Ayah Beranak Tiga yang Hebat

Đang tải thông tin quảng bá...

Ayah Beranak Tiga yang Hebat

GoodNovel Hoàn thành
CantikKayaBos / CEO

Yasmin Tanoto yang pergi ke bar karena patah hati tidur dengan seorang model bar, tapi keesokan harinya Yasmin melarikan diri. Dua tahun kemudian, Yasmin kembali ke negaranya. Dia baru tahu model bar ...

Chương (1)

第1章

Bab 1 Yasmin Tanoto perlahan-lahan bangun, dia merasa tubuhnya sangat sakit seolah-olah dia telah diinjak-injak oleh binatang buas. Saat dia membuka matanya, dia terkejut ketika melihat ada seorang pria berambut tebal di sebelahnya dan hampir berteriak. Namun, Yasmin buru-buru menutup mulutnya. Ketika ingatan-ingatan dari kejadian semalam muncul di otaknya, Yasmin ingin sekali membunuh dirinya! Karena pacarnya selingkuh, Yasmin pergi ke bar untuk minum sampai mabuk. Maka itu, terjadilah kejadian ini! Dia tidak berani mengingat kembali dengan detail, bahkan lebih tidak berani lagi melihat wajah pria itu. Yasmin diam-diam turun dari tempat tidur, mengambil pakaiannya yang di lantai, lalu pergi tanpa menoleh kembali .... Dua tahun kemudian .... Yasmin sedang duduk di dalam pesawat kembali ke negaranya sambil menonton video di ponselnya. Itu adalah video anaknya dari lahir sampai sekarang berusia dua tahun. Semuanya ada di dalam ponsel .... "Mama!" "Mama!" "Mama!" Suara menggemaskan dari ponsel terus memanggil Yasmin. Wajah gadis kecil di layar membuat Yasmin tidak bisa berhenti tersenyum dan merasa hatinya hangat. Setelah kejadian malam itu di kamar presidential suite dua tahun lalu, Yasmin yang masih kuliah hamil. Tanpa pikir panjang, dia berlari ke rumah sakit untuk aborsi. Namun, saat dokter berkata dia hamil anak kembar tiga, dia menjadi ragu. Yasmin bahkan sudah masuk ke ruang operasi, tapi ketika dia hendak dibius, dia melarikan diri. Saat melihat dua anak laki-laki dan satu anak perempuannya yang menggemaskan, dia merasa senang karena memutuskan untuk melahirkan mereka. Mereka juga memulihkan kegelisahannya yang saat ini dia rasakan karena pulang sendirian .... Sudah berapa lama dia tidak pulang? Lima atau enam tahun. Kalau boleh, dia selamanya tidak ingin pulang. Akan tetapi, Tante yang baik pada Yasmin berharap Yasmin bisa menghadiri ulang tahun pernikahannya dengan Paman. Tante juga sudah lama tidak melihat Yasmin, jadi Tante merindukannya. Yasmin bukannya tidak rindu tantenya, hanya saja menurut Yasmin, Kota Imperial penuh dengan pengalaman yang menyakitkan. Nanti setelah pestanya selesai, dia akan langsung pergi .... Yasmin yang mengenakan gaun putih dan sepatu hak tinggi melangkah masuk ke ruang pesta hotel. Interiornya mewah, tamu-tamu berpakaian cantik dan tampan, suasananya juga ramai. Pemandangan tersebut membuat Yasmin tercengang sesaat. "Yasmin?" Yasmin menoleh. Tante yang sudah bertahun-tahun tidak Yasmin jumpai sedang berdiri tidak jauh darinya dan memanggilnya dengan tak yakin. Yasmin pun berjalan mendekat sambil memanggil, "Tante." Ketika dia melihat pamannya yang masih penuh dengan semangat meskipun sudah berusia, beberapa kenangan tertentu pun muncul di benaknya. "... Paman." Jason Guntur menatap Yasmin dengan senang sambil berkata, "Aku sudah bilang itu kamu, tapi tantemu terus bilang nggak mirip. Yasmin, selamat datang kembali. Sudah lama kita nggak bertemu." Dengan mata yang berkaca-kaca, Klara Tanoto pergi memeluk Yasmin. "Yasmin, benar-benar kamu. Akhirnya kamu pulang. Tante sangat merindukanmu. Kenapa sekarang kamu baru pulang?" Yasmin merasa bersalah. Ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya tidak peduli padanya. Setelah kelas SMP 1, Tante pun menjemputnya ke rumah Keluarga Guntur dan membesarkannya. Seumur hidupnya, Yasmin tidak akan melupakan kasih sayang tantenya. "Biarkan Tante melihatmu." Klara melepaskan Yasmin, kemudian melihatnya dari atas sampai ke bawah. Setelah meneteskan air mata kebahagiaan, Klara tampak terkejut. "Yasmin sungguh cantik. Begitu dia masuk, semua laki-laki terpesona." "Sepertimu," ucap Jason sambil tersenyum. "Yasmin dari Keluarga Tanoto, tentu saja sepertiku," kata Klara dengan bangga. Makin lama dia melihat keponakannya, dia makin merasa senang. "Jangan pergi lagi, ya. Tante akan mencarikanmu jodoh yang baik." "Ha?" Yasmin memikirkan ketiga anaknya yang di luar negeri. "Tante, sekarang aku baru berumur 20 tahun. Aku nggak terburu-buru ...." Ada suara keributan dari arah pintu. Beberapa pria berjalan masuk, kemudian berdiri membentuk dua baris secara terlatih untuk mengontrol tempat. Dalam sekejap, mereka memecahkan suasana pesta yang meriah. Saat orang-orang kebingungan, seorang pria jangkung yang memakai jas hitam dan sepatu kulit tiba-tiba muncul. Dia terlihat cuek, tapi auranya yang kuat menyebar ke setiap sudut ruangan sehingga orang lain takut untuk bernapas. Wajah seseorang yang berada di dalam ingatan Yasmin muncul di dalam benak. Tampan dan garang dengan sepasang mata yang tajam dan sinis. "Daniel?" Jason tercengang. Yasmin membatu. Pada saat ini, dia tidak bisa merasakan kehadiran orang lain. Gambar-gambar yang berantakan mulai tersusun kembali. Dua tahun lalu, malam hari itu di kamar presidential suite .... Wajah anak-anak laki-lakinya yang makin besar makin mirip .... Saat ini, semua pikiran Yasmin membeku .... Ba ... bagaimana bisa dia adalah pria dari malam itu? Bagaimana bisa dia adalah Daniel Guntur, anak tiri tantenya ...? Daniel berjalan mendekat. Auranya yang kuat ditambah dengan tinggi badannya yang hampir 190 sentimeter membuat orang susah untuk mendekatinya. "Daniel, kapan kamu pulang?" Jason tidak pernah menyangka putra kandungnya yang sudah lama dia tidak jumpa akan muncul di hari ulang tahun pernikahannya. Klara yang berada di sebelah terdiam dan tampak panik. Selama ini dia takut kepada Daniel. Meskipun Daniel adalah anak tirinya, sekujur tubuh Daniel memancarkan aura yang menakutkan, "Ada apa? Apa aku nggak disambut?" Suara Daniel yang berat tidak terdengar marah, tapi kuat. Lalu, matanya yang tajam menatap lurus Yasmin. Yasmin melihat ke arah bawah dan wajahnya memucat. Dia yang gemetaran seolah-olah sedang ditatap oleh ular berbisa. "Bagaimana mungkin? Kamu nggak tahu betapa senangnya aku dan Klara karena kamu bisa datang! Kebetulan sekali, Yasmin juga sudah pulang!" Mata Jason tertuju pada Yasmin, kemudian bertanya, "Apa kamu masih ingat Yasmin? Saat SMP, dia pernah tinggal di rumah kita." Daniel menatap wajah Yasmin dengan tatapan yang tajam. "Tentu saja masih." Yasmin masih tidak berani melihat wajah Daniel. Dia mengalihkan pandangannya, lalu berkata, "Tante, aku ... aku pergi ke kamar mandi dulu, ya." Sebelum Klara sempat menjawabnya, Yasmin sudah berjalan pergi. Dia bahkan menabrak orang. Yasmin pun hanya meminta maaf, kemudian buru-buru pergi. Setelah Yasmin tiba di kamar mandi, dia melihat dirinya di cermin. Dia seakan-akan baru saja melihat hantu. Bagaimana ini? Apa Daniel tahu kalau wanita dari dua tahun yang lalu adalah dirinya? Dia tidak tahu, 'kan? Kalau dia tahu, Daniel yang membenci dirinya pasti tidak akan menyentuhnya! Namun, bagaimanapun juga, Yasmin tidak boleh terus berada di tempat ini! Terutama ponselnya penuh dengan foto dan video anak-anaknya. Saat melihat wajah-wajah mereka yang mungil, Daniel tidak akan merasa curiga, 'kan? Tidak, tidak boleh! Daniel tidak boleh sampai tahu! Apa tempat ini mempunyai pintu belakang? Yasmin bahkan tidak ingin berpamitan. Dia langsung menuju ke pintu darurat. Namun, Yasmin yang baru berjalan dua langkah melihat ada dua pria yang menghalangi jalannya di depan. Kakinya langsung menjadi lemas karena dia tahu mereka adalah pengawal Daniel .... Pada saat ini, untung ada pelayan yang membawa nampan berisi minuman alkohol lewat. Yasmin melangkah mundur, kemudian langsung melempar nampan tersebut ke arah pengawal-pengawal itu. Pada saat yang sama, Yasmin berbalik dan berlari. "Kejar!" Sekujur tubuh pengawal itu basah karena terkena alkohol, tapi dia tidak berani melambat. Yasmin berlari sekuat tenaganya sehingga dia masuk ke dapur hotel. "Orang yang nggak berkepentingan dilarang masuk!" Masa bodoh, pikir Yasmin. Dia berlari ke arah belakang dapur yang pasti ada pintu keluar. Biasanya koki merokok dan beristirahat di belakang. Setelah Yasmin keluar, sebuah gang menyambutnya. Bab 2 Kalau Yasmin berlari masuk ke gang itu, dia hanya akan bertemu dengan jalan buntu. Jadi, Yasmin berlari ke jalan raya pintu masuk gang. Selama dia bisa menghentikan taksi di jalan, dia akan bebas! Akan tetapi, setelah Yasmin tiba di jalan raya, menghentikan taksi bukanlah hal yang mudah. Namun, orang-orang di belakang tidak berhenti mengejarnya. Yasmin berusaha mencari tempat untuk bersembunyi. Dalam keadaan panik, dia melihat ada sebuah mobil Rolls Royce hitam parkir di seberang jalan. Mobil yang seperti binatang buas yang sedang tidur dalam kegelapan itu pun tiba-tiba menarik perhatian Yasmin. Tanpa berpikir panjang, dia berlari ke arah situ lalu bersembunyi di sisi lain mobil. Yasmin bersandar pada mobil itu dengan napas yang terengah-engah. Seluruh mobil itu hitam gelap sehingga dia hanya bisa melihat bayangannya sendiri yang panik. Ponsel yang berada di dalam tasnya tiba-tiba berdering. Yasmin yang terkejut segera mengeluarkan ponselnya untuk mengangkat telepon. Kemudian, dia diam-diam mencondongkan tubuhnya untuk melihat ke arah seberang. Namun, dia melihat pengawal-pengawal yang masih mencarinya itu, lalu buru-buru bersembunyi kembali. Klara yang berada di ujung telepon bertanya, "Yasmin, di mana kamu? Aku nggak melihatmu di kamar mandi?" "Tante, aku ... aku pulang dulu." "Pulang? Pulang ke hotel? Kamu ikut Tante pulang rumah, loh! Aku sudah menyiapkan kamar untukmu dan masih kamar yang dulu ...." Yasmin yang sedang mendengar tantenya merasa ada pergerakan di belakang, sebuah suara yang kecil dan itu adalah suara jendela mobil yang diturunkan. Sekujur tubuh Yasmin mematung. Dia pun mendengar telepon sambil menoleh kepalanya ke belakang. Dia melihat jendela mobil perlahan-lahan turun, lalu muncullah wajah pria yang tampan. Meskipun gelap, wajah itu tetap menarik perhatian. Saat bertatapan dengan mata yang sinis itu, Yasmin langsung berhenti bernapas. Dia juga tidak lagi mendengar satu kata pun dari orang yang berada di ujung telepon itu. "Ahh!" Yasmin yang kaget berteriak sambil melangkah mundur. "Yasmin? Ada apa?" tanya Klara dengan panik. Yasmin buru-buru mengakhiri panggilan. