Rencana Licik Kakak Ipar

Đang tải thông tin quảng bá...

Rencana Licik Kakak Ipar

GoodNovel Hoàn thành
KarmaPengkhianatanHamilDrama Rumah Tangga

Saat aku berbelanja ke supermarket, ada seorang wanita tua tiba-tiba menarik tanganku dengan erat. Tanpa sadar, aku langsung menyentuh perutku yang sudah membesar, sementara dia berkata, "Janin di per...

Chương (1)

第1章

Saat aku berbelanja ke supermarket, ada seorang wanita tua tiba-tiba menarik tanganku dengan erat. Tanpa sadar, aku langsung menyentuh perutku yang sudah membesar, sementara dia berkata, "Janin di perutmu ini sudah dikasih parasit pengubah janin. Janin itu akan jadi parasit di tubuhmu." Aku hanya berpikir dia berbohong, tetapi detik berikutnya dia berkata, "Pergi dan muntahkan sekarang juga. Muntahkan sebanyak mungkin ikan yang baru kamu makan." Bab 1 Saat aku berbelanja ke supermarket, ada seorang wanita tua tiba-tiba menarik tanganku dengan erat. Tanpa sadar, aku langsung menyentuh perutku yang sudah membesar, sementara dia berkata, "Janin di perutmu ini sudah dikasih parasit pengubah janin. Janin itu akan jadi parasit di tubuhmu." Aku hanya berpikir dia berbohong, tetapi detik berikutnya dia berkata, "Pergi dan muntahkan sekarang juga. Muntahkan sebanyak mungkin ikan yang baru kamu makan." ... "Ikan?" Saat mengatakan ini, aku langsung menutup mulutku karena terkejut. Aku memang baru makan ikan, bagaimana wanita tua ini bisa tahu? Jangan bilang kalau wanita tua ini ingin memerasku? Memikirkan hal ini, aku menatapnya dengan waspada dan mundur setengah langkah. Dia tidak menatapku, malah langsung meletakkan tangannya di perutku. Tanpa sadar, aku melindungi perutku yang sudah membesar. Namun, entah bagaimana aku seolah-olah terpaku dan tidak bergerak sama sekali, membiarkan tangan tuanya meraba-raba perutku. "Ya ampun, dosa besar! Dosa besar!" Sesaat kemudian, wanita tua yang dipanggil Mama Laura menarik tangannya seolah-olah dia habis tersengat listrik. Wajahnya berubah pucat. "Orang ini benar-benar kejam. Bukan hanya mengganti janin dengan janin mati, dia juga memberi makan janin mati ini dengan parasit." "Janin mati ini akan terus menjadi parasit di tubuhmu. Begitu janin mati ini keluar dari tubuhmu, kamu juga akan mati. Ini masalah serius yang sulit diselesaikan." Aku tidak mengerti maksud parasit yang keluar dari mulut Mama Laura, tetapi setiap kata yang dia ucapkan membuat bulu kudukku berdiri. Janin mati? Bagaimana mungkin bayi di dalam perutku mati? Jelas-jelas dua hari yang lalu aku baru pergi ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan pada kandunganku. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja! Aku meraih tangan Mama Laura dan bertanya dengan tajam, "Apa maksudmu? Bayiku baik-baik saja, apa kamu salah paham?" Mama Laura tampak cemas dan menunjuk ke perutku. "Rasakan sendiri, apakah bayi ini pernah bergerak di dalam perutmu?" Aku langsung terdiam. Ya, selama dua hari terakhir, perutku memang sangat tenang. Namun, ketika aku menanyakan hal ini kepada dokter kandungan, dia hanya mengatakan bahwa janinku cukup kecil. Aku mulai merasa takut. Mungkin karena terlalu terkejut, perutku terasa mulas. Tak disangka, Mama Laura malah menancapkan jarinya langsung ke tenggorokanku dan membentak, "Cepat muntahkan! Muntahkan sebanyak-banyaknya dan jangan biarkan janin mati ini terus menggerogotimu." Aku merasa perutku bergejolak. Aku ingin meronta dan mendorong wanita itu menjauh. Namun, kekuatan Mama Laura ternyata sangat besar, "Hueek!" Aku dibuat muntah olehnya. Secara mengejutkan, terlihat ada darah dan sesuatu berwarna hitam pada muntahan yang aku keluarkan. Aku tertegun. Apa yang dikatakan Mama Laura membuatku makin bingung, "Ahli parasit beracun paling hebat di Kota M melakukan pergantian janin. Setiap hari, dia menggunakan darahnya sendiri untuk memberi makan parasit ini. Ketika waktunya sudah tepat, dia akan melahapmu