Đang tải thông tin quảng bá...
Desakan Perceraian dari Saudara Laki-Laki
Sita Hartanto tidak sengaja menikah dengan pewaris kaya raya. Suatu hari saat mengetahui dirinya hamil, dia menerima gugatan cerai.Putri angkat, Linda Santoso merebut rumah mereka dan Ibu mertua tidak...
Chương (1)
第1章
Bab 1
“Selamat, Anda telah hamil satu bulan. Semua indikatornya normal.”
Sita Hartanto mengambil hasil tes kehamilan lalu kembali ke rumahnya, ini terasa seperti mimpi. Dirinya hamil?
Sita mengumpulkan keberanian untuk mengirimkan pesan pada suaminya, Husein Handoyo: [Apakah malam ini kamu pulang untuk makan malam?]
Waktu berlalu sangat lambat, Husein dari dulu tidak suka ada orang lain yang mengganggunya bekerja. Sita khawatir kalau ini seperti dulu lagi, dia tidak mendapat balasan apa pun.
Tidak lama notifikasi ponselnya berkedip, Husein menjawab dengan nada dingin: [Iya, kebetulan ada hal yang perlu kita bicarakan]
Setelah mendapat jawaban Husein, Sita buru-buru belanja dan memasak banyak makanan, dia meletakkan hasil tes kehamilannya di atas meja, tetapi Sita merasa itu terlalu disengaja jadi dia membalik hasil tesnya dan menyimpannya.
Menjelang malam, sebuah mobil mewah hitam masuk halaman.
Husein turun dari mobil, jasnya disampirkan di lengan, tubuhnya yang ramping dengan alis dan mata yang hitam serta tegas.
“Husein, kamu sudah pulang?”
Sita berlari kecil menyambutnya, tangannya ingin mengambil jas Husein yang dilepas, namun Husein menyerahkan sebuah dokumen padanya, Sita sedikit tertegun.
“Lihatlah, jika ada permintaan kamu dapat mengajukannya.”
Dia melihat dokumen yang dipegangnya. Kata di halaman pertama menarik perhatiannya [Perjanjian Perceraian]
Kertas putih itu menyilaukan dan melukai matanya.
Husein menarik dasinya, dahinya berkerut karena kelelahan bekerja. Dia melirik istri di sebelahnya, wajahnya yang awet muda dan berwajah bulat, tingginya seperti anak di bawah umur.
Husein tidak ada rasa pada Sita, tapi nenek menyukainya. Dia juga yang membuat kondisi nenek perlahan membaik dan semua orang mengabulkan apa yang dia inginkan.
Jika bukan karena kecelakaan sebulan yang lalu, Husein tidak akan menyadari jika dirinya dan Sita sudah menikah selama tiga tahun.
Terus menjaga pernikahan ini hanya akan membuang masa muda Sita, tidak ada yang lebih baik dari berpisah.
Tangan Sita mengelus lembut perutnya dan bertanya pada Husein dengan hati-hati, “Kalau aku bilang kita memiliki anak, apakah kamu akan tetap menceraikanku?”
Tatapan Husein tertuju pada perut Sita, keningnya berkerut, “Sebulan yang lalu bukannya aku sudah menyuruhmu untuk minum obat pencegah kehamilan?”
Kecelakaan sebulan yang lalu, pertama kalinya setelah tiga tahun pernikahan.
Tangan Sita seperti dibakar. Dia buru-buru menyingkirkan tangannya dari perutnya, tapi Husein menahan pergelangan tangan Sita dengan erat. Tatapan matanya sedikit bingung, “Kamu benar-benar hamil?”
Sita terdiam lalu menarik napas, “Aku hanya berkata misalnya, apakah kamu akan tetap menceraikanku?”
“Tidak.”
Husein menghembuskan napas lega, tidak perlu tersiksa dengan kelahiran anak karena pernikahan yang tidak bahagia seperti orang tuanya.
Husein melepaskan tangan Sita, dan hati Sita juga merasa kosong.
Sita melihat bayangan punggung Husein menjauh. Sita mengangkat kepala dan menahan air matanya. Perkataan Husein lembut seperti pisau, tapi menusuk tepat di dada Sita.
Sita melirik makanan yang sudah dingin yang dipersiapkan dengan hati, dia membuang semua masakan itu ke tempat sampah, bau-bau masakan membuatnya mual.
Sita mengelus perutnya, dalam kehamilannya sedang ada sebuah kehidupan, dia menahan penderitaannya, “Sayang, Ayahmu tidak menginginkanmu, tapi Ibu berjanji akan menjagamu.”
Dari kecil Sita adalah seorang yatim piatu, setelah orang tua angkatnya melahirkan sepasang bayi kembar, dia diasuh oleh bibinya yang hidup sendiri. Beruntungnya Bibi sangat baik padanya.
Harapan besar Sita adalah memiliki keluarga. Setelah mengetahui Husein tidak menyukai dirinya, Sita masih mencoba menjadi istri yang patuh selama tiga tahun. Tapi nyatanya dia tidak akan pernah bisa melunakkan dinginnya batu yang keras.
Meskipun sekarang dia bercerai, tapi dirinya masih memiliki anak. Setidaknya dirinya tidak sendiri
Sita sama sekali tidak membaca isi dari Perjanjian Perceraian, dia langsung menandatanganinya.
Malam hari, dia tidur sendiri di kamar utama seperti sebelumnya, dan Husein tidur di kamar kerjanya. Semua sama seperti sebelumnya, menikah tiga tahun dan pisah kamar selama itu juga.
——
Pagi hari, Sita mengangkat telepon dari Ibu mertuanya, yang berkata dengan nada merendahkan, “Sita, minta pelayan membersihkan kamar tamu di lantai dua, akan ada tamu yang akan menginap selama beberapa hari. Ingatlah untuk menjamu tamu dengan baik!”
Sita belum sempat menanyakan siapa yang akan datang, Ibu mertua sudah menutup telepon.
Sita tersenyum getir, dia sudah terbiasa dengan sikap Ibu mertua yang merendahkannya, dan sepertinya kata apa pun yang Sita ucapkan akan mencoreng nama Keluarga Handoyo.
Saat Sita turun, Husein sudah berangkat bekerja.
Sore hari, seorang perempuan muda yang keseluruhan pakaiannya bermerek masuk ruang tamu. Sorot mata Sita menyiratkan keterkejutan. Apakah dia adalah tamu terhormat yang dimaksud ibu mertua? Siapakah perempuan cantik ini?
Bab 2
Tatapan Sita mencibir, jika kembali ke dirinya yang dulu, dia pasti tidak terima. Tapi dia dan Husein sudah bercerai. Perempuan mana pun yang datang dan tinggal di sini dengan mereka bukan masalah.
