Bunga yang Tumbuh di Kegelapan

Đang tải thông tin quảng bá...

Bunga yang Tumbuh di Kegelapan

GoodNovel Hoàn thành
Diam-diam perhatianManisCantikCinta sejati

Pada hari pernikahan kami, ayahnya Kevin bunuh diri di kamar kami dengan meninggalkan wasiat berisi tuduhan bahwa aku yang telah membunuhnya. Sejak itu, Kevin sangat membenciku. Dia berkata, “Laras ...

Chương (1)

第1章

Pada hari pernikahan kami, ayahnya Kevin bunuh diri di kamar kami dengan meninggalkan wasiat berisi tuduhan bahwa aku yang telah membunuhnya. Sejak itu, Kevin sangat membenciku. Dia berkata, “Laras Pradipta, kamu seharusnya hidup sengsara untuk menebus semua dosamu.” Sesuai keinginannya, kemudian hari aku menjadi gelandangan tanpa rumah. Aku kehilangan akal sehat sekaligus suaraku. Hidupku bahkan tak lebih baik dari seekor anjing. Namun, dia malah menyesal. Bab 1 Ketika aku sibuk mengais-ngais tempat sampah untuk mencari botol plastik, seseorang memotretku dan mengunggahnya ke media sosial. Tak butuh lama, foto itu pun viral. “Wanita pemulung tercantik.” “Gadis bisu, netizen memberi pengakuan yang cukup bagus untukmu.” Aku menggigit roti di tanganku sambil mendengarkan komentar-komentar yang dibacakan Edrick Santoso. Dia mengusap rambutnya yang berantakan, lalu lanjut membaca komentar di layar ponsel. "Apa benar dia Laras dari Keluarga Pradipta?" "Ada foto yang membuktikan bahwa dia memang Laras Pradipta, wanita yang tergila-gila pada Kevin Wijaya, tapi malah mencelakai ayahnya." Edrick berhenti membaca. Tubuhku menegang. Roti di tanganku hampir jatuh. Dari sudut mata, aku melihat jelas foto yang terpampang di layar ponsel. Wanita tersenyum bahagia, sementara pria berekspresi datar. Itu adalah foto pernikahan aku dan Kevin. Tiga tahun telah berlalu, kini aku kembali mendengar nama itu lagi. Alih-alih rindu, aku merasa ketakutan. Aku refleks ingin kabur. “Tidak apa-apa, Laras. Aku akan melindungimu. Sebentar lagi aku akan membawamu pergi dari sini.” Edrick menyadari kegelisahanku. Dia tidak bertanya lebih jauh, melainkan hanya menenangkanku dengan lembut. Selama bergelandangan tiga tahun, semua orang mencemoohku. Hanya Edrick yang mau mendekat dan membantuku. Dia selalu menghiburkan. Aku memang kehilangan kesadaran. Namun, aku tetap paham bahwa kali ini dia tidak mungkin bisa membantuku. Aku kembali ke rumah reyot, lalu mengemasi barang-barang bekas untuk segera dijual agar bisa melarikan diri. Meskipun aku sudah bergegas, tetap saja terlambat. Saat aku hendak keluar, suara dingin seorang pria menghantam telingaku. “Laras, mau kabur ke mana lagi?” Di bawah terik matahari bulan Juli, tubuhku basah oleh keringat dingin. Walau sudah tiga tahun berlalu, aku masih sangat mengenali suara itu. Telapak tanganku membeku dan jantungku berdegup kencang. Aku mencengkeram erat tas di tanganku. Ketakutan yang terkubur dalam ingatanku kembali menyelubungiku. Suara sepatu yang beradu dengan lantai semakin mendekat. Pada akhirnya, kakiku melemas sehingga aku hanya bisa berjongkok di lantai. Tubuhku gemetar tak terkendali. Kevin datang. Dia belum bisa melupakan dendamnya padaku. Sepuluh tahun sebelumnya, aku mencintai Kevin dengan sepenuh hati. Namun, dia malah membenciku dengan segenap jiwa. Kami sudah dijodohkan oleh kedua kakek kami sejak kami masih