Perjalanan Menuju Cinta Sejati

Đang tải thông tin quảng bá...

Perjalanan Menuju Cinta Sejati

GoodNovel Hoàn thành
ManisCantikEmosional

Selama tujuh tahun aku menjalin hubungan tanpa status dengan Handi Wenas, dan dia juga tidak pernah berpikir untuk menikahiku. Kini, dia memutuskan untuk menikahi putri keluarga konglomerat Barata. Ha...

Chương (1)

第1章

Selama tujuh tahun aku menjalin hubungan tanpa status dengan Handi Wenas, dan dia juga tidak pernah berpikir untuk menikahiku. Kini, dia memutuskan untuk menikahi putri keluarga konglomerat Barata. Hanya ada satu syarat dari mereka, yaitu agar Handi melepaskan untaian gelang manik-manik cendana yang selalu dipakainya. Handi hanya terdiam tanpa ekspresi dan berkata dengan tenang, "Itu cuma benda biasa, aku juga sudah bosan memakainya." Lalu dengan santai dia melemparkannya dari balkon ke loteng di sebelah. Kebetulan, loteng itu terbakar, dan tidak ada yang menyangka aku akan nekat masuk untuk mengambil gelang manik-manik cendana itu. Kemudian, seorang netizen mengungkapkan bahwa gelang manik-manik cendana itu aku dapatkan dengan berlutut di Candi Dharma pada saat hujan deras. Bab 1 Saat membawakan kopi ke balkon, aku mendengar Handi dan Chintia yang sedang mengobrol. "Cuma sebuah gelang manik-manik cendana saja, kenapa kamu benci banget?" Handi menyulut sebatang rokok sambil memicingkan matanya, melihat Chintia. "Aku memang nggak suka barang-barang seperti itu. Aku nggak mau kalau nanti setelah menikah, aku lihat benda itu setiap hari." Chintia memegang segelas anggur merah, mendekat sambil tersenyum tipis. "Atau mungkin, calon suamiku tersayang, sebenarnya nggak rela?" Aku terdiam, tanpa sadar aku menahan napas, menunggu reaksi Handi. Bagaimana reaksinya, ya? Sepertinya dia terpaku. Alisnya berkerut, tangan kirinya tanpa sadar menyentuh pergelangan tangan kanannya. Sejenak, aku kira dia akan menolaknya. Ternyata dia hanya mengerutkan dahinya, lalu berkata dengan nada datar. "Ini cuma barang biasa, aku juga sudah bosan." Setelah itu, tanpa ragu dia melemparkan gelang itu ke arah loteng di samping balkon. Aku menggigit bibir bawahku dengan keras, rasa perih mulai terasa dan bibirku berdarah. Namun, yang aku rasakan hanya sakit hati yang begitu tajam, dan kepedihan yang mendalam menyiksa pikiranku. Gelang manik-manik cendana itu adalah hadiah yang aku beri untuk Handi. Tahun lalu, proyek properti yang diinvestasikan oleh perusahaan Handi bermasalah, dan para investornya kabur ke Asia Tenggara. Demi perusahaan, Handi membawa orang untuk mengejar mereka ke Asia Tenggara, tetapi di sana dia malah dikhianati. Selama tiga hari penuh, kami sama sekali tidak bisa menghubunginya. Polisi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku panik, mencari cara di internet, sampai akhirnya aku menemukan informasi yang mengatakan bahwa berdoa di Candi Dharma itu sangat ampuh. Aku buru-buru ke Tibera semalam, berjalan menaiki tiga ribu anak tangga batu menuju Candi Dharma, dan setiap langkahku diiringi dengan sembah sujud. Waktu itu sedang musim hujan. Hujan turun deras, aku berdoa sepanjang malam di luar, dan keesokan harinya akhirnya aku mendapat kabar bahwa dia kembali dengan selamat. Sebelum pergi, aku meminta seutas gelang manik-manik kayu cendana dari seorang penunggu di candi itu. Katanya, gelang itu bisa melindungi seseorang agar tetap aman, sehat, dan segala urusannya lancar. Setelah kembali, aku sendiri yang memakaikan gelang manik-manik itu