Đang tải thông tin quảng bá...
Terlahir Kembali: Menyelamatkan Anakku Dari Sahabatku
Ketika sahabatku mulai mengalami masalah rambut rontok parah, dia mendengar kabar bahwa mencuci rambut dengan ASI bisa mengaktifkan folikel rambut. Oleh karena itu, dia memintaku untuk meminjamkan ASI...
Chương (1)
第1章
Ketika sahabatku mulai mengalami masalah rambut rontok parah, dia mendengar kabar bahwa mencuci rambut dengan ASI bisa mengaktifkan folikel rambut. Oleh karena itu, dia memintaku untuk meminjamkan ASI.
Aku merasa hal itu sangat menjijikkan dan dengan alasan bahwa ASI-ku hanya cukup untuk anak perempuanku, aku menolaknya.
Temanku tidak menyerah, dia akhirnya membeli ASI dari internet dengan harga tinggi. Sayangnya, ASI yang dia dapatkan mengandung virus dan dia terinfeksi sifilis.
Alih-alih menerima akibat dari tindakannya sendiri, dia malah menyalahkan anak perempuanku. Pada suatu malam, dia diam-diam masuk ke rumahku dan menggunakan rambutnya sendiri untuk mencekik anakku hingga tewas.
Setelah mengetahui kebenarannya, aku benar-benar kehilangan kendali. Aku mencabut semua rambut di kepalanya dan kemudian membunuhnya dengan sebilah pisau dapur.
Namun, saat aku membuka mata, aku mendapati diriku kembali ke hari ketika dia pertama kali meminta meminjam ASI dariku.
Bab 1
Tangisan yang mendadak membuyarkan lamunanku dan membuatku tersadar. Aku buru-buru menoleh ke arah putriku yang ada di sebelahku. Saat itu aku baru menyadari bahwa aku telah terlahir kembali.
Dengan hati-hati, aku mengangkat putriku yang lapar, lalu membuka bajuku untuk menyusuinya.
Di kehidupan sebelumnya, seorang sahabatku pernah memintaku meminjamkan ASI untuk mencuci rambutnya. Aku tidak bisa menerima permintaan aneh itu, jadi aku menolaknya. Namun, aku tidak menyangka dia masih bersikeras dengan metode aneh tersebut dan akhirnya membeli ASI dengan harga tinggi di internet.
Sayangnya, ASI yang dia beli ternyata mengandung virus yang membuatnya terinfeksi sifilis. Dia malah menyalahkanku dan mengatakan bahwa putriku telah menghabiskan semua ASI-ku sehingga aku tidak meminjamkannya untuknya. Menurutnya, jika aku meminjamkannya, dia tidak akan tertular penyakit menjijikkan itu.
Dia mengumpulkan semua rambut rontoknya, memelintirnya menjadi sebuah tali, lalu menyelinap ke rumahku ketika aku dan suamiku sedang bekerja. Dengan tali itu, dia mencekik putriku yang baru berusia empat bulan hingga meninggal.
Ketika aku pulang dan melihat pemandangan itu, aku langsung pingsan di tempat.
Setelah sadar, aku bersumpah akan membunuh Bella. Suamiku mencoba menenangkanku dan menyarankan agar kami melaporkan kejadian itu ke polisi. Setelah serangkaian penyelidikan, polisi menyimpulkan bahwa Bella melakukan pembunuhan karena terpicu emosinya, sehingga hanya dihukum penjara beberapa tahun.
Namun, setiap kali aku menutup mata, aku selalu terbayang tubuh mungil putriku yang penuh lebam. Dia masih begitu kecil, mengapa dia harus mengalami hal sekejam itu? Bella yang telah membunuh putriku, kenapa hanya dihukum belasan tahun?
Dalam kemarahan yang memuncak, aku mendatangi rumah Bella dan menarik rambutnya dengan sekuat tenaga, hingga semua rambutnya tercabut.
"Kamu sangat menghargai rambutmu, bukan? Sekarang aku akan memastikan kamu botak dan langsung masuk neraka!"
Bella merangkak di lantai dengan wajah penuh ketakutan sambil memohon, "Tolong, maafkan aku. Aku benar-benar salah."
Namun, sejak putriku meninggal, hatiku sudah mati rasa. Dengan menggertakkan gigi, aku berkata perlahan, "Orang jahat pasti akan menerima balasannya."
Setelah itu, tanpa memedulikan permohonannya, aku mengayunkan pisau dapur di tanganku dan menghabisinya.
Bab 2
Awalnya aku berpikir aku tidak akan terlahir Kembali. Bagaimanapun juga, aku sudah membuat Bella membayar atas perbuatannya. Namun, mungkin Tuhan merasa kasihan padaku dan tidak rela melihatku kehilangan putriku begitu saja. Oleh karena itu, aku diberi kesempatan lagi untuk melindunginya.
