Đang tải thông tin quảng bá...
RAHASIA TIGA HATI
Pasangan yang menikah, tentunya berharap memiliki keturunan. Namun apa jadinya jika mertua justru melarang menantunya hamil? "Nggak usah punya anak dulu. Mama nggak setuju. Mama nggak sudi punya cucu...
Chương (1)
第1章
Bab 1 Jangan Punya Anak
RAHASIA TIGA HATI 1
Part 1 Jangan Punya Anak
"Nggak usah punya anak dulu. Mama nggak setuju."
Livia tercekat di balik pintu saat mendengar mama mertuanya bicara dengan Bre di ruang keluarga. Niatnya hendak masuk bergabung, tapi akhirnya hanya mematung di balik dinding.
"Kenapa, Ma?"
"Mama nggak sudi punya cucu keturunan dari orang gila." Ucapan ibu mertuanya bagai belati tajam yang menusuk tepat di ulu hati Livia. Wanita yang sangat ia sayangi tega berkata begitu di belakangnya. Wajar saja sebenarnya. Sebab Bu Rika memang tidak menyukainya sejak dulu. Wanita itu setengah hati merestui hubungan putranya dengan Livia. Namun kata 'gila' itu lebih menyakitkan dari apapun.
Mengingat kenangan itu, Livia menghela nafas panjang sambil menatap langit yang beranjak senja.
Meski sudah setengah tahun yang lalu perkataan itu diucapkan sang mertua. Bagi Livia masih terasa sakitnya. Dulu dia diterima dengan setengah hati, makanya tidak heran kalau sekarang ingin disingkirkan secara perlahan. Apalagi setelah bisnis keluarganya hancur, difitnah, dan orang tuanya terpuruk. Livia tidak dianggap lagi di keluarga suaminya. Mereka bilang, sekarang sudah tidak selevel lagi.
Siapa yang gila? Ayahnya bukan orang gila. Dia hanya mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) dan mengidap sakit jantung. Setelah banyak kejadian mengerikan dilalui. Untung Livia tidak mengalami depresi seperti ayahnya. Bre yang selalu membantu dan menguatkan agar dirinya bisa tetap berdiri tegak, setelah peristiwa kelam itu terjadi.
Namun sampai kapan Bre bisa bertahan membelanya, sementara mama terus merongrongnya. Setelah papanya tiada, Bre tidak mungkin akan meninggalkan sang mama. Meninggalkan usaha yang dikelola bersama kakak lelakinya.
Livia sendiri kian terasa asing di rumah besar mertua.
"Mbak Livia, dicari bapak." Seorang laki-laki setengah baya menghampiri Livia yang duduk di kursi belakang rumah.
"Iya, Pak Tamin," jawab Livia pada lelaki yang selama ini ia bayar untuk merawat dan menemani sang papa. Satu-satunya orang yang masih setia pada keluarganya, setelah kehidupan mereka runtuh.
Livia masuk ke ruang keluarga di mana ayahnya duduk di dekat jendela memandang langit sore. "Ayah, mau sesuatu?"
Pak Rosyam menggeleng. "Nggak. Ayah pikir kamu sudah pulang."
"Belum."
"Nanti Bre mencarimu."
"Dia tahu aku di sini."
Tiap kali memandang ayahnya, airmata Livia rasanya hendak tumpah. Lelaki yang dulunya sangat gagah, kini terpuruk setelah kehilangan istri, putri sulungnya, dan usaha yang mereka bangun selama ini juga hancur.
Ayah dan anak diam menikmati semilir angin sore. Seminggu dua sampai tiga kali, Livia akan mengunjungi ayahnya setelah pulang dari kantor.
Tadi hendak pamitan pada Bre, tapi di cegah oleh asisten suaminya. "Pak Bre, sedang meeting bersama Pak Ferry, Bu Kenny, dan Bu Agatha. Beliau tidak bisa diganggu, Bu Livia."
Padahal sudah di luar jam kerja, tapi ingin bertemu suaminya saja dilarang. Livia tidak heran, asistennya Bre memang sudah didoktrin oleh mama mertuanya. Semua orang diminta memusuhinya supaya Livia tidak kerasan di kantor atau pun di rumah besar mereka. Hanya Mbak Kenny, istri dari kakak ipar yang masih baik dan peduli padanya.
Dan parahnya lagi, keluarga seolah ingin mendekatkan Bre pada Agatha.
[Mas, aku nggak langsung pulang. Aku akan mengantarkan ayah ke dokter malam ini.] Itu pesan yang dikirim Livia pada Bre. Namun suaminya tidak membalas sampai sekarang.
Kadang ia merasa posisinya sangat terjepit di sana. Bre sendiri super sibuk sekarang. Pulang ke rumah sudah dalam keadaan sama-sama lelah.
Pernikahan yang belum genap dua tahun ini sudah mulai hilang kehangatannya. "Nggak usah diambil hati perkataan mama." Itu kalimat sama, yang selalu diucapkan Bre padanya.
"Habis Maghrib kita berangkat ke dokter, Yah. Ingat kan kalau jadwal Ayah kontrol ke dokter hari ini?"
"Ayah sudah nggak apa-apa, Liv. Nggak perlu kontrol lagi."
"Nggak bisa. Dokter bilang Ayah masih harus kontrol sampai kondisi Ayah benar-benar pulih."
"Kalau kamu repot. Biar ayah di antarkan Pak Tamin saja."
"Aku nggak repot."
"Ayah nggak enak selalu ngrepotin kamu. Sungkan sama Bre."
"Nggak apa-apa. Ayah nggak usah ada perasaan nggak enakan. Ini kewajiban aku mastiin ayah kembali pulih," jawab Livia untuk menenangkan sang ayah. Setelah mengalami PTSD, Pak Rosyam selalu dilanda kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. Makanya Livia tidak mungkin akan menceritakan permasalahan rumah tangganya pada sang ayah, agar Pak Rosyam tidak down lagi.
Livia bangkit dari duduknya. "Aku mau mandi dulu."
Selesai salat Maghrib, Livia langsung mengantarkan sang ayah ke tempat praktek dr. Pasha Rizqullah Iqbal, SpKJ. Seorang psikiater yang sejak awal memang menangani permasalahan Pak Rosyam. Menangani kesehatan mental, rehabilitatif dengan pemberian konseling, psikoterapi, dan memberikan obat-obatan.
Setelah mengantarkan ayahnya pulang, Livia kembali ke rumah mertuanya. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun suasana di sana masih terang benderang. Mobil Ferry ada di carport. Kalau akhir pekan begini, kakak ipar dan keluarga kecilnya memang menginap di sana.
"Kamu pisah saja sama Livia. Daripada nama keluarga kita ikut tercoreng atas apa yang berlaku pada keluarganya. Sejak awal mama kan sudah bilang, mereka ini keluarga nggak bener. Curang dan akhirnya sekarang hancur sendiri."
Livia tercekat di ujung tangga. Kembali terpukul atas ucapan mama mertuanya. Tidak menyangka malam itu mereka berkumpul untuk membahas kembali tentang perceraian yang sudah berulangkali disarankan pada Bre.
"Usaha kita pun kena imbas dari kejadian itu. Mau nggak mau dia harus setuju untuk bercerai dengamu," lanjut Bu Rika.
"Jangan khawatir, Ma. Saya setuju!" jawab Livia dengan nada tegas sambil melangkah menghampiri mereka. Berusaha bersikap tenang, meski dalam dada sakitnya tiada terkira.
Mereka semua kaget melihat Livia yang tiba-tiba muncul di sana. Terlebih Bre yang duduk di samping kakaknya.
"Aku nggak setuju," jawab Bre menatap tajam istrinya. Jelas saja ia terkejut dengan jawaban Livia.
"Livia saja setuju kenapa kamu nggak?" Bu Rika menatap putranya.
"Keluarga kita ikut menanggung malu karena kasus keluarganya." Ferry menatap sinis pada Livia.
Mendengar ucapan kakak iparnya, Livia menelan ludah. Melonggarkan tenggorokan yang tersekat karena menahan geram. Dia tidak akan melakukan pembelaan. Percuma saja bicara. Sebagai sebuah keluarga, harusnya mereka berpihak padanya. Tapi justru memusuhi. Harusnya mereka menguatkan tapi malah hendak turut menghancurkannya.
Mereka semua sedang lupa sekarang ini. Siapa dulu yang membantu keluarga Bre bangkit dari kebangkrutan, kalau bukan ayahnya. Sekarang jangankan diberi jabatan di perusahaan, Livia direndahkan di sana. Bahkan untuk asisten Bre, mereka memilih orang lain. "Kamu nggak usah banyak ikut campur dalam perusahaan, daripada usaha kami hancur." Ferry berkata padanya, pasca tragedi menimpa keluarga Livia.
Kenny yang iba melihat Livia, hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa.
"Silakan urus perceraian kami. Saya nggak akan mempersulit. Saya akan menandatanganinya nanti." Selesai bicara, Livia berbalik dan menuruni tangga.
Bre bangkit, mengejar, dan menahan tangan istrinya. "Kamu mau ke mana? Kamar kita ada di atas."
"Aku mau pulang ke rumah ayahku."
"Aku nggak ngizinin kamu meninggalkan rumah ini." Bre menarik lengan istrinya dan mengajaknya masuk kamar.
"Kenapa menahanku. Keluargamu sudah nggak ngizinin aku menjadi bagian dari mereka lagi." Livia berkaca-kaca.
"Aku nggak akan menceraikanmu. Sampai kapanpun."
"Lebih baik kita berpisah saja. Pernikahan macam apa yang kita jalani ini. Sejak awal mereka nggak setuju Mas menikahiku. Mereka semakin membenci dengan kasus yang menimpa keluargaku. Mereka mempercayai fitnah yang ditujukan pada keluargaku, pada kakakku. Mamamu melarang kita punya anak. Aku nggak dihargai di sini. Dan Mas nggak mungkin meninggalkan rumah ini. Jadi lebih baik kita luluskan saja permintaan mereka."
Bre menatap Livia. "Kita nggak akan bercerai apapun yang terjadi."
"Hampir dua tahun kita menikah. Sampai detik ini, Mama Rika tetap nggak menyukaiku. Bahkan melarangku hamil anakmu. Mama Rika nggak ingin keturunannya lahir dari perempuan sepertiku. Kami sekarang memang miskin. Tapi ayahku nggak gila."
"Aku tahu."
"Tahu apa? Mas, pun takut aku mengandung anakmu, kan?"
Mereka saling pandang. Livia tersenyum getir melihat Bre diam tidak menjawab. Dulu mereka antusias untuk segera memiliki anak, tapi dua bulan menikah, mama mertuanya bilang agar dirinya jangan hamil dalam waktu dekat. "Biar Bre fokus untuk menyelesaikan S2-nya yang sempat tertunda. Bre juga baru kehilangan ayahnya dan perusahaan sedang tidak baik-baik saja."
Livia mengerti dan memaklumi alasan itu. Namun setelah setahun berlalu, mama mertuanya tetap tidak mengizinkan dirinya hamil dengan alasan yang sangat menyakitkan.
"Baiklah, kita planning untuk punya anak mulai sekarang. Nggak usah pedulikan apa kata mama." Bre berdiri dan membuka laci meja rias. Sekotak 'pengaman' yang selalu tersedia di sana dibuangnya ke tempat sampah.
"Bre." Suara Ferry memanggil dari luar kamar. "Agatha sudah sampai bersama papanya. Kutunggu kamu di bawah."
Bre memandang Livia. "Aku turun dulu. Ada hal yang perlu kami bahas."
Selesai bicara, Bre meninggalkan kamar. Tinggal Livia yang duduk termenung di tepi pembaringan. Mereka datang jam sepuluh malam. Sepenting apa permasalahan yang hendak mereka bicarakan, sampai tidak sabar menunggu esok pagi.
Wanita itu jatuh meringkuk di tepi ranjang. Malas hendak menguping pembicaraan mereka. Daripada nanti membuatnya lebih sakit hati. Rasanya sudah tidak sanggup lagi ia tinggal di sana. Harusnya dulu ia tidak memaksakan diri masuk keluarga Hutama. Namun cinta dan sikap Bre yang terus meyakinkannya, membuat Livia tidak ragu untuk terus maju. Nyatanya makin ke sini, kian menyiksa batinnya sendiri.
***L***
Livia memperhatikan Bre yang tengah berpakaian. Suaminya bilang kalau pagi ini akan berangkat ke Madiun bersama kakaknya. Ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Urgent.
"Aku akan ke rumah ayah setelah Mas berangkat."
"Oke. Aku akan menjemputmu nanti." Bre mendekat. Memeluk dan mengecup kening istrinya cukup lama.
Setelah Bre keluar, Livia beranjak ke Balkon dan memperhatikan suaminya dari sana. Ternyata Bre tidak hanya pergi berdua dengan Ferry, tapi dengan Kenny dan mamanya juga.
