Sekretaris Suamiku Mengiraku Pelakor

Đang tải thông tin quảng bá...

Sekretaris Suamiku Mengiraku Pelakor

GoodNovel Hoàn thành
CantikEmosionalKuatCinta segitigaDrama

Setelah menikah tiga tahun, aku akhirnya hamil. Setelah menyiapkan bekal, aku bersiap-siap ke perusahaan suamiku untuk memberitahunya kabar baik ini. Siapa sangka, sekretarisnya malah mengira aku wani...

Chương (1)

第1章

Setelah menikah tiga tahun, aku akhirnya hamil. Setelah menyiapkan bekal, aku bersiap-siap ke perusahaan suamiku untuk memberitahunya kabar baik ini. Siapa sangka, sekretarisnya malah mengira aku wanita penggoda. Sekretaris suamiku membuang masakanku ke wajahku, melucuti pakaianku, bahkan membuatku keguguran. "Kamu cuma pelayan, tapi berani merayu Pak Richie. Kamu bahkan hamil anaknya!" "Hari ini, aku bakal membuatmu kapok supaya kamu nggak merayu pria lagi!" Kemudian, wanita itu meminta pujian dari suamiku. "Pak Richie, aku sudah membereskan pelayan yang ingin merayumu. Gimana kamu akan menghadiahiku?" Bab 1 Belakangan ini aku sering mual dan tidak selera makan. Aku memutuskan untuk mencari dokter. Ketika dokter memberitahuku aku hamil, aku bahagia hingga meneteskan air mata. Aku dan suamiku adalah teman masa kecil. Setelah tamat kuliah, kami menikah dan mempersiapkan kehamilan, tetapi aku tak kunjung hamil. Suamiku menghiburku, "Kehamilan nggak bisa dipaksakan. Mungkin, anak kita lagi menunggu waktu yang tepat untuk datang." Sekarang, momennya akhirnya tiba. "Bu, kamu sudah hamil empat bulan. Kondisi janin cukup stabil, tapi kamu tetap harus berhati-hati waktu beraktivitas." Dengan ekspresi dipenuhi kelembutan, aku mengelus perutku yang agak menggembung. Ternyata sudah empat bulan. Menstruasiku tidak pernah tepat waktu. Makanya, aku mengira perut buncitku ini karena makan kebanyakan belakangan ini. Sepulangnya, aku tidak bisa menahan kegembiraanku. Aku langsung masuk dan menyiapkan makan siang untuk suamiku. Aku akan mengantar bekal untuknya nanti, sekaligus memberitahunya kabar gembira ini. Sambil menjinjing kotak makan, aku berjalan masuk ke Grup Suharto tanpa dihalangi siapa pun. Akan tetapi, ketika aku hendak mendorong pintu ruang kantor suamiku, seorang wanita cantik tiba-tiba menghentikanku. "Ngapain kamu?" Nada bicara wanita itu terdengar dingin. Dia pun mengamatiku dengan tatapan jengkel. Aku mengangkat kotak makan di tangan, lalu menyahut, "Aku mau antar makanan untuk Richie." Di hadapan orang yang tidak kukenal, aku kurang suka langsung menyebut Richie adalah suamiku. Wanita itu menghela napas lega. Kemudian, dia tiba-tiba mencelaku, "Rupanya cuma pelayan. Aku sekretaris utama Pak Richie. Namaku Mauren. Sini, biar aku yang bawa masuk makanannya." Aku menggeleng. "Aku bukan pelayan. Aku harus mengantar makanan ini sendiri. Tolong minggir." Begitu mendengarnya, Mauren malah murka. Dia merebut kotak makanan itu dan membentakku, "Memangnya siapa kamu? Kamu cuma pelayan, tapi mau menggoda Pak Richie? Lihat dandananmu itu! Genit sekali! Hari ini, aku akan memberimu pelajaran!" Usai berbicara, Mauren menarikku ke ruang rapat. Dia menutup