Đang tải thông tin quảng bá...
Semua Orang Bisa Mendengar Gosip di Pikiranku
Aku adalah putri kandung Keluarga Setiawan, juga memiliki “sistem pengamat drama”. Aku memang terlihat penurut dari luar, tetapi sebenarnya penuh perlawanan dalam hati. Hanya saja, aku tidak tahu ...
Chương (1)
第1章
Aku adalah putri kandung Keluarga Setiawan, juga memiliki “sistem pengamat drama”. Aku memang terlihat penurut dari luar, tetapi sebenarnya penuh perlawanan dalam hati. Hanya saja, aku tidak tahu bahwa isi hatiku bisa dibaca.
Kakak-kakakku berkata, “Meski kamu itu adik kandung kami, kami hanya akui Cheryl sebagai adik. Sebaiknya kamu tahu diri.”
Aku bergumam dalam hati, ‘Kayaknya aku sudah singgung Raja Neraka di kehidupan sebelumnya, makanya aku dilahirkan di Keluarga Setiawan di kehidupan ini.’
Langkah kakak-kakakku tiba-tiba terhenti.
“Cheryl sangat penurut, juga sayang sama semua orang di keluarga ini. Kamu jangan coba-coba cari perhatian atau buat onar.”
Aku mencibir dalam hati, ‘Dia sangat penurut sampai sebabkan orang di seluruh keluarga ini tewas. Cintanya pada kalian juga begitu besar sampai-sampai dia khianati kalian.’
Kali ini, ekspresi para kakak terlihat sangat aneh.
Bab 1
Aku mendapat sebuah “sistem pengamat drama”. Ini adalah sistem yang bisa memberitahuku bahwa dunia tempat aku berada saat ini sebenarnya adalah kisah dalam sebuah buku.
Sementara itu, aku adalah karakter pendukung yang nasibnya paling tragis dalam buku ini. Pemeran utamanya adalah Cheryl Setiawan, putri gadungan Keluarga Setiawan yang dimanja habis-habisan.
Setelah berulang kali membaca tentang kebodohan anggota Keluarga Setiawan dan nasib sialku sebagai Lara Setiawan dalam cerita asli, aku memutuskan untuk menyerah pada alur cerita. Aku melepaskan semua harapan terhadap anggota keluargaku, juga menghormati takdir mereka yang akan berjalan menuju kehancuran dan kebangkrutan.
Anggota Keluarga Setiawan menyayangi putri gadungan itu dan sama sekali tidak peduli pada aku, putri kandung keluarga ini yang penurut dan sudah telantar di luar sejak kecil.
Sesuai dugaan, baru saja aku melangkah masuk ke rumah, ketiga kakak laki-lakiku langsung mengadang di depanku.
“Meski kamu itu adik kandung kami, kami hanya akui Cheryl sebagai adik. Sebaiknya kamu ....”
Sebelum sempat menyelesaikan kata-kata mereka, ketiga orang itu menatapku seperti sudah melihat hantu. Mereka tidak berhenti saling memberi isyarat kepada satu sama lain, sedangkan ekspresi mereka juga terlihat aneh.
Sementara itu, aku memainkan peran putri kandung tak berharga yang mereka rendahkan dengan baik.
‘Nggak masalah, aku mengerti. Oke. Aku sudah hafal kalimat basi ini. Mau rendahkan aku, ya rendahkan saja aku. Kalian kira aku sudi datang ke rumah kalian? Kalian kira aku begitu nggak hargai hidup dan bersikeras terlibat sama urusan keluarga kalian? Ini semua gara-gara bajingan seperti kalian! Aku tolak kembali, kalian nggak setuju. Habis aku kembali, kalian malah nggak senang.’
“Jangan ngomongnya saja nggak peduli, tapi nanti malah celakai Cheryl,” ejek Leon Setiawan, kakak ketigaku sambil menatapku.
‘Dengan temperamennya yang begitu buruk, pantas saja si pria lidah tajam ini akhirnya dilecehkan.’
