Đang tải thông tin quảng bá...
Tersadar dari Mimpi, Aku Memutuskan untuk Meninggalkannya
Di hari pernikahan kami, “adik” kesayangan Levin tiba-tiba pingsan. Dia pun meninggalkanku di atas altar dan menggendong adiknya itu pergi ke rumah sakit. Begitu menyaksikan hal ini, penyakit jant...
Chương (1)
第1章
Di hari pernikahan kami, “adik” kesayangan Levin tiba-tiba pingsan. Dia pun meninggalkanku di atas altar dan menggendong adiknya itu pergi ke rumah sakit.
Begitu menyaksikan hal ini, penyakit jantung ibuku kambuh. Namun, semua orang yang hadir hanya ingin menonton pertunjukan dan sama sekali tidak berniat untuk membantu. Saat aku mengantar ibuku sampai ke rumah sakit, dia sudah tidak terselamatkan.
Pada saat ini, Levin tiba-tiba meneleponku, “Sienna, kamu lagi di mana? Penyakit Lestari kambuh lagi. Dia butuh sumsum tulang belakangmu!”
“Levin, kita ... pisah saja!”
Aku memutuskan sambungan telepon, lalu berbalik dan pergi. Kali ini, aku tidak akan menoleh lagi.
Bab 1
Lima tahun yang lalu, aku pernah menyelamatkan Lestari Tanadi. Setelah transplantasi sumsum tulang belakang berhasil, Levin Yuardi menyuruhku tinggal di sisinya dan mengatakan ingin membalas budiku. Setelah mengikutinya 5 tahun, kami akan menikah hari ini. Namun, Lestari malah pingsan di hari ini.
Aku memohon pada Levin untuk tidak pergi, tetapi Levin malah menepis tanganku dan berseru, “Sienna, ini masalah hidup dan mati! Kenapa kamu begitu kejam!”
Levin memakiku kejam. Dia sama sekali tidak melihat mata Lestari yang agak bergetar di bawah panggung. Lestari hanya sedang bersandiwara!
Gara-gara hal ini, penyakit jantung ibuku kambuh. Namun, tidak peduli bagaimana aku menangis dan meminta bantuan mereka, tidak ada seorang pun yang peduli. Mereka tahu siapa sebenarnya yang disukai Levin.
Berhubung Levin memilih untuk pergi, hal ini sudah cukup untuk membuktikan aku tidaklah penting baginya. Jadi, tidak ada seorang pun yang membantuku. Pada akhirnya, ada seorang pelayan yang membantuku menelepon ambulans.
Hanya saja, semuanya sudah terlambat.
Aku menatap jasad ibuku yang ditutupi kain putih. Dia berbaring sendirian di sana tanpa suara. Namun, aku malah tidak bisa menangis. Aku hanya merasa sekujur tubuhku sudah membeku.
Pada saat ini, Levin juga muncul di rumah sakit. Begitu melihatku, dia buru-buru menarik lenganku sambil berkata, “Sienna, kamu datang tepat waktu! Penyakit Lestari kambuh. Ayo ikut aku pergi lakukan pemeriksaan!”
Saat aku menepis tangannya, Levin pun tertegun dan berseru, “Sienna!”
“Levin, aku nggak berutang apa-apa padamu! Aku nggak akan lakukan transplantasi itu!”
Levin tidak menyangka aku akan mengatakan hal seperti itu. Ekspresinya langsung menjadi suram.
“Aku bukan lagi berunding denganmu, melainkan memberimu perintah! Ikut aku pergi!”
Levin adalah presdir perusahaan publik. Dia tegas dalam mengambil keputusan dan selalu dominan. Jika itu dulu, aku pasti sudah setuju. Namun, ibuku meninggal gara-gara dia. Aku tidak akan lagi menjadi “bank” sumsum tulang belakang mereka.
Hanya saja, aku terlalu meremehkan Levin. Dia segera menyuruh pengawal untuk menyeretku keluar dari ruang pasien ke ruang pemeriksaan.
Tanpa peduli pada jasad ibuku yang masih tergeletak di kamar mayat, aku berteriak histeris, “Levin! Penyakit jantung ibuku kambuh dan dia sudah meninggal! Kamu masih mau aku donorkan sumsum tulang belakang? Apa kamu masih bisa disebut manusia! Aku nggak akan pernah maafkan kamu!”
Begitu mendengar kata-kataku, Levin pun bertanya dengan terkejut, “Apa katamu?”