di pergelangan tangan kanan Handi. Sejak saat itu, dia tidak pernah melepasnya. Saat itu, orang-orang di sekitar tidak tahu apa isi pikiranku. Selama bertahun-tahun, Handi tidak pernah mengakui keberadaanku di depan umum. Orang-orang juga hanya tahu bahwa aku sekretaris utama yang mengurus segala hal kecil untuknya. Melihat Handi melemparkan gelang manik-manik cendana itu tanpa ragu, Chintia tersenyum lebar. Seketika, aku hampir tidak bisa bernapas. Ternyata, doa yang dengan tulus aku panjatkan bisa begitu saja dibuang tanpa rasa beban? Tiba-tiba, entah dari mana, tercium bau menyengat. Secara spontan Handi berteriak memanggil seseorang. Tak lama kemudian terdengar suara dari pengurus rumah tangga. "Ada korsleting listrik di loteng, dan terjadi kebakaran kecil. Aku sudah menghubungi pemadam kebakaran. Keadaannya nggak parah, nggak apa-apa." Kami yang ada di balkon langsung menengok ke arah loteng. Ternyata benar, mulai terlihat ada asap. Chintia menutup hidungnya sambil mengeluh. "Kapan semuanya bisa beres? Bau banget!" Tidak sempat bicara dengan mereka, aku buru-buru menuju loteng. Chintia memandangi aku dengan tatapan bingung, kemudian bertanya kepada Handi. Bab 2 "Handi, dia nggak akan pergi untuk padamkan api, 'kan?" "Dia 'kan nggak bodoh." Begitu Handi selesai berbicara …. Aku langsung berlari ke arah loteng. "Ah! Dia gila, ya?" "Handi, dia rela mempertaruhkan nyawanya demi menyenangkanmu, ya?" Karena suara Chintia, aku jadi tidak memperhatikan Handi. Ekspresinya terlihat panik, tangannya terulur, seolah-olah ingin memegang pergelangan tanganku, tetapi dia terlambat. Aku menendang pintu loteng dengan keras. Tidak ada banyak barang di dalam loteng, jadi aku bisa langsung melihat untaian gelang manik-manik cendana yang tadi dilemparkan melalui jendela. Untungnya api tidak besar, jadi tidak sampai membakar tempat ini. Aku berjalan mendekat, mengambil gelang manik-manik itu. Aku menggosoknya pelan-pelan ke bajuku. Dari luar terdengar suara Chintia. "Handi, kalau aku nggak salah, dia itu wanita yang selama ini kamu simpan, 'kan?" "Gelang manik-manik cendana itu, dia yang kasih untuk kamu, benar 'kan?" "Kehadiranku bikin dia merasa terancam, makanya dia berani ambil risiko untuk dapatkan simpatimu!" "Wanita ini benar-benar cerdas …." Aku tersenyum tipis. Selama gelang itu tidak terbakar, aku tidak peduli apa kata orang. Ini adalah hasil jerih payahku, aku nggak akan biarkan gelang itu hancur terbakar begitu saja. Namun, saat aku berbalik untuk pergi…. Lampu gantung di langit-langit bergoyang, lalu jatuh dan menimpa lenganku dengan keras. Lampu itu menimbulkan luka sayatan panjang di kulitku. Aku menahan sakit, menggigit bibirku dan perlahan-lahan mundur. Saat aku keluar, ekspresi Handi terkejut. Lalu dia berteriak marah padaku. "Cuma demi manik-manik cendana ini, kamu sampai nggak peduli nyawamu, ya?" Aku tidak menjawab, justru Chintia yang lebih dulu berbicara. "Handi, apa dia sedang berusaha menahanmu?" "Melihat hubungan kalian yang ribet ini, kayaknya kamu harus pikirkan lagi baik-baik soal pernikahan denganku." Chintia mengatakannya dengan santai, sambil menatap Handi dengan sinis. Handi menutup mata, lalu membukanya lagi sambil menghela napas berat. Seperti sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Dia cuma mainan buatku, dan salah satu yang paling nggak berharga di antara banyak mainan." "Sudah lama aku mau membuangnya, mana mungkin kamu bisa dibandingkan dengan dia." Setelah