Tak Ada yang Kedua

Đang tải thông tin quảng bá...

Tak Ada yang Kedua

GoodNovel Hoàn thành

Di tahun kelima pernikahanku dengan Anto, gadis yang ia simpan di hotel akhirnya terungkap ke publik, menjadi perbincangan semua orang. Untuk menghindari tuduhan sebagai "pelakor", Anto datang kepadak...

Chương (1)

第1章

Di tahun kelima pernikahanku dengan Anto, gadis yang ia simpan di hotel akhirnya terungkap ke publik, menjadi perbincangan semua orang. Untuk menghindari tuduhan sebagai "pelakor", Anto datang kepadaku dengan membawa surat cerai dan berkata, “Profesor Jihan dulu pernah membantuku. Sebelum beliau meninggal, dia memintaku untuk menjaga Vior. Sekarang kejadian seperti ini terungkap, aku tak bisa tinggal diam.” Selama bertahun-tahun, Vior selalu menjadi pilihan pertama Anto. Di kehidupan sebelumnya, saat mendengar kata-kata itu, aku hancur dan marah besar, bersikeras menolak bercerai. Hingga akhirnya aku menderita depresi berat, tetapi Anto, hanya karena Vior berkata, “Kakak nggak terlihat seperti orang sakit,” langsung menyimpulkan bahwa aku berpura-pura sakit, menganggap aku sengaja bermain drama. Dia pun merancang jebakan untuk menuduhku selingkuh, lalu langsung menggugat cerai. Saat itulah aku baru sadar bahwa aku selamanya tak akan bisa menandingi rasa terima kasihnya atas budi yang diterimanya. Dalam keputusasaan, aku memilih bunuh diri. Namun ketika aku membuka mata lagi, tanpa ragu, aku langsung menandatangani surat cerai itu. Tanpa ragu, aku menandatangani surat perjanjian cerai itu. Bab 1 “Elsa, setelah semua ini berlalu, bisakah kita menikah lagi?” Di halaman vila, aku sedang duduk termenung di atas bangku batu ketika Anto datang bersama Vior di hadapanku. Tiga jam yang lalu, Vior diungkap oleh paparazi sebagai kekasih simpanan Anto. Seluruh internet menggali masa lalunya dan mencaci maki dia sebagai pelakor yang menghancurkan hubunganku dengan Anto. Citra Anto sebagai suami penyayang runtuh seketika, dan harga saham Grup Gusnada mulai goyah. Di kehidupan sebelumnya, saat Anto datang membawa surat cerai, aku begitu marah hingga mencabut habis semua mawar yang ia tanam untukku di taman. Aku histeris dan menuntut penjelasan tentang hubungannya dengan Vior. Padahal dia hanya putri dari profesor yang ia hormati dan seharusnya ada ribuan cara lain untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, dia justru memilih mengorbankanku. Semata-mata hanya karena tak ingin depresi Vior semakin parah. Namun yang Anto tidak tahu adalah, selama masa kehebohan berita itu, aku juga didiagnosis mengalami depresi sedang. “Elsa.” Anto memanggil namaku sekali lagi, menarikku kembali dari lamunan. Aku menundukkan kepala, menatap surat cerai yang tergeletak di atas meja batu. Dia berlutut di samping kakiku, sepasang matanya yang dalam menatapku, sementara telapak tangannya yang hangat membungkus jemariku. Dengan nada yang penuh bujuk rayu, ia berkata, “Elsa, anggap saja ini demi aku, ya?” “Kita akan umumkan ke publik bahwa pernikahan kita sudah lama hancur, dan sudah ada rencana untuk bercerai sejak setahun yang lalu, hanya saja kita belum menemukan waktu yang tepat.” Aku tetap diam, tidak menjawab apa pun. Sementara di belakangnya, Vior berdiri mengenakan gaun putih, dengan mantel Anto terjulur di bahunya. Bibirnya pucat, dan matanya memerah. “Kak Elsa, kumohon... bantu aku, ya?” “Ibuku meninggal karena bunuh diri akibat depresi yang disebabkan oleh pembullyan di internet. Aku tak ingin mengikuti jejak yang sama seperti ibu. Kak, aku mohon, aku bahkan rela