kecil. Sayangnya, dia mencintai wanita lain. Jadi, dia pun menentang berat pernikahan kami. Awalnya, aku tidak tahu semua ini. Sebagai putri tunggal Keluarga Pradipta, aku dimanjakan keluargaku sejak kecil. Aku pun dengan egois memaksa Kevin menerima perasaanku terhadapnya. Suatu kali, bisnis keluarga Kevin mengalami masalah keuangan. Ayahku memberikan bantuan dana dengan syarat Kevin harus menikahiku. Saat itu, aku terlalu naif. Aku kira pernikahan kami adalah takdir. Aku percaya selama aku memperlakukannya dengan baik, dia juga akan memperlakukanku dengan baik. Nyatanya, aku salah. Apa pun yang kulakukan tidak akan mengubah fakta bahwa dia tidak mencintaiku. Semua ini hanya permulaan. Kebenciannya padaku memuncak sejak hari pernikahan kami. Pada hari itu, ayahnya bunuh diri di kamar baru kami. Wasiat ayahnya menuduh bahwa aku yang telah mendesaknya sampai ke ambang kematian. Acara pernikahan seketika berubah menjadi acara pemakaman. Sejak malam itu, Kevin berubah asing. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku tidak terlibat dalam kematian ayahnya. Akan tetapi, dia hanya tersenyum sambil menggandeng tanganku. Di depan orang banyak, dia bertingkah sewajarnya dan bahkan memperlakukanku dengan sangat baik. Begitu pulang rumah, kebenciannya pun meledak. Dia sering mencekik leherku dan berkata, “Laras, kamu seharusnya hidup sengsara untuk menebus semua dosamu.” Bab 2 Pada akhirnya, keinginannya terkabulkan. Dia menggunakan seluruh kekuasaannya untuk mengambil alih perusahaan keluargaku. Dia juga mengirimkan ayahku ke penjara dan menyiksaku dengan segala cara. Sampai suatu hari, aku dihadang di sebuah gang. Aku yang ketakutan pun menelepon Kevin, berharap dia menolongku. Aku berteriak meminta bantuan, tapi hanya mendapatkan respons dingin darinya. "Laras, apa lagi yang kamu lakukan? Kalau mau mati, matilah di tempat yang lebih jauh." Sesuai harapannya, aku pergi jauh. Aku hidup sengsara di tempat yang tak terlihat olehnya. Hidupku bahkan lebih menyedihkan daripada seekor anjing. Namun tak kusangka, dia menemukanku. “Laras, kenapa denganmu?” Kevin tampak terkejut dengan reaksiku. Dia melangkah mendekat dan menarikku ke dalam pelukannya. Dia sama sekali tidak peduli bahwa aku akan mengotori jas mahal yang dikenakannya. Orang-orang di sekitar mulai berkumpul. Seseorang bahkan menasihatinya, “Pak, kamu sebaiknya menjauh dari wanita bisu ini. Dia tidak waras.” “Bisu? Tidak waras?” Kevin tampak kaget. “Iya, wanita bisu ini sudah tinggal di sini beberapa tahun. Dia selalu terlihat ketakutan seperti ini.” Tubuhku bergetar lebih hebat. Tanpa ragu, Kevin langsung mengangkatku dan membawaku ke mobilnya. Aku terkejut sampai membelalakkan mataku, tapi tetap tidak berani melawan. Dia melemparku ke kursi belakang. Bau tidak sedap pun mulai memenuhi udara di dalam mobil. Aku menyandar pada pintu mobil dengan kepala tertunduk karena rasa malu dan takut. Begitu menyadari celanaku basah, ketakutan kembali melanda diriku. Dulu Kevin tidak pernah mengizinkanku menyentuh barang-barangnya. Sekarang aku malah mengotori pakaian dan mobilnya. Dia pasti sangat marah. Aku sangat takut akan kemarahannya. Namun, kali ini Kevin tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menghidupkan mesin dan mulai menyetir. Dia membawaku ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Hasil awal menunjukkan bahwa aku mengalami gangguan akibat trauma. Dia memegang laporan itu dan menghela napas panjang. “Laras, apa yang kamu alami selama ini?” Aku tetap diam, tidak mau menjawabnya. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk membawaku pulang. Bagi diriku yang sekarang, vila itu sudah tidak lagi terasa seperti rumah. Tempat itu jelas adalah penjara yang mengerikan. Kevin membawaku kembali ke vila yang diberikan ayahku sebagai hadiah pernikahan kami. Vila ini juga adalah tempat di mana ayah Kevin bunuh diri. Ketakutan dahsyat terasa seperti tangan besar yang mencekik leherku. Aku merasa akan terbunuh kapan saja. Kevin menatapku dengan ekspresi rumit. Sorot matanya penuh kebencian yang tak tersembunyikan. “Laras, jangan kira kamu bisa menebus dosamu hanya dengan cara ini. Ini belum cukup. Jauh dari cukup.” Kemudian, dia mengesampingkan semua pekerjaan dan mulai merawatku. Kondisi vila ini masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah, kecuali sikap Kevin padaku. Pemburu ulung tidak pernah mau menyerang mangsa yang sakit. Aku tahu bahwa kesabarannya terhadapku hanyalah sementara. Dulunya juga begitu. Sikap baiknya padaku selalu diiringi dengan tuntutan menakutkan di kemudian hari. Kini aku tidak sanggup menanggung tuntutan apa pun lagi. Aku hidup penuh waspada dan tidak berani rileks sejenak pun. Aku tidak berani makan, bahkan tidur di tempat tidur pun aku tidak berani. Sebab, ayah Kevin mati tepat di kamar ini. Setiap kali memejamkan mata, aku langsung terbayang tubuh ayah Kevin yang berlumuran darah. Kevin tidak memaksaku, tapi terus melakukan rutinitasnya untuk membawakanku makanan. Beberapa hari kemudian, tubuhku tidak bisa bertahan lagi. Pandanganku mulai kabur. Perutku kosong dan tubuhku lemas tak berdaya. Akhirnya, aku menyerah. Aku mulai makan dengan gelojoh. Entah sudah berapa lama aku tidak makan makanan seenak ini. Alhasil, aku makan dengan terburu-buru hingga tersedak beberapa kali. Setelah makan, aku meringkuk di lantai untuk tidur. Ketika Kevin masuk lagi, dia menemukan semua makanan yang dibawakannya itu telah dimakan habis olehku. Dia tertawa sinis. “Benar saja. Orang seperti kamu nggak mungkin rela mati kelaparan.” Aku memeluk lututku dan meringkuk di sudut ruangan tanpa mengatakan apa-apa. Bab 3 Beberapa hari selanjutnya, pengasuh rumah menggantikan Kevin mengantarkan makanan. Kevin tidak pernah muncul lagi. Namun, Sinta malah datang. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali sehingga aku tahu dia adalah anak angkat Keluarga Wijaya. Dia pula yang telah mendapatkan cinta Kevin. Dia memiliki wajah cantik dengan mata besar yang menggemaskan. Dia bersikap layaknya nyonya rumah, melangkah mendekat dengan sepatu hak tinggi yang mengeluarkan suara berirama. Gaun hitam membuat lekukan tubuhnya semakin memukau. “Laras, aku dengar kamu bergelandangan selama tiga tahun di luar. Sekarang kamu jadi bisu dan tidak waras, ya?” “Kevin sangat membencimu. Tinggal di sini hanya akan membuat hidupmu semakin sengsara. Kalau kamu mau pergi, aku bisa membantumu.” Aku mengangkat kepalaku dengan gugup, lalu bertemu dengan tatapannya yang penuh sindiran. Dia menyunggingkan senyuman tipis, kemudian sorot matanya