***L***
"Stop, Livia. Kamu tidak sedang latihan, tapi ingin menghabisiku." Seorang laki-laki berperawakan tinggi dan gagah menghentikan gerakan Livia yang membabi buta dalam melancarkan pukulan.
"Mustahil aku bisa melukaimu, Coach." Wanita itu bergerak mundur dan duduk di bangku panjang samping rumahnya. Dilepaskan hand wrap atau pelindung tangan untuk menghindari dari cedera saat latihan Muay Thai.
"Kamu kenapa?" tanya pria tampan yang kini duduk di hadapannya.
"Nggak apa-apa, Coach," jawab Livia sambil mengatur napasnya.
"Sudah kubilang kan, jangan panggil coach. Aku nggak nglatih lagi sekarang. Hanya sesekali saja datang ke tempat latihan. Aku datang ke sini juga untuk jenguk Om Syam, bukan adu kesaktian sama kamu."
Livia manarik napas dalam-dalam sambil mengelap peluh di pelipisnya. Sore ini udara kota Surabaya panas. Kemudian ia menatap Alan. Laki-laki dihadapannya ini adalah kekasih kakaknya sebelum saudara satu-satunya itu meninggal. Dia seorang design grafis juga pelatih Muay Thai.
"Ada yang ingin kamu ceritakan padaku?"
"Mas Alan, mau mendengarnya?"
"Tentu. Ada apa?"
Livia diam. Rasanya tidak pantas ia menceritakan permasalahan pribadinya dengan Bre pada Alan. Walaupun laki-laki itu banyak tahu tentang penerimaan keluarga Bre terhadapnya. Livia bukan menantu yang diinginkan mereka.
"Livia," panggil Alan.
"Mas Alan kenal Agatha, kan?"
"Ya. Kenapa?"
"Nggak ada apa-apa, Mas. Aku mau mandi dulu. Gerah." Langkah Livia terhenti ketika ada suara mobil memasuki halaman rumah.
Next ....
Selamat membaca.
Selamat datang di cerbung RAHASIA TIGA HATI. Kisah kehidupan perempuan tangguh, Livia. Jangan lupa subscribe dan rate bintang lima ya. Makasih.
Bab 2 Apa yang mereka rahasiakan?
RAHASIA TIGA HATI
Part 2 Apa yang mereka rahasiakan?
"Hai, Din," sapa Livia berjalan menghampiri seorang wanita yang baru turun dari mobil.
"Liv, aku mau ngomong sebentar." Dina yang tampak tegang menarik tangan Livia dan mengajaknya duduk di teras rumah.
Wanita itu mengeluarkan ponselnya di saku celana. Kemudian menunjukkan sebuah foto dari galeri. Degup jantung Livia bergemuruh melihatnya. Apalagi ketika menyaksikan video di mana Bre berinteraksi dengan seorang gadis yang sangat ia kenal. Karena video itu diambil dari kejauhan, makanya tidak begitu jelas dengan apa yang mereka lakukan. Namun ia tahu siapa perempuan itu.
"Kamu ngambil video ini di mana?"
"Aku tadi nganterin roti di Restoran Tamimi. Kaget juga saat melihat Bre dan keluarganya makan di sana bersama keluarga Agatha, tapi kamunya nggak ada. Lebih kaget lagi saat mereka seperti sedang melakukan pembicaraan serius. Tapi entah apa aku nggak tahu."
Livia lemas dan gemetar. Padahal tadi pagi Bre pamitan hendak ke Madiun. Jadi mereka telah merencanakan sesuatu untuk hari ini.
Dina pun khawatir. Dalam perjalanan tadi ia bingung juga. Haruskah Livia diberitahu atau tidak. Pada akhirnya ia mampir juga di rumah Pak Rosyam saat melihat ada Livia duduk di samping rumah bersama Alan.
"Liv, aku sebenarnya nggak sampai hati ngasih tahu kamu. Tapi kalau diam, mereka semakin semena-mena sama kamu."
"Nggak apa-apa, Din. Makasih banyak sudah ngasih tahu aku." Suara Livia bergetar.
"Kirimkan video itu padaku."
"Iya. Aku kirim." Dina mengirim ke nomernya Livia. "Aku tadi nggak bisa mendekat karena mereka berada di ruangan yang dibooking secara private. Aku curiga, mereka ngadain acara lamaran, Liv."
"Bisa jadi." Mengingat peristiwa tadi malam, mungkin saja hal itu terjadi.
Dina merangkul sahabatnya dan tidak bisa berkata apa-apa untuk menenangkan. Sebab hatinya sendiri kebingungan dan sakit dengan apa yang dialami oleh Livia. Dina tahu semua cerita hidup wanita itu.
"Om di mana?" Dina menatap ke dalam rumah. Khawatir ayahnya Livia mendengar percakapan mereka.
"Ayah di mushola kalau jam segini."
"Kalau gitu aku pamit dulu, ya."
"Iya." Livia menghapus air matanya.
Aku nggak tahu mau bilang apa sama kamu. Tapi aku yakin, kamu tahu apa yang akan kamu lakukan."
Keduanya menatap sore yang cerah. Matahari masih bersinar terang kendati sudah pukul empat.
"Mas Alan, sudah di sini sejak tadi."
"Iya, nyambangi ayah."
"Baik banget dia. Perhatian sama calon mertua yang nggak jadi."
Livia tersenyum tipis. Jauh berbeda dengan Bre yang tidak seperhatian itu pada mertuanya.
"Aku pulang dulu, Liv. Khawatir anakku nangis. Waktu aku tinggal tadi dia masih tidur."
"Makasih kamu udah ngasih tahu aku."
Dina menepuk bahu sahabatnya, lantas beranjak dari sana. Melangkah ke samping rumah untuk menyapa Alan. "Mas Alan, aku mau pulang dulu. Maaf, nggak nyamperin. Buru-buru soalnya."
"Oke, nggak apa-apa. Hati-hati kalau nyetir."
"Iya, Mas. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Livia masih mematung memperhatikan mobil sahabatnya yang bergerak pergi. Kalau sopir yang biasa mengantarkan pesanan sibuk, Dina sendiri yang akan pergi mengantar. Usahanya bersama sang ibu sekarang berkembang pesat.
"Kenapa mematung di sini?" Alan menghampiri.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku mau mandi dulu."
"Kalau gitu aku juga mau pamit. Sampaikan salam pada Om, maaf nggak nunggu beliau pulang."
"Iya, nanti aku sampaikan." Livia menjawab seraya mengangguk. Tak terasa sebulir air bening menetes di pipinya. Buru-buru Livia menghapus dengan ujung jemari.
"Ada apa?" Alan tidak jadi beranjak pergi. Perasaannya mengatakan kalau ada yang tidak beres dengan Livia.
Bukannya menjawab, Livia menangis. Alan mengajaknya duduk di bangku halaman samping, supaya tidak terlihat oleh orang yang lewat di jalan depan.
Untuk beberapa lama, Alan membiarkan Livia dalam tangisnya hingga wanita itu berhenti dan menghapus air matanya. Sekuat apapun hatinya, rasanya begitu sakit mendengar apa yang disampaikan oleh Dina tadi. Kenapa Bre begitu tega padanya. Padahal jelas tadi pagi pamit hendak ke Madiun. Ternyata masih ada di Surabaya.
Setelah menarik napas panjang, Livia menceritakan tentang kemelut yang akhir-akhir ini kian menyiksanya. Dia harus maju atau mundur. Sebenarnya sangat tidak terima jika ayahnya dipandang buruk oleh keluarga Bre. Sang ayah tak mungkin curang dengan rekan bisnisnya yang sekarang justru berkomplot dengan keluarga mertuanya.
"Jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi. Kamu bisa membahasnya ini dengan Bre." Alan mencoba menenangkan, walaupun ia menduga kalau keluarga Bre sendiri yang sebenarnya menghancurkan bisnis Pak Rosyam. Sebab sejak awal ia tahu kalau Bre hendak dijodohkan dengan Agatha.
"Apa mungkin mereka menyuruh Bre menikah diam-diam, Mas?"
Dua insan itu saling bersipandang. Alan tidak ingin menjawab yang bisa menambah runyam keadaan.
"Selidiki dulu, ya. Jangan cepat mengambil kesimpulan. Jika kamu butuh teman cerita, jangan sungkan menghubungiku. Kamu nggak mungkin cerita sama ayahmu."
"Makasih, Mas," jawab Livia dengan suara serak.
"Kalau gitu. Aku pulang dulu."
"Hu um. Hati-hati."
Alan memakai jaketnya. Kemudian melangkah ke arah motor besar yang terparkir di depan garasi rumah Pak Rosyam.
Laki-laki membunyikan klakson kemudian bergerak meninggalkan Livia yang masih berdiri di sana.
Ketika hendak masuk rumah, mobil Bre memasuki halaman. Laki-laki itu turun dan tersenyum manis pada istrinya.
"Cepatnya Mas pulang dari Madiun?" tanya Livia ketika Bre menghampiri. Untuk menguak sesuatu, Livia harus bersabar dan menahan emosi. Seperti mereka yang bermain cantik di belakangnya.
"Iya. Setelah urusan selesai kami langsung pulang."
"Oh." Livia masuk rumah diikuti Bre. "Aku buatin kopi?"
"Nggak usah. Aku sudah ngopi tadi."
"Ya udah kalau gitu aku mau mandi." Livia meninggalkan Bre yang duduk sendirian di ruang tamu.
Livia membiarkan air shower membasahi dari ujung kelapa hingga ke seluruh raganya. Tangannya mengepal jika ingat satu tahun terakhir ia menjalani hidup di bawah tekanan mertuanya. Yang lebih menyakitkan, ketika ia dilarang hamil, Bre pun mendukung mamanya. Disaat ia menghindari pemakaian kontrasepsi, Bre yang memakai pengaman. Bukankah itu sebuah persetujuan? Dengan alasan belum siap punya anak. Lucu sekali alasan itu, karena secara mental dan finansial mereka pasti siap. Mereka bisa membayar baby sitter untuk membantu merawat anak.
Apa setelah ini Livia akan tetap sabar, mendiamkan perlakuan mereka yang mulai terang-terangan hendak menyingkirkannya?
Selesai mandi dan salat asar, Livia membawakan segelas teh hangat untuk Bre.
"Ayah ke mana?"
"Ke mushola."
Bre meraih gagang gelas dan menyesap teh hangat. Livia diam. Dia tidak akan membahas sesuatu yang akan membuang tenaga. Sekarang ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di restoran Tamimi beberapa jam yang lalu. Untuk beberapa waktu ke depan, Livia harus menebalkan muka dan menulikan telinga, agar tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan di belakangnya.
Livia bangkit dari duduknya dan melangkah ke kamar. Ponselnya tengah di charge di sana dan ia harus menyimpan dulu video yang dikirimkan oleh Dina sebelum Bre menemukannya.
Pelukan Bre dari belakang mengangetkan Livia. Untung saja ia sudah menyimpan video itu dengan aman.
Tangan Bre yang mulai nakal ditepiskan olehnya. Kalau dulu dengan senang hati ia akan menyambut bahkan membalasnya. Sekarang moodnya telah lenyap sejak semalam. Lelaki yang ia kira bisa memperjuangkannya, ternyata begitu lemah dalam membela istrinya.
Lelaki itu tidak putus asa, karena semalam keinginannya terpatahkan begitu saja. Livia tidak mau bangun dikala ia masuk kamar usai berbincang dengan keluarga Agatha.
Kembali Bre mencoba lagi, tapi Livia tetap menepis tangannya. "Bukan waktu yang tepat, Mas. Sebentar lagi Maghrib." Wanita itu melepaskan diri dan beranjak ke jendela kamar. Suasana di luar sudah merambah senja.
"Kamu harus membayarnya malam ini."
Livia tidak menanggapi. "Aku mau wudhu dulu."
Kisah mereka tidak diwarnai lagi oleh kehangatan dan kebebasan bercerita. Dulu Livia bisa mengerti saat dilarang punya anak karena Bre masih harus menyelesaikan S2 dan sedang membangun karirnya. Namun sekarang, ada alasan lain yang terlalu mengada-ada dan menyakitinya.
***L***
Sudah beberapa hari ini ia melihat Agatha datang ke kantor. Gadis itu masih menyapanya seperti biasa. Tidak ada yang aneh. Bahkan masih sempat menawarinya untuk makan siang bersama.
"Mbak Agatha, kapan nih?" Pertanyaan penuh teka-teki dari seorang staf yang duduk tepat di samping Livia, bertanya pada Agatha yang sedang berbincang dengan sekretaris pribadi Bre.
