Suami Dadakan Ku Ternyata Bos

Đang tải thông tin quảng bá...

Suami Dadakan Ku Ternyata Bos

GoodNovel Hoàn thành
ManisProtektifCinta sejatiCinta pertama

Gagal menikah, membuat Erina sekali lagi terpuruk. Bukan karena malu, tapi jika dia tidak menikah dalam seminggu ini, maka dia harus menikah dengan pria yang sudah memiliki beberapa istri. Seorang ...

Chương (1)

第1章

Bab 1. Siapa Dia? Dia yang baru saja datang bahkan belum sempat duduk itu menatap Agam dengan tanda tanya. Pria itu melepas cincin pertunangan mereka dan meletakkan begitu saja di hadapannya. "Kamu pikir, aku akan menikahimu pelacur! Aku benar benar jijik padamu!" Agam berteriak keras hingga menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di Restoran itu. "Apa maksudmu?" Erina masih belum mengerti maksud Alya, menoleh kepada Zaskia, Mita dan Meka yang juga berada satu meja dengan mereka. "Selama ini aku tertipu oleh penampilan polos mu. Ternyata kau hanya menginginkan uangku saja kan? Kau bahkan rela melayani pria tua bangka hanya demi uang!" Agam merogoh Ponsel dan mengulik sebentar. Lalu menyodorkan dengan kasar di hadapan wajah Erina. "Lihat apa yang sudah kamu lakukan Erina! Kamu tidak lebih dari seorang pelacur murahan! Kamu kira aku tidak tau hah! Kamu pikir aku bodoh!" Agam menggenggam rambut Erina dan menundukkan kepala gadis itu agar mencermati beberapa Foto di dalam Ponselnya. Bagai disambar petir, mata Erina membelalak, lidahnya pun menjadi kelu. "Bagaimana mungkin kamu mendapatkan ini semua?" Erina mendongak. "Tuhan sudah menunjukan wajah aslimu Erina!" Mata Agam sudah menyalang. Erina menggeleng kepalanya. "Tidak Gam. Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Kau harus percaya padaku." Erina berusaha untuk menjelaskan. Tapi Agam sepertinya sudah tidak ingin peduli. Erina merasa putus asa dan kini beralih kepada dua teman wanitanya. "Zaskia, Alya, Kalian tau yang sebenarnya. Kumohon bantu aku menjelaskan kepada Agam." "Justru karena mereka tau , aku jadi tau yang sebenarnya!" Balas Agam dengan seringai yang begitu sinis. "Jadi kalian yang memberitahu ini pada Agam?" Erina mencoba bertanya kepada kedua teman wanitanya yang sejak berada disini tadi diam tak bersuara dan hanya menatapnya dengan tatapan dingin. "Maafkan kami Erina. Walau bagaimanapun juga, Agam adalah teman kami juga. Mana mungkin kami mau bersekongkol denganmu untuk mencuranginya." Jawaban salah satu dari mereka begitu membuat Erina tercengang. "Sekongkol? Jangan memperkeruh keadaan Zaskia. Kamu tau kalau ini bukan kesalahanku!" Protes Erina. "Lalu salah siapa? Kamu ingin menyalahkan mereka? Kamu yang pelacur Erina!" Agam kembali mengumpat Erina. "Gam. Dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan. Ini tidak seperti yang kalian tuduhkan." Iba Erina, dia masih berusaha untuk mempertahankan hubungannya dengan pria yang sudah melamarnya itu. "Cukup! Semua sudah cukup! Tidak perlu ada yang dijelaskan lagi. Mulai detik ini memutuskan pertunangan kita. Aku, tidak akan pernah menikahimu!" Ucap Agam dengan begitu lantang. Bahkan semua orang yang memang sedari telah memperhatikan mereka ikut terkejut. "Mana bisa seperti itu Gam. Kita akan menikah seminggu lagi. Undangan kita sudah disebar. Bagaimana dengan nasibku? Ku mohon jangan lakukan itu padaku." Air mata Erina sudah luruh tak terbendung, dia meraih lengan Agam dan memegangnya begitu erat. "Ini adalah kesalahanmu. Tanggung sendiri!" Agam menarik tangannya lalu menendang kursi kemudian bergegas pergi begitu saja. Sebelumnya dia menoleh dan berkata begitu dingin. "Jangan sekali kali kamu mendatangiku Erina. Aku tidak akan sudi melihatmu lagi!" Ketiga temannya mengikuti pergerakan kaki Agam yang meninggalkan Erina seorang diri dengan meninggalkan umpatan kasar. "Hancurlah dirimu sekarang Erina! Bermimpi lah untuk menjadi istri seorang Agam!" "Pelacur murahan!" Erina terduduk lemas di kursi. Sesenggukan menahan kehancuran hatinya. Dia tidak pernah menyangka, kejadian beberapa Minggu yang lalu, yang ia simpan rapat rapat itu bisa diketahui oleh Agam dan menghancurkan harapannya dengan sekejap saja. Zaskia dan Alya, hanya mereka berdua yang melihat kejadian itu. Tapi mereka sudah berjanji untuk tidak memberitahu kepada siapapun. Kenapa mereka begitu tega? Erina menangis tersedu tanpa peduli semua orang menatapnya dengan tanda tanya. Sebagian memandangnya dengan tatapan Kasihan, namun lebih banyak yang menatap jijik. Sampai lama Erina menangis disitu, sampai dia merasa lelah. Sambil sesenggukan, ia mencoba untuk tegar. Lalu berdiri setelah meraih cincin di atas meja di hadapannya itu. "Nona. Anda hendak kemana?" Tanya Manager Restoran. "Memang kenapa?" Erina balik bertanya. "Makanan ini bagaimana? Siapa yang harus membayar?" Erina menoleh, menatap beberapa makanan dan minuman yang ada di atas meja. Bekasnya sudah dimakan. Erina menatap kebingungan. "Tapi saya tidak memesan." "Teman teman anda tadi yang memesan dan mereka mengatakan jika anda yang akan membayar." Erina menutup mulutnya. Detak jantung yang tadi mulai berangsur membaik kita terpompa lagi. Ini adalah restoran mewah. Mana bisa ia membayar? Erina berusaha untuk tenang. "Berapa semuanya?" Erina mencoba bertanya, siapa tau saja uang yang ia miliki cukup, meskipun dia sudah yakin jika itu tidak mungkin. Karena dia sudah beberapa kali makan disini bersama Agam dan tau bagaimana tarif makanan restoran ini. "Semuanya Sepuluh juta." Erina terbelalak. "Sepuluh juta?" Mana Erina mempunyai uang sebanyak itu, mungkin hanya ada beberapa lembar uang berwarna biru saja di dalam tasnya. "Tuan, bisakah aku membayar dengan kartu kredit?" Erina mencoba mencari jalan keluar. " Maaf Nona tapi restoran kami tidak menerima kartu kredit." Sekali Lagi Erina kebingungan. Apa yang harus ia lakukan. Benar benar malang nasibnya hari ini. Lalu ia melirik cincin yang ada di genggamannya. "Bagaimana jika aku membayar dengan cincin ini?" Lalu melepas satu cincin lagi dari jari