Jerat CEO: Jodoh Salah Tarik

Đang tải thông tin quảng bá...

Jerat CEO: Jodoh Salah Tarik

GoodNovel Hoàn thành
Diam-diam perhatianBeraniMandiriBos / CEONikah KontrakHappy EndingKomedi

Usai melakukan balas dendam atas perselingkuhan mantan kekasih dan sahabat baiknya sendiri, Diva Gantari malah terlibat dengan Elvan Sabil, pria yang dia ‘temui’ secara tak sengaja akibat salah ma...

Chương (1)

第1章

Bab 1. Mengacaukan Pernikahan Mantan “Dasar wanita murahan.” Makian itu membuat Diva yang sedang berada di tengah kerumunan pesta pernikahan terkejut. Dia menoleh ke sumber suara, lalu melihat sejumlah pasang mata menatapnya dengan pandangan merendahkan. “Hari ini adalah hari pernikahan Nico dan Nadya, bisa-bisanya dia dengan tidak tahu malu datang ke sini? Apa dia masih mau berusaha merebut kekasih sahabatnya sendiri?” sahut seorang tamu lainnya. “Namanya juga wanita kelas bawah, mana tahu malu, sih?” Walau mendengar jelas berbagai komentar mengenai dirinya, Diva hanya terdiam. Dia mengabaikan cacian tersebut dan mengalihkan pandangan ke arah pelaminan. Sepasang pengantin tampak tersenyum bahagia selagi menyalami satu persatu tamu yang menghampiri mereka. Di saat ini, Diva mendengus. Wanita murahan? Berusaha merebut kekasih sahabatnya? Omong kosong! Orang-orang yang tadi mencacinya sama sekali tidak tahu apa-apa. Kenyataannya, pasangan pengantin bernama Nadya dan Nico yang ada di pelaminan itu adalah sahabat baik dan juga kekasih Diva sendiri! Dirinyalah yang diselingkuhi! Selagi Diva menahan rasa sakit dan pedih di hatinya, mendadak sebuah panggilan terdengar. “Diva?!” Diva menoleh, menatap seorang wanita paruh baya dengan pakaian anggun yang warnanya senada dengan tema acara pernikahan ini. “Tante Farha …,” sapa Diva datar. Tante Farha, dia adalah ibunda Nico. Wanita yang selama ini selalu berusaha memisahkan Diva dari putranya. Tak hanya itu, Farha bahkan sampai menghina Diva sebagai wanita rendahan kelas bawah menjijikkan yang tidak pantas untuk putranya. “Untuk apa kamu datang ke sini!?” tanya Farha dengan wajah mengerikan, tampak marah dan siap menelan Diva bulat-bulat. “Pesta ini tidak menerimamu!” Mendengar kalimat itu, Diva berujung menyunggingkan sebuah senyuman. Hal tersebut membuat Farha semakin melotot. “Kenapa kamu tertawa? Apa yang lucu?!” tegur Farha. “Tante … Tante sungguh lucu,” ucap Diva sebelum memiringkan kepalanya, menatap Farha seperti menatap tontonan terkonyol sedunia. “Aku diundang, jadi tentu harus datang. Itu namanya etika.” Dia menaikkan alisnya. “Tapi, mungkin aku terlalu banyak berharap. Karena sekarang aku tahu Tante tidak tahu etika menjamu tamu.” “Kamu–!” “Maaf, Tante, Diva tidak punya banyak waktu. Masih ada urusan lagi setelah ini, jadi Diva pamit dulu, mau mengucapkan selamat untuk kedua pengantin,” potong Diva selagi berjalan melewati Farha. Karena ada banyak yang melihat, Farha tidak bisa menghentikan Diva dengan kasar, takut reputasinya menjadi korban. Sesampainya di atas panggung pelaminan, Diva berseru, “Selamat atas pernikahan sialan kalian, ya!” Ucapan Diva yang sangat lantang membuat kedua mempelai memasang wajah buruk. “Untuk apa kamu datang?” Nico berkata dengan spontan. Alisnya menekuk tajam, tampak khawatir. Mungkin bajingan ini tahu kesalahannya dan takut karma datang terlalu cepat. “Kenapa tidak? Aku diundang oleh istrimu yang cantik ini,” ucap Diva dengan percaya diri. Dia menaikkan alis kanannya. “Kenapa? Lebih berharap aku menangis di pojokan melihat kalian tersenyum bahagia seperti sekarang?” imbuhnya dengan nada menyindir, membuat Nico bungkam. Di saat ini, Nadya maju satu langkah ke arah Diva. Sebuah senyuman keji terlukis di wajahnya. “Hebat juga kamu, Diva. Mukamu tebal sekali sampai nekat datang ke sini,” ucapnya. Diva tersenyum. “Tenang, aku tidak punya muka setebal dirimu, Nadya. Lagi pula, kalau aku di posisimu, aku akan merasa malu karena telah merebut sampah bekas sahabat baikku sendiri.” Wajah Nadya berubah buruk. “Kamu!” “Sshh.” Diva menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, membuat Nadya bungkam. “Jangan berbuat onar. Malu dilihat tamu lainnya,” peringatnya membuat Nadya melotot. Tak ingin berbasa-basi lebih jauh lagi, Diva pun menyodorkan kotak hadiahnya ke tangan Nadya. “Untuk kalian, semoga suka. Aku pamit.” Kemudian, dia turun dari altar dan berjalan lurus meninggalkan ballroom. Melihat kepergian Diva, Nadya mengepalkan tangannya. Dia sengaja mengundang Diva untuk melihat wajah menyedihkan wanita itu ketika melihatnya menikahi Nico, tapi … sekarang yang dia dapatkan malah rasa kesal! Semua karena Diva tidak terlihat hancur! Menatap kotak hadiah dari Diva di tangan, Nadya merasa semakin marah. “Aku tidak perlu sampah ini!” Dia membanting hadiah itu ke tanah, menyebabkan kotaknya terbuka dan satu makhluk kecil hitam pun lari melewati kaki Nadya. “Ahhh! TIKUUUS!” Suasana mendadak kacau. Akibat teriakan Nadya, sejumlah tamu wanita menyadari keberadaan binatang itu dan ikut berteriak histeris. Di sisi lain, Nadya berakhir jatuh dari atas panggung pelaminan bersama Nico yang berusaha menangkapnya. Keduanya terlihat berantakan. Diva yang sedang mengarah ke pintu keluar ballroom menoleh ke belakang, sebuah senyuman terlukis di wajahnya. Semua sesuai rencana, sudah dia duga Nadya yang angkuh akan membuang hadiahnya dan membebaskan tikus kecil yang dia siapkan. Tepat di saat itu, terdengar sebuah suara berteriak, “Diva! Pasti kamu!” Mata Diva menoleh ke sumber suara, menatap Farha yang melotot ke arahnya dengan wajah merah. Dengan jari telunjuk berkuku merahnya, Farha menurunkan perintah pada para pengawalnya, “Tangkap wanita jalang itu!” Bab 2. Salah Masuk Toilet “Tangkap wanita jalang itu!” Perintah Farha membuat sejumlah petugas keamanan menoleh ke arah Diva, lalu mereka gegas berusaha menangkapnya. Diva tahu ini akan terjadi, jadi dia langsung berlari kencang keluar dari ballroom. Mata Diva langsung berkeliaran saat berlari, mencari-cari letak tempat yang telah dia rencanakan menjadi tempat persembunyiannya. Akan tetapi, jauh berlari, Diva menyadari satu hal. Diva keluar dari pintu ballroom yang salah! “Sial! Harus sembunyi di mana ini?!” gumam Diva pada dirinya sendiri sambil celingak-celinguk mencari tempat untuk bersembunyi. Saat dirinya melihat tanda petunjuk ke arah toilet, Diva langsung berbelok cepat. Dalam pikirannya, ruang paling aman dari kejaran para pria adalah toilet. Para tamu wanita di dalam pasti akan ribut kalau petugas keamanan itu asal menerobos ke dalam! Alhasil, Diva pun mendorong pintu toilet dan– “AAHH!” Diva setengah berteriak sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Apa yang kamu lakukan di sini!?” Dia berseru setengah mencicit melihat seorang pria berjas mewah berdiri di depan urinoar. Pria yang dengan