Livia pura-pura tidak mendengarnya. Ia sibuk meneliti laporan keuangan yang baru saja di selesaikan. Namun telinganya tajam mendengarkan. Perasaannya tak enak. Ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan.
"Nanti kukabari," jawab gadis itu.
"Beneran jangan lupa. Aku tunggu pokoknya."
"Siipp."
Setelah itu hentakan stiletto Agatha terdengar meninggalkan ruangan.
Livia baru mengangkat wajahnya. Memandang ke arah sekretaris pribadi Bre yang saat itu tengah menatapnya dan buru-buru mengalihkan perhatian pada layar laptop.
Berkas yang sudah dimasukkan ke dalam map bening, dibawa Livia ke ruangan Kenny. "Silakan di cek, Mbak."
"I-iya. Nanti aku cek." Kenny selalu gugup jika didekati oleh Livia. Semenjak kepergian mereka hari Sabtu, Kenny berusaha menghindarinya.
"Mbak, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa?" jawab Kenny tanpa memandang istri dari iparnya.
"Hari Sabtu kemarin Mbak ikut pergi ke mana?"
"Ke Madiun."
"Bener ke Madiun?"
Kenny mengangguk. Wanita itu terlihat gelisah saat Livia masih duduk di hadapannya. Terlihat sekali ia serba salah. Padahal Livia hanya diam menunggu laporannya selesai di tanda tangani.
Wanita yang biasanya selalu ramah dan mengajaknya bercerita, kini diam saja. Dan tergesa-gesa mengecek angka dan menandatanganinya.
"Nggak usah buru-buru, Mbak. Dicek betul-betul. Kalau ada kesalahan, dikira kita berkomplot nanti," ujar Livia yang membuat Kenny makin salah tingkah.
"Kamu bisa pergi. Nanti kalau ada yang perlu dibenahi, akan Mbak panggil."
Livia bangkit dari duduknya dan meletakkan amplop putih di atas meja. "Ini surat resign-ku, Mbak. Aku mau berhenti kerja dan mencari pekerjaan lain."
Baru Kenny menatap wanita cantik yang berdiri di hadapannya. "Kenapa?"
"Mbak Kenny, kan sudah tahu alasannya. Aku permisi dulu." Livia meninggalkan ruangan. Ia memutuskan pergi sebelum apa yang dirahasiakan darinya terkuak.
Beberapa saat setelah duduk di kursinya. Sekretaris Bre menghampiri. "Bu Livia, Pak Bre meminta ibu untuk datang ke ruangannya."
Tanpa menjawab, Livia bangkit dari duduknya dan melangkah ke ruangan sang suami.
"Apa maksudnya ini?" Bre menunjuk amplop putih di atas meja. Rupanya Kenny langsung memberitahu Bre tadi.
"Surat pengunduran diri," jawab Livia tenang.
"Aku nggak akan menyetujui."
"Saya nggak butuh persetujuanmu, Pak. Surat pengunduran diri hak mutlak karyawan yang ingin berhenti kerja. Dan ini menjadi tanggung jawab atasan untuk mengakui dan menerima keputusan itu."
"Kamu masih punya tanggungjawab yang harus kamu bereskan di sini."
"Hari ini, saya sudah menyelesaikan semuanya."
Bre menghela nafas berat. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Livia. Meraih pinggang langsing istrinya hingga merapat dengan tubuhnya. "Apa maksudmu untuk berhenti kerja?"
"Aku dapat pekerjaan lain dengan gaji yang lumayan. Aku butuh itu untuk membiayai pengobatan ayahku yang tidak bisa dicover oleh asuransi kesehatannya."
"Aku selalu memberimu cukup uang tiap bulan. Apa itu kurang?"
"Aku nggak akan menggunakan uangmu untuk pengobatan ayahku."
"Aku nggak pernah melarangmu."
"Tapi aku yang nggak mau." Livia masih ingat bagaimana mama mertuanya berkata kalau Pak Rosyam hanya menjadi benalu dalam hidup putranya.
Mereka saling pandang dengan jarak yang begitu dekat. Livia berusaha melepaskan diri hingga panggutan itu mengangetkannya. Karena pada saat yang bersamaan, pintu ruangan di ketuk dari luar.
Next ....
Selamat membaca 🥰
Selamat menyambut dan menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1445 H, kepada teman-teman yang sedang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin, ya 🙏 Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
Bab 3 Biar Dia Pergi
RAHASIA TIGA HATI
Part 3 Biar Dia Pergi
"Apa-apaan kalian. Ini kantor bukan kamar?" Bu Rika berkata dengan tatapan marah dan benci pada menantunya.
Livia menarik diri dari rangkulan sang suami.
"Nggak tau tempat dan situasi ya kalian. Kamu juga nggak sadar posisi, Livia. Di kantor kamu dan Bre sebagai apa. Nggak punya attitude." Omelan menyembur dengan angkuhnya dari mulut Bu Rika.
"Ma, kami nggak melakukan apapun yang memalukan. Livia istriku," bantah Bre.
"Maaf, saya permisi dulu. Hari ini saya akan memastikan semua pekerjaan dan tanggungjawab saya selesai, Pak Bre. Besok saya sudah nggak ngantor lagi. Permisi!" Livia berkata dan mengangguk sopan pada atasannya.
Bu Rika terkejut mendengar ucapan Livia. "Maksudmu apa?"
"Saya resign, Bu Rika. Permisi."
"Tunggu, Liv!" Bre menahan Livia yang hampir menggapai pintu. "Aku nggak ngizinin kamu berhenti kerja."
"Saya punya hak untuk resign ketika rasa nyaman sudah tidak ada lagi dalam lingkup pekerjaan saya. Anda tidak berhak mencegah saya, Pak Bre," jawab Livia formal.
"Nggak bisa. Di sini kamu ikut aturanku."
"Biarkan kalau dia ingin berhenti. Masih banyak staf yang lebih potensial dari Livia," sahut Bu Rika.
Livia segera membuka pintu dan pergi dari sana. Bersikap seperti tidak terjadi apa-apa di hadapan para staf lainnya. Meski hatinya tersayat-sayat. Mama mertua yang ia anggap sebagai pengganti ibunya, tidak seperti yang ia harapkan selama ini.
Pura-pura bahagia dan baik-baik saja itu sungguh menyiksa. Padahal para karyawan juga pada tahu bagaimana hubungan Livia dengan keluarga mertuanya. Nyaris staf yang menginginkan kenaikan jabatan, yang mencari muka, berpihak pada keluarga Bre dan turut menjaga jarak darinya. Namun staf rendahan yang jujur dan tidak suka menjilat, jatuh iba padanya. Walaupun begitu mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa, selain diam. Karena mereka juga sangat butuh pekerjaan. Membela Livia tidak ada untungnya.
Dengan perasaan campur aduk, Livia meneliti pekerjaan yang harus diselesaikannya. Dia tidak boleh pergi meninggalkan tanggungjawab.
Kenny yang hendak ke ruangan Fery memperhatikan Livia dengan perasaan bersalah. Tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Ketika tengah fokus meneliti laporan di layar laptop, sekretaris Bre menghampiri sambil membawakan setumpuk berkas.
"Ini apa?" tanya Livia.
"Pak Bre, menyuruh Bu Livia untuk memeriksa dokumen ini sebelum di arsipkan."
"Nggak bisa. Ini bukan tugasku. Aku staf keuangan di sini. Lagipula besok aku sudah resign," jawab Livia tanpa menatap Tina, sekretaris Bre. Dia kembali fokus pada layar bening di hadapannya.
Gadis itu terkejut dengan pengakuan Livia yang hendak berhenti kerja. "Tapi Pak Bre yang menyuruh saya mengantarkan berkas ini pada, Bu Livia."
"Saya nggak peduli. Bilang sama Pak Bre kalau saya menolak tugas darinya."
Tina diam mematung. "Kamu kembalikan atau biarkan saja di situ dan nggak akan aku kerjakan."
Akhirnya Tina membawa berkas itu pergi. Livia hanya melirik sekilas punggung Tina yang menjauh. Dia tidak peduli dan takut sekarang. Meski di kiri kanan, banyak telinga menajamkan pendengaran.
Jika bicara tentang cinta, tidak ada orang yang ingin berpisah dari insan yang sangat dicintainya. Namun bertahan dalam keadaan tidak dihargai, juga bukan pilihan yang tepat. Dia mencintai Bre semenjak mereka duduk di bangku kuliah. Usia mereka selisih tiga tahun.
"Livia, kamu tahu apa tugas seorang staf?" Tiba-tiba saja Bre sudah berdiri dan mengagetkan istrinya.
"Tugas staf mematuhi instruksi dari atasannya. Kenapa kamu menolak perintahku," lanjut pria yang memakai kemeja warna abu-abu dan menatapnya lekat.
"Pak Bre, jangan lupa. Beberapa bulan yang lalu posisi saya sebagai sekretaris Pak Bre sudah diganti dengan Mbak Tina. Saya bekerja di bawah perintah Bu Kenny sekarang ini."
"Aku atasan kalian dan kamu nggak bisa menolak perintahku. Hari ini kamu masih staf di sini."
Livia melepaskan mouse di tangannya dan fokus menatap sang suami. Ini hanya alasan Bre saja supaya ia tidak bisa resign seperti rencananya.
"Oke, saya akan mengerjakan dan menyelesaikan hari ini juga. Besok saya bukan lagi karyawan di sini." Livia bangkit dari duduknya untuk menghampiri Tina dan meminta berkas tadi agar diberikan padanya.
Semua telinga menajamkan pendengarannya, karena mata mereka tidak berani memandang apa yang terjadi antara bos dan istrinya.
Setelah berkas di antar, Livia fokus untuk menyelesaikan. Rupanya tidak hanya setumpuk, tapi Tina mengirimkan setumpuk lagi. Melihat itu Livia ingin menangis. Namun ia tahan setengah mati agar jangan sampai menumpahkan air mata.
Kenapa Bre begitu kejam padanya. Semenjak ia menyetujui perceraian yang diucapkan mama mertuanya malam itu, membuat Bre marah pada Livia. Namun apa arti pertemuan dengan keluarga Agatha waktu itu. Bukankah Bre pun ada di sana?
Ketika tengah melamun, asisten Bu Rika menghampiri. "Bu Livia, ditunggu ibu di ruangannya."
Tanpa menjawab, Livia segera berdiri dan masuk ruangan mama mertuanya.
"Saya senang kamu mengundurkan diri." Baru masuk ruangan, Livia langsung disambut perkataan demikian oleh ibu mertuanya. "Saya harap, pertimbangkan juga untuk berpisah dari putra saya. Saya nggak ingin anak saya hidup dengan anak seorang pecundang seperti ayahmu."
Darah Livia mendidih mendengar kalimat terakhir mertuanya. "Ayah saya tidak seperti itu. Itu semua fitnah untuk menghancurkan keluarga saya."
Bu Rika tersenyum sinis. "Semua sudah terbukti, nggak usah kamu membela diri. Saya menyesal membiarkan Bre menikah denganmu. Kamu tinggalkan perusahaan, kamu tinggalkan juga rumah saya."
Netra Livia berkaca-kaca mendengar kalimat menyakitkan dari seorang ibu. "Jangan khawatir, Bu Rika. Saya kabulkan permintaan Anda. Permisi."
Livia kembali ke meja kerjanya dengan hati hancur untuk kesekian kalinya. Namun sekuat hati, ia menahan diri agar tidak menunjukkan kerapuhan itu dihadapan banyak orang.
***L***
"Liv, kamu nggak makan dulu." Bre kembali berdiri di hadapannya waktu break istirahat dan makan siang.
Wanita itu menggeleng.
"Kutunggu di ruanganku. OB akan membawakan makananmu ke sana." Selesai bicara Bre melangkah kembali ke ruang pribadinya. Saat itu ruangan memang sepi karena para staf tengah istirahat. Hanya Livia yang tersisa.
Namun hingga beberapa menit kemudian, Livia tidak kunjung menyusul. Bre kembali ke luar menghampiri. "Kamu mau aku suapi di sini?" kata Bre jengkel.
"Saya nggak ingin dianggap tidak memiliki attitude, Pak Bre. Saya bisa makan sendiri nanti," jawab Livia dengan nada formal dan terus fokus memilah berkas.
Bre menghela nafas panjang. Ternyata Livia tidak menyerah dan benar-benar ingin pergi meninggalkan perusahaan. Ia sebenarnya juga menyadari, kalau perlakuan keluarganya sudah kelewat batas pada istrinya. Namun ia pun meyakini kalau ayah mertuanya yang selama ini bermain curang dalam berbisnis.
Livia terus bekerja tanpa mempedulikan Bre yang berdiri di depannya.
"Kamu benar-benar ingin berhenti?"
"Ya," jawab Livia singkat. Nanti kalau sudah di rumah, ia akan memberitahu apa yang diucapkan mama mertuanya tadi.
