Mimpi yang Mengubah Hidup: Si Malaikat

Đang tải thông tin quảng bá...

Mimpi yang Mengubah Hidup: Si Malaikat

GoodNovel Hoàn thành
Diam-diam perhatianManisCantikCinta sejati

Pertama kali aku tidur di ranjang yang sama dengan seorang pria, apalagi di tengahnya ada sahabatku. Pada pagi hari, pria itu diam-diam menciumku dan berjanji akan bertanggung jawab padaku.

Chương (1)

第1章

Pertama kali aku tidur di ranjang yang sama dengan seorang pria, apalagi di tengahnya ada sahabatku. Pada pagi hari, pria itu diam-diam menciumku dan berjanji akan bertanggung jawab padaku. Bab 1 Aku sudah berusia 25 tahun, tetapi masih belum pernah berhubungan seks dengan seorang pun pria. Sahabatku, Julia Joman tiba-tiba memberitahuku bahwa kami harus berbagi ranjang dengan dua pria malam nanti. Mataku langsung berbinar dan memperlihatkan ekspresi canggung. Sebenarnya, hatiku sama sekali tidak merasa canggung karena aku pernah melihat dua pria itu. Salah satu dari mereka adalah tipe pria idealku dengan tubuh 185 cm. Pria itu juga memiliki garis rahang yang sangat jelas dan mata yang bersinar cerah, serta jari tangan dan kaki yang panjang... Dia tampak sempurna dalam segala sisi. Akan tetapi, aku hanya bisa menatapnya tanpa berani mendambakannya. Sebab, pria itu adalah adiknya Julia. Dia lebih muda delapan tahun dariku. Hal yang terpenting adalah Sandy Joman masih belum menginjak usia dewasa. Meskipun sikapnya sudah tampak dewasa, aku tetap harus memikirkan hati nuraniku. Lalu, kenapa kami berempat harus berbagi ranjang? Aku dan Julia sangat miskin. Kami hanya mendapatkan gaji yang cukup untuk membayar biasa sewa serta memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dua adik laki-lakinya, Sandy dan Kevin Joman memberitahunya akan bermain ke kota saat liburan musim panas. Dengan tujuan menghemat lebih banyak dana, kami memutuskan untuk tinggal bersama di satu tempat. Untungnya, ranjang ini cukup besar untuk ditiduri empat orang. Demi bisa bermain bersama mereka hari ini, aku rela mengenakan sepatu setinggi 7 cm untuk berjalan sepanjang hari. Aku bahkan memperlihatkan diri sebagai seorang kakak yang dewasa. Namun, empat orang yang harus mandi setelah pulang ke rumah sontak menjadi masalah. Oleh karena itu, aku langsung pulang terlebih dahulu. Tak diragukan lagi, aku merasa nyaman setelah melepaskan sepatu dengan ketinggian 7cm. Meskipun terus mengingatkan diri untuk bertingkah seperti seorang kakak, hatiku tanpa sadar terkekang begitu melihat wajah itu. Setelah mandi dan mengeringkan rambut, aku pun menyemprotkan sedikit parfum di ruangan. Akan tetapi, itu masih belum cukup. Di malam hari, aku tanpa sengaja mengoleskan sedikit bedak padat di wajah agar terlihat cantik. Saat ini, aku yang menjadi seorang gadis licik malah menunggu suara ketukan pintu. Tak lama kemudian, suara ketukan pintu pun terdengar. Aku langsung membuka sedikit celah pintu dan merasakan tekanan dari pria berpakaian hitam di depanku. Setelah mendongak dan meliriknya sejenak, aku pun berbalik sambil menggerakkan rambutku yang baru saja dicuci dengan harum. Di dalam cermin, aku bisa merasakan bahwa pria berpakaian itu terus melihatku. Meskipun kami sudah bermain bersama sepanjang hari, aku tetap merasa malu saat berinteraksi dengan dua adik itu di satu