Aku dan Bella adalah sahabat baik selama lebih dari sepuluh tahun. Kami sudah saling mengenal sejak SD. Oleh karena itu, dia tahu kode pintu rumahku. Hal ini yang memberinya peluang di kehidupan sebelumnya.
Segala kejadian di kehidupan sebelumnya melintas di pikiranku seperti kilasan film. Putriku sudah kenyang dan tertidur pulas dalam pelukanku. Aku mengulurkan tangan untuk menghapus sisa susu di sudut bibirnya. Putriku mungkin sedang bermimpi indah, terlihat dari caranya mengisap jari kecilnya dengan bahagia.
Melihat pemandangan ini, aku tidak bisa menahan air mata yang mengalir. Perasaan mendapatkan kembali sesuatu yang telah hilang sungguh tidak mudah untuk diterima.
Suamiku yang melihat reaksiku tampak bingung dan segera bertanya, "Sayang, Mery terlalu kuat ngisapnya waktu nyusu sampai buat kamu kesakitan ya?"
Aku menggelengkan kepala dan meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.
Hal paling penting yang harus kulakukan sekarang adalah mengganti kode pintu depan agar Bella tidak bisa lagi masuk diam-diam ke rumahku. Dulu aku menganggapnya sebagai sahabat baik, tapi dia hanya menganggapku sebagai orang bodoh.
Aku melihat jam, dan menyadari bahwa lima menit lagi adalah waktu ketika Bella di kehidupan sebelumnya menghubungiku untuk meminjam ASI. Tepat lima menit kemudian, pesan darinya masuk.
[ Felita, bisa pinjam sedikit ASI? Belakangan ini aku sering bergadang dan rambutku rontok parah. Kalau terus begini, aku akan jadi botak. ]
[ Aku dengar ASI bisa merangsang folikel rambut. Jadi, aku mau pinjam sedikit darimu. ]
Aku belum sempat menjawab untuk menolak, tapi bel pintu tiba-tiba berbunyi.
"Felita? Kamu nggak di rumah? Aneh, kenapa pintu ini nggak bisa dibuka? Kamu ganti kode pintunya?"
Aku tidak merespons, tetapi dia mulai mengetuk pintu dengan keras.
"Felita? Nggak mungkin, di jam segini biasanya kamu ada di rumah, 'kan?"
Tiba-tiba suara ketukan berhenti dan kupikir dia sudah pergi. Namun, detik berikutnya dia mulai menendang pintu dan mencoba membukanya dengan paksa.
"Aku tadi jelas melihat lampu rumahmu menyala dari bawah. Kenapa kamu nggak bukakan pintu? Apa aku pernah buat salah sama kamu?"
Setengah jam sebelumnya, suamiku mendapatkan panggilan darurat untuk operasi dan buru-buru pergi ke rumah sakit. Aku sendiri sedang dalam cuti melahirkan, jadi hanya aku dan putriku yang ada di rumah. Awalnya aku tidak ingin membukakan pintu untuk Bella, tapi keributan yang dia buat semakin besar hingga mengganggu para tetangga.
Bab 3
Aku berlari ke kamar mandi untuk membasahi seluruh rambutku, lalu membungkusnya dengan handuk sebelum pergi membukakan pintu untuk Bella.
"Kenapa ribut banget? Aku tadi lagi keramas, jadi nggak dengar ketukan pintumu," kataku dengan nada kesal. "Lagian, ada apa sih yang penting banget sampai harus dibicarakan sekarang?"
Bella langsung balik bertanya, "Kenapa kamu ganti kode pintu?"
"Aku dengar katanya kalau pakai satu kode terus itu nggak aman. Jadi, setiap beberapa waktu harus diganti," jawabku santai.
Bella kemudian menyibakkan rambutnya, memperlihatkan area di kepalanya yang hampir tidak ada rambut. Kulitnya bahkan terlihat mengilap karena refleksi cahaya.
Aku menutup mulutku untuk menahan tawa dan berkata, "Sepertinyak amu kena alopecia, ya?"
"Felita, gimana ini? Aku kan masih umur 20-an dan belum nikah. Kalau aku botak, siapa yang mau sama aku?" keluhnya.
"Aku sudah coba pakai segala macam shampo perangsang rambut, tapi nggak ada hasilnya. Awalnya cuma rontok beberapa helai, tapi sekarang, rambutku rontok segenggam-segenggam. Aku stres banget!"
"Aku lihat di internet ada yang bilang kalau pakai ASI buat keramas bisa merangsang folikel rambut. Aku panik, jadi kepikiran buat pinjam ASI dari kamu," lanjutnya.
Aku memasang ekspresi bingung. "Bukan aku nggak mau pinjamkan, tapi ASI-ku sudah nggak keluar lagi. Kamu tahu sendiri, Mery sejak lahir hampir nggak pernah minum susu formula. Badanku nggak terlalu kuat, jadi beberapa hari lalu ASI-ku sudah berhenti."
