Đang tải thông tin quảng bá...
Terlahir Kembali: Suamiku Merasakan Sakitnya Melahirkan
Pada bulan keempat kehamilanku, aku kehilangan pekerjaanku. Suamiku mengusulkan supaya kami membayar pengeluaran masing-masing mulai sekarang. Bahkan saat aku mengalami pendarahan, dia tidak mau menge...
Chương (1)
第1章
Pada bulan keempat kehamilanku, aku kehilangan pekerjaanku.
Suamiku mengusulkan supaya kami membayar pengeluaran masing-masing mulai sekarang.
Bahkan saat aku mengalami pendarahan, dia tidak mau mengeluarkan sepeser pun untukku.
Aku dan anakku sama-sama meninggal.
Ketika membuka mata kembali, aku kembali ke hari suamiku mengusulkan split bill.
Aku langsung menyetujuinya.
Namun, dia tidak akan tahu bahwa aku adalah siluman kuda laut yang bisa memindahkan janin ke perutnya.
Bab 1
Aku terlahir kembali ke hari aku kehilangan pekerjaanku.
Malam hari setelah aku memberi tahu suamiku tentang ini, Derrick langsung mengusulkan split bill. Kami harus membayar pengeluaran masing-masing mulai sekarang.
"Leah, tenang saja. Aku nggak bakal pakai uangmu sepeser pun. Aku juga nggak bakal minta kembali uang yang sebelumnya kukasih."
Orang yang tidak tahu apa-apa mungkin akan mengira Derrick memberiku sangat banyak uang. Faktanya, tidak ada mahar ataupun pesta saat kami menikah.
Derrick membayar DP rumah, aku membayar biaya renovasi. Setelah menikah, kami sama-sama membayar cicilan rumah dan mobil.
Karena pekerjaanku lebih santai dan banyak waktu istirahat, aku yang membayar biaya pengeluaran sehari-hari serta biaya listrik dan air. Aku juga yang mengerjakan pekerjaan rumah.
Bahkan saat kencan, aku yang beli makan dan tiket nonton. Sementara itu, uang Derrick hanya digunakan untuk membeli perlengkapan seks.
Di kehidupan lampau, aku langsung murka saat mendengar usul ini. Saat aku masih bekerja, Derrick tidak pernah mengusulkan hal seperti ini. Sekarang aku mengundurkan diri untuk merawat janinku dan butuh dibiayai suami, Derrick malah bersikap perhitungan padaku.
"Sayang, ini semua demi kebaikanmu juga. Kamu nggak punya orang tua, tapi aku punya. Kamu tahu seperti apa kesehatan mereka sekarang, 'kan? Kalau kita pisah pengeluaran seperti ini, kelak kamu nggak usah ikut bayar kalau orang tuaku sakit. Begini baru adil."
Aku bilang aku tidak keberatan jika harus membantunya membayar biaya pengobatan orang tuanya.
Derrick malah menggeleng. "Aku nggak ingin melihatmu kesusahan seperti itu."
Derrick berbicara panjang lebar. Meskipun merasa enggan, aku tetap menerimanya. Ini karena aku terlalu mencintainya.
Siapa sangka, cintaku malah membunuh diriku sendiri. Dua hari sebelum melahirkan, dokter bilang bayi di kandunganku terlalu besar sehingga harus melakukan operasi sesar.
Derrick malah tidak bersedia mengeluarkan uang. "Sayang, harga operasi sesar mahal sekali kalau dibandingkan dengan melahirkan normal. Aku cuma mau patungan biaya persalinan normal. Kalau kamu mau operasi sesar, sisanya kamu tanggung sendiri."
Saat itu, aku baru tersadarkan. Bagaimana bisa Derrick masih mempeributkan tentang uang di saat nyawaku dan anakku dipertaruhkan?
Aku menahan amarahku, memberitahunya tabunganku sudah hampir habis. Aku menyuruhnya membayar dulu dan akan mengembalikannya setelah mendapat pekerjaan baru.