pintu, lalu menamparku. Wajahku sontak bengkak. Aku bahkan terjatuh. Sebelum aku bereaksi, Mauren tiba-tiba menendang kepalaku. Anakku! Aku tidak sempat memedulikan hal lain. Aku langsung meringkuk untuk melindungi anak di perutku! "Biar kulihat, makanan apa yang kamu antar untuk Pak Richie." Mauren membuka kotak makan, lalu membuang masakanku. Sup iga yang kumasak selama tiga jam mengalir dari kepalaku ke tanah. Rasanya panas dan perih. Namun, aku tidak berani mengubah posisiku. Aku harus melindungi perutku. "Oh, masih ada ayam bakar. Kamu memang genit!" Saat berikutnya, Mauren menekan daguku dan menggunakan jarinya untuk memaksaku buka mulut. "Kamu saja yang makan ayam ini!" Ayam bakar yang dimasak dengan bumbu cabai sontak mengenai wajahku. Sensasi perih menjalar ke wajah dan hidungku. Aku kesakitan hingga berteriak. Mauren menepuk tangannya sambil mengejek, "Menjijikkan sekali. Masakanmu berminyak. Untung kuku baruku nggak rusak." Mauren menatapku dengan tatapan meremehkan dan meneruskan, "Kamu kira kamu bisa mendapat hati Pak Richie dengan masak untuknya? Kamu cuma wanita rendahan. Pak Richie nggak bakal suka!" Aku ingin menjelaskan, tetapi aku malah terbatuk dan tidak bisa bicara. Ini karena bumbu cabai yang masuk ke kerongkonganku tadi. Saat ini, pintu ruang rapat tiba-tiba diketuk seseorang. "Kak Mauren, suara apa itu?" Bab 2 Aku menghela napas, mengira akan ada yang menolongku. Mauren terkekeh-kekeh sinis dan membuka pintu tanpa takut. Dia menyahut, "Wanita ini ingin merayu Pak Richie. Aku memberinya pelajaran." Para sekretaris itu pun memasang ekspresi menghina. "Pak Richie terlalu hebat. Wajar kalau ada banyak jalang yang ingin menggodanya." "Kamu nggak usah cemas, Kak. Kamu yang menemani Pak Richie selama lima tahun. Cuma ada kamu di hatinya." Mauren mendengus dan berkata, "Tentu saja." Mauren menatapku dengan tatapan benci. Aku hanya bisa berbaring di lantai dengan menyedihkan. Wanita itu masih menyindir, "Lain kali jangan buat malu diri sendiri." Aku mengeluarkan ponsel dengan tangan bergetar. Aku ingin menelepon Richie. Namun, tatapan Mauren sontak berkilat dingin dan tertuju pada ponselku. Saat berikutnya, ponselku direbut. Mauren menatap casing ponselku dengan kesal. Dia membentak, "Besar sekali nyalimu! Kamu diam-diam pakai casing couple dengan Pak Richie!" Mauren membanting ponselku. "Dasar jalang!" Dia bahkan menjambak rambutku dan menamparku tanpa henti. "Awalnya aku ingin mengampunimu, tapi sekarang aku berubah pikiran! Kalau nggak memberimu pelajaran, kamu nggak bakal kapok!" Aku seperti sampah yang dihempaskan begitu saja oleh Mauren. Tidak berhenti sampai di sana, Mauren mengajak para sekretaris untuk menindasku, "Teman-teman, wanita ini berani merayu Pak Richie. Gimana kalau kita telanjangi dia?" Para sekretaris itu pun menyetujuinya. Aku buru-buru merangkak ke arah pintu. Namun, tanganku sontak terasa sakit. Ternyata Mauren menginjak tangan kiriku. Karena kesakitan, aku tak kuasa berteriak. Wanita lainnya segera menghampiri untuk menahanku. Mauren berjongkok dan menatap wajahku dengan jahat dan penuh