Đang tải thông tin quảng bá...
Baru Dicintai Suami Setelah Meninggal
Pada hari ketujuh setelah kematianku, suamiku membawa kekasih lamanya ke ranjang pernikahan kami dan bercinta dengan penuh hasrat. Wajahnya tampak sangat puas saat berkata, "Akhirnya aku nggak perlu l...
Chương (1)
第1章
Pada hari ketujuh setelah kematianku, suamiku membawa kekasih lamanya ke ranjang pernikahan kami dan bercinta dengan penuh hasrat. Wajahnya tampak sangat puas saat berkata, "Akhirnya aku nggak perlu lihat wanita penghibur itu lagi."
Namun kemudian, dia memeluk barang-barang peninggalanku sambil menangis penuh penyesalan. "Sheny, kenapa kamu belum pulang juga?"
Sepertinya dia sudah lupa, nyawaku dan anak dalam kandunganku telah melayang di saat dia memaksaku mendonorkan sumsum tulang kepada kekasih lamanya.
Bab 1
Ketika Ronald kembali, aku sedang membelai perutku yang mulai membesar. Di dalam sana ada anak kami. Sebenarnya, aku sedang bersiap-siap untuk memberitahunya kabar bahagia ini. Tak disangka, kebetulan sekali dia tiba-tiba pulang. Ini adalah pertama kalinya kami begitu kompak setelah 10 tahun pernikahan kami.
"Sayang, aku hamil!" Aku tersenyum bahagia, membayangkan dia akan menggendong dan memutar-mutarku seperti di drama-drama. Namun, bayangan itu tak terjadi. Dia memijat pelipisnya dengan ekspresi lelah.
"Sheny, Willianti butuh sumsum tulangmu." Dari nada bicaranya yang letih, aku bisa menebak siapa itu Willianti. Dia adalah wanita yang selalu dicintai Ronald, tetapi tidak pernah bisa dimilikinya. Willianti, wanita yang meninggalkannya untuk pria kaya ketika Ronald masih miskin, kini telah kembali.
Dulu, ketika Ronald masih memulai usahanya dan sangat membutuhkan modal, aku bekerja sebagai wanita penghibur. Aku menemani para tamu hingga larut malam, bahkan sampai mengalami pendarahan lambung akibat minum terlalu banyak.
Pada akhirnya, aku berhasil mengumpulkan modal untuknya dan dia berjanji akan memberiku pernikahan yang paling megah. Setelah kekayaannya bertambah, dia memintaku untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Meskipun tidak pernah mengatakannya secara langsung, aku tahu dia sebenarnya sangat peduli padaku.
Memikirkan hal-hal menyedihkan itu, aku menarik napas dan berkata dengan suara yang lemah, "Sayang, aku hamil. Lagi pula, dia bukan wanita baik!"
Wajahnya menampilkan ekspresi tidak sabar, seolah-olah menghakimiku.
"Sheny, kamu cuma wanita penghibur, sekarang bukan waktunya untuk omongin perasaan. Willianti butuh sumsum tulangmu."
Aku terdiam menatapnya. Dulu, dia memegang tanganku dan berjanji, "Sheny, kamu kerja sebagai wanita penghibur demi aku. Aku nggak akan pernah meremehkanmu."
Untuk pertama kalinya, aku menolak permintaannya. Bukan untuk diriku, tetapi demi anak di dalam kandunganku. Nada bicaranya berubah menjadi dingin dan tidak sabaran.
"Sheny, sudi atau nggak, pokoknya hari ini kamu harus pergi!"
....
Saat aku membuka mata lagi, keempat anggota tubuhku telah terikat di meja operasi. Ronald yang biasanya tampak dingin, kini malah sedang tersenyum. Sementara itu, Willianti berdiri di sampingnya dan berpura-pura prihatin. "Ronald, anestesi merusak tubuh nggak? Ini semua salahku. Gara-gara aku, Kakak jadi harus menderita!" pintanya.
Ronald benar-benar memberiku anestesi! Rasa sakit yang luar biasa menyerang perutku dan air mataku langsung mengalir deras.
"Sayang, anak kita, anak kita! Sakit sekali!" Aku berteriak kesakitan. Willianti segera menunjukkan ekspresi lemah lembut, seolah-olah dia tidak tahan melihatku menderita.
"Semua salahku! Gara-gara aku, Kakak jadi harus menanggung rasa sakit ini!"
Ronald terus menenangkannya dan menghapus air mata di sudut matanya dengan lembut. "Willianti, ini bukan salahmu, nggak akan pernah jadi salahmu."