manisnya dan memberikan dua cincin itu kepada Manager. Manager Restoran itu meneliti. "Cincin ini hanya lah imitasi. Bagaimana mungkin Nona hendak membohongiku?" Lalu mengembalikan cincin itu kepada Erina. Erina sungguh tercengang. Apa benar yang dikatakan Manager ini? " Jika anda tidak bisa mengeluarkan uang cash sekarang juga, maka aku akan menahan Nona." Erina benar benar dibuat kebingungan sekarang. "Tuan, ku mohon. Aku berjanji akan segera membayarnya. Tolong jangan menahan ku. Aku harus bekerja atau aku akan kehilangan pekerjaan ku." Iba Erina. "Maaf Nona. Kami tidak bisa menolong. Ini sudah menjadi peraturan Restoran ini. Jika ada pelanggan yang tidak membayar, maka kami akan menahannya hingga anda bisa membayarnya! Anda bisa menghubungi orang tua atau saudara anda." "Tapi Tuan." "Maaf Nona." Manager itu sudah menarik kasar lengan Erina. "Lepaskan dia! Aku yang akan membayar!" Suara itu dari sudut sana. Baik Erina maupun Manager itu sama sama menoleh. Pria bertubuh tegap dan tinggi kekar itu menatap datar ke arah Mereka sambil mendekati. Terlihat merogoh saku di balik jaketnya dan mengeluarkan uang. Manager Restoran itu melepaskan lengan Erina untuk menerima. "Terimakasih Tuan." Ucap Manager itu langsung pergi. Erina terpaku menatap wajah asing yang tidak ia kenal itu. Pria itu tidak menatapnya. Tapi Erina bisa melihat, Pria itu sangat tampan. "Terimakasih sudah menolongku." Pria itu tidak menjawab, hanya mengangguk dan merogoh sebuah kertas beserta pena. Dia nampak mencatat sesuatu. Erina sudah bisa menebak apa yang akan ditulis oleh pria itu. Selesai menulis, pria itu memberikan kertas itu pada Erina. Erina tercengang, dia mengira Pria itu akan menulis nomor rekening, tapi Ini adalah Nomor Handphone. "Baik Tuan. Aku akan menghubungimu ketika aku sudah memiliki uang untuk mengembalikan uangmu tadi." Ucap Erina. Pria itu hanya mengangguk dan berlalu. Erina hanya bisa menatap punggung Pria yang melangkah lebar itu dengan tanda tanya besar. "Siapa dia?" Tatapannya begitu dingin dan penuh aura. Seolah acuh tak acuh dengan keadaan sekeliling. Hal ini membuat Erina semakin tidak mengerti, kenapa orang seperti itu berinisiatif untuk membantunya? Padahal jelas jelas, semua orang disini sedang menatap jijik ke arah Erina. Bab 2. Masa Cuti yang sia-sia. Erina sudah berada di dalam taksi yang melaju. Pikirannya belum berhenti. Matanya masih sesekali mengeluarkan air mata. Dia tidak lagi memikirkan Pria yang sudah memberinya uang Sepuluh juta tadi. Tapi Erina sedang memikirkan nasib dirinya kedepannya nanti. Bagaimana dia harus menghadapi ini semua? Agam sudah memutuskan pertunangan mereka. Lebih kejamnya, telah membatalkan pernikahan yang akan berlangsung satu Minggu lagi. Ini bukan masalah malu. Erina tidak peduli jika dicibir keluarga atau teman temannya karena gagal menikah. Tapi Ibunya, dia harus menerima perjodohan dengan pria yang sudah memiliki beberapa istri jika dia tidak menikah dalam satu Minggu ini. Erina menarik nafas berat. Menuruni taksi saat sudah berada di depan Rumah kontrakannya. Dia melangkah setengah malas. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur setelah sampai di dalam kamar. Matanya menerawang jauh, seolah menembus Plafon. Bagaimana mungkin dia harus kehilangan Pria yang dia cintai lagi? Setelah dulu dia pernah kehilangan cinta pertamanya. Agam telah menjadi tenaga baginya, kekuatan saat dulu dia pernah terpuruk dan lemah. Tapi sekarang, kembali lagi Erina terpuruk. Ditinggal oleh sang kekasih yang dia percaya. Lebih parahnya, pernikahan mereka tinggal menghitung hari. "Rafael. Kenapa kau pergi, hanya karena tak mempercayaiku. Aku bukan wanita murahan!" Tiba tiba Erina berteriak. Lalu sekarang Agam. Benarkah dia murahan? Erina kembali menangis tersedu-sedu. Dia berpikir jika mungkin nasibnya sangat malang. Rafael adalah cinta pertamanya, saat dia duduk di bangku SMA. Lalu kejadian yang memalukan, saat tiba tiba dia terbangun di kamar kakaknya dan beredar Foto mesranya bersama Suami kakaknya. Sejak saat itu Rafael menghilang tanpa jejak. Saat dia terpuruk dan butuh seseorang, Agam datang membawa secercah harapan. Kembali membuat Erina bangkit. Agam selalu bersifat manis padanya. Tapi akhirnya, saat Erina kembali mengalami kesulitan. Beberapa Minggu yang lalu, adiknya meminta bantuannya untuk mengantar pesanan ke Sebuah Apartemen. Erina adalah seorang Reporter salah satu Stasiun Televisi Swasta. Dia sangat sibuk dengan waktunya, tapi tetap menyisihkan waktu demi sang adik yang padahal sama sekali tidak memiliki kasih sayang padanya. Tapi setelah mengetuk pintu Apartemen, Erina tidak lagi mengingat apapun. Dia tersadar dengan posisi tidur terlentang bersama pria tua di sampingnya dengan beberapa gepok uang di atas tubuhnya. Erina ketakutan dan langsung bangun hendak Keluar. Zaskia dan Alya yang merupakan teman Agam sudah berdiri di ambang pintu. "Aku tidak tau apa yang terjadi. Tolong aku." Erina menangis. Zaskia Memberi pelukan hangat, Sementara Alya menepuk nepuk punggung Erina. "Sudah sudah. Tidak ada yang melihat." "Aku tidak mengerti yang terjadi." Erina kembali mengulangi perkataannya. "Iya kami mengerti." Mereka membawa Erina keluar, sebelum Pria tua di dalam itu terbangun. Erina mempercayai mereka tanpa berpikir kenapa mereka ada di Apartemen ini juga. Dan melupakan kejadian yang memang dia tidak pahami itu. Erina bangkit dan menuju kamar mandi. Namun deringan Ponselnya yang begitu kuat membuatnya menahan langkah. Erina berbalik dan meriah Ponsel. "Ada apa?" Setelah mengangkat panggilan dari Oca. "Erin. Kamu harus ke kantor hari ini." "Aku tidak bisa. Aku, aku sedang tidak enak badan." "Baiklah. Kami yang akan ke sana." "Jangan!" Belum selesai mencegah, Panggilan sudah dimatikan. Erina menunduk,menghela nafas berat. Dia sudah mengambil cuti dua Mingguan. Ia ingin menggunakan masa cuti ini untuk mempersiapkan diri menyambut hari pernikahannya. Tapi kenapa mereka menghubungi untuk