Paman, Silakan Tanda Tangani Surat Cerainya

Đang tải thông tin quảng bá...

Paman, Silakan Tanda Tangani Surat Cerainya

GoodNovel Hoàn thành
Diam-diam perhatianEmosionalKuatPerbedaan usia

Delis mencintai Kelven, seperti yang diinginkannya, Delis akhirnya menjadi istri KelvenSaat Delis dengan gembira ingin memberitahu Kelven bahwa dirinya hamil, Delis malah melihat Kelven pulang dengan ...

Chương (1)

第1章

Bab 1 “Kamu hamil, usia kandungan sudah lima minggu. Kondisi tubuhmu nggak begitu baik, jadi kamu harus lebih memperhatikan … ” Delis tidak mendengarkan kata-kata dokter setelah itu, pikirannya penuh dengan kalimat ‘kamu hamil’. Dirinya hamil … Dirinya mengandung anak Kelvin. Dengan adanya anak ini, apakah akan mengubah pernikahan mereka yang semulanya palsu menjadi nyata? Delis sangat bahagia, memikirkan bahwa Kelven akan pulang dari perjalanan dinas hari ini. Dengan penuh semangat, dia segera pulang sambil membawa laporan pemeriksaan kehamilan. Saat langit hampir gelap, mulai turun gerimis. Delis tetap menerobos hujan dan pulang dengan badan basah kuyup. Setelah masuk ke dalam rumah, Bibi Siti langsung mengambilkan handuk dan membantu Delis mengeringkan rambutnya. “Nona Delis, mengapa menerobos hujan seperti ini? Bagaimana kalau kamu sakit karena basah kuyup begini? Cepatlah naik ke atas, mandi air hangat dan ganti bajumu.” Wajah Delis dipenuhi dengan senyuman yang bersinar, berseri seperti bunga yang mekar. Dia membungkuk untuk mengganti sepatunya. Tiba-tiba dia melihat sepasang sepatu kulit yang mengkilap dan berwarna hitam pekat di atas rak sepatu. Detik berikutnya, dengan gembira Delis memalingkan wajahnya ke arah Bibi Siti dan bertanya, “Dia sudah pulang?” Bibi Siti tersenyum mengangguk. “Iya, Pak Kelven sudah pulang dari perjalanan dinas. Dia bahkan membawa hadiah untukmu. Cepatlah ganti bajumu dan pergi menemuinya.” “Iya.” Delis dengan cepat mengganti sepatunya, mengambil tasnya dan berlari ke atas. Namun, dia tak sempat untuk mandi dan ganti baju. Saat ini, Delis sangat ingin menyampaikan pada Kelven bahwa dirinya hamil. Delis tiba di depan pintu ruang kerja dengan badan yang basah kuyup. Saat dirinya bersiap untuk membuka pintu dengan penuh semangat, tiba-tiba dia mendengar suara lembut Kelven yang memikat dari dalam ruangan. “Setelah dia melahirkan anakku, aku baru akan menikahimu. Paling lama, dua tahun.” Seketika Delis membeku, senyuman di wajahnya langsung hilang dalam sekejap. Tangannya yang hendak membuka pintu juga tiba-tiba membeku. Kemudian, dari dalam ruang kerja terdengar suara seorang wanita yang tak dikenal, “Kalau begitu, aku akan menunggumu selama dua tahun lagi. Dua tahun kemudian, entah dia sudah melahirkan anakmu atau belum, kamu tetap harus bercerai dengannya.” Pria itu menjawab dengan suara yang dalam, “Hm.” “Kelven, aku yakin bahwa kita akan bahagia setelah menikah kedepannya, karena aku mencintaimu lebih dari siapa pun, aku … “ Delis tak dapat mendengar kata-kata selanjutnya. Dia terpaku di tempat, seakan-akan sebuah petir menyambar di langit cerah, sulit baginya untuk merespon untuk waktu yang lama. Apa yang telah dirinya dengar. Kelven ingin bercerai dengannya dan sebelum bercerai, Kelven ingin dirinya melahirkan anak untuknya? Kenapa? Ternyata selama ini ada orang lain di hati Kelven? Orang itu sudah kembali, Kelven akan membuang dirinya dan menikahi orang itu? Seketika Delis tak bisa menerima berita ini. Dengan langkah terhuyung-huyung, Delis meninggalkan ruang kerja dan kembali ke kamarnya. Dia terjatuh dan duduk di lantai, air mata membanjiri matanya. Dia mengenal pria itu selama lima belas tahun dan mencintainya selama lima tahun. Ketika dirinya mengajukan ide pernikahan palsu dengan pria itu, tanpa ragu, pria itu langsung menyetujuinya. Meskipun hanya pernikahan palsu, dalam setengah tahun setelah menikah, Kelvin benar-benar memanjakannya bagaikan harta berharga. Begitu lembut dan perhatian pada Delis, membuatnya begitu bahagia. Delis mengira hubungan mereka adalah cinta, sehingga dirinya pun dengan rela menyerahkan seluruh dirinya sepenuhnya kepada pria itu. Setelah itu, mereka hidup seperti pasangan pengantin baru biasanya yang harmonis, mesra dan sangat lengket satu sama lain. Dan Kelven juga selalu menciumnya di tengah malam dan berbisik di telinganya, “Aku menginginkan seorang anak.” Saat mendengar kata-kata Kelven, Delis mengira bahwa pernikahan mereka akan terus berlanjut tanpa hambatan. Ketika sudah memiliki anak, mereka akan semakin harmonis dan menua bersama hingga rambut memutih. Tak disangka, ternyata semua ini palsu. Semuanya palsu. Meski hancur dan penuh keputusasaan. Ketika teringat ada bayi dalam kandungannya dan mengenakan baju basah bisa membuatnya masuk angin, Delis tetap bangkit dan masuk ke kamar mandi. Setelah mandi, Delis merangkak masuk ke dalam selimut, memaksa dirinya untuk tidur. Tengah malam. Delis merasa ada seseorang di sampingnya. Aroma yang familiar menghampirinya, ciuman yang lembut dan hangat perlahan terasa di tubuhnya. Delis terbangun dan membuka matanya. Dengan bantuan lampu tidur di sebelahnya, dia melihat jelas pria itu mencium lehernya, sambil berbisik pelan, “Delis, kamu wangi sekali~” Pria ini adalah suami Delis. Namanya Kelven Rosli, usianya 30 tahun, sepuluh tahun lebih tua dari Delis. Tingginya 188 cm. Dia suka memakai pakaian gelap, memberikan kesan dewasa dan berkelas. Kelven memiliki wajah tampan yang begitu sempurna. Kelven juga merupakan keturunan orang kaya dan sekaligus direktur dari Perusahaan Deli Jaya yang sangat sukses. Bukan hanya penyelamat Delis, Kelven juga merupakan cahaya dalam hidupnya, satu-satunya harapan bagi Delis di dunia ini. Delis mengira bahwa dengan menikah dengan Kelven dan mengandung anaknya, Kelven akan menjadi rumahnya. Tak disangka, mimpi Delis segera hancur begitu cepat. Merasa ciuman pria yang semakin membara, Delis berusaha mengendalikan emosinya, menatap pria itu dengan penuh cinta dan derita. Hanya dengan memikirkan apa yang dia dengar di depan pintu ruang kerja tadi dan menyadari bahwa ada seorang bayi kecil dalam perutnya, hatinya terasa sakit seolah-olah sedang disobek. Sangat menyakitkan. Saat ini, Delis sama sekali tak ingin Kelven menyentuhnya. Saat pria itu tengah larut dalam ciumannya, tiba-tiba Delis mengangkat tangannya dan menahan dada Kelven, menolak dengan berkata, “Kelven, aku nggak mau … ” Seketika pria itu berhenti, menatap wanita itu dengan tatapan tajam. Sementara terdengar suaranya yang rendah, “Katakan sekali lagi.” Delis menatap pria itu tanpa berkedip. “Aku nggak mau, kamu bisa berdiri nggak?” Ini adalah pertama kalinya Delis menolak dirinya. Meskipun Delis sudah berusaha mengontrol dirinya, dia tetap saja emosional. “Alasan.” Ditolak untuk pertama kalinya, Kelven merasa tak senang. Delis melihat ekspresi kesal di wajahnya dan tanpa ragu bertanya, “Siapa wanita yang ada di ruang kerjamu hari ini?” Mendengar pertanyaan itu, pria itu menghindari tatapannya dan bangkit meninggalkan Delis. Dia duduk di tepi tempat tidur, dengan santai memakai bajunya, sambil berkata dengan tenang, “Aku akan menikahinya ke depannya.” Delis merasa sesak di dada, seperti tertusuk jarum yang tajam. Tiba-tiba matanya menjadi merah, dengan nada penuh kesedihan, dia bertanya, “Lalu bagaimana dengan diriku? Apa artinya aku di hatimu?” Kelven berdiri dan melihat ke arah wanita kecil yang tiba-tiba marah di tempat tidur, hatinya merasa sedikit cemas. Namun, Kelven tetap tanpa ekspresi, suaranya terdengar datar, “Kamu lupa mengapa kita menikah?” Delis menahan emosi ingin menangis, dengan kehilangan kendali, dia berteriak, “Aku nggak lupa, tapi apakah cinta dalam setengah tahun ini semuanya palsu? Aku pikir kamu mencintaiku dan nggak akan berpisah denganku, sehingga mengatakan mau punya anak denganku.” “Kelven, kalau kamu mencintai orang lain, mengapa kamu nggak menikahinya sejak awal dan malah memilih untuk menikahiku?” Bab 2 Delis tahu bahwa Kelven telah memberinya cukup banyak. Dia seharusnya tidak lagi egois ingin memiliki Kelven sepenuhnya. Namun sekarang Delis mengandung anaknya. Delis harus memikirkan anaknya. “Delis, kamu mau ribut denganku?” Wajah Kelven semakin muram. Kelven berdiri di depan tempat tidur, dengan angkuh menatap Delis yang berada di tempat tidur. Dan tak berniat menjelaskan alasannya mengapa dirinya menikahi orang lain kepada Delis. Delis tak ingin membuat Kelven marah. Meski begitu, hatinya tetap tidak senang. Delis berusaha untuk mengendalikan emosinya, dengan penuh kesedihan, dia berkata lagi, “Aku hanya mau tahu, apakah kamu mencintaiku? Kalau aku melahirkan anak untukmu, bisakah kamu nggak berhubungan dengan wanita lain?” Delis memberinya kesempatan. Kelven mengunci bibirnya dengan erat, tubuhnya dipenuhi dengan aura dingin yang menakutkan. Namun, Kelven tetap tanpa ragu mengatakan, “Kita pasti akan bercerai, tapi bukan sekarang. Saat waktunya untuk bercerai nanti, apa yang seharusnya kamu dapatkan akan aku berikan.” Mendengar perkataan Kelven. Delis memejamkan matanya dengan lembut, air mata hangat mengalir turun dari sudut matanya. Hati Delis terasa sangat sakit. Dia akhirnya tak dapat menahannya dan menangis tak berdaya. Kelven mengernyit sambil menatapnya, perasaan tak tega tumbuh dalam hatinya. Kelven duduk di atas tempat tidur dan mengangkat tangan untuk menariknya. “Delis … “ Delis menepis tangan Kelven, tak ingin Kelven menyentuhnya. Tahu bahwa Delis butuh waktu untuk menenangkan diri, jadi Kelven juga tak lagi mengganggunya dan hanya berkata, “Istirahatlah.” Kelven berbalik dan keluar dari ruangan. Malam itu, Delis tidak tidur sepanjang malam. … Keesokan paginya. Saat Delis sudah selesai mandi dan duduk di meja makan, dia tidak melihat sosok pria itu di seberangnya. Dengan kecewa, Delis bertanya pada Bibi Siti yang sedang menata hidangan di sebelahnya, "Dia nggak pulang semalam?" Sambil menuangkan susu untuk Delis, Bibi Siti menghela napas dan menjawab, “Iya, Pak Kelven pergi semalam dan belum pulang sampai sekarang. Nona bertengkar dengan Pak Kelvin semalam?” Delis tidak menjawab, tetapi dengan penuh kepahitan dia bertanya lagi, “Bibi Siti, kamu kenal dengan wanita yang ada di ruang kerja dia semalam?” Bibi