"Kamu nggak punya uang?" Ekspresi Derrick tampak terkejut. "Nggak bisa. Sejak awal, kita sudah sepakat. Aku nggak bakal keluar lebih."
Karena tidak ada cara lain, aku terpaksa melahirkan secara normal. Namun, bayiku terlalu besar sehingga tersangkut untuk waktu yang lama.
Setelah lahir, otaknya kekurangan oksigen dan harus dirawat di unit perawatan intensif. Aku juga menderita pendarahan hebat sehingga harus menerima transfusi darah dan dirawat di ICU.
Saat itu, aku sudah kehilangan kesadaran. Akan tetapi, Derrick masih tidak ingin keluar sepeser pun untukku dan bayiku. Dia hanya melihat kami mati.
....
"Sayang, aku cuma nggak ingin kamu merasa diperlakukan nggak adil. Jadi, kamu setuju split bill nggak?" Suara Derrick membuatku tersadar kembali.
Karena aku tidak bicara sejak tadi, Derrick mengulangi alasannya lagi. Ekspresinya tampak tulus, seolah-olah aku yang untung besar di sini.
Aku tersenyum dan menyahut, "Tapi, aku punya orang tua kok."
Bab 2
Senyuman Derrick sontak membeku. "Kamu punya orang tua? Kenapa aku nggak pernah tahu?"
Ini karena orang tuaku bukan manusia. Kami sekeluarga adalah siluman kuda laut.
Kuda laut jantan yang melahirkan anak. Jadi, ketika mendengar aku akan menikah dengan manusia, bahkan melahirkan anak untuk manusia, orang tuaku langsung mengusirku.
Aku berkata, "Aku punya terlalu banyak saudara. Orang tuaku nggak pernah menghiraukan kami. Nggak usah split bill begini."
Derrick menyahut, "Leah, aku nggak ingin kita bertengkar karena masalah uang. Aku rasa bagus juga kalau split bill. Kita putuskan seperti itu saja."
Setelah merenung sejenak, aku berujar, "Ya sudah. Tapi, sebaiknya kita buat surat perjanjian supaya ada bukti."
Derrick langsung mengambil kertas dan pena, lalu menulis semuanya dengan jelas dan cepat karena takut aku berubah pikiran.
Lima menit kemudian, Derrick menyerahkan surat perjanjian itu kepadaku. Setelah melihatnya, aku bertanya, "Kamu cuma tulis tentang pengeluaran sehari-hari dan pekerjaan rumah. Nggak ada soal biaya lahiran."
Derrick menimpali, "Kita bagi dua biaya persalinan, termasuk pemeriksaan dan operasi. Tenang saja, aku nggak bakal membuatmu rugi."
"Tapi, melahirkan sangat melelahkan bagi wanita lho."
Ekspresi Derrick berubah. "Kamu nggak mungkin minta aku tanggung semua, 'kan? Anak itu bukan cuma anakku."
"Benar, bukan cuma anakku juga. Kenapa aku yang harus mengandungnya selama 10 bulan? Kamu malah enak-enakan. Seharusnya aku mengandungnya 5 bulan, lalu kamu mengandungnya 5 bulan, 'kan?"
Derrick tertegun sesaat sebelum tertawa terbahak-bahak. "Kalau aku bisa, aku pasti membantumu mengandungnya selama 5 bulan."
"Oke. Kalau begitu, kamu tulis di surat perjanjian. Aku hamil 5 bulan, kamu juga hamil 5 bulan."
Derrick mengira aku cuma merajuk karena sedang hamil. Kemudian, kami menandatangani surat itu bersama, bahkan membubuhi sidik jari kami.
Setelah semuanya beres, aku merasa sangat puas. Aku berkata, "Sayang, tenang saja. Kelak aku pasti akan menjagamu saat kamu hamil."
Derrick tertawa terbahak-bahak. "Leah, kamu ini ada-ada saja. Mana mungkin pria bisa hamil."