Sita mendekatinya, “Halo…”
Belum selesai Sita yang bicara, perempuan cantik itu langsung mengacuhkannya, dia berjalan memutari ruang tamu. Lalu dia memerintah pelayan, “warna gordennya jelek, sofanya juga, dan seluruh tempat tidur di kamar juga diganti merek yang aku suka.”
Melihat perempuan itu memberi perintah, Sita langsung angkat bicara, “Kamu siapa? Rumah ini tidak akan direnovasi.”
“Perkenalkan aku Linda, yang akan menjadi Nyonya rumah ini. Jadi gaya interior rumah ini harus sesuai yang aku mau.”
“Kamu Linda?
Rasa sakit meluap dari lubuk hati Sita yang paling dalam. Tidak heran kalau Husein tiba-tiba minta cerai, ternyata Linda kembali.
Cinta pertama Husein kembali, Sita yang menjadi pemeran pengganti harus mundur.
“Sepertinya kamu pernah mendengar tentangku, cepat tanda tangani Perjanjian Perceraian itu, kamu telah merebut posisiku selama tiga tahun, dan harus mengembalikan pada pemilik aslinya.”
Sita berbicara lirih, “Perkataanmu sungguh menyentuh, kenapa kamu tidak menikah dengannya saat Husein mengalami kecelakaan mobil dan tidak sadarkan diri?”
Saat itu Husein mengalami kecelakaan mobil yang parah, Nenek Handoyo ingin mencari perempuan untuk meneruskan keturunannya. Perempuan terpandang biasanya akan menghindar.
Waktu itu Sita adalah perawat Nenek Handoyo, dia sangat baik pada Sita. Bahkan nenek yang meminjamkan uang pada Sita untuk melunasi hutangnya. Dia tidak tega melihat Nenek harus melihat cucunya meninggal terlebih dahulu, makanya Sita berjanji pada Nenek untuk menikah dengan cucunya.
Semua orang mengira Husein tidak akan selamat, termasuk Sita. Dia mengira pernikahan itu hanyalah formalitas saja, tapi ternyata Husein tersadar dari komanya.
Setelah kejadian itu, posisi Sita di Keluarga Handoyo berubah menjadi canggung. Lagi pula, jika cucu dari Keluarga Husein, orang terkaya di Kota Surabaya, menikahi seorang perawat biasa menjadi istrinya, hal itu hanya akan menjadi bahan tertawaan orang jika sampai tersebar.
Selama tiga tahun ini, tidak ada orang yang tahu identitas Sita.
Raut wajah Linda kesal dan berkata, “Karena saat itu kakak laki-lakiku tidak membiarkanku menikah, dia mengunciku di dalam rumah yang membuatku kehilangan kesempatan untuk menikah dengan Kak Husein. Pada akhirnya kamu seorang gadis desa yang menikah dengannya. Aku memperingatkanmu, aku adalah putri Keluarga Syailendra dari Manado, kakak-kakakku sangat kejam. Jika kamu berani macam-macam denganku, hati-hati dengan keluargamu.”
Raut wajah Sita berubah dingin, “Jika kamu berani menyentuh keluargaku, aku tidak akan membiarkanmu.”
“Jika ingin keluargamu selamat, tanda tangani Perjanjian Perceraian itu sayang.”
Linda melihat Perjanjian Perceraian di atas meja kecil, dalam lubuk hatinya dia merasa puas, “Akhirnya hari ini datang setelah penantian tiga tahun.”
Sita menjawab datar, “Aku sudah menandatanganinya.”
“Kamu harus tahu posisimu.”
Linda mengeluarkan selembar cek dari tas mewahnya, “Ini ada hadiah untukmu, cek senilai 20 miliar.”
Tatapan Sita mencibir, dia tidak mau menerima cek itu.
“Kurang? Menurut gajimu dulu sebagai suster, ini adalah pendapatanmu selama sepuluh tahun. Tulis saja berapa uang yang kamu inginkan, lalu jangan mengganggu kehidupan kami, Kak Husein lebih cocok denganku. Pada akhirnya kamu hanyalah orang biasa, duniamu berbeda dengan orang kaya seperti kami.
Hati Sita ditusuk lagi, dia kembali ke kamar utama di lantai atas dengan rasa hampa. Semula, jika Linda tidak datang hari ini pun, dia juga berencana pergi.
Dirinya sudah bercerai sekarang, dia sudah tidak ada hak untuk tinggal di sini.
Saat Sita berkemas, dia baru menyadari jika barang-barang miliknya sangat menyedihkan, hanya sebuah koper yang tidak terisi penuh, tiga tahun ini seperti mimpi.
Sita melihat kertas hasil tes kehamilan yang diletakkan di samping tempat tidur, dalam lubuk hatinya berkata, “Saatnya untuk mengakhiri.”
Saat ini, Linda terang-terangan masuk ke kamar utama, dia membawa Perjanjian Perceraian itu, “Apakah sudah berkemas-kemas?”
Linda melihat kertas di samping tempat tidur, dari kejauhan dia melihat beberapa kata dari Rumah Sakit Ibu dan Anak, tatapan matanya ragu.
Sita menatap tajam dan dengan cepat meremas hasil tes kehamilan itu, Linda yang di sebelahnya terkejut dan berkata, “Bagaimana bisa kamu hamil?”
Bab 3
Sita meremas erat hasil tes kehamilannya, “Jika aku sungguh hamil, aku tidak akan bercerai.”
“Benar juga, lagi pula perempuan materialistis sepertimu pasti mengambil kesempatan untuk memanfaatkan kedudukan anak. Bahkan jika kamu hamil pun, Kak Husein tidak akan mengakuinya. Lagi pula kamu berasal dari keluarga yang biasa saja, tidak pantas memberikan keturunan untuk Keluarga Handoyo.”
Sita buru-buru membalikkan badan dan berjalan masuk ke ruang penyimpanan pakaian, tapi Linda mengikutinya, “Tunggu sebentar, aku mau lihat kertas yang baru saja kamu ambil dari atas meja.”
Linda kepikiran dan tidak tenang. Dia harus melihatnya dengan jelas. Jika Sita hamil, Sita harus menggugurkannya.
Sita meremas erat hasil tes kehamilannya, “Ini adalah rahasiaku.”
“Rahasia apa? Menurutku kamu ingin mencuri barang-barang penting yang ada di rumah ini. Berikan padaku!”
