Đang tải thông tin quảng bá...
Menjaga Jodoh Orang
Pada tahun kelima hubungannya dengan Candice, Terry menunda pernikahan mereka. Namun, di sebuah kelab, Candice menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Terry melamar wanita lain. Seseorang berta...
Chương (1)
第1章
Pada tahun kelima hubungannya dengan Candice, Terry menunda pernikahan mereka. Namun, di sebuah kelab, Candice menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Terry melamar wanita lain.
Seseorang bertanya padanya, "Kamu sudah sama Candice lima tahun, tapi tiba-tiba menikah sama Vivian. Apa kamu nggak takut dia marah?"
Terry menjawab dengan santai, "Vivian lagi sakit, ini adalah permintaan terakhirnya! Candice sangat mencintaiku, dia nggak akan meninggalkanku!"
Seluruh dunia tahu bahwa Candice mencintai Terry hingga dia merasa tak bisa hidup tanpa Terry. Namun kali ini, Terry salah besar.
Pada hari pernikahannya dengan Vivian, dia berkata kepada teman-temannya, "Awasi Candice, jangan sampai dia tahu aku menikah sama orang lain!"
Temannya yang terkejut, bertanya, "Candice juga menikah hari ini, kamu nggak tahu?"
Pada saat itu, Terry benar-benar hancur!
Bab 1
"Ayah, bukannya Ayah pernah bilang bahwa aku punya tunangan yang sudah dijodohkan sejak kecil? Bilang sama dia, aku akan menikah pada tanggal satu bulan depan dan masih kurang seorang pengantin pria. Tanyakan sama dia, dia mau dating nggak?" tanya Candice dengan suara tenang.
Telepon di seberang hening sejenak. "Bukannya kamu mau nikah sama Terry dan lagi sibuk nyiapin pernikahan? Dia nyakitin kamu ya?"
"Ayah, tolong tanyakan saja!" seru Candice.
"Baiklah, asalkan kamu sudah mikirin matang-matang. Ayah cuma berharap kamu bahagia," jawab ayahnya dengan nada lembut.
Candice mengusap sudut matanya yang memerah dan menjawab pelan, "Aku pasti akan bahagia!"
Candice memang pernah mencintai Terry dengan sepenuh hati. Dia yakin bahwa pria itu adalah pasangan hidupnya yang ditakdirkan. Hari pernikahan mereka sudah ditetapkan dan dia menantikan saat menjadi seorang pengantin dengan penuh sukacita. Namun, semua harapan itu hancur berkeping-keping hanya dalam beberapa jam.
Satu jam yang lalu, Candice sedang mengenakan gaun pengantinnya. Sosoknya yang anggun terlihat semakin memukau dalam balutan gaun putih itu.
"Bu Candice, gaun ini dipesan khusus sama Pak Terry untuk Anda. Indah sekali, kalian pasti akan sangat bahagia bersama," puji pegawai toko dengan tulus.
Namun, Candice tidak bisa tersenyum sedikit pun. Dia memandang sekeliling dan menemukan calon pengantin prianya, Terry, berdiri di sudut ruangan dekat jendela. Dia sedang menelepon seseorang dengan senyum penuh kasih di wajahnya.
Pandangan Candice terhalang oleh pegawai toko yang menyerahkan telepon kepadanya. "Bu Candice, ada telepon untuk Anda," katanya.
Itu adalah panggilan dari perusahaan wedding organizer yang dia pilih.
"Bu Candice .... Pak Terry tadi bilang sama kami bahwa ada kesalahan pada nama pengantin wanita. Dia minta untuk ganti nama pengantin wanita jadi Vivian. Apakah Anda mengetahui hal ini?"
Rasa sakit yang tak terlukiskan menghantam hati Candice. Air matanya hampir tumpah. Meskipun dia telah mencurigai pengkhianatan Terry, dia tidak pernah membayangkan bahwa Terry bisa begitu tak tahu malu.
Sebulan yang lalu, ketika mantan pacar Terry, Vivian, yang telah pergi ke luar negeri selama lima tahun, kembali ke negara ini, Candice sudah memiliki firasat buruk.
Kemarin, Candice mengikuti Terry ke sebuah kelab untuk mengantarkan dasi yang dia tinggalkan. Namun, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Terry berlutut melamar Vivian.
Seseorang bertanya, "Terry, bukannya sebentar lagi kamu mau nikah sama Candice? Lalu bagaimana dengan Vivian? Gimana kamu mau menjelaskannya nanti?"
Terry menjawab dengan santai, "Vivian lagi sakit, ini adalah permintaan terakhirnya. Sedangkan Candice ... selama kalian semua bisa merahasiakannya, dia nggak akan tahu. Kalaupun dia tahu, dia mencintaiku begitu dalam, dia pasti akan memahamiku dan nggak akan meninggalkanku."
Di tengah sorakan teman-temannya, Terry dan Vivian saling berciuman dengan penuh kasih. Di luar ruangan, Candice menyaksikan pemandangan itu dengan hati hancur dan bergegas pergi.
"Hallo, Bu Candice, apakah Anda masih di sana? Nama pengantin wanita ini, apa perlu kami ubah?" tanya suara di telepon.
Dulu, Candice mencintai Terry seperti hidupnya bergantung pada Terry. Kehilangan Terry adalah hal yang tak pernah dia bayangkan. Namun, semua itu adalah masa lalu.
"Ubah saja. Sekalian pesan ruangan di aula sebelah. Uang akan segera saya transfer. Semua detailnya salin saja," jawab Candice dengan nada tegas.
"Baik. Lalu nama pengantin pria, apa perlu kami ganti juga?"
Candice tersenyum tipis. "Ya, ganti. Nanti saya beri tahu nama barunya."
Ada jeda di ujung telepon. "Tanggal pernikahan tetap sesuai jadwal?"
Candice menghela napas panjang sebelum menjawab, "Tetap sesuai jadwal."
Setelah menutup telepon, Terry datang menghampirinya dan memeluk pinggangnya dari belakang dengan lembut.
"Candice, kamu cantik sekali hari ini," katanya dengan suara lembut.
"Benarkah?" Candice menatap pantulan dirinya di cermin. Dia memang tampak luar biasa cantik dalam gaun pengantin itu. Namun di dalam hatinya, hanya ada kekecewaan.
Bagaimana mungkin pria yang telah lama dia cintai, tunangannya yang akan segera menikahinya, tega meninggalkannya demi wanita lain?
"Benar, kamu adalah wanita tercantik di dunia ini," kata Terry dengan penuh keyakinan.
Namun, nada bicaranya berubah gugup saat dia menambahkan, "Ada satu hal yang ingin aku diskusikan denganmu. Aku ada urusan pada tanggal satu bulan depan. Apa kita bisa menunda pernikahan kita?"
"Urusan?" Candice tertawa dingin dalam hati. Urusan yang dia maksud adalah menikahi wanita lain! Lebih buruknya lagi, dia ingin menggunakan tempat pernikahan yang telah Candice pilih dan memanfaatkan tanggal yang telah Candice tetapkan, sambil berusaha merahasiakan semuanya dari dirinya.
