Đang tải thông tin quảng bá...
Siasat Cinta Pertama Suamiku
Cinta pertama suamiku sudah sekarat. Apalagi, keinginan terakhirnya adalah menikah dengan suamiku. Di pesta pernikahan, mereka berciuman dan berpelukan layaknya pasangan sungguhan. Saat aku memasuki t...
Chương (1)
第1章
Cinta pertama suamiku sudah sekarat.
Apalagi, keinginan terakhirnya adalah menikah dengan suamiku.
Di pesta pernikahan, mereka berciuman dan berpelukan layaknya pasangan sungguhan.
Saat aku memasuki tempat itu, suamiku berteriak kepadaku, "Hazel, kenapa kamu begitu egois? Liora sudah sekarat begini. Kalau aku bahkan nggak bisa mengabulkan keinginan kecil seperti ini, apa aku masih termasuk manusia?"
Demi bersikap sopan, aku meninggalkan surat cerai dan berlalu dari sana.
Suamiku yakin aku pasti akan kembali.
Namun setelah aku membuat pengumuman resmi pacaran di Instagram, dia mulai panik.
Bab 1
Saat suamiku menelepon untuk memberitahuku bahwa dia akan mengadakan pernikahan dengan cinta pertamanya, dia sudah berada di tempat acara pernikahan.
Aku naik taksi ke sana. Namun, acara pernikahan sudah sampai di penghujung.
Suamiku, Januar, dan cinta pertamanya, Liora, tengah berciuman dan berpelukan di atas panggung.
Layaknya pasangan sungguhan.
Saat melihatku, Januar mengerutkan kening. "Hazel, apa yang kamu lakukan di sini? Tahukah kamu kedatanganmu sudah membuat Liora malu? Apa dia masih punya muka untuk bertemu orang lain ke depannya?"
Konyol sekali. Suamiku melangsungkan pernikahan dengan wanita lain.
Namun, yang dia khawatirkan justru martabatnya Liora.
"Kalau kamu ingin menikah dengan Liora, kamu bisa minta cerai denganku. Mengapa kamu melakukan semua ini?"
Jika bukan karena ada teman yang merekam lokasi pernikahan, mungkin aku masih belum tahu hal ini.
Siapa sangka, Januar malah tidak sabar dan langsung berteriak kepadaku, "Hazel, kamu punya hati nurani nggak, sih? Liora sakit parah. Satu-satunya penyesalan dalam hidupnya adalah dia nggak pernah menikah. Aku hanya membantunya memenuhi keinginan terakhirnya, apa ini juga salah?"
"Bukannya kami menikah sungguhan. Kami hanya berpura-pura. Apa kamu perlu menerobos masuk seperti wanita gila?"
"Cepat keluar dari sini sekarang juga!"
Pertengkaran kami menarik perhatian para tamu. Semuanya mulai mengerumuni kami.
Liora, yang mengenakan gaun pengantin, berjalan ke depan dan secara alami meraih lengan Januar.
"Kakak Ipar, jangan salah paham. Aku didiagnosis menderita leukemia. Waktu yang aku punya nggak banyak lagi."
"Satu-satunya harapanku adalah mengadakan acara pernikahan. Dengan begitu, aku juga nggak punya penyesalan lagi saat meninggal nanti."
Setelah mengatakan itu, Liora memandang Januar dengan penuh kasih. "Aku nggak seperti kamu. Satu-satunya teman pria yang kumiliki hanyalah Januar. Jadi, aku hanya bisa minta bantuannya. Aku harap kamu nggak keberatan."
Aku tersenyum sinis. Wajah berseri-seri milik Liora sama sekali tidak terlihat seperti orang yang menderita penyakit parah.
Januar memegang bahu Liora. "Liora, kamu nggak perlu minta maaf sama wanita gila ini. Kamu nggak melakukan kesalahan apa pun. Kamu juga nggak ingin sakit."