Linda maju dan mencengkram tangan Sita, bahkan ingin memukulnya. Sita secara reflek menangkis dengan tangan dan bahunya hingga membuat Linda terjatuh di lantai sambil meratap, "Kakiku sakit sekali.”
“Sita, apa yang kamu lakukan?
Suara dingin dan tajam Husein terdengar, Sita menoleh dan melihat Husein masuk. Tiba-tiba hatinya menciut dan bergumam, "Husein, ini tidak seperti yang kamu lihat…”
Husein hanya melewati Sita dengan wajah dingin, dia membungkuk dan menggendong Linda. Husein melihat Perjanjian Perceraian di lantai, yang terbuka halaman terakhir tertulis nama Sita Hartanto.
Tatapan mata Husein terkejut, bagaimana bisa dia menandatanganinya semudah itu?
“Kak Husein?”
Husein kembali tenang, dengan suara rendah bertanya pada Linda, “Kamu gapapa?”
“Kak Husein, tanganku sakit, apakah patah? Apakah aku masih bisa bermain piano?”
Husein membaringkan Linda ke atas tempat tidur, “Tidak, aku akan membawamu ke dokter.”
Setelah berkata demikian, Husein menoleh dan menatap Sita, “Minta maaf pada Lili.”
Linda adalah anak bungsu dari Keluarga Syailendra, di keluarganya ada tiga kakak laki-laki yang memanjakannya. Jika mereka tahu kalau Linda dipukuli, Sita dalam masalah besar.
Mendengar panggilan Husein pada Linda, rasa sakit meruak dari hati Sita.
Panggilan lainnya juga Sisi, tapi Husein tidak pernah memanggilnya demikian. Hanya pernah satu kali saat kecelakaan itu, ketika Husein memeluk hangat tubuh Sita, dia mengatakan nama Sisi. Seharusnya juga “Lili”, dia hanya berlebihan
Dari sudut mana pun, Sita hanyalah pengganti Linda.
Sakit hati Sita pelan-pelan mulai diacuhkannya, dengan suara serak berkata “Maaf?”
“Kamu yang memukulnya terlebih dahulu, anak umur tiga tahun saja mengerti. Selain itu apakah kamu tahu betapa pentingnya tangan bagi pianis?”
Iya, bahkan sehelai rambut Linda pun penting. Rumput liar di jalan pun lebih penting dibanding diri Sita.
Setelah menahannya selama tiga tahun, Sita tidak ingin menahannya lagi.
Sita menjawab dengan keras kepala, “Percaya atau tidak, kalau dia yang menghantam duluan.”
Pelayan memanasi Husein dan berkata, “Tuan, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri jika Nyonya yang mulai mendorong Nona Linda.”
Husein mengerutkan kening dan berkata dengan tegas, “Minta maaf!”
“Bagaimana kalau aku tidak mau?”
Tatapan Husein terkejut, istri yang selalu patuh, ternyata juga memiliki mulut yang tajam.
Husein mengerucutkan bibir tipisnya dan berkata, “Kamu berintegritas, pikirkan pamanmu yang terbaring sekarat di bangsal VIP Rumah Sakit.
Pada awalnya, paman Sita adu jotos dengan orang, akhirnya dia dilaporkan ke polisi dan ditahan. Yang membuat pamannya melarikan diri dan mengalami kecelakaan mobil. Sekarang dia masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.
Bagaimana bisa Sita tidak mengambil pelajaran dari sana?
Sita menahan air matanya, dia tidak mengira jika Husein akan menggunakan pamannya untuk menyerang dirinya. Dia melihat Linda yang angkuh itu berbaring di atas tempat tidur. Di samping tempat tidur tergantung foto pernikahan Sita dan Husein yang terlihat sedang menertawakan keberadaannya seperti lelucon.
Sita akhirnya menundukkan kepala melihat kenyataan, dan berkata dengan suara serak, “Maaf.”
Bab 4
Lubuk hati Linda senang sekali, dengan munafiknya dia berkata, “Demi Kak Husein, aku memaafkanmu.”
Sita meluruskan punggungnya, menatap ke arah Husein, “Apakah aku boleh pergi?”
Sita juga tidak ingin tinggal di sini lebih lama lagi.
Sita membereskan Perjanjian Perceraian di lantai dan diberikan kepada Husein. Sikap dia kali ini sangat tegas.
Husein melirik Perjanjian Perceraian, tanpa sadar alisnya berkerut, kali ini semudah itu dia menandatanganinya. Dulu Sita mencari nenek sebagai tameng. Awalnya dia sudah memikirkan bagaimana membujuk nenek, tapi sekarang tidak perlu.
Lubuk hati Husein sedikit tidak nyaman tanpa alasan ketika melihat koper di lantai. Sita sudah berkemas?
Husein mengangkat kepala, “Sudah ketemu tempat tinggal?”
“Belum.”
Setelah Sita tersadar menjawab, dia melihat Husein dengan terkejut, apakah dia baru saja peduli kepada dirinya?
Husein buru-buru mengalihkan pandangan, “Ambilkan dan kompreskan es batu ke Linda. Kaki dia keseleo karenamu, bagaimana bisa kamu pergi begitu saja?”
Oh, jadi karena Linda.
Untuk sesaat, Sita mengira Husein peduli padanya. Tiga tahun menikah, dirinya tidak sebanding dengan sehelai rambut cinta pertama Husein.
Sita keluar dari kamar dengan langkah yang berat. Orang ketiga tidur di kamar mereka, bahkan dia akan mengkompres kaki orang ketiga itu dengan es batu.
Sita, apakah dirimu murahan?
Saat turun dari tangga, Sita memijak tangga yang salah, dia langsung mengulurkan tangan dan meraih pot bunga terdekat. Sita terguling bersama dengan pot tersebut.
Pada saat itu, ada seseorang yang menarik tangannya.
Sita menatap Husein dengan tatapan kosong, ternyata Husein yang menyelamatkan dirinya.
Husein menarik Sita sekuat tenaga, kepalanya membentur dada Husein, sisi wajahnya menempel di jantung Husein. Dia mendengarkan detak jantung Husein berdegup cepat.
Sita gugup dan mundur, mencoba menjaga jarak antara mereka berdua.
Alhasil, tubuhnya menjadi ringan dan ia digendong menuruni tangga, wajahnya menempel erat di dadanya, seketika Husein terlihat maskulin.
Husein menurunkan Sita, wajah Sita mulai memanas.
Meski sudah menikah selama tiga tahun, keduanya belum pernah melakukan kontak fisik, kecuali kecelakaan bulan lalu.
Suara dingin Husein terdengar dari atas kepalanya, “Ingatlah untuk menggunakan otakmu saat berjalan, agar tidak terjatuh seperti orang bodoh.”