ruangan. Ketika Julia sedang mandi, Sandy sudah berbaring di sebelahku. Sementara itu, Kevin berbaring di sisi luar dan kemudian aku berbaring di sisi dalam. Awalnya, aku hanya mengira bahwa Sandy masih kecil, tetapi aku sepertinya lupa kalau dia adalah seorang pemain basket yang bermain setiap hari. Sandy mengenakan pakaian berlengan pendek, dia berbaring di ranjang dan memperlihatkan otot-otot yang kokoh di lengannya. Sungguh menyilaukan! Akan tetapi, aku tidak berani melihatnya terlalu lama. Sandy terus memancarkan aura maskulin yang kuat. Sebagai seorang gadis yang baru pertama kali berdekatan dengan pria, aku benar-benar merasa canggung. Sebab itu, aku tidak berani berbaring dan mendesak Julia agar bisa mandi secepat mungkin. Meskipun kedua adik itu sedang bermain game, aku bisa merasakan tatapan Sandy. Tatapannya sangat gairah, sehingga membuatku semakin gugup. Akhirnya, aku hanya bisa berpura-pura memainkan ponsel. Bab 2 Rasanya seperti satu abad telah berlalu, Julia akhirnya selesai mandi. Begitu Julia berbaring di antara aku dan Sandy, barulah aku berani berbaring. Kakak beradik itu benar-benar tidur sangat nyenyak, bahkan suara napas mereka pun terdengar sangat jelas. Aku perlahan tertidur di antara suara napas yang tenang itu. Ketika langit mulai terang, aku yang masih linglung merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirku. Sentuhan itu terasa samar. Di sisi lain, tubuhku semakin panas dan mulai kesulitan bernapas. Begitu aku membuka mata, wajah Sandy ada di depanku dan bibirnya masih mencium bibirku. Kedua tangannya menopang di bahuku, postur seperti ini tampak mesra. Pikiranku tiba-tiba kosong dan wajahku sontak memerah. Andai saja orang di depanku bukan Sandy, aku pasti sudah melapor polisi. Akan tetapi, begitu melihat wajah Sandy, aku sama sekali tidak ingin menolak. Terlepas dari semua itu, aku harus segera sadar. Di sampingku masih ada dua orang lagi. Omong-omong, kenapa aku bisa tidur di sebelah Sandy? Saat ini, aku tidak bisa memikirkan banyak hal, karena pria di atas tubuhku sepertinya sudah terangsang. Aku dicium hingga merasa sedikit lemas. Aku tidak tahu tenaga dari mana yang kumiliki sehingga bisa mendorongnya menjauh. Aku berusaha dengan susah payah untuk bangkit dari tubuh dua orang itu, tetapi Sandy menarikku kembali. Aku kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh ke dalam pelukannya lagi. Kemudian, tanganku tidak sengaja menopang di pahanya. Sungguh memalukan! Aku takut akan membangunkan dua orang di sebelahku, jadi aku hanya bisa menopang pahanya dengan kuat dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apa pun. Sandy perlahan mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Maaf, Kak. Aku pasti akan bertanggung jawab padamu." Tiba-tiba, wajahku memerah dan kepalaku berdengung. Aku tanpa sadar mengangguk. Setelah turun dari ranjang, aku langsung berlari ke toilet dan menutup pintunya. Saat bercermin, aku merasa sangat malu. Aku tiba-tiba berpikir bahwa apa tindakanku tadi malam sedikit keterlaluan, sehingga membuat Sandy tidak bisa menahan diri. Bagaimanapun, aku juga tidak bodoh. Meski Sandy masih kecil, tapi pengetahuannya mungkin tidak kalah dariku. Aku terus membilas wajahku dengan air dingin, agar bisa segera menurunkan suhu. Di mana harga diriku