urusan pekerjaan? "Bukankah pernikahanku gagal? Jadi, cuti itu tidak perlu lagi." Erina mendengus, melanjutkan langkahnya ke kamar mandi setelah menaruh ponselnya. Sore menjelang malam, Oca benar benar datang bersama Melda. Kedua sahabat wanita sekaligus teman sesama kerjanya itu duduk di atas kasur Erina tepat di hadapannya. Oca menatap Erina penuh tanda tanya. Sementara Melda menggenggam erat kedua tangan Erina. "Kami sudah mendengar kabar." Ucap Oca. Erina menelan ludah, tanpa menatap mereka berdua. "Kamu yang sabar. Mungkin Agam, bukan laki laki yang tepat untukmu." Melda menepuk nepuk punggung telapak tangan Erina. Erina menarik bibirnya dengan tipis. "Aku tidak apa apa. Tapi bagaimana kalian bisa tau?" "Kamu tidak tau ya? Di sosmed beredar kabar jika Agam telah membatalkan hari pernikahannya denganmu.Tepatnya di beranda pribadi Zaskia. Bahkan, aku di tag." Sahut Melda. Erina menggeleng. Tidak seharusnya mereka sampai seperti itu. Erina kembali resah. Lagi lagi, bukan masalah malu. Tapi jika Ibu sampai mengetahui ini? Tamatlah riwayatnya. "Tidak usah dipikirkan. Aku baik baik saja." Jawab Erina, walau hatinya terasa pedih teriris. "Hem Baiklah. Lupakan yang tidak perlu diperjuangkan. Kita kembali pada pekerjaan saja. Bukankah itu sangat mengasikkan?" Melda mencoba menghibur. "Ya kamu benar." Sahut Erina, masih dengan suara malas. "Hei.. Erina. Semangat lah. Aku tahu kamu hanya korban disini. Karena kami percaya kamu seratus persen. Tidak seperti Teman teman Agam itu! Mungkin mereka yang menjebak mu!" Oca tiba tiba berkata seperti itu, membuat Erina mendongak dan otaknya berputar. "Menjebak?" "Ku pikir seperti itu. Karena aku tidak percaya dengan apa yang mereka katakan mengenai dirimu di status mereka. Aku tidak percaya. Karena aku jauh mengenalmu Erin!" Saat itu, Zaskia dan Meka berada disana tanpa Alasan. Erina sendiri tidak sempat bertanya kepada mereka, kenapa mereka disana dan mau kemana. Kepala Erina terasa pusing. Benarkah Mereka menjebak Erina? Sengaja ingin membuat hubungannya dengan Agam berakhir? Lalu untuk apa? Yang menyuruh dia pergi kesana adalah Alika. Lalu apa hubungan Alika dengan Zaskia dan Alya? Untuk sekarang, urusan ini sudah tidak penting lagi. Erina sedang sibuk mencari jalan keluar agar Ibu yang kemungkinan sudah mendengar kabar batalnya pernikahan dirinya, tidak akan menuntutnya. "Apa kalian kesini hanya untuk kabar itu?" Erina bertanya kepada Oca dan Melda. "Tentu saja tidak!" Jawab Melda. "Kamu perlu mendengar kabar baik ini. Minggu depan, Bos memberi tugas baru untuk kita. Ah, apa kamu tau Erin? Tugas ini sangat mengasyikkan!" Melda menarik kedua pipi Gembul Erina. "Apa itu?" Jawab Erina dengan sangat malas. "Kita ditunjuk untuk mewawancarai Presdir Galaxy Group yang terkenal misterius itu!" "Hem. Apanya yang mengasyikkan?" "Menurut kabar, dia masih sangat muda dan sangat Tampan. Aku sangat penasaran. Dan Stasiun kita adalah satu satunya Stasiun yang diizinkan untuk mengadakan Wawancara dengannya. Apa itu bukan suatu keberuntungan?" "Tapi aku Malas. Lagian, ini masih masa cuti ku!" Bantah Erina. Dia sama sekali tidak tertarik dengan wujud Presdir Galaxy Group yang saat ini sedang Trending dibicarakan oleh seluruh media. Keberadaannya sangat dirahasiakan dari publik. Ini sangat membuat penasaran seluruh dunia. "Tidak ada gunanya lagi kamu mengambil cuti! Untuk apa? Untuk meratapi Agam sialan itu?" Oca menahan lengan Erina yang ingin beranjak. Melda pun sama. "Ayolah Erin! Kau Reporter unggulan Perusahaan! Mana Erina yang Tangguh?" Erina sejenak terdiam, kemudian menoleh kepada kedua temannya. "Kamu benar. Masa cuti ku ini sungguh sia sia. Baiklah. Aku akan pergi." Kedua temannya tertawa senang mendengarnya. "Kita akan pergi, bertemu dengan Presdir Galaxy Group yang sangat tampan!" Oca dan Melda melonjak girang. Bab 3. Aku Calon Suaminya. "Tuan Fic. Apa kau tidak salah?" Jefri sedikit terbelalak, saat mengangkat sebuah kartu nama yang baru saja dilempar di atas meja. "Aku ingin kau menyelidiki wanita itu lebih jauh. Siapa dia. Hem. Bukan kau, tapi kita." Jefri mengangguk, sedikit merasa heran tapi tidak berani bertanya lebih lanjut. Sepanjang hidupnya, yang ia tau, Presdir Fico Albarez tidak pernah peduli dengan wanita. Tanpa menoleh, Fico Albarez berbicara. "Aku pernah melihatnya tanpa sengaja. Setelah itu, hati ku selalu berontak, untuk mengetahui latar belakang wanita itu." Jefri langsung mengerti, dan segera mengangguk. Ini adalah kejadian beberapa hari yang lalu, sebelum Erina memasuki Restoran mahal menemui Agam. Pada hari itu, Fico Albarez yang sudah meminjamkan uang sepuluh juta kepada Erina. Pagi ini Erina sudah berada di kantor. Beberapa rekan menatapnya dengan sedikit asing. Lalu terdengar berbisik bisik. "Dia gagal menikah." "Kasihan Sekali." Mungkin mereka sudah mendengar kabar buruk tentang Erina. Erina tidak ingin peduli, terus melangkah menuju ruangan kerjanya. Disana Oca dan Melda sudah menyambut dengan ceria. Oca menarik tangan Erina, Melda menarik kursi. "Senang sekali, si tengil akhirnya bangun dari mimpi buruknya." "Sialan!" Hanya itu jawaban dari mulut Erina. "Erina Clarissa Handoyo." Bos memanggil Erina. Belum sempat dia berdiri, Bos sudah menghampiri, melempar sebuah map ke atas meja tepat di hadapannya. Lalu menarik kursi dan duduk dihadapan Erina. "Aku tau kau sedang gundah gulana. Tapi kau adalah Reporter andalan stasiun kita. Jadi, ku harap kau bisa profesional." Erina menarik nafas berat, sambil membuka map. "Aku tidak bisa berjanji untuk kali ini." Bos tertawa. "Itu akibat Kau tidak percaya padaku! Tunangan mu itu adalah pria brengsek! Haha. Salahmu sendiri!" "Bos. Jangan membicarakan itu." Bisik Oca. "Eh, iya." Bos menutup mulutnya. "Ah, baiklah Erina. Tidak ada penolakan. Atau karirmu akan berakhir." Bos melotot untuk memberi sedikit ancaman Erina. "Tapi aku takut tidak fokus." "Hahaha.." bos kembali tertawa menoleh pada Oca dan Melda. "Kalian dengar? Wanita