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian memutar tubuhnya. Namun, ketika dia baru saja hendak mengangkat kakinya, jalan di depannya sudah dihalangi oleh pengawal. Yasmin sudah tidak punya jalan keluar. Pintu mobil terbuka, lalu Daniel pun turun dari mobil. Dengan suara yang berat dan sinis, dia berkata, "Apa kamu tahu melarikan diri dariku adalah hal yang berbahaya?" Yasmin berbalik. Dia tampak sangat panik. "Kenapa kamu ...." Daniel langsung menangkap wajah Yasmin dengan satu tangan, kemudian menariknya. "Ah!" Genggaman Daniel yang sangat kuat membuat Yasmin mendesis kesakitan. "Aku kira kamu selamanya tidak akan pulang lagi!" Bibir Daniel menempel ke telinga Yasmin. Matanya yang sinis tampak licik. "Yasmin Tanoto!" Napas Daniel yang panas dan suaranya yang seperti suara iblis mengejutkan gendang telinga Yasmin yang lemah sehingga wajah Yasmin pun menjadi pucat. Tangan Daniel menekan belakang leher Yasmin, lalu dia mendorong Yasmin masuk ke dalam mobil dengan kasar. "Ahhh!" Dalam mobil sangat luas dan Yasmin pun jatuh ke karpet mobil. Setelah itu, Daniel masuk mobil sebelum membanting tutup pintu. Mobil tersebut segera melaju pergi dan menghilang ke dalam kegelapan. Kejadian itu seperti penculikan terencana. Yasmin melihat ke luar jendela mobil dengan panik. "Ke ... ke mana kamu mau membawaku? Lepaskan aku!" Daniel mencondongkan tubuhnya ke depan. Sambil memancarkan aura yang menyeramkan, dia meraih rahang Yasmin, lalu menarik wajah Yasmin untuk melihatnya. Suara Daniel yang sedingin es berkata, "Apa kamu sedang memerintahku?" "Ng ... nggak." "Dulu saat di rumah Keluarga Guntur, bukankah kamu memanggilku kakak? Coba panggil sekali lagi." "Ng ... nggak mau. Aku sudah lama keluar dari rumah Keluarga Guntur. Hari ini aku datang hanya untuk menghadiri pesta. Maaf, ke depannya aku nggak akan kembali ke Kota Imperial lagi. Aku bersumpah!" Tidak peduli bagaimana Yasmin menahan dirinya, tubuhnya tetap tidak bisa berhenti gemetar. "Sepertinya kamu sangat takut padaku? Hm?" Daniel mengangkat rahang Yasmin. Dia seperti seekor binatang buas yang sedang bermain-main dengan mangsanya yang gemetar di genggaman cakar tajamnya. Yasmin tidak berani mengeluarkan sedikit pun suara. Daniel memang sangat mengerikan, seperti iblis gila. Beberapa tahun telah berlalu dan aura menakutkan pria ini makin kuat. Yasmin tidak akan bisa melupakan rasa sakit yang dia derita di masa lalu ketika dia tinggal di rumah Keluarga Guntur. Apalagi sekarang Yasmin telah melahirkan tiga anak Daniel. Rasa takut yang asing ini menyelimuti seluruh tubuh dan pikiran Yasmin .... Dengan mata yang berkaca-kaca karena ketakutan, Yasmin meluruskan lehernya sambil berkata, "Kumohon, lepaskan aku. Aku akan langsung pergi dari negara ini dan menghilang dari hadapanmu. Aku nggak akan kembali lagi. Kumohon ...." Tangan Yasmin yang berada di belakang memegang erat tasnya. Dia berusaha menyembunyikan tasnya dari Daniel untuk waktu yang lama. Seakan-akan begitu tas tersebut diekspos, rahasianya pun akan terbongkar .... Tangan Daniel yang menggenggam rahang Yasmin pelan-pelan mengerat. Jemarinya yang kasar dapat merasakan kulit Yasmin yang mulus. Yasmin merasa seolah-olah sabit kematian neraka sedang dijulurkan di bagian depan lehernya. "Karena kamu sudah kembali, jangan harap kamu bisa pergi lagi," ucap Daniel dengan sinis. Setelah itu, dia mendorong wajah Yasmin dengan kasar. Akhirnya air mata Yasmin menetes. Dengan suara serak, dia berkata, "Kumohon ...." Daniel hanya menyandarkan tubuhnya ke jok mobil hitam dengan malas. Dia menatap wanita yang panik di hadapannya itu seperti setan. Mobil Rolls Royce melaju di dalam kegelapan dengan cepat. Dua puluh menit kemudian, ia memasuki perbatasan sebuah rumah pribadi yang tak ternilai harganya. Dari awal sampai akhir, Yasmin tetap duduk di karpet mobil. Lalu, dia melihat Daniel keluar dari mobil dengan tegang. "Apa kamu ingin aku mempersilakanmu keluar dari mobil?" kata Daniel dengan suaranya yang rendah. Sosoknya yang tinggi berdiri di tengah malam hari. Yasmin menatap pintu mobil yang terbuka. Namun, dia malah menjulurkan tangannya untuk membuka pintu di belakangnya, kemudian keluar dari sisi satu lagi. Menurutnya, jarak tersebut dekat dengannya untuk keluar dari mobil. Dia juga tidak perlu bergerak terlalu jauh. Sambil menggenggam tasnya, Yasmin pun menutup pintu mobil. Setelah itu, dia segera mengeluarkan ponselnya dari tas untuk mematikan ponselnya. Sekarang di negaranya adalah malam hari, jadi di luar negeri adalah pagi hari. Yasmin khawatir Tante Rita atau anak-anak akan meneleponnya. Pada saat itu, Daniel pasti akan tahu! Akan tetapi, layar ponsel harus dibuka sebelum dia dapat mematikan ponsel. Dengan tangan yang gemetar, Yasmin menekan kode sandi yang berisi enam digit. Karena terlalu panik, dia memasukkan kode sandi yang salah. Jadi, dia terpaksa menghapus, lalu menekan ulang kode sandinya .... Karena mobil menghalangi sosok Yasmin, Daniel dengan tatapan matanya yang tajam pun mengitari bagian belakang mobil untuk menghampiri Yasmin. Daniel melihat Yasmin berdiri tak bergerak dengan kaku dan wajahnya tampak pucat. "Apa yang sedang kamu tunggu?" Yasmin seolah-olah baru bisa bernapas. Hampir saja .... Dia menoleh ke sebelah di mana rumah yang seperti istana itu berdiri dan berkata, "A ... aku mau pergi .... Aku bisa menginap di hotel .... Ah!" Sebelum Yasmin bisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah sosok mendekatinya, lalu mencengkeram bagian belakang lehernya. Cengkeraman tersebut sangat kuat sehingga mata Yasmin berkunang-kunang. "Sakit .... Aku bisa jalan sendiri. Aku jalan sendiri ...." "Yasmin, kuperingati kamu! Aku ini orang yang nggak punya kesabaran!" kata Daniel sebelum mendorong Yasmin dengan kasar. Yasmin yang mengenakan hak tinggi hampir terpeleset, jadi dia segera bersandar ke mobil untuk menstabilkan dirinya. Saat memasuki rumah mewah itu, Yasmin merasa dirinya sangat kecil. Dia juga merasa tempat ini seperti jaring mewah yang tak terlihat dan membuatnya tidak punya jalan untuk melarikan diri. Aulanya bahkan seukuran satu rumah biasa. Yasmin berdiri tegak di tempat dan takut untuk melangkah maju. Dia tahu di mana dirinya, ini rumah Daniel. Bab 3 Daniel melemparkan mantelnya di atas sofa dengan asal. Kemeja hitam yang dikenakan menunjukkan tubuhnya yang jangkung dengan jelas, tapi dia tampak sangat dominan. Mata Yasmin pun tertuju ke arah bawah. Ingatan dari dua tahun yang lalu belum sepenuhnya hilang. Dia tahu betapa seksi, liar dan berototnya tubuh di balik kemeja itu. Dengan takut-takut, Yasmin bertanya, "Kenapa ... kamu membawaku kemari?" Di depan Daniel yang sangat dominan, Yasmin tidak akan memberontak karena itu sama dengan cari mati. Akan tetapi, setelah Yasmin selesai bicara, perutnya berbunyi. Raut wajah Yasmin berubah menjadi canggung. Sejak turun dari pesawat hingga sekarang, dia bahkan belum minum air, apalagi makan malam. Lalu, sepanjang jalan dia ketakutan, jadi dia merasa sangat lelah. "Sepertinya kamu lapar." Daniel berkata dengan suara sinis, "Keluarkan makanan!" Di sisi lain, seorang pria paruh baya berseragam berjalan keluar, lalu meletakkan sebuah mangkuk di atas meja kopi. Di dalam mangkuk itu berisi mi yang masih mengepul. "Tuan Daniel, mi seafoodnya sudah selesai," kata Tony Halim, si kepala pelayan. Setelah itu, dia melangkah mundur dan berdiri di tempat dengan hormat, seakan-akan dia tiada. Akan tetapi, saat Yasmin mendengar kata "seafood", wajahnya memucat. Dengan tatapan mata yang tajam, Daniel berkata, "Makanlah makanan malammu." "Aku ... alergi terhadap seafood. Aku nggak bisa memakannya," jawab Yasmin dengan suara yang gemetar. Dia benar-benar takut alerginya kambuh. Karena begitu dia memakan seafood, situasi akan menjadi sangat serius. Bahkan kalau dia tidak ditolong tepat waktu, nyawanya akan terancam! Dulu dia sudah pernah mengalaminya sekali .... "Jadi, kamu mau menyia-nyiakan niat baikku." Tatapan mata Daniel berubah menjadi galak. Yasmin pun sudah mengerti. Daniel sengaja, dia ingin Yasmin mati! "Aku ng ... nggak boleh makan itu. Aku bisa mati ..." tolak Yasmin sambil melangkah mundur. Daniel melangkah maju, kemudian menggenggam lengan Yasmin sebelum mendorongnya ke arah meja kopi. "Makan!" "Ah!" Yasmin terjatuh ke atas meja kopi. Bahkan tas yang dipegangnya terhempas sejauh dua tiga meter. Karena tadi Yasmin terburu-buru mematikan ponselnya, dia bahkan tidak sempat menutup tasnya dengan benar. Begitu tas tersebut terhempas, ponsel di dalam tas pun tercecer keluar. Yasmin tidak peduli dengan lututnya yang kesakitan. Dia hanya menatap ponselnya yang terekspos dengan raut wajah yang panik. Masalahnya, Daniel sedang berjalan menuju ke ponselnya. Begitu Daniel mengambil ponselnya, napas dan detak jantung Yasmin sama-sama berhenti. Setelah Daniel mengambil ponsel Yasmin, dia menyadari kalau ponsel Yasmin mati. Daniel pun mencoba menyalakan ponsel Yasmin. Ternyata ponsel Yasmin mati bukan karena tidak ada baterai. "Aku ... takut Tante akan meneleponku, jadi aku mematikannya ...." Yasmin tahu Daniel sangat membenci tantenya. Daniel telah menganggap tantenya sebagai musuh. "Sandi." Saat Daniel menoleh, tatapan matanya tampak sangat sinis. Rasa takut yang dirasakan Yasmin telah menyebar ke lehernya dan dia hampir tidak bisa bernapas. Namun, dia tahu makin dia merasakan perasaan ini, dia merasa makin tenang. "Sini kubuka ...." Yasmin berjalan mendekat. Dengan hati-hati, dia mengambil ponselnya dari tangan Daniel. Kemudian, Yasmin berjalan ke arah meja kopi seakan-akan dia takut orang lain akan melihat kode sandinya. Daniel hanya menatapnya dengan tajam sambil tersenyum sinis. Yasmin menundukkan kepalanya untuk menekan kode sandi sambil melihat sekeliling. Tiba-tiba, dia