Đang tải thông tin quảng bá...
Cinta Romantis Bagaikan Buih
“Nona Chinta, anda benaran mau ganti nama? Kalau sudah diganti, nanti ijazah, kartu identitas dan paspor, semuanya juga harus diganti.” Chinta Luna mengangguk kepalanya: “Iya benar.” Staffnya ...
Chương (1)
第1章
“Nona Chinta, anda benaran mau ganti nama? Kalau sudah diganti, nanti ijazah, kartu identitas dan paspor, semuanya juga harus diganti.”
Chinta Luna mengangguk kepalanya: “Iya benar.”
Staffnya masih menasehatinya: “Orang dewasa ganti nama sangat ribet, namamu yang sekarang juga enak didengar, mau nggak dipertimbangkan lagi?”
“Enggak lagi.”
Chinta menandatangani formulir penggantian nama: “Terimakasih.”
“Baik, namanya mau diganti jadi Cahya Arjuna, benar?”
“Iya benar.”
Cahya Arjuna, adanya cahaya dalam perjalanan jauh.
Bab 1
“Nona Chinta, anda benaran mau ganti nama? Kalau sudah diganti, nanti ijazah, kartu identitas dan paspor, semuanya juga harus diganti.”
Chinta Luna mengangguk kepalanya: “Iya benar.”
Staffnya masih menasehatinya: “Orang dewasa ganti nama sangat ribet, namamu yang sekarang juga enak didengar, mau nggak dipertimbangkan lagi?”
“Enggak lagi.”
Chinta menandatangani formulir penggantian nama: “Terimakasih.”
“Baik, namanya mau diganti jadi Cahya Arjuna, benar?”
“Iya benar.”
Cahya Arjuna, adanya cahaya dalam perjalanan jauh.
Seperti rencana masa depan yang dibuatin buat dirinya sendiri.
Dia mau meninggalin sini.
Chinta bertanya: “Permisi, apakah aku sekarang bisa pergi ganti nama paspor?”
“Bisa, ini bukti penggantian nama, kamu ambil ini ke lantai bawah sudah bisa ganti nama di paspor.”
Chinta dengan gerakan cepat menggantikan namanya di paspor.
Tetapi yang lainnya, ijazah dan kartu keluarga tidak digantinya.
Satu minggu lagi dia akan menggunakan paspor dan pergi, identitas sebelumnya ditinggalin saja, dia sudah tidak perlu.
Membawa paspor barunya keluar dari gedung layanan, seberangnya adalah bangunan ikon kota B.
Layar besar di gedung itu sedang menyiarkan wawancara Ravi Kaden CEO dari Perusahaan Kaden Global.
MCnya sangat peka menyadari gerakan kecilnya, dengan senyum bertanya: “Pak Ravi, aku lihat anda terus memegang cincin peraknya, tapi...sepertinya itu cincin yang sangat biasa, apakah ada yang spesialnya?”
Ravi senyum dengan lembut, dan mengangkat tangannya, “Ini cincin nikahku.”
“Ah? Maaf sekali, aku kira dengan hartamu sekarang, cincin nikahnya pasti cincin berlian, dan karatnya akan besar.”
Ravi menjawab: “Cincin nikah ini aku yang buatin sendiri, memoles perlahan-lahan dan bagian dalamnya ukir namaku dan istriku.”
“Wah, benaran ada 2 nama, satunya RK dan ...”
Ravi melengkapinya: “CL, istriku namanya Chinta Luna.”
“Wah, benaran iri sama istrimu, di kehidupan sebelumnya dia pasti menyelamatkan galaksi makanya bisa menikah dengan Pak Ravi.”
Ravi hanya bilang: “Sebenarnya aku yang menyelamatkan galaksi makanya bisa menikahinya.”
Orang jalanan pada mengeluarkan suara yang iri.
Hanya tokoh utama dan kejadian.....
Chinta senyum dengan menyindir.
Dulunya, dia dan Ravi Kaden sungguh saling mencintai, dari seragam sekolah sampai gaun nikah, mereka bersama selama 15 tahun.
Di pandangan teman sekolah dan guru, mereka adalah sepasang yang penuh dengan cinta.
Sampai di 2 bulan yang lalu.
Chinta menerima foto yang dikirim orang nggak kenal.
Wanita itu kelihatannya baru 20an tahun, tapi memakai stoking yang menggoda dan lingerie. Dari lehernya sampai depan dadanya penuh dengan kecupan.
Tidak perlu dipikir pun tahu, dia baru melakukan pertempuran penuh kasih sayang.
Dia melakukan pose V ke depan kamera.
Di jari telunjuknya, ada 1 cincin perak yang kelihatan kebesaran, harusnya model cowok.
Di atas cincinnya, ada ukiran nama: RK&CL.
Lalu, dia di kantor Ravi Kaden pernah melihat wanita ini.
Namanya Nanda 21 tahun baru lulus kuliah, dia adalah asisten pribadi Ravi.
Saat itu, sebenarnya Chinta sedikit bingung.
Dia mau sekali masuk ke kantor Ravi dan menanyainya: “Asisten pribadi, apakah seks juga termasuk?”
Tapi dia menyerah.
Foto itu, tubuh Nanda penuh dengan kecupan, sudah ada jawaban yang sangat jelas.
Chinta keluar dan meninggalkan sekumpulan orang yang masih kaget dan iri, pergi ke toko pembuatan perhiasan.