tengil yang biasa kuat ini sok lemah hanya gara gara cinta buta!" "Jangan begitu Bos. Kau tidak pernah merasakan putus cinta sih. Itu sangat menyakitkan!" Protes Melda. Bos melotot. "Kau mau menghinaku? Mentang mentang aku jomblo?" "Hehe. Itu memang kenyataan. Kalau jomblo, mana bisa tau sakitnya putus cinta." Celetuk Oca. "Kau ini!" Bos memukul ringan kepala Oca. Erina terkikik kecil, mereka benar-benar menghiburnya. Tidak sia sia, pagi ini dia pergi ke Kantor. "Ah.. Baiklah. Maafkan aku Erina. Lalu bagaimana? Kau bisa pergi?" Tanya Bos. "Kenapa tidak yang lain saja? Yang lain, pasti menunggu kesempatan ini." "Kau gila ya? Hanya kau yang diinginkan Galaxy Group. Kau mau membuat Stasiun Televisi kita ini bangkrut? Dengan mengirim orang lain selain yang mereka tunjuk? Galaxy Group mempunyai kekuasaan dan kekuatan penuh di bumi yang kita injak ini. Dengan mudahnya, mereka bisa menggulingkan Perusahaan kita ini kalau tidak tepat janji!" Erina membelalak, "Kenapa aku yang ditunjuk? Apa alasannya?" "Haha.. Karena kau adalah Reporter terhandal Stasiun kita. Sudahlah. Mereka tidak mau diganti, atau acara akan dibatalkan! Kita akan merugi Erina.. Ayolah. Lakukan sesuatu untuk mengangkat lebih tinggi kejayaan Stasiun kita ini." Bos merengek seperti anak kecil. Erina akhinya mengangguk. " Baiklah. Aku akan usahakan." "Begitu dong." Bos langsung bernafas lega. "Kau tenang saja, mereka berdua sudah aku siapkan untuk meringankan pekerjaanmu." Bos tertawa lagi. Lalu beranjak pergi. Sepeninggal Bos, Oca dan Melda melonjak girang. "Kita akan bertemu dengan Presdir Galaxy Group! Ya Ampun.. Seperti mimpi!" Melda mencubit pipinya sendiri. "Erin, ini adalah kesempatan emas. Sekian banyak Reporter disini, hanya kita yang diberi kesempatan ini." Oca mengguncang bahu Erina. Erina hanya tersenyum saja. Tidak merasa sebahagia Mereka. "Erin. Kenapa tidak senang? Kau masih memikirkan Agam? Dengan bertemu Presdir Galaxy Group, kau akan sedikit terhibur." Erina masih tersenyum saja. Dalam hati, dia kembali sedih. Bukan Agam yang ia sedihkan tapi, Baru saja Erina melamun, Ponselnya berdering. Nama pemanggil kali ini membuatnya jantungnya berdetak lebih cepat. Dia segera menyisih, untuk mengangkat telepon. "Ibu." "Aku sudah ada di luar kantor mu. Cepat keluar sebelum aku masuk!" Erina langsung menoleh kepada kedua temannya yang menatapnya. "Aku keluar dulu sebentar." Mereka mengangguk. "Sabar ya Erin, pasti akan ada jalan untukmu." Erina tidak menjawab, segera melangkah keluar untuk menemui Ibu. Ibu sudah menunggu di luar gerbang dengan Alika. "Ibu." Belum sempat Erina menyambut tangan ibu, ibu sudah menarik tangannya terlebih dahulu. "Kami menunggumu nanti malam. Jika kau tidak datang ke rumah, maka aku akan menyeretmu dari Kontrakan mu itu!" "Ibu, tapi.." "Tidak ada tapi tapi. Aku sudah tau semuanya. Pernikahan mu gagal bukan? Jadi bagaimana? Kau tidak punya alasan lagi untuk menolak. Atau kau mampu membayar hutang bapakmu hah!" Ibu mengancam. Erina hanya menunduk. Benar saja, dia sudah tidak punya alasan untuk menolak keinginan wanita yang sudah dipanggilnya Ibu itu. "Kita pulang Bu. Biarkan Erina berpikir bagaimana caranya dia untuk membalas Budi kepada keluarga kita." Ucap Alika. Sorot matanya begitu sinis kepada Erina. "Kau dengar itu Erina. Berpikirlah, kau hidup dari siapa dan besar dari mana? Kau itu juga terlalu murahan. Jadi jangan sok jual mahal. Tidak akan ada pria manapun yang mau menikahimu. Seharusnya kau bersyukur, Tuan Danies mau melamarmu!" Ibu menunjuk dada Erina. Lalu melenggang pergi bersama Alika. Erina ingin menangis rasanya. Tapi itu hanya buang energi saja. Apalagi banyak mata yang sedang memperhatikannya. Erina memilih meraih Ponselnya. Mengirim pesan singkat untuk Oca. "Aku pulang. Sampaikan pada Bos!" ___ Sampai malam hari, Erina tidak menuruni kasurnya. Pikirannya sungguh kacau. Membolak-balik tubuhnya. Ketukan pintu terdengar, kembali membuat jantung Erina berdesir. Belum sempat dia beranjak, suara teriakan ibu sudah terdengar nyaring. Dengan hati penuh gelisah, Erina terpaksa turun untuk membukakan pintu. "Dasar Anak tidak tahu diri!" Ibu langsung menarik kasar lengan Erina dibantu oleh Alika. "Ayo ikut!" "Ibu, aku tidak mau!" Erina mempertahankan dirinya. Di ujung sana sudah ada seorang pria menunggu di sisi sebuah Mobil bersama dua Pengawal Pria. Ibu menoleh pada Pria itu dan memanggil. "Tuan Danies. Tolong bantu. Bawa saja dia!" Pria yang dipanggil itu langsung mendekat bersama pengawalnya. Menyeret paksa Erina. "Lepas! Lepaskan aku!" Erina memberontak. "Ibu! Tolong aku. Aku tidak mau ikut dia!" Tapi mereka tidak peduli. Ibu hanya tersenyum senang melihat Erina di seret. Alika pun sama saja. Lalu satu orang membuka pintu belakang mobil. "Lepaskan dia!" Tiba tiba seorang pria dari dalam sebuah mobil berteriak. Semua orang menoleh. Pria itu menuruni mobil bersama seseorang yang lain. "Jangan ganggu dia!" Tiba tiba Pria itu menarik tangan Erina dan membawanya dekat dengannya. "Kau siapa? Berani sekali! Aku ibunya! Jangan ikut campur urusan kami orang asing!" Ibu menunjuk ke arah Pria itu. Dengan wajah datar, pria itu menoleh pada Erina. Tentu Erina masih mengenali pria itu dengan baik. Walau tidak sempat mengenal siapa namanya. "Dia tanggung jawabku sekarang. Karena aku, calon suaminya. Jadi semua urusannya adalah urusanku juga." Semua orang terkejut tak terkecuali Erina. Apa apaan ini? Belum sempat Erina protes, Pria itu sudah kembali berbicara, tapi kali ini pada seorang pria yang datang bersamanya tadi. "Jefri. Bayar semua hutang Ayah Erina." Kembali mereka dibuat terkejut. Belum hilang rasa terkejut mereka, Pria itu kembali berbicara pada pria di sebelahnya. "Bayar dua kali lipat." Jefri segera mengangguk, merogoh cek kosong dan pena dari balik jasnya. Lalu menulis nominal yang bahkan tidak ada yang menyebutkan berapa. Jefri melempar cek itu ke arah Danies yang langsung menangkapnya. Matanya seketika