Dia berbalik menatapku. Untuk pertama kalinya, Ronald menunjukkan ekspresi lembut itu padaku sambil berkata dengan lembut, "Sheny, Dokter bilang kamu nggak hamil. Aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan nanti."
Tidak hamil? Lalu kenapa aku merasa kesakitan begini? Suara Ronald yang lembut terus menggema di telingaku, dipenuhi dengan kata-kata manis yang belum pernah kudengar sebelumnya.
"Sheny, kamu mau apa? Biar kubelikan untukmu."
Aku menatap wajah tampannya yang terlihat lebih dekat di depanku. Dengan rendah hati, aku mengajukan sebuah permintaan kecil. "Sayang, bisa nggak ke depannya kamu lebih mencintaiku?"
Dulu, aku yakin Ronald memiliki sedikit rasa sayang untukku. Namun, setelah melihat bagaimana dia menghibur Willianti dengan penuh kasih sayang, aku mulai ragu.
Bab 2
Aku tiba-tiba merasa takut. Mungkin Ronald memang tidak pernah mencintaiku. Suaranya yang serak menyiratkan kelembutan yang tidak pernah kudengar sebelumnya. "Jangan bicara aneh-aneh. Aku suamimu, mana mungkin aku nggak mencintaimu?"
Indah sekali. Aku membawa harapan kecil ini dan tenggelam dalam mimpi yang dalam ....
....
Operasinya berjalan lancar dan Willianti akhirnya selamat. Namun, aku telah berubah menjadi roh yang kesepian dan bahkan tidak sanggup menyelamatkan anakku. Bayiku bahkan belum terbentuk sepenuhnya. Dia hanya sebuah embrio kecil tak bernyawa yang meninggalkanku sendirian sebagai hantu di dunia ini.
Mungkin keberuntunganku telah habis sejak aku bertemu dengan Ronald. Karena itulah, aku mati di atas meja operasi dengan membawa serta bayi yang tak sempat melihat dunia ini!
Benar, di dalam perutku memang ada seorang bayi! Aku benci sekali dengan mereka ... orang-orang kejam yang membunuh anakku dan para dokter tak berperasaan yang menyembunyikan kebenaran!
Ronald mencium kening Willianti, seolah-olah melupakan janjinya sebelum operasi untuk mencintaiku. Jantungku terasa sakit, bukankah aku sudah mati? Kenapa aku masih bisa merasakan kepedihan ini?
Ibu mertuaku datang dengan terburu-buru. Dia bersandar di ambang pintu sambil terengah-engah dan terus-menerus menyeka keringat dengan saputangannya. Ironisnya, dia bahkan tidak datang ke pernikahanku dan Ronald.
Dia bilang dirinya sudah terlalu tua dan tidak kuat untuk menghadiri acara besar. Ternyata, itu semua hanya kebohongan.
"Willianti ini anak baik, nggak kayak wanita penghibur itu. Untung saja Tuhan melindunginya!"
Padahal, ibu mertuaku tahu jelas mengapa aku menjadi wanita penghibur ....
Seorang perawat memandang keluarga ini dengan ekspresi rumit, lalu memberi isyarat kepada dokter untuk memberikan penjelasan. Aku hanya menyadari bahwa dokter ini bukan orang yang menangani operasiku. Sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, dokter mulai berbicara.
"Pak Ronald, Bu Sheny sudah ...."
Sebelum dokter sempat menyelesaikan kalimatnya, Ronald telah memotongnya dengan nada tak sabar. "Berapa banyak yang kamu mau? Bilang saja!"
Ibu mertuaku melambaikan tangannya dengan tak acuh. "Ngapain bawa-bawa nama perempuan itu sekarang? Kamu ini nggak peka sama sekali, ya!"
Dokter mungkin teringat bahwa sebelum meninggal, aku terus-menerus menyebut nama Ronald. Karena itulah, dia tidak bisa menahan diri untuk mengingatkan Ronald. "Sebelum meninggal, Bu Sheny ingin sekali bertemu denganmu."
Ronald mengerutkan keningnya dengan jengkel. "Suruh dia nggak usah terusin sandiwara murahan itu. Apa pun yang dia mau, akan kubelikan semuanya!"
"Ronald, Kak Sheny meninggal karena aku ya? Semua ini salahku, biar aku saja yang mati!" Willianti menangis tersedu-sedu di pelukan Ronald. Air matanya terus mengalir hingga menarik perhatian semua orang ke arahnya.
Ronald yang merasa kasihan, segera membujuknya dengan lembut.
"Kasih tahu Sheny, kalau dia masih pura-pura mati, nggak usah kembali lagi sekalian! Berlebihan banget, sih? Padahal cuma donor sumsum tulang!"
