Diceraikan Mantan Suami, Ternyata Aku ....

Đang tải thông tin quảng bá...

Diceraikan Mantan Suami, Ternyata Aku ....

GoodNovel Hoàn thành
EmosionalPria DominanKaya

Hal yang paling disesali Lillia selama ini adalah melepaskan segalanya dan menikahi Claude selama tiga tahun ini. Begitu cinta pertama Claude kembali, Lillia tidak punya pilihan selain dicampakkan.Nam...

Chương (1)

第1章

Bab 1 [ Suamimu selingkuh. ] Di saat Lillia Sentana menerima pesan dari sahabatnya, dia baru saja menyelesaikan suntikan ovidrel untuk merangsang sel telur. Sambil menahan rasa sakit di perutnya, dia bersandar di bangku klinik untuk beristirahat. Rambutnya hitam legam dan kulitnya putih mulus. Meski wajahnya terlihat pucat, kecantikannya tidak berkurang sama sekali. Semua orang yang berjalan melewatinya, tak kuasa untuk berpaling meliriknya sekilas. Lillia menarik napas dalam-dalam, jarinya menyentuh layar ponsel untuk membuka foto yang dikirimkan sahabatnya. Ternyata itu adalah foto Claude yang sedang memeluk seorang wanita berpakaian merah muda keluar dari hotel. Wajah pria itu yang awalnya dingin, kini terlihat sangat lembut saat menundukkan kepalanya. Lillia juga mengenal wanita itu. Dia adalah cinta pertama Claude, Nikita Mawardi. Begitu tersadar dari lamunannya, Lillia langsung menelepon Claude. Setelah terdengar nada sambung yang lama, pria itu akhirnya menjawab, "Ada apa?" "Apa kamu pulang malam ini?" Lillia sebenarnya ingin bertanya apakah Claude masih ingin pulang ke rumah. Namun jelas sekali panggilannya itu telah mengganggu kesenangan Claude. Setelah terdiam beberapa detik, Claude berkata dengan tidak sabaran, "Apa kamu begitu terburu-buru?" Mata Lillia memerah mendengar perkataan Claude. Meski merasa sakit hati dengan ucapan Claude, nada bicara Lillia tidak terdengar sedih. "Apa kamu lupa dengan hari ini?" Mereka menikah secara diam-diam selama tiga tahun. Setiap bulan, mereka akan berhubungan badan secara rutin. Selain dari waktu itu, keduanya memang jarang bertemu. Hari ini adalah hari peringatan pernikahan mereka, juga saatnya Claude pulang ke rumah. Claude telah berjanji akan menemaninya bulan lalu. Claude menyela ucapannya dengan tidak sabaran, "Aku akan pulang malam nanti, kamu tenang saja." Seusai bicara, dia langsung mematikan teleponnya. Mendengar nada sambung yang terputus, hati Lillia terasa perih. Dia mendongak sesaat dan menarik napas dalam-dalam, lalu menelepon sahabatnya, Moonela, untuk menjemputnya. Sepuluh menit kemudian, terdengar suara langkah kaki di lorong rumah sakit. Wanita itu berambut pendek, dengan cat biru dan highlight perak. Rambutnya berkibar ditiup angin, membuatnya terlihat sangat keren. Moonela mengabaikan pandangan semua orang yang melihatnya. Dia mengangkat alisnya dan berjalan ke arah Lillia. Melihat wajah Lillia yang pucat, Moonela memarahinya dengan kesal, "Dia sudah seperti itu dengan Nikita, apa gunanya lagi kamu suntik hormon?" Lillia hanya menunduk dan terdiam. Dia tahu bahwa pernikahannya dengan Claude sedari awal memang bukan atas dasar cinta. Kakek Claude yang terus memaksa untuk menjodohkan keduanya. Saat pernikahan itu ditetapkan, Lillia juga tidak menolaknya. Dalam hatinya justru diam-diam merasa senang. Dia telah menyukai Claude sangat lama. Namun setelah menikah, Lillia baru tahu bahwa Claude memiliki seorang kekasih bernama Nikita. Kakeknya tidak menyukai latar belakang keluarga Nikita, sehingga menggunakan Lillia sebagai kambing hitam. Claude tidak ingin mengakui keberadaan Lillia, sehingga status pernikahan mereka terus dirahasiakan selama tiga tahun ini. Lillia tidak peduli dengan semua itu, dia berpikir bahwa dirinya akan bisa meluluhkan hati Claude suatu saat. Dia akan membuat Claude melupakan Nikita, dan hidup bahagia bersamanya. Kini setelah Nikita muncul, Lillia baru mengerti seberapa bodohnya dirinya. Sepulangnya ke rumah, Lillia langsung mandi. Saat melihat piama seksi yang diletakkannya di ranjang, hati Lillia merasa getir. Dia berkata pada dirinya sendiri, ini adalah kesempatan terakhir baginya dan Claude. Saat tengah malam, pinggang Lillia dipeluk erat oleh sebuah tangan yang terasa sejuk. Napas pria itu yang panas berembus di telinga Lillia, seakan-akan hendak membakar dirinya. Lillia merasa kaget dan terbangun, lalu mengangkat kakinya secara refleks. Gerakan Claude sangat cepat, dia langsung menahan kaki Lillia dan menepiskannya ke samping. Kemudian, pria itu menindih tubuh Lillia hingga membuat posisi keduanya tampak mesra saat ini. Lillia masih belum tersadar sepenuhnya karena baru bangun. Namun, dia dengan cepat menyadari itu adalah Claude. Setelah itu, dia merangkulkan tangannya ke leher Claude dan memeluknya dengan erat. Pandangan pria itu terjatuh pada pakaian Lillia. Napasnya juga mulai memburu saat berkata, "Kamu menyuruhku pulang karena ini?" Tubuh Lillia terasa kaku sejenak. Kemudian, dia berkata sambil tertawa, "Iya, aku baru belajar gaya baru." Selama ini, Lillia yang selalu berinisiatif dalam hubungan mereka. Baik dari menjalani suntikan hormon, meminum sup nutrisi, ataupun meneliti gaya saat berhubungan, Lillia rela mencoba segala cara demi bisa hamil. Mengingat semua ini hanya demi bisa hamil, Claude pun kehilangan minatnya. Dia mendorong Lillia untuk berdiri, lalu mengambil tisu basah di depan ranjang untuk mengelap tangannya dengan perlahan. Claude mengelap tangannya dengan saksama. Seakan-akan baru menyentuh benda kotor, dia menyeka setiap inci tangannya tanpa terlewatkan sama sekali. Setelah itu, dia membuang tisu basah itu ke tong sampah, lalu berkata dengan nada dingin, "Kamu membuntuti Nikita karena hal ini?" Lillia tertegun sejenak. Setelah beberapa saat, dia baru menyadari bahwa yang disebutkan Claude itu sepertinya adalah foto mereka yang diambil oleh paparazi. Meski kalimatnya berbentuk pertanyaan, nada bicara Claude malah terdengar sangat yakin. Claude sepertinya sengaja pulang untuk mencari keadilan demi kekasih gelapnya. Hati Lillia terasa dingin, seolah-olah membeku. Setelah terdiam sesaat, dia duduk di ranjang dan memakai roknya dengan sembarangan. Wajah cantiknya terlihat begitu dingin, jauh berbeda dengan ekspresinya yang begitu berinisiatif tadinya. Lillia berkata tanpa sungkan, "Iya, kamu berbuat macam-macam dengan mantan pacarmu dan malah merahasiakan pernikahan kita. Jangankan mengutus paparazi, aku nggak menyuruh orang menggerebek kalian karena takut akan mempermalukan sekeluarga!" Claude tertegun mendengarnya. Dia sudah terbiasa dengan sikap Lillia yang penurut, kini Claude tidak menyangka Lillia akan seketus ini ketika marah. Ternyata memang tidak bisa menilai orang dari penampilannya. Claude tiba-tiba marah, lalu mendorongnya. "Jangan pakai pikiran kotormu itu untuk menilai Nikita. Dia berbeda denganmu." Bagi Claude, Lillia adalah wanita licik yang menghalalkan segala cara, sedangkan Nikita adalah wanita polos yang suci. Usaha yang dilakukan Lillia selama tiga tahun bahkan tidak sebanding dengan satu lirikan dari Nikita. Lillia merasa dirinya benar-benar bodoh karena menyukai pria ini selama ini! Pria berengsek seperti ini seharusnya dicampakkan saja saat dia muda. Lillia malah menganggap pria ini sebagai hartanya selama ini. Setelah terdiam beberapa saat, Lillia mendongak, lalu berkata, "Claude, kita cerai saja." Bab 2 Nada bicara Lillia sangat dingin, tetapi tatapannya sangat yakin. Namun, ketika baru saja ucapan itu dilontarkan, ponsel Claude telah berdering. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat nama peneleponnya sekilas. Kemudian, Claude menerima panggilan itu sambil mengernyit, "Ada apa?" Entah apa yang dibicarakan oleh orang di ujung telepon, Claude hanya menanggapinya dengan singkat, "Aku akan ke sana sekarang." Setelah itu, dia langsung keluar dari kamar tanpa menoleh pada Lillia sama sekali. Lillia hanya mendengus tanpa mengatakan apa pun. Malam itu, Lillia tidak bisa tidur. Dia membereskan koper dan menandatangani surat perceraian, lalu meletakkannya di atas meja kopi di ruang tamu dengan beberapa lembar kartu. Setelah itu, barulah dia meninggalkan rumah pernikahannya dengan Claude. Moonela menyilangkan kakinya dan duduk dengan santai di kursi sopir. Melihat Lillia keluar sambil menenteng koper kecil, dia langsung terduduk dan memelototi Lillia dengan kaget. "Kamu nggak salah? Hanya ini barang-barangmu?" Lillia meletakkan kopernya di bagasi, lalu duduk di kursi penumpang depan. Kemudian, dia berkata dengan santai, "Semua itu hanya materi, setidaknya sekarang aku sudah bebas." "Benar-benar sudah cerai?" tanya Moonela dengan tidak yakin. Lillia mengendikkan bahunya, lalu berkata, "Nggak usah pikirkan masalah cinta lagi, fokus meniti karier." Moonela pun tidak banyak bertanya lagi, dia langsung memutar setir dan mengumpat, "Bajingan, Claude sekaya itu, kenapa kamu nggak minta beberapa miliar darinya baru pergi?" Lillia mengerucutkan bibirnya, "Semua kekayaannya itu adalah hasil sebelum dia menikah, aku nggak berani memintanya." Sebenarnya Claude sangat murah hati dalam masalah uang. Jika benar-benar berniat membagi harta gono-gini di pengadilan, bukan hanya beberapa miliar saja yang akan didapatkan Lillia. Hanya saja, sedari awal Lillia memang tidak menginginkan uangnya. Melihat Lillia terdiam, Moonela buru-buru mengalihkan topik, "Nggak ada salahnya juga bercerai. Aku masih banyak berutang desain di studio. Kebetulan sekali kamu bisa kembali sekarang. Kalau nggak, selalu aku saja yang banting tulang. Orang-orang mungkin mengira studio itu adalah milikku seorang." Setelah lulus kuliah, Lillia bekerja sama dengan Moonela untuk mendirikan sebuah studio desain busana bernama "LMOON". Studio ini menggunakan gabungan kedua nama mereka yang disingkat. Salah satu dari kedua orang itu adalah genius dalam dunia bisnis, satunya lagi adalah genius dalam desain. Kerja sama mereka membuat studio ini berkembang dengan pesat. Hanya saja, Lillia memilih untuk menikah dengan Claude di saat masa-masa puncak kariernya untuk menjadi ibu rumah tangga. Selama ini, LMOON hanya dikelola oleh Moonela seorang diri, sedangkan Lillia bertugas untuk memberikan desain di balik layar. Moonela mencurahkan seluruh perhatiannya pada karier. Ditambah lagi dengan kemampuannya yang memang sudah sangat mumpuni, dia hanya butuh waktu beberapa tahun untuk mengubah LMOON menjadi studio desain pakaian pribadi berkelas tinggi. Sebagai desainer sekaligus bos di LMOON, Lillia menggunakan nama samaran yang diberikan oleh Moonela, yaitu "Lorraine". Reputasinya juga sangat terkenal dalam kalangan desain. Lillia tidak mengambil sepeser pun dari perceraiannya dengan Claude. Selanjutnya adalah saatnya untuk memikirkan masalah nafkah. Lillia memang berencana untuk kembali bekerja di studio, saat mendengar Moonela mengatakan dia berutang banyak desain, Lillia langsung memprotes, "Bukannya sebelumnya aku sudah banyak memberikanmu desain? Kenapa masih ada yang kurang?" Moonela langsung merasa pusing saat mengungkit hal ini. "Kamu nggak tahu ya, gadis dari keluarga kaya dan artis-artis terkenal di dunia hiburan itu benar-benar lebih susah diladeni. Mereka nggak mau ada model ataupun warna yang sama dengan orang lain. Jadi, satu sketsa hanya bisa dibuatkan satu pakaian. Desain yang kamu berikan waktu itu hanya cukup untuk jadwal pertemuan sebelumnya." "Aku juga agak serakah karena menerima lebih banyak pesanan ...." Sambil berkata demikian, Moonela menggabungkan jari telunjuk dan jempolnya. "Hanya tambah beberapa, kok." "Berapa banyak yang kamu maksud dengan 'beberapa' itu?" tanya Lillia dengan tidak tenang. Moonela terkekeh sambil berkata, "Hanya ... 66 pesanan." Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan, "Gaun." Kali ini, suaranya jauh lebih pelan daripada sebelumnya. Lillia langsung menarik napas dalam-dalam. Tadinya dia masih bingung harus menginap di mana. Sekarang tampaknya dia harus menginap di studio langsung. Bahkan jika menghasilkan satu desain per hari, Lillia butuh waktu 2 bulan untuk menyelesaikan 66 pesanan itu. Selain itu, dia masih harus memikirkan detail bahannya. Sepertinya Lillia tidak akan bisa beristirahat hingga akhir tahun. Lillia bersandar di kursi penumpang depan sambil merenung. Dia baru sadar selama menikah beberapa tahun ini, dia tidak banyak melakukan pekerjaan lain selain menggambar desain. "Moonela, terima kasih atas kerja kerasmu selama beberapa tahun ini." Moonela berkata dengan lantang, "Duh, untuk apa kamu bicara sesungkan itu. Lagi pula, tanpa desain darimu, nggak ada gunanya juga aku bekerja keras. Jangankan dari kalangan lain, cukup dari berondong di dunia hiburan saja sudah banyak sekali yang lebih tampan dari Claude! Bukan hanya tampan, tapi juga nyaman!" Mengungkit hal ini, Moonela benar-benar kesal. "Sialan, suatu saat aku akan membuat si Claude berengsek itu berlutut dan memohon padamu untuk kembali." Mendengar ucapannya, Lillia baru pertama kali menunjukkan senyuman tulus sejak kemarin. Ketika nama pria itu disebut, bayangan wajahnya kembali muncul dalam benak Lillia. Pria itu benar-benar berengsek. Namun, Lillia sangat paham bahwa hati Claude hanya ada Nikita. Mungkin saja pria itu justru ingin cepat-cepat menyingkirkan Lillia. Mana mungkin dia akan memohon pada Lillia untuk kembali? Lillia melirik Moonela sekilas. "Bisa nggak kamu doain aku yang lebih bagus?" Dia sudah bertekad tidak akan berurusan dengan pria berengsek seperti Claude lagi. Studio LMOON terletak