lagi kalau sampai Julia tahu hal ini. Setelah membilas wajahku cukup lama, aku sudah merasa jauh lebih baik. Tiba-tiba, terdengar suara dari pegangan pintu toilet. Mungkin karena otakku tidak berjalan dengan baik hari ini, aku hanya melihat pegangan pintu itu diputar begitu saja. Kemudian, sosok yang tinggi perlahan-lahan mendekatiku. Sampai-sampai aku mundur ke depan wastafel. "Kak, kemarin kamu masih setinggi aku. Kenapa tiba-tiba menjadi begitu kecil?" Bab 3 Wajah dan perilakunya memang bisa membuatku terpesona hingga gila, tetapi setiap gerakannya tetap memperlihatkan kekanak-kanakan. Aku seketika jatuh dalam keadaan dilema. Entah dari mana keberanian itu muncul, aku menatapnya dengan tegas. "Dek Sandy, apa pun yang kamu pikirkan, aku harap kamu benar-benar tahu apa yang sedang kamu lakukan. Kalau kamu hanya terbawa perasaan sesaat, aku bisa anggap tidak ada yang pernah terjadi." Tatapannya sontak memuram dan juga menghindar, bahkan juga menarik tangannya kembali. Dia tampak bingung. "Oh iya, Dek Sandy. Sekarang, aku masih belum bisa menghidupimu." Saat ini, sosoknya yang tinggi tampak kehilangan sedikit wibawa. "Kak, kamu mandi dulu. Maaf!" Setelah Sandy berjalan keluar, aku kembali ke situasi semula dan juga merasa jauh lebih tenang. Namun, apakah perkataan yang baru saja aku katakan itu sedikit keterlaluan? Sungguh menyebalkan! Padahal aku tidak ingin melukai hati siapa pun, apalagi seorang pria tampan yang tampak lemah. Pada pukul setengah sembilan, aku dan Julia pun berangkat kerja. Mengingat kami tidak memiliki rahasia satu sama lain, aku tidak tahu apakah harus jujur pada Julia. Namun, ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan sebelum itu. Di dalam bus, aku melihat Julia. "Apa yang kamu lakukan semalam?" Julia langsung tertawa terbahak-bahak, aku tahu bahwa semua itu adalah ulahnya. "Aku ingat seseorang pernah bilang kalau adikku sangat tampan, bukan? Nah, ini adalah kesempatanmu untuk berinteraksi lebih dekat dengannya." "Kamu jangan bercanda lagi. Kamu pasti merasa sangat panas di tengah malam, sehingga mendorongku ke bagian tengah. Aku sangat tahu sifatmu." "Kamu memang sangat memahamiku." Aku memukulnya dengan kuat, tetapi dia seharusnya akan mengusir Sandy pulang begitu tahu apa yang terjadi barusan. "Maaf, sayangku. Kalau kamu keberatan, aku akan segera mengusir mereka berdua pulang." Seperti dugaan, kami memikirkan hal yang sama. Namun, aku masih belum puas melihat pria tampan. Bagaimana aku bisa membiarkan mereka pulang begitu cepat? "Tidak apa-apa! Aku tidak keberatan!" "Omong-omong, banyak juga gadis di sekolah yang tergila-gila pada Sandy. Benarkah dia setampan itu?" Aku berpura-pura tenang dan berkata, "Aku tidak membantahnya." "Semester lalu, ada guru musik yang baru mengajar di kelas mereka dan sepertinya seumuran dengan kita. Sandy terus memuji kalau gurunya sangat cantik." "Dasar bocah kecil,” lanjut Julia. Benar juga, usiaku segini pun bisa menjadi gurunya. "Bukankah semua anak kecil seperti ini? Mereka sangat suka pada guru muda yang baru dan menarik." Aku mencoba untuk menghiburkan suasana, tetapi hatiku merasa sangat sedih. Setelah bertahun-tahun, aku tidak pernah merasakan cinta. Akhirnya, aku menemukan seorang pria yang membuatku jatuh cinta, tetapi pria itu adalah