Hamil Anak Ular

Đang tải thông tin quảng bá...

Hamil Anak Ular

GoodNovel Hoàn thành
BeraniCinta segitigaSilumanMisteriDunia SihirFantasi

Anjani, ketua komunitas hewan melata ini dinyatakan hamil 13 minggu oleh Dokter, padahal ia belum pernah melakukan hubungan badan dengan pria mana pun. Sang ayah tiri mengatakan ia hamil anak ular ...

Chương (1)

第1章

Bab 1 : Diagnosa Hamil Hamil Anak Ular Bab 1 : Diagnosa Hamil "Anda positif hamil 13 minggu," ucap seorang dokter kepada wanita bergaya tomboy, ketua komunitas pecinta hewan melata itu. "Apa, Dok?!" Mata Anjani melotot sembari menggelengkan kepala, ia tertawa. "Gak mungkin, Dok! Jangan coba-coba memberi analisa palsu," sambungnya dengan tampang kesal. "Liat itu di layar monitor, ini kantong kehamilan anda walau janinnya belum jelas terbentuk." Dokter muda itu menunjuk monitor di samping Anjani berbaring. Anjani segera bangkit dari tempat tidur dengan sambil membenarkan bajunya setelah melakukan USG karena keluhan penyakitnya yang ia duga hanya asam lambung saja. Anjani duduk di hadapan sang dokter kandungan, wajahnya masam. Ia tak mempercayai sama sekali diagnosa itu. Ia jengkel karena awalnya ia hanya ingin berobat ke dokter umum saja, tapi dari dokter umum malah dirujuk ke poli kandungan. "Dok, bagaimana bisa anda mendiagnosa saya hamil sedang saya belum punya suami, dan belum pernah melakukan hubungan badan dengan siapa pun?" Anjani menatap tajam sang dokter wanita. "Kalau kamu tak yakin dan meragukan diagnosa saya, silakan periksa ke dokter lain." Dokter itu tersenyum sambil menyodorkan surat hasil pemeriksaan. Anjani menghembuskan napas jengkel, lalu menerima amplop hasil pemeriksaannya. Tanpa mengucapkan terima kasih ataupun tersenyum, wanita dengan setelan jaket dan celana hitam itu keluar dari ruangan sang dokter. ******* "Sial!" umpat Anjani kesal sambil keluar dari mobil dan menutup pintunya keras-keras. Dengan wajah masam, Anjani melangkah masuk ke dalam rumah, dan tak menoleh saat berpapasan dengan sang ayah tiri di depan pintu. "Emaknya ular kenapa datang-datang malah manyun gitu?" sapa ayah tirinya sambil berlalu. "Berisik!" jawab Anjani ketus. Sang ayah tiri hanya tersenyum kecut, lalu keluar dari rumah dan menuju mobil. Hubungannya dengan sang anak tiri memang tak terlalu baik. Anjani menaiki anak tangga lalu menuju lantai atas rumah yang memang sudah menjadi wilayah kekuasaannya. Deretan hewan peliharaannya menghiasi seisi ruangan, Anjani pecinta hewan melata jenis ular. Ada bermacam jenis yang ia koleksi di rumahnya lantai atas ini. Ada yang dikandang dan ada juga yang dibiarkan merayap bebas seperti jenis sanca bodo. Saat memasuki kamar, ular piton sepanjang 4,5 meter melingkar di tempat tidurnya. Anjani memberinya nama Chiko, setiap malam ia akan tidur bersamanya. ******* Seminggu berlalu sejak dokter memvonis hamil pada Anjani, ia masih tak mempercayai hal itu, namun belum sempat juga untuk memeriksakan ke dokter lain. "Jani, apa ini? Kamu hamil?!" sambut sang mama saat Anjani baru saja masuk ke rumah. Anjani menatap tajam sang mama, melihat kertas hasil pemeriksaan miliknya tempo hari bisa berada di tangan sang mama. "Sini kamu, jelaskan semuanya kepada mama!" Wanita setengah baya yang masih terlihat muda itu menarik putri tunggalnya untuk duduk di ruang tengah. "Surat itu gak benar, Ma! Pasti ada kesalahan, Jani gak mungkin hamil," jawab Anjani dengan tampang kesal. "Gak mungkin salah, Jani! Ini dari Dokter di rumah sakit. Bilang sama, siapa ayah dari janinmu itu!" bentak sang mama geram. "Jani gak hamil, Ma!" bantah Anjani dengan nada tinggi pula. Mendengar suara keributan di dari ruang tengah, Lucky menghampiri istri dan anak tirinya yang sedang bersitegang dengan mata sama-sama melotot. "Hey, ada apa ini?" tanya Lucky sambil duduk di samping sang istri dan meraih kertas di atas meja. "Anjani, jangan coba mengelak lagi! Sebaiknya beri tahu siapa laki-laki yang telah menghamilimu itu! Biar kita bisa meminta pertanggungjawaban. Jangan bikin malu, hamil tanpa suami begini!" Sang mama memukul meja dengan keras. "Gak ada, Ma! Jani gak hamil dengan siapa pun!" Anjani bangkit dari sopa. "Hmmm ... mungkin Anjani hamil dengan ular peliharaannya, Sayang," ujar Lucky dengan senyum sinis sambil menghadap istrinya. Endah, mamanya Anjani tertegun, dahinya berkerut mendengar ucapan dari suaminya yang ganteng itu. "Bodo!" ketus Anjani sambil melirik ayah tirinya dan berlari menuju anak tangga. "Makanya Jani, jangan main sama ular terus! Udah hamil begini, mau minta pertanggungjawaban dengan siapa?!" Jerit Endah dengan kesal. "Kamu pasti dihamil Chiko si ular piton yang kamu keloni setiap malam itu! ****** Anjani naik ke lantai atas tanpa memperdulikan ocehan sang mama. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar, menatap Chiko yang sedang merayap dari tempat tidur turun ke lantai. "Masa iya Chiko yang menghamiliku? Agghh ... Ini bukan cerita legenda ular putih, omong kosong saja! Aku malah curiga dengan si Lucky, jangan-jangan dia yang sudah memperkosaku saat tidur!" Anjani membatin. Bersambung .... Bab 2 : Tak Percaya Hamil Anak Ular Bab 2 : Tak Percaya Dengan menghembuskan napas kesal, Anjani duduk di kursi goyang yang sengaja ia letakkan di tengah-tengah ruangan, karena di sekelilingnya penuh dengan kandang ular dengan beraneka jenis ragam. Dipandanginya aneka jenis ular koleksian yang bisa membuat hati senang jika mengamati gerakan bergeliutan hewan melata itu. Pintu kamarnya terlihat terbuka, keluarlah si ular piton yang ia beri nama Chiko. Hewan kesayangannya itu mulai merayap dan mendekatinya, lalu melengkor naik ke atas pangkuan. Ceril si sanca bodo berwarna kuning pun tak mau kalah saing, ia yang sedari tadi melengkor di karpet bulu depan televisi merayap mendekat ke arah Anjani juga. “Ceril, Chiko, aku lagi pusing sekarang. Gimana bisa mama mendapatkan surat keterangan dari dokter itu? Ahgg!!!“ Anjani menggaruk rambut sebahunya. “Sial!” gumamnya lagi sambil memegangi perutnya yang memang terlihat makin berisi dari biasanya. “Chiko, turun dulu sana! Aku mau ke kamar,” perintah Anjani pada ular piton berwarna hitam yang ia rawat dari kecil itu. Chiko seolah mengerti ucapan sang majikan, ia langsung merayap turun dari pangkuan Anjani lalu mengikuti gadis yang suka berpakaian serba hitam itu masuk ke dalam kamar. ****** Malam ini, Anjani tak bisa memejamkan mata dengan tenang, tangannya masih mengusap perut. Besok pagi ia akan berencana ke rumah sakit lainnya untuk memeriksakan diri dan membuktikan kalau dirinya tidak sedang hamil. Chiko yang melengkor di samping Anjani merayap di kepalanya lalu naik ke dadanya. Ia tersenyum lalu memeluknya, ia tak memerlukan selimut lagi, si ular piton selalu membuatnya hangat dengan melilitnya seperti ini. Anjani mulai memejamkan mata sambil memeluk Chiko seperti biasanya. Ia merasakan kenyamanan saat bersamanya mesti si ular piton hanya peliharaan saja, ia sudah menganggap Chiko sebagai teman. Diciumnya kulit hitam itu dengan penuh kasih sayang, sembari mengelusnya hewan bersisik itu. ******* Pagi ini, sebelum berangkat ke kampus, seperti biasanya Anjani memberi makan para ular peliharaannya. Chiko dan Ceril sudah menunggu di kandang belakang, ia langsung memberikan masing-masing satu ekor ayam kepadanya sebagai jatah makan seminggu sekali. “Oke, gaes, aku berangkat dulu,” gumam Anjani sambil menyunggingkan senyum, lalu melangkah menuju anak tangga. “Sarapan dulu, Non!” ujar Bi Siti, asisten rumah tangganya. “Mama sama Om Lucky ada di meja makan, Bik?” tanya Anjani malas. “Iya, Non. Sarapan requestan dari Non Jani udah Bibik masakan. Ayo, Non!” Anjani menelan ludah, pagi ini ia meminta dimasakan cumi balado. Akan tetapi, ia jadi malas jika harus sarapan bersama sang mama yang sedang dilanda puber kedua dengan suami barunya yang alay itu. “Bik, masukin kotak makan sajalah! Anjani tunggu di sini, malas gabung