Berlebihan? Ternyata, pengorbananku sampai mempertaruhkan nyawa demi melindungi cinta pertamanya dianggap berlebihan.
Aku tiba-tiba merasa seperti tidak mengenal pria di hadapanku ini lagi. Ronald, bukankah dulu kamu bilang, kamu akan mencintaiku asalkan aku memberikan sumsum tulang itu? Kenapa sekarang setelah anakku kehilangan nyawa, kamu justru bermesraan sama wanita lain?
....
Pada hari Willianti keluar dari rumah sakit, ibu mertuaku memasakkan sup ayam untuknya. Aromanya yang harum, menguar sampai ke hidungku.
Selama bertahun-tahun menikah dengan Ronald, aku bahkan belum pernah mencicipi masakan ibu mertuaku. Ronald selalu memintaku untuk berbesar hati dan menyuruhku untuk memahami betapa sulitnya ibunya membesarkan dia sendirian.
Namun pada akhirnya, yang kudapatkan hanyalah kematian!
Saat dokter mendorong tubuhku untuk dibawa ke kremasi, Ronald mengerutkan keningnya sambil memeluk Willianti dengan erat. "Willianti baru keluar dari rumah sakit, dia nggak boleh lihat hal-hal sial begini. Cepat bawa pergi!"
Bab 3
Ronald, kamu menganggap semua ini bawa sial ya? Itu istri dan anakmu sendiri!
Aku hanya bisa menyaksikan dengan penuh penyesalan. Ingin sekali rasanya aku meraih kerah bajunya untuk bertanya, tetapi aku hanya bisa menjadi penonton yang malang.
Dokter mencegatnya dan memintanya untuk membayar biaya kremasi, tapi ibu mertuaku langsung marah. "Lihatlah rumah sakit nggak bermoral ini! Kalian malah mungut biaya sembarangan sama kami. Ini jelas-jelas pemerasan!"
Ronald mengerutkan keningnya dengan samar-samar, tapi aku sangat mengenal setiap ekspresinya. Ini adalah tanda bahwa dia merasa jijik. Tak kusangka, ternyata dia juga bisa merasa jijik pada ibunya sendiri.
Sekarang ini, uang bukan lagi masalah bagi Ronald. Dia hanya ingin menyelesaikan semuanya secepatnya. Oleh karena itu, dia hanya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas tanpa memedulikan siapa yang dibayarnya.
"Pak Ronald, mengenai Bu Sheny ...."
Sesuai dugaan, Ronald lagi-lagi memotong perkataan dokter, "Aku nggak punya kesabaran untuk main-main beginian. Suruh dia tahu diri saja."
Ronald menyipitkan matanya melihat jari yang terulur dari tubuhku. Di sana ada cincin pernikahan yang dia berikan padaku. Saat itu, harga cincin itu tidak lebih dari empat juta rupiah. Jantungku berdebar-debar dengan penuh harap. Mungkin saja, Ronald akan mengenali cincin itu!
"Dasar murahan."
Rohku merasakan kepedihan yang mendalam seakan tersayat-sayat.
....
Perusahaan Ronald kini menghadapi krisis keuangan terbesar kedua sejak didirikan. Krisis terbesar pertama yang dialaminya waktu itu adalah karena ayahku.
Saat itu, Ronald baru saja dicampakkan oleh Willianti. Aku yang tidak sabaran segera mendekatinya dan menjadi wanita penghibur demi dirinya dengan mempertaruhkan harga diriku.
Ayahku marah besar dan membuat keributan di hadapan media. Karena itulah, ibu mertuaku mulai membenciku dan menganggapku sebagai pembawa sial bagi Ronald. Saat itu, Ronald juga bersikap sangat dingin padaku.
"Kalau bukan karena kamu, semua kerja kerasku nggak akan sia-sia! Sheny, pantas saja nggak ada yang mencintaimu!"
Hanya saja, mereka tidak tahu bahwa aku sampai mengancam ayahku dengan kematian demi membantu Ronald. Ayahku yang hanyalah seorang pekerja biasa, akhirnya mengumpulkan ratusan juta demi modal usaha Ronald.
....
Tiba-tiba, Willianti berjalan masuk ke kantor sambil menangis. Dia terkejut melihat kotak makanan yang dilempar Ronald.
"Makanan sampah begini berani dikirim ke kantor? Ganti sama makanan dari restoran yang dulu!" bentak Ronald dengan marah. Asistennya hanya bisa menjawab dengan suara gemetaran karena takut berkata jujur.
