Đang tải thông tin quảng bá...
Romansa di Sekolah
Untuk mendapatkan inspirasi dalam ujian seni, ibuku menyewa guru privat untukku. Di bawah cahaya redup, kakiku di bawah meja perlahan-lahan bergerak dan bertumpu di kaki guruku. Guruku mulai meremas k...
Chương (1)
第1章
Untuk mendapatkan inspirasi dalam ujian seni, ibuku menyewa guru privat untukku.
Di bawah cahaya redup, kakiku di bawah meja perlahan-lahan bergerak dan bertumpu di kaki guruku.
Guruku mulai meremas kakiku dengan kuat dan menatapku dengan tatapan yang membara.
Suara hujan lebat yang begitu rapat di luar sana, yang berpadu dengan suasana hening ….
Membuat pikiranku tidak bisa berhenti untuk melayang ke mana-mana. Tubuhku juga terasa aneh.
Kemudian, guruku tersenyum dan menutup pintu.
Dengan hati-hati, dia melepas dasinya dan berkata hendak "membahas pelajaran" denganku.
Bab 1
Untuk mendapatkan inspirasi dalam ujian seni, ibuku menyewa guru privat untukku.
Di bawah cahaya redup, kakiku di bawah meja perlahan-lahan bergerak dan bertumpu di kaki guruku.
Guruku mulai meremas kakiku dengan kuat dan menatapku dengan tatapan yang membara.
Suara hujan lebat yang begitu rapat di luar sana, yang berpadu dengan suasana hening ….
Membuat pikiranku tidak bisa berhenti untuk melayang ke mana-mana. Tubuhku juga terasa aneh.
Kemudian, guruku tersenyum dan menutup pintu.
Dengan hati-hati, dia melepas dasinya dan berkata hendak "membahas pelajaran" denganku.
Aku Rania Rivandra. Umurku 19 tahun.
Aku seorang siswa kelas tiga SMA jurusan seni.
Belajar seni, kurang lebih selalu mencari inspirasi lewat beberapa rangsangan.
Sebelumnya, aku hanya memakan makanan yang aneh-aneh dan mendengarkan musik yang mengganggu untuk mendapatkan inspirasi.
Namun, segera, aku menyadari ketika aku berpakaian minim, tatapan mata para pria yang tertuju pada tubuhku, membuatku merasa begitu bersemangat.
Oleh karena itu, aku mulai mengunggah foto-foto seksiku dan terbuka di dunia maya. Benar saja, pesan pribadiku langsung dibanjiri bahasa yang vulgar.
Beberapa kata-katanya bahkan lebih berani, seakan ingin mencabik-cabikku melalui internet.
Aku sering berkhayal jika seseorang akan menemukan alamatku.
Lalu, dia akan menyelinap masuk ke rumahku pada malam yang gelap dan berangin.
Dengan matanya yang membara, dia mengukur setiap inci kulitku dengan tangannya yang besar dan kasar, lalu tenggelam bersamaku.
Memikirkannya saja sudah membuatku merasakan rangsangan hingga ke korteks serebral dan membuat sekujur tubuhku gemetar.
Namun, saat ini, aku banyak-banyak menahan diri.
Itu karena, telingaku dipenuhi oleh omelan ibuku.
"Anak ini tertinggal jauh di kelas pengetahuan umum. Ini nggak bisa dibiarkan. Harus cari guru les privat untuk memperbaikinya. Apa yang akan kita lakukan kalau semua ini terus berlanjut?"
Akan tetapi, tak lama kemudian aku mendengar jika yang diundang adalah seorang mahasiswa yang baru saja lulus kuliah.
Guru muda, atau lebih tepatnya guru laki-laki yang masih muda.
Memikirkan hubungan yang menggairahkan ini membuat pikiranku mulai bangkit kembali.
Aku menjulurkan lidahku di depan cermin, sambil melemparkan tatapan genit ….
Melihat gadis yang mengenakan gaun tidur dengan tali di bahu berbahan satin, berkulit putih dan halus.