"Baik, kita tunda saja," jawab Candice dengan datar.
Jawaban itu membuat Terry terkejut. Ada rasa gelisah yang tak bisa dia jelaskan.
"Candice, aku mencintaimu. Aku pasti akan menikahimu. Tunggu aku. Aku bersumpah, aku akan mencintaimu seumur hidup."
Setelah berkata demikian, dia terburu-buru pergi dengan alasan urusan pekerjaan. Candice hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, merasa bahwa semua sumpahnya hanyalah lelucon belaka.
Candice tahu, di mata Terry, dia adalah wanita yang mencintainya tanpa syarat. Bahkan jika dia tahu Terry akan menikahi orang lain, Candice tidak akan pergi.
Namun, kali ini, Terry salah besar. Candice tidak hanya akan meninggalkannya, tapi dia juga akan menikah pada hari yang sama dengan Terry.
Bab 2
Setelah kembali ke rumah, Candice mulai membereskan barang-barangnya. Namun, di tengah-tengah pekerjaannya, Terry tiba-tiba pulang.
"Candice, begitu urusan kantor selesai, aku langsung pulang. Kamu kangen aku nggak?" katanya dengan senyum, sambil mengeluarkan seikat mawar merah besar dan menyerahkannya pada Candice.
"Aku sengaja membelikan ini untukmu. Maaf ya tadi di toko gaun pengantin aku nggak bisa menemanimu sampai selesai. Bunga ini untuk minta maaf sama kesayanganku."
Candice melihat mawar yang mulai layu karena kekurangan air. Dia tertawa karena terlalu marah.
Bukankah ini bunga yang baru saja dia gunakan untuk melamar Vivian? Sekarang, dia memberikannya begitu saja pada Candice. Apakah di mata Terry, Candice hanya pantas mendapatkan sisa-sisa alat lamaran yang sudah tak berguna lagi?
"Apa yang kamu tertawakan?" Terry merasa cemas melihat Candice tersenyum seperti itu.
"Nggak apa-apa," jawab Candice sambil mengambil bunga itu. Dari sudut matanya, dia melihat noda lipstik merah yang jelas menempel di kerah kemejanya. Dia mengangkat tangan, menunjuk noda itu. "Bajumu kotor."
Terry menunduk, menyadari noda lipstik yang ditinggalkan Vivian saat menciumnya tadi. Jantungnya berdegup kencang. Dia berusaha memberi alasan.
"Oh, mungkin nggak sengaja tersenggol sesuatu," katanya dengan gugup.
Candice tidak mempermasalahkan, hanya berkata pelan, "Lepas saja bajunya, aku cuci."
"Di rumah ada pembantu. Aku nggak tega kalau kamu harus turun tangan sendiri," jawab Terry, mencoba menghindar.
"Pembantu sering kali terlalu kasar. Aku saja yang cuci," kata Candice dengan nada tenang.
Terry merasa lega, mengira bahwa masalahnya selesai. Dia bahkan cepat-cepat mencium Candice sambil berkata, "Candice, kamu memang yang terbaik."
Candice menerima kemeja itu, memandang noda lipstik di sana, lalu tersenyum tipis. Terbaik? Atau hanya mudah ditipu?
Mungkin karena mencucinya terlalu kuat, kemeja itu robek di tangannya.
Terry tidak peduli. Dia justru memeluknya dan berkata lembut, "Nggak masalah. Kalau robek, buang saja. Kamu tinggal belikan aku yang baru."
Dia mengganti pakaiannya, tetapi aroma parfum wanita di tubuhnya tetap tidak hilang.
Candice menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. "Ada beberapa hal yang justru lebih baik kalau sudah lama, bukan?"
"Itu benar," jawab Terry sambil mengangguk. "Kemeja itu memang sangat nyaman dipakai. Sayang sekali rusak gara-gara dicuci terlalu keras. Kalau nggak, aku bisa memakainya beberapa kali lagi. Kamu tahu, aku ini orang yang sangat setia, 'kan?"
Dia memang seseorang yang sangat "setia," sehingga orang yang disukainya lima tahun lalu, meskipun telah menghilang selama lima tahun, tetap dia cintai saat kembali.
Lalu, bagaimana dengan Candice? Lima tahun kebersamaannya dengan Terry, apa artinya semua itu?
Sejak kecil, banyak pria yang mendekati Candice. Setelah lulus kuliah, dia melamar pekerjaan di perusahaan Terry.
Candice langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Namun, karena harga dirinya yang tinggi, dia tidak mau mengambil langkah lebih dulu.
Entah bagaimana, Terry juga mulai menyukainya dan mengejarnya dengan penuh semangat. Awalnya, Candice berpura-pura acuh tak acuh dan tidak langsung menerima Terry. Hingga suatu ketika, kantor mereka kebakaran.
Saat alarm kebakaran berbunyi, semua orang panik berlari keluar gedung. Candice yang ketakutan, tidak mampu bergerak sedikit pun.
Terry-lah yang berbalik arah dan membawanya keluar dari bahaya. Pada momen itu, Candice memutuskan bahwa dia ingin bersama Terry selamanya.
Lima tahun berlalu. Lima tahun penuh kenangan yang selalu diingatnya, terutama hari mereka resmi bersama. Pada hari itu, Terry bersumpah kepada langit, "Candice, aku berjanji, aku hanya akan mencintaimu seorang seumur hidupku."
Melihat Terry berbicara dengan penuh keyakinan, Candice menangis dan berkata, "Terry, ingatlah apa yang kamu katakan hari ini. Kalau suatu hari nanti kamu mengkhianatiku, aku akan menikah dengan pria lain dan membuatmu menyesal selamanya!"
Sumpah itu masih terngiang di telinganya, tetapi hati Terry sudah lama berubah. Tidak, mungkin dari awal, hatinya memang tidak pernah sepenuhnya untuk Candice.
Rasa pedih memenuhi dada Candice. Dengan tangan yang gemetar, dia mencengkeram kemeja yang telah dia cuci tadi. Air matanya akhirnya mengalir tanpa bisa dia tahan.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
Melihat Candice menangis, Terry tampak panik. Dia segera mengeluarkan tisu untuk menghapus air matanya.
"Aku nggak apa-apa," jawab Candice pelan.
Dia yang lebih dulu mengkhianati Candice. Maka, Candice akan menepati janjinya: menikahi pria lain!
Bab 3
Candice dengan susah payah menenangkan dirinya. Namun, ketika Terry seperti biasanya mencoba mencium sudut bibirnya, dia langsung menolak dan mendorongnya menjauh.
Terry terlihat canggung. Dia berdeham pelan untuk menutupi rasa malunya, lalu merenggangkan pelukan mereka dan mengulurkan tangan, meminta sesuatu darinya.
"Ngomong-ngomong, mana hadiah yang kamu bilang untukku?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Candice tersenyum kecil, meminta Terry menunggu sebentar. Dia naik ke lantai atas, masuk ke kamarnya, lalu mengambil kotak undangan pernikahan yang pernah mereka pilih bersama.
