Đang tải thông tin quảng bá...
Kakak Beradik
Pada hari kematianku, itu juga adalah ulang tahunku bersama kakak kembarku. Dia menangis tersedu-sedu sambil dipeluk erat oleh pacarku. Sementara itu, ibuku yang sangat marah terus meneleponku tanpa h...
Chương (1)
第1章
Pada hari kematianku, itu juga adalah ulang tahunku bersama kakak kembarku. Dia menangis tersedu-sedu sambil dipeluk erat oleh pacarku. Sementara itu, ibuku yang sangat marah terus meneleponku tanpa henti. Kakakku malah lebih keterlaluan, dia mengirim pesan yang berisi [Orang sepertimu ini memang egois, tidak bisa melihat orang lain bahagia]. Bahkan ayahku yang biasanya pendiam juga marah besar padaku, [Dia sungguh anak yang tidak tahu berterima kasih]. Mendengar kata-kata itu, aku langsung memegang dadaku. Untungnya, hatiku sudah tidak sakit lagi ....
Bab 1
Sejak kecil, Nenek sering memberitahuku bahwa ibu adalah orang yang paling baik di dunia ini.
Namun, aku merasa Nenek selalu menipuku.
Di saat aku berusia delapan tahun, barulah Ibu bersedia untuk menjemputku.
Sesampainya di rumah, aku melihat ibuku sedang menghibur kakak kembarku, Sofia Kistanti.
Aku memang sangat mirip dengan Sofia, tetapi aku memiliki tahi lalat di bawah sudut mata kiriku yang tidak dimiliki olehnya.
"Bu, siapa dia?"
"Dia adalah adik kembarmu yang baru pindah dari pedesaan, Ellen."
Mendengar pertanyaan penuh ketidakpuasan serta jawaban yang acuh tak acuh itu, hatiku seketika menjadi tidak tenang.
Kata "pedesaan" pun bisa menjadi sebutan bagiku. Sejak saat itu, jarak kami seketika menjadi jauh.
Kakakku, Vando Kistanti malah menatapku dengan penuh kebencian, Seakan-akan aku adalah penjajah di rumah ini.
Di saat itu pula, aku sangat ingin bertanya pada Nenek, apa yang baik dari ibuku?
Namun, sekarang ....
Di pesta ulang tahun kami atau lebih tepatnya pesta pertunangan Sofia, ibuku yang selesai melayani tamu langsung mengambil ponsel dan bersembunyi di area tangga, kemudian dia terus meneleponku tanpa henti.
Pada panggilan kelima, ponselku tiba-tiba dimatikan.
Ibuku sangat marah hingga berteriak, "Ellen, kamu kurang ajar sekali. Aku ini ibumu!"
Mendengar suara teriakan dari Ibu, Vando langsung berjalan kemari. Dia memapah lengannya sambil berkata, "Bu, jangan biarkan orang seperti dia merusak suasana pesta ini. Itu hanya akan membawa sial."
"Hari ini adalah pesta pertunangan Sofia, jadi tidak ada hubungannya dengan orang itu."
"Hanya Sofia yang berbaik hati, dia selalu memikirkan adik kembarnya yang tinggal jauh di pedesaan. Tapi, sekarang malah harus menderita karena masalah seperti ini."
Begitu mendengar nama "Sofia", senyuman bahagia langsung terlukis di bibir ibuku.
Ibuku pun menghela napas dan menepuk tangan Vando. "Untungnya, Sofia adalah anak yang perhatian. Sama-sama anakku, tapi kenapa perbedaannya begitu besar?"
"Dulu, saat melahirkan mereka berdua, aku hampir kehilangan nyawaku karena mengalami pendarahan."
"Apalagi, Sofia sudah kekurangan gizi sejak dalam kandungan. Dia sangat lemas dan sering kali sakit setelah lahir, bahkan hampir kehilangan nyawanya."
"Bahkan dokter pun bilang hidupnya adalah sebuah keajaiban."
Rasa sedih langsung menyelimuti hatiku. Aku sudah mendengar beberapa perkataan itu berkali-kali sejak dijemput pulang.
Kalau bukan karena bantuan Nenek, aku pasti sudah dibuang begitu saja.
Vando menghibur ibuku lagi. "Ellen tumbuh besar di pedesaan, dia tidak pantas tampil di depan umum."