"Kamu dapat pekerjaan di mana?"
Diam. Livia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu, karena sebenarnya dia belum mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Namun ia yakin, Alan pasti bisa membantunya.
"Liv, kenapa diam?"
"Pada akhirnya nanti kamu akan tahu, Mas. Maaf, jangan ganggu aku. Biar kuselesaikan pekerjaan ini."
"Alan yang membantumu mendapatkan pekerjaan itu?" Bre terus mengejar pertanyaan sampai ia mendapatkan jawaban. Namun Livia tidak menjawabnya.
Orang yang paling dekat dengan sang istri adalah Alan dan Dina. Kalau Dina jelas tidak mungkin karena dia ibu rumah tangga yang hanya membantu ibunya mengelola toko roti. Sudah pasti Alan yang membantu Livia.
Bre pergi dengan perasaan kecewa. Sedangkan Livia terus fokus bekerja meski pikirannya ke mana-mana. Bagaimana caranya menjelaskan tentang kondisi rumah tangganya sekarang. Ia takut ayahnya akan kambuh lagi.
"Liv, kamu nggak pulang?" tanya Kenny yang menghampirinya sore itu. Ketika ruangan sepi karena para pekerja sudah pada pulang.
"Pekerjaanku belum selesai, Mbak."
"Kamu serius mau berhenti kerja?"
Livia mengangguk. Kenny kemudian melangkah pergi. Namun tidak lama kemudian kembali sambil membawakan burger dan teh manis. "Makanlah dulu, sejak tadi kamu nggak beranjak dari meja kerjamu."
"Makasih. Mbak, sudah repot-repot belikan aku makanan."
Kenny menarik satu kursi dan duduk di hadapan Livia.
"Apa rencanamu setelah berhenti dari sini?"
"Mencari pekerjaan lain."
"Keadaan akan semakin rumit, Liv. Kamu bekerja di lain tempat, tapi kamu masih tetap tinggal di rumah mama."
"Aku akan pulang ke rumah ayahku, Mbak."
Kenny terkejut.
"Aku tahu, keluarga telah merencanakan sesuatu yang besar di belakangku. Aku juga tahu kalau hari Sabtu kemarin kalian nggak pergi ke Madiun." Ucapan Livia membuat Kenny kembali terkesiap. Livia tahu dari mana, tidak mungkin Bre yang cerita.
"Liv, jangan bercerai," ucap Kenny pelan.
"Apa yang Mbak tahu dan tidak kuketahui?"
"Tanyakan pada Bre. Mbak pulang dulu." Wanita itu bergegas meninggalkan Livia sendirian. Ia pun khawatir kalau Fery akan memergokinya bicara dengan Livia selesai meeting nanti.
Sikap wanita itu membuat Livia makin yakin kalau ada rahasia besar yang mereka sembunyikan. Benarkah antara Bre dan Agatha hari Sabtu kemarin lamaran. Kalau benar terjadi, kenapa Bre tidak menyetujui untuk bercerai dengannya. Jadi tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti ini.
Berulangkali Livia menarik napas dalam-dalam untuk melonggarkan pernapasan. Orang lain melihatnya begitu tangguh, tapi yang sebenarnya perasaan telah remuk redam. Dia menahan semuanya agar sang ayah tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Livia tidak ingin ayahnya kembali mengalami tekanan batin yang akan membahayakan kesehatan dan keselamatannya.
Sesekali ia bercerita pada Alan atau Dina. Hanya pada mereka berdua, Livia bisa terbuka menceritakan kemelut yang dialaminya.
Namun esok atau lusa, sang ayah pasti curiga kenapa ia pulang membawa pakaiannya. Pada akhirnya akan tahu apa yang ia sembunyikan selama ini. Livia cemas. Sebelum ayahnya diberitahu, lebih baik ia konsultasi dulu dengan dokter Pasha. Untuk memastikan kondisi ayahnya benar-benar siap menerima kenyataan yang akan diungkapkannya.
Livia mengeluarkan ponsel dari laci meja kerja. Menghubungi dokter Pasha.
"Assalamu'alaikum, Livia." Dokter itu langsung mengangkat teleponnya.
"Wa'alaikumsalam, Dok. Maaf, kalau saya menganggu."
"Ada apa? Apa ada masalah dengan Pak Rosyam?"
"Nggak, Dok. Ayah saya baik-baik saja. Saya ingin menemui dokter besok. Tapi kalau dokter Pasha tidak sibuk."
"Oh, mau ngajak saya breakfast?"
Livia tertawa. Dokter di seberang juga tertawa renyah.
"Saya ingin konsultasi mengenai ayah saya, Dok."
"Oke. Pagi ya, sebelum saya berangkat ke rumah sakit."
"Iya."
"Oke, saya tunggu besok pagi jam tujuh."
"Makasih, Dokter. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sebelum memberitahu, memang lebih baik ia konsultasi dulu dengan dokter yang paham betul bagaimana psikologis ayahnya sekarang ini.
Bre yang baru selesai meeting kaget melihat Livia sendirian, masih sibuk di meja kerjanya. Jadi istrinya belum pulang?
Next ....
Bab 4 Pergi
RAHASIA TIGA HATI
- Pergi
"Kamu menungguku?" Bre menghampiri Livia.
"Aku menyelesaikan pekerjaanku."
"Sudah jam berapa ini? Kita pulang sekarang." Bre meraih lengan Livia.
"Aku sedang menyelesaikan pekerjaanku. Kalau Mas ingin pulang, silakan pulang lebih dulu. Nanti aku bisa pulang sendiri."
"Bisa dikerjakan lagi besok."
"Besok aku sudah tidak bekerja di sini lagi," jawab Livia, tangannya terus bekerja. Ia tidak peduli perutnya yang sudah menjerit-jerit minta asupan makanan.
"Kamu keras kepala."
Livia tidak menanggapi. Siapa yang mengajarinya seperti ini, kalau bukan sikap dari keluarga suaminya. Dia sudah berusaha menjadi menantu yang baik selama ini. Namun mama mertuanya tega mengatai kalau ayahnya seorang pecundang dan benalu yang membebani hidup Bre. Mereka sudah melupakan, siapa orang yang membantu mereka bangkit dari keterpurukan. Dan sekarang terang-terangan meminta Bre menceraikannya.
"Aku nggak ngizinin kamu resign."
Livia tidak peduli dengan ucapan Bre.
"Kita pulang sekarang!" Kembali Bre meraih lengan istrinya. Livia bergeming. Dia memperhatikan sekeliling. Suasana sudah sepi. Orang-orang yang meeting terdengar sudah keluar kantor.
"Biar kuselesaikan pekerjaan ini. Aku serius akan resign besok."
Bre duduk di depan istrinya.
"Berhenti kerja pilihan yang tepat bagiku. Aku sudah cukup bersabar dengan penghinaan keluargamu, Mas." Livia menatap serius suaminya.
"Mas, tahu apa yang dikatakan oleh Mama Rika tadi?"
Bre menatap lekat pada Livia. "Mama bicara apa?"
Livia memberitahukan semua yang dikatakan oleh Mama mertuanya. "Untuk kesekian kalinya aku merasakan sakit disaat ayahku dihina oleh keluargamu. Orang seenaknya bicara tanpa mau tahu sedalam apa luka yang kualami akhibat kata-katanya itu."
"Jangan dengarkan mamaku."
"Nggak bisa. Ini menyangkut harga diriku dan ayahku. Aku sudah bilang, kalau aku akan berhenti dari perusahaan dan akan keluar dari rumah kalian. Peran suami itu penting untuk menyelesaikan permasalahan, apalagi permasalahan antara aku dan keluargamu. Tapi selama ini Mas hanya menyuruhku untuk bersabar. Mau sampai kapan?
"Jangankan membawaku pergi dari sana dan kita bisa tinggal di tempat terpisah, untuk membelaku saja nggak bisa Mas lakukan. Ya, aku masih ingat. Mama Rika mau merestui pernikahan kita, tapi dengan syarat kalau kita akan tetap tinggal bersamanya. Tapi aku sudah nggak sanggup lagi. Aku nggak akan memaksamu mengajakku pergi dari sana, biarlah aku sendiri yang keluar."
Bre menghela nafas panjang. "Kamu masih ingat kan, Liv. Kalau aku keluar dari rumah itu, mama mengancam akan menyakiti dirinya sendiri."
Livia tersenyum miris. Baginya ancaman itu hanya sebuah omong kosong. Bagaimana mungkin Bu Rika akan menyakiti dirinya sendiri, sedangkan dia sangat sayang dengan hartanya, dengan dunianya, dengan teman sosialita, dan segala kesenangan. Itu hanya gertakan supaya Bre tidak meninggalkannya. Karena terlalu sayang pada sang mama, Bre tetap percaya dengan apapun yang diomongkan oleh mamanya.
"Biar aku saja yang keluar, Mas."
"Maksudnya apa?"
"Mama Rika menginginkan kita bercerai, kan?"
"Kita nggak akan bercerai."
"Mama Rika bisa nekat kalau aku tetap disampingmu." Livia memandang lekat suaminya. Kenapa Bre menolak perpisahan sementara sudah ada rencana lain dari pihak keluarga untuk dirinya.
"Aku tahu ada rencana besar yang kalian rahasiakan dariku," ujar Livia.
"Rencana apa?"
"Hari Sabtu kemarin, Mas nggak pergi ke Madiun. Kalian ada acara dengan keluarga Agatha, kan?"
Bre kaget. Livia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto serta video yang dikirim oleh Dina. Bre tambah terkejut. Dari mana Livia mendapatkan gambar dan video itu. Tidak mungkin istrinya membuntuti ke mana ia pergi.
"Acara apa sampai aku nggak diajak atau hanya sekedar dikasih tahu?"
"Membahas pekerjaan."
"Bukan. Kalau bicara mengenai pekerjaan, pasti dilakukan di kantor. Lagian kenapa membahas pekerjaan tapi anak-anak kecil diajak serta. Di situ tampak ada kakaknya Agatha dan anak-anaknya. Juga ada anak-anak Mas Ferry. Kenapa kalau urusan pekerjaan tidak berterus terang saja padaku. Malah kalian bilang hendak pergi ke Madiun. Mas lamaran dengan Agatha?" Livia berkata dengan rasa sakit yang menyayat hati.
"Nggak," jawab Bre singkat.
"Kalian nggak mungkin jujur. Karena aku bisa menuntut secara pidana jika Mas menikah lagi secara diam-diam."
"Kalau aku bilang enggak, berarti enggak, Livia. Aku menolaknya." Bre berkata dengan nada tinggi.
Jawaban Bre kembali mengguris hati Livia. Kalimat 'aku menolaknya' bermakna memang mereka memiliki rencana untuk menjodohkan Bre dengan Agatha.
Hening. Livia masih menata hati agar bisa kembali bicara. Dadanya terasa sesak dan air mata hendak tumpah saja rasanya. Setelah menarik napas dalam-dalam, Livia kembali bicara. "Kalau gitu, kita keluar dari rumah mama dan tinggal bersama ayahku atau kita cari kontrakan sambil berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan mama."
Mendengar pilihan yang disampaikan Livia, Bre tidak bisa menjawab. Dia sangat menyayangi mamanya dan tidak mungkin akan meninggalkan rumah mereka. Jika Bre pergi, berarti harus keluar juga dari perusahaan yang telah membesarkan namanya.
Melihat suaminya diam, air mata Livia meluncur begitu saja ke pipi. Buru-buru dihapus dengan jemari. Ia paham kalau bagi Bre ini pilihan yang sulit. Padahal ia tidak menyuruh sang suami untuk durhaka pada mamanya. Livia ingin mengajaknya menepi sebentar untuk menenangkan diri dan menyelamatkan rumah tangga mereka. Memperbaiki hubungan dengan mertuanya kalau bisa.
Inikah yang dinamakan cinta? Cinta seperti apa jika takut berkorban. Bre tidak lagi segigih dulu memperjuangkannya.
Segera dikemasnya meja. Tidak perlu dilanjutkan lagi pekerjaannya.
"Kita bahas ini di rumah," ujar Bre.
Livia meraih tas di atas meja. Kemudian mengikuti Bre melangkah meninggalkan kantor.
Di dalam kendaraan, mereka saling diam tidak bicara apa-apa. Bre tidak langsung mengajaknya pulang ke rumah, tapi mampir dulu ke sebuah restoran untuk makan malam.
"Mau makan apa?" tanya Bre.
"Nasi goreng."
Bre memesan dua porsi nasi goreng seafood dan dua gelas jus apel. Selama menunggu pesanan datang sampai mereka selesai makan, tidak ada perbincangan mengenai percakapan di kantor tadi. Bre mengalihkan perhatian dengan membicarakan tentang pekerjaan.
