Đang tải thông tin quảng bá...
Suamiku Menjadi Ayah Anak Orang Lain
Di acara perayaan hari keluarga taman kanak-kanak, suamiku Gaius beralasan ada urusan kantor dan bahkan menyuruhku dan putri kami untuk tidak ikut menghadirinya. Melihat wajah kecewa putriku, hatiku t...
Chương (1)
第1章
Di acara perayaan hari keluarga taman kanak-kanak, suamiku Gaius beralasan ada urusan kantor dan bahkan menyuruhku dan putri kami untuk tidak ikut menghadirinya.
Melihat wajah kecewa putriku, hatiku terasa sakit. Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi sendiri bersamanya.
Saat baru sampai di taman kanak-kanak, aku melihat Gaius sedang menggendong seorang anak laki-laki di satu tangan, sementara tangan lainnya menggandeng Sunlina, teman masa kecilnya.
Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, berbincang dan tertawa bersama dengan akrab.
Saat melihat diriku dan putri kami, Gaius mengerutkan dahi, lalu buru-buru melepaskan tangan Sunlina.
"Jangan salah paham, Yuri. Sunlina itu ibu tunggal dan membesarkan anaknya sendirian. Hari ini ulang tahun anaknya yang kelima, jadi dia hanya ingin anaknya merasakan kasih sayang seorang ayah."
Aku menatapnya dengan tatapan penuh arti, lalu berjongkok dan menggenggam tangan putriku, berkata,
"Sayang, ayo panggil om."
Bab 1
Melihat itu, Sunlina buru-buru menarik anaknya dari pelukan Gaius sambil memasang wajah penuh rasa bersalah.
"Yuri, jangan marah. Kak Gaius hanya berniat baik, anak ini nggak punya ayah sejak kecil dan hari ini ulang tahunnya yang kelima. Kak Gaius hanya membantu memenuhi impiannya untuk merasakan kasih sayang seorang ayah."
Aku menatapnya dengan senyuman yang tidak benar-benar tulus.
Lalu menjawab, "Kalau begitu, aku dan Liana sudah datang sekarang, bukankah seharusnya kamu kembalikan Gaius kepada kami? Bagaimanapun, kami adalah keluarga yang sebenarnya."
Sunlina tampak tertegun, tetapi anak di gendongannya langsung membantah,
"Ayah, kamu bilang akan menemani aku dan ibu hari ini!"
Seru anak berusia lima tahun itu dengan kesal, sambil melirikku tajam.
Aku mengangkat alisku, dia memanggilnya ayah?
Belum sempat aku bicara, Gaius sudah berdiri di depan mereka berdua, melindungi mereka seperti seorang pahlawan.
Dengan sedikit kesal, Gaius berkata,
"Yuri, kamu juga seorang ibu, kamu nggak punya sedikit pun rasa empati?"
"Sunlina itu teman masa kecilku, aku hanya menemani mereka sehari, hanya sehari ini saja! Untuk apa kamu mempermasalahkannya?"
Aku tertawa, jadi kesialan yang dialami Sunlina itu salahku?
Tiba-tiba, para orang tua lain mulai berdatangan dengan anak-anak mereka. Salah satu dari mereka menyapa,
"Halo, ibu dan ayah Leo! Kalian sekeluarga selalu datang di acara hari keluarga sekolah. Beda sekali dengan suamiku. Alasannya selalu sibuk kerja, nggak pernah peduli dengan tumbuh kembang anak."
Sunlina menanggapinya dengan senyuman canggung, sementara Gaius menunjukkan sedikit kekhawatiran di matanya.
Aku tak tahan dan bertanya, "Gaius, ini yang kamu maksud hanya sehari?!"
Gaius terlihat malu dan marah. Dia pun menarik lenganku dengan kasar dan berkata,
"Yuri, jangan ribut di sini, jangan permalukan diriku di depan banyak orang!"
Lalu dia melirik putri kami dan menurunkan nada suaranya,
"Kalau masalah ini jadi heboh, bukankah akan berdampak buruk untuk Liana juga?"
Mendengar namanya disebut, Liana memandang sekeliling dengan bingung.
Tampaknya dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, hanya memeluk kakiku erat-erat, tangan kecilnya yang berkeringat menggenggam tanganku dengan kuat.
