Rahasia yang Tak Kau Ketahui

Đang tải thông tin quảng bá...

Rahasia yang Tak Kau Ketahui

GoodNovel Hoàn thành
CantikEmosionalPenyesalanCinta segitiga

Tahun ketika pacarku mengalami kecelakaan dan kehilangan penglihatannya, aku tiba-tiba hilang. Setelah penglihatannya pulih, dia menggunakan berbagai cara untuk menemukanku dan akhirnya menahanku di s...

Chương (1)

第1章

Tahun ketika pacarku mengalami kecelakaan dan kehilangan penglihatannya, aku tiba-tiba hilang. Setelah penglihatannya pulih, dia menggunakan berbagai cara untuk menemukanku dan akhirnya menahanku di sisinya. Semua orang bilang aku adalah cinta sejatinya. Meskipun aku mencampakkannya, dia tetap tidak menyerah. Hingga suatu saat, dia membawa calon istrinya ke hadapanku. "Elena, gimana rasanya dikhianati?" Aku menggeleng dan tersenyum tipis. Bagiku, kesedihan ini akan berlalu dengan cepat. Lagi pula, aku akan segera melupakannya. Bab 1 Tahun keempat aku dikekang Arhan, dia tiba-tiba punya calon istri. Dengar-dengar, wanita itu adalah putri pemilik Grup Ecostar, Nikita. Nikita adalah wanita yang cantik dan lembut sehingga sangat serasi dengan Arhan. Keduanya berhubungan sekitar setengah tahun, tetapi sudah membahas pernikahan. Beberapa tahun ini, Arhan mempunyai hubungan dengan banyak wanita, tetapi hubungannya tidak ada yang berhasil. Aku tidak pernah melihatnya serius terhadap para wanita itu. Temanku meneleponku untuk memperingatkan, "Sepertinya Arhan serius kali ini. Ceweknya bukan cuma cantik, tapi identitasnya bisa membantu karier Arhan." Aku sudah mendengar tentang wanita itu. Siapa sangka, aku malah bertemu Nikita untuk pertama kalinya di perusahaan Arhan. Pagi ini, aku pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Dokter penanggung jawabku adalah kakak kelasku. Dia bilang penyakitku berkembang dengan sangat cepat. Mungkin dalam waktu tiga bulan, aku akan melupakan semuanya. "Kamu benaran nggak mau kasih tahu Arhan? Kalau kasih tahu sekarang, dia mungkin bakal kembali," usul kakak kelasku. Setelah kupikir-pikir, sepertinya tidak usah. Untuk apa memperlihatkan kelemahanku pada seseorang yang hatinya telah berubah? Namun, aku tetap harus mencari Arhan untuk memintanya menandatangani surat. Penyakit ini tidak mematikan. Di luar negeri, ada sanatorium yang khusus mengobati penyakitku ini. Hanya saja, harganya sangat mahal. Orang tuaku meninggal saat aku remaja. Aku tidak punya keluarga lain. Makanya, aku hanya bisa minta bantuan Arhan. Aku tidak membuat janji dengan sekretaris Arhan. Setibanya di perusahaan, aku pun mendapati Nikita juga ada di sini. Aku dan Nikita duduk di ruang tunggu, tetapi jarak kami sangat jauh. Di samping Nikita, para staf sibuk menyanjungnya dengan wajah berseri-seri. "Siapa itu?" tanya Nikita. Para staf menyahut dengan tidak peduli, "Dia Elena." Orang-orang yang mengenal Arhan tahu siapa aku. Nikita melirikku dengan tatapan penasaran. Kemudian, dia menyapa dengan santai, "Kamu Elena?" Aku menatapnya tanpa berbicara. Ini sama dengan mengiakan ucapannya. "Kamu berbeda dengan yang ada di bayanganku." Suara Nikita terdengar lirih dan lembut. "Semua orang bilang Arhan masih punya hubungan dengan cinta pertamanya. Sepertinya, seleranya waktu muda kurang bagus." Beberapa staf diam-diam tertawa mendengarnya. Bahkan, ada yang memanfaatkan kesempatan untuk menyanjung, "Dia tentu nggak bisa dibandingkan denganmu. Asal kamu tahu, posisi Elena di perusahaan bahkan sangat rendah." Aku sama sekali tidak marah mendengarnya. Lagi pula, yang dikatakan mereka adalah fakta. Untuk apa aku marah? Orang-orang tidak akan menyangka bahwa wanita yang kabarnya dirindukan