Penyiksaan Cinta

Đang tải thông tin quảng bá...

Penyiksaan Cinta

GoodNovel Hoàn thành
CantikMandiriEmosionalCinta segitiga

Ketika aku melahirkan, aku tidak bisa dibius karena alergi terhadap anestesi. Karena itu aku harus menahan rasa sakit saat pisau bedah membelah kulit dan dagingku lapis demi lapis. Suamiku, Surya Cipt...

Chương (1)

第1章

Ketika aku melahirkan, aku tidak bisa dibius karena alergi terhadap anestesi. Karena itu aku harus menahan rasa sakit saat pisau bedah membelah kulit dan dagingku lapis demi lapis. Suamiku, Surya Ciptadi menangis sambil berkata kepadaku, "Sayang, nggak masalah anak laki-laki atau perempuan, kita nggak akan punya anak lagi. Aku hanya butuh kamu .…" Namun kemudian, dia berselingkuh dan membiarkan wanita itu melahirkan anak laki-lakinya. Dia bahkan membiarkan wanita itu menganiaya putriku, yang dengan susah payah aku lahirkan. Sementara itu, aku menyembunyikan fakta bahwa Surya terkena kanker. Kamu menganiaya putriku, maka aku tidak akan segan-segan mengambil nyawamu. Adil, bukan? Bab 1 Di hari Kiky menghilang, aku pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil diagnosis. Aku minta Surya untuk menjemputnya di taman kanak-kanak. "Tenang, Sayang. Aku jamin, putri kecil kita akan pulang dengan selamat!" Namun, pria yang barusan berjanji seribu macam padaku di telepon, justru aku temui di tikungan rumah sakit, dan kami saling bertatapan dengan bingung. Di dalam pelukannya, ada seorang gadis muda. Aku tahu siapa dia. Gadis itu adalah pegawai magang yang selalu dikeluhkan Surya setiap hari, Chika Baskara. Melihatku, Surya langsung melepaskannya. Chika meringkuk ketakutan, bersembunyi di belakang Surya. Satu tangannya melindungi perutnya secara refleks, sementara tangan lainnya menarik ujung baju Surya dengan ragu-ragu. "Bukannya kamu mau menjemput Kiky?" Surya melangkah mendekat dengan cepat, lalu memelukku erat-erat. "Tenang, Sayang. Aku sudah suruh supir menjemputnya. Dia pasti baik-baik saja!" Aku melepaskan diri dari pelukannya dan menatap Chika yang berdiri di belakangnya. Senyum mengejek di sudut bibirnya dan sekilas tatapan penuh niat jahat itu tidak luput dari pandanganku. Mungkin inilah naluri seorang ibu, mendadak aku merasa sangat cemas. Aku menarik tangan Surya dan segera berjalan pergi dengan cepat. Aku harus melihat Kiky dengan mataku sendiri. Adapun alasan kenapa Surya dan Chika bisa ada di rumah sakit bersama, aku sudah bisa menduga. Namun, untuk saat ini, aku tidak punya energi untuk memikirkannya. Yang kuinginkan saat ini hanya melihat Kiky berdiri dengan selamat di sisiku. Menyadari dirinya salah, Surya mengikutiku dengan patuh. Dan sepanjang perjalanan itu, dia tidak menoleh sedikit pun ke arah Chika. Saat kami hampir masuk mobil untuk pergi, Chika berlari kecil mengejar. "Kak Surya .…" Surya yang sudah hendak masuk ke mobil, sejenak terdiam. "Kamu naik taksi saja. Aku masih harus menemani istriku menjemput putri kami." Setelah berkata begitu, dia langsung menutup pintu mobil dan meninggalkan rumah sakit. "Maaf, Sayang. Aku bukannya sengaja nggak menjemput Kiky. Chika tiba-tiba pingsan, jadi aku membawanya ke rumah sakit dulu." "Tapi aku sudah menyuruh supir menjemput Kiky. Tenang saja, dia pasti baik-baik saja." Surya berkata sambil menggenggam erat tanganku yang terkepal erat. Aku memandangnya dalam-dalam, lalu menarik tanganku dari genggamannya. "Fokus saja menyetir." Melihat wajahku yang muram, Surya berusaha mengatakan sesuatu, tetapi terpotong oleh suara dering telepon. Dia cepat-cepat memutuskan panggilan dan berkata meyakinkan aku, "Tenang, Sayang. Mulai sekarang, aku nggak akan menerima telepon setelah jam kerja. Setelah menjemput Kiky, kita .