Đang tải thông tin quảng bá...
Suami dan Anakku Menyesal Setelah Kepergianku
Pada hari ulang tahun putraku, suamiku menyuruh kekasih masa lalunya untuk datang ke rumah menjemput anakku. Aku bersikeras melarang dia pergi. Saat kami bersitegang, tiba-tiba muncul kobaran api besa...
Chương (1)
第1章
Pada hari ulang tahun putraku, suamiku menyuruh kekasih masa lalunya untuk datang ke rumah menjemput anakku.
Aku bersikeras melarang dia pergi. Saat kami bersitegang, tiba-tiba muncul kobaran api besar di lorong.
Aku tertimpa puing-puing yang jatuh, kepalaku terluka parah, darah mengalir, tetapi anak yang kulindungi di bawah tubuh, tidak terluka sedikit pun.
Namun, ketika suamiku yang seorang pemadam kebakaran datang untuk menyelamatkan kami, dia malah menyerahkan satu-satunya masker gas kepada wanita itu.
“Ayah, cepat selamatkan Tante Lisa dulu, tubuhnya lemah. Ibu, kamu tunggu paman lain saja yang datang menyelamatkanmu!”
Aku menatap mereka pergi, bibirku menyunggingkan senyuman pahit.
Sepertinya mereka lupa bahwa aku punya asma parah. Tanpa masker gas, aku bisa mati.
Bab 2
Sejak awal, aku sudah tahu Lukas tidak mencintaiku.
Selama empat tahun kuliah, semua orang tahu bahwa aku menyukainya.
Sayangnya, dia sudah punya kekasih. Jadi, tentu saja dia tidak pernah peduli padaku.
Menjelang kelulusan, Lisa, wanita yang dia cintai menerima tawaran keluarganya untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
Pada hari kepergian Lisa, Lukas datang kepadaku dalam keadaan mabuk.
Dia memelukku dengan mata sayu karena mabuk, tetapi yang dia panggil adalah nama Lisa.
Aku terlalu mencintainya. Meskipun tahu dia salah orang, aku tetap membiarkan dirinya terhanyut dalam gairah sesaat.
Namun itu tetaplah sebuah kesalahan. Keesokan paginya, dia menatapku dengan dingin, melemparkan pakaian ke kakiku dan mengusirku.
Kupikir itu hanya sebuah hubungan sesaat, tapi tak kusangka, aku malah hamil.
Lukas memberiku sebuah pernikahan agar aku bisa melahirkan anak kami dan memberi nama Kendrik.
Mungkin karena dia benar-benar tidak mencintaiku, jadi saat Lisa kembali, dia membiarkan wanita itu terus-menerus menantangku, bahkan membiarkannya datang ke rumahku untuk menjemput Kendrik.
Saat aku histeris mempertanyakan hal ini pada Lukas, bahkan anakku sendiri berpihak padanya.
Dia berkata,
“Ibu, kamu nggak secantik Tante Lisa, juga nggak sebaik dia. Kenapa ibu nggak pergi saja?”
“Kalau ibu pergi, ayah bisa bersama Tante Lisa dan dia bisa menjadi ibuku.”
Kondisiku semakin lemah, mataku hampir tak bisa terbuka.
Aku terkulai lemas di lantai, bahkan tak punya kekuatan untuk berdiri.
Di tengah asap tebal yang mencekik, aku melihat kepala kecil mengintip dari luar pintu.
Anak kecil itu dengan ragu bertanya,
“Tante, kamu butuh bantuan?”
Aku berusaha membuka mata dan melihat seorang anak laki-laki yang kira-kira seusia dengan anakku.
Wajahnya kotor, tetapi matanya bersinar terang di tengah asap.
Tubuhnya kecil, tetapi dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membantuku berdiri dan memapahku keluar perlahan-lahan.
Jalan yang kami tempuh sangat sulit, beberapa kali aku hampir menyerah.
Namun, anak kecil itu terus menyeretku, tak melepaskannya.
Saat kami berhasil keluar dari kobaran api, dia jatuh tersungkur karena kelelahan, tetapi tetap memanggil dokter untukku.
Aku memeluknya dan menangis tak tertahankan.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, barulah aku tahu dia sudah tidak punya orang tua, bahkan kakeknya juga meninggal dalam sebuah kebakaran.
Di dalam ambulans, dia menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Dia bahkan menangis dalam diam, berusaha keras agar tidak mengganggu orang lain.
Hatiku terasa perih, aku menggenggam tangannya dan bertanya apakah dia mau jika aku mengadopsinya.
Matanya bersinar bahagia, tetapi dia tetap menahan diri dan menggeleng, berkata bahwa dia tidak mau merepotkanku.
