Đang tải thông tin quảng bá...
Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku
Ibuku adalah seorang seniman forensik yang paling andal di kantor polisi. Dia tegas, berintegritas, dan sangat membenci kejahatan. Namun, ketika menerima telepon darurat dariku, dia malah menegurku ...
Chương (1)
第1章
Ibuku adalah seorang seniman forensik yang paling andal di kantor polisi. Dia tegas, berintegritas, dan sangat membenci kejahatan.
Namun, ketika menerima telepon darurat dariku, dia malah menegurku dengan tegas, “Kamu jelas-jelas tahu ini hari ulang tahun adikmu yang baru mencapai usia dewasa, tapi kamu malah mau pakai trik kotor ini untuk merusak suasana! Kalau kamu benar-benar diculik, biar saja penculik itu membunuhmu!”
Dia yakin bahwa ini hanyalah lelucon dan menolak datang ke kantor polisi untuk membuat sketsa. Akhirnya, dia melewatkan kesempatan terbaik untuk menyelamatkanku dan aku disiksa hingga mati.
Setelah laporan tes DNA keluar, dia bergegas pergi ke tempat kejadian dengan langkah yang goyah. Berdasarkan tulang-tulangku, dia mulai menggambar sketsaku dengan tangan yang gemetar.
“Ini nggak mungkin adalah Janice! Aku pasti salah gambar!”
Namun, tidak peduli berapa kali dia menggambar, sketsa yang dihasilkannya menampilkan dengan jelas wajahku saat aku meninggal. Ibuku yang selalu membenciku akhirnya meneteskan air mata.
Bab 1
Aku sudah mati. Pakaian bagus yang kukenakan diganti dengan pakaian compang-camping pengemis yang terlalu longgar untukku. Wajahku juga sudah hancur akibat sayatan pisau.
Arwahku melayang di udara dan ditarik kembali ke rumah oleh daya tarik yang kuat. Di ruang tamu, Ibu mendorong sebuah kotak kado besar ke hadapan Jessica dengan susah payah. Kotak kado itu berisi hadiah yang dipersiapkannya dengan sepennuh hati. Nilai semua barang itu tidaklah murah.
Namun, di hari aku mencapai usia dewasa, Ibu bahkan tidak mengucapkan sepatah kata selamat kepadaku. Selama ini, kata-kata yang paling sering diucapkannya padaku adalah, “Kenapa yang mati waktu itu bukan kamu?”
Saat lahir, aku sangat sehat, tetapi kakak kembarku malah tidak dapat bertahan hingga 24 jam. Dokter berkata janin tidak berkembang dengan baik di dalam kandungan sehingga menyebabkan kegagalan organ.
Seorang wanita tua yang berada di ranjang pasien samping menceritakan pengalamannya.
“Bayi perempuanmu yang rebut nutrisi bayi laki-lakimu. Sepanjang jadi bidan di desa selama ini, aku sudah sering ketemu hal kayak begini. Bayi perempuan seperti ini sangat kuat.” Dia mendekat untuk melirikku, lalu tertawa dan melanjutkan, “Lihat putrimu ini. Cantik banget! Putih dan gemuk lagi!”
Ibuku yang bersandar di tempat tidur pun menatapku dengan penuh kebencian yang bercampur dengan kebingungan.
Sementara itu, ayahku langsung murka begitu mendengar hal ini. Dia mengatakan tidak bisa menerima pukulan ini dan bersikeras mau bercerai dengan Ibu. Dia yakin bahwa aku adalah pembawa sial dan akan memengaruhi bisnisnya jika berada di sisinya.
Sejak saat itu, aku pun dilabeli dengan kata “malapetaka” dan “pembawa sial”.
“Ibu, kenapa Kakak masih belum pulang semalam ini? Apa mungkin dia benar-benar diculik?”
Suara Jessica yang bertanya dengan hati-hati menyadarkanku dari lamunanku.
Saat mendengar namaku, Ibu langsung terlihat kesal. Bahkan ada sedikit kebencian yang menghiasi wajahnya. Dia menjawab, “Omongan orang yang suka bohong sepertinya mana bisa dipercaya? Mana mungkin ada penculik yang sudah menculiknya, tapi nggak minta uang. Dia cuma mau aku ke sana dan merusak acaramu. Dasar anak berhati jahat!”