cepat langsung berbalik untuk merapikan dirinya itu melemparkan tatapan dingin dan tajam ke arah Diva. “Nona, apa matamu tidak berfungsi? Ini adalah toilet pria!” Makian sang pria sempat membuat emosi Diva naik, tapi kalimat terakhir pria tersebut membuat Diva tercengang. Toilet ini ada jejeran urinoar, jelas saja ini toilet pria! “Aku … aku ….” “Keluar!” bentak pria itu dengan dingin. Dengan wajah merona merah, Diva pun segera membalikkan tubuhnya. “M-maafkan aku!” ucapnya seraya menarik handling pintu. Baru saja membukanya, Diva melihat beberapa pria dengan tubuh besar yang tadi sempat mengejarnya. Diva tahu jelas, mereka pasti orang-orang ibunya Nico yang sedang mencari dirinya! Tanpa panjang, Diva malah menutup pintu itu kembali, membuat pria yang ada di dalam itu sedikit kesal. “Apa yang kamu kira sedang kamu lakukan, Nona!?” Pria itu berkata dengan mata yang membesar. Panik lantaran suara sang pria begitu besar, Diva langsung menghampiri dan menutup mulutnya dengan kedua tangan, membuat pria itu terkejut. “Tuan tolong aku kali ini saja!” Diva berkata dengan nada memohon sembari sesekali melihat ke arah pintu yang tertutup. Mendengar langkah kaki dari luar, Diva panik dan langsung menarik sang pria ke dalam bilik kamar mandi bersamanya. Saat melihat Diva mengunci pintu bilik, pria itu menggeram. “Kamu–” Tapi sekali lagi mulutnya ditutup oleh tangan Diva. “Tuan, kumohon. Aku sedang dikejar seseorang dan perlu bersembunyi. Selama kamu membantuku, aku bersedia melakukan apa pun!” ucap Diva, terpojok. Bulir-bulir keringat menghiasi dahinya, entah efek setelah berlari kencang dengan hak tinggi atau … karena takut tertangkap oleh orang-orang Farha! Sementara itu, mendengar ucapan Diva, pria tersebut terdiam. Dia menyentuh tangan Diva, menjauhkannya dari bibir agar dirinya bisa berbicara. “Apa pun?” ulangnya dengan alis kanan meninggi, tampak memiliki sebuah ide dalam benak. Sembari menggigit bibirnya, Diva menganggukkan kepala. “Apa pun,” tegasnya. “Selama aku mampu, aku akan melakukannya.” Tersadar akan satu kemungkinan mengerikan, Diva juga menambahkan, “Dan tentunya bukan hal yang berhubungan dengan menjual diri!” Pria itu mendengus, lalu berkata sembari menatap Diva dari atas ke bawah, “Aku tidak tertarik dengan dada ratamu itu, jadi jangan berpikir terlalu jauh.” Ingin sekali Diva memaki pria itu, tapi dia menahan diri dan memaksakan sebuah senyuman. “Jadi, Tuan setuju membantuku?” Belum sempat mengatakan apa pun, pintu toilet dibanting terbuka. Sejumlah langkah kaki terdengar memasuki ruangan. “Dia pasti ada di sini!” seru salah seorang pria suruhan Farha. “Periksa setiap biliknya!” Seruan itu membuat Diva menegang. Mereka nekat menerobos toilet?! Dari dalam bilik, Diva bisa mendengar satu per satu pintu bilik di samping biliknya dibuka. Semakin lama, suara para pria itu semakin dekat, sampai akhirnya tiba giliran pintu bilik tempat Diva berada. GRETEK! GRETEK! Suara pintu bilik yang berusaha dibuka terdengar! “Bilik ini dikunci dari dalam!” seru orang suruhan Farha yang langsung menggedor pintu. “Bisa jadi wanita itu di dalam!” seru kawannya yang lain. “Hei! Buka pintu ini!” Jantung Diva pun mencelos. Apakah dirinya akan tertangkap!? Melihat tubuh Diva yang bergetar, pria di hadapan Diva mengalihkan pandangan ke arah bilik pintu yang sedang digedor. Dia mendengus dingin dan berkata, “Apa kalian sudah bosan hidup?!” Semua orang langsung terkejut, termasuk Diva sendiri. Percaya diri sekali pria ini! Namun, keterkejutan Diva tidak berakhir di sana. Karena detik berikutnya, pria tersebut melonggarkan dasinya, lalu membuka beberapa kancing kemejanya. “Apa yang kamu lakukan!?” Diva berucap tanpa suara, matanya melotot karena sang pria sekarang beralih menatapnya. “Kamu ingin aku membantumu, ‘kan?” tanya pria itu di sisi telinga Diva, membuatnya diam. “Kalau ya, diam dan ikuti permainanku.” Kemudian, tanpa aba-aba, pria tersebut menarik kepala Diva dan membenamkan wajah wanita itu ke dada bidangnya. Sontak membuat Diva merona merah, tak pernah dirinya sedekat ini dengan seorang pria! Tepat ketika Diva sedang sibuk berusaha tenang dan mempertanyakan niat pria tersebut, pria asing itu malah membuka pintu bilik kamar mandi dengan kencang! BRAK! Saat pintu terbuka, orang-orang di luar bilik terkejut melihat penampilan dua orang di dalam. Dengan pancaran mata dinginnya yang mengintimidasi, pria yang bersama Diva pun berkata, “Mengganggu kesenanganku, apa kalian tahu akibatnya?” Begitu melihat wajah sang pria, salah seorang bawahan Farha langsung membeku. “T-Tuan Elvan Wongso!?” Mendengar nama itu, jantung Diva terasa berhenti. Dia tahu nama itu. Elvan Wongso, itu adalah nama CEO dingin dari Lux Tech Group sekaligus pewaris keluarga Wongso yang ternama! Tunggu … pria yang Diva mintai tolong … ternyata adalah penerus perusahaan teknologi raksasa Asia Pasifik!? Ini gila! Bab 3. Elvan Wongso Menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan pewaris keluarga Wongso yang ternama, orang suruhan Farha pun langsung membungkuk hormat. “T-Tuan Elvan, m-maafkan kelancangan kami. K-kami tidak tahu Anda sedang–” “Cepat pergi!” Geraman penuh amarah dari sosok Elvan membuat orang suruhan Farha langsung berkata, “B-baik, Tuan Elvan. Sekali lagi … kami minta maaf!” Pria itu pun gegas lari keluar dari toilet bersama kawan-kawannya yang lain dengan terbirit-birit. Sesampainya mereka di hadapan Farha yang sedang menunggu kabar bersama Nadya di ruang tunggu pengantin, wanita itu menggeram dengan wajah yang tidak puas, “Kenapa kalian kembali dengan tangan kosong!? Mana wanita jalang itu!?” Pesta pernikahan memang telah kembali tenang, tapi rasa malu akibat kekacauan yang terjadi masih mengakar dalam diri. Demikian, Farha dan Nadya butuh pelampiasan dan pertanggungjawaban dari Diva! Dengan wajah pucat, tiga orang suruhannya itu menggeleng. “Maaf, Nyonya, Nona. Akan tetapi, kami tidak bisa menemukannya.” Mendengar itu, Nadya tampak semakin murka, sedangkan Farha mengepalkan tangannya kuat. “Dasar bodoh! Dia lari ke satu arah! Bagaimana bisa kalian kehilangan dirinya!” Ketiga orang Farha saling melirik, lalu salah satunya memutuskan untuk menceritakan yang terjadi. “Sejujurnya, kami kira dia sempat lari ke toilet pria. Soalnya setelah memeriksa toilet wanita, dia tidak ada di sana. Akan tetapi ….” “Akan tetapi?” ulang Nadya, tidak sabar mendengar kelanjutannya. “Tetapi, kami malah bertemu dengan Tuan Elvan Wongso ….” Mata Nadya dan Farha membola. “Elvan Wongso? CEO LuxTech Group itu?” tanya Farha yang diikuti dengan anggukan kepala para bawahannya. Farha dan Nadya tahu siapa Elvan Wongso, juga kedudukannya di komunitas kalangan atas. Mengingat ayah Nico bekerja untuk kakek dari Elvan Wongso, dan Nico sendiri ingin sekali menjalin kerja sama dengan pria itu, Farha dan Nadya tahu jelas kalau pria tersebut tidak boleh dia singgung! “Lalu? Apa masalahnya kalian bertemu dengannya? Kalian tidak melakukan apa pun padanya, bukan?” tanya Farha, agak khawatir. Salah seorang pria suruhan Farha menjawab, “L-lapor, Nyonya. Kami … menangkap basah dirinya dengan seorang wanita di bilik kamar mandi pria, jadi … beliau sangat marah.” Mendengar cerita bawahannya, Farha menautkan alisnya erat. Elvan Wongso bersama seorang wanita?! Pria yang terkenal dingin dan selalu menolak dekat dengan wanita kalangan atas mana pun … tertangkap sedang bersama dengan seorang wanita di toilet pria? Ada yang aneh! Sembari menggigit kuku merahnya, Farha membatin, ‘Tidak mungkin … wanita yang bersamanya di toilet itu … Diva, ‘kan?’ Merasa dirinya berpikiran yang tidak-tidak, Farha pun berkata, “Ya sudah! Kembali ke tempat berjaga kalian! Jangan sampai ada yang mengacau lagi!” “Baik, Nyonya!” Farha menatap Nadya. “Nadya, untuk sekarang, kita harus fokus dengan pesta pernikahan. Oke, sayang? Urusan Diva, kita lupakan dulu. Tidak penting mengurusi wanita rendahan itu.” Nadya memaksakan sebuah senyuman. “Baik, Ma ….” Namun, saat mertuanya itu pergi meninggalkan ruangan, Nadya meremas gaunnya dengan erat dan membatin dalam hati, ‘Diva, Dendam hari ini … akan kubalaskan di lain hari!’ Sementara itu, Diva yang telah memastikan bahwa orang-orang tadi telah pergi, langsung menghela napas lega. Sungguh mukjizat itu nyata, bisa-bisanya dia bertemu orang berkuasa yang bisa mengusir orang-orang Farha dengan semudah itu! Saat Diva terpukau dengan kenyataan dirinya berhasil lepas dari masalah, mendadak dia merasakan pegangan pada pinggangnya menguat. Hal itu menyebabkan Diva mengangkat pandangan, menatap pria yang masih memeluknya erat. Sial. Diva baru sadar satu hal. Pria bernama Elvan Wongso ini begitu tampan! Sungguh tidak disangka CEO LuxTech Group yang ternama juga masih sangat muda! Sadar dirinya mulai melamun, Diva langsung mendorong dada Elvan dan menjauhkan dirinya dari pria itu. “T-terima kasih atas bantuanmu, Tuan Elvan,” ucapnya dengan agak gugup selagi merapikan penampilannya. Elvan dengan santai mengancingkan kembali bajunya, lalu mengikat dasinya. Dia tidak membalas ucapan Diva, sampai akhirnya dia selesai merapikan diri, pria itu baru menggenggam tangan wanita itu erat. “Sekarang, giliran kamu membantuku.” “Bantu ap–” Tidak sempat Diva menyelesaikan kalimatnya, Elvan langsung menariknya keluar dari toilet. Mata pria itu sempat mengitari sekeliling, memastikan pria-pria tadi sudah tidak ada, sebelum akhirnya membawa Diva ke arah lift. “Kamu ingin membawaku ke mana?!” tanya Diva sedikit panik. Saat pintu lift terbuka, Elvan membawa Diva ke dalam, menutup pintu lift, lalu menekan tombol lantai tertinggi. Menurut pengetahuan Diva, lantai tertinggi hotel biasanya adalah penthouse. Mengingat Elvan adalah salah satu orang terkaya dalam negeri, tidak heran bila dia menginap di kamar termahal hotel itu. Namun, membawa seorang wanita ke kamar, itu berarti– Diva langsung memeluk tubuhnya sendiri. “A-asal kamu ingat, aku tidak menjual tubuhku!” ulangnya lagi, tahu bagaimana orang-orang kelas atas, terutama para prianya, sering bermain. Mendengar ocehan Diva, Elvan menoleh ke arahnya dengan pandangan keruh. “Sudah kukatakan, aku tidak tertarik dengan tubuhmu!” Alis Diva tertaut. “Kalau begitu, untuk apa membawaku ke penthouse hotel!?” Dia menunjuk ke arah tombol lantai yang dipencet Elvan. Elvan melirik tombol lantai yang menyala, lalu balik menatap Diva. Sebuah senyuman terpasang di wajahnya selagi dia melipat kedua tangannya. “Sudah kuduga matamu bermasalah,” ucap pria itu. “Apa?!” Diva mendelik, merasa tidak terima. Ini sudah yang ke sekian kali pria di hadapannya ini menghinanya! Namun, Elvan tetap santai. Dia mengarahkan dagunya ke arah atas, pada papan petunjuk tiap-tiap lantai. Diva mengikuti arahan Elvan, lalu menyadari satu hal. Lantai tertinggi … adalah restoran rooftop. Seketika, wajah Diva kembali memerah. Astaga … sekali lagi dia mempermalukan dirinya! “Dengar, Nona ….” “Diva … namaku Diva,” ucap Diva dengan mata menghindari tatapan Elvan, masih malu. Elvan menganggukkan kepala. “Dengar, Diva. Saat ini, bukan wanita yang bisa kutiduri yang kuperlukan.” Ucapan Elvan membuat Diva kembali fokus padanya, membuat pria itu kembali serius ketika dirinya berkata, “Sebaliknya, aku perlu wanita yang bisa menjadi tunanganku.” Kening Diva berkerut. “Apa?” Dengan wajah dingin dan tatapan tajam, Elvan menegaskan, “Atas bantuanku tadi, aku perlu dirimu untuk menjadi tunanganku.” Bab 4. Melamarmu “Tunangan!? Apa kamu gila!?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Diva secara refleks ketika mendengar ucapan Elvan. Hal itu membuat Elvan menautkan alis dan menatapnya dingin. “Sesuai perjanjian tadi, kamu berutang budi padaku atas bantuan yang kuberikan tadi. Sekarang, waktunya bagimu untuk menebus utang tersebut,” ucap Elvan. “Kenapa? Kamu berniat untuk mengingkari janji yang kamu buat sendiri? Haruskah aku mengembalikanmu ke hadapan orang-orang tadi?” “Kamu,” tunjuk Diva pada Elvan, “mengancamku?” Elvan hanya menatap Diva datar selagi berkata, “Terserah padamu ingin menggunakan istilah apa, tapi intinya … aku ingin kamu memenuhi janjimu.” “Tapi tidak dengan bertunangan!” balas Diva dengan agak kesal. Tidak habis pikir bagaimana pria di hadapannya ini berpikir. Pertunangan adalah awal dari sebuah pernikahan, bagaimana pria ini bisa sembarangan menyuruhnya menjalani hal tersebut!? Melihat wajah Diva menampakkan ekspresi khawatir, Elvan menambahkan, “Jangan berpikir berlebihan, tunangan ini hanya pura-pura saja.” Mendengar itu, mata Diva langsung berbinar. “Pura-pura?” ulangnya, sedikit bersemangat. Pelipis Elvan berkedut, entah kenapa terlihat agak kesal wanita di hadapannya itu begitu enggan bertunangan dengannya. Namun, dia dengan ketus berkata, “Tentu saja. Aku cukup waras untuk tidak sembarangan bertunangan dengan wanita tanpa asal-usul yang jelas, Diva.” Sekarang, giliran pelipis Diva yang berkedut. Haruskah pria ini memperlakukan orang yang akan membantunya seperti ini!? Menepis perasaan kesalnya, Diva langsung fokus pada urusan di depan mata. “Oke, kalau pura-pura, aku tidak masalah. Akan tetapi, apa tujuan Tuan melakukan semua ini?” Diva bisa melihat mata Elvan memicing, mungkin curiga dengan niat dia menanyakan hal ini. Demikian, Diva mengangkat tangannya. “Asal Tuan tahu, aku hanya bertanya agar bisa memahami situasi dan menjalankan peranku dengan baik,” jelas wanita itu cepat-cepat. Penjelasan Diva membuat Elvan menatap nomor lantai yang terus berubah, menunjukkan semakin dekat mereka kepada tujuan. “Membatalkan perjodohan.” Pria itu menoleh kepada Diva dan menatapnya lurus. “Kamu harus membantuku