Dengan tenang, Candice mengambil pena dan mengganti nama pengantin pada undangan itu. Di bagian mempelai pria, dia menuliskan nama Gian, sementara di bagian mempelai wanita tetap tertulis namanya.
Setelah selesai, dia memasukkan undangan itu kembali ke dalam kotaknya, menutupnya rapat, dan membawanya ke lantai bawah. Dia menyerahkan kotak itu kepada Terry.
"Apa ini?" Terry bertanya dengan penasaran dan mencoba membuka kotaknya. Namun, Candice buru-buru menghentikannya.
"Tunggu sampai tanggal satu bulan depan untuk membukanya," jawabnya dengan senyum samar.
Mendengar tanggal tersebut, tangan Terry sedikit bergetar. Bukankah itu hari di mana dia berencana menikahi Vivian?
"Kenapa harus tanggal itu?" tanyanya sambil mencoba menyembunyikan kegelisahannya.
"Karena tanggal satu bulan depan adalah hari baik yang seharusnya menjadi hari pernikahan kita," jawab Candice dengan senyum yang begitu menenangkan. Dia menempelkan lakban di kotak itu dan berkata, "Karena pernikahan kita ditunda, aku ingin memberimu hadiah istimewa. Nanti kamu akan mendapatkan kejutan."
Terry mengangguk dengan senang hati. "Baik, aku sangat suka kejutan," katanya sambil tersenyum lebar. Dia pun mencubit hidung Candice dengan manja dan memeluknya erat.
"Candice, hari ini aku benar-benar merasa sangat bahagia."
Bahagia?
Kilauan di mata Candice perlahan memudar. Namun, Terry sama sekali tidak menyadarinya.
Apa yang membuatnya bahagia? Mungkin karena berhasil melamar wanita lain tanpa sepengetahuan Candice. Dia pikir Candice benar-benar tidak tahu apa-apa.
Malam itu, Terry pergi mandi. Candice duduk di sofa, menggulirkan layar ponselnya. Tanpa sengaja, dia melihat unggahan salah satu teman Terry di media sosial.
Unggahan itu adalah video saat Terry berlutut melamar Vivian, lengkap dengan keterangan.
[ Cinta yang dulu diidamkan akhirnya menjadi kenyataan. Malam ini, ayo rayakan bersama di tempat biasa! ]
Candice terdiam sejenak. Ketika dia hendak membuka video itu, muncul sebuah komentar di bawahnya.
[ Berani banget kamu nge-post ini. Kamu udah blok Candice belum? ]
Orang itu menjawab.
[ Memangnya aku sebodoh itu? Tentu saja sudah aku blok dari dia. ]
Candice membaca komentar tersebut, sudut bibirnya melengkung menjadi senyuman penuh ejekan.
Dia teringat ketika baru saja menjalin hubungan dengan Terry, dia dibawa untuk bertemu dengan teman-teman dekatnya. Ketika melihat Candice, mereka semua menyapanya dengan akrab, memanggilnya "kakak ipar".
Mereka bahkan berkata, "Kakak Ipar, kalau Terry berani memperlakukanmu nggak baik, kasih tahu kami saja, kami pasti akan memberinya pelajaran!"
"Betul, Kak, tenang saja. Kami akan mengawasinya. Dia nggak akan berani macam-macam di luar. Kalau sampai dia punya wanita lain, kami pasti orang pertama yang akan memberitahumu."
Tapi sekarang? Semua orang itu justru bekerja sama membantu Terry menyembunyikan kenyataan bahwa dia akan menikahi wanita lain!
Hanya butuh beberapa detik, unggahan tersebut langsung dihapus. Tak lama kemudian, Terry keluar dari kamar mandi.
"Candice, kamu ...." Dia terlihat gugup. Rambutnya masih basah, bahkan belum sempat dikeringkan, dan dia tampak tergesa-gesa keluar dari kamar mandi.
"Ada apa?" Candice menatapnya tanpa ekspresi, seolah-olah tidak tahu apa-apa. Melihat bahwa dia tidak bereaksi apa pun, Terry menghela napas lega.
"Nggak ada apa-apa, aku cuma mau bilang, aku sudah selesai mandi."
"Mm," jawab Candice dengan singkat. Dia berdiri dan berjalan keluar dari kamar.
Namun, baru beberapa langkah keluar, dia mendengar Terry sedang berbicara di telepon dengan temannya.
"Kamu gila ya? Cepat hapus unggahan itu di media sosial! Kalau sampai Candice melihatnya, gimana? Aku sudah bilang, masalah ini nggak boleh dia tahu. Kalian mau mati, ya?"
"Tenang saja, sudah aku hapus. Kakak Ipar pasti nggak sempat lihat. Ngomong-ngomong, nggak datang ke acara perayaanmu sendiri itu gimana ceritanya? Vivian sudah datang, lho."
Bab 4
Terry masih ragu-ragu saat Candice tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, "Lagi telepon siapa?"
"Ah, ini cuma Hugo dan yang lainnya, mereka ajak aku keluar untuk minum," jawab Terry, mencoba terdengar santai.
"Benarkah? Sudah lama aku nggak ketemu mereka. Kalau begitu, aku ikut saja. Aku juga ingin minum sedikit," balas Candice dengan senyum tipis.
Candice ingin melihat sejauh mana Terry dan teman-temannya mampu menyembunyikan rahasia jika dia hadir.
Terry mencoba berbagai cara untuk menolak sepanjang jalan, tetapi gagal menghentikan Candice. Dia hanya bisa cemas, sibuk dengan ponselnya untuk memberi peringatan kepada teman-temannya.
Setibanya di ruang VIP bar, Candice langsung melihat Terry dan teman-temannya. Empat pria itu duduk dengan sangat sopan dan masing-masing memegang segelas minuman, tanpa menunjukkan adanya tanda-tanda kehadiran wanita lain.
Melihat Candice, mereka semua berdiri serempak, "Halo, Kak. Tenang saja, Kak, malam ini cuma kami para pria di sini."
Candice mengangkat alis, "Maksudnya, aku sebagai seorang wanita nggak seharusnya datang?"
Keempatnya tertegun. Terry buru-buru menggenggam tangan Candice, "Bukan begitu maksudnya. Mereka cuma khawatir kamu merasa bosan."
Candice tersenyum kecil, "Aku juga nggak ada maksud apa-apa. Sudah lama nggak ketemu, aku cuma mau minum segelas. Kalau ini acara pria, aku minum dulu lalu pulang."
Dia mengambil segelas anggur di meja, meneguknya dalam sekali minum, dan berpura-pura tidak melihat senyum lega yang melintas di wajah mereka. Setelah itu, dia berbalik untuk pergi.
Terry berpura-pura tidak rela dengan memeluk dan mencium dahinya. "Baiklah, aku akan pulang lebih awal. Kalau kamu mengantuk, jangan tunggu aku."
