Penyesalan Terbesar Hendra Setelah Kematian Sisca

Đang tải thông tin quảng bá...

Penyesalan Terbesar Hendra Setelah Kematian Sisca

GoodNovel Hoàn thành
CantikEmosionalBenci jadi cintaPengkhianatan

Enam tahun lalu, Sisca Limanta adalah seorang putri konglomerat yang sangat dimanjakan dan keras kepala, sementara Hendra Setiawan adalah seorang pria berbakat dari keluarga miskin dengan kaos putih m...

Chương (1)

第1章

Bab 1 "Hendra, bisakah kita bersama selamanya?" Sisca Limanta yang masih 18 tahun memeluk Hendra Setiawan dengan wajah yang tersipu dan tatapan penuh rasa sayang. "Bisa." Hendra hanya menjawabnya satu kata yang tegas sambil menatap wajah Sisca yang indah dengan tatapan membara, kemudian langsung menurunkan pinggangnya Sakit! Di saat ini, punggung Sisca langsung bergetar, dia pun mengulurkan jari tangannya ke lengan Hendra yang kuat. Sisca jelas-jelas merasa sangat sakit, tapi dia tetap tersenyum terhadap Hendra sambil mengucapkan, "Hendra, aku mencintaimu." Hendra dengan lembut mencium air mata di sudut mata Sisca dan memeluknya dengan erat, sambil berbicara di samping telinganya, "Sisca, kamu ... milikku selamanya." Sisca merangkul leher Hendra dengan erat seakan-akan seperti putri duyung yang pertama kali merasakan rasa cinta di dunia. Akan tetapi, pada akhirnya Sisca baru mengerti kalau kata selamanya hanya menggambarkan momen panas di saat itu. Kata mencintai tetap saja tidak bisa menandingi kalimat kebencian. .... Di kantor pengadilan yang menegangkan. "Saksi Sisca, pada malam tanggal 6 Juni, apakah kamu bersama dengan terdakwa Hendra?" "Benar." Tanggal 6 Juni adalah ulang tahun Sisca. Di hari itu, dia tidak merayakan bersama keluarganya, melainkan semalaman bersama dengan Hendra di rumah kecil sewaannya. Sisca selamanya tidak bisa melupakan kejadian di malam itu. Sisca pertama kali melakukan hal itu, Hendra sangat lembut terhadapnya, tapi tetap saja tidak sengaja menyakitinya berkali-kali. Sisca pelan-pelan menatap Hendra yang berdiri di kursi terdakwa. Hendra memakai pakaian tahanan, wajahnya terlihat sangat lelah, matanya pun terlihat kemerahan, tapi tatapan Hendra terhadap Sisca malah terlihat sangat lembut. Setelah ditahan selama satu minggu, Hendra menjadi lebih kurus dan terlihat menyedihkan. Akan tetapi, Sisca malah tidak bisa mengalihkan pandangannya. Hendra adalah pria berbakat dengan gelar ganda di jurusan keuangan dan hukum di Kota Aroha. Meskipun dia sangat miskin, dia memiliki masa depan yang sangat cerah. Mentornya pernah bilang kalau Hendra adalah orang cerdas yang sangat langka, dia memiliki bakat yang luar biasa di bidang hukum, bahkan memiliki kemampuan yang sangat besar dalam pasar saham dan modal ventura. Seharusnya Hendra memiliki masa depan yang sangat cerah, tapi sekarang .... Sisca merasa sangat sedih! "Saksi Sisca, pada malam tanggal 6 Juni, apakah kamu yakin melihat terdakwa membawa mobil Mercedes-Benz hitam dengan pelat A66888 menabrak penggugat Peter hingga meninggal?" Ruang pengadilan langsung menjadi hening. Satu menit berlalu .... Dua menit berlalu .... Tiga menit berlalu .... "Tok!" Hakim mengetukkan palunya dengan kuat. Hakim tersebut menanyakan sekali lagi dengan mengernyit, "Saksi Sisca, tolong jawab!" Di malam 6 Juni, adik tiri dari Sisca yang bernama Vincent mengemudi mobil Mercedes-Benz hitam dengan plat A66888 menabrak seseorang di luar Kota Aroha hingga mati dan langsung kabur begitu saja. Demi melindungi putra satu-satunya, ayahnya yang bernama Adrian Limanta pun menyuruh anak sopir untuk menanggung masalah ini. Namun, setelah Hendra dipenjara, dia tidak mengaku sama sekali. Adrian terpaksa mengancam Sisca dengan nyawa ibu kandungnya. Belum setengah tahun sejak istri pertama Adrian yang bernama Cindy Reine jatuh dari tangga dan menjadi koma, Adrian sudah membawa kekasih barunya yang bernama Stefani Sujabat bersama anaknya ke rumah mereka. Anak Stefani adalah Vincent Limanta, dia hanya lebih kecil setahun dari Sisca. Siapa sangka, Stefani malah menodongkan pisau ke leher Cindy dan memerintah Sisca untuk segera menunjuk kalau Hendra adalah pembunuhnya. Kota Mulo adalah wilayah setingkat provinsi di Kota Aroha. Adrian adalah gubernur Kota Mulo, jadi dia memiliki segala cara untuk bersatu dengan kantor pengadilan Kota Mulo untuk memenjarakan Hendra. Bab 2 Adrian adalah orang yang kejam, kalau Sisca tidak menurutinya, maka kondisi ibunya dan Hendra akan menjadi semakin buruk. Sisca tidak punya cara lain .... Sisca menarik napas yang dalam, dia pun menatap hakim sambil menjawab dengan tegas, "Benar, pada tanggal 6 Juni jam sepuluh malam, aku duduk di sebelah Hendra dan melihatnya menabrak seseorang hingga meninggal." Hendra yang berdiri di kursi terdakwa langsung terkejut, tatapan matanya yang bersinar tadi pun langsung lenyap. "Terdakwa Hendra, apakah ada yang masih ingin kamu katakan?" Tatapan Hendra langsung menjadi sangat gelap dan menyeramkan, dia menatap Sisca dengan sangat pasrah dan kebencian. Dia