di Jalan Pinang. Dari yang awalnya hanya sebuah ruko kecil, kini sudah berkembang menjadi sederet ruko besar. Luas studio itu 400-an meter persegi, asistennya saja berjumlah tujuh sampai delapan orang. Setelah menurunkan Lillia di studio, Moonela bergegas untuk pergi dinas. Dia berpesan secara khusus, "Beberapa hari ini mungkin akan ada klien besar yang mau memesan gaun untuk artis-artis di agensinya dalam jangka waktu panjang. Dia sudah lama membuat janji. Kebetulan kamu ada di sini, kerjalah dengan baik." "Tenang saja, urusan seperti ini serahkan saja padaku kelak," balas Lillia. Lantai dua di studio adalah ruang istirahat khusus. Setelah membereskan kopernya, Lillia meluangkan tempat bagi dirinya untuk menginap sementara waktu. Kemudian, dia langsung mulai bekerja setelah menerima data-data permintaan yang dikirimkan oleh asistennya. Sepertinya, Lillia hanya bisa melupakan masalah perceraiannya ini sementara dengan menyibukkan diri. Setelah bekerja keras selama tiga hari, Lillia baru bisa menyelesaikan sketsa yang dibutuhkan secara mendesak. Dia mengirimkan sketsa itu untuk dibuatkan sampel, lalu hendak beristirahat. Pada saat ini, asistennya tiba-tiba datang memberitahunya, "Kak Lillia, ada klien yang nggak bisa kami tangani." Bab 3 Lillia berusaha membangkitkan semangat. "Tunggu sebentar, aku akan segera ke sana." Setelah itu, dia buru-buru berdandan tipis untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya. Setelah mengganti pakaian kerja dan memakai sepatu hak tingginya, Lillia langsung turun ke lantai bawah. Dari kejauhan, dia melihat dua sosok yang familier sedang duduk di sofa. Langkah kakinya langsung terhenti, senyuman di wajahnya juga langsung sirna. Lillia bahkan tidak sempat lagi kabur sekarang. Saat melihatnya, Claude mengerutkan alis dan langsung berdiri. Dia menarik lengan Lillia dan membentak, "Lillia! Berani sekali kamu membuntutiku sampai ke sini!" Lillia mengatupkan bibirnya dan mengernyit. Lantaran sudah mau bercerai, Lillia juga sudah malas menjelaskan lagi. Dia menyingkirkan tangan Claude, lalu tersenyum sopan, "Pak Claude, aku sedang bekerja. Mohon jaga sikapmu." Claude mengernyit dan menyindirnya dengan tak sabaran, "Kamu kekurangan uang sekali sampai harus menyajikan teh untuk tamu?" Lillia tertawa sinis mendengar sindirannya. Dia tidak pernah menyembunyikan dari Claude mengenai kemampuannya dalam bidang desain. Jika Claude rela menaruh perhatian sedikit saja, dia pasti akan menyadari semua sketsa yang dilukis Lillia selama ini. Hanya saja, Claude memang tidak mencintainya sehingga tidak pernah perhatian sama sekali terhadapnya. Claude bahkan mengira Lillia hanya bisa menjadi pelayan setelah meninggalkan dirinya. "Kita sudah bercerai, kalaupun aku jadi pelayan juga nggak akan membuatmu malu. Kamu nggak takut sikapmu sekarang ini akan membuat Nona Nikita salah paham?" Pernikahan mereka dirahasiakan selama tiga tahun, bahkan Nikita juga seharusnya tidak kenal dengannya, bukan? Claude hanya mendengarkan bagian yang penting. Dia berkata dengan nada dingin, "Cerai apanya? Kamu jangan bicara sembarangan." Lillia melemparkan pandangan tajam ke arah Claude. Malam itu Claude hanya fokus pada Nikita, sepertinya pria itu tidak mendengar apa pun yang dikatakan oleh Lillia. Biasanya Claude juga tidak akan pulang ke rumah, tentu saja dia tidak akan menyadari surat perceraian itu. Lillia memang tidak kepikiran akan hal ini. Lillia berusaha melepaskan tangan Claude dan menenangkan diri. "Nggak apa-apa, besok akan kukirimkan surat perceraiannya ke perusahaanmu. Ingat tanda tangan!" Claude masih ingin bertanya lebih lanjut, tetapi dia melihat Nikita berjalan ke arahnya sambil tersenyum lembut, "Claude, ada apa?" Claude langsung mengubah nada bicaranya, "Nggak apa-apa, kenapa kamu kemari?" Nikita bersandar di sisi Claude, lalu berkata dengan suara manja, "Aku ke sini karena melihatmu belum keluar selama ini, kamu kenal dengan pelayan ini?" Suara Claude menjadi ketus, dia hanya membalas dengan singkat, "Aku salah mengenali orang." Selama tiga tahun pernikahan, Lillia bahkan tidak sebanding dengan orang asing. Lillia hanya tertawa sinis dan malas berbicara panjang lebar dengannya lagi. Saat ingin meninggalkan mereka, Nikita langsung menggandeng tangan Claude dan kembali menghampiri Lillia. Dia berkata dengan nada ramah, "Salah kenal orang juga bisa dibilang berjodoh. Kami ingin membeli baju dari kalian." "Mohon bantuanmu untuk membawa kami melihat-lihat rancangan gaun pengantin dari Lorraine." Mendengar perkataan ini, meski tidak lagi memikirkan masalah percintaan, Lillia tetap saja terdiam di tempat. Apa Claude benar-benar begitu tidak sabar lagi? Padahal mereka belum bercerai, tapi Claude sudah mau menikah lagi dengan Nikita? Gaun yang disebutkan oleh Nikita tadi adalah satu-satunya model gaun pengantin yang didesain olehnya dalam beberapa tahun belakangan. Sampai saat ini pun, gaun itu masih digantung di bagian yang paling mencolok di studio mereka. Gaun ini tidak dijual ke publik. Lillia sendiri yang menjahit gaun itu jarum demi jarum. Semua itu dilakukannya demi janji yang tidak pernah dikabulkan oleh Claude. Setelah ragu-ragu sejenak, Lillia akhirnya membawa kedua orang itu ke lemari pajangan tempat mereka menyimpan gaun itu. Melihat Nikita yang terkagum-kagum, Lillia mundur beberapa langkah dengan ekspresi muram. Nikita menunjuk gaun itu dengan antusias dan berkata, "Aku mau gaun ini!" Claude hanya mengangguk dengan tanpa ekspresi. "Boleh, dicoba saja." Asisten yang berdiri di samping mereka mengingatkan, "Pak, gaun pengantin ini tidak kami ...." Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, Lillia telah menyela, "Dijual, kok. Hanya saja agak mahal. Harganya 18,7 miliar." Mendengar harga yang dikatakan Lillia, jelas sekali Nikita mulai ragu-ragu. Bab 4 Harga ini sudah cukup untuk membeli gaun rancangan desainer internasional. Jelas sekali harganya agak mahal, tetapi jika dinilai dari segi desain, gaun ini tidak kalah dari merek terkenal mana pun. Konon, gaun ini telah didesain sejak 3 tahun lalu. Namun sampai sekarang pun masih tetap terlihat menawan. Claude melirik Lillia sekilas. Dengan kedua tangan yang masih tetap di sakunya, dia berkata dengan santai, "Ambil saja, asalkan kamu suka." Setelah itu, dia menyerahkan kartu banknya kepada pelayan toko dan berkata, "Gesek saja, nggak ada kode sandinya." Nikita langsung memeluk Claude dengan kegirangan. "Claude, aku cinta sekali padamu!" Lillia mengalihkan pandangannya, hatinya merasa sangat frustrasi. Ternyata belasan miliar tidak berarti apa-apa bagi Claude. Selama Nikita menyukainya, Claude tidak akan ragu-ragu membelikannya. Lillia menganggukkan kepalanya, lalu