Kawin Kilat: Suami Misteriusku teryata Milyarder

Đang tải thông tin quảng bá...

Kawin Kilat: Suami Misteriusku teryata Milyarder

GoodNovel Hoàn thành
ManisCantikPria Dominan

Tunangannya selingkuh, membuat Grace Johnson memutuskan kawin kilat dengan pria yang baru dia kenal.Semua orang menertawakannya, karena menikah dengan pemuda miskin dan meninggalkan tunangannya yang b...

Chương (1)

第1章

Bab 1 Akhirnya Grace Johnson menikah. Namun, pengantin pria bukanlah Ethan Hayes, tunangannya selama delapan tahun. Melainkan seorang pria yang baru saja dikenal Grace kurang dari lima menit dan hanya tahu sedikit tentangnya. “Sekarang kamu masih sempat menyesal.” Pria itu berkata dengan acuh tak acuh di aula Kantor Catatan Sipil, dengan maksud mengingatkan Grace. Grace memegang erat ujung gaunnya, sementara bayangan wajah dingin dan tanpa belas kasihan Ethan muncul dalam pikirannya. Tiga hari yang lalu, Ethan yang selalu menghindarinya seperti ular berbisa, berinisiatif mengundangnya untuk makan malam. Saat menerima telepon itu, Grace dengan polosnya berpikir bahwa akhirnya dia mendapat tanggapan setelah delapan tahun berkorban untuk pria itu. Grace melakukan persiapan penuh untuk pertemuan itu, tetapi yang menunggunya tidak hanya Ethan, melainkan juga Lily Johnson yang duduk di kursi roda dengan senyuman manis. Saudara sepupunya! Sebelum Grace sempat memahami hubungan antara mereka berdua, Ethan melempar sebuah bom berat lagi. “Berikan ginjalmu untuk Lily, maka aku akan menikahimu,” ujar Ethan. Grace terkejut seakan-akan tersambar petir. Dia memandang Ethan dengan ekspresi tidak percaya. Namun, pandangan pria di depannya tetap dingin dan penuh kebencian, seolah-olah Grace bukanlah tunangannya yang telah merawatnya selama delapan tahun, melainkan musuh yang membunuh ayahnya. Grace merasa seakan-akan terjatuh ke dalam dunia yang dingin dan tanpa perasaan. Grace dan Ethan sudah dijodohkan sejak kecil. Saat Grace kembali dari luar negeri pada usia 16 tahun, dia jatuh cinta pada Ethan tanpa kendali. Selama delapan tahun ini, Grace belajar mencuci dan memasak demi merawat dan menjadi istri yang baik bagi Ethan. Grace belajar seni musik, catur, sastra dan seni lukis. Bahkan saat mengetahui Ethan merasa jijik padanya, Grace tetap setia, mencintainya tanpa pamrih, seperti ngengat yang terbang ke dalam api. Semuanya Grace lakukan hanya agar pada suatu hari, Ethan bisa melihat kebaikan dalam diri Grace dan benar-benar ingin menikah dengannya. Namun, kenyataan memberinya pukulan keras. Tidak hanya tidak mencintai Grace, Ethan malah mencintai sepupu Grace. Lebih buruk lagi, demi menyelamatkan kekasihnya, Ethan bersedia menikahi seorang wanita yang sama sekali tidak dicintainya! Selain itu, Ethan sadar betul keinginan Grace untuk menjadi istrinya yang besar, tetapi Ethan memilih untuk memenuhi keinginan itu melalui sebuah transaksi. Ini benar-benar penghinaan yang nyata! Semua cinta yang berkobar-kobar itu telah berubah menjadi kebencian! Grace ingin membunuh mereka! Namun, dia bahkan tidak memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri. Pada malam itu, kata-kata dingin Ethan masih terngiang di telinganya. “Aku tidak sedang berdiskusi denganmu. Aku sedang memberitahumu. Kalau kamu tidak setuju, aku bahkan bisa membuatmu kehilangan posisi sebagai nyonya muda Keluarga Hayes,” ancam Ethan. Grace menggenggam erat kepalan tangannya dan menahan keras dinginnya kursi yang dia duduki. Meskipun telah tiga hari berlalu setelah kejadian itu, setiap kali Grace mengingatnya, dia tidak bisa menahan rasa marah dan putus asa yang memuncak. Dia sadar bahwa Ethan tidak sedang bercanda. Sebagai pewaris keluarga besar di Kota Celesta, Ethan memiliki kekuasaan yang sangat besar dan tidak akan kehabisan cara untuk mencapai tujuannya. Jika bukan untuk menghargai keputusan Kakek Owen Hayes, mungkin Ethan tidak akan menawarkan pernikahan sebagai imbalan, melainkan langsung mengikat Grace di meja operasi. Karena itu, untuk melindungi dirinya sendiri, Grace harus menikahi seseorang dan memutuskan semua jalan bagi Ethan. Grace menelan ludahnya dan berkata dengan tekad bulat, “Aku tidak akan menyesal.” Setelah berkata demikian, Grace menatap pria yang berdiri di sampingnya. Pria itu bernama Samuel Hayes, nama keluarganya sama dengan Ethan. Grace juga sudah melihat informasi yang dikirimkan agen perjodohan dan memastikan bahwa Samuel tidak memiliki hubungan apa pun dengan Keluarga Hayes. Samuel hanya seorang pekerja biasa. Satu-satunya keterkaitan yang dimiliki Samuel adalah perusahaan tempat Samuel bekerja adalah perusahaan milik Keluarga Hayes. Namun, meskipun informasi terkait Samuel terlihat biasa-biasa saja, wajah pria ini memiliki daya tarik yang luar biasa, dengan tubuh yang tinggi dan proporsional, tampak sempurna tak bercacat. Saat Grace melihatnya untuk pertama kali, dia bahkan mengira Samuel adalah CEO dari salah satu perusahaan besar. “Nona Grace,” ujar Samuel. Sorot mata penuh penasaran dari gadis itu terlalu intens, membuat Samuel tersenyum menggoda. Senyuman itu menggelitik hati Grace dengan lembut. Grace tiba-tiba tersadar. Dia dengan canggung merapikan rambut di sisi wajahnya yang sedikit berantakan, berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah dan panas. Samuel tetap fokus pada gerak-gerik yang Grace lakukan dengan senyuman tipis. “Masih ingat tiga aturan perjanjian kita?” tanya Samuel. “Iya,” jawab Grace. Di bawah pandangan tajam Samuel, Grace melanjutkan, “Perjanjian pernikahan akan berjalan selama tiga tahun, tidak ada campur tangan dalam kehidupan pribadi, tidak boleh jatuh cinta satu sama lain. Jika salah satu menemukan cinta sejati, maka pernikahan akan segera diakhiri.” Samuel mengangguk puas. “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang ini, Tuan Samuel?” tanya Grace dengan bingung. Samuel memainkan jarinya dengan santai, kemudian sedikit menundukkan kepalanya, menunjukkan tahi lalat merah gelap di ujung matanya dan berkata, “Aku khawatir Nona Grace akan jatuh cinta padaku.” Grace terdiam sejenak. Setelah beberapa tarikan napas yang dalam, Grace tersenyum pahit. “Tidak perlu khawatir. Aku tidak tertarik pada pria,” balas Grace. Grace tidak akan pernah jatuh cinta lagi! Satu kali disakiti sudah cukup! Samuel mengangkat alisnya, mata hitamnya seolah-olah semburan tinta hitam yang tumpah. Setelah beberapa saat, Samuel menganggukkan kepalanya dengan puas dan berkata, “Baguslah. Ayo kita lanjutkan.” Percakapan ini berakhir terlalu cepat. Grace termenung sesaat sebelum menyadari bahwa sekarang sudah giliran mereka untuk mengambil sertifikat pernikahan mereka. Grace berdiri, melihat pasangan pengantin yang tersenyum sambil membawa sertifikat pernikahan mereka. Ekspresi matanya menjadi gelap. Grace telah membayangkan berkali-kali bagaimana situasi pengambilan sertifikat pernikahan antara dia dan Ethan akan terjadi. Bahkan saat menuju ke kafe untuk bertemu dengan Samuel, Grace masih meragukan apakah dia harus melanjutkan pernikahan ini. Namun, begitu tiba di depan kafe, Grace menerima telepon dari Ethan. Ethan bertanya dengan nada yang tidak sabar, “Kapan kamu akan datang ke rumah sakit untuk tanda tangan?” Mendengar pertanyaan itu, Grace kaget menemukan bahwa dirinya sama sekali tidak marah. Bahkan, dia merasa seperti ingin tertawa. Ethan seolah-olah sangat yakin bahwa Grace akan melakukan apa saja untuk menikahinya. Seketika itu, keraguan Grace menghilang dan dia semakin tekad akan keputusannya. “Kenapa?” Suara Samuel membawanya kembali dari lamunannya. Grace mengalihkan pandangannya dan menghela napas panjang. Meskipun tampak ada tetesan air mata, mata Grace tetap jernih saat dia berkata, “Tidak apa-apa.” Mulai sekarang, Grace dan Ethan tidak ada hubungannya lagi. Hanya dengan berpikir tentang itu membuat Grace merasa lega. Samuel bisa merasakan bahwa ada beban berat di hati gadis di depannya, tetapi dia tidak bertanya lebih lanjut. Samuel membutuhkan seorang istri. Agen perjodohan telah memperkenalkan Grace padanya. Mereka cocok satu sama lain, juga tidak peduli tentang masa lalu atau masa depan. Setengah jam kemudian, mereka berhasil mendapat sertifikat pernikahan mereka. Melihat sertifikat pernikahan dirinya, Grace menekan bagian ginjalnya dan sedikit merasa lega. Dengan sertifikat ini, Ethan tidak akan bisa memaksa Grace untuk menikah dan mendapat ginjalnya. Dia merasa aman untuk sementara waktu. Namun …. Saat Grace memikirkan orangtuanya, bulu matanya terkulai. Dia belum sempat memberi tahu siapa pun tentang pernikahannya, termasuk kedua orangtuanya. Orang tuanya selalu berharap agar Grace menikah dengan Ethan. Mereka semakin bersikeras setelah sebuah kejadian yang membuat Keluarga Johnson turun status dari salah satu dari empat keluarga besar Kota Celesta menjadi keluarga kelas bawah yang tidak penting. Mereka berharap bahwa jika Grace menikahi Ethan, itu akan membantu mengembalikan status keluarga mereka. Jika orangtuanya mengetahui bahwa Grace telah menikahi seseorang biasa, mereka pasti akan sangat marah. “Selanjutnya, kita harus mengunjungi orangtuamu,” kata Samuel sambil memasukkan sertifikat pernikahan ke dalam sakunya dengan santai dan melihat jam tangannya yang berkilau di bawah kemeja putihnya. Meskipun pernikahan mereka hanya di atas kertas, mengunjungi orangtua adalah proses yang harus dijalankan. Grace terkejut, “Sekarang, ya?” Bab 2 “Ada masalah?” tanya