Đang tải thông tin quảng bá...
Saat Aku Mati, Pacarku Sibuk Menolong Wanita Lain
Hujan deras datang tanpa henti, banjir mulai menggenangi parkiran bawah tanah, dan aku segera menghubungi pacarku. "Tolong aku … Wibi, aku terjebak di parkiran! Pintu darurat terkunci!” Suara Wibi...
Chương (1)
第1章
Hujan deras datang tanpa henti, banjir mulai menggenangi parkiran bawah tanah, dan aku segera menghubungi pacarku.
"Tolong aku … Wibi, aku terjebak di parkiran! Pintu darurat terkunci!”
Suara Wibi di telepon terdengar kesal, "Yuni, cukup sudah! Kucing Maya naik ke pohon dan nggak bisa turun. Kami sedang sibuk sekarang!"
Dia menutup telepon tanpa peduli permohonanku, membawa tim penyelamat terdekat untuk menyelamatkan seekor kucing, dan meninggalkanku tanpa jalan keluar.
Bab 1
Air di parkiran naik dengan cepat, pintu darurat terkunci, dan aku memanjat ke atas mobil. Baterai ponselku tinggal satu garis.
Setelah Wibi menutup telepon, ponselku mati total. Putus asa, aku berteriak sekuat tenaga, "Apa ada orang? Tolong aku!"
Aku melambaikan tangan ke arah kamera pengawas di atas, berharap seseorang memperhatikanku.
Namun, tidak ada yang menyadari keberadaanku.
Banjir perlahan menelan tubuhku, hingga akhirnya aku sepenuhnya tenggelam.
Rasa sesak dan sakit memenuhi dadaku. Aku melihat kalung di leherku, menariknya dengan sekuat tenaga, lalu semuanya menjadi gelap.
Ketika aku membuka mata lagi, aku melayang di atas langit-langit parkiran. Dari luar, terdengar suara orang memanggil, "Apa ada orang?"
"Nona Yuni!"
Manajer gedung datang bersama tim, berjalan menembus air dan lumpur. Saat mereka tiba di jalur darurat, mereka semua terdiam.
"Siapa yang mengunci pintu ini?"
"Nggak tahu, biasanya pintu ini selalu terbuka. Selain itu, ini bukan kunci kami!"
Dari atas, aku melihat wajah sang manajer berubah pucat. Perasaan dingin menyelimuti hatiku.
Ada yang ingin aku mati.
"Cepat cari korban!"
"Yuni!"
"Yuni!"
Mereka tahu aku terjebak di parkiran?
Rasa penasaran membuat jiwaku mengikuti mereka.
Aku tinggal di kompleks apartemen baru, dan pihak pengelola biasanya cukup bertanggung jawab.
Saat hujan deras, mereka sudah mengingatkan aku bahwa parkiran mulai tergenang air dan memintaku untuk memindahkan mobil.
Aku teringat kejadian tahun lalu, parkiran ini juga terendam dan banyak mobil yang rusak.
Mobil kecilku baru kubeli tahun ini. Begitu mendengar kabar itu, aku langsung turun. Namun, saat masuk, air sudah mencapai betisku.
Aku bergegas menuju mobil dengan niat memindahkannya, tetapi tiba-tiba ada aliran air besar yang masuk. Aku langsung berbalik dan berlari.
Sayangnya, pintu darurat tertutup oleh angin.
Aku tidak bisa membukanya, apa pun yang kulakukan.
Sekarang aku tahu, ternyata seseorang sengaja mengunci pintu itu. Siapa yang ingin aku mati?
Jiwaku melayang keluar, dan aku melihat bahwa di luar sudah banyak tim penyelamat.
Pakaian oranye mereka mencolok, dan aku mencari-cari Wibi di antara mereka.
Dia adalah ketua tim penyelamat kota ini dan kebetulan sedang patroli di dekat sini untuk berjaga-jaga.
Namun, hari ini, sialnya, dia pergi membawa seluruh timnya yang terdiri dari tujuh atau delapan orang.
Ambulans juga sudah datang. Begitu mendengar aku terjebak, mereka langsung memulai operasi penyelamatan.