Aku menjawab dengan berlinang air mata, “Nggak percaya? Tanya sendiri sana! Ada begitu banyak orang yang menyaksikannya di resepsi pernikahan kita!”
Levin menggigit bibirnya untuk beberapa saat, lalu berkata, “Sienna, ibumu sudah tiada. Yang terpenting sekarang adalah orang yang masih hidup. Benar nggak?”
Aku hampir memuntahkan darah saking marahnya. Kenapa dia bisa melontarkan ucapan seperti itu?
Benar, di matanya, tidak ada orang yang lebih penting daripada Lestari. Ibuku yang sakit juga hanyalah beban baginya. Bukannya mereka justru akan lebih senang karena ibuku sudah meninggal?
Aku pun mencibir, “Aku nggak akan mendonorkannya! Siapa pun juga nggak bisa mengancamku!”
Ibuku sudah meninggal. Jadi, aku tidak akan memohon padanya lagi.
Tatapan Levin terlihat meredup. Ini adalah tanda-tanda dia akan marah. Sebelum sempat marah, tiba-tiba terdengar suara lemah seorang wanita yang berkata dari belakang, “Nggak usah lagi. Kalau Kak Sienna nggak bersedia, kita jangan paksa dia lagi.”
Lestari menutupi dadanya dan berdiri di depan pintu dengan wajah terlihat lemah. Begitu melihatnya, Levin langsung pergi memeluknya dan berujar, “Nggak bisa, kamu itu yang paling penting. Aku punya cara untuk buat dia mendonorkannya.”
Setelah mendengar ucapan itu, Lestari yang berada dalam pelukan Levin menatapku sambil tersenyum menantang.
Aku pun tersenyum sinis dan menjawab, “Aku nggak akan melakukannya! Kalau hebat, bunuh saja aku!”
Ada kilatan dingin yang melintasi mata Levin. Namun, aku sama sekali tidak takut dan langsung menatapnya lekat-lekat.
Dia bertanya dengan nada dingin, “Kamu nggak mau terjadi apa-apa pada jasad ibumu, ‘kan?”
Aku pun tercengang. Kemudian, amarahku langsung memuncak.
“Levin, coba saja kalau kamu berani!”
“Kalau kamu donorkan sumsum tulang belakangmu, aku akan anggap semua ini nggak pernah terjadi.”
Seusai melontarkan ucapan itu, dia langsung membawa Lestari pergi. Aku pun jatuh terduduk di lantai. Aku tahu dia benar-benar bisa melakukan hal seperti itu.
Bab 2
“Levin! Kamu pasti akan nyesal suatu hari nanti!”
Saat mendengar tangisanku yang histeris, Levin tertegun sejenak. Namun, langkahnya hanya terhenti sejenak. Setelahnya, dia langsung melangkah pergi tanpa menoleh.
Aku menarik napas dalam-dalam. Sebelum sempat bereaksi, pengawal Levin sudah menarikku berdiri dari lantai.
“Pak Levin bilang kamu masih harus diperiksa sekali. Setelah operasi berakhir, kamu baru boleh pergi.”
Aku pun berseru, “Tindakan kalian ini melanggar hukum! Lepaskan aku!”
Namun, aku sendiri tidak mungkin dapat melawan mereka. Setelah diseret ke ruang operasi, seorang dokter berjalan menghampiriku sambil memegang jarum suntik. Aku sontak merasa gugup. Dia memperingatiku, “Pikirkanlah ibumu. Jangan lakukan perlawanan yang sia-sia lagi.”
Aku pun tersenyum getir. Begitu jarum itu disuntikkan ke tubuhku, hatiku juga terasa sangat sakit. Seiring dengan energiku yang seolah-olah terkuras habis, aku juga langsung pingsan.
Saat tersadar kembali, hanya ada aku sendiri yang sedang berbaring di atas ranjang pasien. Entah berapa lama waktu telah berlalu, seorang perawat baru datang memeriksaku. Dia berkata, “Sudah siuman? Istirahatlah yang baik setelah pulang.”
Aku menarik tangannya tanpa peduli pada rasa sakit tubuhku dan bertanya, “Di mana Levin? Di mana jasad ibuku?”
Perawat itu menjawab dengan serbasalah, “Aku juga kurang tahu. Kamu hanya bisa tanya langsung pada Pak Levin.”
Aku pun turun dari tempat tidur, tetapi malah langsung jatuh. Pada saat ini, ada seseorang yang berjalan masuk. Orang itu tidak lain adalah Levin. Dia buru-buru menggendongku dan meletakkan aku kembali ke tempat tidur.