Sampai rumah disambut wajah sinis Bu Rika. Wanita itu memanggil putranya sedangkan Livia langsung naik ke kamarnya. Mandi dan salat isya. Tangisnya tumpah di atas sajadah. Luka yang kian berdarah-darah. Ia mohon pengampunan pada Rabb-nya jika kali ini menyerah pada pernikahannya. Ia harus siap kehilangan lelaki yang sangat dicintai.
Bre masuk kamar setelah Livia berbaring di ranjang. Laki-laki itu segera mandi dan menyusul istrinya. Memeluk, menciumi, hingga naluri kelelakiannya menuntut lebih dari itu.
Livia menghindar dan bangkit dari pembaringan. Membuka laci meja riasnya. "Pakai pengaman, Mas."
"Nggak perlu. Setelah kita punya anak, mama pasti bisa luluh." Mendengar penolakan suaminya, Livia mematung. Kenapa baru sekarang memiliki pemikiran seperti itu. Disaat semuanya sudah berada di ujung tanduk.
"Nggak akan segampang itu. Mama nggak hanya membenciku, tapi juga membenci ayahku. Dan Mas pun mempercayai kalau ayahku memang curang dan brengs*k. Aku nggak ingin anakku akan jadi sasaran kebencian selanjutnya. Mas, pakai atau kita nggak akan melakukannya."
Keinginan yang sudah di ubun-ubun kepala membuat Bre akhirnya menuruti Livia. Daripada dia tidak akan mendapatkan haknya. Sebagai istri, apapun yang terjadi tadi, tidak bisa menjadikan alasan untuk menolak.
***L***
"Apa maksudnya ini, Livia?" Bre kaget saat bangun tidur melihat koper sudah penuh pakaian.
"Seperti yang kubilang tadi malam, Mas. Aku ingin pulang ke rumah ayah," jawab Livia sambil membereskan meja riasnya.
"Aku nggak ngizinin kamu pergi."
"Mas, ingin menyiksaku di sini? Sedangkan mama sudah mengusirku."
Keduanya saling pandang. "Permasalahan kita akan senantiasa seperti ini, Mas. Sejak dulu mama memang nggak pernah menyukaiku. Apalagi sudah ada Agatha yang akan menjadi menantu idaman. Daripada kalian sembunyi-sembunyi dariku, lebih baik kita berpisah secara baik-baik."
Sepagi itu mereka kembali berdebat. Bre keukeh tidak mungkin meninggalkan rumah mamanya dan yakin kalau hati sang mama pasti bisa luluh pada akhirnya. Padahal Livia sudah secara terang-terangan diusir dari sana. "Jangan pergi. Aku akan bicara dengan mama lagi nanti. Pagi ini aku masih ada pertemuan penting dengan vendor."
"Mama Rika sudah bilang kalau aku mesti meninggalkanmu, meninggalkan rumah ini. Hari ini juga."
"Aku suamimu, aku yang melarangmu pergi. Tunggu aku pulang. Jika selangkah saja kamu meninggalkan rumah ini, berarti ... sudah jatuh talak satu padamu."
Livia bergetar mendengar ancaman Bre. Suaminya menatap lekat manik matanya. Mereka saling pandang untuk beberapa lama hingga bunyi ponsel Bre membuat laki-laki itu mengalihkan perhatian.
Tampaknya itu telepon penting yang membuat Bre tergesa-gesa mandi dan berganti pakaian. Kemudian mengecup kening Livia lalu keluar menuruni tangga.
"Ma, aku ke kantor sekarang," pamitnya menghampiri sang mama.
"Kamu nggak sarapan dulu."
"Nggak, Ma. Aku buru-buru." Setelah pamit, ia mendekati salah seorang ART. "Mbok, antarkan sarapan untuk Mbak Livia di kamar."
"Njih, Mas," jawab si mbok patuh.
Si mbok gemetaran saat mengangkat nampan sarapan untuk Livia, karena langkahnya diikuti oleh Bu Rika.
Livia membuka pintu kamar ketika Bu Rika mengetuk pintu dengan kasar. Si mbok langsung masuk dan menaruh sarapan di atas meja. Setelah ART-nya pergi, Bu Rika baru bicara. "Hmm, rupanya kopermu sudah siap. Sarapan dulu, lalu kamu tinggalkan rumah ini. Bre juga sudah setuju untuk menikah dengan Agatha nggak lama lagi. Sekarang kamu memilih pergi atau mau menjadi saksi pernikahan kedua suamimu," kata wanita itu sambil menatap tajam wajah Livia.
Tak terbayang lagi bagaimana sakitnya hati Livia. Penghinaan seperti apalagi ini.
Tanpa menjawab perkataan mertuanya, Livia melepaskan cincin pernikahan dari jari manisnya dan meletakkan di atas meja rias. Kemudian mengangkat koper keluar kamar. Tangannya menggantung di udara karena Bu Rika tidak menerima uluran tangannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Livia kemudian menuruni tangga. Sambil melangkah ia merasakan lukanya berdarah-darah. Kakinya terus meninggalkan rumah besar dua tingkat, meski itu artinya talak Bre sudah jatuh terhadapnya.
***L***
Bre yang baru duduk di ruangannya berdecak lirih setelah berulang kali menelepon tapi tidak di respon oleh Livia. Padahal ponselnya aktif.
Laki-laki itu ganti menghubungi telepon rumahnya.
"Halo, Mbok. Mbak Livia sudah makan?"
"Be-belum, Mas," jawabannya terdengar gugup.
"Kenapa belum sarapan? Si mbok nganterin nasi ke kamar, kan?"
"Iya, Mas."
"Tolong panggilkan Mbak Livia, saya mau ngomong sama dia."
"M-maaf, Mas."
"Ada apa?"
"Mbak Livianya pergi setelah Mas Bre berangkat tadi."
"Pergi ke mana?" Bre panik.
"Saya nggak tahu, Mas. Mbak Livia pergi membawa kopernya."
Bre kaget dan mematikan panggilan. Kembali dihubunginya sang istri. Entah panggilan yang ke berapa, baru dijawab oleh Livia.
"Halo."
"Kamu di mana? Sudah aku bilang kalau jangan pergi. Tunggu aku bicara lagi pada mama." Bre benar-benar panik karena ingat apa ancaman yang dikatakan pada istrinya tadi pagi.
"Rumah itu milik siapa, Mas? Milik mama, kan? Kalau tuan rumah sudah tidak menginginkan aku di sana, apa aku harus memaksakan diri. Aku masih punya harga diri, Mas."
"Aku akan menjemputmu. Kamu di rumah ayah, kan?"
"Mas, masih ingat apa yang Mas bilang tadi pagi? Selangkah saja aku meninggalkan rumahmu, berarti sudah jatuh talak satu padaku. Nggak usah mencariku. Aku nggak di rumah ayah. Aku tetap akan pulang ke sana tapi tidak sekarang. Lepaskan aku sebelum kamu menikahi Agatha. Temui aku sekalian bawa akta cerai. Kutunggu, Mas."
Next ....
Selamat membaca 🥰
Bab 5 Talak
RAHASIA TIGA HATI
- Talak
"Aku bisa merujukmu."
Livia tertawa. "Mas kira cerai dan rujuk itu bisa dibuat candaan. Sebentar bilang cerai sebentar bilang rujuk. Kalau cerai, cerai saja, Mas. Rumit hubungan kita. Sedikit saja Mas nggak bisa membelaku dan ayahku saat keluargamu menghina kami. Itu berarti, Mas pun setuju dengan penghinaan mereka yang merendahkan keluargaku."
Bre menghela nafas panjang. Dia lupa kalau Livia bukan perempuan yang gampang sekali diperdaya. Waktu masih kuliah dulu, dia cewek yang lembut, tapi keadaan yang menimpa keluarga membuatnya berubah menjadi perempuan yang tegas.
"Liv."
Livia sudah mematikan panggilannya. Bre kembali menghubungi tapi tidak di angkat. Beberapa pesan dikirim tapi juga diabaikan. Perasaannya kalang kabut. Ingat bagaimana dia begitu ceroboh memberikan ancaman pada Livia tentang talak. Dipikirnya, Livia tidak akan pergi karena apapun yang terjadi selama ini, Livia bertahan di sampingnya.
Bre mondar-mandir di ruangannya. Denting suara pesan membuatnya buru-buru menyambar ponselnya di atas meja.
[Aku nggak bisa membawa semua pakaianku. Tapi aku sudah berpesan pada Si Mbok, untuk membereskan lemari itu. Terserah pakaianku mau di apakan, dibuat lap juga nggak apa-apa.]
[Mau sampai kapan kita bertahan. Hubungan ini nggak akan membaik. Keluarga Mas nggak akan pernah bisa menerimaku. Apalagi mereka sudah memiliki pilihan sendiri dan mama bilang, Mas sudah menyetujuinya.] Livia mengirimkan dua pesan.
[Di mana aku bisa menemuimu sekarang?] Balas Bre.
[Jangan sekarang. Aku ada janji bertemu dengan seseorang.]
[Siapa?]
Livia tidak membalasnya. Bre melempar ponsel di atas meja. Tangannya mengusap kasar wajah sambil mendengkus kesal. Bodoh sekali, kenapa ia sampai menjatuhkan talak.
***L***
"Dokter, saya benar-benar minta maaf karena telat pagi ini. Padahal saya kemarin janji mau datang jam tujuh." Livia duduk di hadapan dokter Pasha dan merasa sangat bersalah. Akhirnya Livia menemui dokter Pasha di restoran depan rumah sakit.
"Nggak apa-apa." Dokter berpenampilan menawan dan penuh kharisma itu tersenyum ramah. Usianya sudah pertengahan tiga puluhan. Dia sangat baik pada keluarga Livia. Makanya memanggil wanita itu hanya dengan sebutan nama saja.
"Kenapa kamu bawa koper?" Dokter Pasha memandang koper di sebelah kursi Livia. "Kamu pergi dari rumah suamimu?"
Livia mengangguk pelan. Sebenarnya sungkan juga jika dokter itu tahu permasalahan pribadinya.
"Kamu sudah sarapan?"
"Sudah, Dok," jawab Livia berbohong. Malu kalau sampai dokter Pasha membelikannya sarapan.
"Oke, kalau gitu kamu mau minum apa?"
"Teh anget saja."
Dokter Pasha menjentikkan jarinya pada pelayan dan ia memesan dua teh hangat.
"Kenapa kamu pergi dari suamimu?" Dokter itu penasaran juga, padahal selama ini pun sering bertanya-tanya karena tidak pernah melihat suami Livia mendampingi Pak Rosyam ketika melakukan pemeriksaan padanya.
Livia diam sejenak. Sungkan hendak mengulas tentang rumah tangganya. Tapi jika ingin mendapatkan solusi, ia harus jujur. Akhirnya Livia menceritakan poin-poin penting mengenai permasalahannya dengan suami dan keluarganya.
"Saya mau pulang ke rumah ayah, tapi khawatir dengan kondisi psikologisnya, Dok. Saya takut, ayah saya shock dan kembali down."
"Perkembangan Pak Rosyam sangat baik, Liv. Dia sudah bisa menerima segala kejadian yang membuatnya syok dan trauma. Runtuhnya bisnis tidak begitu berpengaruh pada kondisi psikologis beliau. Yang membuat ayahmu nyaris depresi adalah kehilangan ibu dan kakakmu dalam waktu bersamaan dan begitu tragis."
Sudah pasti. Apalagi peristiwa itu terjadi tepat di depan matanya. Mereka sedang pergi ke Pacet saat itu. Selvia mengendarai mobil ayahnya bersama sang ibu. Sedangkan Pak Rosyam mengendarai mobil yang baru diambil dari Malang dan mengikuti di belakangnya. Namun siapa mengira, mobil yang dikendarai Selvia remnya blong dan tidak bisa di kendalikan hingga akhirnya masuk jurang.
Padahal yang diincar oleh pelaku adalah Pak Rosyam, tapi ternyata mobil itu dikendarai anak dan istrinya.
"Saran saya, pelan-pelan saja dikasih tahunya. Saya yakin beliau pasti bisa menerima kenyataan itu. Kalau misalnya ada apa-apa, kamu bisa menelepon saya. Insya saya usahakan untuk datang."
"Dok, makasih banyak. Saya jadi ngrepotin, Dokter."
"Nggak apa-apa, dengan senang hati saya akan membantumu. Terus sementara kamu mau ke mana? Atau langsung pulang?"
"Saya mau cari kamar kos untuk sementara."
"Jadi belum dapat kosan?"
"Belum."
"Saya ada teman yang keluarganya punya kos-kosan. Mau saya hubungkan?"
Livia malu kalau merepotkan dokter Pasha.
"Nggak usah, Dok. Saya punya teman yang bisa bantu saya."
"Beneran?"
"Iya."
