Suamiku Pura-pura Mati Demi Menipu Uangku

Đang tải thông tin quảng bá...

Suamiku Pura-pura Mati Demi Menipu Uangku

GoodNovel Hoàn thành
EmosionalDendamPengkhianatanCinta segitigaDrama

Di kehidupan lalu, suamiku tiba-tiba mengalami pendarahan otak dan meninggal. Dia juga meninggalkan sejumlah besar utang. Demi putraku yang masih SMA, aku menjual rumah yang diwariskan orang tuaku dan...

Chương (1)

第1章

Di kehidupan lalu, suamiku tiba-tiba mengalami pendarahan otak dan meninggal. Dia juga meninggalkan sejumlah besar utang. Demi putraku yang masih SMA, aku menjual rumah yang diwariskan orang tuaku dan bekerja 3 pekerjaan untuk membayar utang. Setelah terlalu banyak bekerja, aku jatuh sakit dan akhirnya masuk rumah sakit. Di samping ranjang pasien, putraku yang sudah diterima di universitas bergengsi malah menelepon dengan gembira. “Halo? Ayah, ini aku. Wanita ini sudah mau mati. Aku ada belikan asuransi untuknya. Kita setidaknya bisa dapat kompensasi 10 miliar. Kamu dan Bibi Susi cepat kembali dari luar negeri.” Bibi Susi yang dimaksudnya adalah teman semasa kecil dan juga tetangga suamiku. Ternyata, yang disebut utang itu adalah hasil pencucian uang dalam jumlah besar yang dilakukan suamiku dan kekasih gelapnya. Demi menutupinya, mereka membuat pembukuan palsu, bahkan berpura-pura mati untuk menghindari tanggung jawab hukum. Sementara itu, demi menjadi anak orang kaya, putraku membiarkanku mati karena kelelahan. Saat membuka kembali mataku, aku sudah kembali ke hari di mana suamiku berpura-pura mati. Bab 1 “Apa ini istrinya Marco? Suamimu alami pendarahan otak, tapi gagal diselamatkan. Dia sudah meninggal 1 jam lalu.” Setengah jam sebelumnya, aku menerima telepon dari sebuah rumah sakit swasta yang terletak di dekat rumah. Aku buru-buru datang, tetapi malah menerima kabar kematian suamiku pada saat baru masuk. Yohan, putraku sudah menunggu di tempat ini. Dia mendongak dan menatapku dengan mata berlinang air mata sambil berkata, “Ibu, Ayah sudah meninggal.” Aku menatap jasad suamiku yang ditutup kain putih, lalu menatap putraku yang terlihat sangat sedih. Ini semua terasa bagaikan mimpi. Di kehidupan sebelumnya, saat melihat putraku yang seperti ini, aku merasa sangat sedih dan langsung memeluknya sambil berkata, “Yohan, tenang saja. Meski cuma tersisa kita berdua, Ibu juga nggak akan biarkan kamu hidup susah.” Dua hari setelah Marco meninggal, ada orang yang datang ke rumah untuk menagih utang. Aku baru tahu ternyata suamiku berjudi online dan berutang puluhan miliar. Demi tidak membuat Yohan khawatir, aku tidak memberitahunya mengenai situasi keluarga. Aku menjual rumah di ibu kota yang diwariskan orang tuaku, lalu meminjam uang dari teman dan kerabat untuk membayar utang itu. Saat ini, Yohan berada di tahun ke-3 SMA dan membutuhkan banyak uang untuk pendidikan. Ditambah dengan dia juga lumayan boros dan suka membeli barang-barang bermerek, gajiku mulai tidak mampu untuk menutupi biaya hidup kami. Oleh karena itu, aku bekerja 3 pekerjaan setiap hari tanpa beristirahat. Aku juga hanya makan acar dan mie instan, tetapi tetap memperhatikan nutrisi Yohan dan memasakkan banyak makanan bergizi seperti abalone, teripang, dan sebagainya. Selain itu, aku bahkan pekerjakan guru les privat yang biayanya jutaan per sesi untuk Yohan. Setelahnya, aku jatuh sakit dan masuk rumah sakit. Aku masih berjuang keras untuk hidup, tetapi di saat-saat kritis, aku mendengar percakapan Yohan dengan suster. “Keadaan