memberi isyarat pada asisten itu untuk menyelesaikan transaksi. Asisten itu tidak berani mengambil kartu tersebut, dia melihat ke arah Lillia dengan panik. Mana mungkin gaun ini dijual? Ini gaun yang dirancang Lillia untuk dirinya sendiri! Tentu saja, Lillia merasa sedikit tidak rela. Namun mereka sudah mau bercerai, kelak juga tidak akan ada lagi acara pernikahan. Tidak ada artinya menyimpan gaun pengantin itu lagi. Lillia tersenyum pelan. "Bukannya Bos Moonela juga sudah bilang, bodoh sekali kalau ada pembeli tapi kita menolaknya." Apalagi, uang ini adalah dari Claude. Lebih pantas rasanya menjualnya pada pria ini. Mendengar perkataannya, asisten itu baru pergi menyelesaikan transaksi dengan enggan. Lillia mengambil sebuah tangga, lalu mengeluarkan gaun pengantin itu dari lemari pajangan. Saat hendak mencoba gaun itu, Nikita menunjuk ke arah Lillia dan berkata, "Kamu masuk ke ruang ganti untuk membantuku saja ya? Yang lain nggak usah ikut masuk." Lillia melirik Claude tanpa sadar. Apa pria itu akan membiarkan istrinya yang belum bercerai untuk membantu tunangannya mencoba gaun pengantin? Kalau benar-benar seperti itu, Claude benar-benar orang idiot .... Sebelum Lillia selesai merenungkan hal itu, Claude malah sudah menyela duluan, "Mohon bantuanmu." Claude memasukkan kedua tangannya dalam saku dan berdiri di bawah lampu sorot. Tubuhnya yang disinari cahaya lampu sorot, membuat posturnya terlihat semakin tinggi. Wajahnya tampak tampan dan anggun, membuat orang tidak berani mendekatinya. Lillia mendengus dalam hati, kemudian tersenyum penuh arti. "Nggak usah sungkan, ini memang pekerjaanku." Baik untuk membantu mencoba gaun ataupun menyerahkan statusnya sebagai istri, semua itu tanggung jawabnya. Sementara itu, Claude hanya menatapnya dengan sinis. Lillia menganggap tatapan Claude itu sebagai sebuah peringatan padanya. Lillia memberi isyarat pada Claude sambil memegang gaun pengantin itu dan berpura-pura tersenyum. "Tenang saja, aku akan melayani istrimu dengan sangat teliti." .... Ruang ganti di LMOON sangat luas, tempat itu bisa dimasuki oleh beberapa orang. Lillia tetap membantu Nikita untuk mencoba gaun dengan ekspresi datar. Gaun ini dirancang berdasarkan ukuran tubuh Lillia, sebagus apa pun tubuh Nikita, tetap saja akan kesulitan untuk mengenakannya. Terutama di bagian pinggang, gaun itu tetap tidak bisa ditutup meskipun Nikita sudah berusaha menahan napas. Setelah mencoba beberapa kali, kedua orang itu mulai berkeringat. Lillia tidak punya pilihan lain. Dia keluar untuk mengambil sebuah gunting, lalu membuka beberapa jahitan di bagian pinggang agar Nikita bisa mengenakannya. Sambil merapikan bagian bawah gaunnya, Lillia berusaha mencairkan suasana yang canggung. "Nanti kita perbaiki lagi ukuran pinggangnya saja." Nikita menatap dirinya di cermin. Gaun itu terlihat lebih indah dan mewah lagi setelah dikenakan daripada saat dipajang. Dirinya jadi terlihat begitu anggun saat memakai gaun ini. Dia melirik Lillia yang sedang sibuk di hadapannya, lalu berkata, "Kamu sudah kenal lama dengan suamiku?" Gerakan Lillia langsung berhenti. Kemudian, dia berdiri dan menaikkan alis sembari menjawab, "Dia sudah bilang dia salah mengenali orang, 'kan." Nikita melihat sekilas Lillia dari cermin, ekspresinya menjadi lebih lega. "Benar juga, dia selalu sibuk setiap hari. Mana mungkin bisa kenal dengan pelayan toko kecil seperti kalian." Lillia hanya tersenyum tipis menanggapinya. Nikita kembali bertanya, "Pekerjaan di sini cukup melelahkan, ya? Sistem kerja kalian mengambil insentif?" Sambil merapikan bagian pinggang gaun, Lillia menjawab seadanya, "Lumayan kok. Aku nggak ambil insentif." "Oh? Kalau begitu kamu kepala toko?" tanya Nikita dengan wajah berbinar. Lillia berpikir sejenak, lalu menjawab, "Bisa dibilang begitu." Biasanya Moonela mengurus bagian relasi publik, sementara Lillia bertanggung jawab pada operasional toko. Menyebutnya sebagai kepala toko juga tidak ada salahnya. Nikita mengeluarkan sebuah kartu nama dari tasnya. "Suamiku lumayan suka dengan desain Lorraine dan berencana untuk memesan pakaian darinya untuk jangka waktu panjang. Tapi aku hanya ingin desain ekslusif dari Lorraine. Kalau nggak keberatan, apa kamu bisa bantu aku untuk menyampaikannya? Suamiku adalah Presdir Grup Hutomo. Uang bukan masalah baginya, aku juga bisa merekomendasikan orang untukmu." Lillia merasa semua ini sangat ironis. Claude menyukai desainnya? Jadi, apakah dia tahu bahwa desainer yang dicarikannya untuk Nikita ini adalah istri yang dirahasiakannya selama 3 tahun ini? Lillia tidak mengambil kartu nama Nikita, dia hanya berkata dengan dingin, "Kalau suamimu sehebat itu, seharusnya dia bisa menghubungi Lorraine sendiri. Bukannya lebih baik kamu minta bantuannya daripada aku?" Nikita tidak menyangka dirinya akan ditolak. Dia langsung marah dan menyimpan kembali kartu namanya. "Benar juga, aku lupa karyawan rendahan seperti kalian seharusnya nggak akan bisa bertemu dengan desainer besar seperti Lorraine." Usai bicara, dia langsung mendorong Lillia dan keluar dari ruang ganti. Kebetulan Claude sedang berdiri di luar. Adegan ini jadi terlihat seakan-akan Nikita ditindas oleh Lillia. Nikita menggerutu dengan sedih, "Claude, bisa nggak carikan orang lain yang membantuku? Pelayanan orang ini buruk sekali." Bab 5 Claude memandang Lillia sambil merengut. Dia benar-benar tidak paham dengan apa yang ingin dilakukan Lillia. Bagaimana pekerjaannya yang rendahan dan selalu diperintah-perintah orang ini bisa dibandingkan dengan kehidupannya di Keluarga Hutomo? Claude tak kuasa menyindirnya, "Kalau nggak bisa merendahkan gengsi, jangan kerja di bidang pelayanan." Lillia merasa tersinggung mendengar hal ini. Kedua orang ini benar-benar pandai memutarbalikkan fakta. Sudut bibir Lillia berkedut sejenak, lalu berkata dengan tidak segan, "Boleh saja, kalau begitu aku akan menyuruh orang lain untuk melayanimu. Semoga saja kamu bisa berhasil mendapatkan kontak Lorraine agar bisa memberikan bisnis untuk kami." Begitu melontarkan perkataan itu, Lillia langsung menyuruh asistennya untuk masuk dan berpesan secara khusus, "Jangan sampai mengungkit identitasku." Setelah itu, Lillia kembali menambahkan dengan nada kejam, "Kalau dia tanya, bilang saja suami Lorraine baru meninggal, jadi dia nggak berniat untuk desain." Mau mencari Lorraine? Teruskan saja mimpinya! Asisten itu menanggapi sekilas, lalu berjalan masuk ke ruang ganti. Kebetulan dia mendengar Nikita sedang mengeluh pada Claude, "Lihat saja sikapnya itu. Aku hanya sangat menyukai gaun ini, jadi memintanya untuk memberikan nomor kontak Lorraine. Tapi dia malah begini! Sikap pelayan zaman sekarang memang buruk sekali." Claude merasa pusing