Đang tải thông tin quảng bá...
Jangan Ada Dusta di Antara Kita
"Nona Gina, apa Anda yakin ingin menghapus semua informasi tentang identitas Anda? Apabila semua informasi tentang identitas Anda dihapus, nggak ada seorang pun yang bisa menemukan Anda." Gina merenun...
Chương (1)
第1章
"Nona Gina, apa Anda yakin ingin menghapus semua informasi tentang identitas Anda? Apabila semua informasi tentang identitas Anda dihapus, nggak ada seorang pun yang bisa menemukan Anda." Gina merenung sejenak, kemudian menjawab sambil mengangguk, "Ya. Saya memang nggak mau ada seorang pun menemukan saya." Operator terkejut mendengarnya, lalu menjawab, "Baiklah. Nona Gina, perkiraan prosedur akan selesai dalam waktu dua minggu, mohon bersabar menunggu."
Bab 1
"Nona Gina, apa Anda yakin ingin menghapus semua informasi tentang identitas Anda? Apabila semua informasi tentang identitas Anda dihapus, nggak ada seorang pun yang bisa menemukan Anda."
Gina merenung sejenak, kemudian dia mengangguk.
"Ya. Saya memang nggak mau ada seorang pun menemukan saya."
Operator terkejut mendengarnya, lalu menjawab, "Baiklah. Nona Gina, perkiraan prosedur akan selesai dalam waktu dua minggu, mohon bersabar menunggu."
Gina menutup telepon, lalu segera mengeluarkan ponselnya untuk memesan tiket perjalanan ke Negara Natura yang dijadwalkan dua minggu mendatang.
Pada saat yang bersamaan, ada siaran ulang konferensi pers Grup Saputra yang ditayangkan di televisi.
Satu minggu yang lalu, Henry Saputra, CEO Grup Saputra meluncurkan sebuah perhiasan yang dibuat dengan berlian dan batu permata paling mahal di dunia.
Perhiasan unik itu diberi nama "Lovina".
Henry memberi nama perhiasan ini "Lovina", singkatan dari "Love Vina" sebagai deklarasi kepada seluruh dunia bahwa cinta Henry kepada Vina akan abadi selamanya.
Tidak lama setelah perhiasan "Lovina" diluncurkan, langsung menjadi berita viral di media sosial. Di media sosial, ramai membahas tentang kisah cinta bak dongeng antara keduanya. Setelah konferensi pers selesai, ada cuplikan wawancara reporter dengan orang-orang di jalan.
"Permisi, Tuan, apa Anda tahu tentang kisah cinta antara Tuan Henry dan Nyonya Vina yang mengharukan?"
Seorang wanita yang mengenakan gaun bermotif bunga dengan wajah penuh rasa iri berkata, "Semua orang tahu kisah cinta mereka. Dulu, Tuan Henry menerbitkan sebuah buku yang isinya adalah catatan khusus tentang Nyonya Vina. Hanya karena Nyonya Vina suka makan ceri, dia menanam pohon ceri di seluruh halaman vila mereka. Aku mencoba meminta suamiku mencontohnya, tapi suamiku nggak mau melakukannya. Aku iri sekali."
Reporter itu mewawancarai beberapa orang lagi.
Seorang mahasiswi muda berdiri di depan mikrofon. Sambil menaruh kedua tangan di depan dada, dengan tatapan mata berbinar, dia berkata, "Kisah cinta mereka seperti cerita dongeng yang menjadi nyata! Tuan Henry benar-benar cinta mati sama istrinya. Empat tahun lalu, ketika Nyonya Vina mengalami gagal ginjal. Saat nyawanya terancam dan sangat membutuhkan transplantasi ginjal, Tuan Henry merasa sangat panik. Setelah mengetahui bahwa ginjalnya cocok, tanpa memedulikan tentangan banyak orang, dia langsung mendonorkan ginjalnya kepada Nyonya Vina hari itu juga. Tuan Henry mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa istrinya. Pria itu benar-benar hebat!"
…
Semua orang yang diwawancarai reporter itu sangat mengagumi kisah cinta antara Henry dan Vina.
Berita itu disiarkan beberapa kali. Melihat berita itu, Vina tersenyum sinis.
Sejak kecil, banyak pria yang mengejar Vina karena parasnya yang cantik.
Orang tua Vina sudah bercerai sehingga Vina tidak percaya adanya cinta sejati. Banyak pria yang cintanya dia tolak. "Maaf. Aku nggak mau pacaran."
Sampai dia bertemu dengan Henry.
Berbeda dengan pria lainnya, Henry mengejarnya dengan gigih selama tiga tahun. Meskipun cintanya sudah ditolak berkali-kali oleh Vina, dia tidak menyerah. Bahkan, Henry pernah membahayakan nyawanya dengan ikut balapan mobil demi bisa mendapatkan kalung yang Vina sukai.
Akhirnya, Vina terharu.
Setelah berpacaran, cinta Henry tidak berubah, sebaliknya dia berusaha memperlakukan Vina dengan baik. Secara perlahan, hati Vina menjadi luluh.
Vina bersedia menikah setelah Henry melamarnya sebanyak 52 kali.
Pada hari dilamar, Vina memandang ke cincin di jarinya. Dengan mata berkaca-kaca, Vina berkata kepada Henry, "Henry, mulai sekarang aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Nggak peduli apa pun yang terjadi, aku nggak akan pernah mengkhianatimu. Hanya ada satu hal yang harus kamu ingat, aku nggak suka dibohongi. Kalau kamu membohongiku, aku akan menghilang dari hidupmu selamanya!"
Kenangan manis di masa lalu kini hancur oleh realita yang menyakitkan.
Tiga bulan lalu, Vina baru mengetahui bahwa Henry memiliki wanita simpanan di luar. Henry menghabiskan waktu dengan Vina di pagi hari, sedangkan malam harinya, Henry menghabiskan waktu dengan wanita itu. Henry telah lama mendua.
Cinta yang dulu membara kini berubah menjadi dingin, tetapi cinta yang tumbuh perlahan terus menyala.
Vina tersenyum getir. Dia mematikan ponsel, kemudian menandatangani surat cerai yang sudah dia persiapkan sejak lama.
Sesuai janji yang dulu diucapkan, Vina akan menghilang dari dunianya selamanya!
Setelah menandatangani surat cerai, Vina memasukkan surat cerai ke dalam kotak hadiah yang sangat indah bagus dan membungkusnya.
Satu jam kemudian, Henry masuk.
Tanpa membuka sepatu lebih dulu, Henry bergegas menghampiri Vina dan memeluknya sambil minta maaf. "Maafkan aku, Vina. Hari ini, aku mengambil perhiasan sehingga pulang terlambat dan melewatkan perayaan ulang tahun pernikahan kita. Jangan marah, ya?"