Sita tersenyum tipis, suasana hatinya mulai tenang. Dia melihat pot bunga jatuh dari atas tangga, dan tanah liat berserakan di tanah, “Akan segera kubersihkan.”
“Panggil saja pelayan, apakah kamu tidak ada pekerjaan lain?”
Alis Husein makin berkerut, dia sudah mempekerjakan banyak pelayan jadi tidak perlu bersusah payah lagi.
Sita kemudian teringat apa yang harus dia lakukan di bawah – mengambilkan es batu untuk Linda.
Mata Sita menertawakan dirinya sendiri, Dia mendongak dan melihat kemeja Husein terkena tanah liat. Demi menyelamatkan Sita, Husein harus terpercik tanah.
Husein memiliki fobia terhadap sesuatu yang kotor, dapat dipastikan jika dia tidak akan mentolerir beberapa hal itu.
Sita awalnya ingin memperingatkannya dengan keras, tapi Husein sudah terlanjur naik dan mengarah ke kamar tidur utama. Apakah dia sebegitu mengkhawatirkan Linda? Bahkan dia tidak peduli pada tanah liat yang menempel di tubuhnya.
Sita menghela napas, dia membawa es batu ke lantai atas. Setelah membuka pintu dan masuk, dia tidak melihat Husein. Dimana yang lain?
Linda bersandar di sandaran kasur, bibir merahnya tersenyum tipis, “Taruh saja es batunya disitu. Mungkinkah kamu benar-benar ingin melayaniku? Atau kamu masih ingin melihatku bercinta dengan Kak Husein? Aku sudah tiga tahun tidak bertemu dengannya.
Perkataan Linda seperti menyiratkan sesuatu!
Pada saat ini, Sita mendengar suara air mengalir dari kamar mandi, Husein sedang mandi di kamar mandi.
Rona merah di wajah Sita seketika memudar.
Tidak lama setelah Sita dan Husein bercerai, Husein tidak sabar untuk berhubungan badan dengan Linda.
Bab 5
Sita memikirkan apa yang selanjutnya akan terjadi di ranjang, dia langsung merasa mual. Tapi dia mampu menenangkan dirinya, Sita berbalik ke ruang penyimpanan pakaian untuk mengemas barang-barangnya. Sudah dikemas dengan cepat di sebuah koper.
“Pelayan, koper itu sepertinya dari merek terkenal. Carikan dia kantong untuk mengemas barang bawaannya.”
Dengan cepat, pelayan menemukan tas karung yang kotor dan melemparkannya ke Sita, “Gunakan tas ini.”
Sita berjongkok untuk membuka koper, di belakangnya terdengar suara Linda, “Periksa kembali barang bawaanya untuk menghindari pencurian dan mengambil barang yang seharusnya tidak dia ambil.”
Mendengar perkataan itu, Sita teringat apa yang dikatakan Husein tentang pengguguran anak. Husein ada di kamar mandi sebelah, jika ada yang mengetahui tentang hasil tes kehamilan, anak itu pasti tidak selamat.
Pelayan dan Linda melihat dengan seksama dan menunggu peluang dari luar ruang penyimpanan pakaian. Sita sekilas melihat hasil tes kehamilan yang dia sembunyikan, tidak lama setelah itu dia membuat sebuah keputusan.
Sita membalikkan badannya, diam-diam merobek hasil tes kehamilan, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, dan menelannya dalam satu suap. Dia melihat pakaian Husein di ruang penyimpanan pakaian, hatinya pelan-pelan mati.
Setelah hari ini, anak ini tidak ada hubungannya dengan Keluarga Handoyo.
Sita menyeret tas karungnya keluar dari ruang penyimpanan pakaian, dan berkata dengan suara dingin, “Apakah ingin memeriksanya?”
Linda menutup mulutnya menggunakan satu tangan dengan ekspresi jijik, “Suruh dia cepat keluar untuk pemeriksaan, tas karung itu baunya tidak enak.”
Husein sebentar lagi akan selesai mandi, dan dia tidak akan bisa mengusir Sita. Linda tidak akan mungkin bisa menyembunyikan masalah rahasia ini.
Pelayan mendorong Sita keluar, “Apakah kamu tidak dengar? Cepat keluar!”
Sita berjalan sampai pintu masuk rumah, waktu yang pendek seolah seperti satu abad.
Pelayan merebut kantong berbahan kulit ular dari tangan Sita, menumpahkan semua barangnya ke lantai seolah sedang mencari sesuatu.
Sayangnya, Sita telah menelan hasil test kehamilan itu.
Sita berjongkok, mencoba memungut barang-barang yang berserakan.
Pada saat itu, ponselnya berdering.
Setelah teleponnya terhubung dan mendengar suara Bibi, tiba-tiba air mata Sita meruak.
Sita baru saja dihina oleh perempuan jalang dan disalahpahami oleh Husein. Dia menahannya tanpa meneteskan air mata sedikit pun, tetapi setelah mendengar suara Bibi, tiba-tiba Sita tidak mampu menahannya, suaranya tercekat, “Bibi.”
“Sita, kamu kenapa menangis?”
“Bibi, aku sudah bercerai, aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi.”
“Anak bodoh, siapa bilang kamu tidak punya siapa-siapa? Niatku meneleponmu untuk memberitahumu kabar baik ini, sebenarnya keluargamu menemukanku, kamu memiliki tiga saudara kandung. Mereka orang Manado bernama Syailendra, dan juga memiliki tiga sepupu laki-laki. Totalnya kamu memiliki enam saudara laki-laki. Mereka semua mencarimu, dan mereka adalah keluargamu.”
Sita mematung, “Keluargaku?”
Sita sudah lama mengetahui bahwa dirinya adalah seorang yatim piatu, tetapi dia tidak pernah terpikir untuk menemukan keluarganya. Karena orang tuanya tidak menginginkannya, dia juga tidak perlu mencarinya.
“Sita, jangan menangis. Cepatlah pulang. Jangan pedulikan keluarga kaya itu! Kenapa aku tidak membiarkan kakakmu datang…”
Belum sempat Sita bicara, daya ponselnya habis dan ponselnya mati.
Hatinya benar-benar bimbang, apakah dia benar-benar menemukan keluarganya?
“Sita, keributan apa lagi yang kamu lakukan?”
Saat ini, Husein mengenakan jubah mandi yang longgar, dia keluar dari ruang tamu dan dengan itikad baik ingin meminta Sita untuk tinggal di sini selama beberapa hari. Alhasil ketika Husein mandi, Sita langsung mengemasi barangnya dan pergi.