Candice turun ke lantai bawah, kemudian bersembunyi di sudut yang agak tersembunyi. Tak lama kemudian, seperti yang sudah diduganya, Vivian muncul. Dengan sepatu hak tinggi dan pinggul bergoyang, Vivian berjalan cepat menuju ruang VIP.
Candice berdiri di dekat pintu yang cukup tersembunyi untuk mengamati isi ruangan.
Vivian langsung duduk di pangkuan Terry. "Kenapa kamu bawa dia ke sini? Gara-gara itu aku harus sembunyi! Sebagai ganti, aku mau tas yang aku tunjukkan tadi siang."
Terry memeluk Vivian dari belakang sambil tertawa, "Aku belikan dua buatmu."
Vivian tertawa manja sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Terry dan mencium bibirnya.
"Astaga! Kalian ini benar-benar bikin kami iri saja! Kakak Ipar, kalau begini terus, para lajang di sini bakal patah hati semua," salah satu teman Terry menggoda.
"Sudahlah, apa yang perlu diirikan? Kalian juga punya banyak wanita, 'kan? Panggil saja mereka, biar kita semua bersenang-senang!" seru Terry.
Tak lama kemudian, beberapa wanita datang ke ruangan. Ada yang melayani minuman, ada yang bermain tebak-tebakan dan bersenang-senang. Suasana menjadi semakin meriah ketika mereka memulai permainan truth or dare.
Kebetulan, orang pertama yang terkena hukuman adalah Terry.
Seorang teman bercanda sambil bertanya, "Terry, ngomong-ngomong, antara Vivian dan Candice, siapa yang lebih kamu sukai?"
Mendengar pertanyaan itu, Vivian tidak marah. Dia malah tersenyum penuh percaya diri sambil memandangnya, "Kamu harus jujur, ya. Jangan karena aku lagi sakit."
"Candice," jawab Terry tanpa ragu.
Wajah Vivian sedikit kaku, tapi dia segera menyembunyikan emosinya dan berpura-pura tenang. "Aku masih di sini, lho!"
Terry menjawab dengan santai, "Aku juga pernah menyukaimu, tapi itu masa lalu. Kamu yang memilih untuk pergi saat itu."
"Sekarang aku nikah sama kamu hanya untuk memenuhi keinginan terakhirmu karena sakit. Tapi yang akan menemani aku sampai akhir adalah Candice. Bukankah kita sudah sepakat?"
"Jangan sampai kejadian seperti hari ini terulang lagi. Tolong kalian semua pastikan Candice nggak tahu soal ini," lanjutnya.
Terry tahu Candice tidak bisa menerima kebohongan atau hubungan yang ambigu. Jika Candice mengetahui bahwa dirinya bersikap mesra dengan wanita lain, dia pasti akan meminta putus.
Namun, Vivian tidak bisa dia abaikan begitu saja. Vivian pulang ke negara ini dengan kondisi sakit parah dan keinginannya yang terakhir adalah menikah dengan Terry.
Sebagai wanita yang pernah dia cintai, mana mungkin Terry tega mengabaikannya? Selama Candice tidak tahu, semuanya akan baik-baik saja. Setelah Vivian meninggal, dia tetap akan menikahi Candice dan menjaganya seumur hidup.
Vivian menyandarkan diri di pelukan Terry dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit, lalu berkata dengan tenang, "Aku nggak keberatan. Aku yang meninggalkanmu duluan. Kamu bersedia memberikan waktu ini untukku, aku sudah sangat bersyukur."
"Aku mencintai Terry dan aku juga nggak ingin menyakiti pacarnya. Jadi kalian semua harus bantu Terry merahasiakan ini, ya!" lanjut Vivian sambil tersenyum.
Candice berdiri terpaku di luar pintu dengan wajahnya yang sudah sepucat kertas.
Kata-kata mereka seperti belati tajam yang menusuk hati Candice dan meninggalkan luka menganga. Setiap kalimat menorehkan luka baru, membuatnya merasakan sakit yang amat dalam hingga seolah-olah seluruh isi tubuhnya hancur berkeping-keping.
Mendengar pilihan Terry, Candice merasa jijik dan mual. Dia tidak pernah menyangka, pria yang telah dia cintai selama lima tahun ini ternyata sebusuk itu!
Candice bersandar di dinding, tubuhnya gemetar hebat dan kesakitan menyelimuti dirinya.
Tenaga dalam tubuhnya terasa habis, dia perlahan terduduk lemas di lantai. Entah setelah berapa lama berlalu, dia akhirnya berusaha bangkit dan berjalan menuju tangga dengan tatapan kosong.
Namun, sebelum sempat melangkah jauh, tubuhnya melemah. Akhirnya, dia terjatuh dan terguling dari tangga hingga kehilangan kesadaran.
Bab 5
"Ada orang jatuh dari tangga! Cepat panggil bantuan!"
Teriakan seseorang terdengar di telinga Candice, disusul dengan kerumunan yang segera berkumpul di sekitarnya.
Sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, dia melihat Terry dan teman-temannya berlalu pergi dari sisi kerumunan. Mereka hanya melirik sekilas tanpa sedikit pun rasa peduli. Bagaimana mereka tahu bahwa orang yang tergeletak di lantai dan dikelilingi kerumunan adalah Candice yang telah mereka khianati?
....
Candice terbangun di rumah sakit.
Seorang perawat sedang mengganti perbannya. "Kamu sudah sadar?" tanya perawat itu dengan ramah.
"Kenapa aku ada di sini?" tanya Candice dengan suara lemah.
"Oh, kamu pingsan karena gula darah rendah. Ada seseorang yang menemukanmu dan membawamu ke sini, tapi dia sudah pergi. Ada nomor keluarga yang bisa kuhubungi?"
"Nggak usah," Candice menggeleng pelan. Mendengar nama Terry saja sudah membuatnya merasa mual.
Dia berjalan perlahan meninggalkan ruang perawatan untuk menuju loket pembayaran. Langkahnya masih berat, tubuhnya lemah, tetapi telinganya menangkap percakapan beberapa perawat.
"Kamu dengar, nggak? Tadi malam ada pasangan yang dibawa ke sini dari bar. Katanya mereka jatuh dari sofa saat sedang, ya tahu lah, terus menabrak botol bir. Tubuh mereka penuh dengan pecahan kaca."
"Iya, aku lihat juga tadi! Situasinya kelihatan parah banget. Nggak nyangka anak muda zaman sekarang bisa se-ekstrem itu."
"Dan si cowoknya kayaknya terkenal, loh. Kayak pernah lihat dia di TV!"
"Benar juga, aku merasa wajahnya nggak asing. Namanya siapa, ya? Kayaknya Terry ...."
Langkah Candice terhenti. Sebelum sempat bertanya lebih jauh, dia melihat dua sosok yang sangat dikenalnya berjalan dari kejauhan.
Para perawat langsung menunduk dan menjauh sambil berbisik, "Itu mereka! Wajah mereka bagus, tapi kelakuannya parah banget."
Candice terpaku di tempat. Kakinya terasa seberat timah hingga tidak mampu bergerak.