minat. "Kamu cantik juga. Tenang saja, aku nggak bakal melukai wajahmu. Nanti aku bakal unggah foto bugilmu ke internet. Kalau wajahmu berdarah, nanti orang-orang nggak bisa mengenalimu. Sayang sekali, 'kan?" Sekujur tubuhku gemetaran. Aku ingin melindungi perutku, tetapi tidak bisa bergerak. Tiba-tiba, Mauren mengambil gunting dan menggunting rokku. Aku tidak berani bergerak ataupun berteriak karena takut terjadi kesalahan. Wanita gila ini bisa saja menikam perutku. Waktu terus berlalu. Aku merasa sangat putus asa. Rokku menjadi compang-camping. Kulitku yang putih dan halus seketika terpampang jelas. "Dasar jalang! Pantas saja kamu berani menggoda Pak Richie. Ternyata kulitmu bagus juga," ucap Mauren. Entah sejak kapan, depan pintu menjadi ramai. Sebagian besar hanya menonton dengan tidak acuh, tetapi ada juga yang maju untuk menghentikan Mauren. "Kak, aku rasa sudah cukup. Kalau sampai makan korban, kamu yang sulit menjelaskan kepada Pak Richie." Mauren sama sekali tidak peduli. Dia menyentil dahiku dan berkata, "Dia cuma pelayan, tapi ingin menggoda Pak Richie. Sebagai sekretaris Pak Richie, aku membantunya mengatasi kerepotan ini. Ini termasuk tugasku, 'kan?" Orang itu masih ingin bicara, tetapi Mauren mengedarkan tatapan dingin kepadanya dan bertanya, "Kamu yakin mau membela pelakor ini dan melawanku yang merupakan orang kepercayaan Pak Richie?" Begitu ucapan ini dilontarkan, orang itu tampak ragu-ragu dan tidak berani bersuara lagi. Tiba-tiba, seorang sekretaris bermata jeli menunjuk perutku dan berseru, "Kak, sepertinya dia hamil!" Tatapan Mauren pun menjadi tajam. Dia segera maju dan menatap perutku lekat-lekat. Sesudahnya, dia terkekeh-kekeh sinis seperti sudah siap untuk mencabik-cabik diriku. "Aku menjaga Pak Richie dari para jalang di perusahaan, tapi kalah dari pelayan yang naik ke ranjang majikan. Beraninya kamu mengandung anak Pak Richie! Kamu rasa kamu sanggup melahirkannya?" hardik Mauren. Mauren sontak menjambak rambutku lagi. Kali ini, dia tidak menamparku, melainkan menghantam kepalaku ke tembok. "Mati saja kamu! Siapa pun yang berebutan Pak Richie denganku harus mati!" pekik Mauren. Dia mungkin sudah lelah, jadi melemparku ke lantai. Aku tidak sempat menenangkan diri karena perutku terasa sakit. Aku tak kuasa meringkuk, tetapi kesakitan tidak mereda. Telingaku mulai berdengung. Pandanganku kabur. Darah mengalir dari kepala ke daguku. Sebelum kehilangan kesadaran, aku berteriak, "Aku istri Richie!" Bab 3 Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Plak! Yang kudapat bukan pertolongan, melainkan tamparan dari Mauren. "Kalau kamu istri Pak Richie, aku siapanya? Aku mengikuti Pak Richie lima tahun! Aku mengenalnya sepuluh tahun! Aku nggak pernah dengar dia sudah nikah! Dasar jalang! Beraninya kamu menipuku!" hardik Mauren. Aku meludah darah, lalu berusaha menjelaskan, "Kami teman masa kecil. Aku benar-benar istrinya." Para sekretaris merasa cemas mendengar perkataanku. Mereka ingin menghentikan Mauren, tetapi Mauren mengangkat tangan dengan tidak peduli. "Tenang saja, aku paling memahami Pak Richie." Mauren