membelalak, seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Nominal itu tertera dengan jelas dua kali lipat dari hutang Ayah Erina. "Jangan pernah mengganggu dia lagi. Karena mulai besok, Erina akan menikah denganku. Kalian paham? Atau kalian akan berurusan denganku." "Ayo masuk!" Pria itu menarik tangan Erina untuk kembali ke kontrakannya. Jefri tidak ikut serta, dia sengaja ingin memastikan mereka semua pergi dari kontrakan Erina. Bab 4. Menikah. Erina menurut saat Fic mendorong tubuhnya untuk masuk ke dalam kontrakannya sendiri. Fic ikut masuk, kemudian duduk di Sofa tanpa disuruh. Erina menatap Pria dengan wajah datar itu, lalu ikut duduk di hadapannya. Mereka terdiam cukup lama. Erina merasa aneh, kenapa pria ini bisa tau tempat tinggalnya. Dan untuk apa dia kesini? Apa untuk menagih uangnya? Tapi kenapa malah kembali mengeluarkan uang. Uang yang begitu besar. Berkali kali lipat dari yang waktu ini. Erina kemudian membuka suara. "Tuan, Terima Kasih sudah menolongku kembali." Fico Albarez hanya mengangguk tanpa melihatnya. "Tapi, bagaimana caraku untuk mengembalikan uangmu. Itu terlalu banyak." Fic menoleh sebentar setelah itu membuang ratapannya kembali. "Menikahlah denganku besok. Maka kau tidak perlu membayarnya." Seketika Erina terperangah. "Menikah?" Dia seperti tidak percaya. "Kenapa?" Sekarang Fic menoleh untuk menatapnya. "Bukankah kau membutuhkan pernikahan? Kau gagal menikah bukan? Seharusnya kau menikah beberapa hari lagi." Erina menelan ludah. Darimana dia tau? "Memang benar. Tapi, apa Tuan juga punya masalah sepertiku?" Fic tersenyum miring. "Aku tidak punya masalah seperti mu." "Lalu kenapa Tuan ingin menikah secara tiba tiba?" "Karena aku butuh istri. Aku tidak punya Tunangan ataupun kekasih." Jawab singkat Fic. "Tapi, tapi kenapa memilih diriku? Apa karena aku mempunyai hutang padamu?" Erina semakin penasaran. Fic kembali memiringkan senyumnya. "Aku memilihmu, karena aku sudah mengenalmu." "Mengenal ku?" Erina Sekarang terlihat kebingungan. Fic mengangguk. "Aku tidak bisa mengambil sembarangan wanita." "Sembarang wanita? Lalu aku?" "Sudah lah." Fic bangun dari duduknya. Merogoh sesuatu dari balik jaketnya. "Besok, datanglah ke gedung ini tepat jam Sepuluh. Aku tidak mau kamu datang terlambat." Fic melangkah keluar meninggalkan Erina. Gadis itu hanya bisa menatap punggung Pria itu yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu mobil. "Argh… Siapa sih dia? Kenapa aneh?" Erina mengerang, lalu menutup pintu dan berlari ke kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan kasar. Matanya menatap langit langit. Pikirannya runyam. Pria itu tiba tiba datang dengan sendirinya, memberinya bantuan disaat yang tepat. Seharusnya Erina senang karena telah terbebas dari perjodohan Sang Ibu. Setidaknya dia selamat dari Tuan Danies yang terkenal sebagai penjahat kelamin. Tapi kenapa Pria itu tiba tiba mengajaknya Menikah? Bahkan mereka baru bertemu dua kali saja. Ada masalah apa sebenarnya? Tidak mungkin tidak ada masalah! "Dia sudah mengenalku? Dan tidak bisa sembarangan memilih wanita? Maksudnya apa? Dia bahkan belum tau buruknya masa laluku." Semalaman Erina tidak bisa tidur memikirkan itu. Bagaimana mungkin dia akan menikah dadakan seperti itu, dengan Pria yang tidak mencintainya. Dia juga tidak mencintai pria itu. Tapi, bukankah dia juga membutuhkan pernikahan ini? Meskipun dia sudah terbebas dari Tuan Daniel sekarang, tapi dia tetap membutuhkan seorang Pria yang bersedia menikahinya. Bukankah itu bagus? Dia bisa menutup aibnya. Belum lagi masalah hutang kepada pria itu. Sekarang semakin besar. Jika dia tidak bersedia menikah dengan pria itu, sudah pasti dia harus membayar seluruh uang yang sudah dikeluarkan pria itu. Dan itu jumlahnya sangat banyak. Erina tidak bisa membayangkan, berapa tahun dia harus mengumpulkan uang sebanyak itu. Lalu dia bangun, kemudian mengambil tasnya. Menghitung berapa banyak uang yang dia miliki saat ini. "Sepuluh juta ini hanya cukup untuk membayar hutangku yang pertama." Tapi Erina berpikir, setidaknya dia bisa sedikit mengurangi hutangnya. Erina akhirnya terlelap beberapa jam. Dia terbangun saat Alarm terus saja berdering keras. "Ya Tuhan!" Dia memekik ketika menyadari jika saat ini sudah jam Delapan. Erina beranjak ke kamar mandi dan secepat mungkin bersiap siap. Dia bukan akan pergi ke Kantor, melainkan pergi ke Gedung yang tertulis di kertas yang sekarang sedang dia genggam. Huh! Erina menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya. Perasaannya begitu tegang dan tak karuan. Dia menuruni Taksi yang sudah berhenti di depan Gedung yang dia tuju. Ini bukan lah Gedung menurut nya tapi lebih tepatnya adalah Biro Urusan Sipil. Begitu nampak sepi seperti tidak ada orang. Erina turun dan berjalan masuk dengan sedikit ragu. Jefri sudah menyambutnya di ujung sana. Berlari kecil menghampiri Erina. "Mari silahkan Nona Erina. Tuan Fic sudah menunggumu." Fic? Apa itu nama Pria itu? Belum sempat bertanya, Jefri sudah melangkah dahulu. Terpaksa Erina mengikuti langkahnya. Erina bisa melihat punggung seorang pria yang mengenakan jas putih. Pria itu tidak menoleh ke arah mereka datang tapi sepertinya sudah tau siapa yang datang. "Duduklah." Suaranya terdengar begitu datar. Erina menurut saja. "Apa kau sudah siap?" Fic bertanya, menoleh sebentar pada Erina. "Sebenarnya aku tidak siap." "Kenapa? Katakan apa alasanmu." "Bagaimana mungkin aku akan siap, jika menikah dengan pria yang belum aku kenal." Jawab Erina. Terdengar Fic membuang nafas. "Aku ingin pernikahan ini bukan sekedar pernikahan. Bukan hitam diatas putih. Bukan pernikahan kontrak atau sejenisnya. Jadi berpikirlah dua kali sebelum Pendeta datang." Erina kembali menelan ludah. Dia sudah tidak punya jawaban lagi. Terdiam dengan waktu yang cukup lama. Hingga Pendeta dan beberapa orang datang. Fic kembali menoleh padanya. "Mereka sudah datang. Bagaimana? Jika kau tidak mau, itu tidak masalah. Aku bisa