Samuel sambil memandang Grace. Grace membuka mulutnya, tetapi dia bingung bagaimana cara menjelasnya. Rasa takut Samuel akan salah paham juga menghantuinya, jadi dia hanya membalas, “Tidak. Ayo kita pergi.” Toh, sudah saatnya Grace menghadapi ini. Di tengah perjalanan, Grace menerima panggilan dari Ethan. Melihat cahaya yang terus berkedip di layar, ekspresi Grace membeku, seolah-olah dia melihat dirinya sendiri selama delapan tahun terakhir. Sebelumnya, Grace yang selalu menghubungi Ethan, memberikan dukungan dan menanyakan keadaannya. Namun, Ethan tidak pernah meneleponnya duluan. Bahkan saat sakit dan harus dioperasi, Grace juga tidak pernah mendengar ucapan perhatian dari Ethan. Namun sekarang, untuk kepentingan Lily, Ethan sampai menelepon Grace berkali-kali. Perbedaan perlakuan antara satu orang dengan yang lainnya sungguh terasa. “Kamu tidak mau mengangkatnya?” tanya Samuel yang duduk di kursi penumpang sambil menghadap ke luar jendela dengan mata tertutup. Grace melihat wajah tampan pria itu. Meskipun tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas, Grace mulai menyadari bahwa Samuel merasa terganggu. Setelah berpikir beberapa saat, Grace akhirnya menekan tombol untuk menerima panggilan itu. Belum sempat berbicara, suara marah Ethan yang menggebu-gebu terdengar dari ujung telepon. “Grace! Datang ke rumah sakit sekarang juga! Apa kamu tahu ada berapa banyak ahli yang sedang menunggumu? Apa kamu tahu betapa menderitanya kondisi Lily sekarang? Kenapa kamu begitu egois? Aku sudah setuju untuk menikahimu, apa lagi yang kamu inginkan?” teriak Ethan. Senyum pahit merekah di bibir Grace. Meskipun sudah tahu bahwa Ethan tidak menyukainya, Grace tidak pernah membayangkan bahwa gambaran dirinya di mata Ethan begitu buruk. Jika begitu …. “Bukankah kamu sudah tahu apa yang aku inginkan?” Mata Grace berubah dingin. “Aku ingin cintamu. Bisakah kamu memberikannya?” “Dasar tidak tahu malu!” balas Ethan dengan hina. “Aku tidak akan pernah mencintai wanita sepertimu! Grace, kalau kamu datang sekarang, masih ada kesempatan bagimu untuk menjadi nyonya muda Keluarga Hayes. Tapi kalau kamu terlambat, aku akan membuatmu kehilangan segalanya!” Grace menengadah, air mata yang terasa pedih mengalir ke dalam hatinya. “Aku sudah menikah,” balas Grace. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Grace menutup teleponnya. Ini adalah pertama kalinya Grace yang menutup telepon terlebih dulu. Ternyata, rasanya tidak perlu menunggu dengan rendah hati, sangat memuaskan. Di sisi lain telepon, Ethan tersentak keras, kemudian mengeluarkan tawa kesal. Menikah? Grace, yang selama ini begitu bersikeras ingin menikah dengannya, bagaimana mungkin menikah dengan orang lain? Grace sudah semakin licik, wanita ini berencana menggunakan pernikahan palsu untuk bernegosiasi dengannya. Ini sangat menakutkan! … Setelah telepon ditutup, suasana di dalam mobil menjadi tegang. Samuel yang selama ini memandang keluar jendela dengan kesal, mengangkat jarinya yang panjang dan menekan pelipisnya. Suara telepon Grace yang terlalu keras membuat Samuel mendengar percakapan mereka dengan jelas. Selain itu, suara pria dari telepon itu terdengar tidak asing. Samuel merasa seolah-olah pernah mendengar suara itu sebelumnya. “Tidak heran kalau kamu tidak menyukai pria,” kata Samuel. Suaranya merdu seperti anggur yang penuh rasa. Menyadari bahwa ada yang memahami kondisinya, air mata yang sudah ditahan Grace dari tadi langsung jatuh begitu saja. Grace menengadahkan wajahnya, berusaha keras untuk menahan tangisnya dan berkata sambil gemetar, “Semua pria itu berengsek!” Samuel tidak menjawab. Dia hanya menoleh sekilas ke arah Grace dengan tatapan yang tajam. Tubuh gadis itu gemetar, tangannya memegang kemudi dengan erat dan urat-urat biru terlihat jelas di atas punggung tangannya yang pucat. Kemarahannya sudah mencapai titik puncak. Meskipun begitu, matanya yang berair itu penuh dengan keteguhan, seperti burung foniks yang dilahirkan kembali dalam api. Dia tampaknya tidak takut menghadapi tantangan apa pun, bertekad untuk memecahkan belenggu dan terbang menuju langit. Samuel merasa tergerak hatinya dan tanpa berpikir panjang, dia berkata, “Biar aku saja yang mengemudikan mobil ini.” Grace yang sedang dalam kebingungannya, terdiam sejenak. Karena tidak berani memandang kedua mata yang jernih itu, Samuel menolehkan kepalanya sedikit dan berkata, “Aku tidak ingin mati kecelakaan.” Grace hanya terdiam. Kedua orang itu menukar tempat duduk, kemudian perjalanan menuju rumah Grace berlangsung kembali dalam keheningan. Ketika mereka tiba di depan pintu rumah, Grace akhirnya berhasil untuk tenang kembali. Dia memandang dirinya sendiri di cermin belakang mobil. Matanya masih merah karena menangis dan memperburuk penampilannya, bibirnya yang tadinya merah kini memucat tanpa warna. Ditambah kulitnya yang pucat, dia terlihat seperti boneka porselin yang akan pecah begitu disentuh. Grace mengeluarkan bubuk mata dan lipstick untuk memperbaiki riasan wajahnya. Setelah memastikan semuanya terlihat baik, dia berbalik menghadap Samuel dan berkata, “Aku sudah siap.” Pandangan Samuel terhenti sejenak. Grace yang telah merias wajahnya terlihat segar dan memesona. Matanya yang cantik berkilauan dengan sedikit kabut air, memancarkan daya tarik yang lembut dan misterius. Bibir merah muda di bawah hidung yang mancung tampak menarik dan menawan, menciptakan pesona yang tak terabaikan. “Kenapa? Apa ada masalah?” Grace bertanya dengan gugup dan kembali melihat cermin belakang. Samuel mengalihkan pandangannya, tersenyum nakal dan berkata dengan nada bercanda, “Aku tidak pernah menyangka Nona Grace terlihat begitu cantik.” Satu kata pujian begitu keluar dari mulut Samuel, rasanya seperti ejekan. Grace malas untuk berdebat dengan Samuel. Dia menatap rumah besar yang tidak jauh di depan mereka dan mulai merasa gelisah. Dia menggenggam roknya dengan tangan gemetar. Setelah mengambil napas yang dalam, Grace mengumpulkan keberaniannya dan berkata, “Ayo kita masuk.” Samuel melihat Grace yang seolah-olah sedang berjalan menuju tempat eksekusi dengan alis sedikit terangkat. Dengan ketertarikannya yang tersembunyi, dia mengikuti langkah Grace. “Ayah, Ibu, aku sudah pulang!” Grace menyapa sambil membuka pintu dan melihat ke arah ruang tamu. Saat melihat putrinya, Gary Johnson dan istrinya menyambut dengan gembira. “Grace, kenapa kamu pulang?” Sejak beranjak dewasa, Grace pindah ke pusat kota agar dia bisa merawat Ethan dengan lebih mudah. Sekarang, melihat rambut putih di pelipis Gary, air mata hampir mengalir dari mata Grace. Selama bertahun-tahun, Grace menghabiskan semua waktu dan energinya untuk Ethan, tanpa menyadari orangtuanya yang semakin tua. Untungnya, Grace akhirnya sadar bahwa orang-orang yang sebenarnya harus dia rawat adalah orangtuanya. “Ayah ….” “Siapa ini?” Perhatian Gary segera beralih ke pria yang berdiri di belakang Grace. Dengan intuisi yang tajam, Gary merasa bahwa pria di depannya bukanlah orang biasa. Grace menjawab dengan ragu, “Dia adalah ….” “Oh, sayang. Kamu sudah pulang!” Dengan nada gembira, seorang sosok berpakaian merah turun dari lantai dua dan berlari menghampiri Grace. “Baru saja Ethan meneleponku dan berkata kalau kalian akan segera menikah. Apakah itu benar?” Grace terkejut dan membalas, “Apa?” Ethan benar-benar merencanakan pernikahan mereka tanpa seizinnya! Tanpa menyadari keanehan dari reaksi putri mereka, kedua orangtua Grace mengonfirmasi dengan penuh semangat, “Benarkah itu? Akhirnya Ethan setuju untuk menikahi Gracy?” Mereka telah menunggu hari ini selama lebih dari sepuluh tahun! Melihat betapa bahagianya orangtuanya, Grace menutup erat bibirnya yang merah. Ini terlalu kejam! Ethan pasti sudah memprediksi bahwa Grace tidak akan berani melawan orangtuanya dan berencana memaksa Grace lewat orangtuanya! Untuk mencapai tujuannya, Ethan benar-benar tidak mengenal batas! Pada saat Grace merasa hampir sesak, sepasang tangan besar yang hangat memegang bahunya. Dari atas kepalanya, terdengar sebuah suara yang berkarisma berkata dengan santai, “Halo, Ayah, Ibu. Aku suami Gracy. Senang berjumpa denganmu.” Bab 3 Hati Grace berdebar kencang. Dia seperti seseorang yang hampir tenggelam di tengah lautan dan akhirnya menemukan pelampung. Saat dia menengadah, matanya bertemu dengan tatapan penuh kasih dari Samuel. Tatapan pria itu tidak lagi penuh dengan sindiran meremehkan, melainkan penuh dengan ekspresi cinta. Bahkan sejenak itu membuat Grace hampir terpesona dan terbuai oleh Samuel. Grace segera melihat ke arah Gary dan Shirley Anderson. Keduanya begitu terkesima dan terduduk di sofa. Setelah beberapa saat, Gary, yang lebih dulu menyadari situasinya, bertanya pada Grace dengan tenang, “Gracy, apa yang terjadi?” Grace baru saja hendak membuka mulut untuk menjelaskan, tetapi Samuel bergerak maju dan menghalanginya. Rasa dilindungi yang belum pernah dirasakan Grace hampir membuatnya menjadi linglung. Dia mendengar suara merdu dan berat Samuel di telinganya. “Kami baru mendaftar hari ini. Semuanya terlalu buru-buru, kami bahkan belum sempat memberi tahu ayah ibu.” Gary berusaha menahan emosinya dan berkata, “Gracy!” Grace berkata dengan gigih, “Bu, semua yang dikatakannya benar. Aku sudah menikah karena aku tidak ingin menikahi ….” Sebelum Grace bisa menyelesaikan kalimatnya, Shirley mendekat dan meraih bahu Grace dengan erat. “Gracy, ada