Kak Leon mengernyitkan keningnya, lalu tiba-tiba mencengkeram bahuku dengan kuat.
“Leon! Kamu minta dihajar, ya! Begini sikapmu terhadap adikmu!” seru seorang pria paruh baya dari belakangku.
“Lara!” Seorang wanita paruh baya yang cantik langsung memelukku dengan erat sambil berkata, “Putri kesayanganku, akhirnya kamu pulang juga!”
‘Orang tuaku ini cakep juga! Kecantikanku pasti diwariskan mereka,’ pikirku dengan narsis.
Wanita yang sedang memelukku tiba-tiba menegang. Dia melirik putra-putranya sejenak, lalu menatapku yang menutup mulut dan berujar dengan hati-hati, “Lara, aku sudah masakkan sup untukmu. Ayo kita makan!”
Ayahku juga berkata, “Aku suruh beberapa anak busuk ini pergi jemput kamu, tapi mereka nggak bawa kamu masuk sampai sekarang. Nanti, Ayah akan kasih mereka pelajaran.”
‘Sayang banget. Ayah dan ibuku yang lembut ini akhirnya mengusirku dan nggak mau akui aku gara-gara hasutan Cheryl. Tapi, akhir mereka juga menyedihkan. Yang satu mati, yang satu jadi gila. Haih, kenapa nasib anggota Keluarga Setiawan begitu tragis.’
Semua orang seketika menghentikan langkah mereka. Entah dari mana datangnya kekuatan ibuku, genggamannya hampir meninggalkan bekas di tanganku. “Ibu?”
Ibuku tersenyum canggung, lalu melepaskan genggamannya. Dia mengamatiku dengan hati-hati dan bertanya, “Lara, kamu ... apa kamu nggak enak badan?”
Aku menggeleng dengan patuh dan menjawab, “Nggak kok.”
‘Aku baik-baik saja. Hatiku cuma terasa kurang nyaman karena lihat ketiga putramu yang bodoh dan pilih kasih.’
“Lara!” seru Kak Leon dengan marah.
‘Apaan sih! Aku cuma berdiri diam, kenapa malah kamu yang menggila!’
“Leon!” Ayahku memberi isyarat pada Levi Setiawan, kakak sulungku supaya dia bisa menenangkan Kak Leon.
“Lara, jangan pedulikan dia. Ayo kita makan!”
Setelah duduk di meja makan, aku pun bersemangat untuk makan. Namun, selalu saja ada yang merusak suasana hatiku.
Liam Setiawan, kakak keduaku menaruh sebuah piring kosong di sampingnya dan berkata dengan pelan, “Lara, kamu seharusnya tahu masih ada seseorang di keluarga ini. Aku harap kamu bisa hidup rukun dengannya. Kesehatannya kurang bagus, kamu harus lebih mengalah padanya.”
Orang lainnya tidak mengatakan apa-apa. Jelas saja mereka juga memiliki pemikiran yang sama.
“Oke.”
‘Mulai lagi, mulai lagi. Dia itu memang kakak kandungku, tapi sebenarnya cuma pengekor Cheryl. Tubuh Cheryl lemah karena lahir prematur. Tapi, penyakit ringannya itu sudah sembuh dari dulu. Dia cuma sandiwara demi bohongi kalian yang bodoh. Aku benar-benar salut sama IQ kakak-kakakku yang rendah ini!’
“Ayah, Ibu, Kak!”
Baru saja aku selesai mengumpat, terdengar suara manis seorang wanita dari atas tangga. Orang tua dan kakak-kakakku berdiri secara refleks untuk menyambut gadis kesayangan mereka.
Ibu menatapku dengan khawatir, lalu tersenyum pada Cheryl, seolah-olah takut aku dan putri gadungan itu tidak bisa hidup rukun.
Sementara itu, aku memang terlihat patuh dan pendiam. Namun, aku malah diam-diam berkomentar soal Cheryl, ‘Oops! Si penghancur keluarga sudah datang!’
Bab 2
Cheryl menyadari suasana tegang di lantai bawah, lalu tersenyum dan hendak memelukku.