"Kalau belum ada, saya teleponkan teman saya." Dokter Pasha mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Namun di cegah oleh Livia. "Nggak usah, Dok. Nanti saya telepon teman saya."
"Oke. Kalau gitu saya harus kembali ke rumah sakit. Para pasien sedang menunggu saya. Maaf, karena nggak bisa berlama-lama ngobrol sama kamu."
"Nggak apa-apa, Dok. Justru saya yang seharusnya minta maaf, karena mengganggu waktu, Dokter."
"Jangan sungkan. Kalau ada apa-apa segera telepon saja."
Livia mengangguk. "Makasih, Dok."
"Saya pergi dulu, ya." Dokter Pasha pamit setelah menyesap teh. Laki-laki itu melangkah keluar rumah makan setelah membayar minuman mereka.
Livia memperhatikan hingga dokter tegap itu menyeberang jalan. Dia sangat baik. Peduli ketika diajak konsultasi di luar tempat prakteknya padahal dia super sibuk.
Para pengunjung rumah makan memperhatikan Livia dengan koper besar di sebelahnya. Pesan yang dikirim pada Dina belum juga dijawab. Kalau pagi begini pasti dia sibuk dengan pesanan. Yang masuk justru pesan dari Bre. Kemudian Livia menelepon Alan.
"Assalamu'alaikum." Suara laki-laki itu di seberang.
"Wa'alaikumsalam. Mas Alan, di rumah apa di kantor?"
"Hari ini aku WFH, Livi. Nanti ada jadwal ngajar jam dua siang. Ada apa?"
"Mas, sibuk ya?"
"Ada projek yang sedang aku selesaikan. Tapi aku bisa sambil mendengarmu kalau kamu ingin cerita."
"Aku pergi dari rumah Mas Bre."
"Kamu serius?"
"Iya."
"Kamu di mana sekarang?"
"Aku di Rumah Makan Padang depan rumah sakit. Tadi aku ngirim pesan ke Dina belum dijawab. Mungkin dia belum sempat pegang ponsel. Rencananya aku mau cari kamar kos sementara, sambil menyiapkan mental untuk memberitahukan hal ini pada ayah."
"Tunggu di situ, kujemput!" Alan mematikan ponselnya. Livia duduk melamun dan berharap tidak ada kenalan suami atau mertua yang memergoki dia di sana.
Hampir setengah jam menunggu, akhirnya Alan sampai juga di restoran. Lelaki itu melangkah tergesa menghampiri Livia. "Maaf, nunggu lama. Macet tadi karena ada perbaikan jalan."
"Nggak apa-apa, Mas. Aku yang nggak enak karena ngrepotin, Mas Alan. Padahal Mas lagi kerja."
"Nggak apa-apa."
Alan seorang design grafis yang memang lebih sering bekerja secara work from home. Ke kantor jika ada meeting atau hal lain. Selain itu dia juga seorang dosen yang mengajar di universitas swasta meski seminggu hanya ada jadwal dua sampai tiga kali pertemuan saja. Jika ada waktu, dia pergi membantu temannya menjadi coach Muay Thai.
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum, tapi aku udah pesen untuk di bungkus. Mas, sudah sarapan?"
"Sudah."
"Aku mau cari kosan, Mas. Untuk sementara saja kalau bisa." Livia juga menceritakan apa yang terjadi antara dirinya, Bre, dan keluarga suaminya.
"Jadi, Bre sudah menalakmu?"
"Ya. Tapi untuk hari ini aku belum bisa ngasih tahu ayah. Makanya untuk sementara aku mau cari kosan. Mas, bisa bantu aku?"
"Kamu ikut aku. Nanti kutanyakan sama satpam perumahan. Ada homestay di sana, semoga saja free dan nggak ada yang booking dalam seminggu ini."
Livia bernapas lega, meski itu pun belum pasti juga. Tapi ia yakin kalau Alan sudah tentu akan membantunya.
"Aku juga butuh pekerjaan, Mas. Mungkin ada lowongan di kantor, Mas Alan. Atau di tempat kenalannya, Mas."
"Soal pekerjaan bisa dipikirkan nanti saja setelah Om Syam tahu permasalahan kamu."
"Iya, tapi kalau ada lowongan segera kasih tahu aku. Khawatirnya nanti keduluan orang. Pengobatan dan gaji untuk Pak Tamin terus berjalan, Mas."
"Aku bisa bantu kamu."
"Tapi nggak bisa terus-terusan aku minta bantuan Mas, kan?"
"Itu dipikir nanti saja. Sekarang kita pergi dari sini," kata Alan setelah seorang pelayan mengantarkan pesanan Livia.
"Aku sudah membayarnya, Mas," cegah Livia ketika Alan hendak mengeluarkan dompetnya.
"Oke. Kita pergi sekarang."
Mereka keluar rumah makan dan langsung naik ke mobil Alan. Mobil milik almarhum papanya Alan yang sebenarnya jarang sekali di pakai pria itu. Alan lebih suka naik motor. Pulang menjenguk ibunya di desa pun sering naik motor.
Mobil berhenti di dekat pos satpam. Livia lega karena homestay yang biasa di sewa oleh para warga jika ada kerabat yang datang dan rumah mereka tidak muat, biasanya ketika mereka mengadakan acara hajatan, ternyata kosong untuk dua minggu ke depan.
Pak Satpam langsung menghubungi pemilik rumah. Tidak lama kemudian Livia sudah masuk homestay minimalis tepat di depan rumah Alan. Rumah yang ditinggali laki-laki itu sendirian karena mamanya memilih pulang ke kampung halaman setelah papanya Alan tiada.
"Aku pulang, ya. Nanti siang nggak usah pesen makanan. Biar sekalian aku pesankan."
"Makasih ya, Mas."
Alan mengangguk kemudian melangkah cepat kembali ke rumah karena harus segera menyelesaikan pekerjaan.
Homestay itu bersih dan tinggal menempati saja. Livia duduk di ruang tamu untuk sarapan. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan lebih seperempat.
***L***
Tinggal tiga hari di homestay, Livia lebih banyak melamun. Dina datang dua kali dan membawakan roti serta makanan lainnya. Dalam kesunyian justru semua kenangan dan kisah hidupnya muncul ke permukaan. Amat menyesakkan.
Alan yang setiap hari mengurusi makan dan minumnya. Livia makin tak enak karena merepotkan mantan kekasih almarhumah Selvia.
[Jangan pernah temui Bre lagi meski dia yang mengajakmu ketemuan. Surat perceraian akan segera diproses dan bulan depan Bre-Agatha lamaran.]
Livia tidak membalas pesan yang dikirim oleh mama mertuanya. Pesan dan telepon dari Bre juga tidak di angkat. Bu Rika leluasa mengancamnya karena tahu, Livia tidak akan melawan karena memikirkan kondisi ayahnya.
Baru saja Livia melihat postingan Agatha yang muncul di beranda media sosialnya.
MENUNGGU BULAN DEPAN.
Perasaan Livia terguris. Jadi beneran mereka mau lamaran. Selama ini Agatha memang diam. Bahkan tetap menegurnya dengan sikap biasa saja. Menulis sesuatu di wall pribadinya juga menggunakan bahasa kiasan. Sepertinya gadis itu tengah menjaga image-nya. Menyelamatkan reputasi agar tidak mendapatkan tuduhan sebagai perebut suami orang. Mereka semua sangat pandai bersandiwara.
Sedih. Bagaimana ia harus memberitahu ayahnya agar bisa segera pulang dan kembali bekerja. Supaya tidak kelamaan menjadi bebannya Alan.
Livia melihat Alan yang mengendarai motor baru saja memasuki rumahnya. Ia mengambil sekotak brownis kukus di atas meja dan membawanya ke rumah pria itu.
"Mas," panggil Livia pada Alan yang tengah membuka pintu.
"Hai, sini!"
"Ini ada brownis dari Dina. Siang tadi dia mampir ke sini lagi."
"Kan itu untuk kamu."
"Dina bawain buat, Mas Alan." Livia meletakkan brownies di atas meja. Kemudian pandangannya terpaku pada foto yang menempel di dinding ruang kerja Alan.
"Ya ampun, Mas Alan belum nurunin fotonya Mbak Selvi," seloroh Livia. "Kalau Mas masih nyimpen foto mantan, pasti cewek yang mau deketin Mas Alan udah mundur duluan."
Alan tersenyum sambil melepas sarung tangan. "Nanti kalau sudah ada pengganti, baru aku turunin."
"Memangnya Mas belum punya pacar lagi?"
Lagi-lagi Alan hanya menjawab dengan senyuman. Livia jadi terharu. Beruntung sekali kakaknya dicintai lelaki seperti Alan. Sudah meninggalpun Alan masih setia. Sementara dirinya tidak pernah merasakan bagaimana dibela suami sendiri.
"Besok aku akan menemui ayah, Mas. Aku harus jujur dengan keadaanku sekarang ini."
"Perlu kutemani?"
"Nggak usah. Aku udah banyak ngrepotin, Mas."
"Nggak apa-apa kalau kamu perlu teman."
"Makasih. Besok aku akan menemui ayah sendiri saja."
"Oke. Tapi kamu lihat dulu kondisi Om Syam bagaimana."
"Iya. Kalau gitu, aku balik dulu, Mas."
Alan mengangguk. Livia melangkah keluar. Ketika baru melewati pintu pagar, ia dikejutkan oleh mobil Bre yang berhenti tepat di depannya.
Next ....
Selamat membaca 🥰
Bab 6 Keributan Sore Itu
RAHASIA TIGA HATI
- Keributan Sore Itu
Livia terkejut begitu juga dengan Bre. Ia tidak menyangka bertemu wanita yang ingin dicarinya di sana. Niatnya tadi ingin menemui Alan untuk menanyakan keberadaan Livia. Justru bertemu wanita itu yang baru keluar dari rumah Alan.
Bre turun dari mobil dan melangkah menghampirinya. Rasa kaget tadi berubah menjadi tampang curiga di wajah lelaki tampan itu.
"Kenapa Mas di sini?" tanya Livia.
"Kamu kabur ke rumah Alan?" Bukannya menjawab, Bre berbalik tanya. Mereka saling menatap tajam. "Atau Alan yang membawamu kabur?"
"Jangan sembarangan kalau ngomong. Tahu kan apa alasan yang membuatku meninggalkan rumahmu, Mas."
"Aku kan sudah bilang, tunggu aku pulang dulu."
"Mamamu mengusirku. Jangan pura-pura tidak tahu. Nanti kutunjukkan semua pesan yang dikirim mamamu padaku."
Pada saat mereka berdebat, Alan menghampiri. Spontan Bre mengalihkan tatapan yang menunjukkan rasa tidak suka pada lelaki tampan dengan postur tegap menjulang. "Jangan berdebat di sini, kita bisa bicarakan di dalam rumah," kata Alan dengan suara tenang. Tidak enak jika didengar dan diperhatikan oleh tetangga perumahan.
"Kenapa kamu nggak memberitahuku kalau Livia ada bersamamu?" Bre menatap tajam Alan. "Kamu sengaja memanfaatkan keadaan untuk membawanya pergi, kan?"
"Kamu salah paham. Ayolah masuk rumah dulu, kita bisa bicara di dalam."
"Nggak usah. Aku mau mengajak istriku pulang," jawab Bre masih dengan nada tak bersahabat.
"Aku bukan istrimu lagi, Mas. Kamu ingat dengan talak yang telah kamu ucapkan, kan?"
"Selagi dalam masa iddah, aku berhak merujukmu."
"Aku nggak akan kembali. Keadaan kita tidak akan pernah berubah. Mas, nggak pernah membela kehormatanku saat dihina keluargamu. Kita cerai saja."
"Livi, please kita bisa bicarakan ini di dalam rumah. Nggak enak kalau masalah pribadi jadi tontonan orang." Alan kembali mengajak mereka bicara di dalam rumah.
"Ya, Mas," jawab Livia. Namun ketika hendak melangkah, tangannya di cekal oleh Bre. "Nggak perlu ke dalam. Aku ingin membawa Livia pulang."
"Lepasin." Livia menyentakkan tangannya hingga terlepas dari cekalan Bre. "Apa sih maumu, Mas. Heran aku dengan pendirianmu. Mas, ingin aku kembali tapi disisi lain Mas juga menyetujui perjodohan dengan Agatha."
"Aku sudah bilang kalau menolaknya."
"Mas, nggak tegas."
"Aku akan bicara dengan mama lagi kalau kamu ikut aku pulang."
Mereka saling tatap dan saling mengintimidasi. Sedangkan Alan membuang pandang ke arah lain. Dia tidak bisa terlalu dalam ikut campur urusan rumah tangga Bre dan Livia. Walaupun ia sangat memahami bagaimana perasaan Livia saat ini. Siapa yang bisa terima kalau ayahnya di hina.
