Istri yang Tak Kau Percaya Ternyata Kaya Raya

Đang tải thông tin quảng bá...

Istri yang Tak Kau Percaya Ternyata Kaya Raya

GoodNovel Hoàn thành
CantikBeraniPria DominanKayaBos / CEOPerbedaan usiaDrama

"Dengan wajah sok polosmu itu kamu berbohong kalau kamu masih suci! Padahal saat menikah denganku, kamu sudah tidak perawan!” Kehidupan rumah tangga Analea terasa dingin karena Hamid, suaminya, s...

Chương (1)

第1章

Bab 1. Gosip Para Tetangga "Eh, dengar-dengar si Hamid habis nikah sama istrinya itu jadi jarang pulang ya?” Langkah Analea terhenti saat mendengar nama suaminya disebut ketika ia ingin keluar membeli sayur. Wanita sederhana berusia 24 tahun yang mengenakan daster murahan itu terpaku di balik pintu. Rambut panjangnya yang hitam ia selipkan di balik telinga, ingin mempertajam pendengaran tentang obrolan itu. "Beneran, Mbak?” Suara lain menyahut. “Tapi nggak heran sih. Aku malah dengar kalau istrinya Hamid itu anak pelacur!" Dada Analea semakin sesak mendengar kalimat yang keluar dari mulut para tetangganya itu. Tubuhnya yang tadi tegak, seketika lemas. "Ih, kalau ibunya pelacur, jangan-jangan anaknya nggak perawan lagi." Terdengar suara tawa mengejek dari beberapa tetangga lain yang sedang memilih sayuran. "Wah, kalau gitu kasian Hamid, dong. Dapat istri udah nggak perawan. Duh, mana anaknya Bu Irma itu gantengnya selangit, kerja kantoran pula. Sayang banget malah nikah sama pelacur." "Waduh! Jangan-jangan si Hamid jarang pulang karena punya istrinya udah gak rapet," cetus seorang ibu-ibu. "Oh! Jangan-jangan si Hamid jarang pulang karena sudah punya wanita lain di luar sana," timpal tetangga lainnya, kembali berasumsi. Tubuh Analea semakin menegang. Tidak hanya menghina ibu angkat yang telah membesarkan dirinya, para tetangga itu juga menjadikan urusan rumah tangga Analea sebagai bahan gunjingan. Di depan rumahnya, pula! Namun, Analea tidak mungkin marah dan membuat keributan di depan rumah mertuanya ini. Apalagi ia baru tiga minggu tinggal di rumah itu sebagai menantu. Baru saja, Analea hendak membuka pintu, kembali terdengar suara salah satu tetangganya bicara sedikit pelan, tapi tetap terdengar jelas olehnya. "Sssttt ... denger-denger nih, katanya mereka tidurnya udah nggak satu kamar, loh!" Betapa terkejutnya Analea mendengar ucapan tetanggaanya itu. "Bagaimana bisa …?" gumam Analea, tidak menyangka. Meskipun kabar tersebut benar, tetapi hal itu tidak seharusnya diketahui oleh para tetangga di sekitar rumahnya. Sedetik kemudian, wanita berhidung mancung itu menarik napas panjang seraya memejamkan netra bulatnya, menenangkan diri. Setelah tenang, Analea membuka mata dan melanjutkan langkahnya, menghampiri para tetangga yang sejak tadi sibuk membicarakannya. "Selamat pagi, Ibu-Ibu!" sapa Analea dengan senyum manisnya. Para tetangga yang tadi membicarakannya spontan terdiam dan terkejut. Ada yang saling colek, ada pula yang saling mencibir dengan lirikan sinis ke arah Analea. Wanita berwajah oval itu pura-pura tidak tahu. Ia tetap berusaha fokus memilih belanjaannya. "Eeh ..., Mbak Ana. Tumben belanja. Biasanya Bu Irma yang belanja dan masak." Analea hanya membalas dengan senyuman pertanyaan seorang ibu yang berdiri di sebelahnya. Ada serenteng gelang emas di pergelangan tangan kanannya, terpampang saat ibu itu meraih satu papan tempe di hadapan Analea. “Iya, Ibu lagi ada urusan, jadi saya yang gantikan,” jawab Analea singkat, membuat para ibu-ibu mengangguk-anggukan kepala penuh arti. "Ngomong-ngomong, Mas Hamidnya ke mana, Mbak?” Kali ini ibu-ibu di depan Analea bertanya saat Analea hendak membayar belanjaan. Nadanya terdengar menyindir. Tampaknya, ibu-ibu satu inilah yang menjadi pemimpin perkumpulan gosip ini. “Kok jarang kelihatan, sih? Padahal pengantin baru, loh!" "Harusnya tuh, ya. Pengantin baru itu ke mana-mana berdua. Bulan madu, kek. Ini kok yang lakinya malah jarang di rumah." lanjut ibu itu lagi dengan senyuman sinis. Mendengar ucapan itu, para tetangga yang lainnya menoleh pada Analea yang masih saja tersenyum. "Suami saya kerja, Bu,” jawab wanita berkulit putih tersebut sembari mengambil belanjaannya. Ia mencoba tetap tampak tenang, meskipun hatinya sudah merasa sangat tidak nyaman. “Maaf Ibu-ibu, Saya sudah selesai. Pamit masuk dulu!" Analea mengangguk ramah, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dengan dada bergemuruh. Air mata telah membendung di kedua kelopak matanya, tetapi alih-alih meloloskan emosinya meskipun tidak ada orang di rumah, wanita itu memilih untuk memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. “Tidak. Itu hanya gosip biasa,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Itu biasa terjadi.” Setelah berhasil menenangkan diri, Analea melangkah ke dapur dan mulai memilah bahan belanjaan untuk dimasak hari ini. Akan tetapi, tidak dapat ditahan, ucapan-ucapan para tetangganya tadi terngiang di kepala. Sebenarnya Analea memang menyadari. Sejak menikah tiga minggu yang lalu, sikap Hamid padanya sangat jauh berbeda dibanding masa mereka pacaran. Hamid kini lebih dingin padanya. Suaminya itu juga kerap kali pulang larut malam. Selama ini Analea berusaha berpikir positif saja. Mungkin suaminya itu sedang banyak pekerjaan di kantor. Namun, setelah mendengar obrolan tetangganya tadi, Analea sempat menduga-duga sesuatu yang tidak ia harapkan. Apa benar Hamid punya wanita lain? Apa benar Hamid mempermasalahkan asal usul Analea? Akan tetapi, bukankah sejak awal ia tahu asal Analea dari mana? Yang paling utama dan paling mengganggu adalah … dari mana para tetangga itu tahu kalau mereka tidak tidur di kamar yang sama?! Wajah Analea mendadak pucat. Rasa khawatir yang amat besar pada pernikahannya mulai menyelimuti hatinya. "Mas, Aku mau bicara, boleh?" Malam harinya, Analea menghampiri Hamid saat suaminya itu selesai membersihkan