orang yang seharusnya tidak aku sukai. Namun, aku tetap berharap bahwa dia hanya memperlakukanku seperti itu. Bab 4 Empat orang tinggal di satu ruangan memang sedikit sempit. Setelah pulang kerja, kami membawa mereka berdua untuk berjalan-jalan. Julia pun mulai berdiskusi agar mereka bisa pulang besok. Namun, Sandy tampak tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi pagi tadi. Dia juga tidak banyak bicara denganku, sebaliknya terus berdiri di belakangku. Mungkin karena kami berempat berdiri bersama, apalagi aku hanya ikut-ikutan sehingga tinggi badan dan penampilanku cukup mencolok. Orang-orang yang melewati kami pasti akan melirik kami sekilas. Namun, semua orang bisa melihat bahwa para gadis yang melewati kami pasti akan melihat Sandy dengan tatapan manja. Ketika aku menoleh untuk melihat mereka lagi, ternyata mereka masih berbisik sambil memandang punggung Sandy. Sungguh menyebalkan! Setelah itu, kami mencari kafe untuk duduk santai. Gadis-gadis di meja sebelah yang mengenakan seragam sekolah terus melirik ke arah kami. Hal itu membuatku merasa tidak nyaman, mungkin karena mereka terlalu cantik. Aku sendiri pun merasa aneh. Di satu sisi, aku terus meyakinkan diri bahwa aku tidak mungkin menjalin hubungan dengan Sandy. Di sisi lain, tidak tahu dari mana rasa cemas ini muncul. Aku langsung mencari alasan untuk pergi ke toilet di depan kafe. Julia juga ikut denganku. "Apa kamu sudah lihat tadi?" Tentu saja, aku tahu apa yang Julia maksud. Tetapi, aku memperlihatkan ekspresi seperti orang yang ingin bergosip. "Adikmu benar-benar sangat populer, ada aja orang yang mengaguminya. Sungguh keterlaluan!" "Percaya nggak, setelah kita pergi, mereka akan meminta nomor telepon dengan adikku." Seperti dugaan, aku berdiri di tempat yang tidak bisa dilihat oleh Sandy. Dua gadis itu sedang berbicara dengannya. Setelah Sandy mengeluarkan ponselnya, dua gadis itu pun berjalan pergi dengan ekspresi senang. Rasa sedih tanpa sadar memenuhi hatiku. Lucunya, aku masih harus berpura-pura menceritakan hal itu kepada Julia dengan penuh semangat. Terkadang aku juga tidak mengerti kenapa orang harus berpura-pura seperti ini, padahal hanya membuat diri sendiri merasa tidak nyaman. Entah kenapa, aku tidak ingin menghiraukan Sandy lagi. Aku mencari alasan untuk memperbaiki riasan, kemudian menyuruh Julia untuk pulang dulu. Tiba-tiba, aku mulai merasa seperti orang bodoh yang dirugikan. Aku ingin menangis. Aku berdiri sangat lama di depan cermin dekat pintu toilet. Namun, aku tiba-tiba bertatapan dengan seorang pria melalui cermin. Kupikir dia hanya ingin mencuci tangan. Sebab itu, aku memberinya tempat. Pada detik selanjutnya, pria itu malah merangkul pinggangku. Aku sontak ketakutan, sehingga refleks pertamaku langsung berteriak dengan keras. Namun, kepalaku tiba-tiba berdengung. Aku hanya bisa mendengar suara di telingaku yang semakin tidak jelas. "3, 2, 1...." Kemudian, aku merasa diriku dibawa ke sebuah kamar kecil dan pintunya ditutup secara perlahan. Samar-samar, terdengar suara keras seperti seseorang menabrak pintu. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi. Rasanya seperti mengalami mimpi yang sangat panjang. Aku bermimpi bahwa saat pertama kali bertemu dengan Sandy, badannya malah setinggi aku. Itu adalah pertama kalinya aku pergi ke rumah Julia. Malam itu, Julia tiba-tiba diajak keluar oleh mantan pacarnya. Orang tuanya sering tidak di rumah, sehingga adiknya selalu pulang larut malam. Aku ditinggalkan sendirian di kamar Julia. Saat aku hampir tertidur, terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras. "Julia, selamatkan aku." Meskipun suara ketukan pintu semakin kecil, aku tetap sangat takut. Sebab itu, aku langsung menelepon Julia. Julia bilang itu seharusnya adiknya. Begitu membuka pintu, aku melihat Sandy yang meringkuk di lantai. Saat itu, aku sangat terkejut karena dia adalah satu-satunya pria paling tampan yang pernah aku lihat. Setelah mendongak dan melihatku, Sandy merasa sedikit bingung. Akan tetapi, dia terlihat sangat lemah saat itu. Sandy terus memeluk perutnya sambil berteriak minta tolong. Oleh karena itu, aku membopongnya keluar untuk mencari klinik. Perjalanan itu sangat melelahkan. Demi keselamatannya, aku rela melakukannya tanpa pamrih. Dokter mendiagnosis bahwa Sandy mengalami infeksi usus, mungkin karena makan sesuatu yang tidak higienis di luar. Selesai melakukan infus, Sandy pun terlihat jauh lebih baik. Bab 5 Malam itu, angin di tepi pantai sangat kencang. Saat pulang, barulah kami merasa betapa dinginnya udara. Tak disangka, Sandy melepaskan mantel dan menyelimutkannya di bahuku. Kemudian, dia membawaku pulang bersamanya. Setelah kami berpamitan, aku sudah tidak bertemu dengannya selama setahun. Tiba-tiba, adegan berganti ke rumah yang aku kontrak bersama Julia. Saat itu, aku sudah menghasilkan banyak uang sehingga mampu menghidupinya. Usia Sandy pun berubah menjadi setahun lebih mudah dariku. Adegan masih sama seperti pagi kemarin, bedanya tidak ada orang lain di sekitar kami. Kami saling berciuman untuk mengekspresikan cinta kami yang mendalam. ********* Saat aku sadar kembali, aku sudah kembali ke rumah kontrakan. Kemudian, kamar pun menjadi jauh lebih luas. Julia mengatakan bahwa kedua adiknya sudah pulang. Dia juga menceritakan kejadian yang terjadi kemarin. Kasus pelecehan seksual sering terjadi di sekitar toilet, karena tidak ada kamera pengawasan di sana. Saat itu, aku hampir menjadi korban seksual. Untung sekali, begitu Julia kembali ke meja makan, Sandy langsung keluar sehingga bisa menyelamatkanku. Kalau tidak, konsekuensinya tidak bisa dibayangkan. Ternyata, suara tabrakan pintu yang keras itu adalah ulahnya Sandy. Kali ini, Sandy yang menyelamatkanku. Lalu, memangnya kenapa? Mimpi tidak akan menjadi kenyataan. Setelah perpisahan kali ini, mungkin kita harus menunggu setahun lagi agar bisa bertemu. Saat bertemu lagi, apa yang akan terjadi pada kita? Kecuali aku bisa kaya dan mampu menghidupinya. Namun, bukankah itu hanya mimpi? Aku selalu membayangkan bahwa suatu hari bisa mendapatkan uang yang banyak, kemudian menjalani hidup yang santai dan menikmati masa tua. Kenyataannya, aku harus bekerja dengan hati-hati dan selalu waspada karena akan dipecat kapan saja. Setelah membayar biaya sewa, aku harus membagi pengeluaran sehari-hari. Sebaiknya jangan terus berkhayal. Lagipula, Sandy sudah menambah orang lain sebagai pertemanan di Whatsapp. Jadi, itu mungkin adalah jawabannya hari itu. Hidup akan segera kembali ke jalur normal. Aku juga akan menemukan kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku. Aku pasti sudah lama tidak berinteraksi dengan pria, sehingga aku bisa jatuh cinta pada seorang adik. Sekarang sudah waktunya untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Oleh karena itu, aku yang berusia 23 tahun pun mulai mencari jodoh. Julia sudah kembali bersama mantannya. Tak lama lagi, dia akan pindah keluar. Kini, hanya aku yang menjaga rumah kosong ini. Tanpa disadari, waktu sudah berlalu selama setahun. Aku juga bertemu dengan banyak orang aneh. Di antaranya, ada pria yang berpenghasilan di atas puluhan juta dan buru-buru ingin punya anak, bahkan juga ada pria yang berharap bisa bergantung padaku. Seperti dugaan, kalau itu bukan orang yang bisa jatuh cinta pada padangan pertama, pastinya sangat sulit untuk menemukan seseorang yang bisa dicintai. Namun, hal yang lebih aneh adalah setelah melakukan kencan buta beberapa kali, aku malah bertemu kembali dengan cinta pertamaku, Jacky Prayoga. Aku tidak akan pernah melupakan momen perpisahan itu. Saat itu, aku dan Jacky berada di kelas yang sama. Setelah kami berpacaran, dia menggunakan uang sakunya untuk menghidupiku. Aku adalah orang yang tidak suka berutang budi. Sebab itu, aku pun memberi tahu Jacky bahwa diriku tidak akan menggunakan uangnya sebelum bekerja. Namun, dia selalu memberiku kejutan kecil dan membelikanku banyak barang mewah. Jacky mengatakan bahwa dirinya sangat mencintaiku, sehingga ingin membelikan barang-barang yang bagus untukku. Namun, alasan kami putus malah sangat aneh. Pada suatu hari, Jacky bersikeras membawaku ke toko dengan brand Klems untuk membeli tas terbaru. Saat ingin membayar dengan kartu bank, pramuniaga memberi tahu bahwa saldo di kartu tidak cukup. Tiba-tiba, Jacky ingin berpisah denganku di depan semua karyawan dan pelanggan di toko itu. Dia bilang "Aku sudah mempermalukanmu, jadi kita putus saja". Perkataan itu sangat konyol hingga aku merasa dia hanya mencari alasan untuk berpisah denganku. Selesai mengingat kenangan itu, aku menggelengkan kepala sambil mengusap dahi. "Cindy Liandi, lama tidak bertemu," ucap Jacky dengan wajah penuh rasa bersalah. "Bisakah aku mengejarmu sekali lagi?" tanya Jacky. "Tuan Jacky, aku mana berani lagi. Aku takut kamu tinggalkan aku saat kamu tidak punya uang." "Dulu itu memang salahku, tapi aku belum pernah mengalami situasi seperti itu. Malu sekali!" Bab 6 "Apa kamu tidak merasa malu saat putus denganku di depan umum? Sungguh konyol!" Setelah itu, aku pun berbalik dan hendak berjalan pergi. Akan tetapi, Jacky malah menarikku. Aku benar-benar merasa diriku yang sebelumnya perlu memeriksa kondisi mata. Bagaimana aku bisa menyukai orang seperti dia juga merupakan misteri yang belum terpecahkan. "Sudahlah! Kalau terus begini, itu akan menjadi tidak sopan," ucapku. Amarah di hatiku pun tiba-tiba melonjak. Namun, Jacky masih bersikeras untuk menarik tanganku. Ketika menoleh ke belakang lagi, aku merasa sangat terkejut. Sandy sedang berdiri di depan pintu sambil melihat kami. Setelah tidak bertemu selama setahun, dia tampak lebih tinggi dari sebelumnya. Meskipun sedang mengenakan seragam sekolah, ketampanannya masih terlihat sangat jelas. Omong-omong, aku juga merasa malu karena Sandy melihat interaksiku dengan pria yang buruk ini. Setelah berjalan