Saat melepaskan cincin dari jari manisnya, hatinya sangat sakit.
“Nona, perhiasan apa yang mau anda buat?”
“Cincin ini, bantu aku leburin.”
“Cincin ini ada ukiran harusnya mempunyai makna spesial, benaran mau leburin?”
“Iya, tolong dipercepat.”
Setengah jam kemudian, Chinta membawa pulang satu kotak perhiasan yang sangat cantik.
Saat Ravi pulang sudah malam jam 10an.
Ravi membawa satu ikat bunga segar: “Maaf Chinta, belakangan ini sibuk kerja tidak menemanimu. Ini bunga kesukaaan freesia, suka nggak?
Saat Ravi mendekati, Chinta mencium adanya bau parfum wanita.
Kepalanya putar sedikit dan melihat di jakunnya ada bekas gigitan kecil。
Bagian kerah kemejanya juga ada bekas lipstik wanita.
Merah merah, sangat jelas.
Chinta senyum dingin, kamu itu sibuk kerja, atau sibuk di Nanda sana bercocok tanam?
“Kenapa tidak bicara?”
Chinta mendorongnya: “Hanya sedikit lelah.”
“Aku gendong kamu pergi tidur?”
Sambil ngomong, Ravi sudah menurunkan badannya, siap-siap untuk menggendong.
Chinta mendorongnya lagi: “Kamu juga sudah capek, buruan mandi dan istirahatlah.”
Ravi mengulurkan tangannya ingin bergandeng, tapi menyadari sesuatu: “Chelsia, mana cincin nikahmu?”
Bab 2
“Sudah kulepas.”
“Itu buatanku sendiri, bukti cinta kita, kenapa dilepas?”
Chinta dengan tidak serius berkata: “Belakangan ini gendutan, ukurannya sudah tidak cocok.”
Muka Ravi baru baikan dan kembali senyum: “Kalau gitu, lain hari aku bawain ke toko perhiasan untuk perbaiki ukuran.”
“Nanti lihat lagi aja.”
“Oh iya, atas meja itu apa?”
Ravi menunjuk ke kotak perhiasan yang di atas meja, sedikit terkejut: “Chinta, ini kado yang kamu kasih ke aku?”
Chinta mengangguk kepalanya: “Iya.”
Dalam itu adalah perak kecil.
Chinta meleburkan cincin nikah mereka dan meletakkannya di sana.
Ravi malah sangat senang: “Hari ini hari apa? Chinta menyiapkan hadiah untukku?”
Hati Chinta makin dingin.
“Hari ini...adalah hari anniversary pernikahan kita.”
Muka Ravi seketika muram.
Dia membujuknya untuk senang: “Maaf Chinta, belakangan ini terlalu sibuk kerja, gimana kalau malam ini kita keluar makan? Aku sekarang langsung pesan resto...”
“Nggak perlu, aku sudah makan.”
“Kalau gitu, aku bawa kamu lihat pemadangan malam? jalan santai di samping sungai?”
“Aku sudah capek, mau tidur.”
Ravi membujuknya terus dengan memeluk pinggangnya dari belakang: “Ayo lah Chinta, kita sudah lama tidak jalan santai. Aku ngerasa belakangan ini kamu cuek denganku, ginian tetus aku akan curiga kamu sudah berubah hati.”
Aku yang berubah hati?
Dalam hatimu yang duluan ada orang lain.
Hatimu yang duluan ninggalin aku.
Kali ini, aku akan simpan hatiku selamanya, orangku juga, semua kusimpan.
Di perjalanan, Riva sambil menyetir menceritakan hal-hal yang dia dengar belakangan ini.
Chinta duduk di kursi depan dan melihat bagian luar mengabaikannya.
Karena tadi saat pakai sabuk pengaman, di sela-sela kursi ke pegang stoking wanita.
Jelas-jelas itu sudah ke pakai.
Chinta mengembalikannya lagi.
Anggap tidak terjadi apa-apa.
Sudah niat untuk pergi, maka dia juga tidak mau debat dengan Ravi lagi.
Selain mendengar kebohongan yang tidak berguna, apapun tidak bisa didapatinnya.
Tidak bisa didapatin, maka dia nggak mau lagi.
Sampai di tepi sungai, Riva turun terlebih dahulu dan bantu Chinta buka pintu: “Chinta, sudah sampai.”
Chinta sebenarnnya tidak mau datang, tapi sungai ini adalah tempat yang sering mereka datangi saat baru jadian.
Bermulai dari sini, maka berakhirlah di sini.
“Wah, ini bukannya Pak Ravi yang hari ini di TV! yang buatin cincin nikah sendiri!”
“Aku ingat. pria idaman ini!”
“Dia bantu istrinya halangi atasan pintu mobil, takut istrinya kena kepala, ahhhhh perhatian sekali!”
Saat ngomong, handphone Riva berbunyi.
Ravi dengan maaf berkata: “Maaf ya Chinta, kamu tunggu sebentar, masalah kerja, aku akan segera kembali.”
“Pergilah.”
“Kamu tuggu aku di sini, jangan kemana-mana.”
Orang sekitar berseru lagi.
“Pak Ravi ini menganggap istrinya kayak putrinya, takut istrinya tersesat.”
“Sayang banget sama istrinya!”
Hanya Chinta yang selalu tenang, berdiri di tepi sungai melihat permukaan sungai yang berkilau di malam hari.