pasien sangat gawat. Kami butuh walinya memutuskan apa dia mau dioperasi atau nggak secepat mungkin. Keinginannya untuk hidup sangat kuat sehingga dia masih memiliki peluang untuk hidup.” Aku mengerahkan hampir seluruh tenagaku untuk bernapas dengan harapan bisa bertahan hidup. Namun, putra yang sudah kusayangi selama lebih dari 20 tahun itu malah menjawab dengan sangat dingin, “Nggak usah. Kami nggak punya uang sebanyak itu untuk operasi.” Meskipun tidak membuka mata, aku dapat mendengar suara di sekitar. Kenapa putraku berkata begitu? Situasi keluarga kami memang tidak sekaya saat suamiku masih hidup, tetapi aku juga memiliki sedikit tabungan setelah bekerja keras bertahun-tahun. Bahkan 3 hari yang lalu, aku baru menyerahkan selembar kartu bank berisi uang 400 juta kepada putraku untuk membantunya membeli rumah. Perawat merasa tidak tega dan lanjut bertanya, “Yakin nggak mau operasi? Biaya operasinya nggak lebih dari 100 juta. Kamu nggak bisa pinjam dari teman atau kerabat dulu?” Namun, Yohan malah menyela ucapan perawat dengan tidak sabar, “Punya peluang hidup nggak berarti pasti bisa hidup. Kalau gagal, bukankah 100 juta itu akan melayang dengan sia-sia?” Perawat itu pun menghela napas. Tanpa persetujuan wali, rumah sakit tidak dapat mengoperasiku. Aku dipindahkan ke unit perawatan intensif. Mereka menyebutnya sebagai perawatan konservatif, tetapi itu sebenarnya tidak berbeda dengan menunggu mati. Aku yang berbaring di ranjang pasien tidak mengerti kenapa putraku tega menolak biaya operasiku yang hanya membutuhkan biaya 100 juta. Sampai aku sadar kembali sebelum meninggal, aku berusaha membuka mata dan melihat putraku yang berdiri di ujung ranjang pasien. Melihat EKG-ku yang berangsur-angsur melemah, dia tersenyum gembira dan menelepon seseorang untuk melaporkan keadaanku. “Ayah, Ibu sudah mau mati. Kamu dan Bibi Susi beres-beres saja dulu. Kalian sudah boleh pulang dengan bawa uangnya. Aku sudah belikan asuransi ratusan juta untuknya. Habis dia mati, kita paling nggak bisa dapat kompensasi 10 miliar.” Suara dari ujung telepon terdengar jelas. Itu adalah suara suamiku yang sudah meninggal 6 tahun lalu. Sementara itu, Bibi Susi yang dimaksud putraku adalah teman semasa kecil suamiku. Yohan tidak tahu aku masih bisa mendengar. Dia dengan bangganya membahas kehidupan gembira mereka kelak. “Beberapa tahun ini, aku sudah hampir nggak tahan, tapi malah harus lanjut sandiwara. Kalau bukan karena Ibu, aku sudah pergi ke luar negeri untuk jadi orang kaya. Tapi, kematiannya nggak sia-sia. Kita bisa dapat tambahan 10 miliar. Sudah lama aku incar rumah di ibu kota itu. Kebetulan, uang ini bisa jadi tambahan buatku.” Air mata mengalir dari sudut mataku. Dari percakapan mereka, aku sudah memahami semuanya. Ternyata utang itu hanyalah jebakan yang disusun suamiku dan selingkuhannya. Mereka membuat pembukuan palsu untuk menutupi pencucian uang yang dilakukan mereka. Sementara itu, putra yang kulindungi mati-matian ternyata mengetahui semua fakta ini, juga diam-diam membantu mereka. Suami dan putra yang seharusnya adalah orang terdekatku malah memanfaatkan aku tanpa belas kasihan. Bab 2 Melihat putraku yang sedang bersandiwara seperti kehidupan sebelumnya, hatiku pun perlahan-lahan menjadi dingin. Melihat aku yang tidak bereaksi, Yohan berhenti menangis dan menatapku sambil memanggil, “Ibu?” Aku tersenyum, lalu berjalan ke samping ranjang pasien Marco dan membuka kain putih yang menutupi tubuhnya. Berhubung