Đang tải thông tin quảng bá...
Suamiku dan Selingkuhannya
Tiga hari setelah satu bulanan anakku, suamiku, Raka, mengatakan bahwa dia harus melakukan perjalanan dinas. Dia meninggalkanku, membuatku menjaga anak kami sendirian. Tiga hari kemudian, aku baru sam...
Chương (1)
第1章
Tiga hari setelah satu bulanan anakku, suamiku, Raka, mengatakan bahwa dia harus melakukan perjalanan dinas. Dia meninggalkanku, membuatku menjaga anak kami sendirian.
Tiga hari kemudian, aku baru sampai rumah sakit dan melihat teman masa kecil suamiku yang bernama Indah mengunggah foto keluarga. Dia juga menambahkan tulisan di bawah foto yang dia unggah.
"Foto liburan bahagia kami bertiga sekeluarga."
Aku terkejut saat melihat Raka tersenyum lebar dalam foto itu, jadi aku menuliskan komentar tanda tanya.
Dalam hitungan detik, Raka menelepon dengan nada menuduh.
"Dia ibu tunggal, aku merasa kasihan karena nggak ada laki-laki yang menjaganya. Aku cuma nemenin dia foto saja, kenapa reaksimu berlebihan sekali?"
Malamnya, Indah kembali memamerkan foto kalung emas.
"Setelah mengambil foto keluarga, dia maksa ngasih aku kalung emas."
Aku tahu bahwa Raka membeli ini agar Indah tidak marah.
Namun, kali ini aku berniat meninggalkannya.
Bab 1
Seolah-olah merasakan suasana hatiku yang sedang tidak baik, anakku tiba-tiba menangis.
Aku mencoba menenangkannya dan dua jam kemudian dia akhirnya kembali tenang.
Selama itu pula, Raka tidak menelepon untuk memberi penjelasan.
Indah masih mengunggah cerita lain.
Dia mengunggah tiga foto kalung emas secara langsung, membuat orang-orang mulai bergosip.
Kolom komentar langsung menunjukkan 99+, yang semuanya menunjukkan rasa iri mereka.
Aku memperhatikan dengan seksama bahwa ada komentar dari Raka di antara mereka
"Aku beliin buat kamu hari ini, dua puluh tahun lagi aku akan membelikan satu set untuk putri kita."
"Sayang, kamu memang yang terbaik, aku mencintaimu."
Interaksi antara dua akun itu langsung mencolok penglihatanku. Aku melihat bayi yang tertidur di ranjang bayi.
Sepertinya Raka sudah lupa bahwa dia memiliki seorang putra yang baru berusia enam hari.
Lagi pula, saat aku melahirkan, Raka mengatakan bahwa dia sibuk dengan pekerjaannya, jadi tidak bisa menemani persalinanku.
Belakangan, aku baru tahu bahwa dia sibuk dengan acara ulang tahun putri Indah yang ketiga.
"Batu empedunya sudah terlalu besar, jadi nggak bisa ditunda lagi. Lebih baik operasi besok."
Dokter mengambil laporan hasil tes dan menganalisisnya untukku.
Aku melihat batu empedu yang aku dapatkan selama kehamilan. Aku ragu-ragu selama beberapa detik sebelum mengirim pesan kepada Raka.
"Besok kamu pulang dulu, aku ada urusan mendadak."
Butuh waktu lama sebelum Raka membalas pesanku.
Dia membalas dengan tidak sabar.
"Aku sibuk, jangan menghubungiku karena masalah kecil."
"Kalau kamu menggangguku lagi, kita cerai."
Aku dengan tenang melihat kotak obrolan kami.
Aku tidak ingat sudah berapa kali Raka meminta cerai.
Sejak Indah muncul, setiap kali Raka dan Indah melakukan tindakan ambigu dan aku sedikit emosi, Raka mengancamku dengan perceraian.
"Wanita mana yang nggak menderita setelah menikah? Kalau nggak tahan, cerai saja."
Setiap kali, aku adalah pihak yang selalu mengakui kesalahan dan meminta maaf.
Kali ini, aku memutuskan untuk mengabulkan apa yang dia inginkan.
"Aku mau operasi, jadi minta kamu buat pulang. Kalau begini saja kamu nggak sabaran, aku juga berpikir kalau kita lebih baik cerai saja."
Setelah beberapa detik, ponselku berdering.