pun menjawab, "Nggak ada." Perempuan yang sangat dicintainya malah dengan tega menuduh kalau dirinya adalah pembunuh. Hendra menerima pengkhianatan dari seluruh dunia, tapi kenapa orang itu adalah Sisca! Tok! Palu ruangan persidangan berbunyi. "Terdakwa Hendra melanggar Pasal 310 Ayat 4 dan menyebabkan kematian penggugat Peter. Kini, pengadilan memutuskan bahwa Hendra dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dan denda sebanyak satu miliar." Setelah persidangan selesai, sipir penjara langsung membawa Hendra yang mengenakan baju tahanan. Hendra menatap Sisca dengan tatapan penuh kebencian. Sisca tahu kalau sekarang Hendra sangat benci padanya. Sisca telah menghancurkan Hendra yang seharusnya memiliki masa depan cerah. Sisca mengepalkan tangannya dengan erat, kuku tajamnya tertusuk ke telapak tangan hingga berdarah. .... Tiga hari kemudian. Sisca mendapatkan hak kunjungan Hendra. Mereka bertatapan dengan dibatasi oleh sebuah kaca dan hanya bisa menelepon. "Hendra, aku akan mencari orang untuk mengeluarkanmu secepatnya." Hendra malah tersenyum dingin sambil berkata, "Sisca, kita sudah putus. Kamu nggak perlu berpura-pura lagi. Mulai hari ini, kamu adalah putri Keluarga Limanta, aku adalah tahanan penjara!" "Hendra, maafkan aku ...." Sisca pun meneteskan air matanya, dia merasakan sakit hati luar biasa yang membuatnya tidak bisa bernapas. "Penjara bukanlah tempat yang seharusnya Nona Sisca datangi." Hendra mengeluarkan sebuah buku kecil dari sakunya dan menunjukkan di depan Sisca. Itu adalah gambar Hendra yang diam-diam dilukis oleh Sisca. Setiap lembaran dipenuhi dengan Hendra. Hendra pernah menyimpan buku itu dengan penuh rasa sayang. Namun, kini Hendra tersenyum dingin, kemudian merobek buku itu dengan jari tangannya yang panjang dan melemparkan di udara. "Sisca, kita sudah putus! Semua ini berkat dirimu!" Di detik ini, Hendra benar-benar sangat menakutkan. Berkat kamu. Kata-kata ini seperti pisau yang menusuk ke dalam hati Sisca. Waktu kunjungan pun berakhir. Sipir penjara pun membawa Hendra masuk. Hendra langsung berdiri, dia menginjak semua serpihan kertas seakan-akan menghancurkan hati Sisca. "Hendra!" teriak Sisca sambil menangis. Akan tetapi, Hendra tidak menoleh sama sekali. Sisca menutup mulutnya sambil menangis dan berbicara dengan tidak jelas, "Aku hamil .... Hendra, kita sudah punya anak." Mungkin karena emosi Sisca yang tidak stabil, dia tiba-tiba merasa sakit perut, lalu mengelus dan menatap perutnya .... Celana putihnya sudah dipenuhi dengan bercak darah .... .... Bab 3 Enam tahun berlalu. Sebuah layar LED di kawasan pusat CBD yang paling ramai di Kota Aroha sedang memutarkan sebuah wawancara. "Beberapa waktu ini, Grup SY memasarkan secara terbuka di bursa efek Kota Lamona. Grup SY hanya menggunakan enam tahun untuk membangun perusahaan wirausaha menjadi perusahaan sekuat sekarang. Pemegang saham dan CEO Grup SY adalah Hendra Setiawan. Dia menjadi legenda di bursa efek Kota Lamona, selain itu, seminggu yang lalu dia bahkan menjadi sampul majalah 'Buzz'. Hari ini, kami sangat beruntung bisa mewawancarai Pak Hendra untuk menceritakan bagaimana dirinya membangun Grup SY menjadi sebuah perusahaan yang begitu kuat." Sisca dengan kecewa keluar dari Gedung Minor sambil membawa kertas CV, dia langsung melihat pria yang bersinar terang di layar besar. Seorang pria yang sangat putih dan tampan, dengan setelan abu-abu dan dasi perak, dia meletakkan tangannya yang besar dan panjang di atas paha. Dia duduk tegak santai, sambil menunjukkan senyuman sopan saat menghadap kamera. Dia terlihat sangat tenang, bahkan memancarkan aura yang kuat. Jawabannya terhadap pembawa acara sangat singkat. Hendra hanya menjawab, "Berkat kebencian." Pembawa acara mengira Hendra sedang bercanda. Mereka susah payah mengundang orang hebat seperti Hendra, jadi dia tidak ingin menyia-nyiakannya. Pembawa acara itu pun menanyakan pertanyaan sensitif, "Ada kabar kalau Pak Hendra pernah dipenjara enam tahun yang lalu karena jebakan cinta pertama. Aku sangat penasaran apakah isu ini benar?" Suasana langsung berubah ketika pertanyaan ini dilontarkan. Hendra tetap duduk dengan santai, ekspresinya bahkan sangat datar seakan-akan tidak ada yang berubah, akan tetapi tatapan matanya dipenuhi dengan kebencian! Dia merapikan kancing jas sambil berdiri, kemudian meninggalkan sebuah kalimat, "Terkadang rasa penasaran bukanlah hal yang baik." .... Sisca yang berdiri di depan layar besar langsung terkejut hingga wajahnya memucat. Sudah enam tahun! Waktu mengubah Hendra menjadi pemimpin yang sempurna, juga membuatnya menjadi lebih tertutup. Kisah kehidupannya yang dipenjara enam tahun lalu sudah berubah. Bahkan jika membicarakan masa lalu yang menyedihkan itu hanya akan membuat orang genius ini menjadi semakin misterius. Orang-orang di dunia selalu mengagumi apa pun, apalagi hal-hal yang misterius dan berkuasa seperti ini akan membuat mereka semakin mendambakannya. Para netizen hanya mengomentari, "Cinta