ke sana!” ujar Anjani kecut sambil berlalu ke ruang tengah sembari menyambar remot televisi. “Baik, Non,” jawab Bik Siti, ia tahu kalau hubungan Anjani dan mamanya tak baik semenjak sang mama menikah lagi tiga tahun yang lalu. Beberapa saat kemudian, Bik Siti telah kembali dari dapur dengan membawa kotak makanan untuk Anjani. “Jani, mau ke mana kamu?” tanya Endah sambil bergandengan mesra dengan Lucky, si ayah tiri. “Kampus, Ma,” jawab Anjani sambil memasukkan kotak makannya ke dalam tas. “Hey, gimana masalah kehamilanmu ini?” Endah mendekati putri tunggalnya itu dengan wajah jengkel, matanya menelisik perut Jani yang memang terlihat agak berisi dari biasanya. “Jani gak hamil, Ma! Balik dari kampus mau ke dokter kandungan yang lain, biar jelas hasilnya,” jawab Anjani sambil ngeloyor menuju ruang tamu untuk sampai di pintu depan. Lucky mendekati istrinya, lalu berkata, “Lihatkan saja dulu, Sayang. Semoga dugaan kita tidak benar, Jani nggak hamil. Kasihan kamu pasti malu kalau Anjani benaran hamil anak ular.” “Iya, Mas, semoga saja hasil pemeriksaan itu benaran salah.” Endah semakin mengeratkan gandengan tangannya kepada sang suami yang umurnya terpaut sepuluh tahun darinya itu. ****** Setelah mengantar tugasnya ke kampus, Anjani langsung menuju rumah sakit untuk kembali memeriksakan dirinya. Ia tak terima dirinya yang masih perawan malah diagnosa hamil 3 bulan. Apalagi mamanya sudah tahu akan hal ini. Anjani masuk ke ruangan poli kandungan, ia berharap pemeriksaan kali ini benar adanya dan tak salah seperti kemarin. “Sudah telat berapa minggu, Mbak?” tanya sang perawat kepada Anjani. “Gak ada telat, Sus, haid lancar tiap bulan dan saya masih perawan tapi kemarin malah diagnosa hamil tiga bulan sama rumah sakit xxx,” ujar Anjani dengan kesal. “Oh, kalau begitu ... langsung ke Dokter Gio saja!” jawab sang perawat. Anjani berpindah tempat duduk, dari kursi di depan perawat ke hadapan dokter muda berkaca mata dengan senyum yang lumayan manis, sehingga membuatnya menelan ludah. “Ayo, Mbak, langsung ke tempat tidur periksa saja! Suster, tolong dibantu!” ujar sang dokter. Sang perawat langsung menghampiri Anjani dan menyuruhnya berbaring, lalu menaikan baju kaos oblong itu dan menyemprotkan gel ke perut gadis tomboy itu. Dokter Gio sudah menyiapkan alat transduser dan langsung menekannya ke perut Anjani. Matanya yang sipit semakin menyipit saja saat mengamati monitor di hadapannya. “Gimana, Dokter, saya benaran hamil?” tanya Anjani tak sabar. “Iya, Mbak, kamu hamil 13 minggu. Cuma ... janin kamu ini agak aneh, diusia kandungan tiga bulan ini belum terlihat jelas. Sepertinya ada banyak, mungkin kembar lebih dari dua,” ujar sang dokter sembari mengamati layar monitor sebab ini kasus pertama yang membuat dahinya berkerut. Anjani menarik napas frustasi, ternyata dirinya benaran hamil dan yang lebih membuatnya shock, janin di rahimnya lebih dari dua. “Dok, gimana saya bisa hamil? Saya ini masih perawan dan belum pernah melakukan hubungan badan dengan siapa pun?” tanya Anjani kesal sambil menepis tangan dokter lalu bangkit dari tempat tidur pemeriksaan. “Saya juga selalu haid tiap bulan, masa iya hamil?” sambungnya dengan kesal. Dokter dan perawat saling pandang, mereka juga bingung dengan kasus Anjani. Bersambung .... Bab 3 : Ngidam Hamil Anak Ular Bab 3 : Ngidam Anjani kembali ke rumah dengan kesal, hasil pemeriksaan yang kedua ini semakin membuat kepalanya berdenyut. Sudah dua dokter yang menyatakan dirinya hamil. Sang mama pasti akan mengamuk lagi kalau tahu hasil pemeriksaan keduanya sama dengan hasil yang pertama. Dengan wajah ditekuk, Anjani duduk di teras atas sambil menatap aneka peliharaannya juga. Ada beberapa jenis ular Sanca, seperti sanca kembang, sanca bola dan sanca hijau. Semua ular yang ia perlihara mempunyai nama panggilan sendiri. Akan tetapi hanya ular pyton yang ia beri nama Chiko dan sanca bodo yang bernama Ceril yang ia bebaskan berkeliaran di rumah. Tiba-tiba, Anjani merasakan perutnya mual seperti ingin muntah. Ia langsung berlari masuk ke kamar mandi dan mengeluarkan kembali apa yang sudah dimakannya di kampus tadi, cumi balado tanpa nasi. “Wueekk!!!” Anjani menatap geli makanan sisa muntah yang berserakan di wastafel. Dengan perut yang terasa diaduk-aduk, ia naik ke atas tempat tidur dan merebahkan diri. Penyakit asam lambungnya kembali kumat, begitulah pikir gadis tombiy itu karena ia sering terlambat makan. ******* “Jani!!!” Terdengar bunyi ketukan dari depan pintu kamar. Dengan malas, Anjani membuka pintu kamar dan mendapati dua temannya Rully dan Radji sedang bermain bersama ular-ularnya. “Jan, kita dah nungguin kamu satu jam-an di taman, kok gak datang-datang juga sih?” Rully menghampiri Anjani. “Iya nih, mana chat dan telepon diangguri. Kamu kenapa sih, sakit? Tampangnya kusut gitu?” Radji duduk di samping Anjani. “Pulang dari kampus ketiduran. Aku mandi dulu, kalian tunggu di sini!” ujar Anjani sambil masuk kembali ke kamarnya. Anjani meraih handuk lalu membuka pakaiannya, Chiko terlihat mengamati aktifitas majikannya itu. Ia jarang keluar dari kamar, lebih senang melengkor di kasur sepanjang hari. Beberapa menit kemudian, Anjani sudah keluar dari kamar dengan menggendong Chiko di pundaknya, lalu mengopernya kepada Rully. Ketiganya menuruni anak tangga dan menuju mobil Rully, mereka akan menuju taman dengan membawa hewan peliharaan masing-masing. Tapi, ular milik Anjanilah yang paling banyak dan beraneka jenis. Maka dengan itu, dia dijadikan ketua dari komunitas pecinta hewan melata itu. Sesampainya di taman kota, tujuh orang teman komunitas Anjani sudah menunggu. Diantara sepuluh orang itu, hanya terdapat dua orang cewek saja, delapan orangnya laki-laki. “Hey, akhirnya datang juga. Kirain gak datang!” sapa teman-temannya sambil menyatukan tangan. “Sorry aku telat, ketiduran.” Anjani langsung bergabung dengan teman-temannya sembari menurunkan Chiko dari pundaknya. Begitulah rutinitas Anjani bersama teman-teman komunitasnya, setiap sore sabtu dan minggu, mereka akan berkumpul di taman kota dengan membawa hewan peliharaan masing-masing. “Radji, beliin aku rujak di depan sana!” perintah Anjani kepada Radji sambil menyodorkan uang dua puluh ribu, ia jdi ingin makan yang asam-asam dan saat membayangkan rujak, air liur serasa masu menetes saja. Radji, si cowok berwajah India itu menurut saja. Ia memang sering disuruh Anjani ke mana-mana dan tak pernah berani menolak. Beberapa saat kemudian, Anjani sudah menikmati rujak buah itu dengan nikmatnya. Radji dan Rully hanya saling pandang, karena baru kali ini teman mereka yang tomboy itu makan yang asam-asam, biasanya dia paling anti dengan makanan masam. “Hamil kamu, Jan! Makan rujak kok sampai segitunya!” ejek Rully sambil cengengesan. “Hamil ama Chiko tuh!” timpal Radji. Mendengar ocehan dua temannya itu, Anjani berhenti menyucupi jari-jarinya dan meletakkan bungkusan rujak dari tangannya. Keringat dingin membasahi dahi, ia tersinggung dan takut ocehan temannya itu menjadi kenyataan. “Woy, Jan, marah kamu! Kita Cuma bercanda,” ujar Rully tak enak hati melihat raut wajah Anjani yang berubah masam. “Iya, Jan, kami Cuma bercanda.” Radji mendekat ke arah Anjani. “Udah ah, siapa juga yang marah? Nggaklah. Ji, belikan aku es tebu di depan sana!” Anjani meluruskan kakinya. Anjani berusaha bersikap santai, tak ada yang boleh tahu tentang diagnos dua dokter yang telah menyatakan dirinya hamil. Besok ia mendatangi rumah sakit lainnya, sebab ia yakin sekali kalau dirinya tak mungkin hamil. ****** “Jani, dari mana lagi kamu udah malam begini baru pulang?” sambut Endah, mamanya Anjani saat putri tunggalnya itu memasuki rumah dengan Chiko melongkor di pundaknya. “Biasalah, Ma, abis kumpul ama geng komunitas,” jawab Anjani sambil melewati sang mama yang kini berkacak pinggang melototinya. “Sini dulu!” Endah menarik ujung jaket. “Apaan sih, Ma?” Anjani melengos sambil menurunkan