…" Dering telepon kembali berbunyi, kali ini lebih nyaring. Setelah menolak panggilan sebanyak tiga kali, Surya dengan kesal akhirnya menjawab, "Apa sih yang begitu mendesak sampai harus mengganggu aku di luar jam kerja? Nggak tahu kalau aku sedang bersama istri dan anakku?" Surya melemparkan ponselnya, lalu melanjutkan, "Sayang, setelah menjemput Kiky, kita bawa dia main ke taman bermain. Setelah makan malam, kita bisa lihat pertunjukan kembang api." Dari luar, dia tampak serius mengatur rencana malam itu, tetapi gerak-gerik tubuhnya sudah cukup mengungkapkan keresahannya. Mungkin Surya tidak sadar, telepon yang tadi dijawabnya adalah nomor pribadinya, yang tidak pernah dia pakai untuk urusan pekerjaan. Aku melirik ke ponsel yang dilemparkannya ke kursi belakang, pesan terus-menerus masuk tanpa henti. Mencurigakan sekali. Tak lama, telepon kembali berdering. Kali ini dari nomor tak dikenal. Tanpa ragu, Surya menyambungkannya ke bluetooth mobil. "Halo, ini dari Rumah Sakit Umum Pertama. Apa benar Anda keluarga pasien Chika? Dia bersikeras ingin menjalani aborsi, dan butuh tanda tangan keluarga .…" Ciiiiittt …. Tubuhku terdorong keras ke depan hingga kepalaku terbentur dasbor mobil. Pandanganku langsung berkunang-kunang. Bab 2 "Turun!" Surya tiba-tiba menginjak rem, lalu menarikku turun dari kursi penumpang. "Kamu hubungi sopir dulu buat jemput, nanti aku jelasin." Sambil menatap punggung Surya yang pergi dengan sikap dingin, aku menyentuh dahiku yang memar karena terbentur. Begitu melihat Chika, aku langsung tahu hubungannya dengan Surya pasti tidak biasa. Terutama senyuman gadis itu yang terang-terangan menantang dan tatapan jahatnya yang tidak bisa ditutupi. Dulu, Surya selalu menempatkan aku sebagai prioritas utama, kapan pun itu. Bahkan di awal usahanya, saat ada kontrak penting, dia rela terlambat demi mengantarku pulang terlebih dahulu. Namun sekarang, demi perempuan lain, dia tega meninggalkanku di pinggir jalan tanpa peduli keadaanku. Meski sedih, aku langsung naik taksi menuju ke sekolah Kiky. Saat ini, tidak ada yang lebih penting dari Kiky. Namun, begitu aku sampai, gurunya bilang Kiky sudah dijemput sejak tadi. Aku buru-buru menelepon rumah, tetapi tidak ada yang mengangkat. Aku mencoba menghubungi ibunda Surya, meski aku tahu kecil kemungkinan Kiky ada di sana. "Bu, apa Kiky ada di tempat Ibu?" "Nggak ada! Buat apa aku bawa dia ke sini? Anak sial itu, sama seperti kamu, bawa nasib buruk! Melihatnya saja sudah bikin kesal! Dengar ya ...." Aku tidak punya waktu untuk mendengar omelannya lagi, langsung kututup teleponnya. Aku minta pihak TK memeriksa rekaman CCTV. Yang menjemput Kiky bukan sopir yang biasa, Pak Lukman, tetapi seorang pria muda bertubuh kurus dan punggungnya bungkuk. Pria itu memeluk dan memasukkannya ke mobil Surya. Meski Kiky menangis, pria itu langsung saja melemparkannya ke kursi belakang. Saat pria itu membuka pintu pengemudi, aku melihat wajahnya. Itu adik Chika, Yudha Baskara. Aku menyimpan rekaman CCTV itu dan langsung menuju kantor polisi. Di dalam taksi, aku terus mencoba menelepon Surya, tetapi tidak satu pun diangkat. Akhirnya, dia