Cinta Rumit Tiga Sekawan

Đang tải thông tin quảng bá...

Cinta Rumit Tiga Sekawan

GoodNovel Hoàn thành

"Wenny, sejak kamu kecil, keluarga kita sudah menjodohkanmu. Sekarang kan penyakitmu sudah hampir sembuh, apakah kamu mau pulang ke Kota Jintara dan menikah? Kalau kamu tetap nggak mau, aku akan bicar...

Chương (1)

第1章

"Wenny, sejak kamu kecil, keluarga kita sudah menjodohkanmu. Sekarang kan penyakitmu sudah hampir sembuh, apakah kamu mau pulang ke Kota Jintara dan menikah? Kalau kamu tetap nggak mau, aku akan bicara lagi sama ayahmu untuk membatalkan perjodohan ini." Di dalam kamar yang remang-remang, Wenny Sanjaya hanya bisa mendengar keheningan. Saat orang di ujung telepon hampir menyerah untuk membujuknya lagi, tiba-tiba dia berkata, "Aku mau pulang untuk menikah." Bu Maya Sanjaya tertegun di seberang telepon, seperti tidak menyangka, "Kamu ... kamu setuju?" "Wenny menjawab dengan tenang, "Ya, aku setuju. Tapi, aku masih butuh waktu untuk menyelesaikan urusanku di Kota Hanis. Aku akan kembali dalam dua minggu. Ibu, kalian siapkan saja dulu pernikahannya." Setelah mengucapkan beberapa pesan tambahan, dia menutup telepon. Bab 1 Begitu telepon terputus, terdengar suara musik keras dari lantai bawah, dan samar-samar terdengar juga suara orang yang sedang menyanyikan lagu ulang tahun. Itu adalah pesta ulang tahun yang diadakan oleh Yoga dan Sandro untuk Hana. Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari luar. Entah sejak kapan, Hana sudah berjalan masuk sembari tersenyum dan membawa sepotong kue black forest. "Matanya yang indah berkedip beberapa kali, wajahnya yang cantik dihiasi riasan yang halus, tetapi ada sedikit noda krim yang agak mencolok. Dia pun berkata, "Kak Wenny, ayo turun dan main denganku?" "Wenny yang bisa melihat jelas ada topeng di balik wajahnya, berkata dengan suara dingin, "Masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan, jadi aku nggak bisa ikut. Selamat bersenang-senang." Seketika, mata Hana penuh dengan air mata. "Kak Wenny, apa kamu nggak suka padaku, makanya kamu menolak?" Wenny refleks mengerutkan dahinya. Dia tidak melakukan apa-apa, tetapi kenapa malah kelihatannya seperti dia yang menyakiti Hana? Dalam hati, dia tersenyum sinis, tidak ada niat untuk terus mendengarkan omong kosongnya. "Simpan saja pertunjukan ini untuk Yoga dan Sandro, nggak ada gunanya untukku." Begitu selesai berbicara, dia langsung ingin menutup pintu. "Kak Wenny, jangan ...." Tiba-tiba Hana mengulurkan satu tangannya untuk menahan pintu. Akibatnya, seluruh tangannya terjepit dengan keras pada saat pintu tertutup. Seketika muncul bercak kebiruan pada punggung tangannya yang putih. "Sss …." Yoga dan Sandro kebetulan naik ke lantai atas, dan mereka langsung melihat kejadian ini. Kedua pria itu hampir bersamaan berlari mendekat, satu di antaranya memeluk Hana dengan penuh kasih, dan memeriksa tangannya dengan hati-hati. Melihat luka di punggung tangan Hana, Sandro ikut merasa cemas hingga matanya mulai merah. Dengan kepribadiannya yang agak kasar, Sandro langsung menyalahkan Wenny. "Kalau kamu nggak suka Hana, ya sudah. Kenapa harus melakukan hal rendahan begini? Wenny, sejak kapan kamu berubah jadi begini?" Yoga yang biasanya dingin, saat itu menatap Wenny dengan mata yang juga penuh kekecewaan. "Wenny, hari ini ulang tahun Hana, nggak seharusnya kamu bersikap berlebihan." Namun, ketika dia menundukkan kepala melihat Hana, nada suaranya langsung berubah. "Hana, masih sakit nggak? Biar aku antar kamu mengambil obat." Melihat Yoga menggandeng tangan Hana sambil pergi, Sandro juga mengejar Hana dan buru-buru ikut menghiburnya, "Hana, jangan sedih, mobil sport baruku akan aku berikan padamu. Setelah pesta selesai, aku akan bawa kamu jalan-jalan, biar suasana hatimu jadi lebih baik!" Dikelilingi oleh dua pria yang memanjakannya, akhirnya Hana berhenti menangis, hanya suaranya masih sedikit tersendat. "Terima kasih, Yoga." Setelah mengucapkan terima kasih kepada Yoga, dia kembali menatap Sandro. Dengan mata berkaca-kaca, dia memohon, "Sandro, jangan pergi balapan, itu sangat berbahaya, aku akan khawatir." Melihat Hana berhenti menangis dan tersenyum, Sandro segera menjawab, "Baik, baik, Nona Besar, asalkan kamu senang, apa pun yang kamu bilang aku turuti!" Melihat mereka menuruni tangga, Wenny berdiri di depan pintu, sejenak merasa seolah-olah dia berada dalam mimpi. Dia masih ingat dulu, orang yang berdiri di antara Yoga dan Sandro adalah dirinya. Sejak kecil tubuhnya lemah dan sering sakit-sakitan, juga menderita asma. Sayang sekali, Kota Jintara yang lembap dan sering hujan tidak cocok untuk kesehatannya. Pada usia lima tahun, orang tuanya mengirimnya dari Kota Jintara ke kota pesisir yang selalu cerah, Kota Hanis, untuk dirawat di rumah tantenya yang bekerja sebagai dokter. Di sanalah Wenny mengenal Yoga dan Sandro yang tinggal di sebelah rumah tantenya. Mereka bertiga tumbuh bersama, menjadi sahabat masa kecil. Begitu melihatnya pertama kali, kedua anak laki-laki itu langsung terpesona. Setiap hari mereka selalu ada di dekatnya, menjadi kesatria yang melindunginya. Dulu, mereka mengantarnya pergi dan pulang sekolah setiap hari, membelikannya sarapan, membawakan susu, merobek semua surat cinta yang diterimanya, dan melarang pria mana pun mendekatinya. Setelah dewasa, salah satu dari mereka menjadi CEO dari bisnis keluarga yang diwarisinya, sementara yang lainnya menjadi pembalap internasional terkenal. Meskipun keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka sama-sama membeli rumah di kedua sisi rumah Wenny. Mereka menghubungkan rumah-rumah itu lalu tinggal bersamanya, memasak untuknya setiap hari. Bahkan ketika Wenny sudah makin pulih