Đang tải thông tin quảng bá...
Yang Kucintai adalah Duri
Sebuah kebetulan membuat aku mengetahui rahasia suamiku. Ternyata setiap sudut rumah penuh dengan CCTV tersembunyi. Aku tidak mengungkapkan hal itu, hanya pura-pura tidak tahu. Suatu hari, aku bersem...
Chương (1)
第1章
Sebuah kebetulan membuat aku mengetahui rahasia suamiku. Ternyata setiap sudut rumah penuh dengan CCTV tersembunyi. Aku tidak mengungkapkan hal itu, hanya pura-pura tidak tahu. Suatu hari, aku bersembunyi di lemari, dia kira aku kabur dari rumah, tak disangka tindakan ini membuatku tahu kalau dia sedang melakukan hal mesra dengan kekasihnya, lalu terdengar suamiku berkata, "Lebih cepat, pengobatannya akan segera selesai."
Wanita itu malah berkata, "Tak usah takut, dia hanya orang buta."
Suamiku memarahinya, "Kamu nggak ada hak mengatainya, dia adalah istriku, kalau kamu berani kurang ajar lagi, keluar saja dari sini."
Suamiku tidak tahu kalau aku sudah sembuh, bahkan sudah seperti orang normal. Setelah aku keluar dari lemari, aku menelepon kakakku dengan sedih, "Kak, aku setuju keluar negeri."
Bab 1
Dari awal hingga akhir, semuanya berlangsung tepat dua puluh menit, tidak lebih, tidak kurang.
Sepertinya ini sudah terjadi ratusan kali, hingga waktu pun bisa dikendalikan dengan begitu tepat.
Saat Alina sedang mengenakan pakaiannya, Gavin mengulurkan tangannya yang panjang, menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
Dengan wajah malu-malu, Alina melingkarkan tangannya di leher pria itu sambil berujar, "Pak Gavin, apa kamu merindukanku lagi?"
Gavin mengambil pakaian dalam berenda di sampingnya dengan ekspresi acuh tak acuh, lalu melemparkannya ke wajah Alina.
"Kamu lupa barangmu," ujar Gavin.
"Cepatlah, Melisa akan segera kembali," lanjut Gavin.
Senyum di wajah Alina seketika membeku, lalu dia mendengus dengan enggan.
"Ya, ya, mana mungkin aku bisa dibandingkan dengan Nona Melisa?" kata Alina.
"Hanya saja, kasihan sekali anak di dalam perutku ini. Belum lahir pun dia sudah ditakdirkan untuk lebih rendah dari orang lain .…"
Begitu kata "anak" terucap dari mulut Alina, senyum simpul muncul di wajah Gavin.
"Anak? Apa kamu hamil?" tanya pria itu.
Gavin mencium wajah Alina berulang kali, memeluknya erat, lalu berputar-putar dengan penuh kegembiraan.
Namun, kemudian dia seakan teringat sesuatu, buru-buru membantu Alina duduk, lalu dengan hati-hati menyentuh perutnya.
Alina yang melihat betapa gugupnya pria itu, tampak tersenyum sambil bersandar di dadanya.
"Sudah dua tahun. Bahkan pohon besi yang berusia seribu tahun pun seharusnya sudah berbunga," ujar Alina.
Dua tahun, ya ….
Kecelakaan mobil yang membuat penglihatanku terganggu juga terjadi dua tahun yang lalu.
Setelah kejadian itu, saat aku membuka mata lagi, semuanya sudah menjadi kabur.
Aku hanya bisa melihat bayangan samar-samar.
Gavin memeluk Alina dengan senyuman di matanya. Pandangannya tak pernah lepas dari perut Alina.
Gavin berkata, "Bagaimanapun juga, Melisa adalah istriku. Meski dia buta, aku nggak bisa bersikap keterlaluan."
"Tapi kamu .… Kamu juga adalah kekasihku. Bagaimana mungkin kamu lebih rendah dari orang lain?"
Ketika mendengar hal itu, Alina merajuk, meninju dada Gavin dengan lembut.
"Kamu hanya pandai membujukku dengan kata-kata manis. Kekasih atau bukan, aku nggak peduli," balas Alina.
"Katamu aku nggak lebih rendah dari orang lain, tapi anakku tetap saja hanya seorang anak haram yang nggak bisa terlihat di depan umum!"
Gavin terdiam sejenak karena ucapannya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya membuka mulut dengan ragu-ragu.
