika dia dibawa orang jahat. Ah, dia cukup besar untuk bisa menolak itu. Kenapa hidupku jadi makin susah begini karena kedatangannya. Sampai di kampus, tempat itu benar-benar sudah sepi. Hari memang sudah malam, sudah hampir jam sebelas. Aku harus kemana dan bertanya pada siapa kalau sudah begini. Kenapa Husniah malah mematikan handphonenya. Perlahan, kujalankan kembali mobilku mengelilingi kampus ini. Berharap menemukan sosok gadis kecil itu di sudut-sudut jalan atau di teras-teras bangunan yang ada di sekitar kampus. Mataku awas memindai sekitar. Dengan kesal kupukul kemudi untuk meluapkan emosi. Sudah kuputari kawasan kampus ini tapi tak kutemukan jejak Husniah. Harus kucari kemana lagi anak itu. Aku menghentikan mobil di pinggir jalan dekat masjid yang berada tak jauh dari kampus. Berpikir dan mencari solusi untuk menemukan Husniah. Lapor polisi juga belum bisa, lagipula aku akan mengatakan apa. Dia bukan anak kecil lagi, bukankah akan terasa lucu jika kukatakan dia hilang saat kutingglkan di kampus. Saat otakku sedang kacau, aku melihat sosok gadis kecil duduk memeluk lutut di teras masjid yang sudah sepi itu. Tak salah lagi itu gadis yang aku cari, Husniah. Segera aku jalankan mobil menuju pelataran masjid, hatiku antara lega dan juga emosi melihatnya lagi. "Ngapain di sini, bukannya pulang!" Seruku saat jarakku sudah cukup dekat dengan Husniah. Gadis itu mengangkat kepalanya, mata dan hidungnya memerah, sepertinya dia menangis. "Kau tahu ini sudah jam berapa, hah?! Nyusahin orang saja. Ayo pulang!" Aku berkata sambil berjalan kembali ke mobil, Husniah mengekor tanpa membantah satu katapun yang keluar dari mulutku. Padahal semuanya salahku, dia yang ada di luar hingga jam segini adalah salahku. Namun saat aku menyalahkannya dia tetap diam saja. Sepanjang jalan hanya ada keheningan, Husniah tidak mengatakan apapun. Gadis itu diam membisu, pun demikian aku tak berniat lagi memarahinya. Percuma, dia hanya menelan semua ucapkanku tanpa berniat membalasnya. Tubuhnya terlihat lemas, apa dia tidak makan seharian. Dasar gadis bod0h, dia sudah besar, seharunya tahu apa yang harus dilakukan ketika lapar. Terserahlah. Sampai di rumah, Husniah tetap diam tak berkata-kata, setelah masuk ke dalam rumah dia langsung berjalan menuju kamarnya. "Tidak tahu terimakasih. Kau tahu ini sudah jam berapa, seharunya aku sudah tidur nyenyak kalau tidak mencarimu," seruku sebelum gadis itu membuka pintu kamarnya. "Terimakasih ..." Lirihnya tanpa menoleh sama sekali. "Kamu marah padaku? Seharusnya tadi aku tidak menjemptmu, biar saja sekalian kamu jadi gelandangan." Husniah membalikkan tubuhnya dan menatap padaku, menatapku dengan tatapan mata penuh luka. "Ya, seharusnya kamu tidak usah menjemput ataupun mencariku, Mas. Seharusnya aku juga tidak udah pergi ke masjid untuk menghindari orang-orang iseng tadi. Lebih bagus mereka penjahat sekalian, penculik dan pemerkosa, lalu membunuhku. Kalau aku mati, setidaknya aku bisa bertemu Ayah dan Bunda dan tidak menyusahkanmu lagi," ucapnya dengan bibir bergetar. "Dari pada nyusahin orang yang hidup, lebih baik aku memang mati saja." Setelah menyelesaikan kalimatnya, Husniah berbalik dan masuk ke dalam kamar. Bahkan aku dengar bunyi pintu dikunci dari dalam. 🍁 🍁 🍁 Bab 6 Aku terbangun karena mendengar suara tangisan. Malam-malam begini siapa yang menangis, apa Husniah? Kamarku dan kamar tempat dia tidur memang berdampingan dan tanpa pengedap suara. Jika malam hari suasana begitu sepi, pasti akan terdengar suara-suara jika posisinya sedekat ini. Aku bangkit dari tempat tidur, melihat jam analog di ponselku. 