Siti menggeleng. “Aku nggak tahu. Ketika aku pulang berbelanja kemarin, Pak Kelven sudah ada di rumah. Aku nggak tahu dia membawa seorang wanita.” “Aku baru menyadarinya ketika melihat wanita itu turun ke bawah semalam.” Teringat bahwa wanita itu tidak hanya memiliki postur tubuh yang bagus, tinggi, tetapi juga cantik, Bibi Siti memandang Delis dengan khawatir. “Pak Kelven pertama kali membawa pulang wanita lain, hubunganmu dengan Pak Kelven … “ Delis masih tidak menjawab. Setelah makan sedikit, Delis mengambil tasnya dan berdiri. “Bibi Siti, aku pergi kampus dulu. Beberapa hari ini aku nggak akan pulang. Kalau dia bertanya, katakan saja aku sibuk dengan ujianku dan tinggal di asrama.” “Tapi bukankah hari ini akhir pekan? Akhir pekan juga mau ke kampus?” “Iya, sebentar lagi ujian akhir, aku harus kembali ke kampus untuk belajar.” “Baiklah, pergilah. Hati-hati di jalan.” Delis menaiki taksi ke kampus. Meskipun jadwal kuliah semester empat tidak begitu padat, dirinya ingin pergi dari rumah untuk merenung sejenak. Jadi selama dua hari akhir pelan, Delis tinggal di kampus dan tidak pulang. Untungnya, di asrama ada teman sekamar yang tidak pergi berlibur dan bisa menemaninya. Melihat Delis duduk di depan meja sepanjang hari, terlihat sedang membaca, tetapi juga terlihat seperti sedang termenung. Yang jelas, ekspresinya sangat muram. Novi mendekatinya dan bertanya, “Delis, apa kamu baik-baik saja? Mengapa kamu nggak pulang ke rumah akhir pekan ini? Bukankah rumahmu di sini?” Delis melirik Novi dan tersenyum tipis. “Sibuk belajar.” “Oh gitu. Oh ya Delis, minggu depan ada seminar dari Profesor Kelven. Akhirnya aku bisa bertemu dengan Profesor Kelven secara langsung.” “Aaaaa Profesor Kelven yang seharusnya bisa menguasai seluruh industri hiburan dengan penampilannya yang menawan, malah memilih untuk fokus pada kemampuannya di dunia bisnis.” “Dan akhirnya menjadi orang terkaya di negeri ini, seorang pria berkelas dan anggun dengan kekayaan triliunan. Tak disangka bahwa dia akan datang lagi untuk kedua kalinya menjadi narasumber seminar di kampus kita. Kita benar-benar sangat beruntung.” Novi berdiri dengan penuh semangat di samping Delis, terkadang juga menempelkan dirinya di pundak Delis, sambil berkata, “Nanti kamu harus pergi lebih awal untuk mengambilkan tempat untukku, mengerti? Seminar dari Profesor Kelven tahun lalu sangat ramai, aku bahkan nggak bisa masuk.” Delis hanya diam. “ … “ Kelven datang lagi untuk menjadi narasumber seminar di kampus mereka? Dia sebagai istri bahkan tidak tahu, tapi teman sekelasnya sudah tahu lebih dulu. Teringat bahwa Kelven tak hanya membawa pulang seorang wanita, tetapi juga ingin bercerai dengannya. Delis kembali bersandar dengan penuh kesedihan di atas meja, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. Novi melihatnya tidak baik-baik saja, dengan cepat bertanya, “Delis, ada apa denganmu?” Delis menggeleng. “Nggak apa-apa, hanya datang bulan saja.” “Oh, kamu harus banyak minum air hangat.” Delis mengiyakannya. Merasa sesak di dada, Delis mengambil ponselnya dan pergi keluar untuk menghirup udara segar di halaman kampus. Baru saja keluar dari gedung asrama, ponselnya berdering. Melihat panggilan dari Bibi Siti, Delis segera mengangkat telepon. Di sisi telepon, Bibi Siti berkata, “Pulanglah Nona Delis, Pak Kelven sedang menunggumu di rumah.” Tiba-tiba, Delis merasa ada firasat buruk, dia bertanya, “Ada bilang untuk urusan apa nggak?” “Nggak ada, tapi ekspresi Pak Kelven sangat muram. Cepatlah pulang.” “Iya.” Delis menyimpan ponselnya dan berjalan menuju arah pintu gerbang kampus. Delis tahu bahwa ada beberapa hal yang tak bisa dihindari. Dan dia harus menghadapinya sendiri. Saat dirinya pulang dengan taksi, waktu sudah jam sembilan malam. Delis membuka pintu dan masuk, langsung melihat seorang pria duduk di sofa ruang tamu. Dia masih mengenakan setelan jas yang belum dilepaskan dan dasi yang sudah terlepas setengahnya. Sementara kancing kemejanya juga sudah dilepaskan dua, dengan lengan yang bertumpu di atas lutus dan tangannya sesekali menggeser-geser ponsel di tangannya. Meskipun duduk begitu santai di sofa, tidak dapat disembunyikan aura kemewahan yang terpancar dari dirinya. Dari sudut pandang Delis, pria di bawah cahaya lampu itu seakan-akan memancarkan cahaya dari seluruh tubuhnya, memberikan kesan pria dewasa yang memikat jiwa. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, perlahan-lahan Delis mendekati pria itu. Pria itu duduk dengan sikap yang berkelas. Ketika menoleh, kebetulan dia bertatapan dengan mata bengkak Delis. Kelven mengernyit, ingin menunjukkan kepeduliannya tetapi tak mengucapkannya. Delis berdiri di depannya dan dengan lembut memanggil, “Kelven.” Delis ingin mencoba lagi untuk memperjuangkan pernikahan mereka. Dan juga ingin berjuang untuk bayi di dalam kandungannya. Bagaimana bisa bayinya lahir tanpa kehadiran ayah dan ibu. Kelven menatap wanita di depannya, dengan tenang menjawab, “Hm.” Delis merasa perih di dadanya. Meskipun dia tidak ingin merendahkan dirinya, dia benar-benar tidak ingin menyerah pada pernikahannya begitu saja. Tanpa menyadari dokumen yang terletak di atas meja, Delis mendekatinya dan berinisiatif bersandar di dadanya, dia memohon, “Kita jangan bertengkar lagi. Kita kembali seperti sebelumnya saja, ya?” Asalkan Kelven menjawab iya. Mengenai wanita yang muncul sebelumnya. Mengenai perceraian yang diungkit Kelven. Delis bahkan bersedia melupakannya. Kelven melirik sepintas ke perjanjian perceraian di atas meja, lalu mengangkat tangannya dan mendorong orang dalam pelukannya. “Delis awas, aku … “ Baru saja Kelven ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba Delis mengangkat dagunya dan mencium bibir Kelven. Dua kaki mungilnya berlutut di pangkuan Kelven, kedua tangannya melingkar di leher Kelven, memeluknya sambil menciumnya dengan penuh gairah. Kelven pernah mengatakan bahwa dirinya sangat menyukai tubuh Delis. Jika dengan cara ini bisa membuat Kelven tetap tinggal, untuk mempertahankan pernikahannya dan memberikan rumah yang utuh untuk bayinya yang belum lahir. Delis bersedia melakukan apa pun. Bab 3 Dengan rasa kecewa yang masih terpendam, Delis memeluk leher pria itu dan menciumnya dengan penuh gairah. Kelven adalah pria normal, bagaimana dia bisa menahan rayuan yang begitu menggoda dari seorang wanita cantik seperti itu. Kelven memeluknya dengan erat, meresponnya dengan ciuman yang penuh gairah. Sambil mengambil surat perjanjian perceraian dari atas meja dan melemparkannya ke dalam laci. Kelven kemudian menggendong tubuh kecil Delis. Sambil menciumnya, sambil berjalan ke lantai atas. Delis terlalu kecil dan kurus, sehingga saat digendong oleh pria itu, dia terasa begitu ringan. Ketika diletakkan di tempat tidur, barulah Delis menyadari bahwa dirinya tak seharusnya melakukan ini. Ada bayi di dalam kandungannya, bagaimana kalau keguguran? Melihat Kelven membungkuk mendekat, Delis segera mengangkat tangannya dan menahan dada Kelven. Saat ini, Kelven tak peduli dengan penolakan Delis, tetap bersikeras untuk menciumnya. Delis tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak bisa membiarkan Kelven terus melanjutkannya, jadi dia langsung berkata, “Kelven, jangan begitu, aku nggak enak badan. Hari ini sampai di sini saja ya?” “Sudah terlambat.” Suara pria itu rendah, saat hendak melanjutkan langkah selanjutnya, Delis cepat-cepat mendorongnya dan duduk bersimpuh di ujung tempat tidur. Kelven melihat gerakan Delis dengan bingung. “Apa maksudnya?” Jelas-jelas dia yang memulai, mengapa sekarang malah menolak? Delis menjawab dengan gagap, “Aku … aku datang bulan.” Kelven terdiam sejenak, seolah-olah sedang mengingat tanggal datang bulan Delis. Sepertinya memang benar-benar beberapa hari ini. Tiba-tiba, Kelven merasa sedikit kecewa. Dengan ekspresi tak senang, dia berkata, “Lain kali kalau datang bulan, jangan perlakukan aku seperti itu.” Kelven merasa situasinya menjadi sangat canggung. Turun dari tempat tidur, Kelven langsung melangkah ke kamar mandi. Delis merasa lega melihat kepergian Kelven. Untung saja, tadi hampir saja dia kehilangan kendali dirinya. Kelven tidak menolak untuk dekat dengan dirinya, apakah ini berarti masih ada kesempatan untuk kembali? Memikirkan ini, Delis segera bangun dan pergi ke ruang ganti untuk mengganti baju tidur. Delis juga sekalian mengambilkan satu set baju dan meletakkannya di depan pintu kamar mandi. Dia berkata pada pria di dalam, “Kelven, baju tidurnya aku letakkan di sini ya.” “Hm.” Delis duduk di atas tempat tidur menunggu pria di dalam kamar mandi. Setelah sekitar sepuluh menit, Kelven baru keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju tidur satin berwarna abu-abu, terlihat sangat anggun. Delis memaksa dirinya untuk tidak memikirkan hal-hal sebelumnya. Dia berdiri di tepi tempat tidur, membuka kedua tangannya sambil berkata dengan manja, “Peluk~” Kelven tidak menolak. Dia mendekati Delis, memeluk pinggang kecilnya. Ekspresi wajah Kelven menjadi lebih lembut dan nada bicaranya juga menjadi lembut. “Sudah nggak marah, ‘kan?” Delis menggelengkan kepalanya dan bersandar di bahunya, tanpa berbicara. Kelven meraba-raba pantat kecil Delis dan berkata, “Delis, kamu kurusan ya? Kenapa begitu ringan?” “Karena kamu yang membuatku marah, makanya kurusan,” keluhnya sambil mengerucutkan bibir kecilnya. Kelven mengenyitkan keningnya dan menyipitkan matanya memandang Delis. “Wah, kalau begitu aku berdosa sekali ya. Lapar nggak? Mau aku turun minta Bibi Siti buatkan makanan untukmu?” Delis mengangguk, masih ada sedikit tidak puas dalam hatinya. Pria itu menepuk punggungnya, saat menggendongnya untuk turun ke bawah, tiba-tiba ponsel yang diletakkan di meja samping tempat tidur berdering. Kelven menggendong Delis berbalik dan kembali ke tempat tidur untuk mengambil ponsel, lalu melihatnya sebentar. Delis juga melihat tampilan panggilan di layar ponsel, bertuliskan Herli Pohan. Detik berikutnya, Delis melihat Kelven langsung menghalangi di depannya. Satu tangan memeluknya, sementara tangan yang lain menjawab panggilan itu. Karena Delis tengah bersandar di bahu Kelven, dia bisa mendengar dengan jelas suara wanita yang meminta