"Nggak akan. Anakku sudah pasti akan menjadi orang yang terhormat."
"Saat dia lahir nanti, aku akan meminta Melisa untuk mengadopsinya."
"Dengan begitu, kita sekeluarga bisa hidup bahagia bersama. Dia juga bisa mewarisi bisnis keluarga sebagai anakku yang sah."
Setelah mendengar janji itu, akhirnya ada senyuman di wajah Alina.
Ketika mendengar semuanya, aku hanya merasakan hawa dingin yang menjalar hingga ke tulang, membuat kedua kakiku gemetaran tak terkendali.
Pria yang paling aku percaya, ternyata diam-diam merencanakan semuanya agar aku harus hidup dengan aib sebesar ini.
"Bagus sekali, Gavin. Kamu memang luar biasa," batinku.
Begitu suara pintu tertutup terdengar, aku akhirnya menggigit bibir, berjalan keluar dari dalam lemari.
Saat Gavin mengantar Alina pergi dan kembali ke ruang tamu, dia langsung melihatku duduk di sana.
Ekspresi panik melintas di wajahnya. Dia berujar dengan suara tergagap, "Melisa, sejak … sejak kapan kamu kembali?"
"Aku nggak pergi ke mana-mana hari ini," balasku.
Ketika mendengar itu, hati Gavin langsung berdetak kencang.
"Kalau begitu … apa kamu mendengar sesuatu?"
Sambil bertanya, Gavin bahkan melambaikan tangannya di depan mataku.
Aku berpura-pura tidak tahu, tetap tenang, lalu menggelengkan kepala.
"Nggak. Ada apa memangnya?" tanyaku.
Melihat mataku yang tidak berbeda dari sebelumnya, ketegangan di wajah Gavin akhirnya mengendur.
Pria itu duduk di sampingku, menggenggam tanganku, lalu berkata dengan penuh kasih sayang.
"Nggak apa-apa. Barusan ada pekerja yang datang memperbaiki sesuatu. Aku takut mengganggumu."
"Melisa, aku benar-benar mencintaimu."
Setelah itu, Gavin bertindak seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Dia merebuskan obat untukku, menyuapiku makan, serta memastikan setiap suapan sudah tidak panas sebelum dimasukkan ke mulutku.
Ketika melihat betapa perhatiannya pria ini, sesaat aku merasa ragu.
Mungkin semua yang terjadi hari ini hanyalah mimpi. Mungkin ini tidak nyata.
Namun, pada detik berikutnya, kata-kata Gavin menarikku kembali ke kenyataan.
"Melisa, bagaimana kalau kita mengadopsi seorang anak?"
Wajahku perlahan memucat, membuat Gavin buru-buru mengganti topik.
"Kalau kamu nggak suka, kita lupakan saja untuk sekarang."
"Maaf, aku sudah terlalu gegabah. Jangan marah, ya .…"
Maksud melupakan topik ini hanyalah penundaan sementara. Namun, anak di perut Alina tidak bisa menunggu.
Masalah adopsi ini sudah dipastikan akan terjadi.
Bab 2
Keesokan harinya, saat langit baru saja mulai terang, Gavin sudah pergi.
Aku tidak terlalu peduli, hanya mulai mempersiapkan keberangkatanku ke luar negeri.
"Melisa, kapan kamu akan datang?"
Suara kakakku menenangkan kegelisahan di hatiku.
"Seminggu lagi," jawabku dengan nada tenang, tetapi penuh keteguhan.
Setelah berbasa-basi beberapa saat, aku pun menutup telepon.
Namun, saat aku berbalik, tiba-tiba aku melihat Gavin sudah berdiri di ambang pintu entah sejak kapan.
Jantungku berdetak kencang, tetapi aku berpura-pura tidak melihatnya, langsung duduk dengan tenang.
Suara berat Gavin terdengar, "Melisa?"
Aku mengulurkan tangan, seolah-olah sedang meraba-raba sambil berkata, "Gavin? Kamu sudah pulang?"
Pria itu hanya menjawab dengan gumaman singkat. Dia mengambil ponselku untuk melihat daftar kontaknya.
Begitu melihat nama yang ada di layar, keningnya tampak makin berkerut.
"Apa kamu menghubungi kakakmu?" tanya Gavin.
Dulu saat kakakku meninggalkan Kota Janitra untuk pergi ke Negara Maltra, dia ingin membawaku bersamanya untuk menjalani pengobatan di luar negeri.