mengamatiku dari atas hingga bawah dengan tatapan jijik. Dia melempar rokku yang sudah sobek layaknya sampah. Aku tidak memakai perhiasan ataupun membawa tas bermerek. Tas kain untuk membawa kotak makan juga terlihat lusuh. Mauren terkekeh-kekeh sebelum berkata, "Penampilanmu seperti wanita miskin. Aku nggak melihat barang bermerek di tubuhmu. Kamu yakin kamu istri Pak Richie?" Setelah mengambil napas, aku tiba-tiba merasakan cairan hangat di bawah tubuhku. Sebuah firasat buruk seketika muncul di hatiku. "Darah! Dia berdarah!" teriak seorang sekretaris sambil mundur dengan panik. Jantungku berdetak kencang. Aku makin panik. Aku mencoba meraih sesuatu untuk bangkit, tetapi malah merasakan darah mengalir dengan makin deras. Mauren melirik dengan tidak acuh dan menegur, "Ngapain teriak-teriak? Cuma darah kok. Apa yang perlu ditakuti? Lagian, dia cuma pelakor. Anaknya anak haram. Sudah seharusnya digugurkan!" Kerumunan pun terdiam dan tidak berani membelaku. Aku memegang perutku sambil memohon, "Tolong ... tolong panggil ambulans. Anakku ...." Namun, tidak ada yang menolongku. Semuanya hanya menyaksikan dengan dingin, menantikan aku keguguran. Sekitar sepuluh menit kemudian, Mauren baru mengeluarkan ponsel untuk menelepon seseorang. Kukira dia akan memanggil ambulans, tetapi aku malah mendengar suara Richie. "Ada apa?" tanya Richie dengan singkat dan datar. Tidak ada emosi yang terungkap dari suaranya. "Pak, hari ini ada wanita yang mencarimu di perusahaan. Dia mengantar makanan untukmu." Ketika bicara dengan Richie, nada bicara Mauren terdengar centil, tidak seperti saat menindasku. Richie menyahut dengan tidak sabar, "Masalah sepele begini masih harus tanya? Sekretaris macam apa kamu ini? Urus saja sendiri." Usai berbicara, Richie langsung mengakhiri panggilan. Mauren pun mengangkat alisnya, lalu melirik semua orang dengan angkuh. "Kalian sudah dengar itu? Pak Richie suruh aku mengurus wanita ini sendiri." Aku hendak berteriak minta tolong, tetapi tidak bisa mengeluarkan suara karena kondisiku sudah lemah. Mauren menghampiriku selangkah demi selangkah. Dia menginjak wajahku dengan sepatu hak tingginya dan berujar, "Karena kamu berdarah, aku jadi nggak bisa unggah fotomu ke internet. Foto seperti ini bakal dinilai sebagai tindakan kekerasan." "Kamu seharusnya merasa bersyukur. Tapi, sekarang giliran wajahmu. Kalau wajahmu rusak, kamu nggak bakal bisa merayu Pak Richie lagi." Saat berikutnya, Mauren mengambil pisau serbaguna dari lemari dan menggoyangkannya di depan wajahku. Di tengah keputusasaanku, ponsel Mauren tiba-tiba berdering. Richie yang meneleponnya. Mauren segera menjawab panggilan. "Aku butuh dokumen proyek Kota Nashila. Segera siapkan untukku." "Baik, Pak." "Aku bakal tiba sekitar sepuluh menit lagi." Bab 4 Mauren mengernyit. Dia berkata dengan lembut, "Cuaca hari ini sangat terik. Gimana kalau aku suruh Jenny antar dokumennya ke rumahmu saja, Pak? Daripada panas-panasan di luar." "Nggak apa-apa. Aku kebetulan lewat kantor." "Oke. Kalau begitu, aku suruh Jenny antar ke basemen." "Ya." Ketika aku larut dalam keputusasaan, orang-orang