pertama Hendra benar-benar bodoh! Dia pasti sangat menyesal!" Sisca pun tertawa karena dia memang menyesal. Sisca selalu menyesal setiap hari. Akan tetapi, sekarang dia dan Hendra sudah menjadi orang yang beda dunia. Sisca baru saja dipecat dari stasiun TV Kota Aroha. Stasiun TV mengatakan kalau Sisca sudah menyinggung orang penting. Akan tetapi, Sisca terus mencari pekerjaan, sayang sekali semuanya menolak. Orang penting yang tidak boleh disinggung mungkin adalah ... Hendra, 'kan? Hendra masih membencinya sampai sekarang. Namun, Sisca tidak membenci pria itu sama sekali, karena ini adalah hukumannya dan dia pantas menerimanya. Hanya saja, Angel segera duduk kelas satu, tapi Sisca malah masih belum sanggup membayar uang sekolah puluhan juta .... Akhir bulan ini, dia juga harus membayar uang sewa rumah. Semua pengeluaran ini membuat Sisca merasa frustasi. Uang ... uang ... ke mana dia harus mencari uang? Sisca pun mengeluarkan sebuah kartu nama yang diberikan Nancy. Manajer Kelab Basti, Pak Andi. Untung saja Sisca pintar menyanyi, jadi dia bisa bekerja di kelab malam. Bab 4 Sebelumnya Sisca tidak ingin pergi karena mementingkan harga dirinya, tapi sekarang dia bahkan tidak sanggup menghidupi anaknya, jadi dia pun tidak memedulikan harga diri ataupun statusnya sebagai putri tertua Keluarga Limanta dan pembawa acara TV lagi. .... Malam hari jam 8 di Kelab Basti. Ruang VIP 888. "Pertanyaan semacam apa yang ditanyakan pembawa acara tadi? Untuk apa dia mengungkit cinta pertamanya Hendra? Billy, beri dia pelajaran!" "Aku sudah menghubungi orang untuk memecatnya. Hari ini adalah ulang tahun Hendra, nanti jangan bahas hal-hal seperti ini di depannya." "Siapa yang berani? Aku nggak berani sama sekali! Sis .... Cih! Dasar sialan!" Dua orang yang sedang berbicara adalah Direktur Billy Monro dan Direktur Zayn Oswald dari Grup SY, mereka adalah teman terbaik Hendra. Tidak lama kemudian, Hendra pun tiba dengan dua pengawal berjas hitam di belakangnya. Zayn merangkul pundak Hendra sambil berkata, "Hari ini ulang tahunmu, senyum dong! Aku dan Billy khusus menyewa ruang VIP ini untukmu. Apakah kamu senang?" Hendra melirik ruangan yang dipenuhi dengan balon dan pita dengan tatapan dingin, kemudian duduk di sofa sambil berkata, "Hanya ulang tahun saja, apa yang perlu dirayakan?" "Kamu ini padahal masih muda, kenapa nggak tertarik pada apa pun .... Malam ini aku sudah memanggil wanita cantik untukmu." Billy melanjutkan dengan nada bercanda, "Kamu kira Pak Hendra juga memiliki nafsu tinggi sepertimu? Hendra, malam ini aku benar-benar menyiapkan kejutan untukmu ...." Sebelum Billy selesai bicara, seseorang mengetuk pintu ruang VIP 888. "Halo, aku adalah penyanyi yang dipesan Tuan Billy. Apa aku boleh masuk sekarang?" Billy langsung berkata sambil tertawa, "Baru saja kubahas, dia sudah datang. Silakan masuk!" "Klak!" Pintu terbuka. Sisca masuk dengan membawa biolanya. Cahaya di ruang VIP sangat gelap. Namun, saat Sisca baru menaikkan kepalanya, dia langsung bertatapan dengan sepasang mata yang ada di sudut. Ketika empat mata saling bertatapan, Sisca tiba-tiba merasa merinding dan kaku! Dia langsung berhenti di tempat seakan-akan kakinya terpaku. Dia hanya berdiri dengan canggung sambil menatap tatapan yang dingin itu. Di saat ini, tidak hanya Sisca yang terkejut, bahkan Zayn yang berada di ruang VIP pun terkejut. Zayn pun langsung tertawa sambil berkata, "Eh, bukankah kamu Nona Sisca dari Kota Mulo?! Bukannya kamu menjadi pembawa acara di stasiun TV? Kenapa kamu menjadi penyanyi di tempat hiburan?" Hendra duduk di sudut dengan bermartabat sambil melihat Zayn menertawakan Sisca tanpa mengatakan apa pun. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tatapannya terhadap Sisca juga seolah-olah tidak kenal. Mereka hanya seperti orang asing .... Sudah enam tahun, lama tidak bertemu, Hendra. Tidak disangka mereka bisa bertemu di tempat seperti ini. Di saat ini, Hendra adalah tamu terhormat, Sisca hanyalah orang yang datang menjual jasa. Sisca mengepalkan tangannya dengan erat, rasa sakit di tangan pun menyadarkan dirinya. Dia hanya tersenyum sambil berkata, "Pak Zayn datang sebagai tamu, aku datang untuk bekerja. Kalau tamu nggak ingin melihatku, aku akan segera pergi. Maaf sudah mengganggu kalian." Sisca merasa sangat tegang, tapi dia tetap saja membungkuk kepada mereka karena dia tidak ingin mencari masalah, selain itu, dia tidak ingin menyinggung Hendra lagi. Ketika Sisca mengambil biolanya dan hendak pergi .... Seorang pria di sudut yang selalu diam sejak awal tiba-tiba berkata, "Berhenti." Bab 5 "Berhenti." Suara pria sangat rendah dan memancarkan aura yang sulit ditolak. Sisca langsung berhenti di tempat, dia pun langsung bertanya tanpa menoleh, "Apakah masih ada yang bisa dibantu, Pak Hendra?" "Kalau kamu datang untuk kerja, kenapa kamu buru-buru pergi?" Sisca mengepalkan tangan dengan erat karena dia memiliki firasat buruk. "Plak!" Hendra langsung melemparkan segepok uang