Di saat yang sama, Terry juga melihatnya. Ekspresi Terry berubah, dia langsung melepaskan tangan yang tadi menopang lengan Vivian.
"Candice, kenapa kamu di sini?" Terry segera berlari ke arahnya, matanya dipenuhi rasa cemas saat dia mengamati Candice dari atas ke bawah. "Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali. Kenapa nggak ngasih tahu aku?"
"Kamu sendiri? Lagi ngapain sama wanita ini?" Candice menghindari sentuhan Terry dengan tenang.
Vivian dengan santai mengulurkan tangan ke arah Candice. "Halo, aku Vivian, aku adalah ...." Dia sengaja memperpanjang akhir kalimatnya, tetapi tidak melanjutkannya.
Terry buru-buru menambahkan, "Cuma teman baik."
Wajah Vivian berubah, tapi dia tidak menyerah. "Senang bertemu denganmu. Aku akan menikah tanggal satu bulan depan. Aku harap kamu bisa datang."
Mendengar ucapannya, wajah Terry langsung muram. Tatapannya tajam seperti elang yang memelototi Vivian.
"Vivian, dia nggak dekat sama kamu. Untuk apa kamu mengundangnya ke pernikahanmu?"
"Dia mungkin nggak dekat sama aku, tapi dia sangat dekat denganmu. Dan aku juga dekat denganmu. Jadi, bukankah kita semua saling kenal?"
Mendengar provokasinya yang terang-terangan, Candice tersenyum tipis, lalu menoleh ke Terry. Dengan suara lembut, dia bertanya, "Terry, bukankah tanggal satu bulan depan itu adalah jadwal pernikahan kita? Kamu bilang ada urusan hari itu. Jangan-jangan, kamu mau menghadiri pernikahannya?"
Terry langsung panik, seluruh tubuhnya terlihat gelisah. Dia buru-buru menggeleng. "Tentu saja bukan! Hari itu aku ada urusan perusahaan, aku harus keluar negeri. Jangan mikir macam-macam."
"Oh, begitu?" Kebohongan yang tergambar jelas di wajahnya tidak luput dari Candice. Namun, dia tidak ingin berdebat lebih lanjut. "Maaf, aku nggak bisa datang. Aku sibuk hari itu."
"Serius? Pas sekali?" tanya Vivian dengan tersenyum penuh arti.
"Ya, kebetulan sekali. Karena aku juga akan menikah di hari itu."
Begitu Candice selesai berbicara, Terry langsung menatapnya dengan cemas. "Apa maksudmu, Candice? Bukankah pernikahan kita ditunda?"
Bab 6
Melihat ekspresi tegangnya, Candice menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri, lalu berkata, "Nggak ada apa-apa, aku cuma asal bicara. Aku sibuk hari itu."
Dia berbalik hendak pergi dan Terry ingin mengejarnya, tetapi Candice menghentikannya. "Kamu di sini saja temani temanmu berobat. Meninggalkannya sendirian itu nggak baik. Aku bisa pulang sendiri, kamu nggak perlu mengkhawatirkanku."
Terry menoleh melihat Candice pergi, hatinya mendadak terasa sakit.
Melihat Terry yang tampak khawatir pada Candice, Vivian berjongkok sambil mengeluh, "Terry, aku sakit sekali. Seluruh tubuhku sakit. Temani aku pulang, ya?"
Terry yang sedang kesal karena sikap Candice, dengan tegas menepis Vivian. "Tempatkan dirimu dengan benar, jangan lagi memprovokasinya."
Candice kembali ke rumah dan melanjutkan berkemas. Dia merasa tidak bisa tinggal di tempat itu lagi walau sedetik pun.
Untungnya, barang-barangnya tidak terlalu banyak. Dalam waktu singkat, satu koper besar sudah penuh terisi barang-barang miliknya.
Setelah selesai berkemas, dia menuruni tangga sambil membawa kopernya. Di meja ruang tamu, dia melihat buket mawar yang Terry berikan kemarin. Dia menyeringai dingin, mengambil bunga itu, dan membuangnya ke tempat sampah.
Pelayan yang melihat Candice membuang bunga itu bertanya dengan bingung, "Nona, bukankah ini bunga dari Tuan Terry? Kenapa dibuang?"
Candice menjawab tanpa ekspresi, "Barang bekas orang lain, aku jijik."
"Ini bunga segar, kenapa jadi barang bekas?" Pelayan itu tidak paham dan bingung dengan tindakannya.
Candice malas menjelaskan. Dia naik kembali ke atas, mengambil pakaian dan tas yang pernah diberikan Terry, lalu memasukkannya ke dalam kantong besar.
"Buang semuanya."
"Buang?"
Pelayan itu tertegun. "Nona, bukankah dulu Anda sangat menyayangi barang-barang ini? Bahkan Anda nggak tega memakainya karena Tuan Terry yang memberikan."
"Apa omonganku kurang jelas?" Dia juga mengambil perhiasan yang diberikan Terry. "Donasikan saja."
"Ini semua hadiah dari Tuan Terry, nilainya sangat mahal."
"Aku bilang donasikan," jawab Candice tegas.
Candice sudah bicara, jadi pelayan tidak berani membantah. Dia segera membawa barang-barang itu pergi.
Setelah semuanya beres, Candice mengambil ponselnya dan membeli tiket pesawat. Dia memutuskan untuk pulang kampung. Besok dia akan pergi.
Setelah memesan tiket, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Itu dari nomor tak dikenal.
Candice membukanya dan melihat sebuah foto yang penuh nuansa menggoda dan vulgar. Foto itu adalah gambar Terry dan Vivian.
[ Candice, kalau kamu bukan orang bodoh, kamu pasti tahu bahwa hubungan aku dan Terry nggak sederhana. Kamu penasaran kenapa kami di rumah sakit, 'kan? Itu karena kami terluka waktu lagi bercumbu di bar.]
[ Lagi pula, aku akan menikah bulan depan dan mempelai pria itu bukan orang lain, melainkan pacarmu sendiri, Terry. Aku adalah cinta pertamanya, orang yang paling dia cintai. Kamu hanyalah pengganti sementara selama lima tahun ini saat dia merasa kesepian. ]
Setiap kata dalam pesan itu penuh dengan nada mengejek.
Melihat foto dan teks tersebut, Candice tetap tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya. Bagaimanapun, lima tahun adalah waktu yang panjang. Tidak mungkin tidak ada artinya.
Tangan Candice yang memegang ponsel gemetar, sementara air mata mengalir deras di wajahnya.
Pada saat itu, Terry pulang.
Dia memeluk Candice dari belakang, berbisik pelan, "Candice, kenapa kamu nangis lagi? Aku sudah pulang. Aku dan dia benar-benar nggak ada apa-apa."
"Semalam aku minum terlalu banyak sama teman-teman, jadi aku nggak pulang. Vivian itu cuma temanku yang baru pulang dari luar negeri. Aku kebetulan bertemu dengannya pagi ini. Jangan terlalu dipikirkan."