malah mematikan ponselnya. Saat jam pulang kerja, jalanan macet total, dan aku terjebak di tengah kemacetan. Ketika Bibi Lydia menelepon dan mengabarkan Kiky belum pulang, aku tidak bisa menunggu lagi. Aku melepas sepatu hak tinggiku dan berlari di tengah jalanan yang ramai. Akhirnya, setelah kakiku penuh luka dan berdarah, aku sampai di kantor polisi. Namun, mereka bilang aku tidak bisa membuat laporan sebelum 24 jam. Sementara itu, telepon Surya masih tetap tidak bisa dihubungi. Aku pergi ke rumah sakit, dan di sana aku lihat Surya sedang membujuk lembut Chika yang berbaring di ranjang. Anak perempuannya hilang, tetapi dia malah asyik memeluk perempuan lain dengan penuh kasih. Kemarahan dan keinginan untuk menghancurkan mereka memenuhi pikiranku, dan terus melonjak. Brak! Dengan satu tendangan, aku membuka pintu kamar itu, menghancurkan suasana mesra di dalamnya. Surya menatapku dengan terkejut, bibirnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun, sebelum dia sempat bicara, Chika sudah lebih dulu memanggilnya dengan penuh perasaan, "Kak Surya." Tanpa berkata apa-apa, Surya berdiri di depan Chika, menghalangi pandanganku yang tertuju pada gadis itu. Seolah-olah hanya dengan berdiri diam saja, tatapanku bisa menghancurkan Chika. Ketika tangan Surya yang besar membelai wajahku, barulah aku menyadari bahwa wajahku sudah penuh air mata. "Jangan menangis, Sayang. Maaf, aku bisa jelaskan. Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan ...." Dengan panik Surya mengusap air mataku, tetapi air mata itu tidak berhenti. Akhirnya dia memelukku erat-erat, berusaha menenangkanku dengan suara lembut. Sambil tetap melindungi Chika dari pandanganku. Aku mendorongnya, lalu dengan penuh kemarahan, aku menamparnya sekuat tenaga. Wajah Surya yang tampan langsung menjadi merah dan bengkak. Bab 3 "Aaaah! Kenapa kamu memukulnya? Dasar perempuan tua!" Melihat aku memukul pria yang dicintainya, Chika berteriak seperti ayam betina marah dan berlari menghampiriku. Bukannya menghindar, aku malah menatap langsung ke mata Surya. Chika mendorongku hingga terjatuh dan perut bagian bawahku terbentur pinggir ranjang. Rasa sakitnya membuat wajahku pucat dan aku tidak bisa berdiri tegak. "Sayang!" Dengan gesit Chika segera memeluk lengan Surya, mencegahnya untuk mendekat dan menolongku. "Pergi sana! Kamu memang nggak tahu diri!" Surya menarik lengannya dari pelukan Chika dan dengan satu tangan, dia menjatuhkan gadis itu ke lantai. Kemudian, dia mengangkatku dari lantai dan berusaha meletakkanku di ranjang untuk memeriksa lukaku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha keluar dari pelukannya, "Kotor sekali." Yang aku maksud adalah ranjang rumah sakit, dan juga Surya. Surya terdiam di tempat, matanya yang merah menatapku dengan tatapan kosong, tampak seperti anjing kecil yang ditinggalkan. "Kak Surya, perutku sakit sekali ...." Teriakan Chika membuat Surya kembali sadar. Dia melihatku, lalu melihat Chika yang terpuruk di lantai. Bibirnya mulai bergerak untuk berbicara. "Maaf, Yona. Tunggu sebentar ...." Sambil berbicara, dia berbalik, mengangkat Chika dan segera berlari keluar. "Kamu tahu nggak, anakmu hilang!" "Kamu yakin mau mengabaikan keselamatan anakmu hanya demi dia?" Langkah Surya terhenti sejenak, tetapi akhirnya dia tetap diam, menggendong Chika dan pergi cepat-cepat. Aku menutup mata. Rasa benciku pada Surya sudah mencapai