Chiko dari pundaknya dan mengarahkan hewan melata itu ke arah sang mama. “Jani, jauhkan Chiko! Mama geli,” teriak Endah histeris melihat buntut Chiko mengenai wajahnya. Anjani menahan tawa. Ia memang sengaja mendekatkan Chiko ke arah sang mama sebab ia tahu, kalau mamanya memang penakut dengan ular. “Aghhh ... Jani, jauhkan Chiko!” jerit Endah lagi, saat Anjani sengaja mengalungkan Chiko ke leher sang mama. Mendengar jeritan sang istri, Lucky langsung berlari ke ruang tamu dan menarik istrinya menjauh lalu menurunkan Chiko dari leher istrinya. Sedang Anjani, ia tertawa puas melihat sang mama ketakutan. “Jani, mama sudah menemukan hasil pemeriksaan keduamu ya. Siap-siap saja, mama akan ngawinin kamu sama Chiko!” teriak Endah kesal melihat Anjani yang sudah berlari menaiki anak tangga dengan membawa hewan peliharannya itu. Bersambung ..... Bab 4 : Rencana Sang Mama Hamil Anak Ular Bab 4 : Rencana Sang Mama Dengan puas, Anjani tertawa di kamarnya. Ia senang bisa menakuti mamanya itu, tapi sayang ... Lucky si ayah tirinya itu gak takut sama ular. Akhirnya ia bisa terbebas dari omelan Endah Pratiwi, begitulah nama wanita yang sudah melahirkannya 25 tahun silam. Anjani membuka pakaiannya dan menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia memang terlihat agak gendut sekarang, perut saja terlihat semakin berisi. Diusapnya perut itu, ia jadi bimbang jika benaran hamil tanpa suami. “Masa iya aku benaran hamil sih?” Anjani tertegun. “Ah, nggak mungkin, gak ada sejarahnya hamil tanpa melakukann hubungan badan itu. Ini sangat tida masuk diakal. Apa sebaiknya besok aku minta dites perawan saja ya?” Ia membatin. Anjani menghembuskan napas berat lalu melangkah menuju lemari pakaiannya, dan memakai piama untuk tidur. Diarihnya ponsel dan melihat ada beberapa pesan dari mamanya. [Anjani, turun ke bawah sekarang! Mama mau bicara hal penting sama kamu.] [Anjani, cepat! Mama tunggu!] [Kalau kamu tak turun sekarang, nama kamu mama coret dari daftar warisan!] Anjani berdecak kesal, lagi-lagi sang mama mengancamnya dengan dalih warisan. Dengan kesal, ia keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Di ruang tengah, sang mama telah menunggu dengan sang ayah tiri di sampingnya. Mereka terlihat sedang bermesraan. “Cih, bisa-bisanya mereka berciuman di ruang tengah begini!” umpat Anjani kesal sambil duduk di sopa ruang tengah. “Hmmm .... “ Anjani berdehem nyaring. Lucky menarik wajahnya dari hadapan Endah, keduanya terlihat santai melakukan hal mesum itu di tengah rumah. “Ada apa, Ma? Apa minta ditonton adegan mesumnya apa? Dibikin vidoe saja sekalian, masukin youtube,” cibir Anjani dengan melipat kedua tangannya di dada. “Eh, kamu ini! Udah halal mah bebas mau melakukan mesum di mana dan kapan saja,” jawab Endah sambil membenarkan lingery sexinya. “Betul, Sayang, dari pada mesum sama ular ... ‘kan bikin susah sendiri. Jadi deh ... hamil anak ular!” timpal Lucky dengan senyum mengejek. “Woy, jaga mulutmu,Benalu!” Anjani melempar remot televisi dan tepat mengenai jidat Lucky. “Aggghhh!!!” Lucky meringis sambil memegangi jidatnya yang benjol. “Jani, jaga tingkah lakumu! Lucky ini papa tirimu!” jerit Endah kesal. “Makanya ... punya mulut itu disekolahin, punya suami gak berpendidikan gitu deh ... asal comot saja! Cih!” cibir Anjani saling tatap penuh kebencian dengan ayah tirinya itu. Endah menghela napas panjang, ia bukan kali pertama suami dan anaknya itu terlibat baku hantam. Mereka memang selalu berselisih, entah apa penyebabnya ia juga tak tahu sampai detik ini. “Mas, kamu tunggu aku di kamar saja!” ujar Endah kepada suaminya. Dengan sambil melengos, Lucky meninggalkan Endah dan Anjani. Ia seikit menyesal dengan ucapannya tadi, kini ia malah disuruh masuk kamar jadi tak bisa mengompori istrinya itu lagi. Di ruang tengah, Endah memegang dua surat hasil pemeriksaan dari dokter milik Anjani. Ia harus mendapatkan penjelasan juga solusi dari masalah ini. “Anjani, jadi gimana ini? Dua dokter telah menyatakan kamu hamil. Apa kamu masih mau mengelak juga sekarang?” Endah menatap tajam putri tunggalnya itu. “Besok Anjani mau test keperawaan, soalnya Jani memang belum pernah melakukan hubungan dengan siapa pun. Gimana bisa hamil, coba?” Anjani menatap sang mama. “Coba kamu ingat-ingat dulu, soalnya teman-teman kamu itu rata-rata pria. Bisa jdi kamu melakukan itu dalam keadaan tak sadar.” Endah berusaha bersikap lembut walau emosinya sedang meluap-luap sekarang. “Nggak ada, Ma. Walau teman Jani di komunitas kebanyakan pria tapi tak pernah bersikap di luar kewajaran. Kami hanya sesama pecinta ular dan tak memiliki hubungan lebih dari itu. Mereka semua menghormati Jani. Kalau Jani memang benaran hamil, suami mama yang perlu dicurigai, jangan-jangan dia memperkosa Jani saat tidur atau juga menggunakan obat bius." Anjani tersenyum sinis. "Jani, itu tidak mungkin! Jangan sangkut pautkan Lucky atas kehamilanmu ini!" Endah memukul meja dengan geram. "Soalnya Jani gak mungkin hamil dengan Chiko, dia cuma ular peliharaan. Berhentilah berprasangka buruk!" Anjani menatap sinis sang mama. "Oke, besok mama akan mendampingi kamu ke rumah sakit. Kalau memang hamil benaran, digugurkan saja. Mama malu punya anak hamil tanpa suami. Udah kuliah gak kelar-kelar, kini malah hamil tak genah. Kamu bisanya cuma buat susah orangtua saja," omel Endah lagi. Anjani melengos, ia setuju dengan rencana mamanya, ia juga gak mau hamil tanpa suami begini. "Oke, Ma, Jani ke kamar dulu!" Anjani bangkit dari duduknya lalu meninggalkan sang mama yang terlihat masih berpikir keras. Endah memijat kepalanya yang mendadak terasa sakit. Ia tak bisa membayangkan jika Anjani benaran hamil anak Lucky, suami barunya itu. Ia tak rela jika harus berbagi suami dengan putrinya sendiri. Bersambung .... Bab 5 : USG Lagi Hamil Anak Ular Bab 5 : USG lagi Hari ini, Anjani ditemani mamanya untuk periksa ke rumah sakit. Ia berharap hasil pemeriksaan di rumah sakit yang ketiga ini berbeda dari dua rumah sakit terdahulu. Endah sengaja memilih rumah sakit ini karena temannya dokter kandungan di sana, dan kalau putrinya memang benaran hamil, ia akan minta bantu untuk digugurkan saja. “Anjani benaran hamil, Ndah,” ujar Dokter Lia, teman Endah waktu jaman SMA dulu. “Masa sih, Li? Apa gak rusak itu alat USGnya?” tanya Endah sambil memijat kepalanya. “Janinnya benaran kembar gak, Tante Dokter? Kata Dokter Gio di rumah sakit xxx kembar lebih dari dua,” ujar Anjani sambil tertawa, ia mulai frustasi dengan kenyataan ini. “Hmm ... belum jelas sih, cuma kantong kehamilan saja yang tampak, janinnya belum terlalu jelas. Agak aneh juga sih, seharusnya janin berusia 13 minggu itu sudah mulai utuh terlihat. Ini kasus yang langka. USG di rumah sakit ini baru ada yang 3D, kalau di rumah sakit Dokter Gio sudah 4G, bisa jadi kalau dia bilang kembar soalnya di sini juga terlihat seperti ada beberapa serpihan.” Raut wajah Dokter Lia terlihat bingung. “Anjani mau minta tes keperawanan lagi deh, Tante Dokter,” ujar Anjani sambil membenarkan bajunya. Dokter Lia kembali mengerutkan dahi mendengar permintaan putri dari sahabatnya itu. “Periksa saja, Li! Soalnya Anjani merasa dirinya belum pernah melakukan hubungan dengan pria mana pun dan meyakini dirinya masih perawan,” ujar Endah. “Oke. Ayo, Jani, celanamu dilepas dulu, terus pakai kain ini!” ujar Dokter Lia sambil menuju mejanya dan memasang sarung tangan untuk memeriksa Anjani. “Suster, tolong siapkan alat spekulum!” sambung Dokter Lia kepada perawat yang membantunya di ruangan itu. Beberapa saat kemudian, Dokter Lia sudah bersiap melakukan tes keperawanan yang diminta Anjani. “Tetap berbaring Jani, kaki ditekuk dengan posisi mengangkang!” perintah Dokter Lia. Anjani mengikuti semua perintah sang dokter, ia sedikit meringis ngeri saat Dokter Lia mulai melakukan pemeriksaan. “Rileks, Jani, jangan tegang biar gak sakit!” ujar sang dokter lagi. Sepuluh menit kemudian, Anjani