Namun, parkiran bawah tanah itu sudah terendam lebih dari tiga meter. Manajer gedung dan timnya harus menggunakan perahu untuk masuk. Dasarnya dipenuhi lumpur; setiap langkah membuat kaki mereka terbenam.
Proses penyelamatan sangat sulit, dan tidak ada yang tahu di mana tubuhku berada.
Saat itu, Wibi baru tiba dengan tergesa-gesa, diikuti oleh Maya Sudiro di belakangnya.
"Wibi, apa dia akan baik-baik saja? Ini semua salahku, aku menghambat penyelamatan."
"Tenang saja, dia selalu merepotkan aku dengan hal kecil. Sudah ada peringatan untuk nggak keluar saat hujan deras. Dia nggak mungkin sebodoh itu keluar di waktu seperti ini!"
Wibi berkata tanpa berpikir, tetapi langsung disambut oleh atasannya, Kapten Cipto.
Melihat Wibi, wajah Kapten Cipto penuh amarah, "Tim kalian yang paling dekat, tapi kalian terlambat setengah jam. Ke mana saja kalian?"
"Kapten Cipto, ini semua salahku. Kucingku lari ke atas pohon, dan Wibi membantuku mencarinya."
Maya menjelaskan sambil memasang wajah bersalah.
Kapten Cipto makin murka, "Wibi! Kamu tahu nggak, ini soal nyawa! Apa pun alasannya, aku akan menjatuhkan sanksi padamu kali ini!"
Wajah Wibi berubah masam. Dia sama sekali tidak menyangka, di tengah cuaca seperti ini, seseorang bisa terjebak di parkiran bawah tanah.
Bab 2
"Jangan berlama-lama! Tim Tiga, masuk semuanya! Korban hilang diketahui seorang perempuan, usia 24 tahun, posisi pastinya belum jelas!"
Perintah Kapten Cipto membuat semua anggota tim penyelamat bersiap dan masuk ke parkiran.
Saat itu, Maya menarik tangan Wibi. "Kak Wibi, di dalam berbahaya. Biar mereka saja yang masuk."
"Nggak bisa. Aku ketua tim. Jangan khawatir, tunggu saja di luar."
Begitu dia selesai bicara, Kapten Cipto langsung menarik Maya ke samping. "Orang nggak berkepentingan jangan mengganggu penyelamatan. Silakan mundur ke luar garis pembatas!"
Berhadapan dengan Kapten Cipto, Maya hanya bisa mengentakkan kakinya, lalu terpaksa menyingkir.
Aku tertawa kecil. Maya, hanya Wibi yang bodoh ini yang terpancing rayuanmu. Orang lain pasti tidak akan peduli.
Aku mengikuti Wibi masuk ke dalam parkiran.
Saat itu, lumpur sudah mencapai paha. Bahkan pria dewasa pun kesulitan bergerak, apalagi aku.
Sayangnya, mereka tidak tahu lokasi tepatku.
Aku baru tahu, ternyata kamera pengawas di parkiran sudah rusak.
Manajer properti baru tahu aku turun ke parkiran setelah melihat pesan bantuan yang kukirim lewat WhatsApp.
Mobilku diparkir di Zona D, area paling dalam dari parkiran itu.
Salah satu anggota tim Wibi berusaha menarik kakinya dari lumpur dan berkata sambil terengah-engah, "Wibi, pacarmu juga tinggal di kompleks ini, 'kan?"
"Apa dia …."
"Nggak mungkin. Yuni itu cuma tahu bersaing dengan perempuan lain. Dia nggak akan keluar."
"Tapi, bukannya dia bilang dia terjebak saat telepon?"
Wibi mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Nggak mungkin. Dia cuma sengaja bilang begitu karena tahu aku bersama Maya."
"Dia memang suka merepotkan!"
Mendengar itu, anggota tim lainnya memilih diam. Aku hanya bisa tersenyum pahit.
Merepotkan? Seumur hidup, ini pertama kalinya aku disebut merepotkan.
Ya, aku memang tidak bisa seperti Maya yang manja. Aku sudah terbiasa hidup mandiri.