dari penyakitnya dan keluarganya mendesaknya untuk kembali ke Kota Jintara, dengan mata berkaca-kaca, mereka memohon agar dia tidak pergi. Jika tidak, mereka juga akan meninggalkan segalanya di kota ini dan ikut pergi bersamanya. Mereka selalu berkata, di mana pun Wenny berada, mereka akan ikut. Karena mereka berdualah, Wenny menunda kepulangannya ke Kota Jintara meskipun kondisi kesehatannya sudah stabil. Namun, sejak kehadiran Hana Susilo, segalanya berubah. Hana adalah anak magang di bawah bimbingan Wenny. Hari pertama Hana mulai bekerja, dia merasa canggung dan tidak mau bergabung dengan teman-teman lain untuk makan siang. Itu berlangsung setiap hari, sampai Wenny bertemu dengannya saat dia sedang mengunyah roti kukus dan acar sayuran, sendirian di salah satu sudut kantor. Setelah ditanya, barulah dia tahu bahwa Hana berasal dari desa terpencil dan berhasil lulus ujian untuk masuk ke kota besar. Kondisi keluarganya sangat terbatas, sehingga dia mencoba menghemat sebanyak mungkin. Sebagai putri sulung Keluarga Sanjaya, Wenny tumbuh dalam lingkungan yang serba mewah. Setelah mendengar cerita itu, dia merasa kasihan dan dengan kebaikan hatinya, dia pun selalu berusaha menjaga dan merawat gadis itu. Kadang-kadang saat makan dengan Yoga dan Sandro, dia juga mengajak Hana ikut. Karena itulah, Hana bisa mengenal Yoga dan Sandro. Yoga yang biasanya tenang, tidak menyukai pesta yang ramai seperti ini, sekarang melanggar prinsipnya untuk Hana. Begitu juga Sandro. Satu kalimat sederhana dari Hana, cukup untuk membuat Sandro yang sangat mencintai balap mobil dan tidak mudah dipengaruhi itu menyerah. Hal seperti ini sudah berulang kali terjadi dalam sebulan terakhir. Dulu, mereka tidak pernah menyembunyikan perasaan mereka terhadap Wenny, dan sering kali mereka membuat suasana tegang dengan memaksa Wenny untuk memilih salah satu di antara mereka. Wenny memang pernah merasa tertarik pada mereka dan berpikir untuk memilih salah satu dari mereka. Namun, sekarang dia menerima perjodohan yang sudah diatur oleh keluarganya sepertinya tidak buruk juga. Wenny tersenyum tipis dan mengatur hitung mundur keberangkatannya di ponselnya. Mulai sekarang, dia tidak akan mengganggu mereka bertiga lagi. Bab 2 Wenny menutup pintu, lalu memakai earphone. Dia tidak ingin mendengar keramaian di luar. Karena sudah memutuskan untuk pulang dan menikah, maka pekerjaannya di sini harus dia tinggalkan. Namun, dia tetap ingin menyelesaikan tugas-tugasnya dahulu agar tidak merepotkan orang lain. Dia duduk di depan jendela besar, menyelesaikan pekerjaannya sendirian. Matahari di luar mulai tenggelam, langit pun perlahan menjadi gelap. Wenny melepas earphone-nya, bangkit dan meregangkan tubuh. Setelah sekian lama, akhirnya pekerjaannya selesai. Suasana di lantai bawah kini benar-benar sudah hening. Secara refleks dia membuka ponselnya untuk bersantai sejenak. Saat itu, muncullah pesan dari Hana. Wenny pun langsung membukanya. [Kenapa kamu nggak kasih 'like' di postinganku?] Baru satu menit pesan itu dikirim, pesan lainnya masuk. [Maaf ya, Kak Wenny, aku salah kirim, jangan marah ya?] Wenny membuka akun media sosial Hana, ingin melihat apa yang dia posting. Yang terlihat di depan mata adalah kolase foto dalam format sembilan kotak. Semua foto itu menampilkan hadiah-hadiah dari Yoga dan Sandro. Sebuah gaun putri berwarna merah muda yang sangat mewah terbentang, seperti hamparan awan merah muda. Untuk melengkapi gaun itu, Yoga juga memberikan sepasang sepatu kristal bertabur berlian. Kilauan berlian itu memantulkan cahaya yang memesona, memberikan kesan mewah. Kemudian, mobil sport merah di foto itu, jelas-jelas adalah hadiah dari Sandro. Di foto bagian tengah, Hana berdiri di antara Yoga dan Sandro, kedua tangannya memeluk kedua pria tersebut sambil tersenyum manis. Keterangan fotonya: [Yay, hari ini aku juga jadi seorang putri.] Wenny tahu bahwa Hana sengaja mengunggah ini untuk memancing kemarahannya. Dulu, dia mungkin benar-benar kesal melihat tingkah Hana yang penuh manipulasi ini. Dia juga tidak tahan melihat Yoga dan Sandro memberikan perhatian khusus yang seharusnya hanya untuknya, kepada Hana yang baru mereka kenal sebulan. Namun, sekarang dia sudah akan pergi, jadi tidak ada lagi yang perlu dia pedulikan. Kemudian, dia menyentuh layar ponsel dengan ujung jarinya, ikon hati merah langsung menyala. Mulai sekarang, hubungannya dengan Yoga dan Sandro hanya sebatas teman biasa saja. Pilihan sulit itu kini akan menjadi beban Hana. Keesokan harinya, Wenny mengajukan surat pengunduran diri ke kantor. Setelah pulang ke rumah, dia mengumpulkan semua foto mereka bertiga bersama. Mereka sudah saling mengenal selama lebih dari dua puluh tahun. Jumlah foto bersama mereka tidak terhitung banyaknya, sampai memenuhi lebih dari sepuluh album tebal. Saat dia membuka album itu, ada foto masa kecil di mana Yoga dan Sandro menemaninya bermain rumah-rumahan. Ada juga foto saat mereka bertiga memenangkan penghargaan di masa SMP. Termasuk foto perjalanan mereka bertiga saat kuliah …. Wenny melihat satu per satu foto itu. Semua kenangan itu terasa begitu nyata dalam pikirannya. Namun, sekarang semua itu tidak lagi penting. Satu per satu foto itu dia bakar, lalu dibuang ke tong sampah, membentuk tumpukan api kecil. Lidah api terus melahap gambar di foto itu, sampai hanya abu yang tersisa. Yoga dan Sandro tiba hampir bersamaan, dan kebetulan melihat hal ini. Setelah melihat dengan jelas apa yang dia lakukan, Yoga segera berjalan mendekat, suaranya sedikit bergetar, "Apa yang kamu lakukan!" Wenny meliriknya sekilas dan menjawab dengan tenang, "Aku nggak melakukan apa-apa. Foto-foto ini sudah berjamur, jadi aku bakar saja." Refleks, Sandro