Aku pun tercengang. Ucapan Ibu bagaikan pisau yang menancap di hatiku. Pada saat diculik, aku juga mengira penculiknya menginginkan uang. Namun, dia hanya menekan pisaunya ke leherku dengan sekujur tubuh yang gemetar dan menyuruhku menelepon Ibu.
Setelah yakin Ibu tidak akan datang untuk menyelamatkanku, pria itu tiba-tiba murka. Dia mengambil pipa baja dari samping dan tidak berhenti menghantam kepalaku. Saat aku masih sadarkan diri, dia menggunakan pisaunya untuk mencongkel satu per satu kukuku.
Pada akhirnya, dia juga menggores wajahku hingga rusak. Setelah meninggalkan luka di sekujur tubuhku, dia mencari pakaian pengemis dan menukarnya dengan baju yang kukenakan. Aku tidak akan melupakan apa yang dikatakannya sebelum aku sepenuhnya kehilangan kesadaranku.
Dia menancapkan pisaunya ke jantungku dan berkata, “Punya keluarga, tapi malah nggak disayang. Kamu bahkan nggak sebanding dengan pengemis.”
Bab 2
Setelah merasakan kebencian Ibu terhadapku, Jessica pun tersenyum. Setelah itu, dia mengangkat kepalanya dan bertanya dengan sok polos, “Ibu, kalau aku yang diculik. Apa yang akan kamu lakukan?”
Begitu mendengar pertanyaan itu, Ibu segera menghentikan apa yang sedang dilakukannya dan berjalan ke hadapan Jessica. Dia menjawab dengan ekspresi serius, “Ibu nggak akan biarkan hal seperti itu terjadi padamu. Kalau benar terjadi, percayalah pada Ibu. Ibu pasti akan langsung gambar wajah penculiknya dan menyelamatkanmu.”
Jessica merangkul lengan Ibu, lalu berkata dengan manja, “Ibu paling baik! Tapi, gimanapun juga, Kakak itu juga putrimu. Kita maafkan saja kebohongan dia kali ini. Oke?”
Ekspresinya terlihat sangat tulus, seperti 3 tahun yang lalu. Aku akan berkompetisi di sebuah lomba piano yang sangat penting dan ingin Ibu menemaniku. Sebab, aku ingin menunjukkan padanya keunggulanku dan membuktikan bahwa aku juga bisa membuatnya bangga. Aku bukanlah orang pembawa sial.
Aku berulang kali menyusun kata, lalu menelepon ke rumah dan mengajukan permintaan ini dengan hati-hati. Ibu menyetujuinya. Aku pun menggenggam ponselku sambil melompat gembira.
Namun, pagi hari itu, Ibu tiba-tiba menelepon dan mengatakan tidak bisa hadir.
“Jessica lagi sakit. Aku khawatir sama dia. Kamu pergi saja sendiri ke lomba apa itu.”
Di dalam panggilan video, Jessica yang berwajah pucat menatapku dengan dan berkata dengan perasaan bersalah, “Kak, maaf. Aku nggak enak badan .... Kamu sudah terbiasa mandiri, tapi aku nggak bisa tanpa Ibu. Kak, semangat ya lombanya!”
Aku menatap anak lain yang ditemani orang tua mereka, lalu tiba-tiba meneteskan air mata. Mereka memegang sebuket bunga dan tersenyum gembira. Itu adalah harapan dan dukungan terhadap anak mereka.
Namun, ibuku bahkan tidak ingat lomba apa yang akan kuhadiri. Di hatinya, aku tidaklah penting. Setelah lomba berakhir, aku mengeluarkan ponsel dan kebetulan melihat postingan yang diunggah Jessica ke media sosialnya.
[ Sebenarnya, aku cuma flu ringan, tapi Ibu sangat khawatir padaku dan menjagaku dengan baik. Aku benar-benar gembira! ]
Foto yang diunggahnya itu adalah punggung Ibu yang sedang memasakkan sup untuknya.
Rasa sakit mulai menyelimuti hatiku. Jessica sepertinya selalu bisa mendapatkan kasih sayang “ibu” yang kudambakan dengan mudah. Sementara itu, meskipun sudah berusaha seumur hidup, aku tetap tidak mampu mendapatkan sedikit pun kasih sayang itu. Aku selalu menjadi orang yang tidak dicintai.
Bab 3
Jessica menyimpan kado itu ke kamarnya, lalu mengajukan permintaan pada Ibu, “Ibu, boleh temani aku pergi berlibur demi merayakan kelulusanku?”