Bab 6
Husein melihat barang-barang berserakan di lantai, semuanya adalah pakaian biasa, tidak ada satu pun barang mewah dari merek terkenal yang Sita bawa.
Bukankah itu alasan Sita menikahi Husein? Anehnya, Sita tidak pernah meminta apa pun.
Pandangan Husein tertuju pada tas karung yang sangat kotor, dia berkata sambil mengerutkan dahi, “Sok jual mahal lagi, kali ini dia ingin mendapat belas kasihan dari siapa? Nenek juga tidak ada di sini.”
Selama tiga tahun menikah, secara finansial dia tidak pernah memperlakukannya tidak adil, kecuali untuk menyukai Sita.
Meskipun bercerai, Husein juga memberi Sita kompensasi dalam jumlah besar, cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar Sita.
Apakah dia benar-benar ingin pergi atau hanya berpura-pura?
Sita menggenggam erat ponselnya yang mati, dia masih belum mencerna berita yang disampaikan Bibi padanya jika keluarganya sudah ketemu. Bahkan Sita juga bermimpi kalau dirinya ditemukan oleh keluarganya, sejak saat itu dia tidak lagi sendirian.
Sita agak linglung, tepat di depan mata Husein seolah menyetujui.
Linda berpura-pura pincang menyusul Husein, “Kak Husein, Sita baru saja mengemasi barangnya untuk pergi, tapi dia malah mengambil tas karung yang sangat kotor dari dapur, aku sudah membujuknya tapi tidak digubris.”
Pelayan langsung memprovokasi, “Tuan Muda, saya sudah membujuk Nyonya Muda untuk tidak menggunakan tas karung ini, tapi beliau menolak, bahkan pakaiannya berserakan di lantai. Sudah jelas ada koper bermerek terkenal yang tidak digunakan, tapi malah memilih yang jelek. Jika sampai tersebar, orang-orang akan berpikir jika Keluarga Handoyo memperlakukannya dengan buruk.”
Suasananya sangat tenang, Sita dapat mendengar fitnahan kedua orang itu terhadapnya, dia mematung di tempatnya berdiri seperti sebuah kayu.
Sita memandang Husein di depannya, ingin tahu apa yang akan dia katakan.
Mata Husein menyala dan berkata dengan dingin, “Kamu tidak ingin mengakui apapun?”
Benar saja.
Mata Sita mencemooh dirinya sendiri, “Semua sudah dikatakan oleh mereka, aku tidak mau mengatakan apa pun.”
Lagi pula, Husein tidak akan percaya meskipun Sita mengatakannya, mengapa repot-repot menjelaskannya.
“Sita, kamu masih belum puas? Apa lagi yang kamu mau?”
Di mata Husein, Sita adalah seorang perempuan yang menikahinya demi uang.
Sita membiarkan keadaan makin memburuk dengan menjawab, “Aku hanya ingin menjadi istri orang kaya yang hanya tahu foya-foya. Lihatlah istri orang lain, mereka tidak belanja, tapi ngopi cantik. Setelah aku menikah denganmu, tempat yang paling banyak ku kunjungi adalah dapur, dan tempat yang paling jauh adalah pasar. Tiga tahun kemudian, kamu mengusirku dan menyia-nyiakan tiga tahun masa mudaku! Kita sudah bercerai, sekarang aku sudah tidak ingin melayanimu, apakah tidak boleh?
Sita melampiaskan kebenciannya selama bertahun-tahun dalam satu tarikan napas, seketika dia merasa jauh lebih lega.
Benar saja, menjadi pembangkang, membuat hidup jauh lebih lancar.
“Sudah selesai yang bicara?”
Mata Husein menunjukkan keraguan, dia sudah memberinya kartu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang berisi 200 juta per bulan.
Biasanya Husein meminta pelayan untuk mengirimkan pakaian dan tas bermerek pada Sita setiap season.
Biaya pengobatan paman Sita juga ditanggung oleh Husein.
Mereka bercerai pun, Sita menerima kekayaan yang melimpah. Cukup untuk kehidupannya, Husein sudah melakukan hal yang luar biasa.
Sita merasa itu masih belum cukup?
“Untuk beberapa saat, aku belum selesai bicara.”
“Lanjutkan saja.”
“Kalau kamu ingin mendengarnya, kamu harus membayar lebih.”
Bibir tipis Husein mengerucut dan berkata dingin, “Sita, kamu sangat meterialistis. Serakah tidak akan memberikan hasil yang baik.”
Cukup yakin dengan perkataan Sita, Sita masih menganggap uangnya terlalu sedikit.
Husein sedikit kecewa. Dia menatap mata Sita yang tegar, bersih dan jernih. Husein benar-benar tidak mengerti perempuan serakah yang sombong dan bermulut besar ini, bagaimana bisa memiliki mata yang begitu bersih!
Bab 7
Pada awalnya Husein tidak pernah terpikir untuk menikahi Sita. Sejak mereka menikah, selama Sita berperilaku baik dan patuh, Husein tidak akan peduli dengan latar belakang keluarganya yang miskin, karena kekayaannya mampu menghidupinya.
Tapi Sita sudah berkali-kali membuat keributan, bahkan sekarang dia sudah tidak mau berpura-pura, akhirnya Sita menunjukkan identitas aslinya.
Seharusnya Husein merasa lega, tapi melihat Sita menandatangani Perjanjian Perceraian, dia tiba-tiba seperti meninju kapas, sangat tidak berdaya.
Sita menyembunyikan kesedihan di matanya. Dia berpura-pura tidak peduli, dia tidak ingin saat akhirnya harus pergi, harga dirinya diinjak-injak oleh Husein.
Linda melihat keadaan memburuk dan dengan cepat berkata, “Sita, kenapa kamu terburu-buru menandatangani perjanjian perceraian? Apakah sudah menemukan tempat tinggal?”
Raut wajah Husein berubah lebih dingin, alisnya mengerut menatap Sita lekat-lekat.
Sita melihat raut tidak percaya Husein. Tidak ingin terlihat lemah, dia menjawab “Ya, selama dengan pasangan baru yang lebih baik, tak kan ada mantan yang tidak bisa melupakan.”
Mata laki-laki itu dipenuhi amarah, “Makan dan minum pun kamu numpang padaku, tanpaku bisa apa kamu di luar sana?”
Sita melihat baju di atas lantai, “Baju-baju itu kukembalikan padamu.”
Sita hanya mengambil beberapa pakaian yang tidak mecolok, dia sama sekali tidak mengambil tas dan perhiasan lain yang bermerek.
Husein sama sekali tidak melirik pakaian di atas lantai, tatapannya langsung tertuju pada Sita, “Baju yang kamu kenakan itu, aku juga yang membelinya.”