Pertama kali aku meminta bantuan Wibi, dia menolaknya mentah-mentah. Sejak itu, aku tidak pernah lagi merepotkannya.
Sampai hari ini, aku benar-benar tidak punya pilihan lain selain mencarinya, dan aku malah dianggap merepotkan.
Wibi, kalau kamu tahu bahwa menutup telepon dariku menyebabkan kematianku, apa kamu akan menyesalinya?
Lebih dari 40 tim penyelamat dan staf properti dikerahkan. Setelah 10 jam, akhirnya manajer properti menemukan tubuhku.
Saat itu, tubuhku sudah membengkak, dengan lumpur memenuhi hidung dan mulutku. Dengan tangan gemetar, dia menunjuk sesuatu yang tampak seperti sosok manusia di dalam lumpur. "Itu ... itu dia!"
Tubuhku tersangkut pada lambang mobil, jadi tidak sepenuhnya tenggelam. Namun, lumpur sudah menutupi seluruh tubuhku.
Mendengar kabar itu, tim penyelamat bergegas mendekat. Mereka menyiapkan tandu dan menarik tubuhku dari lumpur.
Setelah diletakkan di tandu, semua orang yang melihat kondisiku langsung menundukkan kepala, termasuk Kapten Cipto. Dia menarik napas panjang, memberi hormat selama satu menit, lalu memberi aba-aba kepada tim untuk membawa tubuhku keluar.
Saat itu, Wibi dan timnya juga datang. Mereka membantu mengangkatku keluar.
Wibi menggelengkan kepala. "Kenapa datang ke parkiran bawah tanah di waktu seperti ini? Orang yang punya sedikit akal sehat pun nggak akan keluar di cuaca seperti ini. Sayang sekali."
Saat tubuhku diangkat keluar, angin tiba-tiba bertiup, dan entah bagaimana, tanganku terkulai, menampakkan sebuah kalung yang menggantung di genggamanku.
Wibi kebetulan memalingkan wajahnya. Aku hanya bisa tersenyum pahit. Wibi, lihatlah, kita benar-benar tidak pernah sejalan.
Kalau saja kamu menoleh, kamu pasti tahu bahwa orang yang mati itu aku.
Kalung ini adalah hadiah ulang tahun darimu, satu-satunya hadiah yang kamu berikan selama dua tahun kita berpacaran.
Ketika aku meninggal, aku sangat kecewa padamu dan tidak ingin ada hal apa pun yang mengikatku. Jadi, aku melepaskannya. Mulai sekarang, aku juga tidak akan mengganggumu lagi.
Bab 3
Sayangnya, Wibi tidak melihatnya. Justru di sisi lain, Maya tiba-tiba merinding, lalu cepat-cepat mendekatinya, "Kak Wibi, kamu pasti capek sekali."
Dia mengambil tisu dan menyeka lumpur yang berlumuran di wajah Wibi.
"Nggak kok, ini memang tugas kami."
Maya kembali berkata, "Aku nggak habis pikir, apa yang ada di benaknya sampai datang ke parkiran bawah tanah di saat seperti ini?"
"Sudah diingatkan, tapi masih saja nekat. Tugas kita sudah selesai, yang salah ya dia sendiri …."
Saat Kapten Cipto lewat dan mendengar ini, dia langsung memotong dengan marah, "Diam, Wibi! Kata-kata bisa jadi bumerang! Sebagai petugas penyelamat, jangan bicara sembarangan tentang korban, terutama di depan jenazah! Apa aku perlu mengingatkanmu soal ini?"
"Selain itu, kamu pasti kena sanksi kali ini. Kembali ke markas, tulis laporan!"
"Kenapa harus kena sanksi?"
Maya tidak senang. "Kak Wibi telat karena membantu aku, 'kan?"
Kapten Cipto menatap Wibi dengan tajam. "Nyawa orang itu urusan besar, Wibi. Kita bahas nanti di markas!"
Lalu dia mengarahkan pandangannya ke Maya. "Dan Nona Maya, lain kali jangan menyusahkan semua orang untuk urusanmu sendiri. Kalau kucingmu hilang, itu tanggung jawabmu sebagai pemilik. Jangan pakai alasan itu untuk menghabiskan sumber daya publik!"