Tadi saat Ravi lihat panggilan masuk, senyumannya tidak bisa ditahannya.
Manja, manis dan sedikit nakal.
Mana mungkin itu kerja?
Tapi Chinta juga malas membongkarnya.
Di tepi sungai sedikit dingin, jadi Chinta menunggu di dalam mobil.
Di layar mobil, akun sosial media Ravi masih login, dan terkoneksi dengan handphonenya.
Obrolan chatnya masih masuk terus.
Namanya “Kucing Kecil Ngemil”.
Ravi Kaden: Rindu aku?
Kucing Kecil Ngemil: Malam yang nggak ada kamu sedikit kesepian.
Ravi Kaden: Kucing genit, pagi ini sudah 7 kali masih nggak cukup?
Kucing Kecil Ngemil: Nggak cukup, aku masih mau lagi bang.
Ravi Kaden: Baik, tunggu besok kerja, di kantor aku puasin kamu.
Kucing Kecil Ngemil: Hihihihi, kalau gitu aku besok kerja pakai stoking hitam.
Obrolan chat makin belakang makin nggak bisa dilihat.
Penuh dengan kata-kata genit dan godaan.
Chinta cuman kerasa tubuhnya makin dingin, langsung matikan layarnya.
Tubuhnya gemetar terus, tidak tahu karena dingin atau karena emosi, kukunya menancap ke dalam daging.
Ravi sangat cepat sudah balik, kurang lebih 15 menit.
Saat duduk di mobil, dia memegang jantungnya dan membuang nafas besar: “Tadi selesai telepon tidak melihatmu, menakutiku aja, untungnya kamu nggak papa.”
Chinta sudah tidak mau lagi melihat mukanya yang pura-pura baik, hanya menunduk melihat tangannya sendiri.
“Luar dingin, jadi tunggu di dalam mobil.”
“Iya baik, lihat kamu suka di mana.”
Chinta tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Melihat obrolan chat mereka, kalimat ini membuat Chinta mempunyai pengertian yang berbeda.
Lihat kamu suka di mana.
Stoking yang di sela kursi.
Jangan-jangan, mereka pernah melakukannya di tempat kursi ini?
Chinta seketika merasa mual, mendorong pintu langsung muntah.
Bab 3
Ravi sangat khawatir, buruan mendekati: “Chinta, kamu kenapa?”
Chinta muntah sampai pusing, sudah beberapa saat pun masih belum pulih.
Dia nggak ngerti.
Kenapa Ravi yang begitu mencintainya bisa selingkuh.
Apakah nggak takut ketahuan sama dia?
Atau Ravi ngerasa dia sudah sangat menutupi, bisa selamanya menyembunyikannya?
Angin malam menghembus, Chinta jadi lumayan sadar.
Ravi menanyainya: “Nggak papakan Chinta? Kalau tidak enak badan aku bawa ke rumah sakit.”
“Nggak perlu, mungkin tadi malam salah makan.”
“Kalau gitu, besok kamu ke perusahaan cari aku, kita makan bareng.”
Chinta senyum dingin.
Ke perusahaan lihat pertempuran kamu dan Nanda?
Chinta tiba-tiba mau isengin mereka.
“Ok, kalau gitu besok pagi aku ikut kamu ke perusahaan nemanin kamu kerja, baru makan bareng, malamnya pulang sama-sama.”
Ravi nggak sangka dia bisa setuju, mukanya jadi sedikit terpaksa: “Tapi belakangan ini kerjaku sibuk, mungkin tidak bisa temanin kamu terus.”
“Nggak papa, aku nunggu kamu di kantor.”
“...Baiklah.”
Sesampai di rumah, Ravi bilang mau bantuin Chinta siapin air hangat langsung ke kamar mandi, tetapi mengunci pintunya.
Chinta turun tangga, dan kembali duduk di mobil.
Setelah menyalakan mobil, layarnya langsung muncul obrolan terbaru.
Ravi Kaden: Ada perubahan, besok kita nggak bisa di kantor.
Kucing Kecil Ngemil: Ah, sedikit kecewa.
Ravi Kaden: Kucing genit jangan kecewa, abang bawa kamu ke atap gedung, makin menantang dan seru.
Kucing Kecil Ngemil: Hihihihi, abang paling hebat.
Saat Chinta balik ke kamar, Ravi keluar dari kamar mandi: “Chinta, air mandinya sudah disiapkan, pergi rendamlah.”
“Nggak perlu, aku mau istirahat.”
“Baiklah, kalau ngantuk tidurlah. Oh iya, kado yang kamu letak di atas meja boleh aku bukain sekarang?”
Chinta bilang: “Seminggu lagi baru kamu buka.”
“Kenapa harus tunggu seminggu? Aku mau sekarang lihat kado yang dipersiapkan Chintaku.”
“Karena......”
Karena seminggu lagi, akau akan pergi darimu selamanya.
“Karena seminggu lagi, kado ini baru bermakna.”
Ravi mencium keningnya: “Baik, dengar katamu.”
Esok paginya, handphone Ravi jam 6 sudah berbunyi.
Dia matiin lalu balikin badan peluk Chinta: “Biarin, tidur lagi sebentar.”
Tapi handphonenya terus-menerus berbunyi.
Ravi dengan jengkel mengkerutkan dahinya: “Belum waktu kerja, pagi-pagi sudah mendesak terus, suatu hari aku akan suruh kelompok eksekutif nggak berguna ini pergi.”