apa denganmu? Bukankah kamu selalu menyukai Ethan? Sekarang dia sudah setuju untuk menikahimu, kenapa kamu ….” Tiba-tiba Shirley melihat Samuel dengan tatapan curiga dan bertanya dengan suara rendah, “Kamu lebih baik jujur pada Ibu. Apakah ada yang mengancammu?” Menyadari bahwa Shirley telah salah paham tentang Samuel, Grace segera menjelaskan, “Bu, tidak ada yang mengancamku. Aku hanya tidak ingin menikahi pria yang tidak mencintaiku!” Dia sudah sangat lelah. Dia tidak ingin melanjutkan lagi! Kuku Shirley semakin tenggelam dalam daging Grace. “Gracy, apa kamu tahu apa yang kamu katakan? Sejak kamu bertunangan dengan Ethan, kami sudah mempersiapkanmu untuk menjadi calon istrinya. Kamu menikah dengannya untuk menghidupkan kembali Keluarga Johnson, bukan karena urusan asmara!” Saking sakitnya, napas Grace menjadi terengah-engah. “Ibu ….” Grace kemudian menatap Gary. Gary juga membalas tatapannya dengan penuh kekecewaan. “Gracy, sebelum Ethan mengetahui hal ini, segera lakukan perceraian! Kamu adalah istri Ethan. Kenapa kamu begitu ceroboh?” Hingga akhirnya, Gary mengerutkan kening dengan ekspresi jijik. Perasaan baiknya terhadap Samuel yang sebelumnya ada benar-benar lenyap. Tanpa memedulikan kehadiran orang lain di sana, Grace bertanya, “Apakah kalian tahu kenapa Ethan setuju untuk menikahiku?” Gary memalingkan wajahnya dan berkata, “Aku tidak ingin mendengarnya. Segera ajukan perceraian.” Grace terkejut seketika. Perasaan kecut membanjiri hatinya saat melihat punggung ayahnya. Kemudian, Grace berkata dengan lembut, “Ethan bilang kalau aku memberikan ginjalku pada Lily, dia akan menikahiku.” Semuanya menjadi hening. Gary dan Shirley bertukar pandang dengan ekspresi yang campur aduk. Samuel mengangkat pandangannya pada orangtua Grace sambil mengerutkan alisnya. Ada sesuatu yang tidak enak dalam lubuk hatinya. Namun, dia tidak tahu kenapa dia merasa seperti itu. Grace menghirup napas dalam-dalam dan melanjutkan, “Ayah, Ibu, kalian juga tahu dengan jelas bagaimana sikapku terhadap Ethan selama delapan tahun ini. Tapi, bagaimana dengan dia? Bukan hanya dia tidak mencintaiku, dia juga menjalin hubungan dengan Lily sebelum mencabut pertunangan kami. Sekarang, demi menyelamatkan lily, dia bahkan ingin mengambil ginjalku. Aku tidak berani membayangkan, jika setelah menikah dengannya dan Lily ingin mengambil nyawaku, apakah Ethan akan ….” Grace tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Lily adalah anak dari paman pertama Grace. Selama ini, seluruh perhatian Grace terfokus pada Ethan, sehingga dia hanya memiliki sedikit waktu untuk berkumpul bersama saudaranya di rumah. Hubungan mereka pun menjadi semakin dingin seiring berjalannya waktu. Namun, enam bulan yang lalu, saat Lily didiagnosis mengalami gagal ginjal, Grace telah berusaha keras untuk membantu mencari donor yang sesuai. Namun, apa hasil dari usahanya? Alih-alih mendapat rasa terima kasih, mereka malah mengkhianatinya. Bahkan tanpa berdiskusi dengannya, mereka menginginkan Grace untuk menyumbangkan salah satu ginjalnya. Mengapa mereka bisa begitu kejam, bahkan pada saudaranya sendiri? Shirley menatap suaminya dan setelah berdiskusi sejenak, dia meraih tangan Grace dengan lembut dan berkata, “Anakku, ibu tahu kamu merasa situasinya tidak adil. Tapi, coba pikirkan. Dengan menyumbangkan satu ginjal, itu tidak akan berdampak buruk pada kesehatanmu, kamu juga bisa menyelamatkan adikmu. Selain itu, kamu akan menjadi istri Ethan. Itu akan membuat semua orang senang. Bukankah itu hal yang baik?” Grace sontak merasa dingin di seluruh tubuhnya. “Ibu, apa maksudmu?” tanya Grace dengan heran. Ethan telah mengkhianatinya. Kenapa dia masih harus mendukung hubungannya dengan orang lain? Grace memandang Gary untuk mencari dukungannya. Namun, Gary hanya melihat ke langit-langit sambil berkata, “Gracy, kamu sudah bukan anak kecil. Kesepakatan ini adil bagi kami, tolong jangan mempersulit masalah.” “Kesepakatan ….” gumam Grace. Dia merasa lemah sejenak dan hampir jatuh, tetapi tangan Samuel yang cepat segera menopangnya. Grace berusaha untuk berdiri tegak, matanya penuh dengan rasa sakit saat dia memandang kedua orangtuanya yang sangat menyayanginya sejak kecil. Jika malam itu Ethan membangunkannya dengan tamparan, maka kata-kata orangtuanya hari ini seolah mendorongnya ke jurang yang dalam. “Jadi bagi kalian, kebahagiaanku tidak penting. Yang penting adalah aku menikahinya dan membantu Keluarga Johnson kembali ke puncak, benarkah?” Air mata mengalir deras, semua kekecewaan dan putus asa yang telah terpendam beberapa hari ini akhirnya meledak. Setelah berteriak, Grace pergi meninggalkan rumah itu tanpa menoleh. Dia sudah tidak tahan lagi. Mengapa bahkan orangtuanya yang sangat mencintainya pun tidak bisa memahaminya? Gary dan Shirley hendak mengejarnya, tetapi Samuel menghentikan mereka dengan tegas. Wajahnya kehilangan kehangatan dan sikap santai yang biasanya terlihat. “Pisau sudah menembus hatinya, kalian tidak perlu berpura-pura lagi.” Perkataan Samuel yang tajam membuat Gary dan Shirley merasa tidak nyaman. “Apa hakmu menghentikan kami? Grace adalah putri kami.” “Hebat, ternyata kamu masih mengingat kalau dia adalah putrimu,” balas Samuel dengan senyum sinis. “Mendengar perkataanmu tadi, aku kira dia adalah pelayan yang kamu beli.” Setelah itu, Samuel mundur satu langkah, memandang rendah Gary dan Shirley. “Karena Grace sudah menjadi milikku, aku tidak akan membiarkan siapa pun melukainya, bahkan orangtuanya sendiri!” Karisma yang dipancarkan Samuel membuat Gary dan Shirley terdiam selama beberapa detik. Kemudian, mereka tersadar kembali dan menyaksikan Samuel yang berjalan menjauh. “Siapa kamu sebenarnya? Berani-beraninya kamu menegur kami? Kalian harus segera bercerai! Kalau tidak, aku akan membuatmu tidak bisa tinggal di Kota Celesta lagi!” teriak Gary. Namun, Samuel sudah keluar dari rumah Keluarga Johnson. Dia sama sekali tidak peduli dengan cercaan Gary dan Shirley. Sesampainya di luar rumah, pandangan Samuel tertuju pada seorang gadis yang terduduk di balik kemudi dengan bahu yang gemetar. Langkah Samuel terhenti. Dia membutuhkan seorang istri untuk menghindari masalah yang tidak perlu. Sekarang, tujuannya sudah tercapai dan dia ingin menjaga jarak. Samuel membalikkan badannya. Dalam pikirannya, dia melihat mata si gadis yang penuh dengan kekesalan dan kesedihan yang mendalam. Dengan ekspresi kesal, Samuel melangkah maju, kemudian berhenti lagi. Matanya menatap sosok yang rapuh itu sebelum dia bergerak menuju mobil. Dengan kasar, dia membuka pintu mobil dan mendorong Grace. Kemudian, Samuel berkata dengan nada yang tidak sabar, “Geser ke dalam.” Grace, yang masih tenggelam dalam kesedihan, menatap Samuel dengan kaku. Sebelum Grace sempat merespons, tiba-tiba sepasang tangan yang kuat merangkul pinggangnya dengan erat. Seketika, dunia terasa berputar dan Grace terjebak dalam pelukan hangat Samuel. Rasa takut membuatnya lupa akan air mata yang hampir tumpah, matanya yang indah dan berkilau menatap Samuel dengan penuh kebingungan. “Apa … Apa yang sedang kamu lakukan?” Bukankah mereka telah sepakat untuk pura-pura menikah? Bab 4 Dengan ekspresi serius, Samuel menuntun Grace ke kursi penumpang depan, kemudian dia segera kembali ke kursi pengemudi dan menutup pintu dengan keras. Grace masih terkejut dan merasa sedikit cemas. Dia diam-diam melirik wajah serius Samuel, bingung dengan apa yang tengah terjadi. Meskipun Grace-lah yang seharusnya marah, kenapa Samuel tampak lebih marah darinya? Detik berikutnya, Samuel memicu mesin mobil dengan kuat, mobil itu melesat bak anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Grace hampir terlempar dari kursinya, dia meraih pegangan tangan dengan kuat, suaranya berubah karena terbawa angin, “Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?” Samuel seakan-akan sama sekali tidak mendengar pertanyaanya. Dia menginjak pedal gas sampai habis, matanya yang gelap seperti binatang buas di malam hari tetap fokus pada jalan di depan. Dalam sekejap, mobil Audi A6 biasa melepaskan diri seperti banjir yang melanda, berlari dengan liar di jalanan yang sepi. Wajah Grace memucat, dia harus menggunakan seluruh tenaganya untuk menahan pegangan di tangannya. Dia berteriak lebih keras, namun suaranya terbawa oleh angin kencang. Perlahan-lahan, Grace menghentikan perjuangannya, membiarkan angin kencang mengacak-acak rambutnya dan membiarkan Samuel membawanya ke tempat yang tak dikenal seperti orang gila. Tiga hari yang lalu, Grace berpikir untuk mati. Namun, bunuh diri terlalu menyakitkan baginya. Terlebih lagi, saat itu dia merasa meskipun orangtuanya bertekad untuk menjadikannya nyonya muda Keluarga Hayes, mereka pasti akan mengerti setelah mendengar permintaan Ethan yang tidak masuk akal. Karena itulah Grace berani mengajak Samuel untuk menemui orangtuanya. Dia tidak menyangka bahwa di mata orangtuanya, menghidupkan kembali Keluarga Johnson jauh lebih penting daripada kebahagiaannya. Semua kenangan indah selama lebih dari 20 tahun hancur berantakan dalam sekejap. Angin bertiup melintasi wajahnya yang dingin, dia tidak bisa menangis lagi. Hatinya … mati rasa. Kecepatan mobil melambat pada suatu saat dan Grace melihat ke luar mobil tanpa berkata-kata. Mobil melaju menuju pantai. Hanya ada beberapa orang yang tersebar di pantai saat matahari terbenam, bergerak seperti titik-titik hitam kecil. Cahaya