Đang tải thông tin quảng bá...
Suamiku Menuduhku Selingkuh
Aku baru saja duduk dan bersulang dengan temanku, tiba-tiba meja di depan kami dihantam hingga terbalik. Segerombolan orang mengelilingi kami sambil membawa ponsel, menunjuk-nunjuk dan berkomentar sin...
Chương (1)
第1章
Aku baru saja duduk dan bersulang dengan temanku, tiba-tiba meja di depan kami dihantam hingga terbalik.
Segerombolan orang mengelilingi kami sambil membawa ponsel, menunjuk-nunjuk dan berkomentar sinis.
"Dasar nggak tahu malu, suaminya bekerja keras di rumah, kamu malah bersenang-senang di luar?"
"Dasar pelakor! Kami harus menghajarmu hari ini!"
"Masih melotot? Mau menakut-nakuti siapa? Hancurkan saja semuanya! KIta harus membela keadilan!"
Segerombolan orang itu seperti orang gila, menghancurkan semua yang bisa dihancurkan.
Bahkan ada yang mengambil kursi dan memukul kepala temanku hingga berdarah.
Aku melindungi temanku di belakang, mengambil ponsel untuk menghubungi polisi dan memberitahu pengacaraku.
"Kalau Ben mau main kasar, langsung urus saja proses cerainya. Jangan biarkan dia dapat sepeser pun."
Bab 1
Setelah sibuk bekerja sepanjang minggu, temanku mengajakku bersantai sejenak di warung kecil dekat apartemenku.
Baru saja aku duduk, temanku langsung mengajakku melihat sebuah siaran langsung yang berjudul "Hancurkan Pelakor, Bela Lelaki Yang Tersakiti."
Wajah temanku langsung berseri-seri, tertawa sambil bercanda, "Lihat, papan pelakor yang mereka angkat itu mirip sekali dengan dirimu!"
"Eh tunggu! Kenapa latar tempatnya juga hampir sama dengan warung ini?"
"Sherly, jangan-jangan kamu pelakor yang mereka bicarain?"
Aku mendorong temanku dengan kesal, tetapi rasa penasaranku membuatku mendekat untuk melihat lebih jelas.
Di layar, streamer itu bersemangat berkata, "Guys, kali ini tokoh utamanya adalah seorang pria malang yang memiliki disabilitas!"
"Dia menangis di rumah setiap hari, berharap istrinya berhenti berfoya-foya di luar dan segera pulang!"
"Kemarin, saat aku mengunjunginya, tubuhnya penuh lebam, nggak ada satu pun bagian yang tak terluka."
"Guys! Semua manusia itu punya hati nurani! Menurut kalian, haruskah kita diam atau bertindak untuk membela pria malang ini?!"
Setelah mendengar seruan streamer, kolom komentar langsung dipenuhi berbagai respon penuh emosi. Komentar-komentar bergulir tanpa henti, mencerminkan kemarahan penonton.
Komentar penuh kemarahan mulai membanjiri layar, "Serang saja! Dasar perempuan sampah! Kami akan memberikan mawar hadiah siaran langsung untukmu!"
"Aku paling benci dengan perempuan nggak tahu diri seperti itu! Punya hati nggak sih?"
"Ayo serang sekarang! Jangan kasih ampun si pelakor. Hancurkan hidupnya!"
Melihat respon penonton yang semakin ramai, si streamer semakin bersemangat dan berkata, "Di pojok kanan bawah ada hadiah! Ayo guys, di klik! Masih ada dua menit lagi, pertahankan posisi kami di daftar teratas! Kalau kita masuk tiga besar, kita akan langsung menggebrek pelakor ini!"
"Bukan hanya itu! Kami juga sudah mengundang sahabat perempuan korban untuk berbagi cerita tentang kondisinya saat ini."
Ketika melihat perempuan dalam video itu, aku langsung tertegun.
