Đang tải thông tin quảng bá...
Selir Harem Memelihara Monster Perkasa
Kaisar jarang mengunjungi harem belakangan ini. Namun, akhir-akhir ini para selir selalu terlihat berseri-seri. Aku merasa bingung melihat hal ini. Sampai suatu saat, aku melihat seorang makhluk aneh ...
Chương (1)
第1章
Kaisar jarang mengunjungi harem belakangan ini. Namun, akhir-akhir ini para selir selalu terlihat berseri-seri.
Aku merasa bingung melihat hal ini. Sampai suatu saat, aku melihat seorang makhluk aneh dengan ekor seperti binatang muncul di hadapanku.
Barulah aku menyadari, makhluk yang seperti manusia tapi bukan manusia ini, membuat para wanita di harem menantikan datangnya malam dengan penuh harap.
Bab 1
Sudah tiga tahun aku dipaksa masuk ke harem Kaisar. Setelah beberapa kali mendapatkan perhatian di awal, sisa waktuku kulewati dalam kesendirian dan hanya ditemani dinginnya selimut malam.
Harem ini dipenuhi oleh tiga ribu selir.
Banyak dari mereka bernasib sama sepertiku, bahkan ada yang bertahun-tahun tidak pernah melihat Kaisar.
Namun belakangan ini, sesuatu yang aneh terjadi. Para selir tampak berbeda. Wajah mereka berseri-seri dan sering kali terlihat puas hingga mengantuk. Pemandangan ini membuat hatiku tak henti-hentinya bertanya-tanya.
Sayangnya, pendidikan dan sopan santun yang kuterima, menahan diriku untuk mengungkapkan pertanyaan memalukan itu kepada siapa pun.
Sampai suatu hari, seseorang yang misterius menyenggolku dengan sikunya.
"Dik, datanglah ke tempatku malam ini. Aku punya sesuatu yang luar biasa untuk diperlihatkan padamu," katanya dengan suara rendah.
Orang itu adalah Vina, salah satu selir yang paling baik padaku sejak aku masuk ke harem ini.
Aku percaya padanya. Namun, rona merah di wajahnya yang tersembunyi di balik ekspresi misterius itu membuatku semakin penasaran. Mungkinkah malam ini Kak Vina akan mengungkap rahasia yang membuat para selir harem begitu bahagia?
Dengan hati yang penuh harap sekaligus gelisah, aku melangkah menuju tempat yang dijanjikan dengan Kak Vina.
Namun, belum sampai masuk ke dalam, suara-suara yang sangat mencurigakan sudah terdengar dari balik pintunya.
Ada suara laki-laki dan perempuan.
Aku mengenali suara perempuan itu. Itu suara Kak Vina. Namun, siapa suara laki-laki itu? Suara berat dan penuh kekuatan ini jelas bukan suara Kaisar yang sudah lama tidak mengunjungi harem.
Dengan hati-hati, aku mendekat ke pintu dan mencoba mendengar lebih jelas.
Dari dalam, suara-suara itu semakin intens.
Aku mendengar Kak Vina berkata dengan suara pelan dan terputus-putus, "Kamu ini seperti singa saja .... Pelan ... pelan sedikit ...." Kemudian, dia melanjutkan dengan nada yang lebih nyaring, "Ah, lebih kuat lagi! Bagus, bagus sekali!"
Kak Vina adalah seorang putri dari keluarga terpandang yang terkenal dengan pendidikan yang ketat dan tingkah laku yang sopan. Namun siapa sangka, di keheningan malam ini, dia bisa begitu lepas dan terbuka.
Kemudian, suara laki-laki itu terdengar lagi, "Sayang, pelan-pelan .... cakarmu lebih tajam daripada milikku."
Kak Vina menjawab dengan nada manja, "Ih, kamu ini, jangan bilang cakar. Ini namanya kuku! Kita jelas berbeda!"
Semakin aku mendengar, semakin besar rasa penasaranku.
Sebelumnya, aku memang pernah berpikir bahwa, seperti para selir lain yang lama tidak mendapatkan perhatian Kaisar, Kak Vina mungkin diam-diam mencari seseorang untuk mengisi kesepiannya.
Namun, istana bukanlah tempat sembarangan.
Dalam pikiranku, jika ada selir yang berani, paling-paling mereka melibatkan para penjaga istana. Namun, siapa penjaga istana yang memiliki cakar? Bahkan sampai Kak Vina merasa perlu mengoreksi istilahnya?
Dengan gemetaran, aku perlahan membuat lubang kecil di kertas jendela untuk mengintip ke dalam. Apa yang kulihat membuatku terkesiap tanpa sadar.