senja di kejauhan menyelimuti langit dan hamparan luas berwarna jingga kemerahan melayang dengan lembut, menciptakan suasana yang tenang, indah dan menyembuhkan. Grace telah tinggal di Kota Celesta selama bertahun-tahun dan tidak pernah tahu ada tempat yang begitu indah. “Mengapa kamu tidak turun dan melihat?” Nada santai Samuel terdengar. Grace berbalik dan melihat wajah Samuel yang tidak lagi marah, seolah-olah semua yang baru saja terjadi hanyalah kesalahpahamannya. Samuel memegang kemudi dengan satu tangan dan meletakkan tangan lainnya di sandaran kursi dengan santai, menatap pantai di kejauhan dengan mata gelapnya. Dia santai dan liar, fitur wajahnya di bawah rambut acak-acakan sangat dalam dan menawan. Bahkan jika Grace tahu bahwa Samuel hanyalah orang biasa, jantung Grace tidak bisa berhenti berdetak kencang saat ini. Grace segera menundukkan kepalanya untuk menghindari cahaya menyilaukan yang memancar dari tubuh Samuel. "Tidak perlu," jawab Grace. Melihat dari kejauhan saja sudah cukup. Samuel mengalihkan pandangannya pada mata gadis yang begitu anggun dan sunyi. Dia teringat mata yang penuh penderitaan namun teguh itu. Jari-jarinya yang ramping mengetuk kemudi, matanya beralih ke elang yang terbang di kejauhan. "Apa kamu tidak pernah berpikir untuk membalas dendam?" tanya Samuel. Grace menatapnya dengan heran. "Tunanganmu," lanjut Samuel sambil mencari di saku bajunya dan teringat bahwa dia tidak memiliki cerutu dalam statusnya saat ini. Dia mengangguk kesal dan melanjutkan, "Dia terdengar seperti sampah, apakah kamu tidak ingin membalasnya?" Grace tertawa kecil dan membalas dengan ekspresi bingung, "Mana mungkin aku tidak pernah memikirkannya? Tapi, aku tidak akan mampu melakukannya.” Ethan adalah pewaris Keluarga Hayes, menghancurkannya seperti menghancurkan semut. Memikirkannya sekarang, Ethan begitu membenci Grace, tetapi tetap membiarkannya bergerak di sekitarnya, murni karena Kakek Owen. Begitu Kakek Owen meninggal, dengan kebencian Ethan, Grace khawatir Ethan akan benar-benar membunuhnya, bukan? "Aku bisa membantumu." Samuel membuka mulutnya dengan santai, melempar pandangan ke Grace, lalu segera memandang elang yang telah menyelam dan memangsa ikan. Begitu kata-kata itu dilontarkan, Samuel segera merasa lebih baik. Grace tersenyum dengan mata berbinar dan berkata, "Terima kasih atas niat baikmu. Kamu adalah orang yang baik, tapi Ethan bukan orang biasa." Mendengar balasan Grace, senyuman tipis muncul di wajah Samuel. Orang yang baik? Setelah hidup di dunia ini hampir 30 tahun, tidak ada yang pernah menilai Samuel sebagai orang baik. Hanya kali ini …. "Janjiku ada batas waktunya, tapi selama kamu ingin aku membantumu balas dendam, aku pasti akan membantumu" Grace tertawa kecil dan berkata tanpa penjelasan lebih lanjut, "Oke." Namun, Grace tidak bisa menahan diri untuk berpikir, ekspresi menarik apa yang akan ditunjukkan jika Samuel tahu bahwa orang yang ingin Grace balas dendam adalah Ethan, tuan muda Keluarga Hayes Tepat pada saat ini, ponsel Samuel berdering. Dia mengeluarkan ponselnya, wajahnya sontak berubah saat melihat nomornya. Dia mengangkat telepon, kemudian membuka pintu dan berjalan agak jauh sebelum berkata, "Katakan padaku." "Pak, pengemudi yang menyebabkan kecelakaan mobil telah meninggal dunia dan kami tidak bisa mendapatkan informasi berguna apa pun," ujar orang di ujung telepon. Tatapan Samuel berubah setajam pisau, sama sekali berbeda dengan Samuel yang ada di dalam mobil barusan. "Hanya sedikit anggota keluarga yang tahu aku kembali, perhatikanlah orang-orang ini," perintah Samuel. "Ya." Bawahannya berhenti sejenak dan melanjutkan, "Ngomong-ngomong, Pak. Barusan Kakek Owen baru saja menelepon dan mengatakan bahwa dia ingin mengundang Anda ke jamuan makan keluarga, apakah Anda …." Samuel berbalik menghadap Grace yang sedang menatap awan dengan kagum, "Atur saja." "Siap," jawab bawahannya. Bawahannya mengerti maksud Samuel. Samuel menutup telepon dan berjalan menghampiri Grace. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku dan berkata, "Ada yang harus aku urus." "Kamu pergi saja, tidak perlu khawatirkan aku," ujar Grace sambil menunjukkan senyumnya yang paling cerah. "Aku baik-baik saja," lanjut Grace. Samuel mengerutkan kening dan menatapnya serius sambil berkata, "Aku tidak ingin disebut suami yang tidak bertanggung jawab." Grace kehabisan kata-kata. Mengapa orang yang terlihat sebaik ini memiliki mulut seperti ini? … Setelah Samuel naik taksi dan pergi, Grace menerima telepon dari sahabatnya, Mia. Begitu telepon tersambung, suara marah Mia terdengar. "Sayang, si berengsek Ethan itu sedang bersama Lily! Aku baru saja pergi menemui ibuku ...." "Aku sudah tahu." Sebelum Mia bertanya, Grace menceritakan semua yang terjadi pada beberapa hari terakhir. Setelah mendengar ini, Mia sangat marah hingga ingin membalikkan mejanya, "Sialan, pasangan ini benar-benar menyembunyikannya dengan baik. Kenapa kita tidak pernah sadar bahwa mereka memiliki hubungan seperti ini? Gracy, kamu tidak akan membiarkan mereka begitu saja, ‘kan?" "Memangnya apa yang bisa kulakukan?" kata Grace tidak berdaya. "Supaya tidak menyerahkan ginjalku, aku bahkan mencari seseorang untuk dinikahi. Dengan posisi aku sekarang, apa lagi yang bisa aku lakukan untuk balas dendam?” "Tunggu, tunggu dulu. Apa … Apa katamu? Menikah! Kamu sudah menikah? Uhuk uhuk …." Mia terbatuk-batuk selama beberapa menit sebelum berteriak ke telepon, "Siapa yang kamu nikahi? Sial, jangan-jangan petua keluarga Ethan? Ini benar-benar balas dendam yang memuaskan. Jika Ethan tahu tentang ini, dia pasti akan sangat marah sampai hidungnya bengkok!" Bab 5 Bab 5 Grace tertawa karena imajinasi Mia yang liar. "Kamu mungkin terlalu banyak membaca novel. Aku hanya asal menemukan seseorang. Dia tidak ada hubungan dengan Keluarga Hayes, satu-satunya hubungan yang dia miliki adalah dia bekerja di perusahaan Hayes." "Ah," ujar Mia dengan ekspresi kecewa. "Berarti dia masih bawahan Ethan, ya? Jadi, apakah ini berarti Ethan bisa lebih mudah menganggumu nantinya?" Wajah Grace langsung suram, "Seharusnya … tidak. Karena ada Kakek Owen, selain itu, aku juga sudah menikah sekarang. Jadi, Ethan seharusnya tidak akan mencari masalah denganku.” Mia merasa sedikit lega, tetapi saat memikirkan tindakan konyol Ethan, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membela sahabatnya. "Menurutku, seharusnya kamu menghajarnya saat itu. Apakah dia tidak menyadari seberapa keinginanmu untuk menikah dengannya ….” Grace menyela dengan lembut, "Itu sudah berlalu, Mia. Di masa depan, Ethan dan aku akan menjalani hidup kami masing-masing, tidak ada keterkaitan lagi.” "Bagaimana dengan pertunangan kalian ….” Mia bertanya dengan khawatir. "Kakek Owen belum tahu, ‘kan? Kalau orang tua itu tahu, pasti beliau akan sangat sedih." Grace merasa kegelisahan kembali muncul di hatinya, menggantikan perasaan lega yang baru saja dia rasakan. Berbicara tentang Kakek Owen, kakek Ethan, perasaan bersalah memenuhi hati Grace. Pertunangan dengan Ethan sepenuhnya adalah keputusan Kakek Owen sendiri. Setelah jatuhnya Keluarga Johnson, banyak yang berharap Kakek Owen akan mencabut pertunangan tersebut dan menertawakan Grace. Namun, Kakek Owen tidak hanya mempertahankan pertunangan itu, melainkan juga berkali-kali menyatakan di depan umum bahwa dia hanya akan mengakui Grace sebagai satu-satunya menantu perempuan. Akibatnya, Kakek Owen dan cucunya sering kali berselisih pendapat karena Grace. Sekarang, dengan situasi seperti ini, Grace merasa satu-satunya orang yang harus dia meminta maaf adalah Kakek Owen. “Aku … akan memberi tahu Kakek malam ini,” ujar Grace. Lebih baik Grace memberitahunya Kakek Owen langsung daripada beliau mendengarnya dari orang lain. Mia bertanya dengan nada khawatir, “Apakah kamu butuh aku menemanimu?” “Tidak perlu,” jawab Grace dengan tersenyum. “Kakek sangat menyayangiku. Beliau tidak akan berlaku kasar padaku.” … Di Hotel Mercury. Di dalam ruangan merah dan megah, Kakek Owen, yang merupakan sosok dengan kekuasaan tertinggi dalam Keluarga Hayes, duduk di kursi utama. Dia tersenyum memandangi Samuel yang duduk di hadapannya, kemudian menghela napas dan berkata, “Kamu memang benar anak yang dibesarkan kakakku. Meskipun lebih muda 10 tahun dari Tom, keputusanmu jauh lebih matang daripadanya. Dia tidak bisa menyamaimu.” Yang duduk di samping Kakek Owen adalah Tom Hayes, ayah dari Ethan. Meskipun memiliki perut buncit, jejak ketampanannya di masa muda masih terpancar dari wajahnya. “Ayah benar,” kata Tom sambil menyambut pujian itu. “Keputusan Samuel untuk meninggalkan pekerjaannya di luar negeri dan kembali dengan cepat sudah membuat dirinya berbeda dari banyak orang.” Samuel tetap tenang meskipun mendapat pujian. Dia melambaikan tangannya dengan anggun dan berkata, “Terima kasih atas pujiannya, Paman Owen dan Kak Tom. Selama beberapa tahun terakhir, perkembangan di Baloi sangat cepat dan aku melihat peluang bisnis di sini, jadi aku memutuskan untuk kembali.” Kakek Owen mengangguk dengan sedikit rasa penyesalan, “Sayangnya, kali ini ayahmu tidak ikut kembali bersamamu. Kalau tidak, akhirnya aku bisa bertemu dengan saudaraku lagi.” Samuel menjawab dengan tenang, “Untungnya, dia tidak ikut kembali, Paman Owen. Kalau tidak, kamu mungkin tidak akan melihat kami.” Kakek Owen mengernyitkan keningnya dan bertanya, “Apa maksudmu?” “Kami