Wanita Pengganti Pemuas Obsesi CEO

Đang tải thông tin quảng bá...

Wanita Pengganti Pemuas Obsesi CEO

GoodNovel Hoàn thành
EmosionalDendamDrama Rumah TanggaCinta segitiga

Ketika masih kecil, aku pernah menyelamatkan seorang anak laki-laki tetangga. Namun saat dewasa, dia berubah menjadi seorang pria obsesif sekaligus bos besar yang mendominasi. Dia memaksaku tetap bera...

Chương (1)

第1章

Ketika masih kecil, aku pernah menyelamatkan seorang anak laki-laki tetangga. Namun saat dewasa, dia berubah menjadi seorang pria obsesif sekaligus bos besar yang mendominasi. Dia memaksaku tetap berada di sisinya selama 10 tahun dan memaksaku menikahinya dengan alasan mengobati nenekku. Dia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatiku, tetapi aku tetap tidak tersentuh olehnya. Pada akhirnya, dia marah dan mencari seorang wanita yang memiliki kemiripan denganku sebagai pengganti. Mereka memamerkan kemesraan di depan semua orang dan membuat orang-orang berpikir bahwa bos besar itu akhirnya menemukan cinta sejatinya. Namun suatu hari, wanita itu membawa sekelompok orang dan menyerbu masuk ke vila. Dia mematahkan jariku satu per satu, menggores wajahku hingga penuh luka, melucuti pakaianku, dan mempermalukanku di depan umum. "Operasi plastik jadi mirip wajahku saja sudah cukup keterlaluan. Kamu malah niruin aku melukis? Hebat juga kamu ini. Aku mau lihat, ke depannya kamu mau gimana lagi godain pria!" Saat aku muntah darah dan hampir sekarat, Derrick baru datang terlambat. Wanita itu menarik rambutku dan menyeretku ke hadapannya dengan bangga, "Sayang, wanita jalang ini sembunyi di vila ini untuk godain kamu. Aku sudah buat dia nggak bakal bisa lakuin itu lagi!" Bab 1 Setelah orang tuaku dibunuh secara tidak sengaja oleh musuh Keluarga Santo, tetangga kecilku berubah menjadi pewaris Keluarga Santo dan membawaku pulang ke rumahnya. Dengan cinta yang obsesif, dia mengontrol hidupku selama 10 tahun, memaksaku menikah dengannya dengan alasan akan membiayai pengobatan nenekku. Dua bulan lalu, dia muak dengan sikap dinginku dan mulai memamerkan kemesraannya dengan seorang wanita yang memiliki kemiripan denganku. Dia mengirimkan foto-foto intim mereka ke ponselku, berharap melihatku cemburu. Namun, aku hanya menatapnya tanpa reaksi dan mengambil kuas yang penuh cat untuk melukis dinding vila dengan bunga matahari. Hari ini, hampir seluruh dinding vila telah dipenuhi lukisan bunga matahari. Nenekku juga hampir sembuh dan akan segera keluar dari rumah sakit. Derrick berjanji bahwa setelah nenekku keluar, dia akan mengizinkanku bertemu dengannya. Aku merasa cukup senang hari ini, bahkan bersenandung kecil sambil bekerja, sampai tiba-tiba aku mendengar suara percakapan di luar. "Setiap malam dia pasti menghabiskan waktu di sini. Hari ini aku pasti akan memberikan kejutan dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana!" Orang lain segera menyahut, "Kalau Kak Ivy sudah jadi istri Bos, jangan lupa sama kami, ya!" Aku buru-buru keluar, ingin memperingatkan mereka untuk segera pergi. Derrick tidak mengizinkan siapa pun datang ke vila ini. Dulu aku pernah mencoba meminta bantuan orang asing untuk melarikan diri, tapi dia langsung memukul orang itu hingga koma. Sejak saat itu, dia mengurungku di vila terpencil ini. Tempat ini sangat terpencil, aku tidak bisa melarikan diri. Dia hanya meninggalkan seorang pengurus rumah tangga yang setia untuk mengurus kebutuhanku sehari-hari. Namun, saat aku membuka pintu, aku langsung berhadapan dengan wajah yang sangat mirip denganku. Dari gaya rambut, bentuk wajah, hingga gaun putih polos yang dia kenakan. Bahkan aku sendiri pun terkejut dengan tingkat kemiripannya. Udara seketika terasa membeku. Inilah pacar yang ditemukan Derrick, namanya Ivy. Patut diakui, tidak mudah mencari seseorang yang berpenampilan semirip ini denganku. Ivy