dan janin di dalam perutmu. Sekarang, janin di dalam perutmu sudah ditukar olehnya ...." "Di ... ditukar?" Kepalaku berdengung, langkah kakiku gontai, hingga membuatku hampir terjatuh. Aku langsung bereaksi dengan semua ucapannya. Aku menangis, lalu bertanya kepadanya, "Sekarang, apa yang harus aku lakukan?" Mama Laura menghela napas, tampak mengatur kata-katanya. Setelah beberapa saat, dia mengatakan, "Setelah orang itu mengganti janinnya sendiri ke dalam perutmu, dia nggak membuang parasit itu, tapi malah memilih untuk terus memasukkan parasit ke dalam tubuhmu. Ini sama seperti membesarkan anak nakal. Janin mati di dalam perutmu akan patuh kepadanya." "Jadi ...." kata Mama Laura, menatapku dan berkata dengan penuh penegasan, "Kamu harus berhati-hati dengan orang yang memberimu makan ikan." Orang yang memberiku makan ikan adalah kakak iparku yang bekerja sebagai dokter kandungan di rumah sakit, Ivana. Dia sahabatku. Karena dialah aku bertemu dengan suamiku yang bernama Rigel. Dialah yang melakukan semua pemeriksaan kandungan terhadapku, dari awal aku hamil hingga sekarang! Kebetulan, dia hamil di waktu yang sama denganku. Suaminya memang berasal dari Kota M. Setelah hamil, dia melakukan perjalanan kembali ke Kota M. Apakah semua ini benar-benar kebetulan? Ketika memikirkan hal ini dengan serius, wajahku menjadi pucat dan aku kembali berkeringat dingin. Ivana ... apakah dia benar-benar akan melakukan ini padaku? Namun, ini bayiku, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan bayiku! Aku tidak ingin percaya, tetapi aku juga tidak berani untuk tidak mempercayainya. Aku berdiri terhuyung-huyung. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan Mama Laura, aku hanya ingin bergegas ke rumah sakit dan mendapatkan bukti dari semua ini. Namun setelah beberapa langkah, aku berhenti dan menoleh ke arah Mama Laura, "Begini, kalau setelah ini aku ingin menemuimu, di mana aku bisa menemukanmu?" Mama Laura mengeluarkan sebuah bungkusan merah dari sakunya dan menyodorkannya ke tanganku. "Di sini ada nomorku. Hubungi nomor ini saja kalau kamu mencariku." Aku membuka bungkusan merah tersebut. Di dalamnya tidak hanya terdapat nomor yang ditulis tangan, tetapi juga ada sebuah jimat segitiga yang dilipat dengan kertas kuning. Aku panik dan memasukkan barang-barang itu ke dalam tas. Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Mama Laura, aku menghentikan taksi dan langsung menuju ke rumah sakit lain di Kota S. Bab 2 Satu jam kemudian, dokter memberiku hasil USG kandunganku. Aku mengerutkan kening, ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkannya. Jantungku berdegup kencang. Aku meraih lembar USG yang menunjukkan bahwa janin berhenti berkembang. "Bu Ellia, janin Ibu sudah hampir seminggu nggak mengalami perkembangan. Usia janin baru lima bulan, jadi lebih baik dilakukan induksi sekarang ...." Dokter itu masih mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak mendengarkan apa pun. Yang terdengar di telingaku hanya dengungan. Aku meraih pintu dan berlari keluar sampai ke trotoar. Aku berjongkok di sana, tidak bisa menghentikan air mataku yang terus menetes. Janin berhenti berkembang sejak seminggu yang lalu? Namun, jelas-jelas dua hari yang lalu di rumah sakit, Ivana mengatakan bahwa bayinya sehat! Bagaimana ini bisa terjadi? Bayiku, bagaimana bisa mengalami hal seperti ini? Ivana, kenapa kamu melakukan ini padaku? Tiba-tiba, aku teringat kata-kata Mama Laura berambut putih itu. Ya, ada Mama Laura! Mungkin dia punya solusinya! Aku meraba-raba amplop merah yang diberikan oleh Mama Laura dan menghubungi nomornya dengan tangan gemetar. "Halo, Mama Laura, ini aku ...." Belum selesai aku berbicara, dia menyela, "Gunakan bungkusan merah untuk membungkus uang 48.888 juta dan bawa ke gedung Merdeka nomor 21 di Jalan Pamekasan." 