tunai di atas meja. Dia memainkan alisnya, kemudian berkata, "Minum bir ini, maka uang ini akan menjadi milikmu." Minum bir .... Sisca sangat terkejut, dia menelan air liur dan berkata, "Maaf, Pak Hendra. Aku alergi alkohol." Hendra hanya tersenyum sambil berkata, "Benarkah? Aku sudah lupa." Kata-kata ini sangat sadis. Sudah lupa .... Sisca alergi terhadap alkohol, meskipun minum minuman dengan kadar alkohol yang sangat rendah, Sisca tetap mengalami ruam di seluruh tubuh. Apalagi kalau minum arak akan menimbulkan akibat lebih parah hingga syok. Enam tahun lalu, Sisca tidak sengaja minum minuman yang mengandung alkohol, tubuhnya langsung dipenuhi dengan ruam yang besar. Saat itu, Hendra sangat panik, di tengah malam Hendra pun langsung membawanya ke rumah sakit untuk infus. Akan tetapi, infus menyebabkan lengannya bengkak. Di saat itu, Hendra pun berada di sampingnya sambil memijat lengannya. Setelah pulang ke rumah, Hendra bahkan mengoleskan obat pada ruam di tubuh Sisca. Hendra bahkan bilang kalau dirinya tidak akan membiarkan Sisca menyentuh alkohol lagi karena dia tidak bisa kehilangan Sisca. Benar, tentu saja Hendra sudah lupa .... Jadi, Sisca pun tidak bisa menghindari bir ini lagi. Kini, mata Sisca mulai berair, dia pun langsung menahan dirinya untuk tidak menangis, kemudian membalikkan badan sambil tersenyum, "Oke, aku akan minum. Semoga Pak Hendra tepat janji." Hendra menyuruhnya minum, Sisca tidak bisa pergi dari sini kalau tidak meminumnya. Sisca sangat jelas betapa besar kebencian Hendra terhadap dirinya. Sebotol vodka memiliki kadar alkohol 56%, biasanya dipadukan dengan koktail. Kalau hanya minum vodka saja, meskipun tidak alergi terhadap alkohol, bagian lambung juga akan terluka. Akan tetapi, Angel sedang menunggu Sisca di rumah. Setelah menghabiskan sebotol ini, maka Sisca sudah bisa pulang. Sisca melirik setumpuk uang tunai sambil berkata dengan tersenyum, "Apakah segepok uang ini ada 60 juta?" Pria itu hanya menatapnya dengan tatapan dingin sambil berkata, "Jumlah uang itu 70 juta, ditambah lagi satu botol ini sebenarnya kamu sudah untung sekali." "Ya, sangat menguntungkan ...." Akhirnya Sisca memiliki dana untuk uang sekolah Angel. Ketika mengatakannya, Sisca pun langsung mengambil botol bir itu. Namun, Billy langsung menahan botol itu sambil berkata, "Hendra, dia akan mati!" Billy pun tidak sanggup duduk diam lagi. Sisca juga lulusan Universitas Aroha, bisa dikatakan Sisca adalah adik kelasnya. Enam tahun lalu, mereka termasuk teman yang baik, jadi Billy tidak bisa membiarkannya begitu saja. Lagi pula, Billy juga tidak percaya kalau Hendra sudah tidak punya perasaan sama sekali terhadap Sisca. Sebenarnya hari ini Billy ingin menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan mereka, siapa sangka ... malah menjadi seperti ini. "Billy, sejak kapan hubungan Hendra dan Sisca memerlukan campur tanganmu? Kalau Sisca bilang mau minum, maka dia pasti bisa minum." Zayn malah terus memprovokasi, dia memang tidak menyukai Sisca, dia merasa Sisca adalah pembawa sial. Kalau bukan karena Sisca, Hendra juga tidak akan dipenjara selama tiga tahun. Mata Sisca mulai memerah, tapi dia tetap tersenyum dengan wajah cantiknya sambil berkata, "Nggak apa-apa. Hari ini adalah ... ulang tahun Pak Hendra. Aku akan minum, aku minum ... aku nggak boleh merusak suasana hati Pak Hendra," ujar Sisca sambil tersedak. Sisca langsung mengambil botol bir dan meminumnya. Minuman keras yang mengalir dari tenggorokannya terasa seperti serpihan kaca yang menyakitkan hingga membuatnya meneteskan air mata. Karena Sisca minum terlalu cepat, dia pun tersedak. "Uhuk! Uhuk!" Sesaat kemudian, wajah dan leher Sisca mulai menjadi kemerahan karena alergi. Billy merebut botol bir sambil berkata, "Sudah cukup! Aku yang mengundang Sisca malam ini. Kalau mau minum, aku akan membantunya minum!" Sisca merasa sangat pusing, tapi pikirannya masih sangat jelas. Dia mengangkat tangannya menyeka bekas bir di mulutnya, kemudian menatap Hendra sambil berkata, "Selamat ulang tahun, Pak Hendra." Pria itu hanya duduk di sana dengan acuh tak acuh. Wajah tampan itu pun terlihat samar-samar dalam kegelapan ini. Sisca tidak bisa menebak suasana hati dari ekspresi Hendra. Sepertinya ... Sisca benar-benar tidak mengenalnya lagi. Waktu enam tahun cukup untuk mengubah seseorang. Enam tahun lalu, Hendra hanyalah pria dengan kaos putih murahan. Sekarang, dia memakai kaos mahal dan mewah. Hendra jelas-jelas ada di depannya, tapi Sisca merasa jarak mereka sangat jauh. Hendra tidak mengatakan apa pun lagi, ini berarti dia bermaksud untuk membiarkan Sisca pergi. Zayn mengambil segepok uang tunai di meja dan melemparkan ke arah Sisca, tapi Sisca malah tidak berhasil menangkapnya. Akhirnya, uang itu pun terjatuh ke kaki Sisca. "Nona Sisca, di dunia ini menghasilkan uang memang nggak mudah. Kebetulan hari ini Pak Hendra ulang tahun, kamu sangat beruntung karena diampuni begitu saja." Sisca hanya menganggukkan kepalanya