Đang tải thông tin quảng bá...
Setelah Reinkarnasi, Aku Menjauhinya
Setelah reinkarnasi, aku memutuskan untuk mengembalikan tunanganku kepada cinta pertamanya. Saat dia membuat acara lajang untuk cinta pertamanya, dia memintaku tidak boleh mengganggunya, aku pun memil...
Chương (1)
第1章
Setelah reinkarnasi, aku memutuskan untuk mengembalikan tunanganku kepada cinta pertamanya. Saat dia membuat acara lajang untuk cinta pertamanya, dia memintaku tidak boleh mengganggunya, aku pun memilih untuk keluar negeri.
Saat dia bilang benci melihatku, aku langsung mengundurkan diri. Saat dia merasa tidak nyaman satu negara denganku, aku langsung pindah keluar negeri. Terakhirnya, dia bilang ingin memberi rasa aman pada cinta pertamanya, aku langsung setuju dan menyetujui lamaran orang lain. Aku selalu patuh dengannya, hanya karena di kehidupan sebelumnya. Setelah aku dan dia menikah, cinta pertamanya putus asa dan bunuh diri. Dia menyalahkan aku membuat mereka berpisah, jadi dia menyakitiku sampai mati.
Kali ini, aku hanya ingin hidup dengan baik. Akhirnya saat sekeluargaku jalan-jalan. Dia berlutut di depanku sambil menangis. "Asalkan kamu meninggalkan mereka, aku akan bersama denganmu lagi."
Bab 1
"Sonia, malam ini Jefri akan mengadakan pesta lajang untuk Paula. Kamu nggak pergi?"
Aku tersentak ketika mendengar namaku.
Aku menatap teman yang sedang berbicara dengan bingung. Sementara itu, dia menatapku dengan wajah penuh kekhawatiran, lalu bertanya, "Apa kamu bertengkar dengan Jefri akhir-akhir ini? Beberapa hari ini kamu kelihatan nggak fokus."
Aku menggelengkan kepala pelan.
Saat itu, ponselku berdering. Itu adalah panggilan dari Jefri.
Ketika melihat nomor yang tidak asing, hatiku terasa perih.
Butuh beberapa saat sebelum aku akhirnya mengangkat panggilan itu.
Suara Jefri di seberang terdengar jauh dan asing. Dia berkata dengan nada acuh tak acuh, "Paula baru saja putus dengan pacarnya. Malam ini, kami nggak ada yang akan membawa pasangan. Aku nggak ingin dia merasa sedih karena kehadiranmu."
Aku menggigit bibir dengan kuat. Rasa anyir darah memenuhi mulutku, mengingatkanku pada kenyataan yang menyakitkan.
Aku tidak tahu apa lagi yang Jefri katakan, tetapi aku tidak bisa mendengarkan sepatah kata pun.
Aku memotong perkataannya, menekan rasa sakit di hatiku.
Kemudian, aku berpura-pura tidak peduli dengan berujar, "Aku mengerti. Aku nggak akan mengganggu kalian. Lagi pula, aku harus pergi perjalanan bisnis ke Negara Faransi."
Jefri terdiam sesaat ketika mendengar kata-kataku.
Mungkin dia merasa terkejut karena kali ini aku tidak berdebat dengannya seperti biasanya, tidak menuntut alasan kenapa aku tidak boleh muncul di depan Paula.
Beberapa detik kemudian, nada Jefri terdengar sedikit melunak ketika dia berkata, "Akhirnya kamu mulai mengerti."
Hatiku terasa perih. Aku menahan air mataku sekuat tenaga agar tidak jatuh.
Temanku yang berada di samping menatapku dengan heran.
Aku tahu kenapa dia begitu terkejut. Bagaimanapun juga, aku begitu mencintai Jefri sampai kehilangan jati diriku sendiri.
Namun, kali ini aku tidak lagi menangis histeris, tidak lagi bertengkar dengan Jefri. Aku juga tidak lagi panik dan cemas dengan apa yang terjadi pada Jefri dan Paula.
Temanku melihat wajahku yang pucat, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menghela napas.
Kemudian, dia menuangkan segelas air hangat untukku.
Setelah meneguk air itu, tubuhku yang terasa dingin sedikit menghangat.
Aku tersenyum simpul padanya, mulai membereskan meja, lalu memesan tiket pesawat.