Pakaian berkerah rendah itu sama sekali tidak mampu menutupi bagian dadaku yang montok ini. Membayangkan pelajaran yang akan diberikan oleh guru les, membuat seluruh tubuhku terasa lemas bagaikan mi.
"Halo Rania, aku guru lesmu. Panggil saja aku Pak Ivan."
Ivan, dengan kacamata berbingkai emas dan pakaian kasual, mengulurkan tangannya kepadaku dengan ramah.
Aroma khas seorang laki-laki, langsung menguar ke hidungku. Tangannya yang besar dan kasar membakar hatiku dengan suhu yang panas. Aku merasakan sesuatu yang aneh di tubuhku. Aku pun tidak bisa menahan diri untuk tidak merapatkan kakiku agar Ivan tidak melihat jika aku tidak mengenakan pakaian dalam.
"Halo, Pak Ivan. Bisakah kita mulai pelajarannya sekarang?"
Namun, segera saja aku menyesuaikan diri dengan keanehan itu. Aku mengerucutkan bibirku, berpura-pura polos dan imut.
Aku melipat tangan di depan dada dan tersenyum tipis kepadanya. Dadaku yang lembut langsung terjepit dan berubah bentuk. Ivan pun menelan ludah dengan gugup.
"Kamu harus menggunakan fungsi trigonometri untuk menjawab pertanyaan ini. Ganti nilai A menjadi … uhuk …. Rania … kamu …."
Ivan tiba-tiba mulai terbatuk-batuk saat berbicara.
Pantas jika Ivan terbatuk-batuk. Itu karena, aku meletakkan kakiku di betisnya.
"Eh, maaf Pak Ivan. Kukira itu kaki meja. Aku menjatuhkan pulpenku. Aku ambil dulu, ya."
Aku pun tertawa kecil dan menjauhkan kakiku. Lalu, aku berdiri membelakanginya sambil membungkuk untuk mengambil pulpen.
Fyuhh ….
Benar saja. Aku mendengar napas Ivan menjadi tersengal-sengal dan memburu. Maka dari itu, aku sengaja membungkuk lebih rendah lagi.
Bagian atas tubuhku hampir menempel lantai. Aku bergumam sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
"Eh, pulpennya jatuh ke mana, ya? Kenapa nggak ketemu?"
"Sudahlah Rania, nggak usah dicari lagi. Ayo, dengarkan dulu pelajarannya."
Aku menoleh dan menatap Ivan yang masih menahan diri dengan wajahnya yang memerah itu. Aku pun mengangkat alisku, berdiri dari lantai dan berjalan menghampirinya.
Bab 2
Jari-jariku melayang ke bahu Ivan, merasakan otot-ototnya yang kuat dan tubuhnya yang kencang.
"Pak Ivan, aku nggak bisa nulis kalau nggak ada pulpen. Apa Pak Ivan nggak mau pulpen?"
Aku sengaja mengucapkan kata "pulpen" dengan begitu pelan dan nada yang aneh. Aku memang sengaja membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
Tepat di saat aku berpikir Ivan itu benar-benar kolot dan membosankan, tiba-tiba saja Ivan menekanku ke kursi. Tangannya yang besar menepuk bagian bawah tubuhku dan buru-buru menutup pintu kamar.
"Tunggu, aku akan mengajarimu dengan baik."
Setelah berkata seperti itu, Ivan buru-buru melepas dasinya.
Ivan melepas dasinya dan mengikat tanganku erat-erat.
Membuatku terbelenggu kuat-kuat dan tidak bisa bergerak sedikit pun.
Saat mataku terbelalak menantikan sesuatu yang menggairahkan, yang akan terjadi selanjutnya, Ivan duduk mengangkang. Otot dadanya yang kencang menempel erat di bahuku. Lalu, suara penuh nafsu terdengar di telingaku.
"Selesaikan dulu kumpulan soal ini. Kalau nggak selesai, kamu akan terus diikat."