Dan matiin lagi.
Saat handphone berbunyi ke 3 kalinya, Ravi dengan emosi bangun, “Chinta kamu tidur lagi, aku nanyain masalah apa cari aku.”
Chinta iyain.
Berbalik badan, menghadapkan punggung ke dia.
Ravi mengambil handphonenya dan keluar dari kamar.
Nggak lama, sosoknya muncul di depan pintu lantai 1.
Luar berdiri seorang pengantar makan, kasih ke dia sekantong barang.
Ravi mengambilnya, tapi saat balik tangannya malah kosong.
Chinta menanyainya: “Masalah perusahaan sangat serius?”
Ravi menjawabnya: “Nggak terlalu, Chinta kamu jangan khawatir, istirahat dengan tenang, aku buatin sarapan.”
Nggak tahu karena merasa bersalah atau benaran khawatir dia salah makan, sarapan yang disiapin Ravi sangatlah mewah.
Susu, telur, roti, selai dan ada bubur gandum kesukaannya.
“Kedepannya kamu nggak boleh sembarangan makan lagi, aku bantu cariin mbak aja, tiap hari buatin makan.”
“Nggak perlu.”
“Dengar perkataan aku Chinta, kalau nggak aku nggak tenang saat kerja.”
“Ravi, bisa nggak aku tanyain sesuatu?”
“Tanya saja.”
Chinta meletakkan pisau dan garpu, dengan tenang bertanya: “Menurutmu benar nggak setelah 7 tahun nikah adalah fase atau momen terberat?”
Ravi langsung menunjukkan eskpresi sangat benci: “Itu hanyalah alasan para cowok untuk beralih cinta, aku berbeda, seumur hidup aku hanya mencintai Chintaku.”
“Seumur hidup hanya cinta aku?”
“Iya benar.”
“Kalau kamu suka cewek lain?”
“Kalau gitu aku akan disambar petir, mati dengan nggak tenang.”
Chinta senyum dengan sindir: “Sumpah yang begitu berat, kamu nggak takut benaran terjadi?”
“Yang aku ngomongin semuanya benar, untuk apa aku takutin?”
Chinta mengambil lagi pisau dan garpunya, mengoles selai ke rotinya.
Ravi bilang: “Chinta, kamu harus percaya sama aku.”
Chinta hanya bilang: “Makanlah.”
“Kamu masih nggak percaya aku? Apa harus aku kasih lihat hatiku baru kamu mau percaya?”
“Perusahaan masih ada yang menunggumu, jangan sampai telat.”
Ravi akhirnya merasa lega, duduk di depannya Chinta: “Biarin mereka tunggu, sekelompok orang nggak guna, aku akan pecat mereka.”
“Pecat dia, kamu tega?”
Yang dimaksud Chinta itu “dia” bukan “mereka”.
Chinta nggak tahu Ravi ngerti nggak maksudnya, cuman dengar dia menjawab: “Selain kamu, nggak ada yang aku nggak tega.”
Bab 4
Habis sarapan, mereka berdua barengan ke perusahaan.
Tapi Chinta benaran sebal dengan kursi di depan, jadi dia bertahan mau duduk belakang.
“Aku mabuk mobil, duduk belakang lebih nyaman bisa kena angin.”
Ravi juga tidak memaksanya lagi: “Baiklah, aku usahakan nyetir lebih hati-hati.”
Sampai di depan perusahaan, Ravi lari sedikit untuk bantuin buka pintu mobil.
Saat Chinta turun, dilihat lagi sama karyawan yang baru masuk kerja.
Ada beberapa eksekutif datang dan mencari muka bilang: “Nyonya sudah datang? Pak Ravi tiap hari bilang anda suka minum milktea, aku beliin sekarang.”
Satunya lagi juga bilang: “Aku pergi beli cemilan, Nyonya suka kue.”
Ravi dengan senyum memarahi: “Jangan kalian suapin lagi, Chinta sekarang sedikit gendutan, cincin nikah aja sudah tidak bisa dipakainya.”
“Ucapanmu nggak benar Pak Ravi, Nyonya kelihatan kurus, kalau cincinnya nggak bisa dipakai pasti bermasalah di cincinnya, menyusut!”
“Ngasal aja kamu, caramu mencari muka terlalu jelas nggak sih? perak mana bisa menyusut!”
“Kamu yang nngak ngerti, Pak Ravi begitu sayang nyonya, asal nyonya senang, maka Pak Ravi juga senang. Dengan begitu bukannya kita bisa hidup lebih santai?”
Ravi senyum dengan sabar berkata: “Baik baik, kalian sudah tahu titik lemahku.”
Semuanya pada tertawa berbahak-bahak.
Chinta dikerumuni terus sampai di kantor Ravi.
Buah, cemilan, milktea ada semuanya.
Ravi sampai menggunakan laptopnya mencari drama untuk di tonton Chinta: “Chinta, aku harus sibuk dulu, kamu main di sini, kalau butuh apa suruh Joko aja.”
Chinta sengaja nanya: “Asisten pribadimu Nanda mana? Hari ini kok nggak lihat dia?”
Ravi bilang: “Aku juga nggak tahu, nanti aku suruh HR coba tanyain.”
Saat mau pergi, Ravi dengan manja memegang rambutku dan berbisik dengan lembut: “Tunggu aku balik, kita makan siang bareng.”
Ravi sudah pergi.