Kenapa tidak mungkin? Kuda laut telah berevolusi sedemikian rupa. Bukan hanya bisa membuat diri sendiri hamil, tetapi juga membuat para pria hamil. Bahkan, kami bisa memindahkan janin ke perut pria.
Karena kamu yang meminta split bill, kita mainkan permainanmu ini.
Setelah surat perjanjian selesai dibuat, Derrick mulai menghitung biaya makan malam ini. "Malam ini kita makan pangsit dari ibuku. Kamu makan 12 buah. Harga satu pangsit 2.000, jadi totalnya 24.000. Transfer saja ke rekeningku."
Di kehidupan lampau juga seperti ini. Jika ibunya datang dan masak untuk kami, dia akan meminta bayaran dariku. Meskipun merasa kesal dulu, aku hanya bisa menahan emosiku karena telah menyetujuinya.
Aku lantas mentransfernya. Setelah melihat notifikasi di ponselnya, Derrick pun tersenyum lebar. "Kalau begitu, aku cuci piring, kamu buang sampah."
"Sebentar," ucapku.
Derrick menatapku dengan heran.
Aku terkekeh-kekeh. "Kamu sudah selesai berhitung, sekarang giliranku. Memang benar ibumu yang buat pangsit. Tapi, aku yang masak kasih matang. Aku harus dibayar untuk jasaku. Kuhitung 20.000 saja."
"Kemudian, timun yang kamu makan harganya 12.000. Cuka harganya 1.000 dan bawang putih harganya 1.500. Aku sama sekali nggak makan itu."
"Oh ya, aku juga mencuci kaus kakimu tadi. Kuhitung 24.000. Jadi, totalnya adalah 58.500. Transfer ke rekeningku saja."
Bab 3
Wajah Derrick menjadi sangat masam. "Leah, kita suami istri. Untuk apa kamu perhitungan sekali pada suami sendiri?"
Aku tersenyum sambil menimpali, "Bukannya kamu yang bilang semua harus dihitung dengan baik supaya nggak ada pertengkaran?"
Karena Derrick yang mengusulkan hal seperti ini, dia pun tidak bisa membantah dan hanya bisa mentransfer uang kepadaku.
Sesudah membereskan pekerjaan rumah, aku pergi mandi. Sekarang usia kandunganku sudah 18 minggu, jadi perutku belum terlalu besar.
Karena aku akan melahirkan pada minggu ke-38, aku akan memindahkan kandunganku ke perut Derrick minggu depan. Aku harus segera menanam kantung janin di tubuh Derrick secepatnya. Ini bukan hal yang sulit.
Aku memakai baju tidur seksi dan menyemprot parfum wangi. Saat keluar dari kamar mandi, aku melihat Derrick sedang menyusun jadwal.
Setelah memeluknya dari belakang dan melihat dengan cermat, aku baru menyadari bahwa pria ini sedang menulis jadwal pekerjaan rumah.
Seketika, suasana hatiku memburuk. Namun, ini adalah satu-satunya cara untuk menanam kantung janin. Aku pun merangkul lehernya dan memanggil dengan manja, "Sayang ...."
Begitu Derrick menoleh dan melihatku, mataku pun berbinar-binar. Harus diakui, Derrick memang tampan. Dulu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama karena ketampanannya. Tanpa peduli pada larangan orang tua, aku ngotot menikah dengannya.
Aku langsung mencium Derrick. Derrick menolak, "Kamu masih hamil."
"Sudah empat bulan, nggak masalah."
Begitu mendengarnya, Derrick langsung bersemangat. Setelah memuaskan hasratnya, dia pun tidur dengan lelap.
Keesokan pagi, terlihat tanda merah di perut Derrick. Itu adalah tanda bahwa kantung janin telah ditanam. Aku merasa sangat puas.
Hanya saja, masih ada risiko kegagalan. Untuk menjamin semuanya berjalan lancar, aku menanam kantung janin selama empat hari.
Derrick yang kelelahan pun berkata, "Kalau terus begini, aku bakal minta bayaran darimu. Soalnya kamu enak-enakan, aku yang gerak terus."