Aku meraih kerah bajunya dan berseru, “Levin, di mana ibuku!”
“Jangan khawatir. Aku sudah antarkan dia ke rumah duka. Kamu boleh pergi ke sana kapan saja.”
Aku hendak langsung pergi, tetapi dia malah menghentikanku dan berkata, “Dokter bilang kamu harus istirahat karena baru lakukan transplantasi.”
“Nggak perlu!” Aku menepis tangan Levin, lalu lanjut lanjut berbicara dengan ekspresi dingin, “Ingat, ini terakhir kalinya aku jadi donor kalian! Mulai sekarang, kita nggak saling berutang!”
Seusai berbicara, aku langsung mendorongnya. Namun, dia menahan pergelangan tanganku dan berseru, “Bisa nggak kamu jangan buat onar lagi! Tanpa tulang sumsummu, dia bisa mati!”
Aku merasa sangat lucu.
“Benarkah? Tapi, waktu kamu tinggalkan aku di resepsi pernikahan kita, apa kamu kepikiran ibuku juga mungkin meninggalkanku gara-gara hal ini? Dia itu satu-satunya keluargaku yang tersisa!”
Melihat mataku yang merah, Levin mengerutkan keningnya dan menjawab, “Maaf. Aku akan adakan resepsi pernikahan lagi untukmu, juga berikan posisi menantu Keluarga Yuardi padamu.”
“Siapa yang sudi?” Menantu Keluarga Yuardi? Ini sungguh kehormatan besar!
“Levin, kamu kira dengan berbuat begini, aku akan maafkan kamu?” lanjutku. Aku berharap bisa menemukan sedikit perasaan bersalah dari dalam matanya. Sayangnya, tidak ada.
Levin menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, “Aku akan tebus kesalahanku padamu.”
“Tebus kesalahanmu? Sekarang, kamu berutang nyawa padaku! Mau tebus kesalahan? Berikan saja nyawamu padaku.”
Levin menjawab dengan agak tidak sabar, “Sienna, cukup! Kadang-kadang, kematian juga mungkin bisa mengakhiri penderitaan.”
Aku langsung menamparnya!
Wajah Levin masih menoleh ke samping. Pada saat ini, tiba-tiba terdengar seruan dari luar, “Vin! Vin, ada apa ini?”
Lestari yang mengenakan gaun rumah sakit dan terlihat pucat buru-buru berlari masuk sambil berseru, “Kenapa kamu tampar orang!”
Aku pun mencibir, “Sudah mending aku cuma menamparnya! Kenapa? Nggak terima aku tampar dia? Mau tampar balik? Silakan!”
Kemudian, aku menatap Levin. Levin menghela napas, lalu hendak mengatakan sesuatu. Namun, aku langsung berbalik dan pergi.
“Kamu mau ke mana?”
“Kamu nggak usah peduli! Sudah kubilang, kita nggak saling berutang!”
Aku menepis tangan Levin. Pada saat dia hendak mengejarku, Lestari tiba-tiba merasa lemas dan jatuh ke pelukannya. Langkahnya pun terhenti.
Bab 3
Aku tidak memedulikannya dan langsung melangkah pergi ke rumah duka. Setelah menunjukkan KTP, aku akhirnya melihat jasad ibuku. Dia didorong keluar dari lemari pendingin dan seluruh tubuhnya sudah kaku.
Aku langsung berlutut di hadapannya, lalu membuka kain putih yang menutupinya dengan tangan gemetar. Saat melihat wajah yang familier itu, aku merasa sekujur tubuhku langsung membeku. Aku hanya bisa mengeluarkan suara tercekat, tetapi tidak bisa menangis atau meluapkan perasaanku. Hatiku sangat sakit dan terasa bagaikan akan meledak.
Aku menggenggam tangannya erat-erat. Tangannya sangat dingin dan kaku, sepenuhnya berbeda dari sepasang tangan lembut dan hangat dalam ingatanku.
Aku teringat sebelum pernikahanku, Ibu memelukku sambil berkata dengan lembut, “Akhirnya ada orang yang mencintai Sienna. Mulai sekarang, meski Ibu sudah tiada, akan ada orang yang bisa menjagamu.”
Pada saat itu, kami tidak menyangka Levin akan memilih Lestari. Ini semua salahku. Aku yang terlalu naif. Aku kira dengan berada di sisinya, aku bisa memenangkan hatinya dengan pengorbananku selama ini. Aku benar-benar terlalu memandang tinggi diriku, juga merendahkan posisi Lestari di hatinya.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, staf rumah duka yang mengingatkanku, “Bu Sienna, sudah? Waktunya sudah habis.”