3.30 masih terlalu pagi. Kenapa sudah menangis saja. Bergegas aku pergi ke kamar sebelah, untung saja sudah tidak dikunci lagi. Pelan kubuka pintu kamar tersebut. Tampak olehku gadis itu berbaring di atas sajadah. Apa mungkin dia menangis setelah sholat dan berdoa. Tapi kenapa posisinya berbaring seperti itu. "Bunda, ajak aku bersamamu," ucapnya sambil terisak-isak. Pelan kudekati tubuh itu, matanya terpejam. Sepertinya dia ketiduran lalu mengigau. Bibirnya terlihat kering dan pucat. Apa dia sakit? Dengan keraguan kupegang keningnya, benar saja suhu tubuhnya begitu panas menyengat. Pantas saja dia mengigau. Nyusahin aja, pakai sakit segala. Segera kuraih tubuh mungil itu, aku harus segera membawanya ke dokter. Aku tidak pernah merawat orang sakit, khawatir malah terjadi apa-apa dengannya. Ditambah lagi suhu tubuhnya yang begitu panas. Kubawa tubuh itu ke mobil tanpa membuka mukenanya. Hanya mukena bagian bawah saja yang aku buka. Selama ini, Husniah tidak pernah memperlihatkan rambutnya padaku, oleh sebab itulah aku tak berani membuka penutup kepalanya. Segera kulajukan kendaraanku dengan tujuan klinik dua puluh empat jam. Sesampainya di klinik, aku segera membawanya ke UGD. Dia harus segera ditangani. Sebenci apapun aku padanya, di tidak boleh kenapa-kenapa, karena aku bertanggung jawab pada Ibu. Husniah harus dirawat, dokter bilang gadis itu demam juga dehidrasi, serta kurang nutrisi. Oh astaga ... Apa selama di rumah dia tidak pernah makan, dan saat aku tinggal di kampus kemarin dia juga tidak makan. Aku memang tidak begitu peduli padanya. Saat di rumah aku tidak pernah makan bersamanya. Meskipun gadis itu masak dengan berbagai menu sesuai dengan stock bahan makanan yang aku belikan, tapi tak pernah kudapati dia makan. Aku juga baru merasakan berat badannya yang begitu ringan. Pantas saja semua bajunya terlihat kebesaran, dia hanya punya tulang dan kulit. Pagi ini aku mendadak ijin tidak masuk kantor dengan alasan sakit. Lita menelponku dengan khawatir, apa aku sakit karena kurang istirahat, sebab waktu istirahatku digunakan untuk menemaninya jalan-jalan. Tentu saja aku tidak menjawabnya karena itu. Setelah Zuhur kami memutuskan pulang, Husniah tidak mau berlama-lama di klinik. Kondisinya juga membaik setelah habis satu kantong infus. "Tolong jangan nyusahin aku, jagalah dirimu sendiri. Makan yang banyak, jangan lupa minum air putih, pastikan dirimu tetap sehat. Aku sudah cukup lelah dengan keberadaanmu jangan kau tambah lagi dengan sakit-sakitan," ucapku panjang lebar sepulang kami dari klinik. Aku berusaha perhatian padanya tapi tetap saja kata-kata pedas yang keluar dari mulutku. "Maaf," lirihnya. "Bisamu hanya minta maaf saja, tunjukan dengan perbuatan." Diam, gadis itu tak lagi mengucapkan sepatah katapun. Aku menghela nafas dalam-dalam. "Sana istirahat," perintahku. Husniah berlalu ke dalam kamar, menuruti perintahku tanpa berucap apapun. Setelah kepergiannya, aku berlalu menuju ke dapur. Menyala kompor dan memasak bubur. Karena bertahun-tahun hidup sendiri, aku terbiasa memasak apapun. Akan kubuatkan bubur untuknya. Perutnya yang mungkin tidak diisi dengan makanan itu harus diberi makanan yang lembut-lembut terlebih dahulu. Setelah masakan itu matang aku segera membawanya ke kamar. Saat kubuka pintu, terlihat olehku gadis itu sedang menatap ponselnya dengan pandangan kosong dan air mata menganak sungai. Apa dia melihat foto Bundanya. Jika saat menikah denganku baru satu minggu dia ditinggal pergi oleh Bundanya, maka sekarang ini belum ada satu bulan kepergiaan sang Bunda. Dia masih dalam masa berkabung, ditinggal