"Demi kebahagiaan Sofia, aku harus menjemputnya ke sini hari ini."
Setelah itu, ibuku pun mengangguk dan berjalan ke dalam aula bersama Vando. "Sofia sangat kasihan karena harus menanggung semua ini."
Namun, aku tidak merasa kasihan padanya. Andai saja Sofia benar-benar baik padaku, kenapa dia tega mengunciku di ruang bawah tanah ....
Begitu terbang ke ruang rias, aku akhirnya bertemu dengan Sofia.
Sofia menangis tersedu-sedu. Dia mengerucutkan bibirnya sambil bersandar di pelukan Witson Winarta.
Riasan yang indah membuatnya terlihat sangat menyedihkan.
"Betapa bodohnya aku! Padahal aku bisa rayakan ulang tahunku saja, tapi buat apa harus bertunangan hari ini."
"Ellen tidak datang ke sini, apa karena dia masih marah padaku?"
"Lagian, kamu dulu adalah pacarnya. Dia juga begitu mencintaimu."
Mata Witson penuh rasa kasih sayang. Dia mengusap punggungnya dengan lembut.
Begitu mendengar namaku, Witson langsung berkata dengan ekspresi menghina. "Orang seperti dia seharusnya tidak dilahirkan pada hari yang sama denganmu."
"Hanya bayangin cintanya saja sudah membuatku muak."
"Urusan pertunangan sama sekali tidak ada hubungan dengannya."
Setelah Witson menyelesaikan kata-katanya, aku pun tersenyum sinis. Sofia sengaja bertunangan hari ini, bukankah karena ingin mempermalukanku?
"Tapi, Ellen adalah adik kembarku. Aku sangat harap bisa mendapatkan restunya," ujar Sofia dengan sedih.
Bab 2
Mendengar kata-kata itu, Witson langsung mencium keningnya. "Sofia, aku akan memberimu kebahagiaan."
Tiba-tiba, aku merasa sangat sakit hati.
Witson pernah mengucapkan perkataan seperti itu padaku dengan nada yang sama seriusnya.
Di saat masih kuliah, aku pernah terjatuh setelah ditabrak. Witson yang memapahku untuk berdiri.
Pada hari itu, matanya sangat bersinar dan penuh dengan bayanganku.
Witson mengusap rambutku dengan penuh rasa kasih sayang.
Dia berkata, "Ellen, aku akan melindungimu di masa depan. Aku akan memberimu kebahagiaan."
Sejak setelah bertemu dengan Sofia, kebahagiaan yang dia katakan sepenuhnya berubah.
Pada hari itu, mereka berdua berciuman dengan mesra di lantai bawah. Ketika aku melihat tindakan mereka, Witson langsung melindungi Sofia di belakangnya.
Jejak lipstik dan bibir yang bengkak membuatku merasa sangat mual.
Setelah menekan kesedihan di hatiku, aku langsung berjalan menghampiri Witson dan bertanya, kenapa ingin memperlakukanku seperti ini.
"Tidak ada yang perlu aku bicarakan pada wanita seperti kamu. Sekarang, aku hanya merasa jijik," ucap Witson sambil mendorongku. Dia pun malas untuk menjelaskannya padaku.
"Ellen, hubungan kami barulah disebut sebagai cinta sejati. Kamu akan memberkati kami, kan?"
Sebelum mereka berjalan pergi, Sofia tersenyum sambil bertanya seperti itu padaku.
Rasa sakit di hatiku pun menyelimuti seluruh tubuhku.
Setelah itu, Sofia pun mencariku sambil tertawa sangat keras.
"Ellen, aku benar-benar sangat membencimu. Seharusnya kamu tidak pulang ke sini, apa tidak baik tinggal di desa?"
"Semua orang di sini hanya bisa menyayangiku, termasuk Witson."
"Terutama melihat tahi lalat di wajahmu. Apa kamu tidak merasa dirimu sangat kotor?"
Kotor?
Benar sekali! Bagaimana aku bisa lupa kalau diriku pernah mengalami pelecehan seksual.
Sekarang, bahkan mati pun juga begitu kotor ....
Begitu pesta akan dimulai, Sofia langsung menyeka air matanya. Dia juga kembali didandan oleh MUA.
Ayahku berdiri di sebelahnya, kemudian menggenggam tangannya dengan mata penuh rasa bersalah.