Selesai berbicara, Januar kembali menatapku. "Sekarang kamu sudah tahu alasannya, 'kan? Cepat pulang ke rumah. Bikin malu saja kamu di sini."
Aku merasa seakan-akan diriku ditampar di depan begitu banyak orang.
Wajahku terasa panas dan tidak nyaman.
Liora menundukkan kepalanya sedikit, tetapi ada senyum bangga di wajahnya.
Dia memang sengaja.
Hal seperti ini terjadi bukan sekali atau dua kali saja. Sejak Januar dan aku menikah, Liora selalu mencari berbagai cara untuk menjauhkan suamiku dariku.
Aku mengalami keguguran tahun lalu. Sakit yang kurasakan sangat menyiksa hingga harus dirawat di rumah sakit.
Namun siapa sangka, Liora justru meminta Januar menemaninya. Dengan alasan, kucingnya akan segera melahirkan dan dia tidak bisa menanganinya sendirian.
Setelah itu, Liora pun meneleponku dan minta maaf. Namun, didengar dari nada bicaranya, permintaan maafnya sama sekali tidak tulus.
Setiap kali aku marah, Januar akan mengerutkan kening dan berbalik memarahiku. Dia bilang aku tidak pengertian. Bukankah Liora sudah minta maaf kepadaku? Apa lagi yang aku inginkan?
Sekarang, aku sudah muak dengan kehidupan seperti ini.
Aku mengangkat pandanganku dan menatap suamiku. "Januar, kamu mau ikut aku pergi atau nggak?"
"Kalau kamu nggak mau ikut denganku, ayo kita bercerai."
Bab 2
Januar tertegun sejenak, lalu menatapku sambil tersenyum sinis. "Hazel, jangan menyesal. Kalau kamu mengakui kesalahanmu dan minta maaf kepada Liora sekarang, aku mungkin akan memaafkanmu."
Banyak orang di sekitar yang melirik kami dengan penasaran, termasuk kolega dan teman kami.
Namun, Januar dan Liora mempermalukanku di depan umum seperti ini.
Aku tidak boleh diam saja.
Liora juga berkata dengan hati-hati, "Maaf, Kakak Ipar. Aku nggak sangka kamu nggak setuju dengan masalah ini. Maafkan aku. Jangan bercerai dengan Kak Januar, ya?"
Januar menarik Liora kembali. "Sudah kubilang, jangan minta maaf pada wanita ini. Kamu nggak salah. Yang salah itu Hazel. Dia nggak seharusnya perhitungan dengan pasien sepertimu."
Januar menatapku. "Nggak punya etika. Bagaimana orang tuamu mendidikmu?"
Dia bukan hanya menceramahiku, tetapi sekarang dia malah membicarakan orang tuaku.
Tentu saja aku tidak tinggal diam. Aku langsung maju ke depan dan mendaratkan sebuah tamparan di wajah Januar.
"Aku peringatkan, jangan bilang orang tuaku."
Januar tertegun. Dia menutupi wajahnya dan menatapku dengan tidak percaya.
Liora langsung berteriak, "Kak Januar, kamu baik-baik saja? Pasti sakit, 'kan?"
"Kakak Ipar, pukul aku saja. Jangan pukul Kak Januar."
Aku tersenyum sinis. "Kamu kira aku hanya menamparnya, tapi nggak menamparmu?"
Saat aku bersiap untuk menampar Liora, Januar meraih pergelangan tanganku dengan sigap.
Ada kemarahan luar biasa yang muncul di matanya. "Hazel, keluar dari sini!"
"Surat cerai akan kukirimkan kepadamu hari ini. Keluar dan jangan pernah kembali lagi!"
Aku menarik tanganku kembali. "Nggak perlu, aku sudah menyiapkannya. Akulah yang menceraikanmu."
Aku mengeluarkan dua surat cerai dari tasku. Dua-duanya sudah aku tandatangani sebelumnya.