Ronald menderita penyakit lambung. Oleh karena itu, aku selalu mempelajari resep masakan hanya demi membuatnya makan lebih banyak. Tak kusangka, aku tidak bisa memenangkan hatinya saat masih hidup, tapi malah bisa membuatnya merindukan masakanku setelah aku meninggal.
"Kak Ronald, biar aku saja yang masak untukmu!" pungkas Willianti sambil berlinang air mata. Wajahnya terlihat begitu polos dan murni.
Ronald memegang tangannya dengan lembut sambil memijatnya dengan hati-hati. "Tanganmu nggak seharusnya melakukan hal-hal seperti ini."
Aku hampir saja tertawa mendengarnya. Lalu memangnya aku dilahirkan untuk jadi tukang masak?
Ronald sibuk hingga kelelahan, tapi akhirnya dia sempat pulang ke rumah. Di rumah, semuanya masih sama seperti sebelumnya. Di atas meja masih ada bunga yang kuletakkan sebelum meninggal, di balkon masih ada pakaian yang kujemur, bahkan di dalam kulkas masih ada makanan yang kusiapkan untuknya.
Sayangnya, Ronald tidak pernah menganggapku sama sekali. Bahkan, makanan yang kumasakkan untuknya baru bisa sampai ke tangannya melalui sang asisten. Dilihat dari semua ini, jelas sekali bahwa dia memang tidak pernah mencintaiku.
"Sheny, nggak usah sembunyi lagi. Kalau aku sudah mengalah, seharusnya kamu tahu diri."
Ronald berbicara pada udara, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Aku selalu memperlakukan Ronald dengan baik. Mana pernah dia mengalami penghinaan seperti ini?
Karena marah besar, dia mulai menghancurkan semua benda yang berhubungan denganku. Bunga yang kutanam dicabut sampai akarnya, pakaian yang kujemur dibuang begitu saja ke lantai, bahkan makanan di kulkas juga dibuang ke tempat sampah.
Setelah melampiaskan amarahnya, dia menekan nomor teleponku dan berkata bahwa dia akan memberiku satu kesempatan lagi.
Bab 4
Aku melayang di udara, melihat jelas semua keburukan Ronald dengan perasaan pahit yang menggenang di dadaku. Ronald, ponsel yang dulu selalu siaga untukmu kini tak akan pernah lagi ada yang menjawabnya.
....
Ronald sibuk dengan acara bisnisnya dan sudah beberapa hari berturut-turut menolak ajakan makan malam dari Willianti. Dalam acara bisnis itu, semua yang hadir adalah orang yang pintar mengorek informasi tanpa menanyakan secara terus terang.
"Sudah hampir jam 10 malam, kenapa belum ada telepon dari istrimu?" tanya seseorang sambil bercanda dengan Ronald. Teman-teman bisnisnya tahu bahwa Ronald memiliki istri galak yang selalu menelepon untuk mengecek keberadaannya setiap jam 9 malam.
Mendengar hal itu, aku hanya bisa tertawa getir. Dengan sifatku yang seperti itu, tidak heran jika Ronald tidak menyukaiku. Namun, kenapa harus anakku yang menjadi korban?
Gerakan tangan Ronald yang memegang gelas wine terhenti. Mungkin dia juga teringat masa-masa ketika aku selalu mengeceknya. Namun untuk pertama kalinya, dia tidak menunjukkan rasa jengkel.
"Lagi marah sama aku." Samar-samar, aku bisa melihatnya tersenyum tipis. Apakah itu hanya ilusiku?
Semua orang di meja makan itu berbagi tips tentang cara membujuk istri dan malah mengabaikan urusan bisnis. Pada akhirnya, Ronald minum hingga muntah. Bukan hanya tidak berhasil mendapatkan bisnis itu, dia malah mendapat tips-tips yang tidak berguna.
Namun, tampaknya Ronald tidak merasa terganggu sama sekali. Dia bahkan meluangkan waktu untuk membelikan kastanye dari toko favoritku. Dulu saat kami pacaran, Ronald selalu saja punya alasan untuk menolak setiap kali aku memohon padanya.
"Sheny, aku bawakan kamu kastanye."
Dia berjalan terhuyung-huyung di rumah dengan membawa kantong berisi kastanye. Setelah mengelilingi rumah cukup lama, dia tetap tidak menemukan sosokku. Tak lama kemudian, kesabarannya mulai habis. Dia melempar kantong itu ke lantai dan membiarkan kastanye itu berserakan di mana-mana.
Suara telepon tiba-tiba berdering memecah keheningan. Ronald tersenyum, meskipun dengan ekspresi pura-pura datar.