"Ayah, meski Ellen tidak datang, aku tidak akan menyalahkannya. Tapi, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun padanya."
"Ini semua karena aku tidak memenuhi kewajibanku sebagai seorang kakak, sehingga melukai hatinya."
Lagi-lagi Sofia memaksa diri untuk tidak menangis.
Ayah yang selalu acuh tak acuh di depanku malah menepuk bahu Sofia. Dia berkata, "Jangan menyalahkan dirimu! Kamu selalu menjadi kebanggaan kami."
"Begitu melihat anak durhaka itu, aku akan menyuruhnya meminta maaf padamu."
Ibuku juga berdiri di sebelah. Matanya penuh dengan rasa syukur dan mengangguk tanpa henti.
"Dasar anak durhaka, biarkan dia mati saja," gumam Vando.
Namun, ibuku langsung memukulnya. Tidak boleh mengucapkan perkataan yang sial di hari bahagia seperti ini.
Sofia pun tertawa setelah melihat tindakan mereka. Lalu, dia menggandeng lengan Witson dan berjalan menuju panggung.
Aku terpaksa untuk melihat kehidupan mereka. Momen bahagia yang tidak pernah aku alami sekalipun.
Untungnya, aku sudah terbiasa. Kini, hatiku sudah tidak terasa sakit lagi.
Diiringi melodi piano yang merdu, mereka mulai bertukar cincin.
Ibuku sangat terharu hingga menangis di bawah panggung.
Mereka bahkan melupakan bahwa hari ini juga adalah hari ulang tahunku, tetapi ada beberapa orang yang tidak melupakannya.
"Kenapa Ellen tidak datang? Bukankah hari ini juga ulang tahunnya?"
"Baru saja aku melihat namanya di kue yang didorong ke panggung"
"Kudengar Witson juga pernah berpacaran dengannya, tapi sekarang sudah menjadi kakak iparnya."
Saat ini pula, terdengar beberapa gosip.
"Ellen bukanlah orang yang baik. Kepribadiannya sangat buruk dan suka berbohong ...."
"Tidak ada yang akan menyukainya."
Orang tuaku benar-benar sangat perhatian.
Mereka merusak reputasi di depan kerabat dan teman-temanku tanpa ragu.
Setahun setelah aku dijemput dari pedesaan, Bibi pernah membawa anaknya ke rumahku untuk bermain.
Saat itu, anaknya tidak sengaja jatuh dari sofa, tetapi Sofia langsung menunjukku sebagai orang yang mendorongnya.
Bibi langsung memperlihatkan ekspresi marah. "Padahal masih kecil, tapi hati sudah begitu jahat."
Sebenarnya aku terus membela diri, tetapi mereka tidak ingin mendengarnya.
Demi memaksaku mengakui kesalahan, ayahku mengunciku di dalam kamar. Dia bahkan membiarkanku lapar selama dua hari dan dua malam. Sejak itu pula, aku terkena radang usus yang akut.
Bab 3
Kemudian, ibuku merasa sedikit bersalah sehingga bersikap baik padaku selama beberapa hari.
Namun, kebaikannya hanya berlangsung selama beberapa hari.
Pada malam hari, acara pertunangan itu pun berakhir dengan lancar.
Tidak ada yang peduli siapa yang merayakan ulang tahun hari ini.
Setelah berpamitan dengan para tamu, ayahku segera memasang wajah muram. Dia menyuruh Vando untuk terus meneleponku.
Ponselku pun beralih dari tidak aktif menjadi tidak terjawab.
Setelah menggenggam tangan Vando yang marah, Sofia pun berkata, "Sudahlah, Kak. Ellen hanya tidak ingin melihatku, sebenarnya tidak apa-apa kalau dia tidak datang."
Sofia selalu berpura-pura begitu baik dan perhatian.
Seperti dugaan, mata ayahku dipenuh dengan rasa kasih sayang.
"Bagus juga kalau Ellen tidak datang. Dia saja bisa mencelakai neneknya sampai mati. Kedatangannya hanya akan membawa sial."
"Melahirkannya ke dunia ini hanya mendapatkan malapetaka. Kalau tahu lebih awal, aku pasti akan mencekiknya sampai mati."
Setelah mendengar ucapan ayahku, rohku yang melayang juga ikut gemetar.