mencoba merebut foto yang tersisa di tangan Wenny, tetapi tidak disangka Wenny malah sengaja menggoyangkan tangannya, menjatuhkan semua foto yang tersisa ke dalam api yang menyala. Api dengan cepat menyebar, sama sekali tidak memberi mereka kesempatan untuk menyelamatkan apa pun. Sandro masih mencoba meraih foto yang belum habis terbakar, tetapi suhu yang panas membuatnya menarik kembali tangannya. "Meski sudah berjamur, nggak perlu dibakar! Semua ini punya kenangan!" Dia berbicara dengan penuh kesedihan, matanya sudah berkaca-kaca. Yoga juga menatap api dengan rasa kehilangan, tetapi tidak bisa melakukan apa pun. Mendengar itu, Wenny merasa agak lucu. Meski dia, yang hidup dan nyata, berdiri tepat di depan mereka, kedua orang itu bisa berulang kali menyakiti dirinya demi Hana. Sementara sekarang, hanya karena sekumpulan foto ini saja, mereka bisa terlihat sangat terpukul. Tiba-tiba dia penasaran. Jika mereka tahu bahwa dia telah memutuskan untuk pulang dan menikah, bagaimana reaksi mereka? Bab 3 Melihat dua pria di depannya yang terlihat tegang, Wenny berkata dengan tenang, "Ini hanya foto saja, bisa difoto lagi nanti." "Karena sudah habis terbakar, nanti kita foto ulang saja. Kebetulan kita sudah lama nggak pergi liburan." Yoga mencoba menenangkan situasi dan Sandro segera menambahkan, "Kali ini kita juga bisa ajak Hana. Dia sering bilang kalau dia belum pernah pergi liburan sebelumnya." Mendengar kata-kata Sandro, Wenny kembali tersenyum pahit, menertawakan dirinya sendiri. Yoga dan Sandro mengira dia setuju dengan usulan ini, dan langsung menghela napas lega. Ketika mereka hendak masuk ke dalam, mereka melihat beberapa kotak besar yang tiba-tiba ada di ruang tamu. Tadi pagi saat mereka keluar, kotak-kotak ini belum ada di sana. "Apa lagi ini?" Keduanya bertanya serempak. Wenny melirik sejenak, lalu berkata, "Oh, aku sudah mengundurkan diri, rencananya mau cari pekerjaan baru." Bukankah sebelumnya dia sangat menyukai pekerjaan ini? Pertanyaan yang sama terlintas di benak Yoga dan Sandro. Hari ini, sikap Wenny terasa sangat berbeda, dan entah kenapa, hati Yoga dan Sandro mulai gelisah. Sandro hendak bertanya lebih lanjut, tetapi dering telepon tiba-tiba memecah keheningan. Yoga menjawab telepon dan terdengar suara Hana di seberang yang panik dan kebingungan. "Yoga, di rumahku tiba-tiba mati lampu. Aku takut sekali … aku harus bagaimana?" Sandro, yang mendengarnya, langsung bereaksi cepat dan berbicara mendahului Yoga, "Hana, jangan takut. Aku akan segera ke sana." Yoga mengernyitkan dahi, wajahnya yang biasanya tenang jelas menunjukkan ketegangan. Karena begitu khawatir terhadap Hana, Yoga dan Sandro langsung mengambil kunci mobil dan buru-buru pergi. Sementara itu, Wenny tetap tenang, dan setelah mereka pergi, dia menelepon tantenya. Saat kecil, dia diasuh oleh tantenya, Reyna yang memperlakukannya dengan sangat baik, seperti anak sendiri. Sekarang, karena akan pergi, dia ingin berpamitan dengan baik. Mendengar bahwa Wenny ingin pulang untuk menikah, tantenya berbicara dengan berat hati, tetapi rasa kagetnya lebih besar. "Wenny, apa Yoga dan Sandro tahu kamu mau pulang untuk menikah?" Wenny terdiam sejenak sebelum menjawab, "Mereka nggak tahu. Tante, tolong bantu aku merahasiakan ini. Aku nggak mau ada masalah lagi." Setelah mendengar itu semua, Tante Reyna di ujung telepon terdiam sejenak. Tante menghela napas panjang. "Aduh, memang, dari kecil hingga besar kamu itu kesayangan mereka. Siapa pun bisa melihat bahwa kedua anak itu menyukai kamu. Kalian selalu bersama, aku bahkan berpikir kamu akan memilih salah satu dari mereka untuk dinikahi, sayang sekali ...." Wenny tersenyum tipis dan berkata dengan tenang, "Nggak ada yang perlu disayangkan. Kami memang nggak cocok." Mendengar itu, Tante tidak memaksa lagi, hanya berkata, "Wenny, Tante tahu kamu pada akhirnya akan pulang. Tapi, Tante nggak menyangka akan secepat ini. Tante sudah melihatmu bertumbuh sejak kecil. Sebelum kamu pergi, mampir dulu ya. Kalau kamu sudah kembali ke Kota Jintara nanti, kita nggak tahu kapan bisa bertemu lagi ...." Wenny tersenyum, suaranya terdengar sedikit manja. "Tentu saja, Tante. Aku punya beberapa hadiah untuk Tante. Aku juga sebenarnya nggak ingin berpisah dengan Tante." Setelah itu, tantenya masih terus berbicara panjang lebar sebelum akhirnya menutup telepon. Baru saja dia menutup telepon, telepon lain sudah masuk. Kali ini, dari direktur perusahaan tempat Wenny bekerja. "Wenny, karya desainmu sebelumnya memenangkan penghargaan mewakili perusahaan. Piala penghargaannya baru saja sampai. Karena kamu sudah mengundurkan diri dan belum mengambilnya, aku minta anak magang untuk mengantarnya ke rumahmu." Begitu direktur selesai bicara, bel pintu berbunyi. Wenny menutup telepon, membuka pintu, dan melihat Hana berdiri di sana sambil memegang piala penghargaan itu. Bab 4 Hana memeluk piala itu, tetapi tidak ada kebahagiaan di wajahnya atas kemenangan Wenny. Dia juga tidak menyerahkan piala tersebut. Dia malah menggigit bibirnya dan berkata dengan wajah sedih, "Kak Wenny, Direktur menyuruhku mengantarkan piala ini untukmu. Penghargaan ini sangat bergengsi, kamu hebat sekali." "Aku mau meminta sesuatu, meski terdengar agak memalukan. Aku belum pernah menerima penghargaan ini, bisakah piala ini aku pinjam beberapa hari?" Meminjam piala ini beberapa hari? Ini pertama kalinya Wenny mendengar permintaan yang begitu konyol. Dia mengernyitkan dahi, lalu tersenyum dingin seraya berkata, "Kalau sudah tahu agak memalukan, sebaiknya jangan ajukan permintaan seperti itu. Kalau kamu benar-benar mau, ikut saja kompetisi itu dan menangkan sendiri." Setelah itu, dia mengulurkan tangannya untuk mengambil