tertegun selama dua detik, tapi kegembiraan di wajahnya segera digantikan oleh kemarahan. Dia mengangkat tangannya dan menamparku keras-keras. "Apa-apaan ini? Kenapa kamu ada di vila pacarku? Jangan-jangan kamu menyelinap masuk? Berani sekali!" Aku baru saja ingin menjelaskan, tetapi dia menarik rambutku dengan kasar dan menyeretku ke halaman yang penuh dengan bunga matahari. "Dasar wanita jalang, berani sekali operasi plastik jadi mirip sama aku dan bersembunyi di vila pacarku! Usahamu cukup maksimal, ya! Pasti sering ngintip kami, 'kan?" Dia mencengkeram wajahku dengan penuh kebencian di matanya. "Bukan cuma operasi plastik, kamu belajar melukis juga? Dasar tukang niru, jalang sialan. Beraninya goda pacarku? Cari mati kamu!" "Kalau aku nggak datang hari ini, mungkin kamu bisa punya kesempatan!" Lutut dan lenganku tergores di lantai, menimbulkan luka yang sangat parah. Rasa sakit itu menyerbuku bagaikan ditusuk ribuan jarum. Saat ini, pengurus rumah tangga, Bu Maya, sedang tidak ada di rumah. Di vila ini hanya ada aku. Jika menggunakan kekerasan, aku jelas tidak akan bisa menang. Aku mencoba menjelaskan, "Aku istri sah Derrick. Kalau nggak percaya, aku bisa telepon dia." Siapa sangka, begitu aku mengeluarkan ponsel, Ivy langsung merebutnya dariku. Dia memegang tanganku untuk membuka kunci ponsel, kemudian menemukan nomor yang aku beri nama "Suami". Dia tertawa keras. "Kamu bilang ini nomor telepon pacarku? Lucu sekali! Kalau begitu, nomorku yang ini punya siapa?" Bab 2 Dia menekan nomor itu di depanku dengan penuh percaya diri. Telepon segera tersambung dan terdengar suara dingin seorang pria dari seberang, "Lagi rapat, nanti baru bicara." Telepon diputus hanya dalam dua detik. Suaranya dingin dan tegas, aku bahkan tidak sempat meminta bantuan. Namun, itu jelas suara Derrick. Ivy menarik rambutku lebih keras sambil menggunakan ponsel untuk memukul wajahku. "Dengar, 'kan? Ini baru nomor pacarku. Kamu kurang persiapan ya!" Merasa kesakitan karena rambutku ditarik, aku mendorong Ivy dengan keras. "Apa anehnya punya dua nomor? Kamu tinggal telepon nomor lainnya untuk pastikan saja, bukan?" Melihat aku berani melawan, ketiga pengikut Ivy langsung memukul dan menendangku, berlomba-lomba untuk menunjukkan kesetiaan mereka. "Sudah jadi pelakor, berani kasar lagi sama Kak Ivy. Dia itu calon Nyonya Santo. Kamu memang pantas dipukul!" "Ngambil nomor sembarangan saja berani ngaku-ngaku itu nomor Pak Derrick. Kamu nggak pakai otak waktu bohong?" "Orang sepertimu mau jadi pelakor? Tunggu sampai Pak Derrick bongkar kebohonganmu, kamu bakal makin babak belur!" Ivy menatapku dari atas dengan penuh rasa percaya diri. "Oke, ayo kita telepon dan lihat ada berapa nomor pacarku." Nomor yang tersimpan di ponselku adalah nomor pribadi yang dibuat Derrick khusus untukku. Dia sangat takut melewatkan telepon dariku, sampai-sampai dia tidak pernah mematikan suara ponsel bahkan saat rapat. Nama kontak "Suami" juga ditambahkannya secara paksa. Jika aku mengubahnya, dia akan langsung menghentikan pengobatan nenekku. Itu sebabnya aku yakin Derrick akan menjawab teleponnya. Melihat ekspresiku yang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, wajah Ivy berubah masam. Namun, dia tetap menekan nomor itu dengan segera. Aku piker, begitu telepon terhubung, hubungan kami akan terbukti dan mereka akan pergi. Namun, saat suara telepon diperbesar, yang muncul hanyalah pemberitahuan bahwa nomor itu tidak dapat dihubungi. Aku tertegun karena tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Ivy menghela napas lega dan semakin yakin bahwa aku adalah pembohong. Dengan seluruh tenaganya, dia menamparku lagi. Kuku panjangnya meninggalkan beberapa luka berdarah di wajahku, menyisakan rasa panas dan perih yang menyakitkan. "Dasar tukang ngayal! Kamu pasti terobsesi jadi Nyonya Santo sampai