membatalkan perjodohan yang tidak kuinginkan.” Setelahnya, Elvan menjelaskan berbagai hal kunci yang perlu Diva ingat, dan Diva … dia tidak bisa mengelak dan hanya bisa diam mendengarkan. “Di restoran, akan ada sejumlah orang. Ayah dan ibuku, paman dan bibiku, kakek dan nenekku, juga seorang wanita bernama Marissa.” Tepat saat menyebut nama ‘Marissa’, wajah Elvan berubah gelap. “Itu … nama wanita yang akan dijodohkan denganmu?” tanya Diva, dan Elvan pun mengangguk. Elvan menatap Diva dengan lurus, membuat wanita itu terhipnotis manik indah pria tersebut. “Tugasmu ada dua, Diva. Yang pertama, buat Marissa cemburu agar dia mengurungkan niatnya untuk menikah denganku. Yang kedua, pastikan semua orang percaya kita saling mencintai dan sudah siap untuk menikah.” TING! Dentingan lift terdengar, dan pintu lift pun terbuka, menunjukkan pemandangan rooftop hotel yang indah. Namun, entah kenapa, tempat mahal yang seharusnya membuat Diva terpukau itu berubah menjadi sangat mencekam. “Kita sampai,” ucap Elvan seraya menoleh kepada Diva dan mengulurkan tangannya. “Ikuti arahanku dan kujamin kamu akan baik-baik saja.” Diva menautkan alis, tampak ragu dengan semua yang sedang terjadi. Dirinya baru saja selesai mengacaukan pernikahan mantan kekasihnya, lalu sekarang … dia harus membantu pria asing di hadapannya ini untuk membatalkan perjodohannya? Apa sekarang Diva berubah menjadi dewi kehancuran? Menutup matanya sekilas untuk menepis lamunan, Diva menghela napas berat dan menatap Elvan lurus. “Aku … akan berjuang sebisaku untuk membantumu, Tuan Elvan.” Dia meletakkan tangannya di telapak tangan besar pria tersebut. “Elvan,” ucap Elvan seraya menggenggam tangan Diva dan membawa wanita itu keluar dari lift. “Apa?” Diva agak bingung dengan maksud ucapan pria itu. Dengan wajah yang melembut, Elvan berkata, “Panggil aku Elvan.” Dia menambahkan sembari tersenyum tipis. “Orang mana yang memanggil tunangannya dengan sebutan ‘Tuan’?” Detik itu juga, Diva merasa kewarasannya runtuh. Sial! Pria ini begitu tampan sepuluh– tidak! Sejuta kali lipat dari Nico! Dengan cepat, Diva menggigit lidahnya sendiri agar sadar, lalu memperingati diri dalam hati, ‘Ingat, Diva! Pria tampan tidak bisa dipercaya! Dan lagi,’ dia menatap sosok Elvan yang sedang memerhatikannya dengan bingung, ‘kamu harus fokus membantu pria ini untuk balas budi! Tidak lebih!’ Setelah sadar dari pesona Elvan, Diva pun tersenyum lebar. “Oke, El– Elvan.” Usai percakapan itu, Elvan pun menuntun Diva masuk ke dalam restoran dan membawanya ke area khusus. Tempat terbaik untuk melihat pemandangan ibu kota dari puncak hotel. Menuju sebuah meja yang diisi oleh tujuh orang, dengan satu kursi kosong di antara mereka, Diva membatin, ‘Itu pasti keluarga Elvan.’ Seorang wanita anggun nan rupawan terlihat duduk di sebelah seorang pria berjas yang menyesap secangkir kopi dengan tenang. Wajah keduanya yang memiliki jejak di wajah Elvan membuat Diva langsung bisa menebak identitasnya. “Itu orang tuamu?” bisik Diva dengan suara rendah. Elvan menganggukkan kepala. “Yang di seberang mereka adalah paman dan bibiku, sedangkan yang berada di antara dua pasangan itu adalah kakek dan nenekku, tetua keluarga yang paling dihormati,” jelasnya singkat, jelas, padat. Duduk membelakangi Elvan dan Diva, adalah seorang wanita berambut hitam lurus dengan gaun merah ketat yang mewah dan mencolok. Saat mendengar langkah kaki keduanya, dan ketika tatapan semua orang beralih ke arah Elvan dan Diva, wanita itu berbalik dan menampakkan wajahnya yang menurut Diva sungguh memesona. “Elvan!” seru wanita itu dengan mata berbinar, tampak sekali memuja sosok Elvan. Namun, saat melihat keberadaan Diva yang digandeng oleh Elvan, ekspresi wanita itu berubah seratus delapan puluh derajat menjadi mengerikan. “Siapa wanita ini?” Tanpa perlu diberi tahu lagi, Diva langsung tahu identitas wanita muda tersebut. “Marissa,” panggil Elvan sebelum akhirnya menatap satu persatu orang di meja itu, “Semuanya, perkenalkan … ini Diva, kekasih yang baru saja kulamar hari ini.” Bab 5. Ciuman Mendengar ucapan Elvan, sontak semua orang yang duduk di meja itu terperangah, terutama Marissa beserta bibi Elvan, Nara. “Kekasih yang baru kamu lamar?” ulang Nara dengan suara tidak suka. “Apa maksud omong kosongmu ini?” Elvan mengabaikan pertanyaan Nara, lalu beralih pada seorang pelayan, mengisyaratkan agar segera mengambilkan kursi tambahan untuk dirinya. Setelah itu, dia menarik satu kursi kosong yang berada di sebelah sang ibu, lalu berkata pada Diva, “Duduklah di sini.” Perlakuannya begitu lembut dan perhatian, sampai-sampai semua orang yang melihatnya kembali terbelalak tak percaya. Bahkan Marissa berujung meremas gaunnya erat dengan tidak suka. Di sisi lain, Diva merasa canggung. Kentara dirinya tidak diterima oleh sebagian besar orang di meja tersebut, bagaimana dia bisa duduk dengan tenang!? Namun, di saat itu sebuah tangan meraih tangan Diva. “Duduklah, Diva.” Ternyata, itu adalah ibunda Elvan, Anita! “Jangan begitu gugup,” ucap Anita dengan lembut seraya menarik Diva untuk duduk di sebelahnya. “T-terima kasih, Tante …,” jawab Diva canggung. Setelah pelayan datang dan Elvan duduk di sebelah Diva, sebuah suara terdengar berkumandang, “Elvan, bibimu tadi bertanya.” Itu adalah Hartono Wongso, kakek Elvan sekaligus pendiri LuxTech Group yang ternama! Elvan menatap sang kakek sekilas, lalu berujung menghela napas untuk menjawab, “Diva adalah tunanganku, dan itu bukan omong kosong. Apa begitu sulit untuk menerima kenyataan ini?” Cara bicara Elvan yang begitu ketus membuat suasana menjadi tegang, terutama untuk Diva yang jantungnya berdebar tidak karuan. Tidak bisakah pria itu memperkenalkannya dulu dengan lebih baik!? Akhirnya, dengan usaha untuk memerankan identitas barunya dengan lebih baik, Diva pun berdiri dari kursinya dan membungkuk sedikit untuk memperkenalkan diri, “Halo, semuanya. Namaku Diva Gantari. Aku kekasih Elvan.” Dia menegapkan tubuh dan tersenyum agak canggung. “Maaf sudah datang tiba-tiba dan mengganggu waktu makan siang kalian seperti ini.” Mendengar Diva memperkenalkan diri, jujur Elvan agak terkejut. Dia tidak menyangka wanita yang beberapa saat lalu sangat menentang idenya itu bisa berperan dengan begitu alami, layaknya seorang kekasih yang baru pertama kali dikenalkan kepada keluarganya. Di saat ini, Anita berkata sembari meraih tangan Diva, “Astaga, Diva. Tidak perlu sungkan seperti itu. Kami tidak merasa terganggu sama sekali.” Wanita itu melirik sang ayah yang menampakkan ekspresi keruh, lalu menambahkan, “Kami hanya terkejut mendengar Elvan pertama kali memperkenalkan dirimu sebagai … kekasih yang sudah dilamar ….” Melihat sebagian besar orang penasaran dengan identitas Diva, Anita pun kembali bertanya, “Kamu … sudah lama kenal