itu, dia memeluk Chintia yang berdiri di sebelahnya dan turun ke bawah. Sambil melewatiku, dia berkata dingin. "Nggak perlu lagi susah-susah menyenangkan aku, bawa saja gelang sampah itu, dan menghilanglah dari duniaku." Setelah mengatakan itu, dia menggandeng Chintia dan pergi. Aku terdiam di tempat. Suara sirene makin mendekat, empat hingga lima petugas pemadam kebakaran dengan peralatan lengkap bergegas naik ke balkon. Aku tidak ingat bagaimana caranya aku kembali ke kamar. Langit menjadi gelap, tetapi aku tidak menyalakan lampu, hanya duduk sendirian dalam kegelapan untuk waktu yang lama. Aku sudah mengenal Handi sejak usia lima tahun. Saat itu, dia dan ayahnya pergi ke panti asuhan untuk memilih anak asuh, sementara aku baru saja dibohongi bibiku dan dibawa ke panti asuhan. Aku sering menangis di sudut sambil memeluk boneka beruang kecil berkaki pendek. Setelah melihatku, Handi meminta ayahnya untuk memilihku sebagai anak asuh dan membiayai pendidikanku. Dulu dia bilang mataku indah seperti bintang. Mulai dari SD hingga SMA, aku selalu berada di dekat Handi. Saat kuliah, aku tetap memilih universitas yang sama dengannya, meskipun nilaiku jauh lebih tinggi dari batas kelulusan yang ditetapkan. Bahkan setelah lulus kuliah, aku memenuhi permintaannya untuk tetap berada di sisinya selama tujuh tahun, hidup di bawah kuasanya. Aku tidak tidur sepanjang malam, dan pagi-pagi sekali aku menerima telepon dari sahabatku. Ternyata, Handi sudah meminta bagian humas untuk mengeluarkan pengumuman yang membantah gosip tentang kami. Di bawah pengumuman itu ada video Handi yang diwawancarai oleh wartawan. Bab 3 Dia bilang, bahwa antara aku dan dia tidak pernah ada hubungan di luar pekerjaan. Orang yang dia cintai adalah Chintia, dan selamanya dia hanya akan mencintai Chintia. Setetes air mata jatuh dari mataku. Aku tahu, sekarang waktunya aku harus mengambil keputusan. Aku memikirkan banyak hal. Terbayang kembali bagaimana Handi dulu sepertinya sangat memperhatikanku. Saat aku dinas ke luar negeri, dia rela terbang setengah dunia untuk merayakan ulang tahunku. Saat aku sakit demam, dia begadang semalaman tanpa tidur. Namun sekarang, semua kebaikan itu sudah dia tarik kembali dan diberikan ke gadis lain. Cinta atau tidak cinta, sebenarnya sangat jelas terlihat. Kalau begitu, Handi, lebih baik kita berpisah baik-baik. Jangan saling menghubungi lagi di masa depan. Aku pergi ke sebuah waduk dan melemparkan untaian gelang manik-manik cendana itu jauh ke dalam air. Saat aku hendak pergi, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Sambil tersenyum tipis, aku menggunakan jaket untuk menutupi kepala, lalu berjalan menembus hujan. Hujan deras dan angin kencang menerpa tubuhku dan membuatku merasa sangat kedinginan. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Jendela mobil itu perlahan turun. Tampaklah sebuah wajah dingin dengan ekspresi keras. Itu adalah Jeffry Reswara, CEO grup properti terbesar di Kota Amandria. Kabarnya, dia sempat kuliah di Amerikana dan baru-baru ini kembali ke negara ini. Dia dikenal sebagai sosok yang tegas dan tanpa kompromi. Sumber daya dan bisnisnya tidak kalah dari Grup Wenas. Beberapa hari lalu, aku sempat melihatnya saat menemani Handi di sebuah acara. "Naiklah, di tempat ini nggak ada taksi," katanya dengan nada santai. Aku melihat aplikasi taksi di ponselku. Memang tidak ada satu pun yang menerima pesananku. Aku mengucapkan terima kasih dengan pelan, lalu membuka