kehilangan akal ya? Siapa tahu ini nomor telepon gadunmu yang lain?" "Dia nggak mau angkat teleponmu, pantas saja kamu buru-buru mau nyari gadun lainnya. Sayangnya, kamu berhadapan sama aku hari ini!" Begitu mendengar bahwa aku ini adalah pelakor yang ingin menggoda Derrick, beberapa pengikut Ivy lainnya mengepung dan bersiap-siap menghajarku. "Kak Ivy, ayo kasih pelajaran sama wanita nggak tahu malu ini supaya dia kapok!" "Iya, sekalian tunjukkin sama semua pelakor di luar sana, beginilah nasibnya kalau berani menggoda Pak Derrick!" Sambil berkata demikian, mereka mengeluarkan ponsel dan mulai merekam video. Aku memalingkan wajah untuk menghindari kamera tersebut, tetapi mereka menarik rambutku agar menghadap langsung ke kamera. Mereka memukul wajahku dan menghina tanpa henti. "Wanita murahan ini operasi plastik jadi mirip aku dan menyelinap ke vila pacarku untuk merayunya. Untungnya ketangkap basah sama aku. Pelakor memang harus dikasih pelajaran!" "Dia bahkan ngelakuin banyak usaha dengan membuat vila ini jadi berantakan dan ngelukis banyak bunga. Kamu berharap pacarku muji kamu pintar melukis ya? Biaya pembersihan saja mungkin kamu nggak bakal sanggup bayar!" "Kamu nggak tahu pacarku paling benci sama bunga matahari, 'kan? Sebelumnya waktu aku pakai jepitan rambut bunga matahari saja dia marah-marah. Kamu malah buat halamannya semua penuh sama bunga matahari!" Mendengar hal itu, ketiga pengikut Ivy langsung mulai merusak bunga matahari di taman. Aku berteriak untuk menghentikan mereka, "Jangan! Jangan sentuh bungaku!" Ivy menendangku ke lantai, lalu menginjak perutku dengan keras. Saking kesakitan, aku bahkan tidak sanggup untuk berdiri. Dia hanya tertawa sinis, "Bunga-bunga rusak ini berapa sih harganya? Rusak ya rusak saja! Ini vila pacarku, siapa yang ngizinin kamu melakukan hal rendahan begini?" Bunga-bunga itu tidak bernilai dari segi harga. Mereka adalah bunga yang ditanam sendiri oleh Derrick. Sebelumnya, ketika pengurus rumah tangga tidak sengaja mematahkan salah satu bunga matahari saat menyiramnya, Derrick langsung mematahkan tangannya tanpa ragu. Bukan karena aku peduli pada orang-orang yang menghancurkan bunga ini, tetapi karena bunga matahari itu adalah benda yang menyembuhkan depresiku. Setelah menyaksikan sendiri orang tuaku dibunuh, Derrick menanam bunga matahari selama 10 tahun. Dia melakukan segalanya untuk membantuku keluar dari kegelapan itu. Sekarang, melihat bunga matahari ini dihancurkan di depan mataku, sama saja seperti aku didorong kembali ke dalam jurang. Bukan hanya itu, mereka bahkan menyiramkan cat ke dinding vila, menghancurkan semua lukisan bunga matahari yang selama ini aku buat dengan penuh kasih. Aku ditekan ke lantai dan berjuang mati-matian untuk bernapas di tengah keputusasaan. Pandanganku yang dipenuhi rasa sakit sangat kontras dengan wajah Ivy yang penuh kebengisan. Aku hanya bisa berdoa agar Bi Maya segera kembali. Setiap hari, dia selalu pergi ke bawah bukit untuk membeli bahan makanan segar, biasanya hanya membutuhkan waktu satu jam untuk pulang pergi. Jika dihitung waktunya, seharusnya dia sudah hampir tiba sekarang. Bab 3 Saat itu, Ivy menerima panggilan telepon. Nada bicaranya terdengar sangat kasar. "Memangnya kenapa kalau mobilnya diparkir di tengah jalan? Nggak bisa lewat ya masalahmu sendiri! Lagian, nenek tua sepertimu nggak ada kerjaan sampai harus nyetir sendiri?" Setelah itu, dia langsung menutup telepon. Namun, aku bisa mengenali suara panik di seberang telepon ... itu suara Bibi Maya. Mobil Ivy dan teman-temannya parkir di jalan depan sehingga menghalangi akses masuk. Bibi Maya tidak bisa kembali! Dia pasti sedang terburu-buru untuk memasak. Kalaupun dia memutuskan untuk berjalan kaki sambil membawa bahan makanan, itu akan memakan waktu. Selesai sudah semuanya .... Ivy yang tampaknya sedang kesal, berjongkok