diri. "Aku capek. Mau tidur," sahut Hamid dingin tanpa menoleh pada sang istri . Pria bertubuh gempal itu meraih kaos dan celana pendek yang sudah disediakan oleh Analea di tepi ranjang, lalu memakainya. Analea merasa dadanya penuh sesak melihat sikap suaminya tersebut. "Tapi ini penting, Mas. Aku merasa sikap Mas padaku berubah. Kenapa, Mas?" Ekspresi Hamid seketika menggelap. "Sudah aku bilang aku capek!" sentaknya. Suara pria berumur 27 tahun itu semakin meninggi. "Tapi, Mas–" "Berisik! Aku mau tidur di kamar tamu aja!" bentak Hamid pada Analea. Ia membuka pintu kamar dan hendak keluar. "Tunggu, Mas!” Analea menggenggam lengan Hamid. ”Dengarkan aku dulu. Aku mendengar kabar tidak enak dari tetangga kita. Mereka bilang pernikahan kita bermasalah karena kita tidak akur." Langkah Hamid terhenti di ambang pintu. Wajahnya menyeringai. Tatapannya sinis memandang wanita yang belum genap satu bulan ia nikahi. "Asap tidak akan muncul jika tidak ada api!" ucap Hamid ketus. Ia kibaskan tangan Analea dan berkacak pinggang. Tatapannya makin tajam pada iris mata Analea. Napasnya mulai naik turun. "Maksud Mas apa?" Wajah Analea tampak bingung. "Halah! Jangan pura-pura nggak ngerti kamu!” Hamid mendengus, kemudian menudingkan jarinya ke depan wajah sang istri. "Kamu telah membohongiku selama ini!” bentak Hamid geram. Pria berambut keriting itu menunjuk wajah Analea yang tampak nyaris menangis. “Dengan wajah sok polosmu itu kamu berbohong kalau kamu masih suci! Padahal saat menikah denganku, kamu sudah tidak perawan!” Bab 2. Tuduhan Kebohongan dan Pengkhianatan "Padahal saat menikah denganku, kamu sudah tidak perawan!” DEG! Sepasang mata Analea membelalak. Mendengar tuduhan sang suami, hati wanita itu seperti tertusuk ratusan belati. "Astaghfirullah, Mas. kenapa Kamu berpikir seperti itu?!” Analea mengelus dadanya yang terasa nyeri. Ia tidak menduga Hamid akan mengatakan menuduhnya seperti itu. “Demi Tuhan, Mas. Aku masih suci! Kamu adalah satu-satunya pria yang mendapatkan kesucianku secara sah.” Ia berusaha meyakinkan suaminya. "Tidak perlu bawa-bawa nama Tuhan di hadapanku!” bentak Hamid. “Buktinya, malam itu tidak ada bercak darah di ranjang kita!" Kedua tangan Analea makin menekan dada, menahan rasa nyeri yang luar biasa.. Lagi-lagi ia tak menduga suaminya mengatakan dia tidak perawan karena tidak ada bercak darah di ranjang mereka. Padahal, ia tidak pernah berhubungan badan dengan siapa pun sebelum menikah dengan Hamid. Namun, kini, semua tampak masuk akal. Sejak malam itu, Hamid berubah dingin padanya. Suaminya tersebut tidak pernah mengatakan apa pun dan justru selalu menghindar darinya. "Mas Hamid adalah satu-satunya pria yang pernah melakukan hal itu denganku." Analea mencoba kembali meyakinkan suaminya dengan suara bergetar menahan tangis. Sekuat mungkin Analea mencoba untuk tidak menangis di depan suaminya. Namun, suaminya tersebut hanya menatapnya dengan pandangan menghakimi, seakan-akan Analea adalah wanita paling kotor di dunia. “Mas,” Dada Analea makin terasa sesak karena tidak dipercayai oleh pria yang baru saja menjadi suaminya sendiri. “Demi Tu–” "Kamu nggak pantas bawa-bawa nama Tuhan, Analea!” Analea menoleh ke arah suara nyaring yang tiba-tiba muncul dari arah ruang tamu. Ibu mertuanya menatapnya dengan wajah memerah marah, sama sekali tidak tergerak meskipun Analea sudah berurai air mata. “Ibu …,” panggil Analea saat melihat ibu mertuanya, Irma, di depan Hamid. Irma menatap nyalang menantunya itu. “Aku sudah menduga sejak awal kalau kamu memang bukan wanita baik-baik!” sergah wanita itu sembari menudingkan jarinya ke wajah Analea. “Ternyata memang benar pergaulanmu liar, sama seperti ibumu!” “Astaga, Ibu.” Analea terbelalak mendengar hujatan dari mertuanya, ibu pria yang ia cintai. Meskipun ia baru sebentar menjadi menantu Irma, tetapi Analea sudah menganggap wanita itu sebagai orang tuanya sendiri. Namun, wanita ini pulalah yang menghujat asal usul dan ibu yang telah membesarkannya tanpa pamrih. “Ibu saya memang tinggal di area lokalisasi, tetapi beliau wanita baik-baik. Beliau telah merawat saya–” “Halah!” Bu Irma mengibaskan tangannya. “Omong kosong. Memang ya, buah itu tidak jatuh jauh dari pohonnya. Kalau sudah begini, kasihan anakku, nikah sama penipu.” Wanita tua itu kemudian mendengus kasar. Dengan nada ketus, ia melanjutkan, “Benar kata para tetangga, sudah benar anakku nggak mau lagi tidur sama kamu.” Analea tersentak mendengar ungkapan ibu mertuanya. Para tetangga …? Sepasang mata Analea membulat ketika secara otomatis teringat obrolan ibu-ibu tetangga tadi pagi. Apakah … ibu mertuanya ini adalah orang yang telah menyebarkan informasi bahwa ia dan Hamid sudah tidak tidur satu kamar? "Maaf, Bu. Apa ibu mengatakan pada tetangga bahwa kami,” Analea menunjuk dadanya dan kemudian suaminya yang sejak tadi diam, tak bergerak sedikit pun dengan wajah keruh, “tidak tidur satu kamar?" Seketika, Bu Irma tampak gugup. Wanita itu sekilas melirik ke arah Hamid, sebelum kemudian kembali membentak Analea. "Dasar menantu kurang ajar! Berani-beraninya kamu menuduhku yang tidak-tidak!" Analea menghapus bekas-bekas air mata di pipinya terlebih dahulu sebelum dengan sopan menyahut, "Bukan begitu maksudku, Bu–” "Pintar ngomong kamu sekarang? Dasar anak pelacur!" bentak Bu Irma sekali lagi. Lalu, pada Hamid, ia berkata, “Lihat istri yang tadinya kamu banggakan itu, Nak. Padahal sudah menipu kamu sampai begini, sekarang malah menuduh ibu yang tidak-tidak.” Bu Irma mengadu pada sang putra, menambahkan bahan bakar ke dalam api. “Bu, bukan begitu,” ucap Analea kemudian. Nada suaranya melembut menghadapi ibu mertuanya yang marah-marah. “Aku tidak menuduh ataupun menyalahkan Ibu. Hanya saja, baiknya hal-hal tersebut disimpan–” “Dengar itu, Hamid!” sergah Bu Irma sembari menunjuk ke wajah Analea. Satu