Henry mengeluarkan kotak perhiasan yang diberi nama "Lovina" kepada Vina. Vina melihat kerah baju Henry agak terbuka dan kancing yang paling atas belum dikancingkan.
Vina menunduk dan melihat ada bekas cakaran dan cupang di bagian bawah kerah. Hal ini sangat melukai hati Vina.
Henry pergi mengambil perhiasan atau menemani Maira Utami tidur?
Sepertinya, Henry habis menemani Maira tidur.
Henry tidak menyadari keanehannya, matanya penuh cinta saat dia membantu Vina memasang perhiasan. Perhiasan itu memancarkan kilauan yang memesona, membuat kecantikan Vina terlihat makin memukau.
Vina, kamu benar-benar cantik. Henry memuji dengan tulus dan tatapannya penuh kekaguman.
Vina tampak tidak bahagia. Dia mengambil kotak kado berisi surat cerai yang ada di atas meja dengan mata berkaca-kaca, lalu menyerahkannya kepada Henry. "Ini untukmu."
Henry bertanya dengan bingung, "Apa ini?"
Vina berkata, "Hadiah. Kamu memberiku hadiah ulang tahun pernikahan, aku juga harus memberimu hadiah."
Seketika itu juga, Henry merasa sangat bahagia dan ingin segera membukanya.
Vina langsung menghentikannya. "Bukalah dua minggu lagi."
"Kenapa?" Henry tampak bingung.
Vina menjawab, "Karena hadiah ini akan terasa bermakna kalau kamu buka dua minggu lagi."
Mendengar itu, Henry tertegun sejenak, tetapi dia tidak mau bertanya lebih lanjut. Setelah itu, Henry meraih tangan Vina dengan lembut dan menciumnya.
"Oke, terserah istriku saja. Aku akan sabar menanti untuk membuka hadiah ini."
Selesai mengatakan demikian, Henry melakukan seperti yang diperintahkan istrinya. Henry merobek kertas dan menuliskan sesuatu sebelum ditempel di atas kotak hadiah itu.
"Dibuka dua minggu kemudian."
Vina memperhatikan semua yang dilakukan Henry.
'Henry, semoga kamu suka dengan kejutan yang kuberikan,' ucap Vina dalam hati.
Bab 2
Keesokan harinya, Henry mencium Vina seperti biasa.
"Vina, kemarin aku melewatkan perayaan ulang tahun pernikahan kita, Bagaimana kalau kita rayakan hari ini?"
"Bagaimana kalau ke taman bermain? Bukankah kamu pernah bilang ingin ke sana?"
Vina tidak tertarik. Saat akan menolak, Henry sudah mengemasi barang dan menyiapkan pakaian untuk istrinya.
Sesampainya di taman bermain, Henry sangat perhatian terhadap istrinya.
Ketika melihat bibirnya kering, Henry menyodorkan air kepada istrinya.
Melihat boneka yang menarik perhatian Vina, Henry langsung membelikan boneka itu untuknya.
Mereka bermain wahana komedi putar, Bom-Bom Car, bianglala ….
Henry tidak peduli wahana itu terlalu kekanak-kanakan. Asalkan Vina menyukainya, Henry mau menemaninya.
Henry menggandeng tangan istrinya dan tidak mau melepaskannya sedikit pun. Saat istrinya berupaya untuk melepaskan tangannya, Henry justru menggandeng tangan istrinya makin erat.
Henry membeli balon dan memasang balon itu di tas istrinya. Sambil tersenyum, Henry berkata, "Vina, dengan begini, kamu nggak akan hilang selamanya."
Nggak akan hilang selamanya?' cibir Vina dalam hati.
Sayangnya, kali ini Vina berniat pergi ke tempat tersembunyi selamanya.
Henry, aku sudah bukan milikmu lagi,' pikir Vina.
Henry dan Vina memiliki paras yang rupawan, kemesraan mereka juga menarik perhatian para pengunjung di taman bermain.
"Lihat, itu Tuan Henry dan Nyonya Vina! Bertemu mereka langsung di sini, ternyata mereka benar-benar semesra ini!"
Ada seorang gadis terlihat antusias melihat mereka, kemudian mengajak pacarnya menghampiri mereka dan berdiri di hadapan Vina.
"Hm … bolehkah kami foto bersama kalian? Kami adalah penggemar kalian!"
Melihat gadis itu begitu antusias, Vina setuju karena tidak mau mengecewakannya.
Meskipun Henry tidak suka foto, dia mau menemani Vina.
Selesai foto, pasangan muda itu segera berkata, "Kemesraan kalian membuat kami iri. Semoga kalian selalu langgeng seperti ini!"
Henry mengangguk sambil tersenyum.
Tanpa dia sadari bahwa Vina yang berdiri di sampingnya terus terdiam. Hanya Vina yang mengetahui bahwa mereka berdua akan berpisah.
Ketika jam makan siang tiba, Henry memeriksa ponselnya beberapa kali.
Henry menyadari tatapan Vina, kemudian dia buru-buru minta maaf dan membujuk Vina, "Vina, maafkan aku. Aku harus pergi karena ada urusan kantor mendadak. Kamu pergi makan duluan, nanti aku menyusulmu, bagaimana?"
Beberapa saat kemudian, muncul notifikasi sebuah hadiah kastil mewah di ponselnya.
Henry berbohong. Dia pergi bukan karena urusan kantor, melainkan menonton siaran langsung.
Vina tersenyum sinis. Dia diam-diam membuka siaran langsung Maira.
Maira adalah selebgram yang tidak terkenal, tetapi Henry merekrutnya menjadi duta merek perhiasan "Lovina" belum lama ini.
Semua orang menduga Maira bisa mendapat kesempatan sebagus ini karena mendapat dukungan dari pihak tertentu.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa yang mendukungnya adalah Henry.
Saat ini, Maira sedang siaran langsung melalui Tiktok di depan taman bermain. Maira mengangkat ponselnya sambil memamerkan kepada para penonton.
"Halo, semuanya. Pacarku memberiku taman bermain ini. Siapa pun yang menyebut namaku, akan dapat diskon. Silakan datang bermain ke sini."
Mendengar itu, tangan Vina yang memegang ponsel terasa dingin.
Henry mengajaknya ke taman bermain yang dia berikan untuk Maira?
Banyak orang yang meragukan di kolom komentar.
"Jangan membual. Kamu bukan selebgram terkenal. Mana mungkin kamu bisa punya taman bermain semewah itu?"