di depanku dan menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. "Lihat, apa yang kamu lakukan di vila pacarku? Aku harus gimana mewakilinya untuk menghukummu?" Salah satu teman Ivy mengangkat ember penuh cat warna-warni dan menuangkannya tepat ke atas kepalaku. "Dia suka melukis, 'kan? Buat dia jadi lebih menarik saja! Berani-beraninya niru Kak Ivy. Dasar nggak tahu malu!" Teman-temannya yang lain mulai ikut menambahkan ide jahat mereka. "Dia butuh belaian pria ya? Kenapa kita nggak panggil beberapa pria untuk buat dia senang saja? Biar dia nggak ngincar pacar orang lagi!" "Dia yang untung, dong? Hahaha! Gimana kalau kita buat dia bayar semua kerusakan ini? Kalau perlu, kenalkan dia sama beberapa 'klien'. Dengan keahliannya menggoda pria, pasti dia bisa bayar lunas!" Ivy terus menatap wajahku. Semakin lama dia menatap, emosinya semakin memuncak. Tiba-tiba, dia berdiri dan menendangku dengan keras. "Berani-beraninya operasi plastik niru wajahku. Kalau begitu, nggak keterlaluan kalau aku ambil kembali wajah ini, 'kan?" Aku mendengar suara tulang hidungku patah. Rasa sakit yang luar biasa membuat pikiranku seketika kabur. Telingaku dipenuhi dengan suara tawa mereka. "Ternyata memang palsu! Hidung asli mana mungkin patah semudah itu? Lucu sekali!" "Rambutnya juga niru Ivy. Potong saja!" "Betul! Dia bahkan berani pakai gaun putih seperti Ivy. Buka saja pakaiannya!" Aku mencoba melawan, tetapi mereka memukuliku dari segala arah hingga aku pusing dan kehilangan kekuatan untuk melawan. Akhirnya, mereka mengarahkan ponsel ke wajahku yang penuh luka dan merekam keadaanku yang menyedihkan sambil tertawa terbahak-bahak. Namun, Ivy belum puas. Dia mengambil cutter dan berjalan mendekat dengan senyum sinis. "Nggak akan kubiarkan kamu pakai wajah ini untuk ngincar pacarku. Kalau mau salahkan, salahkan saja dirimu yang nggak tahu diri!" Ivy tahu wajah ini adalah alasan mengapa Derrick jatuh cinta pada pandangan pertama, jadi dia tidak akan membiarkan ancaman seperti ini terus ada. Ketiga temannya mulai terlihat tidak nyaman. Jika hanya sekadar memukul, mereka merasa tidak masalah, tetapi ini sudah terlalu berlebihan. Mereka takut menghadapi konsekuensinya. "Ivy, sudahlah, jangan terlalu berlebihan. Ini vila Derrick. Kalau terlalu parah, bisa saja ini berdampak buruk padanya." Ivy langsung menunjukkan kekesalannya. "Kalau ada masalah, pacarku yang akan mengurusnya. Apa yang perlu ditakutkan? Ini cuma ngerusak wajah, aku bukan mengambil nyawanya!" "Kalau pacarku pulang nanti dan melihat vilanya jadi berantakan begini, mungkin konsekuensinya makin parah lagi!" Mendengar kata-kata itu, keberanian teman-temannya kembali muncul. Mereka membantu Ivy menahanku dan memaksaku tetap di tempat. Aku merasa kesakitan ketika cutter itu menyayat kulitku. Jeritanku bergema di udara, tetapi suara tawa mereka justru semakin menyeramkan. Setelah siksaan itu selesai, suaraku sudah serak. Aku terbaring di lantai, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ivy menatapku dengan penuh kebencian. "Harus diberi pelajaran yang pantas. Kalau nggak, nanti semua orang bakalan niru dia, lalu gimana aku mau jadi Nyonya Santo?" "Kalau kamu suka sekali niru aku, akan kubuat kamu sampai nggak bisa lagi niruin aku!" Dia meraih tanganku dan mulai mematahkan jari-jariku satu per satu dengan kejam. "Salahkan dirimu sendiri yang terlalu serakah. Kalau nanti kamu nggak bisa melukis lagi, itu bukan salahku, ya!" Setelah sepuluh jariku dipatahkan, aku bahkan tidak lagi mampu mengeluarkan suara. Tubuhku penuh rasa sakit dan aku hampir kehilangan kesadaran. Namun di saat aku hampir pingsan, seseorang akhirnya datang ... itu Derrick. Melihat kekacauan yang terjadi di halaman vila, wajahnya memucat, dan matanya dipenuhi amarah. "Apa yang kalian lakukan? Siapa yang ngizinin kalian masuk ke sini?"