gerakanku terlalu mendadak, dokter dan perawat di sekitar tidak sempat menghalangiku. Wajah Marco yang berbaring di ranjang pasien terlihat segar. Aku bahkan berhasil menangkap jarinya yang sempat bergerak sesaat. Semua ini benar-benar konyol. Namun, akting yang buruk ini malah berhasil menipuku dengan mudah di kehidupan sebelumnya. Di kehidupan sebelumnya, demi tidak membuat Yohan terguncang, aku tidak membuka kain putih yang menutupi tubuh Marco. Aku juga tidak memperhatikan ekspresi gugup dokter utama yang berdiri di samping. Aku memandang ke sekeliling dengan tatapan dingin, lalu menatap dokter utama yang berdiri di samping itu. Rumah sakit swasta ini pada dasarnya memang tidak resmi. Setelah dipikir-pikir sekarang, Marco seharusnya sudah menyogok mereka untuk membantunya bersandiwara. “Ibu! Ngapain kamu!” Yohan buru-buru menghampiriku. Bagaimanapun juga, dia masih belum terlalu dewasa. Matanya memancarkan ketakutan karena khawatir hal ini terbongkar. “Ayah sudah meninggal. Biarkan saja dia pergi dengan tenang. Jangan ganggu dia lagi.” “Orang yang sudah mati mana ada perasaan tenang atau nggak,” jawabku dengan tenang. Aku tidak membongkar kebohongannya. Yohan pun tertegun sejenak, seolah-olah tidak menyangka aku akan berkata seperti itu. “Ibu, apa maksudmu?” Aku tidak menanggapinya dan langsung mengeluarkan ponselku untuk menghubungi lembaga donasi organ terdekat. “Halo? Ada seorang mayat yang organnya mau didonorkan. Benar, di Rumah Sakit Kacinta. Suamiku baru meninggal, jasadnya masih segar. Aku mau tandatangani surat persetujuan donornya. Kalian datang secepat mungkin ya." Begitu mendengar ucapanku, Yohan langsung membelalak. Setelah aku memutuskan sambungan telepon, dia masih belum tersadar dari keterkejutannya. “Surat persetujuan donor organ? Ibu, kamu mau ngapain?” Aku menyimpan ponselku, lalu menjawab dengan santai sambil menatapnya, “Bukannya otak ayahmu alami pendarahan? Tapi, retina, hati, paru-paru, ginjal, dan organ lainnya masih bagus. Kalau didonorkan, mungkin saja berguna.” Kebetulan, ada anggota dari lembaga donasi organ itu yang sedang berada di rumah sakit ini. Baru beberapa menit berlalu, ada beberapa orang yang sudah tiba. “Apa kamu Bu Isabel? Tadi, kamu yang hubungi kami, ‘kan?” Aku tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah suamiku yang berpura-pura mati dan menjawab, “Benar. Tuh, mayatnya di sana.” Staf itu langsung berujar dengan berlinang air mata, “Terima kasih banyak, Bu Isabel. Orang sebaikmu sudah jarang ditemukan. Aku wakili lembaga kami untuk berterima kasih padamu.” “Nggak masalah. Waktu masih hidup, suamiku itu orang yang suka menolong orang. Kalau tahu organnya masih berguna setelah meninggal, dia pasti senang.” Staf itu mengangguk dan berkata, “Hal ini nggak boleh ditunda. Kami bekukan jasad suamimu dulu ya. Nanti, kami baru bawa jasadnya ke rumah sakit dan tangani urusan penandatanganan suratnya. Bagaimana menurutmu?” Aku menjawab sambil tersenyum berseri-seri, “Tentu saja boleh!” Melihat staf yang hendak membawa pergi Marco, Yohan pun berseru panik, “Tunggu!” Bab 3 Yohan terlihat sangat panik. Dia mengadang di depan ranjang pasien Marco dan berseru, “Nggak bisa! Aku nggak setuju!” Aku berpura-pura menyalahkannya, “Ini urusan orang dewasa. Kamu nggak usah ikut campur.” Yohan mulai berkeringat dingin, sedangkan aku hanya memandangnya dengan dingin. “Ibu, bukannya kamu paling cinta sama Ayah? Apa kamu tega melihatnya meninggal tanpa