"Bukan dari Sheny?" Dia terlihat kecewa, tetapi tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Selamat malam, Pak Ronald. Bu Sheny yang meninggalkan nomor Anda sebelumnya, boleh saya pastikan dulu, apakah perayaan ulang tahun pernikahan ke-10 kalian masih akan diadakan sesuai jadwal?"
Sebelum meninggal, aku sungguh berharap bisa merayakan ulang tahun pernikahan ke-10 kami. Tak disangka, sekarang kami terpisah oleh kematian. Ronald terdiam sejenak dan aku yakin dia pasti akan menolak.
"Ya, lanjutkan sesuai jadwal. Upgrade ke paket tertinggi," jawabnya.
Aku sontak terkejut, apa artinya ini? Apa dia sudah kehilangan akal sehat?
Kenangan terakhirku tentang hari itu adalah Ronald berjongkok di lantai, lalu memasukkan satu per satu kastanye ke dalam microwave.
"Gimana kalau dia mau makan setelah kembali nanti?" Aku mendengarnya bergumam pada dirinya sendiri.
....
Ronald sangat sibuk. Namun pada hari ulang tahun pernikahan ke-10 kami, dia membatalkan semua jadwalnya.
Dia mengadakan pesta untuk para tamu. Selama acara, terdengar ada seseorang yang mengatakan bahwa kami adalah pasangan yang sangat serasi. Anehnya, Ronald tidak membantah pernyataan seperti itu.
Sampai pesta berakhir pun, aku tidak muncul. Ronald membanting ponselnya dengan marah, kemudian meminjam ponsel pada orang lain untuk meneleponku. "Sheny, jangan keterlaluan! Kamu itu cuma wanita penghibur, kamu pikir kamu pantas dihargai?"
Para tamu di pesta itu menundukkan kepala dan berpura-pura tidak mendengarnya. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara.
"Kalau kamu nggak mau kembali, kita cerai saja! Aku memang sudah muak hidup sama wanita penghibur!"
Aku menyaksikannya mengamuk dalam keadaan mabuk. Hatiku benar-benar hancur. Kata-kata yang keluar dari mulutnya itu mungkin adalah kebenaran yang disembunyikannya selama ini. Dia mungkin sudah lama merasa jijik padaku.
Ronald, kalau kamu begitu benci padaku, lalu kenapa dulu kamu menikahiku?
Setelah mengeluarkan ancaman itu, dia terus-menerus mengunjungi tempat hiburan. Kabar mengenai krisis dalam pernikahan kami menyebar ke seluruh kalangan. Hal ini benar-benar manusiawi.
Aku pikir aku sudah melihat semua keburukan sifat manusia. Namun, ternyata aku terlalu meremehkan betapa busuknya sisi buruk manusia. Aku tidak pernah menyangka bahwa ibu mertuaku akan menghasut Ronald untuk menelepon ayahku.
"Itu utangnya padamu! Kalau bukan karena si tua bangka itu, perusahaanmu sudah sukses dari dulu!"
Bab 5
Mendengar ibu mertuaku menghina ayahku, kemarahan membuncah di dadaku. Ronald masih tetap diam, tetap dia membiarkan ibunya menekan tombol telepon.
Nada dering yang tidak asing pun terdengar. Itu adalah rekaman dari ulang tahunku yang ke-18. Tak kusangka ayahku menggunakan rekaman itu sebagai nada deringnya. Ironisnya, aku telah memutuskan hubungan dengan ayahku demi Ronald. Selama bertahun-tahun, aku tidak pernah meneleponnya sekali pun.
"Kalau kamu mau putrimu hidup dengan baik, segera kirim uangnya," kata ibu mertuaku.
....
Kasih sayang orang tua memang paling mulia di dunia ini. Ayahku segera mentransfer uangnya dalam sekejap. Hanya ada satu pesan yang menyertai bukti transfer itu.
[ Cintailah dia lebih banyak lagi. ]
Aku tidak bisa lagi menahan tangisku dan meraung sejadi-jadinya. Selama sepuluh tahun ini, aku telah mengecewakan orang tuaku.
Mungkin Ronald tersadar oleh hati nuraninya. Setelah berpikir lama, dia mengirimkan pesan suara padaku. Dengan suara rendah dan nada memerintah, dia berkata, "Sheny, aku sudah memaafkanmu. Aku putuskan untuk hidup bersamamu dengan baik."
Hatiku yang sudah dipenuhi luka, kini seolah-olah tertusuk kembali oleh ucapannya. Dengan nada angkuh itu, Ronald mungkin merasa telah bermurah hati. Pada hari ketujuh setelah kematianku, penyakit lambung Ronald kembali kambuh.