tolong dari ponsel. “Kelven, kakiku nggak sengaja keseleo, hanya aku sendirian di rumah. Bisakah kamu datang membantuku?” Kelven tak menolak. “Iya, aku segera datang.” Usai menutup telepon, Kelven langsung meletakkan wanita dalam pelukannya di tempat tidur. Tiba-tiba Delis sangat marah, memeluknya dan dengan marah bertanya, “Siapa dia? Wanita yang mau kamu nikahi?” “Hm.” Kelven tak membantah. Mendengar itu, Delis merasa dadanya begitu sesak. Delis berusaha menahan amarah dalam hatinya dan bertanya padanya, “Harus pergi?” “Hm.” “Bagaimana kalau aku melarangmu pergi?” Kelven merasa tak berdaya. “Delis, jangan ribut.” “Apa aku sedang ribut? Kamu adalah suamiku, suami Delis. Sekarang kamu malah mau pergi menemani wanita lain tanpa rasa bersalah?” Delis ingin melihat apakah Kelven berani keluar dari rumah ini. Jangan menganggap dirinya mudah untuk dipermainkan hanya karena dirinya masih muda. Kelven mengatupkan bibirnya dengan erat, wajah tampannya terlihat sangat muram. “Delis, siapa yang memberimu keberanian untuk bicara seperti ini padaku?” Melihat ekspresi Kelven yang begitu garang, Delis merasa cemas dan takut. Namun, dirinya juga tak puas. “Pokoknya, aku nggak izinkan kamu pergi. Kalau kamu berani pergi, aku akan membuatmu menyesal.” Tampaknya Kelven tak ingin banyak bicara. Dia bersikeras mengganti pakaiannya dan pergi. Melihat Kelven sedang mengganti pakaian, Delis menyadari bahwa Kelven akan pergi. Tiba-tiba, Delis merasa panik dan tak tahu harus bagaimana. Delis merendahkan diri dan memohon, “Kelven, jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku bisa melahirkan anak untukmu.” Kelven sudah selesai mengganti pakaiannya dan berdiri di depan gadis itu dengan sikap yang angkuh dan dingin. “Delis, orang yang mau aku nikahi sudah kembali. Posisi Nyonya Rosli adalah miliknya dan kamu harus mengembalikannya padanya.” Delis seperti mendapat pukulan keras di kepala, kepalanya terasa berdengung. Terutama hatinya yang berdenyut-denyut, sangat menyakitkan. Delis duduk di sana, menatap pria di depannya dengan tak berdaya. “Kamu sangat mencintainya? Dibandingkan denganku, dia lebih penting bagimu?” “Kita harus cerai,” ujar Kelven tanpa menjawab pertanyaan. “Kenapa?” Delis tidak mengerti mengapa pria ini bisa begitu tak berperasaan. Apakah kehidupan pernikahan mereka yang penuh kasih sayang selama enam bulan benar-benar hanya pura-pura? Apakah semua keindahan yang pernah Kelven berikan padanya hanyalah pura-pura? Delis tidak percaya, air mata tiba-tiba mengisi sudut matanya, dia dengan sangat rendah mencoba untuk memohon lagi, “Bagaimana kalau aku mengandung anakmu, kamu masih akan bercerai denganku dan menikahinya? Tak peduli apa yang aku lakukan, kamu akan meninggalkanku?” Kelven tidak tahan melihat mata Delis yang penuh dengan air mata. Kelven menghindari tatapannya dengan wajah tanpa ekspresi. Suara rendahnya terdengar, “Aku akan menikahinya, tapi aku juga nggak akan meninggalkanmu. Kalau kamu ada kesulitan kedepannya, aku masih akan membantumu.” “Aku nggak butuh~” Dengan suara yang penuh tangisan, Delis berteriak, “Kalau mau hidup bahagia bersama-sama, jangan berkhianat satu sama lain. Kalau nggak, hidup masing-masing, menjadi orang asing, seolah nggak pernah bertemu.” “Pilih aku atau dia.” Kelven kehilangan kesabaran. Dengan dingin, Kelven berkata, “Suka hatimu.” Kelven membanting pintu dan pergi. Melihat kepergian Kelven, Delis berteriak histeris, “Kelven, Kelven, kembalilah.” Namun, tak peduli bagaimana dia berteriak, pria itu tetap pergi. Delis duduk lemas di atas tempat tidur, rasa sakit di dadanya seperti darah yang menetes. Mengapa semua ini bisa terjadi? Padahal sekarang dirinya adalah istri sahnya dan mereka sudah diakui secara hukum. Mengapa Kelven harus meninggalkannya dan menemui orang lain? Bahkan jika Kelven berencana untuk menikahi wanita itu dan tidak bisa memberikan sedikitpun martabat pada dirinya, tetapi mereka bahkan belum bercerai saat ini. Terbaring di atas tempat tidur, Delis merasa seolah-olah dia jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam, semua ketakutan dan bahaya mendatang padanya seakan-akan mengerumuninya. Delis sangat ketakutan. Sepanjang malam, dia gemetar dan terdiam di ujung tempat tidur, pikirannya kosong. Esok paginya, dengan semangat yang lesu, Delis turun ke lantai bawah, kembali ke kampus sendirian dengan perasaan yang campur aduk. Hari ini adalah hari senin dan ada beberapa kelas yang harus dihadiri. Meskipun pernikahannya tak bahagia, pendidikannya tak boleh terbengkalai. Setelah bersusah payah bertahan hingga semua kelas selesai di sore hari. Delis menunduk melihat ponsel di tangannya, tetapi tidak ada pesan sama sekali dari pria itu. Seorang temannya berbisik di telinganya, “Delis, ayo pergi ke kantin makan.” Delis berdiri dan pergi bersama temannya. Saat Delis berjalan setengah jalan, seorang gadis berlari mendekat dan berdiri di depannya, bertanya, “Kamu Delis ya?” Delis mengangguk. “Ada apa?” “Ada orang yang mencarimu di depan gerbang kampus, menyuruhmu cepat pergi ke sana.” Bab 4 Delis bingung. Ada yang mencarinya? Siapa? Dengan penasaran, Delis berbalik dan pergi menuju ke arah gerbang kampus. Ketika sampai di gerbang kampus, dia disambut oleh seorang pria paruh baya. Pria itu mendekat dan menyapa, “Silakan, Nona Delis.” Delis mengikuti pria itu ke tepi jalan. Ketika pria itu membuka pintu mobil, baru terlihat ada orang di dalam mobil. Seorang wanita cantik yang berpakaian rapi. Delis tidak mengenalnya, jadi hanya berdiri di sana, memandangnya dengan waspada. Wanita di dalam mobil juga menatapnya dan berkata, “Naiklah, aku akan membawamu makan.” Delis tetap berekspresi datar, diam dan tak bergerak. Wanita itu melanjutkan, “Namaku Herli Pohan, entah kamu pernah mendengar namaku dari Kelven atau nggak.” Herli Pohan … Delis pernah melihat namanya di layar ponsel Kelven dan karena wanita inilah, Kelven ingin bercerai dengannya. Tiba-tiba, Delis menatap wanita di dalam mobil dengan penuh permusuhan. Dia menggertakkan gigi dengan marah dan bertanya, “Untuk apa kamu mencariku?” Herli duduk dengan sikap angkuh di kursi belakang, melirik Delis di luar mobil dengan nada merendahkan, “Mau bicarakan sedikit tentang Kelven. Kenapa? Begitu takut denganku?” “Untuk apa aku takut padamu? Dasar orang ketiga yang nggak tahu malu.” Delis sama sekali tak takut padanya. Delis enggan untuk naik ke mobilnya karena merasa jijik, tubuhnya terasa seperti ditumbuhi duri. Meskipun hanya 160 cm, begitu kecil, tetapi memberikan kesan bahwa dirinya sangat berwibawa, sehingga membuat orang tidak berani mendekatinya. Mendengar kata orang ketiga, Herli sangat marah. Melihat wanita itu tidak mau naik mobil, Herli turun dari mobil dengan sepatu hak tingginya dan mendekati gadis itu. Wanita dengan tinggi 170 cm, ditambah dengan sepatu hak setinggi 5 cm, berdiri di depan Delis dengan ketinggian yang jelas melebihi satu kepala. Dengan sikap seorang gadis berkelas, Herli memandang gadis di depannya dan berkata, “Kamu cukup beruntung, seorang yatim piatu yang nggak hanya bisa mendapat sponsor pendidikan dari Kelven, tapi juga bisa menikah dengannya.” “Dengan status seperti Kelven, sangat jarang keluarganya bisa menyetujui pernikahan kalian.” Delis menatap tajam wanita di sampingnya, meskipun merasa bahwa wanita itu tinggi dan memiliki tubuh yang bagus, serta wajah cantik. Namun, dari penampilannya, tampaknya usianya juga tidak muda. Delis merasa meskipun dia tidak seberapa tinggi seperti wanita itu, tetapi dari segi penampilan, dirinya tidak kalah. Apalagi keunggulan Delis adalah usianya yang lebih muda. Tanpa ragu, Delis menjawab, “Kelven menikahiku karena ada aku dalam hatinya. Apa hakmu datang ke sini dan mempertanyakan pandangan Kelven dan keluarganya?” Jika sebelumnya dirinya belum hamil dan Kelven menyukai orang lain, dirinya pasti akan langsung pergi tanpa berpikir panjang. Namun sekarang dia sudah punya anak. Demi anaknya, Delis ingin mencoba lagi. Jangan sampai anaknya lahir tanpa ayah dan ibu. Seperti dirinya yang tumbuh besar tanpa tahu di mana orang tua kandungnya. Dan satu-satunya keluarganya sepanjang hidupnya hanyalah Kelven. Delis benar-benar ingin memberikan keluarga yang utuh untuk anak dalam kandungannya. Ekspresi Herli berubah. Dia tak menyangka gadis liar tanpa latar belakang ini berani berbicara dengan nada seperti itu padanya. Herli melangkah mendekatinya, rasa benci langsung terpancar dari tatapannya. “Kalau dulu aku nggak pergi, menurutmu, apakah kamu punya kesempatan untuk berdiri di sisi Kelven?” Herli tak menyangkal bahwa gadis di depannya itu cantik. Wajah mungilnya yang putih dan halus, dengan sepasang mata besar yang bersinar seperti permata. Bibir merah dan fitur wajah yang cantik, mirip seperti boneka. Namun selain wajah ini, apa yang bisa Delis gunakan untuk bersaing dengannya? Herli merasa jika dirinya bersaing dengan Delis, itu hanya akan merendahkan citra dan statusnya. “Tante, masalahnya adalah kamu sudah meninggalkannya. Kamu adalah masa lalunya. Sekarang aku adalah istrinya. Dia sudah menikah denganku, kamu seharusnya sadar diri dan tidak mengganggunya lagi.” Delis seperti landak kecil yang ditutupi duri di seluruh tubuhnya, menatap Herli dengan marah. Padahal baru berusia dua puluh tahunan, gadis kecil itu justru penuh dengan semangat keras kepala yang membuat orang merasa takut. “Kamu … “ Herli merasa kesal, dengan wajah pucat tanpa ekspresi, menatap tajam ke arah Delis. “Kamu panggil aku tante?” “Jadi?” Delis mengangkat alisnya. Herli sangat marah ingin memukulnya, tapi untuk mempertahankan sikap gadis berkelasnya, dia menahan kemarahan di dalam hatinya, menatap tajam Delis sambil berkata, “Kamu adalah istrinya? Coba kamu tanyakan padanya mengapa dia mau menikahimu. Selain itu, bahkan kalau aku meninggalkannya selama sepuluh atau dua puluh tahun, kapanpun aku kembali dan membutuhkanya, dia masih akan menikahiku.” “Dan kamu, hanya sekedar alat untuk menghilangkan kesepiannya setelah dia kehilangan aku.” “Apa yang kamu katakan?” Delis dengan marah menggigit erat giginya, mengepal tangannya dengan kuat. Herli tak lagi memandangnya dan berkata dengan sinis, “Aku mencarimu bukan karena alasan