sama El?” “Sudah, Tante,” jawab Diva dengan usaha untuk tetap tenang. “Berapa lama?” “Sekitar satu tahun.” “Satu tahun?” Suara bibi Elvan kembali terdengar. “Baru kenal satu tahun, tapi sekarang sudah dilamar?” Wanita dengan leher penuh perhiasan itu mendengus dingin. “Hebat juga kamu, Elvan. Serius atau main-main kamu?” Mendengar ini, Elvan mendengus. “Serius atau tidak, itu urusanku dan Diva. Tidak perlu Bibi khawatirkan soal itu.” Pria itu kemudian menyesap minumannya dengan santai. “Kamu–!” Nara–bibi Elvan–merasa sangat tersinggung. Akan tetapi, ayahnya terus memerhatikan gerak-geriknya, membuat wanita itu tidak leluasa membalas ucapan Elvan. Dia pun beralih kepada Diva. “Kamu kenal Elvan dari mana?” tanyanya dengan tatapan tidak suka. “Lingkaran teman, Tante. Kebetulan ada salah seorang teman Elvan yang temanku juga,” jawab Diva, masih dengan sopan. Mendadak, di saat ini satu suara merdu menimbrung, “Lingkaran teman yang mana? Kok aku tidak tahu?” Diva menoleh, menyadari bahwa Marissalah yang sekarang berbicara. Sejak awal, wanita itu menatapnya dengan sangat tajam. Diva tahu, pasti wanita itu sekarang sedang memakinya mati-matian dalam hati. Belum sempat pembicaraan perjodohan dibicarakan, kedatangan Diva malah menggagalkan semuanya. Namun, dari cara pandang Marissa terhadapnya, Diva tahu wanita itu belum menyerah dan berniat mengulik lebih jauh hubungannya dengan Elvan. Akhirnya, Diva pun memasang senyum termanisnya dan berkata, “Memangnya semua teman Elvan, kamu harus tahu, ya? Maaf bertanya seperti ini, tapi karena Elvan belum pernah menceritakan, aku jadi belum tahu. Memang kamu siapanya Elvan?” Mendengar balasan itu, bukan hanya Marissa, tapi semua orang di meja itu terkejut. “Pfft ….” Suara tawa yang tertahan mengalihkan perhatian seisi meja, mereka menoleh dan melihat ternyata sosok Elvanlah yang tertawa! Diva berpura-pura bingung. “Kenapa tertawa, Van? Kamu serius belum pernah cerita ke aku soal dia ….” Melihat ekspresi pura-pura Diva yang begitu alami, Elvan pun tersenyum. “Dia Marissa, anak angkat bibi dan pamanku.” Mulut Diva membentuk huruf ‘O’, lalu tampak tersenyum tak berdaya. “Ah, yang dulu katanya berniat dijodohkan denganmu, ya?” Mendengar kata ‘dulu’, ekspresi Marissa langsung memburuk, begitu pula wajah Nara dan suaminya. Sebaliknya, Elvan tersenyum semakin semringah, merasa sangat terhibur dengan sandiwara Diva. “Ya, yang itu,” jawabnya santai. “Akan tetapi, jangan khawatir. Itu dulu.” Dia menatap sang bibi. “Sekarang, tidak mungkin lagi.” “Apa kamu serius?” Perhatian semua orang beralih dari Elvan dan Diva, menuju kepada Marissa. Wanita muda itu tampak memasang wajah tidak suka dan curiga. “Kamu serius dengan wanita ini?” tanya Marissa lagi. Elvan memiringkan kepala. “Kamu kira aku bercanda?” Marissa memicingkan mata. “Aku lebih curiga kamu berpura-pura.” Dia pun melirik Diva. “Pun sikapnya tidak buruk, tapi penampilannya terlewat sederhana. Bukan seperti tipemu.” Dia menatap Elvan lagi. “Oleh karena itu, aku sulit untuk percaya.” Percakapan antara Marissa dan Elvan membuat suasana di meja itu kembali tegang. Sedangkan Diva, dia jujur lebih merasa tersinggung dibandingkan takut kepada Marissa. Apa maksud wanita itu dia terlihat sederhana? Gaun yang dia kenakan untuk menghadiri pernikahan Nico hari ini menghabiskan hampir setengah gaji bulanannya! Ini adalah gaun termahal yang pernah Diva beli! Enak saja dibilang sederhana! Di saat Diva sedang memikirkan hal tersebut dan memaki-maki keangkuhan Marissa dalam hati, dia mendengar Elvan mendadak berkata, “Kalau ingin bukti, mudah saja.” Pria itu menoleh ke arah Diva, lalu meletakkan tangannya di tengkuk Diva. Kaget, Diva menautkan alis. “Elvan, apa yang–” Tidak sempat menyelesaikan ucapannya, Diva dikejutkan dengan Elvan yang menarik kepalanya mendekat dan– Cup! Elvan sungguh mencium Diva di depan keluarganya! Bab 6. Semoga Tidak Bertemu Lagi Ciuman hangat mendarat di bibir Diva, membuat mata wanita itu membola. Logikanya mendorong agar tangannya mendorong Elvan menjauh. Akan tetapi, instingnya mengatakan kalau dia melakukan hal itu, maka situasi akan menjadi kacau dan runyam. Alhasil, Diva hanya bisa pasrah di bawah kendali Elvan. Melihat kejadian itu di depan mata, semua orang seolah membeku! Bagaimana tidak? Semua anggota keluarga paham, Elvan adalah orang yang berjabat tangan dengan klien saja sebisa mungkin dihindari. Pria itu adalah seorang clean freak! Akan tetapi, sekarang, pria yang paling menghindari bersentuhan dengan orang lain itu … berujung mencium seorang wanita?! Bukan kecupan, tapi ciuman! Untuk waktu yang cukup lama pula! Demikian, ini adalah hal yang sangat menggemparkan! SREET! Di tengah keterkejutan itu, suara kursi yang bergesekkan dengan lantai terdengar. Para senior menoleh dan mendapati Marissa berdiri dari kursinya. Mata wanita muda itu berkaca-kaca, tampak sakit hati dan ingin menangis melihat pemandangan di depan mata. “Aku permisi!” seru Marissa yang langsung meraih tasnya dan berlari keluar restoran. Di sisi lain, paman dan bibi Elvan langsung ikut berdiri untuk mengejarnya. “Marissa!” Sebelum pergi, bibi Elvan melirik sosok Elvan yang telah memisahkan dirinya dari Diva. “Elvan, kamu–! Haish!” Tidak bisa berkata-kata, dia pun lanjut meninggalkan tempat dan mengejar putri angkatnya itu. Saat yakin bayangan orang-orang yang mengancam kebebasannya telah pergi, Elvan pun menjauhkan diri dari Diva dan berdiri dari kursinya. Dia menatap kakek, nenek, ayah, dan ibunya–yang masih tercengang–lalu berkata, “Karena masalah sudah selesai, aku dan Diva pamit dulu.” Elvan menarik tangan Diva agar wanita itu berdiri bersamanya, tapi baru beberapa langkah menjauhi meja, sebuah suara menghentikannya. “Elvan!” Elvan menoleh, menatap sang kakek yang memanggilnya. “Perbuatanmu hari ini …,” Hartono melirik Diva yang masih agak terbengong, lalu menatap Elvan lagi, “apa kamu tahu konsekuensinya? Elvan memasang wajah dingin dan berkata, “Kalau memang harus menikah, aku hanya akan menikahi Diva. Bukan orang lain.” Dalam pikiran Elvan, mengucapkan hal itu berarti dia telah memblokir niatan sang kakek untuk menikahkannya dengan gadis lain. Karena memang tidak ada niatannya untuk menikah, Elvan tidak masalah dengan hal itu. Merasa rencananya sudah sempurna, Elvan pun lanjut berjalan pergi sambil mengenggam lengan Diva erat. Mendengar balasan Elvan, empat orang yang ditinggalkan di restoran itu hanya bisa berakhir tercengang. Nenek Elvan, Radiah, menatap sang suami yang masih terbengong dan berkata, “Menurutmu … apa Elvan serius?” Di tempatnya, Hartono menggeleng. Dia yang tadinya yakin bahwa wanita yang cucunya bawa itu adalah kekasih sewaan, sekarang berakhir dibuat ragu, terlebih ketika melihat Elvan mencium Diva dan bahkan bersumpah hanya akan