berlutut untukmu… kumohon, bantu aku…” Saat kata-kata itu terucap, dia hendak membungkukkan tubuh untuk berlutut. Namun, Anto dengan sigap berdiri dan menahannya, lalu dengan sangat alami menariknya ke dalam pelukannya, melindunginya dengan penuh perhatian. Wajahnya tampak suram, suara rendahnya terdengar seperti sedang memarahi, “Apa yang kau lakukan?” Vior tersendat, suaranya lemah dengan tangisan tertahan, kemudian dia menundukkan wajah yang dipenuhi air mata. “Aku... aku hanya ingin membuat kakak merasa lebih baik...” Anto langsung menunjukkan ekspresi tak sabar. Tatapannya kini beralih padaku, dan kehangatan dalam sorot matanya pun menghilang sepenuhnya. “Elsa, aku datang ke sini bukan untuk bernegosiasi denganmu.” “Aku sudah memutuskan semuanya. Kalau kau nggak mau bercerai, maka jangan salahkan aku...” Aku perlahan mengangkat kepala dan menatapnya. Kalimatnya langsung terputus begitu bertemu dengan mataku. Tapi aku tahu apa yang ingin dia katakan. Dia ingin berkata, “Elsa, kau tahu bagaimana caraku bekerja. Aku punya seribu cara untuk membuatmu menandatangani surat cerai ini dengan patuh.” “Kalau sampai aku harus menggugat cerai, kau juga nggak mungkin menang melawan pengacara Grup Gusnada.” Itulah kata-katanya di kehidupan sebelumnya. Pada akhirnya, dia pun menjebakku, mengatur segalanya hingga aku tertangkap basah di ranjang bersama beberapa model pria. Bukti perselingkuhanku pun tak terbantahkan. Bab 2 Dalam semalam, aku menjadi wanita murahan yang berselingkuh, dicerca habis-habisan oleh opini publik. Sementara itu, dia dan Vior justru berubah menjadi korban yang tak bersalah. “Aku bisa menandatangani surat cerai ini, tapi kau harus berjanji padaku satu hal.” Setelah lama terdiam, akhirnya aku berbicara. Anto mengangkat pandangannya sekilas padaku, lalu langsung mengangguk setuju. Dia menyerahkan pena padaku. Aku menerimanya dan, tanpa sedikit pun emosi di wajahku, menandatangani surat cerai itu. “Kau nggak mau lihat isi perjanjiannya dulu?” Anto mengernyit dan bertanya. Aku tersenyum tipis. “Nggak perlu.” Dia hampir pergi dengan tangan kosong, menyerahkan seluruh harta kepadaku, semua hanya demi Vior, demi membalas budi atas pertolongan di masa lalu. “Besok luangkan waktu untuk ke kantor catatan sipil.” “Oke,” jawabku. Saat Anto mengambil surat cerai, tangannya sedikit terhenti di udara. Tatapannya tampak sedikit ragu, namun pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa pun. Saat mereka pergi, Vior menoleh ke arahku dan menatapku dengan ejekan. Bibir tipisnya bergerak tanpa suara, “Kau kalah.” Aku memang kalah. Aku telah kalah dalam seluruh hidupku, itulah sebabnya sekarang aku tak ingin kalah lagi. Beberapa saat kemudian, layar ponselku menyala. Itu pesan dari Anto. [Hari ini pasti membuatmu merasa tertekan, Elsa. Maaf.] [Setelah semua ini berlalu, aku akan memberimu pesta pernikahan yang megah. Kita akan menikah lagi.] [Aku tak bisa diam saja melihat depresi Vior semakin parah. Kau pasti bisa mengerti, bukan?] Aku menatap pesan itu dan tak bisa menahan tawa, meski air mata menggantung di sudut mataku. Sama seperti kehidupan sebelumnya. Demi memaksaku bercerai, Anto meminta bantuan teman-temannya untuk mencari cara, lalu mabuk berat. Tapi dia lupa, teman-temannya juga adalah temanku. Josua, sambil berusaha membujuk Anto agar tidak menghancurkan pernikahannya demi Vior, juga datang padaku, meminta agar aku mencoba memahami Anto. Dia berkata bahwa Anto adalah seseorang yang sangat menghargai hubungan dan balas budi. Jika dulu ayah Vior