Aku bisa merasakan kecemasannya. Aku pun jongkok, mengelus rambutnya yang diikat tinggi dan berkata lembut,
"Sayang, jangan takut, ada ibu di sini."
Aku melihat Gaius yang pergi bersama Sunlina dan anaknya, Leo.
Tak lama kemudian, mereka dikelilingi oleh kerumunan orang.
Beberapa orang terlihat berbicara dengan penuh hormat pada Gaius.
Memujinya sebagai pria sukses yang masih berusia tiga puluhan tetapi sudah menjadi manajer umum perusahaan dengan aset triliunan.
Gaius tampak sangat bangga.
Sementara itu, Sunlina menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman, seolah dia juga bangga atas kesuksesannya.
Leo yang ada dalam pelukan Gaius, tiba-tiba menoleh ke arahku dan membuat wajah mengejek.
Aku hanya bisa tertawa dingin dalam hati, sepertinya Gaius sudah terlalu besar kepala.
Memang benar, sejak aku hamil dan melahirkan, waktu kerjaku di perusahaan jadi berkurang. Tapi jangan lupa, 75% saham Grup Miramar ada di tanganku. Aku adalah pemilik sebenarnya perusahaan itu.
Sedangkan Gaius hanya naik jabatan sebagai manajer karena statusnya sebagai suamiku.
Aku pun membuka ponsel dan mengirim pesan ke bagian HR perusahaan.
"Silvia, segera pindahkan Gaius dari posisi manajer. Umumkan secara internal minggu depan!"
Lalu, aku pun menghubungi bagian legal perusahaan.
"Agus, tolong siapkan surat perjanjian cerai antara aku dan Gaius."
Gaius oh Gaius, kamu ingin hidup nyaman dengan mengandalkanku? Tentu saja aku tidak akan mengizinkannya.
Bab 2
Tak lama kemudian, acara hari keluarga di taman kanak-kanak pun resmi dimulai.
Setiap keluarga duduk di meja yang telah disiapkan. Liana, putri kecilku memandang ke arah Gaius yang duduk di barisan depan, lalu bertanya dengan kecewa,
"Ibu, kenapa ayah nggak duduk dengan kita?"
Aku mencubit pipinya yang lembut. Dia masih begitu kecil, tidak seharusnya terlibat dalam kekacauan ini.
"Karena ibu adalah superhero, jadi supaya adil, ayah pergi membantu anak-anak lain."
Tiba-tiba, guru taman kanak-kanak mengumumkan kegiatan pertama, yaitu lomba menyusun balok. Dia tersenyum dan berkata, "Pemenangnya akan mendapatkan hadiah satu set lego berbentuk pesawat luar angkasa."
Tiba-tiba, Liana bersorak kegirangan sambil menunjuk hadiah tersebut, "Ibu, aku mau itu!"
"Iya, ayo kita sama-sama melakukan yang terbaik!"
Ketika pasir di jam pasir hampir habis, Liana dengan penuh semangat mengangkat tangannya dan berteriak,
"Bu guru, kami sudah mau selesai!"
Guru datang memeriksa dan mengangguk, tapi belum sempat mengumumkan pemenangnya, seorang anak laki-laki berlari dari barisan depan.
Itu Leo.
Dengan seenaknya, dia mendorong susunan balok kami hingga runtuh, lalu berkata dengan sombong,
"Sekarang pemenangnya aku!"
Liana menatap susunan balok yang roboh dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat marah, mengambil balok kayu besar dan melemparkannya ke arah Leo.
Tiba-tiba, Gaius datang dan kalimat pertamanya adalah,
"Liana, kenapa kamu memukul orang?! Cepat minta maaf pada Kak Leo!"
Liana membantah dengan keras,
"Nggak mau! Dia yang duluan merobohkan balokku! Dia jahat!"
Aku berdiri tegak di belakang putriku dan berkata tegas,
"Gaius, orang yang punya mata jelas tahu siapa yang memulai masalah. Seharusnya Leo yang minta maaf pada Liana."
Sunlina ikut mendekat, menarik lengan Gaius sambil berkata lembut,
"Sudahlah Kak Gaius, jangan permasalahkan lagi. Kita yang mengalah saja."