lain, hanya ingin memberitahumu agar tidak bermimpi dengan bodohnya bahwa dengan menikah dengan Kelven, kamu akan merubah nasibmu dan bisa terbang tinggi. Ayam liar akan selamanya menjadi ayam liar.” Herli berbalik dan pergi. Delis tidak tahan lagi, dia melangkah maju, meraih rambut Herli dan menjambaknya dengan keras. “Kamu yang terlihat seperti seekor ayam.” “Aaaa!!” Herli menjerit kesakitan, sambil memegang kepalanya dan berteriak, “Berani sekali kamu menjambakku. Cari mati?” Sopir melihat Nona dijambak, dengan cepat membuka pintu mobil dan bersiap untuk membantu. Delis mendorong Herli menjauh dan menunjuk sopir sambil berteriak, “Sini kalau berani. Suamiku Kelven. Kalau kamu berani menyentuhku, dia akan membunuhmu.” Sopir langsung merasa ketakutan begitu mendengar nama Kelven. Dia hanya bisa berdiri di samping sambil menunduk. Herli dengan marah berteriak pada sopir, “Kenapa diam saja, pukul dia!” Sopir dengan ragu-ragu berkata, “Dia adalah Nyonya Rosli, aku nggak berani.” “Dasar nggak berguna.” Wajah Herli memerah karena marah, rambutnya berantakan. Orang-orang yang lewat sesekali meliriknya, seolah-olah menganggapnya sebagai orang gila. Herli menatap Delis dengan tajam. “Tunggu saja kamu.” Kemudian, kembali ke mobil dengan malang. Sopir juga segera naik ke mobil dan melaju pergi. Delis membeku di tempat, melihat wanita yang tiba-tiba muncul dan pergi. Kepalsuannya tadi seketika lenyap dan terlihat lemah kembali. Dengan lemas, dia duduk di kursi pinggir jalan. Dia merasa sangat tak berdaya, seperti ada batu besar di dadanya, membuatnya sulit bernapas. Saat ini, Herli di dalam mobil mengeluarkan ponsel dan menelepon Kelven. Telepon baru saja terhubung, dia buru-buru dengan nada sedih berkata, “Kelven, setelah kerja nanti bisakah datang ke sini? Istrimu tadi menemuiku. Dia menarik rambutku dan memukulku seperti orang gila.” “Apa yang kamu katakan?” “Huhu Kelven, aku tahu ini menyulitkanmu, tapi aku nggak mau seperti ini. Kalau saja dulu kamu nggak … “ “Aku datang mencarimu sekarang juga.” Tahu bahwa dulu dirinya bersalah pada Herli, Kelven merasa sangat bersalah. Dia langsung mengambil mantelnya dan meninggalkan kantor. Sambil berjalan, dia menelepon Delis. Delis yang duduk di pinggir jalan bersiap untuk berdiri dan kembali ke kampus. Tiba-tiba ponselnya berdering, dia melihat itu panggilan dari Kelven. Setelah ragu sejenak, Delis akhirnya mengangkat panggilan itu. Hanya saja, begitu telepon terhubung, terdengar suara pria yang rendah dan tak berdaya, “Delis, sampai kapan kamu mau membuat onar seperti ini? Masalah kita berdua, kita urus sendiri saja, mengapa kamu pergi mencari Herli?” “Dan bahkan sampai memukulnya. Kamu benar-benar semakin berani.” Bab 5 Delis merasa bingung. “Apa yang kamu katakan?” “Dengarkan baik-baik, jangan pernah lagi cari masalah dengan Herli. Jangan membuatku sulit.” “ … ” “Sudah, aku matikan dulu teleponnya.” Belum smepat Delis memberikan penjelasan dan membantah, Kelven sudah langsung menutup teleponnya. Jadi wanita jahat itu melapornya lebih dulu? Brengsek. Padahal dia yang duluan datang mencari masalah, malah lapor duluan ke Kelven? Delis sangat kesal, dengan berusaha menahan ketidakpuasan dalam hatinya, dia kembali ke kampus. Selama beberapa hari ini, dia tinggal di kampus dan tak pulang ke rumah. Dia juga tak mengirim pesan atau menelepon Kelven sama sekali. Tentu saja, pria itu juga tidak pernah berinisiatif menghubunginya. Hingga hari jumat, sebuah seminar yang menggegerkan seluruh kampus mereka dimulai. Delis duduk termenung di depan meja belajarnya di asrama, sementara Novi sibuk merapikan barang-barang sambil mencari-cari ponselnya. Setelah menemukan ponselnya dan bersiap-siap untuk keluar dari kamar, Novi melihat Delis masih duduk di sana tidak bergerak. Dia kembali melihat Delis dan bertanya, “Delis, ada apa denganmu? Ayo, seminar dari Profesor Kelven sudah mau dimulai.” Delis tetap diam. “Kalian berdua pergi saja, aku nggak ikut.” “Apa? Kamu nggak ikut? Ini seminar dari Profesor Kelven loh. Bahkan banyak universitas di seluruh negara juga nggak ada kesempatan ini. Apalagi seminar kali ini diadakan di aula besar, bisa menampung seluruh mahasiswa. Kenapa kamu nggak mau pergi?” “Aku nggak enak badan.” “Bagian mana yang nggak enak?” “Kalian pergi saja, aku nggak tertarik dengan seminarnya.” Novi merasa agak bingung. Delis yang biasanya suka belajar, seharusnya tak mungkin tak tertarik pada seminar seorang pria sukses. Mengapa kali ini dia terlihat begitu muram. Namun, teringat seminar akan segera dimulai, Novi pun tidak lagi memaksanya. “Yasudah, kamu tinggal di sini sendiri. Aku pergi dulu ya.” “Hm.” Setelah teman sekamarnya pergi, hanya tersisa Delis sendiri di dalam kamar. Sebenarnya dia sangat ingin pergi mendengarkan seminar dari Kelven. Sama seperti seminar tahun lalu. Tahun lalu, Kelven berdiri di podium dengan pakaian rapi, berkelas, berwibawa dan bersinar gemilang. Kehadirannya memikat seluruh dosen dan mahasiswa di bawah panggung. Delis pun tidak terkecuali. Saat itu, Delis duduk di antara kerumunan, menatapnya dengan penuh kekaguman. Dia sangat ingin mendekatinya, mengatakannya secara langsung pada Kelven bahwa dirinya menyukainya. Tentu saja, saat itu dia tidak pernah bermimpi bahwa suatu hari nanti dirinya akan menjadi istrinya. Teringat enam bulan pernikahannya yang telah memberinya begitu banyak kebahagiaan dan keindahan, Delis tidak ingin menyerah begitu saja. Meskipun mendengar dari mulut Kelvin sendiri bahwa posisi Nyonya Rosli adalah milik orang lain, Delis juga tak ingin melepaskannya. Delis tak ingin mengembalikannya pada orang lain. Pernikahannya hanya bisa diatur oleh dirinya sendiri. Delis bersandar di atas meja belajarnya, dengan keras memaksa dirinya untuk meredakan perasaannya. Perlahan-lahan dia tertidur. Delis terbangun karena dikejutkan oleh keributan dari tiga teman sekamarnya di dalam kamar. “Astaga, Profesor Kelven benar-benar ganteng. Saat berdiri di atas panggung dan berbicara, dia benar-benar seperti dewa. Bagaimana mungkin ada pria sehebat ini di dunia ini?” “Iya, betul sekali. Aku diam-diam memotret dia. Mulai sekarang, suamiku adalah Profesor Kelven.” “Profesor Kelven sangat ganteng, sayang sekali kalau dia nggak masuk dunia hiburan.” “Dunia hiburan yang begitu rumit nggak sebanding dengan status Profesor Kelven. Dia sudah sangat baik sekarang, seorang pebisnis hebat, orang terkaya di negara ini, sesekali memberikan seminar di universitas, sudah sangat baik.” “Pria seindah itu, entah wanita mana yang bisa sepadan dengannya.” “Eh, Profesor Kelven bermarga Rosli, perusahaannya bernama Deli Jaya. Tidakkah kalian merasa ini sangat kebetulan dengan nama Delis Rosli? Novi terkejut. “Iya, Delis dan Profesor Kelven tak hanya punya marga yang sama, tapi nama Delis juga hampir sama dengan perusahaan Profesor Kelven. Kebetulan sekali.” Melihat Delis sudah bangun, mereka langsung mendekat dan bertanya, “Delis, kamu kenal dengan Profesor Kelven?” Delis menatap mereka tanpa menjawab. Nadya berkata, “Bagaimana mungkin Delis kenal dengan Profesor Kelven. Mungkin hanya kebetulan saja. Apalagi banyak sekali yang bermarga Rosli di dunia ini. Di kampus kita saja ada beberapa orang yang bermarga Rosli.” Salah satu teman yang lain juga setuju. “Iya juga.” Kemudian, mereka sibuk menunjukkan foto yang baru saja dipotret pada Delis. “Delis lihat, Profesor Kelven ganteng sekali. Apa dia tipe yang kamu suka? Hari ini semua dosen dan mahasiswa di kampus ada di sana, suasananya benar-benar mengesankan.” Delis melihat foto Kelven di ponsel temannya. Hari ini Kelven mengenakan setelan jas hitam dengan kemaja abu-abu, berdiri tegak dengan sikap yang elegan. Mungkin itu adalah keanggunan yang lahir bersamanya. Tak peduli di mana dia berada, tubuhnya selalu bersinar. Memang sangat tampan. Delis berdiri dan menghindari topik pembicaraan temannya. “Aku pergi ke perpustakaan dulu.” Teman-temannya tidak lagi memperhatikannya dan melanjutkan pembicaraan tentang pujaan hari mereka, Profesor Kelven. Delis baru saja keluar dari kamar, ponselnya berdering. Delis melihat layar panggilan, ternyata dari asisten pribadi Kelven, Pak Mudi. Delis tanpa ragu menjawab panggilan dan pria itu berkata, “Nona Delis, siap-siap, kami akan menjemputmu di area parkir untuk pulang.” Delis terdiam, “ … “ Mereka? Kelven juga ada? Teringat dengan Kelven yang memarahinya dengan kasar tanpa alasan yang jelas, Delis dengan tekad menolak, “Aku mau belajar di kampus, minggu ini nggak mau pulang.” Ponsel asisten direbut oleh Kelven, suaranya terdengar lembut, “Delis, ikut pulang denganku.” Namun, begitu mendengar suara Kelven, Delis langsung luluh. Namun, Delis menahan emosinya, tetap dengan nada tidak senang, “Aku nggak mau pulang.” “Hm? Kamu mau aku menjemputmu di depan asrama? Yoklah.” Suara Kelven tersengar semakin lembut. Delis tahu, meskipun hatinya masih tidak puas, dia tetap saja tidak bisa menahan pesona dari pria tua itu. Delis mengerucutkan bibirnya, terpaksa menjawab, “Yasudah~” Setelah menutup ponselnya, Delis kembali ke asrama untuk merapikan bukunya. Teman-temannya melihatnya kembali dan bertanya, “Delis, bukankah kamu pergi ke perpustakaan? Kenapa kembali lagi?” Delis merapikan bukunya sambil menjawab, “Orang rumahku meneleponku untuk pulang, jadi aku mau pulang dulu.” Teman-temannya iri. “Memang enak kalau tinggal di dekat sini. Bisa pulang kapan saja. Delis, kamu beruntung sekali.” “Delis, kalau ada kesempatan, undanglah kami ke rumahmu.” Delis selesai merapikanya, dia menatap tiga teman sekamarnya dengan senyuman ringan sambil mengangguk. “Iya, kalau ada kesempatan, aku pasti mengundang kalian ke rumahku. Aku pergi dulu ya.” “Iya, hati-hati di jalan.” Delis keluar dari asrama, bergegas menuju tempat parkir di kampus. Tiga teman sekamarnya sangat baik. Ini adalah pertama kalinya mereka mengatakan ingin berkunjung ke rumahnya. Namun, rumah tempat tinggalnya adalah milik Kelven dan hubungannya dengan Kelven juga rahasia. Oleh karena itu, dia tidak bisa mengajak mereka ke rumahnya. Apalagi, mengingat bahwa dirinya akan bercerai kapan saja. Bab 6 Tiba di tempat parkir, dari kejauhan Delis melihat mobil Lincoln hitam yang paling mewah terparkir