lengannya merangkul lengan Hamid, seakan-akan meneguhkan putranya tersebut atas kelakuan sang istri. “Istrimu–” "Analea!" Teriakan Hamid menghentikan ucapan Bu Irma. Spontan saja Analea menoleh pada suaminya. Ia berharap Hamid akan membelanya. Namun, harapannya hanyalah harapan kosong belaka. "Dengar, Analea! Jangan coba-coba kamu melemparkan kesalahan pada ibuku. Apalagi menuduh beliau yang telah membesarkanku seperti itu! Seharusnya kamu sadar dengan dosa yang telah kamu perbuat, bukan malah melemparkannya pada orang lain." Analea terhenyak mendengar ucapan suaminya. Tanpa mampu bicara lagi, wanita itu hanya terpaku meiihat Hamid meraih jaketnya dengan kasar, lalu berjalan menuju pintu keluar. Tatapannya nanar melihat punggung suaminya menghilang di balik pintu. Sementara itu, diam-diam tanpa dilihat siapa pun, Bu Irma tersenyum penuh kemenangan sesaat, sebelum kembali menyalahkan Analea. "Nah, kan. Gara-gara kamu, sih! Hamid pergi lagi, tuh!” ucap Bu Irma. “Mau bagaimana lagi, di rumah dibuat tidak betah sama istri sendiri. Yah, semoga saja di luar sana Hamid menemukan wanita baik-baik yang akan mendampinginya nanti." Usai mengatakan itu, Bu Irma pergi meninggalkan Analea begitu saja sementara wanita muda itu tidak punya tenaga untuk sekadar membalas ucapan mertuanya, pun mengejar suaminya yang entah ke mana. Analea hanya sanggup berjalan masuk ke kamar dan menangis sendirian. Entah berapa lama Analea menangis, terdengar nada ponsel Analea, menandakan ada pesan masuk. Wanita cantik itu kemudian menggeliat. Entah pukul berapa ia tertidur setelah semalaman menangis. Area di sampingnya dingin–sama seperti malam-malam sebelumnya karena Hamid enggan tidur bersamanya. Perlahan Analea meraih ponsel di atas meja rias, lalu membuka sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal. Seketika napasnya terhenti saat melihat sebuah foto yang dikirim seseorang entah siapa itu padanya. "Astaga, Mas Hamid!" Air mata Analea lolos begitu saja melihat foto Hamid bersama seorang wanita cantik memasuki sebuah rumah. Saat itu juga tubuh Analea terasa lemas, apalagi saat membaca pesan yang ia terima bersamaan dengan foto tersebut. [Suamimu menghabiskan malam panas dengan perempuan lain. Jika tidak percaya, kamu bisa pergi ke sini.] Tak berselang lama, sebuah pesan kembali masuk dari nomor yang sama. Mata Analea melebar saat sebuah alamat tertera pada layar ponselnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Napasnya naik turun. Seketika itu juga Analea merapikan penampilannya dan bergegas memesan ojek online untuk membuktikan kebenaran pesan-pesan dari nomor asing tersebut. Ternyata alamat yang ia tuju tidak begitu jauh dari rumahnya. Dalam waktu 15 menit ia sudah sampai di depan sebuah rumah yang persis seperti di foto tadi. Ia terhenyak melihat sepatu suaminya berada di teras rumah bercat biru itu. Seketika darah Analea mendidih. Ia jelas mengenali sepatu itu, sepatu yang Analea berikan saat mereka merayakan ulang tahun sang suami sebelum mereka menikah dan sepatu itu pulalah yang justru mengantarkan suaminya ke rumah perempuan lain dan bermalam di sana. Analea kemudian melangkah ke sebuah jendela yang tirainya tidak tertutup. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pemandangan di depan matanya. Pria yang baru tiga minggu ini menjadi suaminya kini tengah tidur berangkulan dengan seorang wanita lain! Bab 3. Gugatan “Bisa-bisanya dia menuduhku berzina sebelum menikah, sementara ia justru berselingkuh di belakangku." Analea berguman pada dirinya sendiri. Seketika dadanya merasakan sesak dan nyeri. Kedua tangan Analea mengepal erat karena geram. Sekian detik kemudian, Analea melangkah mendekati pintu, lalu menggedornya dengan sedikit kasar. Tidak ada jawaban. Cukup lama ia menunggu. Setelah berkali-kali mengetuk, akhirnya pintu itu terbuka dan muncullah seorang wanita. Analea tertegun, merasa tidak asing dengan sosok wanita yang tengah berpenampilan seksi tersebut–atau lebih tepatnya, wanita itu belum mengenakan pakaiannya dengan benar. Wanita itu pernah beberapa kali Analea temui di rumah Hamid sejak ia belum menikah. Dulu, Analea sempat terheran dengan sambutan ibu mertuanya yang selalu hangat setiap wanita itu datang. Jauh berbeda ketika ia yang datang dan selalu disambut dengan dingin. "Nandita, Siapa-?” Ketegaran dan sorot dingin yang sejak tadi berusaha ditampilkan oleh Analea serta usahanya untuk tetap berdiri tegak, seketika goyah saat ia mendengar suara sang suami dari dalam rumah. Tatapan wanita itu beralih pada Hamid yang baru saja menampakkan dirinya. Dada Analea makin bergemuruh saat melihat pakaian yang dikenakan suaminya masih berantakan–kemeja pria itu tidak dikancingkan dengan benar dan rambutnya acak-acakan. "Analea ... kamu–" Langkah Hamid terhenti begitu saja. Pria itu tak menyangka orang yang mengetuk pintu berkali-kali di pagi buta itu adalalah istrinya sendiri. "Kenapa, Mas? Kaget?” Analea sebisa mungkin menyembunyikan getar dalam suaranya saat bertanya. Tatapannya tajam, menghunjam kedua manik mata Hamid yang tampak terkejut. Kedua tangan wanita itu mengepal kuat di samping kiri dan kanan tubuhnya. Ia berusaha menahan diri agar tidak kehilangan kendali dan menjadi histeris demi menuntut penjelasan. “Ternyata kamu lebih paham seperti apa itu berzina. Bagaimana rasanya, Mas?" Hamid sempat terhenyak melihat kehadiran Analea. Namun ia segera tersadar. Pria itu tiba-tiba melangkah maju dan menarik satu lengan Analea dengan kasar menepi ke dinding. Wajahnya memerah karena marah–sekaligus malu. "Diam kamu!” bentaknya. Napasnya memburu. Ia tidak terima dengan kata-kata yang dilontarkan Analea. “Semua ini juga gara-gara kamu!" Analea mengerutkan keningnya. "Gara-gara aku?” ulangnya tidak percaya. “Kamu menyalahkan aku atas perselingkuhan kamu ini, Mas?” Mendengar itu Hamid