mengalami kecelakaan di bandara,” balas Samuel. “Apa?” tanya Kakek Owen dengan khawatir. “Apakah kamu terluka?” tambahnya dengan cepat. “Tidak,” jawab Samuel singkat. “Syukurlah,” ujar Kakek Owen dengan lega. Lalu, dia bertanya dengan penuh perhatian, “Apa yang sebenarnya terjadi?” “Ada dua mobil yang bertabrakan. Kedua pengemudi mobil tersebut tewas,” ungkap Samuel. “Jadi, kamu mencurigai bahwa itu bukan kecelakaan, tapi disengaja?” Kakek Owen, yang sudah berpengalaman, segera menangkap intinya. Samuel terus fokus pada reaksi Kakek Owen, memastikan bahwa beliau benar-benar tidak mengetahui kejadian tersebut. Lalu dia berkata, “Ya, itulah sebabnya aku ingin memohon bantuanmu, Paman Owen.” “Kenapa harus bilang memohon?” balas Kakek Owen. “Aku dan ayahmu adalah saudara kandung. Bahkan tanpa permintaanmu, aku tetap selalu bersedia membantumu mengungkapkan kebenarannya.” “Terima kasih, Paman Tom. Tapi, kamu tidak perlu repot,” kata Samuel dengan tegas, namun sopan. “Aku akan menyelidiki ini sendiri. Hanya sedikit orang yang rencanaku untuk kembali ke negara ini. Aku yakin aku akan segera mendapatkan jawaban. Hanya saja aku berharap Paman Tom bisa menjaga kerahasiaan atas kepulanganku untuk sementara waktu.” Kakek Owen bertanya dengan nada serius, “Apakah kamu mencurigai keluarga-keluarga besar terlibat dalam kejadian ini?” Ketika kembali ke negara ini, Samuel hanya memberi tahu tiga keluarga besar lainnya. Samuel menggenggam jari-jarinya dengan lembut di atas meja tanpa menjawab pertanyaan Kakek Owen. Kemudian, dia berkata dengan tegas, “Paman Owen, aku sangat mengharapkan bantuanmu.” Kakek Owen agak ragu sejenak, lalu dengan ramah memecahkan ketegangan yang ada di meja makan dengan berkata, “Tentu saja.” Setelah itu, dia beralih ke arah Tom yang duduk di sebelahnya untuk mengalihkan pembicaraan. “Di mana Ethan? Kenapa dia belum datang?” Tom menjawab, “Sepertinya dia terlambat karena pekerjaan. Kalau tidak, dia pasti sudah di sini. Dia selalu berbicara tentang ingin bertemu dengan Samuel.” “Ya,” ujar Kakek owen sambil tersenyum. “Setelah beberapa kali bertemu denganmu di luar negeri, Ethan benar-benar terkesan padamu. Aku melihatnya tumbuh besar, tapi aku belum pernah melihatnya mengagumi seseorang seperti ini.” Samuel tersenyum lebar, sementara pikirannya melayang kepada Grace. Ethan? Bukankah nama tunangan Grace juga Ethan? Kehadirannya di sini adalah sebuah kebetulan yang sepertinya mustahil terjadi. “Samuel ….” Tom tiba-tiba melambaikan tangan ke arah Samuel. Samuel dengan tenang mengalihkan perhatiannya dan menatap Tom. Tom bertanya dengan nada bercanda, “Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu terlihat seperti tenggelam dalam pikiranmu.” Samuel merasa terkejut. Sulit baginya untuk kehilangan konsentrasi seperti ini. Sekarang, pikirannya terganggu gara-gara wanita itu …. “Ayahku tadi bertanya apakah kamu sudah menikah,” tanya Tom. Dengan wajah serius, Samuel menjawab, “Iya.” Kakek Owen langsung tertarik dengan jawaban itu dan bertanya, “Kapan kamu menikah? Sebelum kamu pulang dari luar negeri, ayahmu meneleponku dan memintaku untuk mencarikanmu calon pasangan. Bagaimana bisa kamu menikah begitu cepat?” Ternyata. Samuel menjawab dengan tenang. “Kami bertemu beberapa hari yang lalu dan jatuh cinta pada pandangan pertama, lalu kami memutuskan untuk menikah. Tapi, karena semuanya terjadi begitu cepat, kami belum memberi tahu siapa pun.” Kakek Owen berkata dengan sedikit kesal, “Ini benar-benar disayangkan.” Dia mengambil sebuah foto dari saku dan menunjukkannya pada Samuel. “Sebenarnya, aku sudah menemukan calon yang sempurna untukmu. Tapi, siapa sangka kamu akan menikah begitu cepat. Sangat disayangkan, kalau saja Ethan bisa secepatmu, aku tidak akan khawatir.” Berpikir tentang pernikahan Ethan dan Grace, Kakek Owen menghela napas dengan sedih. Dia benar-benar tidak bisa memahami mengapa Ethan tidak melihat potensi dalam wanita yang cerdas dan berpendidikan seperti Grace. “Tuan Owen,” seorang kepala pelayan memasuki ruangan dengan membawa ponsel di tangan dan berbicara dengan suara yang hanya bisa didengar Kakek Owen, “Ada panggilan dari Nona Grace.” Saat Kakek Owen mendengar bahwa itu adalah panggilan dari Grace, dia langsung tersenyum bahagia, mengambil ponsel itu dan berkata dengan ramah, “Gracy, kenapa tiba-tiba menelepon Kakek?” “Oh, ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku? Baiklah, datanglah ke sini. Aku sekarang ada di Hotel Mercury. Ya, aku akan mengirim seseorang untuk menjemputmu.” Bab 6 Setengah jam kemudian, Grace masuk ke dalam mobil yang sudah dipesan oleh Kakek Owen dan menuju ke Hotel Mercury. Ketika Grace sampai di depan pintu kamar VVIP, ada seorang pelayan memberi tahu Grace kalau malam ini ada perjamuan keluarga. "Ethan juga hadir?" tanya Grace. Grace sama sekali tidak ingin berjumpa dengan Ethan. Pelayan yang salah paham berkata sambil tersenyum, "Jangan khawatir, Nona Grace. Tuan Ethan akan segera tiba." Grace, "…" Apakah sudah terlambat kalau pergi sekarang? Pintu yang berada di belakang Grace pun terbuka. Grace tidak dapat mengundurkan diri lagi, langsung menyapa, "Kakek." "Hai!" Ketika Kakek Owen melihat Grace, Kakek Owen tersenyum sangat lebar, "Gracy sudah sampai. Ayo, duduk di sebelah kakek." Grace pun duduk di sebelah Kakek Owen. Setelah duduk, Grace menyadari kalau semua orang belum mulai menyantap makanan. Grace menerka kalau mereka sedang menunggu kehadiran tamu penting. Seolah-olah dapat membaca pikiran Grace, Kakek Owen berkata sambil tersenyum, "Perjamuan malam ini diadakan untuk menyambut kembalinya pamannya Ethan." Meskipun Samuel meminta untuk merahasiakan kepulangannya, Kakek Owen sangat memercayai Grace. Kakek Owen yakin kalau Grace tidak akan membocorkannya. Grace terdiam beberapa saat, kemudian dia teringat sesuatu. Kakek Owen juga memiliki kakak laki-laki yang pindah ke luar negeri ketika masih muda dan memulai bisnisnya sendiri di sana. Dengar-dengar, anak dari kakak laki-lakinya itu bahkan lebih hebat lagi. Setelah diambil alih oleh anak itu, dia dapat menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan terbesar di Anrika hanya dalam waktu kurang dari satu tahun. Hanya saja, anak itu terlalu rendah hati dan tidak pernah tampil di depan media. Grace sangat penasaran, ingin melihat sosok yang legendaris itu pada malam ini. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi. Grace menoleh dengan penuh semangat. Melihat orang yang tiba membuat tatapan Grace menjadi dingin. Senyuman di wajah Ethan juga membeku, lalu memandang Grace dengan jijik, "Kenapa kamu ada di sini!" Grace menyembunyikan kebencian pada Ethan dan berkata dengan wajah datar, "Tentu saja untuk melihat kakek." Ethan pun menyeringai. Pasti Grace datang untuk mengadu! Ethan paling kesal dengan wanita yang tidak bisa apa-apa selain mengambil hati orang tua seperti ini! Ethan tidak menggubrisnya, lalu melihat sekeliling dan bertanya, "Di mana paman?" "Dia keluar untuk menerima telepon." Tatapan Kakek Owen menuju pada Ethan dan Grace, lalu bertanya, "Ethan, pamanmu saja sudah menikah, bukan kamu seharusnya …." Jantung Grace berdetak kencang, dia pun mencengkeram ujung bajunya dengan erat. "Kakek …." Suara Ethan pun menutupi suara Grace, "Semuanya tergantung pada kakek saja." Grace tertegun. Sebelumnya, ketika Kakek Owen mengungkit pernikahan, Ethan selalu menentangnya. Demi mendapatkan ginjal Grace, bahkan Ethan mampu memperalat kakeknya sendiri. Kepalan tangan Grace yang berada di bawah meja pun mengeras. Kakek Owen dan Tom tidak dapat menahan senyuman bahagianya. Ini pertama kalinya Ethan menyetujui. Mereka berdua seperti takut kalau Ethan akan menyesalinya, dengan buru-buru bertanya pada Grace, "Gracy, bagaimana denganmu?" Grace menarik napas dalam-dalam dan segera menenangkan dirinya. Ethan sudah lebih dulu berbuat kejam, jadi jangan salahkan Grace kalau tidak setia. Grace menundukkan kepalanya dan berkata dengan malu-malu, "Kakek, aku … tidak keberatan …." Suara tawa Kakek Owen terdengar di dalam ruangan, "Baiklah, aku akan menyuruh seseorang untuk mengaturnya setelah aku pulang nanti." Ethan melirik Grace dan menebak kalau hati Grace pasti sedang merasa sangat bahagia. Rasa jijiknya pada Grace semakin kuat. Namun, pada saat ini, Grace tiba-tiba berbicara dengan ragu-ragu, "Kakek, aku … masih ingin mengatakan sesuatu." Semua orang menatap Grace. Grace menggigit bibirnya, seolah sedang membuat keputusan yang sangat sulit, "Kita sudah sepakat untuk menikah, kalau begitu … bisakah Kak Ethan urusi hubungannya dengan wanita-wanita yang lain?" Setelah selesai berbicara, Grace buru-buru menambahkan, "Aku tidak bermaksud jahat. Asalkan mampu, seorang pria bisa memiliki banyak istri ataupun selir. Hanya saja, aku tidak ingin rumah tangga kami kacau setelah menikah nanti." Begitu ucapan itu dilontarkan, suasana menjadi sunyi. Wajah tampan Ethan pun memerah. Ethan hanya memiliki satu wanita, yaitu Lily. Namun, Grace berkata seakan-akan kisah cinta Ethan sungguh berantakan. Kakek sangat membenci anak muda yang bersikap seperti buaya darat. Grace pasti sengaja melakukannya! Ethan pun memelototi Grace, "Memangnya kamu ada bukti?" Ethan dan Lily selalu berhati-hati. Mereka sudah menjalin hubungan selama tiga tahun dan tidak ada orang yang menyadarinya. Grace mengedipkan matanya, lalu mulai berbicara sambil terisak-isak, "Awalnya aku juga tidak percaya, sampai