membatalkannya." Dengan begitu banyak pikiran dan pertanyaan dalam hatinya, Erina menggigit bibir bawahnya untuk menahan keraguan terakhir dihatinya. Dan tiba tiba dia mendongakkan kepalanya. "Iya. Aku setuju." Hampir satu jam mereka berada di dalam sana. Erina terlihat keluar dari Biro itu dengan membawa Sertifikat Pernikahannya. Dia sungguh merasa seperti bermimpi. Dia sama sekali tidak menyangka akan menikah secara Mendadak seperti ini. Apalagi dia bertemu dengan pria itu secara tidak sengaja. Erina menunduk untuk melihat Sertifikat Pernikahannya, dia hanya bisa melihat Foto dirinya dan Pria tadi. Pria dalam foto itu terlihat acuh tak acuh namun tampak sangat keren. Sedangkan dirinya begitu jelas terlihat gugup dan berpenampilan sederhana. Terdapat nama mereka di bawah Foto itu. Erina tanpa sadar tersenyum. Merasa sangat konyol. Dia baru mengetahui nama suami yang baru saja menikahinya itu. Fico Albarez. Nama yang Cool dan Keren. Cocok sekali dengan orangnya. Dingin dan datar serta tampak temperamen. Selain nama dan nomor ponsel, Erina sama sekali tidak mengetahui apapun tentang suami Dadakannya itu. Dia tiba tiba sadar , kenapa dia sangat ceroboh? Meskipun Pria itu tampak seperti orang biasa, tapi bagaimana kalau dia orang jahat? Erina kembali menggigit bibirnya. Saat Erina merasakan penyesalan, sebuah tangan menjulur ke hadapannya. Sebuah kartu terselip di jari jemari kekar itu. "Nona Erina. Setahuku, jika seseorang menikah, akan mengharapkan cincin pernikahan. Maafkan aku yang tidak sempat mencarinya untuk kita. Kau bisa memilihnya sendiri, sesuai dengan keinginan mu." Erina mendongak, menatap kedua bola mata hitam pekat dengan putih yang begitu jernih. "Tidak perlu. Aku tidak peduli dengan itu." Erina mendorong tangan Fic. Dia telah lama melewati masa masa yang begitu sulit. Dia tidak lagi mengharapkan Keromantisan. Meskipun dihadapannya saat ini adalah Suaminya secara formal, tapi Erina belum ingin kembali berharap. "Cincin itu tetap kita perlukan, untuk tanda bukti jika kita ini adalah pasangan." Fic meraih pergelangan tangan Erina dan meletakkan kartu itu di telapak tangan Erina. Bab 5. Kartu Hitam Kaum Elit. Ketika meletakkan Kartu itu di telapak tangan Erina, kulit mereka bersentuhan. Erina bisa merasakan suhu badan Fico lebih tinggi dari suhu badan dirinya. Rasanya seperti menembus kulitnya, membuat Erina sedikit kehilangan akal. "Baiklah kalau begitu." Biar bagaimanapun juga Erina berpikir, jika mereka sudah menjadi pasangan, Pasangan pengantin baru yang seharusnya bahagia bukan? Erina tidak ingin merusak niat baik Fico hanya karena hal kecil seperti ini. Dia akhirnya menerima Kartu itu. "Aku masih ada kerjaan sore ini. Maafkan aku tidak bisa mengantarmu." Ucap Fic dengan nada yang masih terdengar datar. "Oh. Tidak mengapa. " Sahut Erina. Dia juga tidak berharap, jika pria itu benar-benar akan mencintainya atau menganggapnya seorang istri yang sesungguhnya. Jadi dia tidak merasa kecewa sedikitpun. "Oh iya. Mengenai Alamat Rumahku, em.." Fic nampak berpikir sebentar. Lalu melanjutkan bicaranya. "Setelah pekerjaanku selesai, aku akan menghubungimu. Beri saja aku nomor ponselmu." Erina tiba-tiba merasa gugup dan cepat berkata. "Itu tidak terlalu penting, jadi sebaiknya tidak usah terburu-buru." Seharusnya, dua orang yang sudah menikah memang sudah sepantasnya tinggal bersama. Tetapi mengenai hal ini, Erina sungguh belum siap. Dia belum bisa membayangkan jika harus tinggal satu atap dengan pria asing. Fic menaikkan alisnya, ucapan Erina terdengar seperti penolakan. Dia membuang nafas kasar. Erina yang menyadari itu langsung merasa bersalah. Beruntung Fic bukanlah tipe Pria yang banyak bicara. Dia merapikan Jasnya. "Baiklah. Jika tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi, aku akan pergi duluan." Erina hanya mengangguk, menatap Pria itu pergi dengan melangkah Pelan. Erina juga bersiap menunggu taksi untuk kembali ke kontrakannya. Tetapi ketika dia membalikkan badan berlawanan dengan Arah Fic berjalan, tiba tiba dia teringat awal tujuannya datang menemui Fic tadi. Yaitu untuk melunasi hutang pertamanya. Erina dengan cepat berteriak memanggil Fic dan berlari mengejar. "Fic. Tunggu dulu!" Mendengar panggilan Erina, Fic terpaku. Selain Mentari, tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan Fic saja. Fic tertegun sesaat sebelum akhirnya menoleh. Erina menghampirinya dengan nafas terengah-engah. "Aku lupa. Jika membawa uang sepuluh juta milikmu yang tempo lalu kau pinjamkan padaku." Erina merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah Amplop coklat. "Terimalah. Setidaknya, aku bisa sedikit mengurangi hutangku padamu. Selebihnya, aku tidak bisa menjanjikan kapan akan membayarnya." Erina diam di hadapan Fic, mengulurkan amplop itu. Fic tertawa, membuat Erina terkejut. Dua kali pertemuan, baru ini dia mendengar Pria itu tertawa. Wajahnya yang tampan serta penampilannya yang keren, jelas begitu terlihat dimata Erina. Hanya sayangnya, wajah dingin penuh acuh tak acuh itu masih saja terlihat. Tapi kali ini, karena senyuman lebarnya itu, membuat Erina terpana. "Kamu masih ingin membayarnya?" Fic bertanya, sekarang terdengar tidak sedingin sebelumnya. "Apa yang harus ku kembalikan, ya harus ku kembalikan." Erina mengulurkan kembali Amplop tersebut. "Tapi itu tidak perlu lagi." Fic tetap tidak mengulurkan tangannya. Mungkin karena tadi berlari terburu buru, wajah Erina terlihat memerah. Keringat mengalir ke rahangnya dan beberapa helai rambut panjangnya yang terurai ikut terbawa keringat yang mengalir menutupi pipinya. Untuk sesaat, Fic menjadi sedikit peka, mengulurkan tangannya hendak merapikan rambut itu. Tapi tiba-tiba dia menarik tangannya kembali dan kembali menjadi dingin. "Kita sekarang sudah menjadi suami istri. Bukankah aku juga sudah mengatakan, jika kau menikah denganku maka tidak perlu membayar uang itu. Suami istri, tidak boleh perhitungan." Setelah selesai berbicara Fic langsung