Đang tải thông tin quảng bá...
Organ Putriku Untuk Putra Pelakor
Suamiku adalah dokter yang baik di mata semua orang. Namun, demi menemani anak dari cinta pertamanya bermain di taman dan mencoba meraih hadiah, dia malah menunda penanganan pasien kritis yang menjadi...
Chương (1)
第1章
Suamiku adalah dokter yang baik di mata semua orang. Namun, demi menemani anak dari cinta pertamanya bermain di taman dan mencoba meraih hadiah, dia malah menunda penanganan pasien kritis yang menjadi korban kecelakaan.
Kemudian, dia bahkan diam-diam menukar obat pasien dan membiarkan pasien itu mati perlahan-lahan agar bisa mendapatkan donor jantung untuk putra cinta pertamanya.
Namun, yang tak dia sadari adalah, gadis kecil yang wajahnya tak lagi bisa dikenali akibat kecelakaan itu ternyata adalah putrinya sendiri.
Kemudian, dia mencoba menghubungi keluarga pasien dan berharap bisa mendapatkan izin untuk mendonorkan organ. Namun saat panggilan tersambung, suara dering ponselku memenuhi ruangan.
Bab 1
Putriku dan aku dipisahkan setelah kecelakaan mobil dan dibawa ke rumah sakit yang berbeda. Karena dokter bedah utama belum tiba, operasinya terus tertunda. Entah bagaimana, jiwaku keluar dari tubuh setelah kecelakaan itu.
Tubuhku terbaring di tempat tidur, sementara jiwaku melayang di dekat putriku dengan cemas dan tak berdaya. Aku sangat khawatir, begitu juga dengan perawat ruang gawat darurat yang terlihat panik.
"Kenapa Pak Samuel belum datang? Kondisi gadis kecil ini sangat kritis!"
Seorang petugas di sampingnya menjawab dengan canggung, "Aku sudah hubungi dia, tapi Pak Samuel bilang akan datang nanti. Dia lagi di taman bersama seorang anak yang sedang menangis karena ingin memenangkan hadiah utama dari permainan pecah telur emas dan nggak mau pulang kalau belum mendapatkannya."
"Samuel ini benar-benar nggak tahu membedakan mana yang lebih penting! Anak ini sudah hampir sekarat!"
Samuel?
Mendengar nama itu, aku tersentak menyadari bahwa putriku telah dibawa ke rumah sakit tempat suamiku bekerja. Dia adalah dokter anak terbaik di kota ini. Jika dia ada di sini, putriku pasti bisa diselamatkan!
Perawat yang berdiri di samping kami sangat gelisah dan akhirnya memutuskan berlari keluar ruangan. "Taman berada di dekat sini, coba kalian telepon lagi. Aku akan langsung cari dia."
Saat itu aku baru tersadar. Tidak ada panggilan darurat dari rumah sakit, tapi dia memang memilih untuk menemani Ruby dan anaknya. Meski demikian, aku tidak tega meninggalkan sisi putriku. Aku hanya bisa diam-diam berdoa agar Samuel segera kembali.
Di taman ....
"Selamat, Nak. Kamu memenangkan hadiah kedua lagi."
"Kenapa hadiah kedua lagi? Aku nggak mau! Aku cuma mau hadiah utama!"
Perawat yang baru saja tiba di taman, melihat Samuel sedang bersama cinta pertamanya, Ruby. Mereka sedang menenangkan Max, anak Ruby, yang kecewa karena tidak bisa mendapatkan hadiah utama dari permainan pecah telur emas.
"Pak Samuel, kenapa Anda masih di sini? Ada seorang gadis kecil korban kecelakaan di ruang gawat darurat yang kondisinya sudah sangat kritis."
Perawat muda yang berlari sepanjang jalan akhirnya tiba dengan napas terengah-engah dan keringatan.
Melihat perawat yang berlari mendekat, Samuel terkejut sesaat, lalu melirik Max yang masih menangis dan berkata pada perawat itu dengan ragu-ragu, "Tunggu sebentar, sebentar lagi."