pintu dan masuk ke mobilnya. Jeffry melirikku dan melemparkan sebuah handuk kecil. "Keringkan rambutmu," katanya singkat. Dia berbicara santai sambil memegang setir dengan tangan kiri, dan tangan kanannya memegang ponsel, seperti sedang mencari rute di navigasi. "Mau diantar ke mana?" Pertanyaan itu sebenarnya agak sulit untuk dijawab. Selama ini aku tinggal di vila milik Handi. Namun, semua barangku masih ada di sana. Kalau ingin benar-benar menyelesaikan semuanya, aku harus mengambil barang-barangku. Aku berkata, "Barang-barangku belum kuambil. Tolong antar aku ke kompleks vila Pak Handi." Tanpa berkata apa-apa, Jeffry mengemudikan mobil sampai tiba di depan vila Handi. Saat aku bersiap turun, tiba-tiba dia memanggilku. "Nona Verin, bagaimana kalau kita bekerja sama? Aku bisa membantumu lepas dari Handi, dan kamu juga bisa membantuku dengan satu hal." Jeffry berbicara begitu santai, seolah-olah sedang membahas cuaca hari ini. "Aku butuh pasangan untuk menikah agar bisa menghentikan omelan para orang tua di keluargaku." Aku menatapnya dengan mata terbelalak. Bahkan sesaat aku tidak bisa bereaksi. "Pasangan untuk menikah?" "Ya." Jeffry mengangguk mengonfirmasi. Aku berpikir sejenak, lalu tersenyum tipis. "Maaf, Pak Jeffry, sepertinya aku nggak cocok. Tanpa Handi, aku tetap bisa mengurus diri sendiri." Setelah mengatakan itu, aku berniat untuk langsung membuka pintu dan turun. Jeffry tidak melanjutkan pembicaraan, tetapi menyerahkan sebuah kartu nama. "Kalau begitu, semoga sukses ya, Nona Verin." "Kalaupun kerja sama kita tidak berhasil, kita masih bisa berteman. Ini kartu namaku. Kalau kamu butuh sesuatu, silakan hubungi aku kapan saja." Aku berpikir sejenak, lalu akhirnya menerima kartu namanya. Setelah itu, aku turun dari mobil dan berjalan menuju vila Handi. Di dalam vila itu, suasananya kosong dan sangat sunyi. Sulit dipercaya bahwa tempat ini biasanya ramai dan penuh kegembiraan. Ketika kepala pelayan melihatku, dia langsung berkata. "Nona Verin, Anda kembali ...." Aku mengangguk, tidak banyak bicara, dan langsung naik ke lantai dua menuju kamarku. Namun, ketika pintu kamar dibuka, aku melihat Handi ada di sana. Dia duduk di depan beberapa koper besar yang sudah kupersiapkan tadi pagi sebelum pergi, sambil memegang ponsel, seperti sedang menunggu pesan atau telepon dari seseorang. Bab 4 Udara di dalam kamar terasa pengap, sepertinya dia sudah banyak merokok lagi. Mendengar suara pintu terbuka, dia mengangkat wajahnya, matanya menatap ke arahku. "Verin, kamu mau pindah?" Aku mengabaikannya dan langsung berjalan ke lemari. Aku membuka laci, mengambil dokumen dan dompetku, lalu memasukkannya ke dalam tas. "Sedang apa kamu?" Nada suara Handi jelas terdengar panik, dan suaranya serak. "Untuk apa kamu bawa semua itu?" Aku menjawab dengan datar, "Kamu akan segera menikah dengan Cinthia. Pagi tadi kalian sudah mengumumkannya, bukan? Kalau aku terus tinggal di sini, tentu nggak baik untuk kita semua." Ketika aku hendak mengangkat koper di lantai, Handi mencengkeram pergelangan tanganku. "Kamu tahu 'kan, masalah aliran dana perusahaan? Hanya keluarga Barata yang bisa membantu." "Kamu pasti juga tahu, semua ini hanya sandiwara." "Jangan begini, Verina." Matanya memerah, dia menatapku lekat-lekat. "Kita kembali seperti dulu, ya?" Seperti dulu? Menjadi burung dalam sangkar, tanpa nama dan tanpa status. Aku tidak berkata apa-apa, hanya mengangkat koper yang ada di lantai. Di depan pintu kamar, aku