"Sheny, hentikan kegilaanmu!" Dia berteriak keras sambil memegangi perutnya dan marah-marah pada ponselnya.
Selama beberapa hari terakhir, Ronald membawa semua pekerjaannya ke rumah dan tidak pernah keluar sama sekali. Saat itu, bel pintu tiba-tiba berbunyi. Willianti datang untuk memanfaatkan kesempatan ini mendekati Ronald.
"Kak Ronald, kamu baik-baik saja? Kak Sheny nggak merawatmu?" Willianti mengeluh sambil melirik ke dalam rumah, lalu tanpa sengaja mendekat ke pelukan Ronald.
"Jangan sebut nama wanita penghibur itu lagi, dia nggak pantas!" bentak Ronald dengan kesal. Entah kepada siapa dia sebenarnya marah.
"Benar, dia cuma wanita penghibur. Dia nggak layak. Dia nggak layak ...." Ronald menekan Willianti ke ranjang pernikahan kami, lalu mulai membuka pakaiannya dengan napas terengah-engah.
"Kamulah yang seharusnya jadi nyonya di rumah ini," katanya dengan penuh perasaan dan kasih sayang yang tak pernah kudapatkan.
Di bawah foto pernikahan kami, Ronald bercinta dengan wanita lain.
Ronald tampak seolah-olah sedang berbicara pada Willianti, tetapi juga seperti sedang bergumam pada dirinya sendiri, "Akhirnya aku nggak usah lihat wanita penghibur itu lagi."
Willianti berbaring di pelukannya dengan pipi yang menggembung sambil mengeluh, "Kak Ronald lagi lihat apaan? Kenapa mengabaikanku?"
Gerakan Ronald terhenti sejenak, lalu dia membalikkan ponsel untuk menyembunyikan layarnya. Willianti mungkin tidak tahu, tapi aku bisa melihat semuanya dengan jelas.
Itu adalah layar percakapanku dengannya. Isinya adalah pesan-pesan yang kukirimkan dulu dengan tanpa malu-malu.
[ Ronald, hari ini juga aku suka sekali sama kamu. ]
[ Ronald, sudah hujan nih. Ingat bawa payung. ]
[ Ronald, bisa nggak kamu lebih mencintaiku sedikit? ]
Dulu aku selalu mengirim pesan-pesan ini tanpa merasa bosan. Kadang berupa kata-kata cinta yang sederhana, kadang cerita tentang anjing liar yang kutemui di jalan, atau sesekali tentang harapan masa depan untuk anak kami.
Namun, tak satu pun dari pesan-pesan itu pernah mendapatkan balasan.
Setiap pesan itu adalah bukti betapa besarnya cinta yang pernah kuberikan padanya. Namun belakangan ini, ponselnya hanya berisi pesan-pesan terkait pekerjaan. Tak ada satu pun lagi pesan dari diriku.
Ronald menggaruk kepalanya dengan gelisah. Ronald, apakah tanpa gangguan dari wanita penghibur sepertiku, kamu malah merasa tidak nyaman?
Willianti yang tidak mendapatkan balasan, mulai merajuk dan memaksa Ronald untuk menghiburnya. Ronald hanya menanggapinya dengan setengah hati. Hanya dalam beberapa patah kata yang singkat, kesabarannya pun mulai habis.
Tampaknya, kekasih idamannya saat masih muda dulu, kini mulai berubah menjadi sesuatu yang tak lebih dari rutinitas harian.
....
Tiba-tiba, bel pintu kembali berbunyi. Ronald dan Willianti terkejut sejenak.
"Kak Ronald, jangan-jangan Kak Sheny sudah pulang?"
Tebersit sedikit kegembiraan di wajah Ronald. Namun dalam sekejap, dia menahan ekspresi itu dan memasang wajah tak acuh.
Bab 6
Mungkin aku salah melihat. Mana mungkin Ronald merasa bahagia karena aku?
"Kak Ronald, sebaiknya aku pergi saja. Jangan sampai Kak Sheny salah paham melihat kita," kata Willianti. Melihat Ronald tidak merespons, dia kembali memberikan tekanan pada Ronald.
Mata Ronald bergerak sedikit, lalu dia merangkul Willianti dengan lebih erat dan mencium keningnya dengan lembut.
"Tenang saja, dia nggak akan berani ngelakuin apa pun."
Melihat ekspresi percaya diri Ronald membuatku geram. Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka dan aku pun terpaku.
Rumah ini dibeli oleh ayahku pada tahun pertama pernikahan kami. Dia takut aku dipandang rendah oleh keluarga mertuaku, jadi dia menghabiskan sebagian besar tabungannya untuk membelikan kami rumah ini. Selain aku dan Ronald, hanya ayahku yang punya kunci rumah.