tidak melihat potensi Anto, memberinya investasi, dan membantu mendirikan bisnisnya, maka Anto tak akan bisa mencapai posisinya yang sekarang. Saat itu, aku menangis sambil membantah, “Anto punya ribuan cara untuk membersihkan namanya. Kenapa harus bercerai?” Josua terdiam. Dia pernah menanyakan hal yang sama pada Anto, dan saat itu Anto menjawab, “Selalu akan ada seseorang yang harus dikorbankan. Aku hanya bisa membuat Elsa yang menderita. Dia mencintaiku, dia pasti bisa mengerti.” Hanya karena aku mencintainya, aku yang harus dikorbankan? Apa masuk akal? Untungnya, aku masih punya kesempatan. Selama itu menyangkut Vior, Anto selalu bertindak cepat. Siang tadi, dia baru saja menandatangani surat cerai denganku. Malamnya, dia sudah mengatur konferensi pers dan menyuruh asistennya mengundangku untuk hadir dan memberikan klarifikasi. Aku bahkan belum sempat membuka mulut ketika asisten itu, mengira aku akan menolak, buru-buru menyampaikan pesan dari Anto. “Nona Elsa, Anda seharusnya menghadiri konferensi pers ini. Bahkan jika bukan demi Tuan Anto, setidaknya demi reputasi Anda sendiri.” Aku terdiam selama satu detik, lalu tertawa sinis. Anto sedang mengancamku. Dia mencoba menggunakan trik yang sama seperti di kehidupan sebelumnya. Memojokkanku dengan opini publik, menodai namaku, memaksaku tunduk, sampai aku tak punya pilihan selain menundukkan kepala. Aku tak pernah bisa memahami. Bagi Anto, aku ini istrinya atau musuhnya…? Sekarang dia ingin secara terbuka membersihkan hubungannya denganku. Maka aku pun tak terkecuali. Konferensi pers diadakan di lobi hotel termewah di Manhattan, dengan tamu undangan yang terdiri dari jurnalis paling berpengaruh di industri ini. Ketika Vior muncul mengenakan kebaya, berjalan berdampingan dengan Anto, para wartawan langsung menyerbu mereka. Anto refleks melindungi Vior di belakangnya, tersenyum sambil menghalangi mikrofon yang diarahkan kepadanya. “Tolong tenang, saya akan menjawab semua pertanyaan satu per satu,” katanya dengan suara lembut. “Untuk sekarang, bisakah kalian memberi kami sedikit ruang?” Saat dia mengangkat kepalanya, tatapan kami bertemu di antara kerumunan wartawan. Dan anehnya, aku masih berharap, meskipun hanya sedikit, bahwa Anto juga akan membantuku keluar dari situasi ini. Bab 3 Namun, di detik berikutnya... Anto dengan tenang mengalihkan pandangannya. Dengan senyum di sudut bibir, dia menggandeng tangan Vior dan berjalan menuju panggung, seolah-olah aku tak pernah ada di sana. Aku mencibir, sudut bibirku melengkung dengan sinis. Seorang wartawan yang berdiri paling dekat denganku, mungkin masih seorang magang, ia dengan ragu-ragu mengulurkan mikrofon dan bertanya, “Nona Elsa, apakah benar Anda sudah bercerai dengan Pak Anto?” “Ya.” Aku tersenyum dan mengangguk. Wartawan itu mendorong kacamatanya ke atas, lalu melanjutkan, “Tapi Anda dan Pak Anto sudah saling mengenal sejak SMA, berpacaran selama tujuh tahun, menikah selama lima tahun...” “Bahkan bulan lalu, Pak Anto menghabiskan banyak uang untuk membeli sebuah pulau dan menamainya sesuai dengan nama Anda.” Aku tetap tersenyum, hanya saja senyum itu tak sampai ke mataku. “Itu hanya sesuatu yang dia hutangkan padaku.” Demi merawat Vior yang sakit, dia melewatkan ulang tahunku dan menggantinya dengan hadiah ini. Di kehidupan sebelumnya, aku masih merasa senang karena hal itu. Tapi belakangan aku baru tahu, ide ini berasal dari Josua, pulau itu dipilih oleh asisten Anto, dan dia sendiri bahkan tak tahu pulau itu berada di mana. “Lalu, apakah Anda masih