Makhluk yang sedang berada di atas tubuh Kak Vina ... ternyata adalah sesosok monster dengan ekor binatang dan surai singa!
Tubuhnya berbentuk manusia, tetapi ada ciri-ciri hewan yang melekat padanya. Aku ingin melihat lebih jelas, sehingga aku mendekat lagi. Hampir seluruh tubuhku menempel di jendela.
Bulu itu ... jelas milik seekor singa! Teringat panggilan Kak Vina tadi, mungkinkah dia benar-benar seekor singa? Desas-desus tentang manusia-hewan yang selama ini terdengar di luar ternyata memang benar-benar ada!
Orang-orang di dalam kamar menyadari gerak-gerikku. Mereka berhenti sejenak, lalu memanggilku untuk masuk.
"Anita, cepat masuk. Jangan sampai orang lain melihatnya." Suara Kak Vina terdengar lebih lembut dan menggoda daripada biasanya. Suara itu membuatku merasa lemas seketika.
Sementara itu, makhluk manusia-singa yang sedang memeluk kaki Kak Vina menghela napas panjang, lalu melanjutkan tindakannya.
Dia memejamkan matanya dengan ekspresi puas dan sesekali mengeluarkan suara rintihan yang dalam. Kemudian, dia memiringkan kepalanya, dan pupil matanya yang khas seperti hewan menyipit menjadi garis tipis.
"Ah, seorang wanita cantik. Apa kamu mau bergabung dengan kami?" tanyanya dengan suara serak.
Namun, Kak Vina sudah tidak bisa lagi memedulikanku. Seluruh perhatiannya terfokus pada apa yang sedang dia alami. Pemandangan di depanku begitu menggoda hingga membuatku tidak sengaja mendorong jendela hingga terbuka. Karena merasa panik, aku langsung berlari pergi.
Sejak mengetahui rahasia Kak Vina, aku tidak bisa tidur semalaman.
Tiga tahun aku menjalani malam-malam sendirian. Namun hari ini, sesuatu yang terpendam dalam diriku seolah terusik. Wajahku memerah, telingaku panas, dan aku merasa malu luar biasa.
Namun, suara-suara dari kamar Kak Vina terus bergema di telingaku, seolah-olah mengikuti ke mana pun aku pergi. Akhirnya, aku tertidur dalam kegelisahan dan baru terbangun menjelang siang keesokan harinya.
Kak Vina yang membangunkanku. Hari ini, dia mengenakan pakaian dengan kerah tinggi, sepertinya untuk menutupi sesuatu di lehernya. Melihatku terbangun, dia menguap dengan ekspresi puas yang tak bisa disembunyikan.
"Kamu ini, kenapa tadi malam lari begitu saja?"
"Makhluk itu bilang pemandangan dari dekat jendela menarik juga, dia memaksaku ke sana. Kamu nggak tahu betapa cemasnya aku. Takut sekali kalau ada yang melihat!"
Aku menggigit bibir dan menahan kata-kataku. Jujur saja, meski tidak di dekat jendela, keberanian Kak Vina memang luar biasa besar.
"Sudahlah, lihat dirimu. Aku saja nggak khawatir, kenapa kamu malah mengerutkan alis begitu?" katanya sambil tersenyum lembut.
"Di harem ini dikelilingi tembok yang sepi. Bukankah menyiksa sekali menunggu seseorang yang nggak pernah datang?"
Berhubung dia sudah mengambil keputusan, aku tidak ingin terlalu banyak bicara. Hanya saja, aku bertanya, apa yang membuatnya datang ke sini pagi ini.
Tak disangka, dia mengedipkan mata dan berkata, "Kamu ini, jangan pura-pura nggak tahu. Tadi malam kamu pergi begitu saja. Hari ini aku harus ngasih kompensasi!"
Beri kompensasi?
Aku buru-buru menggeleng dan melambaikan tangan.
"Nggak, aku nggak bisa."
Di rumah, aku masih punya orang tua yang sudah lanjut usia. Mereka hanya mengandalkan uang driku untuk hidup. Kalau aku melakukan kesalahan, hidup mereka juga akan berakhir.
Kak Vina berasal dari keluarga besar yang terpandang. Meski dia melakukan kesalahan, selama keluarganya memiliki pengaruh di istana, Kaisar tidak akan berbuat apa-apa padanya.
Kemungkinan terburuknya, dia kehilangan gelar dan dikeluarkan dari istana. Namun kalau itu terjadi padaku, satu-satunya jalan adalah kematian.