Guru taman kanak-kanak mencoba menengahi. Tapi, Liana tiba-tiba menangis keras sambil berkata dengan penuh kesedihan,
"Ayah, kenapa ayah nggak melindungiku? Malah marahi aku?"
Panggilan ayah itu langsung membuat semua orang terdiam. Tatapan mereka bergantian berpindah antara aku, Gaius dan Sunlina.
Seketika, wajah Gaius langsung memucat, sementara Sunlina terlihat ingin berbicara tetapi menahan diri.
Leo yang berdiri di depan Liana, memasang kedua tangannya di pinggang sambil berbicara dengan galak,
"Kamu panggil siapa ayah? Jangan asal panggil! Dia itu ayahku!"
Liana tersedak saat menangis, matanya yang berkaca-kaca menatap Gaius, samil berkata manja,
"Ayah, jawab aku!"
Hatiku terasa sangat sakit melihat itu. Aku menatap Gaius dengan tajam, suaraku terdengar dingin dan penuh tekanan,
"Gaius, kamu masih nggak mau menjelaskan? Kamu mau biarkan aku dan anak kita disalahpahami seperti ini?"
Gaius membelalak marah, lalu menggendong Leo sambil berkata,
"Apa yang perlu dijelaskan? Hari ini aku memang ayahnya Leo!" usai bicara, dia bahkan mengusap lembut kepala Leo.
Seketika, para orang tua lain mulai berbisik sambil menujuk ke arah diriku dan putriku.
"Bisa-bisanya anak ini asal panggil ayah?!"
"Selama ini keluarga Liana sepertinya nggak pernah datang ke acara hari keluarga. Baru kali ini ibunya muncul, jangan-jangan dia ini istri simpanan?!"
"Dengar-dengar Gaius itu manajer grup besar, dia itu orang kaya! Mungkin saja ibunya Liana mau menggodanya, lalu anaknya jadi salah paham, 'kan?"
Saat aku dan putriku diserang oleh desas-desus, Gaius tidak mengucapkan satu kata pun, hanya sibuk menenangkan Leo. Sementara itu, Sunlina melirikku dengan senyuman mengejek yang tersembunyi.
Aku menggendong Liana yang menangis tak terkendali, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
Meski rasanya ingin sekali menampar pasangan tak tahu malu itu, ini bukanlah waktu yang tepat. Aku tidak ingin putriku terluka lebih jauh.
Di antara kerumunan, seseorang yang mencoba menjilat Gaius berkata,
"Wah, anak ini mirip sekali dengan Pak Gaius! Jelas-jelas anak kandungnya!"
Aku melirik Gaius, terlihat kilatan rasa bersalah di tatapan matanya, tetapi dia segera mengalihkan perhatian dengan tertawa canggung. Sedangkan, Sunlina tersenyum lebar penuh kemenangan.
Dulu, aku pernah bertemu dengan sepasang ibu dan anak itu. Kenapa aku baru sadar kalau Leo memang terlihat sedikit mirip dengan Gaius?
Liana masih terus menangis tanpa henti.
Aku meminta guru untuk mengantarkan kami ke ruang istirahat agar aku bisa menenangkan putriku.
Setibanya di ruang istirahat, aku pun menghibur Liana hingga dia perlahan tertidur.
Melihat kelopak matanya yang bengkak karena menangis, hatiku terasa seperti diremas-remas.
Aku melangkah keluar dengan hati-hati, lalu berhenti di sudut lorong untuk menelepon HR dan legal perusahaan.
"Silvia, Agus, bawakan surat nikahku dengan Gaius, surat perjanjian cerai dan surat pemberhentian dari perusahaan ke TK Theodore sekarang juga, segera!"
Ketika aku sedang membahas detailnya dengan mereka, tiba-tiba terdengar teriakan melengking. Itu suara putriku!
Hatiku langsung terasa jatuh ke dasar jurang.
Bab 3
Di ujung koridor, tepat di depan pintu kamar mandi, Liana terduduk di lantai sambil terisak-isak menangis.
Di depannya, Leo berdiri dengan wajah garang dan berkata dengan nada mengancam,
"Berani-beraninya kamu ngaku-ngaku ayahku itu ayahmu! Lihat saja, hari ini aku akan menghajarmu!"