“Ini Lara, ‘kan? Selamat pulang ke rumah!” kata Cheryl sambil hendak melemparkan diri ke arahku.
Aku buru-buru menghindar. ‘Sial! Untung aku kaburnya cepat! Kalau nggak, aku pasti kena tusuk jarum yang dipegangnya, lalu mendorongnya secara refleks. Orang rumah ini kira aku sengaja cari masalah sama Cheryl karena latar belakang keluargaku. Hal ini pun jadi salah satu alasan aku diusir dari rumah kelak. Dasar wanita licik! Kamu itu reinkarnasi nenek sihir, ya!’
Berhubung aku tiba-tiba menghindar, Cheryl tidak sempat menghentikan gerakannya dan jatuh menabrak meja. Makanan yang terjatuh dari meja pun membasahi sekujur tubuhnya. Kemudian, dia menatapku dengan tampang kasihan dan lanjut bersandiwara.
“Lara, kamu membenciku? Aku tahu aku sudah tempati posisimu. Wajar saja kamu membenciku. Tapi, aku benar-benar nggak rela pisah dari Ayah, Ibu, dan kakak-kakak sekalian. Huhuhu ....”
Awalnya, semua orang terpaku di tempat. Alhasil, ada orang bodoh yang termakan omongannya. Leon segera memapah Cheryl berdiri, lalu berseru marah padaku, “Lara! Buat apa kamu menghindar! Cheryl cuma mau menyapamu!”
‘Cuma orang bodoh yang nggak menghindar. Seharusnya matamu yang ketusuk jarum nenek sihir ini. Biar kamu bisa tersadar dari kebodohanmu!’ umpatku dalam hati. Namun, aku hanya mengedipkan mataku dengan tampang tak berdosa dan menjawab, “Aku cuma bereaksi secara refleks.”
Cheryl yang tampangnya menyedihkan ingin menjelaskan sesuatu, “Ayah, Ibu, aku benar-benar nggak ....”
Namun, Kak Leon langsung memotong ucapannya dan berkata tanpa ragu, “Lara itu orang lama di industri hiburan. Entah seberapa jahat hatinya. Memangnya omongannya bisa dipercaya?”
Cheryl yang berada dalam pelukannya diam-diam tersenyum menantang sambil menatapku.
Aku benar-benar emosi.
‘Dasar bajingan! Memangnya aku salah karena terjun di industri hiburan? Selain Kak Levi yang adalah presdir, Kak Liam dan Cheryl itu bintang film, sedangkan kamu sendiri itu penyanyi. Bukannya kalian juga terjun ke industri hiburan!’
‘Aku salah karena aku miskin? Kalau bukan karena aku nggak sengaja terjun ke industri hiburan, aku bahkan nggak punya uang untuk makan atau sekolah! Iya, iya! Kalian yang mulia, kalian yang suci!’
‘Aku kerja begitu keras, tapi masih belum tenar sampai sekarang karena aku tolak untuk korbankan prinsipku! Kalian nggak tahu adik kesayangan kalian itu pakai statusnya sebagai putri keluarga kaya, lalu tidur dengan lebih dari 2 pria untuk rebut sumber daya orang lain, ‘kan? Cuma kalian saja yang anggap dia masih suci!’
“Sembarangan!” Dibandingkan dengan Kak Leon yang memiliki temperamen buruk, ada seseorang yang terlebih dahulu bersuara. Cheryl yang wajahnya sudah semerah tomat menunjukku dengan tangan gemetar dan menekankan kata-katanya sekali lagi, “Jangan asal bicara!”
“Hah?” Aku pun bertanya dengan bingung, “Memangnya aku ada bicara?”
Tuhan bisa jadi saksiku. Mulutku sama sekali tidak bergerak. Aku paling-paling hanya mengumpat dalam hati.
“Kamu bilang tit ... tit ... tit ...,” seru Cheryl.
Aku menatapnya dengan bingung dan bertanya, “Apa sistem bahasamu bermasalah?”
Kak Leon lanjut berkata, “Tadi, kamu bilang tit ... tit ... tit ... tit ....”