puncaknya. Entah bagaimana aku bisa kembali ke rumah. Kepalaku pusing, bayangan wajah Kiky yang menangis terus terngiang dalam pikiranku. Aku tidak tahu apakah dia dipukul. Apakah dia kelaparan. Dia pasti sangat takut sekarang. Pasti dia menangis mencari ibunya. "Kiky ...." Aku memeluk dadaku, menangis hingga napasku sesak. Tidit ... ada pesan masuk di ponselku. Tanpa peduli dengan luka di kakiku, aku berlari cepat untuk mengambil ponselku. Pesan itu dari Chika. Tanpa keterangan apa pun, hanya sebuah foto yang jelas dikirim untuk memancing kemarahanku. Dalam foto itu, tangan Surya yang kokoh dengan jari-jari yang tegas sedang menyentuh lembut perut Chika yang mulai membuncit. Di pergelangan tangannya masih terpasang jam tangan yang aku berikan saat kami masih berpacaran. Namun, cincin pernikahan di jari manisnya hilang entah ke mana. Hanya menyisakan bekas putih. Padahal, saat Surya mengusap air mataku, cincin itu masih terasa di wajahku. Betapa lucunya. Aku menenangkan diri dan langsung menulis pesan. "Aku tahu kamu pacaran dengan Surya, kembalikan anakku, aku akan bercerai dengannya." Tidak lama kemudian, pesan Chika datang lagi. "Kakak ngomong apa, sih? Aku nggak mengerti. Aku hamil anak laki-laki, buat apa aku ambil anakmu!" Aku beri tawaran yang lebih besar: "Asalkan adikmu mengembalikan putriku dengan selamat, aku akan pergi tanpa bawa apa-apa dan tidak akan menuntut apa pun." Chika: "Kak Surya saja tidak mau menemanimu mencari anak kesayanganmu yang hilang, kenapa kamu merasa perlu membahas ini denganku? Lagi pula, bagaimana kamu bisa yakin kalau 'hilangnya' anakmu itu bukan dengan persetujuan Kak Surya?" Membaca pesan Chika, tubuhku langsung terasa dingin. Sudah tiga hari Surya tidak pulang. Bahkan setelah aku bolak-balik ke kantor polisi dan polisi sudah menahan Yudha. Aku tetap belum bertemu dengan Surya. Bahkan teleponku terus-menerus tidak tersambung. Akhirnya, pada malam hari keempat, Surya baru pulang ke rumah. Aku menatapnya tanpa ekspresi, mulutku ingin bicara, tetapi suaraku tercekat. Seperti biasa, dia sangat perhatian, membawakan segelas air dengan suhu yang pas. Tidak ada sedikit pun tanda penyesalan di wajahnya. Aku menerima gelas itu dan langsung melemparnya ke arah Surya. Mungkin karena merasa bersalah, dia tidak menghindar. Dengan tegar dia menerima kemarahanku. Bahkan gelas yang menghantam kepalanya itu sampai membuatnya berdarah. Bab 4 Surya mengusap darah di dahinya, lalu dengan hati-hati berlutut di depanku. "Sayang, maafkan aku. Aku pulang terlambat. Aku ...." Aku mengangkat tangan, dengan seluruh kekuatan aku menampar wajah Surya dengan keras. "Surya, apa kamu ini masih manusia? Anakmu hilang, tapi kamu malah berhari-hari nggak pulang! Nyawa anakmu kalah penting dibandingkan hal nggak berguna itu, ya?!" Ekspresi Surya langsung berubah dingin, terutama saat mendengar bagaimana caraku menyebut Chika. "Apa kamu harus bicara sekasar itu? Apa maksudmu 'hal nggak berguna' itu! Mana sopan santunmu, Yona!" Melihat pria di depanku, yang hatinya jelas sudah sepenuhnya berpihak pada Chika, aku sadar. Aku tidak bisa lagi berharap dia punya hati nurani. "Mereka sudah buat anakku hilang, apa aku masih perlu pikirkan sopan santun?!" "Dia ingin menikah denganmu, 'kan? Suruh dia kembalikan Kiky, maka aku akan langsung cerai denganmu! Aku kasih dia tempatku! Kiky masih kecil, dia pasti ketakutan ...." "Cukup!" Surya memotong