Para eksekutif juga sudah pergi.
Chinta mendapati handphonenya Ravi di meja, dan buru-buru keluar malah mendengar obrolan para eksekutif.
“......atap gedung? Pak Ravi dan Nanda semakin berlebihan.”
“Mau gimana lagi, siapa sangka hari ini istrinya bisa datang? Mereka cuman bisa ganti tempat.”
“Hihihihihihi, hebat sekali Pak Ravi, di dekat istrinya juga berani beli kondom?”
“Kan bisa gosend, sekarang praktis kali, bisa beli apapun.”
Chinta seketika mengerti.
Ternyata telponan tadi pagi itu dari orang gosend.
Pagi-pagi sudah pesan suruh gosend bantuin dia beli kondom. Kelihatannya sangat menantikan Janjian Atap Gedung, cepat sekali sudah siap-siap.
“......nggak tahu beberapa box itu cukup nggak. Sebelumnya, Pak Ravi dan Nanda main di mobil sehari semalam, besoknya saat kerja, cara jalannya Nanda aneh aneh.”
“Kalau nggak cukup, anterin lagi aja! Kita sebagai bawahan harus melayani bos dengan baik.”
“Bukannya tadi kamu bilang, mau layanin istri bos dengan baik?”
“Hm, dia tau apa? Segelas milktea, beberapa dessert aja sudah menenangkannya. Dengan identitas Pak Ravi, di luar pasti punya banyak kekasih, lagi pula punya uang dan kekuasaan, mainin cewek juga hal yang wajar, asal jangan sampai ketahuan yang di rumah aja.”
“Iya juga, dia kelihatan sangat polos, mau menyembunyikan dari dia harusnya nggak susah.”
Saat lagi bilang, Ravi muncul.
“Kalian jangan ngasal bilang di depan Chinta, dengar nggak?”
Para eksekutif mengangguk kepalanya terus: “Tau Pak Ravi, kami tahu batasnya.”
Di antaranya ada yang bertanya: “Pak Ravi, kenapa hari ini anda bawa istri kemari? Anda dan Nanda harus sembunyi ke atap gedung, kami bicara pun harus jadi hati-hati.”
Ravi meliriknya dengan tajam: “Chinta adalah istri bos, dia mau datang ya datang, perlu kamu tanyain?”
“Iya iya....”
Ravi memperingatkan mereka dengan tegas: “Jaga Chinta dengan baik, kemarin dia salah makan, jangan kasih dia makanan yang dingin atau mentah. Dan juga, masalah aku dan Nanda siapa yang berani sebarin, langsung pergi saja, ngerti?”
Para eksekutif dengan senyum mengangguk kepala: “......”
Obrolan belakangnya Chinta tidak mendengarnya lagi.
Dia buruan balik ke kantor Ravi, meletakkan handphone di kumpulan cemilan.
Nggak lama, Ravi masuk.
Dia masih dengan lembut dan perhatian: “Kucing kecil ngemil, lagi makan apa kok enak sekali?”
“Kucing kecil ngemil” tiga kata ini, membuat Chinta merasa jijik.
Dia menahan rasa nggak enaknya bertanya: “Bukannya kamu meeting? Kenapa balik lagi?”
“Handphone ketinggalan di sini, kamu lihat nggak?”
Chinta menggelengkan kepalanya: “Nggak.”
Ravi mencari di kumpulan cemilan dan kedapatan: “Ternyata di dalam kumpulan sini. Kamu lanjut makan, aku pergi dulu.”
Ling Ling Ling...
Kali ini handphone Chinta yang bunyi.
Dia mengangkatnya.
“Halo, apakah ini dengan nona Cahya Arjuna?”
“Iya benar.”
“Halo nona Cahya, anda memesan tiket 1 minggu kemudian ke Norwegia, tiketnya sudah berhasil diterbitkan, nanti anda cukup bawa paspor untuk boarding.”
“Selain paspor, apakah perlu bukti yang lain?”
“Nggak perlu, paspor aja sudah cukup.”
“Baik.”
Menutup telepon, Ravi sedikit bingung: “Paspor? Chinta, kamu menggunakan paspor untuk apa?”
Bab 5
Chinta bilang: “Temanku, paspornya hilang, tanya aku cara mengajukan penggantian.”
Ravi berjalan cepat dengan erat memeluknya: “Takutin aku aja, aku kira kamu mau ke luar negeri dan ridak membawaku.”
Chinta miringkan kepalanya dan muntah lagi.
Tubuhnya bau amis manis.
Ada juga bau parfum wanita.
Ravi dengan sakit hati mengusap punggungnya: “Apa lagi yang mereka kasih? Aku sudah kasih tahu 2 hari ini kamu ada gangguan pencernaan harus jaga kamu baik-baik......kamu tunggu, aku langsung pecatin mereka!”
Chinta kali ini menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorongnya.
“Siapa yang mau kamu pecat, pecatin saja, bisa nggak jangan menggunakan aku sebagai alasannya?”
Ravi jadi bingung saat Chinta tiba-tiba emosi: “Chinta, kamu marah padaku? Karena aku sibuk seharian dan tidak menemanimu?
Dia bilang: “Kalau gitu, besok aku tolak semua pekerjaan, hanya temanin kamu, ok?
Chinta tertawa kesal.
“Hanya temanin aku?”
“Iya, hanya temanin kamu.”