Temanku berteriak heboh di sebelahku, "Bukannya ini Moren, sahabat perempuan suamimu? Wah bestie, kamu bakal terkenal nih!"
Aku hanya menghela napas, bingung dan heran. Selama ini aku tak pernah peduli dengan siaran langsung seperti ini. Aku menganggapnya hanya hiburan dengan skenario yang sudah diatur.
Tak terbayangkan, suatu hari aku akan menjadi pemeran utamanya.
Mengabaikan video tersebut, aku mengambil ponselku dan menelepon Ben.
Ben adalah anak dari orang yang pernah berjasa besar dalam hidupku. Karena jasa mereka, aku merasa punya kewajiban untuk membalas keluarganya. Setelah karirku mulai sukses, aku sering mengirim uang ke rumah mereka.
Namun, mereka malah memaksaku menikah dengan Ben, anaknya dan juga menyuruhku menyerahkan salah satu cabang perusahaanku padanya.
Aku tak punya pilihan selain menyetujuinya.
Namun, pria ini malah sering keluar bersenang-senang dengan sahabat perempuannya, sementara perusahaan yang kuberikan hampir bangkrut karena ulahnya.
Teleponku tak kunjung diangkat, tapi tiba-tiba meja di depanku didorong hingga terbalik.
Aku dan temanku tercengang melihat segerombolan orang muncul di depan kami.
Moren berdiri di samping streamer itu, lalu menunjuk ke arahku sambil berkata, "Lihat baik-baik! Perempuan ini melantarkan suaminya dan melakukan kekerasan padanya!"
"Foto-foto yang ada di tanganku ini adalah bukti dia melakukan kekerasan dalam rumah tangga! Kasihan sekali temanku, tubuhnya lemah dan sekarang sendirian di rumah tanpa ada yang menjaganya!"
Orang-orang di sekitar mulai berdatangan, berbisik-bisik sambil melihat ke arahku.
Dengan kesal, temanku berdiri di depanku untuk melindungiku, "Jangan asal menuduh tanpa bukti! Luka di tubuh Ben itu jelas karena dia jatuh sendiri!"
Moren tidak menggubrisnya, malah mengambil kursi dan memukul kepala temanku.
"Teman pelakor juga pasti sampah!"
Bab 2
"Guys, menurut kalian benar nggak yang aku lakukan?"
Temanku, Talita yang baru saja dipukul, tertegun sambil memegang luka di kepalanya. Tubuhnya mulai lemas, bersandar padaku hampir jatuh.
Namun, kerumunan orang di sekitar sama sekali tidak peduli ada yang terluka. Sebaliknya, mereka malah bersorak riuh.
"Bagus! Perempuan sampah memang seharusnya dihajar!"
"Jangan menilai orang dari penampilan! Lihat saja mereka, dua perempuan yang kelihatan berkelas dengan wajah cantik dan gaya mewah. Entah sudah berapa banyak pria yang mereka tipu untuk bisa hidup begini!"
"Dasar hati busuk! Cantik pun percuma kalau hatinya seperti itu! Untungnya zaman sekarang sudah ada platform ini, jadi kita semua bisa melihat sifat aslinya."
Aku menyapu pandangan ke seluruh kerumunan yang bergosip tanpa henti.
Memastikan bahwa siaran langsung mereka masih berjalan, aku memasang wajah dingin dan menegur, "Semuanya minggir! Kalian nggak lihat ada orang yang terluka di sini?"
Tanpa menunggu reaksi mereka, aku menarik temanku menuju mobil.
Mendengar ucapanku, si streamer reflek menoleh ke arah Moren.
Moren langsung melangkah ke depan, menghadang kami.
Dengan senyuman sinis di wajahnya, dia berkata, "Kenapa? Kamu kira bisa lolos hanya karena temanmu berdarah dan berlagak lemah?"
"Dengarkan baik-baik! Sekalipun Talita mati di sini hari ini, kalian tetap nggak bisa pergi dengan selamat!"