dan berjongkok. Dia menggunakan kedua tangan yang alergi mengutip uang di lantai sambil berkata, "Terima kasih, Pak Hendra, Pak Zayn dan Pak Billy." Saat Sisca mengutip lembaran uang terakhir, sebuah sepatu hitam mewah menginjak di atas uang itu. Hendra hanya menatapnya dari atas seakan-akan melihat butiran debu. Sisca menarik uang itu, tapi Hendra tidak mau mengangkat kakinya. Sisca langsung menunduk dan meneteskan air mata di sepatu kulit Hendra, lalu berkata dengan suara serak, "Pak Hendra, mohon angkat kaki muliamu dan ampuni aku." "Sisca, apa kamu merasa sedih?" "Ng ... nggak sedih." Sisca tidak berani merasa sedih, ini adalah utangnya pada Hendra. Pria itu hanya tersenyum dingin sambil berkata, "Dalam tiga tahun atau 1.095 hari di dalam sana, setiap hari aku berjuang bertahan hidup seperti dirimu sekarang. Sisca, kamu nggak berhak sedih. Anggap saja malam ini adalah sedikit suku bunga yang kutagih atas tiga tahun itu." Bab 6 Setelah Sisca mengutip uang-uang tersebut, dia membawa biolanya berjalan ke pintu dengan lemas. Hendra tidak melihatnya sama sekali, dia hanya mendongak dan menghabiskan segelas sampanye. Setelah itu, dia dengan nada dingin berkata, "Oh ya, kalung cincin perak di leher Nona Sisca sangat jelek." Sisca langsung tercengang dan berhenti dengan membelakangi Hendra. Dia meraba kalung perak di lehernya. Ini adalah cincin pasangan yang dibeli Hendra enam tahun lalu. Kalung ini terbuat dari perak, memang tidak bernilai, tapi Sisca selalu merawatnya bak harta. "Aku sudah terbiasa memakainya. Cincin ini diberikan padaku enam tahun lalu, berarti sudah menjadi milikku. Jadi, seharusnya nggak ada hubungan dengan Pak Hendra mau kupakai atau nggak." Lagi pula, ini adalah kalung yang diberikan enam tahun lalu oleh Hendra yang sangat menyayanginya di saat itu. Sisca hanya ingin menyimpan sedikit kenangan indah, meskipun kenangan indah itu menyakitinya di malam hari, dia masih saja mau menyimpannya. Keras kepala Sisca pun membuat Hendra kesal. "Enyah." Sisca langsung pergi. Gelas di tangan Hendra pecah karena genggaman yang erat! Cairan sampanye beserta darah merah menetes di lantai. Zayn dan Billy sangat tercengang. Mereka tidak menyangka kemunculan Sisca bisa membuat Hendra marah besar. "Hendra, salahku nggak pikir panjang." Hendra menatap darah telapak tangan yang terus-menerus menetes sambil berkata, "Inikah kejutan yang kamu siapkan? Nggak menarik." "Maafkan aku. Aku nggak berpikir panjang." Meskipun Billy adalah teman seperjuangan Hendra, tapi Hendra adalah atasannya. Beberapa tahun ini, Hendra berubah menjadi semakin pendiam dan tidak bisa ditebak, terkadang Billy juga tidak berani menyinggungnya. "Ke depannya jangan buat keputusan sendiri, terutama masalah Sisca." Hendra sudah bersuara, Billy pun terpaksa menurutinya. Apalagi masalah dendam pribadi Hendra dengan Sisca, memang tidak bagus kalau ada campur tangan orang lain. Setelah Hendra pergi, Zayn segera merangkul pundak Billy sambil berkata, "Bil, biasanya kamu sangat cerdas, kenapa malam ini malah berbuat bodoh?" "Aku kira setelah enam tahun berlalu, Hendra sudah melupakannya. Dulu mereka berdua adalah pasangan serasi yang sangat terkenal di Universitas Aroha. Aku nggak ingin Hendra selalu hidup dalam kedendaman. Dalam enam tahun ini, dia nggak hanya menjauhi Sisca, dia bahkan menjadi semakin cuek terhadap kita berdua." Zayn malah tidak setuju dengan pemikiran Billy, dia pun berkata, "Hendra memang nggak banyak bicara dan terlihat dingin dari luar. Oh ya, kenapa Sisca bisa menyanyi di tempat ini?" "Sebulan lalu, Hendra menyuruh orang menemui pihak stasiun TV Kota Aroha, setelah itu Sisca pun tiba-tiba dipecat. Dulu, Sisca adalah mahasiswi tercantik di jurusan penyiaran, tapi Hendra malah langsung menghancurkan masa depannya. Bukankah ini keterlaluan?" "Pfft! Kamu mengasihani Sisca? Jangan-jangan kamu juga terpesona dengan wanita itu? Kamu harus hati-hati! Kalau kamu mendekatinya, kamu akan dipenjara!" Billy mengambil jasnya bersiap untuk pergi, lalu berkata, "Aku nggak akan merebut wanita milik teman sendiri." "Kamu jangan membela Sisca terus! Jangan lupa apa yang telah diderita Hendra! Semua itu karena Sisca!" Bab 7 Billy menganggukkan kepala dan menjawab, "Aku ingat." Dulu, Hendra pernah ditikam di penjara, dia bahkan hampir mati karena sisa satu sentimeter lagi sudah sampai jantungnya. .... Entah bagaimana Sisca tiba di rumah. Di perjalanan pulang, dia muntah beberapa kali hingga merasa nyaman. Ketika melewati apotek, dia membeli obat pengar dan obat alergi. Ketika tiba di rumah, ruam di tubuhnya sudah memudar, tapi bau alkohol masih terasa sangat kuat. Lampu rumah masih menyala. Sisca meletakkan tasnya dan ganti sandal, tapi Angel tidak datang memeluknya seperti biasanya. "Angel?" Tidak ada yang jawab? Apakah Angel sudah tidur? Sisca masuk ke dalam kamar melihat Angel meringkuk di tempat tidur dengan wajah pucat dan terengah-engah. Sisca sangat tercengang! Dia langsung menghampirinya