satu-satunya orang yang mencintai dan merawatnya dan aku terus saja menyakiti hatinya. Melihat kedatanganku, gadis itu langsung mengusap air matanya dan menyimpan smartphone miliknya di atas tempat tidur. "Makanlah." Aku berkata sambil menyodorkan semangkuk bubur padanya. "Ini sudah sore, sudah waktunya makan lagi," sambungku saat melihatnya ragu-ragu menerima makanan dariku. Husniah menerima mangkuk tersebut, lalu berdiri dari tempat tidur. "Terimakasih, aku makan di ruang makan saja," ujarnya sembari melangkah keluar kamar. Aku mengikuti langkahnya, harus kupastikan gadis itu memakannya agar cepat sembuh dan tidak menyusahkanku. Husniah memakan bubur itu hingga habis, entah suka, lapar atau karena aku terus menatapnya dengan tajam. "Kenapa baru mau kuliah sekarang, bukankah seharusnya kamu sudah masuk kuliah tahun lalu. Kamu hampir seusia adikku." Aku membuka percakapan setelah gadis itu menyelesaikan makannya. Husniah menatapku sekilas lalu menunduk kembali, mungkin tidak menyangka aku akan bertanya padanya hal remeh-temeh seperti ini. "Aku tidak mau meninggalkan Bunda sendirian di rumah. Aku ingin merawatnya. Bunda sakit parah setelah aku lulus SMA," sahut Husniah mulai bercerita. "Bunda tidak mau ke rumah sakit dan memilih untuk dirawat di rumah saja. Dokter bilang sudah tidak ada harapan lagi, oleh sebab itulah bunda enggan ke rumah sakit dan berobat. Meskipun dokter mengatakan usianya tidak lama lagi, tapi bunda bertahan satu tahun, hingga aku memasuki usia diperbolehkan untuk menikah. "Sepertinya Bunda tidak ingin aku hidup sendirian, dan pada akhirnya Mas Hanan yang harus menanggung beban itu. Maafkan Bundaku, Mas. Aku janji akan segera mandiri dan pergi dari rumah ini." Kali ini, gadis itu bicara lancar dan jelas, seperti tanpa beban. Gadis itu selalu menyebut kata pergi dan mandiri, seakan semua itu adalah hal yang gampang dilakukan. "Memangnya Bunda sakit apa?" tanyaku. Belum sempat Husniah menjawab terdengar suara salam dari arah depan. Sepertinya ada tamu, aku segera berlalu meninggalkan gadis itu. Melihat siapa yang datang sore-sore begini. Setelah pintu gerbang terbuka, tampak di depanku wanita dengan lesung pipi tersenyum padaku. "Lita, ngapain kamu datang ke sini?" tanyaku tanpa mempersilahkan wanita itu masuk terlebih dahulu. Di dalam ada Husniah, aku akan mengatakan apa padanya jika dia bertanya tentang gadis itu. "Aku khawatir padamu, Mas. Katanya sakit makanya aku ke sini buat nengokin. Aku gak di suruh masuk nih?" "Oh iya, masuklah," ucapku, mempersilahkan dengan enggan. Wanita itu dengan santai masuk ke dalam rumahku. Dulu sekali, dia pernah datang juga ke sini saat aku sedang sakit juga. Dia tahu aku hidup sendiri, makanya dia tampak santai saja hendak masuk ke dalam rumah. "Mas, itu siapa?" tanya Lita saat melihat Husniah yang hendak masuk ke dalam kamar. Mati. Aku mau jawab apa sekarang. Kami bertiga hanya saling memandang, lidahku kelu, tidak ada kosa kata yang bisa keluar dari mulutku untuk menjawab pertanyaan Lita. Apa iya aku akan mengatakan lagi kalau dia pembantuku. Pasti gadis itu akan bersedih lagi. 