“Ini juga akan kukembalikan.”
Tatapan mata Husein dingin, menatap tajam ke arah Sita.
Mata Linda berbinar. Dia dengan senangnya, diam-diam mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan pemandangan indah ini.
Sita masih berdiri di tempatnya, dia sudah siap dengan segala risikonya.
Dia perlahan membuka kancing kemejanya, memperlihatkan tulang selangkanya yang halus, serta lekuk tubuhnya yang indah.
Mata pria itu sedikit menyipit, Husein tidak menyangka Sita benar-benar berani melepas bajunya.
Wajah Husein menjadi pucat, “Sudah cukup Sita! Kamu adalah wanita paling tidak bermoral yang pernah kulihat. Pergilah, aku tidak ingin melihatmu lagi!”
Setelah berkata demikian, Husein berjalan menuju ruang tamu. Bayangan punggungnya dingin seperti biasanya.
Tangan Sita berhenti, tatapan matanya mencibir. Bukankah Husein yang memintanya melepas bajunya?
Telapak tangannya penuh keringat, dia tadi benar-benar membahayakan dirinya.
Linda memasukkan kembali ponselnya dengan sedikit penyesalan, dia mengangkat alisnya dan berkata dengan sombong, “Meskipun kamu merendahkan martabatmu, tapi lihat apakah ada orang kaya yang bersedia membayarmu. Jika tidak, percuma kamu melakukan itu! Orang akan bilang latar belakangmu buruk. Selamanya, kamu akan menjadi orang biasa, jangan pernah berpikir hidupmu akan lebih baik.”
Sita menarik tas karung itu, dia mendengus. Terkadang dia sangat iri dengan orang yang terlahir beruntung.
Setiap kali dicemooh, Sita berilusi kalau keluarganya jatuh dari langit, untuk membantu dirinya melampiaskan amarahnya.
Tapi dia juga tahu kalau ilusi semacam ini hanya ada di drama televisi, meskipun sekarang Sita sudah menemukan keluarganya, adegan seperti itu juga tidak akan mungkin terjadi.
Pada saat ini, dari langit terdengar suara dengungan, sebuah helikopter melandas di lapangan dengan sangat gagah.
Beberapa orang berpakaian hitam bertubuh kekar dan jangkung turun dari helikopter, mereka berjalan turun dengan tampang garang.
Disana, setelah Husein mendengar suara helikopter, dia berdiri di pintu masuk ruang tamu dan melihat dengan mata kepalanya sendiri beberapa pengawal berbaju hitam berdiri tepat di depan Sita.
Pengawal berpakaian hitam bertubuh kekar dan jangkung berbicara dengan hormat, “Nona Hartanto, kami datang untuk menjemput anda.”
Bab 8
Pergi menjemput Sita?
Sita melihat helikopter di depannya, tiba-tiba dia baru teringat kalau bibinya menelepon dan mengatakan kalau sudah menemukan keluarga Sita.
Apakah mungkin keluarganya mengirim mereka untuk menjemputnya?
Sita mencubit pipinya, masih mengira dirinya sedang bermimpi, akankah ada helikopter yang muncul tak terduga lalu menjemputnya?
Akankah angan-angan Sita selama 20 tahun akan terwujud sekarang?
Raut wajah Linda mencibir, “Sita, kamu benar-benar pandai bermain peran. Kamu dan kelompok teatermu berakting senatural mungkin. Ayam tetaplah ayam, penyamaran seperti apa pun tidak akan mengubah penampilanmu yang miskin. Helikopter itu juga, sepertinya pertama kali dalam hidupmu naik helikopter, kampungan!”
Belum sempat Sita berbicara, pengawal di sampingnya melayangkan tamparan ke mulut besar Linda hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur.
Linda berteriak, “Sita, beraninya kamu membiarkan orang ini memukulku? Kamu tidak tahu aku siapa? Apakah kamu tahu siapa saudaraku? Aku pasti akan mengambil nyawa seluruh keluargamu.”
Sita tersenyum tipis melihat Linda yang acak-acakan, “Kakakku tetaplah Leon.”
Sita berbalik dan berjalan menuju helikopter. Dari arah belakang terdengar suara sedikit marah Husein, "Sita, berhenti!”
Sita menghentikan langkahnya, namun dia tidak sedikit pun menoleh dan tetap berjalan menaiki helikopter.
Husein melihat punggung Sita yang semakin menjauh. Husein sedikit demi sedikit mempercepat langkahnya hingga berlari. Linda dengan menyedihkan menarik lengan Husein ke sampingnya, “Husein, kamu melihatnya kan, Sita berani memukulku!”
Namun, Husein sedikit pun tidak melirik Linda. Tatapannya dingin ketika melihat punggung Sita menjauh melangkah ke helikopter dan pergi. Tatapan Husein sangat kompleks – wanita ini benar-benar pergi!
“Kak Husein, Sita pasti sudah menemukan tempat tinggal. Kalau tidak, bagaimana dia bisa menceraikanmu, lalu mencari pria kaya mengirim helikopter untuk menjemputnya?”
“Diam!”
Mata indah Husein sedikit menyipit, dia berpikir Sita hanya pamer dan sengaja mengatakan ini untuk membuat dirinya marah.
Husein tidak menyangka kalau Sita benar-benar menemukan keluarga baru!
Husein segera memanggil asistennya, “Sita dijemput dari rumah dengan helikopter, cari tahu kemana dia pergi.”
“Kak Husein, apakah kamu begitu mengkhawatirkan Sita? Dia telah mengkhianatimu dan mencari pria lain.”
“Diam!”
Husein mengerutkan dahi dan berkata, “Aku hanya ingin memberi penjelasan kepada nenek. Hidup atau mati wanita itu bukan urusanku.”
Linda mengertakkan gigi dengan sedikit marah, tetapi dia tidak berani berkata apa-apa lagi. Dia lupa bahwa Nenek Handoyo sangat menyayangi Sita.
——
Di helikopter, Sita melihat pemandangan malam kota, dia mengangkat sudut-sudut bibirnya.
Setengah jam kemudian, helikopter berhenti di rooftop sebuah hotel bintang lima.
Sita turun dari helikopter dengan didampingi oleh pengawal tinggi berpakaian hitam bertubuh kekar dan jangkung berdiri di kanan dan kirinya, mereka bicara serempak, “Nona, selamat datang di rumah.”
Sita tekejut dengan situasi ini, apakah ini tidak berlebihan?
Sita melihat dua orang berdiri di ujung, Seorang adalah bibi, serta lainnya adalah pria tampan dan dingin yang berjas hitam.