menggelengkan kepala ke arahnya. "Handi, kita sudah selesai. Aku nggak berutang padamu, dan kamu juga nggak ada utang padaku." "Mulai sekarang, kita nggak perlu lagi saling berhubungan." Aku melangkah pergi, tetapi tiba-tiba di belakangku terdengar suara kaca pecah karena ditendang. "Verin." Handi memanggilku dengan suara tertahan. "Ingat ini, kalau kamu pergi hari ini, aku akan langsung menghentikan pengobatan kakakmu." "Dengan kondisimu sekarang, kamu nggak akan sanggup menanggung biaya yang sebesar itu sendirian." Langkahku terhenti, dan aku membeku di tempat. Ya, tujuh tahun lalu, saat aku hampir lulus kuliah, kakakku menemukan aku. Selama ini aku mengira dia bersama Ayah dan Ibu telah meninggal dalam kecelakaan di luar kota. Namun ternyata, selama ini dia terus mencariku. Setelah aku pindah bersama keluarga Handi ke Kota Amandria, aku benar-benar putus kontak dengan orang-orang yang kukenal sebelumnya. Kakakku akhirnya berhasil menemukanku, tetapi saat itu dia sudah menderita penyakit ginjal yang parah. Dengan bantuan Handi, dia menjalani transplantasi ginjal. Namun, terjadi komplikasi selama operasi yang membuatnya berada dalam kondisi koma dan seumur hidup bergantung pada obat. Semua obatnya adalah obat impor dan sangat mahal. Saat itu, sebagai seorang mahasiswa yang baru lulus, aku tidak mampu membiayainya. Tidak ada pilihan lain, aku pun menerima syarat Handi. Yaitu menjadi wanitanya, mendampingi dia. Dan itu berlangsung selama tujuh tahun. Aku pikir suatu hari dia akan menikahiku, tetapi akhirnya aku sadar, di matanya aku hanyalah mainan yang bisa dipakai dan dibuang sesuka hatinya. Bahkan mainan yang paling tidak berharga. Aku menggigit bibir, lalu melangkah pergi. Kali ini, apa pun yang terjadi, aku harus mencoba untuk membuat perubahan. Namun, kenyataannya sangat kejam. Baru saja aku menaruh koper di hotel, aku menerima telepon dari rumah sakit. Ternyata Handi benar-benar menghentikan obat dan infus kakakku. Tanpa infus, tanda-tanda vital kakakku langsung mengalami masalah. Aku tidak ingin kembali dan memohon pada Handi. Dalam keputusasaan, aku teringat pada Jeffry. Aku menelepon nomor di kartu nama yang dia berikan padaku. Jeffry langsung memindahkan kakakku ke rumah sakit lain dan mencari dokter terbaik di seluruh Amandria untuk memeriksanya. Setelah keluar dari rumah sakit, Jeffry membawaku ke rumahnya di Kota Norda. Ekspresi ragu di wajahku mungkin sudah cukup menunjukkan isi hatiku saat itu. Jeffry membuka pintu dengan sidik jarinya, lalu memandangku. Suaranya dingin tanpa emosi sedikit pun. Bab 5 "Nona Verin, tenang saja. Aku memang bukan pria baik-baik, tapi aku juga nggak sekejam itu." Aku menggeleng dan mengikuti Jeffry masuk ke dalam. Rumahnya sangat besar, juga sangat bersih, sampai terasa agak dingin dan tidak berjiwa. Kami berdua seperti tidak punya bahan pembicaraan. Dia pergi ke dapur, sementara aku duduk dengan canggung di sofa. Tiba-tiba aku melihat sebuah album di rak dekat lemari. Album itu terlihat sangat familier. Album kenangan kelulusan SMA Amandria. Aku dan Handi sama-sama lulusan dari SMA Amandria, dan ini adalah tahun kelulusan kami. Jadi, mungkinkah di sini ada fotoku dan foto Handi juga? Aku sudah berniat membuka album itu diam-diam ketika Jeffry muncul dari belakang. Dia meletakkan dua botol air mineral di lemari, lalu menekan album itu dengan satu tangan, menghentikan tindakanku. "Nggak ada yang perlu dilihat." Ya, benar juga, kenapa aku harus menyentuh