"Dia hanya ingin mencari perhatian. Dia tidak punya bukti kuat. Aku juga bisa berdiri di depan taman bermain dan mengatakan bahwa taman bermain itu milikku."
"Demi menjadi terkenal, dia bertindak seperti orang gila. Dia nggak tahu taman bermain itu harganya ratusan miliar?"
…
Maira berkata dengan kesal, "Aku nggak bohong! Lihat, sertifikat taman bermain ini atas namaku."
Sambil berbicara, Maira mengeluarkan sebuah sertifikat aset atas namanya dari tas.
Saat itu juga, siaran langsung menjadi heboh. Para penonton memujinya.
"Wah, ternyata aku bertemu bos."
"Pacarnya sayang sekali sama dia sampai menghadiahkan taman bermain untuknya, mirip sekali dengan Pak Henry yang begitu menyayangi istrinya."
"Semua mengatakan bahwa pria bersedia menghabiskan uang demi wanita yang dicintainya. Kenapa aku nggak punya pacar sebaik itu?"
"Karena pria yang sayang sama kekasihnya hanya ada dua di dunia ini, yang satu adalah Tuan Henry, yang satu lagi adalah pacar misterius Maira. Ayo kita voting, siapakah yang paling besar cintanya, Tuan Henry atau pacar misterius Maira? Pilihan nomor satu adalah Tuan Henry, pilihan nomor dua adalah pacar misterius Maira."
Banyak yang memilih pilihan nomor satu di kolom komentar. Bagaimanapun juga, Henry terkenal sangat menyayangi istrinya. Tidak hanya mengorbankan uang, bahkan nyawanya hampir melayang demi istrinya.
Pada saat itu, tiba-tiba muncul nama akun "Fans Maira". Akun itu memberikan banyak gift kapal di siaran langsung Tiktok Maira. Melihat itu, banyak penonton yang terperangah.
Sejak itu, jumlah penonton siaran langsung Maira meningkat pesat dari ratusan ribu penonton, sekarang menjadi puluhan juta penonton.
Tidak lama kemudian, ada sebuah pesan muncul. "Aku sangat mencintai Maira."
Para penonton siaran langsung itu menjadi heboh. Semua orang membanjiri layar dengan komentar.
"Kekasihnya muncul! Hebat! Hebat sekali!"
Maira tersenyum bangga. Dengan manja, dia berkata, "Lihatlah, seperti yang kubilang, pacarku sangat mencintaiku."
Vina memegang ponsel dengan tangan gemetar. Vina mendongak, dia melihat Henry sedang tersenyum dan tatapannya terlihat penuh cinta.
Pemilik akun "Fans Maira" adalah Henry!
Hati Vina terasa sakit. Meskipun Henry sudah melepas tangannya, Vina masih merasakan hatinya sakit.
Bab 3
Vina merasa sakit luar biasa. Tangannya mengepal erat di dada, untuk sesaat dia merasa sulit bernapas.
Akhirnya, Henry menyadari ada yang tidak beres. Henry segera menghampirinya sambil bertanya, "Ada apa, Vina?"
Henry tampak benar-benar mengkhawatirkannya. Seolah-olah jika terjadi sesuatu pada Vina, Henry rela mengorbankan segalanya demi menyelamatkannya.
Namun, pria yang kelihatan sangat menyayanginya ini ternyata menyembunyikan banyak hal darinya.
Vina berusaha menahan emosinya. "Nggak apa-apa … aku hanya merasa dadaku agak sesak."
Henry membantu Vina menekan dada. Setelah memastikan Vina baik-baik saja, dia segera mengantar Vina pulang.
Di perjalanan pulang, Henry berusaha menghibur Vina agar suasana hatinya membaik.
Namun, meskipun Henry sudah berusaha menghibur Vina, Vina masih tidak terlihat gembira.
Vina menyandarkan kepala di jendela mobil, menatap ke pemandangan di luar yang terus bergerak sambil melamun.
"Vina, apa aku melakukan kesalahan padamu?" tanya Henry dengan hati-hati.
"Nggak." Akhirnya, Vina menjawabnya, "Aku hanya sedang mengingat drama yang kutonton hari ini."
Henry merasa lega, lalu bertanya dengan tersenyum, "Drama apa?"
Mendengar itu, Vina menoleh dan menatap Henry.
"Tokoh utama pria dulunya sangat mencintai tokoh utama wanita, tapi kemudian hatinya mendua dan diam-diam menyembunyikannya dari sang wanita ...."
Vina diam-diam melirik Henry dan memperhatikan perubahan mimik wajah suaminya. Vina berkata dengan santai, "Henry, kalau suatu saat kamu mendua hati …."
"Nggak akan!"
Sebelum selesai bicara, Henry langsung menyela, seolah-olah dia menjamin hal itu tidak akan terjadi. "Vina, hanya kamu yang kucintai. Meskipun semua pria di dunia selingkuh, aku nggak akan melakukannya. Aku nggak bisa hidup tanpamu."
Hati Vina makin terasa sakit.
Henry mengatakan tidak bisa hidup tanpanya, tetapi pria itu masih berani berselingkuh dengan wanita lain.
Sebelum Vina sempat mengatakan sesuatu, ponsel Henry berbunyi.
Henry merasa ragu sejenak dan berniat tidak mau mengangkat telepon, tetapi Vina justru mendorongnya. "Angkat saja."
Henry mengangkat telepon itu. Entah apa yang dikatakan oleh si penelepon itu, ekspresi wajah Henry langsung berubah.
Henry menelan ludah, lalu menutup telepon dan menatap Vina.
"Vina, ada urusan mendesak di kantor, aku harus segera ke sana. Bagaimana kalau aku pesankan taksi untukmu?"
Vina tidak berkomentar apa-apa, selain mengangguk.
Setelah melihat mobil Maybach milik Henry sudah pergi menjauh, Vina naik taksi. Namun, Vina tidak mau kembali ke vila.
Vina berkata, "Tolong ikuti mobil itu."
Sopir taksi mengikuti dari belakang sesuai perintah Vina.
Mobil pria itu berhenti di depan sebuah vila.
Tidak jauh dari sana, ada seorang gadis dengan mengenakan kostum kelinci membuka pintu. Saat melihat pria itu turun dari mobil, gadis itu bergegas menghampiri pria itu, lalu memeluknya dengan wajah gembira.
Gadis itu adalah Maira, sedangkan pria itu adalah Henry.
Belum lama berpelukan, mereka berdua berciuman.
Mereka berciuman sangat lama. Setelah itu, Maira menjauhkan bibirnya dan menarik dasi Henry sambil tersenyum. "Tuan, kelinci kecil sudah menyiapkan hadiah untukmu. Mau lihat, nggak?"