Perawat itu membuka mulutnya dengan cemas, tapi Samuel sudah berbalik dan berjongkok di depan Max.
"Max sayang, kamu punya masalah jantung, jangan menangis begini. Nanti kamu akan merasa nggak enak dan perlu diinfus, itu pasti menyakitkan. Paman akan belikan semuanya untukmu. Kita coba lagi nanti, gimana?"
Mendengar ucapannya, Max yang sudah ditenangkan oleh Ruby, mulai mereda dan berhenti menangis. Ruby mengelus kepala Max dan tersenyum pada Samuel, "Terima kasih banyak. Mungkin sebaiknya kita sudahi dulu hari ini, kita juga harus kembali ke rumah sakit."
Samuel mengangguk, lalu membawa Ruby dan Max kembali ke rumah sakit. Setelah memastikan mereka kembali ke kamar dengan aman, dia akhirnya mengikuti perawat ke ruang gawat darurat.
Di tengah kecemasan para staf, suamiku akhirnya muncul terlambat.
Dia melirik sekilas pada putri kami yang terbaring di ranjang dengan tubuh yang penuh luka dan berdarah. Tebersit kejengkelan pada ekspresinya, tetapi hanya sekilas. Aku menggelengkan kepala, berusaha meyakinkan diri bahwa aku salah lihat.
Samuel selalu menganggap menyelamatkan nyawa orang adalah tanggung jawabnya. Tidak mungkin dia bisa sedingin itu, 'kan?
Lampu di ruang operasi akhirnya menyala dan rasa cemas yang menghimpit dadaku mulai berkurang. Aku berbalik dan melihat diriku sendiri yang terbaring koma di ranjang ruang gawat darurat.
Seorang dokter di samping ranjang berkata sambil mencatat dengan pena, "Gegar otak, retak ringan di tengkorak, tapi nggak ada yang terlalu serius."
Namun, hatiku tidak merasa lega sedikit pun. Betapa aku berharap akulah yang tertabrak, bukan putriku. Kejadian hari itu masih terbayang jelas di kepalaku. Hari ini adalah ulang tahun putri kami. Sebelum makan malam, suamiku menerima panggilan dari rumah sakit dan segera meninggalkan rumah.
Putri kami diam-diam keluar dari rumah, berniat mencari ayahnya yang baru saja dipanggil ke rumah sakit. Aku menemukannya di tepi jalan, tepat saat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.
Aku berlari sekuat tenaga untuk mencoba mendorongnya, tapi sudah terlambat. Aku hanya bisa menyaksikan tubuh kecilnya terlempar oleh benturan mobil.
Wajah putriku mengalami luka serius. Kepangan kecil yang kubuatkan pagi itu sudah berantakan, bercampur dengan darah. Gaun kelinci kecil yang dia kenakan penuh dengan darah dan tanah. Membayangkan sosok mungilnya di meja operasi, hatiku terasa perih.
Mengapa?
Mengapa aku tidak bisa menjaga putriku dengan baik?
Seketika, rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam menyelimutiku. Namun, begitu teringat bahwa suamiku adalah dokter bedah utama dalam operasi ini, perasaan tegangku sedikit mereda. Syukurlah, dia yang akan merawat putriku.
Aku menunggu di depan ruang operasi selama seharian penuh sampai akhirnya putriku keluar dari ruang operasi dan dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Melihat kepalanya yang dibalut perban, hatiku terasa perih, berharap aku bisa menukar nyawaku untuk kesehatannya.
Samuel melihat laporan medis putri kami sambil bertanya pada perawat, "Apa sudah ada keluarga pasien yang ditemukan?"
Perawat menggelengkan kepala dan menjawab, "Setelah tertabrak, pengemudi langsung melarikan diri. Ada orang yang melaporkannya ke polisi, tetapi gadis kecil ini hanya memakai baju tidur dan nggak membawa barang yang bisa mengidentifikasi dirinya. Pihak berwenang sudah menyebarkan pengumuman pencarian, tapi belum ada yang menghubungi."