oleh Arhan selama ini adalah aku, yang posisinya sangat rendah. Ketika melihatku hanya diam, Nikita merasa sangat kesal. Dia melirikku, lalu berkata lagi dengan lantang, "Kudengar kamu pergi waktu Arhan mengalami musibah? Kenapa muncul lagi?" "Jurus tarik-ulur memang bisa membuat pria jatuh hati padamu. Tapi, Arhan bukan pria biasa. Kalau kamu butuh uang, aku bisa bantu kamu. Tapi, dengan kualifikasimu, yang kamu bisa dapat nggak banyak." Nikita menyibakkan poni di dahinya. Terlihat tahi lalat di dahinya. Saat ini, aku baru menyadari Nikita punya sedikit kemiripan denganku. Namun, aku sudah membuang tahi lalatku enam tahun lalu. Ketika melihatku lagi-lagi tidak bicara, Nikita pun tidak tahan lagi. Dia bertanya kepada seorang staf yang menuang air, "Kamu ini resepsionis macam apa? Kenapa membiarkan sembarangan orang masuk?" Staf wanita itu melirikku dengan heran. Dia menjelaskan dengan sulit, "Tapi, Pak Arhan bilang ...." "Aku nggak peduli. Usir dia sekarang juga. Kalau dia nggak mau pergi, kamu yang harus pergi," sela Nikita. Di seluruh perusahaan, hanya resepsionis yang bersikap baik padaku. Aku tidak tega melihatnya dipersulit. Jadi, aku berujar, "Setelah bertemu Arhan, aku akan langsung pergi. Kamu nggak perlu mengusirku." Bab 2 "Aku kenal Arhan sejak usia 15 tahun. Aku wanita yang bersamanya paling lama. Bisa dibilang aku lebih senior darimu. Selain itu, kamu cuma dirumorkan sebagai calon istrinya. Arhan nggak pernah mengakui hubungan kalian di depan umum." Nikita tentu terprovokasi dengan ucapanku ini. Dia tidak lagi pura-pura bersikap lembut, melainkan memekik, "Cepat atau lambat, kami bakal nikah! Arhan sudah bosan denganmu! Dia kasihan padamu, makanya nggak mengusirmu! Sebaiknya jangan keterlaluan ya!" "Selain itu, selama kamu hilang dua tahun, mungkin saja kamu sudah ditiduri pria lain! Masih ingin berebutan denganku? Cih!" Sambil bicara, Nikita melirik ke arah pintu. Tiba-tiba, dia mengambil air di meja dan menyiram wajah sendiri. "Dingin sekali ...." Wajah cantik Nikita basah. Alas bedak yang luntur membuatnya terlihat seperti ditindas. Di sisi lain, Arhan kebetulan melihat semua ini dari jendela ruang rapat. Pria itu bergegas keluar, lalu meraih tangan Nikita dan bertanya, "Siapa yang melakukan ini?" Arhan terlihat sangat panik. Dia bahkan melemparkan dokumen di tangannya ke wajahku. Ujung dokumen yang runcing menggores wajahku. Tidak sakit, tetapi sangat perih. Resepsionis itu ketakutan hingga tidak berani bicara. Aku melirik Arhan sekilas sambil menjelaskan, "Dia yang melakukannya sendiri." Nikita menatapku dengan mata memerah. "Ya, aku yang melakukannya. Semua ini salahku. Kamu sudah puas, 'kan? Kamu mengejek Arhan buta. Aku menutup mulutmu, lalu kamu menyiramku. Memang aku yang mencari masalah sendiri." Nada bicara Nikita jelas-jelas terdengar sedang menuduh, tetapi ekspresinya malah terlihat sangat menyedihkan. Bagaimanapun, momen selama Arhan kehilangan penglihatannya adalah mimpi terburuk baginya. Arhan tidak suka ada yang mengungkitnya, terutama diungkit olehku. Arhan menatap Nikita lekat-lekat. Dia mengangkat tangan untuk menyeka air matanya, lalu berujar, "Ada aku di sini. Jangan nangis lagi." Kalimat ini terdengar sangat familier. Ketika orang tuaku meninggal karena kecelakaan dan rumahku direbut oleh kerabatku, Arhan juga mengucapkan kalimat ini saat menemaniku tidur di koridor. Asalkan ada Arhan, aku bersedia melewati rintangan apa pun. Sayangnya, bertahun-tahun berlalu. Arhan masih mengucapkan kalimat itu, tetapi kepada wanita lain. Sepertinya, Arhan memang punya perasaan untuk Nikita. Aku menyaksikan semuanya dari