Aku melangkah mundur, lalu mengangguk sambil menahan isakanku. Aku melihat jasad ibuku dimasukkan ke krematorium. Ketika keluar lagi, yang tersisa hanyalah sekotak abu. Aku memegang kotak abu itu dengan kening berkerut.
Ibu terikat di kota kecil ini selama hidupnya dan tidak pernah ke luar kota. Harapan terbesarnya adalah melihat aku menemukan pasangan yang baik.
Hanya saja, sekarang, aku bahkan tidak mampu membelikan makam yang layak. Aku tidak memiliki begitu banyak uang tunai. Setelah menjual apa yang bisa dijual, uang yang terkumpul sekitar 60 juta.
Seorang staf tiba-tiba berlari menghampiriku dan berkata, “Bu Sienna, ada yang sudah keluarkan banyak uang untuk menukar makam yang kamu pesan dengan makam yang lebih berkelas di sana. Lokasinya sangat bagus!”
Aku pun tertegun dan bertanya, “Apa katamu? Siapa orangnya?”
“Dia belum pergi, kayaknya namanya Levin.”
Begitu mendengar hal ini, aku langsung berjalan ke area kantor di depan. Saat melihat Levin, aku tanpa sadar mengepalkan tanganku dan berseru, “Levin, apa sebenarnya maumu?”
Levin menatapku sambil menjawab, “Sienna, ini niat baikku. Terimalah. Dengan begitu, hatiku juga akan terasa lebih baik.”
“Nggak usah. Kami hanyalah orang biasa. Kami nggak mampu terima kebaikanmu.”
Wajah Levin yang tampan tiba-tiba menjadi tajam. Dia berkata, “Sienna, kenapa kamu begitu dramatis? Cuma sebuah resepsi pernikahan, ‘kan? Aku juga nggak berharap ibumu meninggal. Tapi, dia pada dasarnya memang sakit. Bisa nggak kamu berhenti permasalahkan hal ini?”
Ucapan ini terdengar sangat tidak berperasaan karena keluar dari mulutnya. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab, “Sudah kubilang, kamu berutang nyawa padaku. Aku nggak akan maafkan kamu. Jadi, kamu nggak usah sok baik!”
Saat Ibu masih hidup, Levin tidak pernah menjenguknya. Sampai keadaan Ibu kritis, Levin baru mengatakan ingin bertemu dengannya.
Levin juga yang memutuskan segala sesuatu mengenai pernikahan kami. Dia sama sekali tidak peduli pada tradisi yang dikatakan Ibu dan hanya menganggap ini adalah kesempatan untuk memperluas koneksinya. Oleh karena itu, baru tidak ada orang yang peduli pada hidup dan mati kami.
Mendengar ucapanku, Levin pun berseru marah, “Sienna, jangan nggak tahu diri! Dia itu ibu mertuaku. Aku harus biarkan dia istirahat dengan tenang. Memangnya kamu tega melihatnya dikuburkan di tempat yang begitu menyedihkan?”
Tanpa menunggu jawabanku, Levin langsung merebut kotak abu di tanganku dan menyerahkannya pada staf di samping sambil memberi perintah, “Langsung kubur saja!”
Kemudian, dia berkata pada sekretarisnya, “Suruh semua eksekutif Grup Yuardi datang dan hubungi juga media!”
Aku pun mengeratkan kepalan tanganku dan berseru, “Levin, mau apa lagi kamu? Upacara pemakaman ibuku bukan sesuatu yang bisa kamu gunakan untuk mempromosikan perusahaanmu! Ini urusanku sendiri!”
Bab 4
“Sienna, aku cuma mau tebus kesalahanku.” Levin berkata dengan suara berat, “Aku yang salah atas apa yang terjadi di pernikahan kita. Aku nggak seharusnya meninggalkanmu sendiri. Yang dikatakan Lestari benar. Biar bagaimana pun, kamu itu istri yang kuakui kepada publik. Aku harus kasih tanggapan. Kalau nggak, hidupmu ke depannya akan sangat sulit.”
“Jadi, ini juga ide Lestari?” tanyaku sambil mendongak untuk menatapnya.
Levin mengangguk dan menjawab, “Lestari juga memikirkanku. Kamu harus tahu ....”