Namun, Gavin tidak mengizinkan. Setelah memohon berkali-kali, aku akhirnya memilih untuk tetap tinggal.
Karena itulah, Gavin sangat tidak suka jika aku berhubungan dengan kakakku.
Aku berusaha tetap tenang sambil menjawab, "Ya, Kakak hanya menelepon untuk menanyakan keadaanku. Aku meyakinkannya kalau aku baik-baik saja."
Gavin tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dalam ucapanku, jadi dia tidak bertanya lebih jauh.
Kemudian, dia menoleh ke arah pintu sembari berteriak, "Masuklah."
Setelah mengatakan ini, Alina masuk dengan wajah penuh ejekan.
"Melisa, ini pelayan yang aku pekerjakan untukmu," ujar Gavin.
"Saat aku nggak ada di rumah, dia yang akan mengurus kebutuhan sehari-harimu," lanjut pria itu.
Sebelumnya, kami sudah memiliki seorang pelayan bernama Selly.
Namun, dua hari lalu, Gavin memecatnya dengan alasan masakannya tidak sesuai selera.
Setelah dua tahun memakan masakan Selly, tiba-tiba saja rasanya tidak cocok lagi untuk Gavin.
Saat itu, aku merasa ada aneh. Namun, aku tidak terlalu mempermasalahkannya.
Sekarang aku mengerti. Semua ini hanya untuk memberi jalan bagi Alina.
Sambil berbicara, Gavin memberi Alina isyarat dengan matanya.
"Bu, kamu jangan khawatir. Aku paling ahli merawat orang bu … tunanetra."
Hinaan tanpa sadarnya langsung terhenti saat Gavin menatapnya dengan tatapan tajam. Alina pun buru-buru meralat kata-katanya.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu membalas, "Terserah kamu saja."
"Aku agak mengantuk .…"
Belum selesai aku bicara, Gavin langsung menyetujuinya, lalu membawa Alina pergi.
Aku melihat dengan jelas bagaimana Alina sengaja menggenggam tangan Gavin dengan penuh provokasi.
Namun, Gavin hanya melirikku sekilas, tersenyum sambil merangkul pinggang wanita itu, lalu pergi.
Aku berbaring di tempat tidur, mengingat kejadian barusan, merasakan sakit yang menusuk di dada.
Tanpa sadar, aku pun tertidur dalam keadaan linglung.
Saat terbangun, aku berjalan perlahan di lorong dengan langkah ringan.
Di sana, aku melihat Alina mengenakan seragam pelayan, berlutut di lantai dengan punggung membungkuk serta pantat menonjol, sedang mengelap lantai di sisi kaki Gavin.
Gavin duduk di sofa dengan dokumen di tangannya. Namun, di atas kertas itu hanya ada deretan karakter acak. Pandangan Gavin sebenarnya tidak tertuju pada dokumen, melainkan terus mengarah ke dada Alina. Aku bahkan bisa mendengar pria itu menelan ludah.
Pemandangan seperti ini hampir terjadi setiap hari.
Begitu Gavin pergi ke kantor, Alina baru akan menunjukkan sikap aslinya.
Dia dengan sengaja menaruh meja dan kursi di jalur yang biasa aku lewati, membuatku tersandung hingga terjatuh.
Hanya setelah mendengar suara kesakitanku, dia berjalan mendekat dengan santai, berpura-pura meminta maaf sambil mengejek.
"Ah, aku lupa kalau kamu buta," ujar Alina.
Ketika melihat penghinaan di matanya, aku mengepalkan tanganku erat-erat.
Sekarang belum saatnya.
Namun, saat Gavin kembali, wanita ini akan berperan sebagai orang yang penuh perhatian. Dia akan membawakan teh, menyuapiku makan, serta melayaniku dengan sempurna.
Mungkin karena merasa kurang puas dengan permainannya, Alina bertindak makin keterlaluan.
Saat Gavin membimbingku ke kamar, aku melihat Alina berbaring di tempat tidurku dengan mengenakan gaun tidur sutra milikku.
Gaun pendek itu hampir tidak menutupi tubuhnya. Aku bahkan bisa mendengar suara Gavin menelan ludah.
Gavin berdeham dua kali, buru-buru menarikku ke kamar mandi, lalu berkata, "Tempat tidurnya agak berantakan, aku akan merapikannya."
"Kamu cuci muka dulu saja."