perlahan-lahan melembut. Aku sangat ingin pergi dari sini. Jadi, aku pun langsung menyetujuinya karena takut kehilangan kesempatan yang satu-satunya ini. Kemudian, Sinta menyuruhku untuk berganti pakaian dengannya, lalu memberiku kacamata hitam. Dia bahkan mengingatkan, "Ini satu-satunya cara agar kamu nggak tertangkap satpam. Di luar ada supirku yang akan mengantarmu ke mana pun kamu mau." Aku terus menelan ludah karena saking gugupnya, lalu mengangguk berulang kali. Dengan hati penuh kegembiraan karena bisa bebas, aku tak menyadari apa yang sedang terjadi. Ketika aku tersadar kembali, aku telah dibawa ke sebuah pesta. Orang-orang mulai mengenaliku. "Bukankah itu Laras, putri Keluarga Pradipta? Tumben sekali dia mau hadir di pesta ini." "Putri Keluarga Pradipta? Apa kamu nggak baca berita? Sekarang dia hanyalah seorang pemulung!" "Pantas saja. Sebelumnya dia begitu sombong dan nggak pernah mau hadir di pesta kecil seperti ini. Sekarang dia malah datang untuk memungut sampah?" Orang-orang tertawa terbahak-bahak. Dulu aku memang sombong dan angkuh. Di bawah perlindungan ayahku, aku tidak pernah belajar cara menjalin hubungan yang baik dengan orang. Akibatnya, aku berkonflik dengan banyak orang. Kini nasib burukku pun menjadi bahan olokan mereka. Aku berdiri canggung di tengah cemoohan. Pandanganku tidak lepas dari arah pintu keluar. Kemudian, sosok berpakaian putih muncul di hadapanku. Sinta datang dengan kondisi berantakan. Ada pula memar di bagian dahinya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menarik tangannya dan memohon padanya untuk membawaku keluar dari sini. Namun, fokus pandangnya ada di belakangnya. Dia mulai menangis keras. “Laras, aku tahu kamu membenciku. Nggak masalah kamu memukulku dan mencuri pakaianku. Tapi, bisakah kita pulang dulu? Jangan mempermalukan Kevin lagi.” “Laras!” Sebelum aku sempat merespons, seseorang menarikku dengan kasar. Aku terhuyung hingga menabrak sudut meja. Gelas-gelas jatuh dari meja dan pecah di lantai. Aku juga terlempar ke lantai. Salah satu pecahan gelas menancap dalam di telapak tanganku. Aku menahan sakit sambil menatap Kevin yang marah besar. Aku menggelengkan kepala dengan panik. Aku ingin menjelaskan apa yang terjadi. Namun, ekspresi semua orang yang penuh sindiran dan kebencian menyadarkanku bahwa tidak akan ada yang percaya padaku. Termasuk Kevin. Kevin mengangkat Sinta, lalu melontarkan sekata demi sekata. “Jangan coba-coba menantang batasanku.” Tentu saja. Batasannya selalu adalah Sinta. Aku dibawa pulang ke vila. Di sini, aku menunggu pembalasan Kevin dengan pasrah. Beberapa jam kemudian, dia akhirnya pulang. Dia menatap makanan yang tak tersentuh di meja, napasnya semakin berat. Sepertinya dia berusaha keras untuk menahan kemarahannya. Aku ketakutan hingga ingin menangis, tapi aku tidak berani. Laras yang dulu sangat keras kepala dan selalu bertingkah semaunya. Juga sangat cengeng. Setiap kali aku menangis, Kevin selalu mendorongku dengan kesal. “Laras, air matamu benar-benar membuatku muak.” Sejak saat itu, aku bertekad untuk tidak lagi menangis agar dia tidak muak padaku. Kevin berjongkok di hadapanku. Aroma tembakau segera mengitari hidungku. Dia mengangkat daguku dan memaksaku untuk bertatapan dengannya. Alisnya mengerut dengan dingin dan ganas.