Kapten Cipto memang tidak pernah punya kesan baik terhadap Maya.
Dia juga tidak suka dengan cara Maya terus memanggil pacar orang lain dengan nada manja "Kak," jadi setiap kali melihatku diperlakukan buruk, dia sering menegur Wibi.
Namun, bagaimanapun juga, dia bukanlah seorang senior, hanya seorang kapten. Oleh karena itu, setelah menegur beberapa kali tetapi tidak dihiraukan oleh Wibi, Kapten Cipto pun tidak banyak berkata lagi.
Namun, kali ini, Kapten Cipto benar-benar tidak tahan lagi.
Setelah mendengar teguran itu, Maya langsung kesal. "Kak Wibi, dia keterlaluan. Kenapa bicara begitu ke aku?"
"Sudahlah, Maya. Dia itu atasan, jangan banyak ngomong. Aku mau balik ke markas, kamu juga pulang ya."
Wibi menepuk pundaknya, tetapi Maya malah menariknya. "Datang saja ke rumahku nanti. Aku bikin sup buatmu, biar kamu pulih lagi. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena kamu menyelamatkan Bubu."
Bubu adalah kucing ragdoll miliknya. Wibi berpikir sejenak, lalu mengangguk. Tetapi, sebelum pergi, dia mencoba meneleponku.
Sayangnya, ponselku sudah mati total karena kehabisan baterai.
Wajah Wibi tampak kesal. "Masih main drama sama aku? Aku kasih tahu ya, kalau nggak mau angkat telepon, ya jangan pernah angkat lagi selamanya!"
Aku mendesah. "Memang aku nggak akan pernah angkat lagi, Wibi. Puas sekarang?"
Wibi menutup telepon dengan marah dan kembali ke markas. Sesampainya di kantor, Kapten Cipto langsung memarahinya habis-habisan.
Mengetahui bahwa setengah jam terbuang demi menyelamatkan seekor kucing, Kapten Cipto akhirnya tidak bisa menahan emosinya lagi. "Wibi, pisahkan urusan pribadi dan pekerjaan! Jangan anggap semua anggota tim ini sebagai milik pribadimu. Setengah jam! Kalau kalian pergi lebih cepat, gadis itu nggak akan mati!"
"Aku akan laporkan kejadian ini. Siap-siap menerima sanksi!"
"Nggak perlu terlalu serius begitu, 'kan?" Wibi terkejut. "Aku cuma punya tugas lain waktu itu!"
"Siapa yang kasih tugas itu? Ada catatannya?"
Wibi langsung terdiam.
Tidak ada catatan Maya meminta bantuannya, itu hanya panggilan telepon.
Sebaliknya, aku, penghuni yang melapor lewat manajemen, adalah bukti nyata bahwa dia terlambat.
Kalau saja dia terlambat lima menit, aku mungkin masih hidup.
Setelah dimarahi, Wibi pergi untuk menulis laporan.
Empat jam kemudian, jasadku telah dibersihkan. Manajemen gedung mengonfirmasi identitasku dan menyerahkan data terkait kepada tim penyelamat.
Ketika Kapten Cipto menerima data itu, dia langsung terdiam. Dengan cepat, dia berlari ke kantor.
Dia melihat Wibi bergegas keluar.
"Wibi! Mau ke mana? Soal Yuni, dia ...."
"Nggak usah bahas itu lagi, Kapten Cipto. Yuni cuma ngambek, bilang terjebak, lalu mematikan ponsel. Aku nggak tahu apa maksudnya!"
Kapten Cipto menyerahkan data itu kepadanya. "Ini data korban. Lihat baik-baik."
"Kenapa aku harus lihat? Dia bukan siapa-siapaku …."
Belum selesai bicara, Wibi tertegun. Tangannya gemetar saat membaca data itu. Matanya membelalak, dan setelah beberapa saat, dia tergagap, "Ng-nggak mungkin!"
"Itu bukan dia!"
"Kalau mau memastikan, lihat saja langsung."