tubuh yang utuh?” tanya Yohan dengan suara yang penuh permohonan. Aku tetap berpegang teguh pada pendirianku dan menjawab, “Mendonorkan organ adalah hal yang bisa menyelamatkan orang lain. Aku lagi bantu dia pupuk kebaikan. Mungkin saja dia bisa dilahirkan di tempat yang lebih baik di kehidupan selanjutnya.” Berhubung tidak dapat membuatku berubah pikiran, Yohan berusaha keras untuk menghalangiku sambil memandang ke sekeliling, seolah-olah sedang mencari seseorang. Pada detik berikutnya, matanya langsung berbinar. “Bibi Susi!” Aku menoleh dan melihat seorang wanita yang berdandan cantik sedang berjalan mendekat dengan terburu-buru. Wanita itu adalah teman masa kecil Marco. Aku pun mencibir dalam hati. Sepertinya, dugaanku benar. Susi memang sedang menunggu di sekitar untuk menjemput Marco. Di kehidupan sebelumnya, aku tertipu oleh Yohan dan Susi yang bekerja sama sehingga tidak memeriksa jasad Marco dengan teliti. Pada akhirnya, aku hanya sempat melirik jasadnya sekali sebelum dikremasi. Jadi, mereka memiliki kesempatan untuk mengganti tubuh aslinya. “Kak Isabel, apa-apaan kamu?” Susi buru-buru mengadang di depanku dengan ekspresi panik. Kemudian, dia menerjang ke sisi ranjang pasien dan berpura-pura menangis sambil berseru, “Kak Marco, kamu kenapa? Nggak bisa! Aku nggak setuju organnya didonorkan! Isabel, kenapa kamu begitu kejam? Kak Marco sudah begini, kamu masih mau donor organnya. Memangnya kamu nggak bisa biarkan dia pergi dengan tenang?” Melihat wanita yang menangis dengan sedih di hadapanku itu, aku merasa sangat benci dan marah. Dia adalah teman masa kecil Marco, tetapi akhirnya menikah dengan seorang pebisnis kaya dari kota tetangga dan memutuskan hubungan dengan Marco. Siapa sangka pebisnis kaya itu kemudian terlibat dalam perjudian dan menghabiskan seluruh harta keluarga mereka, juga melakukan KDRT. Setelah mengalami KDRT beberapa kali, Susi akhirnya tidak tahan dan pulang ke rumah. Begitu mengetahui apa yang dialaminya, aku sangat mengasihaninya, juga memperlakukannya bagaikan seorang adik kandung. Sesekali, aku akan memberinya uang dan juga mengundangnya untuk makan di rumah kami. Tak disangka, dia dan Marco malah diam-diam berselingkuh. Berhubung Susi tiba-tiba muncul, staf dari lembaga donasi organ merasa sangat serbasalah dan menatapku sambil bertanya, “Bu Isabel, apa hal ini masih mau dilanjutkan?” Aku melirik Susi, lalu menjawab dengan acuh tak acuh, “Tentu saja! Kenapa harus dibatalkan? Orang tua Marco sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sedangkan Yohan masih belum cukup umur. Aku ini istri sah Marco, satu-satunya orang yang punya hak untuk memutuskan hal ini. Bu Susi, apa hubunganmu dengan Marco? Apa hakmu ikut campur dalam urusan keluarga kami?” Begitu mendengar ucapanku, staf itu langsung tidak segan lagi pada Susi. “Bu, tolong minggir. Jangan ganggu kerja kami.” Kemudian, mereka mendorong Susi dan segera memindahkan “jasad” Marco ke tandu. “Tunggu! Kalian mau bawa Marco ke mana?” tanya Susi dengan panik. Namun, dia juga tidak bisa mencegahnya. “Kami mau letakkan jasadnya ke lemari pembeku dulu, lalu baru memindahkannya ke rumah sakit di bawah kelola lembaga kami.” Setelah menjawab pertanyaan itu, staf itu pun mendorong pergi tandunya. Susi dan Yohan ditahan oleh orang lainnya sehingga tidak bisa mendekati Marco. Pada akhirnya, “jasad” yang dari tadi berbaring diam itu pun tidak dapat meneruskan sandiwaranya lagi. “Uhuk, uhuk! Tunggu! Aku belum mati!”