Đang tải thông tin quảng bá...
Terlahir Kembali di Rahim Perundung
Setelah dirundung sampai mati, aku terlahir kembali menjadi bayi. Ternyata ibuku adalah orang yang merundungku. Dia malah memanggilku anak baik. Anak baik? Aku langsung meronta-ronta dan menangis di p...
Chương (1)
第1章
Setelah dirundung sampai mati, aku terlahir kembali menjadi bayi.
Ternyata ibuku adalah orang yang merundungku. Dia malah memanggilku anak baik.
Anak baik?
Aku langsung meronta-ronta dan menangis di pelukannya. Aku menjulurkan tangan untuk menusuk matanya!
Mulai hari ini, anak baik akan membalas dendam!
Bab 1
"Ah!"
Sakit .... Solana menyiramku dengan air mendidih. Aku membelalak dan berteriak kesakitan.
"Solana, tolong lepaskan aku .... Kumohon ...."
Aku ingin melawan, tetapi ditahan oleh orang di belakangku. Aku hanya bisa menatap gaunku yang merah dan memohon dengan pasrah.
Solana tertawa jahat. "Kamu cuma wanita murahan yang dibenci semua orang. Kamu nggak pantas dibandingkan denganku."
Solana memberi perintah. Air panas itu disiram ke wajahku lagi.
"Kak Solana, lihat wajahnya. Macam udang rebus."
Terdengar ejekan antek Solana, lalu diikuti suara Solana yang penuh kebencian.
"Bianca, kamu seharusnya berterima kasih padaku. Wanita murahan sepertimu nggak seharusnya punya wajah seperti ini."
Usai berbicara, Solana mengeluarkan pisau dan menggores wajahku. Entah bagaimana, mungkin karena keinginan untuk hidup atau mungkin karena rasa sakit, aku tiba-tiba terlepas dari kekangan.
Aku melarikan diri dengan panik. Solana membawa anteknya mengejar dari belakang. Pada akhirnya, aku menghentikan langkah kakiku di pinggir lubang air besar yang baru digali pihak kampusku.
Ketika melihat ini, Solana terkekeh-kekeh. "Bianca, kamu nggak mungkin mau bunuh diri, 'kan?"
Solana mendekat dengan perlahan. Sepatu hak tingginya seolah-olah menginjak hatiku, membuatku makin tegang.
"Kalau berani, lompat saja. Ayahmu petani, ibumu petugas kebersihan. Kalau orang sepertimu mati, nggak bakal ada yang peduli! Sekarang wajahmu saja sudah hancur. Gimana kamu bisa merayu pria lagi?" hina Solana.
Antek-anteknya pun turut bersuara.
"Bianca, kamu nggak bisa merayu pria lagi. Cepat lompat sana!"
"Ayo, cepat sedikit! Tempat ini punya fengsui yang bagus lho!"
Nyawaku menjadi bahan bercandaan mereka. Keluargaku memang miskin. Ayahku hanya petani, sedangkan ibuku hanya petugas kebersihan.
Aku tidak punya apa-apa. Selain prestasi yang cukup bagus, aku cuma punya wajah yang bisa dibilang cantik. Makanya, aku sering mendapat surat cinta.
Inilah alasan Solana menyerangku. Aku jelas-jelas tidak melakukan apa-apa, tetapi malah dibilang murahan. Semua perundungan ini hanya permainan kecil bagi Solana.
Setiap hari, aku hidup dalam ketakutan. Aku terus berpikir bagaimana Solana akan menyiksaku. Dengan tamparan, serangga, atau cambukan?
Berbagai adegan menyakitkan muncul di benakku. Aku seolah-olah adalah mainan Solana. Jadi, apa gunanya aku hidup?
Aku melihat refleksiku di air. Darah mengalir di wajahku. Sepertinya hari-hariku hanya akan terasa makin berat.
Aku memaksakan senyuman, lalu melirik Solana yang sedang memotret dan mengejekku. "Solana, kutunggu kamu di neraka!"
Di bawah tatapan mencela mereka, aku melompat ke lubang air sedalam 10 meter. Seketika, darah menghiasi air.
Pada saat yang sama, ejekan mereka berubah menjadi keterkejutan, ketakutan, dan kepanikan. Akan tetapi, aku tidak bisa melihatnya lagi.
Bab 2
Ketika kembali membuka mataku, aku sudah berada di pelukan hangat. Apa aku melakukan perjalanan melintasi waktu?
Sambil berpikir begitu, aku tiba-tiba melihat tatapan yang dipenuhi kehangatan dan kelembutan. Solana?
Meskipun terlihat sangat lelah, Solana dipenuhi cinta kasih ibu. Hanya saja, itu adalah wajah Solana yang bengis seperti siluman!
"Anakku, kamu kesayangan Ibu."