Saat panggilan tersambung, suara Raka terdengar lebih lembut.
"Kenapa nggak bilang kalau kamu sakit? Jam berapa operasinya besok? Aku bakal pulang dan nemenin kamu."
Aku mengerutkan dahi, menatap bayiku yang sedang tidur dan menjawab.
"Jam dua siang."
"Ya."
Keesokan harinya, Raka tidak masuk kerja.
Aku sangat pucat dan lemah karena kesakitan, jadi aku hanya bisa menggertakkan gigi dan memanggil temanku untuk menandatangani surat sebelum operasi.
Malam harinya, operasi selesai.
Dokter menyuruhku untuk beristirahat selama beberapa hari.
Raka tidak mengangkat teleponku.
Indah masih memamerkan kemesraannya dengan suamiku di media sosial.
"Kakiku cuma terkilir, tapi dia ketakutan sampai wajahnya pucat dan membawaku ke IGD."
"Sebenarnya hari ini dia sudah memesan penerbangan pulang, tapi dia membatalkannya saat melihat kakiku terkilir."
"Tolong! Kakiku cuma terkilir, tapi dia nggak bolehin aku jalan. Dia menggendongku kemana pun aku pergi."
Aku membuka foto itu.
Gambar yang muncul adalah Raka sedang menggendong Indah.
Aku teringat saat melakukan tes kehamilan di bulan keempat kehamilan.
Tiba-tiba ada rasa sakit di tulang pinggulku, berjalan pun rasanya sangat menyiksa.
Dokter mengatakan bahwa itu adalah sinovitis pada sendi pinggul. Aku harus mengurangi berjalan dan mengompresnya dengan air hangat setiap hari.
Aku menelepon Raka dan mencoba mengajaknya ke rumah sakit untuk memapahku pulang.
Dia malah menjawab tidak sabar.
Bab 2
"Aku sibuk. Aku bakal memanfaatkan waktu buat kerja, bukan buang-buang waktu buat kamu! Kamu banyak sekali masalah ketika lagi hamil. Kalau nggak bisa jalan, ke rumah sakit saja!"
Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Raka lagi.
"Aku cuma punya satu permintaan. Anak ikut denganku dan bagianku nggak boleh kurang satu sen pun."
Raka segera membalas pesanku.
"Ada hal penting yang harus aku lakukan hari ini."
"Jangan marah, besok aku pulang."
Tiga hari kemudian, aku tidak bertemu Raka sampai dokter memberitahukan bahwa aku sudah boleh pulang.
Duduk di dalam mobil, aku melihat gedung yang aku lewati, kenangan masa lalu pun kembali muncul.
Aku dan Raka bertemu dan jatuh cinta saat kuliah.
Pada tahun pertama pernikahan kami, Raka memulai bisnis pertamanya dan terlilit utang setelah sahabatnya menipunya.
Pada saat itu, aku bekerja tiga pekerjaan dalam sehari untuk membantunya melunasi utang-utangnya. Malamnya saat pulang, aku masih harus mencuci pakaian dan memasak untuknya.
Sampai usahanya berhasil, aku pikir aku akhirnya bisa menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia.
Namun, setahun yang lalu ....
Tepatnya pada hari dia berselingkuh dengan Indah, semuanya berubah.
Tidak lama setelah aku pulang, Raka akhirnya pulang ke rumah.
Dia melihat catatan operasi di atas meja dan mengguncang tubuhku yang sedang tertidur dengan kesal.
"Kamu diam-diam melakukan operasi? Kenapa nggak tunggu aku pulang?"
Aku telah dirawat di rumah sakit selama tiga hari berturut-turut dan mengalami insomnia. Aku akhirnya bisa tidur, tetapi tiba-tiba dibangunkan seperti ini.
Sekarang, aku kelelahan secara fisik dan mental.
"Raka, kamu ingin aku menunggu sampai keadaanku memburuk karena harus menunggu tiga hari sebelum kamu pulang dan melakukan operasi?"
Raka terdiam dan kemarahan di wajahnya sedikit mengendur:
"Baiklah, kali ini aku bisa memaafkanmu. Aku mau keluar, setrika jasku sekarang."
Aku sedikit membeku.
Ternyata dia tidak kembali untuk menemaniku ke tempat operasi.
Sebaliknya, ada perjamuan sosial yang harus dia datangi.