Jessica membuka sebuah agenda dari ponselnya yang berisi daftar kota-kota yang ingin dikunjunginya. Dia sibuk memperkenalkan setiap kota dengan semangat. Namun, Ibu malah melamun dan menatap ponselnya lekat-lekat dengan kening berkerut.
Jessica memanggilnya beberapa kali, tetapi Ibu tidak merespons. Jessica pun mulai berlinang air mata dan berkata dengan suara tercekat, “Maaf, Ibu. Aku yang kurang pengertian. Kakak masih marah. Mana boleh aku mengajakmu pergi berlibur bersamaku di waktu seperti ini.”
Ibu akhirnya tersadar dari lamunannya. Saat melihat putri bungsunya yang menangis, dia pun merasa sakit hati. Dia buru-buru memeluk Jessica dan berkata, “Ini bukan salahmu. Janice sendiri yang terlalu keras kepala. Tapi, aku baru terima pemberitahuan ....”
Ibu lanjut berkata dengan agak ragu, “Katanya, ada mayat wanita yang ditemukan di tong sampah 10 kilometer dari sini. Dari pemeriksaan awal, dia sepertinya diculik dan disiksa sebelum dibunuh. Menurutmu, apa mungkin itu kakakmu ....”
Jessica menggenggam tangan Ibu, lalu bertanya dengan agak ragu, “Gimana kalau kita telepon Kakak?”
Sebelum Jessica selesai berbicara, Ibu sudah meneleponku. Setelah berdering beberapa detik, panggilan itu langsung ditolak. Ibu pun berseru marah, “Ternyata dia memang bohong soal dia diculik!”
Jessica tersenyum sinis untuk sesaat, lalu menghibur, “Ibu, jangan marah. Mungkin Kakak masih marah.”
“Jangan pedulikan dia lagi! Meski dia mati di luar sana, itu juga nggak ada hubungannya dengan kita.”
Aku menoleh ke arah Ibu dan mengamati ekspresinya dengan cermat. Aku mencoba untuk menemukan sedikit perhatian dari raut wajahnya, tetapi tidak menemukan apa-apa.
Aku yang tiba-tiba tidak bisa dihubungi hanya membuatnya marah dan benci. Dia merasa aku sengaja mau merusak hari ulang tahun Jessica dengan segala cara dan menganggapku orang yang suka berbohong.
Aku jelas-jelas hanyalah arwah, tetapi ternyata masih bisa menangis. Aku berkata sembari tersenyum getir, “Ibu, kamu benar-benar nggak pernah menyayangiku? Kalau begitu membenciku, kenapa kamu melahirkanku?”
Bab 4
Sebenarnya, aku pernah menanyakan pertanyaan yang sama sekali. Pada saat itu, aku baru masuk SMP kelas 3. Itu adalah tahun belajar yang sangat intens.
Ibu jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan puluhan juta. Demi meringankan bebannya, aku tidak berhenti mengikuti lomba di berbagai kota untuk memenangkan hadiah. Setelah itu, aku juga bolak-balik antara sekolah dan rumah sakit untuk menjaganya. Aku pun menjadi sangat kurus karena kelelahan.
Ibu juga sepertinya terharu dan tersenyum padaku untuk yang pertama kalinya. Saat bertemu dengan tetangga, dia akan memujiku dan mengatakan aku sangat berbakti. Aku yang berdiri di belakangnya menarik lengan bajunya dengan hati-hati sambil tersenyum malu nan bahagia.
Itu adalah pertama kalinya aku merasa aku bisa mendekati Ibu, juga mendapatkan sedikit rasa sayang dan kelembutannya dengan usahaku. Semuanya juga terasa seperti perlahan-lahan berkembang ke arah yang baik.
Sampai sore hari itu, Jessica memeluk celengannya yang terbuka, lalu berjalan ke hadapanku dan berkata sambil menangis, “Kak, aku ngerti kamu perhatian sama Ibu. Aku bahkan bisa memberimu semua uang jajanku. Tapi kenapa setelah mengambil uangku, kamu bohongi Ibu itu uang yang kamu menangkan dari lomba?”
Aku langsung menoleh ke arah Ibu. Sinar matahari yang masuk dari jendela menerangi sepasang mata ibu yang sudah memiliki kerutan halus. Kemudian, aku melihat mata yang awalnya memandangku dengan lembut itu perlahan-lahan berubah menjadi dingin seperti biasa.