"Mas, pulang saja. Aku nggak akan pernah kembali ke sana. Aku sudah siap bercerai darimu."
"Oh, kamu sudah keenakan tinggal sama mantan kekasih kakakmu di sini, makanya menolak kuajak pulang. Apa yang kalian lakukan selama tiga hari di sini?"
Baik Livia atau pun Alan sangat terkejut dengan ucapan yang bernada tuduhan dari Bre.
"Jangan sembarangan ngomong, Livi tinggal di homestay bukan di rumahku. Kamu bisa cek rumah itu. Livia butuh tempat tinggal sementara, menyiapkan mental untuk memberitahu ayahnya." Alan menunjuk rumah mungil minimalis di hadapannya.
Bre tersenyum sinis. "Jarak kalian tinggal, hanya beberapa meter saja. Nggak akan jadi penghalang untuk laki-laki dan perempuan tidur bersama."
Mendengar tuduhan itu membuat Livia menatap nanar Bre, dia tidak terima dengan tuduhan kotor itu. Sementara Alan yang berdiri tegak dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya, masih bersikap tenang. Bukan tak ingin membela diri, tapi percuma bicara dengan lelaki seperti Bre.
"Sembarangan kamu ngomong, Mas," hardik Livia dengan mata melotot tajam dan tangan mengepal di kedua sisi tubuhnya.
"Alan diam saja, berarti membenarkan ucapanku." Bre menatap Alan. Memancing amarah lelaki itu.
"Meski sekian lama kalian bersama, rupanya kamu nggak mengenali siapa Livi, Bre. Dia bukan perempuan murahan seperti yang ada dipikiranmu. Ternyata Livi memang tidak layak menjadi istri dari lelaki yang tidak tahu bagaimana memperjuangkannya." Setelah diam dengan semua tuduhan, akhirnya Alan meluapkan pembelaannya pada adiknya Selvia.
Bre marah dan melayangkan pukulan ke rahang Alan. Namun laki-laki itu dengan sigap bisa menghindarinya. Bre tidak terima saat pukulannya sia-sia di udara. Lelaki jago karate itu menyerang kembali Alan.
Livia cemas saat perdebatan tadi berujung pada perkelahian dua lelaki yang sama-sama jago bela diri. Serangan Bre yang membabi buta hanya dihindari oleh Alan tanpa melakukan balasan. Muay Thai termasuk bela diri yang paling keras di dunia, sehingga tidak sulit untuk menghindari atau menangkal pukulan Bre.
Wanita itu panik, apalagi dari beberapa rumah para ART yang memperhatikan dari balik pagar tampak ketakutan. Jam segitu para majikan mereka memang belum kembali dari bekerja.
"Hentikan, Mas!" teriak Livia.
Alan menjauh karena memang tidak mau menyerang balik, baginya percuma berkelahi dengan lelaki seperti Bre. Namun Bre yang tidak terima karena menyerang tanpa adanya perlawanan. Bagi Alan, apa yang ia kuasai bukan untuk menunjukkan kalau dirinya hebat dan kuat. Lagipula, jika ia bisa memukul dan melukai Bre, urusan bisa jadi lain kalau lelaki itu bersikap licik dengan melaporkannya ke polisi.
Melihat Bre terus mendesak, Livia yang geram. Dia mencuri kesempatan dan melakukan tendangan ke perut Bre, membuat laki-laki itu mundur ke belakang beberapa langkah.
"Kamu membelanya!" Bre menatap marah sambil memegangi perutnya.
"Iya. Kenapa? Mas, nggak terima!" jawab Livia. Walaupun jika berkelahi pun, ia tidak mungkin menang dari Bre.
Mendengar jawaban Livia, mata Bre merah menahan murka. Livia yang selama ini selalu mengalah padanya, kini terang-terangan membela lelaki lain.
Pada saat itu muncul beberapa bapak-bapak dari ujung gang. Mereka menghampiri karena mendengar ada keributan.
"Ada apa ini?" Seorang bapak bertubuh subur menegur lebih dulu. Menunjukkan rasa terganggu dengan apa yang terjadi.
"Dia membawa lari istri saya, Pak." Bre menunjuk Alan. "Bahkan mereka sudah tinggal serumah."
"Bohong, Pak. Mas Alan tidak membawa kabur saya. Saya yang pergi dari rumah karena saya sama suami sudah bercerai secara agama. Saya juga tidak tinggal serumah dengan Mas Alan. Tiga hari ini saya tinggal di homestay milik Pak Wuri," jawab Livia seraya menatap tajam Bre kemudian beralih pada lelaki bertubuh kerempeng, pemilik homestay.
"Iya. Mbak, ini yang kemarin menemui saya."
"Maaf Bapak-Bapak, kalau kami membuat keributan di sini. Sebenarnya ini hanya kesalahpahaman." Alan berkata sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada pada keempat laki-laki yang berdiri di tengah jalan.
"Kalau masalah pribadi, sebaiknya dibicarakan secara kekeluargaan, Mas Alan," ujar seorang bapak berkaus kuning.
"Ya, Pak. Maaf."
"Kami kenal baik Mas Alan dan almarhum papanya Mas Alan, saya yakin kalau Mas Alan nggak mungkin membawa kabur istri orang. Lagian masih banyak gadis yang ngejar-ngejar Mas Alan. Ngapain bikin masalah dengan membawa kabur istri orang." Pak Wuri membela Alan.
"Makasih, Pak Wuri."
Kemudian Pak Wuri dan bapak komplek lainnya meninggalkan tempat itu.
Bre serasa dikuliti di sana karena mereka lebih jelas mengenal siapa Alan daripada dirinya. Dibenahinya kemeja kemudian menghampiri Livia. "Nggak akan kubiarkan laki-laki manapun memilikimu," ancamnya.
"Jangan mengancamku, Mas. Aku nggak pernah takut sendirian. Kehidupan mengajariku tidak lemah saat dipatahkan."
Tatapan Bre meredup. Jujur saja, bagaimanapun kasarnya kalimat yang keluar dari bibirnya, tapi hatinya telah remuk redam. Kekasarannya hanya untuk menutupi luka dalam dada.
Seketika itu ia merasakan kehilangan arah. Bingung memilih sikap karena sudah terlanjur marah melihat Livia bersama Alan. Untuk merendah minta maaf, ego lebih menguasai dirinya.
"Aku tunggu akta cerai kita."
Bre tidak menanggapi ucapan Livia, ia langsung masuk ke dalam mobilnya setelah menatap sekilas pada Alan.
"Kamu nggak apa-apa?" Alan menghampiri Livia yang tengah menangis tanpa suara.
"Aku nggak apa-apa, Mas. Sekarang juga aku akan pulang ke rumah ayah. Daripada nanti timbul fitnah di antara kita. Mas Alan, nggak tahu apa-apa malah kena imbasnya."
"Kamu ingin memberitahu Om Syam sekarang?"
Livia mengangguk pelan. "Sekarang atau nanti, ayah tetap bakalan tahu juga."
"Kamu berkemas-kemas dulu, nanti kuantar."
Livia kembali ke homestay dan Alan masuk ke rumahnya.
Selesai berkemas, Livia meraih ponsel dan mengirimkan pesan dari Bu Rika pada Bre. Laki-laki itu tidak menjawab meski pesannya dilihat.
***L***
Pak Rosyam diam mematung setelah Livia menceritakan kemelut rumah tangganya. Netra lelaki itu berkaca-kaca. Sebenarnya dalam diamnya dia juga tahu bagaimana perlakuan keluarga Bre pada putrinya. Namun masih berharap bahwa rumah tangga mereka akan tetap baik-baik saja.
Setelah keruntuhan bisnisnya, pihak besan kian berubah dan menjaga jarak. Padahal dirinya hanya menjadi korban fitnah. Namun sayang, posisinya sangat lemah untuk melakukan pembelaan. Belum lagi kenangan pahit kehilangan istri dan anaknya waktu itu masih menjadi trauma yang dalam.
"Nggak apa-apa, Nduk. Ikhlaskan saja. Kelak kamu akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik lagi." Pak Rosyam membelai rambut putrinya.
Alan yang masih di sana, diam duduk di sofa. Tadi Livia minta tolong supaya ditemani bicara dengan ayahnya. Sebab jika terjadi apa-apa bisa memberikan pertolongan. Ternyata ayahnya tidak syok seperti yang ia takutkan. Walaupun jelas sekali dari wajahnya kalau dia sangat terpukul.
"Ayah, nggak usah khawatir. Aku baik-baik saja. Aku ikhlas jika pernikahanku selesai sampai di sini. Mereka boleh menghinaku, tapi aku nggak terima jika mereka menghina ayah." Livia memeluk lengan ayahnya.
"Maafkan ayah karena nggak bisa membelamu," ujar Pak Rosyam dengan suara serak.
"Nggak apa-apa. Ada Mas Alan yang membantuku. Yang penting sekarang ayah harus selalu sehat."
Sang ayah manggut-manggut, kemudian melepaskan kacamata dan menghapus air matanya.
"Aku juga minta tolong sama Mas Alan untuk mencarikan pekerjaan."
"Ayah nggak usah lagi pergi ke dokter. Ayah sudah jauh lebih baik sekarang ini, Liv."
"Tapi harus tetap kontrol untuk jantungnya, Ayah."
Pak Rosyam mengangguk pelan.
Setelah keadaan tenang, Alan pamitan. Dia mencium tangan Pak Rosyam lantas melangkah keluar di antar Livia. "Makasih banyak ya, Mas. Aku ngrepotin Mas Alan beberapa hari ini."
"Nggak apa-apa. Kalau ada sesuatu, segera hubungi aku."
"Hu um. Jangan lupa kalau ada lowongan pekerjaan untukku."
"Iya. Nanti aku kabari. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Livia masih berdiri di teras meskipun mobil Alan telah pergi. Akhirnya ia sampai juga di titik ini. Menyandang gelar janda tak lama lagi. Dia tidak akan mengemis untuk diperjuangkan oleh Bre. Laki-laki itu sudah jauh berubah ketimbang pada saat mereka berjuang untuk bisa menikah.
Sejak dulu Bu Rika memang tidak menyukainya. Entah apa alasannya. Mungkin karena dia lebih menyukai Agatha dan berharap perempuan itu yang menjadi menantunya. Atau ada alasan lain, Livia tidak tahu. Namun Alan pernah bilang, keluarga Bre pasti tahu banyak tentang runtuhnya bisnis keluarga Livia.
Agatha bukan wanita baru dalam hidup Bre. Mereka berteman semenjak masih sama-sama SMA. Tapi mereka kuliah di universitas yang berbeda. Bre bilang tidak pernah pacaran dengan gadis itu.
"Mbak Livia, bapak pingsan, Mbak!" teriakan Pak Tamin dari dalam rumah mengangetkan Livia.
Next ....
Selamat membaca 🥰
Bab 7 Jangan Pergi, Ayah
RAHASIA TIGA HATI
- Jangan Pergi, Ayah
Livia gelisah, sedih, takut, saat menunggu ayahnya yang sedang diperiksa. Tidak tenang duduk, ia berdiri dan mondar-mandir di depan ruang IGD. Ayahnya merupakan satu-satunya keluarga yang ia punya sekarang ini. Jika ayahnya pergi, runtuh sudah dunianya.
Pak Tamin juga cemas duduk di bangku logam. Dia sudah mengabdi pada Pak Rosyam puluhan tahun.
Hati Livia sedikit lega ketika melihat Alan berjalan cepat menghampirinya. Belum sampai di rumah Livia sudah menelponnya lagi, makanya berpatah balik langsung ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Om?"
"Masih diperiksa, Mas," jawab Livia menatap penuh harap pada Alan. Bahwa laki-laki itu bisa menemaninya melewati masa sulit ini.
"Duduklah, semoga nggak terjadi apa-apa pada Om." Alan mengajak Livia duduk di sebelah Pak Tamin.
Suasana mulai temaram karena hari beranjak senja. Namun para pembesuk masih terus hilir mudik di parkiran depan sana.
"Padahal ayah bilang tadi bilang baik-baik saja. Mas Alan, juga lihat bagaimana ayah tadi, kan?"
"Iya. Tapi beliau pasti sedih juga, Livi. Hanya beliau nggak ingin menunjukkan kesedihan itu padamu. Doakan saja, semoga tidak terjadi permasalahan serius pada Om."
Livia mengangguk lemah. Air matanya mengambang di pelupuk mata. Hidungnya pun berair karena menahan tangis dan sesaknya dada. "Aku nggak ingin kehilangan ayahku, Mas. Dialah satu-satunya yang aku punya. Aku nggak bisa sendirian tanpa ayah."
"Kamu juga memiliki aku. Aku akan bantu semampuku. Semoga Om Syam segera sadar dan tidak terjadi apa-apa terhadapnya."
"Hu um. Makasih ya, Mas."