Chinta tarik nafasnya dalam-dalam, perlahan-lahan mengatakan: “Semoga kamu tepatin saja.”
Malam ini, entah kenapa tiba-tiba hujan deras.
Semenjak pulang ke rumah, Chinta muntah terus.
Ravi mau mendekatinya tapi ditolak sama Chinta: “Kamu jangan dekati aku, mencium baumu aku jadi makin mau muntah.”
Ravi mencium lengan bajunya bilang: “Kamu tidak suka bau parfum cologne ini, nanti aku ganti.”
“Ravi Kaden, kamu tau sendiri bukan karena parfum cologne!”
“Baik baik, kamu jangan marah, lain kali aku tidak pakai parfum lagi, bisa kan?”
Chinta menggunakan air dingin untuk cuci muka, angkat kepalanya dan melihat diri sendiri yang ada di cermin.
Dan juga di luar kamar mandi, Ravi yang membawa air panas menunggu dengan panik.
Chinta hanya nggak ngerti, kenapa sampai saat ini tubuhnya penuh dengan bau amis manis sesudah bercinta dan bau parfum Nanda, masih bisa dengan serius akting mencintai dia?
Chinta nggak ngerti, kenapa kelihatan Ravi sangat peduli padanya, tapi tetap mengkhianati percintaan mereka?
Apa benar seperti omongan eksekutif: Cowok di luar main cewek adalah hal yang wajar, asal jangan ketahuan sama istri di rumah?
Dia salah menilai orang, Chinta nggak segampang gitu dibohongi.
Dan juga tidak menyerah sama batasan sendiri.
Kalau sudah bukan cinta yang sepenuh hati, maka dia tidak akan mau.
Esok paginya, Ravi membawa Chinta ke rumah sakit.
Setelah melakukan semua pemeriksaan, dokter bilang: “Harusnya gastroenteritis emosional。“
Ravi bertanya: “Apa itu gastroenteritis emosional?”
“Pasien belakangan ini terkena dampak emosional yang besar, yang serangannya sangat besar terhadap pasien, jadi membuat fungsi pencernaannya abnormal sehingga membuatnya muntah.”
Ravi tanya Chinta: “Chinta, apakah belakangan ini ada hal yang buat kamu tidak senang? Kamu bilang padaku, manatau aku bisa bantu selesaiin.”
Chinta menjauhkan mukanya, menghindar mesraannya: “Tidak bisa kamu selesaiin.”
“Kamu bilang dulu, di dunia ini jarang ada masalah yang nggak bisa aku selesaiin.”
Benar, masalah ini hanya dia yang bisa selesaiin.
Chinta sebenarnya ada seketika ingin tanya dia, kalau dia dan Nanda sama-sama jatuh ke dalam air, siapa yang bakal dia selamtin duluan?
Tapi dipikir-pikir lagi...
Orang tidak boleh menyerahkan takdir di tangan orang lain, bergantung pada gunung dia akan roboh, bergantung pada orang dia akan lari.
Dia sendiri bisa berenang, jadi bisa selamatin diri sendiri.
Dia sudah tidak butuh Ravi lagi.
Di Norwegia, dia sudah menggunakan nama Cahya Arjuna untuk daftar sekolah seni.
Saat itu, demi nikah dengan Ravi, Chinta tinggalin impian menggambar. Kedepannya dia akan hidup demi dirinya sendiri.
“Chinta, sore nanti aku temanin nonton ya? Belakangan ini ada film komedi, kamu akan senang melihatnya.”
“Sore? Kamu tidak perlu kerja?”
“Kita sudah janji, hari ini seharian aku nemanin kamu, aku tepatin janjiku, tidak akan membatalkannya.”
Selanjutnya, handphonenya berbunyi.
Sebenarnya mau dia matiin, tapi melihat panggilan masuk jadi ragu.
Chinta melihat ekspresinya, dari awal yang merasa terganggu sampai menjadi kesulitan.
Dis senyum: “Angkatlah, masalah perusahaan lebih penting.”
Ravi bilang: “Aku akan cepat, kasih aku 5 menit.”
“Iya.”
Ravi mengambil teleponnya dam mau keluar, Chinta memanggilnya: “Angkat di sini saja, masalah perusahaanmu aku juga nggak ngerti, tidak perlu takut aku bocorin.”
Ravi sedikit canggung menghentikan gerakan kakinya.
Ragu beberapa detik kemudian tetap mengangkatnya, di alisnya kelihatan jelas amarahnya: “Bukannya sudah ku bilang, hari ini jangan telpon aku? Ada masalah apa?”
Di sana nggak tahu apa yang di bilanginnya.
Tapi Chinta mendengar suara tangisan wanita.
Di depannya, Ravi bicara dengan hati-hati: “Baik, aku sudah tahu, tunggu sebentar.”
Menutup telponnya, Ravi dengan maaf berkata ke Chinta: “Chinta, perusahaan ada dokumen penting perlu aku tanda tangan, Manajer sudah mengantarnya ke rumah sakit, di bawah saja, selesai tanda tangan aku langsung naik, paling lama setengah jam.”
Chinta mengangguk kepalanya.
Ravi hampir dengan lari meninggalkan ruang konsultasi.
Dokter dengan senyum berkata: “Nyonya, suamimu sangat mencintaimu, demi kamu sampai meninggalkan pekerjaan.”
“Iya kah,” Chinta menarik sudut bibirnya, “Maaf dokter, aku permisi ke toilet dulu.”