Kak Vina tidak membantah. Dia hanya berkata dengan lembut, "Nggak apa-apa. Hari ini kamu temui dulu makhluk itu. Kalau setelah melihatnya kamu masih menolak, sebagai kakak, aku nggak akan memaksamu."
"Hanya saja, jangan sampai nanti kamu nyalahin aku karena nggak bagi-bagi info setelah dapat keuntungan."
Dengan kata-katanya itu, aku tidak bisa lagi menolak. Baiklah, aku hanya akan melihatnya.
Hanya melihat.
Namun, ketika pria tinggi dengan tubuh kekar dan dada telanjang itu muncul di hadapanku, aku menahan napas, dan jantungku seakan berhenti berdetak sejenak.
Melihat reaksiku, Kak Vina tertawa kecil sambil menggodaku, lalu menutup pintu dan pergi meninggalkanku sendirian.
Bab 2
Aku panik. Tanpa berpikir panjang, aku berlari menuju pintu.
Ada dua hal yang membuatku ketakutan. Pertama, aku takut benar-benar terlibat dalam sesuatu yang melampaui batas. Kedua, kekuatan manusia-hewan itu begitu mencolok, membuatku merasa kecil dan lemah di hadapannya.
"Kenapa lari, cantik?" Suara berat itu terdengar dari belakang dan semakin mendekat.
"Dulu, Vina juga sepertimu ... takut dan mencoba menjauh. Tapi akhirnya, dia memohon agar aku nggak meninggalkannya setiap malam. Dia bahkan memberiku padamu untuk malam ini. Bukankah seharusnya kamu menghargai kesempatannya?"
Aku bisa merasakan embusan napas hangat di telingaku. Detak jantungku melonjak tak terkendali.
Apakah ini benar-benar akan terjadi? Apakah aku akan ... dengan makhluk ini?
Tiba-tiba, sesuatu yang lembut dan basah menyentuh telingaku. Aku tersentak. Ada durinya! Seluruh tubuhku gemetar hebat, napasku tersendat.
"Nggak ... tolong ... jangan," bisikku lemah.
Aku mencoba membuka pintu, tetapi tubuh kekarnya melingkupiku dan menahan gerakanku. Panas tubuhnya terasa seperti bara api yang membuatku semakin tak berdaya.
Manusia hewan itu bukan hanya kuat, tetapi tubuhnya terasa jauh lebih sempurna daripada manusia biasa. Sudah lama aku tidak merasakan keintiman seperti ini.
Tanpa sadar, tubuhku sedikit bersandar ke arahnya, hampir menyerah pada kekuatan dan auranya yang mendominasi. Dia tertawa kecil, suara beratnya menggema di telingaku.
"Masih pura-pura keras kepala?"
"Manusia selalu suka mengatakan yang berlawanan dengan keinginannya," gumamnya sambil terus mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.
Tangannya mulai menjelajahi tubuhku, dan cakar khas hewan yang tajam menyentuh kulitku dengan sensasi yang sulit diabaikan. Ketika dia mulai mencoba menjangkau bagian dalam pakaianku, aku mengerahkan seluruh tenagaku dan mendorongnya sekuat mungkin.
Pintu akhirnya terbuka dan aku berlari keluar dengan napas terengah-engah, tanpa menoleh ke belakang.
....
"Kak Vina, terima kasih atas niat baikmu. Hidup di istana memang sepi, tetapi aku tidak bisa mengabaikan orang tuaku."
Setelah kejadian itu, aku sengaja menghindari Kak Vina selama beberapa hari. Saat berkeliling di harem, aku juga tidak melihat tanda-tanda keberadaan manusia hewan itu.
Apakah dia hanya tinggal di istana Kak Vina? Apakah kesehariannya hanya makan dan tidur di satu ruangan kecil?
Aku menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran itu. Namun, kenapa beberapa hari terakhir aku terus memikirkan makhluk itu?
Aku samar-samar mengingat, sebelum aku melarikan diri waktu itu, bulu singa khasnya begitu nyata di tubuhnya. Memang pantas disebut raja hutan. Hanya dengan melihatnya sekali, langsung bisa terpesona oleh keperkasaannya.
Aku segera menampar pipiku ringan. Tidak, aku tidak boleh memikirkan hal seperti ini lagi!
Ketika sedang duduk di tepi danau untuk menenangkan pikiran, tiba-tiba terdengar suara gemerisik di dekatku.
Suara itu ... mirip sekali dengan yang kudengar di kamar Kak Vina beberapa hari lalu. Ada sesuatu tentang suara itu yang membuat hati ini berdebar dan gelisah.
