Đang tải thông tin quảng bá...
Pesan Terakhir Loren Jose
Tante Desy mengikatku di sofa dan pergi keluar merayakan hari valentine bersama ayah. Aku meneleponnya tiga kali. "Tante Desy, tolong lepaskan aku, aku kesakitan." Namun, Tante Desy sibuk memisahkan a...
Chương (1)
第1章
Tante Desy mengikatku di sofa dan pergi keluar merayakan hari valentine bersama ayah.
Aku meneleponnya tiga kali.
"Tante Desy, tolong lepaskan aku, aku kesakitan."
Namun, Tante Desy sibuk memisahkan ayah dan ibuku, memintaku bersabar sedikit lagi.
"Ayah, bisakah ayah pulang dan masakin aku? Aku lapar sekali."
Namun, ayah sibuk mengejar mengejar mantan kekasihnya dan hanya mentransfer uang, menyuruhku membeli sendiri.
"Ibu, aku hampir mati. Tolong pulanglah ... "
Namun, hanya terdengar suara ibu yang dingin,
"Bukannya kamu sudah menganggap Tante Desy itu ibumu?"
Kemudian, panggilan pun terputus.
Aku mati kelaparan di antara bau busuk kotoran.
Bab 2
Aku pernah protes pada ibu, tetapi ibuku hanya berkata,
"Loren, kamu harus ingat, selain menjadi ibu, aku juga adalah diriku sendiri."
"Jadi, ibu nggak akan mengorbankan waktuku hanya untukmu."
Tapi, kalau ibu nggak menyukaiku, kenapa masih melahirkanku ... ?
Apa yang harus Loren lakukan supaya ibu bisa lebih menyukaiku?
Ibu, Loren memanggil Tante Desy ibu hanya karena ingin merasakan kasih sayang seorang ibu ...
"Ini ... ini anakmu?"
Ayah memandang anak kecil itu dengan wajah terkejut.
"Baru lima tahun nggak bertemu, kamu sudah punya suami baru dan bahkan sudah melahirkan seorang anak?"
Aku menganga.
Ternyata aku sudah meninggal lima tahun yang lalu. Ibu dan ayah sudah punya kehidupan masing-masing sekarang.
Sepertinya mereka sudah melupakanku.
Wajah ayah tampak sangat sedih. Dia menutup wajahnya dengan tangan dan berjongkok sambil menangis.
"Maureen, setelah berpisah darimu, aku bahkan nggak berani pulang ke rumah lama kita."
"Aku takut mengingat kenangan kita. Rasanya begitu menyakitkan."
Sekarang hanya aku seorang yang tinggal di rumah kecil itu.
Dulu, aku juga pernah berpikir ingin tinggal sendirian di rumah itu. Dengan begitu, aku tak perlu takut ayah memarahiku atau khawatir ibu mengabaikanku.
Namun, ketika Tante Desy mengikatku di sofa, aku menyesal.
"Tante Desy, kenapa kamu melakukan ini? Aku nggak akan lari ke mana-mana."
Tante Desy adalah sekretaris ayah. Ayah memintanya datang untuk menjagaku.
"Loren, kenapa kamu nggak memanggilku ibu lagi?"
Mendengar itu, aku menggeleng kuat.
"Maaf Tante Desy, aku nggak begitu paham dulu, jadi asal memanggilmu ibu."
"Tapi sekarang Loren sudah paham, ibu itu hanya ada satu di dunia ini!"
Mendengar itu, ekspresi Tante Desy malah berubah kesal.
Orang dewasa sekarang memang aneh, kenapa begitu sensitif dengan kata ibu. Aku benar-benar tak mengerti.
"Kalau kamu nggak memanggilku ibu, lebih baik pergi mati saja!"
Aku tahu apa artinya mati.
Aku pikir Tante Desy akan menusukku dengan pisau, meracuniku atau menutup wajahku dengan bantal sampai aku mati.
Namun, dia tak melakukannya.
Dia hanya mengikatku dengan sangat erat sampai aku tak bisa bergerak, lalu pergi begitu saja.
"Kalau ibumu kembali, tolong sampaikan padanya."
"Bahwa aku sedang merayakan hari valentine bersama ayahmu."