melempar mi seafood yang di meja kopi ke arah Daniel! Mangkuk tersebut hanya mencapai tengah-tengah mereka berdua. Kuah mi membasahi seluruh lantai dan menghalang jalan Daniel. Mata Daniel pun berkelip dengan ganas. Melihat wanita di depannya lari, dia pun langsung berteriak, "Tangkap dia!" Yasmin yang terkejut berlari makin cepat. Setelah dia berlari keluar dari aula, dia melihat pengawal di depan berlari ke arahnya. Yasmin yang ketakutan pun berbelok. Yasmin segera menuruni tangga terbuka yang berada di sisi lain. Akan tetapi, berlari dengan hak tinggi itu tidak nyaman, apalagi menuruni tangga. Begitu langkah kakinya tidak stabil .... "Ahh!" Yasmin langsung terpeleset, lalu tubuhnya berguling ke bawah. "Aaa!" Daniel yang telah berhasil mengejar berdiri di puncak tangga. Dia menatap ke bawah dengan tatapan mata yang sinis dan menyeramkan. Di bawah tangga, dia melihat Yasmin terbaring di lantai dan sudah tidak sadarkan diri. Dahi Yasmin juga terluka dan darah terus mengalir. Yasmin terbangun secara mendadak seolah-olah karena dia baru bermimpi buruk. Dia mengubah menjadi posisi duduk dan rasa pening dari kepalanya membuatnya mengerang kesakitan. Saat dia menyentuh dahinya, dia merasakan ada kain kasa. Dia baru teringat kalau dia terjatuh dari tangga. Ketika dia bangun, dia berada di dalam kamar yang asing ini. Langit di luar sudah terang .... Yasmin teringat pada sesuatu dan langsung memegang dadanya dengan panik. Dia buru-buru turun dari tempat tidur, lalu memasuki kamar mandi. Setelah dia menutup pintu, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam branya. Ketika dia melarikan diri, dia mengambil kesempatan menyelipkan ponselnya ke dalam bra. Untung saja ponselnya aman. Tanpa menghiraukan situasi saat ini, Yasmin segera menghapus semua informasi tentang anak-anaknya dari ponselnya. Lagi pula, dia masih memiliki salinan di komputer rumah sewaannya. Setelah itu, dia mengirimkan pesan kepada Tante Rita, 'Jangan meneleponku dan jangan biarkan anak-anak meneleponku. Aku lagi ada masalah kecil. Aku akan meneleponmu setelah masalahku kelar. Ingat.' Tante Rita membalas, 'Ada apa?' Yasmin mengetik, 'Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Tolong bantu aku jaga anak-anak.' Setelah memberi pesan kepada Tante Rita, Yasmin baru keluar dari kamar mandi. Yasmin melihat sekeliling kamarnya. Kamar ini terasa sangat asing, tapi ia memiliki gaya mewah yang menonjol dan membuat Yasmin mudah menebak kalau ini rumah yang megah. Tanpa perlu memikirkannya, Yasmin tahu kalau ini adalah maksud Daniel. Apa yang ingin dia lakukan? Tidak peduli apa yang ingin Daniel lakukan, Yasmin tidak akan tinggal di sini. Dia mau pergi! Yasmin membuka pintu kamar, lalu berjalan sehingga dia menemukan tangga. Lantai rumah ini membuatnya hampir pusing. Setelah dia menuruni tangga, dia bahkan tidak memedulikan tasnya lagi dan berjalan keluar sambil memegang ponselnya. Hanya saja, sebelum dia bisa mencapai gerbang besi yang besar itu, seseorang menghalang jalannya. Yasmin yang sedang berlari bahkan hampir menabrak orang itu, kemudian dia segera melangkah mundur. Sambil menekan rasa paniknya, Yasmin berkata, "Biarkan aku pergi." Suara pengawal itu sedingin gunung es saat dia menjawab, "Ini pesan Tuan Daniel." "Di ... di mana dia?" "Aku nggak tahu." Yasmin tahu betul bagaimanapun juga, dia tidak akan bisa keluar. Kalau begitu, apa yang harus dia lakukan? Dia kembali ke kamarnya lagi, kemudian dia menelepon Klara. "Tante, bukankah kamu bilang Daniel sudah lama menghilang dan nggak ada di Kota Imperial lagi? Kenapa dia bisa muncul?" Kalau Yasmin tahu Daniel berada di Kota Imperial, dia pasti tidak akan pulang! "Itu benar! Sudah lama nggak ada kabar tentangnya. Kalau dia berada di Kota Imperial, kami nggak mungkin nggak tahu. Aku juga nggak akan nggak memberitahumu!" Yasmin memercayai tantenya. Kalau begitu, kenapa Daniel muncul di pesta ulang tahun pernikahan Klara dan Jason? Tidak mungkin. Klara pernah memberi tahu Yasmin kalau Daniel sudah lama memutuskan hubungannya dengan Jason dan bahkan seluruh Keluarga Guntur. Daniel berperilaku seperti tidak akan kembali, jadi kenapa .... Yasmin memijat keningnya karena kepalanya samar-samar terasa sakit. Daniel datang bukan untuk menghadiri pesta itu, tapi menunggu Yasmin datang ke pesta itu dan masuk ke dalam jebakan. Hanya saja, sudah telat bagi Yasmin untuk menyadarinya sekarang .... "Yasmin, ada apa? Apa yang telah terjadi? Semalam aku terus meneleponmu, tapi ponselmu nggak aktif." "... Aku baik-baik saja. Aku bertemu dengan teman lama, jadi kami pergi ke bar. Lalu, aku minum terlalu banyak ...." Yasmin berbohong karena dia tidak ingin merepotkan tantenya. Lagi pula, saat ini Daniel hanya mengganggunya. Bab 4 "Aku sudah bilang kamu pasti belum pergi. Paspor dan KTP-mu ada padaku!" Yasmin tercengang, lalu bertanya, "Pasporku sama Tante?" "Ya. Aku nggak bisa menghubungimu, jadi aku pergi ke hotelmu. Kenapa kamu meninggalkan paspor di hotel tak berbintang? Bahaya sekali. Aku sudah check-out kamarmu. Untuk apa kamu menginap di hotel? Tidur di rumah Tante saja." Walaupun Yasmin ingin tidur di rumah tantenya, dia juga sudah tidak bisa. Dia sama sekali tidak bisa membebaskan diri dari genggaman Daniel. "Tante, aku nggak bisa pergi ke rumahmu. Aku akan menginap di rumah teman selama beberapa hari. Nanti setelah aku mengambil pasporku, aku akan langsung pergi," kata Yasmin. "Kamu sudah berapa tahun nggak pulang? Teman dari mana?" "Teman SMA ...." Alasan Yasmin terdengar agak tidak realistis. "Tante tahu kamu seperti ini karena hubunganmu dengan Daniel. Tapi, hal itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Kalian sudah dewasa, 'kan? Kamu juga jangan terlalu memikirkannya lagi." Yasmin tersenyum sinis. Mereka sudah dewasa? Kalau begitu, sekarang situasi macam apa ini ...? "Datanglah ke rumah Tante. Sudah beberapa tahun kita nggak berjumpa. Tante punya banyak hal yang ingin dibicarakan denganmu," ujar Klara. "Nanti ... aku akan pergi mengunjungi Tante." Setelah Yasmin mengakhiri panggilan, dia duduk di ujung tempat tidur sebelum merosot ke lantai. Tanpa persetujuan Daniel, bagaimana Yasmin bisa pergi? Yasmin tahu betul kalau dia tidak pergi, Daniel pasti akan membuatnya sengsara. Bagi Daniel, tante Yasmin adalah orang ketiga yang telah merusak hubungan orang tuanya dan merepotkannya .... Pada siang hari, Yasmin diundang ke ruang makan untuk makan siang. Saat dia melihat makanan-makanan di meja, wajahnya agak memucat karena hampir semuanya adalah seafood. Mahal, tapi makanan-makanan itu seperti racun. Mata Yasmin tertuju pada sayuran hijau. Dia menyendoknya, kemudian saat dia hendak memakannya, aroma seafood memasuki lubang hidungnya. Yasmin kaget dan segera menjatuhkan sendoknya. Dia berdiri, lalu bertanya kepada seorang pelayan wanita yang berdiri tak jauh darinya dengan napas yang terengah-engah, "Sayur ini ... dimasak dengan apa?" Pelayan wanita itu menjawab dengan jujur, "Kaldu seafood." Yasmin membalikkan tubuhnya, lalu hendak beranjak pergi. Namun, kakinya tidak bergerak. Kalau kali ini dia tidak makan, bagaimana dengan lain kali? Apa dia bisa bertahan tidak makan selama tiga hari? Kalau perutnya kosong, bagaimana dia bisa melarikan diri? "Ingin aku cuman makan nasi putih? Nggak masalah." Yasmin kembali duduk. Dia tidak makan lauk dan hanya memakan nasi putih dengan lahap. Pelayan wanita itu tercengang melihat Yasmin hanya memakan nasi putih dengan ekspresi datar. Selama tiga hari di dalam rumah yang seperti istana ini, Yasmin hanya memakan nasi putih. Selama tiga hari ini, dia tidak melihat batang hidung Daniel. Yasmin seakan-akan ditinggal di tempat ini untuk mengurus dirinya sendiri. Dia seperti burung yang dikurung yang tidak tahu masa depannya dan hatinya penuh dengan rasa takut. Yasmin yang sedang memakan nasi putih sudah kehilangan kesabarannya dan dia pun meletakkan sendoknya. Dia berjalan ke aula, lalu bertanya kepada Tony, si kepala pelayan, "Di mana Daniel? Aku mau menemuinya. Sebenarnya kapan dia akan melepaskanku?" "Maaf, Nona Yasmin. Kami yang sebagai bawahan Tuan Daniel nggak tahu tentang jadwalnya," jawab Tony. "Sampai kapan dia mau mengurungku?" "Kami juga nggak tahu." "Kamu ...." Yasmin tidak bisa menyulitkan seorang bawahan. Ini hanyalah perintah Daniel! Hampir pukul sembilan malam, Yasmin yang tidak bisa tidur meringkuk di sudut balkon sambil merindukan anak-anaknya. Dia tidak pernah meninggalkan anak-anaknya begini lama. Apa mereka merindukan mama mereka? Apa pada malam hari mereka menangis? Saat mata Yasmin terasa panas, dia mendengar ada suara mobil di bawah. Hatinya langsung berdebar, kemudian dia pun berlari ke bawah. Setelah dia keluar, dia melihat sebuah mobil sedang perlahan-lahan berhenti di depan pintu. Akan tetapi, itu bukan mobil Rolls Royce hitam. Itu adalah mobil Mercedes Benz. Orang yang keluar dari mobil juga bukan Daniel, tapi seorang pria yang berkacamata, berpakaian jas dan berpenampilan biasa yang berjalan menghampiri Yasmin. Tangan pria itu bahkan memegang sebuah tas kertas yang tidak tahu apa isinya. "Nona Yasmin Tanoto?" tanya Eric sambil melirik kaki telanjang Yasmin yang putih. "Kamu ...." "Salam kenal. Aku Eric Gotami, sekretaris utama Tuan Daniel." Yasmin buru-buru bertanya, "Apa dia menyuruhmu datang untuk melepaskanku?" "Aku akan membawamu pergi menemui Tuan Daniel sekarang juga." Eric mengangkat tas kertas di tangannya dan berkata, "Ini adalah baju dan sepatu yang disiapkan untukmu." Saat Yasmin melihat sikap Eric yang profesional dan pakaian di dalam tas kertas, Yasmin merasa tidak tenang. Dia pun bertanya, "Kita mau ke mana?" Bar. Yasmin memakai gaun satu bahu hitam ketat yang mengekspos kulitnya yang putih dan tulang selangka yang indah. Dia memiliki pinggang yang ramping, kaki yang jenjang dan aura yang unik. Begitu Yasmin masuk, dia menarik banyak perhatian para lelaki dan semuanya menatap tubuh Yasmin secara terbuka. Tanpa melirik ke arah Yasmin sedikit pun, Eric menuntunnya ke ruang VIP yang berada jauh di dalam. Saat pintu ruang VIP dibuka, lampunya memancar ke