kata-kataku dengan nada kesal. "Yona, kamu sudah gila? Chika itu cuma anak magang yang nggak punya apa-apa, tapi kamu terus-menerus menyerangnya. Sekarang kamu malah menuduh dia seperti ini! Kamu mau bikin dia mati, ya?!" Wajah yang dulu begitu hangat dan lembut kini sepenuhnya berubah jadi penuh kritik dan kebencian padaku. "Lagi pula, kamu tahu aku sibuk kerja tapi tetap saja kamu minta aku menjemput Kiky. Kalau anak kita benar hilang, apa kamu nggak merasa itu salahmu juga?" Aku menatap Surya dengan tidak percaya. Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa berbicara sekurang ajar itu dengan begitu percaya diri. Pada saat itulah, aku benar-benar sadar bahwa, hati Surya sudah berada jauh. Dia bukan lagi milikku atau Kiky. Mungkin dia juga menyadari betapa tidak pantas kata-katanya, maka dia pun berlutut lagi. Dia menggenggam tanganku dengan lembut, sambil membujukku. "Sayang, aku janji, Kiky pasti nggak apa-apa! Dia aman, kok! Kamu percaya aku, ya?" Aku menarik tanganku sambil menatapnya. "Kamu dan Chika yang bawa dia, 'kan?" "Kalau dia memang aman, kenapa nggak kamu kembalikan ke aku?" "Hanya karena dia hamil anakmu, dia nggak tahan lihat aku dan Kiky bahagia, makanya dia tega merebut Kiky dari aku?" Surya menarik napas panjang. "Itu karena dukun bilang, perlu ada anak kecil di dekatnya supaya persalinannya lancar. Ibuku sampai mengancam akan bunuh diri, aku juga takut kamu nggak bisa terima. Jadi, aku nggak ada pilihan lain ...." "Tapi, kamu nggak takut aku bakal mati gara-gara berpikir Kiky hilang, ya? Apa dukun itu nggak bilang kamu bakal jadi duda juga?" Aku akui, dulu aku buta karena cinta, tapi aku bukan orang bodoh. Hanya pria sombong macam Surya yang bisa percaya bahwa Chika itu wanita polos, tak berdosa. Kalau dibilang Chika tidak terlibat, sampai mati pun aku tidak akan percaya. Sebenarnya, saat Surya berselingkuh, aku tidak pernah berniat menyakiti Chika. Namun, seharusnya dia tidak mengusik anakku. Raut wajah Surya berganti-ganti, dan akhirnya dengan susah payah dia mulai bicara. "Yona, aku tahu aku salah. Tapi setelah sekian tahun ini, kamu juga seharusnya memikirkan perasaanku." "Ibuku sejak awal nggak mau menerima kamu, tapi dia sangat ingin punya cucu, sementara kamu sudah nggak memungkinkan untuk punya anak lagi. Setelah anak Chika lahir, aku akan beri dia uang dan mengirimnya ke luar negeri." "Aku dan Chika sebenarnya cuma kecelakaan, tapi ketika ibuku tahu, dia mengancam bunuh diri. Makanya anak itu dipertahankan. Aku sama sekali nggak mencintai Chika, hanya kamu yang aku cintai sejak awal hingga sekarang." "Dengan begitu, kamu juga nggak perlu susah-susah hamil lagi, kita akan punya anak laki-laki, dan ibuku perlahan akan menerima kamu. Bukankah begini lebih baik?" Wajah yang dulu sangat aku kenal, sekarang tidak lagi terasa dekat sedikit pun. Aku menatap Surya, lalu tertawa terbahak-bahak. Aku tertawa sampai menangis. "Tapi, Surya, aku nggak bisa menunggu selama itu." Surya kehilangan kesabarannya dan mulai berteriak, "Mau sampai kapan kamu begini? Ibuku ingin seorang cucu, sementara kamu nggak bisa memberi itu! Aku sudah berkorban banyak untukmu, apa artinya kalau sekali ini saja kamu berkompromi untukku?" "Kenapa orang lain bisa sabar, tapi kamu nggak bisa? Cuma beberapa bulan saja, Yona, kamu terlalu egois!" Aku berteriak putus asa ke arah Surya, "Tapi aku kena kanker, Surya! Umurku nggak akan lama lagi!"