‘Gawat! Apa mungkin anggota Keluarga Setiawan mengidap penyakit menular? Apa sebaiknya aku kabur secepat mungkin? Kalau sekarang aku pura-pura marah, lalu tampar Cheryl, apa anggota Keluarga Setiawan akan langsung usir aku?’
“Leon! Bawa Cheryl kembali ke kamar untuk istirahat!” seru Ayah yang dari tadi menonton pertunjukan ini dalam diam.
Aku mau tak mau harus mengurungkan niatku tadi. Sementara itu, Cheryl memelototiku dengan galak, seolah-olah ingin membunuhku. Namun, pada detik selanjutnya, dia tiba-tiba terisak dan menatapku dengan berlinang air mata. Napasnya juga terengah-engah, seolah-olah akan segera pingsan. Kemudian, dia menatapku dengan ketakutan.
‘Buat apa kamu lihat aku? Apa kemampuanku untuk membuat kesal orang sudah capai tingkat di mana orang bisa langsung mati kesal tanpa aku buka mulut?’
“Ekhem. Leon, cepat pergi!” desak ibuku.
Kak Leon dan Cheryl pun berjalan pergi dengan ekspresi kesal.
Sementara itu, aku duduk kembali dan menatap makanan yang berantakan di hadapanku dengan tampang sedih. ‘Lapar .... Makananku ....’
“Lara, tunggu bentar, ya. Pembantu sudah siapkan makanan baru,” hibu Ibu dengan lembut.
Aku pun mengangguk dengan patuh.
Untuk memecah suasana yang canggung ini, Ayah mencoba mengalihkan pembicaraan selama menunggu. Dia pun berkata pada Kak Levi, “Pak Jimmy sudah pulang. Kami berniat untuk makan bareng dalam minggu ini, sekalian bahas masalah pernikahanmu sama Yossie.”
‘Yossie ... kok nama ini familier banget?’
Gerakan orang lainnya mendadak terhenti sejenak. Sementara itu, aku berusaha mencari informasi orang bernama Yossie itu dalam sistem pengamat drama di otakku.
Ayah tersenyum sambil melirik semua anak-anaknya, lalu tatapannya berhenti padaku. Dia bertanya, “Sayang, gimana pendapatmu kalau putri Keluarga Cendana itu jadi kakak ipar kalian?”
Kak Levi menatapku lekat-lekat.
Aku sudah menemukan informasinya dan mengangguk dengan serius sambil menjawab, “Lumayan bagus.”
Semua orang terlihat jelas merasa lega. Namun, sebelum sempat bergembira lebih lanjut, aku tiba-tiba menambahkan dalam hati, ‘Pria bodoh dan wanita licik mana mungkin nggak serasi! Ini kombinasi terbaik! Sempurna!”
Bab 3
Tangan Kak Levi tiba-tiba gemetar dan sendok yang dipegangnya jatuh ke lantai.
Aku diam-diam melirik Kak Levi yang berjongkok untuk memungut sendoknya itu dan bergumam dalam hati, ‘Kok semuanya aneh banget? Selain IQ yang rendah, sepertinya tubuh mereka juga kurang sehat. Aku memang harus cepat kabur. Aku nggak pengen mati bareng mereka, apalagi mereka juga nggak baik sama aku.’
‘Umm ... Ayah dan Ibu sepertinya lumayan baik.’ Aku melirik Ayah dan Ibu yang sedang memandangku dengan penuh perhatian dan lanjut bergumam, ‘Nggak yakin juga. Diamati lagi dulu deh.’
Ibu menatapku dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, lalu bertanya, “Apa Lara pernah ketemu sama Yossie?”
“Nggak pernah ketemu, tapi pernah dengar.”
‘Aku nggak pernah ketemu Yossie, tapi pernah dengar tentang dramanya! Wanita itu sahabat terbaik Cheryl, makanya orang di rumah ini baru pertimbangkan dia sebagai kandidat menantu yang pertama. Dia itu sama licik dan kejam dengan Cheryl. Dia bahkan lagi hamil. Begitu nikah nanti, Kak Levi akan langsung jadi ayah. Hehehe ....’