tidak jauh darinya. Asisten juga melihat Delis, dia segera turun dari mobil untuk membukakan pintu kepadanya. Begitu duduk di dalam mobil, Delis melihat pria di kursi belakang yang mengenakan setelan jas hitam. Kelven menyebarkan pesona pria dewasanya yang begitu memikat sehingga membuat orang sulit untuk menolak. Namun, Delis seolah-olah tidak melihatnya dan langsung duduk dengan patuh di sampingnya. Delis melihat orang di sebelahnya, sepertinya sudah melupakan pertengkaran mereka sebelumnya. Kelven mengernyit dan terdengar suara lembutnya, “Kamu nggak pergi seminar?” Kelven tidak melihatnya dari atas panggung. Delis lebih cantik dari mahasiswa lainnya, tidak peduli di mana pun dia berada, Kelven selalu bisa menemukannya hanya dengan satu pandangan. Namun, dia tidak melihat Delis di aula kampus hari ini. Delis memalingkan kepala dan melihat ke luar jendela, sengaja tak melihat ke arah Kelven. Delis menjawab, “Nggak pergi.” “Kenapa nggak pergi?” “Orang yang mau cerai denganku pasti nggak mau melihatku.” “Hm???” Kelven mengernyit dan tersenyum getir. Kelven mengangkat tangannya dan merangkul Delis. “Masih marah?” Delis menjauhkan tangan pria itu. “Pak Kelven, tolong jaga batasan dirimu.” Kelven terdiam, “ … “ Kenapa wanita kecil ini seperti seekor landak yang penuh dengan duri? Kelven memaksa untuk meraih tubuhnya, dengan lembut menghiburnya, “Jangan marah lagi, aku bahkan sudah datang menjemputku di kampus.” Delis sangat berpendirian, dia kembali menjauhkan tangan pria itu dan berbalik membelakanginya. “Datang menjemputku? Kamu datang untuk menghadiri seminar.” “Lalu, kamu tahu nggak kenapa aku datang menghadiri seminarnya?” “Mana kutahu.” “Kalau nggak tahu, jangan asal bicara. Jangan pasang muka datar seperti itu lagi, ayo sini balik dan lihat aku.” Kelven kehabisan kesabaran. Sejak kapan Kelven pernah begitu memanjakan orang? Delis malah semakin tidak menghiraukannya. Delis masih merasa sangat tak senang, tetapi menghadapi Kelven yang begitu angkuh, terkadang dirinya benar-benar hanya bisa menuruti semua yang dikatakannya. Delis berbalik sambil menundukkan kepalanya, sangat sedih dan hampir menangis. Kelven melihat ekspresinya yang begitu menyedihkan, perasaan sayang timbul di hatinya. Kelven mengangkat tangannya dan merangkulnya ke dalam pelukannya. Dengan lembut menghiburnya, “Sudahlah, lupakan saja yang sudah berlalu. Delisku jangan bersedih lagi.” “Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Kamu bahkan sudah memutuskannya.” Bahkan mengatakan bahwa pernikahan ini harus berakhir, kenapa sekarang Kelven tiba-tiba begitu lembut? Apakah Kelven menganggap Delis seperti anak kucing atau anak anjing yang hanya cukup dengan dihibur begitu saja? “Kalau kamu nggak mau cerai sekarang, kita nggak perlu cerai sekarang. Aku nggak pernah mengatakan bahwa kita harus bercerai sekarang.” Kelven menggendongnya duduk di atas pangkuannya, menepuk-nepuk punggungnya sambil berkata dengan tak berdaya, “Delis, jangan menangis lagi. Sudah begitu dewasa masih perlu aku hibur?” “Siapa yang bilang aku butuh dihibur? Lepaskan aku, aku bisa duduk sendiri.” Delis bersikeras untuk turun dari pangkuannya. Ekspresi Kelven tiba-tiba menjadi muram, memeluknya dengan erat. “Jangan buat aku marah.” Delis melihat pria tua itu. Melihat ekspresi wajahnya yang muram, dia tidak berani lagi melawan. Akhirnya, dia hanya bisa bersandar di dada pria itu dengan kesal. Delis menjelaskan kejadian pada hari itu, “Hari itu bukan aku yang mencari masalah dengan perempuan itu, dia yang datang … “ “Kejadian yang sudah berlalu bairlah berlalu, nggak perlu dibahas lagi.” Kelven memotong pembicaraannya, hanya ingin diam-diam memeluknya dengan lembut. Delis tidak terima, dia melanjutkan, “Jelas-jelas perempuan itu yang datang ke kampusku dan mencariku … “ “Delis, sudah kubilang jangan bicarakan lagi.” Dengan tegas dan dingin, Kelven memotongnya lagi. Delis terdiam, menegakkan tubuhnya dan menatapnya dengan mata terbelalak. Kelven juga menatapnya dengan wajah yang dingin dan muram. “Mulai sekarang, kamu nggak boleh mencarinya lagi, apalagi memukulnya. Perceraian denganku nggak ada hubungannya dengan dia. Kalau kamu nggak senang, bisa melampiaskannya padaku.” Delis terdiam, “ … “ Sepertinya Kelven masih lebih peduli dengan perempuan itu. Rasa sakit di dada Delis, seperti ada pisau yang menusuk. Delis melepaskan pria itu dengan marah, duduk di samping dan melihat keluar jendela. Sepanjang perjalanan, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kelven juga tidak lagi menghiraukannya. Setelah tiba di rumah, melihat Delis tidak mau turun dari mobil, masih dengan wajah penuh kekesalahannya. Kelven mencoba mendekat dan menggendongnya. Delis sangat emosional. Dia menghempas tangan Kelven dan melompat keluar dari mobil dan langsung masuk ke rumah. Kelven hanya bisa mengikutinya di belakang dengan tak berdaya. Saat makan malam, hanya mereka berdua di meja makan. Tetapi, Delis tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya fokus pada makanannya. Setelah selesai makan, Delis kembali ke kamarnya, berpura-pura membaca buku. Kelven juga tidak menghiraukannya, dia pergi ke ruang kerja dan kerja sebentar. Ketika jam sepuluh malam, dia baru masuk ke kamar. Kelven mandi dan mengenakan handuk, kemudian berdiri di samping tempat tidur. Melihat Delis masih sibuk membaca, dia merangkak ke atas tempat tidur dan mengambil buku dari tangannya. Delis tahu apa yang ingin dilakukan Kelven. Dengan mata memerah, Delis bertanya, “Kami menganggapku apa? Hanya sebuah alat untuk mengusir kesepian saja?” Tadinya Kelven bermaksud untuk menciumnya. Bagaimanapun, sejak pulang dari perjalanan bisnis, mereka belum pernah berhubungan intim. Sudah sekitar dua puluh hari. Namun, ketika mendengar kata-kata perempuan di depannya, Kelven tiba-tiba kehilangan minat. “Delis, mau sampai kapan kita harus bertengkar seperti ini?” Jika bukan karena Kelven peduli dan memanjakannya, tidak ada wanita di dunia ini yang berani menunjukkan wajah muram di depannya. Kesabaran Kelven ada batasnya. Melihat Kelven marah, Delis semakin sedih. “Aku hanya mau tanya, bagimu aku ini apa? Istrimu atau bukan? Kalau memang istrimu, kenapa kamu malah mau cerai dan menikahi orang lain?” “Aku nggak mau ribut samamu, tapi hatiku nggak enak.” “Kelven, kamu tahu betapa menderitanya aku beberapa hari ini? Pernahkah kamu memikirkan perasaanku?’ Delis tak mengerti, Kelvin bahkan ingin bercerai dengannya, mengapa masih melakukan ini padanya. Kelven tidak menjawab. Melihat Delis menangis lagi, perasaan Kelven terasa campur aduk. Kelven langsung menarik Delis ke dalam pelukannya, lalu mengubah nada bicaranya menjadi lembut, “Maaf, ini salahku.” “Aku nggak mau maaf darimu, aku hanya mau kamu menjauh dari wanita itu. Jangan cerai denganku, kita bisa hidup bersama dengan baik.” Delis tidak tahan dan menangis lagi. Kesedihan yang telah ditahan selama beberapa hari akhirnya meledak. Melihat Delis menangis, perasaan Kelven terasa seperti tersayat. Kelven memeluknya dengan erat dan menghiburnya, “Sudah sudah, kita nggak akan bercerai.” Delis tampak sedikit terkejut, dia mengangkat kepalanya dan melihatnya dengan mata berkaca-kaca. “Benarkah?” “Hm.” Kelven memeluknya dengan erat, perasaannya bercampur aduk. Tiba-tiba, terdengar suara Bibi Siti dari luar pintu kamar, “Pak Kelven, apakah bapak sudah tidur? Kelven masih tetap memeluk orang dalam pelukannya, kemudian menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar dan menjawab, “Ada apa?” “Pak Kelven, seorang gadis bernama Herli datang. Dia ada di bawah dan mengatakan ingin bertemu denganmu.” Kelven mengernyit, tidak mengerti mengapa Herli datang sekarang. Kelven bersiap untuk berdiri dan mengenakan pakaiannya. Delis juga tak menyangka bahwa wanita itu begitu tak tahu malu untuk datang lagi. Tentu saja, yang lebih membuat Delis marah adalah pria di sampingnya ini. Setelah tahu bahwa wanita itu datang, Kelven langsung melepaskan pelukannya dan hendak turun ke bawah. Dengan mata memerah, Delis melihat pria yang sedang mengganti pakaian dan bertanya, “Bagaimana rencanamu untuk menghadapinya?” “Aku akan turun dulu, kamu tidur dulu saja.” Bagaimana mungkin Delis bisa tertidur. Delis ingin melihat apa tujuan wanita tak tahu malu itu datang ke sini. Dan melihat bagaimana Kelven menangani masalah ini. … Kelven mengenakan pakaian rumahan, berdiri tegak dan melangkah menuruni tangga. Saat dia melihat ke arah sofa di ruang tamu, langsung melihat wanita yang duduk di sana. Herli juga melihatnya. Herli segera berdiri dan menyambutnya, berpura-pura dengan wajah lembutnya. “Kelven, apakah aku mengganggu waktu istirahatmu?” Kelven menuruni dua anak tangga lagi dan berdiri di depan Herli. Dia menjawab dengan sedikit datar, “Tidak, kenapa kamu datang jam segini?” “Tadinya aku sudah tidur jam sembilan, tapi setiap kali aku tertidur, aku selalu bermimpi tentang kecelakaan itu. Aku takut, aku nggak berani tinggal sendirian di rumah, jadi aku datang mencarimu.” “Kelven, kamu nggak keberatan, ‘kan?” Dengan wajah yang begitu sedih, Herli menatap pria gagah di depannya. Dia yakin, begitu dia menyebut kecelakaan itu, pria itu tidak akan menolaknya. Itu adalah hutang Kelven padanya. Kelven pantas menggunakan seluruh hidupnya untuk menebus kesalahan itu. “Nggak keberatan.” Wajah tampan Kelven tak menunjukkan ekspresi apapun. Dia hanya menoleh melihat Bibi Siti dan berkata, “Siapkan kamar tamu untuknya.” Bibi Siti mengangguk dan pergi. Kelven melewati Herli dan menuju ruang tamu. Lalu dengan penuh perhatian bertanya, “Perjalanan yang begitu jauh, lapar nggak? Mau makan?” Melihat bahwa sikap Kelven selalu begitu lembut padanya, Herli tersenyum sambil berjalan mendekat ke arahnya. “Aku nggak lapar, hanya nggak bisa tidur saja. Bagaimana kalau kita berdua ngobrol saja?” Herli duduk di sebelah Kelven. Kelven menuangkan segelas air untuk Herli. Ketika hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba melihat ke arah tangga dan melihat Delis berdiri di sana. Bab 7 Delis juga melihat dua orang yang duduk di ruang tamu. Meskipun sangat membenci wanita itu, Delis bahkan tidak ingin melihatnya sekejap mata pun. Namun, melihat wanita itu datang