Đang tải thông tin quảng bá...
Setelah Aku Mati, Suamiku Menyesal
"Ayah, kapan ayah pulang? Ibu terbaring di ranjang dan nggak bergerak!" Putraku menelepon Michael sambil terisak-isak hingga sulit bernapas. "Panggil saja kalau dia nggak bangun! Dasar pemalas, nggak ...
Chương (1)
第1章
"Ayah, kapan ayah pulang? Ibu terbaring di ranjang dan nggak bergerak!"
Putraku menelepon Michael sambil terisak-isak hingga sulit bernapas.
"Panggil saja kalau dia nggak bangun! Dasar pemalas, nggak kerja di rumah juga cuma malas-malasan seperti babi pemalas."
"Cari saja ibumu kalau ada apa-apa. Aku sibuk kerja, jangan ganggu aku!"
Usai bicara, Michael dengan kesal langsung memutus teleponnya.
Saat itu, dia sedang sibuk bermesraan dengan sekretarisnya, sama sekali tidak punya waktu untuk pedui padaku.
Hanya saja, dia tak tahu bahwa aku sudah meninggal.
Aku tak akan pernah muncul lagi di hadapannya, tapi dia malah memeluk fotoku sambil menangis, memohon agar aku tidak pergi.
Bab 1
Jantungku terasa seperti diremas oleh tangan yang kuat, bahkan napasku terasa terhenti.
"Ibu, kamu kenapa?"
Anakku duduk di sampingku dengan wajah penuh rasa takut.
Aku sudah kesulitan bernapas saat ini. Demi tidak membuatnya panik, aku mencoba tersenyum padanya.
Hanya saja, senyuman itu terasa sangat dipaksakan.
Aku ingin mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya, tapi tanganku malah terkulai lemas, tidak bisa digerakkan sama sekali.
"Ibu, apa kamu sudah mau mati? Jangan tinggalkan Jack!"
Wajah anakku menjadi pucat, menangis sekeras-kerasnya.
Tangisannya membuat kepalaku berdenyut sakit. Aku merasa jantungku semakin nyeri, bahkan bernapas pun makin sulit.
"Pergi ... telepon ... ayah."
Ujarku dengan terputus-putus.
Jack yang masih berusia tiga tahun tentu tidak mengerti apa yang sedang kualami. Aku hanya bisa memintanya mencari bantuan suamiku.
Dia menyeka air matanya, lalu buru-buru turun dari tempat tidur untuk mengambil ponselku di ruang tamu.
Setelah mendapatkan ponsel, dia mengarahkannya ke wajahku untuk membuka kunci layar.
Namun, aku sudah dalam keadaan tak sadarkan diri. Seluruh tubuhku terasa seperti terjebak dalam cangkang kosong, tidak bisa bergerak sama sekali.
Jack, ibu hanya bisa bergantung padamu sekarang.
Dia tidak tahu apa itu nomor darurat, jadi hanya bisa berharap dia menelepon suamiku, Michael.
Aku sudah mengatur nomor suamiku sebagai kontak darurat, cukup dengan menekan ikon kecil di layar, panggilan bisa langsung tersambung.
Jack menekan ikon itu, suara nada sambung pun terdengar di telepon.
Panggilan tersambung, tapi tak ada yang menjawab. Akhirnya terdengar suara operator otomatis.
Jack tidak tahu siapa yang berbicara, jadi dia terus-menerus memanggil, "Ayah, ayah!"
Sementara itu, kesadaranku semakin memudar dan pandanganku menjadi gelap total.
Aku memiliki riwayat penyakit jantung turunan. Ayah dan kakekku meninggal karena penyakit jantung.
Sejak kecil, aku rutin menjalani pemeriksaan kesehatan. Dokter bilang jantungku baik-baik saja.
Aku hidup dengan sangat berhati-hati setiap hari, tetapi tetap saja, akhirnya aku meninggal karena serangan jantung mendadak.
Bab 2
Ketika aku membuka mata lagi, aku melihat diriku sendiri tergeletak di lantai.
Jack masih terus menekan ikon kecil di layar ponsel, hingga akhirnya panggilan itu terhubung.
"Ayah, kapan ayah pulang? Ibu nggak bergerak sama sekali di kasurnya."
Ujar Jack sambil terisak-isak, napasnya tersengal karena tangis yang tak kunjung reda.
"Panggil saja dia kalau nggak bangun! Nggak kerja, hanya bisa tidur-tiduran seperti babi pemalas di rumah!"
"Kalau ada apa-apa, cari saja ibumu, jangan ganggu aku!"
Ujar Michael dengan kesal.
"Kamu sudah janji mau temani aku malam ini, jangan pikirkan istri tuamu!"
"Kamu milikku malam ini."
Dari balik telepon, terdengar suara lembut yang membuat jantung berdegup kencang.
Aku mendengar semuanya dan merasa sangat kasihan pada diriku sendiri.
Setelah menikah dengan Michael, aku berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.
Aku mengurus rumah, mencuci, memasak dan merawat anak kami setiap hari. Tapi, di mata Michael, aku dianggap hanya bersantai di rumah tanpa melakukan apa-apa.
Bahkan saat aku hampir mati, dia justru menemani wanita lain di atas ranjang.