Pria itu dengan tergesa-gesa menutup pintu kamar, tampak begitu gugup hingga lupa bahwa aku hanya setengah buta.
Suara bentakan pelan dari luar pintu terdengar jelas di telingaku.
"Apa kamu sudah gila? Ini adalah kamar tidurku dan Melisa!"
Alina mendorong Gavin dengan lembut, lalu duduk di atas tubuhnya sambil bermanja.
"Anakku bilang, dia merindukanmu," ucap Alina.
Aku tersenyum dingin, lalu mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka. Dua orang di atas tempat tidur itu langsung gemetar ketakutan.
"Sayang? Ada apa?" tanyaku.
"Aku sepertinya mendengar suara pelayan itu."
Gavin segera bangkit berdiri, membuat Alina kehilangan keseimbangan hingga terjatuh ke samping.
"Nggak … nggak ada apa-apa."
"Pelayan itu sedang bersih-bersih …."
Setelah mengatakan ini, Gavin menarik Alina, langsung mendorongnya keluar dari kamar.
Semua gerak-gerik Gavin yang gugup itu tidak luput dari pandanganku.
Entah kenapa, hatiku terasa sedikit nyeri.
Awalnya, aku mengira bisa seperti di drama, dengan elegan mengungkap wajah mereka yang penuh kepalsuan.
Namun, kenyataannya yang keluar dari bibirku hanya sebuah gumaman pelan.
Bab 3
Aku masih ingat, terakhir kali Gavin menunjukkan ekspresi panik seperti itu adalah pada hari pernikahan kami.
Saat itu, cintanya begitu menggebu-gebu, penuh gairah yang membara. Janji yang dia ucapkan terdengar begitu lantang serta penuh keyakinan.
Bahkan ketika aku mengalami kecelakaan dan kehilangan penglihatanku, dia tetap berada di sisiku, merawatku dengan penuh perhatian.
Aku pikir, kami akan selalu saling mencintai.
Namun, mimpi indah pada akhirnya akan hancur.
Beberapa saat kemudian, Gavin tampak ragu-ragu sebelum akhirnya berbicara.
"Melisa, bagaimana kalau tahun ini kita merayakan hari ulang pernikahan kita?"
Baiklah, aku akan menggunakan pesta ini untuk mengakhiri pernikahan ini.
Melihatku mengangguk, senyuman tulus akhirnya muncul di wajah Gavin.
Beberapa hari berikutnya berlalu dengan tenang, seolah-olah semuanya kembali seperti sedia kala.
Gavin sibuk keluar pagi dan pulang larut untuk mempersiapkan perayaan ulang tahun pernikahan kami.
Dia memesan aula pesta di lantai tertinggi, bahkan memastikan semua bahan makanan diimpor pada hari yang sama.
Namun, tidak semua orang merasa senang.
Sejak Gavin mulai merencanakan pesta ulang tahun pernikahan kami, wajah Alina tidak lagi menampilkan senyuman.
Hari perayaan pun tiba dengan cepat.
Para sosialita dan orang-orang berpengaruh di Kota Janitra berkumpul di sana.
Di layar besar, foto-foto kami berdua ditampilkan satu per satu, dengan tulisan di atasnya.
"Sayang, aku mencintaimu. Semoga kita selalu bersama."
Gavin berbincang dengan para tamu, sementara aku berdiri sendirian di sudut ruangan.
Beberapa wanita dari keluarga kaya mendekatiku, mengajakku berbasa-basi.
"Bu Melisa, kamu benar-benar wanita yang beruntung."
"Benar! Pak Gavin mencintaimu sepenuh hati. Bahkan perayaan ini dia rancang sendiri hanya untuk membuatmu bahagia."
Aku hanya tersenyum sopan sebagai tanggapan, tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Mungkin karena merasa percakapan ini makin membosankan, mereka segera menjauh, mulai berbisik-bisik di antara mereka sendiri.
"Cih, cinta sejati apanya? Mau pura-pura apa lagi?"
"Dia hanya orang buta. Nggak heran kalau dipermainkan seperti monyet."
"Dia sungguh pandai menyanjung diri sendiri. Memangnya dia pikir pesta ini benar-benar dibuat Pak Gavin untuknya?"
Setiap kata mereka langsung menusuk telingaku.
Aku mengira diriku akan merasa sesak serta sangat kesal, tetapi kenyataannya hatiku justru terasa begitu tenang.