Kak Levi menggenggam erat sendok yang baru dipungutnya tadi.
“Levi dan Yossie belum kenal lama. Menurutku, sebaiknya kita pertimbangkan lagi saja dulu,” ucap Ayah dengan tiba-tiba.
Kak Levi buru-buru mengangguk, sedangkan Ibu juga menyetujui pendapat Ayah.
Aku menatap mereka dengan bingung. Bukankah tadi mereka baru saja mengatakan mau diskusikan soal pernikahan? Kenapa tiba-tiba berubah?
‘Tapi, meski begitu, pernikahan ini pasti tetap berlangsung. Siapa suruh Cheryl punya hubungan baik sama dia. Sebenarnya, kedua orang itu bisa bersahabat baik karena Yossie itu biseksual! Wanita yang paling dicintainya itu sebenarnya Cheryl!’
Kak Levi tiba-tiba tersedak air soda yang sedang diminumnya.
‘Tapi, Yossie sebenarnya lumayan menjaga diri. Dia bisa hamil murni karena kecelakaan. Lagian, dia lebih suka sama perempuan. Apa! Wanita itu juga mau menodaiku!”
“Apa!” Ayah tiba-tiba berseru terkejut, lalu menggebrak meja dengan kuat.
Aku pun mendongak dengan bingung.
Ayah tersenyum canggung dan berkata, “Ayah tiba-tiba teringat sebuah hal menyebalkan di perusahaan. Maaf, Ayah mengejutkanmu. Nggak apa-apa kok. Nggak apa-apa.”
Melihat ekspresi orang lainnya yang normal, aku pun memalingkan wajah dan lanjut membaca informasi dari benakku.
‘Oh, ternyata itu karena Cheryl mengeluh padanya aku sudah mau kembali, juga kasih lihat fotoku ke Yossie supaya dia bisa menindasku. Tapi, Yossie malah jatuh cinta pada penampilanku dan mau aku menemaninya bermain.’
‘Cih! Jangan mimpi dia! Kalaupun aku jadi lesbi, aku juga mau cari kakak yang cantik dan lembut. Siapa yang mau sama wanita licik berhati busuk!’
Ibu tiba-tiba mengangguk. Aku pun menoleh ke arahnya dengan bingung. Dia tiba-tiba memijat lehernya dan mengeluh salah tidur semalam.
Aku mengalihkan pandanganku dan lanjut membaca.
‘Apa? Apa! Dia juga kurung seorang mahasiswi di vilanya? Sudah hamil masih begitu nafsuan? Tindakan wanita jalang ini jelas melanggar hukum! Sial! Dia harus dijebloskan ke penjara! Gimana ini? Yossie sudah dalam perjalanan pulang ke vila. Aku harus gimana baru bisa tinggalkan meja ini, lalu diam-diam pergi lapor polisi?’
Aku tiba-tiba berdiri dan berseru, “Aku mau ke toilet!”
Seusai berbicara, aku langsung berlari keluar.
Kak Leon kebetulan lagi menuruni tangga. Mendengar aku yang berseru begitu di meja makan, dia pun mengejekku, “Dasar nggak berpendidikan!”
‘Untung aku lagi nggak sempat perhitungan denganmu!’ umpatku dalam hati sambil memelototinya. Kemudian, aku lanjut berlari keluar.
Sementara itu, Kak Levi tiba-tiba menepuk kepala Kak Leon dan mengumpat, “Diam!”
Seusai menelepon dan memastikan polisi akan tiba ke vila Yossie tepat waktu, aku baru kembali ke ruang makan. Kebetulan, aku melihat mereka sekeluarga sedang berbisik. Aku juga mendengar Kak Leon berkata, “Tapi, Cheryl bilang dia mau tinggalkan keluarga kita. Dia nggak mau jadi putri keluarga ini lagi.”
Aku menatap dia yang jelas-jelas sangat bodoh dengan penuh kasihan. ‘Dasar bego! Itu karena dia mau jadi kakak iparmu!’