Melihat situasi yang tidak menguntungkan, aku segera menarik Talita ke belakangku.
Orang-orang yang hanya mencari sensasi seperti mereka, aku sama sekali tidak menganggap mereka sebagai ancaman.
Namun, prioritas utamaku sekarang adalah membawa Talita ke rumah sakit.
Dengan nada dingin dan wajah muram, aku bicara pada kerumunan, "Kalian semua yakin? Ini siaran langsung, setiap tindakan kalian sedang ditonton banyak orang."
"Kalau sampai ada yang terluka atau bahkan terjadi sesuatu yang serius, kalian siap menanggung akibatnya?"
Streamer itu terlihat cemas, diam-diam menarik lengan baju Moren.
Dia berbisik di telinganya, "Bos, rencana awalnya nggak ada kekerasan seperti ini!"
"Kalau sampai terjadi sesuatu ... "
Moren meliriknya, lalu dengan nada meremehkan berkata, "Apain takut? Kita ini di pihak yang benar."
"Tenang saja, kalaupun ada yang mati, kita punya orang kaya di belakang. Bahkan sepuluh orang yang mati, itu pun nggak masalah!"
Aku sangat marah mendengar ucapan itu, Ben benar-benar sosok yang hebat!
Dia pikir setelah menikah denganku, dia bisa menjadi tuan besar di keluargaku?
Malangnya Talita harus menerima pukulan ini karena diriku hari ini. Jika bukan karena Talita, jelas Ben sudah berencana menggunakan opini publik untuk menghancurkanku.
Aku meraih botol bir di meja dan memecahkannya di atas meja yang sudah terbalik.
Kerumunan yang sebelumnya ramai langsung terkejut dan mundur dengan panik, menjaga jarak denganku.
Suara Moren terdengar gemetar, "Kamu ... kamu ... mau apain?"
"Ini siaran langsung!"
Aku menatapnya dengan tatapan tajam dan mendengus dingin, "Minggir! Idiot!"
Kerumunan di sekitarku tampak ketakutan melihat botol pecah di tanganku, tak ada yang berani mendekat.
Dengan susah payah, akhirnya aku berhasil membawa Talita ke dalam mobil.
Tepat saat aku bersiap untuk pergi, Moren yang berdiri tidak jauh dariku, tiba-tiba berteriak dengan suara melengking,
"Cepat halangi dia! Siapa yang bisa menghentikannya, aku akan beri dia uang!"
Mendengar iming-iming uang, kerumunan mulai saling pandang.
Si streamer yang memegang ponsel untuk siaran langsung, melihat jumlah penontonnya terus meningkat.
Setelah menarik napas panjang, dia mengangkat sebuah batang besi dan memukul kaca mobilku dengan keras.
Sambil memukul, dia terus berteriak, "Kita sedang melawan kejahatan! Kita ini suara kaum tertindas! Ayo semuanya, halangi mereka! Jangan biarkan mereka kabur!"
Bab 3
Sambil mendengar suara keributan di belakang, aku mempercepat gerakanku. Dengan cekatan, aku mengambil kotak P3K dari dalam mobil dan mulai membalut luka Talita.
Di saat yang sama, aku menyalakan mesin mobil dan mengaktifkan rekaman kamera depan belakang.
Tak jauh dariku, Moren berdiri sambil tertawa keras, "Bukannya kamu hebat sekali biasanya? Teruskan dong! Jangan berhenti, ayo!"
"Kalian berdua jangan harap bisa pergi dari sini dengan selamat!"
Orang-orang yang mengelilingi mobil mulai beraksi. Mereka yang berani, menghantam mobilku tanpa ampun dan yang penakut hanya berteriak-teriak mendukung dari pinggir.
Bahkan ada yang lebih gila, entah dari mana, seseorang datang membawa palu besar dan dengan keras menghantam bagasi mobil, mencoba membukanya.
Aku hanya bisa menatap mobilku yang sudah babak belur.