mendengarkan keluhan Nikita. Dia hanya membalas, "Untuk apa kamu perhitungan dengan pelayan toko kecil sepertinya? Aku akan menyuruh orang untuk mencarikan Lorraine untuk bertemu denganmu." Asisten itu mengerucutkan bibirnya tanpa sadar. Dalam hatinya membatin, 'Jelas-jelas Lorraine ada di hadapanmu, kamu malah menyinggung orangnya. Malah masih mau mencari Lorraine pula ....' Setelah itu, asisten tersebut menyampaikan perkataan Lillia dengan ekspresi datar, "Maaf, suami Lorraine meninggal, dia tidak ingin bertemu klien sekarang." Kelopak mata Claude berkedut, dia berkata, "Kalau begitu tunggu saja dulu." Kasihan juga wanita itu baru menjanda. .... Setelah menghadapi Claude, Lillia jadi tidak mengantuk lagi. Dia menelepon Moonela, "Hari ini aku dapat 18,7 miliar. Cepat adakan jamuan perayaan untukku." Begitu mendengar perkataan itu, Moonela langsung tahu bahwa gaun pengantin itu telah terjual. Lagi pula Lillia sudah bercerai, menjual gaun pengantin itu juga bukan sebuah ide yang buruk. Hanya saja dia merasa penasaran, "Orang bodoh mana .... Eh, maksudnya, raja mana yang begitu murah hati?" "Claude," kata Lillia seraya tersenyum getir, "Dia membelikannya untuk Nikita." Moonela hampir saja berteriak, "Kalau begitu kamu masih menjualnya?" Mata Lillia memerah, tetapi dia berusaha menahan air matanya. "Nggak rugi juga. Cukup untuk menutup pengeluaran kita selama setahun!" Hanya saja, kerja keras Lillia selama tiga tahun ini jadi sia-sia. Gaun itu malah jadi milik orang lain. Dijual dengan harga 18,7 miliar karena tanggal pengambilan akta nikah mereka adalah 18 Juli. Mungkin Claude sendiri juga sudah tidak ingat lagi. Malam itu, Lillia minum banyak sekali anggur. Moonela juga menemaninya minum hingga mabuk. Lillia memanggil taksi untuk mengantarkannya pulang. Setelah itu, dia memanggil taksi untuk kembali ke toko. Di tengah jalan, dia tiba-tiba teringat bahwa Claude belum melihat surat cerai yang diletakkannya. Lillia harus mengirimkan surat itu besok, jadi dia menyuruh sopir mengubah arah dan membawanya ke "rumah" yang ditinggalinya selama 3 tahun itu. Taksi itu berhenti di depan pintu rumahnya. Lillia membayar ongkos taksi, lalu masuk ke rumah dengan langkah sempoyongan. Begitu masuk ke rumah, dia ditekan ke pintu dengan kasar, lalu pria itu memaksa untuk menciumnya. Lillia masih setengah sadar, aroma tubuh yang familier dan suhu tubuh pria itu merangsang indra penciuman Lillia, membuatnya hampir saja menangis. Jika Claude bisa begitu berinisiatif beberapa hari yang lalu, Lillia mungkin akan kegirangan sekali. Namun saat mengingat Claude datang untuk mencoba gaun pengantin di toko bersama Nikita hari ini, hati Lillia langsung membeku. Dia mendorong Claude, lalu menyeka bibirnya dengan jijik. "Nikita nggak bisa memuaskanmu sampai kamu nggak pilih-pilih pasangan ya?" Jelas sekali Claude juga baru saja pulang, dia masih belum mengganti pakaiannya. Dia menatap wanita di hadapannya dan berkata, "Lalu bagaimana denganmu? Katanya mau bercerai, kenapa datang ke sini di tengah malam? Kamu nggak sanggup bekerja karena terlalu menderita?" Lillia bisa merasakan kecuekan dalam suara Claude. Dia mengepalkan tangan dengan erat, lalu berkata dengan kesal, "Uangnya nggak sebanyak saat kerja denganmu, tapi nggak lebih menderita daripada dulu." Setelah itu, Lillia berjalan melewati sisinya dan membuka lampu di ruang tamu. Dia mengambil surat cerai dan kartu bank di meja, lalu menyodorkannya pada Claude. "Aku sengaja pulang untuk mengambil ini. Kebetulan kamu ada di sini sekarang, aku nggak perlu capek-capek antarkan lagi besok." Bab 6 Claude melihat surat cerai dan beberapa kartu di tangannya, hatinya menjadi gusar. Awalnya dia mengira Lillia hanya marah sesaat, tak disangka wanita itu ternyata berani melakukan hal seperti ini! "Kamu serius?" tanya Claude sambil menahan amarahnya. Lillia mengangkat alisnya dengan tak acuh, "Tentu saja serius. Setelah tanda tangan, kita cari waktu untuk mengurus berkasnya." Claude memandang istri yang berada di hadapannya ini dengan lekat-lekat. Dalam tiga tahun pernikahan ini, Lillia adalah Nyonya Hutomo yang sangat baik. Dia selalu bersikap patuh dan memperlakukan keluarga Claude dengan baik. Terlebih lagi, dia sangat baik terhadap Claude. Namun, kini wanita itu seolah-olah jadi orang yang berbeda. Melihat ekspresi Lillia yang mulai tidak sabaran dan nada bicaranya yang ketus, kelihatannya Lillia memang sudah tidak sabar ingin meninggalkannya. Claude merasa sakit hati. Dia menarik kembali pandangannya, lalu berjalan ke ruang tamu. Setelah itu, dia berkata, "Nggak usah cari waktu lagi, jam 9 besok pagi kita ketemu di depan kantor catatan sipil." Lillia tadinya mengira dirinya sudah melakukan persiapan mental. Namun saat benar-benar menghadapi hal ini, Lillia baru menyadari betapa perih hatinya. Setelah itu, entah bagaimana Lillia akhirnya kembali ke studio. Dia berbaring di atas ranjang, lalu merasakan lambungnya yang mulai kesakitan. Lillia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua makanan dan minuman, tetapi lambungnya tetap tidak merasa baikan. Sebaliknya, maagnya malah semakin parah. Lillia memang punya sakit maag selama ini. Setiap kali kambuh, rasa sakitnya sangat dahsyat. Mungkin karena sudah lama tidak kambuh, dia sudah lupa dengan rasa sakit tersebut. Bahkan saat keluar dari rumah pun dia tidak mengambil obatnya. Berjalan dari kamar mandi hingga ke ranjang, punggung Lillia bercucuran keringat dingin. Dia menahan rasa sakit sambil menelepon Moonela. Di sisi lain, Moonela sudah tertidur pulas. Dia sama sekali tidak mendengar ponselnya berdering. Karena khawatir akan terus kesakitan seperti ini, Lillia akhirnya menelepon Claude setelah ragu-ragu sejenak. Pada panggilan pertama, tidak ada yang mengangkat teleponnya. Saat panggilan kedua, baru terdengar suara yang sangat lembut menjawab telepon itu. Dari suaranya, jelas sekali ini adalah Nikita. "Halo, dengan siapa?" Saat di rumah tadi Claude masih seorang diri. Baru berselang tidak lama saja pria itu sudah bersama Nikita. Lillia merasa dirinya benar-benar bodoh karena ingin meminta bantuan Claude. Melihat tidak ada jawaban, Nikita bertanya, "Ini Lillia, ya? Kamu mau cari Claude?" Lillia tidak ingin mendengar omong kosong seperti Claude sedang mandi. Dia langsung mematikan teleponnya dan meringkuk di karpet. Setelah mendengus, Lillia memutuskan untuk memblokir semua nomor kontak Claude. Setelah meletakkan ponselnya, Lillia langsung tak sadarkan diri karena kesakitan. .... "Lillia?" Keesokan harinya, Lillia dibangunkan oleh Moonela. Moonela masih mengenakan piama. Jelas sekali dia buru-buru datang sebelum sempat mengganti pakaiannya. Dia merasa sangat bersalah. "Sakit