"Pak Gavin telah menyiapkan pertunjukan kembang api!"
Begitu kembang api mulai dinyalakan, semua orang bergegas menuju balkon.
Awalnya aku berdiri di sudut ruangan, tetapi karena desakan orang-orang, aku malah terdorong ke dekat panggung.
Di tengah kerumunan, tubuhku kehilangan keseimbangan hingga terjatuh ke lantai.
Punggungku terbentur keras pada peralatan di belakangku, membuatku tak bisa menahan diri untuk berteriak kesakitan.
Tiba-tiba, gambar di layar berubah. Tulisan di atasnya juga ikut berganti.
Yang awalnya adalah foto-foto mesraku dengan Gavin mendadak lenyap, digantikan dengan potret pribadi Alina.
Di atasnya tertulis, "Sayang, selamat datang di dunia ini."
Heh .… Sekarang semuanya masuk akal.
Sejak awal, pesta ini memang bukan untukku.
Kalau memang pesta ini untukku, mengapa repot-repot menyiapkan pertunjukan kembang api untuk seseorang yang setengah buta?
Tentu saja, kembang api ini memang ditujukan untuk orang yang bisa melihatnya dengan jelas.
Meskipun mataku sudah pulih, kerumunan di sekitar terlalu padat.
Tak peduli seberapa keras aku mencoba, aku tetap tak bisa bangkit. Aku hanya bisa pasrah saat mereka terus menginjak tubuhku.
Saat aku berusaha mengangkat kepala di tengah kesakitan .…
Aku melihat Alina bersandar manja di bahu Gavin, dengan wajah yang penuh kebahagiaan.
Di langit, kembang api bermekaran dengan megah, meninggalkan jejak warna-warni yang memudar perlahan.
"Sayang, aku mencintaimu."
Seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram hatiku dengan erat.
Aku tidak tahu apakah yang lebih menyakitkan adalah luka di tubuhku atau luka di hatiku.
Aku tidak bisa lagi menahan diri, akhirnya jatuh pingsan.
Saat aku tersadar kembali, aroma disinfektan memenuhi hidungku.
Pandanganku awalnya tampak samar, lalu perlahan menjadi lebih jelas. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku, membuatku tanpa sadar menarik napas dalam-dalam.
Namun, yang paling membuatku takut adalah percakapan yang terdengar dari lorong.
"Pak Gavin, gumpalan darah di otak Bu Melisa mulai menunjukkan tanda-tanda menghilang. Ada kemungkinan besar penglihatannya akan pulih."
Alih-alih mendengar suara penuh kegembiraan, justru bentakan penuh amarah yang terdengar.
"Apa kamu bercanda?"
"Bagaimana dengan janjimu dulu? Aku sudah mengikuti semua perintahmu. Aku memberinya obat penambah darah setiap hari agar gumpalan darah di otaknya makin besar, demi menekan saraf optiknya hingga membuatnya buta selamanya .…"
Bab 4
Suara itu tiba-tiba terhenti. Kemudian, pintu kamar dibuka dengan kasar.
Aku terkejut hingga napasku tercekat. Kemudian, aku memejamkan mata dengan cepat, mendengar langkah kaki mendekat, lalu menjauh lagi.
Saat pintu tertutup kembali, suara Gavin terdengar sedikit lebih pelan.
"Aku memasang kamera pengawas di rumah hanya untuk mengawasi setiap gerak-geriknya, memastikan dia nggak tiba-tiba sembuh, lalu mengganggu anak yang dikandung Alina!"
"Sekarang kamu memberitahuku kalau dia akan sembuh?"
"Aku nggak peduli cara apa yang kamu gunakan, tapi Melisa harus tetap buta!"
Gavin menarik kerah dokter itu dengan kasar. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat hatiku makin membeku.
Aku selalu berpikir bahwa semua ini terjadi karena nasibku yang buruk.
Aku bahkan percaya bahwa Gavin sudah berusaha keras mencarikan pengobatan untukku. Setiap kali mendengar ada dokter terkenal, dia akan langsung memesan tiket untuk berangkat ke sana.
Aku selalu merasa bersalah, berpikir bahwa aku telah menyia-nyiakan waktunya.
Itulah sebabnya, setiap kali Gavin menyodorkan obat, aku meminumnya tanpa ragu. Bahkan tidak menyisakan ampasnya sedikit pun. Namun, tetap tidak ada perubahan apa pun.