aku melihat videonya. Kak Ethan, aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu memiliki begitu banyak wanita di luar sana." Ethan menyeringai, wanita ini sungguh menjiwai sandiwaranya. "Kalau kamu ada bukti, tunjukkan keluar!" Grace menangis lebih keras lagi, "Kak Ethan, aku sudah menghapus video itu setelah menontonnya. Lagi pula, kalau aku menyimpan video itu, itu hanya akan menyakiti hatiku saja." Setelah itu, Grace menyeka air matanya dan bersikap tegar, lalu tersenyum, "Kak Ethan, jalani hidupmu dengan baik. Aku tidak akan pernah mengungkit masalah ini lagi kedepannya!" Wajah Ethan menjadi sangat kesal. Ethan sudah terjebak. Grace tidak memiliki video itu sama sekali. Namun, Grace tahu kalau Kakek Owen akan memercayainya. Meskipun tidak ada bukti, Kakek Owen pasti akan tetap percaya pada Grace. Ternyata benar. Begitu Kakek Owen mendengarnya, dia sangat marah, lalu mengangkat tongkatnya dan memukul punggung Ethan dengan sangat kuat, "Dasar bajingan! Bagaimana bisa Keluarga Hayes yang terpandang dan sudah berdiri selama ratusan tahun menghasilkan sampah sepertimu!" Tongkat Kakek Owen sangat berkualitas. Tongkat itu tidak mengeluarkan suara ketika memukul, tetapi rasa sakitnya tidak main-main. Punggung Ethan langsung memerah karena terluka. Ethan tampak kesakitan dan hampir terjatuh. Kalau Grace yang dulu melihat kejadian ini, pasti akan merasa kasihan. Namun sekarang, Grace merasa kalau Ethan pantas menerima semua ini. Grace mengangat kepalanya dan menatap pada mata Ethan yang sangat marah. Grace pun mulai tersenyum licik. Ketika Ethan masih merasa marah, Grace meraih tangan Kakek Owen dengan lembut, "Kakek, jangan marah. Semua ini salahku, seharusnya aku tidak boleh mengatakan semua ini." Kakek Owen meletakkan tongkatnya dengan terengah-engah dan berkata, "Lihat dirimu! Perhatikan Grace baik-baik, dia begitu lapang dada! Cepat pulang dan urus semua hubunganmu yang berantakan itu atau aku tak akan mengampunimu!" Seumur hidup, ini pertama kalinya Ethan dikalahkan. Ethan dikalahkan oleh wanita yang paling dia benci. Ethan sangat murka, tetapi dia hanya bisa menundukkan kepalanya, "Kakek, maafkan aku." Semua orang tahu betapa sayangnya Kakek Owen pada Grace. Ethan masih belum menjadi pewaris sah, jadi dia hanya bisa menahan emosinya. Amarah Kakek Owen pun reda, "Kamu harus menjalani hidupmu dengan baik bersama Grace kedepannya, paham?" Ethan melihat senyuman di mata Grace dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Hati Ethan terasa sangat dingin. Tunggu saja! Grace, setelah kita menikah, aku akan mengajarimu apa itu penderitaan, sampai kamu merasa lebih baik mati saja. Grace tersenyum dengan tenang menghadapi tatapan Ethan yang dingin. Grace selalu mengalah, tetapi Ethan selalu menindasnya. Dengan demikian, lebih baik Grace memberi pelajaran pada Ethan semampunya. Ingin memaksa Grace menikahinya? Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang lebih hebat! Melihat suasanya sudah kembali tenang, Tom segera berkata, "Ethan, pamanmu masih belum kembali. Cepat keluar dan cari dia, jangan-jangan pamanmu sudah tersesat." Ethan tidak ingin tinggal lebih lama lagi, jadi dia mengikuti arahan dan berkata, "Kakek, aku akan pergi mencari pamanku." Kakek Owen melambaikan tangannya. Bagaimanapun juga, Ethan merupakan cucunya. Melihat Ethan akhirnya setuju untuk menikah, Kakek Owen tidak ingin berdebat dengan Ethan. Asalkan Ethan mau menjalani hidupnya dengan baik mulai dari sekarang. Setelah melihat situasi ini, Grace pun berdiri, "Kakek, aku mau pergi ke kamar kecil." Grace ingin keluar untuk mencari udara segar. Bab 7 Keduanya meninggalkan kamar VVIP satu per satu. Begitu Grace keluar dari kamar VVIP, Ethan mencekik leher Grace yang ramping, "Jangan mengira karena kakek menyayangimu, kamu bisa bertingkah sesuka hatimu!" Grace yang tercekik, merasa kesulitan bernapas. Namun, senyuman di wajahnya tidak pudar. Grace berkata dengan susah payah, "Kalau begitu, jangan pikir kamu bisa menukarkan ginjalku setelah menikah nanti. Jelaskan pada kakek sesegera mungkin. Kalau tidak, aku tidak dapat menjamin ucapan apa lagi yang akan keluar dari mulutku!" Ethan sangat terkejut. Grace yang berada di depannya, tidak lagi menuruti perintah Ethan. Grace seperti … menjadi orang yang berbeda. Tangan Ethan yang sedang mencekik leher Grace pun menegang. Ethan akhirnya memperingatkan, "Jangan berbuat macam-macam. Aku tidak akan membatalkan pertunangan kita! Ginjalmu itu hanyalah milik Lily!" Selesai berbicara, Ethan berbalik badan dan berjalan pergi. Grace melihat punggung Ethan yang tegap, lalu mempertanyakan dirinya sendiri. Delapan tahun lalu, bagaimana Grace bisa jatuh hati pada Ethan? Grace pun tidak memikirkannya lagi, lalu berbalik badan dan hendak bertanya pada para pelayan tentang keberadaan pamannya Ethan. Tiba-tiba, Grace melihat Samuel yang berada tidak jauh darinya. Samuel berdiri di bawah cahaya redup, wajahnya tidak dapat terlihat jelas. Setelan yang dirancang dengan baik dikenakan di tubuh Samuel dengan sempurna. Samuel tampak sangat mengesankan, seperti orang yang terkemuka. "Kenapa kamu ada di sini?" Grace mengerutkan keningnya. Hotel Mercury merupakan hotel terbaik di Kota Celesta. Hanya anggota dari Keluarga Heyes yang bisa datang kemari. Samuel tidak menjawab pertanyaan Grace, tetapi malah menatap Grace dengan serius. "Ethan adalah tunanganmu?" Awalnya Samuel tidak yakin, tetapi mendengar Kakek Owen menyebut Gracy membuat Samuel semakin ragu. Apakah ada kebetulan sedemikian rupa di dunia ini? Samuel pun meminta asistennya untuk memeriksa latar belakang Grace. Telepon tadi berasal dari asisten Samuel. Mengetahui kalau Grace merupakan tunangan Ethan, Samuel merasa curiga dengan pasangannya yang muncul di waktu yang tepat ini. Grace sama sekali tidak terkejut bagaimana Samuel bisa mengetahuinya. Siapa di Kota Celesta yang tidak tahu kalau Grace merupakan tunangan Ethan. Grace mengakuinya, "Benar, memangnya kenapa?" Selesai berbicara, tangan yang besar tiba-tiba meraih dagu Grace. Grace terpaksa mengangkat kepalanya dan menatap Samuel. Samuel menatap Grace dengan tajam. Seolah-olah … sedang menginterogasi tahanan? Tak lama kemudian, Samuel membungkukkan badan. Aroma daun mint yang harum mulai tercium dari hidung Grace. Pikiran Grace menjadi kosong dan dia tergagap, "Apa? Kenapa?" Samuel tidak bergerak dan terus menatap Grace. Tubuh Grace menjadi kaku dan jantungnya berdebar kencang. Grace sedikit memalingkan wajahnya untuk menghindari pesona penampilan pria tampan itu, lalu berkata dengan lemah, "Kamu membuatku takut." Suara yang lembut dan unit dari gadis itu membuat Samuel semakin tampak cemberut. Tangan Samuel semakin bertenaga. Pipi Grace yang putih dan mulus mulai berbekas. Grace menarik napas dan menatap Samuel, "Ada apa denganmu?" Mata Grace tampak sangat terang, seperti cahaya bulan. Hati Samuel mulai gelisah karena pandangan Grace. Samuel sedikit memalingkan wajahnya dan bertanya, "Apakah kamu tahu siapa aku?" Grace kebingungan, "Samuel." Samuel menyipitkan matanya, lalu menatap tajam. Samuel melihat mata Grace yang jernih itu, sama sekali tidak menemukan tanda-tanda seseorang sedang berbohong. Mungkin, semua ini hanya kebetulan saja. Atau mungkin, wanita ini sangat pandai bersandiwara. Samuel yang masih merasa kesal, melepaskan wajah Grace. Ujung jari Samuel masih terasa hangat, tetapi matanya perlahan-lahan menjadi dingin, "Aku akan bercerai besok." "Kenapa?" Ini terlalu mendadak. Samuel melonggarkan dasinya dan berhenti menatap Grace, "Kita berjumpa di gerbang kantor catatan sipil pada jam sembilan besok." Setelah berbicara, Samuel meninggalkan Grace dan berjalan pergi. Grace menyusul Samuel, "Apakah kamu khawatir akan pembalasan Ethan? Jangan khawatir, Ethan tidak mencintaiku. Ethan tidak akan mengganggumu." Yang diinginkan Ethan hanyalah ginjal Grace. Ethan sama sekali tidak peduli apakah Grace sudah menikah atau dengan siapa Grace menikah. Samuel mengerutkan keningnya dan berjalan semakin cepat. Untuk sesaat, Samuel benar-benar berpikir untuk tidak jadi bercerai! Samuel benar-benar sudah gila! Grace dengan cepat tertinggal oleh Samuel. Melihat ke arah Samuel menjauh, Grace bersandar ke dinding dengan putus asa. Mungkinkah … menukarkan ginjalnya demi menikah dengan Ethan sudah menjadi takdir Grace? Grace sangat putus asa, sampai-sampai tidak memperhatikan pelayan yang datang menghampirinya. Ketika pelayan itu memanggilnya, Grace baru menyadarinya. Pelayan itu bertanya dengan cemas, "Nona Grace, apakah kamu baik-baik saja?" Grace yang linglung, "Tidak apa-apa, kenapa?" Pelayan, "Paman sudah kembali, Kakek Owen meminta saya untuk memberi tahu anda." Akhirnya Grace dapat melihat paman yang misterius itu, Grace menguatkan dirinya dan mengikuti pelayan kembali ke kamar VVIP. Namun, tidak ada sang paman yang legendaris itu di dalam ruangan. Bahkan Ethan pun tidak terlihat. Kakek Owen menjelaskan, "Mereka sudah pergi karena ada hal yang mendesak. Kalau saja kamu datang lebih cepat, kamu akan bertemu dengan pamannya Ethan." Suasana hati Grace pun menjadi buruk. Namun, agar tidak membuat Kakek Owen merasa khawatir, Grace memaksakan senyumannya dan menemani Kakek Owen menyelesaikan makannya. Setelah meninggalkan hotel, Grace kelelahan dan berbaring di dalam mobil. Dia tidak ingin bergerak sama sekali. Tiba-tiba, ada panggilan masuk dari Mia. Mia berkata dengan