Aku merasa malu dan marah seperti tomat yang sudah terlalu matang. Aku merasa harga diriku sudah diinjak-injak oleh Ivan.
Dalam hati, aku bertekad jika aku pasti akan membuat pria yang tidak peka ini mengaku kalah.
Ketika seseorang sudah bertekad, Tuhan pun akan membantunya.
Di luar jendela, hujan lebat turun dengan disertai kilat dan guntur. Lalu, ibuku menelepon.
"Halo, Pak Ivan. Aku dan ayahnya Rania terjebak di tempat kerja karena hujan deras. Aku cuma bisa meminta tolong kepadamu untuk menginap semalam. Aku sangat khawatir kalau Rania di rumah sendirian."
Aku berdiri di depan pintu kamar tidur dan mendengar suara cemas ibuku di ujung telepon. Aku pun tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa gembira.
"Rania, itu saja untuk pelajaran hari ini. Aku mau mandi. Aku akan menginap dan menemanimu malam ini."
Ivan menaikkan kacamata di pangkal hidungnya. Dengan tatapan tenang, Ivan memberitahuku bahwa dia akan menginap malam itu.
Aku tidak tahu apakah karena pikiranku yang terlalu berlebihan, Ivan mengucapkan kata-kata "akan menginap dan menemanimu" terdengar ambigu dan penuh harap.
Ivan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Sementara itu, aku melepas sandal dan melangkahkan kaki di atas lantai dengan kaki telanjang.
Aku berjalan menuju pintu kamar mandi dan diam-diam membuka pintu.
Yang terlihat di mataku adalah otot punggung Ivan yang kencang serta bahunya yang kuat dan lebar.
"Berbalik, ayo berbalik."
Diam-diam, aku berharap di dalam hati.
Ivan sepertinya mendengar suara hatiku. Lalu, dia pun perlahan berbalik.
Delapan otot perut tersusun rapi di bagian perut. Tetesan air mengalir di sepanjang otot-otot itu menuju garis V dan akhirnya menghilang di balik hutan hitam.
Aku tersipu malu dan terus memandanginya. Rasa aneh di tubuhku membuatku tidak bisa menahan diri hingga mengeluarkan suara pelan.
"Hmm …."
"Heh, apa sudah cukup melihatnya? Ayo masuk dan mandi bareng."
Tawa kecil Ivan tiba-tiba terdengar di atas kepalaku. Segera setelah itu, aku merasakan tarikan yang kuat di lenganku.
Tiba-tiba saja, tubuhku jatuh ke dalam pelukan yang panas dan basah.
"Pak Ivan, ah!"
Aku merasakan dadaku diremas dengan begitu kuat. Kemudian, tubuhku ditekan ke wastafel yang dingin.
Tubuhku yang panas gemetar karena rangsangan dari ubin yang dingin.
Sementara, tubuh Ivan menempel sangat dekat denganku.
Dalam sekejap, aroma hormon langsung menyelimutiku. Suara Ivan yang serak mengetuk hatiku.
"Nggak fokus belajar, tiap hari cuma memikirkan hal-hal seperti ini, ya? Oke, hari ini aku akan mengabulkan keinginanmu."
Ivan mencengkeram daguku kuat-kuat dengan satu tangan dan memaksaku mengangkat kepala untuk melihat penampilanku di cermin.
Di dalam cermin, ekspresiku tidak bisa dilihat dengan jelas. Pipiku memerah. Pakaianku yang basah menempel di tubuhku.
Dadaku yang montok dan padat berubah bentuk karena ditekan. Lalu, baju tidurku tergulung ke atas seluruhnya.
Seluruh tubuhku terengah-engah bagaikan ikan yang kehabisan air.
Bagian bawah tubuhku yang tanpa pelindung itu dipandang Ivan dengan mata yang menyala-nyala. Dia terkekeh melihat kelakuanku yang berani dan melampaui batas itu.
Kemudian, aku merasakan Ivan perlahan-lahan berjongkok. Lalu, aliran udara panas menyembur di area di antara kedua kakiku.