Upacara Kedewasaan Berdarah

Đang tải thông tin quảng bá...

Upacara Kedewasaan Berdarah

GoodNovel Hoàn thành
BeraniEmosionalMisteri

Di desa kami tidak ada laki-laki dewasa. Setiap gadis yang mencapai usia 18 tahun harus melakukan upacara kedewasaan bersama-sama di kuil leluhur. Gadis-gadis muda berpakaian indah berbaris untuk mema...

Chương (1)

第1章

Di desa kami tidak ada laki-laki dewasa. Setiap gadis yang mencapai usia 18 tahun harus melakukan upacara kedewasaan bersama-sama di kuil leluhur. Gadis-gadis muda berpakaian indah berbaris untuk memasuki kuil. Saat mereka keluar, mereka semua menunjukkan ekspresi kesakitan sekaligus senang. Kakakku berusia 18 tahun, tapi Nenek tidak mengizinkan dia mengikuti upacara ini. Dia menyelinap ke kuil leluhur di malam hari dan berjalan dengan langkah tertatih-tatih saat keluar. Darah segar menetes di antara kedua kakinya. Bab 1 Desa kami terletak jauh di pegunungan dan memiliki urat mineral batu permata darah. Konon katanya, tidur di atas tempat tidur yang terbuat dari batu permata darah bisa membantu awet muda selamanya. Batu permata darah sulit ditemukan dan lebih sulit lagi untuk ditambang. Karena itu, desa kami sangat kaya. Hanya saja, seluruh penduduk desa kami adalah perempuan. Tidak ada satu pun laki-laki. Aku punya dua kakak perempuan. Seharusnya aku juga punya tiga orang kakak laki-laki, tapi mereka ditenggelamkan segera setelah lahir. Aku pernah melihat eksekusi bayi laki-laki di desa. Mulut bayi baru lahir itu dibungkam, tidak dibiarkan menangis satu jeritan pun. "Laki-laki itu buruk dan tercela. Kalau dewa gunung marah mendengar tangisannya, seluruh desa akan binasa!" Sesampainya di kolam yang dalam di balik gunung, bayi laki-laki itu langsung dilempar. Tanpa sayap yang bisa dikepakkan, dia jatuh dan tenggelam setelah mengeluarkan gelembung napas beberapa kali. Aku mengikuti di belakang dan melihat sekeliling. Kolam yang besar itu dipenuhi tengkorak-tengkorak yang dibiarkan mengapung selama bertahun-tahun. Tengkorak-tengkorak yang tua telah rusak dikerat serangga dan tidak tampak seperti tengkorak lagi. Nenek adalah kepala desa dan bertanggung jawab atas segala urusan di desa. Tidak ada yang berani melanggar perintahnya. Kakakku sulungku bernama Lukita. Usianya 18 tahun dan akan segera mengikuti upacara kedewasaan. Tapi, Nenek terlalu sayang padanya dan tidak mengizinkannya untuk turut serta. Nenek sampai harus menamparnya ketika dia mau menurut. "Jangan lancang! Pokoknya kamu nggak boleh ikut!" Nenek sudah berumur 90 tahun, tapi dia sangat kuat. Wajah Kak Lukita langsung membengkak. Melihat mata cucu kesayangannya berkaca-kaca, Nenek mendesah dan mengusap pipi lembut Kak Lukita. "Nenek melarangmu demi kebaikanmu sendiri. Kalau kamu ikut upacara kedewasaan, kamu nggak akan bisa jadi pemimpin desa." Kak Lukita memeluk lengan Nenek dan mengguncangnya. "Nenek ingin aku jadi pemimpin desa?!" Nenek tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Tangan keriputnya mengelus lengan putih Kak Lukita. Matanya yang seharusnya keruh pun berbinar. Gadis-gadis muda berpakaian indah berbaris untuk memasuki kuil leluhur. Saat mereka keluar, wajah mereka merona malu. Banyak dari mereka berjalan gemetaran dengan kaki terkatup. Kak Lukita menarik salah seorang gadis yang baru saja keluar dan