luar. Akan tetapi, Yasmin merasa dia seakan-akan memasuki dunia gelap yang tidak diketahui. Semua orang minum alkohol. Pria meraba-raba wanita, sementara wanita menempel pada pria. Dalam suasana yang haram ini, sosok Daniel tidak terlihat. Orang-orang telah menyadari kehadiran Yasmin. Para lelaki juga tidak menyembunyikan ketertarikan mereka kepada wanita cantik meskipun di pelukan mereka sudah ada wanita lain. "Model baru, ya? Lumayan cantik," kata seorang pria yang dipanggil 'Tuan Bobby'. Yasmin merasa jijik dengan orang yang menganggap manusia sebagai barang. Dia bertanya kepada Eric, "Dia tidak ada di sini?" "Kamu tunggu sebentar." Setelah mengatakan itu, Eric pergi. Yasmin berdiri di tempatnya dan merasa kikuk dengan orang-orang di dalam ruang VIP. Kenapa Eric tidak memberi penjelasan ketika orang salah paham terhadap identitasnya? Kenapa dia ditinggal sendirian untuk menunggu Daniel? Yasmin sebentar lagi akan mendapatkan jawabannya .... Tuan Bobby berjalan menghampiri Yasmin sambil memegang sebuah gelas bir. "Bagaimana kalau kamu duduk di sebelahku? Aku akan bersikap lembut padamu." Yasmin mengerutkan keningnya dan menolak di dalam hati. "Kenapa dia harus duduk di sampingmu?" Pria lain muncul. "Begini saja, aku akan membayar dua juta!" "Aku akan membayar empat juta. Orang lain tidak pernah memberi harga ini!" kata Tuan Bobby dengan murah hati. "Kalian sudah salah paham. Aku bukan model tempat ini," kata Yasmin dengan wajah memucat. "Apanya yang bukan? Jangan pura-pura. Kamu merasa uangnya tidak cukup, 'kan?" Tuan Bobby tertawa sinis, lalu berkata, "Kamu kira kamu sangat berharga? Kamu terlihat polos, tapi kami belum tahu apa badanmu bisa dilihat setelah pakaianmu dilepaskan?!" "Bagaimana kalau kamu melepaskan pakaianmu?" kata seorang pria di samping dengan genit. Tuan Bobby langsung menangkap pergelangan tangan Yasmin, kemudian berkata, "Begini saja, biarkan aku memeriksamu sebentar untuk melihat apa kualitasmu lulus atau tidak." "Lepaskan ...." Yasmin meronta dengan jijik sambil berseru, "Lepaskan!" Karena Yasmin berusaha melepaskan dirinya dari genggaman Tuan Bobby, momentum yang disebabkan membuat tubuhnya jatuh ke belakang. "Aaa!" Yasmin mengira dirinya akan jatuh, tapi punggungnya bertabrakan dengan tubuh seseorang yang kokoh. Seorang pria berbisik ke telinga Yasmin, "Ada apa? Apa kamu tidak suka rencanaku?" Sekujur tubuh Yasmin langsung merinding. Daniel .... "Setelah makan nasi putih selama beberapa hari, sudah saatnya kamu makan daging!" Bab 5 Daniel menggenggam bahu Yasmin, kemudian mendorongnya dengan kasar. "Aaa!" Yasmin jatuh ke sudut meja kopi. Dua gelas yang berada di atas meja pun terdorong sampai jatuh. Satu yang gelas berisi bir tumpah mengenai wajah dan rambut Yasmin. Daniel duduk di sofa, lalu menyilang kakinya. Dia menatap Yasmin yang tampak kasihan dengan sinis dan masam. Tuan Bobby yang hendak menuangkan bir berkata, "Tuan Daniel, silakan minum." "Tuangkan!" perintah Daniel dengan sinis. Tangan Tuan Bobby langsung berhenti. Dia mengerti maksud Daniel, jadi dia menyerahkan botol bir kepada Yasmin. Yasmin gemetaran, dia seakan-akan baru saja jatuh ke dalam air dingin. Dia tahu Daniel begitu untuk mempermalukan dirinya sendiri. Jika Yasmin tidak mendengar perintah Daniel, dia tidak akan bisa pergi dari ruang VIP ini. Yasmin yang memikirkan ketiga anaknya yang lucu di rumah hanya bisa menggertakan gigi. Dia menerima botol bir tersebut dengan tangan yang gemetar, lalu menuangkannya ke gelas. Setelah Daniel mengambil gelasnya, dia meminum birnya sambil menatap Yasmin dengan tatapan mata yang tajam. "Apa ... apa aku sudah boleh pergi?" tanya Yasmin dengan suara yang gemetar. Dia masih berlutut di lantai dan hatinya merasa sangat tidak tenang. Sebagian besar orang lain telah menjadi latar belakang. Sedangkan Daniel seperti raja yang mengendalikan seluruh situasi ini. "Kenapa sudah mau pergi?" Tuan Bobby menuangkan bir untuk Yasmin, lalu berkata, "Seharusnya kamu merasa terhormat karena dapat minum bersama Tuan Daniel. Minumlah!" "Aku tidak minum alkohol ..." tolak Yasmin sambil menoleh mukanya. Daniel meraih rahang Yasmin, lalu mendekatkan wajah Yasmin ke arahnya. Dengan tatapan mata yang dingin, Daniel berkata, "Jangan bilang kamu nggak ada gen menemani pria minum?" Yasmin menatap balik Daniel dengan mata yang berkaca-kaca. "Apa wanita jalang yang tinggal di rumah Keluarga Guntur itu tidak mengajarimu hal-hal ini?" "Tanteku bukan orang ketiga. Kamu sudah salah paham ...." Yasmin tahu kalau orang yang dimaksud Daniel adalah tantenya dan dia merasa sangat kesal. "Itu karena kamu juga sepertinya!" Genggaman Daniel mengerat sehingga tulang rahang Yasmin hampir keseleo. "Ah!" teriak Yasmin kesakitan. "Yasmin, kamu lagi-lagi jatuh ke tanganku. Hari baikmu sudah akan berakhir," ujar Daniel sambil menepuk pipi Yasmin. Setelah itu, dia menarik kembali tangannya. Tubuh Yasmin menjadi lemas. Dia duduk di lantai dengan air mata berlinang. Tuan Bobby yang di sebelah menarik Yasmin sembari berkata, "Ayo minum. Datang ke bar harus minum bir." Pria lain dan bahkan seorang wanita juga datang menarik Yasmin. Yasmin dipaksa duduk di sofa. Gelas demi gelas disodorkan ke arahnya dan dia hanya bisa meminumnya. Karena bir tersebut terlalu keras, Yasmin kesulitan untuk meneguknya. Dia minum sambil menahan air mata. Salah satu wanita cantik pergi duduk di sebelah Daniel untuk menuangkan birnya. Akan tetapi, mata Daniel hanya tertuju pada wanita yang sangat dibencinya itu. Ketika Yasmin meminum gelas keenam, dia sudah mabuk. Apa yang dilihatnya menjadi kabur. Saat dia merasa ada orang yang mengelus pahanya, dia langsung sadarkan diri. Yasmin yang terkejut menghindar ke samping, lalu berdiri untuk keluar dari ruang VIP. Dia bergegas ke kamar mandi yang terletak di sebelah, lalu berjongkok di depan toilet. Dia mencoba memuntahkan isi perutnya, tapi tidak ada yang keluar dan hanya air mata yang terus mengalir. Sebenarnya kesalahan apa yang telah dibuat Yasmin sehingga dia harus diperlakukan seperti ini?! Saat dia berumur 14 tahun, di antara begitu banyak kerabat, hanya Klara yang bersedia menjaganya. Bagaimana mungkin tante seperti Klara adalah seorang wanita tak senonoh? Karena Yasmin tinggal di rumah Keluarga Guntur dan memanggil Daniel kakak, Yasmin seakan-akan telah membangkitkan sisi gila Daniel. Walaupun Yasmin sudah keluar dari rumah Keluarga Guntur, mimpi buruknya tidak pernah berakhir! Saat Yasmin mendengar suara pintu ditutup, tubuhnya menegang. Dia merasakan aura yang menakutkan dari belakang dan rasa dingin menjalar dari punggung sampai ke otaknya. Tanpa perlu menoleh, Yasmin sudah tahu aura siapa ini. "Aku sudah minum, jadi .... Aaa!" Yasmin yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya merasakan rambutnya dijambak. Kepalanya pun tertarik ke arah belakang sehingga lehernya yang putih dan mulus terekspos. Dengan raut wajah yang menyeramkan, Daniel berkata, "Apa aku bilang kamu sudah boleh pergi?" Yasmin tidak tahu apakah ini efek alkohol karena kulit kepalanya terasa mati rasa, tapi ketakutan menyelimutinya sampai ke tulang-tulang. Dia bertanya dengan napas terengah-engah, "Apa yang harus kulakukan ... supaya kamu mau membebaskanku?" Daniel mengabaikan pertanyaan Yasmin. Dia menyipitkan matanya dan mengamati tubuh Yasmin yang seksi. Tatapan matanya pun menjadi berbeda. Daniel mencondongkan tubuhnya, kemudian berbisik di telinga Yasmin, "Mungkin tubuhmu lebih jujur." Setelah mengatakan itu, Daniel langsung menggigit bahu Yasmin. "Ah!" seru Yasmin. Tubuhnya gemetar. "Enak? Hm?" Yasmin merasa perih di bagian bahunya. Apa bahunya telah digigit sampai terluka? Setelah Daniel melepaskan gigitannya, tubuh Yasmin menjadi lemas dan langsung bersandar ke dada bidang Daniel. Air mata Yasmin jatuh dari sudut matanya dan dia berkata dengan lemah, "Aku salah, seharusnya aku nggak kembali. Kumohon, jangan menyiksaku lagi ...." Daniel mencengkeram rahang Yasmin dengan kejam, lalu mengangkatnya dengan paksa. "Memohon padaku lebih berbahaya daripada menolakku." Yasmin merinding ketakutan. Wajahnya telah menjadi merah karena efek alkohol. Lampu di langit-langit sangat silau sehingga Yasmin tidak berani membuka matanya dan kepalanya terasa pusing. Sambil menangis, dia berkata, "Kenapa harus aku? Kenapa ...?" "Kamu tahu kenapa. Sekarang aku masih belum boleh menyentuh wanita jalang itu, jadi aku hanya bisa menyiksamu dulu! Bukankah dia sangat menyayangimu? Aku akan membuat keponakan kesayangannya sengsara!" kata Daniel sambil mencengkeram rahang Yasmin dengan kuat. Berani-beraninya Jason mengancam Daniel. Baiklah! Daniel akan membuat mereka paham apa arti sengsara! Yasmin menangis terisak-isak. Jadi, Daniel mengira tantenya adalah orang ketiga yang telah menghancurkan keluarga orang lain, makanya Daniel merasa Yasmin juga orang yang begitu. Selama ini Daniel memiliki pemikiran salah dan tidak ada yang bisa mengubah pikirannya. "Apa saat masa sekolahku selama 12 tahun ... belum cukup?" "Selamanya belum!" Tatapan mata Daniel yang penuh amarah tampak mengerikan. "Terimalah. Kalau kamu berani mati, orang berikutnya adalah dia!" "Jangan ...." Yasmin ketakutan sampai sekujur tubuhnya gemetar dan kepalanya terasa pusing. Beberapa saat kemudian, dia pun pingsan. Setelah Yasmin sadarkan diri, dia langsung duduk. Dia menyadari dia berada di kamar rumah mewah sebelumnya dan bukan di sebuah tempat yang aneh. Di sebelahnya juga tidak ada pria asing. Lalu, Yasmin baru menghela napas lega. Setelah dia mabuk, dia tidak bisa mengingat apa pun. Jadi, dia tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya di kamar mandi. Yasmin merasa pengar, tapi bahunya terasa lebih sakit. Rasa sakit tersebut membuatnya mengerutkan alis sambil mengerang kesakitan. Yasmin turun dari tempat tidur, kemudian berjalan ke kamar mandi. Dia masih mengenakan gaun satu bahu hitam ketat semalam yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Di bahunya yang terekspos, ternyata ada bekas berwarna merah. Itu adalah bekas gigitan Daniel. Bentuknya terlihat seperti tanda lahir. Untuk