“Baik.”
Keluar dari ruang konsultasi, Chinta melihat Ravi yang tidak sabar menunggu lift dan lari ke tangga untuk turun.
Dia benaran turun.
Tapi lantai bawah itu...
Spesialisasi kebidanan dan kandungan.
Tut...
Handphone Chinta bergetar.
[Nanda: Maaf, Nona Chinta, hari ini kemungkinan dia tidak bisa menemanimu lagi...Aku hanya dengan satu telepon, dia sudah datang ke sisiku.]
Bab 6
Notifikasi dari Nanda masih masuk terus.
[Nanda: Oh iya, kasih kamu lihat ini. ‘Foto’, ini hasil pemeriksaan USG, aku sudah hamil.]
Chinta memperbesar fotonya, baru melihat jelas kalimat di hasil pemeriksaan.
[Embrio 8 Minggu, tanda-tanda keguguran.]
[Nanda: Kemarin kami melakukan di atap gedung berkali-kali. semua gaya sudah dicoba. Kemungkinan karena terlalu kuat, bayinya ada sedikit tanda-tanda keguguran, ah semua salahnya. Dia bilang di rumah, kamu seperti ikan mati nggak ada nafsu, main samaku baru lebih seru.]
[Nanda: Dokter bilang, mau kuatkan kandungan ataupun gugurin perlu tanda tangan ayah, jadi aku cuman bisa suruh dia turun. Gimanapun, dibandingin radang saluran pencernaan dan anaknya, anak lebih penting, benar nggak?]
Chinta memesan mobil untuk meninggalkan rumah sakit.
Dia pergi ke kantor pengacara.
“Halo, aku mau minta bantuan kalian untuk buatin perjanjian cerai.”
Dia tidak mau apapun dan pengacaranya juga bisa diandalkan.
Setengah jam kemudian, dia sudah mendapat perjanjian cerai yang lengkap.
Pengacara bilang: “Tidak perlu tanda tangan pihak pria, asal kalian pisah tempat tinggal selama 2 tahun, perjanjian ini akan berlaku otomatis.”
Saat Chinta membawa perjanjian cerai keluar, pas Ravi meneleponnya.
“Chinta, kamu di mana? Aku sudah mencari semua tempat di rumah sakit tapi tidak menemukanmu.”
Chinta bilang: “Lama menunggumu, jadi aku pulang duluan.”
“Baiklah kalau sudah selamat sampai di rumah. Maaf ya Chinta, perusahaan tadi ada urusan butuh aku pergi. Beberapa hari ini kemungkinan aku perlu dinas luar, kamu jaga dirimu baik-baik. Minggu depan aku pasti menolak semua pekerjaan untuk nemanin kamu.”
Chinta hanya menghela nafasnya.
Kebohongan kalau dibilang seribu kali, maka tidak ada yang akan percaya lagi.
Chinta sekarang tidak akan tergoyang lagi.
“Iya, pergilah.”
“Chintaku paling pengertian, sayang, besok aku bawain bunga freesa.”
“Pengertian?” Chinta bertanya: “Ravi Kaden, kamu suka cewek yang manja, pura-pura bodoh dan menempelmu terus? Aku terlalu pengertian, jadi tidak seru?”
Ravi terdiam sejenak: “Mana mungkin, aku paling suka samamu. Apapun sifatmu, aku suka semuanya.”
“Ravi Kaden, kamu akan suka cewek lain nggak?”
“Tentu tidak.”
“Kalau kamu berubah hati, aku akan pergi darimu selamanya.”
Ravi senyum sinis: “Lari saja, aku akan menutup bandara dan stasiun kereta, asal kamu masih Chinta Luna, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku.”
Tapi, pasporku namanya sudah bukan Chinta Luna.
Namaku Cahya Arjuna.
Chinta mempertegaskan lagi: “Aku ini serius, adanya cara aku pergi darimu, maka adanya cara kamu tidak bisa temukan aku.”
Ravi masih senyum, seperti bermain dengan kucing: “Baik, kamu lari dulu, aku kasih kamu 3 hari beu pergi mencarimu. Sudah ku bilang, asal kamu masih Chinta Luna, mau kemanapun kamu lari, aku akan menemukanmu, kamu tidak bisa pergi dariku.”
Tidak bisa pergi?
Chinta senyum.
Kalau gitu kita lihat saja.
Bab 7
Masih ada 3 hari untuk penerbangan pesawat.
Nanda mengirim lagi foto Ravi lagi memanggang di tepi pantai.
[Nanda: Untuk merayakan aku hamilin anak dia, dia hadiahkan aku liburan di Maldives...Dia bilang hamil itu sangat susah, suruh aku tiduran tunggu makan saja.]
Chinta tidak membalasnya, hanya mengajak beberapa teman baiknnya untuk terakhir kali berkumpul.
Soalnya kedepannya kemungkinan tidak ada kesempatan untuk bertemu lagi.
Pertemuan ini, Chinta sangat senang.
Masih ada 2 hari untuk penerbangan pesawat.
Nanda mengirim lagi satu foto Ravi sedang membaca buku, tapi nama bukunya “Pendidikan Dini Untuk Bayi”.
[Nanda: Pertama jadi ayah sangat perhatian sama pendidikan bayi, dia di dalam perutku masih kacang kecil, ayah sudah tiap hari ngobrol dengan dia lewat perut.]