Ponsel tiba-tiba bergetar, mengingatkan bahwa ini adalah waktu memberi putraku asi.
Aku bangkit dengan lemas, pergi membuat susu formula.
Raka menendang kursi di sebelahnya dengan kesal.
"Sial, harusnya aku nggak nikah sama kamu. Kesabaranku sudah sampai batasnya."
Setelah mengatakan itu, dia pergi dan membanting pintu dengan keras.
Aku mengabaikannya, berjalan ke arah anakku yang tengah menangis ketakutan.
Setelah setengah jam, dia akhirnya tertidur kembali.
Aku mengambil ponsel untuk mengirim pesan.
"Rekomendasikan pengacara perceraian untukku."
"Apa kamu gila? Bukannya hari ini kamu utang tahun, kenapa tiba-tiba mau cerai?"
Keesokan paginya, Raka tiba-tiba pulang ke rumah.
Dia menatapku dengan dingin, nadanya menghardik.
"Kenapa nggak bilang kalau kemarin kamu ulang tahun?"
Aku terdiam.
"Sudah, aku belikan kamu hadiah."
Raka menyerahkan sebuah kalung emas padaku.
Aku meliriknya sekilas.
Kalung yang sangat tipis.
Beratnya jauh lebih kecil dari kalung emas yang dibeli Raka tanpa ragu itu.
Cinta dan tidak adanya cinta tercermin dari banyak hal.
"Pakai kalung ini dan malam ini aku akan masak buat kamu. Kita rayakan bersama."
"Nggak perlu."
Aku menolak dengan dingin.
Hadiah dan perhatian yang sudah basi ini hanya akan membuatku makin kesal.
Raka tahu aku sedang kesal dan wajahnya langsung berubah muram.
"Aku sudah membujukmu, kamu mau apa lagi? Kenapa masih buat masalah?"
Aku mendongak dan berkata dengan tenang.
"Aku nggak lagi buat masalah."
Raka membanting kalung itu ke lantai dan menginjaknya dengan keras.
"Aku tahu apa yang bikin kamu marah. Bukankah ini cuma masalah foto keluarga? Itu karena guru putrinya minta siswanya mengunggah foto keluarga di grup kelas, jadi aku bantu dia."
Setelah itu, dia kembali mengeluh.
"Lagi pula, kamu sudah bikin dia kesal, apa salahnya aku kasih dia hadiah? Aku bahkan belum memintamu minta maaf padanya.
Berdebat hanya akan membuat kesehatanku memburuk setelah melahirkan.
Aku menarik napas dalam-dalam:
"Ya, kamu benar."
Saat kata-kata itu keluar dari mulutku, peringatan proses yang aku ajukan ke perusahaan muncul di ponselku.
Pimpinan baru saja menyetujui permohonanku untuk keluar dari perusahaan!
Bab 3
Aku memesan penerbangan untuk lima hari dari sekarang, lalu mengirim pesan kepada pengacaraku, memastikan bahwa aku harus mendapatkan hak asuh anak.
Setelah melakukan itu, aku bangkit dan menuju kamar, siap untuk tidur nyenyak.
Raka melihat kepergianku dan berkata dengan marah.
"Aku lagi bicara, kamu mau ke mana?"
"Mau istirahat."
Aku mengedipkan mata ke arahnya dengan tenang.
Saat aku berjalan ke kamar tidur, terdengar suara sesuatu yang dibanting dari ruang tamu.
Perceraian berjalan seperti yang diharapkan.
Tiga hari kemudian, aku hendak mengemasi koper, tiba-tiba mendapat telepon dari Raka.
"Lousa Bar di Kota Umare. Cepat ke sini sekarang juga."
Angin di Kota Umare cukup besar. Aku habis melahirkan, jadi nggak baik kalau pergi ke sana.
Aku ingin menolak, tetapi Raka menelepon lagi.
Ketika aku tiba di bar dengan penampilan terbungkus rapat oleh jaket, aku melihat Indah dan Raka duduk bersebelahan dengan intim.
Orang-orang di sekeliling mereka menatapku dari atas ke bawah dan mencibir.
"Indah ternyata nggak bohong. Selingkuhan Raka benar-benar sangat gendut."
Indah menyesap anggur merah dalam gelasnya, tatapannya tertuju padaku.