48.888? Mama Laura ini, seharusnya bukan penipu, bukan? Namun, apa lagi yang bisa aku lakukan sekarang? Demi anakku, aku harus mencoba! Aku menyeka air mataku, berlari ke bank terdekat untuk mengambil uang tunai. Aku membungkuskan uang itu ke dalam kain merah, menghentikan taksi dan bergegas ke Jalan Pamekasan. Sepanjang jalan, hatiku dihantui perasaan cemas, terus berdoa agar Mama Laura benar-benar memiliki cara untuk menyelamatkan anakku. Sebelum taksi sampai di tempat itu, ponselku berdering. Ternyata Rigel yang menelepon. Dia bertanya, "Ellia, buat apa kamu ambil uang sebanyak itu?" Tiba-tiba aku teringat bahwa aplikasi perbankan di ponsel Rigel terhubung dengan kartuku. Jadi, dia pasti tahu tentang uang tunai yang aku ambil. Ivana adalah adik perempuannya. Apa aku harus memberitahunya tentang Ivana yang menukar janin di dalam kandunganku menggunakan parasit? Namun, aku teringat kalau mereka berdua sudah tidak memiliki orang tua sejak kecil dan saling bergantung sejak kecil. Mereka memiliki hubungan yang sangat baik, jadi aku memutuskan untuk mencari tahu semuanya terlebih dahulu. Jadi, aku menjelaskan dengan tergagap, "Itu ... temanku tiba-tiba datang dan ingin pinjam uang. Kebetulan aku ada di dekat bank, jadi aku ambil tunai ...." Rigel menarik napas panjang, lalu mengatakan, "Kamu di mana sekarang? Ke supermarket kenapa lama sekali? Ivana khawatir karena nggak melihatmu ketika sampai di rumah." Ivana. Ketika mendengar nama ini, jari-jariku yang memegang ponsel sedikit gemetar. Aku hanya menjawab, "Aku ambil uang buat dipinjamkan ke temanku. Mungkin akan pulang sedikit lebih lama." Aku tidak menunggu Rigel mengatakan sesuatu yang lain dan langsung menutup telepon. Aku takut dia akan mengajukan pertanyaan lebih lanjut dan membuat dia sadar akan sesuatu. Setelah menutup telepon, setiap sepuluh menit, Rigel mengirimiku pesan yang menanyakan keberadaanku. Perasaan ini terlalu aneh. Rigel tidak pernah sepeduli ini kepadaku sebelumnya. Mengikuti alamat yang diberikan oleh Mama Laura, aku melangkah menuju sebuah bangunan kecil berlantai tiga. Ketika masuk ke dalam rumah, aroma herbal yang begitu kuat langsung tercium. Melalui cahaya redup, aku bisa melihat bahwa rumah ini dipenuhi dengan berbagai macam botol dan stoples. Beberapa di antaranya terdapat kertas jimat kuning yang menempel di atasnya, yang terlihat menyeramkan untuk dilihat. "Mama Laura, dokter mengatakan kalau bayiku sudah nggak berkembang sejak seminggu yang lalu ...." Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri dan memberi tahu Mama Laura tentang kepergianku ke rumah sakit sore tadi. Setelah mendengar ini, Mama Laura mengambil bungkusan merah yang aku serahkan dan tidak membukanya untuk menghitungnya. "Uang ini harus diserahkan untuk menangkal serangan balik dari pembersihan parasit." "Ada harga yang harus dibayar untuk pembersihan parasit di dalam kandunganmu." Aku mengangguk dengan gugup, lalu bertanya dengan hati-hati, "Kalau begitu, apa anakku masih bisa diselamatkan?" Mama Laura mengulurkan tangan dan menyentuh perutku, wajahnya menjadi muram. "Roh bayi janin mati ini telah diberi makan oleh parasit selama beberapa hari. Perkembangan parasit ini menjadi lebih baik dan sudah mulai menjadi parasit di dalam tubuhmu. Sulit untuk dibersihkan, tapi bukan nggak mungkin buat dihilangkan." Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan sebuah stoples keramik hitam dari bawah kotak dupa yang berisi tanah liat hitam. Sebelum aku sempat bereaksi, ponselku tiba-tiba berdering. Itu adalah pesan dari Ivana. "Ellia, kamu di mana? Cepat pulang, aku sudah membuatkanmu sup ikan, nih." "Kenapa nggak balas? Sup ikan baik buat wanita hamil, jadi kamu harus memakannya." Aku tidak berani membalas pesannya. Beberapa menit kemudian, dia mengirim pesan lain yang membuatku merinding. "Ellia, kamu ada di Jalan Pamekasan, aku akan menjemputmu sekarang juga." Aku mendongakkan kepala dan menatap mata Mama Laura.