Mereka sama sekali tidak pantas membicarakan nenekku.
Dulu saat melahirkanku, ibuku mengalami pendarahan yang serius dan hampir meninggal di meja operasi.
Sementara itu, kakakku kekurangan oksigen dan harus dilarikan ke inkubator.
Hanya aku yang tampak sehat.
Segera setelah itu, bisnis ayahku terkena masalah.
Mereka menimpakan semua kesialan padaku, bahkan mengatakan bahwa aku adalah sumber malapetaka yang hanya akan membawa nasib buruk.
Sebab itu, ayahku pun memutuskan untuk mengusirku keluar dari rumah.
Namun, Nenek tidak setuju dan mengatakan bahwa mereka terlalu percaya takhayul. Kemudian, dia pun bersikeras untuk mempertahankanku.
Saat aku masih berusia di bawah delapan tahun, Nenek yang membesarkanku dengan penuh kasih sayang.
Namaku juga diberikan oleh Nenek. Dia bilang aku harus bahagia dan hidup dengan ceria.
Namun, pada saat aku berusia tujuh tahun, Ibu datang untuk menjengguk Nenek. Ketika ibuku hendak pulang, dia sama sekali tidak melihatku.
Aku ingin bertanya padanya, kenapa dia tidak melihatku?
Oleh karena itu, aku mengejar mobilnya. Aku menangis sambil berlari.
Mimpi buruk pun datang pada saat itu. Aku hampir mati di dalam ruangan gelap yang bobrok.
Setelah menemukanku, Nenek langsung memelukku dan menangis cukup lama.
Nenek juga menelepon ibuku beberapa kali, kemudian mengatakan bahwa aku jatuh sakit agar dia bisa pulang secepat mungkin.
Tak disangka, ibuku malah menolak.
Sejak saat itu, aku tidak ingin mencari Ibu lagi.
Di saat itu juga, Nenek pun berubah. Setiap hari, dia tampak sangat hati-hati.
Nenek bahkan pergi ke kuil untuk meminta sebuah patung dewa yang berukuran kecil untukku. Dia mengatakan bahwa itu bisa melindungiku.
Di saat aku berusia delapan tahun, Nenek malah mengejar orang yang mencelakaiku. Setelah terjatuh, dia pun tidak bangun lagi.
Aku telah mencelakai Nenek yang paling kucintai. Kini, aku hanya memiliki patung dewa yang dia berikan.
Ketika Ibu datang untuk menjemputku, aku menangis hingga suaraku menjadi serak.
Ayah tidak punya pilihan lagi, sehingga setuju untuk membawaku pulang. Akan tetapi, aku tidak bermarga 'Kistanti', melainkan hanya dipanggil dengan sebutan 'Ellen'.
Bahkan akta kependudukanku masih tercatat dalam buku yang sama dengan Nenek.
Sejauh ini, mimpi buruk itu masih membuatku ketakutan ketika berada di ruangan gelap.
Misalnya, kejadian di mana aku didorong ke ruang bawah tanah oleh kakakku.
Di sepanjang perjalanan pulang, Sofia terus menghibur orang tuanya. Dia pun berusaha untuk memperlihatkan rasa baktinya yang tulus.
Demi menebus kejadian yang terjadi hari ini, ibuku secara khusus memasak semangkuk mi panjang umur untuk Sofia.
"Anakku yang tercinta, hari ini kamu sudah menderita," ujar ibuku.
"Makanlah! Semoga panjang umur."
Sofia dengan manja bersandar di pelukan ibuku, kemudian mengatakan betapa bahagianya dia dalam hidup ini.
"Aish! Betapa bagusnya kalau Ellen ada di sebelah kita."
Begitu membicarakanku, Sofia menggigit bibirnya dan tampak ingin menangis.
Vando mengerutkan bibirnya dengan marah. "Sofia, kamu itu terlalu baik, makanya selalu dianiaya oleh orang lain."
Mendengar ucapan mereka, aku yang berdiri di sebelah sontak merasa sangat ironis.
Terlihat jelas bahwa keluargaku lebih menyayanginya. Akan tetapi, Sofia masih merasa tidak cukup.
Tentu saja, aku tahu karena dia membenci keberadaanku.
Awalnya, ibuku sebenarnya tidak memperlakukanku seburuk ini.