Bella melirik dadaku dengan curiga dan berkata, "Jangan-jangan kamu cuma nggak mau pinjamkan, makanya bilang begitu?"
"Ya ampun, mana mungkin. Kita ini teman baik, masa hal sekecil ini aku bohong sama kamu," sahutku.
"Aku nggak percaya, kecuali aku bisa membuktikannya sendiri," katanya sambil mengulurkan tangan ke arahku dan mencoba memeras dadaku untuk memastikan masih ada ASI atau tidak. Tentu saja, tidak ada setetes pun yang keluar.
Untungnya, aku sudah memerah semua ASI-ku sebelumnya dan menyimpannya di dalam freezer. Kalau tidak, pasti kebohonganku akan terbongkar.
"Aku sudah bilang, 'kan? Kamu nggak percaya. Aku benar-benar sudah nggak punya ASI lagi," kataku dengan pasrah.
Bella hampir menangis putus asa. "Aduh, aku bakal jadi botak benaran, ya? Tolong dong, aku nggak mau!"
Aku berpura-pura menghiburnya, "Aku belum pernah dengar ASI bisa merangsang folikel rambut. Jangan mudah percaya sama informasi di internet. Lebih baik kamu periksa ke dokter."
"Harusnya aku pinjam dari kamu lebih awal. Aduh, ribet banget," keluhnya sambil menghela napas.
Bella kemudian menoleh ke arahku dan bertanya, "Mana Mery? Mana anak angkatku? Sudah lama aku nggak lihat dia. Penasaran dia sekarang seperti apa."
"Baru saja dia minum susu formula dan langsung tidur," jawabku.
"Aku mau lihat dia. Sudah lama banget nggak ketemu. Aku kangen sama dia," pinta Bella.
Awalnya aku tidak ingin memperlihatkan putriku, tapi Bella sudah dengan seenaknya mengangkatnya tanpa izin.
Mungkin karena merasa takut, putriku langsung menangis keras.
"Ada apa ini? Dulu aku gendong dia baik-baik saja. Kenapa sekarang baru aku gendong langsung menangis? Anak kecil memang menyebalkan," ujar Bella dengan nada kesal.
Dia mengulurkan tangannya, seolah ingin memukul putriku. Aku yang ketakutan langsung merebut putriku dari tangannya dan memeluknya erat sambil menenangkan.
"Kamu kenapa sih? Mana mungkin aku benar-benar mukul dia. Aku cuma bercanda mau menakutinya saja. Siapa suruh dia berani melawan ibu angkatnya," ujar Bella sambil menyeringai ke arah putriku.
Bella kemudian menatap putriku dengan wajah garang. "Semua gara-gara kamu menghabiskan ASI ibumu. Kalau ibu angkatmu ini jadi botak, aku akan cabut semua rambutmu."
Putriku yang tadinya sudah hampir tenang, langsung menangis lebih keras lagi mendengar ucapan itu.
"Lucu juga, anak sekecil ini ternyata bisa mengerti apa yang kubilang?" kata Bella sambil tertawa sinis.
Untuk menghentikan tangisan putriku, aku segera mendorong Bella keluar dari rumah.
"Kamu pulang saja sekarang. Kalau Mery sampai ketakutan gara-gara kamu, aku nggak akan memaafkanmu," kataku tegas.
"Tunggu ...." Bella mengarahkan pandangannya ke sekeliling rumah, lalu menatapku tajam. "Barusan aku mencium aroma dari tubuh Mery. Itu bukan bau susu formula, malah lebih mirip bau ASI. Apa kamu sengaja bohongin aku?"
Amarahku langsung memuncak. "Aku perlu bohong sama kamu? Kita sudah bersahabat bertahun-tahun, tapi ternyata kamu mikir begitu tentang aku. Aku benar-benar salah menilaimu."
"Lagi pula, sekarang aroma ASI dan susu formula itu sudah hampir mirip. Kamu kan belum pernah punya anak, wajar kalau kamu nggak tahu."
"Kalau kamu tetap berpikiran seperti itu, aku nggak bisa apa-apa lagi. Anggap saja aku nggak pernah punya sahabat seperti kamu."
Melihatku marah, nada bicara Bella mulai melunak.
"Felita, maaf, aku salah. Gimana kalau kamu kasih tahu aku kode pintunya? Bukannya kamu pernah bilang, di antara kita nggak boleh ada rahasia?"
Aku tahu Bella sudah mulai curiga. Dia meminta kode pintu sekarang jelas-jelas untuk mencoba masuk ke rumahku saat aku tidak ada, supaya dia bisa memeriksa apakah aku menyembunyikan ASI.
"Bella, kita ini sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Setiap orang punya privasi. Kalau kamu bisa masuk ke rumahku sembarangan, itu nggak pantas. Masih ingat waktu terakhir kali kamu masuk tanpa izin?"
"Waktu itu aku dan suamiku lagi ... ya, di ranjang. Dia sampai trauma dan nggak mau menyentuhku selama hampir setengah bulan."