dan ingin merebut suaminya, bagaimana mungkin dia bisa duduk diam tanpa melakukan apa-apa? Mencoba merebut suaminya di depan mata dirinya? Mustahil. Delis melangkah turun tangga tanpa mengenakan alas kaki. Kelven melihat tubuh Delis yang kurus, mengenakan gaun tidur tipis dengan tali bahu, begitu menawan dan menggoda. Namun, kedua kaki mungilnya yang putih itu tidak mengenakan alas kaki. Tiba-tiba, Kelven mengernyit dengan tidak senang, berkata, “Kenapa nggak pakai alas kaki?” Delis tak menghiraukannya, dia berusaha menahan kemarahannya, melangkah lurus menuju Kelven. Herli juga melihat Delis yang sedang mendekat. Melihat dia mengenakan pakaian tipis dan tak memakai alas kaki, wajah mungilnya dipenuhi dengan ekspresi polos dan menyedihkan. Tiba-tiba, Herli merasa bahwa untuk menghadapi wanita ini, mungkin diperlukan usaha ekstra. “Kelven, aku nggak enak badan,” ujar Delis. Berdiri di samping Kelven, Delis dengan polos mendorong dirinya dengan penuh kesedihan ke dalam pelukannya. Bahkan duduk di pangkuan Kelven di depan mata Herli. Kedua tangannya juga melingkar di leher Kelven. Kelven sebenarnya ingin menyingkirkannya, tapi melihat dia tak memakai alas kaki, jadi hanya bisa menggendongnya. Kelven menatap Herli dan berkata, “Dia masih polos, jangan keberatan.” Kemudian, Kelven langsung menggendong Delis ke rak sepatu untuk mengambil alas kaki. Tubuh mungil Delis bergantung manja di tubuh pria itu, dagunya bersandar di bahunya. Dengan tatapan menantang, dia memandang Herli yang duduk di sofa dengan raut wajah tak senang dan penuh kecemburuan. Herli selalu merasa bahwa Kelven berhutang padanya. Tidak peduli apa yang diminta Herli, Kelven pasti akan menyetujuinya. Bahkan bercerai dan menikahi dirinya, Kelven juga tak akan menolak. Namun saat ini, dia melihat Kelven menggendong istri mudanya untuk memakai alas kaki, tiba-tiba Herli merasa sangat mempermalukan diri sendiri. Untuk apa dirinya datang ke sini? Apakah untuk melihat mereka bermesraan? Saat ini, Herli merasa sangat malu, marah dan tak berdaya. Setelah mengambil alas kaki dari rak, Kelven menempatkan Delis duduk di pangkuannya dan membantunya memakainya. Kelven kemudian menatapnya dan berkata, “Pergi ke kamar dan istirahat, jangan buat masalah.” Delis pura-pura tidak mendengar, dia merangkul leher Kelven dengan erat dan berkata, “Aku nggak bisa tidur, hanya mau memelukmu.” “Aku mau membahas sesuatu dengan Herli.” Kelven mencoba melepaskan tangan mungilnya. “Nggak mau~” Namun, begitu dia mencoba melepaskan, orang di pundaknya malah bersikeras dengan manja dan hampir menangis, berbisik di telinganya, “Nggak mau … aku nggak akan mengganggumu. Aku hanya perlu memelukmu seperti ini, kamu bisa berbicara dengannya, ya?” “Nggak pantas.” “Kenapa nggak pantas? Aku kan istrimu.” Kelven terdiam. Orang-orang selalu mengatakan bahwa Kelven itu dingin dan angkuh, memiliki sifat yang tegas dan kejam dalam bertindak. Namun, tidak ada yang tahu bahwa dia tak tahan dengan rayuan manja seorang wanita kecil. Seperti saat ini, dia tak bisa menahan dan akhirnya memilih untuk memeluknya, kembali ke ruang tamu. Melihat bahwa Kelven tidak melepaskannya, Delis pura-pura tidur dengan berbaring di bahunya. Herli tak menyangka bahwa Kelven akan membantu Delis memakai alas kaki dan bahkan menggendongnya kembali. Herli melihat dua orang yang saling berpelukan dengan erat di depannya, mata Herli seakan-akan bisa melepaskan mata pisau. “Herli, bagaimana kalau kamu istirahat dulu? Kita bisa bicara besok. Bocah ini sedang sakit dan butuh aku menemaninya.” Herli terdiam. Siapa yang bisa mengerti perasaannya saat ini? Dia datang ke sini hanya untuk mempermalukan dirinya sendiri? Tidak! Bagi Herli, pria di depannya ini adalah miliknya. Kelven harus menggunakan seumur hidupnya untuk menebus hutang padanya. Mengapa dirinya harus bertahan dalam kesendirian sementara pria itu bisa menikah dan berkeluarga? Kalaupun dirinya tak bisa memiliki anak, Kelven juga harus berkorban untuk menemaninya seumur hidup. Herli sangat ingin melampiaskan kemarahannya. Namun pada akhirnya, Herli memaksa dirinya untuk menahan semua kemarahannya dan melanjutkan untuk berpura-pura tenang, berkata dengan lembut, “Iya, aku istirahat dulu. Tapi Kelven, kita berdua akan menjadi suami istri kedepannya. Aku harap kalian berdua nggak akan seperti ini lagi di depanku.” Ekspresi Herli terlihat sedikit marah dan kemudian mengikuti Bibi Siti ke lantai atas. Delis yang bersandar di bahu Kelven, menatap kepergian Herli dengan tatapan yang sangat tajam. Kata-kata Herli tentang ‘kita berdua akan menjadi suami istri kedepannya’ sangat menusuk hatinya. Delis turun dari pelukan pria itu dengan marah dan duduk di sofa dengan kesal. Kelven berdiri di depan Delis, tatapannya sangat tak berdaya. “Delis, jangan seperti ini lagi kedepannya.” Delis menatap pria itu, matanya berkaca-kaca dan bertanya, “Apa yang salah denganku? Kamu adalah suamiku, dia hanyalah orang ketiga dan … “ “Dia bukan.” Kelven memotong perkataan Delis, duduk di sebelahnya dengan wajah serius. “Aku berhutang terlalu banyak dengan Herli. Posisi Nyonya Rosli juga sudah kujanjikan lama padanya.” Tiba-tiba, hati Delis terasa seperti tertusuk oleh ribuan panah. Dia berusaha untuk tetap tegar, suaranya sudah terdengar serak, “Kamu berhutang apa padanya? Apa kalian sangat saling mencintai sebelumnya?” “Nggak ada hubungannya dengan cinta.” Kelven mengalihkan pembicaraan, “Sudah larut, ayo istirahat.” Delis tidak menjawab. Tak ada hubungannya dengan cinta? Jadi, Kelven dan Herli tidak pernah saling mencintai? Jika mereka tidak pernah saling mencintai, apa hutang Kelven padanya? Delis tak paham apa yang bisa mengikat Kelven seperti itu. Namun, melihat wanita itu tinggal di sini, Delis merasa seperti menelan seekor lalat, sangat menjijikkan. Delis menatap Kelven dan bertanya, “Jadi ini caramu menangani masalah ini?” “Kamu membiarkannya tinggal di sini, lalu bagaimana denganku?” Tidak peduli apa status wanita ini, apakah Kelven akan menikahinya atau tidak. Saat ini, Delis tidak bisa menerima keberadaannya. Siapa Herli? Kenapa datang ke rumah orang lain dan masih begitu angkuh. Kelven memandang orang di depannya dengan ekspresi wajah yang tak berdaya. Kelven duduk di sebelahnya, suaranya menjadi serius, “Hari ini sudah sangat larut, aku akan menyuruhnya pergi besok.” “Kamu nggak boleh ada hubungan dengannya lagi kedepannya. Tadi kamu sudah berjanji denganku nggak akan bercerai.” Delis selalu sangat percaya pada Kelven. Delis selalu memilih untuk percaya padanya, tak peduli apapun yang dilakukannya. Asal Kelven menjaga jarak dengan wanita itu kedepannya, dirinya tidak akan berbuat onar lagi. Seketika Kelven juga bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini, akhirnya dia menjawab, “Iya, aku akan berbicara dengannya besok.” Delis menghela lega napasnya. Dengan penuh kesedihan, Delis mendekat dan memeluk Kelven. “Aku tahu kamu sudah memberiku banyak, aku nggak seharusnya begitu serakah, tapi aku hanya mau keluarga yang utuh, aku hanya ingin … “ Hanya ingin memberikan lingkungan hidup yang indah dan harmonis pada bayi kita. Kelven mengangkat tangannya dan menggendongnya. Mendengarkan kata-kata Delis yang terisak, hatinya juga terasa sakit. Setelah beberapa saat hening, Kelven menggendong tubuh mungilnya dan berjalan ke lantai atas. “Sudah, jangan pikirkan lagi. Ayo kita istirahat.” Delis dengan biasa merangkul leher Kelven, bersandar di bahunya dan menjawab dengan manja, “Hm.” Keesokan harinya. Kelven bangun sangat pagi. Begitu juga dengan Herli. Hanya mereka berdua yang sedang sarapan. Sambil makan dengan elegan, Kelven mulai berbicara, “Kita sudah sepakat memberikan waktu dua tahun, setelah dua tahun aku pasti akan memenuhi janjiku. Tapi, selama dua tahun ini, kita jangan berhubungan lagi!” Bab 8 Herli tak menduga Kelven akan mengusirnya. Apakah karena wanita liar itu tak suka dengan keberadaannya, sehingga Kelven jadi harus mengikuti keinginannya? Mimpi. Dengan hati penuh ketidakpuasan, Herli menatap pria tampan di depannya, dengan sangat penuh bersalah, dia berkata, “Kelven, kamu merasa aku sudah mengganggu kalian?” “Bukan begitu, aku hanya merasa ini kurang pantas.” “Apa yang kurang pantas? Kamu hanya perlu menganggap dia sebagai alat untuk melahirkan anak, nggak perlu ada perasaan padanya.” Mendengar kata-kata itu, ekspresi wajah Kelven menjadi serius. Kelven memandang Herli, suaranya terdengar datar, “Herli, setiap wanita yang melahirkan anak adalah sosok yang hebat. Apalagi dia sangat berarti bagiku.” “ … ” Melihat Kelven tiba-tiba marah, Herli memiliki firasat yang tak baik. Mendengar apa yang dikatakan Kelven, Herli semakin terkejut. Apakah pria ini benar-benar jatuh cinta pada Delis? Tidak. Semua yang dimiliki Delis saat ini adalah milik dirinya, Herli. Mereka hanya melakukan pernikahan palsu untuk menenangkan keluarga mereka saja. Ditambah lagi, karena dirinya tidak bisa memiliki anak, sehingga Kelven menikahi Delis untuk melanjutkan garis keturunan Keluarga Rosli. Jadi, bagaimana mungkin Kelven jatuh cinta pada Delis? “Kelven … “ “Cukup.” Kelven memotong kata-kata Herli dengan tegas, “Aku sudah memutuskannya. Dua tahun lagi aku akan menikahimu seperti yang dijanjikan, tapi sekarang … “ “Bagaimana kalau aku nggak setuju?” Herli mulai bersikap keras dan menatap pria di depannya dengan tatapan tajam. “Aku mau tinggal denganmu sekarang. Kita sudah berpisah begitu lama, aku nggak mau berpisah lagi. Meskipun kamu mau seorang wanita untuk melahirkan anakmu, itu terserah padamu, aku nggak peduli.” Bagaimana mungkin dirinya pergi. Beberapa tahun setelah dia pergi, Kelven sudah tidak memenuhi janji dan menikahi orang lain. Jika dirinya pergi lagi sekarang, Delis tak hanya melahirkan anaknya, tapi juga membuat Kelven jatuh cinta padanya. Dirinya kehilangan hak menjadi seorang ibu dan hidup dalam penderitaan selama ini. Bagaimana mungkin dirinya memberikan dua tahun kebahagiaan pada mereka? Biarkan mereka semua ikut menderita seperti dirinya. Kali ini, jangan mencoba untuk menyingkirkan dirinya. “Kalau kamu bersikeras untuk tinggal, tinggallah.” Kelven tak ingin berbicara banyak, dia meletakkan alat makan di meja dengan