pialanya dari pelukan Hana. Tidak menyangka sikap Wenny begitu dingin, wajah Hana langsung pucat, tampak seperti sangat tertekan. "Kak Wenny, kenapa kamu bicara seperti itu? Aku bukan mau mengambil milikmu, hanya menyimpannya di rumah sebagai motivasi untuk diriku sendiri, apa itu nggak boleh?" Melihat Wenny berusaha mengambilnya, Hana memeluk piala itu dengan makin erat, tidak mau melepaskannya. Di tengah perebutan itu, piala kristal tersebut jatuh ke tanah dengan suara keras dan seketika hancur berkeping-keping. Yoga dan Sandro yang saat itu kebetulan lewat dan melihat kejadian tersebut, segera berlari mendekat dan langsung melindungi Hana dalam pelukan mereka. "Hana!" Keduanya mengelilingi Hana dengan wajah penuh kecemasan, dengan hati-hati memeriksa apakah dia terluka. Yoga mengangkat rok Hana sedikit dan melihat kakinya berdarah akibat pecahan kaca. Dia meringis, menunjukkan rasa sakit dan kekhawatiran yang mendalam. "Aku akan membawamu ke rumah sakit!" Tanpa menghiraukan keberatan Hana, Yoga langsung menggendongnya dan pergi. Sementara itu, melihat pecahan kaca yang berserakan di lantai, ekspresi Sandro berubah muram. Lalu, dia bertanya dengan nada menuduh, "Wenny, kamu sudah punya segalanya. Kenapa kamu masih harus berebut barang dengan Hana?" Berebut? Mendengar kata itu, Wenny hampir tertawa karena marah. Piala ini milikku. Aku berjuang selama tiga bulan untuk meraihnya. Ini adalah penghargaanku. Dia memeluknya seperti orang paling malang dan nggak mau melepaskannya. Tapi, sekarang kamu bilang aku yang merebutnya dari dia? Dengan tubuh yang sedikit bergetar karena marah, dia menunjuk pecahan kaca di lantai dan berbicara dengan suara sedingin es. "Sekarang dia bahkan sudah menghancurkan pialanya. Aku ingin Hana minta maaf padaku." Wenny berpikir beberapa kata itu sudah cukup untuk menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Namun, tidak disangka Sandro justru tambah marah dan suaranya makin tinggi. "Aku pikir ada masalah besar, ternyata hanya sebuah piala. Mau berapa banyak pun bisa kamu dapatkan! Bagaimana mungkin itu lebih penting daripada Hana? Dia terluka karena kamu. Bukan dia yang harus minta maaf, tapi kamu yang harus minta maaf padanya!" Setelah mengatakan itu, tanpa memedulikan reaksi Wenny, Sandro segera pergi untuk merawat Hana. Melihat pecahan kaca yang berserakan di lantai, Wenny tertegun sejenak. Kata-kata Sandro terus terngiang di kepalanya. Dia benar-benar menyuruhku meminta maaf kepada Hana? Meminta korban untuk minta maaf kepada pelakunya? Sandro, kamu benar-benar hebat! batinku. Hatinya terasa sangat sakit, dan akhirnya dia menyadari bahwa kakinya sendiri juga terluka cukup parah. Dia baru menyadari ada luka yang panjang dan dalam di kakinya, bahkan lebih parah dibandingkan Hana. Wenny menggigit bibirnya sambil menahan rasa sakit, membersihkan pecahan di lantai, sebelum berbalik untuk mengobati lukanya sendiri. Malam harinya, Wenny menerima pesan dari ibunya. Bu Maya mengirimkan lebih dari sepuluh model gaun pengantin dan memintanya memilih mana yang dia suka. Wenny melihat semua model itu satu per satu sebelum menelepon ibunya. Setelah berbicara sebentar, ibunya segera menyadari nada lelah di suara Wenny dan bertanya dengan cemas apakah ada sesuatu yang terjadi. Mengingat semua hal yang dialaminya hari itu, mata Wenny terasa panas, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa, malah mengalihkan pembicaraan. "Ibu, urusanku di sini mungkin akan selesai dalam seminggu. Bagaimana persiapan pernikahannya?" Saat itu, Yoga dan Sandro baru saja pulang ke rumah. Mendengar kalimat terakhir dari Wenny, mereka berseru bersamaan. "Pernikahan? Pernikahan apa?" Bab 5 Entah sejak kapan, telepon di tangan Wenny sudah terputus. Dia menenangkan emosinya sejenak, lalu berkata, "Sahabatku akan menikah, kenapa? Apa kalian mau ikut?" Saat ini, Yoga dan Sandro makin dingin terhadapnya. Setelah dia kembali ke Kota Jintara, mereka tidak akan bertemu lagi, bahkan mungkin tidak bisa dianggap sebagai teman lagi. Jadi, tidak perlu mengatakan yang sebenarnya kepada mereka, bahwa dia akan pulang ke Kota Jintara untuk menikah. Mendengar kata-kata itu, Yoga dan Sandro langsung saling berpandangan dan merasa agak aneh. Namun, mereka tidak terlalu memikirkannya, dan hanya berkata dengan santai, "Nggak, kamu saja yang pergi, aku sibuk di kantor." Setelah itu, seolah-olah masih marah karena Wenny membuat Hana terluka, dengan wajah dingin Yoga mengambil dokumen dan masuk ke ruang kerjanya. Sandro juga memasang wajah masam dan berkata, "Hari ini Hana sampai terluka karena kamu, sebaiknya kamu minta maaf padanya. Kalau nggak, aku nggak tertarik menemani kamu ke acara pernikahan apa pun." Selesai berbicara, dia pun melangkah cepat ke kamarnya sendiri. Wenny hanya tersenyum pahit tanpa berkata apa-apa. Keesokan paginya, Wenny bangun untuk menyiapkan sarapan. Begitu keluar, dia melihat ruang tamu penuh dengan lebih dari sepuluh vas yang diisi bunga segar, mengeluarkan aroma harum yang lembut. Serbuk bunga tertiup angin, menyebar memenuhi ruangan. Wajah Wenny langsung pucat, napasnya makin memburu. Dia menderita asma dan alergi terhadap serbuk bunga! Dia berusaha keras untuk bernapas. Napasnya terdengar berat, dadanya naik turun, dan pandangannya mulai gelap. Namun, udara yang masuk ke paru-parunya makin berkurang, dan membuatnya sangat sulit bernapas. "Obat … " Dengan ingatan yang samar, Wenny melangkah terhuyung-huyung ke arah kotak obat, mencoba mengambil obat asmanya. Namun, tangannya meraba-raba tanpa tenaga, dan tanpa sengaja, dia menjatuhkan beberapa vas bunga di atas lemari. Prang … Vas itu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Bunga dan air