Sambil berbicara, Maira menyentuh jakunnya.
Jakun Henry bergerak beberapa kali. Sambil menggenggam tangan Maira dengan erat, Henry berkata dengan tatapan penuh gairah, "Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 30 menit, aku bisa sampai ke sini dalam waktu 15 menit. Menurutmu, aku mau lihat atau nggak?"
Maira tertawa. Gadis itu memegang jari Henry yang ramping dan mengajaknya masuk ke mobil. "Lihat sendiri di dalam mobil."
Tidak lama setelah mereka berdua masuk, mobil itu mulai bergoyang.
Selanjutnya, goyangan mobil itu makin lama makin cepat, makin lama makin cepat ….
Tanpa sepengetahuan mereka, Vina menyaksikan hal ini tidak jauh dari sana.
Jelas-jelas sudah tidak mengharapkan cinta dari Henry lagi. Namun, ketika menyaksikan kejadian ini, hati Vina terasa sakit.
Bagai ada sebilah pisau yang menusuk jantungnya, membuatnya sulit bernapas dan menitikkan air mata.
Waktu masih pacaran, Henry selalu menghargai Vina, pria itu bahkan bisa mengendalikan diri untuk tidak menyentuh Vina.
Pria itu mengatakan bahwa menjaga kesucian wanita sangat penting agar menjadi momen yang indah saat malam pertama.
Pria itu berjuang mendapatkan hati Vina selama tiga tahun, mereka pacaran selama tiga tahun, baru akhirnya mereka menikah.
Henry yang biasanya tangguh di dunia bisnis, justru kelihatan gugup saat malam pertama. Baru membuka pakaian Vina, telinga pria itu sudah memerah.
Pria itu sangat menghargai Vina, setiap sentuhan selalu memperhatikan perasaan Vina. Saat akhirnya memilikinya, Henry merasa terharu hingga meneteskan air mata.
Henry berbisik berulang kali di telinganya, "Vina, akhirnya kamu menjadi milikku. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu selamanya."
Saat itu, Vina merasa sangat dicintai. Di pikiran Vina waktu itu, mungkin satu-satunya pria yang tulus mencintainya adalah Henry.
Henry mencintai Vina.
Henry sendiri yang mengatakannya.
Namun, sekarang pria itu mengingkari janjinya.
Sopir taksi melihat Vina menangis, dia merasa iba, lalu memberikan tisu kepada Vina.
"Semua pria memang suka berselingkuh, termasuk suamiku. Gara-gara punya anak, aku nggak bisa bercerai dengannya …."
Ketika membahas masalah rumah tangganya, suara sopir taksi itu terisak-isak. Sopir taksi itu berhenti sejenak, lalu berkata lagi.
"Dik, jangan sedih. Karena kalian sudah menikah, biarkan saja dia, anggap nggak terjadi apa-apa."
Vina memegang tisu dengan erat, lalu menjawab dengan suara serak dan tegas.
"Nggak, aku nggak akan memaafkannya."
Aku nggak akan memaafkan Henry!' pikir Vina.
Sesampainya di rumah, Vina membongkar barang-barangnya dan mengeluarkan semua hadiah dari Henry.
Termasuk perhiasan "Lovina" yang bernilai tinggi.
Vina menghubungi seseorang.
"Apa benar ini agen properti? Aku mau menjual semua asetku? Semua hasil penjualan akan kusumbangkan ke yayasan untuk semua korban wanita yang ingin bercerai, tapi nggak bisa bercerai karena nggak punya uang maupun karena memiliki anak."
Dalam waktu satu jam, Vina menjual semua aset berharganya.
Lalu, Vina mengemasi barang-barangnya.
Setelah mengemasi barang selama setengah jam, Henry tiba-tiba pulang.
Henry masuk dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan. Dia tidak pergi ganti baju, melainkan buru-buru menghampiri Vina dengan gugup dan suara bergetar.
"Vina, kenapa kamu menjual perhiasan "Lovina"?"
Bab 4
Perhiasan "Lovina" nilainya sangat mahal. Jika ingin menjualnya, satu-satunya cara adalah menjualnya di rumah lelang.
Jadi, Henry melihat perhiasan "Lovina" di rumah lelang?
Vina tidak menjawab, sebaliknya dia bertanya, "Kamu pergi ke rumah lelang?"
Henry terkejut. Beberapa saat kemudian, pria itu menjawab, "Aku mau belikan kamu perhiasan."
Vina mencibir dalam hati, 'Beli untukku atau untuk Maira?'
Maira sudah memberi pria itu kejutan besar, sudah sewajarnya Henry memberi hadiah sebagai balasannya.
Vina menahan emosinya, dia menjawab dengan tenang, "Bukan jual, aku menyumbangkannya."
Mendengar itu, Henry memegang tangan Vina dengan wajah tak berdaya. "Vina, aku tahu hatimu baik. Kamu boleh sumbangkan barang lainnya, hanya perhiasan 'Lovina' yang nggak boleh kamu sumbangkan."
Setelah itu, Henry mengeluarkan sebuah kotak dan menaruhnya di depan Vina.
Sebuah kotak beludru hitam dibuka, itu adalah perhiasan "Lovina".
Kilau permata yang tiada duanya dari perhiasan itu masih sama dengan sebelumnya.
"Aku membelinya lagi. Perhiasan Lovina adalah bukti cintaku padamu. Apa pun yang terjadi, kamu nggak boleh melepasnya."
Sambil berbicara, Henry membantu Vina memasang perhiasan itu lagi.
Melihat kalung Lovina terpasang lagi di lehernya, Vina mencibir.
Henry, Henry, aktingmu bagus sekali.'
Suami yang baru kembali dari bermesraan dengan wanita lain, sekarang mengatakan bahwa dia mencintai Vina.
Malam harinya, ketika Vina hampir tertidur, ponsel Henry tiba-tiba berbunyi lagi.
Henry segera mematikan ponselnya, lalu menepuk punggung Vina.
Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi lagi.
Melihat ponselnya berbunyi terus, Henry mengernyit. Karena takut tidur Vina terganggu, Henry terpaksa mengangkat telepon.
Suara si penelepon terdengar jelas di suasana kamar yang hening.
"Henry, ayo kita keluar bersenang-senang! Teman-teman sudah datang, tinggal kamu yang belum datang."
Henry langsung menolak. "Aku mau temani Vina tidur. Sudah, ya."
"Eh, jangan ditutup! Berhentilah jadi budak istrimu, kamu sudah lama nggak kumpul dengan teman-temanmu."