Pada saat ulang tahunku, dia juga pernah memasak mi panjang umur untukku.
Aku sangat senang sampai hampir melompat.
Sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih, Sofia sudah berkata sambil menangis, "Begitu memikirkan penderitaan yang Ibu alami saat melahirkan kita, hatiku langsung terasa sedih."
Bab 4
"Satu-satunya harapan yang aku inginkan adalah Ibu bisa hidup dengan selamat dan sehat."
Mendengar perkataan itu, ayahku langsung memelototiku. "Rayain ulang tahun apaan? Risih sekali, cepat kembali ke kamarmu!"
Semangkuk mi itu pun dibuang ke tong sampah oleh ayahku, padahal aku belum sempat memakannya.
Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, pantas saja aku meninggal begitu cepat.
Sofia sengaja berlari ke kamarku, kemudian perkataan yang dia katakan seperti bilah pisau yang beracun.
"Bisa-bisanya ingin makan mi panjang umur yang dimasak ibuku, sungguh nggak tahu malu!"
"Dasar pembawa sial, kenapa kamu tidak mati saja."
Mendengar kata-katanya, aku sangat marah hingga mendorongnya. Di saat itu pula, kepalanya menghantam ke arah pintu.
Malam itu, aku pertama kalinya dikurung di ruang bawah tanah oleh ayahku. Aku hanya bisa berusaha untuk mengetuk pintu.
Gelap sekali! Aku ketakutan hingga tidak bisa bernapas, tetapi aku juga tidak berani memanggil ibuku. Jadi, aku hanya bisa mengetuk pintu tanpa henti.
Beberapa mimpi buruk itu terus menghantuiku, seakan-akan suara kain yang sobek terdengar di telingaku.
Di saat terkulai dalam penderitaan, aku berteriak pada Nenek agar dia bisa menyelamatkanku secepat mungkin.
Semua ketakutan pun menyelimutiku.
Setelah aku sadar kembali, ibuku sudah memelukku di rumah sakit.
Namun, begitu melihat ibuku, aku langsung ketakutan dan bersembunyi di sudut.
Aku terus berteriak, "Aku tidak mau Ibu, aku tidak mau Ibu."
Dalam kepanikan, aku malah lupa bahwa itu adalah pertama kalinya dia memelukku.
Tangan ibuku terhenti di udara dan wajahnya menjadi muram. "Sungguh anak yang tidak tahu berterima kasih!"
Meskipun aku telah didiagnosis menderita fobia gelap, ibuku tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dia langsung berbalik dan berjalan keluar dari rumah sakit.
Pada malam itu, aku hampir tenggelam dalam penyesalan.
Kuku yang menancap di kulit pun tak mampu meredakan rasa putus asa dan gelisah.
Sejak saat itu, ibuku menjadi semakin membenciku.
Ketika aku masuk kuliah, Sofia ingin memiliki ruang belajarnya sendiri.
Tanpa basa-basi, ibuku langsung menyuruh orang membuang semua barangku dan menjadikan kamar tidurku sebagai ruang belajar.
Mereka tampak sangat tidak sabar untuk mengusirku.
Tidak apa-apa! Kini, aku sudah mati dan tidak akan kembali lagi.
Keesokan harinya, Witson yang ingin menyenangkan Sofia pun memberikannya kunci rumah baru.
Sofia dengan senang mengajak seluruh anggota keluarganya untuk melihat rumah baru.
Sementara itu, aku ikut di belakang Ayah, Ibu dan Vando.
Setibanya di rumah baru, Ayah dan Ibu yang kelelahan langsung duduk di sofa.
Lagi-lagi mereka membahas kesalahanku.
"Ellen benar-benar sangat keterlaluan. Sampai sekarang, dia bahkan tidak menelepon kita."
"Gagal sekali aku, sampai bisa punya anak seperti itu."
Ibuku melihat layar ponselnya, tetapi hanya ada panggilan keluar yang tak terjawab.
"Ellen yang kejam dan tidak tahu berterima kasih. Jangan pulang lagi kalau berani," ujar ayahku sambil memegang tangan ibuku.
Aku melihat ekspresi mereka dari jarak dekat.
Selain rasa benci yang mendalam, mereka sama sekali tidak mengkhawatirkanku.