cemas, "Sayang, aku harus bekerja lembur malam ini. Bisakah kamu mengantarkan makanan untuk ibuku?" Grace tidak ingin Mia menyadari keadaannya, langsung menjawab, "Boleh." "Muach, sayangku, aku mencintaimu. Aku akan mentraktirmu makan malam setelah aku mendapatkan bonus." Keduanya mengobrol sebentar, sampai akhirnya Grace menutup telepon. Grace pun meminta sopir untuk memutar arah dan menuju ke rumah sakit. Sampai di pintu rumah sakit, Grace membeli bubur dan kue yang kecil, lalu berjalan menuju ruang rawat inap. Ketika melewati sebuah taman kecil, Grace tiba-tiba melihat Lily sedang dijaga oleh seorang pengasuh untuk berjalan-jalan di taman. Bukan karena meta Grace jeli, tetapi karena ada banyak orang bergerombol melayani Lily. Ada yang menyajikan teh, ada juga yang mengipasinya. Untuk yang tidak tahu, mungkin akan mengira permaisuri sedang berjalan-jalan. Grace berencana untuk tidak memedulikan dan berjalan pergi, tetapi dia mendengar ada orang berkata, "Nyonya Lily, Tuan Ethan sangat baik terhadapmu. Tuan Ethan selalu menemuimu tiap hari, dia juga memberimu perhiasan mewah. Aku sungguh iri!" "Tuan Ethan juga khawatir kalau aku tidak bisa menjagamu sendirian, jadi dia mempekerjakan belasan orang sekaligus untuk menjagamu. Terlihat jelas Tuan Ethan sangat mencintaimu." Lily melihat Grace dengan mata yang tajam dan sengaja menguatkan suaranya, "Kak Ethan itu sangat mencintaiku!" Kalau sebelumnya, Grace hanya akan berbalik dan pergi, tetapi hari ini suasana hatinya sangat buruk. Apalagi pelakunya berada di depan Grace. Tentunya Grace tidak akan membiarkannya. Grace berbalik dan berjalan menuju Lily yang tampak merah merona, sama sekali tidak seperti seorang pasien, "Lily, sungguh kebetulan." Setelah itu, Grace mengangkat semangkuk bubur. Tanpa aba-aba, Grace melemparkan bubur itu langsung ke kepala Lily, "Tadi aku mengira ada dinding yang bergerak, ternyata itu hanya wajahmu." Bubur itu panas sekali. Di taman, tiba-tiba terdengar suara teriakan seperti babi yang akan disembelih. "Ah!" Bab 8 Semua orang mulai bereaksi, mereka buru-buru menjauhkan Grace dan menyeka wajah Lily. Meski begitu, kulit kepala Lily masih terasa perih. Air matanya pun jatuh ke tanah. Perawat yang menyaksikan semuanya, bertanya pada Grace dengan marah, "Siapa kamu? Apakah kamu tahu siapa yang sudah kamu lukai?" Grace berkata dengan dingin, "Aku tunangan Ethan yang belum berpisah dengannya." Semua orang terkejut. Sorot mata Lily perlahan-lahan berubah. Lily yang awalnya tenang, menjadi sangat panik. Dia pun menjelaskan dengan cemas, "Kalian berdua hanya dijodohkan orang tua, sama sekali tidak saling mencintai. Aku dan Kak Ethan merupakan cinta sejati, bisakah kakak mengembalikan Kak Ethan padaku?" Semua orang melirik Grace dengan pandangan menghina. Grace pun terkekeh. Adik perempuannya ini sungguh bermuka dua! Grace melipat tangannya dan menjawab dengan tenang, "Kalau kalian berdua saling mencintai, kenapa Ethan tidak mengusulkan untuk membatalkan pertunangan denganku pada kakek? Jangan-jangan, Ethan hanya menipumu, dia hanya mempermainkanmu saja?" Wajah Lily menjadi cemberut. Ada begitu banyak orang di sekitar, Lily harus mempertahankan keanggunannya. Lily hanya bisa menggigit bibirnya, "Kak, aku tahu demi menyelamatkanku, kamu harus mendonorkan ginjalmu. Kamu pasti merasa sangat tidak nyaman. Untuk mencegahmu merasa demikian, lebih baik aku mati saja!" Sambil berkata, Lily menggerakkan kursi rodanya dan menabrak pilar yang berada di samping. Kalau Grace yang dulu, hatinya pasti akan melunak. Akan tetapi, Grace sudah berubah! Grace dengan tenang, berkata, "Bagus, tabrak lebih kuat lagi, sekalian saja sampai mati. Dengan begitu, kamu akan menggemparkan seluruh kota. Kakek pun akan mengetahui perilaku kotor kamu dan Ethan!" Lily tidak lagi bergerak. Dia tidak maju, juga tidak mundur. Lily tidak menyangka Grace yang sangat menyayangi Ethan, akan berkata seperti itu. Lily mengepalkan tinjunya, lalu menjatuhkan dirinya dari kursi roda. Perlahan-lahan, Lily merangkak ke arah Grace. "Kak, semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kak Ethan mengatur agar aku dirawat di rumah sakit, semata-mata karena dia kasihan padaku. Kami sama sekali tidak ada hubungan. Sungguh!" "Oh? Tapi aku baru saja mendengar mereka menyebutmu sebagai Nyonya Lily?" Grace tersenyum datar. Grace sama sekali tidak percaya dengan sandiwara Lily. Wajah Lily menjadi pucat, "Mereka salah paham … hanya saja … mereka melihat Kak Ethan begitu perhatian padaku, jadi mereka mengira kami … kami …." Grace mencondongkan tubuhnya dan mencubit dagu Lily, "Kalau begitu, lain kali ingatlah! Ibarat itu sepatu yang kakakmu tidak suka, tunggu sampai kakakmu membuangnya, baru kamu boleh mengambil dan memakai sepatu itu. Apakah kamu paham?" Lily tercengang. Grace yang berada di depan Lily sangat mengintimidasi dan juga penuh percaya diri! Grace tidak lagi menempatkan Ethan di hatinya seperti sebelum-sebelumnya. Rasa tertindas yang belum pernah terjadi membuat Lily merasa gelisah. Grace tidak ingin menanggapinya lagi, berbalik badan dan meninggalkan rumah sakit. Grace pun membeli bubur lagi. … Setelah mengantarkan makanan, Grace mengobrol sebentar dengan ibu dari Mia, kemudian Grace pun turun ke bawah. Mobil milik Keluarga Heyes masih menunggu di depan pintu rumah sakit. Grace masuk ke dalam mobil dan berkata kepada sopirnya, "Pak, maafkan aku sudah membuatmu menunggu begitu lama." Sopir di depan mengenakan masker dan menjawab dengan suara teredam, "Tidak apa-apa, Nona Grace." Grace menguap, kemudian melihat jam. Waktu sudah hampir pukul sebelas. "Antarkan aku sampai ke gerbang Perumahan Regata." "Baik." Mobil dinyalakan. Grace tidak dapat menahan untuk menguap lagi, matanya terasa sangat berat. Aneh sekali. Kenapa Grace sangat mengantuk begini? Biasanya Grace baru bisa tertidur pada pukul dua atau tiga pagi. Grace pun menekan pelipisnya, dia merasa semakin lelah. Mungkin karena Grace kurang beristirahat beberapa hari terakhir ini. Bagaimanapun, perjalanan menuju rumah masih cukup panjang, lebih baik memejam mata sebentar. Grace menjadi rileks dan segera tertidur dengan nyenyak di kursi mobil. Ketika sopir di depan melihat keadaan Grace, sopir itu menghela napas lega. Sang sopir pun memutar balik mobilnya dan kembali ke rumah sakit. Pada saat ini. Di sebuah griya tawang. Samuel memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana dan memegang segelas anggur merah di tangan lainnya. Dia berdiri di depan jendela dan memandang ke seluruh Kota Celesta. Seluruh kota sangat terang, seperti pada siang hari. Peluang berbisnis ada di mana-mana. Namun, yang ada di pikirannya, hanyalah wanita itu! Samuel menyesap anggur merah dengan kesal. Rasa marah di hatinya tidak dapat diredam. Stewart, sahabat Samuel yang berada di belakang, terus tertawa sejak memasuki pintu. "Kamu benar-benar menikah dengan tunangan Ethan, sungguh menggelikan." Samuel menoleh dan menatapnya dengan tajam. Stewart berhenti tertawa dan bertanya dengan serius, "Apakah kamu benar-benar ingin bercerai? Bagaimana kalau ayahmu mengetahui kamu belum menikah dan mendesakmu lagi untuk menikah?" Ketika Samuel di negeri luar, dia hanya didesak oleh satu orang. Setelah kembali kemari, Samuel didesak untuk menikah oleh seluruh keluarga besarnya. Karena memikirkan hal ini, Samuel mencari seseorang untuk melakukan pernikahan kilat dengannya. Samuel menyipitkan matanya. Stewart yakin kalau Samuel tidak akan menjawab pertanyaannya, kemudian mengambil foto Grace dan berkata, "Gadis ini cantik, apakah kamu benar-benar yakin akan melepaskannya?" Samuel menyesap anggur merahnya. Anggur yang mewah itu menjadi terasa pahit di lidahnya. Suara Samuel terdengar lebih dingin, "Aku tidak ingin mencari masalah." Stewart berhenti berbicara setelah mendengar jawaban Samuel. Samuel sudah memutuskan. Tidak ada yang bisa mengubah keputusannya. Tiba-tiba ada panggilan telepon masuk yang memecahkan keheningan. Stewart mengangkat teleponnya. Mendengar ucapan orang yang meneleponnya membuat Stewart terkejut, "Sudah menemukan pendonor ginjalnya? Cepat sekali. Baiklah, aku akan segera kembali." Selesai mengatakannya, Stewart menutup telepon dan berkata pada Samuel, "Ada urusan di rumah sakit, aku pamit dulu." Samuel mengangguk kepala dengan acuh tak acuh. Stewart melangkah pergi sambil mengingatkan Samuel, "Sebaiknya kamu memikirkan ulang perceraianmu lagi. Menurutku, gadis bernama Grace ini tidak buruk." Setelah itu, Stewart membuka pintu dan pergi. Ruang belajar yang seketika terang karena mendapatkan cahaya kembali menjadi gelap. Hanya tersisa cairan merah tua yang terus bergoyang. Seperti ular yang mempesona, memikat hati orang-orang lainnya. Di rumah sakit. Grace yang sedang berbaring di tempat tidur, menggerakkan kelopak matanya dengan susah payah. Ketika Grace ingin duduk, dia menyadari kalau tangan dan kakinya sedang diikat. Grace sama sekali tidak dapat bergerak. Grace melihat sekeliling dengan panik. Ternyata, dia sedang berada di dalam ruang operasi! Seluruh tubuhnya kedinginan. Grace langsung menerka kalau ini ulah Ethan! Ethan pasti sudah berbuat sesuatu di dalam mobil sehingga membuat Grace hilang kesadaran! Grace terus meronta dengan sekuat tenaga, tetapi borgol di tangan dan kakinya tidak dapat digerakkan. Grace merasa putus asa, kemudian pintu ruang operasi terbuka. Ethan memasuki ruangan sambil mengenakan