menghempas napas kasar. "Andai saja kamu bisa membuatku nyaman, aku tidak akan tergoda wanita lain!” desis Hamid. Ia memojokkan Analea ke dinding. Dalam posisi ini, Analea bisa melihat urat-urat wajah suaminya yang menonjol, menandakan kemarahan pria itu. “Andai saja kamu tidak menipuku, aku pasti tidak akan selingkuh! Toh, aku baru melakukannya satu kali.” Analea mendengus mendengar ucapan suaminya. “Satu kali?” ulangnya. “Mau satu kali atau sepuluh kali, bagaimana aku bisa tahu kebenarannya? Bagaimana bisa aku percaya ucapan Mas Hamid begitu saja?" Mendengar itu, Hamid terdiam. Analea seakan sedang membalikkan posisi mereka, menempatkan Hamid di pihak yang tidak bisa ia percayai. "Kamu harus percaya aku, Analea!" Akhirnya, Hamid berkata tegas dengan wajah merah padam. Sementara cengkraman tangannya semakin menyakiti Analea. Analea tersenyum getir. “Kenapa? Padahal sendirinya kamu tidak percaya padaku,” ucap wanita itu. Suaranya terdengar parau. “Kamu justru menuduhku yang tidak-tidak." Hamid tak menjawab. Pria itu masih berdiri terpaku di depan Analea yang perlahan mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan suaminya. Setelah berhasil melepaskan diri, Analea mendorong Hamid mundur dan mengambil beberapa langkah menjauh sebelum kemudian menarik napas panjang. Ia mencoba untuk menghalau rasa sakit yang begitu dalam. Kemudian wanita itu berkata, "Jika di antara kita sangat sulit untuk saling percaya, untuk apa lagi pernikahan ini dipertahankan, Mas? Lebih baik ... kita berpisah." Sejak tadi, wanita yang dipanggil Nandita oleh Hamid tadi memandang sepasang suami istri itu dengan santai. Tubuhnya bersandar pada tepi pintu dengan kedua tangannya dilipat di depan dada. Mendengar ucapan Analea, wanita itu diam-diam tersenyum penuh kemenangan. “Jangan mempermainkanku, Analea!” Meskipun sempat tertegun saat menyaksikan istrinya berlalu begitu saja usai mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia duga sama sekali, Hamid merasa egonya seperti diinjak-injak oleh Analea. Amarah Hamid pun seakan meledak. Ia yang sejak tadi menjaga volume suaranya karena khawatir akan didengar oleh warga sekitar, kini sudah tidak peduli lagi. “Jika kita akan cerai, harusnya Aku yang menalakmu, karena sudah bohongi Aku! Lebih baik Kamu coba ngaca dulu dan pikirkan kesalahan yang telah kamu lakukan padaku!” Analea memejamkan matanya sesaat dan menghela napas. Sedetik kenudian ia meneruskan langkahnya meninggalkan Hamid. Namun, kata-kata pria itu masih saja terus berdengung di telinganya. Wanita itu mengayunkan kakinya tanpa arah. Di kepalanya terus terlintas bayangan Hamid dan perempuan selingkuhannya. Kejadian yang baru saja ia alami membuatnya tak mampu berkonsentrasi dengan baik. Hingga saat tiba di jalan besar, sebuah mobil mewah nyaris saja menyerempet tubuhnya. “Aaah!” Suara rem berdecit terdengar keras di pagi yang masih sepi itu. Analea jatuh dengan posisi terduduk di tepi jalan. Setelah beberapa detik, baru ia merasakan sakit akibat benturan aspal. Hal itu membuat Analea spontan meloloskan tangisan, sesuatu yang ia tahan sejak tadi. "Mbak ... Mbak nggak apa-apa, kan?" Sopir dari mobil yang tadi hampir menabraknya turun dan menghampiri Analea. Namun, wanita itu tak menghiraukan dan justru malah terus menangis. Sang sopir kebingungan. “Mbak?” Suara tangisan Analea tampaknya mengganggu sesosok pria yang ada di kursi belakang mobil mewah tersebut. Tidak sabar, pria asing itu memutuskan untuk turun dan langsung disuguhi sebuah pemandangan di mana seorang wanita yang tidak ia kenal tengah terduduk di pinggir jalan sambil menangis. Wajah wanita tersebut tampak sembab, pakaian bawahnya sedikit kotor lantaran terjatuh. Pandangan pria dalam balutan jas mahal warna biru itu tiba-tiba bertemu dengan sepasang mata yang sudah basah milik Analea . Dilihatnya, wanita itu perlahan berdiri sembari meminta maaf. "M-maaf ..., maafkan saya!" Dengan suara serak, Analea meminta maaf pada sopir dan sosok pria asing di hadapannya dengan wajah tertunduk, Ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab. Hening. Tidak ada tanggapan dari sopir maupun pria berjas di hadapannya selama beberapa waktu, sementara air mata Analea terus berjatuhan. Sebuah sapu tangan berwarna abu-abu tiba-tiba disodorkan pada Analea. "Tenangkan dirimu." Suara bariton pria pemilik mobil itu terdengar jernih saat berucap, membuat Analea mencoba menghentikan tangisnya dan menerima sapu tangan tersebut untuk mengusap air matanya. “Mari saya antar ke rumah sakit terdekat.” Analea spontan menggeleng. "T-tidak perlu. S-saya tidak apa-apa," sahut Analea sedikit gugup. Ia menunduk makin dalam. “Sekali lagi, maafkan kecerobohan saya.” "Hmm ...” Analea tetap menunduk, menanti tanggapan lebih lanjut dari pria di hadapannya. Namun, wanita itu tidak mendengar pria itu kembali bersuara. Baru ketika Analea mendongak untuk melihat wajah dingin tersebut, pria itu berkata, “Pak, panggilkan taksi untuk Nona ini." Sepasang mata Analea melebar, apalagi saat sang sopir mengangguk dan bergegas menyetop taksi yang kebetulan lewat. "T-tidak usah, Tuan," tolak Analea. Namun, tidak dihiraukan. Usai mendapatkan taksi, Analea dibantu masuk ke dalam mobil tersebut oleh sopir. Sedangkan Pria yang tampaknya berusia akhir tiga puluhan tersebut merogoh sesuatu dari balik jasnya, lalu menyodorkan sejumlah uang pada sopir taksi. "Ini adalah bentuk tanggung jawab saya," ujar pria tersebut sambil melirik pada Analea yang baru saja duduk di kursi penumpang bagian belakang. Lalu, pada sopir taksi ia berkata, “Antarkan Nona ini sampai rumahnya.” Analea hanya mengangguk samar. Tanpa ia sadari, satu tangannya masih menggenggam erat saputangan pria itu. *** "Loh, ternyata Mbak Ana? Dari mana? Kok pulang pagi?" Baru saja Analea turun dari mobil, suara familiar ibu-ibu tetangganya