🍁 🍁 🍁 Bab 7 "Kamu siapa?" Tanya Lita pada Husniah karena tidak mendapatkan jawaban dariku. Gadis itu menatap padaku, entah apa maksud dari tatapan itu. "Saya Nia, Mbak. Pembantu di rumah ini," jawab Husniah sambil tersenyum pada Lita. Aku merasa lega mendengar jawaban dari Husniah tersebut, tapi sudut hatiku yang lain seperti merasa tidak enak. Entah bagaimana rasanya aku tidak bisa mengungkapkannya. "Oh, kalau gitu bawa ini ke belakang. Cuci lalu bawa ke sini lagi, ya," perintah Lita pada Husniah. "Biar aku saja, Ta," ucapku menawarkan diri. "Kamu ini gimana sih Mas, katanya sakit. Punya pembantu kok malah mau kerjain kerjaan sendiri. Duduk dan kita tunggu saja di ruang tamu," ajak Lita sambil menggandeng tanganku setelah buah-buahan yang dibawanya berpindah tangan. Husniah menatapku sekilas, kemudian berlalu menuju dapur. "Dia yang sakit, bukan aku." Kalimat yang hanya aku ucapkan dalam hati saja. Kami menunggu sambil berbincang, aku merasa Lita sekarang tampak lain. Sepertinya wanita ini memberikan sinyal kalau dia menyukaiku. Wanita itu duduk merapat padaku bahkan tadi sempat menyentuh keningku untuk memastikan aku masih sakit atau sudah sembuh. "Besok aku sudah masuk lagi, tenang saja," ucapku sambil tersenyum. "Kalau di kantor tidak ada kamu, rasanya gak enak, Mas." Aku hanya tersenyum mendengar ucapan wanita itu. Husniah datang dengan membawa buah-buah yang sudah berpindah ke piring dan tentu saja sudah dicuci seperti pesan Lita tadi. Gadis itu meletakkannya di meja yang ada di depan kami. "Sekalian bawain piring kosong dan pisau, ya," perintah Lita pada Husniah lagi. "Baik, Mbak. Mau minum apa? biar sekalian saja buatkan. "Air putih saja, aku kurang suka yang manis-manis karena aku dah manis. Ya kan, Mas?" tanya Lita sambil tersenyum padaku. Aku mengangguk. Husniah menatapku sekilas, lalu kembali pergi ke dapur. Tak lama kemudian membawa semua pesanan Lita. Gadis itu kembali lagi ke dapur begitu Lita tak lagi menyuruhnya. Aku mendengar suara keributan di dapur, mungkin gadis itu beres-beres di sana. Melakukan perannya sebagai pembantu. "Pembantu kami masih muda banget sih, Mas," ucap Lita sambil mengupas apel. "Kasian yatim-piatu." Aku berkata jujur, Husniah yatim-piatu. "Kamu tidak berniat untuk suka padanya, kan. Dia muda, kalau keseringan tinggal dalam satu rumah lama-lama bisa suka. Seperti romansa tuan rumah dengan pembantunya," tutur Lita, dia berkata tanpa mengalihkan fokusnya dari buah dan pisau yang ada di tangannya. "Aku tidak suka anak kecil," bisikku sambil tertawa. Aku melakukannya agar tidak terdengar oleh Husniah. Entah kenapa aku tidak tega menyakitinya lagi. Mungkin karena barusan dia menceritakannya tentang Bundanya yang sudah tiada. Kami terus berbincang-bincang hingga Maghrib menjelang. Husniah masuk ke kamar begitu terdengar suara adzan, gadis itu memang rajin melakukan ibadah. Jauh berbeda denganku yang melakukannya seingatnya dan sesempatnya saja. Setelah Maghrib berlalu, Lita berpamitan. Wanita itu tadi datang dengan menaiki kendaraan roda dua. "Sampai ketemu besok, Mas," pamitnya sambil mencium pipiku. Aku cukup kaget dengan apa yang dilakukannya. Selama ini, tak sekalipun wanita itu melakukan hal-hal seperti itu. Namun kini dia melakukannya. Ah, Lita. Sepertinya kamu memang sedang memberiku lampu hijau. *** Waktu berlalu, Husniah sudah mulai aktif kuliah. Disela-sela kuliahnya, dia tetap mengerjakan urusan rumah tangga. Rumahku selalu rapi, bajuku tak pernah masuk ke laundry lagi. Setiap keranjang baju kotor mulai menggunung, saat aku pulang kerja sudah kosong. Lalu esok harinya berpindah di atas tempat tidur dengan keadaan sudah rapi dan wangi. Aku benar-benar seperti memiliki pembantu rumah tangga, gratis. Tak pernah kukeluarkan uang untuknya. Sekali waktu aku pernah memberinya uang bulanan, tapi gadis itu menolaknya dengan alasan tidak memerlukan karena semua sudah tersedia. Aku memang masih seperti dulu, berbelanja sendiri semua kebutuhan dapur dalam jumlah yang banyak dan menyimpannya. Husniah sangat mandiri, sejak pertama kali masuk kuliah, dia tidak meminta