di dalamnya berserakan di lantai, membuat ruangan makin kacau. Yoga dan Sandro segera datang begitu mendengar suara pecahan vas yang nyaring. Melihat lantai yang berantakan, mereka tidak sempat memikirkan keadaan Wenny, malah langsung marah besar. "Kamu sedang apa, sih?" Saat itu, Wenny baru saja berhasil mengambil obatnya. Dia hampir tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Namun, Sandro dengan wajah cemas buru-buru melangkah, mendorongnya ke samping, lalu berjongkok untuk memungut bunga di lantai. "Ah … " Tubuh Wenny yang lemah didorong cukup keras, membuat lututnya terbentur sudut lemari. Kulitnya langsung terkelupas, memar dan bengkak. Dengan tangan gemetar, dia memegang botol obatnya, napasnya makin berat. Akhirnya, dia berhasil membuka tutup botol dan menemukan kepala semprotnya. Seperti menemukan penyelamat, dia menyemprotkan obat ke dirinya sendiri sambil berjalan ke sudut ruangan dengan terpincang-pincang. Setelah obat masuk ke saluran pernapasannya, tenggorokannya yang kering dan sakit mulai terasa sedikit lega. Dia nyaris kehilangan nyawanya, tetapi saat itu, Yoga dan Sandro masih sibuk membersihkan bunga dan pecahan vas di lantai. Bab 6 Wenny akhirnya berhasil pulih dengan susah payah. Dia bersandar di dinding, memegang obat di tangannya dengan erat sambil menutupi wajahnya untuk menghalangi serbuk bunga masuk lagi. Belum sempat beristirahat sejenak, terdengar suara Yoga yang bertanya padanya. Apa kamu benar-benar membenci Hana? Dia baru saja memberikan bunga-bunga ini kepada kita, tapi kamu langsung menghancurkannya! Tak lama kemudian, suara Sandro yang penuh dengan kemarahan juga menyusul. Wenny, aku merasa kamu makin susah dipahami belakangan ini, bagaimana kamu bisa berubah seperti ini! Mendengar kata-kata itu, Wenny menarik napas dalam-dalam. Seluruh tubuhnya bergetar, marah dan kesal. Ada banyak kemarahan yang ingin diungkapkan, tetapi pada akhirnya, hanya menjadi suara yang terisak dengan mata berair. Aku yang berubah? Atau sebenarnya kalian yang berubah? Aku menderita asma dan alergi terhadap serbuk bunga, apa kalian nggak tahu? Suaranya lemah, tidak ada semangat sedikit pun. Setiap kata dan kalimatnya seperti petir, meledak dengan keras di telinga Yoga dan Sandro. Dulu mereka yang paling peduli terhadap Wenny. Setiap kali Wenny mengalami serangan asma, yang paling cemas adalah kedua orang ini. Meskipun harus memanjat tembok untuk bolos kelas, mereka tetap pulang. Mereka menunggu di depan tempat tidur Wenny dengan mata merah, menyuguhkan teh dan air, tidak ada yang bisa mengusir kedua orang ini. Namun, sekarang mereka bahkan melupakan hal yang begitu penting ini. Entah apakah mereka sadar akan kesalahan mereka, ekspresi wajah Yoga berubah setelah beberapa saat, menunjukkan sedikit penyesalan. "Maaf." Sandro mengernyitkan alisnya, mengingat kembali bagaimana mereka selalu menemani Wenny saat dia sakit. Mereka tahu betul betapa sakitnya dia. Akhirnya Sandro tidak tahan dan melangkah maju. "Kamu, tadi baik-baik saja, 'kan? Maafkan aku, bunga ini adalah hasil kerja keras Hana yang memetiknya sendiri di alam liar, jadi aku terlalu terburu-buru tadi." Wenny diam saja dan tidak menjawab. Melihat dia telah menggunakan obat dan wajahnya perlahan-lahan kembali normal, Yoga dan Sandro segera membawa bunga itu keluar. Beberapa hari setelah itu, Yoga dan Sandro tidak pulang ke rumah. Lampu di kamar mereka tidak pernah menyala. Wenny juga tidak peduli dengan mereka, dia sibuk mengemas barang-barangnya. Setelah hampir selesai mengemas barang, barulah dia mulai mengamati rumah ini. Awalnya dia yang membeli rumah ini, kemudian Yoga dan Sandro membeli rumah di sebelah kiri dan kanannya agar bisa lebih dekat dengannya. Setelah digabungkan, barulah terbentuk rumah yang ada sekarang. Jadi, sekarang hanya sepertiga bangunan ini yang menjadi miliknya. Jika dia ingin menjualnya, agak sedikit rumit. Hari itu, Yoga dan Sandro akhirnya pulang, dan kebetulan bertemu agen properti yang datang untuk membicarakan penjualan rumah dengan Wenny. Melihat pria asing masuk ke dalam rumah, wajah Yoga langsung berubah dingin. "Siapa kamu? Mau apa di sini?" Menghadapi dua pasang mata yang sangat mengintimidasi, agen properti itu sangat gugup, tetapi segera menjelaskan. Selamat siang, Pak. Saya agen properti, katanya pemilik rumah ini mau menjual rumah ini. Menjual rumah? Yoga dan Sandro saling berpandangan, keduanya jelas terkejut. Wajah keduanya langsung berubah, siap untuk menyuruh agen ini pergi, tetapi sesaat kemudian, Wenny turun dari tangga. Aku yang mau menjual rumah ini, aku sudah berencana untuk membicarakannya dengan kalian. Mendengar itu, hati Yoga dan Sandro langsung tegang. Serentak mereka bertanya, "Kenapa mau dijual? Bukankah kita baik-baik saja tinggal di sini?" Sandro teringat kejadian beberapa hari lalu dan mulai mengerti alasannya, langsung bertanya dengan tegas, "Apa kamu masih marah karena kejadian beberapa hari lalu?" Dia jelas panik, bahkan sampai meminta maaf, hal yang jarang dilakukannya. "Kami nggak sengaja lupa kalau kamu alergi serbuk bunga, apa kamu benar-benar harus sampai sejauh ini?" Wenny menggelengkan kepala dengan santai. "Itu nggak ada hubungannya dengan kejadian sebelumnya … " "Tapi, ada hubungannya dengan kalian." "Aku nggak mau lagi ada hubungan dengan kalian." Walau dalam hati berpikir begitu, dia tidak mengatakannya. Dia hanya berkata, "Kalian juga tahu kalau aku sudah berhenti kerja, dan nantinya harus mencari pekerjaan baru. Jadi memang nggak cocok lagi tinggal di sini. Apalagi sudah bertahun-tahun kita tinggal bersama, nggak perlu terus-terusan bersama." Yoga mengerutkan wajah, masih belum mau menyerah. Kalau soal pekerjaan, kami 'kan