maagmu kambuh lagi? Semua ini salahku, aku tidur terlalu nyenyak sampai nggak kedengaran bunyi ponsel." Lillia tiba-tiba terduduk dan bertanya, "Jam berapa sekarang?" "Jam 9," jawab Moonela. Lillia terperanjat. "Gawat, aku janji ketemu dengan Claude di kantor catatan sipil untuk mengurus prosedur perceraian." Claude paling benci dengan orang yang telat. Lillia mengambil ponselnya yang terjatuh, lalu menelepon Claude. Setelah nada sambungnya berbunyi sekali, tiba-tiba panggilannya langsung terputus. Dia baru ingat telah memblokir Claude semalam. Lillia buru-buru menghapus blokir Claude, lalu meneleponnya. Setelah panggilannya tersambung, Lillia bertanya dengan nada sopan, "Apa kamu masih di kantor catatan sipil? Aku ke sana sekarang juga." Terdengar suara Claude yang dingin menjawab, "Maksudmu, kamu menyuruhku menunggumu di sini setengah jam?" Lillia sadar bahwa ini adalah kesalahannya, sehingga dia tidak memberi penjelasan lagi. Sambil mengganti pakaian, dia meminta maaf pada Claude, "Maaf, aku usahakan secepat mungkin. Dua puluh menit, bisa?" Claude menjawab dengan marah, "Kamu kira waktuku sama nggak berharganya dengan waktumu?" Bab 7 Ucapannya ini terdengar sedang memarahi Lillia. Jantung Lillia berdegup kencang mendengarnya. Pria itu punya waktu untuk menghadiri acara jumpa temu Nikita dan mencoba gaun pengantin, tapi malah tidak sabar menunggu 20 menit untuk mengurus prosedur perceraian dengannya? Padahal dia sudah berbaik hati merelakan posisinya kepada Nikita. Lillia menarik napas dalam-dalam, tiba-tiba dia mendengar suara ketukan pintu. Lillia langsung mengalihkan topiknya, "Claude, jangan-jangan kamu nggak pergi ke kantor catatan sipil sama sekali?" Claude mendengus. "Kamu pikir semua orang suka mengingkari janji sepertimu?" Namun, Lillia sangat yakin bahwa Claude tidak pergi ke sana. "Kalau begitu kamu fotokan pintu kantor catatan sipil untukku ...." Sebelum dia selesai bicara, Claude telah mematikan telepon itu. Lillia langsung melempar ponselnya dan memaki, "Cuih, pria berengsek!" Moonela membereskan baju yang baru digantinya, lalu ikut memaki, "Perbuatan berengsek apa lagi yang dia lakukan?" Lillia menjawab dengan kesal, "Siapa tahu! Aku telat, dia juga nggak ke kantor catatan sipil. Selain itu, dia malah marah-marah." Lillia merasa Claude hanya mau menang sendiri. Begitu ucapan itu dilontarkan, masuk sebuah pesan di ponsel Moonela. Moonela mengambil ponselnya, lalu memutar bola matanya dan menunjukkannya pada Lillia. "Claude membayar harga mahal untuk jadwal temu denganmu." Tidak, lebih tepatnya dia ingin bertemu dengan Lorraine. Dasar pria bajingan, dia tidak punya waktu 20 menit, tapi punya banyak waktu untuk menjadwalkan pertemuan dengan Lorraine. Hampir saja Lillia meremas ponsel itu hingga hancur. Dengan tatapan dingin, dia membalas, "Aku lagi menjanda! Nggak punya waktu!" Pikiran Lillia sekarang hanya dipenuhi dengan perceraiannya. Dia ingin bercerai sesegera mungkin! Moonela mengetikkan semua perkataan Lillia dan mengirimkannya pada asistennya. Setelah meletakkan ponselnya, Moonela mulai menganalisis, "Sepertinya Claude ingin bertemu denganmu untuk membuat gaun Nikita. Bulan depan ada Met Gala Queen, katanya dia termasuk dalam daftar undangan. Met Gala itu diadakan secara tertutup, tampaknya Claude menghabiskan banyak uang untuk membuat Nikita diundang." Lillia malah tidak terlalu sakit hati lagi mendengar perkataan Moonela. Mungkin karena dia sudah mati rasa terhadap Claude, sehingga tidak merasa aneh lagi. Bukan hanya berusaha memasukkan Nikita dalam acara itu, Claude bahkan memberikan gaun rancangan Lorraine untuk Nikita. Bukankah itu sudah cukup menghabiskan banyak uang? Melihat Lillia tidak bereaksi, Moonela merasa kesal hingga memukul meja, "Kamu ini .... Kamu benar-benar membiarkan pelakor itu merajalela?" Ekspresi Lillia masih seperti sebelumnya saat berkata, "Kalau kamu punya ide untuk buat Claude bangkrut, aku nggak keberatan untuk ikut dengan rencanamu." Perselingkuhan bukan salah sepihak. Pada akhirnya, memang Claude sendiri yang tidak menjaga batasan dan janji pernikahannya. Apalagi, Lillia merasa rendahan jika harus bersaing dengan pelakor yang bahkan tidak kenal dengan dirinya. Melihat Moonela masih ingin berbicara, Lillia mengusap wajahnya dan mengalihkan topik pembicaraan, "Bukannya waktu itu kamu bilang ada klien besar?" Moonela menjawab dengan antusias, "Ya, Bos perusahaan hiburan Queen datang hari ini, dia ingin membahas detail denganmu. Tapi aku masih belum menyetujuinya." Perusahaan hiburan Queen menaungi banyak sekali aktor dan aktris terkenal. Sepanjang tahun, mereka menghadiri banyak sekali acara mode, acara penghargaan, dan berbagai pesta. Oleh karena itu, kebutuhan akan pakaian untuk berbagai acara itu juga lebih banyak dari orang biasanya. Jika berhasil mendapatkan pesanan dari mereka, reputasi studio mereka juga akan semakin membubung tinggi. Lillia sangat bersemangat saat berkata, "Tunggu apa lagi? Bodoh sekali kalau kita nggak kejar bisnis ini. Kita pergi sekarang juga." Melihat pinggang Lillia yang begitu ramping, Moonela mendadak punya ide. Pukul 2 siang hari, Lillia dan Moonela mengemudikan mobil mereka ke bawah gedung perusahaan Queen. Saat baru saja hendak memarkirkan mobil, di belakang mereka muncul sebuah mobil sport berwarna biru yang melaju ke arah tempat parkir yang diincar oleh Moonela. Moonela panik hingga menginjak pedal gas. Bum! Terdengar suara tabrakan yang keras. Bab 8 "Berapa harga mobil ini?" Moonela melihat mobil sport yang tersangkut di belakang dari kaca spionnya, lalu bertanya dengan getir, "Apa kita sanggup membayar ganti ruginya?" Lillia membelalakkan matanya. "Kukira kamu sengaja menabraknya karena nggak suka melihat orang merebut tempat parkir." "Aku panik, tapi nggak bodoh!" Mengingat harus mengganti rugi, ekspresi Moonela tampak sangat buruk. Lillia menarik rem tangan di mobil itu, lalu membuka pintu mobil. "Coba aku lihat." Pemilik mobil sport itu juga turun dari mobil. Itu adalah seorang pria tampan setinggi 190 cm, dia mengenakan kacamata hitam dan hanya menampakkan setengah wajahnya. Hidungnya sangat mancung dan bibirnya berwarna merah segar. Dia menghentikan gerakan mengunyah permen karet saat melihat Lillia dan tersenyum. "Cantik, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa kelihatannya kamu familier sekali?" Lillia juga merasa orang ini sangat familier. Saat berjalan mendekatinya, dia baru menyadari bahwa orang ini adalah sahabat Claude, Cedron Rusli. Cedron dan Claude tumbuh besar bersama. Namun, Lillia hanya pernah bertemu dengan pria ini sekali pada dua tahun lalu. Saat itu Claude mabuk, Lillia pergi menjemputnya, lalu bertemu dengan Cedron. Lillia