barang milik orang lain? Aku merasa kesal pada diriku sendiri, jadi aku mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, terima kasih sudah membantu aku dan kakakku. Uang itu nanti akan kucicil untuk melunasinya." Jeffry tidak mengangguk. Namun tiba-tiba, dengan tubuhnya yang jauh lebih tinggi dariku, dia menundukkan kepalanya sedikit dan berkata. "Sebenarnya, kamu nggak perlu melunasi uangnya. Sebagai gantinya, bantu aku dengan permintaan yang pernah kubicarakan sebelumnya." Menikah? Aku kembali terdiam di tempat. Jeffry tampaknya menyadari kebingunganku dan melanjutkan penjelasannya. "Mungkin Nona Verin belum tahu. Perusahaan keluargaku cukup besar. Apa yang diketahui publik sekarang hanyalah sebagian kecilnya. Sebagian besar masih dikendalikan oleh kakekku." "Menurut Kakek, aku harus menikah dulu baru dia akan berikan sebagian besar kendali perusahaan kepadaku." Sambil menunjuk diriku sendiri, aku berkata, "Tapi, Pak Jeffry, pasti banyak wanita yang suka padamu, 'kan?" Dia menatapku. "Bukankah itu malah lebih merepotkan? Setelah permainan ini selesai, kalau mereka masih terus mengejarku, justru jadi masalah." Aku terdiam. Tidak heran dia mendekatiku. Jeffry tahu soal hubunganku dengan Handi. Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya, dan dia juga tidak akan mencintaiku. Hubungan kami murni saling memanfaatkan. Mengingat kakakku yang terbaring di rumah sakit, aku pun segera menjawab, "Baiklah." Jeffry tersenyum. Dia mengulurkan tangan ke arahku. "Semoga kerja sama kita menyenangkan, Nona Verin." Aku menginap semalam di rumah Jeffry. Tidur di kamar tamu. Keesokan paginya, berita tentang Handi dan Chintia yang akan menikah langsung menjadi topik hangat di media sosial. Saat membuka Instagram, semua yang diunggah di bagian atas adalah video mereka sedang bergandengan tangan menghadiri konferensi pers. Namun, beberapa netizen bermata tajam tetap saja mencari-cari masalah di kolom komentar bawah video. "Eh, kalian sadar nggak, di dua konferensi pers terakhir ini, di pergelangan tangan kanan Pak Handi nggak ada lagi gelang manik-manik cendana itu." "Bukankah gelang Pak Handi itu sangat berharga? Katanya dia nggak pernah membiarkan orang lain menyentuhnya dan selalu dia pakai. Kok tiba-tiba nggak dipakai, ya? Hmm, pasti ada cerita di balik ini!" "Aku baru saja mencari-cari animasi lama Pak Handi. Kayaknya gelang itu dia dapat dari Candi Dharma, 'kan? Katanya ada seseorang yang sangat spesial yang meminta gelang itu khusus untuk dia. Kalau sekarang dia mau menikah dengan orang lain, wajarlah kalau gelang itu dilepas." "Bener sekali komen yang di atas! Gara-gara kamu ngomong itu, aku jadi ingat. Beberapa tahun lalu aku pernah lihat sekretaris Pak Handi, Verin Lianto, ada di Candi Dharma. Aku bahkan sempat ambil beberapa foto. Sebentar, aku cari dulu ...." "Ya ampun, waktu itu hujan turun deras sekali, tapi dia tetap berlutut dengan sangat khusyuk." "Ya, aku juga melihat langsung. Tiga ribu anak tangga, dia naiki satu demi satu sambil bersujud." "Penasaran, seberapa dekatnya orang itu sampai Nona Verin rela memohon seperti itu?" Bab 6 Diskusi di Instagram mulai beralih topik, fokusnya bergeser ke diriku. Netizen yang pernah bertemu denganku mengunggah beberapa foto dan sebuah video. Di tengah hujan lebat, aku terlihat berlutut di tangga batu dengan kedua tangan tergenggam, menghadap ke arah candi. Aku merasa, setelah Handi sebelumnya mengeluarkan pernyataan klarifikasi, seharusnya