dan bertanya, "Angel, ada apa denganmu?" "Ibu ... aku sakit .... Dadaku sakit ...." Suara Angel terdengar sangat lemah. "Ayo pergi ke rumah sakit! Angel, tahan dulu, ya." Sisca segera menghubungi ambulans dan menggendong Angel turun ke bawah. Cuaca pun berubah, malam ini tiba-tiba hujan deras. Namun, ambulans belum datang. Sisca tidak memedulikan cuaca lagi, dia langsung menggendong Angel dan memanggil taksi di jalanan. Angel bergumam kesakitan, "Ibu, apa aku sudah mau mati? Aku sakit sekali ...." Sisca pun panik hingga menangis, "Nggak! Angel, tahan, ya! Ibu akan membawamu ke rumah sakit! Kamu jangan tidur, ya! Angel ...." Angel tidak menjawab lagi. Sisca menggendong anaknya sambil memanggil taksi dengan sebelah tangan, "Berhenti! Berhenti! Anakku pingsan! Kami perlu bantuan ke rumah sakit!" "Berhenti! Tolong bawa aku ke rumah sakit! Selamatkanlah anakku ...." Akan tetapi, tidak ada mobil yang berani berhenti di saat hujan deras. Ketika dia berbalik, sebuah mobil Mercedes-Maybach hitam dengan plat A99999 melintasi genangan air sehingga membasahi seluruh tubuh Sisca. Sisca pun langsung menaikkan tangannya. Air mata bercampur dengan air hujan dan lumpur. .... Asisten mobil Mercedes-Maybach melirik ke arah kaca spion. Dia melihat seorang ibu muda menggendong anaknya sambil memanggil taksi. Asisten yang bernama Alex Tanus itu merasa prihatin, dia pun bertanya, "Pak Hendra, ibu dan anak itu sedang memanggil taksi. Mungkin anaknya sedang sakit. Sekarang hujan deras, apakah kita mau membantu mereka?" Hendra yang duduk di belakang hanya menatap dengan tatapan dingin tanpa perasaan apa pun. "Rasa prihatin adalah sesuatu yang tak seharusnya dimiliki." Dengan maksud lain yaitu jangan ikut campur. Enam tahun lalu, Hendra memiliki rasa prihatin ini. Akan tetapi, Hendra yang sekarang sangat ingin melenyapkan dirinya yang dulu. Ambulans pun tiba. Sisca buru-buru masuk ke dalam ambulans. Mobil Mercedes-Maybach hitam bergerak semakin jauh. Hendra tiba-tiba mengernyit dan melihat ke arah belakang. Mobil ambulans putih sudah menghilang dalam kehujanan. Mungkin hanya ilusi saja. Bagaimana mungkin wanita itu adalah Sisca? Hendra menatap cincin perak di jari tangan dengan perasaan yang kacau. Mobil ambulans putih dan Mercedes-Maybach hitam bergerak ke arah yang berlawanan. Hendra yang sekarang sudah berbeda dengan Hendra enam tahun yang lalu. Bab 8 Malam hari di ruang UGD. Angel langsung diantar ke ruang gawat darurat, Sisca yang basah kuyup langsung dihentikan oleh perawat, "Nyonya, tunggu di sini." Sisca terus memantau kondisi di dalam ruangan. Di saat ini, dia merasa sangat pasrah, dia menggenggam tangan perawat dengan gemetar dan memohon dengan suara serak, "Tolong selamatkan anakku." Suara Sisca bahkan terdengar sedang menahan tangisan. Perawat langsung menasihatinya, "Tenanglah, Nyonya. Kami akan berusaha sepenuhnya." Sisca hanya menganggukkan kepalanya, sepanjang jalan tadi dia sangat panik. Setiba di rumah sakit, dia pun merasa lega hingga perlahan-lahan jongkok karena kedua kaki yang merasa lemas. Ketika Angel pingsan di punggungnya, perasaan akan kehilangan membuatnya merasa dunia terasa gelap dan segera kiamat. Seluruh tubuh Sisca terus bergetar. Enam tahun lalu, dia pernah merasakannya di saat Hendra memutuskan hubungan dengannya di penjara. Di saat itu, dia bahkan merasa kesakitan ketika bernapas. Saat sedang sedih, manusia akan merasakan mati rasa di seluruh tubuh. Ketika Sisca menempelkan tangannya ke dinding untuk berdiri, kedua kakinya malah tidak bisa berdiri sama sekali. Sebuah tangan besar langsung memapahnya sambil berkata, "Hati-hati." Sisca mendongak dengan sedih, "Dokter Richard?" Orang ini adalah Richard Nathaniel, dia adalah dokter bagian pernapasan di Rumah Sakit Nasional. Tiga tahun lalu, dialah yang mengobati Angel saat sedang demam tinggi. Richard tahu kalau Sisca adalah orang tua tunggal dan sendirian merawat anaknya, jadi dia pun sangat prihatin terhadap mereka berdua. Lama-kelamaan, mereka pun menjadi teman. "Tadi aku lihat Angel dibawa ke dalam? Apa yang terjadi?" "Saat aku sampai di rumah, wajah Angel memucat dan kesulitan bernapas. Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi dia bilang sangat sakit ...." "Jangan khawatir, Angel pasti akan baik-baik saja. Mungkin saja ini hanya penyakit lama. Sebelumnya aku menyuruhmu membawa Angel ke sini untuk melakukan operasi pembuluh darah bagian jantung, kenapa kamu malah terus menunda?" Angel mengidap penyakit jantung bawaan lahir, tapi hanya masalah pembuluh darah yang terbuka antara jantung. Dengan cara operasi dan istirahat beberapa saat, Angel bisa hidup seperti anak-anak pada umumnya. Ini bukanlah penyakit kritis, tapi Sisca malah terus menundanya. Sisca dengan kesulitan berkata, "Aku ... aku ... aku takut." Dia menunduk dan mengaitkan kedua tangannya hingga jari tangannya memutih. Angel adalah segala baginya. Ketika manusia menganggap seseorang sebagai segalanya, dia pasti tidak berani mengambil