"Bukan begitu, aku nggak bermalasan, aku selalu bekerja keras ... tapi aku hampir mati sekarang ... "
Aku berusaha membuka mulut, mencoba menjelaskan, tapi sekuat apapun aku berteriak, mereka tak bisa mendengar suaraku.
Panggilan langsung diputus oleh Michael.
Jack memandangi layar ponsel yang menunjukkan panggilan terputus dengan wajah bingung. Kemudian, dia memanjat ke ranjang dan menyandarkan lenganku ke tubuh kecilnya.
Seolah-olah dengan begitu aku bisa tetap bersamanya.
Aku tak dapat menahan air mataku.
Anakku yang baru berusia tiga tahun akan kehilangan ibunya. Bagamana dengan masa depannya nanti?
Apakah setelah aku meninggal, Michael akan merawat Jack dengan baik?
Aku terus memandang Jack yang tidur di sampingku dan terus menyanyikan lantunan lagu.
Hingga akhirnya tertidur dengan napas yang panjang dan teratur.
Aku duduk di samping tubuhku sendiri, mengulurkan tangan untuk menyentuh wajahku.
Karena bertahun-tahun melakukan pekerjaan rumah, kulitku menjadi kasar dan wajahku pun sudah menampilkan kerutan-kerutan halus.
Mungkin itu sebabnya Michael berselingkuh dengan sekretarisnya.
Dia bahkan mengabaikan panggilan darurat yang bisa menyelamatkan hidupku.
Aku tidak tahu, apakah ketika tahu aku sudah meninggal, dia akan menitikkan air mata untukku, meski hanya setetes saja.
Bab 3
"Bangun bu! Aku takut ... "
Langit di luar sudah gelap gulita, Jack yang baru bangun tidur mulai menggoyangkan tubuhku.
Aku buru-buru menghampirinya, ingin memeluknya erat-erat.
Namun, tanganku justru menembus dirinya, aku sama sekali tidak bisa menyentuhnya.
"Ibu, aku takut gelap, cepat nyalakan lampunya!"
Melihat aku tidak merespons, Jack duduk di ranjang sambil menangis keras-keras.
Biasanya, kalau dia menangis seperti ini, aku pasti langsung menuruti permintaannya.
Namun kali ini, meski suaranya sudah serak karena menangis, aku tetap tak kunjung bangun.
Akhirnya, karena tak ada pilihan, Jack turun dari ranjang dan menyalakan lampu sendiri.
Dia menoleh ke arahku sejenak, lalu berjalan ke dapur untuk mencari makanan.
Namun gigi Jack sudah kurang bagus sejak kecil, jadi aku jarang memberinya cemilan, hanya ada beberapa buah di dapur.
Setelah mencari-cari cukup lama, akhirnya dia mengambil sebuah apel dingin dari dalam kulkas.
Dia membawanya ke wastafel kecil miliknya, mencuci apel itu, lalu kembali ke kamar dan menaruhnya di dekat mulutku.
"Ibu lapar, ya? Makan saja apel itu, aku sudah cuci bersih!"
Namun, aku tetap tidak bereaksi sama sekali.
Jack yang kecewa menarik kembali tangannya, lalu berbaring di sampingku, bahkan salah satu kakinya menimpa badanku.
"Ibu capek, ya? Aku nggak akan ganggu ibu, ibu tidur saja yang nyenyak, besok baru main sama aku lagi."
Usai bicara, Jack bangkit dan mencium wajahku, lalu menarik tanganku untuk membuat janji kelingking.
Aku tak bisa menahan tangis.
Jack, bukan ibu tak mau meresponmu, tapi ibu sudah tak bisa lagi menemanimu.
Kemudian Jack tertidur lagi.
Hingga fajar mulai menyingsing, tiba-tiba terdengar pintu kamar yang dibanting dengan keras.
Suara itu mengagetkan Jack dan menangis sambil berusaha memelukku.
Namun, dia segera menyadari bahwa aku tak bisa bergerak, jadi dia berlari keluar untuk menemui ayahnya.
"Kenapa kamu bangun sepagi ini? Di mana ibumu? Kenapa dia masih belum masak? Sudah jam segini masih malas-malasan?!"
Michael masuk ke dapur sambil mengomel, kemudian meminum segelas susu.
"Ayah, ibu ada di kamar. Aku lapar sekali, aku mau makan telur dadar."
Ujar Jack sambil menunjuk-nunjuk dan mencoba menarik tangan ayahnya untuk membawanya ke kamar.
Aku yang berada di samping mereka terus menyemangati Jack.
"Jack, ayo cepat bawa ayah ke kamar."
Selama Michael masuk ke kamar, dia akan tahu bahwa aku sudah meninggal dan dengan begitu, Jack tak akan kelaparan lagi.
Namun, Michael malah menepis tangan Jack dan menjawab, "Cari saja ibumu kalau lapar! Jangan ganggu aku, aku mau tidur!"
"Dasar Jane, benar-benar keterlaluan. Bisa-bisa membiarkan anak berkeliaran pagi-pagi tanpa alas kaki! Nggak takut masuk angin?!"
Meski terus mengomel tentang keburukanku, dia tetap mengikuti Jack ke kamar.
Aku menahan napas. Tiga langkah ... dua langkah ... satu langkah ...
Segera, Michael akan menyadari bahwa aku sudah tak bernyawa.