sepuluh hari ke depan, bekas itu tidak akan hilang. Dibandingkan saat Yasmin masih SMP, kekejaman Daniel sudah berkali lipat. Itu membuat Yasmin ketakutan dan bulu kuduknya berdiri. Itu membuat Yasmin makin memantapkan hatinya untuk pergi dari tempat ini! Pada pagi hari, Yasmin mencoba untuk menenangkan dirinya dan diam-diam mempelajari area pribadi ini. Tempat ini bernama Teluk Bulan dan rumah mewah ini disebut Taman Royal. Ini adalah wilayah kekuasaan Daniel dan luasnya sebesar ratusan juta. Itu berarti Yasmin tidak mungkin bisa keluar dari Teluk Bulan hanya dengan kedua kakinya. Kecuali Daniel sendiri yang melepaskannya. Bagaimana mungkin? Yasmin bersembunyi di dalam kamarnya, kemudian dia menelepon tantenya untuk bertanya, "Teluk Bulan milik siapa?" "Aku nggak tahu siapa pemilik Teluk Bulan. Orangnya sangat misterius. Bahkan pamanmu tidak tahu. Tapi, kekuatannya memiliki akar yang kuat di Kota Imperial. Ada banyak orang yang ingin mendekatinya," jawab Klara. Yasmin menggigit bibirnya dan terdiam. Daniel pasti telah lama membangun kekuatannya di Kota Imperial. Saat pengusaha-pengusaha kaya Kota Imperial sadar, semuanya sudah terlambat. Bahkan Keluarga Guntur tidak tahu kedalamannya. "Lalu, pemilik Teluk Bulan dan penguasa Grup Naga adalah orang yang sama." "Grup Naga?" "Ya. Mereka memiliki gedung pencakar langit tertinggi di Kota Imperial. Dalam waktu lima tahun, kekayaan mereka sebanding dengan negara kita. Mereka adalah raja satu Kota Imperial. Memusingkan sekali, tidak tahu bagaimana baru bisa berkenalan dengan tokoh besar seperti itu. Orangnya sangat misterius." Bab 6 Setelah mendengar ucapan tantenya, Yasmin merinding. "Yasmin? Kenapa kamu tanya soal ini?" Klara yang mendengar ujung telepon hening merasa aneh. "Ng ... nggak apa-apa." Yasmin berusaha mengontrol suaranya yang gemetar. "Aku hanya ingin tahu ...." "Kapan kamu pulang? Tante sendiri akan memasakkan makanan enak untukmu." "Beberapa hari lagi. Nanti aku akan menelepon Tante." "Baiklah. Tante tunggu, ya." Setelah mengakhiri panggilan, Yasmin duduk di atas kloset dan wajahnya terlihat pucat. Dia mengira Daniel hanyalah orang kaya biasa, tapi ternyata kekuasaan Daniel di Kota Imperial sangat kuat. Tidak, meskipun begitu, Yasmin lebih harus melarikan diri. Selama dia bisa lari ke luar negeri, Daniel tidak akan bisa menemukannya. Yasmin akan meminta tantenya mengirim paspornya ke bandara. Semuanya akan baik-baik saja selama Yasmin bisa lari dari Teluk Bulan. Akan tetapi, bagaimana dia bisa pergi dari tempat ini? Dua hari kemudian saat makan malam, Yasmin duduk di meja makan dan menyapu pandangannya ke makanan yang di atas meja. Setelah memakan sesuap nasi, Yasmin mengontrol rasa paniknya sambil meraih sebuah lauk dengan sendoknya. Ketika dia mendekatkan sendok ke hidungnya dan mencium wangi seafood, dia kesulitan menahan rasa takutnya sehingga tangannya yang sedang memegang sendok pun gemetar. Namun, Yasmin masih memaksakan diri untuk memasukkan sendok ke mulutnya. Dia mengunyah dengan perlahan sebelum menelan. Seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari Yasmin menatap heran Yasmin memakan lauk yang dicampur dengan kaldu seafood. Pelayan itu berpikir apakah Yasmin sudah tidak bisa tahan lagi? Dia segera keluar dari ruang makan untuk mencari Tony, lalu berkata, "Pak, Nona Yasmin sudah mulai makan lauk!" Tony menatap pelayan itu dengan ekspresi serius. Kemudian, dia melambaikan tangannya dan meminta pelayan itu tetap mengawasi di ruang makan. Tony menelepon dan berkata, "Tuan Daniel, Nona Yasmin sudah memakan lauknya." Di kantor yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit, Daniel sedang duduk di kursi hitam dengan ponselnya menempel di telinganya. Tatapan matanya tampak tajam saat berkata, "Apa sudah ada reaksi?" "Ini ...." Sebelum Tony sempat menjawab Daniel, terdengar suara sesuatu pecah dari ruang makan. Tony pun segera pergi ke sana. Piring-piring pecah di lantai, nasi dan sayuran berserakan di mana-mana. Yasmin yang berada di sebelah sedang berlutut di lantai sambil terbatuk-batuk. Dengan cepat muncul ruam merah di lengannya yang terekspos. Tony segera berkata ke ponselnya, "Tuan Daniel, sudah ada reaksi." Daniel tersenyum sinis sambil berkata, "Antar dia ke rumah sakit." "Baik." Yasmin dipapah ke dalam mobil. Dia bersandar ke jendela mobil dengan lemah. Melihat pemandangan di luar yang bergerak dengan cepat, matanya pun berkelip meskipun dia sedang menahan rasa sakit. Belum sampai sepuluh menit mobil bergerak, ruam merah sudah menjalar ke leher dan wajah Yasmin, apalagi tubuhnya yang berada di balik pakaian. Ini masih masalah kecil, nanti akan terjadi hal yang lebih serius. Yasmin mulai sulit bernapas, seolah-olah ada orang yang mencekik lehernya. Alisnya terus berkerut dan tubuhnya mulai mengejang. Ajal sudah dekat. Tidak, dia tidak boleh mati. Dia masih mempunyai tiga anak yang lucu. Mereka tidak boleh tidak punya ibu .... Namun, sebelum Yasmin sampai di rumah sakit, dia sudah mengalami syok. Jadi, dia langsung dilarikan ke ruang IGD. Helen terkejut melihat Yasmin. Dia sudah menjadi dokter bertahun-tahun, tapi ini pertama kalinya dia melihat kasus alergi yang sangat serius. Kalau telat sedikit lagi, Yasmin pasti sudah mati. Helen Anggono yang merupakan dokter pribadi Daniel pun segera menyelamatkan Yasmin. Ada aura suram mengelilingi udara rumah sakit yang sunyi senyap saat tengah malam ini. Perasaan itu dapat dirasakan sehingga membuat bulu kuduk berdiri. Pintu kamar VIP terbuka dan sebuah bayangan mendekati ranjang rumah sakit, lalu menyelimuti tubuh orang yang sedang berbaring itu. Masker oksigen Yasmin telah dilepaskan dan napasnya stabil. Namun, masih ada bintik-bintik merah di wajahnya yang putih. Daniel menumpukan tangannya di kedua sisi tubuh Yasmin seperti binatang buas. "Bagaimana rasanya?" tanyanya dengan suara sinis. Mata Yasmin masih terpejam dan tidak ada respons darinya. "Sayang sekali aku nggak bisa melihat tampangmu yang kesakitan. Tapi, masih ada lain kali, kok," ujar Daniel. Yasmin perlahan-lahan terbangun, kemudian menoleh. Matanya tertuju pada jendela kaca yang terang. Hari sudah pagi. Bau obat yang menyengat memenuhi udara di ruangan ini. Yasmin pun tahu di mana dirinya. Dia menghela napas lega di dalam hati. Akhirnya dia sudah keluar dari Teluk Bulan. Yasmin duduk, kemudian meraba wajahnya yang masih sedikit merah. Ada suara ketukan pintu sebelum Helen masuk. Melihat Yasmin sudah bangun, Helen berkata, "Sudah nggak apa-apa. Ruam merah di badanmu juga akan hilang setelah kamu memakai obat selama dua hari." Yasmin tercengang menatap Helen. "Namaku Helen Anggono. Aku adalah direktur rumah sakit ini dan juga dokter pribadi Tuan Daniel." Yasmin kaget. Dokter pribadi Daniel bahkan seorang direktur rumah sakit. Helen merasa penasaran dengan Yasmin. Ini pertama kalinya Daniel mengantarkan seorang wanita kepada Helen. Tony dari Taman Royal bahkan sampai ikut datang. Ini membuat Helen merasa Yasmin bukanlah wanita biasa. Semalam Helen tidak dapat melihat wajah Yasmin dengan jelas karena alerginya. Sekarang bengkaknya sudah mereda, jadi wajah Yasmin yang mulus dan cantik sudah terlihat. Kalau melihat wanita secantik Yasmin berdiri di samping Daniel, orang lain dapat dengan mudah mengira mereka adalah sepasang kekasih. "Istirahatlah. Kalau ada apa-apa, tekan bel dan aku akan kemari." "Terima kasih." "Sama-sama." Setelah melihat pintu ditutup, Yasmin mulai berpikir. Dokter pribadi Daniel berarti dia adalah orang Daniel. Yasmin pasti tidak akan mencari Helen. Yasmin berharap Daniel tidak muncul selamanya. Dengan begitu, peluangnya untuk melarikan diri makin bagus! Yasmin rela makan seafood yang sangat membuatnya takut hanya agar dia mempunyai kesempatan untuk melarikan diri. Kalau tidak, walaupun dia mempunyai sayap, dia tidak akan bisa keluar dari Taman Royal yang dijaga ketat. Setelah waktu makan siang, seorang suster datang untuk menginfus Yasmin. Setengah jam kemudian, suster itu datang lagi. Yasmin menatap suster yang sedang menundukkan kepala di depannya itu, lalu matanya berkelip. Sepuluh menit kemudian, seorang suster berseragam dan bermasker keluar sambil memegang selang yang sudah dicabut dan sebuah botol obat. Ketika suster itu melewati tempat sampah daur ulang medis, dia membuang benda-benda itu. Alih-alih pergi ke konter perawat, dia malah berjalan ke lift. Karena orang itu bukanlah suster. Yasmin yang sedang menyamar memasuki lift. Saat pintu lift hendak tutup, tangan seseorang langsung menghentikannya. Yasmin sangat terkejut sampai jantungnya hampir berhenti berdetak. "Maaf." Orang yang masuk ternyata adalah dokter lain. Yasmin tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya. Setelah tiba di lantai tiga, Yasmin menekan sebuah tombol. Pintu lift terbuka, lalu dia keluar. Kemudian, dia menuruni tangga darurat. Dia berjalan sambil melepaskan seragam perawatnya. Setelah itu, dia langsung berjalan ke arah pintu keluar. Yasmin menghentikan sebuah taksi, kemudian langsung menuju ke bandara. Yasmin mengeluarkan ponsel dari branya. Dia mengaktifkan ponselnya, kemudian menelepon Klara. "Tante, apa kamu sudah sampai di bandara?" "Sudah. Di mana kamu?" "Sebentar lagi sampai. Tunggu aku, ya." Yasmin mengakhiri panggilan, kemudian mendesak sopirnya. "Maaf, apa Bapak bisa bawa lebih cepat? Aku buru-buru." Saat rencana itu terbentuk di benaknya, Yasmin pun menelepon tantenya, lalu memintanya pergi ke bandara untuk membeli tiket Yasmin dan menunggu. Bab 7 Klara sedang berdiri tidak jauh dari pintu metal detektor. Dia tidak mengerti kenapa Yasmin ingin cepat-cepat pergi. Seakan-akan ada hantu yang mengejar Yasmin. Setengah jam kemudian, Klara melihat ada orang yang berlari ke arahnya. Yasmin mengontrol napasnya yang terengah-engah sebelum berkata, "Tante, berikan tiketnya." Lalu, dia mengambil paspor, KTP dan tiket pesawat yang telah disiapkan tantenya. "Ada apa denganmu? Apa yang telah terjadi?" tanya Klara. Orang bodoh pun tidak akan tertipu kalau Yasmin menjawab tidak apa-apa. "Guruku menyuruhku pulang. Untuk sementara aku nggak tahu ada