risiko. Dia terlalu takut akan kehilangan. Selain itu, Sisca juga belum memiliki uang yang cukup untuk biaya operasi. Maka itu, dia pun terus menundanya. Richard menepuk pundaknya sambil menasihati, "Ini bukan penyakit kritis, jadi jangan khawatir. Di dunia juga banyak pembuluh darah jantung anak-anak yang nggak tertutup, mereka nggak melakukan operasi dan tetap baik-baik saja. Tapi, karena sekarang Angel sudah memiliki gejala, jadi lebih baik segera dioperasi." Sisca pun mengangguk sambil berkata, "Ya, kali ini aku akan melakukannya." Setengah jam kemudian, Angel pun sudah keluar. Sisca menghampirinya sambil bertanya, "Dokter, bagaimana kondisi anakku?" "Sekarang sudah nggak masalah, tapi apakah kamu tahu kalau pembuluh darah jantungnya nggak tertutup?" "Ya, aku tahu." "Coba kamu diskusikan dengan suamimu tentang operasi anakmu. Sekarang kondisinya memang sudah stabil dan bukan penyakit yang serius. Nanti bahas dengan suamimu saja, lagi pula operasi saat kecil akan lebih cepat pulih." Suami .... Tatapan Sisca menjadi sedih, tapi dia tidak menjawab si dokter, dia hanya mengangguk sambil berkata, "Baik." Angel dipindahkan ke bangsal umum. Saat tengah malam, Angel pun terbangun. "Ibu ...." Sisca menanyakan dengan lembut, "Apa kamu lapar? Kamu mau makan apa? Ibu beli sekarang." Angel hanya berbaring dan menatap Sisca sambil menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Ibu, apakah aku sakit?" "Dokter bilang Angel akan segera sembuh. Bukankah Angel suka libur? Ibu sudah minta izin dengan sekolah, jadi kita istirahat di rumah sakit, ya?" "Oke. Ibu, aku belum sempat tanya, kenapa ibu bau alkohol? Apa ibu minum bir?" Sisca takut Angel mengkhawatirkannya, dia pun mengelus kepalanya sambil berkata, "Tadi malam ada acara dengan rekan kerja, jadi Ibu minum sedikit bir. Ibu nggak apa-apa. Angel dari dulu ingin makan ayam goreng, 'kan? Nanti setelah Angel sembuh, kita makan ayam goreng, ya?" Bab 9 Angel tersenyum sambil berkata, "Aku juga ingin makan kentang tumbuk." Barusan Angel selesai bicara, tiba-tiba terdengar suara seorang pria, "Kentang tumbuk sudah datang!" Richard masuk dengan membawa makanan sambil berkata, "Aku beli sedikit bubur dan kentang tumbuk. Ayo makan dulu." "Terima kasih, Paman." Richard mengelus kepala Angel sambil berkata, "Angel, jaga dirimu baik-baik, ya. Jangan buat ibumu khawatir." "Oke." "Angel memang sangat pintar." Sisca mengambil kentang tumbuk dengan sendok dan menyuapi Angel. Richard melihat ruam di punggung tangan Sisca dan menanyakan, "Kamu alergi, ya? Aku tadi ke apotek beli salep alergi, nanti kamu oles, ya." Sisca sedikit tercengang, dia langsung menjawab, "Setiap kali kami datang ke rumah sakit selalu merepotkanmu. Terima kasih, ya." "Kalian sama sekali nggak merepotkan. Kamu merawat Angel sendirian juga bukan hal yang mudah, aku hanya membantu saja. Sisca, terkadang kamu nggak perlu melakukan semuanya sendirian. Kalau kamu perlu bantuan, kamu langsung cari aku saja. Aku akan berusaha sepenuhnya." Sisca tahu Richard adalah orang yang baik, tapi Sisca tidak ingin memanfaatkan kebaikannya. Sisca juga tahu maksud dari Richard, tapi dia tidak bisa membalas kebaikannya. Terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa dibantu oleh Richard. Kini, Sisca sendiri sudah terjebak di dalam kegelapan, dia tidak boleh menarik Richard untuk terjebak bersamanya. Setelah Richard pergi, Angel yang berbaring di atas tempat tidur tiba-tiba berkata, "Ibu, Paman Richard menyukaimu." Sisca pun tersenyum dan berkata, "Dasar kepo." "Memang begitu! Ibu, apakah kamu juga merindukan Ayah?" Sisca yang sedang mengaduk tumbukan kentang langsung terdiam. Sisca melihat ke bawah dengan menyedihkan sambil berkata, "Nggak, Ibu sekarang paling sayang Angel, Ibu nggak merindukan siapa pun." Angel dengan kesal berkata, "Ibu, ayah sudah pergi bertahun-tahun. Ibu jangan patah semangat, dong!" Sisca pun langsung tertawa, "Dari mana kamu belajar kata-kata seperti ini? Apa kamu bisa menulis kata-kata itu?" "Aku belajar dari drama! Mami memang benar, dia bilang Ibu harus banyak menjalin hubungan dengan cowok ganteng agar bisa bahagia." Sisca langsung mencubit hidungnya sambil berkata, "Apa kamu nggak takut Ibu mencari ayah tiri untukmu?" Angel malah menjadi serius sambil mengernyit berkata, "Ibu, aku hanya berharap Ibu bisa bahagia." Sisca duduk di samping tempat tidur sambil memeluk Angel berkata, "Ibu sudah cukup senang ada Angel di sisi Ibu." Akan tetapi, Angel malah mengeluh, "Betapa baiknya kalau Ayah masih hidup ...." Angel selalu mengira kalau ayahnya sudah meninggal. Saat Angel masih tiga tahun, dia selalu menanyakan keberadaan ayahnya. Sisca memberi tahu kalau ayahnya sedang di pesawat luar angkasa. Saat Angel lima tahun, Sisca tidak bisa menyembunyikannya lagi, dia pun bilang kalau ayahnya sudah meninggal karena sakit. "Ibu, apakah Ayah lebih tampan dari Paman Richard?" Kalau tidak, kenapa ibunya tidak menyukai Paman Richard? Padahal Paman Richard