menanyakan seperti apa upacara kedewasaan itu. Kenapa mereka semua menunjukkan raut wajah kesakitan sekaligus senang setelah keluar? Wajah gadis itu memerah dan suaranya gemetar, diwarnai kehalusan seperti suara wanita dewasa. Dia ingin memberitahu Kak Lukita, tapi dia sepertinya teringat sesuatu dan akhirnya hanya tersenyum misterius. "Bukan apa-apa, cuma melakukan sesuatu yang menyenangkan." Di tengah malam, Kak Lukita membangunkanku untuk mengawasi keadaan sementara dia menyelinap ke kuil untuk mencari tahu. "Tapi Kak, Nenek sudah bilang, kalau kamu ingin jadi pemimpin desa, kamu nggak boleh ikut upacara kedewasaan." Kak Lukita mencubit pergelangan tanganku dan berkata, "Cuma kamu yang tahu tentang ini. Kalau Nenek tahu, artinya kamu yang memberi tahu." "Kenapa aku nggak boleh ikut upacara kedewasaan? Nenek cuma nggak mau aku bahagia." Mata Kak Lukita berbinar penuh harap, seolah sudah tahu apa yang ada di kuil leluhur. Malam itu sunyi senyap. Nyala lilin di dalam kuil berkelap-kelip tertiup angin. Aku bersembunyi dalam kegelapan sambil menampar nyamuk-nyamuk yang hinggap di kulitku. Suara berderak bergema di malam yang gelap. Eh? Suara itu sepertinya berasal dari kuil leluhur. Bersamaan dengan itu, terdengar suara tercekat kakakku. "Kak Lukita! Kamu nggak apa-apa?!" Kukira ada sesuatu yang terjadi pada Kak Lukita, jadi aku mendorong pintunya, ingin masuk. Tapi ternyata, pintu itu dikunci dari dalam. "Nggak ... apa-apa ...." Kalimat Kak Lukita terpenggal-penggal, dengan nuansa panas yang lebih menggoda. Suara di dalam semakin keras dan aku semakin khawatir, jadi aku memanjat jendela untuk memastikan Kak Lukita aman. Tapi jendela itu sangat tinggi. Aku tetap tidak bisa melihat ke dalam kuil keseluruhan meski sudah berjinjit. Aku hanya bisa melihat samar-samar, ada empat rantai yang diikatkan pada empat pilar. Sepertinya ada sesuatu yang ditambatkan ke lantai, dan rantai itu bergetar hebat. Kak Lukita duduk di sana hanya mengenakan pakaian dalam. Punggung mulusnya naik turun secara teratur. Bab 2 Aku berusaha sekuat tenaga untuk berpegangan pada ambang jendela agar bisa melihat lebih jelas, tapi tanganku terpeleset. Aku terjatuh dan kakiku terkilir. Aku mendesak Kak Lukita untuk segera pulang. Dia mengatakan bahwa sebentar lagi akan selesai, tapi dia keluar satu jam kemudian. Saat Kak Lukita keluar, aku bersandar di sudut dan menggosok-gosok pergelangan kakiku. "Maya, bantu aku." Kak Lukita terengah-engah seperti baru menyelam. Dia menyandarkan seluruh tubuhnya kepadaku. Saat aku menyeret kaki Kak Lukita melintasi dinding, aku mendongak tanpa sengaja dan terkejut melihat kakakku tidak mengenakan celana dalam. Aku bertanya pada Kak Lukita apa sebenarnya yang ada di dalam kuil leluhur itu. Kak Lukita tampak malu-malu dan tidak mau menjawab, hanya berkata, "Kamu masih tertawa sekarang. Tunggu saja nanti, kamu akan tahu sendiri." Huh! Biarlah dia tidak mau bilang, aku bisa pergi sendiri. Aku tidak kembali bersama kakakku dengan alasan sakit perut, lalu menyelinap kembali ke kuil. Yang membuatku terkejut, Nenek ada di sana,. Dia mengarahkan sekelompok orang untuk memindahkan barang. Benda itu adalah bungkusan kain tahan air tebal yang berbentuk panjang. Dua orang membawanya bersama-sama. Salah seorang dari mereka terpeleset di tangga. Bungkusan