"Sayang, tarik kembali ekor ular itu. Kalau dibiarkan begitu, orang pasti akan melihatnya."
Suara itu ... bukankah itu milik Selir Yinari?
Selir Yinari dikenal sebagai wanita yang selalu dingin dan jarang tersenyum. Bahkan dalam percakapan singkat, dia sering menyindir orang lain. Namun sekarang, dia berbicara dengan nada manja seperti itu?
Tunggu. Ular?
Apakah dia juga bersama seorang manusia hewan? Jadi, di istana ini bukan hanya ada satu manusia hewan?
Aku menggigil. Aku selalu merasa jijik dengan hewan melata bersisik seperti ular. Membayangkan seseorang harus bersama makhluk seperti itu membuatku merinding. Aku ingin segera pergi dari tempat itu. Namun tiba-tiba, sesuatu menarik kakiku.
Rasa dingin yang menjalar ... itu jelas ekor ular! Aku berteriak ketakutan, tetapi sebelum suaraku sempat menggema, seseorang langsung membungkam mulutku.
Aku menggeliat, mataku membelalak ketakutan dan mengeluarkan suara tercekik, "Mmmhh!"
Setelah beberapa saat, orang itu akhirnya melepaskanku. Aku buru-buru menghapus jejak basah dari bibirku, air mata mulai mengalir karena rasa takut dan keterkejutan.
"Kenapa? Belum pernah dicium?"
Yang bertanya padaku adalah seorang manusia hewan dengan sisik berkilauan di wajahnya. Namun anehnya, dia tidak tampak menakutkan sama sekali. Bahkan, sisik-sisik itu justru memberinya daya tarik yang memikat. Sungguh enak dipandang.
"Hei! Apa yang kamu lihat!"
Itu suara Selir Yinari. Dia mendorongku dengan keras dan memutar matanya kesal.
"Ini manusia hewan milikku. Kalau kamu mau , cari saja yang lain sendiri!"
Setelah memarahiku, nada bicaranya berubah menjadi manja dalam sekejap. "Sayang, kenapa kamu bersikap akrab sama orang lain di depanku? Nggak heran kalau orang-orang bilang, ular itu pada dasarnya ...."
Belum selesai dia bicara, bibirnya langsung dibungkam oleh ciuman manusia hewan itu. Suara basah itu segera mengingatkanku untuk tidak melihat lebih jauh. Untungnya, ekor ular yang melilit kakiku sudah terlepas.
Aku segera berlari keluar dari balik bebatuan buatan itu. Sejak tahu bahwa istana ini dipenuhi manusia hewan, aku sering kali melarikan diri dengan cara seperti ini ... terburu-buru dan malu. Namun, apa yang sebenarnya kutakuti?
Yang kutakuti adalah, begitu aku menyerah pada keinginan, aku tidak akan bisa berhenti. Aku ingat betul, bagaimana malam-malam panjang di istana membuatku sulit tidur.
Tiga tahun lalu, ketika aku pertama kali masuk ke istana, aku pernah merasakan kenikmatan itu beberapa kali.
Kalau tidak pernah merasakannya, mungkin aku bisa bertahan. Namun, setelah tahu seperti apa rasanya, kehilangan itu terasa menyiksa. Aku menyentuh lembut daun telingaku. Bekas sentuhan kasar dengan duri kecil itu masih begitu terasa.
Manusia hewan ... ada singa, ada ular ...apakah ada yang lain? Yang bertubuh kekar dengan kulit kecokelatan. Yang memikat dengan kulit pucat. Dan yang lainnya ....
Tanpa sadar, pikiranku melayang terlalu jauh, hingga aku mendapati diriku sudah membuka pakaian. Namun, tepat saat itu, pintu kamarku terbuka dengan suara keras. Jantungku berdegup kencang, aku buru-buru membungkus tubuhku dengan kain seadanya.
Sayang, semuanya sudah terlambat. Aku telah tertangkap basah. Manusia hewan yang masuk kali ini berbeda. Tubuhnya tinggi dan ramping, dengan wajah yang luar biasa tampan. Sekilas, aku tidak bisa menebak dia manusia hewan jenis apa.
"Siapa kamu? Cepat keluar dari sini!" bentakku, mencoba menyembunyikan rasa gugup. Alih-alih pergi, dia tersenyum tipis.
"Kamu bisa memanggilku Zian. Aku datang malam ini untukmu. Aku nggak akan pergi."
Kekuatannya luar biasa besar. Dengan mudah, dia merobek pakaian yang tadi kupakai untuk menutupi tubuhku.