dingin, mengambil mantelnya dan pergi. Herli yang ditinggal duduk di sana dengan penuh kebencian. Bagaimana bisa Kelven bersikap seperti itu padanya. Jika bukan karena Kelven dulu, akankah dirinya sekarang begitu terikat dengannya? Herli berdiri, tiba-tiba wajah cantiknya terlihat sangat muram. Dia berjalan ke lantai atas dengan dingin. Delis masih sedang tidur. Mungkin karena hamil, ditambah dengan suasana hati yang buruk beberapa hari ini membuat dia tidak tidur dengan baik. Sekarang dia ingin tidur lebih lama. Mungkin karena adanya aura berbahaya di sekitarnya, Delis memaksa dirinya untuk bangun dari tidur. Ketika Delis membuka mata dan melihat seorang wanita berdiri di samping tempat tidur dengan wajah penuh kebencian, Delis terkejut. Delis langsung duduk dan dengan dingin berkata, “Siapa yang memberimu izin masuk ke kamarku? Keluar!” Herli tidak bergerak, tatapannya pada Delis sangat tajam dan penuh dendam. Herli sangat ingin membunuh wanita ini dengan tangannya sendiri. Jika wanita liar ini mati, sudah tak ada yang berani melahirkan anak untuk Kelven lagi. Perlahan Herli mendekat, dia mendekati Delis dengan ekspresi kejam. Delis memandang ekspresi Herli yang begitu muram. Meskipun dirinya lebih kecil dan sedang duduk, sikapnya sama sekali tidak kalah. Herli berhenti di samping tempat tidur, menatap Delis dan tersenyum dingin. “Delis, kamu dibayar berapa untuk melahirkan anaknya Kelven” Pada akhirnya, Herli tetap tidak berani berbuat apa-apa pada gadis ini. Dia berusaha untuk tetap menenangkan diri. Delis merasa wanita ini sangat tidak tahu malu. Menjadi orang ketiga dengan begitu bangga dan angkuh. Siapa yang memberikan keberanian padanya. Delis dengan geram mencibir, “Ibumu dibayar berapa oleh ayahmu untuk melahirkanmu?” “Kamu … “ “Aku kenapa?” Delis memotong kata-katanya, berdiri di atas kasur dan lebih tinggi dari Herli. Delis menatapnya dengan pandangan merendahkan dan menghinanya, “Nona Herli ya? Penampilan dan statusmu cukup baik, kenapa kamu bisa melakukan hal yang begitu memalukan diri sendiri, bahkan sampai datang ke rumah pasutri yang sudah sah.” “Atau ibumu melahirkanmu dan mendidikmu menjadi seorang yang menginginkan suami orang lain?” Herli terdiam. “Kalau kamu benar-benar kesepian dan menginginkan seorang pria, bilang saja padaku. Aku bisa membantumu mencari beberapa di jalanan.” “Kenapa begitu nggak sabaran mencari pria yang sudah menikah. Kamu nggak tahu apa arti dari murahan? Atau kamu pikir itu adalah sesuatu yang membanggakan?” Delis mengatakan kata-kata yang tajam, tak memberikan kesempatan bagi Herli untuk membantah. Herli menatap Delis, ekspresinya terlihat sangat marah. “Kamu … “ “Pa!” Belum sempat Herli berbicara, Delis mengangkat tangannya dan menamparnya. Delis tak bisa menahan emosinya lagi, dia tidak ingin melihat Herli lagi bahkan sejenak pun. “Cepat pergi! Atau kamu merasa belum cukup mempermalukan diri sendiri?” Tamparan itu membuat Herli terkejut dan terdiam. Herli menutupi pipinya yang terasa terbakar, menatap Delis dengan tatapan yang penuh kebencian. Herli ingin memukul balik, tapi dia sama sekali tidak bisa menampar Delis yang berdiri di atas tempat tidur. Pada akhirnya, dengan wajah penuh malu, Herli berbalik dan pergi. Melihat Herli pergi, Delis merasa kesal. Bukankah Kelven bilang menyuruhnya pergi? Kenapa wanita itu masih ada? Bahkan berani masuk ke kamarnya. Jika tidak mengusirnya hari ini, Delis merasa bahwa dirinya tak layak menjadi istri Kelven. Delis bangun dan mengganti bajunya. Delis keluar dari kamar untuk melihat apakah wanita itu sudah pergi atau belum. Siapa sangka wanita itu masih berdiri di dekat tangga dan tidak pergi. Delis sangat kesal. Dia mencari sapu di sekitarnya dan setelah menemukannya, dia berjalan menuju Herli. Herli sedang berada di tangga dan menelepon Kelven. Tatapannya terus memandang ke arah pintu utama di bawah. Ketika menoleh, Herli melihat Delis mengambil sapu dan berjalan ke arahnya, sementara Kelven muncul di bawah. Herli langsung berteriak pada Delis, “Aku nggak bermaksud mengganggu kalian berdua. Dengarkan penjelasanku, Delis … “ “Aaaa!!!” Delis bahkan belum mendekati Herli, hanya mendengar dia berteriak tanpa alasan dan kemudian berguling ke bawah tangga. “ … “ Astaga, apa yang sedang dia lakukan? Delis berlari mendekat. Delis yang berdiri di ujung tangga, melihat Kelven mendekat dengan cepat. Dengan tergesa-gesa menggendong orang yang terguling dan berteriak, “Herli … “ Lalu, Kelven menoleh ke atas dan melihat Delis berdiri di tangga sambil memegang sapu. Jelas, Delis yang mendorongnya. Ekspresi wajah Kelven sangat marah, tetapi belum sempat dia mengeluarkan amarahnya, Herli meraih tangannya dan dengan kepala yang penuh dengan darah, dia berkata dengan lemah dan sambil menangis, “Kelven, aku hanya mau berbicara baik-baik dengannya. Aku nggak menyangka dia akan begitu kejam padaku. Kelven, mukaku sangat sakit, kepalaku juga sangat sakit.” Kelven menunduk dan melihat bekas jari di pipi Herli dan darah yang membasahi kepalanya. Meskipun sangat ingin meledakkan kemarahannya, Kelven dengan cepat menggendong Herli dan dengan tatapan dingin menatap Delis, lalu dengan cepat melangkah keluar dari vila. Delis terdiam. Bab 9 Melihat tatapan dingin dari Kelven, Delis merasa harinya terasa seperti ditusuk jarum. Jadi, Kelven mengira dirinya yang mendorong Herli? Konyol. Pria yang tidur satu ranjang dengannya, malah tak percaya dengan dirinya. Delis menahan perasaan sedih dalam hatinya, teringat dengan bayi di dalam perutnya, dia turun ke lantai bawah untuk makan. Sepanjang hari ini, dia tak keluar rumah. Terus menerus memegang ponsel dan mencari informasi tentang menjaga anak di internet … Di rumah sakit. Herli dipindahkan dari ruang gawat darurat ke ruang perawatan. Kelven menemui dokter yang merawat Herli dan bertanya beberapa informasi. Dokter melaporkan dengan jujur, “Pasien mengalami luka yang serius, terutama di kepala. Ada risiko kehilangan penglihatan dan juga patah tulang kaki kanan. Mungkin harus duduk di kursi roda untuk beberapa waktu.” Kelven keluar dari ruangan dengan perasaan yang campur aduk, menuju ke arah ruangan Herli. Dia memang sudah berhutang budi pada Herli dan sekarang malah terjadi masalah di rumahnya. Kelven semakin merasa bersalah. Kelven berdiri tegak di depan pintu ruangan perawatan Delis. Dia tak ingin masuk, tapi dirinya harus terpaksa masuk. Di dalam ruangan, Herli masih tertidur pulas di tempat tidur, dengan seorang perawat yang memberinya infus di sebelahnya. Kelven masuk dan berdiri di ujung tempat tidur, melihat wanita di atas tempat tidur dengan kepala yang dibalut perban, mengenakan ventilator, wajahnya tampak pucat. Kelven merasa bersalah. Namun, apa yang bisa dirinya lakukan? Saat ini, selain menghabiskan waktu untuk menemaninya selama pengobatan, sepertinya tidak ada cara lain. Tidak tahu berapa lama Herli akan tertidur. Setelah mengatur perawat untuk menjaganya, Kelven pulang ke rumah pada sore hari. Delis duduk di sofa ruang tamu, menonton televisi sambil terbengong. Hingga terdengar suara di depan pintu rumah, Delis baru tersadar dan menoleh. Melihat Kelven sudah pulang, Delis hanya duduk di sana tanpa bergerak, hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Dengan dingin dia berjalan menuju Delis. Berdiri di depannya dan menatapnya dengan tajam. “Kamu masih begitu muda, kenapa tindakanmu begitu kejam?” Delis tidak menjawab. Melihat tatapan tajam pria tua itu, dengan ekspresi wajah yang tanpa ekspresi dan tatapan yang begitu dingin, Delis merasa sangat sesak. Bibir Delis gemetar, dia bertanya, “Seburuk itukah aku dimatamu?” “Aku melihatnya sendiri,” ujar Kelven dengan dingin. Delis tertawa dingin, dia berhadapan dengan Kelven dengan tidak puas. “Apa yang sudah kamu lihat? Apa kamu melihatku mendorongnya?” “Kamu masih mau mencari alasan?” “Aku nggak mendorongnya. Aku hanya memegang sapu, aku mencoba mengusirnya, tapi aku nggak menyentuhnya.” “Delis.” Kelven dengan tegas memarahinya, “Meskipun kamu tidak menyentuhnya, dia jatuh dari tangga karenamu. Luka diwajahnya juga karenamu, ‘kan?” “ … “ Delis tahu bahwa di hadapan pria ini, dirinya selalu berada dalam posisi yang lemah. Semua perkataan Kelven itu mutlak. Delis tidak ingin berdebat lebih lanjut, juga tidak menyangkal fakta bahwa dia yang memukul Herli. “Benar, aku memukul wajahnya.” "Kenapa kamu bisa menjadi begitu semena-mena?" Dengan marah, Kelven berkata, “Kalau kamu begitu nggak patuh, aku rasa perceraian kita … “ Kelven ingin mengatakan bahwa segera bercerai. Namun belum selesai dia berbicara, die melihat mata Delis yang dipenuhi air mata. Detik berikutnya, air matanya turun dari pipinya. Butiran air mata yang bersih dan jernih, seketika menusuk hati Kelven. Kelven mengernyit, tidak tega untuk mengucapkan kata-kata kasar yang lebih lanjut. Dekus menundukkan kepalanya, perasaan pedih di dadanya membuatnya sulit untuk bernapas. “Kamu mau bercerai denganku?” Delis bertanya dengan terbata-bata. Meskipun tak senang, melihat wajahnya yang begitu menyedihkan, Kelven juga tak tega membiarkan Delis pergi sendirian. Kelven mendekat dan memeluknya. “Sudah, jangan menangis.” “Aku nggak menangis. Kamu bisa melakukan apa yang kamu mau. Aku akan patuh, nurut padamu.” Delis berusaha untuk tidak menangis, mencoba untuk tetap kuat. Namun, air matanya tidak bisa dihentikan. Hatinya sangat sakit, dia tidak bisa menahannya. Kelven merasakan tubuh kecilnya bergetar. Seharusnya Kelven memarahinya, tetapi saat ini, dia hanya menghiburnya, “Delis, sudah jangan menangis. Aku bahkan belum melakukan apapun padamu.” “Huhuhu … kalau begitu, apa yang mau kamu lakukan? Kalau mau cerai, cerai saja. Aku bisa kembali ke mana aku berasal.” Delis juga cukup berpendirian. Bagaimanapun, dirinya sudah berusaha dan berjuang untuk pernikahan ini. Jika benar-benar tidak bisa mempertahankannya, dia juga tidak punya pilihan. “Siapa yang menyuruhmu pergi? Tanpa izinku, kamu nggak boleh pergi ke mana pun.” Kelven membungkuk dan mengambil tisu dari meja, dengan lembut mengusap air mata di pipi Delis. Entah kenapa, ketika wanita kecil ini menangis, hati Kelven merasa sangat tidak nyaman. Delis menghisap hidungnya, berhenti