Alan tersenyum. Dalam hati sedih juga. Entah sudah berapa kali ia duduk di ruang IGD seperti ini untuk menemani Livia menunggui ayahnya. Banyak kisah hidupnya terukir bersama keluarga Pak Rosyam.
Dulu kurang dua bulan lagi ia menikah dengan Selvia, tapi peristiwa naas itu terjadi dan menghancurkan mimpinya. Kejadian itu masih segar dalam ingatan dan sangat menyakitkan.
Seorang dokter yang memeriksa Pak Rosyam keluar dan mencari pihak keluarga. Spontan Livia dan Alan berdiri. "Saya anaknya Pak Rosyam, Dok. Bagaimana keadaan ayah saya?"
"Beliau sudah sadar, tapi perlu penanganan yang intensif. Suplai darah ke otaknya berkurang sangat drastis. Beliau mengalami serangan jantung dan ini sangat serius, makanya beliau harus mendapatkan perhatian medis, jadi harus rawat inap."
"Iya, Dok." Livia mengangguk. "Boleh saya menengok ke dalam?"
"Silakan dan segera tentukan untuk ruang perawatan." Selesai bicara, dokter itu melangkah meninggalkan mereka.
"Kamu jenguk Om Syam, biar aku yang ngurusi untuk kamar perawatan," kata Alan.
"Iya, Mas. Makasih banyak." Livia bergegas masuk ke dalam. Sedangkan Alan di dampingi Pak Tamin segera menemui petugas untuk memesan ruang perawatan Pak Rosyam.
Malam setelah kondisi stabil, laki-laki itu dipindahkan ke ruang perawatan. Pak Rosyam belum banyak bicara. Hanya netranya yang terus-menerus berembun.
Alan juga belum pulang. Tapi Pak Tamin yang pulang untuk mengurusi rumah yang tadi di tinggal begitu saja.
"Mas Alan, nggak apa-apa kalau mau pulang. Ayah sudah jauh lebih baik ini. Nanti Pak Tamin juga ke mari lagi." Livia bicara pada Alan.
"Iya. Jangan lupa, kamu harus makan. Supaya nggak sakit." Alan menatap nasi kotak di atas meja. Ia yang tadi keluar membelikan, tapi belum disentuh oleh Livia.
"Sebentar lagi kumakan."
"Vitamin C-nya juga kamu minum."
"Hu um. Makasih banyak, Mas. Karena selalu bantuin kami."
"Nggak usah mikirin hal itu. Selagi aku mampu, aku akan bantu kamu."
Livia terharu. Air matanya hendak tumpah makanya ia bergegas ke kamar mandi. Supaya ayahnya tidak melihatnya menangis. Beberapa menit kemudian ia kembali keluar dan ganti Alan bangkit dari duduknya untuk menghampiri Pak Roysam yang berbaring lemah. Tangan lelaki itu bergerak hendak menyentuh Alan tapi tidak mampu. Alan yang akhirnya menggenggam jemari Pak Rosyam.
"Makasih," ucap lelaki itu terbaca dari gerakan bibirnya.
"Sama-sama, Om. Semoga Om segera sehat dan bisa pulang ke rumah."
Pak Rosyam menarik napas dalam-dalam, seolah untuk mengumpulkan kekuatan bicara.
"Om nggak tahu bisa bertahan sampai kapan. Kalau terjadi sesuatu pada Om, titip Livia, ya." Suara yang lirih dan serak itu membuat Alan terharu mendengarnya. Ia mengangguk cepat.
"Kalau gitu saya pamit pulang dulu, Om. Insyaallah, setelah mandi saya akan kembali ke sini."
Pak Rosyam mengangguk lemah.
Alan melangkah keluar kamar diikuti oleh Livia. "Kalau Mas Alan capek, nggak usah ke sini lagi nggak apa-apa. Nanti Pak Tamin pasti ke mari lagi."
"Nggak apa-apa. Aku pulang untuk mandi dan ganti baju saja. Kamu mau dibawain cemilan apa?"
"Nggak usah, nasiku masih ada."
"Oke, kalau gitu aku pulang dulu. Jangan lupa segera makan."
Livia mengangguk. Setelah Alan berbelok di ujung lorong, ia baru masuk kembali ke kamar. Membenahi selimut ayahnya yang saat itu tengah memejam. Kemudian ia duduk di kursi dan membuka nasi yang dibelikan oleh Alan tadi.
Ketika tengah makan, Livia tidak menyadari kalau diperhatikan oleh ayahnya yang kembali membuka mata. Melihat putrinya, tak terasa sebutir air mata luruh di sudut netra. Kenapa ia tidak punya kekuatan untuk menjadi tameng bagi Livia. Satu-satunya anak yang masih ada. Justru malah menyusahkannya.
Pak Rosyam sangat sedih. Merasa bersalah menjadi ayah yang tidak berguna. Jika ia pergi untuk selamanya, siapa yang akan mendampingi putrinya? Namun kalau masih bertahan dalam keadaan seperti ini, hanya merepotkan Livia saja.
Jujur saja, ia lega kalau Livia lepas dari Bre. Daripada putrinya disiksa batin oleh mereka. Pak Rosyam sebenarnya curiga, kalau sang besan ikut campur dalam menumpas bisnisnya. Namun ia tidak memiliki bukti meski tahu banyak tentang mereka. Sekejam itu keluarga Bre.
Jam sebelas malam, Alan kembali sampai di rumah sakit. Ia heran saat melihat Livia duduk sendirian di depan kamar perawatan. Laki-laki itu menaruh tiga gelas teh hangat di kursi tempat duduk Livia. Wanita yang tengah melamun itu kaget, karena Alan sudah kembali menemuinya.
"Kamu nggak tidur?"
"Aku nggak bisa tidur, Mas. Pak Tamin yang nungguin papa di dalam."
"Kamu harus cukup istirahat biar nggak sakit."
"Aku juga pengen tidur, tapi nggak bisa."
"Di minum tehnya."
Livia mengambil segelas teh dan minum beberapa teguk. Kerongkongannya terasa hangat. Keduanya memandang ke arah yang sama. Pada pekat malam yang kelam.
"Makasih banyak ya, Mas. Kalau nggak ada Mas aku nggak tahu mau minta tolong sama siapa." Livia berkata lirih.
"Sudah kubilang. Aku akan membantu semampuku. Kamu jangan khawatir. Soal biaya rumah sakit, biar aku yang mengurusnya."
"Nggak usah, Mas. Aku masih punya uang. Nanti saja kalau butuh, aku minta tolong sama, Mas Alan."
"Oke," jawab laki-laki itu sambil melepaskan jaket dan memberikan pada Livia. "Pakaikah, udara makin dingin."
Hening.
"Bre nggak meneleponmu?" tanya Alan setelah diam beberapa saat.
"Nelepon dua kali, tapi nggak kuangkat. Tadi mereka sedang makan malam bersama keluarganya Agatha."
"Kamu tahu dari mana?"
"Dari story-nya Agatha."
"Kamu masih mencari tahu tentang mereka?"
Livia tersenyum getir. "Aku hanya ingin melihat apa yang mereka lakukan. Jika mereka seserius itu, berarti tak lama lagi kami akan segera bercerai."
Suara Livia terdengar sangat tegar, tapi Alan melihat ada kaca-kaca yang bersarang di netra Livia. Perceraian pasti membawa kepedihan. Apalagi mereka baru menikah belum genap dua tahun.
Alan pamitan pulang jam enam pagi setelah membelikan sarapan untuk mereka. Ia terburu-buru karena ada meeting hari itu.
"Pak Tamin, saya titip ayah, ya. Saya mau pulang mandi dan ganti baju." Livia berkata pada lelaki yang duduk di sebelah brankar ayahnya.
"Njih, Mbak. Ini kunci mobilnya."
Livia bergegas pergi setelah menerima kunci dari Pak Tamin. Ketika baru saja sampai di parkiran, ia berserempak dengan dokter Pasha. "Selamat pagi, Dok."
"Hai, Livia. Ayahmu opname?" tebak dokter Pasha. Karena sudah sangat mengenal tentang riwayat kesehatan Pak Rosyam.
"Iya, Dok. Ayah saya masuk rumah sakit kemarin sore."
"Kamu sudah memberitahu tentang permasalahan kamu?"
Livia mengangguk.
"Di kamar mana beliau di rawat? Nanti saya jenguk."
"Makasih banyak, Dok. Ayah ada di kamar Bougenville-05."
"Oke."
"Saya mau pulang dulu, Dok."
"Hati-hati, Livia."
"Makasih." Livia pulang mengendarai satu-satunya kendaraan yang masih mereka miliki. Harta yang tersisa hanya rumah dan mobil itu.
Dalam situasi seperti ini, Livia ingat ibu dan kakaknya. Mereka sudah tiada sekarang. meninggalkannya berjuang sendirian karena ayahnya pun dalam kondisi yang sangat lemah.
Dulu Selvia pernah bilang, "Carilah lelaki yang pandai menghargai dan melindungimu. Biar pun dia sederhana, tapi hidupmu jauh dari luka dan air mata."
Dan sungguh kakaknya beruntung dicintai lelaki seperti Alan. Yang tahu bagaimana mencintai dan menghargai pasangannya. Walaupun akhirnya sang kakak pergi, setidaknya ia pergi dalam kenangan yang indah. Makanya sampai sekarang pun Alan belum menggantinya dengan kehadiran wanita baru dalam hidupnya. Sementara dirinya mendapatkan lelaki yang tidak tahu bagaimana menjaga perasaan.
Alan memiliki paras yang tampan dan tubuh menawan sebagai seorang laki-laki. Manly. Tentunya banyak gadis di luar sana yang pasti menyukai. Namun setelah kepergian tunangannya, laki-laki itu masih bertahan sendirian. Sekarang usianya sudah tiga puluh tahun.
Mobil Livia langsung parkir di garasi. Ia masuk rumah dan segera mandi. Ketika tengah bersiap kembali ke rumah sakit, bel rumahnya berbunyi. Livia kaget, di depan pintu berdiri asistennya Bu Rika.
"Maaf, saya mengganggu, Mbak Livia. Bisa kita bicara sebentar. Saya mau menyampaikan pesan dari Bu Rika."
"Silakan duduk."
Livia mengajak gadis itu duduk di teras. "Ada apa?"
"Bu Rika telah menyiapkan seorang pengacara untuk mengurus perceraian Mas Bre dan Mbak Livia. Pengacara akan menemui Mbak Livia dalam beberapa hari ini. Bu Rika minta agar Mbak Livia jangan mempersulit proses di pengadilan."
"Bilang sama Bu Rika, nggak usah khawatir. Dengan senang hati saya akan menandatangani surat perceraian itu. Nggak usah pengacara itu menemui saya, untuk apa. Saya nggak akan datang ke sidang. Saya hanya menunggu akta cerai dikirim pada saya di alamat rumah ini. Tapi tunggu, kenapa Mbak yang disuruh menemui saya. Beliau kan menyimpan nomer saya."
"Saya nggak tahu, Mbak," jawab gadis itu.
"Apa takut kalau saya merekam percakapannya dan menyimpan chat-nya?"
Asisten Bu Rika diam.
"Bilang sama Bu Rika, nggak usah banyak drama. Dengan senang hati saya nggak akan mempersulit proses perceraian. Kenapa mereka takut kalau saya akan berulah. Katakan juga kalau rahasianya nggak bakalan saya bocorkan ke media jika perceraian kami terkuak. Saya juga nggak akan menyangkal apapun alasan dalam gugatan cerai itu. Walaupun nama saya akan di jelek-jelekan untuk mempermudah dikabulkannya perceraian."
Gadis itu mendengar ulasan panjang Livia. "Saya turut prihatin, Mbak," ujarnya kemudian.
Livia tidak menanggapi. Dia tidak mempercayai orang-orang di sekeliling keluarga B.
"Maaf, saya nggak bisa berlama-lama karena harus pergi."
"Iya. Kalau gitu saya permisi, Mbak." Gadis itu melangkah cepat keluar pagar. Di mana mobil dan sopir Bu Rika menunggu di sana.
Livia juga bersiap kembali ke rumah sakit. Mengutamakan kesembuhan ayahnya jauh lebih penting ketimbang meladeni drama mereka. Meski jujur saja, hatinya sangat sakit. Apalagi jika mengingat Bre. Lelaki yang sangat dicintainya ternyata makin menenggelamkannya dalam nestapa.
Sekarang Livia sadar dan sudah merasa cukup bertahan selama ini. Keluarga Bre menginginkan dia dan Bre bercerai, tapi mereka tidak ingin kemelut itu terbongkar ke luar.
Langkah Livia yang hendak ke garasi terhenti saat di luar pagar berhenti sebuah kendaraan warna silver.
Next ....
Selamat membaca 🥰