Aku menatap Solana dengan mata terbelalak. Ucapannya dipenuhi kasih sayang, tetapi aku malah merasa putus asa. Seketika, berbagai adegan saat dia menindasku di kampus membanjiri benakku.
Aku meronta-ronta di pelukan Solana. Aku menjulurkan kedua tanganku untuk menusuk matanya, tetapi tanganku terlalu pendek untuk menjangkau.
Solana terkejut melihatku melawan. "Eh! Jangan takut, Sayang."
Setelah mendengar suara familier Solana, aku akhirnya memastikan sesuatu. Aku terlahir kembali, bahkan menjadi putri Solana!
Bab 3
"Popok anak kita basah nggak?" tanya seorang pria.
Wajah Solana sontak tersipu. "Coba kulihat."
Solana membuka popokku untuk memeriksa. "Nggak kok, dia nggak pipis."
"Ah!" teriak Solana tiba-tiba. Kemudian, dia melemparkanku ke ranjang rumah sakit.
Aku sontak menangis. Pria itu segera mendekat dan menggendongku, lalu menghibur, "Jangan takut. Ada Ayah di sini."
Kemudian, pria itu menoleh dan membentak Solana, "Gimana saja kamu ini? Masa melempar anak sendiri?"
Solana buru-buru menunjuk wajahnya dan berujar, "Dia pipis di wajahku."
"Bayi kecil seperti ini memang nggak bisa mengontrol diri. Masa kamu juga nggak bisa? Gimana kamu jadi ibu kalau begini? Gimana kalau anak kita terluka? Aku nggak tenang kalau kamu yang jaga anak!" hardik pria itu.
Ekspresi Solana sontak dipenuhi kesedihan dan kekesalan. "Aku juga nggak sengaja."
Wajah pria itu menjadi masam. Dia berucap dengan dingin, "Mulai hari ini, aku blokir kartumu. Kamu harus belajar cara menjaga anak. Kamu nggak boleh ke mana-mana. Jangan cuma tahu belanja!"
Aku menoleh menatap wajah suram pria itu, lalu menatap Solana yang seperti ingin menangis. Seketika, aku merasa sangat senang dan tertawa gembira.
Ternyata ayahku ini adalah jagoan! Aku tidak menyangka Solana akan dikekang oleh suaminya seperti ini. Menghamburkan uang saja tidak boleh sembarangan.
Bagaimanapun, saat kuliah dulu, Solana paling tidak bisa diatur. Sekarang, bukankah roda kehidupan berputar?
Bab 4
Sejak saat itu, Solana melewati kehidupan "indah" dengan menjagaku 24 jam sehari. Setiap kali Solana ingin tidur, aku akan menangis. Dia akan menenangkanku selama satu jam, lalu aku akan menangis lagi.
Ketika Solana menyusuiku, aku akan menyemburkan susu ke wajahnya. Setiap kali ada kesempatan, aku akan menarik rambutnya dan memainkan wajahnya.
Solana hampir gila dibuatku. Dia awalnya masih memikirkan cara untuk mendapat kartu banknya kembali dan pergi foya-foya, tetapi akhirnya menyerahkanku kepada pengasuh.
Begitu digendong pengasuh, aku langsung menangis sekuat tenaga. Tangisanku yang histeris pun membuat seluruh orang di vila merasa kasihan padaku.
Ibu mertua Solana, nenekku, langsung memelototinya sambil membentak, "Solana, kamu ini ibu macam apa! Kamu nggak mau jaga anak ya? Keluar saja dari rumah ini!"
"Dasar sampah nggak berguna!" gerutu nenekku sambil membujukku. Aku pun tidak menangis lagi untuk menghargai nenekku.
Kemudian, aku menatap Solana sambil tersenyum bangga. Solana terkesiap. "Ibu! Di ... dia monster!"
Nenekku langsung mengernyit. "Ini anakmu sendiri. Kenapa bilang anak sendiri monster? Apa kamu sudah gila?"
Aku memicingkan mataku sambil tersenyum bangga lagi. Kemudian, aku memejamkan mata dengan tidak peduli.
"Ibu! Aku nggak bohong. Dia cuma bayi kecil, kenapa punya ekspresi seperti itu?" pekik Solana.
Nenekku menunduk untuk melihatku. Aku segera berpura-pura tertidur lelap.
Nenekku pun memelototi Solana dan membentak, "Omong kosong apa yang kamu katakan! Kalau kamu bicara aneh-aneh lagi, aku panggil psikiater kemari!"
"Aku nggak seharusnya membiarkan Pedro menikahimu dulu. Lihat kamu, demi belanja, kamu tega bilang anak sendiri monster."
Usai berbicara, nenekku sontak menampar Solana. "Siapa suruh kamu bicara omong kosong! Dasar wanita penggoda! Anak sendiri malah dihina!"
Solana menatapku dengan tatapan takut. Aku pun menatap matanya sambil tersenyum. Solana, ini baru permulaan lho ....