Suamiku mengerutkan alis. "Anak sendiri hilang, tapi keluarganya bahkan nggak tahu? Orang tua macam apa itu, nggak bertanggung jawab sekali!"
Mendengar perkataannya, rasa bersalah di hatiku semakin membesar.
Bab 2
Pagi itu setelah Samuel pergi, putri kami, Coco, terus-menerus merengek ingin bertemu ayahnya.
"Papa sudah janji mau rayain ulang tahunku hari ini. Papa ke mana? Apa Papa masih marah samaku?" tanya Coco sambil mengusap air matanya. "Coco janji bakal jadi anak baik dan nggak akan buat Kak Max marah lagi."
Max adalah anak Ruby, cinta pertama Samuel, yang lahir dengan penyakit jantung bawaan. Setelah bercerai, Ruby membawa Max ke rumah sakit tempat Samuel bekerja. Sejak itu, Samuel mulai sering menyebut nama Max di rumah, mengkritik Coco sebagai anak yang manja dan keras kepala.
Bahkan saat Max merusak boneka Coco atau menarik-narik rambutnya, Samuel selalu menyalahkan Coco. Coco sering menangis sampai matanya membengkak.
Ketika Max datang berkunjung, Coco berlari ke kamarnya dan menolak keluar. Namun, Samuel menyeret Coco keluar dari kamar dengan kejam dan memaksanya meminta maaf pada Max.
Aku harus membujuk dan berusaha keras untuk meredakan ketegangan di antara mereka. Mengingat semua ini, hatiku terasa pilu. Aku membelai kepala Coco dan mencoba menenangkannya.
"Papa adalah seorang dokter, tugas utamanya adalah menolong orang. Bukan berarti Papa nggak peduli sama Coco. Mungkin saja sekarang ada hal yang lebih mendesak."
Mata Coco berbinar-binar. Meski suaranya kecil, nadanya terdengar tegas, "Papa adalah orang paling hebat di dunia, pahlawan Coco!"
Aku tersenyum dan menggendongnya kembali ke kamar tidur. Kemudian, aku pergi ke ruang kerja untuk mengambil buku dongeng dan berniat menemani Coco hingga dia tertidur. Namun, saat aku kembali, Coco sudah tidak ada di sana!
Aku mencari ke seluruh penjuru rumah dan baru menyadari bahwa pintu depan telah terbuka. Tanpa mengganti sepatuku, aku berlari turun ke jalan untuk mencarinya. Namun, siapa sangka ....
Saat aku terhanyut dalam rasa penyesalan, tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing di depan pintu. "Samuel, cepat periksa Max! Dia sudah nggak tahan lagi!"
Itu suara Ruby! Kenapa dia ada di sini?
Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, aku melihat ekspresi Samuel yang biasanya tenang, kini tiba-tiba berubah drastis. Dia melemparkan rekam medis di tangannya dan bergegas keluar.
Di ruang perawatan Max, Samuel mengerutkan kening saat memeriksanya dengan saksama. "Padahal tadi dia masih baik-baik saja ...."
Ruby menangis tersedu-sedu sambil berlutut di lantai. "Kalau dia meninggal, aku juga nggak mau hidup lagi!"
Wajah Samuel memucat dan buru-buru memapah Ruby untuk berdiri. "Jangan bicara begitu! Kita pasti akan menemukan donor jantung yang cocok!"
"Tapi, di mana kita bisa temukan jantung yang sesuai untuk anak seusia Max? Dia masih kecil sekali ...." Ruby menangis.
Samuel terdiam, bibirnya terkatup rapat. Hatiku terasa sedikit pilu. Meskipun Ruby adalah cinta pertama Samuel, dia sudah meyakinkanku bahwa hubungannya dengan Ruby sekarang hanyalah sebagai teman biasa. Bagaimanapun, anak itu tidak bersalah.