dan mamanya sudah duduk di hadapan Dokter Lia untuk mendengarkan hasil pemeriksaan keperawanan yang telah dilakukan tadi. “Gimana, Tante Dokter hasilnya?” tanya Anjani tak sabar. “Kamu sudah tak perawan lagi, Jani. Ini hal wajar soalnya kamu ‘kan juga sedang hamil saat ini. mustahil jika kamu masih perawan tapi bisa hamil,” ujar sang dokter. Anjani tertegun, pikirannya semakin kusut mengetahui kenyataan dirinya memang sudah tak perawan lagi. “Jani, kamu tak bisa mengelak lagi, kenyataannya kamu memang sudah tak perawan lagi. Coba ingat-ingat lagi, dengan siapa kamu melakukan hubungan itu?” Endah menghela napas panjang. “Gak pernah, Ma, Jani berani sumpah. Tapi gak tahu juga kalau kena bius seseorang, tak menutup kemungkinan,” jawab Anjani dengan membayangkan wajah bengis ayah tirinya, ia yakin kalau kehamilannya ini ulah dari Lucky yang memang tak suka dan mau membuat fitnah dengan menuduhnya hamil anak ular. “Anjani, jangan menuduh kalau tak ada bukti, ya!” Endah mengerti arti tatapan sengit putrinya itu. “Hey, kok malah ribut sih? Sebaiknya kalian selesaikan masalah ini di rumah saja, maaf ... bukannya mengusir, tapi aku masih ada pasien lain.” Dokter Lia menaikkan sebelah alisnya. “Hmmm ... Li, kamu bisa gak bantu Anjani untuk aborsi!” ujar Endah tiba-tiba. “Endah, jangan gila kamu! Masa cucu sendiri mau digugurin? Maaf ya, aku gak bisa,” ujar Dokter Lia dengan kesal. “Li, jangan gitulah! Anjani hamil gak tahu bapak anaknya, lebih baik diaborsi saja. Kamu bantu, ya! Nanti aku bayar mahal deh.” Endah masih berusaha merayu sahabatnya itu. “Gak bisa Endah! Sebaiknya cari tempat lain saja, ini bukan keahlianku. Sebaiknya kalian pikirkan dulu baik-baik masalah ini, aborsi sama juga dengan membunuh.” Dokter Lia bangkit dari kursinya dan menuju pintu. Endah mengerti kalau sahabatnya itu telah mengusirnya secara halus dengan membukakan pintu untuk mereka. Ia langsung menarik tangan Anjani untuk keluar dari ruangan itu. ******* Endah dan Anjani tak langsung pulang ke rumah, mereka mampir di Kafe untuk meredakan kepala yang memanas karena masalah ini juga untuk mencari jalan keluar terbaik. “Mama pernah baca novel yang judulnya ‘Klinik Aborsi karya deAndra’ dan sepertinya klinik itu benaran ada deh, nanti mama cari tahu lagi. Pokoknya janin itu harus digugurkan saja, mama gak sanggup menahan malu dan mendengar cibiran dari para tetangga.” Endah menyeruput jusnya. “Terserah mama aja deh, Anjani juga gak mau anak ini. Siapa bapaknya aja gak jelas, mana kuliah belum kelar,” jawab Anjani sambil mencomot kripik kentang di hadapannya. Endah melengos, ia sudah bertekad untuk membantu putrinya itu untuk aborsi soalnyadi juga gak siap kalau harus dipanggil nenek dalam usia masih semuda dirinya. ******* Keesokan harinya. Seperti biasa, setelah mengurus semua ular koleksiannya, Anjani berangkat ke kampus. Ia akan konsultasi masalah skripsinya yang sudah hampir dua tahun tak kelar-kelar juga. Ia sudah jemu diomeli sang mama karena kuliah gak selesai-selesai juga dan masalah semakin bertambah dengan kehamilannya ini. Hari ini urusannya lumayan lancar, bab yang ia ajukan langsung disetujui oleh dosen pembimbing. Dengan sambil bersiul-siul, Anjani menaiki anak tangga menuju lantai atas, arena kekuasaannya. Akan tetapi, dahinya langsung berkerut saat mendapati Lucky sang ayah tiri sedang bermain bersama Chiko. “Woy, ngapain di sini?” tanya Anjani sinis. “Hmm ... lagi main aja sama calon menantu biar lebih akrab.” Lucky pasang tampang sok manis. “Turun sana!” bentak Anjani kesal. “Ibu hamil gak boleh marah-marah terus, harus selalu tersenyum biar janinnya selalu sehat. Iya gak, Chiko? Cieee ... yang sebentar lagi jadi papa .... “ Lucky berbicara dengan si ular phyton. “Ngelantur aja terus! Sepertinya aku harus mengeluarkan si Rambo ini buat ngusir si benalu,” ujar Anjani sambil mendekat ke kandang Rambo, si ular Kobra. Mendengar ucapan Anjani, Lucky langsung melepaskan Chiko dari pangkuannya lalu beranjak mendekati anak tangga. Ia tahu, putri tirinya itu tak pernah main-main dengan ucapanya. Ia tak mau mati konyol di tangan si Rambo si ular kobra. Bersambung .... Bab 6 : Klinik Aborsi Hamil Anak Ular Bab 6 : Klinik Aborsi Dengan tampang kesal, Anjani masuk ke kamar dan membaringkan dirinya di samping Chiko. Hatinya sangat kesal mengetahui keperawanan yang ia jaga selama 25 tahun ini telah hilang tanpa ia sadari. “Ya Tuhan, tiga dokter mengatakan aku hamil dan keperawaanku juga sudah terbobol. Siapa pelakunya?” gumamnya kesal sambil mengelus ular pyton yang saat ini telah melingkarkan dirinya di tubuh Anjani. “Chiko, benarkah kamu ayah anakku ini?” tanya Anjani sambil mengelus kepala hewan bersisik motif batik hitam itu. Chiko mendekatkan wajahnya ke wajah Anjani dan menciumnya. Untuk sekilas, ia seperti melihat perubahan pada wajah hewan peliharaannya itu. “Agghhh ... masa iya Chiko jelmaan pangeran ular? Itu hanya cerita legenda, tak masuk akal sama sekali,” gumam Anjani lagi sambil menciumi wajah juga tubuh Chiko. Dipeluknya Chiko dan mulai memejamkan mata, dengan tangan memeluk hewan melata yang selalu memberikan kehangatan dengan cara membelit tubuhnya. ******* "Kata mama, hari ini ia sudah membuat jadwal dengan Dokter Mia sang pemilik ‘Klinik Aborsi’ by deAndra yang novelnya best seller kategory thailer di platform menulis Joylada. Ternyata klinik itu nyata adanya, begitu kata mama." Anjani membatin. “Jani, ayo!” panggil mama di dekat tangga, ia tak berani mendekat ke wilayah kekuasaanku yang penuh ular ini. “Iya, Ma, lima menit lagi Jani turun. Ini masih ngasilh makanan pelihaan dulu,” jawab Anjani sambil mengeluarkan tikus dan memasukkannya ke setiap kandang ular. Endah meringis ngeri dan langsung berlari turun ke bawah melihat adegan rantai makanan itu. Ia geli sendiri melihat tingkah Anjani yang tak pernah takut pada hewan apa pun. “Ckckckkk ... perasaan dulu waktu hamil Anjani, aku gak ada ngidam yang aneh0aneh deh. Kok dia bisa jadi pawang ular gitu deh .... “ guman Endah sambil mempercepat langkahnya. ‘Brug’ Endah bertabrakan dengan Lucky di ujung tangga. Suaminya yang ganteng itu langsung memeluknya dan mendaratkan beberapa ciuman di pipi sang istri. “Sayang, mau ke mana udah canti begini? bukannya katamu hari ini nggak ke kantor?” tanya Lucky sambil menggendong tubuh ramping Endah untuk duduk di ruang tamu bersamanya. “Aku mau nemani Anjani ke klinik aborsi,” jawab Endah sambil membelai pipi sang suami, dengan posisi duduk di pangkuan suaminya itu. “Hmm ... jadi mau digugurin?” Raut wajah Lucky berubah masam. “Iya, Sayang. Anjani juga setuju.” “Kenapa sih anak gak benar gitu masih aja diurusin, biarin ajalah!” Lucky merengut. “Sayang, kalau bukan aku yang ngurusin dia, siapa lagi? Aku juga gak mau para tetangga tahu kalau Jani hamil tanpa suami, aku tak siap menahan malu,” jawab Endah sambil turun dari pangkuan suami mudanya itu. “Itu ‘kan masalah yang dibikin ia sendiri, biarin ajalah. Biar dia tahu rasa, hoby kok main ular. Nah ... dihamili ular baru kelabakan,” ujar Lucky masih dengan tampang kesal. “Sayang, jangan gitu ah! Anjani anakmu juga, jangan terus bermusuhan dengannya! Bersikap baiklah padanya, agar ia bersikap baik padamu. Jangan terus membuat masalah dengannya, aku capek liatin kalian ribut kayak kucing dan anjing gitu.” Endah menghembuskan napas letih. “Ah, dia aja gak pernah bersikap baik denganku. Aku ayah tirinya, tapi sikapnya tak pernah hormat. Liat nih dahiku masih biru begini. Ya sudah, urusi saja anakmu itu, jangan perdulikan aku lagi!” Lucky merajuk sambil beranjak dari sopa lalu menuju pintu dan keluar. Endah lagi-lagi menarik napas bimbang. Sepertinya anak dan suaminya itu memang tak bisa didamaikan lagi. Keduanya sama-sama keras kepala dan mengaku paling benar. ******* Satu jam berlalu. Kini Endah dan Anjani sudah berada di klinik aborsi milik Dokter Mia. Keduanya langsung disambut baik dokter ahli