"Ya, benar. Setelah menikah, kamu melupakan teman-temanmu. Kamu sudah kelewatan."
Karena suara teman-temannya yang berisik, Henry mengatakan, "Cukup. Jangan keras-keras. Sudah kubilang, satu-satunya orang yang terpenting bagiku di dunia ini hanya istriku. Aku mau temani istriku."
Meskipun begitu, teman-temannya tidak menyerah.
Masih ada beberapa teman Henry lainnya berusaha membujuknya. Mereka bersikeras memaksa Henry keluar bersenang-senang dengan mereka.
Di tengah kebingungan, Vina terbangun dan mengatakan, "Pergilah kumpul sama mereka. Kalian juga sudah lama nggak bertemu."
Henry masih enggan, tetapi Vina membujuknya lagi. Akhirnya, Henry mengatakan, "Aku ajak kamu ikut ke sana. Kalau kamu nggak pergi, aku juga nggak mau pergi."
Lalu, terdengar suara temannya mengatakan, "Kakak Ipar, datanglah bersama Henry untuk meramaikan acara ini."
"Benar, Kakak Ipar. Ayo ikutlah. Kalau kamu nggak ikut, Henry juga nggak mau datang."
Vina memutuskan untuk ikut sehingga Henry baru mau pergi.
Saat baru masuk ruangan privat, teman-teman Henry memeluk banyak wanita di kanan dan di kiri. Ekspresi Henry tampak muram melihat teman-temannya, kemudian pergi tanpa ragu,
Teman-temannya mengerti, lalu buru-buru mengusir semua wanita itu.
"Pergi, pergi, cepat pergi."
Setelah semua wanita itu keluar dari ruangan, teman-temannya menghela napas dan merangkul bahu Henry.
"Henry, kenapa hatimu nggak berubah walaupun sudah menikah bertahun-tahun? Selain Kakak Ipar, kamu nggak mau dekat dengan wanita lain."
Henry mendorong temannya, lalu mengibaskan bahunya yang tidak berdebu. "Aku sudah menikah, wajar kalau aku menjaga perasaan istriku. Kalian masih lajang mengerti apa?"
Tiba-tiba, semua orang di ruangan tertawa dan diam-diam melirik ke arah Vina.
Meskipun Henry keluar untuk kumpul bersama teman-temannya, yang selalu menjadi pusat perhatian Henry adalah Vina.
Ada seorang temannya yang merokok, Henry langsung menegur temannya. "Vina nggak suka bau rokok."
Saat ada temannya yang minum alkohol, Henry langsung menegur sambil menggelengkan kepala, "Vina nggak suka bau alkohol."
Saat ada temannya menyanyi, Henry berkata sambil mengernyit, "Matikan, Vina suka ketenangan."
Henry menolak semua ajakan teman-temannya, dia hanya fokus mengupas buah untuk Vina.
Henry memegang pisau buah dengan luwes, dia menyajikan sepiring buah dengan rapi, kemudian memberikannya kepada Vina dengan tersenyum.
"Vina, makanlah."
Ketika menyadari gaun Vina terlalu tipis, sedangkan suhu di ruangan itu sangat dingin, Henry melepas jas, lalu menutupi tubuh Vina dengan jas.
"Vina, lebih hangat, 'kan? Apa kamu masih merasa kedinginan?"
Teman-teman di sekitarnya langsung menggodanya. "Henry, sok sekali kamu setelah menikah!"
Bab 5
Vina terdiam, dia ingin mengakhiri drama ini.
"Sudah malam, aku pulang dulu."
Henry juga ingin ikut Vina pulang, tetapi dihalangi oleh teman-temannya.
"Kakak ipar butuh istirahat. Kamu sudah lama nggak kumpul bersama kami, jangan pulang dulu!"
"Benar, biarkan Kakak Ipar pulang istirahat, kamu temani kami bersenang-senang di sini."
Vina melepaskan genggaman dari tangan Henry sambil berkata, "Sopir yang akan mengantarku pulang, kamu tetap di sini saja."
Setelah mengatakan itu, Vina langsung pergi.
Dia buru-buru pergi hingga Henry tidak sempat menghalanginya.
Ketika belum pergi terlalu jauh, Vina menemukan ponsel yang bukan miliknya di jas.
Ponsel itu milik Henry.
Vina mengernyit, dia menyuruh sopir kembali.
Sesampainya di depan bar, Vina melihat Maira baru saja turun dari taksi.
Maira terus-menerus membenahi riasan wajahnya. Dia terus berjalan ke arah ruang privat tanpa memperhatikan sekitar.
Vina tanpa sadar memegang ponsel dengan erat sambil mengikuti Maira.
Ternyata Maira berhenti di depan ruang privat Henry dan teman-temannya.
Begitu masuk, Maira berpelukan dengan Henry.
Henry memeluk pinggang Maira, kemudian berkata sambil mengelus kepala Maira dengan penuh cinta, "Kenapa kamu datang begitu cepat?"
Maira menyandarkan kepala di bahu Henry. Dengan tersenyum manja, Maira berkata, "Aku merindukanmu! Begitu menerima teleponmu, aku buru-buru kemari."
Henry tersenyum. "Sini, kuberi hadiah."
Sambil berbicara, Henry mencium bibir Maira. Setelah itu, mereka berciuman dengan penuh gairah.
"Cukup, cukup, jangan bermesraan di sini."
Teman-teman Henry tidak terlihat terkejut, sebaliknya mereka malah menggoda mereka berdua.
Vina menyaksikan semuanya dari celah pintu, tubuhnya menjadi gemetar.
Ternyata semua teman Henry mengetahui perselingkuhan antara Henry dengan Maira.
Mereka juga bersandiwara di depan Vina.
"Henry, sekarang Maira sudah datang. Selanjutnya, kita boleh melakukan permainan lain, 'kan?"
Teman-temannya tertawa dan bertepuk tangan. Tidak lama kemudian, beberapa wanita muncul dari ruangan sebelah.
Setiap pria memeluk seorang wanita di samping.
Permainannya gampang. Putar botolnya, siapa pun yang ditunjuk oleh ujung botol harus memilih antara berkata jujur atau menjalani tantangan.
Botol berputar beberapa kali, lalu mengarah ke Henry.
Semua teman-temannya menjadi heboh dan suasana makin memanas.
"Henry, kapan terakhir kali kalian berhubungan?"
Ada seorang teman bertanya sambil tersenyum nakal, teman-teman lainnya mengerti maksudnya.
Henry mengangkat alis, dia menjawab dengan suara tenang, "Kemarin, di mobil."
Mendengar hal itu, teman-temannya langsung heboh.
"Gila, hebat kamu! Bagaimana rasanya?"