apa, tapi lumayan mendesak." Yasmin sejak awal telah menyiapkan alasannya. Di usianya yang sekarang, Yasmin memang belum wisuda sebab sebelumnya dia cuti sekolah karena hamil. Alasan Yasmin terdengar masuk akal, tapi Klara masih belum ingin Yasmin pergi. Klara menarik tangan Yasmin dengan enggan sambil berkata, "Yasmin, setelah kamu pulang, kamu hanya setor muka di pesta sebentar sebelum kamu pergi. Lalu, kamu pergi tinggal bersama temanmu. Sekarang kamu malah mau buru-buru pergi. Kamu baru berbicara beberapa kalimat dengan Tante, loh. Kali ini setelah kamu pergi, kapan Tante dapat melihatmu lagi? Apa kamu tidak merindukan Tante?" Yasmin merasa bersalah. Sudah bertahun-tahun dia tidak pulang dan sebenarnya dia ingin sering-sering bersama tantenya. Namun, tak disangka Daniel malah muncul. Akan tetapi, Daniel terus mengincar Yasmin dan dia mempunyai kekuasaan yang mengerikan di Kota Imperial. Kalau sekarang Yasmin tidak pergi, kapan lagi? "Tante, lain kali ... aku akan pulang untuk melihat Tante. Aku ... benar-benar sudah harus pergi. Tante, jaga dirimu baik-baik, ya." Yasmin bahkan tidak berani mengulur waktu lebih lama lagi. Dia melepaskan tangan tantenya dengan sakit hati, kemudian menuju ke pintu metal detektor. "Yasmin," panggil Klara. Klara yang melihat keponakannya sudah diperiksa masih tidak paham. Walaupun Yasmin mempunyai urusan sekolah, seharusnya tidak begitu mendesak, 'kan? Setelah diperiksa, Yasmin menunggu pesawat. Setelah Yasmin naik pesawat, dia menunggu pesawat berangkat. Yasmin merasa sangat bersalah. Mata Yasmin tertuju ke luar jendela dan hatinya merasa sangat bersalah pada Klara. Kali ini setelah dia pergi, mungkin sudah tidak ada kesempatan lagi untuknya pulang. Namun, Yasmin tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak boleh tinggal di area kekuasaan Daniel! Yasmin sesekali melihat waktu. Makin banyak orang yang naik pesawat dan hatinya juga makin merasa gelisah. Pengeras suara meminta penumpang untuk memakai sabuk pengaman dan menghidupkan mode penerbangan pada ponsel. Pramugari juga datang untuk meminta beberapa penumpang menyimpan earphone mereka. Setelah semuanya selesai, pesawat mulai meluncur di landasan. Jantung Yasmin baru perlahan-lahan kembali berdetak dengan normal. Akan tetapi, pesawat berhenti ketika berbelok di tikungan. Yasmin mengira itu hal yang normal. Namun, setelah berhenti, pesawatnya tidak bergerak lagi. "Kenapa belum terbang?" tanya seseorang. "Nggak tahu ...." "Aku sedang mengejar waktu, loh." Yasmin adalah orang yang paling terburu-buru, tapi dia juga hanya bisa menunggu dengan sabar. Saat ini, pintu kabin first class terbuka. Ini adalah keanehan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pesawat. Yasmin menoleh ke luar jendela. Saat dia melihat ada lima enam pria berpakaian hitam dengan ekspresi sinis berjalan ke arah tangga pesawat, darahnya seakan-akan telah berhenti mengalir. Begitu para pengawal masuk ke kabin, mata mereka langsung tertuju pada Yasmin yang tertegun. Mereka menghampiri Yasmin, lalu berkata, "Nona Yasmin, silakan ikut kami keluar." Tubuh Yasmin yang gemetaran menempel erat ke kursi. Wajahnya pucat dan dia menatap mereka dengan tak berdaya. Orang lain yang berada di dalam pesawat tidak berani mengeluarkan suara karena aura yang dibawa orang-orang itu. "Nona Yasmin, Anda tidak ingin kami bertindak kasar, 'kan?" ancam pengawal itu. Yasmin ingin melarikan diri, tapi bagaimana caranya? Bahkan waktu lepas landas pesawat sudah dikendalikan. Daniel berkuasa sekali. Bagaimana ... bagaimana mereka bisa muncul? Kenapa ... Daniel tidak mau melepaskannya? Kenapa ...? Yasmin diantar kembali ke Teluk Bulan oleh pengawal-pengawal itu. Begitu kedua kaki Yasmin menginjak anak tangga Taman Royal, sekujur tubuhnya menjadi lemas dan dia hampir terjatuh. Setelah memasuki aula, sosok seseorang yang sedang duduk di sofa dengan ekspresi sinis membuat wajah Yasmin menjadi pucat. Yasmin pun tanpa sadar melangkah mundur, tapi dia langsung menabrak pengawal yang berdiri di belakangnya. "Tersesat?" ucap Daniel dengan suara yang rendah. Yasmin menggigit bibir bawahnya erat-erat dan mengontrol tubuhnya yang gemetaran. Tentu saja dia tidak tersesat. Dia juga tidak percaya kalau Daniel benar-benar mengira seperti itu. Daniel menurunkan kakinya yang disilang, lalu bangkit sebelum berjalan ke arah Yasmin. Kaki Daniel yang jenjang tampak anggun, tapi dia mirip dengan binatang buas yang berbahaya. Dia seolah-olah bisa mencabik-cabik Yasmin dalam hitungan detik. Setiap saraf di tubuh Yasmin tegang dan dia tampak ketakutan. "Kamu pura-pura makan seafood agar bisa masuk rumah sakit, lalu mencari kesempatan untuk melarikan diri. Yasmin, ternyata kamu berani juga," ujar Daniel sambil berjalan mendekat. Suara Daniel yang tenang mengandung rasa kesalnya. Yasmin sangat ketakutan sampai sekujur tubuhnya gemetaran. Saat Daniel berjalan makin dekat, Yasmin pun langsung berbalik. Dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendorong pengawal yang berdiri di belakangnya. "Ah!" Sebelum Yasmin bisa benar-benar melawan, sebuah tangan telah mencengkeram bagian belakang lehernya dengan kuat. Yasmin pun berteriak kesakitan. Dia merasa lehernya seakan-akan mau patah. "Jangan .... Sakit ...." "Sepertinya sampai sekarang kamu masih belum mengerti posisimu!" "Bi ... biarkan aku pergi ..." kata Yasmin dengan susah payah. Tatapan mata Daniel sangat galak. Lalu, dia menyeret Yasmin. Mereka masuk lift, lalu langsung menuju ke ruang sauna di lantai atas. "Ugh ...." Yasmin ingin melepaskan diri, tapi genggaman Daniel sangat kuat sehingga Yasmin tidak bisa bergerak. Daniel menarik buka pintu kaca di depannya. Sebelum Yasmin sempat melihat dengan jelas, dia sudah didorong masuk. Lalu, pintunya dikunci. Yasmin pun terkurung di sebuah ruangan kecil. Kedua tangannya menekan kaca di depannya dengan tak berdaya. Dia menatap pria mengerikan yang di luar kaca dengan bingung dan panik. "A ... apa ini? Kenapa kamu mengurungku di sini?" "Menurutmu, apa yang mau kulakukan?" Yasmin menatap pria yang berada di luar itu dengan terkejut. "A ... apa? Nggak, kamu berbohong. Kamu hanya ingin menakutiku, 'kan? Benar, 'kan?!" Daniel mengangkat tangannya untuk menekan tombol elektronik di sebelah pintu kaca dua kali. Setelah itu, suhu di dalam ruangan meningkat. Yasmin dapat merasakan suhu telah meningkat. Setelah dia paham apa yang ingin dilakukan Daniel, dia menjadi sangat takut. Dia pun memukul pintu kaca dengan panik. "Keluarkan aku! Jangan seperti ini, aku bisa mati. Jangan! Kumohon!" Daniel seakan-akan tidak mendengarnya. Dia lanjut menaikkan suhu dan suhunya makin panas sehingga kulit Yasmin rasa terbakar. "Jangan! Lepaskan aku!" mohon Yasmin sambil menangis. Dia bahkan mulai menendang pintu kaca tersebut, tapi semuanya tidak berguna. Ini terlalu kejam! Bagaimana bisa Daniel memperlakukannya seperti ini?! Yasmin menatap pria kejam di luar kaca itu dengan pasrah dan takut sambil menangis dan memohon, "Keluarkan aku! Di sini panas sekali! Daniel, lepaskan aku .... Tolong! Tolong!" Akan tetapi, tidak peduli seberapa kuat Yasmin menjerit dan sakit tenggorokannya, tidak ada orang yang datang untuk menolongnya! Apakah hari ini dia akan mati di tempat ini? Yasmin tidak mau. Dia masih punya anak-anaknya .... "Ugh ...." Tempat yang seperti tungku ini membuat Yasmin merasa sangat menderita saking panasnya. Setiap tarikan napas terasa berat sekali. Dia merasakan cairan di tubuhnya sudah perlahan-lahan menghilang dan ini membuat tenggorokannya kering. Yasmin menarik napas dalam-dalam. Rasa takut telah menguasai seluruh hatinya. Air mata pun membasahi wajahnya. Bab 8 "Dengan begini, lain kali kamu nggak akan tersesat." Daniel mendekatkan diri ke kaca sambil menatap Yasmin dengan tajam. "Ja ... jangan .... Aku nggak boleh mati ...." Tubuh Yasmin yang sudah tidak bertenaga merosot ke lantai. Suhu di sekitarnya membuat Yasmin menempel erat ke pintu kaca. Dia seakan-akan ingin menghirup udara segar di luar. "Lepaskan aku. Aku benar-benar ... nggak boleh mati .... Aku sudah menghilang dari hadapanmu, kenapa kamu menangkapku lagi?" Semua ucapan Yasmin tidak berguna. Dia mengarahkan matanya ke atas dan hanya bisa melihat kedua mata Daniel yang sinis seperti binatang buas itu. Daniel seolah-olah ingin dia mati! Yasmin mencengkeram dadanya yang sakit. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. "Jangan .... Aku berjanji aku nggak akan lari lagi. Ampuni aku .... Aku nggak mau mati, aku juga nggak akan lari lagi ...." Setelah Yasmin selesai berbicara, dia terjatuh ke lantai karena tidak ada oksigen yang bisa dihirupnya lagi. Pandangannya mulai kabur, tapi sosok pria di luar pintu kaca terlihat sangat jelas. Daniel seperti iblis yang menetap di dalam benak Yasmin. Ketika kegelapan telah menyelimuti seluruh pandangan Yasmin, dia pun pingsan dan air matanya bahkan masih mengalir. Dia menangis bukan karena dia takut, tapi karena dia merindukan anak-anaknya. Kalau Yasmin mati, bagaimana dengan mereka? Mereka masih sangat kecil .... "Ahh!" Yasmin terbangun dari kegelapan. Dia mengubah posisinya menjadi duduk di tempat tidur. Rasa takut memenuhi tatapan matanya dan napasnya terengah-engah. Keringat dingin menghiasi keningnya. Apa dia sudah mati? Yasmin tercengang saat melihat kamar yang familier ini. Beberapa saat kemudian, dia baru sadar kalau ini adalah kamar yang sebelumnya dia tinggali. Ini berarti dia masih hidup? Daniel mengeluarkannya dari ruang sauna! Yasmin menundukkan kepalanya untuk melihat tangannya, kemudian dia menyentuh wajahnya sendiri. Itu belum cukup juga. Dia pun turun dari tempat tidur dengan panik, lalu lari ke depan kaca kamar mandi. Setelah melihat dirinya yang utuh, dia baru merasa tenang. Walaupun dia masih hidup, rasa takut ketika berada di ambang kematian pada saat itu masih mencengkeramnya. Daniel terlalu kejam! Yasmin berani mempertaruhkan nyawanya dengan memakan seafood karena dia berani menjamin Daniel tidak akan membiarkannya mati. Setidaknya, Yasmin tidak akan begitu cepat mati. Setelah seekor binatang menangkap mangsa, ia