"Maaf, barusan aku kalah saat main Truth or Dare. Mereka kasih pilihan antara aku mencium vokalis band di bar atau aku memanggil wanita simpanan Raka."
"Raka nggak bolehin aku cium pria lain, jadi dia bilang akan memanggilmu. Kamu boleh pergi sekarang."
Indah memang meminta maaf, tetapi kalau didengarkan baik-baik, ada kesombongan dalam nada bicaranya.
Aku mengerutkan kening pada Raka.
Dia menunduk merasa bersalah dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Jadi, di matanya aku adalah wanita simpanan.
Aku tertawa kesal dan hendak berbicara.
Indah memiringkan kepalanya dengan bangga, memamerkan kalung emas yang cukup tebal itu.
Aku maju beberapa langkah, mengulurkan tangan dan meraih kalung itu, merenggutnya dengan paksa.
"Dasar gendut! Kamu ngapain, sih?"
Indah sangat marah dan berusaha merebut kalung itu.
Aku memasukkan kalung itu ke dalam tas dan meringis.
"Kalung itu dibeli Raka dengan harta kami, aku bisa mengambilnya kalau aku mau."
Aku berkonsultasi dengan seorang pengacara, yang mengatakan bahwa aku bisa mendapatkan kembali kalung yang diberikan Raka kepada Indah.
Wajah cantik Indah tiba-tiba menjadi dingin dan dia berkata dengan nada sinis:
"Kamu merebut barang pribadiku di depan umum, aku bisa membuatmu mendekam di penjara."
"Mau aku bantu telepon polisi?"
Aku tidak merasa takut sedikit pun.
Raka melihat bahwa aku mulai serius, langsung merebut ponselku sambil mengerutkan keningnya.
"Sudah, cukup. Jangan buat masalah. Kamu pulang saja."
Aku melihat kekhawatiran di wajahnya dan hatiku terasa sangat berat.
Teman-teman Raka menyadari ada yang tidak beres dan mulai berbisik-bisik, mengatakan bahwa Indah-lah yang selingkuhan di sini.
Hidung Indah terasa masam, lalu menatap Raka dengan sedih.
"Kamu sendiri yang bilang kalau yang nggak dicintai itu yang jadi selingkuhan. Katakan sama semua orang kalau Maria yang selingkuhannya!"
Raka menyeka air mata Indah dengan sedih dan menoleh ke arahku, berkata dengan suara dingin.
"Cukup! Maria, setiap kali kamu muncul, kamu selalu membuat masalah!"
Dia meraih tangan Indah dan melihat ke arah semua orang.
"Kalian nggak usah asal menebak. Indah itu istriku, aku mencintainya."
Terdengar suara riuh dari orang yang hadir.
"Raka, cium Indah! Cium! Cium!"
Tanpa ragu, Raka memegang wajah Indah dan menciumnya.
Wajah cantik Indah menunjukkan sedikit rasa malu. Dia menoleh ke arahku sambil tersenyum menggoda.
"Lihat, kenapa memangnya kalau kamu punya buku nikah? Raka, uang Raka, cinta Raka, aku akan merebut semuanya darimu."
Aku tidak bisa menahan diri lagi dan menampar wajah Indah.
Indah menutupi wajahnya dan menatap Raka dengan agresif.
"Raka, dia memukulku."
Wajah Raka terlihat muram. Dia mengangkat kakinya dan menendang perutku dengan keras!
Luka bekas operasi caesar itu langsung terkoyak, aku pun tersungkur ke lantai.
Raka membungkuk, menangkupkan daguku dan berkata dengan jengah.
"Bangun, minta maaf sama Indah."
Mataku memerah. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat.
"Dia nggak pantas."
Raka menendang perutku lagi sambil mengumpat.
"Kamu nggak akan melakukannya sebelum tahu akibatnya, ya? Kamu nggak mau pulang, malah buat masalah di sini. Aku harus membereskanmu hari ini."
Tendangan demi tendangan Raka lakukan, membuat luka sayatan di perutku terbuka sepenuhnya. Bajuku pun berubah jadi merah.
Aku meringkuk kesakitan, wajahku pucat dan tubuhku gemetar.
Aku mendongak dengan sisa-sisa kekuatanku.
"Raka, ayo kita cerai."
Mata hitam Raka berkilat karena terkejut, bibirnya yang tipis bergerak sedikit.
Aku tidak dengar apa yang dia katakan karena jatuh pingsan.