Mendengar penjelasannya, Candice menghapus air matanya dan mematikan ponselnya.
"Aku tahu." Dia mendorong Terry dengan tenang dan menatapnya dalam-dalam.
Wajah itu, masih terlihat sama seperti lima tahun lalu ... bersih, tulus, tampan, dan cerah.
Namun, hatinya? Kenapa bisa berubah seperti ini?
Bab 7
Candice tidak bisa menahan diri, dia melayangkan tamparan keras ke wajah Terry. Terry terkejut dengan tamparan itu, tetapi hati yang awalnya gelisah malah menjadi tenang.
"Kalau kamu kesal, pukul saja aku beberapa kali lagi. Aku nggak apa-apa, asalkan kamu nggak marah."
Betapa "tulusnya" kata-kata itu, tetapi juga betapa menjijikannya. Candice langsung melayangkan tamparan kedua ke wajahnya. Itu karena dia sendiri yang memintanya.
"Terry, kamu masih ingat apa yang pernah aku bilang? Apa pun bisa aku maafkan, tapi kalau kamu mengkhianati aku, aku pasti akan menikah sama pria lain."
Wajah Terry seketika berubah pucat.
"Candice, apa yang kamu bicarakan? Orang yang aku pilih untuk menghabiskan hidupku sampai tua cuma kamu. Aku akan selalu mencintaimu, dan itu nggak akan pernah berubah!"
Paling mencintainya, tetapi malah bercumbu dengan wanita lain sampai harus dirawat di rumah sakit.
Paling mencintainya, tetapi menunda pernikahan untuk memenuhi keinginan wanita lain dan menjadikannya penerima barang bekas.
Candice menatap Terry, seolah-olah ingin melihat ke dalam hatinya, mencari tahu apa yang sebenarnya ada di pikirannya. Pada akhirnya, dia hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa.
"Aku mengerti."
Terry mencoba memeluknya sekali lagi, tetapi Candice mendorongnya. Baru saat itu Terry melihat koper di sampingnya. Hati yang baru saja tenang langsung kembali gelisah.
Dia meraih lengan Candice dan bertanya, "Koper siapa ini? Kamu mau ke mana?"
"Ibuku bilang, karena aku sebentar lagi menikah, aku harus pulang sebentar."
"Gitu, ua?"
Terry menghela napas lega. "Aku mengerti, beberapa daerah memang punya kebiasaan seperti itu. Sebelum menikah, pengantin pria dan wanita nggak boleh bertemu. Walaupun pernikahan kita ditunda, kalau kamu ingin pulang, tinggal lebih lama juga nggak apa-apa."
"Ya."
Candice tersenyum tipis dan tidak berkata apa pun lagi. Dia mengambil kopernya untuk pergi.
Terry memegang kopernya. Merasa tidak rela berpisah, dia menawarkan untuk mengantar Candice. "Aku antar kamu pulang, ya."
Candice menatapnya dengan senyum sinis. "Nggak usah. Bukankah orang bilang, pria sebaiknya bersenang-senang sebelum menikah? Terry, kamu juga butuh, 'kan?"
Dulu, dia benar-benar percaya pada Terry. Namun sekarang, dia hanya bisa membayangkan bahwa setelah dia pergi, Terry mungkin langsung membawa Vivian ke rumah ini.
"Aku orang seperti itu?" Terry kembali berjanji, "Candice, aku nggak akan melakukan apa pun yang mengecewakanmu. Setelah kamu pergi, aku akan menjaga diriku sampai hari kita menikah."
Dia masih berbohong! Bahkan ketika Candice sudah mau pergi, dia tetap berusaha menipunya!
Candice merasa lelah. Hatinya telah sepenuhnya kecewa pada Terry. Dia perlahan menundukkan kepala, menarik napas panjang, seperti seseorang yang telah menyerah pada segala harapan.
"Baiklah, jaga dirimu. Aku pergi."
Candice mendorong Terry menjauh, tidak menoleh lagi, dan meninggalkan rumah itu tanpa rasa ragu. Setelah akhirnya tiba di rumah orang tuanya, mereka sangat senang dan langsung bertanya banyak hal.
"Kamu akhirnya pulang juga. Pihak Keluarga Jaufar sudah setuju untuk menikahkan kalian pada tanggal satu bulan depan. Tapi bukankah sebelumnya kamu bilang tanggal itu mau menikah sama Terry? Kenapa tiba-tiba calon pengantinnya berubah?"
"Iya, Nak, menikah itu bukan main-main. Kalau kamu benar-benar suka siapa pun, menikahlah dengannya. Kami nggak keberatan."
Candice merasa sangat lelah, dia tidak ingin menjelaskan apa pun.
"Ayah, Ibu, aku sangat lelah. Aku ingin ke kamar dan tidur." Dia menyeret tubuh yang lelah menaiki tangga. Kedua orang tua itu memahami suasana hatinya yang buruk dan tidak bertanya lebih jauh.
"Baiklah, kamu istirahat dulu. Sebelum pernikahan, Ayah akan mencari waktu supaya kamu bisa bertemu dulu sama anak Keluarga Jaufar itu, ya?"
"Nggak perlu, kita ketemu waktu nikah saja."
Lagi pula, keputusan sudah dibuat. Bertemu atau tidak sekarang sudah tidak penting lagi.
Bab 8
Setelah kembali ke kamarnya, Candice berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit. Air matanya tiba-tiba mengalir deras dari matanya.
Lima tahun berlalu, dia tidak pernah membayangkan suatu hari akan berpisah dengan Terry, apalagi menikah dengan pria lain. Dalam hitungan hari, semuanya berubah drastis.
Ponselnya yang ada di samping berbunyi beberapa kali. Dia mengambilnya dan menerima beberapa pesan.
[ Candice, tebak aku di mana? ]
Pesan itu dari Vivian, disertai dengan beberapa foto.
Itu adalah rumahnya dan Terry! Ada juga foto Vivian dan Terry yang sedang bermesraan di atas ranjang, tepat di ranjang pernikahan mereka.
[ Setelah kamu pergi, Terry langsung membawaku masuk ke rumah kalian dengan penuh semangat dan memerintahkan semua pelayan untuk jangan kasih tahu kamu! ]
[ Ranjang pernikahan kalian benar-benar nyaman. Aku dengar sprei dan selimut ini kamu yang pilih sendiri, ya? Motif burung pasangannya benar-benar mirip seperti aku dan Terry!]
Kata-kata provokatif dan foto-foto dari Vivian tidak lagi membuat Candice tersulut emosi. Dia hanya melihatnya dengan tenang, lalu mematikan ponselnya.
Tidak apa-apa. Bagaimanapun, dia tidak akan pernah kembali ke sana lagi. Beberapa hari berikutnya, orang tuanya sibuk mengatur persiapan pernikahan untuknya. Candice juga sangat sibuk. Dia diajak ke sana kemari untuk mencoba gaun setiap hari dan membeli berbagai barang.
Semua hal tentang Terry hampir selalu dia dengar dari Vivian. Vivian terus mengirimkan foto dan pesan, melaporkan semua yang terjadi antara dia dan Terry.