akan langsung menggigit leher mangsanya atau bermain dengannya sampai ia bosan sebelum memakannya. Daniel adalah tipe kedua. Namun, kali ini ketika Yasmin dikurung di ruang sauna dan dipanggang hidup-hidup, dia sungguh mengira Daniel ingin membunuhnya. Daniel melepaskannya pasti karena Yasmin sudah berkata dia tidak akan melarikan diri lagi. Dia terlalu mengerikan .... Yasmin yang teringat pada sesuatu lari kembali ke kamar. Dia mencari paspor dan KTP-nya, tapi dia menyadari kedua benda itu tidak ada. Dia merasa panik sehingga air mata mengalir, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu kalau paspor dan KTP-nya berada di tangan Daniel dan Daniel tidak akan memberikannya kepada Yasmin. Tanpa kedua benda itu, bagaimana dia bisa kembali ke sisi anak-anaknya? Yasmin berkata dia tidak akan melarikan diri lagi, tapi itu hanya rencana sementara .... Harapan palsu ini membuat Yasmin merasa putus asa sehingga dia kesulitan bernapas. Seharusnya hari ini dia sudah bisa kembali ke sisi anak-anaknya, sudah bisa memeluk tubuh-tubuh kecil mereka yang lembut dan wangi, mendengar suara mereka yang menggemaskan .... Yasmin kembali ke tempat tidur, lalu menangis. Pada saat ini, Yasmin sangat merindukan anak-anaknya. Dia menunggu langit menggelap untuk menelepon video anak-anak. Tante Rita yang untuk sementara tidak bisa pergi pasti sangat lelah menjaga tiga anak sendirian. Yasmin terbangun sampai jam dua pagi yang berarti hampir jam sepuluh pagi di luar negeri. Dia turun dari tempat tidur untuk mengunci pintu kamar, lalu menuju ke kamar mandi. Setelah membentuk lapisan pertahanannya, Yasmin baru mengeluarkan ponselnya dari dalam branya. Dia menghidupkan ponselnya, lalu menghubungi nomor Tante Rita. Dalam beberapa saat, teleponnya sudah tersambung. Wajah cemas Tante Rita memenuhi layar ponsel. "Yasmin ...." "Mama!" "Mama!" "Mama!" Sebelum Yasmin sempat mengatakan apa-apa, suara putra dan putrinya terdengar. Tiga kepala kecil berdesak-desakan di depan kamera. Mata besar dan indah yang berbinar-binar itu menatap layar. Ketika melihat wajah-wajah mereka yang lucu, Yasmin hampir menangis. Dia berusaha menahan dirinya sebelum berkata, "Mama di sini. Apa kalian ada mendengarkan Nenek di rumah?" "Ada!" "Ada!" "Ada!" "Baguslah ...." Yasmin menatap ketiga anaknya dengan sedih. Dengan tangan gemetar, dia hanya bisa menyentuh layar ponsel untuk mengungkapkan kerinduannya. "Mama, kapan Mama pulang?" tanya Julia, putrinya, dengan lemah dan sedih. Air matanya sudah mau jatuh. "Mama bilang Mama cepat pulang!" kata Julian, putranya, dengan keras dan marah. Matanya berkaca-kaca. "Sudah sepuluh hari!" Julius, si putra kedua, yang pendiam tampak kecewa. Air mata juga memenuhi kelopak bawah matanya. Hati Yasmin terasa sakit sekali. Dia pun menundukkan kepalanya untuk menenangkan perasaannya yang hampir meluap. Beberapa detik kemudian, Yasmin mengangkat kepalanya. Dia memaksakan seulas senyuman sambil berkata, "Mama masih ada sedikit urusan di sini. Setelah urusan Mama selesai, Mama pulang. Oke?" "Berapa lama lagi?" tanya Julian. Yasmin juga tidak tahu berapa lama lagi, tapi dia tidak boleh memberi anak-anak jawaban sepertinya. "Seharusnya tidak lama lagi. Tapi, Mama janji beberapa hari ini akan menelepon video kalian. Oke?" "Mama ..." rengek Julia dengan suara serak. "Sayang, jangan menangis, ya. Mama akan berusaha cepat-cepat pulang. Oke?" Yasmin merasa sangat sedih, seakan-akan ada pisau yang menyayat hatinya. "Ya ..." jawab Julia dengan tak berdaya. Lalu, dia menghela napas. Kasihan sekali. "Harus setiap hari!" kata Julian. Yasmin tidak tahu apa dia bisa menelepon video mereka setiap hari, jadi dia berkata, "Mama usahakan, ya ...." "Kangen Mama ..." ucap Julius. Sorot matanya tampak redup. "Mama juga kangen kalian, banget ..." kata Yasmin sambil menahan air mata. Dia berharap dia bisa langsung melompat ke dalam layar ponsel untuk memeluk anak-anaknya. Kesedihan karena terpisah dari anak-anaknya ini sungguh sulit ditahan. Meskipun anak-anak baru berusia dua tahun dan belum bisa berbicara dengan lancar, kepintaran mereka jauh melampaui anak-anak seusia mereka. Yasmin menatap wajah ketiga anaknya. Julia adalah cerminannya, sedangkan Julian dan Julius sepenuhnya adalah cerminan Daniel. Ini membuat Yasmin merasa makin resah. Dia tidak akan tidak mencintai mereka hanya karena mereka mirip dengan Daniel. Dia hanya takut putra-putranya akan diambil darinya. Bagaimana mungkin Daniel memperbolehkan wanita yang dibencinya melahirkan anaknya? Yasmin mengobrol bersama anak-anaknya, kemudian menemani mereka makan siang. Anak-anaknya yang baru berusia dua tahun sudah bisa makan sendiri. Tangan mereka yang mungil memegang sendok, lalu menyuap diri mereka sendiri. Gambar di layar ponsel pun menyembuhkan hati Yasmin sedikit. Rasa takut dari kemarin juga perlahan-lahan menghilang. Ketika Yasmin sedang menatap ketiga anaknya dengan kasih sayang, dia tiba-tiba mendengar ada suara dari luar dan itu membuatnya langsung mematung. Tidak ada suara dari pintu kamar mandi. Namun, sesuatu yang mengerikan sepertinya sedang perlahan-lahan mengarah ke tempat ini. Aura di dalam kamar menjadi aneh. Sosok Daniel yang tinggi tiba-tiba muncul. Melihat tidak ada orang di dalam kamar, tatapan matanya yang tajam pun tertuju ke arah kamar mandi yang terang. Bab 9 Pintu kamar mandi dibuka tanpa peringatan. Yasmin pun berdiri di tempatnya dengan tegang. Dia menatap pria yang tiba-tiba muncul dengan gugup. Tatapan mata Daniel tampak sinis saat dia berkata, "Kamu mengunci pintu di wilayahku? Siapa yang memberimu izin?" Yasmin tidak menjawab karena tempat ini memang bukan kamarnya. Seluruh Teluk Bulan, termasuk Yasmin sendiri, adalah milik Daniel. Akan tetapi, Yasmin tidak boleh mengatakan alasan dia mengunci pintu. "Aku ... aku takut ..." kata Yasmin dengan lemah. Mata tajam Daniel tertuju pada ponsel yang berada di tangan Yasmin. "Berikan." Yasmin paham maksud Daniel, dia pun menggenggam ponselnya makin erat. Dia sungguh tidak menyangka pada waktu ini Daniel akan mendatangi kamarnya. Semua ini sangat tidak terduga .... "Jangan membuatku mengulangi ucapanku!" Suara Daniel yang penuh ancaman menggemparkan satu kamar mandi. Jantung Yasmin berdebar. Dia pun terpaksa menyerahkan ponselnya. Setelah ponselnya berada di tangan Daniel, detak jantung Yasmin makin meningkat. Dia takut Daniel akan mengetahui rahasianya .... Ketika Daniel memeriksa ponsel Yasmin, Yasmin berkata dengan lemah, "Aku ... aku mimpi buruk. Aku sangat takut, jadi aku ingin menelepon Tante. Tapi, aku takut kamu marah, makanya nggak jadi. Lalu, kamu kebetulan masuk ...." Yasmin sempat menghapus log panggilan terbarunya, jadi Daniel tidak akan menemukan apa-apa. Daniel mengarahkan tatapan matanya yang tajam ke Yasmin saat berkata, "Kamu boleh coba." Yasmin menatap balik Daniel dengan bingung. "Apa kamu tahu apa yang akan terjadi padanya kalau dia membantumu melarikan diri?" tanya Daniel. Tatapan matanya penuh dengan amarah. "Bukan seperti itu. Aku yang meminta Tante mengantarkan pasporku. Itu nggak ada hubungannya dengan Tante. Dia nggak tahu apa-apa! Aku ... aku berjanji padamu, lain kali aku nggak akan meneleponnya lagi ..." sumpah Yasmin. Yasmin terlalu naif. Daniel tidak boleh menyentuh Klara, jadi bagaimana mungkin Yasmin diizinkan untuk menghubungi Klara? Demi keamanan tantenya, Yasmin tidak boleh menghubunginya .... Daniel melangkah maju, lalu langsung mencengkeram wajah Yasmin. Dia memaksa Yasmin melihatnya sebelum berkata, "Ingat, jangan mengetes kesabaranku. Kamu nggak akan bisa menanggungnya. Paham?" "Pa ... ham," jawab Yasmin dengan mata berkaca-kaca. Ponsel Yasmin tiba-tiba berdering dan bergema di kamar mandi yang hening ini. Pada saat yang sama, jantung Yasmin pun langsung berdebar. Siapa? Siapa meneleponnya? Semoga bukan Tante Rita dan anak-anak. Jangan! "Sepertinya kamu gemetar?" Daniel seakan-akan sedang bermain dengan mangsanya. Jemarinya yang sedang menggenggam rahang Yasmin dapat merasakan dengan jelas kalau Yasmin gemetaran. "Ng ... nggak." Yasmin memalingkan wajahnya, lalu dia buru-buru hendak mengambil ponselnya. "Aku angkat telepon dulu ...." Perlawanan Yasmin membuat Daniel marah. Daniel pun langsung menggenggam bahu Yasmin, kemudian mendorongnya ke kaca di sebelah wastafel dengan kuat. Setelah itu, terdengar suara pecah yang jatuh ke lantai .... "Aa!" Yasmin ketakutan sampai kedua kakinya menjadi lemas. Daniel terlalu kuat! "Tenanglah!" Daniel menyipitkan matanya sambil melihat nomor telepon yang tidak disimpan di layar ponsel. Setelah dia menjawab panggilan, muncul suara laki-laki. "Yasmin?" Saat mendengar suara itu, tubuh Yasmin gemetar sedikit sebelum dia menghela napas lega di dalam hati. Itu adalah suara mantan pacar yang Yasmin kenal sekali. Kenapa laki-laki itu menelepon? Namun, saat ini, selama penelepon bukanlah Tante Rita dan anak-anak, Yasmin bisa menerimanya .... "Yasmin, sudah lama kita nggak mengobrol. Bagaimana kabarmu? Semenjak kita putus, aku sering merindukanmu. Aku nggak bisa melupakanmu ..." kata Nico. Yasmin tertegun, lalu melirik ke arah Daniel. "Yasmin, aku tahu kamu belum melupakanku. Kalau nggak, kamu pasti sudah mengganti nomormu, 'kan? Dengar-dengar, dua tahun lalu kamu cuti sekolah dan sudah pulang ke negara kita. Besok aku juga pulang, jadi mari kita bertemu. Bagaimana?" tanya Nico. "Nggak perlu." "Yasmin, kamu nggak akan bisa menemukan pria lebih baik dariku." "Aku ...." Sebelum Yasmin sempat menolak Nico lagi, Daniel sudah mengakhiri panggilan. Yasmin yang sedang ditatap oleh Daniel buru-buru berkata, "Dia adalah mantan pacarku dan sudah lama kita berpisah. Karena aku patah hati, aku nggak lanjut sekolah dan ambil cuti. Aku nggak menyangka dia akan mencariku. Hubungan kami benar-benar sudah berakhir." "Kamu kira aku peduli?" ucap Daniel sambil tersenyum sinis. Yasmin tampak malu, lalu dia melihat ponselnya yang ada di tangan Daniel. Itu seakan-akan Yasmin sendiri. Dia telah menjadi benda yang berada di genggaman Daniel. Daniel mendadak berkata, "Karena besok dia sudah pulang, kamu perlu