Lalu berkata dengan dingin pada mereka, "Mobil ini nggak murah, kalian mampu menggantinya?"
Moren mengipaskan dirinya dengan kipas kertas, tertawa keras dan berkata dengan nada sinis, "Mampu atau nggak, itu urusan belakangan!"
"Lagipula, semua ini punya Ben! Ben sudah bilang aku boleh pakai apa saja sesuka hati."
Aku hanya bisa menghela napas panjang, tidak ada gunanya berdebat dengan mereka.
Dalam hati, aku terus berharap polisi segera datang.
"Pong!"
Bagasi mobilkuu akhirnya berhasil dibuka dengan paksa.
"Hei, lihat ini! Ada barang bagus di dalam sini!" seru seseorang yang pertama kali membukanya.
Tanpa sungkan, dia memanggil orang-orang di sekitarnya untuk melihat.
Aku yang menyadari ada sesuatu yang salah, langsung berlari ke arah bagasi.
Dengan cepat, aku menahan bahu perempuan itu dan melintirnya hingga dia terjatuh ke lantai.
Kepalanya membentur lantai, lalu dia mulai merintih sambil berteriak pada orang-orang di sekitar, "Aduh! Sakit sekali! Hei, kenapa kalian masih diam, cepat bantu aku!"
Aku langsung menendang siapapun yang mencoba mendekat dan berkata dengan dingin pada perempuan itu, "Siapa yang mengizinkanmu menyentuh barang-barang di bagasiku?"
Melihat itu, Moren langsung melambaikan tangan, memerintahkan orang-orang yang tadinya ragu-ragu.
"Serang saja! Dia hanya seorang diri, kalian takut apa?"
"Barang di dalam kotak itu pasti berharga! Kalau berhasil diambil, kita bagi rata!"
Aku menatap mereka dengan tatapan penuh amarah, bersiap menghadapi mereka yang semakin berani mendekat.
Namun, belum sempat aku bergerak, tiba-tiba si streamer muncul di depanku.
Memanfaatkan kelengahanku, dia merebut kotak di tanganku.
Lalu mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berteriak, "Aku berhasil merebutnya! Kotak ini milikku!"
Baru saja dia siap bicara, seseorang dari belakang menjegal kakinya, membuatnya terjatuh bersama kotak itu.
"Brak!"
Kotak yang tidak terkunci itu terlempar ke lantai dan pecah, isinya berupa butiran mutiara yang bergelindir keluar.
Moren yang penasaran langsung berjalan ke arah mutiara itu.
Namun, saat ingin membungkuk untuk melihatnya, kakinya malah terpeleset hingga dia jatuh keras ke lantai.
Dia mengumpat marah, "Apa-apaan ini? Hanya butiran murahan seperti ini?! Dasar barang murahan! Aku sampai terjatuh!"
Sambil berbicara, dia mengambil mutiara itu dan ingin membuangnya ke lantai.
Tiba-tiba, seseorang di dekatnya berseru dengan semangat, "Bos! Ini barang bagus, ada orang di siaran langsung bilang tahu barang ini."
"Astaga, katanya hanya ada delapan belas butir mutiara di pelelangan dan harganya mencapai triliunan!"
"Ada lebih dari delapan belas butir di sini! Kita bakal kaya raya!"
Mendengar itu, orang-orang langsung berhenti memukul mobilku. Sebaliknya, mereka mulai mengelilingi mutiara-mutiara itu.
"Bos, gunting mutiara ini, kita bagi-bagi di sini."
Moren tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia dengan santai meletakkan butiran mutiara itu di depanku dengan sikap menantang.
Sementara tanganku dipelintir oleh seseorang hingga aku dipaksa berlutut. Dengan mata merah karena marah, aku hanya bisa berteriak pada mereka, "Dasar brengsek! Kalian semua jangan harap lolos dari apa yang terjadi hari ini!"
"Terutama kamu, Moren!"