samping. Tidak ada gejolak emosi apa pun di hatiku. Aku berucap, "Aku kemari untuk memintamu tanda tangan surat." "Surat?" Bab 3 Arhan menatapku, lalu bertanya dengan senyuman tipis, "Surat apa? Kamu mau uang atau rumah? Akhirnya kamu nggak tahan pura-pura suci lagi, 'kan?" Aku sudah terbiasa diejek oleh Arhan. Selain itu, yang dikatakannya juga tidak salah. Aku memang butuh uang. "Nggak masalah. Aku bisa menyetujui semua permintaanmu. Tapi, kamu harus minta maaf pada Nikita dulu," tambah Arhan. Arhan sangat membenciku karena aku mencampakkannya dulu. Dia akhirnya mendapat kesempatan untuk mempermalukanku, jadi tidak mungkin melewatkannya begitu saja. Kedua tanganku perlahan-lahan terkepal erat. Aku bertanya, "Kamu percaya aku yang menindasnya?" "Itu nggak penting. Sekarang aku mau kamu minta maaf. Kamu mau minta maaf atau nggak?" Arhan sengaja mempermalukanku untuk membuat Nikita senang. Hatiku terasa getir. Seketika, sebuah momen saat SMA berkelebat di benakku. Saat itu, Arhan membelaku dan memberi pelajaran kepada murid yang menindasku. Arhan yang dulu tidak seperti sekarang. Arhan yang remaja dipukul oleh lima murid sebaya hingga babak belur. Meskipun begitu, dia tetap melindungiku dengan berani. "Minta maaf kepada Elena." Seketika, sosok Arhan yang berbeda seiring berjalannya waktu, terlihat tumpang tindih di depanku. Saat berikutnya, semua sosok itu buyar. Aku tersadar dari lamunanku. Setelah terkekeh-kekeh, aku berjalan ke hadapan Nikita dan berucap, "Maaf sekali, Bu Nikita. Aku nggak seharusnya menyirammu waktu nggak ada Pak Arhan." Ketika melihat ini, Nikita menyibakkan rambutnya sambil berkata dengan agak angkuh, "Aku nggak merasakan ketulusan dari permintaan maafmu." "Kalau begitu, kamu rasa permintaan maaf seperti apa yang tulus? Gimana kalau begini saja ...." Arhan merangkul bahu Nikita, lalu menyodorkan segelas air. "Balas dia dengan cara yang sama." Maksud Arhan sudah sangat jelas. Nikita menerima gelas itu, lalu menyiram wajahku sambil tersenyum. Air di gelas itu diletakkan terlalu lama sehingga menjadi dingin. Meskipun ada mesin penghangat di ruangan ini, aku tetap merasakan dingin yang menusuk. Wajahku terlihat suram. Meskipun demikian, aku tetap terlihat tenang sehingga penampilanku tidak semenyedihkan Nikita. Nikita mengejek, "Sepertinya dia sangat suka?" "Masa?" Arhan mengedarkan tatapannya ke wajahku. Kemudian, dia berkata kepada Nikita, "Kalau kamu belum puas, siram saja lagi." Beberapa tahun ini, menyiksaku telah menjadi bagian dari permainan Arhan dengan pasangannya. Arhan sering menyuruhku membeli kondom untuk mereka, membersihkan kekacauan yang mereka buat setelah berhubungan intim, juga menemani pasangannya ke dokter kandungan. Banyak hal yang sudah pernah kulakukan. Jadi, disiram cuma masalah kecil. Nikita seolah-olah tidak menyangka aku begitu mudah ditindas. Dia menjadi kehilangan minat. Sambil bersandar di pelukan Arhan, dia berucap dengan lirih, "Biarkan saja dia. Aku baru beli pakaian dalam. Kita ke ruanganmu saja. Aku mau pakai untukmu." Arhan mengangguk sambil tersenyum. Setelah mengecup kening Nikita, Arhan menoleh menatapku dan berujar, "Tinggalkan saja surat yang harus kutanda tangan. Kamu sudah boleh pergi." Aku mengangguk, lalu mengambil suratku dan pergi. Tiba-tiba, kepalaku terasa sakit. Ini adalah salah satu gejala penyakitku. Ke depannya akan bertambah parah. Arhan, aku tidak butuh tanda tanganmu lagi. Hanya saja, aku cukup penasaran. Kalau suatu hari kamu tahu aku melupakanmu, apa kamu bakal menyesal? Bab 4 Aku menyusuri jalanan tanpa tujuan. Tubuhku sakit. Samar-samar, aku seperti melihat Arhan yang berusia 