Candice hanya menganggapnya sebagai bahan hiburan, lalu menyimpan foto-foto itu satu per satu dan mengambil tangkapan layar dari setiap pesan.
Sementara itu, Terry juga terus berusaha menghubunginya. Dia sering meneleponnya, tetapi Candice tidak pernah menjawab.
Terry juga mengirimkan banyak hadiah lewat jasa pengiriman. Namun, Candice bahkan tidak melihatnya dan langsung membuang semuanya.
Akhirnya, menjelang hari pernikahan, Terry mulai merasa ada yang aneh. Di pesta malam bujangnya, dia mengeluh kepada teman-temannya.
"Belakangan ini Candice nggak mau menghiraukanku dan nggak jawab teleponku. Jangan-jangan dia tahu sesuatu?"
"Mana mungkin? Kami menyembunyikan semuanya dengan sangat baik. Dia nggak mungkin tahu. Tenang saja, besok menikahlah sama Vivian."
"Iya, temani Vivian baik-baik. Lagi pula, waktunya dia tinggal sudah nggak lama, 'kan? Setelah satu bulan ini terlewati, Candice pasti akan kembali padamu dengan patuh."
Terry masih merasa sedikit khawatir, tetapi hari pernikahannya dengan Vivian sudah tiba, dan dia tidak bisa memikirkan hal lain.
Pagi berikutnya, Candice duduk di depan cermin di kamarnya, sementara ibunya menyisir rambutnya dengan mata sembap.
"Anakku, hari ini kamu akan menikah."
"Bu, menikah itu hal yang baik, kenapa harus menangis?"
"Bagaimana ibu nggak menangis? Ibu nggak rela melepaskanmu."
Sambil terisak, ibunya berkata, "Tapi untungnya, Keluarga Jaufar adalah keluarga yang kita kenal baik. Gian itu anak baik. Ibu sudah beberapa kali ketemu sama dia."
"Dia baru saja kembali dari ibu kota. Kabarnya, dia adalah seorang perwira militer, tampan pula, dan latar belakangnya nggak kalah dari Terry."
Sambil berbicara, ibunya bersiap mengambil ponsel untuk menunjukkan foto Gian. Namun, Candice menghentikannya. "Sudahlah, Bu. Sebentar lagi aku juga akan bertemu orangnya langsung, kenapa harus lihat fotonya?"
Candice melirik jam di dinding. Pukul tujuh pagi. Sudah waktunya dia berangkat ke hotel. Terry seharusnya juga sudah dalam perjalanan sekarang.
Saat itu pula, Candice merasa inilah waktu yang tepat untuk memberi tahu semua orang bahwa dia akan menikah. Dia mengambil ponselnya dan memposting di media sosial.
[ Hari ini aku menikah, doakan aku ya. ]
Tak butuh waktu lama, komentar mulai berdatangan.
[ Selamat selamat! Akhirnya cinta lima tahun kalian berbuah manis. ]
[ Akhirnya menikah sama Terry, aku iri banget sama kalian! ]
[ Semoga bahagia selalu sama Terry ya, selamanya! ]
Candice membaca komentar-komentar itu dengan senyum getir di bibirnya.
Lihatlah, semua orang mengira dia akan menikah dengan Terry, padahal Terry akan menikahi kekasih lamanya, Vivian. Sementara itu, dia sendiri akan menikah dengan pria yang hampir tidak dia kenal.
Di sisi lain, sejak pagi, Terry merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Seperti ada firasat buruk yang mengganggunya. Teman-temannya mencoba menenangkannya, mengatakan semuanya baik-baik saja dan Terry hanya terlalu banyak berpikir.
Akhirnya, Terry melanjutkan perjalanan dengan mobil pengantin untuk menjemput Vivian dan menuju hotel yang semula dipesan untuk pernikahan dengan Candice.
Begitu tiba di hotel, beberapa teman lama yang sudah lama tidak dia temui menghampirinya sambil tertawa.
"Selamat, selamat, Terry. Akhirnya menikah juga!"
"Iya, mana Candice? Kok belum kelihatan?"
"Candice?" Terry dengan canggung menjawab, "Hari ini, yang aku nikahi bukan dia."
"Ah, jangan bercanda!" Teman itu tampak bingung.
"Nggak mungkin. Tadi pagi, Candice memposting di media sosial kalau dia akan menikah hari ini. Kalau bukan sama kamu, lalu sama siapa?"
Teman lain menimpali, "Nggak masuk akal. Bukankah tanggal hotel ini sesuai sama tanggal pernikahanmu? Jadi, bagaimana bisa dia menikah sama orang lain?"
Bab 9
Terry terpaku. "Kamu bilang apa? Dia memposting di media sosial, bilang hari ini dia akan menikah?" Dia langsung merampas ponsel temannya. Begitu melihat postingan Candice, pikirannya langsung kosong.
Tidak mungkin! Dia akan menikah? Sama siapa?
Saat itu juga, sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Dari dalam mobil, keluar seorang wanita dengan gaun pengantin. Orang itu tak lain adalah Candice.
Melihat Candice, ekspresi Terry seketika berubah. Dia berdiri di tempat dengan gugup dan bertanya, "Candice, kenapa kamu di sini?"
Candice turun dari mobil, menatap pria di depannya dengan senyum sinis di bibirnya. "Aku juga mau tanya, kenapa kamu ada di sini?"
Tatapannya menyapu Vivian yang berdiri di samping Terry. Vivian mengenakan gaun pengantin milik Candice, membawa buket bunga yang seharusnya miliknya, dan berdiri di tempat yang seharusnya menjadi milik Candice.
Melihat Candice, wajah Vivian langsung berubah. Dia sama sekali tidak menyangka Candice akan datang dengan mengenakan gaun pengantin untuk "mengacaukan" pernikahannya.
"Aku ...."
Terry tidak tahu harus berkata apa.
"Candice! Kamu pasti sudah tahu hari ini aku akan menikah sama Terry, jadi kamu mengenakan gaun pengantin untuk datang ke sini. Apa kamu ingin merebut Terry dariku?"
Air mata Vivian langsung mengalir. "Aku mohon, jangan hancurkan pernikahanku, ya? Aku nggak akan hidup lama. Aku akan segera mati. Setelah aku mati, Terry akan sepenuhnya jadi milikmu. Tapi sekarang, tolong, jangan rebut dia dariku!"
Vivian menangis tersedu-sedu. Namun, melihat Candice yang tetap tenang dan tidak terpengaruh, Vivian langsung berlutut di tanah.
Kerumunan yang berkumpul di sekitar mereka mulai berkomentar. Melihat adegan ini, banyak yang mengira Candice adalah orang ketiga. Namun, Candice hanya merasa adegan ini sangat lucu.
"Candice, aku benar-benar mencintai Terry, tapi aku mengidap kanker. Keinginanku yang terakhir adalah menikah sama Terry sebelum aku meninggal. Aku mohon, tolong biarkan aku menikah dengannya."