Maira tersipu malu dan membenamkan diri dalam pelukan Henry. Henry menjawab dengan menyunggingkan senyum, "Luar biasa, sangat menggairahkan."
"Hahaha. Sudah kubilang, wanita simpanan lebih menggairahkan daripada istrimu."
"Benar, Henry. Pria seperti kita, mana ada yang nggak punya wanita simpanan?"
"Selama kamu bisa menyembunyikan perselingkuhanmu, kamu akan hidup bahagia, Vina juga nggak akan mengetahuinya."
Sambil berbicara, teman-teman Henry mencium wanita di samping mereka dan meraba tubuh mereka.
Begitu mendengar nama Vina disebut, ekspresi Henry langsung membeku. Henry berkata dengan tegas, "Kalian jangan membuat masalah di depan Vina. Kalau nggak … rasakan akibatnya."
"Oke, oke! Kakak ipar nggak akan mengetahui rahasiamu."
Vina mendengar semua yang dikatakan mereka.
Suara tawa dari dalam terus terdengar. Vina merasa dingin di seluruh tubuhnya. Kakinya entah sejak kapan sudah mati rasa, dia berjalan keluar dengan tatapan kosong.
Melihat ada yang tidak beres pada diri Vina, sopirnya buru-buru menghampirinya. Ketika sopirnya mau masuk memberi tahu Henry, Vina langsung menghentikannya.
"Nggak perlu mengantarku, aku bisa pulang sendiri. Selain itu, jangan beri tahu Henry bahwa aku kembali ke sini."
Vina menyuruh sopirnya pulang, sedangkan dirinya berjalan sendirian di jalanan yang sepi.
Tiba-tiba turun hujan deras, tetapi Vina seperti tidak merasakan apa-apa.
Dinginnya hujan makin membuat Vina sadar.
Entah sudah berapa lama Vina berjalan.
Terasa sangat lama, jauh lebih lama daripada malam ketika Vina masih berusia 17 tahun. Waktu itu, Henry menggendongnya karena kakinya terkilir ….
Ternyata, ketulusan hati pria itu sudah berubah.
Bab 6
Sesampainya di rumah, Vina demam tinggi.
Henry pulang dalam kondisi mabuk. Saat melihat Vina pingsan, Henry langsung merasa panik.
Henry buru-buru membopong Vina dan mengantarnya ke rumah sakit.
Ketika sudah sadar, Vina berusaha membuka matanya yang terasa berat.
Melihat Vina sudah sadar, perawat terlihat gembira. "Nyonya Vina, akhirnya Anda sadarkan diri. Anda sudah mengalami demam semalaman, Tuan Henry sangat mengkhawatirkan kondisi Anda. Tuan Henry terus menjaga di samping Anda. Baru saja dia pergi setelah menerima telepon. Apa mau saya hubungi Tuan Henry? Dia pasti senang mendengar Anda sudah sadar."
Vina menggelengkan kepala dan menjawab dengan suara serak, "Nggak perlu."
Perawat itu tidak berkomentar, dia membantu Vina mengganti obat sebelum pergi.
Suasana bangsal yang luas tiba-tiba menjadi sunyi hingga Vina bisa mendengar suara Henry sedang telepon di luar.
Henry biasanya tampak tenang, dia hanya kehilangan kendali jika berhubungan dengan Vina.
Namun, sekarang suara Henry terdengar bahagia dan antusias.
Tidak lama kemudian, Vina mendengar suara langkah Henry yang makin menjauh. Henry sudah pergi.
Vina berusaha turun dari ranjang, dia perlahan berjalan keluar dari kamar.
Setelah turun ke bawah, Vina kebetulan melihat Henry sedang memapah Maira keluar dari ruangan ginekologi.
Wajah mereka tambah bahagia.
Saat melihat Vina, Maira sengaja berteriak dengan wajah terkejut, "Nyonya Vina juga ada di rumah sakit?"
Mendengar itu, Henry mendongak. Henry bertatap muka dengan Vina yang berada tidak jauh darinya.
Henry terkejut dan langsung melepas tangan yang memegang Maira.
"Vina, aku turun ke bawah untuk mengambilkan obatmu. Secara kebetulan, aku bertemu dengan Maira. Dia sedang hamil, aku memapahnya karena takut dia jatuh."
Henry menjelaskan dengan panik, dia takut Vina salah paham.
Vina melirik ke perut Maira, rasanya dadanya terasa sesak.
Vina memejamkan mata. Tidak lama kemudian, Vina bertanya, "Nona Maira, kapan … kapan kamu hamil? Di mana ayahnya?"
Maira mengelus perutnya dengan wajah bahagia. Maira berkata dengan tersenyum, "Aku barusan periksa, usia kandunganku satu bulan. Meskipun ayahnya nggak bisa datang karena sibuk, ayahnya bahagia setelah mendengar aku hamil. Ayahnya membelikanku beberapa vila dan uang sebesar 200 miliar. Malam ini, dia juga akan menyalakan kembang api demi merayakan kehamilanku."
Maira sangat bangga memamerkan kehamilannya, sementara Vina hanya menatapnya cukup lama. Setelah itu, Vina berkata dengan memaksakan tersenyum, "Benarkah?"
Sambil tertawa, Maira berkata dengan angkuh, "Nyonya Vina, kebetulan hari ini senggang, bagaimana kalau kita makan bersama? Aku akan panggilkan ayah dari bayiku untuk makan bersama."
Mendengar itu, ekspresi Henry langsung berubah. Pria itu menatap Maira dengan wajah muram, lalu berkata, "Nggak perlu, Vina sedang sibuk."
Setelah mengatakan itu, Henry memeluk Vina dan membujuknya.
"Vina, kondisimu belum stabil, jangan pergi ke mana-mana."
"Dia hanyalah duta merek, jangan diambil hati."
Saat mendengar nada meremehkan dari Henry, wajah Maira menjadi pucat.
Lalu, Maira menunduk. Maira berkata dengan mata berkaca-kaca, "Ya, aku memang nggak tahu diri. Aku lupa bahwa diriku nggak pantas makan bersama Nyonya Vina."
Maira menyeka air mata dan berbalik dengan wajah kesal.
Ekspresi wajah Henry berubah dan ingin menyusul Maira. Namun, saat melihat Vina berdiri di samping sambil menatapnya, Henry mengurungkan niatnya.
Selesai ambil obat, Vina pulang ke rumah.
Habis memarahi Maira, Henry menjadi tidak fokus di sepanjang perjalanan. Usai mengantar Vina pulang, dia mengunci diri di ruang kerja dengan dalih ada urusan kantor yang belum selesai dia kerjakan.