Aku tersenyum pahit dan memberitahunya bahwa aku sendiri adalah sebuah masalah besar, jadi tak perlu khawatir merepotkanku.
Kami membuat janji, setelah keluar dari rumah sakit, aku akan mengurus proses adopsinya.
Aku terbaring di rumah sakit selama tiga hari. Karena terlalu banyak menghirup asap, aku kehilangan anak dalam kandunganku.
Selama tiga hari itu, Lukas dan anakku tak pernah sekali pun datang menjengukku, bahkan tak ada satu pun telepon.
Padahal mereka ada di kamar sebelah, sibuk merawat Lisa yang bahkan tidak terluka.
Satu-satunya yang menemaniku adalah anak kecil yang menyelamatkanku.
Namanya adalah Charles, itu nama yang diberikan oleh ayahnya. Jika aku bersedia mengadopsinya, dia bersedia untuk mengganti nama.
Aku mengelus kepalanya dan menolak dengan lembut,
“Aku akan mengadopsimu, tapi kamu nggak perlu mengganti namamu. Kamu bisa bebas melakukan apa pun yang kamu suka, nggak perlu memaksakan diri, ya?”
Charles tersenyum lebar, matanya melengkung bahagia. Dengan manja, dia menggesekkan kepalanya ke lenganku dan dengan suara manis mengucapkan, “Terima kasih.”
Dua kata terima kasih itu sudah lama sekali tidak kudengar.
Dulu, Lukas dan anakku hanya selalu mengeluh dan menganggapku merepotkan, mereka tak pernah mengucapkan terima kasih padaku.
Aku tersentuh dan memeluk Charles. Akhirnya aku bisa tersenyum lagi setelah sekian lama.
Aku bertemu dengan Lukas dan anakku di koridor.
Baru saja selesai menjalani prosudur aborsi, Charles dengan hati-hati memapahku berjalan kembali ke kamar.
Saat kami berbelok di sudut, kami bertemu Lukas dan anakku yang sedang memapah Lisa.
Mereka terlihat begitu akrab, seperti keluarga yang bahagia.
Kupikir aku akan sangat terluka, tetapi ternyata aku merasa biasa saja.
Aku hanya berjalan melewati mereka dengan tenang.
Namun, Lukas tak bisa menahan diri dan memanggilku.
Aku menoleh dan melihat secercah kekhawatiran di matanya.
Dia bertanya,
“Erni, kami nggak terluka, ‘kan?”
Aku hampir tertawa.
Tentu saja tidak, hanya saja asmaku kambuh dan aku hampir mati tercekik asap.
Kepalaku juga terluka dan dijahit, sekarang masih dibalut perban, tapi entah kenapa dia seakan buta dan tidak menyadarinya.
Dan satu hal lagi, aku kehilangan bayi dalam kandunganku. Tapi mungkin itu justru lebih baik, karena anak itu akan punya ayah dan kakak yang begitu dingin. Mungkin ini adalah sebuah keberuntungan.
Melihat aku tak menjawab, tatapan Lukas perlahan beralih ke perutku.
Melihat perutku yang kini rata, dia tersenyum mengejek.
“Erni, aku mengira kamu benar-benar hamil. Ternyata Kendrik benar, kamu hanya egois dan ingin menipuku agak menyelamatkanmu dulu.”
Kendirk juga ada di sana, menatapku dengan penuh kebencian.
Bab 3
Sampai titik ini, penjelasan sudah tidak ada gunanya lagi.
Aku mengangguk pelan.
“Terserah kalian mau berpikir apa. Kalian pasti kecewa melihat aku masih hidup, ‘kan?”
“Tapi nggak masalah … ”
Aku menatap mata Lukas yang tetap tenang tanpa gelombang.
“Lukas, kita cerai saja.”
“Aku akan membebaskanmu, biar kamu bisa mengejar cinta sejatimu.”
Aku lalu beralih menatap Kendrik.
“Dan kamu juga, seperti yang kamu inginkan, aku nggak akan menjadi ibumu lagi.”
Melihat wajah mereka yang terkejut, aku tersenyum pelan.
Betapa leganya, akhirnya kita semua terbebas.
Aku berbalik ingin pergi, tetapi Lukas meraih pergelangan tanganku.
Suaranya sedikit bergetar.
“Erni, apa maksudmu? Hanya karena aku menyelamatkan Lisa dulu, kamu mau menceraikanku?”
“Kamu bahkan nggak terluka, kamu juga nggak benar-benar hamil. Aku belum sempat menyalahkanmu, malah kamu yang meminta cerai denganku? Haruskah begitu?”
Aku malas berdebat, hanya diam dan berusaha melepaskan diri.
Namun cengkeramannya semakin erat, hingga pergelangan tanganku mulai memerah.
Mata Charles yang diam-diam berdiri di samping justru memerah karena marah.