menghampiriku, Sandy langsung menarikku ke sebelahnya. Dia menarikku dan hendak berjalan pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Cindy Liandi! Kamu tidak setuju karena bocah kecil ini?" Terlintas amarah yang tak terucapkan dari mata Sandy. Sandy pun berbalik dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi aku menghentikannya. "Kamu berdiri saja di sini." Aku berjalan mendekati Jacky. "Dengar baik-baik, aku tidak setuju karena aku membencimu." "Kemudian, dia bukan anak kecil. Perlukah dia berdiri di sebelahmu untuk dibandingkan?" Setelah tersenyum, aku langsung berbalik dan membawa Sandy berjalan keluar. Di sepanjang jalan, suasana agak canggung. Aku mencoba untuk menghancurkan kesunyian. "Kamu...." Bisa-bisanya kami berbicara pada saat yang bersamaan. Aku membiarkannya untuk berbicara terlebih dahulu. "Kak Cindy, kenapa kamu pergi kencan buta secepat itu? Padahal kamu masih belum tua." Mendengar perkataan itu, aku sontak terdiam. "Pasti kakakmu yang bilang, kan? Um, kamu masih kecil, jadi aku kasih tahu pun kamu juga tidak paham." "Tapi, kenapa kamu datang ke sini? Kamu sendirian ya?" "Kakakku tidak bilang, 'kah? Aku SMA di sini. Hari ini, aku seharusnya menginap di rumahnya. Tapi, dia malah mengusirku dan menyuruhku untuk tidak mengganggu kemesraannya bersama pacar." "Dia suruh aku cari kamu." Sialan! Aku hampir tersedak. "Jadi, kamu mau nginap di rumahku malam ini?" "Tidak bisa! Aku akan buka kamar untukmu." Selesai berkata, aku pun mengeluarkan ponsel dan mencari hotel. "Kak, kamu takut atau tidak mau terima aku?" Setelah dibujuk dengan berbagai rayuan, akhirnya aku membawanya pulang. Aku terus mengingatkan diri bahwa dia lebih kecil dariku. Setiap kali pemikiran lain muncul, aku langsung mencubit diriku dengan kuat. Tidak boleh! Setibanya di rumah, aku menyuruhnya untuk mandi dulu. Sementara itu, aku pun membersihkan kamar. Untungnya, Julia meninggalkan kasur dan selimut yang tebal di sini meski sudah pindah keluar. Setelah mengepel lantai, aku bersiap untuk merapikan alas tidur di lantai. Empat orang bisa muat di satu kasur. Dua orang? Itu sangat tidak bisa! Tak lama kemudian, suara air di kamar mandi berhenti. Saat ini, jantungku mulai berdebar kencang. Tanganku terus melihat video pendek, tetapi telingaku malah mendengar suara dari kamar mandi. Terdengar suara gesekan, pintu kamar mandi langsung terbuka. Aku sering membayangkan berbagai adegan dari drama yang telah kutonton. Tokoh pria utama berjalan keluar dari kamar mandi dan membungkus badannya dengan handuk, kemudian dia mengusap rambut dengan kedua tangan. Tidak mungkin! Meski Sandy berjalan keluar seperti apa yang aku bayangkan, itu pasti tidak bisa menarik perhatian. Sebagai seorang pelajar SMA, seberapa besarnya pesona yang dia miliki? Tanpa sadar, aku malah menelan ludah setelah melihat Sandy berjalan keluar. Kenapa dia tidak memakai baju? Aku.... Aku sontak terdiam, kemudian berpura-pura tidak melihatnya. Namun, aku bisa merasakan bahwa Sandy sedang berjalan menghampiriku. Wuhh.... Apa yang harus aku lakukan? Sungguh pesona yang menyebalkan! Aku tidak tahan lagi dan mengintipnya beberapa kali. Otot perut dan bahu yang kokoh seperti itu pantas dimiliki oleh pria dengan usia segitu, 'kah? Aku tidak tahan lagi dan menelan ludah.