aborsi itu. “Selamat pagi, silakan duduk! Ada yang bisa saya bantu,” sambut Dokter Mia ramah. Endah langsung menceritakan niatnya datang ke sini. Dokter Mia terssenyum dan langsung menyodorkan draf kelengkapan sebelum proses aborsi dilakukan. “Masalah harga saya gak masalah, saya setuju. Saya percayakan semuannya pada dokter, pokoknya janin yang tak diinginkan itu harus dikeluarkan!” ujar Endah dengan senyum sinis. Anjani yang duduk di samping sang mama, hanya mendengarkan saja. Ia oke-oke saja dan tak takut dengan proses mengerikan yang akan ia lalui sebentar lagi. Nyali dan mental gadis tomboy itu memang level tinggi, tak ada apa pun yang ia takuti di muka bumi ini. “Oke, baiklah. Anjani, silakan berbaring di tempat tidur periksa! Saya akan menyiapkan segala perlengkap dan memanggil asisten saya dulu.” Dokter Mia bangkit dari kursinya. Anjani melangkah menuju tempat tidur, lalu segera berbaring. Endah mengikuti putri tunggalnya itu. Ia sedikit bimbang, takut terjadi hal yang diinginkan kepada Anjani. Akan tetapi, aborsi ini tetap harus dilanjutkan, ia hanya bisa berdoa untuk kelancaran prosesnya. Lima belas menit kemudian, Dokter Mia sudah masuk kembali ke ruangan Anjani dengan membawa rekannya, Dokter Laras, sang fatner kerja dalam bisnis ilegal ini. “Bu Endah tunggu di ruang tunggu saja, ya!” ujar Dokter Mia. “Baik, semua saya percayakan kepada dokter. Jangan sampai terjadi apa pun pada putri saya! Semoga prosesnya lancar!” Endah mengusap dahi Anjani lalu pamit keluar. Anjani hanya menaikkan sebelah alis saat sang mama keluar dari ruangan itu. Ia sudah tak sabar mengeluarkan janin kembar lebih dari dua itu, yang menurut penuturan Dokter Gio. “Siap Anjani?” tanya Dokter Mia. Anjani mengacungkan jempolnya dan mengikuti arahan Dokter Laras untuk mengangkat kedua kaki dan menekuknya. “Tahan sakitnya, ya!” ujar Dokter Mia sambil menyingkap baju Anjani dan mulai memijat perutnya sambil menekankan alat tranduser kehamilan untuk melihat posisi janin itu. Rangkaian proses aborsi pun dimulai, Anjani hanya bisa meringis menahan sakit saat sebuah alat masuk ke rahimnya dan mengobok ke sana ke mari karena janin itu sungguh gesit dan sulit ditangkap oleh alat itu. Melihat proses yang lumayan susah dari biasanya itu, kedua dokter aborsi mulai kebingungan. Pendarahan hebat dialami Anjani hingga ia tak sadarkan diri. “Agghhh!!!” jerit Dokter Laras tiba-tiba jatuh ke lantai karena gigitan sesuatu di lengannya. “Dokter Laras!” seru Dokter Mia kaget. Dokter Laras kejang-kejang di lantai dengan mulut mengeluarkan busa. Dokter Mia panik, apalagi Anjani juga pingsan. Darah segar mengalir banyak sekali dari kemaluan gadis tomboy itu. Bersambung ..... Bab 7 : Gagal Hamil Anak Ular Bab 7 : Gagal Dengan panik, Dokter Mia memanggil beberapa perawat untuk membantu menolong rekannya si Dokter Laras yang saat ini kejang-kejang di lantai. Lalu kembali menangani Anjani yang masih tak sadarkan diri. Proses aborsi ditangguhkan dulu, sepertinya ia tak sanggup. Ini kasus teraneh yang pernah ia temui. Endah menatap heran beberapa perawat yang malah mendorong fatner sang dokter keluar dari ruangan tempat Anjani ditanganin. Ia mendekat ke ruangan putri tunggalnya itu, ia cemas dan takut terjadi hal buruk yang menimpa anaknya. “Eh, Bu Endah!” seru Dokter Mia ketika keluar dari ruangan. “Itu ... fatner Dokter Mia kenapa? Terus Anjani gimana?” tanya Endah dengan menatap tajam snag dokter aborsi yang wajahnya terlihta tegang dan pucat. “Hmmm ... ada kecelakaan kecil yang menimpa rekan saya,” jawab Dokter Mia gugup. “Ohhh ... terus Anjani gimana?” Endah membuka pintu ruangan itu. “Anjani pingsan, dia ... mengalami pendarahah .... “ Dokter Mia meremas jemarinya yang terasa dingin. Endah mendekat ke tempat tidur tempat putrinya terbaring, wajahnya pucat, bagian bawah sprei penuh darah. “Dokter Mia, janinnya udah gugur ‘kan walau Anjani pendarahan begini?” tanya Endah cemas melihat keadaan Anjani yang berantakan. “Maaf ... Bu Endah, janinnya belum berhasil untuk digugurkan. Akan saya coba lain waktu lagi.” Endah menghela napas berat. Ia jadi menyesal membawa Anjani ke sini, apalagi sudah berjam-jam, putrinya itu belum sadarkan diri juga. “Dokter Mia, saya minta Anjani dipindahkan ke rumah sakit xxx saja. Saya tak mau terjadi apa pun padanya, masalah aborsi ini kita pending dulu. Hmmm ... atau ... saya tak jadi aborsi di sini, begitu saja.” Endah menatap serius Dokter Mia yang saat ini duduk di depan mejanya. “Baik, Bu Endah, saya mohon maaf atas kejadian tak terduga ini. Kasus Anjani benar-benar aneh, saya baru kali ini menemukannya. Biasanya ... selalu lancar dan aman.” Raut wajah Dokter Mia masih terlihat tegang. “Iya, saya tahu. Dokter Mia memang sudah terkenal dalam bisnis ini. Ya sudah, saya mohon segera diurus kepindahan rawat putri saja ini. Dokter Mia mengangguk dan segera menelepon ambulans untuk membawa pasiennya yang gagal aborsi itu. ******* Beberapa jam kemudian, kini Anjani sudah terbaring di ruangan rumah sakit xxx. Ia baru sadar sepuluh menit yang lalu setelah Dokter Gio, dokter kandungan di sana yang menanganinya. “Gimana, Dokter, putri saya?” tanya Endah tak sabar. “Cuma pendarahan biasa, janinnya masih aman,” jawab Dokter Gio. Endah berdecak kesal mendengar janin itu masih bertahan di rahim Anjani, tapi ia lega mengetahui putrinyai itu baik-baik saja. “Dokter, apa janinnya gak kenapa-kenapa? Bukannya pendarahannya banyak banget?” tanya Endah lagi. “Nggak kenapa-kenapa, janin kembar yang belum terlihat secara jelas itu kayaknya baik-baik saja.” Dokter Gio menggaruk dahinya, ia memang melihat keanehan pada janin pasiennya itu. “Apa, Dokter, jadi janinnya kembar?” Endah melotot sambil mengelus dadanya. “Sepertinya ... seperti itu, Bu, saya melihat janin itu ada banyak. Pokoknya lebih dari dua dan kecil-kecil. Maohon maaf, kalau analisa saya salah.” Dokter Gio melepas kaca matanya. Endah tertegun, kepalanya semakin mumet saja mendengar calon cucunya ada banyak begitu. Ia tak bisa membayangkan memiliki banyak cucu, ah ... ia pasti akan stres. ****** “Eh, Mas, kamu ada di sini?” sapa Endah ketika memasuki ruangan rawat Anjani, dilihatnya Lucky sedang menatap Anjani yang sedang tertidur karena suntikan obat penenang agar bisa istirahat total. “Sayang, kamu dari mana saja?” Lucky menghampiri Endah lalu mencium kedua pipi kanan dan kirinya. “Dari ruangan dokter, Mas. Ayo kita duduk dulu!” Endah menarik suaminya duduk di sopa ruangan itu. Lucky membuka kancing jas hitamnya, lalu mengendorkan dasi di leher. Kemudian merangkul sang istri dan mencium bibirnya. “Sayang, gimana rapat di kantro tadi? Kamu bisa ‘kan menghendle semuanya?” tanya Endah kepada sang suami yang kini ia beri jabatan sebagai direktur di perusahaan peninggalan almarhum suaminya, papanya Anjani. “Bisa, Sayang. Semuanya lancar, tapi aku cukup kewalahan kalau kamu gak ada. Jangan sibuk mengurusi Anjani teruslah!” Wajah Lucky berubah masam jika membicarakan anak tirinya itu. “Mas, setelah kehamilan Anjani bisa gugur baru aku berhenti ngurusin dia. Ini demi nama baik keluarga kita juga.” Endah merebahkan kepalanya di dada Lucky. “Udahlah, biarin aja Anjani melahirkan anak ularnya biar peliharaan dia makin banyak lagi. Kamu gak usah repot-repot bantu dia aborsi.” Lucky kembali mencoba mempengaruhi istrinya itu. Endah malah menjawab ocehan suaminya yang kadang memang suka ngelantur kalau sudah membicarakan Anjani. Ia tak yakin kalau janin itu benaran benih ular karena tak masuk diakalnya, bagaimana bisa seekor ular bisa menggauli seorang manusia? Membayangkannya saja ia merinding, apalagi jika hal itu memang nyata adanya. ******* Seminggu dirawat di rumah sakit, Anjani sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Ia kesal mengetahui janin anehnya itu masih tak gugur juga walau sudah melalui rangkaian proses aborsi yang hampir merenggut nyawanya itu. Melihat kedatangannya, Chiko dan Ceril