Lambat laun, rasa pahit obat membuatku makin sulit untuk menelannya.
Setiap kali Gavin membawakan obat, aku berpura-pura meminumnya. Padahal sebenarnya aku membuangnya ke toilet.
Siapa sangka, penglihatanku justru makin membaik.
Suara pertengkaran di luar terdengar makin menjauh, disusul dengan langkah-langkah kaki yang tergesa-gesa.
"Direktur meminta kita untuk melakukan pemeriksaan ulang pada Bu Melisa."
"Ayo cepat. Aku dengar Pak Gavin juga ada di sana."
…
Aku langsung membuka mata, buru-buru mengganti pakaian.
Untuk menghindari kecurigaan, aku mengambil masker dari meja perawat, lalu segera mengenakannya.
Pada saat itulah, sosok yang sangat aku kenal muncul di hadapanku.
Itu adalah Gavin.
Di belakangnya, Alina mengikuti dengan langkah kecil.
Wajah Gavin tampak penuh dengan kegelisahan saat matanya menyapu setiap sudut, seolah-olah tengah mencari seseorang. Setiap kali dia melihat seseorang dengan baju pasien, dia akan menarik mereka, lalu melepaskannya dengan kesal saat tahu bahwa orang itu bukan aku.
Alina mengatakan sesuatu, tetapi ekspresi Gavin justru tampak makin murka. Tanpa diduga, pria itu mendorongnya hingga jatuh ke lantai.
Ketika Gavin menoleh, pandangan kami bertemu.
Mata hitamnya tampak begitu tajam serta mengancam, membuat jantungku berdetak kencang.
Namun, hanya dalam sekejap, pria itu mengalihkan pandangannya.
Aku menundukkan kepala, berjalan cepat menuju mobil, lalu mendesak sopir untuk segera melaju pergi.
Baru ketika gedung rumah sakit tampak makin menjauh, aku bisa menghela napas lega.
Aku menatap jalanan yang penuh dengan jejak masa lalu, jejak yang pernah dipenuhi cinta Gavin padaku.
Aku berkata dengan suara acuh tak acuh, "Ke bandara."
Pada saat itulah ponselku bergetar. Di layar, ada nama Gavin terpampang jelas.
Aku mengeluarkan ponsel baru yang telah aku siapkan, lalu memasukkan kartu SIM ke dalamnya.
Sedangkan ponsel lama itu, aku melemparnya keluar jendela, membiarkannya hancur di bawah roda mobil.
Aku sudah lama tahu tentang trik kecil Gavin.
Pria itu memasang pelacak di ponselku, agar bisa mengetahui keberadaanku setiap saat.
Namun, sekarang dia tak akan bisa menemukanku lagi.
Aku memesan penerbangan paling awal. Meskipun harus transit berkali-kali, aku tetap tak ingin tinggal di kota ini sedetik pun lebih lama.
Baru ketika menghirup udara segar di negeri asing, aku benar-benar merasa seperti terlahir kembali.
Namun, Gavin bergerak lebih cepat dari dugaanku.
Begitu aku turun dari pesawat, ratusan pesan masuk bertubi-tubi.
Semuanya berasal dari nomor yang sangat aku kenal.
Sebelum sempat aku membacanya, ponselku kembali berdering.
Aku ragu-ragu beberapa detik, tetapi akhirnya menekan tombol jawab.
"Melisa! Apa kamu sudah gila?"
"Bisakah kamu berhenti bersikap kekanak-kanakan? Bahkan ponsel pun kamu hancurkan. Memangnya perlu sampai seperti itu?"
"Di mana kamu? Aku akan menjemputmu."
Tak ada nada marah yang berlebihan dari ucapannya, tetapi aku tahu bahwa Gavin sedang murka.
Gavin terus berbicara tanpa henti, hingga akhirnya menyadari bahwa dari tadi aku hanya diam. Suaranya pun mulai terdengar ragu.
"Melisa … maafkan aku."
"Aku nggak menjaga dirimu dengan baik, ini semua salahku. Aku nggak seharusnya menyalahkanmu."
"Bisakah kamu memberitahuku lokasimu? Aku akan segera menemuimu. Bukankah kamu ingin makan iga asam manis? Alina sudah menyiapkannya untukmu .…"
Ketika mendengar nama Alina, aku akhirnya membuka mulut, suaraku tanpa emosi.
"Gavin, kamu nggak akan bisa menemukanku."