Apakah pria itu adalah saudara laki-lakinya?
Tapi bibi mengatakan jika Sita memiliki enam saudara laki-laki?
“Sita, kamu telah kembali.”
Bibi bergegas memeluk Sita, “Kamu menderita di keluarga suamimu, ya? Tidak masalah jika kalian bercerai. Bagaimana pun, keluargamu telah menemukanmu. Mari kita mulai lagi dari awal.”
Sita mengangguk dengan mata merah, “Oke.”
“Kemarilah Sita, perkenalkan dia adalah kakakmu.”
Sita memandang pria tampan dan brilian itu mendekat, dengan gaya elit dan sombongnya, sepertinya temperamennya sama dengan Husein yang memancarkan sikap tenang dan percaya diri.
Doni memandag gadis mungil di depannya, sangat kurus, wajahnya tidak terurus. Dada Yoga terasa sesak, dia yang biasanya pandai berbicara, menjadi bungkam.
Lin Dongye memandangi gadis kecil mungil di depannya, sangat kurus, dan wajahnya tidak terlalu bagus. Dadanya tertutup rapat, dan dia, yang selalu fasih berbicara, kini tidak bisa berkata-kata.
Setelah menunggu lama, Sita dengan sedikit canggung berinisiatif untuk membuka obrolan, “Halo.”
Doni mendengar suara halo ini, dia menjadi semakintidak nyaman. Apakah Sita menyalahkannya?
Biasanya Doni yang selalu rajin bekerja, saat ini bertanya dengan hati-hati, “Apakah kamu punya keinginan sekarang?”
Pria yang biasanya mendominasi di mal ini berbicara dengan hati-hati saat ini, “Apakah kamu punya keinginan sekarang?”
Sita berkata ragu, “Keinginan?”
“Hal apa yang kamu inginkan sekarang?”
Sita mengalihkan pandangan, “Aku ingin pulang.”
Doni perlahan mengepalkan tangannya. Pulang? Maksud pulang dari Sita mengarah pada rumah ini, ‘kan?
Jika dari awal dia tidak kehilangan Sita, dia tidak mungkin mengalami kesulitan seperti ini.
Bab 9
Saat ini, bibi meraih pundak Sita, “Jangan khawatir, saudara-saudaramu yang lain akan segera datang. Belum terlambat untuk bertemu kembali dengan mereka, ke tempat yang disebut rumah yaitu keluarga.”
Doni melirik dengan penuh rasa terima kasih pada bibi di depannya. Jika bukan karena wanita yang selama ini mengasuh adiknya dengan sepenuh hati, hidup Sita akan menjadi lebih buruk. Doni berkata dengan sopan, “Kamarnya sudah dipesan, mari kita ke restoran terlebih dahulu untuk makan malam.”
Sita berjalan bersama bibinya. Di depan, ada kakak laki-lakinya yang baru saja dia temui. Dia menyadari jika Doni sedikit bicara, dan agak sulit bergaul.
Tapi tampaknya Doni cukup kaya.
Sita turun dari lantai atas hotel bintang lima yang lingkungannya sangat mewah. Dia belum pernah ke tempat seperti itu sebelumnya.
Doni sangat patah hati hingga terasa sesak saat memikirkan adiknya akan kembali tinggal di rumah tua itu.
Sita memandang Doni, “Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa, hanya kelilipan. Sita, apakah kamu akan mempertimbangkan untuk pindah ke tempat tinggal lain?”
Doni telah menyiapkan banyak rumah. Ketika adiknya kembali, dia harus memilih rumah terbaik untuk adik perempuannya!
Sita menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, menurutku rumah sebelumnya sudah cukup bagus. Aku dibesarkan di sana. Tidak peduli seberapa besar rumah itu, aku nggak mau pindah dan juga nggak peduli!”
Kata-kata Doni tercekat di tenggorokan, hingga akhirnya dia menelan kembali kata-katanya.
Doni sedari awal sudah kehilangan adik perempuannya, selama bertahun-tahun dia tidak memenuhi tanggung jawabnya. Maka dari itu, Sita menolak untuk tinggal di rumah yang dia sediakan.
Doni berbicara dengan lembut, “Oke, silakan.”
Jika Sita bisa tinggal dimana pun, Doni juga bisa. Bahkan dia telah memutuskan untuk menemani Sita melewati suka dan duka.
Bagaimana jika membeli semua bangunan itu?
Lalu mengosongkan semua lantai dan pelayan bisa tinggal agar kapan pun dan dimana pun bisa melayani Sita.
Ide itu sempurna.
Sekelompok orang datang ke lobi. Doni melirik ponselnya dan berkata, “Sita, kakak iparmu meneleponku. Kamu duduk dulu aja.”
Doni berjalan ke samping, dan terdengar suara ceria dari seorang wanita, “Suamiku, aku membawa tumpukan sertifikat rumah, serta koleksi perhiasamku selama bertahun-tahun, tas edisi terbatas dan mobil kesayangan adikmu. Semuanya sudah aku atur, tergantung apa yang adikmu suka.”
Doni menghela nafas panjang, “Kita tunda dulu untuk hadiah pertemuan ini.”
“Kenapa?”
“Sita tidak mudah dibujuk. Kamu tidak akan bisa membujuknya dengan uang.”
“Doni, aku sudah bilang untuk menungguku datang, tapi kamu bersikeras untuk menjemputnya lebih awal. Kamu bisa bilang apa untuk membujuknya? Kalian telah kehilangan Sita selama bertahun-tahun. Selama itu kehidupannya pasti tidak berjalan dengan baik, jadi aku yakin Sita memiliki dendam di hatinya. Kamu bukan orang yang bisa menjelaskan dengan baik. Jadi kamu pergi atau tidak pun, sama aja!”
Doni menepuk jidatnya, “Sekarang aku harus gimana?”
Doni terlalu cemas, kebetulan dia sedang dinas di sini, jadi dia datang secepatnya.
“Mau gimana lagi? Kamu udah mengacaukan semuanya. Sekarang lihat gimana hasil dari tindakanmu.”
“Hasil apa?”
“Aku juga gak tahu, kamu sendiri yang mau pergi. Kalau begitu, jangan beritahu adikmu. Dia telah menderita selama lebih dari sepuluh tahun, sedangkan kalian, menikmati kehidupan.”
Doni tidak sepenuhnya mengerti. Hal ini membuatnya gila sekarang.
Menghadapi saudara perempuannya yang terasingkan, Doni amat menyayangi Sita.
——
Di sini, Sita membawa bibinya ke restoran terdekat.