langsung menyambut sang majikan yang sudah tak terlihat seminggu ini. Anjani mencium kedua hewan peliharaannya, lalu mengusapnya tubuh penuh sisik itu. “Gimana kabar kalians selama aku gak ada? Baik-baik aja ‘kan?” Anjani tersenyum sambil menggendong Ceril si sanca bodo. Chiko tak mau kalah, ia malah melilit kaki majikannya itu. Anjani tersenyum melihat tingkah Chiko, segera dilepaskannya si Ceril lalu mengajak si ular pyton berwarna hitam itu untuk masuk ke kamar. Ia capek dan butuh istirahat. Sambil berbaring di samping Chiko, Anjani mengelus perutnya. Ia bingung harus menggugurkan janin asing ini ke mana? Sedang Dokter Mia si dokter aborsi yang sudah terkenal ke mana-mana itu saja angkat tangan, nggak sanggup. “Agghhh ... sial!” jerit Anjani sambil memukuli perutnya. “Gimana cara aku membunuh janin tak berbapak ini? Aaagghhh!!!” Jeritnya makin kesal lalu bangkit dari tempat tidur sambil memikirkan cara selanjutnya yang akan ia tempuh untuk menghilangkan anaknya yang kembar banyak itu. Anjani menautkan alis, ia baru teringat kalau ada cairan pemutih pakaian di kamar mandi, ia jadi terpikir untuk menenggaknya dengan harapan janin di rahimnya bisa mati. Dengan cepat, Anjani berlari ke kamar mandi dan mengambil botol cairan pemutih pakaian itu lalu membuka botolnya. “Agghh!!!” ‘Brug’ Belum sempat ia meminumnya, botol itu malah jatuh dari tangannya karena kini tubuhnya dililit Chiko lalu menariknya keluar dari kamar mandi. “Chiko, apa-apaan sih kamu?” jerit Anjani kesal. Chiko yang tak pernah berbicara itu hanya diam sambil terus melilih tubuh Anjani dan membawanya kembali ke tempat tidur. Bersambung .... Bab 8 : Gosip Tetangga #Hamil_Anak_Ular Bab 8 : Gosip Tetangga “Halo, Dokter Mia, jadi gimana yang kemarin itu?” Endah, mamanya Anjani menghubungi via telepon Dokter di Klinik Aborsi Deandra. “Saya mohon maaf, Bu Endah, sepertinya saya tak bisa menyelesaikan kasus yang satu ini.” Suara Dokter Mia yang sepak terjangnya sudah melalang buana itu terdengar parau. “Memang kenapa, Dok? Bukannya saya sudah bayar lunas, jadi dokter harus menyelesaikan pekerjaan ini sampai tuntas dong.” Endah sedikit naik pitam. “Sekali lagi, saya minta maaf, Bu Endah. Kasus Anjani agak aneh, saya angkat tangan. Uang yang sudah Bu Endah kasih, akan saya kembalikan.” Endah menghela napas berat, ia bingung ke mana lagi akan membawa Anjani untuk aborsi sedang Dokter Mia yang tak pernah gagal dalam tugasnya itu saja sudah menyerah. “Dokter, maksudnya ... aneh bagaimana? Tolong kasih penjelasan kepada saya? Terus rekan kerja Dokter Mia yang pingsan itu gimana kabarnya?” tanya Endah, ia penasaran dengan kehamilan Anjani yang sudah dikatakan aneh oleh beberapa dokter itu. “Teman saya, Dokter Laras baik-baik saja. Kemarin dia hanya kecapekan saja sebab kami sudah bertugas sejak malam dan belum ada istirahat. Hmm ... begini Bu Endah, yang saya maksud kasus Anjani aneh itu ... hmmm ... bayinya ini amat kecil dan banyak ... bentuknya tidak jelas.” Dokter Mia menautkan alis mengingat kejadian seminggu yang lalu itu. “Apa janin Anjani bukan manusia?” tanya Endah makin penasaran dan sedikit terpengaruh dengan asumsi sang suami yang mengatakan kalau putrinya hamil anak ular. “Saya juga tidak tahu pasti, Bu Endah. Hmm ... saya mohon Bu Endah tidak menyebarkan kegagalan saya ini ke siapa pun, saya tak mau image saya jadi jelek. Uang Bu Endah akan saya transfer sekarang juga, sekali lagi saya mohon maaf karena tidak bisa membantu.” Endah menghembuskan napas lalu menjawab, “Baik, Dokter Mia, saya tak akan bilang ke siapa-siapa.” “Terima kasih, Bu Endah.” Dokter Mia mengakhir panggilan telepon. Ia menghembuskan napas lega karena sudah berhasil mencancel pasien aneh yang sudah menyebabnya rekannya pingsan tanpa sebab, setelah mengaku digigit sesuatu, tapi tak ditemukan bekas gigit atau apa pun di sekujur tubuh Bidan yang menjadi rekannya dalam menjalankan bisnis ilegalnya itu. ****** Hari terus berlalu, aborsi kedua dengan dukun beranak yang bernama Mak Romlah pun juga gagal dilakukan. Kasusnya hampir sama dengan kejadian di klinik aborsi Dokter Mia, si dukun pingsan tiba-tiba dengan tubuh kejang-kejang dan mulut berbusa. Akan tetapi, saat dilarikan ke rumah sakit, si dukun beranak tak mengalami sakit apa pun dan langsung sadar. Anjani lagi-lagi ditolak untuk aborsi. Gadis tomboy itu makin resah, apalagi perutnya kian membesar. Dengan memakai sweter tebal, ia melangkah keluar dengan membawa si Cheril saja, sebab si Chiko sudah dibawa temannya yang bernama Radji. Hari ini jadwal kumpul dengan teman-teman komunitasnya dan mereka sudah menunggu di taman kota. Seperti biasa, pertemuan di taman dengan membawa hewan peliharaan masing-masing pun dilangsungkan. Beberapa jenis reptil ada di sini. Anjani yang memang dijuluki ratu ular menghampiri teman-temannya itu. Saling berjabat tangan dan mulai meletakkan hewan bawaan masing-masing. Melihat kedatangan Anjani, Chiko yang saat itu sedang merayap di rumput langsung menghampiri sang majikan. Anjani tersenyum lalu mengelus hewan bersisik hitam itu. ****** “Jani, kamu dari mana saja? Perut udah gede gini masih aja kelayapan ke mana-mana?” sambut Endah dari ruang tamu saat Anjani baru saja memasuki rumah. “Bosan, Ma, di rumah,” jawab Anjani sambil melepas Cheril dari bahunya, lalu memanggil Radji dan Rully untuk membawa Chiko naik ke atas. Endah meringis dan naik ke atas sopa melihat hewan melata itu merayap di lantai rumah. Ia phobia dengan ular, tapi putrinya malah mengoleksi hewan yang membuat takut dan merinding itu. “Jani, jauhkan ular-ularmu itu!” jerit Endah histreris. Anjani hanya menahan senyum melihat kelakuan sang mama, lalu menyuruh Cheril untuk mengikuti dua temannya yang menggendong Chiko untul naik ke lantai atas. “Ada apa, Ma?” tanya Anjani duduk di samping sang mama yang masih terlihat ketakutan. Endah turun dari sopa dan membenarkan pakaiannya yang tersibak karena habis lompat-lompatan tadi. “Jani, mama harap kamu jangan keluar rumah dulu!” ujar Endah sambil membenarkan rambut panjang bergelombangnya. “Kenapa emangnya?” Anjani mengangkat sebelah alis. “Jani, mama gak sanggup harus mendengar gunjingan para tetangga. Mama mohon kamu di rumah saja hingga kita bisa menggugurkan janin anehmu itu.” Endah memegangi kepalanya, ia stres berat memikirkan kehamilan aneh putrinya itu. Anjani hanya mengangkat bahu. Taklama berselang kedua temannya, Rully dan Radji sudah melenggang di ruang tamu dan pamit pulang. Anjani melambaikan tangan pada dua temannya itu, lalu beranjak dari sopa. Endah langsung menarik Anjani untuk kembali duduk. “Apaan lagi sih, Ma?” tanya Anjani jengkel. “Turuti perintah Mama, ini terakhir kalinya kamu keluar dari rumah!” Endah menatap tajam putri tunggalnya itu. “Hmmm ... iya, iya .... “ Anjani bangkit dari sopa dan meninggalkan sang mama yang masih terlihat kesal. Anjani melangkah menuju anak tangga dan berpapasan dengan sang ayah tiri di ruang tengah. Si Lucky tersenyum mengejek dengan mata tertuju ke perut putri tirinya itu. “Apa lihat-lihat?!” tanya Anjani ketus sembari melirik tampang menyebalkan pria yang telah merebut mamanya. “Makin gede aja tuh perut, aku kayaknya gak sanggup kalau harus dipanggil kakek oleh anak-anak ularmu itu.” Lucky mengusap wajahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bacot!” umpat Anjani sambil berlalu, ia malas meladen ayah tirinya yang terlihat selalu ingin mengajak ribut saja itu. ****** Beberapa hari berlalu. Endah baru saja keluar dari mobilnya saat ada beberapa tetangga yang lewat di depan rumahnya. “Sore, Bu Endah, baru pulang kerja?” sapa si tetangga yang berdaster motif kupu-kupu. “Iya, Bu Yani, baru pulang saya. Itu pada mau ke mana ramai-ramai gitu?” jawab Endah sambil melangkah ke pagar rumah karena tiga tetangganya itu berdiri di depan sana. “Kita mau nyantai di warung Cik Ni. Mau ikut gak? Ayo! Ngobrol sambil makan gorengan,” ujar tetangga yang