Aku sudah lama memikirkan hal ini. Jika aku tidak bisa menghentikan Januar, maka aku akan menceraikannya.
Aku tidak bisa menoleransi ada orang ketiga dalam pernikahanku.
Hanya saja, aku tidak menyangka situasinya akan berakhir buruk seperti ini.
Januar yang dikuasai emosi langsung menandatangani surat cerai itu.
Aku tidak lupa memperhatikan ekspresi Liora di sebelahnya. Sepertinya senyuman di wajahnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
Ada sedikit rasa bangga dalam senyuman itu.
Selesai menandatangani surat cerai, Januar pun mengembalikannya kepadaku. "Keluar dari sini!"
Di bawah tatapan semua orang, aku mengambil surat cerai yang telah ditandatangani, lalu berbalik, dan meninggalkannya begitu saja.
Ada beberapa teman yang menarikku dan memintaku untuk mempertimbangkan masalah ini lagi.
Bagaimanapun, Januar dikenal sebagai pengusaha muda di Kota Adalon di saat berusia dua puluhan. Apalagi, dia punya masa depan yang cerah.
Namun, aku menolak semuanya.
Saat ini, yang kuinginkan hanyalah perceraian yang layak.
Sesampainya di rumah, aku memandang tempat yang telah kutinggali selama tiga tahun ini. Namun, aku tidak merasakan nostalgia sedikit pun.
Dalam tiga tahun ini, Januar bukan hanya sekali membawa Liora pulang ke rumah.
Suatu kali, saat aku mau naik ke lantai atas, dia sengaja membuat dirinya terjatuh. Kemudian, menuduh bahwa aku yang mendorongnya.
Januar marah besar, seakan ingin menelanku hidup-hidup waktu itu.
Tidak peduli bagaimana aku menjelaskan, Januar sama sekali tidak menghiraukan dan hanya mendengarkan perkataan Liora.
Waktu itu, kami sudah hampir bercerai. Demi menyelamatkan rumah tangga yang retak ini, aku harus merendahkan diri untuk menyenangkan suamiku selama setengah tahun.
Setelah dipikir-pikir sekarang, sepertinya aku sudah gila waktu itu.
Aku sudah muak dengan pernikahan tidak sehat seperti ini. Terserah suamiku mau menikahi wanita mana. Pokoknya, aku sudah tidak menginginkannya lagi.
Setelah mengemasi barang-barang, Januar juga kembali ke rumah.
Bekas tamparanku pagi tadi masih terlihat jelas.
Mendapati aku masih di sana, dia langsung memelototiku dengan benci. "Hazel, kenapa kamu masih nggak keluar?"
"Kamu membuatku kehilangan harga diri di depan semua orang hari ini. Aku pasti nggak akan melepaskanmu begitu saja. Kamu tunggu saja!"
Bab 3
Aku hanya berpura-pura tidak melihatnya. Setelah mengambil barang-barangku, aku pun berbalik dan pergi.
Sebelum pergi, aku menatap Januar. "Besok kita pergi ke kantor sipil untuk mendaftar. Setelah masa tenang cerai berlalu, kita ajukan perceraian."
Januar menatapku dengan nanar, tetapi tidak mengatakan apa pun.
Keesokan paginya, aku membuat janji untuk perawatan diri dan menyewa penata rias untuk mendandani wajahku.
Aku juga meminta dua model pria dari toko teman untuk menemaniku.
Sesampainya di kantor sipil, Januar juga telah datang. Dia bahkan mengajak Liora bersamanya.
Aku mengira dia tidak berani datang.
Saat melihatku, Liora lebih dulu membuka mulut. "Kakak Ipar, aku kira kamu akan sedih setelah bercerai dengan Kak Januar. Tak disangka, kamu akan secepat ini ...."
Sorot mata Januar yang mulanya ragu-ragu berubah menjadi tegas saat melihat pria di belakangku. "Hazel, aku nggak sangka kamu ternyata orang seperti ini. Nggak peduli cara apa pun yang kamu gunakan kali ini, aku nggak akan memaafkanmu lagi. Aku jijik padamu."