pergi tanpa memberi kesempatan Erina untuk bicara kembali. Erina hanya terpaku. Pria dingin itu, kenapa terlihat begitu keren? "Benar juga, dia suamiku sekarang." Entah mau senang atau sedih, Erina sendiri tidak bisa mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Dia kemudian menyetop Taksi saat melihatnya. "Kemana Nona?" "Ke Toko Perhiasan." Beruntung Erina masih mengingat pesan Fic untuk mencari cincin pernikahan mereka. Jadi dia memutuskan untuk mencari cincin terlebih dahulu sebelum pulang. Taksi sudah berhenti, Erina turun setelah membayar dan berjalan menuju Toko Perhiasan yang ada di dalam sebuah Mall. Seorang pemilik toko dengan ramah menyapa. "Apa yang ingin anda cari Nona. Mari saya bantu." "Aku sedang mencari cincin pernikahan." "Oh. Silahkan. Disini banyak pilihan. Dari yang kelas Elit sampai yang kelas menengah ke bawah." Pelayan menunjukan satu persatu pasangan cincin. Erina memilih yang paling sederhana. Berharga sekitar tiga jutaan. Dia berpikir tidak perlu mencari perhiasan yang begitu mahal. "Yang ini saja." "Baiklah. Tidak mengapa. Apapun pilihan Nona, semoga pernikahan kalian langgeng." Pemilik toko segera menyuruh Pelayan membungkus Cincin itu dengan kotak perhiasan. "Bayar pakai ini." Erina mengeluarkan kartu dari Fic itu dan menyodorkan. Pemilik Toko itu menerima dengan tercengang. Membolak balikkan kartu dengan sesekali menatap Erina. "Anda serius Nona? Ingin mengambil cincin itu?" "Iya. Kenapa? Apa kartunya bermasalah." "Oh. Tidak tidak, tunggu sebentar." Pemilik toko sempat heran saja, ini adalah kartu hitam milik kaum Elit. Mungkin diKota ini hanya beberapa orang yang memilikinya dan itupun hanya Pengusaha yang sudah memiliki Perusahaan besar mendunia. Sambil menggunakan Kartu itu, pemilik toko sesekali melirik Erina yang sedang menunggu. "Apa anda istri atau Putri seorang konglomerat?" Tanya Pemilik toko sambil mengembalikan kartu kepada Erina. "Tidak?" Erina menggeleng. "Suamiku hanya orang biasa. Kami baru saja menikah, dan dia memintaku mencari cincin pernikahan karena dia sangat sibuk. Dia memberiku kartu ini." "Oh baiklah Nona. Terimakasih sudah berkunjung ke Toko kami. Lain kali boleh lah kemari lagi dan ajak suami Nona. Siapa tau saja, suami Nona ingin mencarikan perhiasan untukmu." Pemilik Toko mengangguk hormat, berpikir jika Wanita itu pasti hanya belum tau Bisnis suaminya. Erina melangkah pergi meninggalkan toko, mengamati satu cincin yang sudah terselip di jari manisnya. Kembali dia menarik nafas berat. Tapi segera menguasai hatinya dan menyetop Taksi. Sebelum pulang, dia ke kantor terlebih dahulu untuk menanyakan perihal hari pertemuan dengan Presdir Galaxy Group. Karena tadi dia sempat membaca pesan dari Oca jika mereka memajukan jadwal. Baru saja melangkah masuk ke ruangan kerja, Oca sudah berlari menyerbunya. "Erin. Jadwal pertemuan kita dengan Presdir Galaxy Group adalah besok." Oca penuh semangat kegembiraan. "Tidak mengapa." Jawab datar Erina. Dia duduk melipat tangannya di atas meja. Itu membuat Oca menangkap cincin yang ada di Jarinya. "Ini seperti cincin pernikahan?" Erina langsung menutup jarinya dengan tangannya yang sebelah. Wajahnya memerah. "Erin? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Oca bertanya penuh selidik. Erina mengangguk saja, tidak ingin membohongi temannya. Bukankah ini baik untuk dirinya juga? Jika semua orang tau kalau dia sudah menikah. "Aku baru saja menikah." "Apa? Kau bercanda?" Oca terbelalak seperti tidak percaya. "Tidak. Aku tidak bercanda. Tapi benar." Erina memperlihatkan Sertifikat Pernikahannya kepada Oca. Hanya sebatas memperlihatkan saja lalu segera pergi. Oca berlari untuk menyusul. "Kau serius?" Erina hanya mengangguk saja lalu melangkah keluar untuk pulang ke kontrakannya. Oca tidak bisa banyak berprotes, walau dalam hati dia tau, jika Erina sepertinya terpaksa dengan pernikahan ini. Beberapa karyawan lain rupanya ada yang mendengar percakapan Mereka. "Erina sudah menikah? Yang benar saja!" "Bukankah dia gagal Menikah?" "Mungkin dengan pria lain." Erina sepintas mendengar, tapi berusaha untuk tidak peduli. Memutuskan untuk segera pergi saja. Sesampainya di Kontrakan, Erina membaringkan tubuhnya diatas kasur. Dia ingin melupakan segalanya dengan tertidur. Bahkan tidak memikirkan pekerjaan besok. Padahal semua orang sedang menanti hari besok. Dimana dia dan tim akan mewawancarai Seorang Presdir Galaxy Group yang sangat Misterius dan baru akan mau menampakan dirinya besok pada Dunia. Bab 6. Dia adalah Presdir. Pagi Ini Erina sudah berada di kantornya. Melihat Oca dan Melda. Kedua temannya itu berdandan berlebihan tidak seperti biasanya. Menatap sedikit kesal.ke arah dirinya. "Kau ini! Kenapa berpenampilan seperti ini?" Oca mendekat sambil menarik ujung kaos yang dikenakan Erina. Erina hanya mengenakan kaos putih pendek yang dibalut Jas kerja dengan tergantung kartu nama tanda pengenal di lehernya. Mengenakan celana Jeans warna hitam sesuai dengan warna Jas dan sepatu berwarna Putih. "Memangnya harus bagaimana?" Jawab Erina. "Yang akan kita temui kali ini adalah Presdir nomor satu di dunia. Bagaimana mungkin kamu hanya berpenampilan sesederhana ini?" Oca sangat memprotes. Erina menarik nafas. "Kita ini mau bekerja. Siapapun yang akan kita temui. Jadi, ini adalah pakaian kerja kita yang sebenarnya. Bukan mau pergi ke pesta!" Bantah Erina. "Ah.. Terserah kau saja!" Oca kesal. "Eh, tapi bagaimana penampilan ku hari ini? Aku cantik tidak?" Oca bertanya pada Erina. "Sangat cantik." Erina menjawab tanpa ragu. Dia baru menyadari jika penampilan Oca hari ini memang berbeda. Dengan rok pendek berwarna merah dengan rambut yang terlihat diurai dengan rapi. "Kalau begitu coba katakan padaku, apa kira kira Presdir tampan dan kaya dari Galaxy Group akan tertarik padaku?" Erina tercengang, rupanya Oca dan Melda sengaja berdandan lebih hanya karena beralasan jika yang akan mereka temui kali ini adalah Presdir Galaxy Group. "Oca. Apa kau