Ibuku tidak kembali.
Tante Desy bohong, ibu tak akan datang melihatku.
Sakit sekali, tali itu menembus ke dalam kulitku, membuat kulitku lecet dan terluka.
Sebagai anak laki-laki yang gagah, aku tak boleh menangis.
Aku berusaha menyalakan jam tangan teleponku dan menelepon Tante Desy. Aku ingin bernegosiasi dengannya.
"Tante Desy, tolong lepaskan aku, aku kesakitan sekali."
"Loren janji, nggak akan merepotkanmu lagi ke depannya."
Di balik panggilan, terdengar suara gaduh dan ada suara ayah di sana. Nada suara Tante Desy berubah, menjadi tinggi dan tajam.
"Loren, aku dan ayahmu sedang sibuk. Kamu sabar sedikit, ya?"
Sepertinya Tante Desy lebih cocok jadi pengisi suara.
Dia bisa mengisi suara tokoh nenek sihir di kartun.
Karena Tante Desy tak peduli padaku, aku pikir ayah mungkin akan memedulikanku. Dengan susah payah, aku menelepon ayah.
"Ayah, bisakah kamu pulang dan masak untukku? Aku lapar sekali."
"Loren janji akan jadi anak yang baik dan nggak merepotkan ayah lagi."
Dari balik panggilan, aku mendengar suara ibu.
Suara ibu terdengar sangat dingin, dia sedang membahas perjanjian perceraian dengan ayah.
"Aku sudah mentransfer uang makannya, kamu bisa pesan makan sendiri."
Jawab ayah dengan buru-buru, lalu nadanya menjadi rendah dan memohon pada ibu.
"Maureen, Desy itu sekretarisku, tentu saja hubungan kerja kami sangat dekat."
"Keterlaluan kalau kamu terus ribut seperti ini."
"Ayolah, dengarkan aku, jangan ... "
Suara ayah berhenti dan panggilannya terputus.
Bab 3
Perutku keroncongan.
Aku menunggu dan terus menunggu.
Di luar jendela, matahari terbit dan langit biru gelap kembali berubah menjadi hitam.
Aku menghitung dengan sungguh-sungguh.
Aku sudah melihat tujuh kali matahari terbit dan enam kali malam hari.
Perutku sakit sekali, rasanya kulit perutku menempel langsung ke tulang.
Tali yang mengikatku kini sudah menyatu dengan kulitku. Setiap kali aku bergerak, rasanya sangat sakit.
Lapar sekali ...
Sakit sekali ...
Aku bisa merasakan sesuatu perlahan menghilang, mungkinkah itu nyawaku?
Di drama TV, setiap kali tokoh utama meninggal, mereka pasti akan mengucapkan selamat tinggal pada orang paling penting bagi mereka..
Siapa orang paling penting bagiku?
Oh, ibu!
Aku lahir dari rahim ibu, tentu saja aku mencintai ibu!
Dengan tubuh gemetar dan seluruh sisa kekuatanku, aku meneleponnya.
"Ibu, Loren hampir mati ... bisakah ibu datang untuk melihatku ... ?"
"Nggak ... nggak perlu datang juga nggak apa-apa, tapi bisakah ibu bilang kalau ibu mencintaiku?"
"Atau, kalau nggak cinta juga nggak apa-apa! Ibu, bisakah kita bicara lebih lama?"
Setiap kali aku berbicara, luka di tubuhku semakin sakit.
Namun, ibu hanya menghela napas.
Saat aku memintanya membacakan buku cerita untukku, dia juga selalu terlihat kesal seperti ini.
"Loren Jose, bukankah kamu sudah mengakui Tante Desy itu ibumu?"
Akhirnya aku menemukan kesempatan untuk membela diri.
Aku berkata dengan keras,
"Bukan! Kamu ibuku."
"Tante Desy bukan ibuku! Kamu adalah ibuku!"
Namun, tubuhku sudah tak punya tenaga lagi, suaraku perlahan melemah.
"Ibu, aku mencintaimu."
Namun, ibu malah tertawa, seolah mendengar lelucon paling lucu di dunia.
"Loren Jose, jangan panggil aku ibu lagi. Kamu hanyalah beban dalam hidupku."