Bibi merendahkan suaranya, “Keluarga kakakmu tampaknya sangat kaya, sehingga kamu sudah tidak perlu menderita lagi.”
“Bi, keluarga orang kaya tidak sesederhana itu. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku ditinggalkan sejak awal, mungkinkah bebas dari kehidupan yang penuh penyiksaan?”
“Bah! Jangan bicara omong kosong. Dulu ada seorang peramal yang mengatakan bahwa kamu itu orang kaya dan berkecukupan”
Sita memegang tangan bibi, “Doni meminta helikopter untuk datang menjemputku. Jadi apakah dia tahu tentang aku dan Husein?”
“Entahlah, aku bilang kalau kamu bekerja paruh waktu di rumah itu. Aku paham kalau kamu tidak ingin orang lain tau tentang kamu yang menikah dengan Husein, jadi aku tidak berkata pada siapa pun.”
Sita menghela nafas lega, baguslah kalau seperti itu.
Tiba-tiba, orang tua angkat Sita datang dan memarahinya, “Sita, kamu anak kecil yang tidak tahu berterima kasih. Awalnya kamu adalah seorang yatim piatu yang tidak diinginkan siapa pun, tetapi keluarga kami dengan baik hati mengadopsimu. Ketika sekarang kamu telah menemukan keluargamu yang kaya, apakah kamu ingin melupakan kami? Keluarga Hartanto yang tertua, apakah Anda ingin menyingkirkan kami? Wahai keluarga Hartanto yang dermawan.”
Bab 10
Ketika Sita melihat orang tua angkatnya, senyum di wajahnya tiba-tiba menghilang, “Kalian juga masih memiliki muka untuk mengatakan kalau kalian adalah orang tuaku? Ketika aku hampir mati kelaparan di rumah, bibi lah yang memberiku makan. Kemudian, kalian juga yang menitipkanku ke bibi untuk membesarkanku.”
Bibi agak terkejut, “Bagaimana kalian bisa menemukan kami di sini, aku bahkan tidak berkata apa pun.”
Ibu angkat sita menyilangkan kedua tangannya, “Kakak ipar, kamu tidak mau mengatakannya kalau jelas-jelas kami adalah pengadopsi Sita. Apakah kamu mau memanfaatkan situasi ini sekarang? Tidak bisa!”
Ayah angkat Sita meludahkan dahak, “Itu benar. Di mana keluarga Sita? Kalau kalian bisa tinggal di hotel yang sangat mahal, keluarganya pasti kaya, jadi biarkan mereka memberi kami kompensasi.
Keluarga angkat Sita tidak menyangka jika anak yang di adopsi ternyata berasal dari keluarga kaya, dan juga terkenal.
Sita melindungi bibi dan memandang orang tua angkatnya dengan dingin, “Mimpi, aku tidak akan memberimu sepersen pun. Karena kalian, pamanku berantem hingga terlibat dalam kecelakaan mobil. Alhasil, kalian masih berhutang padaku dan tidak mengembalikannya. Jika kalian tidak menunda waktu perawatan, pamanku tidak akan terbaring koma di rumah sakit.”
Mata Bibi memerah saat mendengar ini. Demi biaya rumah sakit, Sita rela menikahi pria yang sudah sekarat.
Ayah angkat Sita agak takut tertangkap basah.
Ibu angkat Sita merasa berhak memukul Sita, “Anak kecil, menurutku kamu sudah keterlaluan, aku harus memberimu pelajaran.”
“Siapa yang berani memukul adikku!”
Sebuah suara tajam mendekat.
Doni berjalan mendekat, auranya yang mengintimidasi membuat orang takut. Dia diikuti oleh sekelompok pengawal.
Orang tua angkat Sita ketakutan, nyali Ibu angkat Sita menciut, “Aku sedang mengajari putriku, tidak perlu ikut campur!”
Raut wajah Doni dingin, “Dia adalah adikku, sejak kapan menjadi putrimu?”
Mata Ayah angkat Sita berbinar, dia menggosok tangannya dan berkata dengan rakus, “Kamu pasti keluarga Sita, benar? Tidak mudah bagi kami untuk membesarkannya, bukankah sekarang kamu harus membayarnya? Jika kami tidak membesarkannya, dia pasti sudah mati kelaparan.”
“Ingin berapa?”
“Tidak banyak, hanya 2 miliar.
Ibu angkat Sita mengedipkan matanya dan segera mengubah jumlahnya, “100 miliar.”
Doni mendengus, “Bagaimana bisa 100 miliar sepadan dengan nilai adikku, setidaknya 200 miliar.”
Hanya 100 miliar, Doni meremehkannya?
Kenyataannya, Sita adalah adik perempuan Doni.
Selama bertahun-tahun, Doni telah menghabiskan miliaran untuk mencari Sita. Selama dia dapat menemukan saudara perempuannya, Doni rela jika harus menggunakan seluruh kekayaannya.
Orang tua angkat Sita dibuat pusing oleh 100 miliar. Uang 100 miliar ini juga tidak akan bisa dihabiskan seumur hidup.
Sita tertawa dingin, “Benar-benar perampokan, kalian masih menginginkan 100 miliar? Bahkan jika aku menyumbang, aku tidak akan memberi kalian sepersen pun.”
“Ketika kalian mengunci Sita di gudang kayu bakar dan tidak memberinya makanan, ketika aku melihat Sita, dia sangat kelaparan sampai kehabisan napas. Kalian masih memiliki muka untuk meminta uang? Kalian masih menginginkan 100 miliar? Tidak tahu malu!”
Sita merangkul bibinya, “Jaga emosimu, jangan gubris mereka.”
Ayah angkat Sita sangat marah dan ingin memukul Sita, “Sita, kamu gadis yang jahat, sangat tidak tahu terima kasih!”
Doni menendang pria baruh itu dengan ekspresi dingin dan berkata, “Tapi uang ini untuk orang yang sudah membesarkan saudara perempuan saya, apakah itu ada hubungannya denganmu?”
Tanpa diduga, Orang tua angkat Sita bukan orang yang baik.
Sita melihat ayah angkatnya terbaring di tanah tak bergerak, Sita terkejut. Dengan satu tendangan, Doni dapat menjatuhkannya sampai seperti ini.
Sepertinya Doni agak kejam.
Doni menoleh dan berkata dengan nada lembut, “Kamu pergi duluan saja dengan bibi, aku akan menanganinya.”
“Tapi…”
“Percaya padaku, dulu kamu memang sendirian, tapi sekarang kamu punya aku. Good girl!”
Sita terharu, hatinya agak tersentuh, apakah ini rasanya dilindungi oleh keluarga?