melihat mobil sport dan wajah Cedron secara bergantian, lalu tersenyum tipis. "Cedron?" Cedron tertegun sejenak, dia membuka kacamata hitamnya, lalu memicingkan matanya untuk menatap Lillia. "Cantik, kita pernah bertemu?" "Aku Lillia." Setelah termenung sejenak, Cedron baru mengingat nama Lillia. Dia berdiri tegak dan berkata, "Kak Lillia ...." Lillia juga tidak banyak menjelaskan. Dia melihat sekilas mobil sport itu dan berkata, "Ini ...." Cedron menepuk tangannya sendiri dan berkata, "Semua ini salahku! Aku buru-buru mau bertemu seseorang, jadi berebutan tempat parkir. Bukan masalah besar, nanti akan kuserahkan ke perusahaan asuransi saja." Lillia tersenyum sejenak, lalu berkata, "Boleh saja, biaya perbaikannya nanti aku laporkan ke Claude." Cedron langsung membalas, "Nggak perlu! Ini hanya masalah kecil, kamu teruskan saja apa yang ingin kamu lakukan!" Lillia langsung berbalik dan pergi. Dia menatap Moonela yang berkeringat dingin dan berkata, "Kenapa masih bengong saja? Ayo pergi! Kita ke parkiran gedung seberang saja." "Oh ... oke." Moonela tadi juga mendengar percakapan kedua orang itu di mobil, dia bertanya dengan ragu-ragu, "Kamu nggak takut dia bilang ke Claude nanti?" "Nanti saja baru dipikirkan lagi, asalkan kita bisa aman dulu untuk saat ini." Lillia melanjutkan dengan cuek, "Kalau menghabiskan waktu dengannya, kita bukan hanya akan menghabiskan uang, tapi juga akan kehilangan klien." Apalagi dinilai dari hubungan Cedron dan Claude, Cedron pasti tidak akan mempermasalahkan biaya kecil seperti itu. Setelah terdiam sejenak, Lillia kembali berpesan, "Setelah ke Queen nanti, kamu adalah Lorraine, aku adalah asistenmu." Moonela tidak mengerti. "Kenapa begitu? Bukankah kalau begitu jadinya aku yang berjasa?" Lillia memelototi Moonela. "Kamu bodoh ya? Bagaimana kalau Cedron ke Queen, lalu tahu bahwa aku ini Lorraine dan memberitahukannya pada Claude?" Lillia tadi mengatakan bahwa dia baru menjanda! Kalau Claude sampai tahu Lillia adalah Lorraine, bukankah pria itu akan menghabisinya? Moonela terdiam mendengarnya. Kedua orang itu memarkirkan mobil di gedung seberang dan berkeliling sejenak. Saat tiba waktunya pukul 3 siang, mereka baru berangkat ke perusahaan hiburan Queen karena merasa tidak akan sesial itu bertemu lagi dengan Cedron. Saat staf resepsionis mendengar bahwa mereka adalah utusan dari Studio LMOON, wanita itu melihatnya sekilas dan bertanya dengan suara pelan, "Apakah kamu Lorraine?" Lantaran merasa canggung, Moonela membeli sebuah kacamata hitam untuk menyembunyikan ekspresinya. Dia menjawab dengan suara rendah, "Ya, ini adalah asistenku." Staf resepsionis itu langsung membawa mereka ke arah lift dengan wajah terkagum-kagum. "Presdir kami sudah lama menunggumu!" Bab 9 Moonela hanya tersenyum, lalu berjalan masuk ke lift. Setibanya di depan pintu kantor presdir, mereka mendengar suara yang acuh tak acuh dari dalam ruangan, "Lorraine sudah datang?" Lillia dan Moonela terkejut hingga mematung di depan pintu. Mereka saling bertukar pandang dengan Cedron yang berada di dalam ruangan. Moonela yang terlebih dulu bereaksi, "Halo Pak Cedron, aku Lorraine, sekaligus bos Studio LMOON, Moonela." Cedron menjabat tangan Moonela, tetapi tatapannya tetap jatuh pada Lillia. "Ini adalah ...." Moonela menjelaskan, "Ini adalah asistenku." Cedron hampir saja tertawa terbahak-bahak, dia menoleh ke arah samping sambil mengejek, "Kak Claude, kamu sudah mau bangkrut ya?" Mengikuti arah pandangannya, Lilla melihat sebuah sosok yang familier sedang duduk di sofa sambil membelakangi mereka. Meski hanya dilihat dari belakang, Lillia tetap bisa mengenali bahwa orang itu adalah Claude. Lillia tak kuasa mengerucutkan bibirnya. Memang benar kata orang, musuh bebuyutan selalu saja bertemu. Lantaran tidak sempat bertemu di kantor catatan sipil tadi, mereka akhirnya bertemu di sini sekarang. Claude juga sedang memandangnya dengan tatapan curiga. Cedron mengalihkan pandangannya ke arah kedua orang itu secara bergantian, lalu berkata sambil tertawa, "Bu Moonela, kami sudah lama menunggumu. Silakan masuk." Lillia mengalihkan pandangannya dan mengikuti di belakang Moonela untuk berusaha memainkan perannya dengan baik. Pada dasarnya, kerja sama antara Queen dan LMOON sudah ditetapkan. Langkah terakhir adalah persetujuan dari bos kedua belah pihak ini. Meski Moonela bukan Lorraine yang sesungguhnya, dia cukup mengerti konsep desain karena tinggal dengan Lillia selama setahun lebih saat itu. Jadi, dia sama sekali tidak takut dengan pertanyaan apa pun yang akan diajukan. Hanya dalam beberapa saat, mereka telah memasuki tahap penandatanganan kontrak. Cedron meletakkan kontraknya ke samping, lalu berkata, "Nona Moonela, kita nggak perlu buru-buru untuk masalah kontrak. Aku punya sebuah permintaan untukmu. Bisakah Anda mendesain sebuah gaun untuk temanku? Ini tidak termasuk dalam kontrak, jadi kamu bisa menetapkan harga sesuka hatimu. Asalkan bisa menyelesaikan gaun ini sebelum acara Met Gala perusahaan kami bulan depan saja sudah cukup." Di ruangan seluas itu hanya ada Cedron dan Claude. Orang bodoh sekalipun tahu siapa yang dimaksud dengan "teman" itu. Moonela tersenyum dari luar, tetapi hatinya terus mengutuk. Pada akhirnya, dia berkata dengan sopan, "Pak Cedron, belakangan ini suamiku baru meninggal. Khawatirnya, hasil desainku nggak akan bisa memuaskan temanmu itu. Jangan merusak acara baikmu karena berita dukaku, sehingga memengaruhi pertemanan kita." Usai bicara, Moonela langsung berdiri tanpa ragu-ragu sambil mengambil kontrak itu. "Karena Pak Cedron masih mau mempertimbangkannya, kalau begitu aku ambil dulu kontrak ini. Aku masih ada urusan lainnya, pamit dulu ya." "Eh!" Cedron mengulurkan tangannya ingin menahan Moonela. Padahal dia hanya mengungkit masalah ini, tidak mengatakan bahwa dia tidak mau menandatangani kontrak. Namun, jelas sekali kedua orang itu tidak berniat untuk tinggal lebih lama lagi. Mereka langsung keluar begitu saja. Cedron baru berhasil membuat janji temu dengan Lorraine setelah bersusah payah, tapi kini dia malah pergi begitu saja. Cedron menatap Claude dengan heran. "Lho? Kak Lillia adalah asisten Lorraine, kenapa kamu nggak cari dia untuk membantumu?" Kenapa Claude harus menggunakan koneksi sejauh itu? "Kalian bertengkar?" Cedrom bergumam, "Nggak kelihatan seperti itu. Saat datang tadi, dia menabrak mobilku. Tatapannya masih kelihatan berbinar saat mengungkit namamu." Claude membatin, 'Mana mungkin tatapan Lillia berbinar karenaku? Yang benar itu tatapan Lillia berbinar karena uangku.' Claude hanya meliriknya sekilas, lalu berkata, "Memang benar ayahmu nggak membiarkanmu mewarisi Keluarga Rusli." Kalau tidak, perusahaan mungkin sudah hancur