Tidak peduli seberapa aku berusaha, mereka tetap saja tidak peduli.
Ayahku pun mengerutkan alisnya. Begitu membicarakanku, dia selalu merasa kesal.
Segera setelah itu, ibuku memejamkan matanya dan menghela napas.
Sejak aku menghilang hingga sekarang, tidak ada seorang pun dari mereka yang khawatir akan keselamatanku.
Memikirkan hal itu, aku menyeka air mata di sudut mataku. "Bu, seburuk apa aku sampai kamu begitu membenciku?"
Ketika ibuku menjemputku pulang, aku pernah bertanya padanya di dalam mobil.
"Bu, kenapa kamu baru datang menjemputku sekarang? Apa karena tidak sayang padaku?"
Ibuku tidak menjawab dan menyandarkan kepala di jendela tanpa melihatku.
Di antara kami hanya ada jarak satu orang.
Kami sama sekali tidak berbicara.
Ternyata Nenek hanya menipuku. Ibu sama sekali tidak baik.
Setelah meninggal, barulah aku sadar kalau Ibu tidak sayang padaku.
Aku sangat sedih sehingga hendak keluar dari rumah ini. Akan tetapi, begitu sampai di depan pintu, aku malah ditarik kembali oleh semacam kekuatan.
"Bu, aku akan menelepon Ellen lagi. Kamu jangan khawatir," ucap Vando sambil menekan telepon di tangannya.
Setelah berdering tiga kali, akhirnya panggilan pun terhubung.
"Ellen, kamu sungguh keterlaluan. Dasar nggak tahu diri, kenapa kamu baru angkat telepon sekarang?"
"Kamu ingin membuat kami ngamuk ya?"
Setelah terdiam sejenak, terdengar suara serak dari ujung telepon. "Dia sudah mati, tapi dia jelas memintaku untuk menyelamatkannya."
Bab 5
Setelah panggilan diakhiri, Vando langsung mengumpat dengan marah.
Suara itu membuatku terjerat dalam ketakutan yang tiada akhir ....
Sebelum hari ulang tahunku, aku berusaha untuk menyelesaikan semua pekerjaanku.
Ibuku meneleponku dan menyuruhku untuk pulang lebih awal, karena ada acara yang akan diselenggarakan di rumah.
Namun, aku lebih ingin pergi ke makam Nenek pada hari ulang tahunku.
Patung dewa yang dia berikan untukku masih tertinggal di rumah lama.
Baru saja turun ke lantai bawah, aku pun bertemu dengan Sofia dan Witson.
"Ellen, besok adalah ulang tahun kita. Apa kamu mau ikut merayakannya?"
"Kemudian, aku dan Witson juga akan bertunangan pada hari itu. Kamu harus datang ya."
Sofia bersandar di pelukan Witson sambil tersenyum ceria.
Mendengar kata-kata itu, barulah aku tahu bahwa itu adalah acara yang diselenggarakan untuk Sofia. Sebab itu, aku tidak menghiraukannya dan terus berjalan ke depan.
"Ellen, apa kamu tidak senang melihatku bahagia?" tanya Sofia sambil menarik tanganku dengan kuat.
Dia sebenarnya tidak ingin mengundangku, tetapi malah ingin memamerkan kebahagiaannya.
"Ya sudah, aku akan lihat seberapa bahagianya kalian."
Dalam kondisinya yang marah, aku hanya berniat untuk menjijikkannya. Tak sangka, itu malah membawa malapetaka untuk diriku sendiri.
Aku sudah mencari setiap sudut di rumah, tetapi tidak menemukan patung itu. Aku sangat panik hingga menangis.
Hal-hal yang tidak baik pun terus terjadi.
"Ellen, kamu sedang mencari patung dewa ya?" tanya Sofia. Seakan-akan dia sudah mengetahui kelemahanku.
"Patung itu sudah dibuang ke ruang bawah tanah, tidak ada gunanya kalau dipajang di rumah."
Mendengar kata-kata itu, aku langsung bergegas ke ruang bawah tanah.
Ketika pintu terbuka, ruangan itu benar-benar sangat gelap.
Sofia berdiri di belakangku, dia mengangkat tangan dan melemparkan sesuatu ke ruang bawah tanah. Kemudian, dia pun mendorongku masuk ke dalam.
"Mau ikut acara pertunanganku? Mimpi saja!"