Setelah itu, Leo menendang perut Liana dengan keras. Liana menjerit kesakitan, mencoba melarikan diri, tapi seorang anak laki-laki lain yang berdiri di belakangnya mencoba menangkapnya.
"Anak dari perempuan jalang pantas dipukuli!"
"Ibuku bilang, anak haram sepertimu seharusnya dibunuh sejak lahir!"
Liana berusaha melawan dengan tangan kecilnya sambil menangis tersedu-sedu,
"Kamu bohong! Dia memang ayahku! Ayah, ibu, tolong aku!"
"Aku sangat sakit!"
"Ayah, ibu, di mana kalian?!"
Saat melihat kejadian itu, kepalaku seperti dihantam keras. Suara mendenging memenuhi telingaku, darahku berdesir dan seluruh tubuhku terasa hendak meledak.
Anak-anak itu saling memandang, lalu lari terbirit-birit ketika melihat wajahku yang penuh amarah.
Aku segera menggendong Liana dan mendekapnya erat. Tubuh kecilnya gemetar hebat, aku pun segera menelepon ambulans.
"Sayang, jangan takut, ibu di sini, ibu akan selalu di sini!"
Saat ambulans tiba, para orang tua di taman kanak-kanak mulai penasaran dengan apa yang terjadi.
Aku menggendong Liana dan berlari menuju ambulans tanpa memedulikan mereka.
Di tengah jalan, aku melewati Gaius yang sedang asik menyusun balok bersama Leo, sementara Sunlina dengan penuh perhatian menyeka keringat di dahinya.
Mendengar suara keributan, Gaius menoleh. Dengan ekspresi bingung, dia berjalan mendekat dan bertanya, "Apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada Liana?"
Tapi, belum sempat aku menjawab, Sunlina langsung menarik tangannya.
"Kak Gaius, bukankah kamu sudah berjanji akan menemani Leo hari ini? Kamu nggak tahu betapa senangnya Leo semalam saat aku bilang kalau kamu akan menghabiskan waktu seharian dengannya!"
Langkah Gaius pun terhenti. Sementara itu, aku sudah membawa Liana masuk ke ambulans.
Di dalam ambulans, Liana mulai kehilangan kesadaran. Dokter segera melakukan pemeriksaan dan tindakan darurat.
Saat seorang dokter perempuan membuka baju Liana untuk memeriksa, dia pun terkejut dan berkata,
"Astaga! Bagaimana bisa anak sekecil ini diperlakukan sekejam ini?!"
Aku benar-benar panik dan tak bisa menahan tangis.
Kulit Liana yang putih mulus, kini penuh memar biru dan ungu. Di pinggangnya ada bekas lebam sebesar kepalan tangan.
Tubuh kecilnya terus gemetar tanpa henti. Dokter segera memberikan instruksi dengan tegas,
"Cepat, pasang alatnya!"
Setelah dua jam berlalu, akhirnya Liana berhasil diselamatkan. Dua jam itu terasa seperti dua abad bagiku.
Rasa penyesalan dan kebencian berkecamuk di dalam hatiku, tumbuh liar dan menghancurkan semua akal sehatku.
Ibuku yang datang ke rumah sakit hanya bisa menangis sambil memarahiku,
"Bagaimana kamu menjaganya? Lihatlah, dia menderita separah ini!"
Di tempat tidur rumah sakit, Liana sedang diinfus membuka matanya dengan lemah. Dia menatapku dengan bingung dan bertanya,
"Ibu, kenapa mereka bilang aku ini anak yang nggak diinginkan ayah?"
"Jelas-jelas aku punya ayah!"
"Kenapa ayah nggak melindungiku?"
Aku menunduk dan mengecup lembut dahinya, berkata,
"Ibu akan selalu melindungi Liana, akan selamanya bersama Liana. Karena Liana adalah harta paling berharga bagi ibu."
"Kita nggak butuh ayah lagi."
Saat kembali ke taman kanak-kanak, acara hari keluarga sedang memasuki kegiatan terakhir.
Yaitu melukis gambar keluarga bersama.
Gaius terlihat sabar mewarnai lukisan mereka. Leo duduk manis di pangkuannya, sementara Sunlina sibuk memotret mereka dengan raut wajah penuh kepuasan.
Sungguh sebuah pemandangan keluarga yang harmonis.