Chinta masih tetap tidak balas. Dia pergi ke bank dan menggantikan semua uangnya ke Euro dan cash, lalu menutup semua kartu banknya.
Masih ada 1 hari untuk penerbangan pesawat.
Kali ini, Nanda mengirim satu video.
Di dalam video adalah pertunjukan kembang api yang sangat cantik dan romantis di atas laut.
Nanda terharu sampai nangis, Ravi memeluknya dengan lembut dan menenanginya: “Untuk apa nangis? Kedepannya masih ada banyak kejutan.”
“Nanda: Dia demi aku menyewa satu pulau, semua kembang api di Maldives dibelinya, hanya untuk merayakan ulang tahunku.”
Ternyata hari ini adalah hari ulang tahun Nanda.
Ulang tahun dan hamil, bagi mereka adalah dua hal yang sangat bagus.
Habis Chinta melihatnya, dia hanya senyum dengan tenang lalu menelepon ke organisasi amal.
“Halo, aku ada sekumpulan baju mau kasih ke pegunungan yang miskin.”
Sangat cepat, perwakilan dari organisasi amal tersebut sudah datang dengan menyetir mobil.
Saat Ravi nggak ada beberapa hari ini, dia sudah mempersiapkan barangnya, total ada 5 karung besar baju dan sepatu, semuanya dia sumbangkan, tidak meninggalkan satupun.
KTP, kartu keluarga, ijazah dll, itu semuanya milik “Chinta Luna”, dan juga barang yang dipakainya sehari-hari dibawanya ke rumah duka, dikasihnya staff uang minta bantuan mereka untuk membakarnya.
Berdiri lagi di depan rumah yang sudah dia tinggal selama 5 tahun, Chinta merasa asing.
Rumah ini, sudah dibersihkan sama dia, satu jejak tentang dia pun nggak ada.
Dia hanya ada satu tas ransel.
Dalamnya isi paspornya.
Kalau bilang barang lama, yang ada hanya handphone di tangannya.
Dia menggunakan handphone itu memesan mobil untuk ke bandara.
Supir berhenti di depan pintu terminal bandara, di saat mau menggunakan handphone bayar uang mobilnya, Ravi meneleponnya.
“Chinta, aku sudah pulang, aku pulang ke rumah jemput kamu, kita pergi makan bareng.”
Dia sudah pulang.
Sampingnya terikut Nanda.
Chinta duduk di dalam mobil, pas melihat mereka jalan keluar dari terminal bandara.
Ravi mendorong troli, atasnya ada 2 koper, satu biru satu pink, jelas itu couple an.
Dan Nanda merangkul lengannya, seperti burung kecil sandar di bahunya.
“Dinas capek nggak?”
“Masih lumayan, nggak terlalu capek. Oh iya, aku ingat yang kamu bilang, hari ini aku boleh buka hadiah yang kamu kasih kan?”
“Iya.”
“Sangat menantikannya, suruh aku nunggu 1 minggu, tiap hari aku tebak terus apa yang kamu berikan. Hari anniversary kita, pasti barang yang sangat bermakna kan?”
“Sangat bermakna, kamu lihat saja sudah tahu.”
“Baik, kamu tungguin aku, perkiraan 2 jam lagi aku sampai.”
Dua jam lagi, cukup.
Saat itu, pesawat dia sudah terbang melewati batas negara.
“Baik.”
“Sampai jumpa nanti, aku sayang kamu Chinta.”
Menutup teleponnya, Chinta melihat Nanda bibirnya cemberut tidak senang, dan Ravi menundukkan kepalanya menciumnya untuk menenangkannya.
Supir mengingati Chinta: “Nona, uangnya masih belum dibayar.”
Chinta mengalihkan pandangannya, scan barcode supir dan transfer semua uang yang ada di OVO nya.
Supir sedikit panik: “Nona, kamu salah nominal, totalnya semua 260 ribu, bukan 26 juta! aku balikin sisanya.”
“Nggak perlu,” Chinta membuka pintu mobil dan turun: “Kedepannya aku juga nggak ke pakai lagi, terimakasih sudah mengantarku.”
“Sama-sama, ini pekerjaanku, anda juga sudah membayarnya, ini kewajibanku untuk mengantar.”
“Berbeda, kamu mengantarku ke jalan masa depan untuk hidup kembali.”
Turun dari mobil, Chinta langsung nonaktifkan handphonenya, mengeluarkan kartu teleponnya dan buang ke tong sampah, lalu memberikan handphonenya ke seorang anak kecil.
Anak kecil sangat senang: “Terima kasih kakak!”
Chinta dengan senyum mengelus rambutnya: “Sama-sama.”
Ibunya anak kecil merasa nggak enak: “Barang mahal ini nggak bisa kami terima.”
Chinta menanyanya: “Kalian mau ke luar negeri?”
“Iya, mau pergi ke Afrika cari ayahnya.”
Chinta dengan senyum bilang: “Terima aja, ke Afrika kemungkinan bisa ke pakai.”
“Baiklah, terimakasih.”
Chinta melambaikan tangan dengan mereka: “Selamat bersenang-senang.”
Pengumuman bandara sedang memanggil: “Penumpang Cahya Arjuna yang menuju Norwegia. Mohon segera menuju pintu H23, pesawat yang anda naikin akan segera terbang......”
Chinta memegang paspornya, terakhir melihat belakangnya dan tetap maju jalan menuju boarding gate.