"Dalam hidup ini, aku nggak akan merayakan ulang tahun bersamamu.”
"Tinggal saja di ruang bawah tanah ini. Aku ingin melihat seberapa takutnya kamu."
Aku mendengar suara tawanya yang keras serta suara putaran kunci.
Tidak peduli betapa kerasnya aku mengetuk pintu, dia sama sekali tidak membukanya.
Omong-omong, Sofia bilang patung yang diberikan Nenek ada di ruang bawah tanah.
Aku menyalakan ponselku untuk mendapatkan sedikit cahaya, tetapi tidak menemukan apa pun.
Tak lama kemudian, aku tersandung dan ponselku terjatuh ke lantai.
Ketakutan kembali menyerangku, aku terjebak dalam kegelapan yang pekat.
Dalam kondisi setengah sadar, pintu kembali terbuka.
Sosok itu adalah Ibu.
"Ibu, selamatkan aku." Aku ingin berbicara, tetapi tidak bisa mengeluarkan suara apa pun.
Tubuhku tergeletak di lantai dan sama sekali tidak bisa bergerak.
Ibuku berdiri di depan pintu dan melirik ke dalam sejenak. Kemudian, dia meletakkan barang di tangannya dan keluar lagi tanpa ragu.
Aku menahan diri agar tidak pingsan. Setelah sekian lama, akhirnya ada orang yang datang menyelamatkanku.
"Selamatkan aku," ujarku dengan suara lembah. Itu pun membuat orang di depanku terkejut.
"Astaga! Kenapa ada orang di sini?"
"Tapi, dia terlihat cukup cantik. Jangan takut, aku akan menyelamatkanmu sekarang ...."
Aku mencium bau alkohol yang menyengat, kemudian juga mendengar suara pakaian yang sobek.
Setelah roh keluar dari tubuhku, aku melihat pria itu berbaring di atas tubuhku.
Orang di sebelahnya juga mengambil ponselku.
"Mati! Kenapa bisa mati?"
"Benar-benar tidak bisa diajak main, sial sekali!"
Dalam kepanikan, mereka langsung memasukkan mayatku ke dalam karung.
Saking gelapnya sampai tidak bisa melihat wajah mereka, sehingga aku hanya tahu bahwa mereka terdiri dari dua orang.
Namun, suara mereka terus bergema di telingaku.
Karung itu sangat kecil, tetapi aku bisa masuk ke dalam setelah ditendang mereka beberapa kali.
Aku sangat takut hingga melarikan diri dan melintasi kegelapan. Kemudian, terdengar suara anjing yang saling menggonggong dari kejauhan.
Sungguh menakutkan!
Ketika aku berbalik lagi, aku sudah berada di pesta pertunangan Sofia.
Ruangan pesta bersinar terang. Di bawah lampu gantung yang megah, tersaji berbagai makanan dan minuman yang lezat.
Keluargaku berpakaian rapi dan mengucapkan doa yang baik. Namun, mereka akan mengumpat saat memikirkanku.
Terlihat jelas bahwa ruangan ini bertolak belakang kalau dibandingkan dengan ruang gelap tempat aku tinggali sebelum meninggal.
Bab 6
Setelah itu, aku bahkan tidak tahu di mana keberadaan mayatku.
Tempat itu sangat gelap. Sebagai roh yang tidak punya tempat tinggal, aku pun tidak berani pergi ke sana.
Seandainya Nenek masih hidup, apakah dia akan memelukku seperti kemarin?
Kemudian, dia menangis sambil memberitahuku bahwa nenekmu ada di sebelahmu.
Tidak! Aku tidak bisa membiarkannya melihat hidupku yang terpuruk seperti ini.
Nenek cukup melihat sekali saja, bagaimana aku bisa membiarkannya melihat untuk kedua kalinya?
Nenek berharap bahwa aku bisa hidup ceria, tetapi aku selalu terjebak dalam kegelapan.
Bahkan saat mati pun aku masih terjebak dalam kegelapan.
Aku hanya tahu bahwa tidak ada lagi orang di dunia ini yang akan memihakku dengan sepenuh hati.
Kini, aku pun menjadi anak yang tidak akan pernah dicintai.
Aku memegang dada untuk menenangkan diri.
"Bu, aku benci kalian."