Ruby memeluk Samuel erat-erat dan memohon dengan putus asa. "Samuel, tolong selamatkan dia. Aku mohon, dia adalah hidupku! Aku cuma punya satu anak, kamu nggak tega biarkan aku kehilangan anakku, 'kan?"
"Kamu sudah janji, setelah Max sembuh, kamu akan cerai dan bersamaku. Tolong, selamatkan dia! Dia juga bakal jadi anakmu di masa depan!"
Aku terpaku di tempat seakan-akan disambar petir. Tidak mungkin! Bagaimana mungkin? Samuel pernah mengatakan bahwa masa lalunya sudah berakhir! Membantu Ruby hanya karena mereka tumbuh besar bersama.
Dia tidak mungkin membohongiku, bukan? Namun, Samuel tidak membantah. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun.
Wajahnya menunjukkan pergulatan batin. Setelah beberapa saat, dia berbisik, "Oke, aku akan melakukannya."
Hatiku terasa beku.
Sejak Ruby kembali, sikap Samuel terhadapku menjadi semakin dingin. Alasan yang dia berikan padaku adalah karena tekanan di rumah sakit dan dia merasa sangat lelah saat pulang sehingga tidak ingin berbicara. Aku yang merasa kasihan padanya, percaya pada ucapannya begitu saja.
Tak pernah kusangka, itu semua karena Ruby. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa dia sudah lama mengkhianatiku!
Setelah mendapatkan jawaban pasti dari Samuel, Ruby menghela napas lega.
"Syukurlah, Samuel. Kamu tahu, Max juga sangat menyukaimu. Setiap kali makan, dia cuma mau kalau kamu yang membujuknya. Kalau kamu nggak ada, dia akan merengek memintaku meneleponmu ...."
Aku tidak tahu lagi bagaimana harus merasakan hal ini. Ternyata, Samuel yang tergesa-gesa ke rumah sakit bukan karena urusan pekerjaan, melainkan untuk anak dari cinta pertamanya.
Ternyata, saat putriku terbaring sekarat di rumah sakit, dia malah menghibur anak orang lain untuk makan. Aku ingin tertawa keras. Semua kebahagiaanku hancur seketika.
Ternyata, selama ini aku dan putriku hanyalah sebuah lelucon.
Samuel memegang dahinya dengan kelelahan dan melambaikan tangan. "Tapi saat ini kita belum menemukan donor jantung yang cocok. Aku masih punya sedikit tabungan. Mungkin dengan uang yang cukup, ada orang yang mau ...."
"Samuel! Sudah ada yang cocok!"
Ruby mengeluarkan hasil laporan kecocokan donor dari balik punggungnya yang tampaknya sudah disiapkan sejak lama. "Lihat ini. Gadis kecil di ICU itu, bukankah dia nggak punya keluarga?"
Darahku seakan membeku di sekujur tubuh.
Bab 3
Saat tersadar, aku langsung melompat ke arah Ruby dan menjerit dengan penuh kemarahan, ingin mencabik-cabik dirinya.
Kenapa dia tega? Bagaimana dia bisa berniat menyakiti Coco, putriku tercinta?
Namun, setiap pukulan yang kuayunkan hanya menembus tubuhnya dengan sia-sia. Aku menatap Samuel, dalam hati memohon dengan segenap jiwa.
'Jangan lakukan ini, kumohon. Aku tahu kamu mencintainya. Aku akan melepaskanmu, kita bisa cerai! Aku nggak butuh apa-apa lagi. Aku hanya ingin Coco tetap hidup!'
'Kamu pernah bilang bahwa dokter itu harus berkorban, harus berbakti, harus memiliki misi untuk menyelamatkan nyawa! Kamu nggak bisa mengkhianati sumpahmu!'
Doaku tidak sampai padanya.
Dalam pandangan putus asa, aku melihatnya mengangguk perlahan kepada Ruby dengan wajah pucat. "Aku akan membantumu."