"Aku nggak mau hidupku terjebak dalam pernikahan dan anak."
"Jangan ganggu aku lagi."
Aku pun langsung menutup mulutku.
Aku sudah berjanji menjadi anak laki-laki yang tegar, tapi air mataku tetap mengalir deras.
Tak boleh! Aku tak boleh membiarkan ibu tahu kalau aku menangis!
"Iya, bu."
Kali ini, aku yang menutup teleponnya.
Sayang sekali, aku tidak bisa melihat matahari terbit lagi besok.
Anak ibu yang baru kini berada di pelukannya, matanya yang besar sangat mirip denganku.
Baiklah, aku akan mengalah dan mengizinkanmu menjadi adikku.
Aku akan mengizinkanmu mendapatkan sedikit kasih sayang ibu. Tapi, jangan terlalu banyak, ya.
Aku bergumam sendiri, meskipun hati kecilku tahu bahwa semua kasih sayang ibu sudah diberikan kepada adik baruku.
Dan aku bahkan tidak mendapatkan sedikitpun.
"James Jose, pergilah. Suami dan anakku sudah menungguku."
Ayah mengepalkan tangannya dengan erat. Dengan mata berkaca-kaca, dia berkata pada ibu,
"Maureen, aku akan berusaha menebus semua luka yang kamu alami dulu."
"Aku nggak rela kehilanganmu."
Ibu hanya diam dan bibirnya membentuk garis lurus yang tegas.
"Apa gunanya menebus semua? Waktu sudah nggak bisa diputar kembali."
Tiba-tiba, ponsel ibu berdering, yang meneleponnya adalah nenek.
"Anakku, pulanglah dan lihat Loren."
Begitu mendengar namaku, ibu langsung mengernyit.
"Sudah kubilang jangan ungkit namanya lagi."
"Ah, sudahlah."
Ibu menyerahkan ponsel itu pada ayah.
"Urusan anakmu, kamu saja yang dengar."
Suara nenek terdengar sangat cemas di balik panggilan. Dia juga tak peduli siapa yang mengangkat telepon itu, hanya berkata,
"Cepat pulang dan lihat anakmu! Loren ... dia ... haish!"
Mendengar nenek tak mengatakan apa-apa, ayah menghela napas.
"Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?!"
Namun, ibu tampak tidak senang.
"Kita sudah cerai, jangan panggil ibu, panggil tante saja."
Nenek tidak peduli soal panggilan, dia tampak semakin cemas.
"Tak peduli siapa kalian! Cepat pulang ke rumah!"
"Pulang dan lihat Loren, dia itu anak kandung kalian!"
Nenek marah, ayah dan ibu pun terdiam.
"Itu anakmu, bukan anakku."
"Sekarang anakku hanya Marvin,"
Ujar ibu sambil memalingkan wajah.
Bab 4
Ibu, kata-katamu membuatku sangat sedih.
Namun, aku sudah terbiasa.
Ibu, aku akan memaafkanmu. Tapi, bisakah kamu memaafkanku juga?
Ayah menghela napas.
"Baiklah, aku pulang sekarang."
Ayah mau pulang ke rumah untukku.
Namun, aku tahu, itu semua karena nenek adalah ibunya ibu.
Ayah ingin merebut kembali hati ibu, jadi dia harus menuruti kata-kata nenek.
Aku paham banyak hal, aku sudah seperti orang dewasa kecil sekarang.
Ternyata ini yang dimaksud dengan peka terhadap situasi.
Saat sampai di rumah, ayah melihat garis polisi terpasang di pintu. Setelah membuktikan bahwa dia adalah bagian dari keluarga, ayah akhirnya diizinkan naik ke lantai atas.
Saat melihat ayah, nenek langsung tak dapat menahan diri. Dia memegang lengan ayah dan jatuh ke lantai.
"Cucuku, Loren sayang!"
Nenek menangis sejadi-jadinya.
Saat itulah, ayah melihat jasadku.
Untuk menjaga kondisi tempat kejadian, jasadku tetap terbaring sendirian di sofa.
Namun, setelah lima tahun berlalu, tubuhku yang membusuk bersama kotoran telah mengering dan kini menyerupai fosil yang melekat di sofa.