"Bukan kalian yang meninggalkanku, tapi akulah yang tidak ingin lagi hidup bersama kalian."
"Terlahir sebagai anak kalian adalah malapetaka terbesar dalam hidupku."
Setelah panggilan diakhiri, Vando terus mengumpat.
Sofia sontak merasa bersalah, dia mulai menenangkan Ayah dan Ibu.
"Ellen sudah bukan anak kecil lagi, tapi masih bercanda seperti itu."
"Sial sekali kalau bicara seperti itu di hari ulang tahun kami."
Ayahku sangat marah hingga mendengus. "Baguslah kalau dia benar-benar mati."
"Anak durhaka ini hanya akan membawa nasib buruk."
Sejak aku dibesarkan oleh Nenek, bisnis Ayah berkembang pesat dan pesanan melonjak. Sebab itu, kekayaannya bertambah berkali-kali lipat.
Dia menganggap bahwa semua keberuntungan itu berasal dari kelahiran Sofia.
Istrinya keluar dari rumah sakit dan anaknya sangat sehat, bahkan uang di rumah pun bertambah lebih banyak dari sebelumnya.
Sebab Ayah membenciku, sehingga dia merasa bahwa aku sangat sial.
Aku tidak akan melupakan tatapan jijiknya saat melihatku.
Dia memberi tahu ibuku bahwa aku cukup dipanggil dengan sebutan 'Ellen' di masa depan. Terkait akta kependudukan, itu sama sekali tidak perlu diurus agar tidak mencemari reputasi Keluarga Kistanti.
Aku sebenarnya memiliki keluarga, tetapi rasanya seolah tidak pernah punya.
Dia bisa menghabiskan banyak uang untuk mengirim Sofia dan Vando ke sekolah yang baik, agar mereka bisa mendapatkan pendidikan terbaik.
Sementara, aku hanya pantas menjadi murid pinjaman. Itu pun sudah harus bersyukur karena bisa sekolah.
Aku bahkan pernah bekerja keras untuk mendapatkan uang saku.
Saat ini, aku sudah mati. Ayah, bisakah kamu tidak memarahiku lagi?
Kamu memang tidak akan merasa sedih, tetapi hatiku akan terasa sakit.
Aku sudah tidak ingin lagi menjadi anakmu. Sungguh melelahkan!
Di hari-hari berikutnya, aku hanya bisa terus hidup bersama mereka.
Ya sudah kalau aku tidak dihargai saat hidup, tetapi aku yang sudah meninggal malah harus dimarahi lagi dan tidak bisa pergi dengan tenang.
Bahkan sudah menjadi hantu pun aku masih tidak bisa membebaskan diri dari kehidupan mereka.
Ibuku akan menyiapkan sarapan yang lezat setiap hari, kemudian dengan lembut memanggil mereka untuk makan.
Bahkan juga akan membujuk mereka untuk makan lebih banyak.
Sofia sangat pandai bersikap manja. Dia bisa membuat semua orang tertawa dan senang, kecuali aku.
Rupanya, dia bukanlah orang yang acuh tak acuh dan juga bisa tersenyum. Namun, itu tidak berlaku saat berhadapan denganku.
Bahkan tetangga di sebelah pun memujinya sebagai anak yang baik dan beruntung.
"Iya! Sofia sangat patuh, tidak seperti Ellen yang pemarah dan tidak mau pulang ke rumah."
"Kalau punya anak seperti itu, sungguh memusingkan!"
Ibuku benar-benar sangat jago dalam memuji Sofia dan juga menghinaku.
Reputasiku yang buruk ternyata disebarkan oleh keluargaku sendiri. Bahkan tetangga hanya bisa tersenyum canggung.
Selesai berpamitan dengan tetangga, ponsel ibuku tiba-tiba berdering.
Itu adalah nomor teleponku.
Barulah itu berhasil memecahkan semua ketenangan.
"Apakah ini anggota keluarga dari pemilik ponsel? Kami telah menangkap pelaku dari sebuah kasus pembunuhan brutal."
"Kemudian, kami menemukan ponsel ini dari tubuh pelaku."
"Pelaku telah memberikan keterangan mengenai lokasi di mana jenazah dikuburkan. Bolehkah Anda dan anggota keluarga lainnya datang untuk mengidentifikasi mayat?"
Akhirnya jenazahku sudah ditemukan