mencintai Pak Anto?” Wartawan itu menatapku dengan gugup, sementara para jurnalis di sekitarku mendadak terdiam, menunggu jawabanku. Bahkan Anto yang berdiri di atas panggung juga menoleh ke arahku, alisnya sedikit berkerut. Aku hanya menatapnya dengan tenang, kemudian mengangkat sudut bibir dan berkata dengan jelas. “Tidak lagi.” Wawancara itu tidak kutunggu sampai selesai. Setelah Anto mengklarifikasi bahwa pernikahan kami sebenarnya sudah lama hancur sejak setahun yang lalu, aku pun meninggalkan tempat itu. Dalam semalam, aku menjadi ‘barang bekas’ yang tak diinginkan oleh Anto. Sedangkan Vior? Dia justru berubah menjadi satu-satunya korban tak bersalah dalam pusaran opini publik ini. Wawancara hari itu bertengger di puncak trending media sosial selama beberapa hari, dengan topiknya terus-menerus diperdebatkan. Terutama kalimat yang diucapkan Anto. “Aku dan Elsa memang sudah berniat bercerai sejak setahun yang lalu, hanya saja belum menemukan waktu yang tepat. Awalnya kami ingin menyelesaikannya dengan tenang, tetapi sekarang, ada orang yang tidak bersalah ikut terseret, jadi kami harus mengklarifikasinya. Nona Vior bukan orang ketiga yang merusak hubungan kami. Dia adalah satu-satunya orang yang masih menjadi tanggung jawab profesorku di dunia ini. Aku hanya berusaha merawatnya dengan baik, dan itu adalah hal yang wajar. Aku harap semua orang bisa melihat masalah ini dengan lebih rasional.” Ucapan itu mengarahkan opini publik. Para penggemarnya mulai mengatakan bahwa alasan hubungan kami berakhir adalah karena aku terlalu kaku dan tak bisa menerima permasalahan kecil dalam pernikahan. Mereka menuduhku telah menganggap persaudaraan murni antara Anto dan Vior sebagai sesuatu yang kotor dan memalukan. Mereka juga berkata bahwa aku sempit hati dan tak cukup berlapang dada. Setelah menikah dengan Anto selama lima tahun, aku tetap tak bisa belajar darinya tentang bagaimana menjadi seseorang yang "setia dan menghargai perasaan orang lain." Topik ini terus viral selama berhari-hari. Dan aku? Aku menjadi sasaran kebencian semua orang. Setelah mengambil sertifikat cerai dari kantor catatan sipil, aku keluar. Anto memanggilku,“Jangan terlalu memikirkan komentar di internet. Sebentar lagi, orang-orang juga akan melupakannya.” Aku berhenti melangkah dan tak bisa menahan tawa kecil. Sama sama dihujat di media sosial, tapi kenapa perlakuannya bisa begitu berbeda? “Elsa, dua bulan lagi sudah Tahun Baru.” “Awal tahun depan, bagaimana kalau kita menikah lagi?” Dia menatapku dan hendak mendekat, tapi aku melangkah mundur sedikit. Dengan ekspresi datar, aku mengalihkan pandangan ke arah para wartawan yang dihalangi oleh pengawal di kejauhan. Anto tampaknya menyadari ketidakpantasan situasinya dan berhenti di tempat. “Anto, aku akan kembali ke Montana.” “Memang sudah lama kau nggak pulang. Pergi sebentar juga baik. Nanti saat Tahun Baru, aku akan menjemputmu pulang...” “Aku nggak akan kembali.” Aku memotong kata-kata Anto dengan tenang. Senyum tipisnya langsung membeku di wajahnya, matanya dipenuhi kebingungan. Aku melanjutkan, “Saat itu aku setuju menandatangani surat cerai, dan kau berjanji akan memenuhi satu permintaanku. Sekarang saatnya menepati janji itu.” Anto tertegun menatapku. Saat pertama kali terlahir kembali, aku hanya butuh beberapa detik untuk mencerna cinta dan benciku terhadapnya. Saat melihat surat cerai, aku memang sempat berpikir untuk merobeknya dan bertengkar dengannya lagi. Namun, pada akhirnya, akalku yang menang. Setelah sekian lama, aku tersenyum tipis.