langsung menyapa. Rupanya sudah ada segerombolan ibu-ibu di depan rumahnya, mengelilingi gerobak sayur. Merasa terlalu lelah, Analea hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Namun, seperti tidak memedulikan kelelahan Analea, ibu-ibu yang lainnya justru menimpali, "Tumben beda, pakaiannya rapi banget! Habis ketemu siapa sih?" Suara centil ibu-ibu itu mengundang cekikikan dari para ibu lain. Namun, Analea mengabaikan mereka. Ia berusaha tidak memikirkan gunjingan apa yang akan mereka ucapkan dan masuk ke dalam rumah. Namun, baru saja membuka pintu, terdengar suara bentakan dari Bu Irma. "Dari mana saja!? Bagus ya, suami tidak di rumah malah keluyuran malam-malam! Memang dasar perempuan nggak benar!" Bab 4. Sebuah Penyesalan "Memang dasar perempuan nggak benar!” Analea terdiam saat mendapatkan sorotan tajam dan sinis dari ibu mertuanya. Namun, ia mencoba untuk tetap sopan meskipun sama sekali tidak mendapatkan respons baik dari Bu Irma. "Ibu ... asalamualaikum!" Analea berucap lirih. Ia terpaksa menunda untuk masuk ke kamarnya. Padahal ia sangat ingin merebahkan tubuhnya sejenak. Tubuh Analea terasa lelah setelah menghadapi serentetan kejadian tadi, dan kini, ia pun harus menghadapi bentakan sekaligus tuduhan dari sang ibu mertua. "Ternyata benar apa yang digunjing orang-orang tentang ka–” "Bu ... Aku baru saja melabrak Mas Hamid.” Analea segera menyanggah ucapan Bu Irma yang tampaknya selalu ingin memojokkannya. “Dia semalam tidur dengan perempuan lain, Bu." Meskipun Bu Irma selalu terkesan tidak menyukainya, Analea berpikir bahwa saat wanita paruh baya itu mendengar kelakuan anaknya di luar sana, Bu Irma akan terkejut dan bersimpati pada Analea. Namun, ibu mertuanya itu malah tersenyum sinis– dan Analea lah yang terkejut dengan apa yang diucapkan wanita itu setelahnya. "Ya, jelas saja putraku itu mencari wanita lain. Semua ini juga gara-gara kamu.” Analea terkejut. “Ibu tahu?” “Tahu atau enggak, Ibu paham kenapa Hamid begitu,” sahut Bu Irma. “Lagi pula, Hamid pasti tidak puas dan kecewa sama kamu yang sudah tidak gadis lagi ketika dia nikahi. Belum lagi masa lalumu yang kotor itu.” Analea menghela napas, terdengar lelah. Sudah berkali-kali ia membela diri, tetapi tidak ada yang percaya padanya. Meskipun, ya, ia tahu bahwa ia sempat tinggal di area lokalisasi dan itu akan mempengaruhi pandangan orang-orang terhadap dirinya, ia tidak menyangka semua akan jadi seperti ini. Apalagi karena suaminya dulu tidak mempermasalahkan masa lalunya tersebut. Kini usai serentetan kejadian yang ia alami, Analea merasa terlampau lelah dan tidak sanggup lagi berusaha meyakinkan orang-orang tentang dirinya. Ia bahkan tidak tahu entah sampai kapan ia akan menerima semua tuduhan dan hinaan ini, kapan mereka akan bosan menudingnya dengan kabar-kabar yang tidak benar. Karena itu, akhirnya Analea berkata: "Ya Bu. Aku akan mengajukan cerai pada Mas–” "Siapa bilang aku akan menceraikanmu!?" Ucapan Analea barusan tiba-tiba mendapat sanggahan dari arah pintu masuk. Hamid muncul dan langsung berdiri di hadapan Analea. Bu Irma yang sempat senang saat mendengar kata cerai dari bibir Analea, seketika cemberut mendengar bantahan dari Hamid. Wanita paruh baya itu mendekat dan berdiri di sebelah putranya. "Kenapa, Hamid? Memangnya kamu nggak malu mendengar omongan tetangga?" Bu Irma berusaha mengompori putranya. "Tidak, Bu,” sahut Hamid tegas. “Aku tidak mau bercerai dengan Ana.” Analea memandang sang suami yang tengah menatapnya. Sesaat kemudian Hamid melanjutkan ucapannya, "Setelah apa yang ia perbuat, aku tidak akan melepaskannya begitu saja, Bu." Ucapan Hamid yang penuh penekanan membuat sepasang mata Analea terbelalak. Tubuh wanita itu melemas seketika. "Mas." Analea merasa sudah lelah menghadapi sikap Hamid padanya. Pria itu sungguh sangat berbeda dengan sosok yang dikenalnya sebelum menikah. "Mas Hamid, kalau Mas memang nggak percaya sama aku, apa gunanya pernikahan ini kita lanjutkan?" Sekuat mungkin Analea menahan jatuhnya air mata yang telah menggantung di kedua sudut matanya. Hamid menoleh pada Analea dan menatap istrinya itu dengan tajam. "Dengar, Ana. Ini bukan masalah kepercayaan.” ucap Hamid. Tatapan matanya menggelap. “Tapi, kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu mau dengan mudah. Setelah membuatku menikahimu, tentu saja aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku akan terus menahanmu agar tetap bersamaku!" Sudah tidak ada air mata di wajah Analea, meskipun sepasang matanya tampak sembab. Yang tersisa adalah raut wajah lelah dan kekecewaan di sana–serta benih kemarahan karena diperlakukan secara semena-mena. “Kalau aku masih istrimu, kamu tidak bisa menemui wanita tadi dengan bebas,” ucap Analea. “Aku bahkan bisa saja menyebarkan perselingkuhan Mas dan wanita itu, hingga ke kantor jika aku mau." Mendengar ancaman Analea, Hamid spontan mendengus. "Coba saja kalau bisa. Lagian memangnya Kamu punya bukti? Nggak, kan?" Hamid membalas. Analea terdiam. Ia memang tidak mengambil potret saat suaminya tidur dengan wanita itu–ataupun saat ia mendapati mereka tidak berpakaian pantas di kediaman si wanita. Yang Analea punya hanyalah foto saat keduanya memasuki rumah, yang ia dapatkan dari nomor tidak dikenal tadi. Bukti itu tentunya tidak kuat dan bisa dibantah begitu saja oleh semua pihak. "Lagian siapa yang bakal percaya dengan omongan kamu?” lanjut Hamid, terdengar meremehkan di telinga Analea. Benar. Apa yang dikatakan oleh Hamid semuanya benar. Jika Analea menyebarkan perselingkuhan suaminya sekalipun, semua orang sudah pasti berpihak pada Hamid, mengingat tidak ada siapa pun yang percaya dia di sini. Namun, Analea tidak mengiyakan ataupun memberikan konfirmasi bahwa ia setuju dengan kata-kata suaminya. Ia hanya diam dan memasang ekspresi tidak terbaca, membuat senyum di wajah Hamid