menangis. Namun, dalam hatinya masih merasa sangat sedih. Dia menatap Kelven dan berkata, “Aku benar-benar nggak mendorongnya.” Kelven duduk di sebelahnya dan berkata dengan serius, “Sekarang bukan masalah apakah kamu mendorongnya atau nggak. Dia terluka di sini, kita harus bertanggung jawab.” Kelven melihat wanita kecil di sebelahnya dan melanjutkan, “Keadaannya sangat tidak baik. Aku akan sering pergi ke rumah sakit untuk menjaganya beberapa hari ini.” Delis menunduk dan tidak menjawab. Kelven mengangkat tangannya dan mengusap lembut kepalanya. Suaranya menjadi lembut, “Delis, kamu harus patuh, jangan membuatku sulit lagi, ya?” “Bukankah aku selalu sangat nurut padamu? Tapi aku benar-benar nggak bisa menerima keberadaan Herli.” “Tapi sekarang dia terluka di sini, kita harus bertanggung jawab padanya.” “Bisakah kamu berjanji padaku, setelah dia sembuh, kamu tidak akan berhubungan dengannya lagi?” Kelven juga tak tahu kapan Herli akan sembuh. Dia hanya bisa menyetujui sementara permintaan orang di sampingnya. “Hm.” Delis melihat Kelven menyetujuinya. Seperti kebiasaannya, Delis merangkak ke tubuh Kelven. Kelven juga seperti biasa, menggendongnya. Tidak jauh dari sana, Bibi Siti mengingatkan, “Pak Kelven, Nona Delis sudah waktunya makan.” Delis menepuk punggung Delis dengan lembut. Lalu dengan lembut berkata, “Ayo turun, pergi makan dulu.” Delis menolak dengan manja, “Nggak mau, nggak bisa makan.” “Hei.” “Kamu gendong aku ke sana.” Kelven tak berdaya, hanya bisa menggendongnya pergi ke meja makan. Bahkan sudah sampai di meja makan, Delis masih tak mau turun dari tubuh pria itu. Delis selalu merasa ada daya tarik dari tubuh Kelven, begitu dirinya mendekat, sudah tak rela meninggalkannya. Kelven pasrah dan akhirnya membiarkannya duduk di pangkuannya. Sambil makan, sambil menyuapnya. Dengan kedua matanya yang bengkak merah, wajahnya tampak begitu menyedihkan, menambah sentuhan kelucuan di wajahnya yang membuat orang tersentuh. Kelven selalu membiarkannya melakukan apapun yang dia mau dan selalu memanjakannya. “Sudah umur berapa kamu?” Sambil menyuapnya, Kelven tersenyum dan bertanya. Wajah Delis memerah dan dengan pipi yang bulat mengembung, dia diam tanpa berbicara. Kelven melanjutkan, “Anak kecil saja nggak selengket ini.” Delis menundukkan kepalanya, kepedihan di hatinya perlahan-lahan menghilang, digantikan dengan kehangatan. Bab 10 Setelah makan malam, Kelven mengganti pakaiannya dan bersiap pergi ke rumah sakit. Delis mengikutinya di belakang, lalu dengan suara pelan berkata, “Kelven, bolehkah aku ikut denganmu? Tenang saja, aku nggak bakal masuk ke ruangan, aku hanya menunggu di depan pintu saja.” Delis penasaran, ingin meihat seberapa parah luka wanita itu. Rasakan itu, salah dia sendiri. Kelven berbalik dan menatap wanita di depannya, dengan suara rendah dia menjawab, “Aku mungkin nggak pulang malam ini. Kamu pergi juga nggak ada gunanya. Istirahat saja di rumah.” “Kamu mau menemaninya semalaman?” “ … “ Kelven tidak menjawab, tetapi tatapan matanya yang tajam ke arah Delis sudah menjelaskan semuanya. Tiba-tiba Delis merasa hatinya terasa perih. Namun, Delis tak lagi membuat keributan. Setelah melihat Kelven pergi, dia duduk sendirian di sofa ruang tamu yang sepi, perasaannya terasa berat seperti ditimpa batu yang besar. Di rumah sakit. Ketika Kelven datang, Herli sudah bangun. Herli sedang duduk di tempat tidur dan memarahi perawat di sampingnya. “Kalian pergi, bantu aku nyalakan lampunya. Kenapa aku nggak bisa lihat apa-apa? Kenapa?” Beberapa perawat terpaksa menghindar ketika melihat Herli melemparkan benda ke arah mereka. Melihat seseorang masuk, para perawat langsung menyapa, “Pak Kelven, akhirnya kamu datang juga. Nona Herli sangat emosional dan nggak mau kami mendekat. Kami nggak bisa mengganti obatnya.” Kelven melangkah masuk ke dalam ruangan. Merasa ada seseorang yang mendekatinya, Herli berteriak lagi, “Pergi, semuanya pergi. Siapa yang bisa menjelaskan padaku mengapa aku nggak bisa melihat? Mengapa?” Dia mengira jika terguling dari tangga, paling tidak hanya kehilangan kaki atau tangan. Namun, dengan begitu, dia bisa menyalahkan Kelven seumur hidup, memastikan bahwa Kelven bisa menemaninya setiap saat. Yang tidak Herli duga adalah bahwa setelah jatuh, tidak ada sesuatu yang terjadi pada kakinya, hanya patah tulang saja. Namun, matanya menjadi buta. Jika dirinya kehilangan penglihatan, bagaimana bisa dia berebut dengan Delis. Jika dirinya kehilangan penghilangan, bagaimana dia bisa mencari Kelven dan menuntut pertanggungjawaban darinya? Saat ini, Herli sangat menyesal. Dia menyesal telah menggunakan cara yang ekstrim untuk mencelakai orang lain. Sekarang, orang lain malah baik-baik saja, sementara dirinya mendapatkan pembalasan yang pantas. “Herli … “ Terdengar suara rendah seorang pria. Herli menyadarinya. Dia langsung mengangkat tangannya dan meraba-raba, lalu dengan penuh semangat dia berteriak, “Kelven? Kelven ya?” “Iya aku.” Kelven mendekatinya. Setelah Herli menyentuh Kelven, dengan panik dia langsung memeluk erat Kelven sambil menangis, seraya berkata, “Kelven, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku nggak bisa melihat apapun?” Kelven tidak menghindar, suaranya tetap rendah, “Dokter bilang kamu buta, tapi itu nggak permanen, bisa sembuh.” “Apa?” Herli tiba-tiba kehilangan kendali lagi. Dia memeluk Kelven dengan lebih erat, menangis dengan lebih keras, mencoba membuat dirinya lebih kasihan. “Kelven, bantu aku. Aku nggak mau setelah kehilangan hak menjadi ibu, sekarang bahkan nggak bisa melihat wajahmu lagi.” “Kelven, kamu harus membantuku. Tadinya aku hanya mau berbicara dengan baik dengan Delis, hidup dengan damai.” “Aku nggak menyangka dia akan marah sampai mendorongku dari tangga.” “Kelven, sepuluh tahun yang lalu kamu menabrakku, aku nggak menyalahkanmu. Tapi sekarang aku buta, ini semua karena Delis. Kami harus membantuku.” Herli memeluk pinggang Kelven erat-erat dan menangis histeris. Kelven berdiri tegak di samping tempat tidur, wajahnya tanpa ekspresi. Kelven mengangkat tangannya dan melepaskan tangan Herli yang memeluk pinggannya. Mencoba menenangkannya, sambil mengatakan, “Aku pasti akan membantumu. Sekarang tenangkan dirimu dan istirahat dengan baik. Dokter bilang ini nggak permanen, bisa sembuh.” “Tapi sekarang aku nggak bisa melihat apa-apa, aku sangat takut. Kelven, jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku sendiri.” “Iya, aku menemanimu.” Kelven menyadari tanggung jawabnya. Sekarang dia duduk di sebelah Herli, bersedia menghabiskan waktu untuk menemaninya.. Herli bersandar di dalam pelukan pria itu, tangisannya perlahan mereda, tapi dalam hatinya ada sedikit perasaan puas. Sebenarnya, kehilangan penglihatan juga bagus, dia tetap bisa mempertahankan pria ini. Herli percaya bahwa setelah banyak menghabiskan waktu bersama Kelven, Kelven akan jatuh cinta padanya. … Vila Keluarga Rosli. Delis tidak bisa tidur semalaman. Pada akhirnya, jam tiga subuh, Delis memanggil taksi untuk mengantarnya ke rumah sakit. Setelah tiba di rumah sakit, hanya dengan bertanya sebentar, dengan mudah dia mengetahui ruangan Herli. Dengan langkah hati-hati, dia mendekati pintu ruangan. Melihat cahaya menyala di dalam, Delis perlahan membuka pintu dan masuk. Melewati lorong, Delis menoleh dan melihat di sofa dekat jendela, seorang pria yang terus dia pikirkan sedang duduk. Kelven masih sibuk bekerja dengan laptop di pangkuannya. Sementara di tempat tidur, Herli tampaknya tertidur. Merasa ada yang masuk, Kelven mengangkat kepalanya. Ketika melihat Delis yang masuk, dia mengernyit, menutup laptop dan berdiri berjalan menuju ke arahnya. Belum sempat Delis berbicara, pria itu sudah mendorongnya keluar dari ruangan. Berdiri di lorong, pria itu dengan ekspresi agak tidak senang bertanya, “Ini sudah larut malam, untuk apa kamu datang ke sini?” Delis mengerucutkan bibirnya, menjawab dengan wajah penuh kasihan, “Aku merindukanmu sampai nggak bisa tidur, jadi aku datang melihatmu. Kelven, kenapa kamu terus menjaganya? Di mana keluarganya?” “Keluarganya di luar negeri. Dia mungkin harus dirawat inap selama satu dua bulan, karena kehilangan penglihatan. Aku harus menemaninya selama satu dua bulan ini.” Kelven sudah mengatakannya dengan gadis kecil ini, agak dia tak membuat masalah. Mengapa malah datang tengah malam seperti ini? Seketika Delis merasa sangat tidak senang. “Jadi, selama dua bulan ini, kamu nggak akan pulang dan tidur di rumah?” “Lihat kondisi.” Kelven mengangkat tangannya untuk melihat jam tangan, sudah hampir jam empat pagi. Dia menatap wanita di depannya. “Kamu datang sendiri?” “Iya.” “Kenapa nggak panggil sopir untuk mengantarmu. Anak gadis keluar sendirian tengah malam sangat bahaya.” Delis merasa hangat di hatinya, dia memeluk pria itu dan menatapnya dengan tatapan penuh harapan, “Kamu juga peduli denganku, ‘kan?” Kelven tidak menjawab dan mendorong Delis menjauh. “Aku minta Mudi untuk mengantarmu pulang.” Usai bicara, Kelven mengeluarkan ponsel untuk menelepon. Delis langsung memeluk tangannya dan menggelengkan kepala. “Aku hanya terlalu merindukanmu sampai nggak bisa tidur. Biarkan aku memelukmu sebentar, setelah itu aku akan naik taksi untuk pulang. Nggak perlu repot-repot panggil asistenmu.” Delis dengan hati-hati mengambil ponsel dari tangannya, berjinjit dan dua tangan kecilnya mencoba mengaitkan lehernya. Kelven berpikir bahwa Herli sudah tertidur dan tidak akan bangun dalam waktu singkat. Tanpa ragu, Kelven menggendong Delis, menggantungkannya di pinggangnya dan menuju ke arah lift. Sambil berjalan, tak lupa Kelven memberikan sedikit nasihat, “Kamu nggak boleh keluar rumah begitu larut ke depannya.” “Iya, aku tahu.” Delis sangat patuh, bersandar di Pundak pria itu. Dengan serakah menikmati rasa aman yang tak tergantikan yang diberikan oleh Kelven. “Harus patuh, jangan datang ke rumah sakit tanpa izinku.” “Iya~” “Nanti kalau Herli sudah pulih, aku akan menyisihkan waktu untuk membawamu liburan.” Sebagai ganti rugi dari Kelven karena ingin bercerai. Delis menjawab dengan patuh, “Iya, semua ikut denganmu” “Hm.” Kelven memeluk tubuh kecil dan harum Delis, menghentikan taksi di pinggir jalan dan mengantarnya pulang sendiri.