Namun, di kamar, Vina mendapat kiriman pesan berupa gambar dari Maira.
Foto USG.
Selain itu, wanita itu juga memberikan pesan provokatif.
"Vina, aku tahu kamu sudah tahu yang sebenarnya. Anak ini adalah anak Henry. Jangan mengira Henry benar-benar mencintaimu. Kalau dia tulus mencintaimu, buat apa dia berselingkuh denganku?"
"Tahukah kamu betapa dia mencintaiku? Setiap ulang tahunmu maupun perayaan ulang tahun pernikahan kalian, dia pasti menyuruhmu lekas tidur agar dia bisa menemuiku. Dia sangat bergairah berhubungan denganku sampai aku sendiri merasa kelelahan keesokan paginya."
"Kami pernah bercinta di mobil Maybach miliknya, di ruangan kantornya, bahkan pernah di kamar kalian. Orang-orang mengatakan bahwa cinta dan seks adalah dua hal yang nggak terpisahkan. Apa dia juga bersikap sama terhadapmu?"
Vina menarik napas dalam-dalam saat membaca pesan yang provokatif ini. Dia menahan emosi yang bergejolak di hatinya.
Saat mematikan ponsel, Henry memeluknya dari belakang.
"Sayang, kamu baca apa?"
Henry menempelkan dagunya di leher Vina. Yang dilihat Henry hanyalah layar ponsel Vina yang sudah dimatikan.
Bab 7
"Nggak ada."
Vina memandang jendela dengan mata memerah.
Sesaat kemudian, terlihat kembang api menyala di langit.
Vina teringat pesan dari Maira. Maira mengatakan bahwa Henry akan menyalakan kembang api untuk wanita itu malam ini.
Melihat istrinya menatap kembang api di luar dengan tatapan kosong, Henry bertanya dengan tatapan penuh cinta, "Kamu suka kembang api? Bagaimana kalau aku nyalakan kembang api untukmu yang lebih bagus?"
Henry memeluk Vina dengan erat sekaligus menghiburnya.
Vina tersenyum pahit, air mata berlinang di wajahnya.
"Henry, aku nggak suka barang bekas."
Baik kembang api maupun suami.
" … "
Meskipun Vina membahas tentang kembang api, Henry merasa gugup. Entah kenapa tiba-tiba Henry merasa panik.
Di tengah keheningan, Henry memeluk Vina makin erat.
"Kalau begitu, aku berikan kamu hadiah yang lain, yang nggak membuatmu iri dengan wanita lain."
Vina terdiam, dia hanya memandang ke kejauhan tanpa menjawab sepatah kata pun.
Setelah itu, selama beberapa hari, Henry selalu berangkat pagi dan pulang malam, terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
Para pelayan pun menyadari keanehan majikannya. Mereka menggoda Vina sambil tersenyum, "Nyonya, Tuan Henry pasti sedang diam-diam menyiapkan kejutan buat Anda."
"Benar sekali. Tuan Henry sangat menyayangi Nyonya. Tuan barusan memesan perhiasan, sekarang dia menyiapkan hadiah lain. Tuan tidak habis-habisnya memberikan hadiah buat Nyonya."
Vina hanya mendengarkan tanpa menanggapi omongan mereka.
Sampai suatu hari, sambil menggandeng tangan istrinya, Henry mengajak Vina pergi.
"Vina, aku mau mengajakmu ke suatu tempat, kamu pasti suka."
Saat Vina mau menolak, tiba-tiba ponsel berbunyi.
Ada pesan dari Maira.
"Vina, menurutmu, siapa yang paling dia cintai, aku atau kamu?"
Sesaat kemudian, ponsel Henry juga berbunyi.
Vina menoleh dan melihat foto di ponsel Henry.
Maira mengirimkan foto sebuah kaki dengan stocking hitam, diikuti dengan kalimat "Jangan melewatkan kenikmatan ini."
Dalam sekejap, tatapan Henry menjadi serius dan jakunnya berguling beberapa kali.
Beberapa menit kemudian, Henry menyimpan ponselnya. "Vina, ada proyek kantor yang bermasalah, aku harus segera menyelesaikannya sekarang."
"Bagaimana kalau aku memperlihatkan kejutan padamu lain kali?"
Vina menatap suaminya tanpa mengatakan apa pun, lalu dia tertawa.
Suara tawa itu membuat Henry merasa bingung. Vina turun dari mobil tanpa banyak bicara.
Henry ragu sejenak, kemudian dia menyalakan mesin mobil dan pergi secepat kilat tanpa memedulikan istrinya.
Beberapa jam kemudian, Maira mengirimkan foto setumpuk kondom yang baru saja digunakan suaminya.
"Vina, kamu kalah lagi. Padahal aku sedang hamil, tapi dia sudah nggak sabar bercinta denganku. Sebesar itukah dia mencintaiku?"
Maira bersikap angkuh. Vina hanya melihat foto itu dan tidak membalas pesan dari Maira.
Vina sudah memutuskan untuk meninggalkan suaminya, jadi foto ini tidak lagi berarti apa-apa untuk Vina.
Sejak itu, Henry tidak pulang selama beberapa hari.
Vina juga tidak menanyakan keberadaan suaminya.
Sebaliknya, Maira tidak henti-hentinya mengirimkan foto.
Foto potongan buah-buahan, foto lemari mewah, foto masakan Henry ….
Semuanya untuk menunjukkan betapa Henry mencintai Maira.
Vina tidak membalas. Dia buru-buru mengemasi semua barangnya.
Vina sudah memutuskan meninggalkan suaminya, maka dia tidak boleh setengah-setengah.
Bab 8
Pada hari pertama, Maira mengirim foto Henry mengupaskan udang untuknya. Vina membakar semua fotonya bersama Henry di sebuah tungku kecil.
Pada hari kedua, Maira mengirimkan foto dirinya berciuman dengan Henry di bawah pohon jeruk, sedangkan Vina menyuruh pelayannya merobohkan pohon ceri di belakang rumah.
Pada hari ketiga, Maira mengirimkan kumpulan rekaman Henry menyatakan cinta padanya, Vina langsung mencari semua surat cinta yang ditulis Henry untuknya.
Semua surat cinta itu sudah menguning termakan oleh waktu, tetapi tulisannya masih terlihat jelas.
Vina menyentuh tulisan tangan pada surat itu, kemudian tanpa ragu memasukkan semua surat ke dalam mesin penghancur.
…
Tepat di hari kepergian Vina, dini hari.
Vina membuka mata, dia melihat sosok Henry yang sudah berhari-hari tidak pulang sekarang berdiri di depan ranjang.