diantar atau dijemput. Aku yang memang bekerja, membiarkannya pergi dan pulang sendiri. Dia ke kampus saat aku sudah berangkat kerja, dan akan sudah berada di rumah saat aku pulang dari kerja. Dia tidak menyia-nyiakan waktunya di luar rumah. Apa dia tidak bergaul juga dengan teman-teman sebayanya di kampus sana. Entahlah, aku juga tidak pernah berniat untuk tahu. Hubunganku dengannya juga masih sama seperti dulu kami tetap tidur terpisah, aku tidak menganggapnya Istriku. Entahlah kalau Husniah, dia menganggap aku suaminya atau tidak. Tapi dia benar-benar mengurus semua kebutuhanku. Hubunganku dengan Lita tidak ada kemajuan selain berubah dari teman kerja menjadi teman tapi mesra. Kami mulai bermain melakukan kemesraan meskipun masih dalam batasan. Wanita itu lagi-lagi menunda keinginannya untuk menikah meskipun adiknya sudah lulus kuliah. Dengan alasan, menikah dengan pria satu kantor akan membuatnya kehilangan pekerjaan. Tentu saja, jika kami memang menikah, maka salah satu dari kami harus rela berhenti berkerja. Kantor kami termasuk perusahaan yang melarang karyawannya adalah pasangan suami-istri. *** Setelah hampir satu tahun bersama Husniah, hari ini aku mulai penasaran dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu saat libur kuliah. Biasanya aku memilih untuk pergi keluar bersama Lita jika libur bekerja, tapi hari ini aku sedang tidak ingin melakukannya. Kukelilingi rumah yang selalu bersih di rapi untuk mencari gadis itu. Namun tak kutemukan di manapun. Saat sampai di bagian belakang rumah, aku mendengar suara-suara dari tempat menjemur baju. Di bagian belakang rumah ini memang sengaja kubuat tangga untuk menuju ke atas. Bagian belakang yang awal beli belum dibangun, aku bangun dengan dicor. Kalau keren mungkin bisa disebut rooftop, di sana aku letakkan mesin cuci dan tempat menyetrika, dulu juga kutanami berbagai jenis bunga. Tapi karena kesibukanku akhirnya bunga-bunga itu tidak terawat dan mati. Bahkan mesin cuci dan setrika juga terabaikan di atas sana karena aku memilih untuk membawa baju kotor ke laundry. Kuayunkan langkah menaiki anak tangga satu persatu, aku yakin orang yang aku cari ada di atas sana. Pemandangan indah menyapa indera penglihatanku saat kakiku hampir berada di anak tangga paling atas. Bunga-bunga bermekaran dan tumbuh dengan subur di pot-pot yang dulu aku abaikan. Bahkan ada juga pohon sayuran seperti tomat dan cabai yang sudah mulai menguning buahnya. Di bagian sudut lain, tempat di mana ada mesin cuci dan tempat setrikaan, berdiri gadis yang aku cari, Husniah. Gadis itu berdiri membelakangiku, tampak fokus dengan setrikaan sambil mendengarkan ceramah dari aplikasi merah. Rambutnya hitam dan tergerai panjang, sepertinya dia habis keramas jadi tidak memakai kerudung. Aku memang tak memiliki mesin pengering rambut. Untuk apa? Aku tidak membutuhkannya. Husniah memakai baju terusan panjang tanpa lengan, memperlihatkan hampir seluruh tangannya yang berkulit kuning langsat. Tubuhnya tak lagi kurus seperti dulu, lebih sedikit berisi hingga bajunya tak lagi terlihat kedodoran. Gadis yang kuhina dengan kata kurus dan dekil itu, kini berubah menjadi sosok wanita dewasa dan aku tidak menyadarinya. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri dan juga wanita yang tidak pernah ingin kunikahi. Tidak bosan aku memandang sosok itu, yang masih asyik dengan setumpuk pakaian di dekatnya. Dia istriku, aku menelan ludah saat kosa kata itu berkelebat di kepalaku. Entah keberanian dari mana, aku mendekat padanya dan memeluk tubuhnya. Mencium aroma shampo yang menguar dari rambutnya. 🍁 🍁 🍁