menikahi wanita itu. Alhasil, Hartono hanya bisa berkata, “Aku … tidak tahu.” Di saat ini, Anita pun menatap sang ayah dan berkata, “Ayah … masalah ini ….” Hartono menutup matanya dan berujung berkata, “Palsu atau tidak, kita akan tahu pada akhirnya.” Dia menatap ke arah kepergian Elvan. “Kalau mereka memang bersandiwara, mari kita lihat sejauh mana mereka bisa menipu kita!” ** Di dalam lift, Elvan akhirnya melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Diva. Dia menatap wanita yang agak menunduk itu dan berkata, “Terima kasih, Diva. Karena bantuanmu–” PLAK! Suara tamparan keras bergema, mengejutkan Elvan yang merasakan panas di pipi kanannya. Diva menamparnya! “Kamu–!” Baru saja ingin marah, Elvan langsung bungkam ketika melihat wajah Diva. Merah di mata dan kedua pipi wanita itu menunjukkan bahwa Diva bukan hanya malu, tapi marah dan terluka! Sebuah pemandangan yang membuat Elvan tak bisa berkata-kata! “Apa yang kamu pikir telah kamu lakukan, Tuan Elvan Wongso!?” Diva berseru dengan amarah menyelimuti bola mata indahnya. “Bagaimana bisa kamu menciumku di depan orang banyak seperti itu!?” “Aku ….” Elvan ingin menjawab. Akan tetapi, tatapan terluka yang Diva berikan membuatnya tak mampu bersuara. “Aku memang memberikan penawaran untuk melakukan apa saja, tapi sudah kukatakan dengan jelas, aku tidak menjual sejengkalpun dari bagian tubuhku untuk ikut dalam permainanmu, tapi … yang barusan kamu lakukan adalah melecehkanku!” Diva mengepalkan tangannya kuat. ‘Melecehkan’, itu adalah kata yang sangat kuat. Dan jujur, Elvan merasa tindakannya tidak sampai seburuk itu. Namun, pandangan Diva membuat pria itu merasa seperti pria paling bajingan di dunia ini. “Diva, aku–” “Cukup, aku tidak ingin mendengar apa pun dari mulutmu itu lagi,” potong Diva. TING! Kebetulan, suara denting lift terdengar. Mereka telah kembali tiba di lobi hotel. Seiring pintu lift terbuka, Diva berkata, “Dengan bantuan hari ini, kuanggap utangku kepadamu telah impas!” teriak wanita tersebut sebelum menambahkan, “Semoga kita tidak bertemu lagi!” Usai mengatakan itu, Diva langsung keluar dari lift. “Diva!” Elvan berniat mengejarnya, tapi wanita itu berlari begitu cepat! Saat Elvan mencapai lobi hotel, Diva telah masuk ke dalam sebuah taksi dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Tidak sedikit pun memberikan waktu untuk Elvan berbicara dengannya lagi. Melihat taksi yang membawa Diva melesat pergi, Elvan mengepalkan tangannya sendiri. Dia yang tidak pernah merasakan simpatik terhadap orang lain, terus dihantui oleh wajah terluka Diva. Tak hanya itu, dadanya bahkan terasa sesak saat mengingat sepasang bola mata indah yang berkaca-kaca tersebut menatap dirinya dengan penuh amarah. Tangan Elvan menekan dadanya, merasa bingung dan agak tersiksa. ‘Perasaan apa ini …?’ Sementara itu, di dalam taksi, Diva beberapa kali mengelap bibirnya, sampai-sampai ada bagian yang berdarah. Namun, bagaimana ya … dia benar-benar sangat kesal dengan Elvan. Pria itu baru saja merebut ciuman pertamanya! Jujur, bukan hanya karena hal itu Diva marah, tapi … juga karena Diva tanpa sadar menikmati ciuman pria tersebut! Wangi mint yang memesona, juga sentuhan lembut yang membuat darahnya berdesir. Diva seperti tersihir oleh Elvan tadi. Dan … hal itu juga yang membuatnya merasa jijik terhadap ciuman itu … dan dirinya sendiri! ‘Satu tahun berpacaran, Nico saja belum pernah menciumku!’ Membatinkan hal itu, Diva kembali sendu. Mungkinkah alasan Nico berselingkuh adalah … karena dia terlalu menjaga kesuciannya? Memang benar, Nico bukan hanya pernah mengajaknya berciuman, tapi juga bercinta. Akan tetapi, Diva menolaknya dengan tegas dan berkata hal-hal semacam itu hanya boleh dilakukan setelah menikah. Ah, dipikirkan kembali, sepertinya memang itu alasan Nico mengkhianatinya. Lagi pula, satu hari setelah menerima undangan pernikahan Nico dan Nadya, Diva juga sudah menerima pesan yang menyatakan semuanya. “Bukan hanya latar belakang keluargaku yang menjadi alasan, Diva. Akan tetapi, dibandingkan dirimu, aku bisa memberikan segalanya untuk Nico. Itulah alasan dia memilihku dibandingkan gadis sok suci sepertimu!” Mengingat hal itu, Diva menutup mata dan mengepalkan tangan. ‘Dan sekarang, ciuman pertamaku malah dicuri oleh pria yang bahkan tidak punya perasaan sama sekali padaku.’ Semakin dipikirkan, Diva menjadi semakin kesal kepada Elvan. Dia berdoa semoga tidak akan bertemu lagi dengan pria itu. *** Setelah beberapa hari dari kejadian tersebut, hidup Diva berjalan seperti biasa. Dia datang ke kantor dan tampak sudah melupakan segalanya mengenai Elvan. Baru saja duduk di kursi kantornya, tiba-tiba saja, terdapat pemberitahuan kredit masuk di aplikasi perbankan milik Diva. Nominalnya membuat Diva membelalakkan mata! 50 Juta?! Siapa yang mengirimkan uang sebanyak ini untuknya!? Apakah ada yang salah transfer?! Namun, kemudian Diva melihat catatan pada bukti transfer tersebut. [Ucapan terima kasih atas bantuan.] Membaca pesan itu, Diva memiliki dugaan mengenai pengirimnya. Namun, belum sempat memastikan, tiba-tiba ponsel Diva bergetar. Nomor yang tertera di layar tidak dikenal, dan dahi Diva pun berkerut dibuatnya. Mungkin ini nomor orang yang salah transfer? Tanpa berpikir panjang, Diva mengangkat panggilan itu. “Halo?” “Diva.” Mata Diva terbelalak. Dia mengenali suara itu. “... Elvan?” Bab 7. Jebakan Terkejut dengan siapa yang menghubunginya, Diva menautkan alisnya. Dari mana pria itu mendapatkan nomor rekening dan juga nomor teleponnya?! Sesaat Diva kebingungan, tapi kemudian, dia mengingat latar belakang Elvan yang berkuasa dan tidak lagi heran. Dengan uang, segala hal bisa dibeli dan didapatkan, termasuk informasi pribadi seseorang. “Kenapa kamu menghubungiku?” tanya Diva ketus. “Aku ingin memberitahukan mengenai–” “Imbalan atas pelecehan yang kamu lakukan?” potong Diva, masih merasa marah akan hal itu. “Diva … aku–” “Dengar, Tuan Elvan Wongso. Aku paham niatmu, dan aku akan menerima uang tutup mulutmu. Akan kujamin apa yang terjadi beberapa hari yang lalu menjadi rahasia. Oleh karena itu, berhenti menghubungiku … karena aku tidak ingin lagi terlibat denganmu!” PIP! Usai mengatakan itu, Diva memutus panggilan tanpa menunggu balasan Elvan. Dia yakin pria itu akan terus mengganggunya kalau uang tersebut tidak dia terima. Diva terlalu paham cara bermain orang-orang kalangan atas. Sama persis seperti Nico, Farha, dan juga Nadya. Mereka mengira uang mengendalikan segalanya, dan orang kecil seperti Diva … tidak pantas untuk dipusingkan. Di saat ini, sebuah suara mengejutkan Diva. “Pagi, Diva!” Sapaan itu membuat Diva menoleh, melihat wajah seorang wanita muda manis yang tersenyum ke arahnya. “Pagi, Intan,” balasnya sembari tersenyum. Intan adalah teman terdekat Diva di kantor. Sama-sama