16 tahun berdiri di depanku. Tahun itu, aku baru masuk SMA. Orang tuaku tiba-tiba meninggal karena kecelakaan mobil, jadi aku menjadi penyendiri dan kehilangan arah. Arhan adalah tetangga baruku yang tinggal di sebelah. Keadaan ekonomi keluarganya kurang bagus. Ayahnya kawin lari dengan wanita lain. Ibunya menjadi petugas kebersihan untuk menghidupinya. Meskipun begitu, Arhan adalah anak yang periang. Setiap kali melihatku, dia akan tersenyum, tetapi aku selalu mengabaikannya. Satu-satunya hal yang bisa membuatku senang sedikit adalah saat memetik buah delima di gunung belakang sekolah. Di bawah sinar matahari, buah delima tampak merah dan besar. Aku masih ingat hari itu sudah sore. Aku memanjat pohon dengan susah payah, tetapi masih tidak bisa menjangkau buah delima dan akhirnya terjatuh. Akan tetapi, aku tidak merasakan sakit karena tubuhku menimpa Arhan. Saat itu, wajah Arhan sampai pucat pasi. "Maaf ...," ucapku. Arhan yang dulu sangat kurus, jadi mengalami patah tulang karena aku. Di dalam bangsal, aku terus menangis dan meminta maaf. Arhan menanggapiku dengan tenang, "Kulihat wajahmu sangat datar belakangan ini. Kamu nggak senyum ataupun nangis. Kukira kamu sudah jadi idiot. Untung kamu masih bisa nangis. Berarti kamu masih normal." "Lain kali, beri tahu aku kalau ingin makan sesuatu. Aku belikan. Elena, jangan selalu menyendiri. Aku bisa menemanimu." Saat itu, aku tidak merasakan keistimewaan apa pun. Namun, sekarang kenangan itu menjadi sangat berharga bagiku. Jika dihitung-hitung, sudah belasan tahun berlalu sejak hari itu. Aku terduduk di pinggir jalan dengan napas terengah-engah. Sambil memandang mobil yang berlalu-lalang, kenanganku lagi-lagi menjadi kacau. "Aneh, ngapain aku di sini?" Bab 5 Setelah berkeliling untuk waktu yang lama, aku menemukan sebuah alamat dari ponselku. Aku berjalan pulang dengan perlahan. Setibanya di rumah, aku melihat seseorang di dapur. Arhan pulang. Sejak bersama Nikita, Arhan tidak pernah pulang lagi. Suasana hatinya tidak baik. Dia memegang botol anggur, lalu menatap meja di belakangku. Ada dua buah delima yang merah dan besar di sana, persis dengan yang ada di gunung belakang sekolah. "Makanlah," ujar Arhan dengan tidak acuh, tetapi juga tegas. Aku tidak menghiraukannya. Aku hendak berjalan melewatinya, tetapi Arhan tiba-tiba menarikku dengan kuat. Dengan tatapan suram, Arhan bertanya, "Kamu mengabaikanku? Kamu kira aku buta, nggak bisa lihat apa-apa?" Nada bicara yang tajam ini seolah-olah ingin mencabikku. Kebutaan Arhan adalah tabu bagi dirinya sendiri. Arhan tidak akan berinisiatif mengungkitnya, kecuali ada masalah yang membuatnya marah besar. Aku termangu, berusaha memikirkan kejadian pagi dan siang tadi. Namun, pikiranku kacau. Yang tersisa hanya beberapa adegan. "Ngapain sih? Memangnya aku mengganggumu? Kepalaku pusing. Aku mau tidur. Kamu pergi sana," ucapku dengan ekspresi dingin sambil mencoba melepaskan tangan Arhan. "Kamu mengusirku? Kamu nggak ingat hari ini hari apa? Benar juga. Mana mungkin wanita kejam sepertimu ingat." Arhan tersenyum mengejek. "Tapi, aku harus memperingatkanmu. Sekarang kamu tinggal di rumahku. Semua kebutuhanmu pun dipenuhi olehku. Jadi, kamu nggak berhak mengusirku," lanjut Arhan. Hari ini hari apa? Aku memejamkan mata, berusaha mencari informasi di pikiranku yang hampa. Sayang sekali, aku tidak bisa ingat apa-apa. Lupakan saja. Sebentar lagi, aku juga akan melupakan Arhan. Tidak masalah kalau melupakan hari biasa seperti ini. Ketika melihatku tidak merespons, kesabaran Arhan pun habis. Dia mengupas buah delima, lalu menyuapiku dengan kesal. "Makan, jangan buat aku