malah memuji Mauren begitu perhatian kepada Richie. Dengan ekspresi bangga, Mauren berujar, "Ini baru namanya cinta sejati. Menoleransi segala aspek." Kemudian, Mauren menatapku sambil menegur, "Jadi, siapa pun yang berani mengincar priaku bakal kuhabisi!" Wajahku bengkak. Pakaianku yang tipis tidak bisa menutupi seluruh kulitku. Perutku yang tadinya masih menggembung telah mengempes. Aku tahu aku tidak akan selamat kali ini. Aku mengelus perutku sambil meneteskan air mata. Aku merasa sangat bersalah pada anakku yang belum sempat lahir ini. Kemudian, aku menatap semua orang yang ada di sini dengan tatapan kejam. Aku bersumpah akan membalaskan dendam anakku. Aku tidak akan melupakan wajah mereka, terutama Mauren. Wanita gila ini harus membayar dengan nyawa! "Tatapan macam apa itu?" Mauren melayangkan tamparan lagi. "Kamu ini nggak ada kapoknya ya. Payudaramu besar juga. Asli atau palsu? Gimana kalau kubantu besarkan lagi?" Mauren mendekatiku dengan tangan memegang pisau serbaguna. Tatapannya kejam seperti iblis. "Ah!" Seiring dengan teriakanku, pisau sontak menancap ke dadaku. Darah bercucuran tanpa henti. Aku hampir jatuh pingsan saking sakitnya. Aku tidak punya kekuatan untuk melawan lagi. Tiba-tiba, terdengar suara Richie. "Mauren, mana dokumenku?" Mauren terkejut. Tangannya membeku. Dia memberi isyarat mata kepada seorang sekretaris, lalu merapikan pakaiannya dan keluar. "Pak, kamu sampai cepat sekali." "Dokumen." "Sebentar, aku ambilkan." Suasana menjadi hening. Aku ingin berteriak minta tolong, tetapi tidak bisa bersuara. Para sekretaris di sekitar pun menatapku dengan waspada. Karena pintu ditutup, Richie tidak bisa melihatku. Aku harus melakukan sesuatu untuk menarik perhatiannya. Hanya ada kursi dan meja di ruang rapat ini. Selagi tidak ada yang memperhatikan, aku berusaha meraih kursi untuk menjatuhkannya. Namun, aku terlalu lemah. Aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku, tetapi kursi hanya membentur meja. Sekretaris yang ditugaskan untuk menjagaku pun melirik ke arah pintu, lalu menghela napas lega. Kemudian, dia mencabut pisau di dadaku. Setelah menutup mulutku rapat-rapat, dia menusuk punggung tanganku. Teriakanku menjadi lirih karena ditahan sekretaris itu. Kini, hatiku diliputi kebencian. Aku membenci Richie yang tidak bisa merasakan penderitaanku, padahal jarak kami begitu dekat. Aku juga membencinya karena sekretarisnya membunuh anak kami. "Pak, ini dokumennya." "Ya." "Apa perlu kutemani?" "Nggak perlu." Suara langkah kaki perlahan menjauh. Tiba-tiba, Richie kembali dan bertanya, "Oh ya, mana wanita yang kamu bilang tadi?" Mauren seketika merasa gugup, tetapi dia menutupinya dengan baik. "Kenapa tiba-tiba mencarinya, Pak? Aku sudah membereskannya." "Nggak apa-apa, aku cuma risau. Baguslah kalau dia sudah pergi." Usai berbicara, Richie hendak pergi lagi. Aku terus berteriak dalam hati dan merasa makin putus asa. Di luar ruang rapat, Richie tiba-tiba berhenti dan menunjuk kotak makan yang kubawa sambil bertanya, "Ini kotak makan siapa?" Aku bisa mendengar suara rendah Richie agak bergetar.