benar benar tertarik dengan Presdir itu? Apa kamu tidak menyesal jika nanti, ternyata dia adalah seorang pria tua yang berperut buncit dan berkepala botak?" "Buahaha.. aku tidak percaya. Rumor sudah beredar beberapa bulan yang lalu. Jika Presdir Galaxy Group adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan cool." Melda yang juga bersemangat seperti Oca tapi tidak terlalu berlebihan segera menyambar. "Kesempatan untuk wawancara kali ini sangat sulit didapat oleh stasiun televisi manapun. Jadi kita harus melakukan dengan sempurna tanpa ada kesalahan sedikitpun. Apa kalian tau, ini adalah pertama kalinya Presdir Galaxy Group mau menunjukkan diri kepada Publik. Jika kita berhasil mewawancarainya, dan mengambil foto dirinya, maka Stasiun Televisi kita akan menjadi sorotan dunia, satu satunya Stasiun Televisi yang berhasil bertemu langsung dengan Presdir Galaxy Group!" Oca dan Erina mengangguk. Presdir Galaxy Group memang sangat misterius, tidak mau menunjukkan dirinya di hadapan publik. Perusahaan yang tiga tahun terakhir ini telah mengalahkan puluhan Perusahaan nomor teratas di dunia. Namun keberadaan beserta identitas pemiliknya belum juga terungkap. Undangan wawancara dari segala majalah dan berbagai nama stasiun televisi selalu ditolak. Tapi yang aneh, beberapa hari yang lalu tiba tiba Perusahan Galaxy Group menelepon dan meminta Stasiun Televisi tempat Erina bekerja mengirim Reporternya untuk mewawancarai Presdir mereka secara langsung di kantornya. Bukankah itu suatu keberuntungan? Kabar baik yang membuat Bos terkejut dan langsung melonjak Girang. Mengatakan jika Tuhan sedang membantu mereka. "Sudah! Cepat bereskan apa yang perlu dibawa!" Erina memberi perintah. Oca pun pergi masuk untuk menyiapkan segala keperluan bersama Melda. Memeriksa kembali beberapa konten yang sudah mereka siapkan untuk wawancara dan tidak lupa membawa Fotographer. Beberapa karyawan wanita mendekati Erina. Refi mengangkat pergelangan tangan kiri Erina, menatap seksama cincin yang ada di jari manis Erina lalu bertanya. "Kau benar benar sudah menikah?" Erina mengangguk, membiarkan mereka meneliti cincin di jarinya. "Tapi bukan dengan dengan tunanganmu yang sudah memutuskan kamu itu kan?" Erina hanya menggeleng. "Apa ini cincin pernikahan kalian?" Erina mengangguk. "Berliannya sangat kecil. Ini pasti murahan." Satu temannya juga ikut memberi masukan. "Iya. Ini hanya harga tiga jutaan." Erina menjawab apa adanya. "Ya Ampun Erin. Seharusnya kau meminta cincin yang sedikit mahal. Karena pemberian seorang pria itu bisa mencerminkan bagaimana pria itu menghargai wanita." "Eh, sudah lah. Ayo kita berangkat!" Melda berseru diujung sana. Melda tidak suka mendengar perkataan mereka yang tidak menjaga perasaan Erina. Erina menarik tangannya dan menyusul kedua temannya yang sudah berjalan lebih dulu. "Tidak usah di dengarkan perkataan mereka." Oca melirik Erina. "Tidak mengapa. Aku juga belum tau berapa uang yang dimiliki suamiku. Dia mungkin hanya orang biasa, Jadi aku sendiri yang memilih cincin ini." "Kamu harus bersyukur. Sudah berhasil menikah." Sahut Melda, tapi kemudian dia bertanya dengan nada cukup serius. "Tapi, apa kamu bahagia?' Kali ini, Erina tidak menjawab pertanyaan Melda. Hanya diam dan melanjutkan langkahnya. Erina juga tidak tau harus menjawab bagaimana. Jika dibilang bahagia Erina belum merasakan apa apa. Mau mengatakan sedih, Erina juga merasa biasa saja. Melda dan Oca juga tidak ingin bertanya lagi. Mereka seperti ingin menjaga perasaan Erina. Sampai mobil yang mereka pakai untuk pergi itu berhenti di sebuah Gedung yang menjulang tinggi dan begitu megah. Mereka bisa melihat Tulisan Galaxy Group yang terpampang begitu jelas. Setelah menyapa seorang wanita bagian Resepsionis di lantai pertama, mereka disarankan untuk menaiki lift menuju lantai paling atas. "Apakah kalian dari Stasiun Televisi XX?" Seorang staf khusus langsung menyapa mereka saat melihat Mereka keluar dari lift. "Iya benar." Jawab Erina. "Oh, mari silahkan. Presdir Albarez sudah menunggu kalian di dalam." Albarez? Erina sempat terkejut mendengar staf itu menyebutkan nama sang Presdir. Dia tidak menyangka jika Presdir Galaxy Group itu rupanya memiliki marga yang sama dengan suami Dadakannya. Setelah berkata demikian, Staf itu mengantar mereka menuju Ruangan Presdir. Ketika berjalan menuju ruangan, Oca terlihat begitu gugup, beberapa kali merapikan penampilan dan terus bertanya kepada Erina dan Melda dengan suara pelan, bahkan sampai mereka memasuki pintu. "Apa rambutku berantakan? Apa lipstik ku masih terlihat? Bedakku bagaimana?" Erina sangat kesal dibuatnya. "Itu bagus. Tidak ada yang berantakan. Sudah cukup!" Erina berbicara pada Oca, tapi matanya sudah memperhatikan semua sudut ruangan yang telah mereka masuki. Erina tiba tiba saja terpaku pada kedua kakinya yang langsung terasa berat dan kaku. Dia bisa melihat dengan jelas, seorang pria yang berdiri di samping sebuah meja. Dia sampai tidak dapat mendengar Oca berbicara lagi. Pandangan Oca dan Melda pun sama tertuju pada pria yang berdiri itu. Lalu Oca berbicara pelan walau Erina sudah tidak mendengar dengan jelas karena jantungnya tiba tiba berdegup sangat keras. "Astaga… Itu Presdir Galaxy Group! Benarkan kata mereka. Dia sangat tampan dan keren!" Belum sempat Erina berkata apapun, pria itu berjalan mendekati mereka. Dan Mereka pun tersentak. "Oh My God… ! Dia benar benar sangat Tampan! Artis Korea pun kalah!" Pekik Melda yang langsung teredam oleh dekapan tangan Oca. "Kecilkan suaramu." "Eh, iya iya maaf. Maafkan aku. Aku terlalu terpesona." Pria itu berhenti, "Silahkan duduk!" Menunjuk sebuah sofa di ujung sana. Erina masih kaku di tempatnya. Terus menatap pria di depannya itu. Merasa seperti ada aliran listrik bertegangan tinggi yang tiba tiba menyengatnya. Pria itu juga menatap Erina dan tersenyum tipis padanya. Fico Albarez! Dia adalah Presdir Galaxy Group. Pria yang baru saja menikahi Erina kemarin.