bisa mengantar jemput kamu, kamu nggak perlu khawatir. Apalagi, kamu juga bilang kita sudah tinggal bersama bertahun-tahun, kita sama-sama sudah terbiasa, kenapa harus berpisah? "Ya, aku dan Yoga ada kok, kalaupun nggak bisa, kami bisa siapkan sopir untuk antar jemput kamu. Aku nggak setuju kita berpisah." Sandro juga keberatan. Melihat bahwa mereka masih tidak bisa diyakinkan, Wenny memijat dahinya, tidak mengerti kenapa mereka begitu keras kepala. Akhirnya, dia mengeluarkan senjatanya. "Kalau begitu, jual saja rumah ini, beli yang lebih besar, nanti bisa ajak Hana tinggal bersama." Mendengar nama Hana, mata keduanya langsung berbinar, tetapi ada keraguan sejenak. Akhirnya Sandro tak bisa menolak dan berkata, "Kalau memang begitu, nggak masalah." Sementara Yoga tampak lebih berpikir dalam-dalam, tatapannya penuh tanda tanya. "Kamu benar-benar mau … ajak Hana tinggal di sini?" Entah kenapa, dia merasa ada yang tidak beres dengan semuanya. Namun, belum sempat dia berpikir lebih lanjut, Wenny tertawa pelan. "Tentu, kenapa nggak mau? Kita semua 'kan teman." Dengan tegas dia segera mengambil keputusan. Oke, jadi begini saja, jual rumah ini, lalu beli yang baru. Setelah itu, Yoga dan Sandro terdiam, tidak lagi membantah. Bab 7 Urusan rumah akhirnya sudah beres, Wenny pun bisa merasa lega. Beban yang dirasakannya langsung terasa jauh lebih ringan. Saat menandatangani kontrak, Wenny menyadari bahwa hari pengurusan dokumen properti itu ternyata tepat pada hari dia akan pergi. Kebetulan sekali. Jadi dia tidak perlu menjelaskan lagi ke Yoga dan Sandro. Saat menulis namanya di atas kertas, dia merasa sangat lega. Segalanya akan segera berakhir. Sekarang, hanya ada satu hal terakhir yang tersisa. Dia pergi ke pusat perbelanjaan. Di sana, dia memilih dan membeli sebuah alat pijat serta sebuah perhiasan gelang dengan cermat, lalu pergi ke rumah tantenya. Begitu dia masuk, Tante Reyna langsung memeluk Wenny dengan erat. Wenny, aku benar-benar nggak rela kamu pergi. Kamu sudah bertahun-tahun tinggal di Kota Hanis, aku sudah menganggapmu seperti anak kandungku sendiri. Aku nggak terbayang hidup tanpa kamu. Tante Reyna menghapus air matanya, menggenggam tangan Wenny dengan erat dan tidak mau melepaskannya. Wenny juga tidak bisa menahan kepedihan di hatinya. Dia memaksakan senyumnya dan menghibur tantenya, "Tante, aku juga nggak mau berpisah, tapi kita masih keluarga. Pesawat dan kereta cepat sekarang sangat praktis, nanti kita masih bisa ketemu pas acara tahun baru." Mengerti bahwa itu memang yang terbaik, Tante Reyna berusaha menenangkan diri dan meminta Wenny duduk di sofa. Duduk dulu. Aku tahu kamu mau pergi, jadi aku sengaja ambil cuti beberapa hari. Kamu harus menginap beberapa hari di rumah Tante, nanti Tante masakin makanan yang kamu suka! Tanpa memberi kesempatan pada Wenny untuk menolak, dia langsung ke dapur, memasak beberapa hidangan favorit Wenny dan menyajikannya sambil tersenyum. Melihat tantenya yang sibuk, Wenny tak bisa menahan senyumnya. Dia memang tidak mampu menolak permintaan tantenya, dan akhirnya dia setuju untuk tinggal beberapa hari, anggap saja menemani Tante. Hingga mendekati waktu kepergiannya, akhirnya Wenny tidak bisa menunda lagi. Dengan enggan, Wenny mengucapkan perpisahan kepada Tante Reyna. Tante, aku harus pergi. Tiga hari lagi aku akan pulang ke Kota Jintara untuk menikah. Sambil menahan air mata, Tante Reyna mengangguk, lalu memasukkan amplop berisi uang ke tangan Wenny. "Tante ada tiga operasi penting di hari itu, urusan nyawa yang nggak bisa ditinggalkan. Ini hadiah dari Tante untuk kamu. Wenny, kamu harus bahagia, ya." Mata Wenny mulai berkaca-kaca. Dengan rasa hormat dia menerima uang tersebut, lalu menanggapi, "Ya, Tante, pria yang dipilihkan Kakek pasti baik, Tante nggak perlu khawatir." Pada saat itu, pintu lift terbuka. Yoga dan Sandro keluar bersamaan, di tengah-tengah mereka ada Hana. Begitu melihat Wenny bersama Tante Reyna dengan mata berkaca-kaca, hati Yoga dan Sandro langsung terasa berat, dan mereka spontan bertanya, "Wenny, Tante, kenapa kalian menangis?” Melihat mereka, Wenny baru menghapus air mata dan menjawab dengan tenang, "Nggak ada, sudah lama nggak ketemu Tante, tapi sekarang aku mau pergi, jadi nggak rela." Mendengar itu, Yoga dan Sandro pun merasa lega. Hati mereka yang tadinya cemas langsung tenang kembali. Lagi pula kita semuanya ada di Kota Hanis, jaraknya dekat, mau ketemu kapan saja bisa. Melihat mereka masih belum paham, Tante Reyna merasa khawatir mereka akan heboh jika mereka tahu nanti. Dengan ragu-ragu, Tante Reyna ingin mengatakan sesuatu, tetapi Wenny langsung mengalihkan topik dan menatap Hana. Kalian ini … Yoga dan Sandro baru tersadar. Wajah mereka tampak cemas dan langsung memberi penjelasan. Hari ini sedang ada Hari Raya. Hana merasa sangat kesepian, jadi kami ajak saja dia pulang untuk merayakannya bersama kami. Ya, jangan salah paham. Kami juga sudah meneleponmu, tapi kamu nggak pernah mengangkat. Mereka begitu gugup, hanya karena saat Hari Raya sebelumnya, keduanya berebut untuk membawa Wenny pulang. Karena perayaan seperti ini identik dengan pertemuan keluarga, dan membawa seorang gadis ke rumah itu berarti mereka sudah menganggapnya sebagai calon istri. Wenny merasa tidak berdaya, setiap kali dia harus pergi ke rumah Keluarga Lukito terlebih dahulu, kemudian ke rumah Keluarga Ciputra. Namun, tahun ini mereka justru membawa Hana pulang. Artinya sudah jelas. Wenny tidak perlu mengungkapkan semuanya, dia hanya berkata, "Oh, gitu ya, baguslah. Selamat menikmati. Aku mau pulang dulu merapikan koper." Setelah mengatakan itu, dia pun bersiap pergi dan naik ke mobil. Namun, Yoga dan Sandro memanggilnya. Wenny! Wenny! Bab 