mengulangi perkataanku lagi." Aku sontak mendorong Arhan, lalu mengambil delima itu dan melemparkannya ke wajahnya. "Bawa delimamu pergi sana! Aku nggak mau lihat kamu lagi!" Arhan memelotot dan menggigit bibirnya dengan geram. Saat berikutnya, dia menahanku di sofa. "Kamu berani main tangan denganku?" Tidak terlihat ketakutan apa pun pada wajahku. "Kenapa memangnya? Kamu berani membunuhku? Hehe. Takutnya kamu nggak bisa memegang pisau dengan baik karena buta." Wajah Arhan menjadi sangat dingin. Dia melempar botol anggur di tangan. Bau alkohol yang kuat membuatku makin pusing. Sebelum aku bereaksi, Arhan tiba-tiba membuka bajuku dan berkata, "Aku nggak pernah melihat orang semenyebalkan kamu." Arhan seperti binatang buas. Dia menjamah tubuhku, memaksaku untuk berhubungan intim. Aku seketika merasa takut. Aku menggigit Arhan dan berujar, "Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku ...." Namun, Arhan berpura-pura tidak mendengarnya. Gerakan tangannya sama sekali tidak berhenti, bahkan menjadi makin lancang. Aku ingin melawan, tetapi rasa sakit di tubuhku membuatku kehilangan tenaga. Aku hanya bisa membiarkan Arhan menghancurkan tekadku. .... Pelampiasan ini tidak berlangsung lama. Aku merasa sangat sakit, tetapi harga diriku melarangku meneteskan air mata. Arhan bersandar di sofa sambil tersenyum dingin. "Sepertinya kamu nggak menemukan pria baru selama dua tahun ini. Wajar saja. Belum tentu ada yang mau meski gratis. Kasihan sekali kamu." Aku tidak ingin menunjukkan kelemahanku. "Yang jelas, aku lebih baik menjadi gratisan untuk orang lain daripada kamu. Arhan, kamu menjijikkan." Arhan sontak menoleh sambil memelototiku. Dia berkata, "Kamu wanita paling keras kepala yang pernah kutemui. Kamu bisa mati kalau mengalah ya? Elena, kamu merasa sangat bangga karena berhasil mempermainkanku ya? Aku malah nggak bisa melupakanmu. Konyol sekali." Arhan membanting semua barang yang ada di ruang tamu untuk melampiaskan emosinya. Meskipun begitu, aku tetap terlihat tenang. Lagi pula, itu bukan barang-barangku. Setelah Arhan selesai menggila, aku bangkit untuk kembali ke kamar. "Ingat panggil petugas kebersihan kemari." Tiba-tiba, ponsel di ruang tamu berdering. Bab 6 Arhan termangu sebelum menjawab panggilan. "Pak Arhan, kamu lagi sibuk nggak? Aku ingin bahas soal pernikahanmu dengan Nikita." Ternyata telepon dari ayah Nikita, CEO Grup Ecostar. "Aku lagi ...." "Kemari sebentar. Ada beberapa detail bisnis yang harus kita bicarakan juga." Arhan tidak menanggapi. Dia menatapku, lalu meletakkan ponselnya di samping. "Elena, kumohon. Asalkan kamu minta aku untuk tinggal, aku bakal menolaknya. Aku nggak bakal menikahi Nikita dan nggak bakal cari wanita lain lagi," pinta Arhan. Sepertinya, aku juga pernah memohon seperti ini kepada Arhan. Ketika Arhan memeluk para wanita di hadapanku, aku mencoba memberanikan diri untuk memberi tahu alasan aku pergi. Namun, apa yang dikatakan Arhan saat itu? Arhan bilang, "Elena, jangan cari alasan. Kamu penipu. Kamu kira aku bakal percaya? Kalau mau aku dengar penjelasanmu, berlutut dan memohon dulu." Arhan berkali-kali menginjak-injak martabatku. Setelah hubungan kita sehancur ini, pria ini malah memintaku memohon padanya. Aku menatap kedua mata Arhan sambil berujar dengan tegas, "Kamu cuma timun busuk. Atas dasar apa aku memintamu untuk tetap bersamaku? Pergi sana. Aku nggak mau melihatmu lagi." Arhan terperangah sesaat. Kemudian, dia terkekeh-kekeh dan mengambil ponselnya. Dia berkata dengan sopan, "Tunggu sebentar, aku segera ke sana." Usai berbicara, Arhan langsung keluar dan membanting pintu tanpa melirikku lagi.