Tapi kenapa anakku harus terbaring di rumah sakit, sementara pelaku kekerasan malah menikmati kebahagiaan seperti ini?!
Tanpa pikir panjang, aku berjalan cepat menghampiri banyak. Tanpa banyak bicara, aku melayangkan tamparan keras ke wajah Sunlina.
Tamparan itu begitu keras hingga membuatnya terhuyung dan membentur sudut meja di belakang.
Suara tamparan itu mengejutkan semua orang.
Gaius berteriak marah,
"Yuri, apa yang kamu lakukan?!"
Dia segera memeluk Sunlina, menatapnya denganh penuh perhatian dan bertanya, "Sunlina, sakit nggak?"
Sunlina menangis, air matanya mengalir deras. Dia menggelengkan kepala dan dengan suara pelan berkata,
"Yuri, kalau ada salah paham, aku minta maaf padamu."
Aku tertawa dingin, "Hanya minta maaf dengan kata-kiata? Menurutmu itu cukup?"
Usai bicara, aku mengangkat tanganku lagi untuk menamparnya, tapi kali ini Gaius langsung menahanku.
Namun, aku mengubah arah tamparanku dan menampar wajah Gaius dengan keras. Bekas lima jariku langsung terlihat jelas di pipinya.
Gaius memegang pipinya yang memerah. Dia terdiam sejenak, lalu berteriak penuh amarah,
"Kamu sudah gila, Yuri?! Aku sudah cukup bersabar denganmu!"
Tiba-tiba, guru taman kanak-kanak segera datang untuk melerai kami dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan menahan amarah, aku menunjuk ke arah Leo dan berkata,
"Saat aku melakukan hal lain, anak ini mengajak beberapa anak laki-laki untuk mengeroyok putriku!"
Baru saja aku selesai bicara, SUnlina langsung berkata,
"Nggak mungkin! Leo anak yang sangat baik. Kak Gaius, kamu harus percaya padaku!"
Aku melangkah maju dan berkata dengan dingin, "Nggak mungkin? Lalu menurutmu, kenapa ambulans baru saja datang ke sini?"
Namun, Gaius malah berdiri di depan Sunlina dan Leo, seolah menjadi pelindung mereka.
"Anak-anak nggak mungkin punya niat buruk! Memang sudah hal biasa bermain bercanda seperti itu, kamu saja yang terlalu membesar-besarkan masalah! Malah datang dan langsung memukul orang seperti itu, dasar perempuan murahan"
Melihatku masih marah, Gaius mendorongku hingga terjatuh ke lantai.
Telapak tanganku tergores di lantai dan mulai berdarah.
Orang-orang yang ingin menjilat Gaius ikut mengejekku dengan kata-kata merendahkan,
"Dia pasti sengaja cari masalah. Dia tahu Pak Gaius itu kaya, jadi mau cari keuntungan darinya!"
"Coba lihat wajahnya, benar-benar memalukan! Tunggu saja surat pengacara dari Grup Miramar!"
"Menurutmu, mungkinkah dia mantan simpanan yang gagal, lalu sekarang malah bikin keributan di sini? Lihat saja, jauh sekali dibandingkan dengan istri Pak Gaius yang elegan!"
"Memang simpanan murahan!"
Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar dari kejauhan. Tak lama, tiga mobil mewah berhenti di depan taman kanak-kanak.
Seseorang yang peka langsung berteriak,
"Itu mobil resmi dari Grup Miramar! Mobil para eksekutif!"
Yang lain langsung menimpali,
"Gaius memang luar biasa. Lihat, dia langsung memanggil tim legalnya!"
Usai bicara, seorang pria penjilat meludahiku dan mengejek,
"Mampuslah kamu, dasar perempuan murahan! Semua orang tahu tim legal Grup Miramar itu nggak pernah kalah. Siap-siap denda dan masuk penjara saja kamu!"
Di sisi lain, seorang ibu yang bekerja sebagai influencer dengan antusias mengangkat ponselnya untuk merekam.
"Wah, ada berita besar hari ini! Jangan lupa ikuti akunku ya, semuanya. Aku bakal kasih kalian siaran langsung tentang akhir dari wanita jalang ini!"
Sunlina yang menyadari situasi langsung menatap Gaius dengan penuh harapan, sementara Leo berdiri di sampingnya dengan wah sombong.