bergamis cokelat. “Oh ... lain kali aja deh,” jawab Endah sambil tersenyum ramah. “Eh, Bu Endah ... Anjani kok jarang kelihatan sih? Ke mana dia?” Tetangga yang berdaster motif batik mulai mengorek informasi atas desas-desus yang beredar beberapa minggu ini. “Eh ... Jani, ada kok .... “ Endah menggaruk kepalanya, ia seperti mencium aroma tak sedap dari ekspresi tiga tetangganya itu. “Oh ... ada ... eh ... hemm ... udah nikah dia? Kok nggak ngundang-ngundang sih?” Tetangga yang berdaster kupu-kupu mengedipkan sebelah mata pada tetangga yang bergamis. Endah terdiam sejenak, ia bingung mau menjawab apa. “Jani belum nikah kok .... “ Endah tersenyum masam. “Ohhh ... belum nikah, kirain udah nikah diam-diam soalnya ... dia lagi hamil ‘kan?” Mulut lentis si tetangga daster batik mulai kepo. “Hmm ... ya sudah, saya mau masuk dulu .... “ Endah membalikkan tubuh, ia takut kelepasan menghadapi para tetangga julidnya itu. “Eh, Bu Endah ... kok buru-buru sekali. Benar gak sih kalau Anjani hamil anak ular peliharaannya?!” Jantung Endah semakin berpacu cepat mendengar ocehan dari tiga tetangganya itu. Ia bingung, dari mana tetangganya itu tahu kalau Anjani hamil anak ular karena hal itu belum pasti kebenarannya. Bersambung ..... Bab 9 : Ngidam Aneh #Hamil_Anak_Ular Bab 9 : Ngidam Aneh Dengan tampang kesal, Endah berlari masuk ke rumahnya. Suasana hati semakin tak baik saja, apa yang ia takutkan telah terjadi, para tetangga sudah mulai menggunjingkan kehamilan putrinya. “Sayang, kamu udah pulang?” Lucky menghampiri Endah yang berdiri dengan bersandar di balik pintu. Endah bergeming, ia tak menyadari kalau Lucky sudah ada di depannya. Pria bertubuh tinggi berisi itu memegang pundaknya. “Eh, kamu, Mas .... “ Endah terkejut. “Sayang, ngapain bengong di sini?” Lucky merangkul bahu sang istri lalu menuntunnya menuju kamar mereka. Endah meletakkan tasnya lalu membuka blezer, lalu duduk di pinggir ranjang. Pikirannya masih tak beres. “Sayang, kamu kenapa sih? Marah gara-gara aku pulangnya duluan, maaf ya ... tadi abis meeting di kafe, kepalaku pusing. Ya udah langsung pulang deh .... “ Lucky menciumi bahu istrinya yang kini hanya mengenakan tank top saja. “Iya, gak apa, Mas. Oh iya, Anjani ada di atas gak ya? Kamu ada ketemu dia gak?” tanya Endah sambil mengelus kepala sang suami. “Hmm ... nggak tahu, mungkin ada di atas soalnya mobil dia ada tuh di garasi. Kenapa sih ngurusin Anjani terus? Urusi suamimu ini aja!” Lucky mendorong tubuh Endah untuk berbaring. Endah tersenyum sembari merangkul leher sang suami, saling tatap sejenak sebelum memulai bercinta. Hubungan ranjang keduanya memang selalu hangat. ******* Sedangkan di lantai atas, Anjani sedang bersantai dengan dua temannya Rully dan Radji. Mereka sedang menikmati minuman dingin juga snack. “Jani, kamu hamil?” tanya Rully sambil memangku Cheril, si ular wanita berjenis sanca bodo berwarna kuning itu. Anjani tersenyum kecut sambil terus mengunyah kacang di tangannya. Kini ia tak dapat menyembunyikan perutnya yang kian membesar ini. “Hahaa ... kata dokter sih gitu, cuma aku sadar saja ... kok bisa hamil tanpa melakukan hubungan badan dengan siapa pun. Aneh ‘kan?” Anjani menatap dua temannya itu secara bergantian. Rully dan Radji sama-sama mengerutkan dahi dan saling lirik. “Gak percaya ‘kan kalian? Sama, aku juga ... kata si Lucky suaminya mama sih ... aku hamil sama Chiko.” Anjani mengusap perutnya. Lagi-lagi, Rully dan Radji saling pandang, walau ucapan Anjani terdengar lucu tapi mereka tak berani tertawa. “Masa Iya Chiko yang menghamili kamu, Jani? Gak masuk akal sih .... “ ujar Rully dengan dahi yang berkerut. “Tahu deh, mana udah dua kali mau diaborsi gak bisa lagi. Ngeselin banget deh, dah gitu aku gak dibolehin keluar rumah pula ama mama. Untung aja ada ular-ular ini yang bikin aku gak bete di kamar terus.” Anjani mulai menumpahkan uneg-uneg kepada dua temannya itu. Untuk sesaat, suasana menjadi hening. Ketiganya sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. “Gimana kalau aku nikahin kamu, Jani?” tanya Rully tiba-tiba. Anjani tertawa, sedang Radji wajahnya berubah muram, ia telah kalah star dari Rully. Selama ini ia memang menaruh hati dengan temannya yang tomboy itu, tapi tak berani untuk menyatakan. “Jani, jangan sama Rully! Sama aku aja!” Radji langsung angkat suara dengan wajah yang serius. Anjani terbahak melihat ekspresi dua temannya itu. Tak pernah terpikirkan olehnya kalau akan menikah dengan salah satu dari dua temannya itu. “Jani, aku serius! Rully pasti Cuma bercanda saja. Aku siap menikahimu dan akan menerima janin yang sedang kamu kandung.” Radji tiba-tiba meraih tangan Anjani. “Hey, biasa aja kali, jangan pegang-pegang tangan begini!” Rully melepas tangan Radji dari tangan Anjani. “Kamu tuh yang biasa saja!” Radji mendorong dada Rully. Rully tak mau kalah, ia juga membalas mendorong Radji. “Woy, apa-apaan sih kalian berdua? Gak lucu, ya!” bentak Anjani kesal sambil menjitak kepala dua temannya itu secara bergantian. “Aduh!” Kedua mengaduh bersamaan sambil menjauh dan memegangi kepala masing-masing. “Pulang kalian berdua! Aku gak mau nikah dengan siapa pun dan aku tak menginginkan anak ini!” bentak Anjani kesal sambil berlalu masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Dengan sama-sama kesal, Radji dan Rully melangkah menuju anak tangga, mereka akan pulang. Keduanya tak bertegur sapa hingga sudah masuk ke mobil pun, hanya saling lirik sinis. ****** Anjani berbaring di tempat tidur sambil memegangi perutnya, ia lupa sudah berapa bulan hamil anehnya ini. Tiba-tiba, terasa seperti ada yang berputar-putat di perut buncitnya itu, ia harus menahan napas saat pergerakan semakin kencang. “Agghh .... “ Anjani memukul perutnya. Seketika itu pula, gelombang di perutnya langsung berhenti. “Woy, janin aneh ... jangan macam-macam ya kalian!” Anjani memukul perutnya berkali-kali. “Agghhh ... sial, sial, sial! Ini janin sial!” teriak Anjani kesal. Chiko yang saat itu sedang melengkor di lantai terlihat memperhatikan tingkah majikannya itu. Anjani bangkit dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar. Ia melangkah di sekitar ruangan sambil mengamati kandang-kandang ularnya. Rasa kesalnya langsung hilang seketika, diraihnya Cheril lalu mengajaknya untuk berselpi dengan berbagai fose. Tiba-tiba, Anjani merasakan perutnya lapar. Pandangannya terhadap Cheril berubah, setika itu pula membayangkan kalau si sanca bodo berubah menjadi Cheril crispy. Ia menelan ludah membayangkannya. Kini tatapanya beralih kepada si sanca kembang yang ada di dalam kandang sana, ia langsung membayangkan nikmatnya kalau dijadikan sate. “Aggghh ... apa-apaan sih aku?” Anjani bangkit dari kursi goyangnya sambil menuju anak tangga, ia merasa pikirannya gilanya itu hanya efek terlalu lapar. Anjani melangkah menuju dapur dan melihat seisi meja. Ia tak beselera makan apa pun, padahal ada ikan nila bakar kesukaannya dan anehnya ia tak tergiur. Pikirannya malah tertuju pada sate sanca kembang yang ia beri nama Casandra. “Ya ampun, kok aku ngidam sate Casandra sih!” gumamnya kesal sambil duduk di depan meja makan. Taklama berselang, Lucky dan Endah muncul di ruang makan, lalu duduk di hadapan Anjani. “Kenapa cuma dipelototi saja makanannya, Jani?” tanya Endah sambil membalikkan piring lalu mengambilkan nasi untuk sang suami. “Gak selera, Ma,” jawab Anjani malas sambil menuang segelas air putih. “Ehhmm ... maunya makan apa, Jani? Biar Ayah Lucky beliin. Sate pyton mau? Atau gulai asam manis si kobra?!” cibir Lucky dengan senyum ejekan. “Jaga mulutmu, Benalu!” ujar Jani dengan nada tinggi. “Atau lagi ngidam makan ayam mentah seperti makanan favorit pacarmu si Chiko? Kan hamil anak ular, ngidamnya pasti aneh-aneh itu. Atau juga pengen tikus goreng mungkin!” oceh Lucky lagi tanpa mengindahkan lirikan sang istri yang menyuruh untuk berhenti mengoceh karena tatapan Anjani terlihat mengerikan. Dengan