Henry berdiri di depan ranjang. Pria itu memegang ponsel Vina, saat melihat Vina terbangun, wajah pria itu tampak serius.
"Vina, barusan ada pesan di ponselmu yang memberi tahu bahwa proses penghapusan berhasil. Kamu menghapus apa?"
Vina terkejut mendengarnya.
Dia buru-buru merebut ponselnya, lalu menyalakan layar ponsel.
Itu adalah pemberitahuan bahwa proses penghapusan identitasnya berhasil.
Untunglah, ponsel Vina menggunakan kata sandi sehingga Henry tidak membaca pesan secara keseluruhan.
Vina merasa lega, lalu menjawab, "Bukan hal penting. Ada akun media sosialku yang diretas. Setelah berhasil kudapatkan kembali, akun itu kuhapus karena merasa nggak aman."
Henry merasa lega. Setelah itu, dia memeluk Vina sambil berkata dengan tersenyum, "Aku belikan makanan kesukaanmu, coba tebak apa?"
Vina tertegun sejenak, lalu menjawab, "Klepon dari Kota Cendana."
"Kok kamu tahu?" Henry merasa heran.
Bagaimana mungkin Vina tidak tahu?
Saat masih pacaran, setiap kali Henry membuat Vina marah, Henry pergi ke Kota Cendana untuk membeli klepon sebagai permintaan maaf.
Rasa manis klepon membuat Vina luluh hatinya.
Vina tidak suka perhiasan maupun mobil mewah, melainkan makanan ini.
Saat itu, Henry tersenyum. "Vina, aku nggak perlu susah-susah dalam membujukmu."
Vina menepuk kening Henry sambil berkata, "Bukan, tapi karena aku masih mencintaimu. Jadi, aku bisa maafkan kesalahanmu."
"Kalau aku sudah nggak mencintaimu lagi, meskipun kamu mati di depanku, aku nggak akan memaafkanmu."
Kenangan itu pelan-pelan menghilang. Henry mengeluarkan kotak klepon dari belakang, sambil berkata dengan tersenyum penuh cinta, "Ternyata aku nggak bisa membohongimu."
Mendengar itu, Vina tertawa dan berkata, "Benar, kamu nggak bisa membohongiku."
Henry merasa terkejut dan bergumam, "Vina …."
Vina tidak mengatakan apa-apa lagi, dia turun dari kasur, lalu mandi.
Selesai mandi, Vina melihat Henry pergi terburu-buru.
Vina terhenyak sesaat, lalu mengikuti Henry keluar.
Sampai di depan pintu, Vina terkejut karena dia melihat ada Maira tidak jauh dari sana.
Kenapa wanita itu berani sekali datang ke rumah?
Yang terkejut bukan hanya Vina, tetapi juga Henry.
Henry segera menghampiri Maira. Pria itu memegang tangan Maira, berkata dengan serius, "Kamu gila, ya? Kenapa kamu datang ke sini? Sudah kubilang, saat ada Vina di rumah, kamu nggak boleh datang ke sini!"
Mendengar teriakan Henry, Maira terkejut dan matanya berkaca-kaca. Sambil menarik ujung baju Henry, Maira berkata dengan wajah sedih, "Aku nggak bisa jauh darimu, anakmu juga."
Sambil berbicara, Maira menarik tangan Henry untuk mengelus perutnya.
"Jangan buat onar di sini. Aku akan minta asistenku mengantarmu pulang. Beberapa hari lagi, aku akan temani kamu dan anak kita."
Maira tidak mau pergi. Wanita itu memegang tangan Henry sambil berkata dengan suara manja, "Nggak mau. Aku nggak mau pergi dengan asistenmu. Aku mau kamu yang temani aku."
Setelah itu, Maira berjinjit dan menarik dasi Henry, lalu mencium bibirnya.
Awalnya, Henry ingin mendorongnya menjauh. Namun, karena Maira terus menciumnya, akhirnya Henry menyambut ciumannya sambil memeluknya dengan erat.
Mereka berdua berciuman mesra di halaman.
Saat hampir lepas kendali, Henry segera berhenti dan mendorong Maira. "Kamu harus pergi."
Mata Maira terlihat berkaca-kaca. Dia memeluk Henry sambil membisikkan sesuatu di telinganya.
Ekspresi wajah Henry langsung berubah.
Akhirnya, Henry berkata, "Oke, aku temani kamu hari ini. Naiklah ke mobil dulu, nanti aku menyusul."
Maira gembira karena mendapatkan yang dia inginkan. Wanita itu naik mobil sambil mengelus perutnya.
Saat melihat Henry akan masuk rumah, Vina langsung berbalik.
Tidak lama kemudian, Henry masuk dan mengatakan.
"Vina, awalnya aku ingin menemanimu hari ini. Sayangnya, aku barusan terima telepon bahwa ada urusan penting di kantor, terpaksa aku harus ke kantor. Kamu tunggu di rumah, ya. Selesai kerja, aku akan menemanimu sepanjang hari."
Henry panik menunggu respons Vina, tetapi Vina hanya menatapnya.
Tatapan mata Vina membuat Henry terkejut.
Sejak kapan tatapan mata Vina kosong seperti ini?
Sambil menelan ludah, Henry memanggil nama istrinya. "Vina …."
Sebelum kata-katanya selesai, Vina berkata dengan suara pelan, "Pergilah, urus pekerjaanmu."
Suaranya masih lembut seperti biasanya, tidak terlihat ada keanehan.
Akhirnya, Henry merasa tenang.
Henry mengelus kepala Vina, kemudian pergi.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil Henry yang melaju menjauh.
Senyuman Vina hilang, air mata mengalir di wajahnya.
Vina mengusap air matanya. Dia membuang klepon ke tong sampah. Dia membawa semua barang-barang keluar.
Vina memandang rumah ini untuk terakhir kalinya, lalu mengirimkan pesan terakhir kepada Henry.
"Waktu dua minggu tiba, kamu sudah boleh membuka hadiah ulang tahun pernikahan yang sudah kusiapkan sebelumnya untukmu."
Henry segera membalas pesannya.
"Sayang, aku akan segera pulang, nanti kita buka hadiah itu bersama."
Vina tertawa.
Buka bersama?'
Henry, kamu akan membukanya sendiri.'
Aku akan meninggalkanmu selamanya.'
Vina mengirimkan semua pesan dari Maira kepada Henry. Setelah itu, Vina mengeluarkan kartu ponselnya dan menghancurkannya.
Sesudah itu, Vina membawa barang-barangnya meninggalkan rumah.
Sinar matahari di luar sangat terik, hari yang indah.
Mulai sekarang, Vina akan menghilang selamanya ….