dibuatnya. Setelah berkata demikian, Claude mengambil jasnya dan langsung pergi. .... Setelah keluar, Lillia bersin dengan kuat. Dia mengucek matanya dan bertanya-tanya apakah dirinya ini bersin karena kedua orang itu sedang memakinya di dalam. Moonela segera melepas kacamata hitamnya dan menggerutu, "Apa-apaan si Claude itu. Kamu saja belum bercerai dengannya, dia malah nggak peduli sama sekali dengan pandangan orang. Memang benar keputusanmu untuk bercerai. Sebaiknya cepat jaga jarak dari pria berengsek sepertinya." Watak Moonela memang meledak-ledak, tentunya dia juga tidak segan-segan saat memaki orang. "Hebat sekali dia bisa mencari istrinya untuk membuatkan gaun demi pelakor! Memangnya wanita itu pantas memakai gaun rancanganmu?" Kehilangan klien besar seperti Queen ini membuat Moonela murka. Dia melemparkan semua kesalahan pada Claude. Lillia hanya tersenyum getir. Setiaap ucapan Moonela ini memang fakta yang menyakitkan, tetapi Lillia kini juga tidak merasakan apa pun lagi. Dia hanya ingin bercerai dengan Claude secepatnya. "Sebaiknya kita cepat pergi. Kalau cedron mengejar kita dan minta ganti rugi mobil, kita akan rugi dua kali." Lillia menambahkan lagi, "Lagi pula, untuk apa kamu perhitungan dengan anjing sepertinya." Saat Claude menyusul mereka, dia hanya mendengar ucapan Lillia yang terakhir. Seketika, ekspresinya langsung menjadi muram. Wanita ini sudah menggunakannya sebagai tameng, tapi malah mengatainya anjing. Besar sekali nyalinya. Lillia dan Moonela tidak menyadari hal ini sama sekali. Mereka naik ke mobil sambil mengobrol. Moonela menyalakan mesin mobil, lalu buru-buru kabur. Saat di perjalanan, Moonela masih tidak merasa puas. "Oh ya, aku sudah mendapatkan undangan untuk Met Gala Queen. Nanti kita pergi sama-sama. Aku akan menghabisi pelakor yang berani menindasmu itu!" Bab 10 Lillia terus tertidur, dia tidak mendengar apa pun. Saat terbangun, dia baru menyadari bahwa Moonela tidak memarkirkan mobilnya di depan pintu studio, melainkan di kompleks apartemen yang baru dibangun. Dia menatap Moonela yang sedang memainkan ponselnya di kursi sopir, lalu bertanya, "Ada klien?" Melihatnya sudah bangun, Moonela melambaikan kunci di tangannya, lalu berkata, "Tentu, aku mau membawamu melihat dunia luar!" Setelah turun dari mobil, Lillia baru menyadari bahwa Moonela bukan membawanya menemui klien. Ini adalah apartemen yang dibelikan Moonela untuknya secara diam-diam. Tempat ini terdiri dari tiga ruangan, tetapi cukup untuk ditinggali Lillia sendirian. Moonela berkata dengan perhatian, "Kamu nggak bisa terus tinggal di studio. Tidurmu nggak nyenyak dan kurang aman di sana. Tempat ini dekat dengan studio. Kamu masih belum bercerai, aku takut pria berengsek itu akan merebutnya. Jadi, tempat ini masih di bawah namaku. Setelah kamu bebas nanti, aku akan menggantinya menjadi namamu." Lillia memegang kunci itu, tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Moonela melambaikan tangannya. "Duh, uang ini semua hasil jerih payahmu. Kamu selalu mendapat bagian yang kurang setiap tahunnya. Kali ini anggap saja aku mengganti kerugianmu! Aku masih berharap sketsamu bisa membawa kesuksesan untukku!" Mendengarnya, Lillia tidak lagi merasa sungkan. Dia menerima kunci itu dari Moonela. Keesokan paginya, Lillia terbangun karena telepon. Begitu membuka ponselnya, ternyata ada 33 panggilan tak terjawab. Moonela meneleponnya 32 kali, sementara 1 lagi adalah panggilan dari Claude. Lillia langsung menelepon Moonela, "Ada apa?" "Nggak apa-apa, aku hanya mau mengingatkanmu untuk nggak usah sibuk bekerja sementara ini. Awalnya aku khawatir kamu nggak sempat menggambar desainnya. Tapi sekarang ternyata ada klien yang mengeluh gaun yang mereka pesan nggak sesuai dengan permintaan mereka. Mereka nggak mau uang mukanya lagi dan bersikeras mau meretur semua pesanan. Pakaian jadinya masih digantung di toko. Kerja kerasmu belakangan ini sia-sia." Lillia mengerutkan alisnya. "Nggak sesuai dengan permintaan mereka?" Setelah beroperasi selama ini, studio mereka belum pernah menemui masalah seperti ini. Studio mereka masih kecil dan reputasinya masih belum terlalu terkenal. Tidak mungkin ada merek ternama lainnya yang akan menargetkan mereka. Lillia meremas ponsel di tangannya dengan erat. "Aku akan ke sana sekarang juga. Tunggu sebentar." Setelah itu, Lillia mengakhiri panggilan itu dan bergegas memanggil taksi untuk pergi ke studio. Di tengah perjalanan, dia masih membalas pesan dari Moonela. Tiba-tiba, muncul notifikasi tweet baru di Twitter. Ternyata itu adalah tweet dari Nikita. Lillia telah lupa sejak kapan dia mengikuti akun media sosial Nikita dan entah apa tujuannya saat itu. Namun, dia mengeklik notifikasi itu. [ Hal yang paling membahagiakan dalam hidup ini adalah ada orang yang mengorbankan segalanya untuk melakukan suatu hal untukmu. ] Di bawahnya adalah swafoto Nikita, dengan latar gedung perusahaan Queen. Di bagian kanan bawah foto itu terlihat pundak seorang pria. Jas yang dikenakan pria itu terbuat dari bahan berkualitas tinggi, dengan desain yang sangat teliti. Hari ini, Lillia melihat Claude mengenakan jas ini di kantor Cedron. Lantaran tidak bisa mendapat desain dari Lorraine, pria ini malah menghancurkan bisnis orang. Dia bahkan tidak mempertimbangkan nasib istri sahnya. Memang pria berengsek! Lillia menekan tombol unfollow, lalu mematikan ponselnya dengan gusar. .... Saat ini, pekerjaan di studio sangat sibuk. Telepon terus berdering bersahut-sahutan. Saat mendengarnya, sebagian besar telepon itu adalah untuk meretur pembelian mereka. "Apa kalian sudah menghubungi klien? Apa katanya?" Moonela awalnya tidak ingin membuat Lillia khawatir. Namun, dia benar-benar tidak bisa mengendalikan emosi lagi saat melihat jumlah retur yang semakin bertambah. "Mereka hanya cari-cari alasan mengatakan desainnya nggak cocok. Aku susah payah mencari tahu dari langganan kita, katanya mereka menerima sejumlah uang dari orang. Lalu bertanya apakah kita menyinggung seseorang." Siapa lagi yang bisa mereka singgung? Hanya Claude satu-satunya! Lillia bertanya dengan terus terang, "Berapa kerugiannya?" "Semua pesanan itu adalah gaun yang dirancang khusus sesuai permintaan klien. Awalnya aku berencana akan membayar ke pihak pabrik setelah klien melunasi sisa pembayaran. Sekarang mereka nggak mau barangnya lagi. Kalau nggak dapat sisa pembayaran dari klien, kita nggak bisa melunasi utang ke pihak pabrik." "Setelah ditotal, jumlahnya hampir 40 miliar ...." Empat puluh miliar .... Mereka benar-benar bisa bangkrut kalau begitu. Lillia benar-benar kesal sekarang. Saat baru saja ingin mengatakan sesuatu, ponselnya tiba-tiba berdering. Ternyata itu adalah panggilan dari Claude.