Dia menarik tangan Lukas dengan paksa, lalu berdiri di depanku, melindungiku, sambil berteriak marah,
“Jangan sentuh ibuku! Ibu baru saja menjalani operasi! Dia masih sangat lemah, kamu sudah menyakitinya!”
Aku hampir tertawa melihatnya seperti anak harimau kecil, menatap Lukas dengan penuh kewaspadaan, bersikeras melindungiku dengan kekuatannya.
Sayangnya, dia terlalu kecil, jadi saat Kendrik menyerang, dia langsung terjatuh ke lantai.
Kendrik mengangkat tinjunya dan memukul Charles.
“Kamu bohong! Dia itu ibuku, bukan ibumu!”
Charles tidak mampu melawan, hanya memeluk kepalanya dan mencoba menghindar, tetapi tetap tidak mau menyerah.
“Sekarang dia bukan lagi ibumu. Ibu bilang kamu nggak menginginkannya lagi, kamu meninggalkannya dalam kebakaran. Kamu mau dia mati!”
“Dia bilang aku yang menyelamatkannya dan mulai sekarang, dia hanya akan menjadi ibuku!”
Kendrik terdiam sejenak, matanya mulai memerah.
Namun, ketika melihat kalung liontin gembok perak di leher Charles, amarahnya kembali muncul.
Dia menarik kalung itu dan mencengkeramnya dengan erat.
Wajah kecilnya memerah karena marah.
“Itu kalung ibuku, kenapa kamu yang memakainya!”
Kendrik tiba-tiba mendongak, menatapku dengan tatapan memohon.
“Ibu, bukankah ibu bilang itu untukku? Kenapa ibu berikan ke dia?!”
Aku tersenyum kecil dan menariknya berdiri.
Bukan untuk memeluknya, tapi dengan lembut mendorongnya menjauh.
Aku meraih Charles, membersihkan debu yang menempel di bajunya.
Lalu aku memeluknya dan sekaligus mengambil kalung yang dipegang Kendrik.
Aku mengingatkannya dengan tenang,
“Kamu juga punya kalung yang sama, tapi kamu bilang itu jelek dan membuangnya ke tempat sampah.”
Tahun lalu saat ulang tahunnya, aku menghabiskan setengah bulan belajar membuat dua liontin gembok yang sama persis, sampai tanganku berdarah karena terus mengetuk logamnya.
Aku memberikan kalung yang paling sempurna untuk Kendrik dan mengenakan yang satunya untukku sendiri.
Namun, dia bahkan tidak mau melihatnya dan langsung membuangnya.
Sebaliknya, dia dengan gembira memeluk lego baru yang diberikan Lisa dan menatapku dengan wajah penuh kebencian.
“Ibu, jangan pernah kasih barang murahan lagi padaku.”
Hatiku hancur melihat kalung itu tergeletak di tempat sampah.
Namun, aku hanya bisa tersenyum canggung dan mengangguk setuju.
Sekarang, dia malah ingin merebut kalung milik Charles.
Melihat aku tidak membantunya, air matanya mulai mengalir karena merasa kecewa.
“Ibu, aku mau kalung itu, bisakah … “
“Kalau kamu suka, minta ayahmu belikan satu untukmu.”
Jawabku dengan tenang memotong ucapannya. Lalu aku menggenggam tangan Charles dan bersiap pergi.
Namun saat aku menoleh, aku bertemu dengan tatapan Lukas yang berkaca-kaca.
“Erni, anak itu bilang kamu baru saja menjalani operasi?”
“Operasi apa?”
Bab 4
Aku mengangkat bahu dengan acuh tak acuh.
“Tentu saja operasi aborsi.”
Mendengar aku mengatakannya dengan begitu enteng, mata Lukas mulai memerah.
Dia berusaha keras menahan emosinya, mencoba tetap tenang.
Namun ketika bicara, tetap saja terdengar rasa sakit dari suaranya.
“Erni, kenapa kamu menggugurkan anak kita? Kenapa?”
Seketika, aku memandangnya seolah dia orang bodoh.
“Kenapa? Lukas, kamu seorang petugas pemadam kebakaran. Kamu nggak tahu berapa banyak gas beracun dalam asap itu?”
“Aku sudah memberitahumu kalau aku sedang hamil, tapi kamu tetap memberikan masker itu ke Lisa. Sekarang kamu bertanya kenapa padaku? Apa kamu pura-pura bodoh?”
Aku tak ingin melihatnya lagi, bahkan sedetik lebih lama pun membuatku mual.
Tangan Lukas bergetar, ingin memelukku, tapi tiba-tiba Lisa memegang kepalanya dan dengan lemah jatuh ke arah Lukas.
Tepat jatuh di pelukannya.