Di saat Samuel menyetujuinya, aku melihat Max yang berbaring dengan mata terpejam, membuka matanya dan bertukar pandang penuh kemenangan dengan Ruby. Tak peduli seberapa hancurnya hatiku, Samuel tetap berjalan menuju kamar putriku.
Dalam hati, aku menangis tanpa suara sambil berpegang pada secercah harapan terakhir. Semoga dia mengenali putrinya.
Meskipun dia tidak lagi mencintaiku, tidak peduli dengan pernikahan kami, dan telah mengkhianati sumpahnya. Namun, dia pasti akan peduli pada nyawa putrinya, 'kan?
Coco mengenakan gaun tidur kelinci kecil, pakaian terakhir yang dibelikan Samuel untuknya setahun lalu. Anak-anak tumbuh besar dengan cepat. Gaun itu kini agak pendek. Namun, Coco sangat menyukai gaun itu dan enggan menggantinya.
Sejak Ruby dan Max muncul, pasangan ibu dan anak itu telah menarik seluruh perhatian Samuel. Sejak saat itu, dia tidak pernah lagi membelikan baju untuk Coco. Gaun tidur ini adalah harta berharga bagi putriku. Setiap kali selesai dicuci dan kering, dia akan memakainya lagi.
Jantungku berdebar kencang, berharap dia akan mengenali pakaian itu.
Namun, Samuel hanya melangkah mendekat ke tempat tidur dan melirik gaun tidur putriku yang kotor dan berlumuran darah. Matanya menunjukkan sedikit rasa jijik sebelum dia mengangkat tangannya dan melempar pakaian itu ke tempat sampah.
"Pakaiannya sudah seusang ini, keluarganya nggak kepikiran untuk menggantinya? Apa gunanya jadi orang tua?" Dia mengerutkan kening dan meminta perawat yang menemaninya untuk keluar dengan alasan dia ingin memeriksa pasien sendirian.
'Jangan keluar! Tetap di sini!' teriakku dalam hati.
Aku mengulurkan tangan dan berusaha mencengkeram lengan baju perawat itu, tetapi semuanya hanya berakhir sia-sia. Ketika pintu tertutup, jantungku langsung bergetar.
Aku hanya bisa menyaksikan Samuel mendekati ranjang putriku, lalu mencabut botol infus dari gantungan di sisi tempat tidur. Dia mengeluarkan botol infus lain, lalu merobek labelnya dan menunduk memandang putriku.
Saat itu, seolah-olah memiliki kontak batin, Coco membuka matanya. Di antara perban yang ternoda darah, matanya tiba-tiba berbinar. Aku tahu, dia melihat ayahnya.
Tangan Samuel sempat gemetaran, tapi dia segera menenangkan dirinya kembali. Dia menatap Coco dengan sedikit rasa tidak tega di matanya.
Namun pada akhirnya, dia hanya berkata dengan pelan, "Jangan salahkan aku."
Rasanya seolah-olah ada yang mencekik leherku, membuat dadaku terasa sesak. Dia tidak mengenali putrinya! Tidak mengenali darah dagingnya sendiri!
Coco yang tidak menyadari apa-apa, mengira ayahnya sudah memaafkannya. Matanya tersenyum bahagia dan bibirnya bergerak perlahan. Aku bisa membaca gerakan bibirnya.
Dia berkata, "Papa adalah pahlawan besar. Papa datang untuk menyelamatkanku."
Dalam pandangan penuh harapan dan kebahagiaan dari putriku, Samuel tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. Dia mengangkat tangannya dan mengganti botol infus itu. Aku berteriak dalam keheningan dan perasaan sedih menembus jiwaku.
Untuk memastikan tidak ada yang menyadari perubahan pada obatnya, Samuel tetap berada di kamar dan menunggu dalam diam.
Cairan dingin itu mengalir perlahan-lahan melalui selang infus ke dalam tubuh putriku dan membuatnya menggigil kesakitan. Namun, Samuel hanya menatapnya dengan dingin, menunggu hingga dia berhenti bernapas.