perlahan menghilang dan meragukan ucapannya sendiri. Sebelum Analea akhirnya masuk ke kamarnya, ia berucap pelan, “Terserah Mas. Keputusanku sudah bulat untuk bercerai.” “Ana! Jangan keras kepala!” bentak Hamid. Namun, Analea tidak lagi menoleh ke suaminya hingga pria itu menjatuhkan diri di atas sofa ruang tamu. Hamid mengusap wajahnya yang tampak lelah. Dalam hati, ia bergumam, “Sial, kenapa pernikahan kita jadi seperti ini, Ana?” Bab 5. Mencari Jalan Keluar "Ternyata di sini tempat Mas Hamid dan perempuan bernama Nandita itu bekerja." Beberapa hari setelah ia mendapati suaminya tidur dengan perempuan lain, Analea memutuskan untuk keluar rumah–dan kini berdiri di depan sebuah gedung bertingkat bertuliskan PT Bina Sanjaya. Ia telah melakukan sedikit penyelidikan mengenai perempuan yang tidur dengan suaminya tempo hari. Analea bertekad akan menggugat cerai Hamid jika ia tidak bisa membuat pria itu menceraikannya. Salah satu caranya adalah dengan menyewa pengacara dan mengumpulkan bukti perselingkuhan. Namun, untuk melakukannya, ia butuh uang, Oleh karena itu, sejak beberapa hari yang lalu, berbekal pendidikan sarjananya, Analea sibuk mengirim lamaran kerja ke beberapa perusahaan, dan pagi ini PT Bina Sanjaya memanggilnya untuk melakukan wawancara. Ia sama sekali tidak menduga sebelumnya bahwa ternyata suami dan selingkuhannya bekerja di perusahaan yang sama. Begitu banyak kesempatan yang mereka peroleh untuk berhubungan di belakang Analea. Analea menggelengkan kepalanya, berusaha fokus dengan wawancara hari ini dibandingkan kembali memusingkan suami yang membuatnya sakit hati. Setelah menghela napas panjang, Analea mengayunkan kaki jenjangnya memasuki gedung lima lantai itu. Ia langsung memasuki lift dan menekan lantai di mana wawancara diadakan. “Wawancaranya di lantai empat ya? Auditorium.” Analea menoleh saat seorang wanita lain menyapanya. Dengan kikuk ia mengangguk dan menyahut, “Iya, Mbak. Wawancara juga?” Wanita itu hanya tersenyum. Analea mengamati penampilan sosok di sampingnya dan diam-diam meringis karena tiba-tiba tidak percaya diri. Apabila dibandingkan, penampilan mereka tampak jauh berbeda. Wanita yang tengah bersamanya tersebut tampil bersih dan berkelas dengan pakaian formalnya, sementara Analea hanya mengenakan blus polos berwarna hijau muda yang dipadukan dengan celana kulot hitam. Dan itu adalah pakaian terbaiknya. “Mari, Mbak. Sukses wawancaranya ya.” Analea menoleh. Ternyata wanita yang tengah bersamanya ada turun di lantai 2 dan merupakan karyawan. Baru saja pintu lift akan tertutup, sesosok pria yang familier bagi Analea menahan pintu. Betapa terkejutnya dua orang yang tengah berhadapan tersebut ketika mengenali satu sama lain. “Kamu!” Tatapan Hamid menajam. Di sebelahnya, Nandita, selingkuhan Hamid, tampak tenang dan tampil anggun. Analea mengernyit. ‘Oh, jadi di kantor pun kalian sedekat ini?’ batinnya. Dengan segera, Hamid menarik Analea agar keluar dari lift dan membawanya ke ujung koridor yang cukup sepi dengan kasar. "Ke sini ...!" “Mas, lepas!” Analea menarik tangannya. Wanita itu sempat menoleh dan mendapati Nandita tengah melihatnya. "Ngapain kamu ke sini?" desis Hamid dengan wajah khawatir. Tatapannya nyalang menatap Analea. Rupanya, ia benar-benar khawatir dengan kata-kata Analea beberapa hari yang lalu. "Kenapa?" sahut Analea. Ia mengelus tangannya yang baru bebas dari cengkeraman Hamid. Ditatapnya Hamid dengan pandangan mengejek. “Kamu khawatir orang-orang di sini tahu bahwa kamu si pria peselingkuh?” “Jangan main-main, Ana!” bentak Hamid dengan suara tertahan. “Jawab pertanyaanku!” Analea menghela napas. “Aku ada panggilan wawancara,” jawab wanita itu pada akhirnya. “Jangan khawatir. Belum waktunya aku membongkar perselingkuhanmu, Mas.” "Itu hanya terjadi sekali!” Hamid mendengus kesal. "Dan jangan bohong, Ana! Tidak sembarangan orang bisa bekerja di sini." Analea tersenyum tipis. "Kamu saja bisa bekerja di sini. Lalu, kenapa aku nggak?" Usai mengatakan itu, Analea berbalik pergi tanpa menyapa Nandita yang masih berdiri di dekat pintu lift. Hamid menatap geram kepergian Analea yang lebih dulu masuk ke dalam lift. "Kenapa? Ada masalah?" Nandita yang sejak tadi memperhatikan perdebatan suami istri itu dari kejauhan, datang menghampiri Hamid "Ternyata Ana mengikuti wawancara di auditorium. Kalau dia diterima, bisa kacau semua." Hamid memijat keningnya. Ia menoleh pada wanita yang telah ia kenal sejak lama tersebut. “Kamu tahu sesuatu? Bagaimana bisa orang sepertinya lolos tahap seleksi berkas? Dia belum pernah bekerja sebelumnya” Nandita mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa kamu kelihatan khawatir sekali? Lolos tahap seleksi berkas bukan berarti ia akan langsung diterima bekerja di sini.” “Karena–” Ucapan Hamid terputus saat ia melihat Nandita. Karena berubah pikiran, Hamid urung menyampaikan penjelasannya. Ia malah menghela napas. “Sudahlah. Perempuan itu. Kenapa setelah menikah dia justru makin sering membuatku kesal?” Awalnya, Hamid sungguh kecewa karena menemukan bahwa tidak ada darah di malam pertama pernikahannya dengan Analea. Semua kabar yang ia dengar membuatnya makin kesal karena Analea begitu tega membohonginya. Hingga kemudian ia tergoda dengan kenyamanan yang disodorkan oleh Nandita, atasan sekaligus teman masa kecilnya. Sampai akhirnya mereka tidur bersama. Sepintas terpikir bahwa ini adalah satu cara untuk membalas Analea. Ya, Hamid ingin Analea merasakan bagaimana dikhianati oleh orang yang ia cintai. Namun, sekarang Analea justru mengancam untuk bercerai darinya. Tentu tidak bisa begitu! Wajah Hamid berangsur makin keruh dan suram. Melihat hal itu, Nandita menepuk lengan Hamid pelan. “Jika memang kehadirannya mengganggumu, jangan khawatir,” ucap wanita berpakaian mini itu. “Kamu tenang aja. Wawancara itu aku yang atur