Sekarang aku sudah tiada, jadi satu-satunya yang mungkin datang adalah ayahku!
Aku mencoba untuk mendorong Ronald, tapi tentu saja usahaku itu sia-sia. Aku tidak peduli bagaimana dia memperlakukanku. Namun, aku tidak ingin ayahku yang sudah tua melihat pemandangan yang menyakitkan ini.
....
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Ronald dengan kecewa dan tidak menunjukkan rasa hormat sedikit pun pada ayahku.
Napas ayahku terengah-engah dan tangannya gemetaran saat menunjuk ke arah Ronald dan Willianti. "Di mana Sheny? Di mana Sheny! Aku mau bawa dia pergi! Berani-beraninya kamu buat dia menderita!" katanya dengan marah.
Aku berlutut di samping kaki ayahku. Baru saat itulah, aku menyadari betapa besarnya kesalahanku selama bertahun-tahun ini. Aku telah mengecewakan ayahku. Sekarang ketika aku tidak bisa lagi membalas kebaikannya, aku malah membuatnya khawatir.
"Putrimu nggak pulang saja aku nggak ngomong apa pun." Ronald sudah terbiasa dengan posisinya yang tinggi sehingga tidak bisa menerima kritikan sedikit pun.
Willianti juga ikut memprovokasi, "Paman, Kak Sheny sudah lama nggak pulang, bahkan nggak peduli sama Ronald yang lagi sakit lambung. Gimana cara didikan Paman selama ini?"
Aku ingin sekali menamparnya. Menyakitiku mungkin masih bisa kuterima, tapi berani-beraninya dia mengkritik ayahku. Ayahku menatap Ronald dengan intens. Sorot matanya menyiratkan kesedihan yang menusuk hatiku.
"Justru karena aku mendidiknya terlalu baik hati, akhirnya malah ditindas sama kalian!"
Ronald berusaha terlihat tidak peduli, tetapi tangannya mengepal erat.
Tiba-tiba, dering telepon memecah ketegangan di ruangan itu. Ronald meliriknya sekilas dan buru-buru mengangkat telepon.
"Apa kamu bilang? Sheny sudah dimakamkan? Kuperingatkan ya, jangan ikut-ikutan sama trik rendahannya ini!" bentaknya dengan marah, lalu melemparkan ponsel ke dinding dengan keras.
Dia melepaskan tangan Willianti yang bertengger di lengannya dengan napas terengah-engah karena marah.
Ayahku membungkukkan tubuhnya yang sudah renta sambil berusaha keras untuk mengambil ponsel yang dibuang oleh Ronald. Ketika mendengar suara dari ujung telepon itu, air mata ayahku perlahan menggenang di matanya.
"Bajingan! Kau benar-benar bajingan!" Ayahku memukul Ronald sekuat tenaga. Namun, dengan tubuhnya yang sudah tua, mana mungkin dia bisa menang melawan Ronald? Ronald menghindari serangan ayahku dengan mudah, lalu mendengus dingin.
"Kamu sudah pikun, ya? Kamu percaya sama omong kosong beginian?"
Ronald menolak pergi ke rumah sakit untuk mengambil abu jenazahku. Dia yakin bahwa semua ini hanyalah tipu muslihatku untuk menarik perhatiannya. Aku mulai bertanya-tanya apa yang telah kulakukan selama ini hingga Ronald bisa berpikir seperti itu tentang diriku.
Akhirnya, ayahku pergi sendirian ke rumah sakit untuk mengambil abu jenazahku dengan penampilan yang tampak lebih ringkih dari sebelumnya.
"Anakku sayang, kenapa kamu jadi kurus begini?" Ayahku memeluk erat kotak abu jenazahku di dadanya. Dia menepuk-nepuk kotak itu dengan lembut, seolah-olah sedang menenangkanku seperti saat aku masih kecil.
Tak lama kemudian, tetesan air mata menggenang di atas kotak abu itu dan memantulkan bayangan wajah ayahku yang sudah tua.
....
Perusahaan Ronald kembali terjebak dalam skandal. Ayahku berdiri di depan gedung perusahaannya sambil mengangkat papan yang menuntut keadilan atas kematianku. Media datang setiap hari untuk melaporkan kejadian ini.
Bab 7
"Sudah kubilang, ganti dengan makanan dari restoran yang dulu!" Ronald meluapkan kemarahannya yang tak berdasar kepada asistennya. Lantaran tidak bisa menahan diri lagi, asisten itu akhirnya berkata jujur.