Terry akhirnya tidak tahan lagi dan membantu Vivian berdiri. "Vivian, jangan begini. Candice itu wanita yang baik hati, dia pasti akan merelakan ini untukmu."
Terry menatap Candice, lalu berjalan mendekatinya dan meraih tangannya.
"Maafkan aku, Candice. Aku nggak bermaksud menyembunyikan ini darimu. Kondisi Vivian semakin parah dan aku nggak bisa mengabaikan keinginannya yang terakhir. Kamu tenang saja, pulang dulu. Setelah aku menyelesaikan pernikahan ini dengannya, aku akan kembali padamu."
Candice melepaskan tangannya dengan dingin. Ekspresinya tetap datar saat berkata, "Terry, apa yang membuatmu berpikir bahwa aku di sini hari ini untukmu?"
"Candice, jangan bertingkah seperti ini. Aku tahu hari ini adalah salahku. Setelah aku pulang, kamu bebas melakukan apa pun yang kamu mau!"
"Benar, Candice." Salah satu teman Terry muncul entah dari mana dan ikut berbicara, "Situasinya sudah seperti ini. Kamu relakan saja Terry untuk menikah sama Vivian."
Semua teman Terry mulai bergantian bicara, mencoba menenangkan Candice.
"Terry tetap mencintaimu. Dia melakukan ini hanya karena rasa tanggung jawab. Candice, kamu orang yang baik hati. Pulanglah, ya."
Candice memandang sekumpulan pria di depannya, lalu tertawa dingin. Mereka sungguh luar biasa murah hati. Begitu murah hati hingga meminta dia menerima bahwa pacarnya menikah dengan wanita lain dan memintanya untuk tersenyum sambil mundur.
Sayangnya, Candice tidak akan melakukan itu.
"Aku ulangi lagi, aku datang ke sini hari ini bukan untukmu."
Setelah berkata demikian, Candice mengangkat kakinya dan berjalan menuju aula pernikahan. Namun, Vivian langsung menghalangi jalannya dan mulai menangis histeris.
"Candice, kamu benar-benar nggak mau membiarkanku menikah, ya? Kamu ingin melihatku mati, 'kan?"
Usai bicara, Vivian memegang gaun pengantinnya dan berlari ke arah tiang di sisi aula dengan nekat.
Bab 10
Semua orang terkejut. Mereka melihat darah di dahi Vivian menodai gaun pengantinnya yang putih bersih.
"Vivian!" Hal ini membuat keraguan dan rasa bersalah Terry sirna. Dia memeluk Vivian, bertanya dengan sedih, "Untuk apa kamu begitu?"
"Terry, kamu tahu harapan terbesarku di kehidupan ini adalah menikah denganmu. Kak Candice nggak merestui hubungan kita, jadi lebih baik aku mati. Tenang saja, aku nggak menyalahkanmu atau Kak Candice. Ini salah nasibku yang terlalu buruk."
Usai berbicara, Vivian bahkan muntah darah. Hal ini membuat tatapan Terry kepada Candice menjadi semakin dingin. "Candice, kamu mau melihatnya bunuh diri? Sejak kapan kamu menjadi sekejam ini?"
Candice merasakan sakit di hatinya mendengar pertanyaan itu. Ternyata di mata Terry, dia adalah orang seperti itu. Namun, tidak masalah lagi karena dia sudah muak dengan permainan ini.
"Terry, upacara pernikahan sudah mau dimulai. Sebaiknya kalian cepat masuk," ujar seseorang. Terry lantas menggendong Vivian, lalu melirik Candice dan pergi tanpa menoleh.
Seseorang maju untuk menasihati Candice, "Candice, Terry bilang Vivian nggak bisa hidup lama lagi. Kamu jangan buat keributan lagi. Pulang saja. Ada banyak yang melihat di sini."
"Sudah kubilang, hari ini aku datang bukan untuk Terry. Hari ini aku nikah di aula di samping Terry. Kalau ada waktu, kalian mampir saja nanti." Usai berbicara, Candice melangkah masuk ke aula.
Semua orang bertatapan, tidak tahu harus bagaimana membujuk Candice. "Terry ini hebat sekali ya. Dua wanita memakai gaun pengantin untuk mendapatkan perhatiannya."
Ketika Candice masuk, kerabat sudah datang, tetapi mempelai prianya belum terlihat. Ibunya pun agak cemas. "Gian pasti datang, 'kan?"
"Jangan bodoh. Keluarga Jaufar saja datang, mana mungkin Gian nggak datang? Dengar-dengar semalam dia sudah dalam perjalanan pulang. Mungkin sebentar lagi sampai."
Orang tua Candice tampak gelisah, tetapi Candice hanya duduk di tempatnya dengan wajah datar. Faktanya, Candice juga cemas. Dia akan menikah dengan pria asing yang tidak pernah ditemuinya. Candice bahkan tidak tahu Gian tampan atau tidak, pendek atau tinggi.
Menyesal tidak? Tentu tidak. Lagian, dia sudah tidak muda lagi dan sudah waktunya menikah. Jika pria itu bukan orang yang dicintainya, menikah dengan siapa pun sama saja.
Di aula samping, terdengar suara pembawa acara. Candice mendongak untuk melihat ke arah itu. Saat ini, Terry berdiri di depan pembawa acara, tetapi tampak tidak fokus. Seluruh pikirannya ada pada Candice. Entah Candice sudah pulang atau belum, entah Candice bisa memaafkannya atau tidak.
"Vivian, apa kamu bersedia menikah dengan Terry? Baik itu kaya, miskin, sehat, atau sakit, kamu akan terus mencintai dan menjaganya?"
Vivian menyahut dengan tidak sabar, "Aku bersedia!"
"Terry, apa kamu bersedia menikahi Vivian? Kamu akan menjaganya seumur hidup dan hanya punya dia di dalam hatimu?"
Terry sedang memikirkan Candice. Karena terlalu fokus, dia tidak mendengar pertanyaan pembawa acara.
"Terry, apa kamu bersedia menikahi Vivian?" tanya pembawa acara sekali lagi, tetapi tidak ada tanggapan dari Terry.
Vivian lantas mengernyit, sementara orang-orang di bawah mulai bergosip.
"Terry!" Vivian menjulurkan tangan untuk menarik pakaian Terry.
"Ada apa?"
"Pembawa acara tanya kamu sesuatu."
"Oh, maaf."
Terry tersadar dari lamunannya. Dia hendak bertanya pertanyaan apa itu, tetapi orang di bawah tiba-tiba berseru, "Ternyata Candice nggak bercanda. Dia benaran nikah hari ini, di aula sebelah!"
"Serius? Kamu nggak bohong?"
"Kita pergi lihat saja. Apa yang dilakukan pasangan ini sih? Mereka pacaran selama 5 tahun, tapi nikahnya malah sama orang yang berbeda. Nggak masuk akal sekali."
Usai berbicara, beberapa orang pun pergi. Entah mengapa, Terry yakin Candice hanya membuat onar, tetapi dia tetap panik.