semua.” Wanita itu tersenyum angkuh. “Aku jamin istrimu itu tidak akan diterima di sini." Bab 6. Dipermalukan "Aku jamin istrimu itu tidak akan diterima di sini." Wanita yang hobi memakai rok mini itu memang memiliki sedikit memiliki kuasa di PT Bina Sanjaya. Ia berniat memanfaatkan jabatannya selaku salah satu manajer untuk membuat Analea sulit diterima di perusahaan tersebut. Hamid mengangguk dengan wajah tak terbaca. Pikirannya masih terus tertuju pada Analea. Wanita yang sebenarnya masih ia cintai. Namun, egonya sebagai laki-laki benar-benar terasa diinjak-injak apabila bersama Analea saat ini. Di sisi lain, Analea telah sampai di ruang tunggu yang terletak di dekat ruang auditorium. Ruang tersebut cukup luas dan diisi oleh puluhan pelamar yang hendak wawancara. Analea mengedarkan pandangannya pada para wanita yang memiliki tujuan sama dengannya. Wanita itu meringis membandingkan penampilan dirinya dengan pelamar lain. Pakaian yang ia kenakan sangat berbeda dari yang lainnya. Bukan karena lebih bagus, melainkan karena modelnya yang terlalu sederhana serta warna yang sedikit mencolok. Helaan napas panjang berkali-kali ia embuskan demi menenangkan diri hingga akhirnya nama Analea dipanggil. Belum apa-apa, ia sudah kecil hati. Ketika akhirnya masuk ke ruang auditorium bersama beberapa pelamar lain, Analea terkejut saat melihat Nandita ada di antara para pewawancara. Wanita itu tampak paling dihormati di ruangan itu. Mata mereka bertemu selama beberapa detik. Tampak Nandita menoleh ke orang yang tengah duduk di sebelahnya. Wanita itu nampak sedang mengatakan sesuatu. Analea bingung, karena setelah itu, orang di sebelah Nandita melihat dirinya dengan pandangan menghakimi. Tepat di saat Analea memperkenalkan diri, pria berkemeja putih yang duduk di sebelah Nandita itu langsung saja berkomentar, “Anda yakin mau kerja di sini dengan penampilan seperti ini?" Analea tergeragap, tidak siap karena yang pertama dikomentari justru caranya berpakaian. "I-iya, Pak." “Saudari Analea, apakah saat melamar posisi ini, Anda memahami tugas-tugas apa yang akan Anda kerjakan apabila Anda diterima di sini?” Karena merasa terintimidasi, apalagi dengan pandangan para pewawancara yang seakan meremehkannya, Analea menjawab sepatah-sepatah. Dan itu malah membuatnya makin diserang "Anda tahu kalau kami sedang mencari orang untuk bagian marketing,” Pria yang sama kembali berkata sebelum kemudian mendaftar tugas-tugas apa yang Analea ingat ada di form lowongan kerja waktu itu. “Oleh karena itu, Saudari Analea harusnya paham bagaimana harus tampil. Apalagi saat wawancara kerja seperti ini.” Analea mengangguk lemah. Tatapan-tatapan dari orang-orang di hadapannya membuatnya tak mampu lagi berpikir. Ia tidak dapat berkonsentrasi dengan baik. "Anda dituntut untuk mampu membuat pihak lain yakin dengan produk yang akan Anda tawarkan. Namun ….” Pria itu menghela napas, lalu menuliskan sesuatu di catatannya. Bahu Analea makin turun. Pemikiran dan dugaan positifnya untuk dapat diterima bekerja di perusahaan ini kandas sudah. Ia bisa merasakan lirikan-lirikan dari para kandidat lain yang masuk ke ruangan bersamanya, tetapi ia tidak bisa melihat apakah mereka bersimpati, atau justru menghakimi. Mungkin jika bisa tertawa, mereka pun akan cekikikan melihatnya sekarang. Ditambah lagi seringai Nandita yang berada di meja pewawancara makin menjatuhkan harga diri Analea. "M-mohon maaf, Pak," ucap Analea kemudian sebelum pewawancara di depannya berpindah ke kandidat lain. Rasa malu dan kecewa memenuhi dadanya, terasa menyesakkan. "Bagi kandidat yang telah selesai wawancara, dipersilakan meninggalkan ruangan." Suara seorang wanita akhirnya membuat Analea mendongak. Nandita mungkin sudah merasa puas melihat kejatuhan Analea sehingga ia bisa mengatakan hal tersebut. Mungkin orang lain akan melihat selingkuhan suaminya itu baik hati karena bersimpati atas ketidaknyamanan Analea. Mereka tidak melihat sorot mata meremehkan saat keduanya bertukar pandang. “Jangan mimpi kamu bisa kerja di sini.” Kalimat itulah yang Analea tangkap dari tatapan meremehkan dan senyum angkuh penuh kemenangan Nandita. Dengan rasa sesak di dada, Analea bangkit berdiri. Langkah yang dipaksakan tegap membawanya keluar dari ruang auditorium. Wanita itu mengayunkan kakinya hendak keluar dari gedung. Langkahnya gontai menyusuri koridor gedung perkantoran itu. Kembali, ia memperhatikan beberapa karyawati yang tampilanya sangat jauh berbeda darinya, tampak elegan dan berkelas. Sedangkan dirinya ... Analea memandang tubuhnya dari cermin lift yang membawanya turun. Pantulan bayangannya membuatnya kembali meringis. "Memang aku tampak kampungan," batinnya. “Harusnya aku tampil lebih formal lagi.” Analea memutuskan untuk pulang. Wanita itu menunggu angkutan umum di sebuah halte yang berada di depan sebuah supermarket. Sambil menunggu, matanya sibuk memperhatikan orang-orang yang lalu lalang keluar dan masuk supermarket besar itu. Pandangannya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari sana. Wanita itu terlihat sangat cantik di usianya yang sudah tak muda lagi. Meskipun tidak menggunakan warna-warna yang mencolok, wanita tersebut mampu menyita perhatian Analea saat melangkah ke tepi jalan, seperti ada magnet yang menarik fokus Analea agar tetap tertuju pada si wanita paruh baya. "Wanita itu cantik sekali," gumam Analea tanpa sadar, mengagumi pakaian wanita berhijab itu dengan model sederhana, tetapi terlihat anggun dan berkelas. “Padahal ia pasti jauh lebih tua dibanding Ibu.” Analea teringat ibu angkatnya. Tiba-tiba saja, perhatian Analea teralihkan pada teriakan-teriakan dari sisi tubuhnya yang lain. Ia menoleh dan entah dari mana datangnya, Analea melihat sebuah motor melaju kencang ke arah wanita paruh baya itu. Tidak sempat berpikir lagi dan mengandalkan refleksnya, Analea