Temanku bertanya, "Jadi, apa kamu benar-benar akan pergi ke Negara Faransi?"
Aku menjawab pelan.
Suaraku terdengar sedikit berat, "Aku sudah lama ingin pergi ke sana. Kebetulan kali ini ada kesempatan, jadi aku akan pergi."
Melihat wajah temanku yang penuh kekhawatiran, aku tersenyum menenangkannya, lalu memeluknya dengan erat.
Kehangatan tubuhnya membuat air mataku tak bisa kutahan lagi.
Temanku ini tidak tahu apa yang membuatku tiba-tiba begitu hancur, tetapi dia tetap dengan lembut menepuk punggungku, berbisik lembut menghiburku.
Dengan suara lirih, aku berkata, "Aku nggak ingin mencintai Jefri lagi. Aku sangat lelah."
Temanku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi tetap saja dia berkata, "Kalau begitu, selamat atas hidup barumu."
Air mataku jatuh tanpa henti.
Yang tidak temanku tahu, aku sudah pernah mati sekali. Namun, dewa mengasihaniku, memberiku kesempatan untuk hidup kembali.
Kali ini, aku hanya ingin menjalani hidup dengan baik.
Bab 2
Di kehidupan sebelumnya, pada hari pernikahanku dengan Jefri, Paula mengiris pergelangan tangannya di hotel untuk bunuh diri.
Jefri meninggalkanku sendirian di pesta pernikahan, berlari untuk menemui Paula.
Aku dulu berpikir bahwa kematian Paula akan menjadi duri yang tak akan pernah bisa hilang di antara aku dan Jefri. Namun, aku melihatnya begitu hancur karena kematian Paula.
Hatiku juga ikut terasa sakit.
Tepat ketika aku sudah bersiap untuk berpisah dengannya karena hal itu.
Jefri malah memelukku erat sambil berkata, "Sonia, sekarang aku hanya punya kamu."
Setelah menikah, Jefri memperlakukanku dengan sangat baik. Semua urusan rumah tangga, baik yang besar maupun yang kecil, tidak pernah aku sentuh. Dia yang akan selalu mengurus semuanya sendiri.
Tidak peduli seberapa sibuk pekerjaannya, setiap hari Jefri akan pulang tepat waktu untuk makan malam bersamaku. Bahkan sekretaris di kantornya pun semuanya laki-laki. Katanya, dia tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman atau masalah yang tidak perlu.
Teman-temanku iri padaku karena memiliki pria yang begitu sempurna.
Aku juga merasa sangat beruntung. Betapa berartinya hidupku karena bisa bertemu dengan Jefri.
Namun, pada hari ulang tahun pernikahan kami yang kesepuluh, aku mati di tangan pria itu.
Jefri menyalahkanku karena telah memisahkan mereka. Dia menguliti tubuhku, mencabut uratku, lalu menguras darah dari tubuhku hingga habis.
Jadi, saat aku menyadari bahwa aku telah terlahir kembali, aku hanya ingin menjauh dari mereka, menjalani hidup dengan baik.
Meski aku sudah menyiapkan diriku secara mental, saat melihat Jefri yang penuh percaya diri dan berkarisma, dada ini tetap terasa sesak dan sakit.
Dia berdiri bersama Paula di depan gedung perusahaan.
Tatapan mata Jefri pada Paula tampak begitu lembut, seolah bisa memesona siapa pun.
Begitu melihatku turun dari lantai atas, ekspresi Jefri sedikit berubah. Kemudian, dia menoleh dengan penuh kekhawatiran ke arah Paula.
Aku menatap Jefri, lalu ingatan dari kehidupan sebelumnya muncul dalam benakku.
Di kehidupan sebelumnya, aku selalu bertengkar dengan Jefri karena Paula.
Saat pertengkaran menjadi makin sengit, Jefri akan menatapku dengan raut kecewa sembari berkata, "Aku dan Paula sekarang hanya teman. Dia sedang sakit, bisakah kamu berhenti membuat keributan dan nggak memprovokasinya? Dia masih mencintaiku! Jangan sering muncul di hadapannya!"
Setelah mengatakan itu, Jefri selalu meninggalkanku sendirian, pergi berlibur bersama Paula.
Pada saat itu, Jefri baru berusia dua puluh tahun. Masih terlalu muda untuk bisa menyembunyikan emosinya dengan baik.