8 Wenny berbalik dan hendak pergi. Setelah kedua orang itu memastikan bahwa dia tidak marah, barulah mereka merasa lega. Yoga melangkah maju, lalu menggenggam tangannya. "Nggak perlu merapikan koper, terlalu banyak dan melelahkan. Nanti aku akan suruh sopirku datang, lalu kita akan pindah ke rumah baru bersama-sama." Sandro juga mengangguk setuju. Di saat itu, Wenny merasa seperti melihat kembali dirinya yang dulu selalu menjadi prioritas utama mereka. Dulu, saat masih kecil, setiap Wenny berbicara, mereka akan menanggapinya dengan tawa. Namun, sekarang janji di masa muda itu telah berubah menjadi sekadar kata-kata tanpa makna. Wenny melirik Hana sambil menggelengkan kepala, "Nggak perlu, banyak hal yang harus aku atur sendiri." Setelah mengatakan itu, tanpa memperhatikan ekspresi kedua orang itu, dia langsung berbalik dan pergi. Setibanya di rumah, dia membereskan koper, lalu membersihkan diri. Setelah itu, saat baru saja berbaring, tiba-tiba dia mendapat telepon dari Hana. Dari ujung telepon terdengar suara Hana yang lembut dan manja, tidak mampu menyembunyikan rasa bangga dalam nada bicaranya. "Kak Wenny, malam ini aku pergi ke rumah Keluarga Lukito dan Keluarga Ciputra. Orang tua Yoga dan Sandro sangat baik padaku." "Mereka bahkan sampai menyiapkan benda pusaka keluarga, katanya mau dikasih padaku. Menurutmu, apa mereka …." Wenny dengan tenang memotong bualan bangganya, "Aku nggak tertarik dengan urusan kalian. Kamu nggak perlu menceritakannya padaku, itu bukan urusanku." Begitu selesai berbicara, dia langsung memutuskan telepon. Sehari sebelum hari keberangkatannya, Wenny keluar rumah. Dia sengaja mengajak sahabatnya, Maudy untuk makan bersama hari ini. Dia memang nggak punya banyak teman di Kota Hanis. Sejak kecil, Yoga dan Sandro sangat ketat membatasi pergaulannya. Bukan hanya tidak boleh pacaran atau menerima surat cinta, bahkan punya teman perempuan pun harus diawasi. Waktu itu, dengan wajah memelas mereka berkata, "Wenny, sudah ada kami, apa itu belum cukup? Kamu sangat baik, kami takut gadis-gadis juga akan suka padamu." Rasa posesif mereka terhadap Wenny sangat besar. Mereka ingin Wenny hanya fokus pada mereka berdua. Namun, sekarang mereka sendiri yang mendorongnya pergi. Di sebuah restoran barat yang baru dibuka, Maudy sudah duduk menunggu beberapa saat. Begitu melihat Wenny, Maudy langsung memeluknya erat-erat. Membayangkan kepergiannya, rasa sedih kembali menyelimuti hati Maudy. Wenny, aku nggak menyangka kamu akan segera kembali ke Kota Jintara untuk menikah. Aku nggak rela melepaskanmu. Awalnya aku pikir kamu akan menikah dengan salah satu dari Yoga atau Sandro, kemudian tinggal di Kota Hanis, jadi kita bisa sering main bersama. Mendengar itu, Wenny tersenyum tipis. "Mereka punya pilihan lain, begitu juga aku." Maudy tampak kehilangan semangat mendengar itu. Dia langsung teringat pada Hana, dan wajahnya langsung berubah. Lalu, dia berbicara dengan kesal. Dulu kamu baik banget sama Hana, tapi dia malah … Wenny tersenyum sambil menyela, "Sudahlah, jangan bahas orang-orang nggak penting itu, nanti kalau aku menikah, aku juga nggak akan melihatnya lagi. Semua yang dia lakukan nggak ada urusannya denganku." Baru saja dia selesai bicara, Hana masuk ke restoran. Karena meja mereka berada di dekat pintu, Hana bisa mendengar sebagian pembicaraan itu, dia pun langsung menghampiri dengan rasa penasaran. "Kak Wenny, siapa yang nikah? Aku boleh ikut nggak? Aku belum pernah menghadiri pesta pernikahan loh!" Wenny jarang bertemu orang yang tidak tahu batasan seperti ini. Namun, mungkin karena sudah terbiasa dengan ulah Hana, ditambah lagi dia akan segera pergi, dia tidak marah, malah bersikap tenang saja. Namun, Maudy yang ada di sampingnya sangat marah. Dia langsung melemparkan pisau dan garpu sembarangan di atas meja, dan melotot ke arah Hana. Pernikahanku! Dan kamu nggak berhak untuk hadir. Apa kamu puas dengan jawaban ini? Aku tanya, kamu tahu batasan atau nggak? Kita 'kan nggak begitu akrab, kenapa harus penasaran dengan segala hal? Bahkan kalau ada gerobak sampah lewat, apa kamu juga mau coba supaya tahu rasanya asin atau nggak? Suara Maudy cukup keras, dan kata-katanya tajam. Tubuh Hana tiba-tiba gemetar ketakutan, dan air mata pun jatuh seketika. Dia menangis sambil merasa tersakiti, dan segera melihat ke arah Yoga dan Sandro yang baru saja masuk ke restoran di belakangnya. Matanya yang besar berkaca-kaca, seakan memohon bantuan. Tanpa mengerti apa yang sedang terjadi, Yoga langsung cemberut begitu melihat Hana yang tampak begitu lemah dan sedih. Tanpa ragu, dia langsung memeluk gadis itu. Selama aku ada, kamu bisa hadir di pernikahan siapa pun yang kamu inginkan. Sandro turut bersikeras berkata, "Ada aku juga! Jangankan cuma pernikahan, kalau kamu mau bintang pun, aku akan memanjat tangga langit untuk ambilkan satu yang masih panas untukmu. Jangan pedulikan orang-orang yang nggak penting." Kedua pria itu akhirnya berhasil membuat Hana berhenti menangis dan tersenyum. Bab 9 Selanjutnya, Yoga dan Sandro duduk di meja di sebelah Wenny bersama Hana. Kedua anak muda itu berebut menyiapkan makanan untuk Hana, dengan mata penuh kasih sayang. Melihat pemandangan itu, Maudy merasa kesal sampai steik di piringnya hancur, tetapi Wenny tetap terlihat tenang. Akhirnya Maudy memilih untuk diam dan tidak mengatakan apa-apa. Tidak lama kemudian, mereka selesai makan malam dan pergi bersama. Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Maudy, Wenny kembali ke rumah. Malam itu, Yoga dan Sandro masih belum pulang. Wenny juga tidak peduli, dia sibuk mengemas barang-barang terakhirnya. Pagi-pagi, dia mendengar suara langkah kaki dari luar, jadi dia tahu bahwa Yoga dan Sandro sudah pulang. Mereka seharusnya memang sudah pulang, karena hari ini adalah hari mereka pindah ke rumah baru. Hanya saja mereka tidak tahu, di rumah baru mereka, di masa depan mereka, tidak akan ada Wenny lagi. Suara gaduh di luar makin keras, sepertinya mereka sedang memindahkan barang-barang. Wenny berpura-pura tidak mendengar. Lalu, setelah memeriksa semua koper, datang telepon dari ibunya. Telepon dijawab, suara lembut ibunya terdengar. "Wenny, pesawatnya jam berapa? Kami akan menjemputmu." Wenny membuka aplikasi untuk melihat tiket pesawatnya, lalu berkata dengan suara pelan. "Aku akan sampai sekitar jam tujuh malam." Saat itu, pintu kamarnya didorong terbuka. Dia menoleh sedikit, melihat Yoga dan Sandro berdiri di ambang pintu. Sandro bertanya dengan santai, "Sedang menelepon siapa?" "Bukan siapa-siapa." Wenny menutup telepon dan menjawab dengan dingin. Mendengar jawabannya yang dingin, Yoga dan Sandro agak terkejut. Sejak kehadiran Hana, Wenny sepertinya selalu menjauh dari mereka dalam beberapa waktu ini .... Awalnya Yoga berpikir tidak perlu penjelasan, tetapi belakangan ini, perilaku aneh Wenny terus terbayang di benaknya dan mulai membuatnya merasa cemas. Secara refleks dia berkata, "Wenny, Hana berbeda denganmu. Keluarganya nggak mampu dan dia mengalami banyak kesulitan sejak kecil. Jadi aku hanya mau membantunya lebih banyak. Nggak ada maksud yang lain." Sandro juga menjelaskan, "Ya, kami hanya merasa kasihan pada Hana. Lagi pula, bukankah kamu yang memperkenalkan Hana kepada kami? Bagaimana bisa kamu cemburu padanya?" Wenny berkata dengan tenang, "Untuk apa kalian mengatakan ini padaku?" Dua orang itu serentak berkata, "Karena kamu peduli!" Mereka bertiga telah tumbuh bersama sejak kecil, dan kedekatan yang terjalin selama bertahun-tahun membuat mereka saling mengerti. Begitu Wenny membuka mulut, mereka sudah tahu apa yang ingin dia katakan. Begitu Wenny mengulurkan tangan, mereka tahu apa yang dia inginkan. Bagaimana mungkin mereka tidak menyadari apa yang Wenny pedulikan? Namun, sekarang mereka makin sulit memahami dirinya. Wenny memandang dengan tatapan dingin, seolah-olah melihat dua orang yang tidak penting. "Aku nggak peduli, 'kan kalian bilang cuma menganggap dia teman, aku juga teman kalian, jadi apa yang perlu aku pedulikan?" Seketika, kedua pria itu terdiam. Yoga terdiam cukup lama, sampai akhirnya dia tidak tahan dan berkata, "Wenny, kamu tahu, aku bukan cuma menginginkan pertemanan." Sandro makin tidak bisa menyembunyikan ekspresi di wajahnya, "Selama bertahun-tahun ini, bagaimana aku memperlakukanmu, Wenny? Apa kamu benar-benar berpikir kita hanya teman?" Wenny jelas tahu apa yang mereka maksud. Mereka berdua menyukainya dan ingin bersamanya. Namun, jika rasa sayang mereka kepadanya ini ditunjukkan dengan membantu Hana menyakiti dirinya, maka Wenny tak sanggup menerimanya. Dia mengangguk, "Benar, kita akan punya hubungan yang berbeda." Tak lama setelah ini, hubungan pertemanan mereka akan berakhir. Mereka hanya akan menjadi orang asing satu sama lain .... Kata-katanya menyiratkan banyak hal. Hati Yoga berdebar kencang, dia merasa gelisah. Baru saja dia akan mengatakan sesuatu, seorang sopir masuk untuk mengambil koper Wenny. Wenny menahan sopir itu. "Kalian berangkat saja duluan, aku akan mengantar barangku sendiri." Mendengar itu, Sandro merasa kesal, "Banyak begini barangnya, bagaimana kamu mau bawa sendiri? Sudahlah, jangan marah, ini salahku. Aku minta maaf, ya?" Wenny tetap bersikeras menolak. "Aku benar-benar nggak butuh bantuan. Kalian bantu Hana saja, dia tinggal sendirian. Lagi pula dia perempuan yang lemah, nggak akan bisa bawa banyak barang. Dia pasti lebih membutuhkan bantuan kalian." Yoga mendengar nada sindiran dalam kata-katanya dan mengerutkan kening, tetapi tepat saat itu, Hana menelepon. "Yoga, Sandro, bisakah kalian datang bantu aku? Aku memang ceroboh dan nggak bisa melakukan apa-apa." Suara cemas dan rapuhnya terdengar jelas melalui telepon, sampai ke telinga mereka semua. Keduanya saling bertatapan, lalu melihat wajah Wenny yang dengan tegas menolak bantuan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi lebih dulu. Yoga mematikan telepon dan melihat Wenny. "Hana belum bisa mengatasi semuanya sendiri, aku akan bantu dia." Sandro juga mengambil kunci mobil, "Aku juga ikut." Saat akan keluar, Yoga masih tidak tenang. Dia kembali menoleh dan menambahkan, "Wenny, aku tahu kamu nggak mau mendengarku sekarang. Aku sudah pesan restoran, setelah pindahan, kita makan bersama, ya. Soal Hana, nanti aku akan jelaskan dengan baik." Sebelum Wenny bisa menjawab, dia sudah terburu-buru keluar. Sambil menyaksikan kepergian mereka berdua, Wenny berusaha tersenyum. Menjelaskan nanti? Sayangnya, di antara mereka, tidak ada lagi yang namanya "nanti". Apalagi, setelah apa yang mereka lakukan dalam beberapa waktu terakhir, Wenny tidak tahu bagaimana mereka bisa menjelaskannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Hana kembali mengirimkan pesan yang memancing keributan. [Maaf ya, Kak Wenny, aku nggak menyangka cukup satu kalimat dariku, Yoga dan Sandro langsung meninggalkanmu. Nanti saat kita tinggal bersama, semoga bisa saling bantu ya!] Wenny tersenyum tipis, jarinya menekan layar dan mengetikkan beberapa kata. [Kalian bertiga silakan jalani hidup kalian dengan baik, aku nggak mau ikut campur.] Begitu pesan itu terkirim, dia langsung memblokir semua kontak Hana. Kemudian Yoga. Dan terakhir Sandro. Daftar kontaknya dihapus satu per satu. Ketiga orang ini akan benar-benar hilang dari hidupnya. Akhirnya, dia membawa koper dan melangkah keluar dari rumah yang menyimpan banyak kenangan, lalu pergi tanpa menoleh lagi.