pakaian pelindung dan masker. Ketika Ethan melihat Grace, tatapan Ethan menjadi sangat tajam. Setelah meninggalkan hotel semalam, Ethan mengunjungi toko perhiasan untuk menyiapkan sebuah kalung untuk Lily. Tak disangka, begitu sampai di rumah sakit, Ethan melihat Lily berlutut dengan menyedihkan di pintu masuk ruang rawat inap. Wajah Lily dilumuri bubur dan lututnya juga terluka. Setelah mengetahui kalau semua ini ulah Grace, Ethan sangat marah sampai menghancurkan seluruh ruangan kamar pasien. Begitu Ethan kembali tenang dan mengetahui kalau Grace masih ada di dalam rumah sakit, Ethan mengganti sopir dan menebarkan obat bius di dalam mobil. Setelah Grace kehilangan kesadaran, dia langsung diikat ke meja operasi. Ethan menatap ke bawah dan memandang Grace, "Bukankah menyenangkan rasanya menindas orang lain? Sekarang giliran kamu yang ditindas! Rasanya tidak menyenangkan, bukan?" Grace malas menanggapinya. Grace mengguncangkan borgolnya dan berteriak dengan nada yang dingin," Ethan, lepaskan aku! Apakah kamu tidak takut kakek akan tahu!" Ethan tersenyum kejam dan berkata, "Pada saat kakek mengetahuinya, kita sudah menikah. Aku bisa berkata kalau kamu mengancamku untuk menikahimu agar mendapatkan ginjalmu. Aku merasa kasihan terhadap Lily, jadi terpaksa menikahimu." Setelah berbicara, Ethan berkata pada dokter yang berada di belakangnya, "Dokter Yake, mohon bantuannya." Bab 9 Stewart berdiri agak jauh dari meja operasi dan tidak dapat melihat dengan jelas penampilan gadis yang berbaring di atas meja tersebut. Setelah mendengar ucapan Ethan, Stewart menganggukkan kepalanya. Sebagai ahli bedah ginjal terhebat di seluruh dunia, operasi semacam ini sangatlah mudah bagi Stewart. Alasan Stewart kembali dari luar negeri dan mengambil alih operasi ini, sepenuhnya karena Samuel adalah temannya. "Kalau begitu, saya pergi dulu. Saya serahkan semua ini pada anda." Ethan berbincang sebentar dengan Stewart sebelum berbalik dan berjalan pergi. Pada saat bersamaan. Di luar kantor catatan sipil. Samuel menarik banyak perhatian ketika dia keluar dari mobilnya. Samuel tidak mengenakan pakaian bermerek, mobilnya pun biasa saja. Namun, penampilannya sungguh luar biasa, dipadu dengan wajahnya yang tampan dan postur yang sempurna. Sulit bagi orang lain untuk tidak tertarik melihatnya. Menghadapi perhatian semua orang di sekitar, Samuel berdiri di depan kantor catatan sipil, seolah-olah tidak ada yang memperhatikan. Samuel mengangkat pergelangan tangannya, otot di lengannya mulai terlihat. Sekarang sudah pukul sembilan lewat sepuluh menit, sedangkan Grace masih belum muncul. Samuel tidak suka orang yang terlambat. Samuel mengeluarkan ponselnya dan menelepon Grace. Tidak ada yang menerima panggilan. Samuel mengerutkan keningnya. Ketika Samuel hendak menelepon lagi, dia melihat ada sebuah mobil Rolls Royce melaju ke arahnya. Kota Celesta merupakan ibu kota Baloi dan penuh akan mobil mewah. Ini tidak heran. Namun, yang menarik perhatian Samuel itu plat nomor dari mobil itu. A0XXXXXX. Hanya Keluarga Hayes yang memiliki plat nomor seperti ini. Samuel menyipitkan matanya dan melihat mobil itu berhenti di depan kantor catatan sipil. Tak lama kemudian, pintu mobil dibuka oleh pengawal pribadi. Ethan, yang mengenakan setelan berwarna putih, keluar dari mobil dengan penuh semangat. Ketika orang-orang di sekitar melihat Ethan, mereka semuanya bersorak-sorai kegirangan. "Ah ah, itu Ethan!" "Wah, tuan muda dari Perusahaan Hayes datang ke kantor catatan sipil!" "Apakah dia akan menikah dengan nona dari Keluarga Johnson?" "…." Menghadapi pertanyaan semua orang di sekitar, Ethan hanya tersenyum dan tidak menjawab. Kemudian, Ethan berjalan masuk ke kantor catatan sipil dengan cepat, didampingi oleh para pengawal pribadinya. Tiba-tiba, Ethan melihat Samuel berdiri di tengah kerumunan. Ethan terkejut dan segera berjalan menuju ke arah Samuel. "Pa …." Ethan tiba-tiba teringat arahan Kakek Owen, lalu dengan cepat mengubah kata-katanya, "Kita bertemu lagi." Samuel menganggukkan kepalanya dan memasuki kantor catatan sipil bersama Ethan. Kerumunan yang ingin menyaksikan itu tidak dibiarkan masuk. Ethan akhirnya memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Samuel. Ethan pun bertanya dengan suara pelan, "Paman, kenapa kamu ada di sini?" Samuel tidak menjawab, malah bertanya balik, "Kalau kamu?" Ethan tidak menyembunyikan apa pun dari Samuel, "Aku datang untuk pendaftaran pernikahan." Hati Samuel mulai kecewa, "Dengan siapa?" Ethan berkata, "Dengan gadis yang sudah dijodohkan oleh kakek. Aku sudah pernah ceritakan padamu sebelumnya." "Bukankah kamu tidak menyukainya?" Samuel tidak terlalu dekat dengan keponakannya, tetapi Ethan sangat mengagumi Samuel. Ethan sudah beberapa kali menceritakan pertunangannya pada Samuel. Ethan bercerita kalau Grace itu wanita licik dan berani melakukan segala kejahatan. Ethan bertekad untuk tidak menikahinya. "Sekarang, situasinya sudah berbeda." Ethan tidak ingin menjelaskan lebih banyak, lalu menggantikan topik pembicaraan, "Oh iya, paman, apa yang kamu lakukan di sini?" Samuel menatap Ethan, "Di mana dia?" Ethan kebingungan, "Siapa?" Samuel tiba-tiba mendekat dan meraih kerah Ethan, Samuel menatap dingin, "Aku bertanya untuk yang terakhir kalinya, di mana gadis itu?" Ethan terintimidasi oleh sikap Samuel. Napas Ethan pun menjadi terengah-engah. Ethan akhirnya mengerti, pikirannya menjadi kosong dan menjawab, "Di rumah sakit, sedang menjalani operasi transplantasi ginjal." Samuel terkejut, urat-urat di lengannya tiba-tiba terlihat jelas. Samuel menggertakkan giginya, "Apa katamu!" Ethan benar-benar mengikat Grace di atas meja operasi! Tanpa menunggu jawaban Ethan, Samuel mendorong Ethan dan melangkah menuju pintu keluar. Setelah berjalan beberapa langkah, Samuel berbalik. Mata Samuel memerah seperti binatang buas dan menggenggam Ethan kuat-kuat, "Kalau sampai terjadi sesuatu pada gadis itu, aku akan membuatmu menemani dia ke liang kubur." Selesai berbicara, Samuel berbalik dan pergi. Ethan terpaku melihat Samuel yang berjalan pergi. Ethan tidak dapat bereaksi untuk sementara waktu. Ada apa dengan paman ini? Samuel dan Grace belum pernah bertemu, kenapa Samuel begitu marah? Seperti … Ethan sudah melukai sesuatu milik Samuel? … Di dalam ruang operasi. Suara Grace sudah serak dan pergelangan tangannya terluka. Namun, pintu ruang operasi selalu tertutup rapat. Ketika Grace sudah merasa putus asa, pintu pun terbuka. Tiba-tiba, ada banyak dokter dan perawat memasuki ruangan. Harapan kembali ke dalam mata Grace, "Lepas … lepaskan …." "Kak, berhentilah melawan." Ada suara yang manis berkata, "Kalau kamu emosional begini, operasinya bisa saja tidak berhasil." Grace melirik ke arah Lily yang sedang didorong oleh perawat. Lily pun berbaring di tempat tidur dan tersenyum bangga pada Grace. Grace mengepalkan tangannya dengan marah, "Lily, aku tidak akan memberikan ginjalku padamu!" Lily berkata dengan nada menghina, "Grace, apakah kamu berpikir kalau dengan Kakek Owen menyayangimu, kami tidak berani melakukan apa pun padamu? Jangan lupa, Kak Ethan merupakan calon pewaris Keluarga Hayes." Kepalan Grace semakin kuat sampai kukunya menancap masuk ke dalam daging. Grace menatap dingin ke arah Lily, "Kalau aku tidak salah ingat, kita belum pernah mengecek kecocokan ginjal. Apakah kamu tidak takut kalau ginjalku tidak cocok dengan tubuhmu?" Lily tersenyum mendengarnya. Lily menatap mata Grace dan perlahan-lahan berkata, "Aku tidak takut." Grace tercengang. Grace mengira Ethan yang menyuruh Grace mendonorkan ginjalnya, karena mereka sudah mengecek kecocokan secara diam-diam. Jadi Grace ingin mengulur waktu dengan membicarakan hal ini. Tak disangka, Grace malah menyadari rahasia lain. "Kalian bahkan belum mengeceknya, kenapa kamu …." Grace tiba-tiba berhenti berbicara. Pikiran yang buruk seketika muncul di benak Grace. Grace langsung menatap Lily dengan kaget, "Kalian sama sekali tidak memerlukan pendonoran ginjal. Kalian hanya menginginkan aku mati di meja operasi!" Asalkan Grace meninggal, pertunangan itu pasti akan dibatalkan. Tidak akan ada lagi kendala bagi Ethan dan Lily. Lily tersenyum menghina, "Ternyata kamu tidak bodoh." Tubuh Grace perlahan-lahan bergidik karena merasa ngeri. Grace menggerakkan lengannya dengan sekuat tenaga, "Kalian benar-benar gila!" Demi bisa bersama, mereka rela mengorbankan nyawa seseorang. Lily tertawa terbahak-bahak, suara tawanya sangat keras, "Benar, aku orang gila. Saking gilanya, aku merasa iri padamu. Kenapa kamu pantas menjadi nyonya muda dari Keluarga Hayes? Kenapa bukan aku? Aku juga putri dari Keluarga Johnson. Apa hanya karena aku lebih muda, jadi aku harus merelakan semuanya untukmu!" Grace memandang Lily dengan wajah keheranan. Grace sungguh tidak memercayai semua ini. Grace tidak pernah menyangka kalau Lily begitu membencinya. Semua kebencian itu hanya karena pertunangan ini. Tak lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka lagi. Stewart berjalan masuk sambil didampingi oleh beberapa dokter lainnya. "Operasi akan dimulai." "Bersiap untuk membius." Mendengar kata-kata ini, Grace menyadarkan dirinya dan berteriak pada Stewart dengan panik, "Aku tidak melakukan semua ini dengan sukarela! Lepaskan aku! Lepaskan!" Stewart mengerutkan keningnya dan matanya tertuju pada Grace. Melihat wajah gadis yang putih pucat itu, tiba-tiba Stewart merasa tidak asing.