spontan berlari ke arah wanita berjilbab tersebut. “Ibu! Awas!” Bruk! Bab 7. Wanita Paruh Baya Kaya Raya Bruk! "Argh!" Analea terpekik saat tubuhnya terbentur trotoar, sementara wanita yang ia tolong jatuh di atas tubuhnya. Rasa nyeri seketika ia rasakan pada sikunya yang beradu dengan trotoar. “Nak, kamu tidak apa-apa?” Wanita paruh baya itu segera bangkit dan membantu Analea duduk. "Tidak, Bu. Ibu, Ibu nggak apa-apa.” Analea duduk dan melihat kondisi wanita asing itu tanpa mengecek kondisinya sendiri. “Ada yang sakit?" Tanpa ia sadari orang-orang sekitar mulai berdatangan mengerumuni mereka. "Tidak, Saya tidak apa-apa." Wanita paruh baya berwajah cantik itu berpegangan pada lengan Analea. Analea menyadari tubuh wanita sedikit gemetar akibat insiden yang baru saja terjadi. Meskipun begitu, wajah asing yang tampak sedikit pucat berusaha tersenyum menatap Analea. "Permisi, Bapak, Ibu ...!" Karena ada banyak orang berkerumun di sekitar mereka kemudian, Analea memutuskan untuk membawa wanita itu kembali ke supermarket, jauh dari jalan raya, meski agak terpincang. Baru kemudian Analea sadari mungkin saja kakinya terkilir. Namun, itu tidak penting saat ini. Sementara itu, melihat Analea dan wanita yang ditolongnya itu tidak apa-apa dan bisa berjalan sendiri, orang-orang yang berkerumun tadi satu per satu pergi membubarkan diri. "Kita duduk di sini saja, Bu." Analea membawa wanita paruh baya itu pada sebuah kursi panjang yang berada di depan supermarket. “Tunggu sebentar, saya belikan air putih.” Usai mengatakan itu, Analea bergegas masuk ke dalam supermarket untuk membeli sebotol air mineral. Tak sampai lima menit, Analea kembali dan memberikan air mineral itu pada wanita yang ia tolong tadi. "Diminum dulu, Bu. Tadi Ibu pasti kaget." Wanita itu tersenyum haru, kemudian meminum beberapa teguk air mineral itu. "Terima kasih, Kamu sudah menolong saya, Nak. Siapa namamu?" Analea tersenyum. "Saya Analea, Bu. Biasa dipanggil Ana." Ia masih mengagumi keanggunan dan suara lembut wanita di hadapannya. "Kenalkan, saya Maira.” Wanita itu menyalami dan kemudian mengusap lembut lengan Analea. “Sekali lagi terima kasih sudah menolong saya, Ana.” "Kebetulan saja, Bu. Saya yakin orang lain pun akan melakukan hal yang sama jika melihat kejadian tadi.” “Tapi tidak semua orang akan bereaksi seperti kamu, Ana,” sanggah Maira lagi. Sejenak, perhatian wanita itu teralihkan pada kedatangan sebuah mobil mewah di depan supermarket. “Rumah kamu di sekitar sini? Mari saya antar pulang.” “Ah, bukan, Bu. Saya cuma kebetulan di sini karena baru saja melamar kerja,” jawab Analea. Mengingat hal itu sekali lagi membuat Analea sedih. “Sayangnya saya gagal. Mungkin karena penampilan saya kurang pantas.” Analea tidak tahan untuk meloloskan isi hatinya tersebut. Mendengar hal itu, Maira mengerutkan keningnya. “Kurang pantas?” ulangnya. Dengan polos, Analea menceritakan apa yang ia alami tadi saat wawancara, membuat Maira akhirnya menggelengkan kepalanya. Namun, dibandingkan mengomentari apa yang telah terjadi pada Analea, wanita paruh baya itu memilih untuk memberikan nasehat. “Kamu masih muda, Ana. Masih banyak kesempatan untuk kamu. Jika bukan di perusahaan itu, mungkin kamu akan mendapatkan tawaran di perusahaan lain." Dengan lembut, lagi-lagi Maira mengusap lembut punggung Analea sembari berucap. Analea menghela napas. "Iya, Bu. Tapi sekarang ini saya sangat membutuhkan pekerjaan itu." Entah kenapa Analea merasa nyaman bercerita dengan Maira. "Kamu sedang kesulitan, Ana?” Maira menatap Analea. Sorot matanya tiba-tiba berubah lebih serius. Analea mengangguk. "Iya, Bu. Saya ... saya butuh penghasilan untuk menggugat cerai suami saya yang sudah selingkuh." Sorot mata Maira berubah iba. Ia kembali mengusap punggung tangan Analea yang ada dalam genggamannya dengan lembut. Setelah menghela napas panjang, akhirnya Maira mengatakan sesuatu yang tidak pernah diduga oleh Analea. "Ana, kalau kamu berminat, datanglah ke perusahaan saya, Eternal Group. Kamu bisa melamar pekerjaan di sana." "Eternal Group? Perusahaan besar itu?" Wajah Analea seketika berbinar. Perusahaan yang disebut Maira adalah sebuah perusahaan yang sudah tidak asing lagi bagi siapa pun. Eternal Group merupakan salah satu perusahaan terbesar di negeri ini yang bergerak di bidang properti. "Ya, Ana. Itu perusahaan keluarga.” Maira tersenyum. Aura keibuan yang melekat pada dirinya membuat Analea semakin kagum. “Sebagai bentuk terima kasih karena kamu sudah menolong saya tadi, maka sekarang biarkan saya yang menolongmu." "Iya, Bu Maira. Saya mau.” Analea tampak sangat antusias. Wajahnya sangat bahagia. “Besok juga saya akan langsung ke sana. Makasih, Bu!" Maira mengangguk, ikut senang. "Ditunggu." Wanita itu mengusap lembut bahu Analea. "Kamu mau Ibu antar saja?" Analea menggeleng. Ia enggan memberikan bahan lain pada para tetangganya untuk bergunjung dengan pulang ke rumah diantar sebuah mobil mewah. "Baik kalau begitu, Ibu pamit dulu. Kamu hati-hati, ya!" Maira berdiri, diikuti Analea. Wanita berjilbab anggun tersebut tiba-tiba memeluk Analea. "Sekali lagi, terima kasih, Ana--" Kalimat Maira tiba-tiba terhenti. Sepasang matanya menangkap sesuatu di belakang telinga kanan Analea. Namun, tepat saat itu, angkutan umum yang menuju ke arah rumah Analea muncul. Wanita itu buru-buru melepaskan Maira yang dengan anehnya masih terdiam--dan tampak terkejut. "Saya naik angkutan itu, Bu," ucap Analea langsung. Ia menganggukan kepalanya tanda permisi dan buru-buru lari mengejar angkutan di pinggir jalan. Sesaat setelah Analea pergi, Maira baru tersadar. Wanita paruh baya tersebut menatap kepergian mobil angkutan yang dinaiki Analea. "Tanda di belakang telinganya itu ...." Mata wanita tersebut menampakkan keterkejutan mendalam. "Kenapa begitu mirip dengan putri kecilku yang hilang?!"