Dia seperti landak yang memperlihatkan bagian perutnya yang lembut kepada Paula, sementara semua durinya ditusukkan ke arahku.
Aku menundukkan kepala, mempercepat langkah, berniat segera pergi dari sana.
Namun, Paula tiba-tiba memanggilku. Wajahnya penuh dengan kebingungan serta kepanikan ketika dia berujar, "Nona Sonia, Jefri hanya ingin menemaniku. Jangan bertengkar dengannya karena aku, ya?"
"Di pesta lajang malam ini, semua orang nggak ada yang membawa pasangan mereka. Jadi, jangan terlalu dipikirkan ...."
"Jefri, Nona Sonia sedang marah, cepat tenangkan dia."
Jefri tersenyum lembut pada Paula sambil berkata dengan santai, "Sonia nggak berani marah padaku. Akhir-akhir ini, dia cukup tahu diri."
"Lagi pula, kamu yang nggak akan senang kalau aku menenangkannya. Aku nggak ingin melihatmu kesal," lanjut Jefri.
Aku terdiam di tempat.
Kata-kata Jefri terasa seperti belati yang menancap dalam ke dadaku.
Ketika melihatku masih berdiri diam di sana, mata Jefri dipenuhi kejengkelan.
Dia berkata dengan nada kesal, "Kenapa kamu masih berdiri diam di situ? Melihatmu saja sudah membuatku muak."
"Oh ya, Paula akan mulai bekerja di perusahaan. Aku akan mengantarnya pergi dan pulang setiap hari. Kalau kamu nggak ada urusan penting, jangan muncul di depan kami. Jangan membuatnya nggak bahagia," lanjut Jefri.
Keesokan harinya, dengan mata bengkak karena menangis semalaman, aku menyerahkan proposal yang sudah aku siapkan sepanjang malam.
Pada saat yang sama, ada juga surat pengunduran diriku.
Setelah meninggalkan kantor direktur, aku kembali ke meja kerjaku untuk mengemasi barang-barangku.
Tiba-tiba, terdengar keributan dari pintu masuk. Aku pun mengangkat kepala.
Itu adalah Jefri dan Paula.
Mereka memakai pakaian dengan warna senada, berjalan masuk sambil tertawa serta mengobrol akrab.
Tangan Jefri dengan lembut melingkari pinggang Paula.
Tatapannya penuh kasih sayang.
Sekilas, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang serasi.
Bab 3
Rekan-rekan kerja di sekitarku mulai berbisik pelan. Jelas sekali mereka sedang memuji betapa serasinya Jefri dan Paula.
Tatapan mereka diam-diam tertuju padaku.
Mereka terus membandingkan aku dengan Paula. Hingga akhirnya, mereka menyimpulkan bahwa Paula jauh lebih cantik dariku.
Ketika mendengar percakapan mereka, hatiku terasa sedikit sakit.
Namun, lebih dari itu, aku justru merasa lega.
Ketika melihat betapa mesranya Jefri dan Paula, makin banyak rekan kerja yang sibuk dengan pekerjaannya, tetapi diam-diam mengalihkan perhatian mereka pada kami bertiga.
Semua orang di perusahaan tahu.
Mereka tahu bahwa aku dan Jefri adalah pasangan yang sudah bertunangan. Mereka juga tahu bahwa aku sangat mencintai Jefri.
Namun, sekarang Jefri dengan terang-terangan melindungi Paula, tanpa sedikit pun peduli padaku. Tatapan mereka padaku penuh dengan rasa iba dan pengertian.
Seolah mereka bisa membayangkan bagaimana aku menangis tersedu-sedu, memohon agar Jefri tidak meninggalkanku.
Seorang rekan kerja yang cukup dekat denganku menatapku dengan tatapan cemas.
Namun, aku hanya diam, terus membereskan barang-barangku.
Jefri menatapku dengan kening berkerut, tampak tidak senang. Dia berkata, "Kenapa wajahmu seperti orang mati? Apa yang sedang kamu lakukan?"
Aku tersenyum simpul dengan tenang, menunjuk barang-barang di mejaku, lalu membalas, "Aku sudah mengundurkan diri. Sekarang aku sedang berkemas. Tenang saja, aku nggak akan mengganggumu. Aku juga nggak akan membuat Paula kesal."
Pada saat itu, Paula melenggok mendekat dengan pinggang rampingnya, berjalan dengan anggun ke arahku.