geram, Anjani meraih botol sambal extra pedas yang ada di atas meja lalu mendekat ke arah Lucky. Kemudian menyemprotkannya ke mulut sang ayah tiri yang masih mengoceh tak jelas. “Agghh!!” jerit Lucky kaget. Tak puas hanya menuangkan sambal itu ke mulut, Anjani juga menyemprotkannya ke suluruh wajah sok gantenga pria yang hanya bermodal gombalan saja dalam memperistri mamanya. “Jani, hentikan!” teriak Endah sambil mendorong Anjani dan memeluk suaminya. “Makanya, punya mulut itu dijaga! Jangan kayak comberan!” ujar Anjani lagi sambil melangkah meninggalkan dapur. Hatinya sangat kesal dengan ocehan si ayah tiri, walau di antara ocehannya itu ada benarnya. Tapi, ia takkan memakan ular peliharaannya, walau ada hasrat menginginkan hal itu. Ia bisa meredamnya. Bersambung .... Bab 10 : Niat Baik Radji #Hamil_Anak_Ular Bab 10 : Niat Baik Radji “Mas, kamu gak apa-apa ‘kan?” tanya Endah sambil mengelap wajah suaminya setelah mencucinya di kamar mandi. “Ya ... kenapa-kenapalah, anakmu itu sakit jiwa! Awas saja kalau mataku sampai buta, akan kutuntut dia,” jawab Lucky kesal. Endah menghela napas panjang, ia tak bisa juga menyalahkan Anjani kalau Lucky tak bermulut tajam. Menurutnya sama-sama salah, baik anak maupun sang suami. Endah mengusap wajah merah sang suami sambil menyemprotkan obat, agar rasa pedas dan perihnya berkurang. Juga meneteskan obat mata ke mata Lucky. Dengan tampang kesal, Lucky menepis tangan Endah lalu berbaring di tempat tidur dengan posisi membelakangi istrinya itu, ia merajuk. Endah tersenyum kecut lalu melangkah menuju pintu, ia akan berbicara kepada Anjani. ****** Anjani duduk di ruang tengah sambil memainkan remot televisi dan tak hentinya mengubah chanel. Ponsel di saku celana pendeknya bergetar tanda ada pesan yang masuk, segera dirogohnya benda pipih itu. [Jani, aku ada di luar.] Itu chat dari Radji. Anjani melengos dan mengetik balasan untuk temannya itu. [Masuk aja, aku ada di ruang tengah lantai bawah. Lagi nonton televisi.] Anjani langsung mengirim balasan untuk temannya yang lumayan ganteng itu, tapi tak tertarik untuk menjadikannya suami. Baginya, teman ya teman dan perasaan persahabatan takkan bisa berubah jadi cinta. Dua menit kemudian, bel rumah pun berbunyi. Anjani langsung menyuruh Bik Siti untuk membukanya. Taklama setelah itu, pria bertubuh tinggi itu telah menemuinya di ruang tengah. “Ngapain malam-malam ke sini?” tanya Anjani saat Radji duduk di sampingnya. “Hmm ... masalah yang tadi belum selesai. Mumpung Rully nggak ada. Gimana Jani, aku serius?” Radji meremas jemarinya yang terasa dingin. “Udah deh, Ji, gak usah aneh-aneh! Jangan rusak persahabatan kita dengan permasalahan begini!” Anjani membenarkan posisi duduknya dan menutup perut buncitnya dengan bantal karena lagi-lagi seperti sedang terjadi baku hantam di dalam sana. “Kamu kenapa, Jani? Kok kayaknya gelisah gitu?” Radji menautkan alis melihat ekspresi gadis berambut panjang di hadapannya. “Ah ... biasa, anak setan di perutku lagi demo gara-gara gak kukasih makan. Aku sengaja gak mau makan, biar mereka pada mati,” jawab Anjani ketus sambil memukul-mukul perutnya. Tiba-tiba, dari arah tangga terlihat Chiko si ular pyton sedang menuruni anak tangga. Sepertinya ia sedang mencari keberadaan sang majikan. “Hey, itu Chiko!” Radji langsung berlari menghampiri ular sepanjang 4,5 meter itu. Dengan kesusahan, ia menarik tubuh ular terbesar peliharaan Anjani, lalu membawanya ikut mengobrol bersama mereka. Chiko mendekatkan kepalanya ke arah perut Anjani lalu bermanja di pangkuannya. Anjani tersenyum sambil mengusap kepala hewan yang sudah ia pelihara sejak dari bayi itu. Keributan di dalam perut Anjani pun langsung mereda. “Jani, aku serius loh. Aku memang sudah lama menyukai kamu, hanya tak berani saja untuk mengatakannya. Aku siap kapan pun kamu mau dinikahi.” Radji menatap serius ke arah Anjani. “Radji, udah deh! Aku ucapkan terima kasih untuk niat baik kamu, tapi aku belum kepikiran untuk menikah dan perutku yang buncit ini ... aku masih memikirkan cara untuk mengempeskannya. Mending kamu pulang aja deh, aku udah mau tidur. Oh iya, bantuin Chiko naik ke atas dulu, ya!” ujar Anjani sambil menunjuk Chiko dan mengopernya kepada Radji. Radji menghela napas, lalu menuruti perintah Anjani. Segera ditariknya badan Chiko untuk naik ke atas tangga. Endah yang sedari tadi menguping pembicaraan putrinya itu mendekat ke arah Anjani dan meringis ngeri saat melihat buntut Chiko yang masih menjuntai di anak tangga. “Jani, Chiko itu dimasukin kandang aja deh! Mama spot jantung kalau dia terus berkeliaran di rumah ini. Dasar ular aneh dia, masa bisa nyusulin kamu ke sini! Kayaknya dia itu ular siluman deh!” ujar Endah sambil duduk di samping Anjani. Anjani hanya mengangkat bahu dan pura-pura fokus pada tontonannya. Ia paling malas mendengar ocehan sang mama kalau menyangkut para hewan peliharaan itu. “Jani, Tante Endah, pamit pulang ya!” ujar Radji sambil mendekat ke arah kedua ibu dan anak itu. “Oke, Ji, hati-hati!” Anjani melambaikan tangannya. Radji melangkah menuju pintu dan pulang. Bik Siti langsung menutup pintu dan kembali ke dapur. Endah mengeser duduknya untuk semakin dekat ke arah Anjani, lalu memegang perut buncit putrinya itu. “Apaan sih, Ma?” Anjani menepis tangan sang mama. “Mama penasaran saja, kok perut kamu kayak bergelombang gitu sih? Kayaknya janinnya itu emang ada banyak deh .... “ Endah mengerutkan dahinya. Anjani hanya mengangkat bahu. “Gimana kalau besok sore kita ke prakter Dokter Gio? Barangkali aja tuh janin udah terlihat wujudnya? Kalau benaran kamu hamil anak ular, kita minta langsung diceasar saja!” ujar Endah masih dengan mode mengerutkan dahi. “Emang bisa kayak gitu?” Anjani menatap sang mama. “Barangkali aja bisa, rumor kamu hamil anak ular sudah beredar di kompleks kita. Mama harap kamu jangan keluar rumah sembarangan, kecuali sama mama. Oke?!” “Ah, palingan suami mama yang nyebarin gosip itu. Punya suami kok julidnya minta ampun gitu, ihhss ... kalau Jani punya suami kayak gitu mah, dah tak bikin santapan buat Si Rambo.” Anjani tersenyum kecut sambil melirik jengkel sang mama. “Kamu jangan asal nuduh gitu, gak mungkin Lucky yang nyebarin. Kamu juga ... jangan suka keterlaluan ya sama ayah tirimu itu! Mama gak mau melihat kamu berlaku kasar lagi padanya. Coba, kalau matanya sampai buta ... ‘kan mama juga yang bakalan repot.” Endah menatap tajam putrinya yang hanya melengos sebal itu. “Belain terus suaminya! Lucky emang segala-segalanya buat mama, dia ngehina aku tadi aja ... mama gak berani menegur. Jadi ... kayaknya aku gak salah nyebein terongnya mama itu.” Anjani bangkit dari sopa dan meninggalkan mamanya. Ia paling benci membicarakan masalah ayah tirinya yang mulutnya dower kayak ibu-ibu bigos. “Jani, mau ke mana, kamu? Mama belum selesai,” ujar Endah. “Tidur, Ma, ngantuk,” jawab Anjani tanpa menoleh ke arah sang mama. “Jani, Mama tadi dengar obrolan kamu dan Radji .... “ Endah berlari dan berdiri di depan anak tangga, menghalangi langkah Anjani. “Terus?” Anjani memutar bola matanya dengan malas. “Kalau Radji serius, mama setuju.” Endah menyunggingkan senyum. “Apaan sih, Ma? Katanya besok mau ke dokter buat diceasar, nah ... sekarang malah setuju ama ocehan Si Radji.” Anjani menggaruk perutnya yang terasa geli, janin-janin diperutnya seakan sedang menggelitik dinding perutnya. “Ya sudah, besok kita ke rencana A dulu. Akan tetapi, kalau janinmu itu anak manusia, mama setuju kalau Radji mau nikahi kamu. Dia dari keluarga baik-baik, mama kenal sama papanya, dia juga pembisnis kayak mama.” Endah menyunggingkan senyum, ia merasa masalah Anjani sedikit menemui jalan terang. Tanpa menjawab perkataan mamanya, Anjani melewati tubuh ramping itu lalu mulai menaiki anak tangga. Ia kurang setuju dengan opsi rencana B, ia tak mau menikah dengan temannya itu dan ia juga tak menginginkan anak aneh di dalam perutnya itu. Bersambung ......