Bab 4
Semua orang tiba-tiba menoleh dan menatapku lekat-lekat. Aku yang tiba-tiba ditatap oleh 5 pasang mata pun terkejut, lalu kembali ke tempat dudukku seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Sayang, apa semuanya sudah selesai ditangani?” tanya Ayah padaku.
Eh? Kenapa Ayah tiba-tiba tanya begitu, padahal aku cuma ke toilet?
‘Tapi, buktinya sudah lengkap. Yossie pasti akan dihukum dengan berat. Waktu diselamatkan, tubuh gadis itu dipenuhi luka. Kasihan banget dia.’
‘Sebenarnya, gadis itu juniornya Cheryl. Dia jelas tahu kebiasaan buruk Yossie, tapi malah kirim juniornya yang mau cari kerjaan sampingan sebagai guru privat ke sisi Yossie. Apa bedanya itu dengan kirim mangsa ke mulut predator? Cheryl benar-benar jahat!’
“Nggak mungkin!” seru Kak Leon sambil memelototiku.
“Apanya?” tanyaku sambil menatapnya dengan bingung.
‘Apa si pelawak ini menggila lagi? Aku mau tahu waktu kamu dilecehkan nanti, kamu masih bisa berkata seperti ini atau nggak!’
Kak Leon benar-benar murka, tetapi Kak Levi malah memukulnya lagi.
Aku menunduk dengan tampang sok sedih, lalu lanjut membaca cerita mengenai mereka.
‘Kayaknya cerita Kak Levi tadi belum selesai kubaca deh. Oh, ternyata Cheryl sudah tahu dari awal kalau Yossie menyukainya? Tapi yang disukainya itu Kak Levi, makanya dia mau sahabatnya itu berada di sisi Kak Levi supaya mereka bertiga bisa pertahankan hubungan yang harmonis.’
‘Menurut cerita asli novel ini, Cheryl juga akan ungkapkan perasaannya pada Kak Levi, tapi Kak Levi menolaknya karena menganggapnya sebagai adik. Cinta Cheryl pun berubah jadi benci. Pada akhirnya, dia sekongkol sama Julian Yunus, tokoh utama pria novel ini untuk celakai Keluarga Setiawan. Yossie juga berjasa besar dalam hal ini.’
‘Tapi sekarang, Cheryl sepertinya sudah berubah pikiran. Berhubung orang rumah ini nggak begitu benci sama aku, dia nggak mau ambil risiko untuk usir aku. Dia mau dapatkan Kak Levi dan jadi istri dari kepala keluarga selanjutnya. Pada saat itu, bukannya Keluarga Setiawan akan jadi miliknya?’
‘Haih, kenapa nggak ada satu pun jodoh Kak Levi yang bagus? Gimanapun, dia itu kakak kandungku. Apa aku perlu peringati dia?’ Aku diam-diam melirik Kak Levi. Tak disangka, dia sedang menatapku dengan penuh harap.
Aku pun menunduk kembali, lalu berpikir dalam hati, ‘Nggak usah deh. Menurut cerita asli novel ini, aku juga pernah peringati dia. Tapi, dia tetap dengar hasutan Cheryl. Dia merasa aku nggak suka sama Cheryl, makanya mau lampiaskan amarahku pada Yossie karena dia itu sahabat Cheryl.’
‘Demi menghukumku karena sudah fitnah adik dan istrinya, dia juga rebut beberapa sumber dayaku dan memberikannya ke Cheryl. Setelahnya, dia juga nyaris bantu Cheryl menipuku ke ranjang seorang sutradara mesum. Meski dia nggak sengaja, aku hampir kejebak kalau bukan karena aku cerdas.’
‘Selain itu, setelah dia tahu anak Yossie itu jelas-jelas bukan anaknya, dia tetap kemakan omongan Cheryl, lalu biarkan ibu dan anak itu tinggal di sisinya. Waktu Yossie sudah bantu Cheryl dapatkan Keluarga Setiawan, Kak Levi pun bangkrut dan harus tanggung jawab atas nyawa belasan orang yang melayang di lokasi konstruksi.’