menjumpainya." Yasmin yang tidak menginginkan itu bertanya, "Kenapa aku harus pergi menjumpainya?" "Aku bukan sedang berdiskusi denganmu." Yasmin tidak tahu apa yang ada di dalam benak Daniel, tapi itu pasti bukan hal baik. Firasat buruk di hatinya pun membesar. Namun, Yasmin tidak berani menolak Daniel. Kalau tidak, Yasmin akan mati! ... Nico membuat janji di bar. Setelah Yasmin masuk ke bar, dia tidak hanya melihat Nico, tapi juga sosok seseorang di kursi VIP lantai dua. Sosok itu tersembunyi di dalam kegelapan dan sedang melihat ke bawah. "Yasmin, di sini!" Nico juga sudah melihatnya. Yasmin memalingkan wajahnya, lalu berjalan ke arah Nico. Meskipun Yasmin telah mendapat persetujuan Daniel, dia tetap merasa gelisah. Karena dia tidak tahu apa yang ingin dilakukan Daniel. Bahaya yang tidak diketahui ini membuat Yasmin gugup. "Yasmin, lama nggak bertemu. Aku benar-benar senang dapat melihatmu lagi," kata Nico dengan emosional. Yasmin tidak membalasnya. Nico Harvis adalah senior Yasmin di universitas luar negeri. Nico telah mengejar Yasmin selama hampir dua bulan. Lalu, karena mereka sama-sama orang Kota Imperial, mereka pun pacaran. Tak disangka, kurang dari enam bulan, Yasmin malah melihat Nico bersama wanita lain di atas tempat tidur. "Aku sudah memesankan jus beralkohol rendah untukmu. Kamu nggak pandai minum, 'kan?" Nico bertingkah seperti pacar yang perhatian. "Ada apa kamu mencariku?" Yasmin dapat melihat kalau Nico hanya berbasa-basi dan dia juga tidak ingin menerima kebaikan apa pun dari Nico. "Yasmin, nggak peduli aku bersama siapa, aku nggak bisa melupakanmu. Aku benar-benar menyesal. Yasmin, jadi pacarku lagi, ya. Aku janji nggak akan melakukan kesalahan itu lagi!" "Kamu tahu kalau aku adalah orang yang nggak memberi kesempatan kedua." "Kalau memang seperti itu, kenapa kamu mau bertemu denganku lagi? Kamu juga pasti belum bisa melupakanku!" Nico pun hendak meraih tangan Yasmin. Namun, Yasmin segera menarik tangannya. Matanya tertuju ke atas. Tidak peduli seberapa jauh Yasmin, dia tidak bisa mengabaikan tatapan mata yang tajam itu. Yasmin ingin pergi! Namun, dia tidak tahu kapan dia boleh pergi. Kalau Yasmin belum bisa melakukan hal yang membuat Daniel puas, dia tidak bisa membantah perintah Daniel! Sebelum Yasmin sempat mengatakan apa-apa, terdengar suara seseorang. "Loh? Yasmin Tanoto? Aku hampir nggak bisa mengenalimu karena pakaianmu." Seorang pria berambut rapi mendekat untuk ikut mengobrol. Dia bertingkah seperti telah berpapasan dengan teman lama. Bab 10 Wajah Yasmin langsung menjadi merah. Dia berpikir apakah ini tujuan Daniel? Untuk mempermalukannya? Sepertinya ini baru permulaan. Benar saja, raut wajah Nico pun berubah. "Apa maksudnya?" "Apa ini tamu barumu? Pantas saja sudah lama nggak melihatmu. Apa dia memberimu lebih banyak uang daripadaku?" Pria itu lanjut menghina. "Katakan padaku, berapa dia memberimu? Aku akan melipatgandakannya." Yasmin sekali lagi melihat ke atas. Daniel masih di sana. Sambil memegang gelas birnya, dia sedang menonton kejadian ini dengan penuh minat. "Apa yang dikatakannya benar?" Sikap Nico telah berubah. "Masa aku berbohong? Kalau kamu nggak percaya, tanyalah orang-orang di bar ini apa aku mengatakan hal yang sebenarnya." Setelah itu, pria itu menarik seorang pelayan. Dia menunjuk Yasmin sambil bertanya, "Apa kamu mengenalnya?" "Kenal. Dia adalah salah satu putri favorit tamu-tamu di sini," jawab pelayan itu. Setelah itu, pria itu menarik orang lain lagi dan orang itu mengatakan hal yang sama. Yasmin melihat sekeliling pelayan dan tamu bar ini. Ada yang sedang sibuk sendiri, lalu ada yang sedang menatapnya dengan tatapan mendambakan dan gairah. Mereka terlihat natural, tapi Yasmin berani menjamin kalau semua orang di bar ini adalah suruhan Daniel. Daniel kuat sekali! Yasmin tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Dia pun bangkit, kemudian berkata, "Aku mau pergi ke toilet." Dia tidak berani pergi dari bar. Untuk sementara, dia hanya bisa meninggalkan tempat yang berbahaya ini. Namun, saat Yasmin baru saja masuk ke kamar mandi, pintu di belakangnya sudah didorong oleh seseorang. Ekspresi Nico tampak penuh dengan hina. "Ternyata kamu jalang sekali!" Yasmin menarik napas dalam-dalam, tapi dia diam saja. "Waktu kita masih pacaran, kamu nggak membiarkanku menyentuhmu selama setengah tahun. Kamu pura-pura suci di depanku, tapi sebenarnya kamu adalah wanita jalang yang entah sudah dipakai berapa banyak pria!" "Sudah cukup?" tanya Yasmin dengan ekspresi masam. "Belum. Aku juga ingin mengambil apa yang kulewatkan!" "Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Yasmin yang melihat Nico mendekatinya. Nico langsung memerangkap Yasmin di antara dirinya dan wastafel. "Aaa! Nico, lepaskan aku!" "Kenapa aku nggak boleh menyentuhmu?" Nico menarik baju Yasmin dengan kuat sehingga kerahnya koyak dan menunjukkan kulit Yasmin yang putih. Pandangan itu pun membuat mata Nico berkelip. "Nico!" Yasmin mendorong Nico dengan sekuat tenaganya dan jantungnya tidak berhenti berdebar. Apa ada yang lebih keterlaluan daripada diperkosa oleh mantan pacar? "Aku akan membayarmu!" Nico pun hendak mencium Yasmin. Yasmin tentu saja tidak mengizinkannya. Tak disangka, Nico langsung mengayunkan tangannya ke pipi Yasmin. "Ah!" Yasmin pun terjatuh ke lantai. Kepalanya terasa pusing dan pipinya terasa perih. Nico masih belum merasa puas. Dia menuangkan semua air di ember ke badan Yasmin. Yasmin berteriak. Seluruh tubuhnya basah dan dia terlihat menyedihkan. Nico hendak maju lagi, tapi kemudian ada orang yang membuka pintu kamar mandi. Nico baru ingin naik darah, tapi ketika dia melihat pria yang masuk menyebarkan aura mengancam yang kuat, Nico pun terdiam. Dia tidak pernah bertemu dengan pria yang bisa membuat orang takut hanya dengan tatapan matanya. Jadi, Nico langsung pergi. Mata sinis Daniel melirik ke arah Yasmin sambil berjalan menghampirinya dengan anggun. Sosok Daniel yang menjulang membuatnya terlihat seperti raja. Yasmin menggigit saat dia duduk. Dia mengangkat wajahnya dan matanya berkaca-kaca. "Apa aku sudah boleh pergi?" Daniel menatapnya dengan sinis dan menjawab, "Malam masih panjang. Di rumah bosan." Yasmin memeluk kaki Daniel, lalu dia menangis sembari memohon, "Mempermalukanku sampai begini sudah cukup, 'kan? Kumohon, biarkan aku pergi. Kumohon ...." Daniel mencondongkan tubuhnya untuk mencengkeram rahang Yasmin. Dia memperingati Yasmin, "Padahal aku ingin menonton adegan kesatria menolong tuan putri. Kamu benar-benar telah mengecewakanku." Yasmin ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. "Bicara!" marah Daniel. "Yang sebenarnya ingin kamu lihat adalah Nico dikepung dan aku memohon padamu." Yasmin meneteskan air mata, lalu berkata, "Tapi, dia bukan orang seperti itu ...." "Apa kamu sudah pernah disentuh?" tanya Daniel dengan suara rendah. Yasmin langsung panik. Kata-kata Nico pasti kedengaran oleh Daniel. Dia tahu kalau mereka tidak pernah sampai tahap itu. Yasmin pun menebalkan mukanya, lalu menjawab, "Be ... belum ...." "Apa aku perlu memeriksamu dulu, hm? Kalau kamu ketahuan berbohong padaku, aku akan membunuhmu!" Sekujur tubuh Yasmin pun gemetar. "Jangan .... Mantanku sungguh nggak pernah menyentuhku. Karena itu, dia selingkuh. Semua yang kukatakan ini benar!" Begitu Daniel memeriksanya, dia tidak hanya akan tahu kalau Yasmin sudah bukan seorang perawan, tapi dia juga akan melihat bekas luka operasi sesar di perut Yasmin. Karena Yasmin sudah melahirkan, di mana anak-anaknya? Akan tetapi, bagaimana Yasmin bisa menarik kembali apa yang dia telah katakan? Bagaimana dia bisa tahu kalau Daniel ingin memeriksanya? Daniel menunduk dengan tatapan matanya yang sinis itu. Aura di sekitar perlahan-lahan terasa berbahaya. Dia seolah-olah ingin memberi wanita yang sedang berlutut di depannya itu kematian yang lambat. Suara getar ponsel yang datang dari saku Daniel memecah suasana menakutkan ini. Yasmin bahkan tidak berani bernapas. Daniel melepaskan rahang Yasmin, kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mengangkat panggilan. "Bicara." Entah apa yang telah dikatakan orang di ujung telepon. Setelah itu, Daniel pun mengakhiri panggilan. Dia melirik sinis wanita menyedihkan yang berada di lantai sebelum melangkah pergi. Tubuh Yasmin langsung menjadi lemas dan dia hampir jatuh ke lantai. Menghadapi Daniel yang menakutkan selalu menghabiskan seluruh kekuatan Yasmin. Apa Daniel sudah melepaskannya? Atau ini hanya untuk sementara? Yasmin menopang tubuh lemahnya untuk berdiri. Sekujur tubuhnya basah. Dia sama sekali tidak boleh menetap lebih lama lagi. Jadi, dia sudah boleh pergi, 'kan? Yasmin keluar dari kamar mandi. Kemudian, ketika dia melewati koridor yang penuh dengan ruang VIP, kebetulan dia melihat satu adegan di salah satu ruangan. Seorang pria ditendang ke depan Daniel. Pria itu pun menggertakkan giginya karena rasa sakit di lututnya. "Kamu cuma pantas berbicara denganku saat berlutut." Daniel sedang duduk di sofa dan aura kuatnya terasa sangat menakutkan. Pria itu tidak berhenti berkeringat dingin. "Aku ... aku adalah orang Keluarga Guntur. Kamu ... kamu nggak boleh memperlakukanku seperti ini!" "Siapa yang mengutusmu untuk menyelidikiku?" tanya Daniel. Di bawah tekanan aura Daniel yang kuat, pria itu pun hanya bisa menjawab, "Nyo ... Nyonya Klara ...." Begitu nama Klara disebut, Yasmin melihat kilatan putih melewati pandangannya. Setelah itu, dia mendengar teriakan melengking keluar dari mulut pria itu. "Aah!" Daniel sangat kuat sehingga bilah dan gagang pisaunya menancap ke pergelangan tangan pria itu. Darah pun memuncrat dan langsung mewarnai karpet di ruangan menjadi merah. Wajah Yasmin memucat karena ketakutan. Dia terus melangkah mundur, setelah itu dia berlari tanpa menoleh ke belakang. Yasmin langsung berlari keluar dari bar. Setelah dia menghirup udara segar di luar, dia baru merasa tenang. Daniel kejam sekali. Dia gila! Yasmin tidak tahu apakah dia menggigil karena angin malam ini sangat dingin. Pisau itu seakan-akan bukan menusuk pergelangan tangan pria itu, tapi tubuh Yasmin!