"Jangan banyak omong. Sepertinya di sini ada orang yang membawa energi negatif yang kuat, jadi aku membawa dua orang untuk melawan energi negatif itu."
Aku sengaja menatap Liora. Seakan memahami sindiranku, dia langsung memelototiku.
Aku kembali memandang Januar. "Lagi pula, kamu juga bukan laki-laki sejati lagi."
Januar tidak mengatakan apa-apa. Sebaliknya, Liora berkata, "Jangan banyak omong lagi. Bukankah ini hanya akal-akalanmu untuk menunda waktu dan nggak ingin menjalani formalitas?"
Aku melirik Liora sekilas, lalu berbalik dan memasuki gerbang kantor sipil.
Kami berdua memutuskan untuk tidak menjalani mediasi.
Namun, kemunculan kami menarik banyak perhatian.
Bagaimanapun, aku diikuti oleh dua pria tampan, sedangkan Januar dikuti oleh Liora. Kombinasi ini memang terlihat aneh.
Selesai mendaftar, aku bergegas keluar.
Januar menghentikanku. "Hazel, aku akan beri kamu satu kesempatan terakhir untuk minta maaf kepada Liora. Masih belum terlambat bagimu untuk menyesalinya sekarang."
Ekspresi Liora tiba-tiba berubah. Dia hanya menatap Januar, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku tertegun. Kenapa Januar berulang kali mengatakan ingin memberiku kesempatan?
"Nggak perlu. Aku jijik, nggak mau."
"Kamu …."
Aku berbalik dan membawa dua model pria masuk ke dalam mobil. Tanpa peduli dengan ekspresi marah di wajah Liora dan Januar.
Setelah menyelesaikan pendaftaran, aku juga merasa lega.
Aku segera memesan tiket ke luar negeri untuk bersenang-senang.
Sejak bersama dengan Januar, aku belum pernah punya waktu untuk bersantai seperti sekarang ini.
Aku selalu harus menjaga emosinya karena takut perkataanku membuatnya tidak senang dan dia akan kehilangan kesabaran.
Sebulan kemudian, aku baru kembali ke Kota Adalon tepat waktu.
Aku menelepon sahabatku dan mengajaknya keluar makan. Kemudian, memberitahunya tentang rencanaku untuk bercerai.
Tak disangka, mata sahabatku langsung berbinar mendengar itu. Dia menepuk pundakku. "Akhirnya kamu berpikir terbuka juga. Aku sudah lama muak dengan Januar, si bajingan itu. Kalau bukan karena kamu begitu menyukainya waktu itu, aku pasti sudah menjelek-jelekkannya."
Aku tersenyum. "Mulai sekarang, kamu sudah bisa menjelek-jelekkannya. Aku nggak akan peduli lagi."
Aku menceritakan apa yang telah dilakukan Januar selama periode ini kepada sahabatku. Saking emosinya, sahabatku langsung membanting meja.
"Aku belum pernah bertemu dengan bajingan seperti itu."
"Begini saja, kita harus membuatnya kesal. Siapa suruh dia berani meremehkan Hazel. Kita harus membuatnya menyesal setengah mati."
Rencana balas dendam yang disebut sahabatku hanya sebuah pengumuman resmi pacaran di instagram. Dia akan berpura-pura menjadi pacar sementaraku.
Aku sudah tidak peduli dengan Januar, apalagi membuatnya marah. Aku tidak tertarik melakukannya.
Namun melihat sahabatku begitu bersemangat, aku pun membiarkannya begitu saja saja.
Keesokan harinya, aku datang ke kantor sipil tepat waktu.
Saat Januar melihatku, dia langsung mencekik leherku dengan mata memerah. "Hazel, apa kamu selingkuh? Siapa pria yang kamu unggah di instagram-mu itu?"