"Ini ... "
Padahal ayah tidak rabun, tetapi dia menyipitkan matanya untuk mencoba melihat dengan jelas.
Nenek terus memukuli dadanya dengan tangan gemetar. Suaranya yang tua dan serak terus mengingatkan ayah.
"Itu Loren Jose! Anak kandungmu!"
"Bagaimana kamu menjaganya? Kenapa dia bisa menjadi seperti ini?!"
Ayah berdiri diam, membiarkan nenek memukul dan memarahinya.
Setelah lama terdiam, tiba-tiba ayah seperti mesin yang baru dinyalakan, dia berlari ke depan dengan liar.
"Biarkan aku masuk! Biarkan aku melihatnya!"
"Itu bukan Loren! Itu pasti bukan Loren!"
"Kalian bohong!"
Petugas yang berjaga memegang erat tubuh ayah.
"Ayah korban, harap tenangkan dirimu."
Ayah terengah-engah, bahkan ingusnya pun mulai mengalir.
Seperti bocil ingusan.
Ayah, jangan menangis lagi, Loren sudah nggak merasa sakit sekarang.
"Tenang? Bagaimana aku bisa tenangkan diriku?!"
"Anakku mati! Bagaimana aku bisa tetap tenang?"
Tubuhku hanya tinggal seperti kerangka.
Langit mulai gelap, awan jingga memantulkan sinarnya ke ruang tamu, menerangi wajahku yang sudah kering dan keriput.
Itu adalah pemandangan yang sudah kulihat enam kali.
Lama tak berjumpa, senja.
Akhirnya, ayah menyadari tali yang mengikat tubuhku, matanya penuh ketidakpercayaan.
"Apa ini?!"
"Kenapa tubuh anakku diikat dengan tali?"
"Siapa yang melakukan ini? Siapa yang mengikat anakku?!"
Tidak ada yang menjawab.
Hanya tangisan nenek dan suara gumaman orang di sekitar yang terdengar.
"Oh Tuhan, cucuku masih begitu kecil!"
"Cucuku yang manis, cucuku yang baik!"
"Siapa yang tega melakukan ini padamu?!"
Ayah duduk di lorong, menghabiskan satu bungkus rokok.
Saat hubungan ayah dan ibu masih baik, ibu tak pernah membiarkan ayah merokok.
Aku pun meniru ibu, merebut puntung rokok dari tangan ayah.
"Ayah, jangan merokok!"
"Merokok itu nggak baik untuk kesehatan!"
Tapi ayah malah merebut kembali rokoknya dan mengetuk kepalau dengan kasar.
"Anak kecil jangan ikut-ikutan dengan urusan orang dewasa."
Aku menangis, lalu menangis dan mengadu pada ibu.
Namun, ibu yang sedang memakai masker wajah dan sibuk bermain ponsel, hanya menjawab dengan santai
"Cari saja nenekmu, jangan ganggu aku."
Nenek akan memelukku.
Nenek juga sangat menyayangiku.
Namun kini, nenek yang berambut putih sedang menangis tersedu-sedu di lantai demi diriku, hingga tubuhnya mulai kejang.
"Nenek! Tolong nenekku!"
Aku hanya jiwa kecil yang tak berdaya, menangis keras di samping nenek.
Tolong lihat ke arah sini!
Siapapun, tolong bantu nenekku!
Akhirnya, nenek dibawa ke rumah sakit dan ibu pun datang.
"Ibu, apa yang terjadi denganmu?!"
Wajah ibu penuh kecemasan.
Akhirnya nenek tersadar kembali, tubuhnya yang gemuk gemetaran dan air matanya kembali mengalir deras.
"Anakku yang baik, jangan terus sibuk memikirkan urusan cintamu. Tolong pergi lihat Loren, ya?"
Ibu terlihat panik.
"Kalau aku pergi melihat anak itu, siapa yang akan menjagamu?!"
"Kamu bahkan sudah masuk rumah sakit!"
Nenek menangis histeris, lalu berteriak,
"Kalau kamu nggak pergi melihatnya, aku nggak akan menganggapmu anak lagi!"
Siapa yang tidak takut ditinggalkan oleh ibunya sendiri?
Ibu juga takut.