berjuang melewati masa magang untuk menjadi pegawai tetap selama tiga bulan, ditambah dengan hobi dan kesukaan yang hampir sama, Diva dan Intan pun menjadi sangat dekat. “Diva, Kamu tahu gak sih, katanya pesta pernikahan Pak Nico beberapa hari yang lalu sedikit kacau.” Bisikan Intan membuat jantung Diva berhenti sesaat. Dia meletakkan ponselnya ke meja, melupakan tentang Elvan, lalu terfokus pada pembicaraannya dengan Intan. “Oh … ya? Kok bisa?” Dia pura-pura tidak tahu, tidak ingin disangkut pautkan dengan masalah yang menurut Diva sudah lalu. Intan menceritakan masalah yang terjadi di pernikahan Nico, bagaimana mantan pria itu datang dan menghadiahkan tikus kecil kepada kedua pengantin. Karena kaget, pengantin wanita jatuh dari panggung, diikuti dengan Nico sendiri yang berusaha menyelamatkan sang istri. “Untung cepat diselesaikan, kalau tidak malu banget tuh pasti,” imbuh Intan mengakhiri ceritanya. “Kamu tahu dari siapa, Tan? Seingatku nggak ada dari kita yang diundang ke acaranya, kecuali jajaran direksi?” balas Diva penasaran. Jangan-jangan ada yang mengenalinya di acara pernikahan kemarin! “Kebetulan adikku teman dekatnya adik Pak Nico, jadi dia diundang dan lihat kejadiannya. Heboh deh pokoknya,” ucap Intan. “Apalagi istrinya Pak Nico bukan orang sembarangan. Pasti habis itu mantannya Pak Nico.” Mendengar hal itu, Diva tersenyum kecut. ‘Ya, bukan orang sembarangan. Saking bukan sembarangannya dia bisa rebut pacar teman dekatnya sendiri!’ batinnya. Walau Diva cukup dekat dengan Intan, tapi sesuai pesan Nico ketika mereka mulai berhubungan, tidak ada orang lain yang boleh tahu mereka berpacaran di kantor. Selaku pemimpin perusahaan, dia tidak ingin ada isu yang mengganggu nama baiknya. ‘Mengganggu nama baiknya … seharusnya sejak dia bilang itu, aku sadar dia tidak serius dengan hubungan kami,’ batin Diva dengan senyum pahit di bibir. “Eh, eh! Cek grup sekarang!” Salah seorang teman kantor mendadak berseru keras. “Sore nanti habis balik kerja, Pak Nico ngundang kita makan-makan! Katanya mau kenalin kita ke istrinya! Lumayan nih makan enak di resto kelas atas.” Diva yang penasaran langsung mengecek handphonenya. Benar saja, nanti akan ada acara yang sengaja dibuat oleh Nico di Restoran Ocean Sky. “Gila, hari pertama balik dari bulan madu, langsung traktiran aja nih, Pak Bos!” ucap Intan sambil tertawa senang. Dia menatap ke arah Diva. “Kamu ikut ‘kan, Div?” Ditanya begitu, Diva memaksakan sebuah senyum selagi menjawab, “Aku kayaknya gak ikutan deh, soalnya masih ada–” “Ih, jangan ansos!” sahut Intan cepat. “Kamu tuh sering banget nolak ikut acara kantor! Lagian ya, jarang-jarang Pak Nico traktir kita, tahu? Dia itu kan ... pelit.” Intan tertawa setelah mengatakannya. Nah, ternyata bukan cuma Diva saja yang berpikir Nico dan keluarganya itu pelit. Akan tetapi, pun diiming-imingi makan gratis, Diva merasa enggan hadir di pesta itu. Bukan hanya malas bertemu mantan, tapi bisa-bisa kalau ketemu Nadya, wanita itu malah akan cari masalah dengannya. Nggak cuma itu, kalau nanti orang-orang tiba-tiba tahu fakta orang yang mengacaukan pesta pernikahan Nico dan Nadya adalah Diva, mau ditaruh mana mukanya!? Bisa jadi bahan ghibah di kantor dia. Bakalan toxic abis lingkungan kerjanya nanti. “Pak Nico ada undang beberapa klien penting, Div. Makanannya pasti enak!” Intan lanjut membujuk. Mendengar hal itu, Diva termenung. ‘Klien penting?’ ulangnya dalam hati. Kalau memang Nico mengundang klien penting, seharusnya dia akan memeringati Nadya untuk tidak macam-macam dan membuat ulah. Kalau ketahuan Nico sempat memacari Diva, orang yang berasal dari kelas menengah, bisa malu juga dia. “Udah! Jangan kebanyakan mikir! Entar pulang aku anter juga deh, ‘kan rumah kita searah!” seru Intan, sama sekali tidak tahu bahwa alasan Diva ragu adalah karena hubungannya dengan Nico dan Nadya. Setelah berpikir matang dan terus dibujuk Intan, akhirnya Diva pun menyerah. “Oke, oke. Aku ikut,” jawabnya sambil tersenyum tak berdaya. Dalam hati, dia membatin, ‘Seharusnya, nggak akan terjadi apa-apa, ‘kan? Cuma makan biasa aja ….’ ** Saat waktu pulang kerja pun tiba, semua orang langsung berbondong-bondong pergi ke restoran Ocean Sky, tempat Nico mengadakan acara. Ruangan restoran yang disewa sangat besar, cukup untuk menampung banyaknya karyawan yang ikut ke acara ini. Hiasan antik dan suasana megah membuat keseluruhan acara terkesan mewah dan berkelas. Sesuatu yang sangat jarang Nico sediakan mengingat sifatnya yang pelit. ‘Sepertinya, sungguh akan ada klien penting yang hadir hari ini,’ batin Diva selagi mengunyah kudapan di pojok ruangan. Intan yang tadi meminta ditemani, tampak sedang sibuk berkeliling ke sana kemari untuk mengambil makanan dari buffet yang disediakan. “Kuharap kali ini kamu tidak mengacau.” Suara yang sangat familier itu membuat Diva membalikkan badan, menatap wanita berambut hitam panjang dengan gaun merah menyalanya yang seksi itu. Itu Nadya. Diva menghela napas malas, lalu membalas dengan santai, “Tenang saja, aku sudah ikhlas kamu mengambil barang bekasku.” Mendengar Diva merujuk pada Nico demikian, Nadya memasang wajah marah. “Kita lihat saja sampai kapan kamu bisa terus sombong seperti itu!” desisnya. Diva memutar bola matanya malas, lalu berbalik untuk menjauh dari wanita tersebut. Akan tetapi, belum ada satu langkah, suara gelas pecah memekakkan telinga. Dengan cepat Diva menoleh, menatap Nadya yang terjatuh dengan pecahan kaca di sekelilingnya. “Ah! Sakit sekali.” Dia menatap Diva. “Diva, kenapa kamu bersikap seperti ini!? Apa salahku padamu?!” Seruan lantang Nadya membuat setiap pasang mata di ruangan itu beralih pada Diva, menatapnya seakan dia adalah penjahat utama. Di sisi lain, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. “Nadya!” Itu adalah Nico. “Nico!” panggil Nadya saat sang suami berusaha membantunya berdiri. Melihat sang istri yang tidak berdaya, juga air mata yang menggenang di pelupuk mata Nadya, hati Nico membara. Dia menatap Diva penuh amarah. “Diva, apa yang kamu lakukan pada istri saya!?” “Tadi saya lihat Diva mendorong istri Bapak!” seru seorang wanita berambut pendek yang berdiri tidak jauh dari sana. Itu adalah Mira, atasan langsung Diva yang tidak suka dengan kinerja baiknya. Mendengar tudingan yang diarahkan padanya, Diva pun memasang wajah buruk. Ternyata, ini adalah balasan Nadya atas tindakan Diva mengacaukan pernikahannya. Tangan Diva mengepal. ‘Dia … sengaja menjadikanku tokoh antagonis acara ini?’ Bab 8. Kemunculan Elvan Melihat perkara Diva dan Nadya, seisi ruangan langsung heboh. “Astaga, bukannya itu Diva dari departemen data analyst? Termasuk anak baru juga ‘kan dia?” “Iya! Berani banget dia bikin ulah! Sama istri bos pula!” “Fix, nggak lama lagi juga dia dipecat.” Komentar demi komentar berterbangan di seluruh penjuru ruangan, tapi tidak ada satu pun yang membela Diva. Semua hanya sibuk berspekulasi nasib buruk macam apa yang menimpanya lantaran yakin bahwa Diva yang salah, terlebih karena mengingat Nadya memiliki kedudukan lebih tinggi dari wanita itu. Menyadari betapa buruk situasinya, Diva berkata, “Istri Bapak jatuh sendiri, kenapa jadi menyalahkan saya?” Balasan itu membuat semua orang terperangah. Sudah salah, tapi tidak mau mengaku?! Pun dia tidak salah, beraninya wanita itu secara gamblang melawan si bos?! Dengan wajah marah, Nico membalas, “Mira jadi saksi kamu mendorong istri saya, dan kamu masih mengelak!?” Bentakan Nico membuat Diva agak tersentak. Satu tahun berpacaran, walau tidak pernah seromantis itu, tapi pria tersebut tidak pernah bersikap kasar padanya. Sekarang, Nico malah membentaknya dan mempermalukannya di depan semua orang. Haah … pria yang mudah dimanipulasi seperti ini, kenapa Diva bisa suka padanya dulu? “Sayang, jangan marah-marah. Tidak enak sama semua tamu,” ucap Nadya sembari tersenyum pahit, seperti berusaha menahan tangis. Melihat hal itu, Nico berkata dengan lembut, “Sayang, lengan kamu berdarah. Mana bisa aku diam saja kalau tahu penjahatnya siapa!” Pria itu melemparkan pandangan mematikan kepada Diva. Alis Diva tertaut. “Saya tidak bersalah! Kalau ingin menyalahkan seseorang, salahkan istri Anda tidak berhati-hati!” “Sudah sejauh ini, kamu masih ingin berbohong?!” tukas Nico. “Memang benar kata ibuku, ‘kelas’ bisa menunjukkan perangai seseorang! Dan kamu! Hanya wanita kelas rendah!” Wajah Diva langsung pucat mendengar hal itu. Hatinya sakit, dan matanya agak berkaca-kaca, benar-benar bukan Nico yang selama ini dia kenal. “Cepat panggil keamanan!” Nico berkata dengan kilatan kemarahan. Tidak lama, petugas keamanan pun datang. “Hadir, Pak!” “Seret wanita ini keluar!” titah Nico dengan keji. Melirik Diva, petugas keamanan langsung menjulurkan tangan untuk mencekalnya. Akan tetapi, tepat sebelum tangan petugas keamanan menyentuh Diva, sebuah tangan lain langsung menghentikannya! “Sekali kamu menyentuhnya, maka jangan salahkan aku mematahkan tanganmu!” Terkejut, semua orang pun menoleh ke arah pemilik suara, mencari tahu siapa yang berani menghadang petugas keamanan yang diperintahkan Nico. Namun, begitu melihat sosok yang membelanya, Diva langsung terperangah. “Elvan ….” *Beberapa saat sebelumnya* Di lorong kantor Tekno in Tower, terlihat seorang pria bertubuh tegap dengan jas hitam dan kemeja putih membalut tubuhnya, tengah berjalan beriringan dengan sekretaris pribadinya. Semua orang yang dia lewati membungkuk hormat, menunjukkan posisinya yang tinggi dan dihormati. “Pak Elvan, nanti sore kita masih ada acara untuk menghadiri undangan pesta perayaan Nico Mahardika, apa Bapak akan hadir?” tanya Dania, sekretaris Elvan, saat mereka berjalan masuk ke ruang kerja pria itu usai sebuah meeting. “Nico Mahardika?” Elvan mengerutkan keningnya. “Siapa?“ “Dari aplikasi ‘Keranjangku’, Pak,’ jelas Dania lagi. “Seingatku kita tidak ada hubungan dengan ‘Keranjangku’,” balas Elvan lagi, paling tidak suka menghadiri acara ramai semacam itu. “Ini … sebenarnya Tuan Hartono yang meminta Bapak untuk menghadirinya, menggantikan Beliau yang ada urusan penting dengan Nyonya Radiah,” jelasnya lagi. Mendengar itu, Elvan menghela napas kasar. Dia baru ingat tentang pesan sang kakek yang mengharuskannya datang ke sebuah pesta. “Oke, kirimkan saja alamatnya beserta detail acara, saya akan pergi sendiri untuk malam ini.” “Baik, Pak.” Beberapa jam setelah itu, Elvan pun pergi menuju restoran tempat pesta diadakan, Ocean Sky. Dia sengaja sampai lima belas menit lebih lambat agar tidak perlu hadir lama dalam pesta. Melangkah masuk ke dalam ruang pesta, kehadiran Elvan langsung menarik perhatian banyak orang. “Bukankah itu Elvan Sabil Wongso? Cucu dari Hartono Wongso, pendiri Lux Tech Group!?” “Wah, dia tampan sekali! Persis artis!” Komentar-komentar itu terus bertebaran, tapi Elvan tidak menggubrisnya. Matanya tengah menyapu sekeliling untuk mencari sang ‘tuan rumah’ yang mengadakan pesta agar dia bisa mengucapkan selamat dan pergi sesegera mungkin. Namun, “misi” Elvan mendadak terhenti karena sebuah teriakan. “Ah! Sakit sekali. Diva, kenapa kamu bersikap seperti ini!? Apa salahku padamu?!” Mendengar nama ‘Diva’, kening Elvan langsung berkerut. Nama itu adalah nama yang beberapa waktu ini susah payah dia lupakan lantaran terus menghantui pikirannya. Kesal, pria itu menoleh ke arah sumber suara, lalu melihat seorang wanita yang terjatuh dan juga seorang wanita lain yang berdiri dengan wajah terkejut. Wajah wanita kedua itu adalah wajah yang sangat familier, wajah yang beberapa hari ini terus terbayang di benaknya. Diva! Elvan melihat bagaimana seorang pria berlari menghampiri wanita yang terjatuh di hadapan Diva. Dia mengenali pria tersebut sebagai Nico Mahadirka, pria yang mengadakan acara malam ini. “Nadya!” teriak Nico seraya membantu istrinya berdiri. Dia kemudian menatap Diva marah. “Diva, apa yang kamu lakukan pada istri saya!?” Bentakan yang diikuti dengan makian Nico kepada Diva langsung membuat seisi ruangan ricuh. Hal tersebut menyebabkan alis Elvan tertaut. Sebagai orang yang telah menyelidiki sejumlah hal perihal Diva, Elvan langsung paham bahwa Nico adalah mantan kekasih yang menyelingkuhi Diva. Sedangkan Nadya, istri dari Nico, adalah sahabat baik yang mengkhianati Diva. Namun, walau Elvan tahu mengenai semua hal ini, apa urusan permasalahan tersebut dengannya? Tidak ingin ikut campur dalam masalah, Elvan pun hanya melipat kedua tangannya dan mendengar perdebatan panas Diva dan Nico. “Saya tidak bersalah! Kalau ingin menyalahkan seseorang, salahkan istri Anda tidak berhati-hati!” teriak Diva dengan wajah diselimuti keyakinan. “Sudah sejauh ini, kamu masih ingin berbohong?!” tukas Nico. “Memang benar kata ibuku, ‘kelas’ bisa menunjukkan perangai seseorang! Dan kamu! Hanya wanita kelas rendah!” Mendengar kalimat terakhir Nico yang membuat wajah Diva berubah diselimuti ekspresi terluka, pelipis Elvan berkedut. Hatinya terasa panas dan tangannya tanpa sadar mengepal. “Cepat panggil keamanan!” seru Nico yang kemudian mendatangkan dua petugas keamanan. “Seret wanita ini keluar!” titah Nico dengan keji. Melihat tangan kasar petugas keamanan terjulur ke arah Diva, tubuh Elvan bergerak sendiri untuk mencengkeram lengan petugas keamanan tersebut. Hal tersebut membuat Nico terkejut dan menatap Elvan dengan wajah terkejut, langsung mengenali identitas pria tersebut. “T-Tuan Elvan? Anda–” Wajah Elvan tampak buruk dan diselimuti amarah mendalam. Dengan aura membunuh yang kental, pria itu berkata dengan suara dalam berbahaya, “Sekali kamu menyentuhnya, maka jangan salahkan aku mematahkan tanganmu!”