"Pak Ronald, makanan yang dulu itu dimasak Bu Sheny. Dia sudah lama nggak mengirimkan makanan lagi."
Ronald tiba-tiba terdiam. Kemudian, dia mengisyaratkan pada asistennya untuk keluar dari ruangan.
"Sheny, sampai kapan kamu mau buat onar begini?" gumamnya. Dia masih tidak mau percaya bahwa aku sudah meninggal. Dengan keras kepalanya, dia masih menganggap aku hanya berbuat onar.
Dia menyuruh seseorang menghubungi ayahku untuk bertemu dengannya. Namun, ayahku menolak tanpa ragu sedikit pun.
"Kak Ronald, Kak Sheny nggak mungkin benar-benar meninggal, 'kan?" tanya Willianti dengan nada polos sambil menyandarkan tubuhnya ke pelukan Ronald dan berkedip manja. Tangan Ronald yang berada di bahunya tiba-tiba mengepal erat, membuat Willianti meringis kesakitan.
Sambil berusaha terlihat tenang, Ronald menghiburnya dan bergumam pelan, "Nggak mungkin. Orang seperti dia itu pasti hidup lebih lama dari yang lain. Lagian, aku masih hidup, mana mungkin dia tega mati?"
Melihat dia memaksakan senyuman, aku tiba-tiba merasa tidak memahaminya lagi. Belakangan ini, Ronald semakin sering pulang ke rumah, sedangkan Willianti tidak diizinkan untuk masuk.
"Willianti, nggak seharusnya kamu masuk ke rumah sekarang. Belakangan ini dia lagi marah sampai nggak mau pulang. Sementara ini, kita begini saja dulu ...," kata Ronald.
Air mata Willianti langsung mengalir dan sorot matanya dipenuhi dengan ketakjuban. Bukan hanya dia, bahkan aku pun sampai tidak percaya. Apakah Ronald benar-benar menolak Willianti demi diriku?
Sebelum Willianti sempat menjawab, pintu sudah ditutup di depannya.
Di dalam rumah, sampah mulai membusuk, tetapi Ronald tidak peduli. Dia berjalan ke arah minibar, lalu menenggak setengah botol whisky sekaligus. Jakunnya bergerak naik turun dan tubuhnya tiba-tiba terlihat sangat lelah dan rapuh.
"Sheny, jangan marah lagi. Aku nggak ketemuan lagi sama dia ya?" gumamnya. Ronald masih berpikir bahwa semua ini hanyalah ulahku yang sedang marah.
Rumah itu benar-benar sunyi. Ronald yang merasa frustrasi, mengangkat botol whisky dan menenggak sisa isinya. Tak lama kemudian, rasa sakit di lambungnya mulai kambuh dan keringat dingin membasahi tubuhnya tanpa henti.
"Sheny, kamu pasti bangga sekali, 'kan? Kamu pasti mengira aku nggak bisa hidup dengan baik tanpamu ya?"
....
Akhirnya, ayahku mengumumkan berita kematianku secara terbuka. Semua uang yang dihabiskan Ronald untuk menghapus trending topik di internet menjadi sia-sia.
Ronald mengenakan setelan jas dan dasi yang rapi, lalu berjalan menuju pemakamanku dengan percaya diri. Ibu mertuaku yang gemetaran, memegang lengan Ronald dan berkata dengan canggung.
"Apa ini cuma akting? Jangan-jangan, dia benar-benar mati?"
Ronald menatap foto hitam-putih yang ada di tengah-tengah upacara pemakaman itu sambil memijat pelipisnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak bisa tidur nyenyak. Biasanya, akulah yang menenangkannya dengan sabar sampai dia terlelap. Mungkin dia masih belum terbiasa dengan perbedaan ini.
"Kalau memang sudah mati, ya biarkan saja. Cuma wanita penghibur, nggak masalah kalau dia mati." Mendengar hinaannya yang keterlaluan itu, hatiku sebenarnya sudah mati rasa. Hanya saja, aku masih merindukan ayahku.
"Ayah, jangan permalukan diri sendiri. Sheny bersikap kekanak-kanakan, kenapa kamu malah ikut-ikutan juga?" tanya Ronald.
Namun, ayahku tidak menggubrisnya. Musik pemakaman mulai berkumandang, membuat Ronald mengerutkan kening. Para tamu yang hadir kebanyakan dari pihak keluargaku. Mereka semua memandang Ronald dengan dingin.
"Sheny!" seru Ronald tiba-tiba.
Untuk sesaat, ekspresi Ronald langsung membeku. Namun, detik berikutnya, dia langsung menyerbu ke arah kotak abuku ....