Dia meletakkan sepotong kue mangga di hadapanku.
Dia tersenyum lembut sambil berujar, "Nona Sonia, ini kue yang dibuat sendiri oleh Jefri untukku. Aku rasa kamu belum pernah mencicipi masakannya, 'kan? Dia sangat ahli dalam membuat makanan! Kamu harus mencobanya!"
"Jangan bertengkar dengan Jefri, ya. Mendapatkan pekerjaan yang baik itu nggak mudah. Meski keluarga Nona Sonia sangat kaya, tetap saja kesempatan ini terlalu berharga untuk disia-siakan."
Aku tidak mengambil kue dari tangannya.
Senyum di wajah Paula sedikit menegang, sementara dia menatap Jefri dengan ekspresi sedikit terluka.
Wajah Jefri makin terlihat kesal. Kemudian, dengan suara dingin dan tajam, pria itu berkata, "Paula dengan baik hati ingin berbagi denganmu, kenapa kamu nggak menerimanya? Apa kamu nggak tahu sopan santun?"
Berbagi?
Aku perlahan tersenyum, lalu menatap Jefri sambil berkata, "Jefri, aku alergi mangga."
Jefri tertegun. "Kenapa aku nggak tahu?" gumam pria itu.
Paula yang melihat Jefri terdiam, buru-buru berkata, "Aku mendengar dari Jefri kalau kamu sering membeli mangga untuk dibawa pulang. Nona Sonia, kalau kamu membenciku, kamu bisa langsung mengatakannya, nggak perlu berbohong begitu."
Aku kembali tersenyum.
Aku memang sering membeli mangga, tetapi itu karena Jefri yang menyukainya. Aku sendiri bahkan tidak pernah menyentuhnya.
Melihat ekspresi dingin Jefri, hatiku tetap terasa sakit.
Kami tumbuh besar bersama sejak kecil, tetapi dia bahkan tidak tahu kalau aku alergi mangga.
Aku belum sempat mengatakan apa-apa, tetapi Jefri sudah lebih dulu naik pitam.
Dia mengambil potongan mangga dari tangan Paula, melemparkannya tepat ke wajahku. Melihat aku tidak menunjukkan reaksi apa pun, tatapan matanya menjadi makin tajam. Dia berujar, "Sonia, sejak kapan kamu jadi pembohong seperti ini?"
Aku menundukkan kepala. Rasa perih mulai menjalar di wajahku. Bintik-bintik merah kecil bermunculan di kulitku, makin lama makin banyak.
Rekan kerja di sampingku yang melihat ruam merah menyebar di wajahku, langsung menjerit kaget.
Aku merasa napasku mulai tersengal. Kemudian, kesadaranku menghilang sepenuhnya.
Bab 4
Aku memiliki alergi mangga yang cukup parah. Bahkan hanya mencium baunya saja sudah membuatku merasa tidak nyaman. Jangankan lagi jika buah mangga segar langsung menghantam wajahku.
Saat aku tersadar kembali, aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit.
Jefri berdiri di hadapanku dengan ekspresi penuh rasa bersalah. Tatapannya terlihat rumit. "Aku nggak tahu …."
"Maaf."
Aku tidak menjawab.
Jefri menatapku lekat-lekat, seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda dariku.
Belakangan ini, aku memang sangat dingin padanya.
Aku juga selalu menghindarinya.
Sekilas, kegelisahan melintas di matanya. Dia menuangkan segelas air, menyodorkannya padaku, lalu berujar, "Sonia, kenapa aku merasa kamu sudah berubah?"
Aku menatapnya, pria yang telah kucintai dalam dua kehidupan. Namun, sekarang wajah itu tampak begitu asing bagiku.
Aku menjawab dengan nada acuh tak acuh, "Yang berubah itu kamu. Aku nggak pernah berubah."
Jefri menghela napas tak berdaya, nada bicaranya sedikit melunak, "Kemarin aku hanya memintamu untuk nggak mengganggu Paula, bukan menyuruhmu mengundurkan diri."
"Paula baru saja mulai bekerja di perusahaan. Dia hanya mengenalku di sini, jadi wajar kalau aku harus sedikit memperhatikannya .… Oh ya, bagaimana perkembangan rencana proyek yang kamu kerjakan akhir-akhir ini? Serahkan saja pada Paula, dia pasti lebih membutuhkannya daripada kamu," lanjut Jefri.