Aku tidak bisa berkata-kata. Namun, ketika melihat tanda itu berubah menjadi warna ungu, aku tersenyum puas.
Derrick juga memperhatikan tanda itu, tetapi dia mengira itu karena aku menciumnya terlalu kuat sehingga tidak terlalu memikirkannya.
Seminggu kemudian, aku mengajak Derrick menemui orang tuaku. Derrick bertanya, "Kenapa mendadak sekali? Bukannya kita sudah sepakat bakal mengurus orang tua masing-masing?"
Aku menimpali, "Orang tuaku lagi senggang, jadi ingin menemuimu. Kalau kamu nggak ikut, nanti dibilang nggak sopan."
Derrick masih ingin menolak, tetapi aku bilang aku sudah menyiapkan hadiah. Dia pun tersenyum.
Setibanya di rumahku, Derrick terbelalak. Dia bertanya dengan tidak percaya, "Leah, ternyata kamu sekaya ini?"
Aku terus memberi tahu Derrick bahwa orang tuaku punya banyak anak dan tidak peduli pada kami. Makanya, selama ini dia mengira rumahku di pegunungan dan orang tuaku bekerja di luar. Dia pun tidak berpakaian rapi.
Rumahku memang berada di pegunungan, tetapi seluruh pegunungan. Untuk masuk ke dalam rumahku, kami bahkan harus naik mobil.
Derrick terus mengeluh, "Kenapa kamu nggak bilang sejak awal? Lihat pakaianku, nggak sopan sekali."
Ternyata pria ini tahu bertemu orang tua pasangan harus berpakaian sopan?
"Nggak apa-apa, orang tuaku nggak peduli," sahutku.
Aku punya ratusan saudara. Orang tuaku tidak peduli pada karakter pasangan anaknya, melainkan kemampuan bereproduksi.
Derrick bertanya, "Seharusnya aset orang tuamu sangat banyak, 'kan?"
"Banyak." Aku tersenyum. "Tapi, saudaraku juga banyak. Masing-masing dapat aset sekitar puluhan miliar."
Ini jelas adalah nominal besar untuk keluarga biasa. Derrick pun tampak gusar. Sepertinya, dia menyesal karena mengusulkan split bill denganku.
Begitu bertemu, ayahku langsung ingin memeriksa denyut nadi Derrick. Derrick tidak memahami apa yang terjadi.
Aku berucap, "Ayahku dokter pengobatan tradisional yang sangat terkemuka. Biasanya, dia cuma mengobati tokoh besar."
Begitu mendengarnya, Derrick langsung menjulurkan tangannya. Ayahku merasa sangat puas dengan kemampuan bereproduksi Derrick. Dia mengangguk. "Bagus, bagus sekali."
Derrick mengira ayahku memuji kesehatannya. Ekspresinya dipenuhi kebanggaan.
Malam hari, kami menginap di vila. Setelah Derrick tidur, orang tuaku menemuiku.
Ibuku merasa senang. Dia bertanya, "Pria yang kamu cari ini lumayan juga. Berapa banyak kantung janin yang kamu tanam untuknya?"
"Empat."
"Sayang sekali, seharusnya lebih banyak. Tapi, nggak usah terburu-buru. Santai saja. Kamu sudah termasuk yang paling hebat di generasi ini."
Di generasiku ini, tidak banyak kuda laut jantan yang bersedia melahirkan lagi. Aku adalah anak ke-33. Kakak-kakakku belum punya keturunan sampai sekarang.
Ayahku bertanya, "Dia benaran mau melahirkan anak untukmu?"
Aku mengeluarkan surat perjanjian.
Ayahku mengangguk. "Ya sudah, kamu pindahkan janinmu kepadanya."
Sebulan kemudian, perut Derrick membesar dan berat badannya naik 5 kilogram. Dia mengira dia makan terlalu banyak sehingga mulai olahraga mati-matian.
Namun, tidak ada hasil apa pun. Bahkan, dia tiba-tiba merasakan sesuatu di perutnya.