itu pun terbentur dan sesuatu terjatuh di tangga. Nenek panik dan pergi memeriksa dengan hati-hati, memerintahkan mereka untuk membungkusnya lapis demi lapis dengan kain tahan air. Aku menutupi mulutku dan bersembunyi di balik dinding. Seluruh tubuhku menggigil. Sesuatu yang jatuh dari bungkusan itu jelas-jelas adalah potongan tangan manusia yang pucat. "Ini harus diproses secepat mungkin. Barang baru akan datang sebentar lagi." Nenek tidak marah dan hanya memberi instruksi kepada para wanita di sana. Sekelompok orang itu menarik gerobak ke arah pegunungan. Aku tersungkur lumpuh di tanah sangat lama sebelum akhirnya sadar kembali. Setibanya di rumah, aku langsung demam tinggi dan tidak bisa menghadiri upacara kedewasaan selama beberapa hari berikutnya. Kak Lukita pergi mengendap-endap melompati dinding dan pergi ke kuil setiap malam. Tidak ada yang memergokinya. Setelah pulang, dia akan langsung tertidur dengan wajah puas. Nenek datang menemuiku, dan aku membuka mulut, ingin bertanya apakah mereka telah membunuh seseorang. Baru membuka mulut saja, tangan kasar Nenek tiba-tiba menampar punggung tanganku, sakit sekali. Setelah beberapa hari tidak bertemu, tangannya yang sudah keriput menjadi semakin kasar. Kulitnya sekering kulit mati yang hendak terkelupas. Tanpa sadar, aku menelan kata-kataku kembali. Aku berjalan keliling desa beberapa kali dan menemukan jumlah orang di desa tidak berkurang satu pun. Jadi, siapa orang yang mereka bawa keluar dari kuil? Setelah upacara kedewasaan, kondisi tubuh Nenek menurun drastis. Dia biasanya sangat lincah, berjalan ke sana kemarin dengan tongkatnya. Orang-orang mengatakan bahwa Nenek sedang sekarat. Beberapa dari mereka bersaing memperebutkan posisi pemimpin desa, berebutan melayani Nenek dan menangis di sisi tempat tidurnya. "Cih! Dasar badut. Nenek sudah bilang, posisi pemimpin desa sudah jadi milikku." Kakakku menyeringai tertawa, seolah para wanita yang keluar masuk menunjukkan bakti kepada Nenek adalah sekumpulan badut. Malam itu, tidur nyenyakku diganggu suara-suara berisik dari luar kamar. Kak Lukita sedang menyisir rambut dan berdandan di tengah malam. Kukira dia mau pergi ke kuil lagi. Aku hendak menceritakan kejadian aneh yang kusaksikan malam itu. Sebelum kalimat itu terucap, Kak Lukita mendorongku masuk ke dalam kamar sambil menempelkan jari telunjuk di tengah bibirnya. "Ssst, Nenek mau memberi tahu aku rahasia turun-temurun desa. Dia bilang jangan sampai ada yang tahu." "Tidurlah dan pura-pura nggak terjadi apa-apa malam ini." Kak Lukita keluar dengan langkah gembira. Tak disangka, esok hari datang membawa kabar bahwa Kak Lukita telah tiada. Aku bergegas menuju kuil dan hanya melihat jenazah Kak Lukita yang ditutupi kain putih, diistirahatkan di halaman kuil. "Lukita! Kerasukan apa dia? Mau apa dia naik gunung malam-malam? Dia jadi seperti ini diserang binatang buas." "Bukan, itu pasti bukan Kak Lukita." Aku mengangkat kain putih itu dengan tangan gemetar untuk memastikannya, tapi Nenek menghentikanku. "Maya, kakakmu mati mengenaskan. Jangan lihat." Aku memelototi Nenek. Bagaimana mungkin Kak Lukita mati di belakang gunung? Dia jelas-jelas pergi menemuinya tadi malam. Aku menepis tangan nenek dan mengangkat kain putih itu. Sesaat kemudian, aku berlari ke sudut dan muntah-muntah.