Ketika mendengar kata-katanya, aku tersenyum simpul tanpa tenaga, lalu membalas, "Paula sudah merebut tunanganku, sekarang dia masih ingin merebut proyekku juga?"
Wajah Jefri langsung berubah muram.
Pria itu menatapku dengan raut kecewa, lalu berkata, "Aku dan Paula sekarang hanya teman. Sonia, bisakah kamu berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini? Apa kamu tahu? Sifat posesifmu ini sangat keterlaluan! Aku benar-benar merasa sesak tinggal di kota yang sama, di negara yang sama denganmu!"
Aku menatapnya dengan tatapan tajam.
Kemudian, aku mengambil ponsel, meletakkan formulir aplikasi imigrasi di depannya.
Aku berkata dengan suara tegas, "Jangan khawatir. Aku akan pindah ke Negara Amaris. Aku nggak akan pernah muncul di hadapanmu lagi."
Jefri terdiam.
Dia hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Aku mengira bahwa dengan keputusan ini, dia akan merasa lega. Namun, aku tidak melihat secuil pun senyuman di wajahnya.
Aku tersenyum pahit.
Jadi, dia bahkan tidak sudi untuk tersenyum sedikit pun?
Rasa lelah yang tak terlukiskan tiba-tiba menyelimuti hatiku. Aku baru saja hendak menyuruh Jefri pergi.
Namun, tiba-tiba ponselnya berdering.
Ekspresinya langsung berubah muram begitu dia melihat layar ponselnya.
Setelah sekian lama, dia berkata, "Acara pertunangan kita sebaiknya dibatalkan dulu. Paula sedang sakit parah belakangan ini, dia butuh aku di sisinya."
"Aku tidak ingin dia merasa sedih."
Aku mengangguk.
Aku tidak peduli lagi. Lagi pula, pertunangan itu memang tidak akan terjadi.
Aku tidak ingin mengulang takdir yang sama. Aku tidak ingin mati di tangan Jefri lagi.
Sebulan sebelum keberangkatanku ke Negara Amaris, aku menemukan sebuah buku harian saat aku sedang berkemas.
Isinya adalah semua rahasia kecil tentang cintaku pada Jefri.
Tepat saat aku baru saja akan membuang buku itu ke tempat sampah, ponselku tiba-tiba berdering.
Panggilan ini dari Jefri.
Suara Jefri yang ada di ujung telepon terdengar asing dan jauh.
Dia berkata, "Beberapa hari lagi adalah ulang tahunmu. Aku ingat kamu selalu ingin melihat matahari terbit di Kota Andalus. Aku akan pergi menemanimu ke sana."
Ketika mendengar kata-katanya, hatiku yang sudah membatu masih juga melembut.
Selama bertahun-tahun ini, Jefri adalah keluargaku, kekasihku.
Bahkan ketika dia membenciku, dia tetap berjaga di sisiku sepanjang malam saat aku sakit parah.
Aku berpikir, mungkin ini saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal dengan baik.
Di pagi hari ulang tahunku, aku datang lebih awal ke dek observasi terkenal di Kota Andalus, menunggu Jefri.
Namun, yang datang bukanlah Jefri, bukan pula matahari terbit, melainkan gempa bumi.
Di hadapan bencana alam, manusia tampak begitu rapuh dan kecil. Aku tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Berdasarkan yang pernah aku baca di buku panduan mitigasi bencana, aku segera mencari tempat yang relatif lebih aman.
Getaran hebat mengguncang segalanya, membuatku kehilangan kesadaran.
Saat aku tersadar kembali, aku sudah terjebak di bawah tumpukan puing-puing.
Untungnya, ada dua batang kayu besar yang menahan reruntuhan di atasku, memberiku sedikit ruang untuk bertahan hidup.
Di dalam kegelapan, aku banyak berpikir.
Yang paling sering aku pikirkan adalah ayah dan ibuku. Syukurlah mereka tidak ikut bersamaku ke Kota Andalus.
Namun, pasti sekarang mereka sangat cemas. Ini semua salahku.
Di dalam gelap, waktu seolah berhenti.
Aku pikir aku akan mati begitu saja di bawah reruntuhan ini. Tiba-tiba, sepasang tangan penuh luka-luka dengan hati-hati menarikku keluar. Dengan pandangan yang kabur, aku hanya bisa melihat wajah yang tidak asing ….