baik sekali. Di saat ini, tiba-tiba bayangan Hendra muncul di benak Sisca. Pria itu memang sangat mencolok walaupun berdiri di tengah keramaian. Kalau dari penampilan, Hendra memang memiliki penampilan yang luar biasa. Dulu di Universitas Aroha bahkan ada pepatah populer yaitu tidak gagal ujian dan bisa pacaran dengan Hendra adalah anugerah terbesar dalam hidup ini. "Ya, ayahmu memang sangat tampan." Setelah mendengarnya, Angel langsung menjadi bangga. Dia berencana untuk mencari cowok tampan seperti ayahnya untuk ibunya! Setelah menidurkan Angel, Sisca membuka aplikasi bank dan menghitung jumlah uang yang dimilikinya. Malam ini Sisca berhasil mendapatkan 70 juta dari Hendra, di tabungannya hanya tersisa 20 juta, dia bahkan perlu membayar uang sewa rumah di akhir bulan ini. Biaya operasi Angel sebesar 200 juta, dia masih kekurangan sekitar 140 juta .... Sisca tiba-tiba kehabisan akal. Dia sangat bersyukur malam ini Hendra memberinya kesempatan mendapatkan 70 juta. Sekarang, dia bahkan berharap ada kesempatan dapat uang dari minum bir lagi. Memang kenapa kalau alergi? Selama ada 200 juta, maka Angel sudah bisa dioperasi, karena sekarang Angel adalah orang terpenting bagi Sisca. Bab 10 Keesokan hari, saat Nancy mengetahui Angel jatuh sakit, dia segera menuju ke rumah sakit. Nancy datang ke rumah sakit dengan kantongan besar yang berisi makanan dan mainan, lalu berkata, "Duh! Angel, kenapa kamu semakin kurus?!" "Mami!" Sejak Angel lahir, Nancy langsung menjadikannya sebagai anak angkat. "Mari cium Mami! Sayangku, tanganmu bahkan sudah bengkak karena infus." Wajah Angel ditekan dengan kuat oleh Nancy hingga Angel berkata, "Mami! Mami terlalu ramah sampai wajahku sakit!" "Eh, maaf. Angel, Mami beli makanan dan mainan untukmu. Apa kamu menyukainya?" Sisca pun berkata, "Kamu beli terlalu banyak. Dia juga nggak sakit parah, jangan terlalu memanjakannya." Nancy berkata tanpa rasa bersalah, "Dia masih anak kecil, jadi harus dimanjakan. Benar 'kan Angel?" Angel pun tersenyum bahagia dan memainkan mata terhadap Nancy, lalu berkata, "Mami, aku sayang kamu! Muachh!" "Aku sayang kamu!" ujar Nancy sambil membuat tanda hati. Ketika Angel sedang ganti pakaian boneka barbie, Nancy langsung menarik Sisca keluar untuk berbicara. "Apa kemarin malam kamu bertemu dengan Hendra di kelab malam?" Sisca dengan tercengang bertanya, "Bagaimana kamu bisa tahu?" "Billy yang memberitahuku, dia bilang Hendra memaksamu minum bir dan kamu langsung alergi. Hendra terlalu sadis! Jelas-jelas dia tahu kamu alergi alkohol, tapi ...." "Aku baik-baik saja, aku juga sudah makan obat. Berkat sebotol bir itu, aku mendapatkan 70 juta, jadi aku nggak rugi." Nancy langsung memelototinya sambil berkata, "Omong kosong apa kamu? Kalau kamu sedang sial, kamu akan mati karena alergi! Dasar bodoh! Seharusnya aku nggak membiarkanmu bekerja, kalau kamu nggak ke kelab malam, kamu juga nggak akan bertemu dengan pria itu!" Sisca menghela napas panjang sambil berkata, "Beruntung atau sial, cepat lambat juga akan bertemu, 'kan?" Nancy menatapnya dengan prihatin, "Jadi apa rencanamu ke depannya? Selama enam tahun ini, walau kamu nggak bertemu dengannya, dia juga membuatmu kehilangan pekerjaan, bahkan menyuruh semua perusahaan untuk nggak merekrutmu. Kemarin malam kamu pertama kali bertemu dengannya saja sudah hampir mati. Bukankah lain kali akan lebih kejam?" Sisca menggelengkan kepala sambil berkata, "Aku juga nggak tahu. Lihat saja ke depannya bagaimana, sekarang aku juga tak mau pikir begitu banyak." "Bagaimana dengan Angel? Apa kamu mau terus menyembunyikan keberadaan Angel dari Hendra?" Sisca tersenyum canggung sambil berkata, "Kalau nggak menyembunyikannya, apa aku harus membawa Angel untuk menemuinya? Dia pasti akan merasa aku menggunakan Angel untuk meminta pengampunannya. Aku dan dia sudah berpisah sejak enam tahun yang lalu, aku tahu jelas sifat Hendra. Semua orang di dunia ini boleh mengkhianatinya, kecuali diriku. Kalau aku mengkhianatinya, nggak dibunuh olehnya saja sudah syukur." Nancy langsung merinding dan berkata, "Pria ini terlalu menakutkan!" Sisca malah merasa biasa saja, dia lanjut berkata, "Hendra adalah orang yang keras kepala. Dia akan sangat mencintai seseorang, kebalikannya dia juga akan sangat membenci seseorang." Enam tahun lalu, ketika Sisca kerja paruh waktu di bar dan tangannya disentuh oleh tamu bar, setelah Hendra mengetahuinya, dia langsung membawa orang itu ke sebuah lorong gelap dan mematahkan tangannya. Sisca takut orang itu dendam terhadap Hendra, jadi dia pun memeluknya sambil memintanya berhenti. Kalau Sisca tidak menghentikannya, Sisca juga tak merasa aneh kalau orang itu dibunuh oleh Hendra. Pada akhirnya, Hendra pun tidak membiarkannya bekerja lagi. Jari tangan Sisca yang disentuh pria itu terus-menerus dicuci dan digosok di wastafel sampai kemerahan baru dicium oleh Hendra. Malam itu, Hendra menjadi sangat posesif, dia terus menekan Sisca di tempat tidur dan mencium seluruh tubuhnya.