‘Dia akhirnya merasa bersalah dan lompat dari atap. Habis itu, Yossie baru umumkan anaknya nggak punya hubungan apa pun dengan Keluarga Setiawan dan langsung pergi. Haih, sudahlah. Aku hormati saja takdir orang lain. Tuhan memang maha pengasih, tapi Tuhan cuma tolong orang yang mau ditolong, bukan orang bodoh.’
“Pfft!” Entah apa yang dipikirkan Kak Liam, dia tiba-tiba menyemburkan air yang sedang diminumnya dan terlihat gembira.
Kak Leon hanya menunjukkan ekspresi penuh simpati, sedangkan ekspresi Kak Levi tidak berhenti berubah. Di sisi lain, Ayah dan Ibu malah menunjukkan ekspresi kecewa. Apa yang sedang mereka pikirkan?
Aku mengalihkan kembali tatapanku pada Kak Liam dan mengejek dalam hati, ‘Ketawa lagi! Nasibmu juga nggak jauh lebih baik, tahu! Waktu Cheryl putuskan untuk nggak andalkan siapa pun dalam mengelola Keluarga Setiawan, target keduanya itu kamu.’
Kak Liam langsung tersedak dan diam-diam melirikku.
Aku lanjut membaca cerita.
‘Kak Liam tertipu dan terjerumus narkoba, tapi dia tetap berusaha kasih sumber daya ke Cheryl untuk buat Cheryl terkenal. Lalu, skandalnya mulai tersebar dan foto telanjangnya juga tersebar ke mana-mana. Akhirnya, dia yang sudah kurus kerempeng dan putus asa bunuh diri dengan sayat pergelangan tangan di kamar mandi.’
‘Di sisi lain, Kak Leon dibohongi Cheryl pergi ke bar. Habis dibius, Cheryl kasih Kak Leon ke temannya yang gay. Gara-gara itu, dia ketularan penyakit menular seksual. Habis sadar, dia nggak bisa terima kenyataan ini dan mati dengan menderita.’
‘Ayah dan Ibu yang tiba-tiba kehilangan anak-anak mereka di usia semuda itu kasih semua aset mereka ke Cheryl. Habis itu, yang satu meninggal karena kecelakaan, sedangkan yang satu lagi jadi gila dan masuk rumah sakit jiwa.’
‘Aku tentu saja juga nggak berakhir baik. Cheryl suruh orang untuk culik aku, lalu jual aku ke luar negeri. Di sana, aku disiksa dan dibunuh di sebuah gang kecil yang gelap.’
Setelah memikirkan semua ini, aku merasa sangat marah. Baru saja aku mau memelototi kakak-kakakku yang bodoh itu, aku malah menyadari mereka semua terlihat sangat putus asa saat ini.
“Ka ... kalian kenapa?” tanyaku dengan hati-hati.
‘Dari tadi, aku nggak lakukan kesalahan apa-apa, ‘kan? Kenapa mereka semua kelihatan kayak sudah terima pukulan yang besar?’
Ekspresi Ayah terlihat suram, sedangkan Ibu menyeka air matanya dan menjawab, “Nggak apa-apa. Aku cuma teringat hal sedih. Lara sudah lapar?”
Tepat pada saat ini, pengurus rumah bernama Andri berjalan mendekat untuk menghidangkan makanan.
“Pak, Bu, Tuan-tuan sekalian, silakan makan.”
Aku mengerutkan keningku sambil menatap Andri yang berjalan kembali ke dapur.
‘Dia barusan pelototi aku, ‘kan? Di novel, pengurus rumah itu memang berada di pihak Cheryl. Dia juga punya andil besar dalam perihal aku diusir dari rumah. Tapi, kenapa dia sudah begitu membenciku dari sekarang? Coba kubaca dulu .... Ya ampun .... Ewww ....’
Semua orang langsung memusatkan perhatian mereka.
‘Ternyata Andri sudah membenciku dari awal. Alasannya membenciku karena ....’