tidak ada yang mengira aku melakukannya demi dia. Bahkan jika ada yang curiga, mereka tidak akan punya bukti. Aku tidak ingin melihat lebih jauh lagi, lalu mematikan ponsel dan bersiap-siap untuk pergi ke Perusahaan Wenas untuk mengurus pengunduran diri. Ketika aku sampai di sana, Handi sedang tidak ada di kantor. Baguslah, jadi tidak perlu terlibat lebih jauh dengannya. Saat aku sedang membawa barang-barang keluar dari kantor Wenas, sahabatku menelepon. "Verin, cepat lihat...!" "Berita tentang kejadianmu waktu itu langsung tersebar di internet!" Aku meletakkan barang-barang dan mengeluarkan ponselku. Aku menemukan topik trend pertama. #Verin-Handi, Gelang Manik-manik Cendana# Aku pikir jika aku tidak peduli dengan omongan itu, otomatis perhatian publik akan berkurang. Rupanya, ada penggemar yang menggunakan kaca pembesar untuk memeriksa foto-foto dan video itu. Mereka menemukan bahwa gelang manik-manik cendana yang aku dapatkan di Candi Dharma saat hujan lebat itu adalah gelang yang sama dengan yang biasa dipakai Handi di pergelangan tangannya. Suasana media sosial langsung heboh. Topik ini segera meroket menjadi sorotan. Dengan cepat, warganet dan akun-akun marketing mengungkap lebih banyak bukti. Waktu Handi diculik dua tahun yang lalu, ternyata bersamaan dengan tanggal aku pergi ke Candi Dharma untuk berdoa. Dan masih ada banyak foto kami yang tampaknya diambil dalam satu acara bersama. Bahkan, bisa ditelusuri sampai foto-foto lebih dari sepuluh tahun lalu. Hampir semua komentar di bawah mendukungku. Banyak yang mengecam Handi, menyalahkannya karena meninggalkan aku begitu saja. Ketika Jeffry menjemputku pulang ke vila miliknya, dia menyalakan televisi, dan segera muncul siaran langsung di mana Handi dan Chintia dikelilingi wartawan. Jeffry tidak mematikan TV, malah berdiri di sampingku, dan kami menontonnya bersama. Di layar TV, terdengar komentar dari seorang jurnalis. "Sekarang kami berada di depan kantor Perusahaan Wenas .... Pak Handi baru saja kembali bersama Nona Chintia dari luar, sepertinya dia belum melihat pembicaraan di internet. Pas sekali, kami akan wawancarai dia ...." Dengan suara keras, wartawan langsung menyerbu dan mengerumuni mereka. Mereka berusaha maju ke depan, menyerahkan mikrofon ke Handi dan mulai bertanya. "Pak Handi, apakah benar gelang manik-manik cendana yang kamu pakai selama ini, yang baru-baru ini kamu lepas, adalah hadiah dari sekretarismu, Verin?" Handi terkejut dan terdiam. Chintia yang ada di sampingnya juga tampak tidak senang. Handi mengernyitkan dahi, seperti sedang memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, Chintia langsung mengambil alih pembicaraan. "Oh, itu urusan pribadi Pak Handi, menurutku kalian nggak perlu terlalu mengurusi hal itu." Dalam siaran langsung, terlihat petugas keamanan dari Perusahaan Wenas berusaha menghentikan wawancara. Namun, para wartawan tidak mudah dibungkam begitu saja dengan satu atau dua kalimat dari Chintia. Seorang wartawan perempuan yang mengenakan topi bisbol berdiri di belakang. Dia mengangkat suaranya dan berteriak. "Gelang manik-manik cendana itu kamu dapatkan saat hilang di Asia Tenggara, dan Verin berdoa untuk keselamatanmu. Dia menaiki tiga ribu anak tangga di Candi Dharma untuk mendapatkannya. Sekarang kamu malah dengan mudah melepaskannya untuk menikahi Chintia. Apa nggak ada yang ingin kamu katakan?" "Apa?" Handi tiba-tiba berbalik. Suaranya rendah dan wajahnya gelap penuh kemarahan.