“Cukup!” Aku menyela, “Tak disangka, seorang presdir seperti Pak Levin bisa berpikir begitu menyeluruh karena mendengar arahan seorang gadis. Levin, kalau kamu benar-benar merasa bersalah padaku, jangan ikut campur dalam hal ini lagi, oke?”
Levin mengerutkan keningnya dan menjawab, “Kenapa kamu punya prasangka seburuk itu terhadapnya? Di hari pernikahan ....”
“Jangan ungkit soal pernikahan kita lagi! Ibuku meninggal di hari itu dan itu akan tinggalkan rasa sakit di hatiku selamanya! Aku nggak ingin memaafkanmu! Aku hanya harap kamu bisa jaga jarak denganku. Kita pisah baik-baik, ya? Kamu nggak usah peduli sama urusanku. Kita akhiri saja pernikahan ini. Untung juga kita belum buat akta nikah. Kalau nggak, kita masih harus urus perceraian lagi.”
Aku sangat bersyukur aku dan Levin tidak langsung membuat akta nikah. Ini juga karena bantahan kuat Lestari. Aku tahu dia berbuat begitu karena takut aku benar-benar menjadi istri Levin dan dia tidak bisa membalikkan situasinya kelak. Jadi, dia baru membujuk Levin untuk menunda membuat akta nikah.
Sekarang, aku merasa gembira, tetapi Levin malah merasa tidak senang. Aku tidak peduli pada perasaannya dan langsung mengambil kotak abu itu dari tangannya. Namun, dia malah menahannya dengan kuat.
“Kita putuskan begini saja. Setelah upacara pemakaman ini, aku akan kembalikan kebebasanmu.”
Aku tidak bisa berdebat dengannya. Jadi, aku langsung berlutut di depannya. Melihat aku berbuat begitu, dia langsung tercengang.
“Pak Levin, aku mohon kembalikan kebebasanku. Ibuku seharusnya nggak mau diperalat kamu seperti ini, juga nggak ingin mengadakan upacara pemakaman mewah seperti instruksimu. Dia itu cuma ibuku seorang! Levin, aku mohon padamu. Tolong kabulkan permintaanku demi aku yang sudah pernah donorkan sumsum tulang belakangku 2 kali!”
Kepalaku terasa pusing. Sejak mendonorkan sumsum tulang belakang, aku masih belum sempat beristirahat dan langsung datang ke tempat ini. Sekarang, seluruh tenagaku sudah terkuras habis.
Levin menatapku dengan ekspresi yang lebih santai. Namun, ponselnya tiba-tiba berdering. Aku melirik ponselnya dan melihat nama Lestari. Firasat buruk seketika merayapi hatiku.
Seusai menerima telepon itu, Levin berubah menjadi seperti semula dan berkata dengan tegas, “Kita putuskan begini saja. Jangan dilanjutkan lagi. Sienna, istirahatlah dengan baik. Serahkan sisanya padaku.”
Levin menyerahkan kotak abu itu kepada orang di sisinya, lalu menyeretku masuk ke mobil. Dia tidak peduli pada reaksiku dan membawaku kembali ke vila.
Baru saja aku turun dari mobil, Lestari buru-buru menghampiriku dan berkata, “Sienna, akhirnya kamu pulang juga. Aku bilang ke Levin kami harus tebus kesalahan kami terhadap Bibi. Jadi, biarkan aku yang urus upacara pemakaman kali ini, ya?”
Dia benar-benar membuatku marah hingga kepalaku terasa sangat pusing. Aku pun melangkah mundur dengan terhuyung-huyung dan seluruh tubuhku juga mulai berkeringat dingin.
“Levin, kenapa kamu harus menghinaku seperti ini? Apa salahku padamu hingga kamu harus berbuat begitu?” ucapku. Kemudian, aku memeluk diriku sendiri dan berjongkok. Keringat dingin masih tidak berhenti membasahi tubuhku.
Di sisi lain, Lestari langsung menangis dan bertanya, “Kamu menyalahkanku? Aku juga nggak mau begini!”
Levin berkata dengan tidak senang, “Sienna, cukup! Meski sakit, Lestari tetap berpikir untuk menghiburmu. Bisa nggak kamu jangan ribut lagi!”
Untuk sesaat, aku bahkan berpikiran untuk langsung mati saja.
“Apa dengan aku mati, kalian baru mau melepaskanku? Begitu, Levin?” tanyaku sambil menatapnya dengan tatapan kosong.
Levin pun tertegun. Selanjutnya, dia langsung membelalak dan terlihat panik.