“Bukan begitu. Ibu, aku nggak ambil uang Jessica ....” Aku pun spontan panik dan hanya berpikiran untuk menjelaskannya. Namun, sebelum sempat melakukannya ....
“Plak!” Suara tamparan yang nyaring memenuhi seluruh ruangan.
Ibu memandangku dengan penuh kebencian dan berkata, “Kamu memang jahat! Kenapa aku bisa melahirkan anak sepertimu!”
Setelah ibu pergi, aku menatap Jessica dengan berlinang air mata dan bertanya, “Kenapa kamu fitnah aku?”
Setelah memastikan Ibu sudah masuk ke kamar, dia akhirnya menunjukkan sifat aslinya. Dia yang baru genap berumur 10 tahun masih tetap tersenyum. Namun, kata-kata yang diucapkannya sangat menyakitkan.
“Kamu itu cuma anak kasihan yang nggak disayang. Mau nyenangin Ibu? Jangan mimpi! Karena kelahiranmu, Kakak baru mati dan Ayah cerai sama Ibu!” Dia menatapku sambil menggertakkan giginya, “Janice, orang pembawa sial sepertimu nggak seharusnya hidup!”
Malam itu, rasa sakit hati dan kebingungan merajalela dalam hatiku. Aku menggunakan jangka untuk menusuk pergelanganku beberapa kali. Namun, bahkan rasa sakit seperti itu juga tidak mampu menyelamatkanku dari jurang putus asa dan kegelisahan.
Pada akhirnya, aku masuk ke kamar Ibu dan bertanya, “Ibu, kalau kamu nggak sayang sama aku, untuk apa kamu melahirkanku?”
Dia memejamkan matanya tanpa menjawab. Namun, aku tahu dia belum tidur. Saat aku masih hidup, dia tidak sudi memberiku jawabannya. Setelah aku mati, dia tidak dapat mendengar pertanyaanku dan lebih tidak mungkin menjawabnya lagi.
Bab 5
Seminggu kemudian, pihak polisi akhirnya mendapatkan hasil laporan DNA-ku. Saat mereka menelepon Ibu, dia sedang memasakkan sarapan untuk Jessica.
Aku berdiri di samping dengan ekspresi datar dan melihatnya menghidangkan sarapan yang dibuatnya dengan sepenuh hati ke meja. Sebab, Jessica sangat mementingkan detail kecil dalam hidup seperti ini.
“Kak Sarah, hasil laporan DNA korban sudah keluar. Dia itu seorang wanita dewasa yang baru genap 20 tahun. Sebelum mati, dia mengalami penyiksaan yang kejam. Dia mengalami lebih dari 30 patah tulang dan lebih dari 20 luka tusukan. Semua luka ini dideritanya sebelum tewas.”
Ibu pun tertegun. Gerakannya yang sedang menghangatkan susu juga terhenti. Dia merespons secara refleks, “Benarkah? Pembunuh itu benar-benar kejam.”
“Makanya. Sekarang, kami cuma harap bisa temukan pelakunya supaya bisa tegakkan keadilan untuk korban.”
“Aku mengerti. Nanti, aku akan ke sana untuk gambar sketsanya,” jawab Ibu. Kemudian, dia menuang susu hangat itu ke gelas milik Jessica. Dia juga tidak lupa meletakkan sendok kartun favorit Jessica di samping. Setelah melakukan semua ini, dia pun berjalan ke arah kamar Jessica dan hendak membangunkannya untuk sarapan.
“Oke, Kak Sarah. Kami tunggu kamu di kantor polisi.”
Tepat pada saat orang itu hendak memutuskan sambungan telepon, Ibu akhirnya teringat sesuatu dan berseru, “Tunggu!”
“Ada apa, Kak Sarah?”
Setelah ragu sejenak, Ibu bertanya, “Siapa nama korbannya?”
Ibu tiba-tiba terlihat agak gugup. Matanya juga menunjukkan kekhawatiran dan kegelisahan yang jelas. Aku menatapnya dalam diam, tetapi juga merasa agak penasaran bagaimana ekspresinya begitu mengetahui faktanya.
Apa dia akan terkejut? Apa dia akan menyesal, lalu menangis pilu dan meminta maaf padaku? Apa ... setelah tahu aku mati, dia bisa membagikan sedikit kasih sayangnya padaku?
Saat berbagai macam pemikiran itu berkecamuk dalam benakku, orang di ujung telepon menjawab, “Coba kulihat. Nama korban itu ... Janice Hernanda.”