Tangan yang tadinya hendak meraihku dengan cepat ditarik kembali untuk menahan tubuh Lisa.
Lisa memandangku dengan lemah, tampak menyesal, lalu berkata,
“Erni, maafkan aku. Aku nggak bermaksud menghancurkan keluargamu, aku hanya merasa sedikit pusing.”
“Lukas juga tahu, kesehatanku memang selalu lemah.”
Aku melihat dia berakting dengan tenang, tersenyum kecil dan mengangguk seolah mengerti.
Lalu, tanpa memedulikan panggilan cemas dari Lukas dan Kendrik, aku menggandeng tangan Charles dan pergi tanpa menoleh.
Sejak bertemu Lukas dan Kendrik di koridor, mereka mulai peduli padaku lagi.
Mereka sering mengunjungi kamarku, bahkan sikap mereka terhadap Charles juga jadi lebih baik.
Aku tak ingin memperkeruh suasana sebelum cerai, jadi tidak menolak kedatangan mereka, hanya saja sikapku selalu dingin.
Sebaliknya, Charles selalu cemberut setiap kali mereka datang.
Setelah mereka pergi, dia baru kembali ceria seperti biasa.
Suatu hari, dia bertanya padaku,
“Ibu, bolehkah aku nggak berteman dengan Kendrik?”
Aku tersenyum melihatnya.
“Tentu saja boleh, tapi kenapa kamu nggak suka dengannya?”
Kupikir di usianya, anak-anak biasanya suka bermain bersama teman sebaya.
“Karena dia pernah menyakitimu!”
Tangannya mengepal dengan wajah penuh ketidakpuasan.
“Kalau aku menjadi anakmu, aku nggak akan pernah membiarkanmu dalam bahaya.”
“Lagipula … “
Dia mendongak, menatapku dengan penuh kasih sayang.
“Aku bisa merasakan, kamu nggak bahagia setiap kali bertemu dengannya.”
“Tapi dia nggak peduli dengan perasaanmu, hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri.”
Aku terdiam sejenak. Dulu, Lukas pernah berkata bahwa tidak ada yang akan mencintaiku karena aku wanita yang egois.
Namun sekarang, ada Charles yang mencintaiku.
Yang paling penting, aku juga mulai belajar mencintai diriku sendiri.
Awalnya, aku pikir Kendrik dan Charles bisa akur sampai aku keluar dari rumah sakit.
Namun akhirnya, mereka berkelahi juga.
Hari itu, Lukas tidak ada. Kendrik datang sendiri ke kamarku, bersikeras tidak mau pergi.
Saat aku ke kamar mandi, mereka sudah saling bergulat.
Ketika aku kembali, Kendrik sudah menindih tubuh Charles.
Aku dengan cepat mendorong Kendrik ke samping dan memeluk Charles.
Kendrik yang didorong, tiba-tiba berkaca-kaca dan air matanya mulai mengalir dengan penuh rasa sakit.
“Ibu, aku nggak memukulnya.”
“Tapi dia bilang … “
Aku memotong ucapannya sebelum dia selesai,
“Nggak peduli apa yang Charles katakan dan membuatmu marah, aku minta maaf untuknya.”
Saat aku berbicara, Lukas masuk dengan senyuman di wajahnya.
Namun, senyuman itu segera lenyap saat melihat situasi di kamar.
Amarah di matanya tampak sulit disembunyikan.
Nada suaranya juga aneh saat menegurku,
“Erni, kamu meminta maaf pada anakmu sendiri atas nama orang lain?”
Aku merangkul Charles, dengan lembut menghapus air mata di sudut matanya.
“Lukas.”
Aku menatapnya dengan tenang.
“Charles memang bukan anak kandungku, tapi aku sudah memutuskan untuk mengadopsinya.”
“Jadi … dia adalah anakku.”
Tatapanku yang penuh tekad tampaknya membuat Lukas terguncang, tubuhnya mulai gemetar.
Setelah beberapa saat hening, dia memaksakan senyumannya.
“Baiklah, kalau kamu sudah memutuskan untuk mengadopsinya, mulai sekarang dia akan menjadi anak kita.”
“Saat kamu keluar dari rumah sakit, kita bisa siapkan kamar gudang di rumah untuknya.”
“Erni, kita adalah keluarga, kita harus tetap bersama.”
Begitu selesai dia bicara, Charles langsung mengangkat kepalanya.
Nada suaranya terdengar tegas, seolah takut terlambat mengucapkannya.
“Aku nggak butuh ayah, aku hanya butuh ibu.”
Aku tertawa kecil, mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“Iya, hanya ibu, nggak perlu ayah!”
Saat aku mendongak, senyuman di wajahku menghilang.
“Lukas, begitu keluar dari rumah sakit, kita langsung mengurus perceraiannya.”